<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>zina &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/zina/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "zina"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 19:25:47 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[pertuduhan palsu: bakri zinin minta maaf]]></title>
<link>http://tukangfitnah.wordpress.com/?p=29</link>
<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 16:02:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>tukangfitnah</dc:creator>
<guid>http://tukangfitnah.wordpress.com/?p=29</guid>
<description><![CDATA[tidak sampai 24 jam siaran debat secara  langsung di tv9 ditayangkan, penasihat umum pakatan rakyat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-30" src="http://tukangfitnah.wordpress.com/files/2008/07/bakri-zina.jpg" alt="" width="300" height="339" />tidak sampai 24 jam siaran debat secara  langsung di tv9 ditayangkan, penasihat umum pakatan rakyat, dato' seri anwar ibrahim telah ditahan oleh polis bertopeng. beliau dalam perjalanan untuk balik ke rumah. difahamkan bahawa beliau cirit birit kerana meminum teh peram di ibu pejabat bpr sebelum itu untuk memberi rasuah. pengarah bpr, datuk seri panglima haji ahmad said mengesahkan bahawa teh yang diberikan oleh anwar adalah teh sama yang beliau minum. beliau tidak menolak kemungkinan bahawa ada pakatan dari pihak bn untuk menyatukan beliau dan anwar ibrahim di dalam tandas yang sama supaya satu lagi pertuduhan cubaan meliwat dapat dibuat ke atas anwar ibrahim. oleh kerana saiful bukan lah orang yang popular, pihak bn memilih pegawai pula untuk dikaitkan dengan gejala seks luar tabi'e bekas tpm tersebut. "nasib baik anwar lebih dahulu balik sebab yakin meskipun tahi beliau pun tidak akan diterima di mana2 pejabat kerajaan parti pemerintah", kata beliau sambil mengorek hidung.</p>
<p>jarak tempat penahanan anwar ibrahim dan rumah beliau hanya 50 meter. berbelas kereta mewah pacuan empat roda yang dibeli dengan duit rakyat dihantar. tidak cukup dengan itu, polis khas lengkap berpakaian  topeng hitam dan jeket kalis peluru diarahkan untuk menggempur anwar. "kami takut anwar <em>stim</em> pada masa itu juga bila terlihat bontot2 polis yang dihantar. sebab itu lah kami mengarahkan mereka (polis) memakai jeket kalis peluru dan cawat elektrik bagi mengelakkan konek anwar menerjah masuk ke lubang bontot dan pusat bujil mereka", kata najib dengan yakin bahawa anwar benar2 adalah homoseksual tahap tertinggi. spekulasi yang dibuat oleh anak anwar ibrahim, nurul izzah anwar bahawa kenyataan yang membabitkan najib yang pernah melakukan seks dari jalan belakang dengan mendiang altantuya menakutkan muslimat pas. "najib patut jadi pondan atau mak nyah saja. hanya penakut yang menikus ketakutan seperti beliau sekarang", kata nurul izzah sambil mengunyah <em>chewing gum</em> double mint sebagai persiapan menghadiri temuduga duta <em>chewing gum</em> double mint esok.</p>
<p>dipihak polis pula, <span class="postbody">pengarah jabatan siasatan jenayah bukit aman, datuk bakri zinin terus mempertahan yang polis hanya melakukan tugas serta penahanan anwar dilakukan dengan cara yang adil dan saksama, sama seperti kes 10 tahun lepas. bakri yang kecewa dibinkan kepada nama zinin oleh ibunya sejak lahir menerangkan, "sebenarnya saya anak haram. orang kampung memanggil saya anak zina. bila dah jadi polis, mereka tidak berani lagi memanggil saya dengan nama itu. sebab itu lah ianya ditukar kepada zinin. langkah terbaik pak lah membuat peraturan bahawa anak haram dikosongkan saja nama bapa nya cukup2 menyeksakan anak haram seperti saya. kalau tidak, saya layak memanggil pm sebagai ayah atau papa atau mungkin appa lebih elok. - BERMAMAI<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ta'aruf vs Pacaran.. bag.1]]></title>
<link>http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/?p=54</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 02:14:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>pacaranislamikenapa</dc:creator>
<guid>http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/?p=54</guid>
<description><![CDATA[(Jawaban atas 3 tulisan, &#8216;Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?&#8217;,&#8216;Ta&#8217;aruf da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>(Jawaban atas 3 tulisan,<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/07/05/pacaran-sesudah-menikah-lebih-nikmat/" target="_blank"> 'Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?'</a>,<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/06/23/taaruf-dan-pacaran-islami-mana-yang-lebih-efektif/#more-180" target="_blank">'Ta'aruf dan Pacaran Islami, mana yang lebih efektif'</a>, dan <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/07/04/awas-taaruf-pranikah-bid%e2%80%99ah-sesat/" target="_blank">'Awas, Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!'</a>)</p>
<p>Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Jawaban ini akan disusun berdasarkan urutan sub judul diatas, kebenaran hanyalah dari Allah Azza wajalla.</p>
<p><strong>1. Tinjauan 'Pacaran Sesudah Menikah Lebih Nikmat?'.</strong></p>
<p>SPPI berkata <em>"Benarkah pacaran sesudah menikah itu nikmatnya melebihi pacaran sebelum menikah? Benarkah pacaran itu halal hanya jika sesudah menikah?</em></p>
<p><em>Eh, saya tidak hendak memperdebatkannya. Di sini saya hanya mengajak kita semua untuk kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya). Lalu Anda bisa menilai sendiri apa benar bahwa pacaran setelah menikah itu nikmat banget, bla bla bla.</em></p>
<p><em>Kata “pacar” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno). Artinya: “calon pengantin“. Kata ini kemudian mendapat akhiran “-an” yang bermakna kegiatan. Jadi, pacaran adalah aktivitas persiapan menikah.</em></p>
<p><em>Nah, mungkinkah persiapan menikah dilakukan sesudah menikah? Mustahil. Titik."</em><!--more--></p>
<p>=====</p>
<p>"Ya iya lha..masa ya iya donk" hehehe..Sejak kapan SPPI mengganti makna pacaran yang  dikatakannya dibanyak tempat sebagai <a href="http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2007/12/18/36/" target="_blank">"bercinta dengan kekasih tetap"</a>, dengan makna "aktifitas persiapan menikah"??. Tapi..ternyata setelah kita cek en ricek, SPPI tidak pernah mengganti makna pacaran yang katanya "bercinta dengan kekasih tetap", karena makna pacaran yang biasa beliau gunakan itu masih dapat kita baca dengan jelasnya dalam banyak artikel beliau. Lantas makna yang baru saja SPPI sematkan lagi dalam tulisannya untuk kata "pacaran" diatas buat apa ya? Wallahu'alam, terkesan jawaban itu seadanya untuk menutup keterbatasan diri dalam mencari jawaban yang meyakinkan.</p>
<p>Disamping itu beliau berkata "..kembalikan makna kata pacaran ke makna aslinya (bukan makna palsunya)..", bukankah yang punya makna-makna "palsu" itu ya SPPI sendiri?, mendefinisikan fenomena pacaran yang nyata-nyata ada didepan mata dengan makna yang jauh dari kenyataan dan fakta-fakta yang ada, dan berubah-ubah mengikuti tiupan angin. Padahal..bagaimana kita mendefinisikan(atau menyetujui sebuah definisi) sesuatu, menunjukkan tingkat objektifitas kita sejauh mana.</p>
<p><strong>2. Tinjauan 'Ta'aruf dan Pacaran Islami, mana yang lebih efektif'</strong></p>
<p>SPPI berkata <em>".. supaya lebih mengenal dia, manakah yang lebih efektif: [1] perhatikan isi rumahnya, amati lingkungan pergaulannya, kenali latar belakang pendidikannya, telusuri bacaannya, cari keterangan dari saudara dan temannya, dan berdiskusi saat silaturahmi; ataukah [2] menjalin hubungan cinta yang mendalam dengan dia, yang mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan, dan kerinduan, di samping mengandung persiapan-persiapan untuk menempuh masa depan bersama, serta menyelinginya dengan tanda-tanda cinta yang manis dan makruf, seperti tukar-pikiran dan tukar-bantuan?</em></p>
<p><em>Apabila Anda sudah mendalami metodologi penelitian kualitatif, tentulah Anda sudah mengerti dan sangat yakin bahwa cara nomor 2-lah yang lebih efektif untuk lebih mengenal seseorang yang diteliti. (Lihat, misalnya, buku karya Prof. Dr. S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1992), terutama Bab IV, “Metode Pengumpulan Data”.)"</em></p>
<p>=====</p>
<p>Hehehe..dari 2 kondisi diatas, kami kira akan ada penjelasan ilmiahnya seperti apa, minimal diungkapkannya sisi kelebihan dan kekurangan dari 2 kondisi yang diumpamakan, sehingga pembaca kemudian dapat menganalisa, menimbang-nimbang, apakah memang sudah benar, jujur, dan adil pemaparan serta ukuran-ukuran yang digunakan untuk membandingkan 2 kondisi tadi? Tapi seperti biasa, "blink" langsung dengan sebuah kesimpulan "..cara nomor 2-lah yang lebih efektif..bla..bla.." hehehe..dilengkapi dengan keterangan buku rujukan bagi pembaca yang 'meragukan' kesimpulan beliau tadi, padahal tidak selalu linier antara dalil yang benar dengan kesimpulan akhirnya, sebagaimana yang sering SPPI tunjukkan dimana beliau mengambil dalil ini dan itu untuk mendukung dugaan-dugaannya tentang adanya pacaran islami ala beliau, padahal kesimpulannya seringkali jauh dari maksud dalil yang digunakan.</p>
<p>Kenapa tidak dikupas dulu, apa dan seperti apa ta'aruf yang syar'i itu..kemudian dikupas juga apa dan seperti apa pacaran ala SPPI yang katanya islami itu? Nah..berdasarkan fakta-fakta yang relevan, jujur, dan adil itulah, kemudian baru ditarik sebuah kesimpulan bahwa cara 1 atau cara 2 lebih baik dari cara lainnya. Kalau tidak, hal-hal semacam ini tidak lebih hanya menunjukkan sikap prejudice, subjektif, dan asal beda serta menyesatkan.</p>
<p><strong>3. Tinjauan 'Awas! Taaruf praNikah = bid’ah sesat!!!'</strong></p>
<p>SPPI sepertinya memang sedang terlihat bersemangat sekali..hehehe, sampai-sampai judul yang tidak rasional pun beliau tampilkan. Terlalu bersemangat itu memang beda tipis dengan tergesa-gesa, kedua-duanya cenderung untuk menyebabkan seseorang 'tergelincir' dan 'tergelincir' lagi.</p>
<p>Btw, biasanya tanda seru itu diartikan juga sebagai 'pentungan'. Pas kita baca judul diatas "Awas...Tung".."awww...astaghfirullah" satu pentungan mendarat ke pembaca, lanjut "Ta'aruf praNikah = bid'ah sesat...Tung..tung..tung".."wadowww..astaghfirullah" tiga pentungan mendarat di 'jidat' pembaca..hehehe. Pertanyaan mendasar, sebenarnya SPPI tahu ngga sih makna ta'aruf, pranikah, dan bid'ah..itu ? masa orang kenalan yang syar'i untuk tujuan menikah dikategorikan sesuatu yang "bid'ah", pake "sesat" lagi hehehe.</p>
<p>Lanjutnya<em> "Disamping bahaya zina pada budaya pacaran, kita juga perlu mewaspadai bahaya lain yang bahkan lebih mengerikan, yaitu bid’ah pada budaya ta’aruf praNikah. Mengapa lebih mengerikan? Sebab, bahaya ini cenderung kurang disadari. (Pelakunya menyangka menunaikan sunnah Rasul, padahal melakukan bid’ah yang sesat dan menyesatkan.)"</em></p>
<p>Na'udzubillah tsumma na'udzubillah..:)..</p>
<p>Setelah sebelumnya menyangka bahwa <a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren/" target="_blank">istilah ta'aruf kurang tepat</a> bahkan menuduh tidak adanya dalil untuk digunakan juga pada perkenalan pra nikah, sepertinya SPPI kurang puas kalau tidak menempatkan ta'aruf pranikah itu sendiri sebagai salah satu dari amaliyah yang buruk, yakni bid'ah sesat. Tetapi sudahkah SPPI memahami dengan benar istilah "bid'ah" sebelum beliau menuduh orang lain melakukan hal itu? Atau jangan-jangan hanya bermodalkan pemahaman yang bias seperti pada saat beliau memahami definisi "pacaran" selama ini? Karena ketahuilah setiap tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh.</p>
<p>Penjelasan tentang bid'ah dan sunnah sendiri sebenarnya panjang sekali, tidak cukup dengan membawa satu atau dua perkatan orang lain, kemudian menyimpulkan sesuatu perbuatan sebagai bid'ah, karena jika itu yang dilakukan, maka ia telah menyesatkan orang lain dengan perkataannya, dan telah bersikap tidak adil terhadap ilmu itu sendiri. Karena ada beberapa aspek yang mesti dipahami terkait dengan bid'ah, pertama tentang makna makna bid'ah secara bahasa dan terminologi syar'i terkait dengan hadits "..kullu bid'ah dhalalah.."(setiap bid'ah itu sesat), kedua mengklasifikasi(dengan bertanya kepada para ulama.. misalnya meski sholat dengan shodaqah itu sama2 ibadah tetapi berbeda karakteristiknya) mana ibadah yang telah tetap rukun-rukun dan syarat-syaratnya, dan mana ibadah yang tidak ditetapkan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, mana perkara pokok dan mana perkara cabang yang boleh jadi ada ruang untuk terjadinya perbedaan pendapat, serta ketiga memahami amaliah duniawi yang bisa bernilai ibadah karena sebab-sebab ianya dekat dengan Sunnah Rasulullah SAW, keempat..dll. Jadi seharusnya untuk sampai pada sebuah kesimpulan bahwa perbuatan itu dapat dihukumi ianya bid'ah harus dengan alasan-alasan yang jelas, dalil-dalil yang qath'i, dan pemahaman yang benar. Dalil benar tetapi pemahamannya salah, tidak boleh kita merujuk kepada pendapat seperti itu.</p>
<p>Kemudian SPPI berkata <em>"Pada budaya taaruf pranikah, ternyata ada sejumlah aktivis dakwah yang berusaha menetapkan aturannya, padahal aturan tersebut bukan berasal dari Allah atau Rasul-Nya. Untuk contoh, marilah saya tunjukkan sepuluh bentuk bid’ah yang terdapat di sebuah buku terbitan Lingkar Pena, 2006. Judulnya: Taaruf, Keren..! Pacaran, Sorry Men! (Nama penulisnya tidak saya sebut. Sebab, saya tidak bermaksud menyerang penulisnya. Yang saya kritik hanyalah tulisannya.)"</em></p>
<p>Hehehe..masa sih pak, karena menyebut nama penulis sebuah buku ketika ada kritik terhadap tulisannya dianggap menyerang pribadi? kayanya ga gitu deh :). Tapi okelah..kita abaikan hal itu.</p>
<p><a href="http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2008/07/16/taaruf-vs-pacaran-bag-2/" target="_blank">bersambung</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paşa'ya 'zina' çok dokunmuş!]]></title>
<link>http://notozenti.wordpress.com/?p=299</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 13:51:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>guncelolay</dc:creator>
<guid>http://notozenti.wordpress.com/?p=299</guid>
