<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ukhti &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ukhti/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ukhti"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:22:38 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mengantar Almarhumah]]></title>
<link>http://muhammadhamdan.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 09:47:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muhammad</dc:creator>
<guid>http://muhammadhamdan.id.wordpress.com/2008/09/15/mengantar-almarhumah/</guid>
<description><![CDATA[“Kami mengenal almarhumah sejak kecil, dan selama itu kami merasakan keramahan dan kebaikan hati b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>“Kami mengenal almarhumah sejak kecil, dan selama itu kami merasakan keramahan dan kebaikan hati beliau…” suara pak RW tertahan. Isak haru seakan mencekik kerongkongan, membuatnya terdiam sesaat. Telapak tangannya bergerak perlahan menyapu pipi dan hidungnya yang basah memerah. “Kami merasa kehilangan…”<!--more--><br />
Pak RW mengambil nafas dalam berusaha menguasai diri. Jam menunjukkan pukul 13.20. Di ujung deretan kursi depan, air mata mengalir semakin deras dari mata suami dan anak bungsu yang ditinggalkan. Terik matahari bulan Ramadhan tak mampu mengeringkan hati para hadirin yang menjadi gerimis oleh kenangan bersama almarhumah.</p>
<p>Kami yang berderet di halaman rumah tidak melihat putri sulung sang almarhumah. Tapi kami bisa merasakan berat hati <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> yang ditinggal sang ibu. Karena itulah pada pagi cerah Ahad 14 September 2008 itu, kami menempuh perjalanan 400 km menuju rumah duka. Sebuah rumah di gang kecil tempat <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> dibesarkan oleh almarhumah.</p>
<p>Aku sendiri bertemu almarhumah setahun sebelumnya. Saat beliau menunggui suami di RS Kariyadi Semarang bersama ukhti Nida. Dengan sikap supel, beliau menceritakan <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> ketika di rumah, semasa SMA sampai masa kecilnya. Beliau membuat kami yang baru bertemu seakan telah lama bersama. Ketegaran mendapati sang suami terbaring di RS seakan terpancar dari kokohnya tembok keramik ruang perawatan. Di sanalah mereka merayakan lebaran kala itu.</p>
<p>Sampai berbulan-bulan kemudian, ayahnya menjalani perawatan rumah. <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">Ukhti Nida</a> pun sering pulang untuk membantu ibunya merawat sang ayah. Sampai suatu saat, kami mendengar kabar ibu <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> masuk RS setempat sementara bapaknya masih perlu dirawat di rumah. Dari temen-teman yang menjenguk ke sana, kabarnya penyakit yang diderita ibu <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> cukup kronis. Aku sendiri tidak ikut menjenguk, hanya beberapa kali tanya kabar lewat SMS ke <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> .</p>
<p>“Ane bersyukur, semua ujian ini datang setelah ane menjadi akhwat,” sepenggal SMS yang masih kuingat sampai sekarang. Dia bercerita, mbak-mbaknya selalu menasehati dan menguatkan dirinya. “…Entah apa jadinya jika semua ini terjadi sebelum ane bergabung dalam dakwah.”</p>
<p>Ketegaran yang ditunjukkan <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> juga tak kalah dengan yang pernah ditunjukkan ibunya. Dia menyaksikan pemakaman ibunda tercinta dengan menyandarkan kepala di bahu ayahnya. “Aku bisa tegar. Setidaknya sekarang. Entah nanti kalau kalian sudah pulang,” katanya ketika kami berpamitan.</p>
<p>Semoga <a href="http://arnidafarahtika.blogspot.com/" target="_blank">ukhti Nida</a> selalu tegar. Seperti yang diperlihatkan ketika masih bermain bola voli di malam pekan olah raga antar fakultas, sebelum mau dipanggil ukhti. The life must go on, saudariku…</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nantikanku di batas waktu]]></title>
<link>http://kangdjoko.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 06:28:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>kangdjoko</dc:creator>
<guid>http://kangdjoko.id.wordpress.com/2008/09/11/nantikanku-di-batas-waktu/</guid>
<description><![CDATA[Berdoa di kedalaman hatiku
tersembunyi harapan yang suci
tak perlu engkau menyangsikan
***
Lewat kes]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3>Berdoa di kedalaman hatiku<br />
tersembunyi harapan yang suci<br />
tak perlu engkau menyangsikan<br />
***<br />
Lewat kesalihanku<br />
yang terukir menghiasi dirimu<br />
tak perlu dengan kata-kata<br />
Sungguh walau ku kelu<br />
tuk mengungkapkan perasaanku<br />
namun penantianmu pada diriku<br />
jangan salahkan<br />
Kalau memang kau pilihkan aku<br />
tunggu sampai aku datang<br />
nanti kubawa kau pergi<br />
ke surga abadi<br />
Kini belumlah saatnya<br />
aku membalas cintamu<br />
nantikanku di batas waktu</h3>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ukhti]]></title>
<link>http://oketoko.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 06:39:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>carolinlove</dc:creator>
<guid>http://oketoko.id.wordpress.com/2008/08/28/ukhti/</guid>
<description><![CDATA[
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[gallery]
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ukhti..., renungkanlah!]]></title>
<link>http://alatsarysolo.wordpress.com/?p=101</link>
<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 05:49:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Forum Kajian Islam Al-Atsary</dc:creator>
<guid>http://alatsarysolo.id.wordpress.com/2008/08/12/ukhti-renungkanlah/</guid>
<description><![CDATA[Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengamb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengambil faedah.</p>
<p style="text-align:justify;">"Mulanya hanyalah perkenalan dan percakapan biasa lewat telepon. Seiring waktu berkembanglah pembicaraan sampai pada kisah cinta dan seluk-beluknya. Dia pun kemudian mengungkapkan cintanya dan berjanji akan meminang saya. Dia meminta agar bisa melihat wajah saya, terang saya menolaknya. Dia mengancam akan memutuskan hubungan. Akupun menyerah. Kukirimkan fotoku serta surat-surat yang begitu manis penuh rayu. Surat menyurat pun berlangsung selalu. Sampai akhirnya dia meminta untuk berjumpa dan jalan berdua dengannya. Aku menolak dengan keras. Tapi dia mengancam akan menyebarluaskan foto-foto saya serta surat-surat saya dan suara saya yang direkamnya ketika kami bercakap-cakap lewat telepon. Akhirnya akupun keluar pergi bersamanya dengan tekad agar bisa pulang segera secepatnya. Ya, akupun pulang akan tetapi dengan mambawa aib dan kehinaan. Ku katakan padanya: Nikahilah aku! Sungguh ini adalah aib bagiku. Maka dia menjawab dengan segenap penghinaan, ejekan dan mentertawakan: "Sesungguhnya aku tidak akan menikahi wanita pezina.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudariku yang mulia, jika engkau memang memiliki akal untuk berfikir maka dengarkanlah nasehat berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;">Janganlah engkau percaya bahwa pernikahan akan mungkin terlaksana hanya karena perkenalan dan percakapan iseng lewat telepon. Kalaupun memang ini terjadi maka akan mengalami kegagalan, kegalauan dan penyesalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Janganlah engkau percayai seorang pemuda ketika dia mulai menampakkan kejujuran dan keikhlasannya dan menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu tapi dia mengkhianati keluargamu dengan meneleponmu dan mengajakmu jalan bersama. Jangan kamu percayai dia ketika dia mulai menyatakan cinta dan berlemah lembut dalam pembicaraannya. Sungguh dia melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuknya yang tampak jelas bagi orang yang berakal. Akankah dia benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara dia mengajakmu berjumpa dan jalan bersama padahal engkau belum halal baginya?</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Janganlah engkau percayai para penyeru emansipasi yang mengharuskan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan.<br />
