<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>trotoar &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/trotoar/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "trotoar"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 16:07:38 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mr. Complaint]]></title>
<link>http://papario2.wordpress.com/?p=286</link>
<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 14:42:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>papario</dc:creator>
<guid>http://papario2.id.wordpress.com/2008/10/04/mr-complaint/</guid>
<description><![CDATA[Istri saya memanggil saya Mr. Complaint. Gak usah tanya kenapa, saya mengakuinya. Setiap apa saja ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&#34;">Istri saya memanggil saya Mr. Complaint. </span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Gak usah tanya kenapa, saya mengakuinya. Setiap apa saja yang menurut saya gak bener ato salah, selalu komplen. Apa aja sih yang saya komplenin ?, hmmm, coba baca ini. Saya selalu ngoceh / komplen apabila :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada orang bodoh bawa mobil gak ngasih sen kalo mau pindah jalur ke kiri ato ke kanan. SIM nya nembak ya ?.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada orang bodoh bawa anak anak berjalan di pinggir jalan, tetapi anaknya malah berada pada posisi ke jalan dan orang tua yang membawa malah di posisi ke pinggir. Kemana otaknya ?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada orang bodoh jalan kaki gak di trotoar padahal kosong sehingga ngalangin jalan mobil. Lha, orang Jakarta emang udah gak kenal trotoar lagi yak ?.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">4.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada pedagang bakso bodoh yang ngasih micin terlalu banyak. Mo ngracunin konsumennya apa ?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">5.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span style="font-size:small;"><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Ada orang super bodoh mengendara mobil sambil ber hape ria di satu tangannya. Sudah 3 kali sedan saya diserempet dan di tabrak dari belakang oleh pengendara mobil seperti itu. Satu diserempet Kijang hitam di dekat Pasaraya <span> </span>Manggarai tapi dia trus ngloyor pergi, satu disruduk dari belakang sama tante – tante lagi ngantri di pintu tol keluar Jati Bening, gak minta maaf, terakhir disruduk APV di kemang, gak minta maaf. </span></span><span style="font-family:&#34;">Udah bodoh, <span> </span>gak tau yang namanya wireless atau head set / hand set – arogan lagi !. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">6.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada pengedara sepeda motor bodoh ber hape ria di jalur cepat. Di tan- tin – tan – tin baru minggir. Membahayakan diri sendiri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">7.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Ada tukang bajaj bodoh bawa bajaj-nya nyante jalan di tengah tengah jalur antara jalur lambat dan jalur cepat. Woooi !, emangnya jalan milik nenek moyangmu apa ?.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">8.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;">Dimintai uang parkir sama tukang parkir liar di dalam parkir Senayan padahal sudah bayar di pintu gerbang masuk. Gak abis pikir, lokasi untuk event Internasional masih tidak mampu diselenggarakan dengan tertib. Kok masih ada ya keliaran disitu. Gak abis pikir. Gak betah ke senayan. Kapan Indonesia bisa maju ?.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span><span style="font-size:small;">9.</span><span style="font:7pt &#34;">     </span></span></span><span style="font-size:small;"><span dir="ltr"><span style="font-family:&#34;" lang="IT">Ditarik tarik calo taksi di Soekarno Hatta. </span></span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Gak abis pikir. Bandara Internasional kok ya gak bisa menertibkan hal sederhana macam begini. KAPAN INDONESIA BISA MAJU !. Malu aku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">Bah, cape komplen. But if you agree with me, join me.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menggugat Koneksi Internet dan Ruang Publik Indonesia]]></title>
<link>http://iqraanugrah.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 09:20:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Iqra</dc:creator>
<guid>http://iqraanugrah.id.wordpress.com/2008/09/09/menggugat-koneksi-internet-dan-ruang-publik-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Katakanlah saya naif, atau anda juga bisa mengecap saya sebagai orang yang sok-sokan, tapi jujur, sa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Katakanlah saya naif, atau anda juga bisa mengecap saya sebagai orang yang sok-sokan, tapi jujur, saya mengalami <em>culture shock </em>ketika sampai di Indonesia, terutama dalam dua hal yang saya sebut di atas: lambatnya koneksi internet dan minimnya ruang publik, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sebenarnya masalah ini bermula sejak saya tinggal di negeri sakura, Jepang. Tentunya anda tahu, negara ini memiliki <em>technological advancement </em>yang, bila digambarkan dengan satu kata, dahsyat, terutama dalam bidang ITnya. Koneksi internet di Jepang sangatlah cepat, dan pastinya, murah, sehingga saya dan teman-teman tentu saja terlena dan terbuai dengan fasilitas ini. Bukan hal yang umum bagi kami untuk <em>online </em>selama hampir 24 jam, bahkan lebih. Mobilitas yang tinggi serta aktivitas yang padat juga ‘memaksa’ komunikasi antar manusia lebih nyaman dilakukan di dunia maya, mulai dari komunikasi via milis, <em>messenger, </em>atau forum-forum online. Bahkan kegiatan akademik, aktivisme, organisasi, dan pergerakan mahasiswa berbasis online bukanlah hal yang aneh, setidaknya itulah yang dilakukan kami di APU, PPI Jepang, ataupun NU Jepang. Kemudahan yang mengatasi jarak ini juga didukung oleh biaya yang murah. Sekedar gambaran, kami bertiga (saya dan dua <em>roommate </em>saya) hanya membayar sekitar 4.000 yen per bulan, sudah termasuk modem dan rooternya untuk koneksi internet LAN super cepat, yang bila dibagi tiga kira-kira satu orang membayar 1.300 yen per bulan, atau hanya sekitar 100 ribuan saja, sangat murah bukan ?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ketika pulang ke Indonesia, sudah barang tentu ‘eksistensi’ saya di dunia maya berkurang. Tadinya saya mencoba maklum, dengan berusaha ‘puas’ hanya dengan koneksi internet dial-up super lambat nan mahal dari suatu BUMN dengan performa dan kinerja yang sedang-sedang saja, entah karena birokratnya atau ada kongkalikong lainnya, saya tidak tahu. Namun, kebiasaan saya di Jepang ternyata membuat saya tidak tahan dengan koneksi internet macam ini, sehingga saya memutuskan untuk hijrah ke warnet dekat rumah yang buka 24 jam, dengan harapan mendapat koneksi yang lebih baik, cepat dan murah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Mulanya saya masih dapat menikmati koneksi internet yang relatif lebih cepat dari internet rumah, sampai akhirnya saya tidak mendapat apa yang saya inginkan ! Semakin siang, koneksinya menjadi semakin lambat ! Usut punya usut, ternyata oknum-oknum yang bertanggung jawab atas “sabotase” jaringan internet ini adalah adik-adik kita yang masih duduk di bangku SD dan SMP yang nongkrong di warnet selepas pulang sekolah demi bermain <em>online game. </em>Bagaimana bangsa ini mau maju jikalau generasi mudanya bukannya belajar dan bekerja dengan keras serta bersosialisasi secara riil dengan masyarakat ? Kritik juga saya sampaikan terhadap orang tua yang kurang bisa membentengi anaknya dari dahsyatnya pengaruh media, media yang dengan seenaknya memborbardir masyarakat dengan berbagai informasi yang tidak karuan, dan tentunya pengelola warnet yang malah memberikan DISKON pada bocah-bocah ini, sehingga menyebabkan mereka asyik nongkrong, bukannya beraktivitas positif dan beramal di bulan suci ini, dan tentunya, membajak koneksi internet saya ! Akhirnya dengan menahan rasa dongkol dan <em>kecele, </em>saya memutuskan untuk ngenet di rumah saja, lebih asyik dan nyaman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya juga memiliki “masalah” dengan kota Jakarta dalam hal ruang publik. Kita semua tahu, pengusaha-pengusaha