<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tulisan-mama &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tulisan-mama/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tulisan-mama"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:22:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Grillen yuuk]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=99</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 13:55:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/05/07/grillen-yuuk/</guid>
<description><![CDATA[Setelah beberapa bulan terakhir kami jarang bertemu dengan matahari (karena udara yang dingin atau a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beberapa bulan terakhir kami jarang bertemu dengan matahari (karena udara yang dingin atau awan gelap yang gampang cemburu lalu menghalangi), Alhamdulillah mulai bulan ini kami bisa bertemu dengan matahari lebih sering dan lebih lama. Layaknya pasangan yang baru bertemu, kami begitu bahagia! Hadirnya matahari adalah pertanda akhir musim semi dan musim panas yang akan segera tiba. Untuk sebagian besar orang di sini, musim panas berarti makan es krim dan <em>grillen</em>. Jangan sampai ke dua hal tersebut terlewatkan dan jangan heran jika pada saat seperti ini kami cukup sibuk dengan  beberapa undangan untuk datang ke <em>Grillparty</em>/<em>Barbecue </em>(kalau pun tidak ada undangan biasanya kami tetap memaksa datang)</p>
<p>Grillen (Jerman) atau <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Grilling/" target="_blank">Grilling</a> (Inggris) dalam bahasa Indonesia artinya memanggang atau membakar langsung di atas api. Jenis makanan yang dibakar biasanya daging, sosis atau sayuran tertentu (sayangnya jagung relatif mahal, jadi sayang kalau untuk dibakar). Grillparty ini biasanya dilakukan di halaman/kebun sekitar rumah, di balkon atau di taman sambil berkumpul dan kadang sambil melakukan suatu permainan yang umum dilakukan ketika musim panas (misal bermain <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flying_disc" target="_blank">frisbee</a>).  Di Indonesia, budaya ini mungkin tidak terlalu istimewa dan jarang dilakukan, kecuali pada saat malam Tahun Baru atau ketika hari Raya Kurban (mungkin karena kita terlalu sering bertemu dengan matahari, jadi tidak ada cukup alasan untuk berpesta ketika matahari ada).</p>
<p>Grillparty ini mempunyai beberapa manfaat, yaitu bisa mempererat tali silaturahmi antar teman atau pun di keluarga, kita juga bisa menikmati udara dan pemandangan di luar rumah (ini hal yang sangat jarang bisa dilakukan di Bielefeld) dan yang penting adalah bisa makan sampai kenyang :) .</p>
<p>Berikut beberapa tips untuk kegiatan grillen ini :</p>
<ul>
<li>Jika ingin mengadakan Grillparty, sebaiknya undangan disampaikan dari jauh-jauh hari supaya teman-teman kita bisa menyusun jadwalnya lebih baik, karena mungkin mereka punya lebih dari satu undangan  grillparty (Mr  Nugroho: supaya yang diundang lupa dan semua makanan bisa kita habiskan sendiri)</li>
<li>Jangan lupa untuk melihat perkiraan cuaca, karena kalau tiba-tiba hujan, acara grillen ini akan menjadi gagal total.</li>
<li>Sebaiknya dilakukan di tempat yang nyaman, agak luas dan terbuka agar asap tidak mengganggu tamu dan asap panggangan bisa terbang bebas.</li>
<li>Jika kita mengundang tamu dalam jumlah yang banyak, sebaiknya alat untuk grillen pun diperbanyak, karena membutuhkan waktu yang cukup lama sampai makanan yang dibakar matang.</li>
<li>Letakkan alat grillen pada posisi yang tepat, tidak mudah jatuh, sebisa mungkin jauhi dari jangkauan anak-anak, tidak di dekat pohon atau barang-barang yang mudah terbakar dan listrik. Arah angin juga harus dilihat pada saat itu, jangan sampai asap dari grillen menuju tamu.</li>
<li>Bensin, Alkohol dan Spirtus dilarang digunakan untuk grillen karena bisa berakibat fatal.</li>
<li>Siapkan alat pemadam api jika punya, atau seember air untuk berjaga-jaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</li>
<li>Satu hal yang terpenting dan jangan sampai terlupakan adalah siapkan bahan makanan yang akan digrillen sebanyak-banyaknya.</li>
</ul>
<p><span style="color:#0000ff;">Selamat grillen, jangan lupa undang kami yaa..</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ulang Tahun Dietha]]></title>
<link>http://dietha0805.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Mon, 05 May 2008 05:09:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>dietha0805</dc:creator>
<guid>http://dietha0805.id.wordpress.com/2008/05/05/ulang-tahun-dietha/</guid>
<description><![CDATA[Tanggal 8 Mei 2008, 3 tahun sudah usia cantik Mama.
