<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>totto-chan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/totto-chan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "totto-chan"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 02:05:52 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mau Keren? Ya, Belajar Sejarah…!]]></title>
<link>http://firstedu.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 03:00:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>firtsedu</dc:creator>
<guid>http://firstedu.id.wordpress.com/2008/05/02/mau-keren-ya-belajar-sejarah%e2%80%a6/</guid>
<description><![CDATA[
 Mendengar kata SEJARAH, yang langsung terbayang dalam benak kita pasti adalah setumpuk buku tebal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mendengar kata SEJARAH, yang langsung terbayang dalam benak kita pasti adalah setumpuk buku tebal yang telah mulai usang. Warna, lembaran-lemabaran buku itupun mulai kecolkatan, syukur kalau enggak <em>bolong-bolong</em> termakan rayap. Karena itulah, kadang sejarah terasa sangat menakutkan atau tepatnya sangat membosankan untuk dipelajari. Jangankan untuk membaca buku-buku sejarah yang tebal dan kadang membingungkan itu, untuk membaca artikel kecil aja kadang kita <em>males</em>nya bukan main.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau kita mendengar ada orang yang suka sejarah, kita pasti membayangkannya sebagai orang yang suka menyendiri, berkacamata tebal, rambut yang selalu disisir rapi (kayak gaya tahun 60-an gitu) dan seterusnya, pokoknya <em>katrok</em> deh… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalo sikap kita terhadap sejarah kayak gitu, gimana bangsa Indonesia bisa maju. Kita <em>cuma</em> bisa <em>ngomong</em> bahwa kita menghormati pendahulu kita yang telah berjuang mempertaruhkan harta, bahkan nyawa untuk negeri tercinta, tapi apa bentuk penghormatan kita terhadap beliau-beliau itu? Sementara, belajar sejarah aja kita mesti dipaksa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Padahal, sejarah itu penting <em>banget</em> <em>kan</em>… Kalau kalian pernah <em>denger</em>, beberapa waktu lalu buku sejarah sempat menjadi kontroversi, bahkan sampai sekarang. Kontroversi itu terjadi karena sejarah seringkali dipelesetkan atau ditafsirkan secara subjektif. Sejarah yang dalam bahasa Inggrisnya <em>history</em> <em><span> </span></em>sering diplesetkan menjadi<em><span>  </span>his story </em>(cerita menurut dia). Itu menunjukkan, sejarah sangat pantas mendapatkan perhatian istimewa dari kita semua. Bayangkan saja, kalau kita <em>enggak </em>peduli dengan yang namanya sejarah, kita juga tidak akan tahu <em>gimana</em> sebenarnya asal muasal terbentuknya negeri ini. Sekarang mungkin kita sudah tahu <em>dikit-dikit</em>, tapi tentu saja masing banyak <em>banget</em> hal yang belum kita tahu. Makanya, mempelajari sejarah dengan motivasi dan rasa ingin tahu penting <em>banget</em> untuk ditumbuhkan. Kalau kebanyakan di antara kita mempunyai pikiran yang sama untuk memperdalam pengetahuan tentang sejarah, pasti asik <em>banget</em>…. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ketika<em> </em>istirahat di kantin misalnya, yang kita <em>omongin</em> bukan sekadar, gimana sinetron “Cinta Fitri” kemarin, atau, siapa yang menang dalam pertandingan bola kemarin, tapi kita juga membicarakan Bung Karno dan Bung Hatta, G30S PKI, Tan Malaka, Soe Hok Gie, dan lain-lain. Jadi, belajar sejarah tidak hanya <em>pas</em> ada pelajaran sejarah <em>kan</em>….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau minat kita <em>sama</em> yang namanya sejarah sekarang ini masih rendah, ada baiknya kita mencari solusi, agar kita berminat mempelajari sejarah, bukan malah tidak mempelajarinya. Buat kalian yang suka nonton film, mungkin ada baiknya mulai sekarang coba berpetualang mencari film-film yang diangkat dari sejarah. Filmnya <em>enggak</em> mesti dari dalam negeri aja kok. Misalnya, “GIE”, yang ceritanya diangkat dari otobiografi “SOE HOK GIE”, atau “TROY” yang kisahnya diangkat dari perang antara Sparta dan Athena, atau “Memoar of<span>  </span>Geisha” yang merupakan film tentang pelacur kelas atas Jepang di zaman peperangan. Akan lebih asik lagi jika bisa nonton bareng sama teman-teman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bagi kalian yang lebih suka membaca, ada cukup banyak buku sejarah yang perlu dan penting <em>banget</em> untuk dibaca. Kalian bisa mulai dengan membaca novel-novel sejarah. Misalnya, “Sam Po Kong” (Perjalan Pertama) yang ditulis Remy Sylado, mengisahkan pelayaran muhibah ke Nusantara yang dipimpin oleh Ceng Ho, utusan kaisar Ming dari negeri Cina sekitar abad ke-15. Bukti-bukti kisah itu, masih bisa dilihat sampai sekarang, dalam bentuk Klenteng yang ada di Semarang. Ada juga novel yang berjudul “Totto Chan”, ditulis Tetsuko Kurroyanagi. <span> </span>Novel ini diangkat dari kisah nyata penulisnya ketika bersekolah di sekolah dasar yang sangat menyenangkan. Tapi berakhir tragis ketika sekolah itu hancur oleh bom atom pada Agustus 1945, yang kita kenal dengan peristiwa Hirosima dan Nagasaki. Sederet judul novel yang menarik mungkin tak asing bagi kita, ada “Gajah Mada”, yang ditulis Langit Kresna Hariadi, “Gelang Giok Naga” yang ditulis Leny Helena, dan “Ca Bau Kan” yang ditulis Remy Sylado. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kalau dari menonton film-film sejarah dan novel atau buku-buku sejarah itu minat mempelajari sejarah muncul, pelajaran sejarah pasti akan jadi pelajaran yang sangat menyenangkan. Dengan rasa ingin tahu itu, kita akan dengan semangat dan dengan suka cita “melahap” berbagai sumber informasi tentang sejarah. <em>Ga</em> peduli lagi, apakah itu buku, film, cerita, dan lain-lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pada akhirnya kita memang harus bersyukur, karena kita yang tergolong dalam spesies manusia sajalah yang memiliki definisi <em>pra-ada</em>. Kita bisa tahu <em>gimana</em> dunia ini sebelum kita ada, lewat sejarah. Kalau apa yang terjadi di masa lalu itu merupakan sesuatu yang tidak baik, kita bisa perbaiki. Dan sebaliknya, jika masa lalu itu merupakan hal positif, bisa kita jadikan sebagai teladan. Jadi, kita bisa tingkatkan kualitas kemanusiaan kita dengan belajar sejarah. Kalau begitu, kita bisa buat slogan baru ya, <span> </span>“<em>Engga keren kalau engga tau sejarah</em>!!!” Keren khan….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 288pt;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">I Dewa Gede Budi Utama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (3)]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=81</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 12:48:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/04/03/totto-chan-pendidikan-berbasis-kepribadian-3-tamat/</guid>
