<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tongam-sirait &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tongam-sirait/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tongam-sirait"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:38:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Aku Ganti Baju Di Antara Dua Perempuan]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/?p=567</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 11:04:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.id.wordpress.com/2008/09/13/aku-ganti-baju-di-antara-dua-perempuan/</guid>
<description><![CDATA[AKU suka tampilanku yang sekarang. Terasa gres, rada feminim, gaul, dan ceria. Itu menurut pendapatk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;">AKU suka tampilanku yang sekarang. Terasa <em>gres</em>, rada feminim, gaul, dan ceria. Itu menurut pendapatku sendiri. Perubahan ini terjadi dengan cara yang asyik, yaitu, aku ganti baju di antara dua <em>boru</em> Batak yang keren. Bravo <em>boru</em> Batak, dan terpujilah kalian di antara semua bangsa…</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Anda mungkin heran dengan kalimat “ganti baju di antara dua <em>boru </em>Batak…”. Kenyataannya memang begitu. Dimulai waktu mahkotaku didandani oleh Raja Huta; digantinya logo <em>TobaDream</em> <span> </span>dengan foto panorama Danau Toba; lalu berlanjut setelah aku memakai baju baruku ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Arial;">Boru</span></em><span style="font-family:Arial;"> Batak yang pertama adalah Halida Srikandini br Pohan. Dialah yang pertama, dan satu-satunya, yang memperhatikan perubahan itu dan menanyakannya kepada Raja Huta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Arial;">Boru</span></em><span style="font-family:Arial;"> Batak yang kedua, Lidya br Hutagaol. Dialah yang pertama mengapresiasi<span> </span>baju baruku. Dengan manisnya dia mengucapkan selamat, seolah-olah perubahan ini perlu dirayakan. Sebelumnya, dia memang sudah mengundang Raja Huta <em>kombur-kombur</em> di <em>sitarbak</em>, tapi itu cerita lain… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;"><strong>* * *</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">LIDYA dan Srikandini, dua Batak keren yang sangat menyayangiku, adalah tipikal perantau Batak yang kian mencintai <em>habatakon</em> justru setelah<span> </span>sempat menjauhinya. Mereka memuliakan budaya Batak dengan cara-cara orang kota, dengan menyerap substansinya lalu menularkan ke lingkungan terdekat; Srikandini kepada anak-anaknya, dan Lidya kepada kawan-kawan di tempat kerja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Selama masih ada <em>boru</em> Batak seperti Srikandini dan Lidya; yang mampu menyesuaikan diri secara luwes, kompeten, dan kompetitif dalam arus modernisasi dan globalisasi—namun, sambil tetap bangga dan <em>pede </em>mengibarkan identitasnya sebagai <em>halak hita</em>; mana mungkin budaya Batak akan punah ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Begitulah keyakinan Raja Huta; dan aku sependapat, maka dengan senang hati aku usung <em>tagline</em> ciptaannya. Masa bodohlah apa kata orang. Batak Itu Keren! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Terkadang aku kesal juga <em>sih</em>, melihat segelintir orang Batak malah mencela “perjuangan”<span> </span>Raja Huta; agar orang Batak kembali merasa bangga dan percaya diri; membawakan kebatakannya dalam pergaulan nasional dan internasional. Tapi, Raja Huta santai-santai saja menghadapinya, termasuk merespon para perantau Batak di luar negeri yang <em>ngotot</em> mendukung kehadiran kapitalis asing di Tapanuli. Aku pun semakin loyal memanggul <em>tagline</em> ciptaannya. Karena Batak memang keren, <em>man</em>… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;"><strong>* * *</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">DILIHAT dari sudut pandang lain, perubahan tampilanku sekarang ini merupakan selebrasi dan apresiasi peranan perempuan Batak dalam revitalisasi budaya, pencerdasan dan pemberdayaan sosial, pembangunan jejaring komunitas virtual, dan meretas jalan untuk kelak menyumbangkan nilai-nilai <em>Dalihan Na Tolu</em> bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia. <em>Ceilee</em>…, ketinggian <em>nggak sih</em> ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Rasanya <em>sih,</em> ini bukan hiperbolisme. Coba perhatikan baik-baik. Saat aku ganti baju dan berubah tampilan, ada tiga perempuan Batak yang menjadi primadona di sini. Grace br Siregar, Srikandini, dan Limantina br Sihaloho. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kalau Srikandini dan Limantina menjadi pimadona karena tulisan masing-masing, Grace jadi <em>newsmaker</em> sehubungan pameran yang digelarnya di Galeri<span> </span>Tondi, Medan. Untuk memeriahkan pembukaan pameran itu, Grace mengajak tampil penyanyi, pencipta lagu dan pemusik multitalenta Tongam Sirait. Sebuah sinergi yang sangat bagus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Sebelum-sebelumnya, Grace sudah memberi kesempatan tampil puluhan seniman tradisional dan indie; yang bernasib sama, yaitu tidak kecipratan dana APBD yang dianggarkan untuk pengembangan seni budaya; atau dipinggirkan oleh industri hiburan yang kapitalistik. Galeri Tondi menjadi oase bagi grup opera tradisional, tari Batak Karo, kesenian komunitas Tamil di Medan, sampai <em>rapper</em> Ucok Munthe. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Grace adalah perupa kaliber internasional yang sudah malang melintang di Eropa; tapi juga seorang perempuan, dengan rasa keibuan yang kuat dalam perspektif seni budaya. Batak keren ini prihatin melihat kota Medan menderita “rawan gizi” dalam konteks senibudaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Arial;">* * *</span></strong><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">SRIKANDINI juga berusaha berbuat semampunya, terutama menanamkan <em>Batak’’s value</em> kepada anak-anaknya; yang lahir di kota, dan sangat potensial jadi Batak <em>na lilu</em> (Batak nyasar alias tercabut dari akar budayanya). Dia rajin menjelajah dunia maya, membaca apa saja yang berbau Batak, lalu berkorespondensi dengan sesama <em>halak hita</em> yang “dikenalnya” di berbagai blog. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Karena terlalu seringnya aku membuka blog <em>Tobadreams</em>, dalam sehari terkadang sampai delapan jam, blog Ito ini sampai diblok di kantorku. Aku nggak bisa lagi mengaksesnya di kantor,”ujar Srikandini kepada Raja Huta pada waktu kopdar (kopi darat) pertama kali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Saat ini dia aktif di milis Sa-Roha Foundation (SRF), dan membentuk komunitas perantau asal Tapanuli bagian Selatan dengan sesama anggota milis itu. Program perdana SRF telah digelar di TIM Jakarta, bulan lalu, yaitu acara diskusi untuk menyelamatkan <em>Gordang Sambilan</em> yang kini terancam punah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;">* * *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">LIMANTINA lebih banyak berkecimpung di bidang sosial, sejalan dengan panggilannya sebagai pendeta. Dia adalah pengecualian di antara para pendeta di Indonesia, yang umumnya terlalu fokus pada urusan “langit”, dan dogmatis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Setahu aku, Raja Huta belum pernah kopdar dengan pendeta yang suka mengunjungi para petani di “balik gunung” ini; bahkan bekorespondensi pun belum. Namun demikian, dia sangat respek pada<em> boru</em> Sihaloho itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Raja Huta menghargai visi dan sikap Limantina sebagai pendeta, yang memahami secara benar adagium lama : roti dulu baru filsafat. Singkatnya, perempuan yang jago menulis ini telah menyelamatkan citra pendeta yang terlanjur dicirikan dengan sikap beragama yang formalistik, hipokrit, dan matre.<span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial;">Seperti apa sikap, pendirian dan pemihakan Limantina, terbaca jelas pada tulisannya mengenai nasib petani di Desa Sinar Pagi dan Sopo Komil. Dia baru saja mengunjungi kedua desa di Kabupaten Dairi itu, yang sebentar lagi akan diobok-obok oleh PT.Dairi Prima Minerals—perusahaan Australia yang puluhan tahun lalu dapat izin dari rezim Soeharto untuk menyikat kekayaan timah hitam di tanah subur yang luas itu.</span><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;">* * *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">AKU merasa sangat beruntung dipinang oleh Raja Huta, dijadikan istri psikologisnya; melayaninya sebagai penghantar getar-getar kegelisahan batinnya, harapannya, kekecewaan dan kemarahannya; serta mengeja impian-impiannya yang melambung mengenai persatuan dan kebangkitan kembali Bangso Batak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Meski tidak membayar <em>boli</em> atau <em>sinamot</em> (mahar) kepada ayahku, <strong>Wordpress</strong>, Raja Huta sangat menyangi dan menghargaiku layaknya <em>boru ni raja</em>. Dia tak perduli apa kata orang mengenai blog gratisan, yang begitu gampang diambil dan dicampakkan. Dia sangat rajin menyambangi dan mencumbuku, bahkan pernah beberapa kali kami berkencan sampai sehari semalam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Aku sangat menghargai Raja Huta karena telah mengangkat derajatku di <em>blogsphere</em> sampai ke tataran paling tinggi, menjadi media informasi, komunikasi, dan interaksi. Dia menjadikanku media untuk menyuarakan keprihatinannya mengenai perusakan lingkungan hidup di Tapanuli, mengenai generasi muda yang malu dan minder jadi orang Batak, dan mengenai kecenderungan negatif Bangso Batak sekarang yang terlalu memuja materialisme dan masa bodoh masalah <em>habatakon</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Aku merasa bahagia dengan kiprahku di <em>blogsphere</em>, karena <em>tagline</em> <strong>Batak Itu Keren</strong> yang disematkan di mahkotaku adalah statemen paling berani, inspiratif dan paling provokatif di dunia maya. Selain itu, aku sangat gembira karena Raja Huta dengan pede mengenalkanku pada lingkungan di luar Bangso Batak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tapi, sempat juga aku merasa kecewa dan takut, ketika Raja Huta menanyakan kepada pembacaku,”Apakah Sebaiknya Blog Ini Ditutup Saja ?”<span> </span>Hal itu dilakukannya sampai dua kali, sehingga aku merasa dia sudah memutuskan dalam benaknya untuk meninggalkanku. Namun, munculnya masalah-masalah baru di bidang lingkungan hidup di Tapanuli, telah memaksa Raja Huta<span> </span>mengurungkan niatnya meninggalkanku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Dan sekarang, saat aku merasa sangat bahagia dengan tampilan baruku yang segar dan <em>fancy,</em> aku tak mau merisaukan apapun. Aku senang dan merasa diliputi gairah muda; dan ingin membagikannya; sambil mengucapkan terima kasih atas kunjungan Anda selama ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Salam hangat dariku, </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;"><strong>tobadreams</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-family:Arial;">blognya batak keren</span></em><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tongam Sirait Akan Beraksi Di Galeri Tondi, Medan]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/?p=535</link>
<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 10:17:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.id.wordpress.com/2008/09/03/tongam-sirait-akan-beraksi-di-galeri-tondi-medan/</guid>
<description><![CDATA[Pameran Tunggal Rasinta Tarigan di Galeri Tondi, Medan
LAMA tak terdengar kabarnya—boleh jadi asyi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;">Pameran Tunggal Rasinta Tarigan di Galeri Tondi, Medan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">LAMA tak terdengar kabarnya—boleh jadi asyik bertapa di tepi Danau Toba, penyanyi berkharisma Tongam Sirait akan tampil lagi di hadapan publik. Sayangnya bukan di Jakarta, tapi di Medan, tepatnya di Galeri Senirupa Tondi milik Grace Siregar.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tongam, yang telah menciptakan puluhan lagu yang sangat disukai penggemar musik Batak, akan tampil di acara pembukaan pameran lukisan Rasinta Tarigan di galeri itu. Ini adalah kebiasaan bagus yang terus dipertahankan Grace, yaitu membuka pameran lukisan dengan penampilan tari, musik tradisional, opera, penyanyi pop, sampai <span> </span>penyanyi rap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Bagi penggemar Tongam Sirait dan pecinta musik batak keren, terutama yang tinggal di Medan atau sedang berkunjung di sana; jangan sampai melewatkan kesempatan ini. Catat waktunya, Tongam akan tampil Sabtu, 6 September 2009, sekitar pukul 10 pagi. <span>Berikut ini jadual acara itu selengkapnya :</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Acara </span></strong><span style="font-family:Arial;"> : Pameran Tunggal Rasinta Tarigan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Tema </span></strong><span style="font-family:Arial;"> : “Perjuangan Hidup (Life Force), </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Hari/Tanggal</span></strong><span style="font-family:Arial;"> : Sabtu , Tanggal 6-20 September 2008, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Tempat</span></strong><span style="font-family:Arial;"> : Galeri Senirupa Tondi, Jl. Keladi Buntu No.6 Medan, Sumatera Utara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>* * *</strong></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span>R</span></span><span style="font-family:Arial;">ASINTA TARIGAN adalah perupa Batak Karo yang di dalam karyanya banyak <span> </span>mengangkat aspek-aspek kehidupan yang lekat