Ketahuilah bahwa cinta yang hakiki adalah setelah menikah. Adapun selain itu, umumnya adalah cinta yang penuh kepalsuan. Cinta yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan dan berjanji akan setia berkasih sayang sepanjang jaman? Bahkan berapa banyak pula pasangan yang berantakan sebelum sampai pada pelaminan dibarengi hilangnya kehormatan yang dibanggakan?<br />
Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi SAW bersabda: "Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya SAW -: "Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi SAW menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: "Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka apakah engkau ingin menjadi bagian dari mereka wahai saudariku muslimah?</p>
<p style="text-align:justify;">Jauhilah bercakap-cakap tanpa keperluan di telepon karena sesungguhnya Allah merekamnya demikian juga syaithan dari jenis manusia pun merekamnya. Mereka para petualang cinta akan menggunakannya sebagai alat untuk mengintimidasi kalian agar kalian mau mendengar mereka dan mentaati mereka. Qiyaskan juga ke dalamnya chating yang tiada guna dan hanya membuang waktu semata.<br />
Hati-hatilah, janganlah engkau foto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan senjata yang paling berbahaya yang digunakan oleh serigala manusia sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi kalian.<br />
Jauhilah olehmu untuk menulis surat-surat cinta karena hal itu juga merupakan sarana yang digunakan oleh mereka.<br />
Hindarilah majalah-majalah dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela. Sungguh di dalamnya terdapat racun yang membinasakan yang tersembunyi di balik indahnya halaman yang warna-warni serta kertas yang halus mengkilap dan wangi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jauhilah menonton sinetron-sinetron dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita. Jauhilah semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malumu.<br />
Hati-hatilah, janganlah engkau pamerkan auratmu dan janganlah engkau terlalu sering ke luar rumah dan ke pasar-pasar tanpa ada keperluan mendesak yang menuntut untuk itu. Sungguh hal itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam murka Rabbmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Janganlah engkau pergi berduaan dengan sopir pribadimu, sungguh ini merupakan khalwat yang terlarang. Janganlah sekali-kali engkau membela diri dengan beralasan bahwa ini darurat. Bertakwalah, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala permasalahannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hati-hatilah engkau wahai saudariku dari teman yang jelek. Cari dan bergaullah dengan temanmu yang shalihah yang akan membimbingmu kepada keridlaan Rabbmu dan senantiasa mengingatkamu agar tidak terjatuh pada perkara yang akan mendatangkan murka Rabbmu.<br />
Saudariku yang mulia,<br />
Hati-hatilah dari segala kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut merupakan sebab hilangnya nikmat, mendatangkan musibah, dan merupakan sebab datangnya kesengsaraan serta adzab yang membinasakan.<br />
Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi malaikat maut dengan banyak bertaubat dan beramal shalih, sungguh engkau tidak tahu kapan giliranmu akan tiba.<br />
Saudariku,<br />
Setelah engkau baca nasihat di atas maka ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertaubat. Allah berfirman: "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas akan dirinya (berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesunggunya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar : 53)<br />
Maka apabila engkau wahai saudariku telah tenggelam dalam suatu kemaksiatan dan dosa, segeralah bertaubat dengan taubatan nashuha sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum tubuhmu ditimbun di dalam tanah. Dan pada saat itu tidaklah lagi berguna penyesalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian yang ada dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melindungi kita dari adzab qubur dan adzab neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga Firdaus Al-A'la.</p>
<p style="text-align:justify;">Shalawat serta salam senantisa tercurah kepada Nabi kita.</p>
<p style="text-align:justify;">(Diterjemahkan dari www.alsalafiyat.com dengan perubahan dan tambahan)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[08/08/2008 9.32PM Angka bagus untuk sebuah kebingungan diri]]></title>
<link>http://ftrimustgo.wordpress.com/?p=72</link>
<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 14:48:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>f i t r i a m a l i a</dc:creator>
<guid>http://ftrimustgo.id.wordpress.com/2008/08/08/08082008-932pm-angka-bagus-untuk-sebuah-kebingungan-diri/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini jadi panitia,,,ehehe seneng,tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati,ga tau apa.Ingin nangi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini jadi panitia,,,ehehe seneng,tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati,ga tau apa.Ingin nangis tapi ga tau karena apa.Hari ini teh hasna,teh septi,teh malin,dll ada di sekolah.Ih rindu banget ma mereka!abis mereka dengan suksesnya membuat adik mentornya menyayangi mereka sama seperti mereka menyayangi adik mentornya.</p>
<p>Hufft....kutarik nafasku panjang,ada yang membuatku sedih dan bingung,seperti kehilangan arah.Memang,sudah 2 bulan lebih tidak mentoring,pantas saja jika hatiku gersang.Ada yang lain selain itu,saya kehilangan sosok "teteh" yang selalu menemani hari-hariku.Selain sahabat akhwat Al-Furqan,mereka juga berhasil membuatku tegar terhadap kehidupan yang ada di sekolah.</p>
<p>Siang ini terjadi miskom yang membuatku panik.Ada teh septi di sana.kita berjabat tangan dan teh septi memelukku(cipika cipiki maksud)...duh saya rindu keadaan ini,ukhuwah.Yap itu kata kuncinya!ukhuwah itu lah yang saya rindukan dari teteh 2008!Hiks!akhirnya saya temukan salah satu kegalauan saya akhir-akhir ini.</p>
<p>Hari ini sepulang edulab.ketemu teh reni!senangs!teh reni menjabat tanganku dan memelukku.Hiks!udah kyak ke kakak sendiri!T_T....teh reni bilang rindu pada saya,wah jadi malu(ehehe)....duh ukhuwah ukhuwah....kamu ganteng sekali(lhooo??)</p>
<p>akar dari semua ini adalah ukhuwah,saya rindu dengan mereka,mereka yang berhasil menyayangi dan disayangi di jalan dakwah.DKM AL FURQAN AKHWAT 2008!SAYA RINDU KALIAN!RINDU DI MENTOR,RINDU CERITA,RINDU BERTEMU,DLL....HIKS! T0T</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[wahai wanita........:)]]></title>
<link>http://educast11.wordpress.com/?p=88</link>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 11:33:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>educast11</dc:creator>
<guid>http://educast11.id.wordpress.com/2008/08/05/wahai-wanita/</guid>
<description><![CDATA[

wanita……….