dan oknum-oknum Pemda yang <em>gemblung</em> seakan-akan ingin membuat Jakarta menjadi kota mall dan pusat perbelanjaan. Ini membuat generasi muda kita jadi tidak produktif, dan malah semakin <em>loyo </em>dalam menghadapi tantangan zaman. Selain itu, pembangunan pusat perbelanjaan yang berlebihan justru akan mengakibatkan ketimpangan sosial dan kecemburuan sosial yang lebih hebat. Ini saya rasakan sendiri ketika masuk suatu pusat perbelanjaan terkenal di bilangan Senayan. Saya dengan pakaian seenaknya ala <em>gembel </em>merasa terkejut dengan “superioritas” manusia-manusia urban yang “modern” ala Jakarta. Hal yang saya pikir lebih parah lagi adalah soal trotoar bagi pejalan kaki. Saya pikir kita semua setuju bahwa sebagai usaha untuk menjaga dan mewujudkan keadilan yang masih merupakan utopia di negeri ini, seharusnya hak-hak pejalan kaki lebih diperhatikan, terutama dalam kegiatan berlalu lintas dan proses pembuatan jalan, seperti penyediaan trotoar yang memadai. Baru-baru ini, setelah pulang dengan kecele dari komunitas salihara karena mengira ada pemutaran film dan diskusi, yang ternyata diadakan minggu depan, saya berpikir untuk pulang dengan jalan kaki karena dari Salihara ke rumah saya yang terletak di daerah Warung Jati jaraknya tidak begitu jauh saya pikir,<span>  </span>paling-paling hanya 50 menitan berjalan kaki. Mula-mula perjalanan terasa lancar, saya masih bisa menghadapi “ganas”nya lalu lintas Jakarta yang dikuasai oleh motor-motor dan angkutan umum mulai dari bis hingga angkot dan mikrolet. Lama-kelamaan, di daerah Siaga, hampir seluruh bagian trotoar sudah dikuasai oleh mesin-mesin beroda itu, sehingga tidak tersisa ruang sedikitpun bagi pejalan kaki seperti saya ! Akhirnya saya harus menyerah melawan keangkuhan, arogansi, dan dominasi dari motor-motor dan angkutan umum. Ujung-ujungnya saya pulang dengan ojek, yang tentunya menyetir dengan seenaknya saja menerobos semrawutnya jalanan Jakarta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya tidak tahu harus protes atau mengadu kepada siapa, tapi saya hanya ingin bilang:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">KEMBALIKAN RUANG PUBLIK DAN SARANA KOMUNIKASI KAMI !</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nulis SMS Sambil Jalan, Penasehat Obama Keseleo]]></title>
<link>http://jaudyonline.wordpress.com/?p=133</link>
<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 06:35:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>jaudy</dc:creator>
<guid>http://jaudyonline.id.wordpress.com/2008/09/01/nulis-sms-sambil-jalan-penasehat-obama-keseleo/</guid>
<description><![CDATA[Jum&#8217;at, 1 Agustus 2008 - 10:47 wib
Sarie  - Okezone

CHICAGO - Siapa yang bisa memprediksi kap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align:justify;">Jum'at, 1 Agustus 2008 - 10:47 wib</h4>
<h4 style="color:#ff0000;text-align:justify;"><span class="d-rep">Sarie  - Okezone</span></h4>
<div class="d-photo floatleft" style="text-align:justify;"><img src="http://techno.okezone.com/images-data/content/2008/08/01/54/132910/hqQ70cvgQl.jpg" alt="" width="250" /></div>
<p style="text-align:justify;"><strong>CHICAGO</strong> - Siapa yang bisa memprediksi kapan kita akan celaka? Namun kecelakaan setidaknya bisa kita hindari jika kita tidak menyepelekan penggunaan ponsel dalam aktivitas sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal inilah yang menjadi peringatan baru bagi seorang ajudan dari calon presiden Amerika Serikat. Vallerie Jarret, penasehat senior untuk Barack Obama, mengalami kecelakaan kecil di pinggiran jalan Chicago. Jarret terjatuh saat ia sedang menulis SMS di handset Blackberry-nya sambil berjalan menuju kantor.</p>
<p style="text-align:justify;">"Saya sama sekali tidak memperhatikan jalan, apalagi melihat sisi trotoar tersebut, karena saya sedang konsentrasi menulis SMS sambil terburu-buru menghadiri meeting. Akibatnya, saya jatuh dan kaki saya sempat terkilir," ujar Jarret seperti dikutip melalui <em>Cellular News</em>, Jumat (1/8/2008).</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun luka kakinya tidak terlalu serius dan tidak harus mendapat perawatan medis namun ia mengaku telah mendapat pelajaran berharga dari kejadian tersebut. Bahkan ia mengaku tidak akan mengulangi perilaku serupa yang dirasa akan membahayakan dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">"Kejadian itu merupakan peringatan untuk saya untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan ponsel saya. Intinya, saya tidak akan pernah menulis SMS sambil berjalan. Saat saya berjalan adalah waktunya bagi saya untuk fokus memperhatikan jalan," papar Jarret.</p>
<p style="text-align:justify;">Selang kejadian tersebut, pihak kedokteran di Chicago langsung memberikan larangan bagi para pengguna ponsel untuk tidak menelepon atau ber-SMS saat sedang berjalan. Pasalnya, kejadian yang dialami Jarret ini bukanlah yang pertama terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, di Amerika sempat dikabarkan bahwa beberapa orang pernah mengalami kecelakaan bahkan sampai meninggal dunia hanya karena ia melakukan aktivitas menelepon bersamaan dengan aktivitasnya di perjalanan. Kejadian ini dikarenakan saat menggunakan ponsel sambil berjalan, si pengguna seluler dipastikan tidak akan memperhatikan jalan yang akan dilaluinya. Secara otomatis, si pengguna seluler pun tidak akan melihat apa yang ada di depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">"Kita pikir dengan melakukan hal tersebut (SMS atau menelepon seraya berjalan) merupakan sebuah efektivitas dalam menyelesaikan pekerjaan. Tapi pada kenyataannya bukan multitasking yang kita lakukan tapi malah kecelakaan. Tidak ada salahnya jika kita mulai untuk mengerjakan suatu hal dengan fokus selama beberapa detik saja untuk kemudian menyelesaikan pekerjaan yang lainnya. Daripada anda menghemat sekian detik tapi anda harus berkorban nyawa," ujar Dr Patrick Walsh dari rumah sakit Bakersfield, California. <strong>(srn)</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapa Pedagang Kaki Lima?]]></title>
<link>http://bisniskakilima.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 05:48:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wawan</dc:creator>
<guid>http://bisniskakilima.id.wordpress.com/2008/08/25/siapa-pedagang-kaki-lima/</guid>
<description><![CDATA[Dalam Wikipedia, Pedagang Kaki Lima atau lebih sering disingkat PKL merupakan istilah untuk menyebut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam<b> <a title="Definisi Pedagang Kaki Lima" href="Pedagang%20Kaki%20Lima%20atau%20disingkat%20PKL%20adalah%20istilah%20untuk%20menyebut%20penjaja%20dagangan%20yang%20menggunakan%20gerobak.%20Istilah%20itu%20sering%20ditafsirkan%20karena%20jumlah%20kaki%20pedagangnya%20ada%20lima.%20Lima%20kaki%20tersebut%20adalah%20dua%20kaki%20pedagang%20ditambah%20tiga%20%22kaki%22%20gerobak%20%28yang%20sebenarnya%20adalah%20tiga%20roda%20atau%20dua%20roda%20dan%20satu%20kaki%29.%20Saat%20ini%20istilah%20PKL%20juga%20digunakan%20untuk%20pedagang%20di%20jalanan%20pada%20umumnya.%20%20Sebenarnya%20istilah%20kaki%20lima%20berasal%20dari%20masa%20penjajahan%20kolonial%20Belanda.%20Peraturan%20pemerintahan%20waktu%20itu%20menetapkan%20bahwa%20setiap%20jalan%20raya%20yang%20dibangun%20hendaknya%20menyediakan%20sarana%20untuk%20pejalanan%20kaki.%20Lebar%20ruas%20untuk%20pejalan%20adalah%20lima%20kaki%20atau%20sekitar%20satu%20setengah%20meter.%5B1%5D%20%20Sekian%20puluh%20tahun%20setelah%20itu,%20saat%20Indonesia%20sudah%20merdeka,%20ruas%20jalan%20untuk%20pejalan%20kaki%20banyak%20dimanfaatkan%20oleh%20para%20pedagang%20untuk%20berjualan.%20Kalau%20dahulu%20sebutannya%20adalah%20pedagang%20emperan%20jalan,%20lama-lama%20berubah%20menjadi%20pedagang%20kaki%20lima.%20Padahal%20kalau%20mau%20merunut%20sejarah,%20mustinya%20sebutannya%20adalah%20pedagang%20lima%20kaki." target="_blank">Wikipedia</a>, Pedagang Kaki Lima</b> atau lebih sering disingkat <b>PKL</b> merupakan istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang menggunakan gerobak. Istilah itu sering ditafsirkan karena jumlah kaki pedagangnya ada lima. Lima kaki tersebut adalah dua kaki pedagang ditambah tiga "kaki" gerobak (yang sebenarnya adalah tiga roda atau dua roda dan satu kaki). Saat ini istilah PKL juga digunakan untuk pedagang di jalanan pada umumnya.</p>