Banyak do&#8217;a dipanjatkan, Ya Allah aku memo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 8 Mei 2008, 3 tahun sudah usia cantik Mama.</p>
<p>Banyak do'a dipanjatkan, Ya Allah aku memohon pada-Mu agar cantik Mama jadi anak sholehah, sehat, panjang umur, tambah pinter. Amien.....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Bertemu Kembali...]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=85</link>
<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 16:13:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/04/15/ketika-bertemu-kembali/</guid>
<description><![CDATA[Jika sudah lama tidak bertemu dan ternyata dalam waktu dekat akan bertemu kembali, sepertinya berbag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#333333;">Jika sudah lama tidak bertemu dan ternyata dalam waktu dekat akan bertemu kembali, sepertinya berbagai perasaan berkumpul menjadi satu menjadi tak menentu. Perasaan senang, resah, gelisah semakin hari semakin kuat.</span><span style="color:#333333;"><span> </span>Umumnya kita selalu mencoba menebak atau mengira-ngira apa yang akan terjadi nanti, apakah sesuatu akan berubah atau masih tetap sama seperti ketika terakhir bertemu.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Alhamdulillah di bulan ini saya berkesempatan bertemu kembali dengan 2 hal yang sudah lama saya tunggu : 1. Ujian dan 2. Suami tercinta.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Sudah beberapa tahun saya tidak perlu menghadapi yang namanya ujian. Dan ketika sekarang harus menghadapinya kembali, semua perasaan muncul menjadi satu. Senang karena akhirnya saya punya kesempatan untuk mengetahui sudah sejauh mana kemampuan saya. Tapi perasaan lain yang tidak menentu pun hadir. Tegang, resah dan gelisah. Meskipun sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari, rasanya masih belum cukup.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Ketika tiba hari H, sebelum bertemu ujian, saya berusaha untuk memberikan penampilan yang terbaik. Mulai dari pakaian, menggunakan pakaian yang nyaman sehingga tidak menggangu proses ujian nanti. Makan, berusaha makan yang cukup sehingga tidak mengganggu konsentrasi ketika ujian. Datang lima menit sebelum ujian sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama dan jangan sampai kesiangan, karena akan menambah perasaan tegang dan tak menentu. Tidak lupa berdo'a sebelum ujian dan mohon do'a pada suami dan kepada orang-orang terdekat.</span></p>
<p><span style="color:#333333;">Ketika pada akhirnya soal ujian sudah berada di depan mata kita dan tiba saatnya mengerjakan soal-soal ujian, semua perasaan tak menentu tadi menghilang sedikit demi sedikit, karena harus berkonsentrasi dengan soal-soal ujian tersebut. Alhamdulillah, saya sangat menikmati proses menjawab soal-soal ujian tersebut. Meskipun kadang terasa sulit, tapi tetap berusaha memberikan yang terbaik.</span></p>
<p><span style="color:#333333;"><span>Mungkin perasaan tersebut tidak akan terlalu jauh berbeda ketika kita akan bertemu kembali dengan seseorang yang kita sayangi. Berbagai perasaan tak menentu akan hadir, namun ketika bertemu, saya yakin, lambat-laun perasaan tersebut akan menghilang, dan berganti dengan perasaan senang dan bahagia. Insya Allah sebentar lagi saya akan bertemu dengan hal yang telah lama saya nanti : suami tercinta. Sayangnya kadang suami tercinta jauh lebih sulit dimengerti dari semua soal ujian yang pernah saya temui, tidak peduli seberapa banyak persiapan yang telah saya lakukan, tampaknya tidak pernah cukup, komplain selalu saja bisa hadir tiba-tiba. Seperti juga ujian, Alhamdulillah (walau tidak pernah terbiasa) saya berusaha menikmati semua komplain-komplain tersebut. Meskipun sulit, tapi saya tetap berusaha mendengar semua komplain dengan baik.</span> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[20 Hari Ditinggal Cinta]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=76</link>