taksembarang orang boleh dan pantas
merasakan cinta dan kecantikannya
ia dipeliha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p><a href="http://educast11.files.wordpress.com/2008/08/gambar-syarifah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" src="http://educast11.wordpress.com/files/2008/08/gambar-syarifah.jpg?w=91" alt="" width="97" height="110" /></a></p>
<p>wanita……….</p>
<p>taksembarang orang boleh dan pantas</p>
<p>merasakan cinta dan kecantikannya</p>
<p>ia dipelihara dalam naungan Islam demi</p>
<p>menjaga harga dirinya</p>
<p>betapa Islam menjaga citra dirinya</p>
<p>tak ubahnya mutiara yang paling mulia</p>
<p><!--more--></p>
<p>wahai wanita…………</p>
<p>hendaklah kalian berusaha sebaik mungkin</p>
<p>untuk menjadi wanita pilihan, tentu bukan</p>
<p>sekedar menjadi pilihan lelaki, tapi lebih</p>
<p>dadri itu, wanita yang dipilih Allah Azza wa Jalla</p>
<p>untuk menjadi penghuni SURGA………………</p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dia yang Berhijab]]></title>
<link>http://agoezi.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 04:16:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>agoezi</dc:creator>
<guid>http://agoezi.id.wordpress.com/2008/07/31/dia-yang-berhijab/</guid>
<description><![CDATA[
Langkah kakinya anggun menapaki jalan
Setiap langkahnya diikuti banyak pandangan mata
Geraknya angg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3050/2589723846_b96110810f_m.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;">Langkah kakinya anggun menapaki jalan</p>
<p style="text-align:center;">Setiap langkahnya diikuti banyak pandangan mata</p>
<p style="text-align:center;">Geraknya anggun namun tak berniat menggoda</p>
<p style="text-align:center;">Ia menutup semua auratnya</p>
<p style="text-align:center;">Memenuhi perintah Rabbul 'alamin</p>
<p style="text-align:center;">Hanya matanya yang terlihat</p>
<p style="text-align:center;">Demi menjaga dirinya dari manusia-manusia nakal</p>
<p style="text-align:center;">Banyak pikiran yang bertanya-tanya</p>
<p style="text-align:center;">Siapa dia ?</p>
<p style="text-align:center;">Bagaimana rupanya ?</p>
<p style="text-align:center;">Cantikkah ia ?</p>
<p style="text-align:center;">Ya, dia cantik jelita</p>
<p style="text-align:center;">Indah imannya</p>
<p style="text-align:center;">Terjaga diri dan lisannya</p>
<p style="text-align:center;">Dialah bidadari idaman</p>
<p style="text-align:center;">Aku belum pernah melihat wajahnya</p>
<p style="text-align:center;">Aku belum pernah berbicara dengannya</p>
<p style="text-align:center;">Namun itulah kecantikannya</p>
<p style="text-align:center;">Yang tak dimiliki orang yang tak mengerti</p>
<p style="text-align:center;">Yang tak dimiliki orang-orang yang hanya bisa mengomentari</p>
<p style="text-align:center;">Kenapa dia begitu ? Apakah dia teroris ? Atau dia itu terlalu berlebihan</p>
<p style="text-align:center;">Tidak, semua perkataan orang tak berilmu itu tidak benar</p>
<p style="text-align:center;">Dia lebih mengerti</p>
<p style="text-align:center;">Dia lebih mengetahui</p>
<p style="text-align:center;">Perintah Rabb Yang Maha Perkasa</p>
<p style="text-align:center;">Itulah kecantikannya</p>
<p style="text-align:center;">Itulah kejelitaannya</p>
<p style="text-align:center;">Semoga Allah selalu memberikan kemudahan padanya</p>
<p style="text-align:center;">Kemudahan untuk selalu beristiqomah menjalankan perintahNya</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Wanita Menangis?]]></title>
<link>http://azzamkarisma.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 07:56:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>azzamkarisma</dc:creator>
<guid>http://azzamkarisma.id.wordpress.com/2008/07/24/mengapa-wanita-menangis/</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya, &#8220;Ibu, mengapa Ibu menangis?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azzamkarisma.wordpress.com/files/2008/07/muslimah2.jpg"><img src="http://azzamkarisma.wordpress.com/files/2008/07/muslimah2.jpg?w=200" alt="" width="200" height="243" class="alignnone size-medium wp-image-13" /></a>Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa Ibu menangis?" Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita."<br />
"Aku tidak mengerti," kata si anak lagi.<br />
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat, "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti."<br />
Kemudian anak itu bertanya kepada ayahnya, "Ayah kenapa ibu menangis? Ibu menangis tanpa sebab yang jelas."<br />
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan," hanya itu jawaban yang dapat diberikan ayahnya.<br />
Sampai kemudian si anak tumbuh menjadi remaja. Ia tetap bertanya, tanpa tahu mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam ia bermimpi dan bertanya pada Tuhan, "Ya Alloh, mengapa wanita mudah sekali menangis?"</p>
<p>Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, "Saat KuCiptakan wanita, Aku membuatnya sangat utama. KuCiptakan BAHUNYA agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. </p>
<p>Ku Berikan wanita KEKUATAN untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya Walaupun kerap kali ia menerima cerca dari anaknya itu. </p>
<p>KuBerikan KEPERKASAAN yang membuatnya tetap bertahan dan pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. </p>
<p>Kepada wanita KuBerikan KESABARAN untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah tanpa berkeluh kesah. </p>
<p>KuBerikan kepada wanita PERASAAN PEKA dan KASIH SAYANG untuk mencintai anaknya dalam kondisi dan situasi apapun, walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kenyamanan saat didekap lembut olehnya. </p>
<p>Ku Berikan wanita untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukankah tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak? </p>
<p>Ku Berikan kepada wanita KEBIJAKSANAAN dan KEMAMPUAN MEMBERIKAN PENGERTIAN dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya walaupun sering kali kebijaksanaan itu akan menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar dan saling melengkapi dan menyayangi. </p>
<p>Dan akhirnya, KuBerikan AIR MATA agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Ku Berikan kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan wanita, walaupun sebenarnya AIR MATA ini ADALAH AIR MATA KEHIDUPANNYA.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadiah Terindah Untuk Wanita]]></title>
<link>http://azzamkarisma.wordpress.com/?p=10</link>
<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 07:51:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>azzamkarisma</dc:creator>
<guid>http://azzamkarisma.id.wordpress.com/2008/07/24/hadiah-terindah-untuk-wanita/</guid>
<description><![CDATA[Aku Menciptakan seorang wanita, sebagai makhluk yang istimewa.