<description><![CDATA[Daha önce Ergenekon Terör örgütü zanlılarını savunan ve AK Parti ile Başbakan Erdoğan’a ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="hbo">Daha önce Ergenekon Terör örgütü zanlılarını savunan ve AK Parti ile Başbakan Erdoğan’a karşı ABD’nin ‘darbe’ yapmasını ima eden Beyaz Saray eski Danışmanı Michael Rubin’in editörü olduğu The Middle East Quarterly dergisi, sayfalarını emekli bir Türk generale açtı.</span></p>
<p><span class="hbo"><strong>TÜRKİYE’DE LAİKLİK DEMOKRATİKTİR’ İDDİASI<br />
</strong>Emekli General Haldun Solmaztürk’ün ‘Türkiye Laikliği demokratiktir’ başlığıyla Rubin’in dergisinde kaleme aldığı yazıda, AK Parti ve Erdoğan’a ağır eleştiriler yöneltti. Brokings Enstitüsü Türkiye masasından Ömer Taşpınar’ın Türkiye’deki radikal laiklik uygulamalarını eleştirdiği Foreign Affairs’teki yazısına cevap veren Solmaztürk, Taşpınar’ın ‘Erdoğan ilerlemeci, demokrat ve Avrupa’ya inanmış biri’ sözlerinin gerçeği yansıtmadığını öne sürdü. </p>
<p><strong>ZİNA ÖRNEĞİNİ VERDİ</strong><br />
Solmaztürk, bu iddiasını perçinlemek için ileri sürdüğü argümanlar ise dikkat çekici. Solmaztürk, Erdoğan’ın 2004 yılında zinanın suç sayılması gerektiği yönündeki girişimleri olduğunu belirtirken, Erdoğan’ın başörtüsü konusunda ‘Din alimleri karar vermeli’ sözlerini söylediğini belirtti. </p>
<p><strong>E-MUHTIRA’YI SAVUNDU</strong><br />
Taşpınar’ın 27 Nisan muhtırasının anti-demokratik olduğuna dair sözlerini eleştiren Solmaztürk, ordunun bu muhtırasının Erdoğan’ın YÖK ve Danıştay’a yönelik eleştirileri bağlamında ele alınması gerektiğini iddia etti. Solmaztürk, Danıştay’a gerçekleştirilen saldırının da ‘İslam düşmanlarını öldürme’ amacıyla yapıldığını iddia ederek, cumhurbaşkanlığı seçiminin bir konsensüs sağlanmadan yapıldığını yazdı.</p>
<p><strong>ÖNCEKİ CUMHURBAŞKANLIĞI SEÇİMLERİNDE KONSENSÜS ARANMIŞ</strong><br />
Solmaztürk, cumhurbaşkanlığı seçimlerinde parlamentoda bir konsensüs arandığını iddia ederek, Erdoğan’ın çoğunluğuna güvenerek istediği kişiyi Cumhurbaşkanı seçtirdiğini ve sorunun da buradan kaynaklandığını ileri sürdü. </p>
<p><strong>‘ERDOĞAN, SUUDİ TARZI ÖRTÜ İSTİYOR’ İDDİASI</strong><br />
Solmaztürk, Taşpınar’ın ‘Türkiye’de başörtülülere özgürlük yok’ sözlerini de eleştirerek, Türkiye’deki örtünün Suudi Arabistan’dakinden farklı olduğunu, Gül ve Erdoğan’ın Suudi tarzı örtüyü savunduğunu ileri sürdü. </p>
<p><strong>MÜSLÜMAN KİMLİK TÜRK KİMLİĞİNİN ÖNÜNE GEÇTİ</strong><br />
Solmaztürk, 2005 yılında Türklerin yüzde 43’ünün önceliği Müslüman kimliğe verdiğini, ancak 2006’da halkın yüzde 51’inin önceliği Müslüman, daha sonra da Türk kimliğine verdiğini ifade ederek, Erdoğan’la birlikte Türkiye’de İslamlaşma olduğunu kaydetti.</p>
<p>Solmaztürk, yazısının sonunda da Erdoğan’ı ima ederek, ‘Demokrasiler sultanlar tarafından yönetilmez” dedi.</p>
<p><strong>(habervaktim.com – Dış Haberler) </strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Punishment for Zina: Can It Be Replaced? ]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/?p=298</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 12:03:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/?p=298</guid>
<description><![CDATA[



Question and Answer Details






















Name of Questioner


Sayed 



 

Title


Pun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="180" align="left" valign="middle" bgcolor="#7aa528">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Question and Answer Details</span></p>
</td>
<td align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_06.gif" border="0" alt="" width="15" height="13" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="11" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_07.gif" border="0" alt="" width="14" height="15" /></td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Name of Questioner</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Sayed </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Title</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Punishment for <em>Zina</em>: Can It Be Replaced?</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Question</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#f0fedb">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#000000;">Can we change some Islamic laws? When someone commits <em>zina</em> (fornication or adultery), we should whip him 100 times, if he is not married, or to be stoned to death, if he is married. This is an old-fashioned way of punishment, and our enemies say that we are brutal. Can we make a new law for those who commit <em>zina</em>? </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Date</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">16/Nov/2006</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Name of Mufti</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><a class="tableFPNL" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503614935&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaCounselorE%2FFatwaCounselorE"><strong><span style="font-size:x-small;color:#5a8900;">IOL Shari`ah Researchers</span></strong></a><span style="color:#5a8900;">, </span><a class="tableFPNL" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503615013&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaCounselorE%2FFatwaCounselorE"><strong><span style="font-size:x-small;color:#5a8900;">Ahmad Kutty</span></strong></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"><strong></strong></td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Topic</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Adultery &#38; Fornication</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="15" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="16" align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="150" align="left" valign="middle" bgcolor="#7aa528">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Answer</span></p>
</td>
<td align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_10.gif" border="0" alt="" width="15" height="13" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="2" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left">
<div class="tabletext"><span style="color:#000000;"></p>
<div class="tabletext"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.</span></span></strong></div>
<p></span></div>
<p><span style="color:#000000;"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.</p>
<div><span style="color:#000000;"></span></div>
<p></span></span></strong><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Dear questioner, we are greatly pleased to receive your question which shows the confidence you place in us. May Allah reward you abundantly for your interest in knowing the teachings of Islam!</p>
<p>In the first place, we would like to anchor the basic concept that Islam never prescribes punishments haphazardly nor does it execute them without due consideration. Islam holds the balance of justice and insists on examining all conditions and circumstances connected with the offense. On studying a crime, Islam takes into account two considerations at the same time: the viewpoint of the criminal and that of the victimized community. In the light of such considerations, Islam prescribes the fair punishment that is in accordance with the dictates of sound logic and wise reasoning and which must not be affected by wrong theories and national or individual whims.</p>
<p>In his book, <em>Islam: The Misunderstood Religion</em>, the well-known Muslim author Muhammad Qutb, states the following:</p>
<p></span></span></p>
<p class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt 36pt;" dir="ltr">
<div class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt 36pt;" dir="ltr"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Islam imposes preventive punishments, which may appear cruel or coarse if viewed superficially or without proper consideration. But Islam does not execute such punishments unless it ascertains that the crime was not justifiable or that the criminal was not acting under any obligation. Islam prescribes that both adulterer and adulteress should be stoned but it does not inflict such punishment unless they are married persons and upon conclusive evidence by four eyewitnesses.</span></span></div>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Moreover, the Prophet (peace and blessings be upon him)said: <strong>“Avoid the execution of punishments if there is doubt.”</strong> If we study the policy adopted by Islam in prescribing punishment, we realize that Islam tries in the first place to purify society from circumstances that may lead to crime. After taking such precaution, Islam prescribes a preventive and just punishment that may be inflicted on persons who have no reasonable justification for their crimes. Where the community is unable to preclude circumstances that may lead to crime or where there is some doubt regarding the crime, the punishment will not be inflicted and the ruler will set the criminal free or he may inflict on him a light punishment (beating or imprisonment) in proportion to his extent of responsibility for the crime.</p>
<p>It is because some non-Muslims have not studied the reality of the Islamic concept of crime and punishment that they consider the punishments prescribed by Islam as barbarous and degrading to human dignity. They wrongly imagine that such punishments—like the European civil punishments—will be inflicted every day. They also fancy that the Islamic society indulges in daily executions of flogging, hand-cutting, and stoning. But the fact is that such deterrent punishments have been executed very rarely.</p>
<p></span></span></p>
<p class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt;" dir="ltr">
<div class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt;" dir="ltr"><span style="color:#000000;"><br />
<span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Excerpted with some modifications from: www.islam4all.com</span></span></div>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Responding to the question, <strong>Sheikh Ahmad Kutty</strong>, a Senior Lecturer and Islamic Scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:</p>
<p></span></span></p>
<p class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt 36pt;" dir="ltr"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">As Muslims, we are not allowed to tamper with the prescribed laws, but we have been allowed a certain amount of latitude in applying them…</span></span></p>
<p class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt 36pt;" dir="ltr">
<div class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt 36pt;" dir="ltr"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">Also, we must take into account the fact that such laws are primarily instituted as deterrents, and they are rather hard to implement in ordinary circumstances because of the strongest regulations associated with them. For instance, in the case of the above punishment, four witnesses must testify and all of them must agree 100 percent on the details.</span></span></div>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">So do not consider the above laws as something to be applied in everyday situations. They are meant to be deterrents.</p>
<p></span></span></p>
<p class="tabletext" style="margin:1.75pt 1.75pt 12pt;" dir="ltr"><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;">Based on what is mentioned above, Muslims are not allowed to tamper with the Divine Law or to start enacting laws based on their whims. When one studies the concept of punishment in Islam in depth, one will realize the true face of Islamic justice.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:left;margin:0;" dir="ltr"> </p>
<p> </p>
<p></span></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="15" align="left" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
<td valign="top" bgcolor="#f0f0f0">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="150" align="left" bgcolor="#b4b4b4">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Related Questions</span></p>
</td>
<td width="70%" bgcolor="#f0f0f0"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="15" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503549178&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Admitted to Committing Adultery: Do I have to Renew the <em>Nikah</em>?</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503548522&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">My Wife Committed Adultery, Should I Divorce Her?</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543146&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Feeling Remorseful after Committing Adultery</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503548340&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Using Laboratory Tests to Prove Adultery</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503548032&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">How Islam Views Adultery</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503544062&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Does the Present-Day Corruption Justify Committing <em>Zina</em>?</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543864&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Repentance for <em>Zina</em></span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543398&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">The Prohibition of Approaching <em>Zina</em></span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543238&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Should a Fornicator Be Punished to Repent for <em>Zina</em>?</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="100%"><span style="color:#356f02;"> </p>
<p></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td width="15" align="right" valign="top"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="15" align="left" valign="top"> </td>
<td valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#000000;"><strong>Allah Almighty knows best.</strong></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Watching Pornographic Cartoons ]]></title>