<p><a href="http://wartadesa2007.files.wordpress.com/2007/11/kaki-lima.jpg"><img class="alignnone" src="http://wartadesa2007.files.wordpress.com/2007/11/kaki-lima.jpg" alt="" width="450" height="338"></a></p>
<p>Sebenarnya istilah kaki lima berasal dari masa penjajahan kolonial Belanda. Peraturan pemerintahan waktu itu menetapkan bahwa setiap jalan raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk pejalanan kaki. Lebar ruas untuk pejalan adalah lima kaki atau sekitar satu setengah meter.</p>
<p>Sekian puluh tahun setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, ruas jalan untuk pejalan kaki banyak dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Kalau dahulu sebutannya adalah pedagang emperan jalan, lama-lama berubah menjadi pedagang kaki lima. Padahal kalau mau merunut sejarah, mustinya sebutannya adalah pedagang lima kaki.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[95% Siswa SD di DKI Tidak Kenal Trotoar]]></title>
<link>http://papario.wordpress.com/?p=36</link>
<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 08:37:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>papario</dc:creator>
<guid>http://papario.id.wordpress.com/2008/07/14/95-siswa-sd-di-dki-tidak-kenal-trotoar/</guid>
<description><![CDATA[Metropolitan News
Jakarta, 28 September 2023
 
Gubernur DKI kemarin mendapat teguran dari Presiden R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Metropolitan News</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Jakarta, 28 September 2023</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Gubernur DKI kemarin mendapat teguran dari Presiden RI karena dalam kunjungan ke sekolah sekolah SD di Jakarta Timur, Barat dan Selatan, ternyata hampir semua anak yang ditanya Pak Presiden tidak kenal yang namanya Trotoar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Dari 20 anak yang ditanya dalam waktu yang terpisah, mereka mengatakan tidak pernah diajarkan, atau diberitahu apa itu trotoar, bagaimana bentuknya dan apa gunanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
[caption id="" align="alignleft" width="222" caption="foto: maludong.com"]<img src="http://www.maludong.com/Images/Items/maludong-211.jpg" alt="maludong.com" width="222" height="166" />[/caption]
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Begitu dijelaskan oleh Pak Walikota JakTim, anak anak sekelas kemudian tertawa terbahak bahak. “Itu kan tempat jualan kaki lima, Pak !”, “Oooh, itu mah tempat parkir motor dan sepeda, Pak !”, “Wah, belum pernah lihat itu pak di kompleks perumahan saya !”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Ada juga anak yang menjawab tahu benda Trotoar itu, katanya “Tapi Pak, gak berguna buat pejalan kaki, habis diatasnya ditanami pohon pohon rindang, dan ukurannya sempit !”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Jakarta memang ternyata tidak akrab buat pejalan kaki. Hanya dikawasan tertentu yang bisa kita temua trotoar, itupun jumlahnya Cuma sedikit dan biasanya hanya dekat dekat mall besar. Misalnya di Jalan Casabalanca yang telah berubah menjadi Orchard Road yang ramai dengan pejalan kaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Namun bila kita datang ke daerah perumahan, sulit kita temukan trotoar atau trotoar yang benar – benar difungsikan untuk pejalan kaki. Yang lebih konyol lagi, setiap pejalan kaki didaerah perumahan yang ada trotoarnya pun tidak pernah menggunakan dan tetap berjalan kaki di pinggir jalan aspal. “Sudah terbiasa berjalan di aspal, Bu” kata salah satu pejalan kaki yang kami wawancarai.</span></p>
[caption id="" align="alignleft" width="315" caption="mana hak pejalan kaki ? (foto: anduz.blubox.us)"]<img src="http://anduz.blubox.us/gallery/albums/userpics/10001/normal_2004_1211_172548.JPG" alt="anduz.blubox.us)" width="315" height="236" />[/caption]
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Dari data riset Biro Pusat Statistik (BPS) hanya 1% dari areah yang layak diberikan Trotoar yang telah memiliki trotoar. Sisanya melulu jalan aspal tanta trotoar. Walaupun sejak 10 tahun lalu, tingkat kecelakaan pejalan kaki diserempet kendaraan bermotor cukup tinggi, namun jumlah area bertrotoar di Jakarta tetap belum berubah dari tahun ke tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">MN.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Trotoar, hak siapa?]]></title>
<link>http://kupalima.wordpress.com/?p=375</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 03:43:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arry Akhmad Arman</dc:creator>
<guid>http://kupalima.id.wordpress.com/2008/06/19/trotoar-hak-siapa/</guid>
<description><![CDATA[Ini hanya contoh dari banyak kasus serupa di berbagai restoran dan tempat-tempat usaha di Bandung. T]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini hanya contoh dari banyak kasus serupa di berbagai restoran dan tempat-tempat usaha di Bandung. <strong>Trotoar yang harusnya menjadi hak pejalan kaki telah beralih fungsi menjadi lahan parkir</strong>.</p>
<p><a href="http://kupalima.files.wordpress.com/2008/06/trotoar_victoria1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-378" src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/06/trotoar_victoria1.jpg" alt="" width="450" height="197" /></a></p>
<p>Bahkan terpampang tulisan yang dipasang dengan paku pada pohon disana, isinya adalah sebagai berikut.</p>
<p><a href="http://kupalima.files.wordpress.com/2008/06/trotoar_victoria21.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-379" src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/06/trotoar_victoria21.jpg" alt="" width="450" height="252" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cianjur bikin trotoar, ganggu pejalan kaki]]></title>
<link>http://cianjurundercover.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 07:48:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>cianjurundercover</dc:creator>
<guid>http://cianjurundercover.id.wordpress.com/2008/05/31/cianjur-bikin-trotoar-ganggu-pejalan-kaki/</guid>
<description><![CDATA[Sudah beberapa pekan ini di jalan-jalan di kota cianjur terlihat ada beberapa kelompok orang yang se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah beberapa pekan ini di jalan-jalan di kota cianjur terlihat ada beberapa kelompok orang yang sedang bikin trotoar atau atau gorong-gorong ditei jalan umum, seperti terlihat di jl dr muwardi dan di jalan pr hidayatullah (sekitar rumah dinas wabup).</p>
<p>Ada yang kurang enak dilihat, kalau kita sedang jalan kaki disana, sungguh rasanya terganggu sekali dengan adanya pekerjaan ini, meskipun alasan untuk kenyamanan juga tapi kang ! hendaknya pada saat proses juga jangan sampai merampas kenyamanan warga pejalan kaki, maunyaaaa!! tapi ya sudah laah.</p>
<p>Tapi mungkin hal itu gak terasa bagi orang yang naik kendaraan, bukannya ngiri, tapi ada kejadian, dijalan dr muwardi terjadi kecelakaan lalin tepatnya di sekitar pertigaan rancabali, seorang nenek ditabrak mobil bak, kejadiannya malem, tanya sana sini katanya kagok ada galian, nah lho.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMBUAT NYAMAN JALAN DI TROTOAR]]></title>
<link>http://ardansirodjuddin.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 07:27:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>ardansirodjuddin</dc:creator>
<guid>http://ardansirodjuddin.id.wordpress.com/2008/05/16/membuat-nyaman-jalan-di-trotoar/</guid>
<description><![CDATA[Tidak dapat dimungkiri bila saat ini banyak kualitas ruang kota kita semakin menurun dan masih jauh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Tidak dapat dimungkiri bila saat ini banyak kualitas ruang kota kita semakin menurun dan masih jauh dari standar minimum sebuah kota yang nyaman, terutama pada penciptaan maupun pemanfaatan ruang terbuka yang kurang memadai<em>. </em>Penurunan kualitas itu antara lain dari tidak ditata dan kurang terawatnya pedestrian atau ruang pejalan kaki, perubahan fungsi taman hijau, atau telah menjadi tempat mangkal aktivitas tertentu yang mengganggu kenyamanan warga kota lain untuk menikmatinya.<br />
<!--more-->Tak heran sekarang banyak ruang komersial seperti mal dipenuhi warga kota walau hanya sekadar jalan-jalan dan cuci mata. Walaupun pertumbuhan jumlah mal atau <em>trade center</em> sudah dirasa sampai titik jenuh, tetapi ternyata tetap saja dipenuhi pengunjung. Salah satu pendorong hal ini adalah karena minimnya ruang bagi warga kota sekadar untuk melepas kepenatan dari kesemrawutan suasana jalan kota .<br />