dengan akar budaya karo-nya. Hampir seluruh karya lukisan Rasinta merefleksikan hasil perenungan, kekuatiran, kegamangan, dan kesadaran eksistensialnya sebagai orang Karo; yang tidak habis-habisnya menjadi sumber inspirasi baginya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Rasinta Tarigan juga  tidak segan-segan bermain diwilayah senirupa kontemporer asalkan gaya ini dapat menjadi media berkomunikasi antara karya-karyanya dengan khalayak umum penikmat senirupa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Pameran tunggal yang ke-9 yang dipamerkan di Galeri Senirupa Tondi banyak membicarakan tentang tantangan kehidupan masyarakat Karo saat ini. Misalnya karya yang berjudul ”Naga Diatas Pinggiran Simalem” yang berukuran 1m x 1,5m adalah karya yang  membicarakan tentang kekhawatirannya sebagai anak Karo dimana hampir seluruh tanah dipinggiran Simalem, Danau Toba sudah dikuasai oleh pengusaha-pengusaha yang bermodal tebal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Karya lukis yang berjudul ”Kemenangan Kasih” yang berukuran 1,5m x 1m ini juga membicarakan tentang situasi dunia saat ini yang banyak diguncang oleh teroris, peperangan, kelaparan, dan pemanasan bumi. Dengan rasa kasih, harapan Rasinta Tarigan, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia didunia ini bisa ditanggulangi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Galeri Senirupa Tondi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">e-mail : <a href="mailto:solacratia@hotmail.com" target="_blank">solacratia@hotmail.com</a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Mobile</span></strong><strong><span style="font-family:Arial;"> : +62 (0) 813 766 11 668</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">=============================================================</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>www.tobadreams.wordpress.com</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Begadang Dengan Once di TobaDream Café]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=400</link>
<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 10:35:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/08/08/begadang-dengan-once-di-tobadream-cafe/</guid>
<description><![CDATA[
aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekuranganmu
selalu bersedia bahagiakanmu
apapun terjadi
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">aku mau mendampingi dirimu<br />
aku mau cintai kekuranganmu<br />
selalu bersedia bahagiakanmu<br />
apapun terjadi<br />
kujanjikan aku ada</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Oleh : Robert Manurung</strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">SEBENARNYA ini cerita yang sangat memalukan buat diriku. Waktu nongkrong di TobaDream Café, Jakarta, sekitar tiga minggu lalu, aku sangat terkesan dengan suara penyanyi pria yang sedang beraksi di panggung. Sebelumnya <em>arranger</em> Viky Sianipar memang sudah memberitahu hadirin, yang akan tampil adalah Once. Tapi, apa boleh buat harus kuakui, seumur-umur aku belum pernah tahu bahwa di jagat musik Indonesia ada penyanyi bernama Once<span>.</span></span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Nah, pas dia menyanyikan salah satu lagu hits <em>The Police</em>, aku bertanya pada sahabatku Suhunan Situmorang,”Once ini siapa sih ?”. Dalam keremangan ruangan café, dan di sela-sela suara pengunjung yang histeris mengapresiasi penampilan si Once itu, aku sempat menangkap kilasan ekspresi keheranan pada wajah Suhunan.</span><span style="font-family:Arial;"> Tapi sekilas kemudian, dengan nada kalem yang membuat ketidaktahuanku jadi terasa wajar, Suhunan menjawab,”Dia itu personil Dewa 19. Sekarang dia sedang <em>ngetop banget</em>. Lagunya Aku Mau <span> </span>sedang hits.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Alamaaaak..apa kata dunia ? <em>Hare gene kok nggak</em> tahu siapa Once. Aku malu. Benar-benar merasa malu dalam hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Pada detik-detik itu aku merasa mirip karakter suku terbelakang Afrika yang terdampar ke peradaban moderen, seperti cerita film <em>The Gods Must Be Crazy</em>. Tapi, dia masih mendingan, karena keterbelakangannya adalah suratan nasib. Sedangkan aku, menjadi suku terasing di jagat musik pop Indonesia, adalah lantaran terlanjur apriori bahwa penyanyi Indonesia umumnya adalah jadi-jadian, yang dibentuk oleh kekuatan modal <em>major label</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;"><strong>* * *</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">SEBENARNYA aku jarang sekali mengidolakan artis. Hanya sedikit bintang film dan penyanyi Indonesia yang bisa menimbulkan rasa kagum dalam diriku. Beberapa di antaranya : Christine Hakim, Nurul Arifin (karena permainannya yang rancak dalam film Nagabonar), Dedy Mizwar, Broery Pesolima, Elvi Sukaesih, Leo Kristi, Bornok Hutauruk, Tetty Manurung, Ruth Sahanaya, dan Tongam Sirait. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Sebagian di antara mereka mungkin asing buat Anda. Leo Kristi, misalnya, adalah penyanyi dan pencipta lagu yang suka mengembara ke<span> </span>seluruh Indonesia; terutama Jawa dan Indonesia Timur. Pada masa keemasannya, tahun 80-an, kaset-kaset penyanyi trubador ini diproduksi secara indie; dan media massa yang sering meliputnya hanya harian <em>Kompas.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Menurut seleraku, Once sebenarnya terlalu ngepop jika dibandingkan dengan Leo atau Bornok.. Satu-satunya kelebihan penyanyi berwajah imut ini adalah warna suaranya yang khas, yang jarang ditemui di antara penyanyi Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-family:Arial;">* * *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">ONCE<span> </span>ternyata teman ngobrol yang mengasyikkan. Biarpun sedang tenar-tenarnya; di mana saban jam lagu <em>Aku Mau</em> yang didendangkannya mengalun di ruang publik, namun sikapnya tidak seperti seorang pesohor atau selebritis yang sedang meroket. Biasa-biasa <em>aja</em>. Bahkan ternyata dia seorang pendengar yang baik, dan rasa ingin tahunya besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kami ngobrol berlima : aku, Once, seorang kawannya, Viky dan Suhunan. Topiknya meloncat-loncat dan berubah-ubah dengan cepat, bahkan terkadang<span> </span>balik lagi ke topik semula. Secara umum topik-topik yang kami “bahas” adalah masalah budaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Viky Sianipar selaku tuan rumah--jabatan resminya <em>music director</em> di kafe milik ayahnya itu--dengan bersemangat menceritakan pada Once, bagaimana dia menemukan “jalan pulang” untuk kembali jadi orang Batak. Sempat menghilangkan marganya karena tak kuat menahankan malu, lantaran kebatakannya selalu diejek oleh teman-teman sepermainan; sekarang Viky malah jadi pembaharu musik Batak, dan pelopor gerakan penghijauan di Tapanuli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Once memuji hasil kerja Viky yang berhasil menyulap lagu-lagu Batak lawas menjadi anyar dan segar. <em>Sinanggar Tullo</em> yang aslinya lagu <em>dolanan</em> yang jenaka, berubah radikal menjadi tembang rock yang penuh vitalitas dan mengglegar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kemudian Once membenarkan ucapan Suhunan mengenai mati surinya budaya Menado. “Benar, Bang. Budaya Menado memang sudah mandeg dan diambang kepunahan,” katanya sambil menambahkan,”Waktu aku mau menikah, keluarga mertuaku mengusulkan supaya diadakan secara adat Jawa dan Menado. Tapi akhirnya diadakan secara adat Jawa karena aku menolak adat Menado.