Aku membuat dirinya kuat berdiri dian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Aku Menciptakan seorang wanita, sebagai makhluk yang istimewa.<br />
Aku membuat dirinya kuat berdiri diantara keras dan congkaknya dunia, namun ia memiliki kelembutan dan mampu memberikan ketenangan<br />
Aku memberi sedikit dari Asma-Ku dirahimnya untuk mampu melahirkan anak, mengasuh dan membesarkannya dalam derita, lelah tanpa keluhan walaupun ia harus menerima kemarahan serta penolakan dari anak-anaknya.<br />
Aku memberinya ujian dan cobaan hidup agar ia tetap tegar ketika orang lain berputus asa dan kalah.<br />
Aku memberi ketulusan padanya untuk berbuat ketika yang lain mengharapkan pamrih<br />
Aku menunggunya... di surga<br />
Menyambut Sang Bidadari</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dear Ukhti-ku...]]></title>
<link>http://naungancinta.wordpress.com/?p=69</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 08:28:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>naungancinta</dc:creator>
<guid>http://naungancinta.id.wordpress.com/2008/06/30/dear-ukhti-ku/</guid>
<description><![CDATA[Dear ukhti-ku yang kucintai karena Allah&#8230;
Apa kabar imanmu hari ini? Semoga Allah Yang Maha In]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dear ukhti-ku yang kucintai karena Allah...<br />
Apa kabar imanmu hari ini? Semoga Allah Yang Maha Indah selalu memberi keindahan kepadamu dan melindungimu dari segala keburukan.<br />
Ukhti-ku yang kucintai karena Allah, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah. Dan "<em>perkara yang pertama kali ditanyakan kepada  seorang wanita pada hari kiamat nanti, adalah mengenai sholat lima  waktu dan ketaatannya terhadap suami". (HR. Ibnu Hibbab dari Abu  Hurairah).<br />
</em>Ukhti-ku, pagi ini aku membaca sebuah buku, didalamnya terdapat 10 wasiat Rasulullah kepada putrinya, Fathimah binti Rasulullah.<br />
Sepuluh wasiat yang beliau sampaikan merupakan mutiara yang termahal  nilainya, bila kemudian dimiliki oleh setiap istri sholehah. Wasiat  tersebut adalah :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ya Fathimah, kepada wanita yang membuat tepung  (kalau sekarang mungkin<br />
masak yah ?) untuk suami dan anak-anaknya,  Allah pasti akan menetapkan<br />
kebaikan baginya dari setiap biji gandum,  melebur kejelekan dan meningkatkan<br />
derajat wanita itu.</li>
<li> Ya Fathimah, kepada wanita yang berkeringat ketika  menumbuk tepung<br />
untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan  antara dirinya dengan<br />
neraka tujuh tabir pemisah.</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki  rambut anak-anaknya lalu<br />
menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan  Allah akan menetapkan pahala<br />
baginya seperti pahala memberi makan  seribu orang yang kelaparan dan memberi<br />
pakaian seribu orang yang  telanjang.</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah wanita yang menahan  kebutuhan tetangganya,<br />
melainkan Allah akan menahannya dari minum  telaga kautsar pada hari kiamat<br />
nanti.</li>
<li>Ya Fathimah, yang lebih utama dari seluruh  keutamaan diatas adalah<br />
keridhaan suami terhadap istri. Andaikata  suamimu tidak ridha kepadamu, maka<br />
aku tidak akan mendoakanmu.  Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah<br />
kemurkaan Allah.</li>
<li>Ya Fathimah, apabila wanita mengandung, maka  malaikat memohonkan<br />
ampunan baginya, dan Allah menetapkan baginya  setiap hari seribu kebaikan<br />
serta melebur seribu kejelekan. Ketika  wanita merasa sakit akan melahirkan,<br />
Allah menetapkan pahala baginya  sama dengan pahala para pejuang di jalan<br />
Allah. Jika dia melahirkan  kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti<br />
ketika dia dilahirkan  dari kandungan ibunya. Bila meninggal ketika melahirkan,<br />
maka dia tidak  akan membawa dosa sedikit pun. Di dalam kubur akan mendapat<br />
taman indah  yang merupakan bagian dari taman surga. Dan Allah memberikan<br />
pahala  baginya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji<br />
dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari  kiamat.</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah wanita yang melayani segala  kebutuhan suami<br />
selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas,  melainkan Allah<br />
mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian  kepadanya pada hari kiamat<br />
berupa pakaian yang serba hijau, dan  menetapkan baginya setiap rambut pada<br />
tubuhnya seribu kebaikan dan  Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali<br />
beribadah haji dan umrah.</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah wanita yang tersenyum di  hadapan suami,<br />
melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah wanita yang membentangkan  alas tidur untuk suami<br />
dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat  yang memanggil dari langit<br />
menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala  amalnya, dan Allah mengampuni<br />
dosa-dosanya yang telah lalu dan yang  akan datang.</li>
<li>Ya Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki  kepala suami dan<br />
menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya,  serta memotong kukunya,<br />
melainkan Allah memberi minuman yang dikemas  indah kepadanya yang didatangkan<br />
dari sungai-sungai surga. Allah  memudahkan sakaratul maut baginya, serta<br />
kuburnya menjadi bagian dari  taman surga. Dan Allah menetapkan baginya bebas<br />
dari siksa neraka serta  dapat melintasi sirathal mustaqim dengan selamat.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ukhti-ku yang kucintai karena Allah...<br />
Begitu indah menjadi wanita, dengan kelembutan dan kasihnya dapat merubah<br />
dunia.Jadilah dirimu menjadi wanita sholehah, agar negeri menjadi indah dan kokoh<br />
karena dirimu adalah tiang negeri ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ukhti-ku yang kucintai karena Allah...<br />
Tidakkah dirimu galau melihat keadaan negeri saat ini ? Apa yang akan  kau<br />
katakan kepada anakmu kelak saat ia bertanya mengapa negeriku  seperti ini?<br />
Jadikanlah dirimu wanita sholehah, karena esok negeri ini di tangan generasi<br />
kita.<br />
Ukhti-ku yang kucintai karena Allah...<br />
Begitu indah menjadi istri, setiap perbuatan menjadi pahala, lakukan  dengan<br />
ikhlas karena Allah, Insya Allah dunia akhirat menjadi milikmu.<br />
Ukhti-ku yang kucintai karena Allah...<br />
Semoga Allah yang Maha Baik menjadikan kita wanita dan istri sholehah,<br />
membantu dan membimbing kita untuk tetap di jalanNya, aamiin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[rahasia]]></title>
<link>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 07:05:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahlanalfarizy</dc:creator>
<guid>http://sahlanalfarizy.id.wordpress.com/?p=8</guid>
<description><![CDATA[sensor (hahahahaha)

]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;">sensor (hahahahaha)<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[air mata ummi...]]></title>
<link>http://sahlanalfarizy.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 07:00:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahlanalfarizy</dc:creator>
<guid>http://sahlanalfarizy.id.wordpress.com/?p=6</guid>
<description><![CDATA[UMMI… AIR MATAMU SEPERTI SEBONGKAH BERLIAN
 
 
Dear Ummi
