Tag » Kebudayaan

GEREJA DAN “TONGKONAN” SEBAGAI SIMBOL (Seuntai Analisis Semiotika)

Gereja dan Tongkonan adalah dua hal yang kiranya boleh disejajarkan ketika berbicara dalam konteks Toraja. Gereja dengan ‘g’ bisa berarti gedung tempat umat kristiani beribadah dan menjadi milik semua umat yang bersangkutan. 777 kata lagi

Filsafat

Emile Durhkheim: Makna Solidaritas

Pemahaman solidaritas dalam kebudayaan menurut Emile Durkheim (1858-1917) hanya mungkin ditempatkan dalam konteks “the Sacred”. The Sacred (yang suci/keramat) adalah ikatan utama yang menyatukan masyarakat. 301 kata lagi

Filsafat

Baudrillard: Masyarakat Konsumen

Menurut Jean Baudrillard (1929-2007), kita hidup dalam era di mana masyarakat tidak lagi disadarkan pada pertukaran barang materi yang berdayaguna (seperti model Marxisme), melainkan pada komoditas sebagai tanda dan simbol yang signifikansinya sewenang-wenang (arbitrer) dan tergantung kesepakatan ( 334 kata lagi

Filsafat

Mitos dan Logos

Pada zaman Sokrates (470-399 SM) terjadi krisis kebudayaan di Yunani. Krisis kebudayaan kala itu diakibatkan oleh proses Entmythologisierung. Dewa-dewi mitologi Yunani sudah mati ( 407 kata lagi

Filsafat

Sejarah Penanggalan Hijriah

Oleh Muslimatul Khumaidah*

Kalender Hijriah adalah kalender Islam yang menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan peredaran matahari. Kalender Hijriah digunakan oleh umat Islam terutama untuk menetapkan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya seperti waktu-waktu ibadah haji, puasa ramadan, puasa-puasa sunnah, dan lain sebagainya. 496 kata lagi

Tak Berkategori

"Mamase" dan Cinta Filosofis Irish Murdoch

Paham “cinta” dalam masyarakat tradisional Toraja selalu dipahami sebagai sifat-sifat Puang Matua yang berbelas-kasih dan Maharahim (sa’pala buda). Kata ini menjadi gelar khusus untuk Puang Matua, sehingga manusia yang menjalankan cinta kasih tidak dikatakan… 633 kata lagi

Filsafat

Mitologi dan Kearifan Lokal

Mitologi seringkali dianggap sebagai pseudosains atau ilmu kelas kedua karena fakta kebenarannya sulit untuk dipercaya secara empiris. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh empirisme yang kadang menumpulkan mata batin dan ketajaman intelektual manusia. 1.051 kata lagi

Filsafat