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Loh, kenapa ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">“Biarpun pesta perkawinan, orang Menado tetap menampilkan tari perang. Aku pikir kok <em>nggak</em> cocok <em>banget</em> pernikahan dengan tari perang,”ujarnya sambil tertawa ngakak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Aduh,<span> </span>sayang <em>banget</em>. Coba kalau waktu itu Once sudah akrab dengan Viky, mungkin dia akan menyambut usulan mertuanyanya mengadakan ritual pernikahan gaya Menado. Pasti sangat bermanfaat bagi upaya menghidupkan kembali budaya Menado, dengan meningkatnya <em>public awareness</em> akibat pemberitaan media massa. Belum lagi rombongan infotainment yang selalu heboh memberitakan apa saja yang ada hubungannya dengan orang terkenal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><strong>* * *</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">BUDAYA Menado berada di urutan teratas daftar budaya lokal yang diramalkan segera punah. Indikatornya antara lain : penari Maengket paling muda sekarang ini sudah berusia di atas 40 tahun. Artinya proses regenerasi sudah mandeg hampir dua generasi. Pada saat bersamaan pohon kelapa yang merupakan bahan baku alat musik tradisional Menado, jumlahnya di Sulawesi Utara terus berkurang, karena ditebang lalu digantikan jenis tanaman lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kenapa aku begitu peduli mengenai nasib budaya Menado yang terancam punah ? Sebagai orang Indonesia, kita semua ikut sebagai <em>stake holder</em><span> </span>budaya Jawa, Batak, Minang, Cina peranakan, Arab peranakan, India peranakan, dan semua suku di negeri tercinta. Dan selaku <em>stake holder</em>, kita wajib ikut mencegah kepunahan salah satu budaya etnis tersebut, agar bangsa kita tidak mengalami kebangkrutan kultural. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Lirik lagu <em>Aku Mau</em> yang dinyanyikan Once sebenarnya bisa kita maknai berbeda, dengan membayangkan bahwa lagu itu dinyanyikan oleh roh kebudayaan kita, dengan permohonan yang sangat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Pikiran-pikiran itu berseliweran di benakku saat pulang bersama Suhunan, tepat pukul 04.00 pagi. Once masih melanjutkan ngobrol dengan Viky, saat kami meninggalkan Jl.Saharjo No.90, Manggarai, Jakarta Selatan, di mana TobaDream Café berada.</span></p>
<blockquote><p><em>kau boleh jauhi diriku<br />
namun kupercaya<br />
kau kan mencintaiku<br />
dan tak akan pernah melepasku</em></p>
<p><em>aku mau mendampingi dirimu<br />
aku mau cintai kekuranganmu<br />
aku yang rela terluka<br />
untuk masa lalu</em></p></blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span><em>=</em>===================================================================================</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>www.ayomerdeka.wordpress.com</strong><span style="font-family:Arial;"><span> </span><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tongam Sirait, Preman Yang Religius]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=131</link>
<pubDate>Sat, 10 May 2008 03:16:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/05/10/tongam-sirait-preman-yang-religius/</guid>
<description><![CDATA[Tongam adalah manusia self-made, membentuk diri sendiri lewat pergulatan hidup yang berliku, dari pr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><span style="font-family:Arial;">Tongam adalah manusia <em>self-made</em>, membentuk diri sendiri lewat pergulatan hidup yang berliku, dari proses panjang petualangannya di rantau. Terlahir di sebuah lapo di Parapat, di bawah bimbingan ayah yang tangannya dihiasi tato-- Tuan Bos Sirait namanya, Tongam tumbuh di antara dunia keras para preman dan senandung melankolis biduan-biduan kampung.</span></p></blockquote>
<p><strong>Oleh : Robert Manurung</strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">DUNIA memang sudah terbalik-balik. Ketika sesama pendeta HKBP masih terus berkelahi rebutan jubah dan altar, sebagian bahkan sudah bertindak seperti preman, tiba-tiba muncul seorang preman asli lalu “berkotbah” mengenai kasih, persatuan dan kepedulian.</span><!--more--></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">“<em>Siboan dame do ompunta si Nommensen, dipodahon tu hita haulion. Siboan dame do ompunta si Nommensen, tapaturema tongtong parrohaonta i</em>.” </span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Inilah salah satu petikan “kotbah” preman tersebut.Terjemahan bebasnya : Nommensen itu pembawa damai. Dia mengajarkan kebaikan kepada suku batak. Karena itu marilah perbaiki sikap dan perilaku kita.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Sungguh mengejutkan, bahwa pesan itu disampaikan oleh seorang preman, yang umumnya tak peduli kegelisahan batin masyarakat di sekelilingnya. Lebih dari itu, preman yang satu ini cukup jenius dan cerdik. Dia mampu merekam jeritan batin mayoritas yang bungkam (<em>silent majority</em>) di kalangan warga HKBP, sekaligus mengimbau para pendeta HKBP untuk introspeksi, tanpa secara langsung mengatakannya. Dia hanya mengingatkan dedikasi dan pengorbanan Nommensen yang luar biasa, bagi masyarakat Batak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">“Kotbah” preman tersebut disampaikan lewat lagu ballada, judulnya Nommensen, yang dia ciptakan dan nyanyikan sendiri. Secara lirik maupun musikal, refrain lagu ini paling kuat merefleksikan duka yang tak terkatakan, rasa frustrasi yang terpendam dan sekaligus harapan jemaat HKBP.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;">