<description><![CDATA[Aku mencoba menjelaskan metode pendidikan Mr.Kobayashi di buku ini. Dia yakin, setiap anak dilahirka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></span><i><span style="font-family:Arial;">Aku mencoba menjelaskan metode pendidikan Mr.Kobayashi di buku ini. Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak oleh karena lingkungan mereka atau karena pengaruh buruk orang dewasa. Mr.Kobayashi berusaha menemukan “watak baik” setiap anak dan mengembangkannya, agar tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas. </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-family:Arial;">Banyak sekali yang masih bisa kutulis tentang Tomoe. Tapi aku cukup puas jika bisa membuat orang sadar<span>  </span>bahwa seorang gadis cilik seperti Totto-chan, jika diberi pengaruh yang tepat oleh orang dewasa, akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri dengan orang lain</span></i><span style="font-family:Arial;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-family:Arial;">Oleh : Robert Manurung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">BIASANYA Mama kesulitan membangunkan Totto-chan di pagi hari. Tapi hari itu, dia sudah bangun sebelum yang lain terjaga, sudah rapi berpakaian, dan menunggu dengan tas sekolah tersandang di bahunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Mata Mama berkaca-kaca ketika memandang Totto-chan pergi. Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa gadis cilik yang santun, yang dengan riang serta penuh semangat berangkat ke sekolah itu, adalah anak yang kemarin dikeluarkan dari sekolah dengan cap<span>  </span>“pembuat onar”.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Itulah hari pertama Totto-chan bersekolah di Tomoe Gakuen, hari paling menggairahkan dalam hidupnya, yang kemudian disadarinya telah menyelamatkan hidupnya secara permanen. Totto-chan sangat senang dan amat menyukai sekolah yang “aneh” itu, yang ruang kelasnya dari bekas gerbong kereta api; sampai-sampai dia berjanji akan datang ke sekolah setiap hari dan takkan pernah libur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">* * * </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">BERSEKOLAH di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah itu lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku tetap. Tapi di sini mereka boleh duduk sesuka hati, di mana saja, kapan saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Yang paling aneh dari sekolah itu adalah pelajarannya. Di sekolah-sekolah lain, biasanya setiap jam pelajaran diisi dengan satu mata pelajaran tertentu, misalnya bahasa Jepang untuk jam pelajaran pertama. Semua murid fokus pada mata pelajaran tersebut. Tapi di Tomoe Gakuen sangat berbeda. Di awal jam pelajaran pertama, guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian guru berkata,”Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Jadi tidak masalah apakah kita mulai dengan belajar bahasa Jepang atau berhitung atau yang lain. Murid yang suka mengarang langsung menulis sesuatu, sementara di belakangnya, anak yang suka fisika merebus sesuatu dalam tabung perobaan di atas api berbahan bakar spritus. Letupan-letupan kecil biasa terdengar di kelas-kelas itu, kapan saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Metode pengajaran ini membuat para guru bisa mengamati—sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi—bidang apa yang diminati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini ara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid-murid mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Bagi murid, memulai hari dengan mempelajari sesuatu yang paling mereka sukai sungguh sangat menyenangkan. Jadi belajar di sekolah ini pada umumnya bebas dan mandiri. Murid bebas berkonsultasi dengan guru kapan saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal sampai anak itu benar-benar mengerti. Kemudian mereka diberi latihan-latihan untuk dikerjakan sendiri. Itulah belajar dalam arti yang sebenar-benarnya, dan itu berarti tak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Murid-murid kelas satu belum sampai ke tahap belajar secara mandiri penuh, tapi mereka sudah diizinkan untuk mulai dengan mempelajari materi yang paling mereka minati. Ada yang menyalin huruf-huruf alfabet, ada yang menggambar; membaca buku, bahkan ada yang bersenam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Keanehan” Tomoe tidak berhenti sampai di situ. Kuboyashi telah merancang sejumlah kegiatan belajar yang inkonvensional untuk mendekatkan murid-muridnya dengan alam, memotivasi murid-murid yang lemah agar bangkit rasa percaya dirinya dan membangun kebersamaan di antara murid-muridnya. Ada acara berkemah di sekolah; pelajaran berenang yang membebaskan para murid untuk telanjang; kegiatan belajar di alam bebas; mengundang petani untuk menjelaskan cara bercocok-tanam; melengkapi menu makanan dengan ikan, ada lomba keberanian yang membuat para murid tidak takut lagi pada hantu, dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">* * *<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">MURID-MURID di sekolah itu juga punya keanehan masing-masing. Selain Totto-chan yang hampir selalu dirundung masalah