Banyak orang yang enggan berjalan kaki di bawah terik matahari Semarang yang membakar. Walaupun, jarak tempuhnya tak sampai satu kilometer, tetapi orang Semarang cenderung naik mobil pribadi atau kendaraan umum. Mana ada karyawati yang rela polesan make up-nya rusak gara-gara cucuran keringat akibat berjalan kaki. Atau, apa mau wangi parfumnya berganti bau tak sedap terkena kepulan asap knalpot kendaraan. Makanya, jangan heran kalau banyak orang Semarang lebih memilih naik kendaraan daripada jalan kaki meski untuk tujuan paling dekat.<br />
Kota Semarang dapat dikategorikan sebagai ruang yang terserbu oleh mobil. Kota yang berorientasi pada mobil, keberadaan hak pejalan kaki atas ruang kota yang sehat dan layak secara fisik, sering kali tersisihkan. <em>Car-oriented Development</em> ini selain mengakibatkan kerugian ekonomi yang tidak terkira juga menghasilkan <em>social cost</em> yang luar biasa. Rutinitas kemacetan bisa mengakibatkan hilangnya waktu produktif. Selain itu, tidak adanya ruang yang manusiawi di koridor jalan, mengkibatkan potensi interaksi sosial di ruang publik tersebut hilang. Jalur pejalan kaki semakin sempit, terputus-putus, gersang, panas, dan berdebu adalah sederetan alasan mengapa jarang ada warga kota yang mau berjalan kaki. Trotoar yang naik turun demi menghormati jalan masuk mobil adalah salah satu bukti betapa Kota Semarang dirancang dengan lebih mengutamakan mobil, bukan manusia. Orang akan cenderung malas untuk berjalan kaki. Dan ini merupakan tanda-tanda ke arah berkurangnya interaksi antar manusia di ruang publik. Kemungkinan Semarang metropolis menjadi kota yang terserbu, peluangnya cukup besar. (Sukawi, 2006).<br />
Untuk mengubah Kota Semarang dari Kota yang terserbu menjadi kota yang direbut kembali <em>(reconquered city)</em> adalah membuat pedestrian di Kota Semarang. Jalan Pemuda diwacanakan sebagai kawasan pedestrian di Kota Semarang. Pemilihan ini berkaitan dengan kondisi trotoar di sepanjang jalan Pemuda yang sudah cukup lebar. Saat ini, trotoar yang ada pada umumnya berukuran lebar 2,5-4,5 meter.<br />
Dalam pembangunan kawasan pedestrian harus dilengkapi jalur khusus untuk pejalan kaki yang dilindungi pepohonan. Mengenai lebar trotoar, sangat tergantung kondisi pedestrian yang ada atau dengan "meminjam" lahan dari pemilik gedung. Sehingga lebar trotoar di satu gedung dengan gedung lainnya berbeda. Supaya orang tertarik untuk berjalan kaki, pemilik gedung dimungkinkan membangun semacam kafe/kios atau bekerja sama dengan sektor informal seperti PKL. Tujuannya supaya kawasan Pemuda dapat hidup 24 jam. Kalau ada orang berjalan, rasanya cukup nyaman jika disertai kafe/kios yang cantik atau pusat cinderamata di sepanjang kawasan itu, dengan PKL yang sudah mempunyai komitmen terhadap kebersihan lingkungannya sehingga tidak kumuh. Karena pedestrian lebih menekankan unsur jalan kaki sebagai aktivitas hiburan, sehingga didesain satu paket dengan kepentingan wisata. Yang terpenting adalah menata kawasan yang sudah terbangun agar mampu memberikan kenyamanan bagi para pejalan kaki. Trotoar dibuat lebar agar tidak menyulitkan orang untuk lewat. Perlu diupayakan terlindung dari sinar matahari dengan menanam pohon pelindung.<br />
Di sini terdapat beberapa aturan seperti program pembatasan lalu lintas mobil, seperti jalur three in one, pajak mobil yang sangat tinggi, jalur khusus sepeda dan motor, berlakunya transportasi masal seperti bus, dan memberikan keleluasaan kepada pejalan kaki dengan jalur pedestrian yang nyaman dan teduh.<br />
Direncanakan, Pemkot Yogyakarta akan menarik retribusi terhadap mobil yang hilir mudik di kawasan itu. Namun, pemkot belum menetapkan berapa besar retribusi yang harus dibayar pengendara mobil. Sementara bagi kendaraan lain seperti motor, becak, dan andong, akan dibebaskan dari retribusi. Begitu pula terhadap mobil milik warga atau pedagang yang ada di kawasan Malioboro. <span style="color:#0000ff;">(<span style="text-decoration:underline;">http://kompas.com/kompas-cetak/0309/11/jateng</span>/</span> <span style="color:#0000ff;">558300.htm)<br />
</span>Dengan meniru Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota Semarang dapat menarik retribusi terhadap mobil yang hilir mudik di kawasan itu. Ini untuk membatasi mobil yang masuk ke dalam kawasan pedestrian. Bagi kendaraan lain seperti motor, becak, dan andong, akan dibebaskan dari retribusi. Begitu pula terhadap mobil milik warga atau pedagang yang ada di kawasan Jalan Pemuda.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Trotoar Kok Dipakai Parkir?]]></title>
<link>http://thamrin.wordpress.com/?p=237</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 07:56:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Thamrin</dc:creator>
<guid>http://thamrin.id.wordpress.com/2008/05/12/trotoar-kok-dipakai-parkir/</guid>
<description><![CDATA[Upaya Pemda DKI Jakarta menertibkan parkir-parkir liar mungkin patut diacungkan jempol. Pengerekan, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Upaya Pemda DKI Jakarta menertibkan parkir-parkir liar mungkin patut diacungkan jempol. Pengerekan, pemasangan rantai besi dan denda yang dikenakan kepada para pengemudi yang memarkirkan mobilnya "secara liar" merupakan pelajaran yang seharusnya tak mengenal kompromi.</p>
<p>Bukan rahasia lagi kalau banyak lahan parkir liar yang menjadi "jatah" hasil kongkalingkong aparat birokrasi dan preman. Paling tidak dengan adanya "gerakan' baru (tapi niatnya sudah lama) ini, ada sekian milliar pendapatan asli daerah yang terselamatkan.<!--more--></p>
<p>Namun ironisnya, atau jangan-jangan gerakan pembersihan ini hanya "hangat-hangat tai ayam" dan sekedar berlaku di kawasan tertentu, masih banyak mobil yang parkir secara "liar" di beberapa tempat di Jakarta. Saya sengaja memberikan tanda kutip karena letak parkir tersebut berada persis di muka kantor atau lahan usaha yang mungkin saja memiliki ijin resmi (tak jauh dari rumah Walikota Jakarta Selatan lho..  :) ).  Mungkin ini tak hanya terjadi di satu tempat, tetapi terjadi di banyak ruas-ruas jalan lainnya.</p>
<p>Saya acap kali kesal tatkala harus berjalan mencari makan siang di dekat kantor, karena harus merasa was-was, takut terserempet mobil atau bis dan kopaja yang melaju dengan kencang di sepanjang jalan Senopati, Jakarta Selatan. Trotoar, yang secara teori adalah lahan publik untuk berjalan kaki, habis terpakai oleh mobil-mobil yang parkir di muka lahan-lahan usaha dan kantor sepanjang jalan tersebut. bahkan ada beberapa ruas jalan yang dipagari kawat (di dekat salah satu Sekolah Dasar  yang ada di jalan tersebut).</p>
<p>Pertumbuhan ekonomi yang terjadi belakangan ini memang memberikan dampak menjamurnya lahan usaha baru atau perkantoran di Jalan Senopati. Tak ada yang salah, bahkan harus didukung. Namun yang salah, menurut saya, adalah memakai trotoar sebagai lahan parkir dan membuat pejalan kaki harus berjalan di jalan raya dengan beresiko terserempet kendaraan yang kadang berpacu dengan cepat.</p>
<p>Seharusnya saat memberikan ijin usaha atau kantor soal parkir ini harus menjadi salah satu syarat boleh tidaknya mereka membuka usaha.</p>
<p>Saya pikir hingga sekarang trotoar tetaplah  diperuntukan bagi pejalan kaki dan tak ada peraturan daerah DKI Jakarta yang mengijinkan trotoar sebagai lahan parkir. Apalagi diberi kawat berduri sebagai pembatas. Saya tak tahu jika ada pengecualian (dan seharusnya peraturan tak memiliki pengecualian..).</p>
<p>Jika memang belum bisa memperbaiki dan membuat lobang-lubang yang ada di jalan tertutup kembali, paling tidak ada kenyamanan bagi pejalan kaki dan tak takut kehilangan nyawa mereka.  :)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Parkir Seenaknya di Zebra Cross]]></title>
<link>http://kupalima.wordpress.com/?p=112</link>
<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 00:01:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arry Akhmad Arman</dc:creator>
<guid>http://kupalima.id.wordpress.com/2008/03/17/parkir-di-zebra-cross/</guid>
<description><![CDATA[Saya coba buat satu kategori baru, khusus untuk foto dengan komentar yang sangat singkat.