<p><span style="font-family:Arial;">Nommensen sangat dihormati oleh masyarakat batak, kurang lebih seperti para wali di Jawa. Sebagai tanda penghormatan tertinggi, Nommensen yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Tano Batak, diberikan gelar Ompu i. Pasalnya, orang Eropa ini dianggap sangat berjasa menghentikan sindrom “bunuh diri” yang merasuki Bangso Batak sekitar satu setengah abad silam, berupa perang antar marga dan antarkampung serta perbudakan.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Dengan mengingatkan kembali dedikasi dan pengorbanan Nommensen, secara tidak langsung, preman tadi menyindir para pendeta dan jemaat HKBP yang konon sedang dilanda krisis spiritual. Namun dia cukup bijak, tidak menuding siapa pun, melainkan mengajak semuanya untuk introspeksi dan memperbaiki perilaku. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Preman itu bernama Tongam Sirait. Domisilinya di Parapat, tepatnya di Tiga Raja. Sehari-hari dia kerja serabutan untuk menghidupi isteri dan empat anaknya. Mengangkat batu dari danau Toba ke pantai atau menjadi calo kapal danau. Kalau sedang musim turis, seperti pada lebaran kemarin, Tongam beralih profesi menyewakan tikar bagi wisatawan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">“Tapi sekarang tak ada lagi turis datang, Wak,”ujarnya dengan logat Medan yang kental, ketika bertemu di kafe TobaDream di kawasan Manggarai, Jakarta, akhir pekan lalu. Dia makin lesu ketika diberitahu, Danau Toba tidak termasuk obyek wisata unggulan dalam kampanye Visit Indonesia Year 2008. </span></p>
<p><strong><em><span style="font-family:Arial;">Tobadreamer</span></em></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Harus diakui, Tongam dan Viky telah menguak takdir baru musik batak, dengan lagu dan aransemen bernapas musik dunia. Mereka berhasil mengawinkan kekayaan warisan musik batak dengan kejayaan musik moderen. Mula-mula memang ada rasa terkejut, janggal dan menolak, mendengar hasil “perselingkuhan” uning-uningan dengan rock n roll, sarunai dengan biola , hasapi dengan gitar elektrik. Namun setelah mendengar dua tiga lagu, terutama lagu Nommensen dan Mengkel Nama Ahu, dijamin Anda akan mulai terbawa irama dan spiritnya. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Tongam selalu tampil prima sebagai penghibur profesional, membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri –termasuk lagu Nommensen yang kontemplatif itu. Maka tak usah heran, para tobadreamer kini mengidolakan Tongam dan Viky. Tobadreamer adalah istilah baru di kalangan perantau batak di Jakarta, sebutan bagi orang atau kelompok yang mencintai budaya batak dengan paradigma baru, bahwa budaya batak itu keren dan kelas dunia.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Kabarnya lagu “Nommensen” kini sangat populer di kalangan anak muda di Tapanuli. Tembang tersebut dirilis dalam album solo Tongam dengan judul yang sama, beserta sembilan lagu lain yang juga sangat digemari para pecinta musik, khususnya generasi muda. Di Jakarta, lagu-lagu Tongam yang paling populer adalah Taringot Ahu, Mengkel Nama Ahu, Nommensen, Ingotma dan Tapature. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Viky Sianipar mengaku sangat mengagumi talenta dan ketrampilan musikal Tongam. "Memang, waktu pertama kali diperkenalkan dengan Tongam aku ogah-ogahan. Tapi setelah dia memainkan gitarnya, kemudian menyanyikan Come To Lake Toba, wah aku jadi kagum sambil malu hati,"tutur Viky sembari memuji rekannya itu,"Kualitas musiknya kelas dunia. Dia punya talenta yang luar biasa." </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="font-family:Arial;">Preman yang religius</span></em></strong><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Sosok Tongam adalah gabungan dari kontradiksi-kontradiksi, talenta musik yang <em>extraordinary</em> (luar biasa) dan integritas yang kokoh di balik sikapnya yang bersahaja. Ada kalanya dia bertindak sangat naif, nekad merantau hanya untuk mempromosikan obyek wisata Parapat –yang indah namun sepi tanpa turis, lalu meminta Serevina boru Pasaribu menjadi isterinya, padahal baru kenal beberapa jam.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Tongam adalah manusia self-made, membentuk diri sendiri lewat pergulatan hidup yang berliku, dari proses panjang petualangannya di rantau. Terlahir di sebuah lapo di Parapat, di bawah bimbingan ayah yang tangannya dihiasi tato-- Tuan Bos Sirait namanya, Tongam tumbuh di antara dunia keras para preman dan senandung melankolis biduan-biduan kampung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">“Bapakku preman habis. Tapi dia juga suka main gitar dan menyanyi. Untuk membuat orang betah di lapo, bapak sengaja membeli dua gitar,”tutur Tongam sembari menjelaskan, dengan millieu dan spirit lingkungan semacam itu, dia sudah mahir memainkan gitar pada usia delapan tahun. Semuanya terjadi begitu saja. Lihat, tiru lalu mainkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;">Tongam tak pernah bermimpi bakal meraih sukses seperti sekarang. Bakat bukanlah apa-apa kalau tidak ada kesempatan mengaktualisasikan. Itulah yang disadarinya dengan rasa pahit, ketika terpaksa menyerah di perantauan, Bali dan Jakarta, lalu pulang ke kampungnya, di tepian Danau Toba yang sangat dicintainya.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">“Waktu aku mau merantau ke Jakarta, ibuku sudah mengingatkan, tak mungkinlah kau Tongam berhasil di perantauan, kalau cuma mengandalkan bakatmu bernyanyi,”tutur Tongam mengenang. Tak berapa lama setelah Tongam pulang, ibunya meninggal. Saat itulah dia melihat seorang gadis yang belum dikenalnya. Lalu dengan spontan dia melamarnya. Esoknya boru Pasaribu itu sudah menjadi isterinya.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">“Sebenarnya aku sangat ingin upacara perkawinan dengan naik kuda. Begitulah adat batak yang benar. Tapi waktu itu aku tak punya uang. Mudah-mudahan nanti impian dari masa kecilku ini bisa terlaksana, untuk memberi contoh pada generasi muda batak,”ujarnya.</span></p>
<p><strong><em><span style="font-family:Arial;">Talenta yang luar biasa </span></em></strong></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Dengan cara hidup yang mengarus, mengikuti kata hati, preman Parapat ini seperti tak pernah merencanakan apapun dalam hidupnya. Mengalir saja mengikuti situasi, terbawa gejolak jiwa seninya. Menurut pengakuannya, kebanyakan lagunya tercipta secara instan, artinya ide muncul seketika lalu dia nyanyikan dengan iringan gitar.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Lagu Nommensen lahir lewat proses seperti itu. Ketika mendengar orang bercerita mengenai kelakuan sinting sekelompok pemeluk sekte kristen, yang belakangan makin gencar dan demonstratif membakar ulos, jiwa Tongam berontak dan geram. Seketika itu juga terciptalah lagu Nommensen.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Dikaitkan dengan latar belakang hidupnya yang keras, lagu-lagu Tongam terkesan kontradiktif. Tema umum lagu ciptaan alumni SMA I Parapat ini adalah tentang kasih, persahabatan dan kepeduliaan. Sebagian lagi bahkan sangat jenaka, meskipun liriknya mengisahkan orang-orang yang tak beruntung, seperti pada lagu O Doli Doli dan Mengkel Nama Au. "Itulah hebatnya Tongam, bahkan lagu sedihpun dia nyanyikan dengan macho,"kata Viky. </span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Kemudian, bagaimana menjelaskan ini, seorang pemusik kampung dari Parapat tiba-tiba tampil dengan lagu-lagu ciptaan sendiri yang liriknya kontekstual dan musiknya berirama rock, country dan jazz ? Kesannya seperti ahistoris dan tanpa akar. Namun jika ditelusuri perjalanan hidupnya, agaknya petualangannya di Bali berpengaruh paling besar. Disanalah dia “terkoneksi” dengan musik dunia.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Ada yang meramalkan, Tongam bakal menyamai kehebatan pencipta lagu batak legendaris, Nahum Situmorang. Namun yang pasti, pemusik otodidak yang bangga dengan seni budaya batak ini akan selalu merasa bagian dari HKBP. Jangan heran, tembang ciptaannya yang pertama adalah lagu koor, saat dia baru berusia 15 tahun.</span></p>