karena rasa ingin tahunya yang besar, ada sekitar 50 murid di sekolah itu dengan keunikan dan keanehan masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Yasuaki Yamamoto--salah seorang di antaranya, kakinya pincang dan jari-jari tangannya tertekuk dan seperti lengket; gara-gara terkena polio. Totto-chan kemudian bersahabat karib dengannya, dan pernah menyabung nyawa ketika memaksakan diri mengangangkat Yasuaki yang bertubuh lebih besar itu ke atas pohon. Itulah yang pertama dan terakhir kali Yasuaki naik ke atas pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Satunya lagi adalah Akira Takashi yang cebol. Meskipun tidak menyeret kakinya seperti ketika Yasuaki berjalan, namun setiap yang melihat Takashi akan merasa iba melihat kaki dan tangannya yang pendek, sementara bahunya kekar dan matanya terlalu besar. Tapi jangan anggap remeh, Takashi adalah juara semua jenis lomba olahraga di Tomoe selama bertahun-tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Puluhan tahun kemudian, dengan tubuh yang tetap cebol, Takahashi menjadi manajer personalia di sebuah perusahaan elektronik raksasa. Hasil didikan Tomoe membuatnya jadi manusia yang positif dan periang; tak pernah merasa minder, sehingga dengan mudah meraih gelar insinyur listrik dari Universitas Meiji.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">* * *<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">TOMOE GAKUEN hanya bertahan sekitar delapan tahun. Pada 1945, sekolah itu terbakar habis akibat dihajar bom B-29 yang dijatuhkan TentaraSekutu;<span>  </span>dan tak pernah dibangun kembali.Adapun penggagas dan sekaligus pelaksana sekolah itu, Sosaku Kuboyashi meninggal dunia pada 1963. Dia tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk menerapkan gagasannya yang orisinil namun revolusioner, yaitu pendidikan berbasis kepribadian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Sampai sekarang, Jepang dan semua negara di dunia tetap menganut sistem pendidikan yang lebih menekankan pada kata-kata tertulis dan cenderung menyempitkan persepsi indrawi anak-anak terhadap alam. Sistem itu juga menghilangkan kepekaan intuitif mereka akan suara Tuhan yang pelan dan menenangkan, yaitu inspirasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Hasil sistem pendidikan massal yang membentuk murid jadi “robot”-- sesuai rancangan kurikulum itu, digambarkan Kuboyashi sebagai berikut,”Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah membara. Itulah hal-hal yang harus ditakuti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Totto-chan telah menghidupkan kembali semangat pendidikan yang membebaskan itu, lewat buku yang diterbitkannya pada 1981. Sekaligus pula dia merasa telah melaksanakan janjinya kepada Kobayashi, yang pernah berpesan agar kelak dia menjadi guru. Buku itu sangat mengejutkan Jepang, sebab hanya dalam waktu singkat terjual 4,5 juta eksemplar.<span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Banyak orang yang terinspirasi oleh kisah Totto-chan, tapi niat baik dan kerinduan banyak orang ternyata masih kalah kuat dibanding kekuasaan kapitalisme, sehingga sistem pendidikan yang berbasis kepribadian masih tetap hanya utopia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Hal itu sudah lebih dulu disadari oleh guru-guru sekolah alam Santhiniketan di India, yang didirikan Rabindranath Tagore pada abad yang lalu; bahwa dunia pendidikan masih terjebak dalam paradigma Revolusi Industri yang tamak, dan merendahkan martabat manusia menjadi sekadar perkakas kapitalisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kobayashi pun menyadari itu, namun hanya bisa berkata, “Serahkan anak-anak itu kepada alam. Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian.”<span>   </span>(<b>Tamat</b>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (2)]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=80</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 12:31:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/04/03/totto-chan-pendidikan-berbasis-kepribadian-2/</guid>
<description><![CDATA[TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></span><i><span style="font-family:Arial;">TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru ? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.” </span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-family:Arial;">Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana.</span></i><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"></span><b><span style="font-family:Arial;">Oleh : Robert Manurung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">BERUNTUNGLAH Totto-chan punya seorang Mama yang sangat pengertian terhadap “kelainan” dirinya. Yang paling mengagumkan adalah ketika Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Mama tidak menunjukkan sedikit pun rasa jengkel terhadap putrinya yang<span>  </span>sebentar berhayal ingin jadi mata-mata, tapi sebentar lagi impiannya sudah berubah menjadi penjual karcis kereta api itu.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">”Putri Anda mengacaukan kelas saya,”kata wali kelas Totto-chan, tanpa basa-basi.<span>  </span>Kekacauan apa gerangan yang bisa dilakukan anak sekecil itu ? “Kesabaran saya benar-benar sudah habis,”ucap ibu guru berwajah manis itu sambil menjatuhkan vonis,”Saya terpaksa meminta Anda memindahkannya ke sekolah lain.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Anak kelas satu SD dikeluarkan dari sekolah! Itu jelas kasus yang luar biasa. Tapi itulah yang menimpa Totto-chan. Dari penuturan si wali kelas, Mama menyimpulkan bahwa keputusannya mengeluarkan Totto-chan dapat dimaklumi, karena si wali kelas sudah mengaku dengan jujur bahwa dia tak sanggup lagi mendidiknya. Mau apa lagi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Daftar dosa putrinya yang dibeberkan ibu guru itu cukup panjang, antara lain membuka dan menutup laci penyimpanan buku sampai ratusan kali setiap hari. Dan memanggil<span>  </span>pengamen jalanan yang melintas dekat jendela, lalu meminta mereka memainkan sejumlah lagu. Tentu saja suasana kelas menjadi kacau, karena murid yang lain ikut merubung di jendela.