<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 18:57:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/03/18/seandainya-harus-sendiri/</guid>
<description><![CDATA[Dari semenjak kecil sampai usia seperti sekarang ini, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dari semenjak kecil sampai usia seperti sekarang ini, saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya sendirian di rumah. Biasanya selalu ada keluarga di sekeliling yang menemani. Mereka pun tidak pernah tega untuk meninggalkan saya sendiri di rumah. Kalaupun harus terpaksa pergi, mereka tidak pernah meninggalkan saya sepanjang hari. Saya juga tidak pernah merasakan yang namanya nge-kost, harus mandiri, mengerjakan segala sendiri dan juga harus sendirian di malam hari.</p>
<p>Setelah menikah, kami tinggal di sebuah appartemen mungil, hanya berdua dan jaauuh sekali dari keluarga. Selama ini, kalo suami tercinta belum juga pulang padahal hari sudah larut malam, saya pasti merayu supaya dia bersedia cepat pulang, karena saya tidak suka kalau harus sendiri di rumah -terutama jika di luar sedang hujan besar atau angin kencang-. Jadi sampai saat ini saya tidak pernah terbiasa untuk sendirian di rumah.</p>
<p>Rencananya pada bulan depan (suami ter)cinta harus pergi ke kota lain untuk jalan-jalan (diselingi acara Konferensi) selama 20 hari. Karena hal tersebut adalah tuntuan pekerjaan, mau tidak mau selama 20 hari mesti tinggal sendiri. Membayangkan 20 hari harus sendiri tanpa suami, rasanya masih berat untuk saya. Maklum baru pertama kali. Tapi mau bagaimana lagi, itu semua harus dihadapi. Akhirnya setelah dipikirkan kembali, daripada membayangkan hal yang tidak-tidak, mungkin akan lebih baik jika saya memikirkan hal-hal positif yang bisa saya lakukan selama 20 hari tersebut.</p>
<p>Berikut adalah beberapa hal (positif) yang sempat terlintas di pikiran saya :</p>
<p>Tanpa honey, sprei gak akan acak-acakan, lemari baju akan selalu rapi, gak perlu rebutan sofa, gak ada sepak bola, gak ada yang bangunin tengah malem kalo lupa belum sikat gigi, gak perlu bingung masak apa waktu weekend, gak perlu bersihin dapur sering2 (soalnya kalo honey yang masak pasti berantakan), gak perlu buru-buru kalo mau pergi jalan-jalan, gak perlu lari-lari ngejar kereta, gak perlu buru-buru kalo lagi belanja, gak ada yang cerewet soal makan, gak perlu rebutan kamar mandi kalo pagi-pagi, gak perlu denger ceramah panjang lebar (karena klo lewat telepon biayanya mahal) dan mudah-mudahan lebih banyak kata-kata romantis yang didenger.</p>
<p>Insya Allah, waktu 20 hari tersebut akan menjadi pengalaman berharga buat saya, walau berat mudah-mudahan bisa saya manfaatkan untuk belajar lebih mandiri, belanja sebanyak-banyaknya, nginep di rumah temen, jalan-jalan kemana-mana dan nonton film semaunya :) .</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan-jalan Pagi itu]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=71</link>
<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 15:44:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/03/04/jalan-jalan-pagi-itu/</guid>
<description><![CDATA[Sudah beberapa hari, matahari di kota ini hanya menyapa sebentar. Hanya udara yang dingin, langit ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah beberapa hari, matahari di kota ini hanya menyapa sebentar. Hanya udara yang dingin, langit yang mendung, angin yang kencang dan hujan yang selalu hadir. Di tengah cuaca seperti itu, membuat saya nyaman terlelap dalam buaian mimpi, rasanya enggan untuk membuka mata ini, apalagi untuk melakukan olahraga. Tidak pernah terpikir di kepala ini untuk melakukan olahraga apa pun di cuaca seperti ini. Tapi justru berbanding terbalik dengan honey, entah kenapa, mungkin karena ingin cepat kurus, ternyata sudah beberapa hari ini honey selalu menyepatkan untuk berlari pagi minimal 30 menit, tanpa peduli dengan cuaca. Ketika tahu hal tersebut, hati ini sepertinya belum ikhlas untuk melihat honey berlari di tengah cuaca seperti ini, hujan-hujanan dan harus melawan angin yang kencang. Menurut saya, berolahraga di udara seperti itu adalah tidak sehat. Saya sempat melarangnya tapi karena kepalanya keras, hehe.. tetep saja honey berolahraga. Kesel.. ya.. tapi.. ya sudah.. mo bilang apa lagi, saya cuma bisa berdo'a semoga honey gak sakit.</p>