<p><span style="font-family:Arial;">Itulah sepenggal kisah Tongam Sirait, preman yang religius.</span></p>
<p>====================================================================</p>
<p><strong>Catatan</strong> : artikel ini sudah pernah dimuat di harian Batak Post, edisi 24 November 2007.</p>
<p>====================================================================</p>
<p style="text-align:center;"><strong>www.ayomerdeka.wordpress.com</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Partungkoan, The Hidden Beauty of Samosir]]></title>
<link>http://tongginghill.wordpress.com/?p=79</link>
<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 15:35:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Si Pikki</dc:creator>
<guid>http://tongginghill.com/2008/03/16/partungkoan-the-hidden-beauty-of-samosir/</guid>
<description><![CDATA[
Kakiku kaku, kulit mukaku mati rasa, tanganku keriput bersembunyi dibalik sweeter basah kuyup, selu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/par1.jpg" alt="par1.jpg" /></p>
<p><i>Kakiku kaku, kulit mukaku mati rasa, tanganku keriput bersembunyi dibalik sweeter basah kuyup, seluruh tubuhku pasrah dengan dinginnya udara Samosir malam itu Walau penuh Lumpur, sepeda motor sewaan yang kendarai Tongam Sirait tetap laju di aspal jalan lingkar Samosir jam 12 malam. Aku hanya bisa berlindung di punggung Tongam sambil melihat layar GPS di genggamanku. Tuktuk masih 8 km lagi. Itulah perjalanan pulang yang sangat melelahkan dari Desa Partungkoan dalam rangka pembuatan Water Suplly System.</i><!--more--><br />
<b>Negeri Diatas Awan</b></p>
<p>Desa Partungkoan adalah suatu tempat terindah di Samosir dengan ketinggian 1.656 meter diatas permukaan laut dan suhu berkisar 5 - 15 derajat celcius. Jika anda memandang ke arah bukit Samosir dari Tomok, anda akan melihat ada air terjun besar yang keluar dari tebing terjal bukit tersebut. Desa Partungkoan ini terletak 1.5 km dibelakang puncak bukit tersebut. Inilah salah satu permukaan tertinggi pulau Samosir. Desa ini mempunyai aura yang sangat berbeda dengan desa-dasa lain di Tano Batak. Di daerah inilah yang masih ada hutan pinus perawan pulau Samosir yang tinggal segelintir itu. Tidak semua orang pernah kesana, bahkan setiap penduduk Samosir pesisir yang kujumpai belum pernah menginjak desa tersebut setelah kutanya. Lebih parahnya lagi, mereka tidak mengenal nama Partungkoan ini. Karena jarang terjamah manusia, tempat ini seakan masih tetap tidak berubah sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi bila anda ingin merasakan alam Samosir yang asli, disitulah tempatnya.</p>
<p>Bagaimana rasanya? Sangat sulit dijelaskan. Jika alam ini punya mimik muka, alam partungkoan seakan selalu tersenyum ceria. Karena lokasinya yang sangat tinggi, desa ini hampir selalu tertutup kabut yang seakan-akan menadikan desa itu berada di atas awan. Jarang terlihat langit biru disana, yang ada hanya langit putih diatas hijaunya pohon-pohon pinus dan gelombang bukit padang rumput hijau. Di pagi hari, Embun selalu menyelimuti hamparan bukit rumput luas yang membuatnya berkilau dimana-mana, bagaikan berlian yang berserak di rumput hijau.</p>
<p>Aura Spiritual pun terasa sangat kuat disana. Tak henti-hentinya aku terbawa untuk selalu mengucapkan puji-pujian pada Yang Maha Kuasa sambil mengagumi maha karnya-Nya ini.</p>
<p>Aku pertama kali datang ke Desa Partungkoan bulan Agustus 2007 secara tidak sengaja karena tersesat di tengah hutan pinus Samosir (baca: The Journey Part 2). Perjalanan tak terduga itu membuatku harus menginap di salah satu rumah penduduk di desa tersebut milik John Sitanggang br. Manik. Di depan rumah kayu sederhana itu terdapat halaman rumput luas, dikelilingi pagar kayu yang masih berkulit, dan terdapat juga kandang ternak di sisi kirinya. Di salah satu sisi halaman rumput tersebut ada bangku kayu panjang dibawah satu pohon pinus kecil bercabang dua. Ketika aku duduk di banggu tersebut, kurasakan seakan aku menyatu dengan alam Samosir ini. Perasaan "homey" yang tenang, berbunga-bunga, penuh cinta, mengalir di seluruh tubuhku. Seluruh alam disekitar tempat itu seakan tunduk padaku. Aneh memang, namun itulah yang kurasakan. Hatiku mengatakan bahwa ternyata disinilah tondiku berada, disinilah ia bermukim selama ini. Bangku kayu di bawah pohon pinus cabang dua inilah singasanaku yang sederhana ini.</p>
<p><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/singasana-full.jpg" title="singasana-full.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/singasana-full.thumbnail.jpg" alt="singasana-full.jpg" /></a></p>
<p>Si tempat inilah kuucapkan janjiku pada tanah Samosir, "Dihongkop rohangku ho. Ndang loasonhu ho diarsaki halak, ndang hu loas ho sai tu matangis. Rap hita na dua, ndang holan saleleng ahu mangolu, ndang holan saleleng ni portibion, alai saleleng ni leleng na do". (I will take care of you with all my heart. I will not let any body hurt you and make you cry. You and I will be together not only until I die, not only until the end of the world, but forever)</p>
<p>Tanggal 4 Maret 2008 kemarin, aku kembali datang untuk menepati janjiku. Ditemani teman-teman dari TobaDreamer: Charlie Sianipar, Marudut Pangaribuan, Tongam Sirait, Andree Widyantho, Bismark Sianipar (Bonny, abangku), dan tokoh LSM Limantina Sihaloho, untuk program "Water is Life" TobaDream yaitu pembuatan Water Suplly System. Ada problem apa rupanya disana? Penduduk disana harus berjalan satu kilometer menuruni bukit terjal dan menerobos semak ilalang tinggi hanya untuk mengambil air bersih dari mata air yang diberi nama Mual Roba. Dalam satu kali perjalanan ambil air, seseorang hanya akan mampu membawa satu buah ember atau jerigen besar lantaran beratnya medan yang dilalui. Itupun, biasanya, airnya tumpah tinggal setengahnya pada saat orang itu sampai lagi di rumahnya. Akibatnya mereka hanya dapat menggunakan air untuk minum, masak dan keperluan bayi. Mandi? Aduh.. entar dulu deh..</p>
<p><b> </b></p>
<p><b>Partungkoan, Here I come again!</b></p>