<link>http://milkyway27.wordpress.com/?p=267</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 11:07:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>milkyway27</dc:creator>
<guid>http://milkyway27.wordpress.com/?p=267</guid>
<description><![CDATA[


 

Question and Answer Details






















Name of Questioner


Salim   - India



 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="13" align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"> </td>
<td width="180" align="left" valign="middle" bgcolor="#7aa528">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Question and Answer Details</span></p>
</td>
<td align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_06.gif" border="0" alt="" width="15" height="13" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="11" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top">
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_07.gif" border="0" alt="" width="14" height="15" /></td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Name of Questioner</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Salim   - India</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Title</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Watching Pornographic Cartoons</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Question</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#f0fedb">
<p class="tabletext" align="left">
<div class="tabletext"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Respected scholars, as-salamu `alaykum.</span></span></div>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Is it right for us to see cartoon pornography such as television characters, or comic book characters in various states of undress and possibly engaged in sexual activity?</p>
<p>Thanks!</p>
<p></span></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Date</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">13/Sep/2007</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"> </td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Name of Mufti</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="font-size:x-small;color:#5a8900;"><a class="tableFPNL" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503615105&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaCounselorE%2FFatwaCounselorE"><strong>Muhammad Nur Abdullah</strong></a></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="14" align="left" valign="top"><strong></strong></td>
<td width="150" align="left" valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext"><span style="color:#000000;">Topic</span></p>
</td>
<td valign="top" bgcolor="#ececec">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">Drawing &#38; Photography, Morals &#38; Values</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="15" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="16" align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="150" align="left" valign="middle" bgcolor="#7aa528">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Answer</span></p>
</td>
<td align="left" valign="middle" bgcolor="#c6e68f"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="13" /></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://www.islamonline.net/images/English/LivingShariah/TopBar_10.gif" border="0" alt="" width="15" height="13" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="2" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left">
<div class="tabletext"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Wa `alaykum as-salam wa rahmatullahi wa barakatuh.</span></strong></span></div>
<p><span style="color:#000000;"></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">It is a really sinful and unbecoming act from a Muslim to watch pornographic cartoons. Pornographic pictures, cartoons, or movies are <em>haram</em> (prohibited) as it may lead to <em>zina</em> (<span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">illegitimate sexual intercourse</span> ). Allah says in the glorious Qur'an,</span> <strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:'AGA Arabesque';"><span>[</span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">And come not even close to <em>zina</em>. Indeed, it is obscenity and a most evil way</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:'AGA Arabesque';"><span>]</span></span></strong></p>
<div class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">(Al-Israa' 17:33).</span></div>
<p><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:Verdana;">In addition, Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) is reported to have said, <strong>"The eyes commit adultery, the tongue commits adultery, the hands commit adultery, the feet commit adultery, and then the private parts confirm it or deny it"</strong> (Reported by Ahmad ibn Hanbal). This means that Islam blocks all means leading to <em>zina</em> including watching pornography.</p>
<div></div>
<p></span><span style="font-size:8pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">In his response to your question, <strong>Sheikh Muhammad</strong> <strong>Nur Abdullah</strong>, former president of the ISNA (Islamic Society of North America) and member of the Fiqh Council of North America, states,</span></p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">This is an avenue that will most likely lead to worse consequences, and therefore it must be blocked and prevented. Almighty Allah says in the Qur'an,</span> <strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:'AGA Arabesque';"><span>[</span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Those who love (to see) scandal published broadcast among the believers, will have a grievous penalty in this life and in the hereafter: Allah knows, and you know not</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:'AGA Arabesque';"><span>]</span></span></strong></p>
<div class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(An-Nur 24:19).</span></div>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Therefore, I would say it is unacceptable to watch these pornographic cartoons, and doing so will be counted as a sin.</p>
<p></span> </p>
<p></span></td>
<td width="15" align="right" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="15" align="left" valign="top"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></td>
<td valign="top" bgcolor="#f0f0f0">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="150" align="left" bgcolor="#b4b4b4">
<p class="Topbar" align="center"><span style="color:#ffffff;">Related Questions</span></p>
</td>
<td width="70%" bgcolor="#f0f0f0"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="15" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503547360&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Advice to Overcome Porn Addiction</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503547396&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Addiction to Porn &#38; Masturbation: Islamic Remedy</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543794&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Watching Pornography to Fulfill One’s Desire</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543308&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Watching Pornographic Movies</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503549496&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">Married Couple Watching Pornography</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#f0f0f0">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#5a8900;">- </span><a class="RelatedQuestion" href="http://milkyway27.wordpress.com/servlet/Satellite?cid=1119503543914&#38;pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar%2FFatwaE%2FFatwaEAskTheScholar"><span style="color:#356f02;">How to Give up Masturbation?</span></a></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%" bgcolor="#ffffff"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="100%"> </td>
</tr>
<tr>
<td width="100%"><span style="color:#356f02;"> </p>
<p></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
<td width="15" align="right" valign="top"><span style="color:#356f02;"><img src="http://milkyway27.wordpress.com/wp-admin/trick.gif" border="0" alt="" width="15" height="1" /></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="15" align="left" valign="top"> </td>
<td valign="top" bgcolor="#c6e68f">
<p class="tabletext" align="left"><span style="color:#000000;"><strong>Allah Almighty knows best.</strong></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Source: <a href="http://www.islamonline.net/">http://www.islamonline.net/</a></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Panduan Pacaran Islami bukanlah ibarat bermain api]]></title>
<link>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=187</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 03:37:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
<guid>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=187</guid>
<description><![CDATA[Aris Gaara berkata bahwa Panduan Pacaran Islami itu ibarat bermain api. Ia berpandangan: &#8220;Mung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aris Gaara berkata bahwa <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/panduan-pacaran/#comment-2235">Panduan Pacaran Islami itu</a> <em>ibarat bermain api</em>. Ia berpandangan: "<em>Mungkin kl fisik bs saja dpisahkan. namun siapa yg tahu dg hati? Yg tiada berpacaran saja sudah ketar ketir, apalagi yg melegalkanny. Harus diingat bahwa dosa bkn hanya dnikmati seorang pemabuk miras tp jg pembuatny. Anda berani menjamin surga? Wallahua'lam.</em>"</p>
<p>Tanggapan M Shodiq Mustika:</p>
<p><a href="http://pacaranislami.wordpress.com/panduan-pacaran/#comment-2235">Panduan Pacaran Islami itu</a> itu bukanlah ibarat bermain api. Isinya merangkum pandangan ulama-ulama terpercaya mengenai percintaan pranikah. Pandangan mereka itu justru <!--more-->ibarat <strong>pancaran air</strong> yang menyejukkan hati selama-lamanya dan sekaligus memadamkan api birahi untuk sementara (yaitu pada saat sebelum menikah). Sebab, mereka menekankan <strong>pengawasan</strong>, untuk mencegah terjadinya zina (termasuk "zina hati") pada pelaku pacaran islami. Dengan demikian, selamatlah para pelaku pacaran islami itu dari bahaya api birahi.</p>
<p>Seandainya kita mengharamkan pacaran, maka ini ibarat <strong>mengalirkan gelombang tsunami</strong>. Ini tidak hanya memadamkan api birahi sebagian muda-mudi, tetapi juga "menenggelamkan" sebagian muda-mudi lainnya. Mereka "tenggelam" karena melakukan pacaran dengan mendekati zina (termasuk "zina hati") secara sembunyi-sembunyi tanpa pengawasan kita.</p>
<p>Semakin keras kita melarang mereka pacaran, semakin sembunyi-sembunyi mereka melakukannya. Padahal, <strong>pacaran secara sembunyi-sembunyi tanpa pengawasan itu jauh lebih berbahaya daripada pacaran terang-terangan dalam pengawasan orang lain yang terpercaya</strong>.</p>
<p>Saya mengerti bahwa "<em>dosa bkn hanya dnikmati seorang pemabuk miras tp jg pembuatny</em>". Karenanya, saya tidak mengharamkan pacaran. Sebab, <strong>mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasulnya itu berdosa besar</strong>. Allah SWT berfirman:</p>
<p>"<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.</em>" (QS al-Maa-idah [5]: 87))</p>
<p>"<em>Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa pun [tuntunan] yang telah diturunkan Allah dalam kitab[-Nya] dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.</em>" (QS al-Baqarah [2]: 174)</p>
<p>Sebaliknya, <strong>Allah SWT menjamin bahwa surga disediakan bagi siapa pun yang menjalani segala bidang kehidupan secara islami (termasuk dalam hal pacaran)</strong>. "<em>Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.</em>" (QS al-‘Ankabuut [29]: 7)</p>
<p>Dan Allah lebih tahu daripada kita, bukan?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FITNAH]]></title>
<link>http://ahmadzubair.wordpress.com/?p=333</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 02:55:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadzubair</dc:creator>
<guid>http://ahmadzubair.wordpress.com/?p=333</guid>
<description><![CDATA[AstaghfirulLah al-adzeem. Bodoh sangat ke rakyat Malaysia sehingga boleh diperdaya buat kesekian kal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" align="justify">AstaghfirulLah al-adzeem. Bodoh sangat ke rakyat Malaysia sehingga boleh diperdaya buat kesekian kalinya?</p>
<p dir="ltr" align="justify">Konspirasi kotor!!</p>
<p dir="ltr" align="justify"><em>Hasbunallahu wa ni'mal-wakeel, ni'mal-mawla wa ni'man-naseer..</em></p>
<p style="text-align:center;" dir="ltr"><img class="aligncenter" src="http://wwwimage.cbsnews.com/images/2005/03/18/image681611x.jpg" alt="http://wwwimage.cbsnews.com/images/2005/03/18/image681611x.jpg" /></p>
<p dir="ltr" align="justify">----------</p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Oleh : Ust Zaharuddin Abd Rahman </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">...</span><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Menurut hukum Islam, semua individu Islam perlu berawas dalam mempercayai atau menyebarkan apa jua berita berkaitan zinanya seseorang dan juga liwat. Imam Ibn Qudamah dan lain-lain ulama silam yang berautoriti menyebut dengan jelas bahawa menuduh liwat tanpa saksi termasuk dalam hukum qazf. ( Al-Mughni, 9/72 ; Syarh Muntaha Al-Iradat, 3/599 ; Kasyyaf Al-Qina', 6/433) </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Imam Abi Ishak As-Shirazi As-Syafie  berkata : ولا يقبل في اللواط إلا أربعة لانه كالزنا </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;"><span style="background-color:#ff0000;">Ertinya : Tidak diterima dalam tuduhan liwat kecuali empat saksi kerana ia adalah sama seperti zina dalam (keperluan saksinya) untuk disabitkan hukum" ( Al-Muhazzab, 3/332)</span> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Tanpa berhati-hati, seseorang yang percaya dan menyebarkannya boleh jatuh dalam kesalahan Qazaf yang amat besar dosanya di sisi Islam. </span></p>
<div><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Kesalahan ini dicatat oleh Allah swt :- </span></div>
<div></div>