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Kemarin, Totto-chan berdiri di depan jendela seperti biasa.Saya terus mengajar, mengira dia menunggu para pemusik jalanan itu. Tiba-tiba dia berteriak : Hei, kau lagi ngapain ? Dari tempat saya berdiri tidak bisa terlihat siapa yang diajaknya bicara, jadi saya hanya bisa menebak-nebak apa yang sedang terjadi,”tutur si ibu guru dengan wajah gemas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Saya jadi penasaran dan mencoba mendengar jawaban, tapi tak ada yang menyahut. Meskipun demikian putri Anda terus berseru : Kau sedang apa ? Akhirnya saya pergi ke jendela untuk melihat siapa yang diajaknya bicara. Ketika menjulurkan kepala keluar jendela dan mendongak, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang di bawah atap teritisan. Totto-chan berbicara pada sepasang burung walet!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">* * *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru ? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Baiklah,”kata Totto-chan setelah berpikir cukup lama. “Tapi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Apalagi nih ? pikir Mama. Apakah dia tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tapi sesaat kemudian Totto-chan hanya bertanya begini dengan ceria,”Menurut Mama, para pemusik jalanan akan melewati sekolah baruku, nggak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Waktu itu bisa saja dia berkata : apa jadinya kau nanti ? Kau sudah dikeluarkan dari satu sekolah. Kalau mereka mengeluarkanmu dari sekolah berikutnya, kau akan sekolah di mana ?” tulis Totto-chan setelah dia dewasa.<span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Kalau ibuku berkata begitu padaku, aku pasti akan merasa gugup dan merasa diri tak berguna ketika masuk gerbang Tomoe Gakuen pada hari pertamaku di sana. Gerbang yang hidup, berdaun, dan berakar, dan kelas-kelas dalam gerbong kereta api takkan terlihat menyenangkan di mataku,”lanjut Totto-chan sambil menggaris-bawahi,”Betapa beruntungnya aku punya ibu seperti ibuku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Semua kesan-kesan itu, terutama hari-harinya yang menyenangkan di sekolah berbasis kepribadian itu dituangkan oleh Tetsuko Kuroyanagi—nama asli Totto-chan—dalam buku yang menjadi <i>bestseller</i> di Jepang dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris,”TOTTO-CHAN, THE LITTLE GIRL AT THE<span>  </span>WINDOW”. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “<b>TOTTO-CHAN, GADIS CILIK DI JENDELA</b>”, diterbitkan oleh Gramedia, dan kini sedang mengedarkan cetakan ke-13.<span>       </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Buku ini ditulis Totto-chan setelah dia sukses dan populer sebagai pembawa acara TV di Jepang. Dia kemudian menghubungi teman-teman sekolahnya dulu di Tomoe, dan ternyata semua lulusan sekolah eksperimen yang didirikan Sosaku Kuboyashi itu menjadi orang yang sukses dan sejahtera. </span></p>
<p>* * *</p>
<p><span style="font-family:Arial;">KUBOYASHI menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah nyaman, dia berkata,”Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.”</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Apa saja yang aku suka?” Totto-chan mengira Kepala Sekolah akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawabnya. Ketika dia berkata Totto-chan boleh menceritakan apa saja yang ingin diceritakannya, Totto-chan senang sekali dan langsung berbicara penuh semangat. Ceritanya kacau dan urutannya tidak karuan, tapi semua dikatakannya apa adanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Dia bercerita kepada Kuboyashi tentang betapa cepatnya kereta yang mereka tumpangi; tentang bagaimana dia minta diperbolehkan menyimpan satu karcis kereta kepada petugas pengumpul karcis, tapi tidak diizinkan;<span>  </span>tentang sarang burung walet; tentang Rocky, anjingnya yang berbulu cokelat dan bisa melakukan berbagai keterampilan; tentang bagaimana dia suka memasukkan gunting ke dalam mulutnya waktu di TK dan gurunya melarangnya karena lidahnya bisa tergunting, tapi dia tetap saja melakukannya; tentang bagaimana dia membersit hidung karena Mama memarahinya kalau hidungnya beringus; tentang Papa yang sangat pintar berenang dan menyelam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Totto-chan sempat terhenti beberapa kali karena kehabisan cerita, tapi dia berusaha terus untuk cerita apa saja. Terakhir dia bercerita mengenai baju-bajunya yang selalu robek, karena dia senang merayap di bawah kawat duri. “Mama tidak suka kerah ini,”kata Totto-chan, sambil menunjukkan kerah bajunya kepada Kepala Sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Setelah itu, Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Dia berpikir keras, tapi tak bisa menemukan bahan cerita lain. Hal ini membuatnya merasa agak sedih. Untungnya, tepat ketika itu Kepala Sekolah Kuboyashi berdiri, lalu meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan<span>  </span>sambil berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini.”</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Totto-chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berlangsung empat jam seperti Kepala Sekolah. Lebih dari itu, Kuboyashi sama sekali tidak menguap atau tampak bosan. Dia selalu tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan bercerita selama empat jam. Tentu saja ketika itu dia tidak tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah karena gurunya sudah kehabisan akal menghadapinya. Wataknya yang periang dan terkadang suka melamun, membuat Totto-chan berpenampilan polos. Tapi, jauh di dalam hatinya, dia merasa dirinya dianggap aneh dan berbeda dari anak-anak lain. Kuboyashi telah membuatnya merasa aman, hangat dan senang. (<b>Bersambung</b>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=75</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 03:10:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/03/27/totto-chan-pendidikan-berbasis-kepribadian-1/</guid>