 Saat Abi menulis surat ini.Di luar hujan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;color:#cc0000;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;">UMMI… AIR MATAMU SEPERTI SEBONGKAH BERLIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;color:#cc0000;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;color:#cc0000;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">Dear Ummi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Saat Abi menulis surat ini.Di luar hujan rintik-rintik membasahi tanah. Rintikan hujan membasahi hatiku seperti engkau membasahinya dengan cintamu. Sesekali Abi melihat keluar, hujanpun masih mesra mengecup bumi. Duh, sungguh romantis. Benar-benar romantis. Lagi lagi Abi teringat dengan sejuta keromantisan yang telah Ummi berikan. Ada sebongkah kebahagiaan ketika kelelahan Abi pulang dari kantor seberkas senyum hinggap menerpa dinding hati Abi. Sayang selalu untuk Ummi ya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">Dear Ummi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Ummi, tau nggak? Perjalanan tadi pagi ke kantor sungguh sangat melelahkan sekali. Selain kemacetan yang terus melanda. Juga rintik hujan yang semakin membuat Abi tak semangat. Ingin rasanya Abi mengambil selimut dan nonton tv di rumah saja. Tapi, ah…. Tau nggak apa yang Abi lakukan di mobil tadi? Abi mengambil fhoto kita sama anak-anak waktu liburan ke taman. Dalam riak kemacetan itu Abi senyum sendiri melihat poto romantis kita. Huahhhh… lelah Abi langsung hilang lho. Bener deh. Semangat kerja Abi pun bangkit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;">Eh, mi…. di jalan tadi ada kejadian lucu lho. Ceritanya<span> </span>ada yang ngamen. Cewek lagi!. Beberapa menit dia nyanyi.lagu sayang sayang gitu deh, Abi kurang faham hehehe… selesai nyanyi ya Abi kasih receh dong. Tau nggak apa yang dia bilang?. Cewek pengamen itu bilang. “ih, ganteng-ganteng kok uangnya recehan.” Aduh,<span> </span>Abi baru nyadar kalo Abi<span> </span>selama ini ganteng, beruntung yah Ummi dapetin Abi (halah, narsis amat hehehe).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Dan tau gak apa yang ia lakukan setelah itu? Pengamen cewek itu kiss bay dari kejauhan sambil teriak. “Dadah ganteeeeeng”. Iiiiiih, Abi merinding (hey, jangan cemburu yah). Nggak mungkinlah Abi selingkuh sama pengamen itu hahahahaha. Love you mi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">Dear Ummi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Hiks… Ummi tau nggak. Sebenarnya di mobil tadi air mata Abi menetes<span> </span>seperti aliran sungai Nil<span> </span>(nggak sampai jerit jerit sih). Iya iya Abi faham kalo kita memang sibuk dengan jundi-jundi kita. Abi faham sekali. Tapi, pliiiis… bisa kan? Tanpa harus ada air mata. Tanpa harus ada kebekuan dalam hidup?. Abi sama sekali tidak marah kok. Abi nggak pernah marah. Abi cuman merasa benar benar bersalah telah membuat Ummi terluka. Oh, Ummi… Ingin rasanya Abi mengambil bunga Krisan walaupun harus mendaki gunung tertinggi di dunia. Asal Ummi bisa senyum simpul di garda rumah tangga kita. Tapi sayang, bunga Krisan itu seperti apa Abi nggak tahu lho mi, beneran. Abi nggak tau, jangan di tagih yah. Lagi pula kalau Abi naik gunung tertinggi di dunia. Siapa yang nemenin Ummi yah? Idih, nggak jadi deh ngambil bunganya. Biar nanti kita pesen bunga sama mang Somad aja ya mi… he he he he.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Iya pasti<span> </span>Ummi masih inget kejadian pagi tadi kan? Abi sedang mandiin dede bayi. Dan Abi juga melihat Ummi sedang masak.<span> </span>Terus di kamar Farhan jundi kita yang baru 3 tahun itu menangis minta susu. Lalu Ummi teriak. “Abiiiii..”<span> </span>karena Abi nggak merespon Farhan, sehingga<span> </span>Ummi ngomel ngomel yang membuat hati Abi perih. Perih sekali bagai di tusuk duri. Menghujam kedalam sanubari dan benar benar telah menyayat luka sampai menjadi robekan yang susah di jahit. Ummi ngomel dengan kata kata yang membuat hati Abi seperti di tusuk belati. Masih ingat kan? Ummi ngomel “Halah, Abi ini gimana sih. Farhan Nangis di biarin saja. Apa nggak dengar? Telinganya budek kali yah? Nggak peduli amat sih ama anak sendiri” Hiks… Ummi sungguh terlalu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Aduh, sudah… Sudah!!!! ;-) itu kan sudah lewat. Abi nggak marah kok. Cuman Abi merasa belum bisa memberikan yang terbaik buat Ummi. Buat farhan, buat Humairah. Mungkin Abi harus banyak belajar. Ya benar! Abi seharusnya banyak belajar. Dari Ummi, dari anak-anak bahkan dari segala kesalahan yang telah (kita) lakukan. Abi rasa Ummi nggak terlalu salah kok (cuman sedikiiit hehehehe).jadi sekali lagi Abi minta maaf ya mi, peluk cium buat Ummi dan anak kita berdua.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">Dear Ummi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Masih ingatkah Ummi waktu itu? Ketika Ummi tersedu sedan menangis di pangkuan Abi. Iya iya Ummi menangis di pangkuan Abi dan farhan sama Humairoh dengan kecerdasannya mengusap-ngusap pundak Ummi? Masih ingatkan? (aduh, jangan bilang lupa deh). Alasan kenapa Ummi menangis? Iya Ummi menangis gara gara cemburu. Saat Ummi membuka friendster Abi ada wanita yang <em>comment</em> pake bahasa bahasa sayang gitu. Terus Ummi langsung matikan laptopnya dan menangis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Aduh, sayaaang. Terima kasih engkau telah mencemburuiku. Terima kasih engkau telah membuat Abi special di hatimu. Itu sebuah bukti dalamnya cinta Ummi pada Abi (halah, Ge Er lagi nih). Iya iya kalau nggak cemburu ya mana mungkin Ummi menangis lalu mengadu (berterus terang) kekesalan terhadap komentar wanita itu. Hey, masih ingatkan dengan poto Abi waktu SD (woy, koleksi poto SD masih ada juga?? Hehehehe). Nah, di poto itu pasti Ummi melihat dong fhoto wanitu itu (yang waktu itu masih ingusan banget). Itu intinya wanita itu bukan siapa siapa. Dia adalah saudara Abi satu sekolahan sejak SD. Bahkan lanjut SMP sampai SMA pun satu sekolahan. Bagaimana tidak akrab? Lha wong dia musuh bebuyutan Abi (istilah saking akrabnya untuk sahabat yang sering berantem eeeh….)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Abi masih inget banget waktu Ummi menangis sesenggukan di pangkuan Abi. Menanyakan perihal wanita itu, ehem… mungkin Ummi takut<span> </span>Abi selingkuh yaaa? Ow ow ketahuan<span style="font-family:Wingdings;">J</span>. Air mata Ummi waktu itu benar benar membasahi hati Abi lho. Bagaimana tidak?. Lha Ummi telah menjadi insan yang teraniaya (hatinya) gara gara Abi? Iya Ummi ngaku aja deh, kalau waktu itu. Ummi sakit hati kan? Benar kan? Hayooo ngaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;">Dan setelah Ummi ngaku cemburu. Lalu Abi jelasin deh perihal wanita itu. Kalau dia adalah saudara Abi juga yang kebetulan satu sekolahan. makanya jadi akrab banget.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Hmmm… Ummi… Ummi… ternyata engkau sensitif juga yah <span style="font-family:Wingdings;">J</span> Abi jadi makin cinta deh. O’ya mi… waktu ngetik tulisan ini. Kebetulan Abi sambil denger lagu syahdu lho. Coba deh Ummi perhatiin<span> </span>liriknya :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Mi, aku pinta kau akan selalu setia. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Mi… aku mohon. Kau selalu menemani</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em><span> </span>Saat ku tengah terluka.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em><span> </span>Dan aku tengah gundah </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>di semua mimpi dan nayatamu </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>ku akan menjaga mu tuk hidup dan matimu </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>tak ingin takiingin kau rapuh. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Miiii… jangan engkau pergi tinggalkan aku. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Ummi ingin aku cinta dan cinta selalu. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>Saat kau tengah terluka, </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>kala kau tengah gundah </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;color:#cc0000;"><em>di semua mimpi dan nyatamu…(di kutif dari lagi dik sebelas wali)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">Dear Ummi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span>Terima kasih ya sayang. Selama ini Ummi telah memberikan yang terbaik buat Abi. Abi kagum sekali dengan kegigihan Ummi yang selalu sabar menghadapi anak anak. Menghadapi masalah dakwah, menghadapi masalah pekerjaan sebagai guru. Menghadapi semua konflik yang (pernah) terjadi. Tau nggak mi? diam diam Abi perhatikan sepertinya Ummi semakin dewasa deh. Sungguh itu membuat Abi semakin jatuh cinta. Bagaimana tidak. Kebijakan dan kebajikan yang selalu Ummi lakukan setiap hari. Membuat hati Abi terasa berada dalam taman-taman cinta yang harumnya semerbak melebihi bunga kasturi. Sungguh Ummi telah membuatku semakin jatuh cinta. Ya ya Abi jatuh cinta (lagi) lho sama Ummi. Terima kasih ya mi, engkau adalah rembulan dalam redupnya malam. Engkau adalah matahari dalam hamparan siang. Engkau adalah penerang bagi kesakinahan keluarga kita. Syahdu suaramu, lirih zikirmu dan deraian air matamu seperti sebongkah berlian yang sangat berharga. Salam sayang buat Ummi. O ya peluk cium buat Farhan dan Humairoh jundi-jundi kita. Mari kita jaga selalu. Hanya 3 kata<span> </span>ku berikan untuk mu. I LOVE YOU.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:150%;color:#cc0000;" align="right">Palembang, 12 Juni 2008</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;color:#cc0000;">