Jadi pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya coba buat satu kategori baru, khusus untuk foto dengan komentar yang sangat singkat.</p>
<p><a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/03/zebracross.jpg" title="zebracross.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/03/zebracross.jpg" title="zebracross.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/03/zebracross.jpg" alt="zebracross.jpg" /></a></div>
<div style="text-align:center;"></div>
<p>Jadi pejalan kaki di Bandung memang paling menderita, trotoar banyak beralih fungsi, mau <b>nyebrang di tempat yang benarpun </b>juga dihalangi......</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memimpikan jalan Braga seperti 'pedestrian area di Munich']]></title>
<link>http://kupalima.wordpress.com/?p=22</link>
<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 21:48:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arry Akhmad Arman</dc:creator>
<guid>http://kupalima.id.wordpress.com/2008/02/22/memimpikan-jalan-braga-seperti-pedestrian-area-di-munich/</guid>
<description><![CDATA[Banyak orang senang ke Paris van Java (PvJ) di jalan Sukajadi Bandung, walaupun harus bermacet-macet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang senang ke <b>Paris van Java </b>(PvJ) di jalan Sukajadi Bandung, walaupun harus bermacet-macet kesana, lalu bersusah payah mencari lokasi parkir. Menariknya, mereka tidak pernah kapok. Ada rasa kangen untuk datang lagi. Mengapa? Menurut saya bukan semata-mata karena ada toko A yang menjual barang favorit dia atau karena ada toko B yang selalu memajang produk baru yang sulit dicari di tempat lain atau karena ada toko C yang barangnya menarik harganya. Mungkin itu benar. Tapi tidak sedikit orang kesana hanya untuk berjalan-jalan, <b>menikmati suasana yang lain</b>. Begitu masuk kesana, memang terasa lain. Lupa dengan kota Bandung yang semakin semrawut, rasanya memang kita sedang berkunjung ke suatu dunia lain yang lebih baik dari Bandung yang sebenarnya. Persis seperti ketika kita masuk ke DUFAN (Dunia Fantasi) di Ancol, di dalam itu kita dibawa ke dalam suasana lain, dan sesaat lupa kepada tempat kita sehari-hari.</p>
<p>Apakah suasana seperti itu ada dalam suasana yang sesungguhnya? Ketika pertama kali berkunjung ke PvJ, saya langsung teringat Munich, salah satu kota terbesar di Jerman. Ada suatu area jalan kaki yang sangat lebar dan panjang. Kiri kanan toko dan tidak ada jalur mobil di tengahnya. Area jalan kaki ini terletak antara <a href="http://photos.igougo.com/pictures-photos-s2-r1331854-p273538-Marienplatz.html"><b>Karlsplatz dan Marienplatz</b></a>. Kebetulan saya pernah dua kali berkesempatan mengunjungi Munich. Satu kali pada awal tahun 2005, pada saat musim dingin penuh salju dimana-mana. Kesempatan kedua pada tahun 2006 musim panas. Jadi sempat melihat area tersebut untuk dua kondisi yang berbeda. Ternyata di kedua musim yang ekstrim berbeda tersebut, area tersebut tetap menjadi kawasan yang ramai. Lihat dua foto di  bawah ini.</p>
<p align="center"><a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/munich01.jpg" title="munich01.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/munich01.jpg" alt="munich01.jpg" height="200" width="400" /></a></p>
<p align="center">Area jalan kaki di Munich pada saat musim panas 2006</p>
<p align="center">&#160;</p>
<p align="center"><a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/munich02.jpg" title="munich02.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/munich02.jpg" alt="munich02.jpg" height="200" width="400" /></a></p>
<p align="center">Area jalan kaki di Munich pada saat musim dingin (awal 2005)</p>
<p align="left">&#160;</p>
<p align="left">Suasana ini agak berbeda dengan kawasan jalan kaki lainnya yang terkenal di Eropa yang ditengahnya ada jalur mobil karena jalannya memang sangat lebar. Sebagai contoh di Paris ada kawasan jalan kaki yang terkenal, yaitu <b>Champs Elysees </b>yang ujung satunya adalah <a href="http://www.destination360.com/europe/france/images/s/france-arc-de-triomphe.jpg"><b>Arc de Triomphe</b></a>, sedangkan ujung yang lainnya adalah <b><a href="http://www.aviewoncities.com/paris/placedelaconcorde.htm">Place de La Concorde</a> </b>yang kalau diteruskan akan menuju ke <b><a href="http://www.louvre.fr">Piramid kaca di museum Louvre</a>. </b>Ini kawasan yang sangat panjang dengan trotoar yang sangat lebar di kiri kanannya. Saya kira jalan Braga tidak mungkin meniru kawasan Champs Elysees karena terlalu sempit. Kalaupun mau, mungkin Jalan Dago bisa, asal tidak ada parkir di setiap toko dan halaman parkir di semua toko dijadikan trotoar jalan kaki yang lebar. Terlalu rumit implementasinya!</p>
<p align="left">Terus terang saya <b>memimpikan jalan Braga kita disulap jadi seperti area jalan kaki Munich seperti foto di atas, mulai dari persimpangan J. Suniaraja sampai persimpangan Asia Afrika</b>. Kita <b>tutup jalur mobil di jalan Braga </b>dan kembalikan ke suasana Eropa yang sesungguhnya, sehingga <b>julukan Paris van Java menjadi pantas untuk disandang kota Bandung sepanjang masa</b>, bukan sekedar masa lalu saja.  Kalau kita bisa menyedot orang Jakarta setiap weekend ke Bandung, mengapa kita tidak mulai memikirkan untuk menyedot orang Singapura atau Malaysia ke Bandung setiap weekend?</p>
<p align="center"> <a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/braga.jpg" title="braga.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/braga.jpg" alt="braga.jpg" height="200" width="400" /></a></p>
<p align="center">Suasana Jalan Braga, Bandung</p>
<p align="left"> Memang banyak hal yang akan menjadi kendala, seperti peningkatan jumlah kendaraan pendatang dan parkir. Saya kira kalau kita punya keinginan yang kuat, banyak alternatif <b>solusi berani </b>yang bisa kita tempuh, misalnya  <b>penataan angkot  secara serius dan pelarangan parkir di tempat -tempat yang mengganggu</b>. Deskripsi lengkap pemikiran solusi kemacetan weekend ini akan saya post pada tulisan lainnya.</p>
<p align="left">Banyak perubahan yang dimulai dari 'mimpi'. Nah, mudah-mudahan ini merupakan mimpi indah yang bisa kita pertimbangkan untuk dikaji kemungkinannya. Yang pasti, kalau tidak pernah bermimpi, sudah pasti tidak akan berubah.<br />
Bagaimana menurut anda?</p>
<p align="left">Salam<br />
- Arry Akhmad Arman -</p>
<p align="left">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan Pahlawan, contoh segmen infrastruktur bagus yang tidak dimanfaatkan!]]></title>
<link>http://kupalima.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 13:38:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arry Akhmad Arman</dc:creator>
<guid>http://kupalima.id.wordpress.com/2008/02/21/jalan-pahlawan-contoh-segment-infrastruktur-bagus-yang-tidak-dimanfaatkan/</guid>