<p>Pagi itu, honey bilang, kalau dia akan berlari pagi sebentar. Udara saat itu memang agak cerah, ya sudah saya jawab 'ok' dan berpesan sedikit, 'tapi kalau bisa jangan hujan-hujanan'. Beberapa saat kemudian ternyata hujan, hati ini sedih, hmm.. honey hujan-hujanan lagi. Saya coba untuk tidak khawatir, biarkan saja, nanti juga kalau kedinginan pasti pulang. Tapi khawatir itu tidak hilang. Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sih honey tetep berolahraga? Rasanya gak akan nemu jawabannya, kalau tidak mencoba sendiri. Akhirnya saya putuskan, ok, saya tulis pesan: 'ayang, aku jalan-jalan sebentar'. Saya langkahkan kaki di tengah udara yang dingin, hujan dan angin yang kencang. Jujur dari dulu sampai sekarang saya selalu takut dengan suara angin yang kencang. Takut pohon tumbang, takut akan badai dan takut lainnya. Dengan segala ketakutan itu, saya putuskan tetap akan berjalan-jalan. Di tengah angin yang kencang itu, yang kadang harus saya lawan -membuat langkah ini terasa berat- dan kadang mendorong saya -meringankan langkah ini bahkan seperti melayang-, saya tetap berjalan. Di tengah hujan dan udara yang dingin saya tetap berjalan. Dengan berbekal Mp3 dan saya dengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, membuat saya lebih mantap melangkah, lupa akan ketakutan saya dan akhirnya terbuka pikiran ini.</p>
<p>Jalan-jalan pagi itu, tidak memberikan saya jawaban mengapa honey tetap berolahraga di tengah cuaca seperti itu, tapi jalan-jalan pagi itu mengingatkan saya tentang hidup ini, bahwa di tengah segala kegalauan, segala kesulitan, kita tetap harus berjalan menjalani hidup ini. Kadang orang-orang di sekeliling kita akan mendukung kita, kadang orang-orang di sekitar kita tidak mendukung kita, tetapi selama kita yakin bahwa yang kita lakukan adalah benar, kita tetap harus berjalan, tetap berdo'a dan berusaha untuk mencapai tujuan kita.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mulai Pagi ini...]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=64</link>
<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 15:49:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/02/12/mulai-pagi-ini/</guid>
<description><![CDATA[Kemarin Guru di tempat kursus bertanya : Selama perjalanan dari rumah menuju tempat kursus, apa saja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin Guru di tempat kursus bertanya : Selama perjalanan dari rumah menuju tempat kursus, apa saja yang pagi ini kalian amati?</p>
<p>Pertanyaan yang seharusnya mudah untuk dijawab, tapi ternyata cukup sulit untuk saya menjawabnya. Padahal baru 20 menit yang lalu, saya ke luar rumah dan pergi menuju tempat kursus. Sepertinya waktu yang 20 menit itu begitu cepat berlalu, saya lupakan dan terkubur begitu saja.</p>
<p>Saya coba untuk memutar kembali waktu 20 menit tadi. Begitu saya ke luar rumah, saya berjalan melewati taman yang ditaburi es, saya bahkan menginjak es tersebut, tapi saya tidak sempat mendengar bunyi langkah kaki ketika menginjak embun yang membeku dan tidak merasakan betapa luar biasanya bisa menginjak kristal-kristal es pagi itu. Ketika menunggu kereta, saya sempat melihat matahari, betapa matahari bersinar cerah pagi itu (di musim dingin - jarang bisa dapat matahari secerah hari itu), tapi saya tidak sempat merasakan keindahannya karena kereta begitu cepat tiba. Di dalam kereta, saya tidak sempat melihat sekeliling karena begitu sibuk membaca buku untuk persiapan kursus nanti. Mungkin saya melewatkan kesempatan untuk sedikit beramal, misal dengan memberikan tempat duduk untuk yang lebih membutuhkan atau sekedar senyum.  Bahkan mungkin segala kesibukan tadi telah mengalihkan saya dari melihat teman yang juga berada pada kereta yang sama sehingga saya melewatkan kesempatan berharga untuk bersilaturahmi. Pagi yang indah, yang seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik berlalu begitu saja.</p>