<p><span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ciri-ciri Wanita Ahli Syurga]]></title>
<link>http://yakeshi.wordpress.com/?p=179</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 10:43:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>yakeshi</dc:creator>
<guid>http://yakeshi.id.wordpress.com/2008/05/07/ciri-ciri-wanita-ahli-syurga/</guid>
<description><![CDATA[Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan  yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:30px 20px 10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan  yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat  bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam  permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh  mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang  menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Di antaranya Allah <em>Subhanahu wa  Ta'ala</em> berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang  dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari  air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak  berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi  peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di  dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang  yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga  memotong-motong ususnya?” </span></em><strong><span style="font-family:Verdana;">(QS.  Muhammad : 15)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman,  merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada  Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang  terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di  atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya  berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan  membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air  yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan  buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka  inginkan.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS. Al Waqiah :  10-21)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan  tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah <em>Tabaraka wa Ta’ala</em> kelak  akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan  yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, di antaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“Dan (di dalam Surga itu) ada  bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS. Al Waqiah : 22-23)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“Dan di dalam Surga-Surga itu ada  bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh  oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka)  dan tidak pula oleh jin.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS.  Ar Rahman : 56)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan  marjan.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS. Ar Rahman : 58)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari)  dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi  sebaya umurnya.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS. Al Waqiah  : 35-37)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Rasulullah <em>Shallallahu '</em></span><em><span style="font-family:Verdana;">Alaihi  Wa Sallam</span></em><span style="font-family:Verdana;"> menggambarkan  keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“ … seandainya salah seorang wanita  penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya  (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan  setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik  daripada dunia dan isinya.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (HR.  Bukhari dari Anas bin Malik <em>radliyallahu 'anhu</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Dalam hadits lain Rasulullah <em>Shallallahu '</em></span><em><span style="font-family:Verdana;">Alaihi  Wa Sallam</span></em><span style="font-family:Verdana;"> bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga  akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah  didengarkan oleh seorangpun. Di antara yang didendangkan oleh mereka : “Kami  adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia.  Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan :  “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah  wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang  tinggal, tidak akan pergi.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (<em>Shahih  Al Jami’</em> nomor 1557)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Verdana;color:#0000ff;">Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan  laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana  dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada  Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di  Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk  Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi  ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada  Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia  miliki. Di antara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Bertakwa.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Beriman  kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari  kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Bersaksi  bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad  adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di  bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Ihsan,  yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat  melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">5.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Ikhlas  beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan  Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat  kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala  kenikmatan yang diberikan kepadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">6.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Gemar membaca Al Qur’an dan  berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama  banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">7.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Menghidupkan amar ma’ruf dan  nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">8.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Berbuat baik (ihsan) kepada  tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik  terhadap hewan ternak yang dia miliki.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">9.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Menyambung  tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang,  menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">10.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Berinfak,  baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan  manusia.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">11.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Adil  dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">12.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Menjaga  lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain  (ghibah).</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">13.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Menepati janji dan amanah  yang diberikan kepadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">14.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Berbakti kepada kedua orang  tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.5in;margin-left:70px;margin-right:20px;margin-bottom:10px;"><strong><span style="font-family:Verdana;">15.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;font-family:&#34;"> </span></span></strong><span style="font-family:Verdana;">Menyambung  silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><span style="font-family:Verdana;">Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga  yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz  11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi  ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah  dan Rasul-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:10pt;"><em><span style="font-family:Verdana;">“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan  Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya  sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.”</span></em><strong><span style="font-family:Verdana;"> (QS. An Nisa’ : 13)</span></strong></p>
<p style="margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:30px;"><em> <span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;">Wallahu A’lam Bis Shawab.</span></em></p>