<description><![CDATA[Jalan Pahlawan di kota Bandung adalah jalan yang unik dan menarik. Jalan ini terdiri dari 3 jalur me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Jalan Pahlawan di kota Bandung adalah jalan yang unik dan menarik. Jalan ini terdiri dari 3 jalur menuju Taman Makam Pahlawan. Dari ujung persimpangan dengan jalan Surapati, kita bisa memandang lurus ke tugu di Taman Makan Pahlawan dengan memandang deretan pohon-pohon cemara yang berjejer rapih. Jika cuaca sedang bagus, kita bisa melihat pemandangan indah bukit-bukit di Bandung utara sebagai background dari tugu di makam tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Jalan ini terdiri dari 3 jalur dan cukup lebar. Bahkan jalur lambat di kedua sisinyapun cukup leluasa untuk dilalui dua mobil bersimpangan dari arah yang berlawanan. Faktanya, kita sering kesal kalau naik mobil melalui jalan utamanya (tengah). Mengapa? Angkot berhenti seenaknya di jalur tengah.  Penumpang angkot juga direpotkan  untuk berjalan jauh menyebrangi  jalur lambat dan trotoar tengah yang lebar  untuk sampai ke jalur utamanya (lihat foto, seorang ibu harus berjalan sampai ke trotoar jalur tengah untuk menanti angkot, bahkan harus melocati selokan kecil di tepi trotoar). Baik untuk naik maupun untuk turun angkot. Sementara itu, jalur lambat di kiri kanan, kosong tidak digunakan. Bahkan sudah menjadi tempat parkir yang nyaman dan tidak terganggu. Mari perhatikan foto-foto berikut.</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" align="center"> <a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/img_3329.jpg" title="img_3329.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/img_3329.jpg" alt="img_3329.jpg" height="240" width="480" /></a></p>
<p class="MsoNormal" align="center">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" align="center"><a href="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/pic00064.jpg" title="pic00064.jpg"><img src="http://kupalima.wordpress.com/files/2008/02/pic00064.jpg" alt="pic00064.jpg" height="240" width="480" /></a></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">Aneh bin ajaib! Ko, tidak pernah terpikirkan untuk menata segmen jalan ini. Menurut saya, jika angkot diharuskan melalui jalur lambat di kiri dan kanan, akan menguntungkan berbagai pihak. Penumpang angkot pun tidak perlu repot-repot ke jalur tengah. Jalur utama juga akan menjadi lancar karena tidak ada angkot. Jalur lambat juga tidak akan berkembang menjadi lahan parkir seenaknya yang nantinya jadi sulit menertibkannya. Yang pasti, untuk melakukan ini hampir tidak ada biaya yang harus dikeluarkan, cukup pasang beberapa rambu saja.</p>
<p class="MsoNormal">Salam,<br />
Arry Akhmad Arman</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[di guyur....]]></title>
<link>http://dzuwi.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 14:17:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>dzuwi</dc:creator>
<guid>http://dzuwi.id.wordpress.com/2008/02/18/di-guyur/</guid>
<description><![CDATA[whuaaaa pagi ini gw di guyur ujan&#8230; masa niat gw kuliah ga direstui  lagian diguyurnya ga elit ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>whuaaaa pagi ini gw di guyur ujan... masa niat gw kuliah ga direstui :( lagian diguyurnya ga elit bner, pas ditengah2 trotoar whuaaaa...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sikat Habis Kaum Tua Pengkhianat]]></title>
<link>http://qahar.wordpress.com/2008/02/03/sikat-habis-kaum-tua-pengkhianat/</link>
<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 02:21:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>qahar</dc:creator>
<guid>http://qahar.id.wordpress.com/2008/02/03/sikat-habis-kaum-tua-pengkhianat/</guid>
<description><![CDATA[Jalan Revolusioner Kaum Muda
Pak tua sudahlah
 Engkau sudah terlihat lelah
 Pat tua sudahlah
 Kami m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><b>Jalan Revolusioner Kaum Muda</b></p>
<p><i>Pak tua sudahlah</i><i><br />
</i><i> Engkau sudah terlihat lelah</i><i><br />
</i><i> Pat tua sudahlah</i><i><br />
</i><i> Kami mampu untuk bekerja</i><i><br />
</i><i> - Pak Tua, Iwan Fals -</i></p>
<p><i>For they have their own thoughts</i><i><br />
</i><i> You may house their bodies but not their souls</i><i><br />
</i><i> For their souls dwell in the house of tomorrow,</i><i><br />
</i><i> which you can not visit, not even in your dreams</i><i><br />
</i><i> - On Children, Kahlil Gibran -</i></p>
<p>Muhammadiyah sudah terlalu lamban dalam merespon dinamisnya permasalahan zaman. Tidak berani mengambil sikap dan posisi untuk membela kaum mustadl"afin. Geliat Muhammadiyah untuk berselingkuh dengan kekuasaan sudah menjadi rahasia umum. Terlebih, Muhammadiyah tidak lagi dimaknai sebagai alat perjuangan melainkan proses untuk mencapai kemapanan. Tubuh Muhamamdiyah kini sudah "gemuk" dengan jutaan anggota maupun jutaan keuntungan amal usahanya. Tapi siapa bilang Muhammadiyah berani bersikap?! Tetap duduk dan diam memandang perubahan merupakan sikap Muhammadiyah.</p>
<p><!--more Selanjutnya... -->Big is beautiful, jargon itu cuman ada di layar lebar tapi tidak di realita. Katanya sih Muhammadiyah merupakan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Besar What?! Besar strukturnya atau besar fungsinya? Jelas-jelas ratusan bahkan ribuan TKI yang didzolimi, Muhammadiyah diam aja. Melalui media digambarkan subsidi BBM hanya dinikmati orang kaya sehingga harus dikurangi. Apa ga punya otak? Jelas-jelas sebagian besar rakyat kita bukan orang kaya, melainkan orang miskin yang semakin miskin. UU Pornografi merupakan sebuah objektifikasi Islam dalam tatanan sosio-kultur masyarakat dan Muhammadiyah lagi-lagi hanya berkomentar. Tidak berani bersikap dengan mengeluarkan surat keputusan bahwa seluruh warga Muhammadiyah harus mendukung keberadaan UU tersebut.</p>
<p>Siapa sih yang tidak akan memaklumi bahwa saat ini kader persyarikatan dapat "hidup" dari Muhammadiyah?. Konteks pengertian, Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan hidup dari Muhamamdiyah, tidak lagi dapat kita posisikan sebagaimana makna tekstual. Apakah perlu mengambil hak-hak mereka yang seharusnya dapat disantuni demi "hidup" kaum tua Muhammadiyah? Kaum tua tersebut seharusnya mengencangkan ikat pinggang agar rakyat miskin dapat merasakan pendidikan, memiliki penghidupan, layanan kesehatan yang layak. Kelayakan sebagai seorang manusia, bukan stigma kelayakan ala orang miskin.</p>
<p>Muhammadiyah perlu tangan-tangan muda yang dapat berjuang dan menggantikan kaum tua yang mulai lelah. Muhammadiyah hanya dijadikan kendaraan politik dan sarana untuk mendapatkan penghidupan yang mapan. Sementara berjuta-juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, kaum tua Muhammadiyah sibuk konsolidasi internal. Katanya demi kepentingan rakyat dan bangsa, tapi rakyat yang mana? dan bangsa siapa?.</p>
<p>Menurut Julian Benda seorang cendekiawan tidak sepatutnya untuk turun dalam ranah praksis apalagi pragmatis. Kaum tua sudah terlalu lelah, ompong dan tidak visioner. Bukan pemimpin semacam ini yang akan menjadi pemimpin bangsa. Melainkan kaum muda idialis yang jujur terhadap nuraninya untuk belajar membedakan yang haq dan bathil, serta berani mengatakan yang benar dan objektif meskipun itu pahit.</p>
<p>Kaum muda Muhammadiyah tidak sepatutnya hanya berdiam diri, berharap dan hanya berdoa bahwa perubahan akan terjadi di tubuh Muhammadiyah. Perlu diingat bahwa struktur fungsional hanya dapat dirubah dengan jalan revolusioner. Ini bukan sebuah pilihan bagi kaum muda, melainkan suatu keharusan bertindak. Karena Muhammadiyah kini hanya diisi oleh cendekiawan-cendekiawan pengkhianat.</p>
<p>Perubahan yang dilakukan oleh struktur akan menciptakan sistem baru yang tidak jauh berbeda, bahkan lebih stagnan. Kedamaian yang tercipta tanpa keadilan adalah tirani. Mengapa harus jengah dan takut? Kaum tua sudah berani berselingkuh dengan kekuasaan pragmatis, melacuri intelektual mereka sendiri dan menjadi budak kepentingan partikular. Kebangkitan kaum muda untuk menyikat habis kaum tua merupakan upaya memutuskan mata rantai kemunafikan dalam tubuh Muhammadiyah.</p>