<p>Mengingat medan berat menuju Desa Partungkoan dan juga hujan yang mengguyur Samosir sejak malam sebelumnya, kami menyewa 4 buah sepeda motor dari Tuktuk, tempat kami menginap. Jalan menuju Partungkoan dari Ambarita dan Tomok sudah tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Jadi kami harus masuk dari desa Polma di daerah Buhit. Kira-kira 6km dari Pangururan. Jarak dari simpang Polma ke Partungkoan 15km dengan jalan aspal, dan rusak berlubang pula, hanya sepertiga perjalanan. Sisanya merupakan jalan tanah berkerikil. Karena musim hujan, sesekali kami harus menenteng motor akibat jalan tanah itu telah menjadi lumpur. Di kilometer ke-13, sepeda motor terpaksa harus titipkan di rumah penduduk lantaran jalan yang akan dilalui sangat licin. Sisa perjalananpun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati hutan ekaliptus buatan PT. TPL yang dulu namanya Indorayon.</p>
<p><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/map-partungkoan.jpg" title="map-partungkoan.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/map-partungkoan.thumbnail.jpg" alt="map-partungkoan.jpg" /><i>(click here for bigger size)</i>  </a></p>
<p>Aku berjalan paling depan. Jarak teman-teman yang lain makin lama semakin jauh tertinggal dibelakang. Apalagi Bang Charlie Sianipar, dia jauh tertinggal dibelakang karena sambil memikul tas punggung hitam besar yang berisikan peralatan photography-nya. Mungkin dialah orang yang paling tersiksa di perjalanan ini. Terus terang, di tengah-tengah perjalanan menanjak 2km itu aku hampir menyerah. Tapi ketika aku ingat lagi janjiku itu, semangatku bangkit lagi. Rasa letih itu berubah menjadi perasaan berbunga-bunga seperti kalau sedang jatuh cinta. Akhirnya, dikejauhan aku lihat pagar rumah Tulang John Sitanggang yang dikelilingi oleh padang rumput dan hutan pinus.</p>
<p><b>Jamuan Makan Luar Biasa</b></p>
<p>Kami tiba pukul 3 sore. Rasa letih karena perjalanan berat hilang seketika dengan sambutan hangat keluarga Sitanggang. Mereka senang sekali tak terbayangkan dapat melihat kehadiranku lagi. Kukenalkan teman-temanku satu per satu. ketika namboru br. Manik itu kukenalkan dengan Marudut dan mengetahui si Marudut ini marga Pasaribu, dia lansung memluknya sambil menagis terisak-isak, "oohh Bapakku...huu..huu..". Begitulah memang besarnya kasih sayang dalam hubungan boru-bapak(hula-hula) di Samosir ini. Luar biasa memang dalihan na Tolu itu.</p>
<p>Kami Sangat terkejut, ternyata Namboru itu telah menyediakan lomok-lomok untuk menyambut kedatangan kami. Dia relakan memotong babi kecilnya untuk kami makan, sementara sehari-harinya mereka hanya makan nasi dan sepotong ikan asin. Air mataku tak terbendung lagi melihat sambutan mereka. Dengan perasaan serba salah kamipun memakan hidangan nikmat itu. Pikiranku langsung terjuju pada para Batak perantau yang selalu meng-claim bahwa orang di kampung tidak bersahabat, kasar-kasar, tidak punya moral, menaik-naikan harga dagangannya beberapa ribu rupiah seenaknya, perlu dirubah mentalnya, dan image jelek lainnya. Jengkel kali hatiku mendengar komentar-komentar tolol mereka. Mereka hanya dapat melihat sisi jeleknya. Mereka tidak tahu betapa tulusnya hati orang-orang Batak di Samosir ini. They are beautiful people.</p>
<p>Setelah makan, aku ingin sekali pergi ke mata air Roba, supaya dapat merasakan sulitnya orang ini cari air. Kami pergi ke lokasi mata air bersama dengan namboru dan parmaennya (menantunya). Dia membawa ember, seperti biasa. Ternyata, benar. Kami berjalan jauh melewati padang rumput, masuk menerobos ilalang tinggi, menuruni bukit terjal sampai nampak Mual Roba, mata air murni seukuran 4x4m dikelilingi semak hutan pinus. Airnya jernih, rasanya lebih nikmat dari produk air mineral pabrik manapun. Namboru dan parmaennya, boru Panjaitan, mengambil air dengan ember mereka dan meletakaan diatas kepalanya. Kami pun kembali pulang ke rumah Tulang Sitanggang dengan medan yang jauh lebih berat karena harus mendaki tebing terjal. Setibanya di rumah, nafasku sudah senin-kamis. Begitu juga para wanita perkasa itu, dengan ember diatas kepalanya yang airnya sudah bertumpahan.</p>
<p><a href="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/mual11.jpg" title="mual11.jpg"><img src="http://tongginghill.wordpress.com/files/2008/03/mual11.thumbnail.jpg" alt="mual11.jpg" /></a></p>
<p>"Beginilah susahnya kami setiap hari untuk mengambil air", kata namboru itu.</p>
<p>Aku dapat merasakan betul penderitaan mereka. Boro-boro ada perhatian dari pemerintah, jalan rayanya saja hasil gotong royong masyarakat setempat. Jangan-jangan para aparat Bupati tidak mengetahui ada eksistensi mereka disana. Bagaimana tidak, air tidak ada, listrik tidak ada, puskesmas tidak ada. Sungguh menyedihkan. Padahal daerah tersebut merupakan surganya Samosir.</p>
<p>Sambil menunggu teman-teman TobaDreamer merekam gambar keluarga Sitanggang untuk kebutuhan film dokumentari kami, aku menyempatkan duduk di "singasanaku" dan bermeditasi sejenak. Kembali tak henti-hentinya aku berterimakasih pada Tuhan atas alam indah ini.</p>
<p><b>Terjebak di Hutan Lagi</b></p>
<p>Tepat pukul 6.30, kami pamit pulang. Limantina memutuskan untuk bermalam di sana. Baru saja 15 menit kami berjalan, hari mulai gelap. Hanya aku yang sedia dengan lampu senter mungil di tas punggungku. Untung saja aku punya dua. Kuberikan satu pada Bonny. Kami berdua berjalan di depan, yang lain mengikuti di belakang dengan jarak yang cukup dekat. Tak lama kemudian suasanya menjadi gelap total. Langit kosong tanpa bintang. Bulan mati. Jika lampu senter dimatikan, tak dapat dibedakan mata tertutup dengan mata terbuka. Sangking gelapnya. Dengan lampu senter mungil, jarak pandang hanya 2 meter. Hanya mampu menerangi tanah licin berlumpur yang akan kami pijak. Sesekali kami harus berhenti mencari tanah pijakan yang paling bersahabat. Beberapa kali kami memutuskan untuk berjalan di parit kering sebelah kiri/kanan jalan. Hutan di kiri-kanan nampak samar-samar dan sangat menyeramkan. Menurut Bonny, dia beberapa kali melihat sepasang mata bersinar di balik semak-semak hutan pinus.</p>
<p>Sekitar jam 9, kami sampai ke rumah tempat kami menitipkan motor. Rumah milik marga Sitanggang, boru Situmorang. Pemilik rumah tersebut menolak ketika bang Charlie menyelipkan uang 50.000 rupuah pada saat bersalaman dengannya. Benar-benar orang Batak Samosir ini tulus hatinya. Padahal uang sebesar itu sangat berarti bagi mereka di kampung.</p>
<p>Yang kami takutkan pun terjadi. Hujan Turun dengan derasnya walau beberapa menit saja. Komplitlah penderitaan kami. Jalan yang tadi kami lalui jadi tidak dapat lagi dilalui sepeda motor sambil boncengan karena licin sekali. Bayangkanlah keadaannya... Tongam, Andre, Charlie, dan Marudut harus mengendarai motor dengan medan sangat sulit, Bonny dan aku berjalan kaki sambil memegang lampu senter mungil untuk menerangi langkah kami. Kami terus berjalan tanpa mengetahui ada apa di depan kami. Sesekali para pendekar motor ini tergelincir berputar, dan jalan lagi. Kakiku pun beberapa kali menginjak genangan air yang dalam dan kotoran kerbau.</p>