<p>Kadang kita terlalu sibuk dengan segala aktivitas rutin yang harus kita kerjakan, dengan target-target yang harus dicapai, dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan. Sehingga kita lupa untuk menyempatkan waktu untuk menyenangkan diri kita sendiri, bahkan untuk menyenangkan orang terdekat kita dengan senyuman (sedekah yang paling murah) pun tidak mampu. Kita sering lupa untuk bersyukur, bahwa hari ini kita masih bisa melihat dan merasakan keindahan ciptaan-Nya.</p>
<p>Mulai pagi ini, saya akan selalu mencoba menghirup udara pagi, melihat keindahannya, mendengarkan burung bernyanyi, mencoba untuk selalu memberikan senyuman dan mengamati segala sesuatu dengan lebih baik dan bijaksana.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bingung Pake Baju Apa]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/?p=60</link>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2008 17:01:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/01/29/bingung-pake-baju-apa/</guid>
<description><![CDATA[Masalah klasik yang sepertinya selalu dialami saya dan mungkin beberapa wanita adalah ketika bingung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah klasik yang sepertinya selalu dialami saya dan mungkin beberapa wanita adalah ketika bingung mau pake baju apa. Jujur saja, dulu ketika saya masih bekerja, saya selalu kebingungan dengan hal ini. Ketika tiba hari jum'at, hari di mana semua temen kantor ceria karena boleh pake baju bebas,  saya selalu bingung baju mana yang harus saya pakai, dan membutuhkan waktu yang lama sampai akhirnya memutuskan baju yang akan dipakai. Untungnya di hari-hari lain, kantor telah menyediakan seragam, sehingga tidak perlu kebingungan setiap hari untuk memilih baju. Ketika harus menghadiri undangan atau acara resmi lainnya, hal ini pun sering terjadi. Kadang kalau memang mendesak, saya meminjam baju kakak, saudara atau bahkan teman :) , tentunya yang mempunyai postur tubuh yang hampir sama dengan saya.</p>
<p>Mengapa hal ini terjadi? mungkin karena wanita selalu ingin terlihat cantik dan berpenampilan sebaik-baiknya, mungkin karena wanita juga tidak suka jika harus menggunakan baju yang sama pada satu acara dan acara lainnya, atau juga karena keterbatasan pengetahuan akan mode (seperti saya).</p>
<ul></ul>
<p>Sebetulnya hal tersebut tidak perlu terjadi jika kita mau belajar sedikit tentang mode yaitu mengetahui bagaimana cara memadu-padankan koleksi baju-baju yang ada, baik dalam hal warna, atau memadu-padankan baju dengan aksesoris, sepatu dan tas (menurut para designer).</p>
<p>Menulis semua hal di atas bukan berarti saya telah berhasil mengatasi permasalah saya dengan baik. Semenjak saya pindah kantor, dari kantor yang memberi saya seragam dan gaji tetap, ke kantor yang tidak jelas (kadang disuruh pake seragam - kadang nggak, kadang digaji -kadang nggak) masalahnya semakin kompleks karena faktor cuaca yang sangat berbeda dan tuntutan 'teman sekantor' (suami) yang kadang begitu mendadak dan banyak maunya.</p>
<p>Dari puluhan ceramah yang diberikan oleh suami tercinta,  saya juga sadar bahwa selain semua tips dan petunjuk ahli mode tentang warna yang sepadan dan assesoris yang sesuai ada hal lain yang sangat penting dalam memilih baju/pakaian, yaitu kita juga harus belajar memilih niat yang benar. Dalam memilih baju, kita harus mempunyai niat yang benar,  bukan untuk dipuji orang melainkan untuk mensyukuri salah satu nikmat yang sudah diberikan pada kita.  Semenjak itu saya coba untuk terus belajar dan mengingatkan diri sendiri, selama niat kita baik, warna baju memang sesuai (<i>maching</i>), dan baju yang dikenakan memang cocok dengan acaranya, Insya Allah penampilan tidak akan mengecewakan.</p>
