Tag » Triyanto Triwikromo

Bukit Cahaya

PADA usia lima tahun, sebagaimana lelaki-lelaki kecil penggemar perkelahian yang lain, kau membayangkan malaikat adalah semut yang mampu menghajar seekor gajah. Tak lama kemudian kau juga membayangkan ia sebagai ulat yang bisa melahap gunung dalam sekali telan. 1.473 kata lagi

Cerpen

Bukit Cahaya

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 05 Maret 2017)

PADA usia lima tahun, sebagaimana lelaki-lelaki kecil penggemar perkelahian yang lain, kau membayangkan malaikat adalah semut yang mampu menghajar seekor gajah. 1.489 kata lagi

Kompas

Ziarah Para Pembunuh

Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 26 Februari 2017)

Bukan Makam

“Aku mencari-Mu.”

“Aku tak ada.”

“Bukalah pintu-Mu.”

“Tak ada pintu untukmu.”

“Aku hendak menziarahi-Mu.” 2.421 kata lagi

Jawa Pos

Taktik Kiri Merah

Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 11-12 Februari 2017)

AKU pembunuh bayaran pemula. Aku baru bisa membunuh dua orang. Kini aku tengah bersiap untuk membunuh seorang jenderal. 1.788 kata lagi

Koran Tempo

“Celeng Satu Celeng Semua” Menurut Saya

Kemudian saya merasa minder untuk mengulas buku tipis tapi tebal makna ini. Sebab, babakan analisis yang tajam sudah disematkan melalui bab prolog maupun epilog. Ada yang mengulas ketakberhinggaan maknanya, permainan tarik ulur alur, tokoh-tokoh yang kontroversial, hingga penempatan kata secermat lomba cerdas cermat. 312 kata lagi

Buku

Ayoveva

Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Juli 2016)

SETIAP orang hanya memiliki satu kali kesempatan tinggal di Ajjar. Begitu seseorang jatuh ke dalam dosa, ia akan terusir dari perdesaan berpagar hutan pinus segar itu dan tidak diperbolehkan kembali. 2.467 kata lagi

Koran Tempo

Setelah 16.200 Hari

Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 24 Juli 2016)

– Cerita untuk Gus Mus dan almarhumah Nyai Siti Fatmah Mustofa

/1/

“Allah telah mengutusku, Nyai.” [1] 1.515 kata lagi

Kompas