<description><![CDATA[Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu serin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></span><i><span style="font-family:Arial;">Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering<span>  </span>kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana. </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-family:Arial;">Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang <span> </span>benar-benar baik, kau tahu itu kan ?” </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-family:Arial;">Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr.Kobayashi, mungkin aku akan dicap anak nakal, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung</span></i><span style="font-family:Arial;">.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-family:Arial;">Oleh : Robert Manurung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">PERNAHKAH Anda membaca kesan seseorang yang begitu tulus mengagumi dan merasa berhutang budi terhadap gurunya, serta mencintai<span>  </span>sekolahnya di masa kecil, seperti diekspresikan Totto-chan di atas ? Mustahil! Apalagi di Indonesia, dimana sistem pendidikan yang ada justru “membonsai” anak-anak yang kaya imajinasi dan serba ingin tahu seperti Totto-chan--yang dengan gampang dicap “biang kerok di sekolah dan punya kelainan”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tentu ada juga murid atau mahasiswa di Indonesia yang membanggakan almamaternya. Tapi bisa dipastikan, apa yang mereka banggakan cuma hal-hal bersifat fisik dan kapitalistik; misalnya fasilitas serba wah yang dimiliki sekolah/kampusnya, status sebagai sekolah/perguruan tinggi unggulan; sekolah/kampusnya juara basket nasional, dan karena banyak anak orang kaya serta artis tenar di sekolah/kampusnya.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Semua itu tidak ada artinya dibanding Tomoe Gakuen yang dibanggakan Totto-chan, yang telah menyelamatkan dirinya dari ‘pembantaian” secara sistemik oleh sekolah konvensional. Didirikan oleh guru yang sungguh idealis, Sosaku Kobayashi, keunikan sekolah itu sudah tampak dan terasa sejak di pintu gerbang—berupa dua batang pohon, lengkap dengan ranting dan daun-daunnya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan konkret bahwa proses pendidikan harus intim dengan alam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tomoe Gakuen didirikan oleh Kobayashi di Tokyo pada 1937, beberapa saat setelah ahli pendidikan yang sangat mencintai anak-anak ini pulang dari menimba ilmu di Eropa. Jelas, ini adalah sebuah sekolah eksperimen. Sebenarnya, pada waktu itu Jepang sudah menganut sistem<span>  </span>pendidikan yang seragam secara nasional, tapi Tomoe Gakuen bisa tumbuh di luar sistem karena dijalankan secara sembunyi-sembunyi,<span>  </span>dan lantaran Kobayashi sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kalau dikatakan bahwa Tomoe Gakuen adalah “sekolah buangan”, mungkin Anda yang telah membaca <i>Laskar Pelangi</i> akan segera teringat pada perjuangan anak-anak miskin di Belitung untuk bersekolah, yang dikisahkan dengan sangat mengharukan dalam novel karya Andrea Hirata itu. Tapi ada perbedaannya yang sangat mencolok, dimana problem utama Totto-chan dan para murid Tomoe Gakuen bukanlah kemiskinan, melainkan penolakan oleh sistem pendidikan konvensional yang mencap mereka sebagai “anak bandel, tidak bisa diatur, menyimpang dan biang kerok di sekolah.” <span>       </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tapi sebenarnya, keistimewaan Tomoe Gakuen bukan sekadar lantaran sekolah itu bersedia menampung anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain, termasuk Totto-chan. Bukan pula karena ruang kelasnya yang lain dari pada yang lain, yaitu bekas gerbong kereta api, melainkan sistem pendidikannya yang berbasis kepribadian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">*<span>  </span>* *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">TOTTO-chan sebenarnya bukan anak yang nakal. Malah sebaliknya, dia anak kecil dengan perasaan yang sangat halus. Ketika anjing gembala Jerman yang sangat disayanginya, Rocky, menggigit telinganya sampai nyaris putus—saat mereka bermain”serigala” di kamarnya, yang dicemaskan Totto-chan bukan telinganya tapi kemungkinan Rocky diusir oleh Mama dan Papa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">"</span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Jangan marahi Rocky! Jangan marahi Rocky,”jerit Totto-chan sambil mendekap anjing kesayangannya itu, ketika Mama datang ke kamar karena terkejut mendengar jeritan anaknya.Roknya bersimbah darah dan telinganya yang menggantung terlihat sangat mengerikan. Rocky meringkuk di sudut kamar dengan ekor terkulai di sela kakinya, menatap sedih ke arah Totto-chan yang terus memeluknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Totto-chan memang sering melakukan perbuatan yang aneh, menjengkelkan dan mencemaskan bagi orang dewasa. Dia suka mengikuti imajinasinya dan bertindak impulsif karena dorongan keingintahuannya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Anak perempuan kecil itu pernah terkubur semalaman dalam adukan semen. Celana dalamnya selalu sobek setiap pulang sekolah—karena kesenangannya menyuruk di bawah kawat duri dengan gerakan maju-mundur. Dan dia pernah menguras seluruh isi septic tank (bak pembuangan WC) di sekolah, cuma untuk mencari dompet cantiknya yang terjatuh ke tempat gelap yang sangat jorok dan bau itu. (<b><i>Bersambung</i></b>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buku-Buku yang Kusukai]]></title>
<link>http://nuralifah.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 06:09:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>nuralifah</dc:creator>
<guid>http://nuralifah.id.wordpress.com/2008/02/24/buku-buku-yang-kusukai/</guid>
<description><![CDATA[
Tidak banyak buku yang benar-benar kusukai.