<p>Kaum muda harus menghancurkan menara gading Muhammadiyah, agar kaum-kaum tua melihat kenyataan kehidupan dibalik trotoar. Kaum muda bukanlah Ken Arok di negeri sendiri, melainkan Gajahmada yang akan menyatukan dan mensejahterakan Nusantara. Menolak tunduk pada tirani dan bangkit melawan, karena diam adalah pengkhianatan. ***</p>
<p>(Diterbitkan di buletin Trotoar ed. 2, Gerakan Intelektual Baret Merah)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Basmi "Pejabat Cacing" di PTM]]></title>
<link>http://qahar.wordpress.com/2008/02/03/basmi-pejabat-cacing-di-ptm/</link>
<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 02:18:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>qahar</dc:creator>
<guid>http://qahar.id.wordpress.com/2008/02/03/basmi-pejabat-cacing-di-ptm/</guid>
<description><![CDATA[Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa ditanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Barangkali di sana ada jawabnya<br />
Mengapa ditanahku terjadi bencana<br />
Mungkin Tuhan mulai bosan<br />
Melihat tingkah kita<br />
Selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa<br />
- Berita Pada Kawan, Ebiet G. Ade-</i></p>
<p>Muhammadiyah mungkin patut berbangga atas kemajuan pembangunan yang dimiliki oleh PTM. Perguruan Tinggi Muhammadiyah perlahan tapi pasti mampu bersaing dengan perguruan tinggi negeri lainnya, namun bersaing dalam kemegahan dan kemewahan bukan pada kualitas. Perguruan tinggi Muhammadiyah hanya menjadi alternatif kedua bila mahasiswa tidak lulus seleksi di perguruan tinggi negeri.</p>
<p>Rektor PTM mencari kambing hitam atas minimnya mahasiswa yang masuk dengan menyalahkan pola penerimaan perguruan tinggi negeri. Hal tersebut hanyalah alasan orang yang pesimis dan tak punya daya juang. Jelas-jelas mutu pendidikan di PTM yang bobrok. PTM tidak lebih layaknya pusat lokalisasi yang siap menerima siapa saja dengan kemampuan apa saja, asalkan memiliki kemampuan membayar. Agar kenaikan spp tiap tahunnya bisa berjalan dengan lancar dan tidak banyak protes dari mahasiswa "miskin".</p>
<p><!--more Selanjutnya... -->Muhammadiyah didirikan sebagai sebuah jawaban dan refleksi kritis atas surat al-Ma"un, utamanya ayat 1-3. Sarana pendidikan yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat, kini telah tumbuh besar, untuk menitipkan dan menjaring anak-anak orang kaya. Ternyata untuk pandai dan cerdas di bawah lembaga pendidikan bimbingan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini harus dibayar dengan mahal dengan kualitas rendah.</p>
<p>Permasalahan PTM tidak hanya terletak dalam hal finansial. Pola kurikulum yang terjebak dan mengikuti keumuman kurikulum pendidikan di Indonesia untuk mempersiapkan manusia menjadi buruh dan budak Industri. Kurikulum PTM tidak dipersiapkan untuk membentuk karakter kritis mahasiswa. Mungkin, hal ini sengaja diciptakan agar mahasiswa Muhammadiyah tidak mampu mengkritisi kebobrokan dan penyelewengan pejabat PTM.</p>
<p>Jarak antara dosen dan pejabat PTM sengaja diciptakan untuk membentuk kesan kharismatik. Sehingga tertanam kesadaran bahwa mahasiswa dan dosen itu berbeda, tidak hanya secara intelektual mahasiswa tak mungkin secerdas dosen, tapi secara struktur sosial mahasiswa adalah kaum rendah di perguruan tinggi muhammadiyah. Penciptaan jarak tersebut hanya berhasil pada mahasiswa yang kuliah untuk mendapatkan nilai IPK yang baik. Tapi tidak akan berhasil pada mahasiswa yang menganggap dosen dan pejabat PTM adalah manusia yang pasti memiliki kesalahan.</p>
<p>Banyak dosen dan pejabat PTM akan bergeliat seperti cacing kepanasan bila dikritik. Mengancam mahasiswa dengan memanfaatkan otoritas untuk menentukan nilai. Orang-orang yang kritis dianggap tidak memiliki etika, moral dan tidak memiliki intelektual. Apakah layak disebut memiliki etika bila diam melihat kemungkaran dan penyelewengan? Apakah disebut intelektual bila kecerdasannya digunakan bukan untuk memberikan pencerahan melainkan untuk penyelewengan?</p>
<p>Pejabat dan dosen semacam itu tak lebih baik dari cacing-cacing yang kepanasan. Mereka (baca: dosen, pejabat dan cacing) akan tenang dan tenteran bila berada di lahan basah. Lahan yang sengaja diciptakan dan dijaga agar tetap basah. Kepedulian akan kulitas kurikulum di PTM dibangun dalam kerangka menarik dana untuk proyek-proyek pendidikan.</p>
<p>Sungguh tidak layak seorang kader Muhammadiyah hanya sibuk berdoa dan beribadah sementara lembaga pendidikan tidak terurus, kualitas pendidikan terbengkalai, orang miskin tak mampu bersekolah. Perubahan membutuhkan tidak sekedar semangat, namun juga tekad dan kontinuitas. Pengorbanan dalam bertindak merupakan suatu keniscayaan, untuk membangun Muhammadiyah sebagai rahmatan lil "alamin.</p>
<p>Saat ini banyak orang yang mengaku kader berlomba-lomba untuk masuk ke lembaga pendidikan Muhammadiyah. Bukan didasari atas keinginan memajukan PTM, namun ingin menjadi salah satu pejabat cacing. Mereka berkesepahaman Rahmatan lil Nahnu.</p>
<p>Kader-kader Muhammadiyah harus menjadi intelektual combantrine. Menyikat habis para pejabat cacing yang menggerogoti perguruan tinggi Muhammadiyah. Ini bukan merupakan pilihan dalam bertindak melainkan sebuah keharusan.***</p>
<p>(Diterbitkan pada buletin Trotoar ed. 1, Gerakan Intelektual Baret Merah)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[trotoar]]></title>
<link>http://madhare.wordpress.com/2007/11/17/trotoar/</link>
<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 16:07:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>mitsuki</dc:creator>
<guid>http://madhare.id.wordpress.com/2007/11/17/trotoar/</guid>
<description><![CDATA[trotoar merupakan fasilitas untuk:
a. pejalan kaki untuk berjalan dengan lancar
b. tempat penjual pu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>trotoar merupakan fasilitas untuk:<br />
a. pejalan kaki untuk berjalan dengan lancar<br />
b. tempat penjual pulsa telpon selular untuk masang papan segede kebo<br />
c. tempat parkir kendaraan roda dua<br />
d. jalan alternatif kendaraan roda dua ketika sedang macet<br />
e. tempat pohon segede anjing herder</p>
<p>???</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ratapan Pejalan Kaki!]]></title>
<link>http://inart.wordpress.com/?p=301</link>
<pubDate>Sun, 29 Oct 2006 13:12:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Winarni K Suprimardani</dc:creator>
<guid>http://inart.id.wordpress.com/2006/10/29/ratapan-pejalan-kaki/</guid>
<description><![CDATA[Berjalan di sebuah sudut kota Makassar mengingatkan pada suatu waktu ketika saya berjalan untuk meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berjalan di sebuah sudut kota Makassar mengingatkan pada suatu waktu ketika saya berjalan untuk mengantar pulang tujuh orang mahasiswa Jepang yang melakukan survai di Pantai Laguna menuju Hotel Delta tempat mereka menginap di Jalan Sultan Hasanuddin.<!--more--></p>
<p>Saya melontarkan sebuah pertanyaan saat itu. <em>“What do you think about Makassar?</em>” seketika itu juga saya kaget mendengar jawaban mereka, “<em>Makassar is very danger</em>” ucap salah satu di antaranya. Tiba-tiba sebuah suara klakson mobil yang sangat keras mengagetkan, membuyarkan lamunanku, sekaligus membuatku sadar, yah... <em>Makassar is very danger</em>.</p>