<p><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;"><span style="color:#ff0000;">Ertinya : Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik ( An-Nur : 4)</span> </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>Imam Al-Qurtubi berkata sebab turun ayat ini adalah antara kepada kes fitnah terhadap Sayidatina Aisyah ataupun kes Hilal bin Umaiyah (yang menuduh istreinya berzina) atau lainnya, namun yang terpenting hukumnya berjalan terus. </strong><strong>Walalupun ayat kelihatan menyebut kesalahan menuduh zina dan liwat kepada sang wanita, namun tuduhan kepada lelaki juga termasuk dalam ayat ini secara sepakat ulama dan ijma ulama (Al-Jami Li Ahkam Al-Quran,  Al-Qurtubi). </strong></span></span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>RINGKASAN SYARAT-SYARAT</strong> </span></span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Qazf mempunyai beberapa syarat :- </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>1)     Syarat kepada penuduh :</strong> </span></span></p>
<div>
<ul>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Beraqal </span></li>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Sudah baligh </span></li>
</ul>
</div>
<p dir="ltr" align="justify"><strong><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">2)     Syarat BENDA YANG DITUDUH untuk dianggap qazaf<br />
</span></strong></p>
<div>
<ul>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Menuduh dengan salah satu antara tiga tuduhan yang mewajibkan dihukum, iaitu ZINA dan LIWAT atau menafikan nasab anak sendiri ( ertinya menuduh isteri berzina). ( Al-Fawakih Al-Dawani, 2/211) </span></li>
</ul>
</div>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>3)     Syarat orang yang dituduh</strong> </span></span></p>
<div>
<ul>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Beraqal </span></li>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Baligh </span></li>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Islam </span></li>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Merdeka diri </span></li>
<li><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">BERSIH DARI tuduhan yang dilemparkan kepadanya. </span></li>
</ul>
</div>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Justeru, saya nasihatkan agar semua yang membaca berita hangat terkini dalam arena politik Malaysia hari ini agar menahan diri dan menyerahkannya kepada pihak hakim untuk meneliti bukti-bukti kedua-dua pihak, sebagaimana disebutkan oleh Allah swt :- </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>Para ulama sepakat bahawa ayat ini menunjukkan wajibnya si penuduh membawakan saksi seramai empat orang. Perbincangan terperinci berkenaan hal ini terlalu panjang. Namun saksi inilah kuncinya, tanpanya, kita tidak atau belum boleh mempercayai satu apa pun berkenaan tududan zina dan liwat atau kita mencari nahas di akhirat. (</strong>Al-Mughni, 9/72 ; Syarh Muntaha Al-Iradat, 3/599 ; Kasyyaf Al-Qina', 6/433) </span></span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Imam Malik berkata : </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><span style="font-size:medium;"><strong>Ertinya : Jika salah seorang dari empat saksi goyah dan tidak kukuh penyaksiannya, ketiga-ketiga saksi yang lain akan dihukum sebat (80 kali kerana qazaf), sebagaimana yang dilakukan oleh Umar dalam kes AL-Mughirah Bin Syu</strong><strong>'</strong><strong>bah, (iaitu apabila seorang saksi bernama Ziyad tidak bersaksi maka semua tiga orang saksi sebelum itu disebat kerana menuduh Al-Mughirah.) ( Al-Jami Li Ahkam Al-Quran, Al-Qurtubi)</strong> </span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Selain dari mesti dihukum sebat 80 kali bagi mereka yang menududh zina dan liwat tanpa 4 saksi, si penuduh juga dihukum dengan penyaksiannya akan tertolak selama-lamanya selain dianggap Fasiq. Namun majority ulama berkata, dikecualikan bagi mereka yang bertaubat bersungguh-sungguh. </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;">Namun Al-Qadhi Suraih, Ibrahim An-Nakh'ie, Hasan Al-Basri, Sufyan At-Thawry dan Imam Abu Hanifah tidak sependapat apabila mereka berkata penolakan hak boleh beri saksi kekal walaupun taubat, hanya gelaran fasiq sahaja yang dihapuskan di sisi Allah. </span></p>
<div dir="ltr"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Trebuchet MS;"><strong>Sekadar itu sahaja bagi memperingatkan umat Islam di Malaysia agar jangan tersilap langkah dalam menerima berita-berita hal zina dan liwat ini. Mungkin si penuduh dan mereka yang menyebarkannya TIDAK AKAN dihukum qazaf di dunia, namun hukuman pasti menunggu di AKHIRAT, bermula dari alam barzakh. Kecualilah jika individu tersebut bukanlah seorang manusia yang akan menemui kematian, namun semua akan menemui kematian. </strong></span> </span></div>
<div dir="ltr"></div>
<div dir="ltr"><span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:medium;"> </span></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HIV AIDS, Kondom, Zina, Narkoba]]></title>
<link>http://vaelx.wordpress.com/?p=105</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 08:55:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>vaelx</dc:creator>
<guid>http://vaelx.wordpress.com/?p=105</guid>
<description><![CDATA[Indonesia dan bangsa Indonesia–ya, kita-kita ini–memang “lucu.” Di sono ada kampanye kondom,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Indonesia dan bangsa Indonesia–ya, kita-kita ini–memang “lucu.” Di sono ada kampanye kondom, kita pun ikut. Setiap 1 Desember diperingati sebagai hari HIV/AIDS sedunia, termasuk di Indonesia. Ok, ini bagus <!--more-->untuk mengingatkan kita agar tidak mendekati perbuatan-perbuatan yang akan berakibat terjangkit dari penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Tapi, agak aneh kalau kemudian untuk menghindari HIV/AIDS itu dilakukan kampanye besar-besaran agar kita memakai kondom dan melupakan langkah preventif lain yang lebih esensial: hindari berzina dan hindari narkoba; dua faktor yang jadi penyebab utama HIV/AIDS.</p>
<p>Di Barat, kampanye kondom bisa dimaklumi. Karena perzinahan tidak jadi masalah asal suka sama suka. Dan karena itu, langkah preventif satu-satunya ya memakai kondom itu. Di Indonesia, sebagai negara yang mayoritas rakyatnya Muslim, berzina dan narkoba jelas sangat dilarang keras oleh agama. Mengapa hal ini tidak dikampanyekan secara besar-besaran? Mengapa pemakaian kondom yang justru anjuran paling nyaring didengungkan? Ah, Indonesiaku.</p>
<p style="text-align:center;">..</p>
<p style="text-align:center;">..</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://vaelx.wordpress.com/welcome/" target="_self"><img class="alignnone size-medium wp-image-80" src="http://vaelx.wordpress.com/files/2008/06/post_image_2.jpg?w=300" border="0" alt="" width="282" height="31" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ΠΕΓΚΥ ΖΗΝΑ &amp; ΒΑΣΙΛΗΣ ΚΑΡΡΑΣ - ΔΕ ΘΑ ΣΤΑΘΩ ΕΜΠΟΔΙΟ ΣΟΥ (CD - RIP) 06/2008]]></title>
<link>http://madvillage.wordpress.com/?p=955</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 12:09:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>kostassol</dc:creator>
<guid>http://madvillage.wordpress.com/?p=955</guid>
<description><![CDATA[
Aπολαυστε το νεο τραγουδι της Πεγκυ Ζηνα και του Βασιλ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:deepskyblue;"></p>
<p>Aπολαυστε το νεο τραγουδι της Πεγκυ Ζηνα και του Βασιλη Καρρα!!<br />
Bitrate:192kbs</span></strong></p>
<p>http://anonym.to/?http://rapidshare.com/files/123177840/Zhna_-_Karras_-_Den_tha_statho_empodio_sou.rar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Polisi Ringkus Tiga Pemerkosa]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=241</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 12:25:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>sanjisan</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=241</guid>
<description><![CDATA[Liputan6.com, Lebak: Jajaran Kepolisian Resor Lebak, Banten, baru-baru ini, menangkap tiga remaja ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Liputan6.com, Lebak:</strong> Jajaran Kepolisian Resor Lebak, Banten, baru-baru ini, menangkap tiga remaja yang diduga memperkosa seorang remaja putri berinisial KR. Ketiga pelaku yang salah satunya masih duduk di sekolah menengah atas ini dibekuk polisi di rumahnya masing-masing.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://freestuff.890m.com/gambar/080621aperkosa.jpg" alt="" width="275" height="200" /><br />
Tersangka pemerkosa gadis, Lebak, Banten.</p>
<p>Kasus ini bermula saat korban ditawari pulang bersama dengan para pelaku. Karena merasa sudah kenal, korban akhirnya menurut saja. Setibanya di sebuah lapangan, korban dipukul para pelaku. Melihat korbannya tak berdaya, mereka langsung memperkosa gadis tersebut.</p>
<p>Akibat kejadian ini, korban yang masih berusia 19 tahun menderita depresi berat. Selain tidak mau bicara, dirinya pun tidak mau keluar rumah. Pihak keluarga korban meminta polisi menghukum para pelaku dengan hukuman berat. Selain itu, keluarga korban mendesak polisi memburu kedua pelaku yang masih buron.(DWI/Agus Faisal Karim)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Enam Pelacur Terjaring Razia di Cirebon]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=240</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 12:19:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>sanjisan</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=240</guid>
<description><![CDATA[Liputan6.com, Cirebon: Satuan Polisi Pamong Praja, Kepolisian Resor, dan Komando Distrik Militer Cir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Liputan6.com, Cirebon:</strong> Satuan Polisi Pamong Praja, Kepolisian Resor, dan Komando Distrik Militer Cirebon, Jawa Barat, Jumat (20/6) malam, menggelar razia gabungan. Sejumlah lokasi yang kerap dijadikan tempat mangkal para pekerja sek komersial alias pelacur digerebek petugas.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://freestuff.890m.com/gambar/080621arazia-psk.jpg" alt="" width="275" height="200" /><br />
PSK terjaring razia, Cirebon, Jabar.</p>
<p>Para pelacur yang gagal menghindar dari kejaran petugas, satu per satu dimasukkan ke dalam mobil. Meski petugas cukup gesit, ada pekerja seks komersial yang berhasil kabur di tengah gelapnya malam. Sasaran operasi antara lain Pasar Minggu, Palimanan, pangkalan truk, Gua Macan, dan sekitar Jalan Tol Plumbon. Di pangkalan truk Palimanan, petugas tidak mendapatkan hasil. Padahal di lokasi ini kerap dijadikan tempat transaksi seks. Diduga, rencana operasi keburu bocor.</p>
<p>Dari operasi ini, petugas gabungan menjaring enam pelacur dan satu waria tau wanita pria. Mereka kemudian dibawa ke Kantor Polisi Pamong Praja untuk didata dan diberikan pengarahan.</p>
<p>Sementara di Deli Serdang, Sumatra Utara, ratusan ibu pengajian di Desa Manunggal, mengamuk dan menghancurkan sejumlah warung remang remang yang disinyalir sebagai ajang prostitusi. Akibat penyerangan ini sejumlah penghuni kafe kabur menyelamatkan diri.</p>
<p>Para ibu itu geram dengan keberadaan kafe di sepanjang Jalan Marelan, Labuhan Deli, Sumatra Utara, yang menjual minuman keras sekaligus menyediakan pekerja seks komersial. Karena aksi berlangsung secara spontan, maka tidak terlihat aparat yang mencegah perbuatan anarkis ini.</p>
<p>Menurut mereka, keberadaan kafe ini memang cukup mengganggu. Apalagi suami-suami para ibu ini sering tergoda mampir ke kafe ini. Di samping itu, kafe ini juga membawa pengaruh yang tidak baik bagi anak-anak. Selanjutnya kaum ibu mengancam jika kafe itu masih buka lagi mereka akan mengerahkan massa lebih banyak. Terutama, buat menghancurkan kafe-kafe maksiat.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kecenderungan rasa pria-wanita memang fitrah, tapi....]]></title>
<link>http://nisahafidz.wordpress.com/?p=139</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 03:42:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Anita</dc:creator>
<guid>http://nisahafidz.wordpress.com/?p=139</guid>
<description><![CDATA[Saya merasa sangat miris setiap kali melihat tayangan televisi. Ya, sekali-kali lihat infotainment, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya merasa sangat miris setiap kali melihat tayangan televisi. Ya, sekali-kali lihat infotainment, belum sampai 15 menit juga udah merinding, ya Allah ketinggalan zaman amat ane, ga tau udah sampai separah itu perbuatan-perbuatan mengagung-agungkan seks. Seolah-olah seks adalah segala-galanya. Seks benar-benar dieskploitasi. Tak usah dihitung lagi berapa banyak tayangan yang benar-benar menampilkan kelakuan-kelakuan binatang itu. Apa saja dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Padahal tak ada dosa yang ringan hukumannya di mata Allah.<br />
Objek utama dalam hal ini adalah tentu saja kaum wanita. Begitu banyak artis yang melenggak lenggok, menari-nari, sambil mempertunjukkan aurat yang kadang benar-benar terbuka untuk “menghibur” penggemarnya. Ya menghibur mereka yang sedang kehausan. Saya sebagai seorang wanita pun merasa sangat malu melihatnya. Bagaimana dengan kaum laki-laki?<br />
Dalam hal ini saya merasa iba dan kasihan terhadap kaum laki-laki yang banyak diterpa cobaan dengan hal semacam ini. Memang benar hadist Rasulullah yang berbunyi: Tiada aku tinggalkan suatu fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki dari fitnah perempuan.<br />
Meskipun hal ini relatif. Diujinya sesuai dengan keadaan orang tersebut, maksudnya:<br />
==&#62; laki-laki yang masih belum kaaffah keislamannya,yang masih suka main di mall, yang jarang ke masjid, biasanya tertariknya terhadap wanita yang setipe juga<br />
==&#62; laki-laki yang udah ngaji (biasanya disebut ikhwan), yang sering main ke masjid, yang aktif di organisasi2 dakwah, tertariknya dan  diujinya sama wanita yang udah ngaji juga (akhwat), yang setipe, dan banyak kesamaannya. Jadi, syetan tetap tidak kehilangan cara. Baik yang belum ngaji atau yang udah ngaji, yang namanya fitrah laki-laki tetap saja cenderung tertarik kepada wanita.</p>