<p>Dan satu hal lagi, jangan sampai baju lama ditinggalkan begitu saja, sebaiknya baju yang sudah tidak terpakai disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan. Bukankah kalau mempunyai baju sedikit lebih mudah untuk memilihnya (dan lebih mudah mengajukan alasan untuk belanja baju baru ke suami tersayang)?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jika harus Pulang]]></title>
<link>http://sofaberdua.wordpress.com/2008/01/15/jika-harus-pulang/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 17:20:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>kusmayanty</dc:creator>
<guid>http://sofaberdua.id.wordpress.com/2008/01/15/jika-harus-pulang/</guid>
<description><![CDATA[Terdampar di suatu kota kecil bernama Bielefeld, bisa dibilang susah-susah gampang. Waktu awal tiba,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Terdampar di suatu kota kecil bernama Bielefeld, bisa dibilang susah-susah gampang. Waktu awal tiba, terasa susah karena belum mengetahui apa-apa. Apalagi orang-orang di kota kecil ini senang sekali bercakap-cakap dengan bahasa Jerman, suatu bahasa yang tidak pernah Saya ketahui sebelumnya (kalau mereka pake bahasa sunda mungkin akan jauh lebih mudah). Setiap saat rasanya banyak sekali hal yang perlu dipelajari, sepertinya di kepala kita terdapat segudang pertanyaan yang tidak pernah habis. Tetapi seperti kata pepatah "Ala bisa karena biasa, biasa bisa karena terpaksa", maka setelah beberapa lama, semua kesusahan yang ada sedikit-sedikit berubah menjadi hal yang biasa bahkan menjadi sesuatu yang mudah.</p>
<p>Akhirnya setelah genap 6 bulan 12 hari kemampuan beradaptasi tumbuh semakin cepat, baik dengan cuaca, orang-orang dan kebiasaan atau budaya kota kecil nan cantik ini. Bahasa bukan lagi kendala, Alhamdulillah malah menjadi suatu sumber ilmu baru. Ketika kita belajar bahasa baru, kita biasanya diberi banyak bonus pengetahuan lainnya - bahkan teman baru. Semakin lama semakin banyak hal yang bisa diperoleh, kepala masih dipenuhi banyak pertanyaan namun pelan-pelan jawaban juga ikut hadir mengisi. Semakin hari perasaan nyaman, aman, dan bahagia semakin deras menghampiri.  Segala sesuatu di sini begitu bersih dan teratur, jarang terlihat kemacetan, dan semakin menyadari betapa banyak kemudahan yang diperoleh dengan berbagai fasilitas yang ada. Perbedaan budaya tetaplah kentara, tapi malah menjadi hikmah tak terkira. Semakin lama terdampar, semakin terpupuk rasa sayang dan enggan untuk meninggalkan kota kecil ini. Tak terasa kota kecil ini telah menjadi kampung halaman kedua.</p>
<p>Minggu ini, bertambah  pertanyaan di kepala: Bagaimana jika harus pulang tiba-tiba? akankah rasa nyaman itu tetap ada? bersediakah rasa aman itu tinggal lebih lama? dan apakah bahagia masih sudi menyapa?</p>
<p>Mengutip kembali pepatah di atas "ala bisa karena biasa". Jika harus pulang, sama halnya seperti terdampar untuk kesekian kalinya. Ketika terdampar pertama menjadi hikmah luar biasa, terdampar berikutnya Insya Allah menjadi hikmah yang sangat-sangat luar biasa, karena bagaimana pun juga tempat di mana seluruh keluarga berkumpul bersama adalah tempat terbaik untuk kembali, tempat yang akan selalu menerima kita apa adanya, tempat yang akan selalu memberikan kecerahan dan dipenuhi warna indah senyuman.</p>
<p>Jika harus pulang....Alhamdulillah.</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://sofaberdua.wordpress.com/2008/01/15/jika-harus-pulang/" target="_blank">Share on Facebook</a></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