Beberapa di sini adalah yang menurutku bagus dan tentu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nuralifah.wordpress.com/files/2008/02/little_house_on_the_prairie.jpg" title="little_house_on_the_prairie.jpg"><img src="http://nuralifah.wordpress.com/files/2008/02/little_house_on_the_prairie.thumbnail.jpg" alt="little_house_on_the_prairie.jpg" /></a></p>
<p>Tidak banyak buku yang benar-benar kusukai.</p>
<p>Beberapa di sini adalah yang menurutku bagus dan tentu karena itu aku membungkusnya dengan rapi dan kusimpan dengan baik di almari: <i>Little Town on The Prairie</i> (sayangnya aku tidak punya <i>Little House</i>-nya) yang diberikan temanku ketika dia tiba dari Hongkong. Walaupun dia TKI, tapi dia <i>smart</i> banget. Dulu, waktu di SMU, hanya karena tidak percaya bisa kuliahlah yang menyebabkan dia tidak belajar dengan sungguh-sungguh--sesuatu yang disesalinya belakangan.  Lalu aku punya T<i>otto-Chan: Gadis Cilik di Jendela</i> yang menurutku bagus banget. Tetsuko Kuroyanagi seakan mewakiliku untuk menyuarakan betapa indahnya masa kecil dan betapa segala sesuatu meskipun sangat sederhana akan benar-benar diingat oleh anak-anak. <i>Kere</i>n! Lalu, ada buku-bukunya Andrea Hirata: <i>Laskar Pelangi, Sang Pemimpi</i>, dan <i>Edensor</i>. Meskipun kadang ada kata-kata yang menurutku agak kurang anak-anak(mungkin karena ini memang bukan buku untuk anak-anak ya?), <i>so far so good</i>. Kini aku sedang menunggu buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi tersebut: <i>Maryamah Karpov</i>.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totto-chan, beruntungnya kamu .. ]]></title>
<link>http://ennyrahmita.wordpress.com/2008/01/11/totto-chan-beruntungnya-kamu/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jan 2008 03:24:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>ennyrahmita</dc:creator>
<guid>http://ennyrahmita.id.wordpress.com/2008/01/11/totto-chan-beruntungnya-kamu/</guid>
<description><![CDATA[Ada yang sudah pernah baca novel Totto-chan - Gadis Cilik di Jendela belum? Saya baru selesai baca ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ennyrahmita.wordpress.com/files/2008/01/totto-chan.jpg" title="Totto-chan"></a><img src="http://ennyrahmita.wordpress.com/files/2008/01/totto-chan.thumbnail.jpg" alt="Totto-chan" />Ada yang sudah pernah baca novel Totto-chan - Gadis Cilik di Jendela belum? Saya baru selesai baca pengalaman masa kecil dari pengarangnya Tetsuko Kuroyanagi ini di masa sebelum PD-II, dan saya bisa ketawa dan nangis terharu dengan kepolosan dan ketulusan hatinya.</p>
<p>Totto-chan, panggilan sayangnya Tetsuko, adalah seorang anak kelas 1 SD yang 'terpaksa' dikeluarkan dari sekolahnya karena dianggap terlalu mengganggu ketenangan kelas dengan ide-2nya yang 'aneh', contohnya : Totto-chan kagum dan takjub sekali dengan mejanya yang bisa dibuka-tutup, jadi dia bolak-balik membuka-dan-menutup tutup mejanya itu berulang-ulang dengan bunyi yang keras sehingga menganggu ketenangan kelasnya, kemudina gurunya mencoba menerangkan kalau dia hanya boleh membuka-dan-menutup mejanya <em>kalau</em> ada benda yang mau dimasukan atau dikeluarkan ke dalam mejanya, <em>and guess what .. ? </em>Totto-chan mulai melanjutkan menulis di bukunya, tapiii baru selesai menulis satu huruf, dia membuka mejanya dan meletakkan buku, pensil dan penghapusnya, kemudian menutupnya lagi dengan gaya, setelah itu langsung membukanya lagi dan mengeluarkan isi mejanya tadi, kemudian dia menulis SATU HURUF lagi .. dan membuka lagi mejanya untuk menyimpan semua perlengkapannya tadi kemudian menutupnya .. dan membukanya lagi untuk mengambil semuanya .. begitu berulang-2 sampai gurunya senewen .. :D setelah bosan, dia beranjak ke arah jendela dan mulai menatap keluar kelas yang kebetulan tidak jauh dari jalan umum, gurunya berpikir "<em>selama dia tidak ribut dan mengganggu kelas, biar sajalah dia di jendela terus .. ",</em> tak lama kemudian terdengar Totto-chan berteriak memanggil pemusik jalanan yang lewat di dekat jendelanya dan menyuruh mereka bermain musik disitu! Akhirnya, terpaksa gurunya memanggil mamanya dan berkata bahwa mereka tidak sanggup mengajar Totto-chan disana .. Untungnya, mama Totto-chan adalah seorang mama yang berusaha mengerti anaknya, jadi dia tidak marah pada Totto-chan, dan tidak memberitahunya kalau dia sebenarnya <em>dikeluarkan</em> dari sekolah!</p>
<p>Akhirnya setelah mencari2, mama mengajak Totto-chan ke suatu sekolah yang ruangan kelasnya adalah gerbong-2 kereta .. wuuuiiihhh .. Totto-chan sampai takjub luar biasa, soalnya dia seneng banget naik kereta, jadi mambayangkan dia akan bersekolah di atas kereta itu benar2 hal yang menakjubkan buat dia, kemudian mereka menghadap pak Kobayashi, sang pendiri dan Kepala Sekolah itu untuk menanyakan apakah Totto-chan dapat diterima bersekolah disitu, tidak ada test atau pertanyaan-2 yang diajukan pada Totto-chan, dia hanya disuruh menceritakan <em>apa saja </em>yang dia suka dan dia mau ceritakan! Totto-chan heran tapi dengan semangat dia bercerita apa saja, <em>benar-benar apa saja</em>, sampai-2 dia kehabisan cerita! dan selama dia bercerita tidak tampak sedikitpun rasa bosan atau tidak tertarik dari Pak Kobayashi, dia mendengarkan dan mengomentari cerita Totto-chan dengan sangat perhatian .. Setelah kehabisan cerita, Pak Kepala Sekolah berkata 'sekarang saatnya makan siang' .. berarti Totto-chan sudah bercerita selama kira-2 4 jam!</p>