<p>Makanya, sukanya pun terhadap yang sesuai dengan dirinya. Benar-benar harus dicamkan bagi wanita bahwa kita jangan sampai menjadi cobaan bagi laki-laki. Jangan sampai melunturkan keimanan dan semangat perjuangan mereka dalam berislam dengan benar. Saya tidak bisa menceritakan semuanya di sini, aib-aib atau kejadian memalukan yang menimpa label aktivis. Kalau udah hubungannya dengan hal seperti ini (hubungan ikhwan-akhwat) harus benar-benar hati-hati. Kalau mau tau lebih lanjut baca saja tafsir Fi Zhilaalil Quran surah An-Nuur yang sampai segitunya??? Ternyata! (ga usah dijelasin di sini ya..). Isinya berkisar kelemahan ikhwan intinya.</p>
<p>Secara teori (dan memang benar) bahwa syahwat kaum lelaki jauh lebih besar dibandingkan kaum wanita apalagi bagi mereka yang sedang memasuki usia puber. Jadi, setelah saya banyak membaca banyak buku yang berkaitan dengan hal ini, kaum lelaki terkadang sangat sulit untuk menahan nafsu seksualnya ketika sudah memasuki usia baligh apalagi jika dipicu dengan tayangan-tayangan atau gambar yang merangsang. Banyak di antara mereka yang pada akhirnya melakukan onani sebagai jalan keluarnya.</p>
<p>Rasulullah juga mewanti-wanti para pemuda agar segera menikah jika sudah mampu. Jangan terlalu banyak mencari alasan untuk menunda pernikahan. Lagipula yang wajib dibiayai oleh sang calon suami hanya mahar perkawinan saja, mengenai biaya resepsi pernikahan masih bisa bantuan orangtua (tapi, banyak yang gengsi) juga. Jadi, kenapa harus disegerakan?</p>
<p>Tak lain jawabannya adalah untuk lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluan. Berbeda dengan lelaki yang belum menikah yang masih sulit untuk menjaga pandangan, kalau lelaki yang sudah menikah itu tidak ada keinginan lagi untuk mengumbar pandangan karena sudah tercukupi kebutuhannya di rumah (ada isteri yang mendampingi). Dapat disimupulkan tujuan saya menulis artikel ini adalah untuk menganjurkan:<br />
1. Segera menikah bagi yang sudah mampu, selain untuk lebih menjaga pandangan, juga untuk lebih cepat lagi dalam memperbanyak keturunan muslim. Supaya umat Muhammad (tentunya yang berkualitas) semakin banyak. Pendidikan anak bagi orang yang sudah tertarbiyah juga cukup penting untuk kaderisasi dakwah karena dakwah ini selalu membutuhkan kader yang lebih banyak lagi untuk menggantikan kader masa kini.</p>
<blockquote><p><em> Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”</em> <strong>An-Nuur:32</strong></p></blockquote>
<p>2. Bagi wanita muslimah, azamkan dalam diri, bahwa kita jangan sampai meniru perilaku Zulaikha saat merayu Nabi Yusuf dalam setiap berperilaku dan bertindak. Dari mulai<br />
<strong> Berbicara</strong>:</p>
<blockquote><p><em>Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik</em>,<strong></strong></p></blockquote>
<p><strong>Berjalan</strong>:</p>
<blockquote><p>Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu." Al-Qashash: 25<br />
Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. <strong>An-Nuur: 31</strong></p></blockquote>
<p><strong> Berpakaian</strong>: <em></em></p>
<blockquote><p><em>Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” <strong>Al-Ahzab:59</strong></p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Riset: Otak Gay Berbeda]]></title>
<link>http://rtieh.wordpress.com/?p=50</link>
<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 06:08:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>rtieh</dc:creator>
<guid>http://rtieh.wordpress.com/?p=50</guid>
<description><![CDATA[Otak pria dan wanita gay mirip dengan otak yang ditemukan pada orang-orang heteroseksual yang berlai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="storytext"><strong>Otak pria dan wanita gay mirip dengan otak yang ditemukan pada orang-orang heteroseksual yang berlainan jenis, kata satu penelitian.</strong></p>
<p class="storytext">Penelitian yang dilakukan di Swedia itu menunjukkan bahwa otak laki-laki gay mirip dengan perempuan heteroseksual, sementara                   otak wanita gay mirip dengan otak laki-laki heteroseksual.</p>
<p class="storytext">Sebagian ilmuwan yakin hasil penelitian ini memperkuat dugaan bahwa orientasi seksual ditentukan di dalam kandungan.</p>
<p class="storytext"><!-- end_story -->Dengan menggunakan teknik <em>scanning</em> otak terhadap 90 relawan, para peneliti di Swedia mengatakan, laki-laki gay dan wanita heteroseksual memiliki otak yang sangat                   simetris.</p>
<p class="storytext">Belahan kanan dan kiri otak memiliki ukuran yang hampir sama di kedua kelompok itu. Sementara laki-laki heteroseksual memiliki otak di mana belahan kanan ukurannya jauh lebih besar dari belahan kiri, hal yang menurut temuan itu juga terdapat pada otak perempuan gay.</p>
<p class="storytext">Para peneliti juga menemukan bahwa sistem syaraf di bagian otak yang mengendalikan reaksi emosi, <em>mood</em> dan kegelisahan laki-laki gay dan wanita heteroseksual sangat mirip.</p>
<p class="storytext"><strong>Tidak bisa</strong></p>
<p class="storytext">Menurut para penulis laporan itu, penelitian itu tidak bisa membenarkan apakah ukuran otak manusia menentukan orientasi seksual                   atau apakah ukuran otak ditentukan oleh orientasi seksual.</p>
<p class="storytext">Mereka juga tidak bisa membuktikan apakah perbedaan dalam struktur otak ini disebabkan oleh seberapa besar pembentukan hormon                   seperti testeron di dalam kandungan.</p>
<p class="storytext">Para peneliti berencana untuk melakukan penelitian lebih jauh terhadap otak bayi-bayi yang baru lahir guna menentukan apakah                   perbedaan struktur otak dapat digunakan untuk memperkirakan orientasi seksual mereka di masa depan.</p>
<p class="storytext">Studi ini diterbitkan dalam jurnal sains Amerika, Proceedings of the National Academy of Sciences.</p>
<p class="storytext"><strong>bbc.co.uk</strong></p>
<div class="six">*********************************************************************************</div>
<div class="six">haha...</div>
<div class="six">ada-ada ajaah...</div>
<div class="six">ada yang biLang, seseorang menjadi homoseksuaL tuh gara-gara Lingkungannya yang 'mendukung' orang tersebut menjadi seperti itu. ada yang biLang juga, katanya gara-gara ada trauma di masa keciL.</div>
<div class="six"></div>
<div class="six">apapun, yang pasti ALLah teLah berfirman...</div>
<div class="six">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><em><span style="color:black;">“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.” (An Najm: 45)</span></em></p>
</div>
<div class="six"><em><span style="color:black;">“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas". ( Asy Syuraa’: 165-166)</span></em></div>
<div class="six"></div>
<div class="six"><em><span style="color:black;">“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al Araaf : 96)</span></em></div>
<div class="six"></div>
<div class="six"><em><span style="color:black;">“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar Ruum: 21)</span></em></div>
<div class="six"></div>
<div class="six">jadi, bagi yang merasa meLaKukan Liwath atau homreng atau homoseksuaL, cepat-cepat bertaubat, sebeLum ketiban azab dari Allah. percayaLah, Liwath itu adaLah perbuatan zina yang keji dan fasik...</div>
<div class="six"></div>
<div class="six">xxxooo</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FKUB dan MUI Sampang Menuntut Pembubaran Ahmadiyah]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=226</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 19:51:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>sanjisan</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=226</guid>
<description><![CDATA[
Metrotvnews.com, Sampang: Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Ulama Indonesia (]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="text1">
<p><strong><span style="color:#ff0000;">Metrotvnews.com, Sampang:</span></strong> Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Jawa Timur meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah. "Aliran Ahmadiyah sasat," kata Ketua FKUB Sampang, Kiai Haji Ainur Rofiq di sela-sela acara pelatihan FKUB di Hotel Camplong, Selasa (17/6).</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://freestuff.890m.com/gambar/61030.jpg" alt="" width="300" height="200" /><br />
Acara pelatihan FKUB di Hotel Camplong, Selasa (17/6)</p>
<p>Menurut Rofiq, bila Ahmadiyah dianggap sesat seharusnya pemerintah segera membubarkan. Namun dia juga menyesalkan tragedi Monas yang dilakukan oknum Front Pembela Islam.</p>
<p>Ungkapan senada disampaikan Ketua MUI Sampang, K.H. Mubasyir Mahfud. Dia menegaskan, sebelum surat keputusan bersama tiga menteri diproses, MUI sudah pernah mengeluarkan fatwa yang menegaskan ajaran Ahmadiyah sesat.(***)</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[klip jolai - video seks felda]]></title>
<link>http://abanglong.wordpress.com/?p=410</link>
<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 11:51:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>abanglong</dc:creator>
<guid>http://abanglong.wordpress.com/?p=410</guid>
<description><![CDATA[abanglong tengok clip ni kat komputer kawan.
mak ai&#8230;
consider macam atuk ngan cucu&#8230;
goli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>abanglong tengok clip ni kat komputer kawan.</p>
<p>mak ai...</p>
<p>consider macam atuk ngan cucu...</p>
<p>goliii den !!!</p>
<p>masyallah !</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Plajda göz zinası yapmayın]]></title>
<link>http://sefalet.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 03:41:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>begci</dc:creator>
<guid>http://sefalet.wordpress.com/?p=8</guid>
<description><![CDATA[ Alanya Müftüsü Muhammed Gevher, iyi bir Müslüman&#8217;ın mümkün olduğu kadar yarı çıpl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="xxx_partx1_3"> Alanya Müftüsü Muhammed Gevher, iyi bir Müslüman'ın mümkün olduğu kadar yarı çıplak insanlarla aynı ortamda denize girmemesini, aksi takdirde bunun göz zinası olacağını söyledi</p>
<p><span style="color:black;"><strong>Alanya'nın turizm kenti</strong></span></p>
<p>olması nedeniyle pek çok Müslüman'ın yabancı turistlerle aynı ortamda denize girmek zorunda kaldığını belirten Müftü Muhammed Gevher, 'Plajda turistlerin bulunduğu ortama giderek, gözüne ve nefsine hakim olmayan her kimse günah işler' dedi.</span><!--more--><br />
<span class="xxx_partx1_3"><br />
<span style="color:black;"><strong>İslam'a göre sakıncalı</strong></span></p>
<p>Bir Müslüman'ın dinin gerektirdiği şekilde giyinmesinin zorunlu olduğunu söyleyen Müftü Gevher, İslam dinine göre, yarı çıplak insanlarla aynı ortamda denize girmenin sakıncalı olduğunu öne sürdü. Gevher, sözlerini şöyle sürdürdü:</p>
<p>'Her şey kişinin kendisine bağlıdır. Turizm kenti ilçemizde, plajlarda turistlerle birlikte Türk vatandaşlar da aynı ortamda denize giriyorlar. Bu dinimizce sakıncalı değil. Ancak, Müslüman bir kişi gözüne ve nefsine hakim olmazsa günah işlemiş olur. Yani turistlerle ya da sıradan vatandaşlarla aynı ortamda denize giren herkes, davranışlarına dikkat etmek zorundadır.'</p>
<p>Gevher, Ramazan ayında oruç tutan bir Müslüman'ın denize giremeyeceğini de ileri sürerek, 'Gözüne ve nefsine hakim olmayan kişiler, plaj dışarısında da olsa günahkar olabilirler' dedi.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hayal ettikçe aşkı yaşar insan...]]></title>
<link>http://acizane.wordpress.com/?p=13</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 22:11:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>begci</dc:creator>
<guid>http://acizane.wordpress.com/?p=13</guid>
<description><![CDATA[Okuldan bir erkek arkadaşım dert yanıyordu sınıfın gürültülü ve hararetli ortamında.
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span><span>Okuldan bir erkek arkadaşım dert yanıyordu sınıfın gürültülü ve hararetli ortamında.</p>
<p>''Aşık olamıyorum.'' diyordu.</p>
<p>Aşık olmak isteyip aşık olamayan nice insandan biriydi belki de ya da kendini aşka kapatıp artık kapıları açmak isteyen.</p>
<p>Aşık olmanın nedenlere bağlı olmadığı bilmeyenler durumsallığa bağlarlar bunu.<!--more--></p>
<p>Kimisi bilimselliğe kadar uzanır elektronlar,  sinyaller diyerek olayı farklı boyutlara götürür.</p>
<p>Oysa aşık olmak anlık bir olaydır.</p>
<p>Bir hayaldir.</p>
<p>Bir rüyadır.</p>
<p>Bir sihirdir.</p>
<p>Öyle ya da böyle kafasında bir sevgili hayal edenler aşka uzanan yolda kendilerini bulurlar.</p>
<p>Hayalleri,  düşleri olmayanlar aşık olamaz.</p>
<p>''Rüyasında gördüğü kızla evlendi.'' türünden haberlere bu yüzden şaşırmıyoruz.</p>
<p>Hayal ediyorlar,  hayallerine o kadar bağlı kalıyorlarki artık bilinçaltı başka bir karşı cins hayaline izin vermiyor.</p>
<p>O'nu arıyorlar.</p>
<p>Bir gün mutlaka diyorlar.</p>
<p>Aşk,  umutsuzları sevmez.</p>
<p>Hayallerini yitirenler aşkı da yitirirler günü gelir.</p>
<p>*</p>
<p>Bir insana neden aşık oluruz diye sorduğunuzda aşık olanlardan gelen cevaplar hemen hemen aynıdır.</p>
<p>Bir sis perdesi ardına girer insan aşık olduğunda.</p>
<p>Perdenin ardındakilerle ilgilenmez.</p>
<p>Oysa o da herkes gibi bir insandır.</p>
<p>Bunu anlayacaktır.</p>
<p>Anladığı zaman sis perdesi de dağılacaktır.</p>
<p>Aşık olunan aşkı koruyamadığı sürece farklıdır.</p>
<p>Farklı olduğu sürece de aşık olunandır.</p>
<p>İlk bakışta aşk diye nitelenenler aslında ilk hayalin ortaya çıkışıdır.</p>
<p>Hayaller ortaya çıktığında aşk da kendini gösterir.</p>
<p>Bu yüzden bilinenin aksine aşk kalpte başlamaz.</p>
<p>Kalp,  varılan son noktadır.</p>
<p>Varılacak limandır.</p>
<p>Kalp ve beyin arasında bir gel-git yaşandığında yaşananlar aşkın kişisel fırtınasıdır.</p>
<p>Fırtına geçtiğinde elde kalanlarsa hayatın ta kendisidir.</p>
<p>Sadece hayal edenler aşkı bulabilir.</p>
<p>Ve insan hayal ettikçe yaşayabilir..</p>
<p>Özgün Kaplama</p>
<p></span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Avoir des rapports sexuels hors mariage]]></title>
<link>http://islamiquement.wordpress.com/?p=483</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 21:20:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Omar ibn al Khattab</dc:creator>
<guid>http://islamiquement.wordpress.com/?p=483</guid>
<description><![CDATA[Question: Que dit l&#8217;Islam sur l&#8217;adultère et la fornication ?