<p>Berjalan kaki merupakan moda transportasi yang bebas polusi, menyehatkan, dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Namun sayang, keberadaan pejalan kaki di kota ini seringkali di pandang sebelah mata.Berkembangnya stigma pada masyarakat bahwa pejalan kaki erat kaitannya dengan kemiskinan membuat budaya gengsi inipun akhirnya makin merebak, di mana segalanya dilihat dari perspektif materi. Stigma inilah yang menambah kekeliruan lain: lahirnya kebijakan-kebijakan yang diskriminatif. Ironis.</p>
<p>Kendaraan yang dipandang sebagai materi, mendapat fasilitas memadai di ruang publik, namun para pejalan kaki yang jelas-jelas adalah manusia, justru terabaikan dan tak terlindungi. Media massa ramai memberitakan bahwa jumlah daya tampung jalanan di Makassar tidak sebanding lagi dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Karena itulah banyak rekomendasi pelebaran jalan, termasuk pembangunan <em>fly-over</em> sepanjang 400 meter di Jalan Urip Sumoharjo hingga perencanaan jalan lingkar yang telah menghabiskan dana 10 miliar rupiah, padahal hingga sekarang belum terealisasi. Sayangnya, pembangunan jalan baru tidak diserta perencanaan memadai untuk menjamin kenyamanan dan keamanan pejalan kaki.</p>
<p>Di Makassar dan di kota-kota besar lainnya di Indonesia, banyak hal yang membuat pejalan kaki yang seharusnya mendapatkan tempat istimewa di banding pengguna jalan lainnya, justru menjadi kelompok yang beresiko tinggi mengalami kecelakaan lalu lintas. Terungkap bahwa 65 persen kecelakaan di jalan raya di tanah air melibatkan kematian pejalan kaki. Ini angka yang sungguh ironis.</p>
<p>Sebenarnya pemerintah telah menyiapkan fasilitas bagi pejalan kaki seperti trotoar dan jembatan penyeberangan, tapi coba kita lihat bagaimana kondisi fasilitas yang ada di Makassar.</p>
<div><img src="http://panyingkul.com/gambar/jalan3" border="1" alt="" /><br />
<span style="font-size:xx-small;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><em>Pedestrian yang justru dijadikan lahan parkir.<br />
</em></span></div>
<p><strong>Trotoar</strong><br />
Kadang terbersit pertanyaan, “Apakah betul, trotoar dibuat untuk pejalan kaki? Memberikan kesempatan yang lebih manusiawi bagi pejalan kaki?” Mungkin itu betul jika kita melihat trotoar di depan rumah jabatan gubernur di Jalan Jendral Sudirman yang di rancang sedemikian rupa sehingga tidak hanya indah dipandang mata juga jalurnya yang landai sangat memanjakan pejalan kaki.</p>
<p>Tetapi beberapa meter dari tempat itu tepatnya di depan rumah sakit Sentosa dan sekitarnya trotoar “mendaki gunung lewati lembah” melebihi skala kenyamanan skala pejalan kaki, dan merendahkan prioritas pejalan kaki dibanding ban mobil yang bulat. Hal ini tentu saja sudah tidak sesuai dengan standar trotoar yang harus lurus dan tidak terpotong oleh jalur masuk rumah atau toko. Kalaupun jalan masuk menuju bangunan dibutuhkan maka seharusnya dibuatkan jalanan landai menuju trotoar sehingga kendaraan bisa melintas trotoar untuk masuk ke dalam sebuah bangunan.</p>
<p>Belum cukup prioritas pejalan kaki direndahkan dengan memotong jalur untuk mempersilakan kendaraan melaju keluar masuk gedung, kembali pejalan kaki dihadapkan oleh pengendara motor yang naik ditrotoar. Kadang-kadang membunyikan klakson seolah berkata, “<em>oi... minggir</em>” padahal seharusnya kami yang berkata, “<em>Eh, memang ini jalan siapa, Bos?</em>” Hal ini sering kali terjadi di wilayah Tamalanrea jika terjadi macet.</p>
<p>Maraknya pertumbuhan ruko di Makassar setiap tahunnya ikut serta menghilangkan kenyamanan pejalan kaki. Tempat parkir yang padat akan kendaraan bermotor memangkas jalur pedestrian dan trotoar, sempadan bangunan yang dikeraskan langsung berhubungan dengan aspal membuat kami harus berjalan di aspal dan berarti siap untuk diklakson oleh pengendara seperti terlihat di wilayah Somba Opu, Pecinan dan sekitarnya.</p>
<p>Belum cukup sampai di situ, sektor informal juga ikut serta menggusur prioritas pejalan kaki seperti yang tampak sepanjang Jalan Mesjid Raya. Para pedagang kaki lima, mulai dari penjual rokok dan minuman, pedagang makanan, bahkan sektor informal yang mendirikan kafe dan warung makan, turut mengganggu kenyamanan. Adanya pohon dan tiang listrik di tengah-tengah trotoar dan jalur pedestrian pun turut mengganggu langkah pejalan kaki (tapi manakah yang lebih dulu, pohon atau trotoar?)</p>
<p>William H. Whyte dalam bukunya, <em>City</em>, berpendapat, trotoar harus dibangun dengan pertimbangan sifat-sifat manusia. Biasanya pejalan kaki berjalan menghadap ke depan dan mengamati orang di hadapannya sehingga dibutuhkan ruang agar mereka bisa saling bertatap mata, melempar senyum atau menghindar. Ukuran lebar ditentukan dengan tiga orang, dengan jarak masing-masing 10 sentimeter ke kiri dan ke kanan sebagai area untuk menghindari seseorang.</p>
<p>Sedangkan Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 65 Tahun 1995 menetapkan lebar trotoar tergantung dari volume pejalan kaki, tingkat kecelakaan dan permintaan masyarakat. Untuk daerah pertokoan, lebar trotoar dipersyaratkan minimal empat meter. Sedangkan untuk wilayah perkantoran, minimal tiga meter. Sementara trotoar di wilayah industri, untuk jalan primer ditetapkan lebarnya tiga meter dan jalan lingkungan cukup dua meter. Untuk jalan primer dan jalan lingkungan di wilayah pemukiman masing-masing lebar trotoarnya ditetapkan 2.275 meter dan 2 meter.</p>
<div><img src="http://panyingkul.com/gambar/jalan4" border="1" alt="" /><br />
<span style="font-size:xx-small;font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;"><em>Seorang pejalan kaki memilih melintasi pagar daripada lewat jembatan penyeberangan<br />
Foto: Winarni.<br />
</em></span></div>
<p><strong>Jembatan Penyeberangan</strong><br />
Jembatan Penyeberangan? Apalagi ini? Tangganya yang tinggi semampai membuat kita merasa capek sebelum menjajakinya. Mungkin bukan hanya saya yang berpikiran seperti itu, buktinya jembatan penyeberangan yang ada di Makassar sangat jarang tersentuh pejalan kaki.</p>
<p>Meskipun pemerintah telah mengeluarkan uang untuk membangun jembatan penyeberangan di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Urip Sumoharjo, namun para pejalan kaki lebih memilih untuk merusak pagar median jalan atau menahan kendaraan melaju agar dapat menyeberangi jalan tersebut. Tampaknya jembatan penyeberangan itu hanya sekedar sebagai tempat pamer iklan saja. Dan lagipula, sudah menjadi rahasia umum, badan jembatan penyeberangan di Makassar sangat tidak layak digunakan karena kotor dan tidak nyaman.</p>
<p><strong>Pete-pete</strong><br />
Ketidakdisiplinan pengguna kendaraan juga menjadi ancaman bagi pejalan kaki. Ambil contoh mikrolet atau yang disebut <em>pete-pete</em> di Makassar. “Hanya Tuhan dan sopirlah yang tahu kapan ia akan berhenti” mungkin itu ungkapan yang cocok buat sopir <em>pete-pete</em>.</p>
<p>Mereka berhenti seenak hati hingga terkadang mengganggu ketertiban. Seperti yang saya alami ketika suatu hari berjalan di Jalan Veteran dan tiba-tiba sang sopir membunyikan klaksonnya dengan keras hingga membuyarkan lamunan.</p>
<p>Meskipun sudah berjalan di tempat khusus pejalan kaki, mereka tetap mengusir para pejalan kaki agar bisa memarkir mobilnya guna menanti penumpang. Yah…memang <em>Makassar is very danger</em> untuk pejalan kaki seperti saya. Tapi siapa yang peduli?</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