<p>Ada hal yang sangat menarik buat saya yaitu : Pak Kepala Sekolah selalu mengadakan ritual sebelum makan siang dengan mengecek apakah anak-2 membawa 'sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung', yang maksudnya anak-2 harus memakan makanan dari laut seperti ikan, udang,dll dan juga sesuatu dari gunung atau daratan, yaitu sayur, daging, buah, dll, dan kalau ada yang lupa membawa salah satunya, maka istrinya selalu siap disampingnya sambil membawa 2 buah wajan yang berisi masing-2 'sesuatu dari laut' dan 'sesuatu dari gunung' .. maka anak-2 selalu semangat untuk mengetahui apakah bekalnya sudah 'memenuhi' syarat itu dan penasaran pada bekal apa yaa yang dibawa temannya ?? Kemudian sambil mengecek, Pak Kobayashi juga menjelaskan tentang asal makanan-2 itu, apa bahan-2nya dan bagaimana cara pembuatannya ..  jadi anak-2pun belajar sambil makan ! wow .. benar-2 pendidik ulung!</p>
<p>Banyak sekali ajaran-2 Pak Kobayashi yang sangat sederhana dan mudah diaplikasikan oleh anak-2 muridnya, misalnya bagaimana menggali minat anak dalam belajar, sebelum mulai pelajaran maka guru akan menanyakan pelajaran apa yang mau dipelajari anak-2 lebih dulu, maka masing-2 anak menyebutkan keinginan masing-2, jadi di dalam kelas anak-2 mulai melakukan hal yang mereka sukai, ada yang menggambar, membuat prakarya, melakukan percobaan fisika, bermaik musik, dll, tapi anehnya tidak ada satupun yang merasa terganggu oleh aktivitas anak lainnya, jadi selain belajar sesuai minat mereka juga belajar berkonsentrasi!</p>
<p>Hampir semua kegiatan yang dilakukan di Tomoe mengandung unsur pendidikan, ada Hari Olah Raga - lomba-2nya bukan merupakan permainan yang umum, dan dimenangkan secara mutlak oleh seorang anak yang menderita polio ! Koq bisa? ternyata semua permainnanya itu memang dirancang oleh Pak Kepala Sekolah untuk dapat dilakukan dengan mudah oleh si Takahashi itu, untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya ! Benar-2 brilian sekali Pak Kobayashi ini .. otaknya sangat kreatif untuk memikirkan metode pendidikan yang benar-2 bisa merangsang minat dan kemampuan anak ! Walaupun ada beberapa orang tua anak yang kurang setuju dengan caranya dan memindahkan anaknya - sementara anak-2 meronta-ronta dan menjerit-2 tidak mau dipindahkan dari Tomoe - tapi banyak juga orang tua yang senang dengan hasil pendidikan di Tomoe, salah satunya mama Totto-chan.</p>
<p>Pokoknya, di Tomoe semua anak merasa senang di sana bahkan rasanya tidak mau pulang, dan besok paginya rasanya ingin buru-2 ke sekolah lagi, kalau bisa tidak pernah libur ! Bayangkan .. dimana ada sekolah yang bisa memberikan begitu banyak energi positif dengan untuk murid-2nya  seperti di Tomoe itu yah?  </p>
<p>Semoga kelak saya bisa bikin sekolah seperti itu <em>dan tidak mahal</em> !! sehingga bisa membuat anak-2 bersekolah dan belajar dengan hati senang bukan kepalang ! Tidak ada lagi masalah bangun pagi, mogok sekolah, tidak berpotensi, dll. Amiin ..  </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Mimpi Saya Totto Chan Bertemu Bersihar Lubis]]></title>
<link>http://enopiipone.wordpress.com/2007/12/17/di-mimpi-saya-totto-chan-bertemu-bersihar-lubis/</link>
<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 12:08:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>enopiipone</dc:creator>
<guid>http://enopiipone.id.wordpress.com/2007/12/17/di-mimpi-saya-totto-chan-bertemu-bersihar-lubis/</guid>
<description><![CDATA[Minggu pagi yang cerah setelah semalaman hujan membuat saya tiba-tiba menjadi was-was dengan tumpuka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu pagi yang cerah setelah semalaman hujan membuat saya tiba-tiba menjadi was-was dengan tumpukan kerdus yang belum sempat saya bongkar sejak pindahan rumah 7 tahun yang lalu ! Awalnya memang cuma enam kerdus, tapi lama-lama nambah kerdus-kerdus bekas belanjaan, kain-kain yang nggak kepakai, keset, kaleng-kaleng cat, sama lainnya banyak deh ! Sebenarnya saya sudah lama pingin beresin, tapi kerap dikalahkan kegiatan lain . Minggu pagi kemarin, saya niatin untuk membereskan semuanya. Kalau ada yang masih bisa kepakai ya dipakai. Kalau masih sayang dibuang mau saya simpan dulu di gudang, kalau sudah rela dibuang ya dibuang. Begitu rencananya.</p>
<p>Di kerdus pertama saya ketemu brosur-brosur perjalanan jaman dulu kala. Nggak kepikiran untuk dibuang. Kerdus kedua saya ketemu majalah-majalah tahun 2000, Cosmo, Asri, Gatra, Matra, ehem… yang ada Inneke dengan pose yang kadang masih dibicarakan hingga kini. Di kerdus yang ketiga saya sedetik terpekik senang karena menemukan buku tercinta Totto-Chan Gadis Kecil di Jendela karangan Tetsuko Kuroyanagi. Tau Totto-Chan, kan ? Kalau nggak tau berarti ketinggalan jaman, ah. </p>
<p>Oke, saya nggak cerita tentang Totto-Chan karena sudah banyak yang mengulasnya. Tapi saya suka banget sama buku ini. Saya ketemu Totto-Chan di toko buku Scientific di Blok M secara ngga sengaja sekitar tahun 90-an. Tapi saya nggak langsung beli buku itu. Beli kan pake duit, waktu itu saya nggak ada duit. Kesian, ya. Setelah saya kerja satu tahun kemudian, baru saya beli. </p>
<p>Di antara buku-buku yang saya beli, Totto-Chan adalah buku favorit saya. Hari minggu ini, setelah bertahun-tahun, saya ketemu lagi sama buku ini. Oyah, tadi saya katakan sedetik saya terpekik senang. Tapi, detik berikutnya saya sebel seee sebel sebelnya, karena buku wajah Totto-Chan di sampul buku itu bopengan ! Dan ketika buku itu saya balik, ternyata bagian belakangnya sudah jadi santapan nikmat para rayap, bentuknya seperti sundel bolong ! Nggak cuma buku itu, sih yang kena. Ada beberapa buku dibolongi dengan sukses oleh para rayap. Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad malah lebih parah. Bolong seperti terowongan ! Saman-nya Ayu Utami selamat ! Huh .. kalau harus memilih antara Totto dan Saman, saya pilih Totto yang selamat.</p>