Réponse: L&#8217;adultèr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="color:#51a2a2;"><strong>Question: </strong></span>Que dit l'Islam sur l'adultère et la fornication ?</span></p>
<p style="text-align:left;"><strong>Réponse:</strong> L'adultère <em>(avoir des relations sexuelles avec une personne autre que son  conjoint en dehors du cadre du mariage)</em> et la fornication <em>(avoir des  relations sexuelles hors du cadre du mariage)</em> sont tous deux désignés par le  terme arabe "zinâ". Le "zinâ", sous toutes ses formes est strictement interdit  en Islam et est considéré comme un péché capital. Allah dit à ce sujet dans le  Qour'aane:</p>
<p align="center"><em><strong>"Ne vous approchez pas de  la fornication. C'est une abomination et une voie pleine d'embûches". </strong></em></p>
<p align="center"><strong>(Verset 32 / Sourate 17)</strong></p>
<p align="justify">Ce qui est à noter de ce passage du Qour'aane,  c'est qu'Allah n'y interdit pas seulement la fornication. Il interdit même de  s'en approcher.</p>
<p align="justify">Il y a de multiples raisons qui sont à l'origine de  l'interdiction de cet acte, mais les deux principales raisons sont les  suivantes:</p>
<ul>
<li>Tout d'abord, le "zinâ" fait disparaître la pudeur <em>-notion morale  essentielle pour toute société-</em> et porte gravement atteinte à la dignité  humaine -<em>"al ghayrah"</em>: Quel être humain digne apprécierait en effet que quelqu'un fasse le zinâ  avec sa propre mère, son père, sa soeur, son frère, sa fille ou son fils ?...</li>
</ul>
<ul>
<li>Ensuite, la fornication et l'adultère mettent  tout deux en danger la sauvegarde de la pureté des relations filiales.</li>
</ul>
<p>Pour se faire une idée de la gravité de ce péché en Islam, il suffit de se référer aux Ahâdîth suivants du Prophète Mouhammad (sallallâhou alayhi wa sallam):</p>
<ul>
<li><em><strong>"Celui qui fornique n'est  pas croyant au moment où il commet le zinâ…" </strong></em></li>
</ul>
<div style="text-align:center;"><em>(Sahîh Boukhâri et Mouslim)</em></div>
<ul>
<li><em><strong>"Lorsque le serviteur  commet le zinâ, la foi sort de lui et se transforme en une sorte de nuage qui couvre  sa tête…"<br />
</strong></em></li>
</ul>
<div style="text-align:center;"><em>(Sounan Abî Dâoûd - Authentifié par Al Albâni)</em></div>
<p align="center">
<ul>
<li>Le Prophète Mouhammad (sallallâhou  alayhi wa sallam) raconte un de ses rêves <em>(les rêves des prophètes sont  véridiques)</em> en ces termes:<strong><br />
</strong></li>
</ul>
<p style="margin-left:40px;text-align:justify;"><strong><em>Je partis en compagnie de Djibraïl (alayhis salâm) et de Mikhâïl (alayhis salâm), et nous arrivâmes à une place semblable à un four dont l'orifice était étroit tandis que le fond était vaste, d'où nous entendîmes un bruit confus. Nous regardâmes et nous vîmes des hommes et des femmes nus qui criaient et hurlaient lorsque la chaleur </em></strong><em>(des flammes)<strong>d'en dessous parvenait jusqu'à eux, et ce, en raison de sa </strong>(terrible) <strong>intensité. Je demandai à Djibraïl (alayhis salâm): </strong></em></p>
<p align="center"><strong><em><br />
"Ô Djibrâïl ! Qui sont ces gens là ?"</em></strong></p>
<p style="margin-left:40px;"><strong> </strong>Il répondit:</p>
<p align="center"><strong><br />
<em>"Ils sont ceux ont commis le zinâ. Et ils recevront ce châtiment jusqu'au Jour Final."</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p align="center"><em>(Boukhâri)</em></p>
<p align="center">
<ul>
<li>Le Prophète Mouhammad (sallallâhou  alayhi wa sallam) a aussi dit en ce sens:</li>
</ul>
<p style="margin-left:40px;" align="center"><strong><em>"Les sept cieux et les sept terres ainsi que les montagnes maudissent la personne âgée qui commet le zinâ. </em></strong><em>(En Enfer,)<strong> une puanteur tellement forte se dégagera des parties privées de ce genre de personnes qu'elle fera souffrir les gens qui s'y trouvent."</strong></em></p>
<p align="center"><em>(Mousnad Bazzâr – Hadith dhaïf)</em></p>
<p align="justify">
<p align="center"><em><br />
</em></p>
<p align="center"><em>Qu'Allah nous préserve tous de  ces péchés et des ces châtiments.</em></p>
<p align="center"><em>Âmine.</em></p>
<p align="center"><em>(Sources: "Al Kabâïr", "As Silsilat oud Dhaïfah wal Mawdhou'ah" et "Tafsîr Mazhari")</em></p>
<p style="font-style:italic;" align="center">Wa Allâhou A'lam !</p>
<p style="font-style:italic;" align="center">Et Dieu est Plus Savant !</p>
<p style="font-style:italic;text-align:left;">source : <a href="http://www.muslimfr.com/modules.php?name=News&#38;file=article&#38;sid=303" target="_blank">http://www.muslimfr.com/modules.php?name=News&#38;file=article&#38;sid=303</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kakek Cabuli 14 Bocah]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=214</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 04:24:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>sanjisan</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=214</guid>
<description><![CDATA[Liputan6.com, Kepulauan Seribu: Empat belas anak sekolah dasar di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, J]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Liputan6.com, Kepulauan Seribu:</strong> Empat belas anak sekolah dasar di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, Jakarta, baru-baru ini menjadi sasaran pencabulan Zanuary, kakek berusia 61 tahun. Pelaku kerap menggunakan keahliannya memijit untuk membujuk korban.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://freestuff.890m.com/gambar/080613acabul-bocah.jpg" alt="" width="275" height="200" /><br />
Zanuary</p>
<p>Dalam gudang sekolah, tersangka diduga mencabuli para korban yang rata-rata berumur delapan tahun. Zanuary, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu sekolah, kerap berpura-pura memijit korbannya. Lantas, sang kakek justru mencabuli anak-anak di bawah umur.</p>
<p>Saat ini tersangka mendekam di Rumah Tahanan Cilincing, Jakarta Utara. Perilaku tersangka meresahkan warga, terutama bocah lain, teman sepermainan para korban. Perbuatan tersangka menimbulkan trauma terhadap para korban sehingga mereka harus mendapatkan terapi psikis.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dari Salafi sampai Hamil di Luar Nikah]]></title>
<link>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=167</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 23:00:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
<guid>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=167</guid>
<description><![CDATA[Dalil yg dipake [utk islamisasi pacaran] mungkin aja shohih, tp tidak shorih (jelas) menyebut pacara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Dalil yg dipake [utk islamisasi pacaran] mungkin aja <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/04/bantahan-terhadap-penentang-dalil-dalil-pacaran-islami">shohih</a>, tp tidak shorih (jelas) menyebut <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat">pacaran itu boleh</a> ... </em></p></blockquote>
<p>Menurut ushul fiqih, kebolehan muamalah (termasuk pacaran) TIDAK membutuhkan dalil. Yang membutuhkan dalil adalah <strong>pelarangannya</strong>. Kaidahnya, <strong>semua muamalah itu halal, kecuali ada dalil qath'i yang melarangnya</strong>. Jadi, pengertian Anda <strong>terbalik</strong>. Seharusnya, pihak pengharamlah yang menyebutkan dalil yang secara qath'i (shahih dan sharih) melarangnya, namun mereka tidak dapat mengemukakannya. Dalil mereka yang disampaikan kepada kami tidak ada yang sharih.</p>
<blockquote><p><em>... itu hanya tafsiran para pemuja akal dan filsafat.</em></p></blockquote>
<p>Mengapa Anda <a href="http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh">bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali</a>? <!--more-->Kemukakanlah bukti Anda kalau memang Anda berada di pihak yang benar.</p>
<p>Memang, ilmu ushul fiqih itu hanya dapat dipahami oleh orang yang menggunakan akal sehat yang dikaruniakan Allah kepada para hamba-Nya. Namun, para ulama yang merumuskan dan menyepakati kaidah-kaidah ushul fiqih itu bukanlah para pemuja akal dan filsafat. Kaidah-kaidah tersebut berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits shahih.</p>
<blockquote><p><em>Ulama spt al-albani, bin baz dan utsaimin mengatakan haram. (maaf klo khilaf)</em></p></blockquote>
<p>Itu bukan bukti. Pendapat ulama <strong>salafi/wahhabi</strong> "<em>spt al-albani, bin baz dan utsaimin</em>" itu tidak mewakili keseluruhan ulama. Apalagi, sebagian besar ulama TIDAK bermazhab salafi/wahhabi. (klo khilaf, bertaubatlah)</p>
<blockquote><p><em>Kasihan para ulama yg dijdkan hujjah ttg pacaran ini, pdhl blm tentu mrk bermaksud mengatakan spt itu. ini namanya subhat yg wajib dihindari.</em></p></blockquote>
<p>Kami mengemukakan pandangan ulama terkemuka (Ibnu Qayyim, Ibnu Hazm, Abu Syuqqah) dengan mengutip pernyataan mereka, lengkap dengan menyebut rujukannya. Jadi, <strong>buktinya ada</strong>. (Pembaca bisa langsung memeriksa apakah kami mengada-ada ataukah mengemukakan apa adanya.) Tapi, Anda sekarang malah <a href="http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh">berprasangka buruk tanpa bukti sama sekali</a>. Dengan prasangka begitu, Anda sendirilah yang jelas2 membuat syubhat, ‘kan?</p>
<p>Bukti kami bisa dilihat di halaman <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta/">Taman Cinta</a> Ibnu Qayyim, artikel <a href="http://muslimromantis.wordpress.com/2008/05/08/mesra-tanpa-zina/">Mesra Tanpa Zina</a> ala Ibnu Hazm, dan artikel <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/24/benarkah-ulama-ikhwanul-muslimin-mengharamkan-pacaran-2/">Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran</a> ala Abu Syuqqah.</p>
<blockquote><p><em>Klo blh tau bhs pacaran dlm alquran dan hadist apa ya?. tunjukin doong..</em></p></blockquote>
<p>Terjemahan Qur'an bukanlah Qur'an. Terjemahan hadits pun tidak bisa 100% mengalihkan makna aslinya ke bahasa sasaran. Namun, itu bukan berarti tidak ada dalil mengenai pacaran. Tentang dalil pacaran, silakan periksa dalilnya yang <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat">shahih</a> dan "<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/04/bantahan-terhadap-penentang-dalil-dalil-pacaran-islami">sharih</a>".</p>
<blockquote><p><em>Mari qta jujur2an aja, apa ada yg pacaran tdk sentuhan?</em></p></blockquote>
<p>Ya, pacaran jarak-jauh pasti tanpa sentuhan. Ini jujur 100%. Lihat contoh pacaran islami <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/05/17/mengapa-sengaja-%e2%80%9cjauh-di-mata%e2%80%9d">ala Ibnu Hazm</a> dan <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/taman-cinta">ala Ibnu Qayyim</a>.</p>
<blockquote><p><em>(mungkin anda serentak jwb ADA!), tp hal ini tdk bisa dijadikan alasan bwt pacaran. </em></p></blockquote>
<p>Anda itu gimana sih? Kami mengemukakan bahwa ada pacaran yang tanpa sentuhan itu ‘kan karena menjawab pertanyaan Anda. Kami tidak pernah menjadikannya hujjah untuk membolehkan pacaran secara islami. Tentang dalil pacaran, sekali lagi, silakan periksa dalilnya yang <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat">shahih</a> dan "<a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/04/bantahan-terhadap-penentang-dalil-dalil-pacaran-islami">sharih</a>".</p>
<blockquote><p><em>Apa anda ingin mensejajarkan diri anda dengan para ulama yg anda jdkan hujjah?</em></p></blockquote>
<p>Saya kurang mengerti maksud pertanyaan Anda ini. Kalau Anda menganggap saya tinggi-hati dan seandainya Allah SWT pun berpandangan demikian, maka saya berdoa semoga Dia menyadarkan saya. Demi Allah, saya tidak mau sombong, angkuh, dan sebagainya.</p>
<p>Namun jika Anda tidak mau para ulama itu dijadikan teladan bagi kita dan saudara-saudara kita, maka pertanyaan saya: salahkah menjadikan ulama sebagai teladan kita? Ataukah Anda ingin mereka <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/21/jangan-biarkan-mereka-lari-ke-model-pacaran-jahiliyah">lari ke model jahiliyah</a>?</p>
<blockquote><p><em>Misalkan aja pacaran "islami" itu ada, tp bila ngliat fenomena akhir2 ini, gaya pacaran sangat kebablasan dan parah (98% mahasiswi jogja kehilangan keperawanannya). </em></p></blockquote>
<p>BERTAUBATLAH! Dengan menyatakan demikian, Anda baru saja melakukan dosa besar. Ingatlah bahwa menuduh zina seseorang (atau sekelompok orang) tanpa menghadirkan empat orang saksi itu dosanya besar, bisa 80 persen dari dosa berzina itu sendiri. (Lihat QS an-Nuur [24]: 4-5)</p>
<p>"<strong>Dan mengapa di waktu mendengar berita bohong itu, kamu tidak berkata: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Mahasuci Engkau [wahai Tuhan kami], ini adalah dusta yang besar'?</strong>" (QS an-Nuur [24]: 16)</p>
<p>BOHONG BESAR berita bahwa "<em>98% mahasiswi jogja kehilangan keperawanannya</em>". Berita tersebut berasal dari survei yang tidak ilmiah yang menunjukkan bahwa 97,05 persen (bukan 98 persen) dari "sampel" kehilangan keperawanan. Karena tidak ilmiah dan tidak selaras dengan ayat Qur'an di atas, hasil survei tersebut <strong>tidak bisa dijadikan hujjah</strong>.</p>
<p>Kalau mau tahu berita yang lebih mendekati kebenaran, silakan periksa hasil-hasil penelitian ilmiah, misalnya di artikel <a href="http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/">Ciuman dengan Pacar</a>.</p>
<blockquote><p><em>Pacaran "islami" tdk memberi solusi malah sebagai pembenaran bagi yg imannya lemah (walaupun ahli agama, aktivis dakwah ato santri), apalagi yg pengetahuan agamanya minus (ky aq he..he..)</em></p></blockquote>
<p>Lagi-lagi Anda <a href="http://muslimmoderat.wordpress.com/2008/05/28/ciri-ciri-islam-ekstrim-2-buruk-sangka-dan-menuduh">bersangka-buruk tanpa bukti sama sekali</a>. "<strong>Dan kepada Allah sajalah aku mohon pertolongan terhadap apa yang kalian beritakan.</strong>" (QS Yusuf [12]: 18.)</p>