<p style="margin-left:20px;margin-right:20px;margin-bottom:30px;text-align:center;"><img style="vertical-align:middle;" src="http://i100.photobucket.com/albums/m24/yake_keshi/268348616_edbfa7d653.jpg" alt="" /></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Balik Kelembutan Suaramu Ya Ukhti...]]></title>
<link>http://agoezi.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Sat, 03 May 2008 04:50:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>agoezi</dc:creator>
<guid>http://agoezi.id.wordpress.com/2008/05/03/di-balik-kelembutan-suaramu-ya-ukhti/</guid>
<description><![CDATA[Di Balik Kelembutan Suaramu
Penulis: Al Ustadzah Ummu Ishak Al Atsariyyah &amp; Al Ustadzah Ummu  Af]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="content"><strong>Di Balik Kelembutan Suaramu</strong></span><br />
<span class="tiny">Penulis: Al Ustadzah Ummu Ishak Al Atsariyyah &#38; Al Ustadzah Ummu  Affan Nafisah bintu Abi<br />
Sakinah, Mutiara Kata, 05 - Juli - 2003,  08:30:59<br />
</span></p>
<p><span class="content">Banyak wanita di jaman  ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang  menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah</span></p>
<p>Ukhti Muslimah….<br />
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu  sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan  televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC  karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.</p>
<p>Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh  perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia  telah memperingatkan:<br />
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam  berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya  dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)</p>
<p>Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda :<br />
“Wanita itu adalah aurat,  apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam  pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan  dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash  Shahihul Musnad, 2/36).</p>
<p>Suara merupakan bagian dari wanita sehingga  suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin  Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin  sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)</p>
<p>Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat  mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan  itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh  karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika  bertalbiyah1. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak  boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi  cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi  Wasallam:<br />
“Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk  wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)</p>
<p>Demikian pula  dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya  lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.</p>
<p>Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada  kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana  larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan  hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari  ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya  tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan  suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).</p>
<p>Maksud penyakit dalam ayat ini  adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam  hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan  sepasang suami istri, atau yang semisalnya.</p>
<p>Suara wanita di radio<br />
dan telepon</p>
<p>Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah  pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di  mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah  seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau  secara langsung?”<br />
Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di  stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan  kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang  siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya.  Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
“Jangan sekali-kali  seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”</p>
<p>Ikhtilath yang  seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang  bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar  dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib  dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.</p>
<p>Adapun mendengar suara  wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang  untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah  berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang  dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan.  Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu  permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini  diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut,  maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian  ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara  ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki  tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia  menyadarinya.</p>
<p>Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka  tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari  fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah  dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak  perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah,  1/433-434).</p>
<p>Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan  dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara  seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia  hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan  terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan  bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan  yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan  bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama  adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.”  (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)</p>
<p>Laki-laki berbicara lewat telepon dengan  wanita yang telah dipinangnya</p>
<p>Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila  seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan  mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak  diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah  pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita  memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang  dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki  juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah  seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan  syariat dalam permasalahan ini?</p>
<p>Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan  menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita  yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah)  telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan  pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila  keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan  lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara  pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum  ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram,  mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu  Wa Ta’ala telah berfirman:<br />
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam  berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya  dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605)  ?</p>
<p>(Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al  ‘Utsaimin, Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh  Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin<br />
oleh Ummu Ishaq Al Atsariyah dan Ummu  ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://mypoetry11.wordpress.com/2007/02/14/4/</link>
<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 10:52:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>mypoetry11</dc:creator>
<guid>http://mypoetry11.id.wordpress.com/2007/02/14/4/</guid>
<description><![CDATA[Rizqi Amaliyah
Lailatul Najwa
Zuhrotun Nisa
Farida Silmi
Nur Hanifah
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Rizqi Amaliyah</p>
<p>Lailatul Najwa</p>
<p>Zuhrotun Nisa</p>
<p>Farida Silmi</p>
<p>Nur Hanifah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RAMADHAN I’M IN LOVE]]></title>
<link>http://mazasupa.wordpress.com/2007/01/26/ramadhan-i%e2%80%99m-in-love/</link>