<p>Sayang sekali harus membuang buku-buku itu. Pertama, buku adalah harta saya yang tidak ternilai[ehem] , kedua kalau beli lagi pasti harganya sudah berlipat-lipat. Ketiga, saya nggak rela harus kehilangan buku-buku bagus itu. Keempat, apalagi kalau bukan Kerakyatan yang dipimpin oleh … halllaahh !</p>
<p>Saya pandangi buku Totto-Chan dan yang lain. Saya bersihkan tanah-tanah yang menempel. Saya foto pakai kamera handphone, setidaknya sebelum saya buang saya ada bukti otentik pernah memiliki buku-buku itu. Saya seakan sedang melakukan perpisahan yang mengharukan. Saya merasa sangat bersalah sudah membiarkan buku-buku itu sekian lama berteman dengan rayap.  Ada pikiran buat scan buku yang masih bisa diambil informasinya tapi tidak layak simpan karena sudah ada kandungan rayapnya. [Hendra, ini bukan jualan, ya. Eh tapi kalau ada yang mau ikutin jejak saya bisa ikutan nye-scan … uppppss .. out of topic !!]. </p>
<p>Cukup lama waktunya saya memandang, menyentuh, membersihkan buku-buku yang ternoda itu. Tapi masih sisa beberapa kerdus yang harus saya seleksi. Untungnya rayap hanya suka Totto-Chan, imut kali ya gambar Totto-nya. Dokumen-dokumen lain selamat !</p>
<p>Saya lalu mengkelompokkan kertas-kertas, majalah, buku cerita, buku teks, buku kuliah, foto kopian, brosur-brosur. Saya menguatkan hati untuk membuang. Hati saya terlalu melankolis untuk berpisah dengan barang-barang tersebut. Tidak bisa !!!! ….. Saya tidak bisa membuangnya !!! Huuu …. Huuu ….huuu ….. Sinetron banget ! Tapi memang tidak bisa ! Atau, belum bisa kali yee … </p>
<p>Saya lalu teringat aksi pembakaran 1340 buku sejarah di Bogor. Kok bisa yaaa  ?? Gara-gara nggak ngebahas PKI ? Oke kalo itu. Toh sejarah harus dibuat dengan sejelas-jelasnya. Tapi dibakar ? Aihh too much deeh …. Saya aja nggak tega buang satu buku ,itu juga gara-gara kena rayap, ini 1340 buku ??? Dibakar ??? Nggak salah kalau Bersihar Lubis bilang orang-orang yang bakar itu 'dungu'. </p>
<p>***</p>
<p>Totto-Chan yang riang gembira bisa-bisanya ketemu sama om Sihar. Mereka lalu ngobrol sambil memandangi tempat sampah di mana bukunya bersemayam bersama hasil kremasi 1340 buku sejarah.</p>
<p>Totto : Om, saya sedih nih. Saya ada di tong sampah sekarang gara-gara nggak diurusin sama yang beli buku saya.</p>
<p>Om Sihar : Bah, kurang ajar !! Tak bedalah kalian semua orang-orang dungu !!!</p>
<p>Hooopppsss …. Totto melonjak kaget. Nggak disangka ngomong sama orang Batak galak banget menurutnya. Dia kan orang Jepang yang penuh tata krama, sopan santun dan lemah lembut!  Untungnya Totto anak manis yang nggak cengeng. Nggak ngambek dibentak Batak. Nggak langsung ngadu ke Kaisar Hirohito. </p>
<p>Saya juga kaget. Saya pikir mimpi saya akan panjangan dikit, setidaknya ada alur ceritanya,ada apanya kek. Ada bunga-bunganya, kek. Ada acara makan dorayaki,kek.   Pemanasan lah. Kaget, kan kalau langsung dibilang dungu.  </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totochan (Tetsuko Kuroyanagi) ]]></title>
<link>http://readingclubsyc.wordpress.com/2007/12/09/totochan-tetsuko-kuroyanagi/</link>
<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 15:58:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>garfieldsim2</dc:creator>
<guid>http://readingclubsyc.id.wordpress.com/2007/12/09/totochan-tetsuko-kuroyanagi/</guid>
<description><![CDATA[
Totochan (Tetsuko Kuroyanagi) 
Every one of us has been a little girl and boy at some point in life]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><span style="color:#444444;"><img src="http://readingclubsyc.wordpress.com/files/2007/12/toto-chan.thumbnail.jpg" alt="toto-chan.jpg" /></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:#444444;"></span></font><font face="Times New Roman"><span style="color:#444444;"></p>
<p style="background:white;"><strong><u><span style="font-size:14pt;color:#444444;">Totochan </span></u></strong><strong><u><span style="font-size:14pt;color:#444444;font-family:Verdana;">(</span></u></strong><strong><u><span style="font-size:14pt;color:#444444;">Tetsuko Kuroyanagi) </span></u></strong><span style="font-size:14pt;color:#444444;font-family:Verdana;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#444444;">Every one of us has been a little girl and boy at some point in life. Do you remember whether you were naughty and had to be punished by your teacher? This is a story of a little girl and her name is Totochan. She was a little girl who had been expelled by her elementary school because she was different. She was different not because she had one more eye or she limped. She was different because she cannot understand why people do not get excited over seeing street musicians. Her mother had to send her to a special school where the classrooms were rail-road cars and the headmaster believed that children should be learning at their own pace. In Tomoe, as the school was called, Totochan was allowed to let her imagination run and lessons were always an “adventure” of knowledge.</span><span style="font-size:14pt;color:#444444;"> </span></p>
<p style="background:white;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;color:#444444;">Make yourself free this 14 December and give yourself another chance at being a little girl and boy again! </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;color:#444444;">Welcome to the ' Reading world ' on this coming Friday with our speaker Denise Wong Xuyan. </span></p>
<p></span></font></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