<blockquote><p><em>Ini nyata: banyak di kampusku aktivis dakwah (mereka menyebutnya ikhwan &#38; akhwat) yg hamil diluar nikah krn terlalu sering ketemu (walaupun klo diskusi pake tabi</em>r).</p></blockquote>
<p>Jelaslah bahwa mereka tidak menerapkan "pacaran islami". (Bahkan, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan istilah "pacaran islami", tapi "<a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/01/21/taaruf-sebuah-istilah-yang-asal-keren">taaruf</a>" dll.) Dalam pacaran islami, pertemuan diadakan <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/15/shahihnya-hadits-yang-membolehkan-berduaan">dalam keadaan terawasi</a>, sehingga pasti takkan berzina. Justru <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2008/02/06/kalau-aktivis-dakwah-lakukan-taaruf-yang-tidak-islami">karena "<em>ikhwan &#38; akhwat</em>" tidak menerapkan "pacaran islami"</a>, terjadilah zina sampai hamil di luar nikah. Oleh karena itu, tugas kitalah untuk turut <a href="http://wppi.wordpress.com/2007/11/28/bila-aktivis-dakwah-lakukan-pacaran">menyadarkan para aktivis dakwah itu supaya kembali ke jalan Ilahi</a>.</p>
<blockquote><p><em>Maaf bila ada kata/istilah yg salah</em></p></blockquote>
<p>Baiklah, saya memaafkan Anda. Saya sudah mengoreksi kesalahan Anda sebagaimana yang sudah saya jelaskan di atas. Wallaahu a'lam.</p>
<blockquote><p><em>Emang aq kurang ngerti soal agama. </em></p></blockquote>
<p>Obatnya adalah bertanya kepada yang tahu, bukan menyebarkan prasangka buruk dari orang yang tidak tahu. Semoga dengan diskusi seperti ini, kita senantiasa berada dalam hidayah Ilahi. Amin.</p>
<blockquote><p><em>Mksh atas pencerahannya.</em></p></blockquote>
<p>Terima kasih juga atas masukannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seorang Mahasiswi Mengaku Diperkosa Praja IPDN]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/?p=204</link>
<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 12:27:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>xarazz</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/?p=204</guid>
<description><![CDATA[Liputan6.com, Bandung: Seorang mahasiswi berinisial El (23) mendatangi Markas Kepolisian Resort Kota]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Liputan6.com, Bandung:</strong> Seorang mahasiswi berinisial El (23) mendatangi Markas Kepolisian Resort Kota Bandung Tengah, Ahad (8/6). Dia mengaku sebagai korban perkosaan seorang praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kontingen Gorontalo. Saat melapor mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung, Jawa Barat, itu didampingi oleh orangtuanya dan mantan dosen IPDN Inu Kencana.</p>
<p>Usai melapor ke penyidik Satreskrim Polresta Bandung Tengah sekitar pukul 16.00 WIB, korban terburu-buru meninggalkan kantor polisi. Dia menutup wajahnya dengan jaket untuk menghindari kejaran wartawan. "Nanti saja ceritanya," kata korban.</p>
<p>Menurut Inu Kencana, korban warga kawasan Riung Bandung, Bandung, mengaku diperkosa praja berinisial MF pada Agustus 2006 setelah diberi makanan oleh pelaku. "Setelah dicekoki makanan itu, korban mengaku lemas dan diperkosa oleh pelaku hingga berulang kali. Kasusnya sempat mau dilaporkan ke pihak IPDN namun saat itu dicegah pelaku dengan alasan mau bertanggungjawab," kata Inu.</p>
<p>Namun, hingga diwisuda pada Sabtu lalu pelaku menghilang dan sulit dihubungi oleh korban. "Karena itulah, korban datang kepada saya dan minta didampingi untuk melapor ke polisi," kata Inu.</p>
<p>Menurut Inu, laporan sempat dilayangkan kepada Polsek Jatinangor, Sumedang, namun ditolak dengan alasan tempat kejadian perkaranya di Bandung. Korban kemudian disarankan untuk melapor ke Polresta Bandung Tengah. Inu menambahkan, berdasarkan penuturan korban, beberapa waktu lalu dia juga sempat melaporkan peristiwa itu kepada pihak IPDN, namun tidak ditanggapi.</p>
<p>Seorang penyidik Polresta Bandung Tengah yang enggan disebut namanya mengaku, korban datang hanya melakukan konsultasi hukum. "El belum melapor, namun hanya konsultasi hukum, seputar pasal apa yang tepat untuk menjerat pelaku dalam kasus yang dialaminya itu," kata penyidik. Menurut dia, yang bersangkutan akan datang kembali pada Selasa mendatang didampingi pengacara untuk melapor kasus tersebut.</p>
<p>Sementara itu, Pelaksana Tugas Rektor IPDN Johanis Kaloh yang dikonfirmasi wartawan mengaku tidak tahu kasus itu sehingga pihaknya tetap meluluskan dan mewisuda MF. "Tidak ada laporan seperti itu. Dan sepanjang yang saya ketahui memang tidak ada laporan kasus tersebut, sehingga yang bersangkutan tetap menjalani wisuda," kilahnya.(IAN/ANTARA)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ΠΕΓΚH ΖΗΝΑ - ΠΑΡΑΔΩΣΟΥ - (CD-Rip) ]]></title>
<link>http://madvillage.wordpress.com/?p=846</link>
<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 07:28:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>kostassol</dc:creator>
<guid>http://madvillage.wordpress.com/?p=846</guid>
<description><![CDATA[
 


http://rapidshare.com/files/11806017&#8230;_PEGY_ZHNA.mp3
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://madvillage.files.wordpress.com/2008/06/peggy-zina-picture-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-847" src="http://madvillage.wordpress.com/files/2008/06/peggy-zina-picture-1.jpg?w=230" alt="" width="230" height="300" /></a></p>
<p><strong> </strong><!-- / status icon and date --></p>
<div class="hr" style="width:100%;">
<hr /></div>
<p><!-- message --><a href="http://anonym.to/?http://rapidshare.com/files/118060175/PARADOSOY_-_PEGY_ZHNA.mp3" target="_blank">http://rapidshare.com/files/11806017..._PEGY_ZHNA.mp3</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konsultasi: Takut kalau calon suami punya kelainan seksual]]></title>
<link>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=152</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 17:20:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>M Shodiq Mustika</dc:creator>
<guid>http://pacaranislami.wordpress.com/?p=152</guid>
<description><![CDATA[asalamualaikum ustadzz. sebelumnya saya minta maaf kalo pertanyan saya terlalu fulgar. saya ingin me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="padding-left:30px;"><em>asalamualaikum ustadzz. sebelumnya saya minta maaf kalo pertanyan saya terlalu fulgar. saya ingin menanyakan ttg sex pra nikah. sebenernya ini pertanyaan titipan dari teman saya, dan saya pun juga jadi ingin tau ttg ini</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>begini ustad, kita bisa lihat gaya pacaran anak muda zaman sekarang. . . memang cukup mengkhawatirkan, misal nya masalah <a href="http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/">ciuman</a>!!!</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Nah, kemarin saya sempat share sama teman saya masalah ini, dya mengatakan kalo dya ciuman dya mengambil suatu yang positive. dya jadi tao bagaimana pacar nya itu mencintainya dengan tulus dan tidak hanya mengharapkan itu saja</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>saya tersentak kaget saat teman saya mengatakan, ada sebagian cow yang dalam "berhubungan" [seks] itu juga kasar, tdk selayak nya org biasa, banyak kelainan yang kita tidak bisa deteksi</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>jadi menurut ustad, bagaimana kami menghadapi ketakutan ini yang saya nilai wajar kalo mempertanyakan nya. dan pastinya juga tidak akan mungkin kita membuktikan nya dgn melakukan perbuatan yang dilarang ini pastinya!!!</em></p>
<p>Jawaban M Shodiq Mustika:</p>
<p><!--more-->Pertanyaan mengenai sex, pranikah sekalipun, tidaklah vulgar. Wanita yang menanyakannya pun tidak tercela. Bahkan, Aisyah r.a. memuji, "Sebaik-baik wanita ialah wanita Anshar. Mereka tidak terhalang oleh rasa malu [untuk bertanya tentang persoalan seksual] dalam mendalami masalah <em>dîn</em>." (HR Muslim, kitab: Haid)</p>
<p>Oleh karena itu, saya merasa senang sekali mendapat pertanyaan tersebut di atas dari seorang wanita. Jawaban saya:</p>
<p>(1) Benar, kita <strong>tidak boleh mendekati zina</strong>. (QS al-Isra' [17]: 32) Kalau pun pada zina itu ada manfaatnya, <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/26/dampak-buruk-zina-dalam-sorotan-ibnu-qayyim/">dampak buruknya jauh lebih besar</a>.</p>
<p>(2) Keromantisan dalam ciuman bukanlah pertanda ketulusan cinta. Hampir semua seniman, orang-orang <a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/07/ciri-khas-sifat-romantis/">yang berkepribadian romantis</a>, dan para "buaya darat" mampu berciuman dengan lembut walau tanpa disertai cinta yang sungguh-sungguh. Untuk mendeteksi kesungguhan cintanya, kita dapat menggunakan cara lain yang dapat dipertanggung-jawabkan, yaitu <a href="http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/18/cara-praktis-mendeteksi-kesungguhan-cintanya/">yang ilmiah dan tidak mendekati zina</a>.</p>
<p>(3) Kelainan seksual (yang sadistis) jarang terlihat pada hubungan seks pranikah. Bahkan pada masa awal pernikahan, kejadiannya masih tak banyak. Kekasaran dalam hubungan seksual suami-istri biasanya terjadi <em>setelah</em> masa bulan madu berlalu. Jadi, <strong>lembutnya ciuman atau pun romantisnya bersetubuh dalam pranikah bukanlah pertanda tiadanya kelainan seksual</strong>.</p>
<p>(4) Kelainan seksual seseorang yang belum pernah <a href="http://wppi.wordpress.com/2008/01/17/ciuman-dengan-pacar/">ciuman</a> atau pun bersetubuh itu sulit kita pastikan, tetapi secara ilmiah kita dapat dengan mudah mendeteksi kecenderungannya. Ada sejumlah variabel yang berpengaruh. Disamping tingkat keromantisan, tingkat kemampuan-menahan-emosi juga berpengaruh besar. Orang yang tingkat kemampuannya-dalam-menahan-emosi <em>dan</em> tingkat keromantisannya tinggi cenderung tidak memiliki kelainan seksual sadistis. Sebaliknya, <strong>orang yang tingkat kemampuannya-dalam-menahan-emosi dan tingkat keromantisannya <em>sangat rendah</em> cenderung memiliki kelainan seksual sadistis</strong>.</p>
<p>(5) Jika engkau takut kalau-kalau pacarmu atau calon suamimu memiliki kelainan seksual sadistis, maka engkau dapat menggunakan cara yang sangat ilmiah (dengan bantuan psikiater disamping dokter) untuk mendeteksi ada-tidaknya kecenderungan tersebut pada dirinya. Sekurang-kurangnya, pakailah cara lain yang sederhana tetapi masih ilmiah. Untuk mengenal tingkat keromantisan si dia, silakan manfaatkan Kuis Psikologi: <a href="http://muslimromantis.wordpress.com/2008/06/04/kuis-psikologi-apakah-si-dia-memang-romantis/">Apakah si dia memang romantis?</a> Untuk mengenal tingkat kemampuannya dalam menahan emosi, silakan manfaatkan Kuis Psikiatri: <a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2008/06/04/kuis-apakah-anda-cenderung-mampu-menahan-emosi/">Apakah Anda cenderung mampu menahan emosi?</a></p>
<p>(6) Sertailah ikhtiar tersebut dengan <a href="http://muslimromantis.wordpress.com/2008/01/29/cara-cerdas-mendapatkan-jodoh-ideal/">istikharah cinta</a> dan tawakkal. Untuk memperkuat tawakkal, berdzikirlah. Misalnya: <em><span style="text-decoration:underline;">H</span>asbunallâhu wa ni‘mal wakîl.</em> (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung.) (QS Ali ‘Imran [3]: 173)</p>
<p>Demikianlah jawaban saya kali ini. Semoga Allah Sang Maha Pelindung senantiasa bersama kita. Amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Status Anak Zina]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/?p=269</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 14:20:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslimah</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.wordpress.com/?p=269</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari
Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jawaban Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari tentang "Taubat dari Perbuatan Zina", sebagai berikut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Apa dalil wajibnya <em>istibra` ar-rahim</em> dari bibit seseorang atas seorang wanita yang berzina jika hendak dinikahi?</li>
<li>Apa dalil tidak bolehnya menasabkan anak hasil zina tersebut kepada lelaki yang berzina dengan ibunya? Apa dalil tidak bolehnya lelaki tersebut menjadi wali pernikahan anak itu dan bahwa lelaki tersebut bukan mahram anak itu (jika wanita)?<!--more--></li>
<li>Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil, bagaimana hukumnya dan bagaimana status anak-anak mereka yang dihasilkan setelah pernikahan? Apakah mereka merupakan mahram bagi anak zina tadi dan bisa menjadi wali pernikahannya?</li>
<li>Siapa saja yang bisa menjadi wali pernikahan anak zina tersebut?</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">(Fulanah di Solo)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi waman walah.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Seorang wanita yang berzina dengan seorang lelaki, keduanya berstatus pezina selama belum bertaubat dari perzinaan itu.</strong> Maka wanita itu tidak boleh dinikahi oleh siapapun sampai terpenuhi dua syarat berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">a. Wanita itu bertaubat kepada Allah<em> Subhanahu wa Ta'ala</em>, dan jika yang hendak menikahinya adalah lelaki yang berzina dengannya maka juga dipersyaratkan laki-laki tersebut telah bertaubat.<strong> </strong>Hal ini berdasarkan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> dalam surat<strong> An-Nur: 3</strong>:</p>
<p style="text-align:right;">الزَّانِي لاَ يَنْكِحُ إلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Laki-laki pezina tidaklah menikahi selain wanita pezina atau wanita musyrik, dan wanita pezina tidaklah menikahi selain lelaki pezina atau lelaki musyrik, dan hal itu diharamkan atas kaum mukminin."</em></p>