<pubDate>Fri, 26 Jan 2007 13:12:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ayuning Mazasupa</dc:creator>
<guid>http://mazasupa.id.wordpress.com/2007/01/26/ramadhan-i%e2%80%99m-in-love/</guid>
<description><![CDATA[Kisah
UKHTI edisi xx
by Matsu Mazasupa
	Kereta Gajayana yang membawaku ke Jakarta telah tiba di stas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah<br />
UKHTI edisi xx<br />
by Matsu Mazasupa</p>
<p>	Kereta Gajayana yang membawaku ke Jakarta telah tiba di stasiun Jatinegara. Kulihat sekilas, jam bundar besar di stasiun itu menunjukkan pukul 07.00 pagi di awal Ramadhan ini. Yah, biasa...selalu terlambat 1 jam dari jadwal yang seharusnya. Sebelum kereta benar-benar berhenti, para kuli pengangkut barang sudah berhamburan menyerbu para penumpang di dalam kereta. Aku melambai ke salah satu dari mereka, sebagai tanda bahwa aku membutuhkan jasa mereka untuk membawa barang bawaanku yang cukup banyak. Yup, ”cuma” satu set PC dekstop standard, satu tas ransel, dan satu lagi handbag merah. Hi..hi.. ini mah kayak orang mo pindahan aja.</p>
<p>	Seorang pria setengah baya menghampiriku. Badannya tidak begitu besar pun tidak terlalu tinggi, tapi sorot mata yang tajam dan kulitnya yang legam seakan bercerita dengan polos tentang kerasnya perjuangan hidup yang dijalaninya. Kusodorkan satu dus besar yang berisi monitor 14 inch, sedangkan aku masih sanggup menggendong tas ranselku dan menenteng 1 box CPU plus handbag di kedua tanganku. Kami turun dari kereta dan melanjutkan “atraksi” kami sepanjang jalan keluar stasiun. Tapi sebelum melewati jalur kereta terakhir yang terdekat dengan pintu keluar, kami terpaksa berhenti sampai sebuah KRL lepas landas dari rel tersebut. </p>
<p>Sejenak, Bapak kuli itu melihat ke arahku. Sedikit heran tampaknya. Mungkin karena tubuhku yang cukup kecil ini hampir tidak terlihat, kalah guedhe dengan “sak ombyok” (jawa : setumpuk) bawaanku. “Sini, Neng. Saya aja yang bawa !” sahutnya tiba-tiba sembari meraih CPU di tangan kananku. “Gak papa, Bang. Soalnya itu kan pasti berat banget” jawabku seraya menunjuk dus monitor yang nangkring di atas pundaknya. Seolah tak mendengar, Bapak kuli itu tetap enteng saja membawakannya sampai di tempat mangkal taxi-taxi. Fiuh, padahal aku rela bersusah payah membawa semua barangku, selain monitor itu, tak lain supaya ongkosnya ga mahal-mahal. Tapi, karena sudah terlanjur, ya apa boleh buat. Kuberanikan diri berspekulasi, setahuku ongkos angkut barang sekitar 5 ribu. Karena service-nya “memuaskan”, sengaja kuberikan 6 ribu, sesaat setelah dia menurunkan barang bawaanku di ujung pintu keluar. Tak disangka, dia berkata kalem “Kelebihan, Neng. 5 ribu aja.” Gubrax! Jawaban itu serasa membuatku terjungkal bersama barang-barang bawaan yang menempel di tubuhku (kayak di komik-komik itu lho :P). It-just-does-not-compute-with-my-logic! Bayangkan seorang kuli seperti dia tidak berani menerima uang yang bukan hak-nya!</p>
<p>Aku masih terpaku ketika SERIBU rupiah itu kembali ke tanganku. Kupikir, uang segitu bakal berarti buat orang seperti dia. Nyatanya, sebuah kejujuran membuatku sadar bahwa Bapak kuli itu jauh lebih “rich”. Padahal, tidak jarang aku masih merasa kurang dengan uang kiriman orangtua. Betapa aku masih sedemikian kerdil. Padahal, keadaanku sudah JAUH lebih baik daripada dia. Allah sudah sedemikian sayang padaku, tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan dengan Bapak kuli itu, yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan. Ternyata di celah-celah kejamnya kota Jakarta akibat jajahan liberalisme ini, masih ada orang-orang yang “survive” jiwanya. </p>
<p>Awal Ramadhan ini, aku merasa mendapat pelajaran berharga. Pikiranku masih melayang-layang sampai taxi yang mengantarku sudah sampai di depan pintu kos. Begitu masuk rumah, aku melihat sosok perempuan yang masih asing di mataku. Beberapa saat aku mengernyitkan dahi, mencoba menerka siapa gerangan perempuan misterius ini. Yah, aku baru ingat cerita seorang teman kosku yang sudah datang duluan di Jakarta, kalau sejak bulan ini Cantique Kos menyediakan fasilitas seorang  pembantu rumah tangga  (kalimat yang satu ini beneran lho!). Why not? Bisa jadi dia ini pembantu baru di tempat kosku. JRENG !!! Eng..ing..eng...! Kaget ya, ada pembantu di sebuah tempat kos?</p>
<p>“Ini Mbak Mimin ya...?” sapaku mengakrabi (nama samaran, aslinya Mince binti Minul). “Iya,” jawabnya singkat. </p>
<p>“Saya Ayu, sudah berapa hari Mbak di sini?” lanjutku. </p>
<p>“ Sekitar 2 mingguan-lah. Mbak, baru pulang ya?” Heh, lega sekali mendengar dia balik bertanya. Yah, setidaknya aku tidak perlu khawatir kalau dia bakal enggan berkomunikasi dengan hangat. </p>
<p>“Iya, saya baru mudik ke Malang sebentar.” </p>
<p>Tak lama, aku pun pamit meninggalkannya ke kamarku di atas untuk mandi dan istirahat, setelah sebelumnya ucapan “selamat berpuasa”-ku dijawabnya dengan senyum simpul dan kata-kata polos “Sama-sama, Mbak!”</p>
<p>Sore hari, aku ngobrol dengan Ika, salah seorang penghuni kos ini. Merencanakan konsep-konsep per-kos-kos-an yang baru pasca kehadiran Mbak Mimin. Bahkan saking getolnya, tercetuslah ide membuat semacam jadwal kerja Mbak Mimin setiap harinya dan ditaruh pada semacam kotak saran yang kami sebut “Mimin by Request” (keren gak sich... :P ). Selain supaya praktis, kami tidak perlu sungkan untuk memintanya bantuan tenaganya secara langsung. Berhubung jam kerja Mbak Mimin cuma pagi hari, maka kami harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Selain menyapu dan mengepel setiap hari, kami boleh memintanya untuk membersihkan kamar mandi setidaknya seminggu sekali. Kalau kebetulan piring dan gelas kotor tampak menumpuk saat jam kerjanya, boleh jadi Mbak Mimin punya wewenang untuk membuatnya “bersih bersinar kembali”. </p>
<p>Tiba-tiba terbersit keraguan di wajah Ika, “Tunggu dulu, gimana kalo seandainya Mbak Mimin itu ga bisa baca, hayo? Kalo ga salah dia kan masih seusia SMP, tapi kok dah ga sekolah.”<br />
Tuing...tuing...tuing...!! </p>
<p>“Masa sich, segitunya??” sahutku tak kalah ragu. Akhirnya kami memutuskan untuk memastikan hal yang paling mendasar ini langsung ke orangnya demi terwujudnya program “Mimin by Request”. Konsekuensinya, jika memang benar Mbak Mimin ga bisa baca tulis, kami bertekad untuk membebaskannya dari illiteracy.</p>
<p>Singkat cerita, proyek “Mimin by Request” sepertinya harus ditunda dalam waktu yang tak terbatas. Yup, PR besar buat kami se-kos-an : Mbak Mimin yang SD aja ga lulus, ternyata memang illegible, eh... salah, illiterate ! Lagu lama.... gak ada lagi biaya buat bayar ongkos sekolah yang mahalnya bukan main. Kalau tidak ingat lagi puasa, hampir saja aku mengumpat atas sistem pendidikan kapitalis yang sedang menjajah negeri ini. Astaghfirullah ..., maaf, sedikit emosi! Habis, orang mau pinter aja musti kaya dulu. (tanya kenapaa??). Sudah sewajarnya kalo pendidikan itu murah, kalau memang belum bisa gratis.</p>
<p>Pantas saja, sewaktu kami tawari untuk belajar baca tulis, dia suueeneng banget. Sebenarnya dia dah bisa sih dikit-dikit, tapi karena dah ga ada yang membimbing, tingkat kelancaran membacanya makin parah. “Tapi ada syaratnya, Mbak! Sementara Mbak latihan baca tulis, ntar Mbak juga mesti blajar baca Al-Qur’an. Gimana?” ujarku saat itu. Finally, Mbak Mimin sepakat untuk mengulangi ngajinya mulai dari IQRA’ 1, walaupun dulu sudah pernah sampai di IQRA’ 3.<br />
Setidaknya, ini justru bisa menjadi agenda pertama dalam daftar “Mimin by Request”. </p>
<p>Bergiliran, setiap hari, kami mendampinginya meraih terangnya cahaya ilmu Allah. Semangatnya yang luar biasa, makin menghiasi hari-hari Ramadhan di kosan kami. Ternyata perempuan kelahiran Bogor ini orangnya ramah sekali, sesekali dia bercerita tentang kisah hidupnya di kampung halaman. Dua adiknya diasuh sang Paman di Bogor karena ibunya telah meninggal setahun yang lalu, sedangkan Ayahnya baru-baru ini bekerja sebagai kuli pengangkut barang di stasiun Jatinegara........</p>
<p> ???? Mulutku tercekat, namun bathinku tak henti meneriakkan takbir dan tasbih atas segala keajaiban di Ramadhan yang mulia ini. </p>
<p>“Say: Believe in it or believe not; surely those who are given the knowledge before it fall down on their faces, making obeisance when it is recited to them. And they say: Glory be to our Lord! most surely the promise of our Lord was to be fulfilled. And they fall down on their faces weeping, and it adds to their humility.”<br />
(Q.s. al-Isra’: 107-109).</p>
<p>****<br />
Cerita ini FIKTIF belaka, jika ada kemiripan dalam segala nama, itu merupakan kesengajaan yang MEXO.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