<p style="text-align:justify;">b. Wanita tersebut melakukan <em>istibra`</em> yaitu pembebasan rahim dari bibit lelaki yang telah berzina dengannya. Karena dikhawatirkan lelaki tersebut telah menanam bibitnya dalam rahim wanita itu. Artinya, wanita itu hamil akibat perzinaan itu. Maka wanita itu harus melakukan <em>istibra`</em> untuk memastikan bahwa rahimnya kosong (tidak hamil), yaitu menunggu sampai dia mengalami haid satu kali karena dengan demikian berarti dia tidak hamil. Apabila diketahui bahwa dia hamil maka <em>istibra`</em>-nya dengan cara menunggu sampai dia melahirkan anaknya. Kita tidak mempersyaratkan wanita itu melakukan<em> ‘iddah</em>1 karena sebagaimana kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullahu</em> dalam Asy-<strong>Syarhul Mumti'</strong> (5/215, cet. Darul Atsar): "<em>'Iddah</em> adalah hak seorang suami yang menceraikan istrinya. Sedangkan lelaki yang berzina dengannya statusnya bukan suami melainkan <em>fajir</em>/pezina."</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah<em> rahimahullahu</em> berkata dalam <strong>Majmu' Fatawa</strong> (32/112): "<em>Al-Istibra`</em> bukan karena hak kehormatan mani lelaki pertama (yang menzinainya). Akan tetapi untuk hak kehormatan mani lelaki yang kedua (yang hendak menikahinya), karena tidak dibenarkan baginya untuk mengakui seseorang sebagai anaknya dan dinasabkan kepadanya padahal bukan anaknya."</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula jika ditinjau dari sisi <em>qiyas</em>, Syaikhul Islam berkata (32/111): "Seorang wanita yang <em>khulu'</em>2 -karena dia bukan wanita yang dicerai-, dia tidak ber-<em>'iddah</em> dengan ‘iddah wanita yang dicerai. Bahkan dia harus melakukan <em>istibra`</em> (membebaskan rahimnya) dan <em>istibra`</em> juga disebut iddah. Maka, wanita yang digauli dengan nikah syubhat dan wanita yang berzina lebih utama untuk melakukan <em>istibra`</em>."</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam (32/110) juga berkata: "Karena wanita yang berzina bukanlah istri (yang ditalak) yang wajib untuk melakukan <em>‘iddah</em>. Dan tidaklah keadaan wanita berzina melebihi keadaan budak wanita yang harus melakukan<em> istibra`</em> sebelum digauli oleh tuannya yang baru. Padahal seandainya dia telah dihamili oleh bekas tuannya maka anaknya dinasabkan kepada bekas tuannya itu. Maka wanita yang berzina (yang seandainya hamil maka anaknya tidak dinasabkan kepada laki-laki yang menzinainya) lebih wajib untuk melakukan<em> istibra`</em>."</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun dalil-dalil tentang<em> istibra`</em> pada budak wanita adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">a. Hadits Ruwaifi' bin Tsabit <em>radhiyallahu 'anhu</em>, bahwa Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> bersabda tentang sabaya (para wanita tawanan perang) pada perang Khaibar:</p>
<p style="text-align:right;">لاَ يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ -يَعْنِي إِتْيَانَ الْحُبْلَى مِنَ السَّبَايَا- وَأَنْ يُصِيبَ اْمَرْأَةً ثَيِّبًا مِنَ السَّبْيِ حَتَّى يَسْتَبْرِئَهَا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Tidak halal bagi seorang lelaki yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air maninya di ladang orang -yakni menggauli wanita sabaya yang hamil- dan menggauli wanita sabaya yang telah bersuami sampai wanita itu melakukan istibra`."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong> dan <strong>At-Tirmidzi</strong>. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Bazzar serta Asy-Syaikh Al-Albani dalam <strong>Al-Irwa`</strong> 1/201, 5/141, no. 2137. Hadits ini memiliki <em>syawahid</em>/penguat-penguat)</p>
<p style="text-align:justify;">b. Hadits Abu Sa'id Al-Khudri <em>radhiyallahu 'anhu</em> bahwa Rasulullah<em> Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> bersabda tentang para <em>sabaya</em> Authas:</p>
<p style="text-align:right;">لاَ تُؤْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلاَ غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Yang hamil tidak boleh digauli sampai melahirkan, demikian pula yang tidak hamil sampai haid satu kali."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi. Namun yang benar sanadnya lemah karena Syarik bin Abdillah Al-Qadhi hafalannya jelek. Akan tetapi hadits ini memiliki <em>syawahid</em>/penguat-penguat sehingga dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam<strong> Al-Irwa`</strong> no. 187 dan no. 1302)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Anak hasil zina tidak dinasabkan kepada lelaki yang menzinai ibu anak tersebut meskipun kita mengetahui bahwa secara <em>hukum kauni qadari</em> anak zina tersebut adalah anaknya.</strong> Dalam arti, Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> menakdirkan terciptanya anak zina tersebut sebagai hasil percampuran air mani laki-laki itu dengan wanita yang dizinainya. Akan tetapi secara <em>hukum syar'i</em>, anak itu bukan anaknya karena tercipta dengan sebab yang tidak dibenarkan oleh syariat, yaitu perzinaan. Permasalahan ini masuk dalam keumuman sabda Rasulullah<em> Shallallahu 'alaihi wa sallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Anak yang lahir untuk pemilik kasur (artinya, anak yang dilahirkan oleh istri seseorang atau budak wanitanya adalah miliknya), dan seorang pezina tidak punya hak pada anak hasil perzinaannya."</em> (<strong>Muttafaq ‘alaih</strong> dari Abu Hurairah dan ‘Aisyah <em>radhiyallahu 'anhuma</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, jika seorang lelaki menghamili seorang wanita dengan perzinaan kemudian dia bermaksud menikahinya dengan alasan untuk menutup aib dan menyelamatkan nasab anak tersebut, maka hal itu haram atasnya dan pernikahannya tidak sah. Karena anak tersebut bukan anaknya menurut hukum syar'i. Ini adalah pendapat <em>jumhur</em> (mayoritas) ulama sebagaimana dalam <strong>Al-Mughni</strong> (6/184-185) dan <strong>Syarah Bulughul Maram</strong> karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullahu</em> pada <em>Bab ‘Iddah wal ihdad wal istibra`</em>. Dan ini yang difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da`imah dalam <strong>Fatawa</strong> mereka (20/387-389).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan hal ini, seluruh hukum nasab antara keduanya pun tidak berlaku. Di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">a. Keduanya tidak saling mewarisi.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Lelaki tersebut tidak wajib memberi nafkah kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">c. Lelaki tersebut bukan mahram bagi anak itu (jika dia wanita) kecuali apabila lelaki tersebut menikah dengan ibu anak itu dan telah melakukan hubungan (sah) suami-istri, yang tentunya hal ini setelah keduanya bertaubat dan setelah anak itu lahir, maka anak ini menjadi <em>rabibah</em>-nya sehingga menjadi mahram.</p>
<p style="text-align:justify;">d. Lelaki tersebut tidak bisa menjadi wali anak itu dalam pernikahan (jika dia wanita).</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bukan berarti laki-laki tersebut boleh menikahi putri zinanya. Yang benar dalam masalah ini, dia tidak boleh menikahinya, sebagaimana pendapat jumhur yang dipilih oleh Syaikhul Islam dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Karena anak itu adalah putrinya secara <em>hukum kauni qadari</em> berasal dari air maninya, sehingga merupakan darah dagingnya sendiri. Dalil yang paling kuat dalam hal ini adalah bahwasanya seorang laki-laki tidak boleh menikahi anak susuannya yang disusui oleh istrinya dengan air susu yang diproduksi dengan sebab digauli olehnya sehingga hamil dan melahirkan. Kalau anak susuan seseorang saja haram atasnya, tentu seorang anak zina yang berasal dari air maninya dan merupakan darah dagingnya sendiri lebih pantas untuk dinyatakan haram atasnya. (Lihat <strong>Majmu' Fatawa</strong>, 32/134-137, 138-140, <strong>Asy-Syarhul Mumti'</strong>, 5/170)</p>
<p style="text-align:justify;">Para ulama menyatakan bahwa seorang anak zina dinasabkan kepada ibu yang melahirkannya, dan keduanya saling mewarisi. Jadi nasab anak tersebut dari jalur ayah tidak ada. Yang ada hanyalah nasab dari jalur ibunya. Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya suami istri yang melakukan <em>li'an</em>3 di hadapan hakim karena suaminya menuduh bahwa anak yang dikandung istrinya adalah hasil perzinaan sedangkan istrinya tidak mengaku lalu keduanya dipisahkan oleh hakim, maka anak yang dikandung wanita itu dinasabkan kepada ibunya dan terputus nasabnya dari jalur ayah. Sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa'd As-Sa'idi <em>radhiyallahu 'anhu</em> yang <em>muttafaq ‘alaih</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Jika kedua orang yang berzina tersebut menikah dalam keadaan wanitanya hamil maka pernikahan itu tidak sah berdasarkan apa yang telah dijelaskan pada jawaban pertama dan kedua.</strong> Hanya saja, kalau pernikahan itu dilangsungkan dengan anggapan bahwa hal itu boleh dan sah sebagaimana mazhab sebagian ulama yang berpendapat: "Boleh bagi seorang lelaki yang menghamili seorang wanita dengan perzinaan untuk menyelamatkan nasab anak itu dengan cara menikahinya dalam keadaan hamil, dengan syarat keduanya telah bertaubat dari perzinaan dan diketahui dengan pasti/yakin bahwa yang menghamilinya adalah laki-laki itu", maka pernikahan itu dikategorikan sebagai <em>nikah syubhat</em>. Artinya, pernikahan itu berlangsung dengan anggapan bahwa hal itu boleh menurut syariat, padahal sebenarnya tidak boleh. Berarti pernikahan itu tidak mengubah status anak hasil perzinaan tersebut sebagai anak zina, dia tetap dinasabkan kepada ibunya dan tidak sah dinasabkan kepada lelaki tersebut. Adapun anak-anak yang dihasilkan setelah <em>nikah syubhat</em>, status mereka sah sebagai anak-anak keduanya4. Akan tetapi wajib atas keduanya untuk berpisah ketika mengetahui hakikat sebenarnya bahwa pernikahan itu tidak sah, sampai keduanya menikah kembali dengan akad nikah yang benar dan sah, tanpa harus melakukan <em>istibra` ar-rahim</em>. Ini adalah jawaban Syaikhuna Al-Faqih Abdurrahman Al-‘Adni <em>hafizhahullah wa syafahu</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, diketahuilah bahwa hubungan antara anak zina tersebut dengan anak-anak yang lahir dengan <em>nikah syubhat</em> tersebut adalah saudara seibu tidak seayah, yang berarti mereka adalah mahramnya. Namun tidak bisa menjadi wali pernikahannya menurut pendapat jumhur, yang menyatakan bahwa wali pernikahan seorang wanita adalah setiap lelaki yang merupakan <em>‘ashabah</em>5 wanita itu, seperti ayahnya, kakeknya dari jalur ayah, putranya, anak laki-laki putranya, saudara laki-lakinya yang sekandung atau seayah, pamannya dari jalur ayah dan <em>‘ashabah</em> lainnya6.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Yang menjadi walinya adalah <em>sulthan</em>.</strong> Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahullahu</em> berkata dalam <strong>Asy-Syarhul Mumti'</strong> (5/154): "Yang dimaksud dengan <em>sulthan</em> adalah imam (amir) atau perwakilannya.... Adapun sekarang, urusan perwalian ini dilimpahkan oleh pemerintah kepada petugas khusus."</p>
<p style="text-align:justify;">Di negeri kita, mereka adalah para petugas (penghulu) Kantor Urusan Agama (KUA). Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu 'anha</em>, Rasulullah <em>Shallallahu 'alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ ... فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>"Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil..., dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali."</em> (<strong>HR. Abu Dawud</strong>, <strong>At-Tirmidzi</strong>, dan <strong>Ibnu Majah</strong>, dishahihkan oleh Abu ‘Awanah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Albani dalam <strong>Al-Irwa`</strong> (no. 1840) dan guru besar kami Al-Wadi'i dalam <strong>Ash-Shahihul Musnad</strong> (2/493))</p>
<p style="text-align:justify;">Ash-Shan'ani <em>rahimahullahu</em> berkata dalam <strong>Subulus Salam</strong> (3/187): "Hadits ini menunjukkan bahwa <em>sulthan</em> adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali dalam pernikahan, baik karena memang tidak ada walinya atau walinya ada namun tidak mau menikahkannya7."</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang bertanya: Bukankah ibu seorang anak zina dan <em>‘ashabah</em> ibunya merupakan <em>‘ashabah</em> bagi anak zina itu sebagaimana pendapat sebagian ulama? Tidakkah mereka dianggap sebagai wali?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya: Ibnu Qudamah <em>rahimahullahu</em> dalam <strong>Al-Mughni</strong> (6/183) menerangkan bahwa kedudukan mereka sebagai <em>‘ashabah</em> anak zina itu hanya dalam hal waris semata dan tidak berlaku dalam perkara perwalian nikah. Karena hubungan nasab mereka hanya melalui jalur ibu, sehingga tidak ada hak perwalian untuk mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu a'lam bish-shawab.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Footnote:</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>‘Iddah</em> adalah masa penantian yang diatur oleh syariat bagi seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya, yaitu selama tiga kali masa haid. Adapun jika diceraikan dalam keadaan hamil maka <em>‘iddah</em>-nya sampai melahirkan.</li>
<li><em>Khulu'</em> adalah perpisahan suami-istri karena permintaan istri yang disertai dengan pembayaran ganti (harta) dari pihak istri.</li>
<li><em>Li'an</em> adalah persaksian demi Allah yang diucapkan empat kali oleh masing-masing suami dan istri yang dikuatkan dengan sumpah untuk pembelaan diri masing-masing, kemudian yang kelima kalinya: disertai pernyataan dari suami bahwa laknat Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> atas dirinya jika dia berdusta menuduh istrinya berzina, dan disertai pernyataan dari istri bahwa murka Allah <em>Subhanahu wa Ta'ala</em> atasnya dirinya jika suaminya benar.</li>
<li>Pendapat bahwa anak hasil <em>nikah syubhat</em> sah sebagai anak adalah pendapat Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi'i, dan yang lainnya, dipilih oleh Syaikhul Islam, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Da`imah. Lihat <strong>Al-Mughni</strong> (7/288), <strong>Majmu' Fatawa</strong> (32/66-67), <strong>Asy-Syarhul Mumti'</strong> (5/641, cet. Darul Atsa