<p><b>"Ambilah dan Makanlah..."</b></p>
<p>Setelah berjalan 1.5 jam, kami memutuskan untuk beristirahat. Kami mematikan semua lampu kendaraan dan lampu senter untuk berhemat bahan bakar dan baterai, duduk di rumput basah melepas lelah sambil bercanda.</p>
<p>"mimpi apa ya kita orang Jakarta bisa nyasar malam-malam di padang rumput Samosir..hahahaha", canda Marudut,</p>
<p>"Iya ya, baru dua hari lalu kita ngobrol di kafe TobaDream Jakarta dengan hingar bingar musik, kontrasnya, sekarang malah tengah malam duduk di padang rumput samosir yang gelap gulita", jawabku. Mereka tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Perut kami pun sudah mulai keroncongan. Padahal tak ada satupun dari kami yang membawa persediaan makanan. Disinilah kami rasakan pentingnya peranan ibu-ibu yang selalu sedia minuman dan cemilan pada saat traveling.</p>
<p>Ternyata Andree punya satu bungkus kecil coklat. Maka coklat itu dipotong kecil-kecil sehingga semua kebagian. Untung aku sempat memasukan air Mual Roba tadi kedalam satu botol aqua. Itulah yang kami minum secara bergilir.</p>
<p>"Ini seperti cerita Yesus yang membagikan roti lepada ribuan orang, tapi semua bisa kebagian" canda Bonny, yang diikuti gemuruh tawa kami.</p>
<p>Marudut pun menimpali, "Makanlah, inilah tubuhku yang dipecah-pecahkan....", kamipun semua tertawa lagi.</p>
<p>Walaupun lelah, kami sangat menikmati kebersamaan itu.</p>
<p>Kami melanjutkan perjalanan lagi. Setelah setengah jam, akhirnya jalanan aspal itu kami dapati. Melihat jalan aspal itu, walupun rusak berlubang, kami bersorak sorai seakan sesuatu yang sangat langka. Apalagi ketika kami sampai di Polma, Jalan utama lingkar Samosir. Perasaanku lega sekali. Kami beristirahat lagi sejenak. Pinggangku seakan mau patah.</p>
<p>Penderitaan ternyata belum selesai. Kami harus mengendarai motor mengelilingi Samosir jam 12 malam dengan keadaan basah kuyup untuk sampai ke Tuktuk.</p>
<p><b>Pelajaran Berharga</b></p>
<p>Perjalanan ini sungguh tak terlupkan. Banyak hal yang dapat kami pelajari dari sini. Betapa masih banyak desa tertinggal di Bona Pasogit ini dimana tidak ada satupun yang perduli akan nasib penduduknya. Apakah kita, orang Batak perantau, sebagai saudara dekat mereka akan terus membiarkan mereka seperti itu? Haruskah mereka merantau ke Jakarta demi memerangi kemiskinan, mengadu nasib tanpa bekal kemampuan apapun, yang akhirnya kembali menjadi pengangguran di Jakarta?</p>
<p>Sementara kita, para Batak perantauan, menghabiskan uang jutaan rupiah dengan sekejap di kafe Batak dalam satu malam; Sementara Gereja-gereja yang tanpa gorga tapi tetap memakai nama etnik Batak itu berpesta Natal atau Paskah dengan biaya ratusan juta rupiah, dan bahkan asik berkelahi dengan sesama umatnya karena alasan yang sama sekali gak penting; Sementara Inang-inang ngomel karena kain seragam pesta pernikahan berenya(keponakannya) per meter dibawah 100.000 rupuah.</p>
<p>Jadi siapa sebenarnya yang perlu dirubah mentalnya, hai kawan!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beta Hita...Tongam is Coming Back at TobaDream Cafe]]></title>
<link>http://tobadreams.wordpress.com/2008/01/18/beta-hitatongam-is-coming-back-at-tobadream-cafe/</link>
<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 09:39:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>tobadreams</dc:creator>
<guid>http://tobadreams.id.wordpress.com/2008/01/18/beta-hitatongam-is-coming-back-at-tobadream-cafe/</guid>
<description><![CDATA[Beta hita…beta hita…
Beta hita mardalani, mardalani

Mardalan dalan husadaan

Aha ma boanonta
Is]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Beta hita…beta hita…</i></p>
<p><i>Beta hita mardalani, mardalani</i></p>
<p><i></i></p>
<p class="MsoNormal"><i>Mardalan dalan husadaan</i></p>
<p><i><br />
</i><i>Aha ma boanonta</i></p>
<p class="MsoNormal"><i>Ise ma jouonta</i><!--more--></p>
<p>AKU sedang mendengarkan lagu “Beta Hita” yang ceria dan jenaka ini, mengalun mulus dari pemutar Winamp di laptopku, ketika mendapat SMS dari manajemen TobaDream Café. Aku merasa surprise, wah Tongam datang lagi nih, biarpun aku sudah tahu sebelumnya dia bakal ke Jakarta, Januari ini. Kupikir datangnya baru minggu depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Isi SMS itu<span>  </span>begini : “Toba Dream present VIKY SIANIPAR feat TONGAM SIRAIT 19 Jan 08, 10 PM. Cover Charge : Rp 30.000. FREE Soft Drink @ TOBA DREAM CAFÉ. For Info &#38; Reservation : 936 74 800”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i>Hip hip hurraaa…Beta hita…beta hita!</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dengan spontan kuraih HP-ku, kemudian kupencet nomornya Tongam Sirait. Langsung nyambung dan terdengar sambutannya yang hangat,”Bah aha kabar appara (Apa kabar saudaraku”. Kemudian bla bla bla dan akhirnya klik, pembicaraan aku akhiri sambil geleng-geleng kepala.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bah, ternyata Tongam masih di kampungnya, di Parapat sana. Dia baru bersiap-siap menuju Medan, untuk kemudian terbang ke Jakarta pada Jumat sore ini. Gile, pikirku, besok sudah mau pentas di Jakarta, tapi masih saja dia merasa berat meninggalkan Danau Toba yang amat dicintainya itu. Dasar,<span>  </span><i>tobalover</i><span>  </span>banget…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i>Hey man, hey hey all of you, mana sikap profesional kalian ? Mana ? Jangan mentang-mentang setiap Tongam tampil penonton pasti membludak di TobaDream Café, sampai pada berdiri, lalu kalian jadi terlalu pede. Hargai dong para penggemar yang loyal. Mereka berhak mendapat suguhan best perform kalian.</i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sambil protes dalam hati begitu aku kontak Viky Sianipar. “Dimana kau,”kataku setelah dia mengangkat. “Di rumah, ada apa?” Kemudian kami ngobrol dulu mengenai pertandingan PSMS Medan dengan Sriwijaya FC yang berakhir imbang 2-2. “Nanti sore ada lagi, PSMS lawan Persik Kediri,”kata Viky.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemudian aku nanya“Eh gimana tuh CD hadiah buat pemenang kuis Batak Itu Keren di blog TobaDreams, sudah diteken belum?,” Lalu dia janji akan meneken semuanya nanti Sore (Jumat 17/1).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tak lupa Viky mengundangku untuk datang ke studionya nanti malam, sambil menenangkan aku,”Jangan kuatir, pren, besok pasti akan jadi malam yang luar biasa buat semua penggemar Tongam. Aku sudah mutusin, yang akan kami bawakan semuanya lagunya Tongam. Jadi,biarpun cuma latihan satu kali,<span>  </span>saat <i>check sound</i> Sabtu siang, aku jamin bakalan top.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Baiklah kalau begitu, pren. Aku ingin kalian buktikan itu di pentas TobaDream Café, besok malam. Kalau nggak, bisa-bisa aku diprotes rame-rame oleh para <i>tobadreamer</i> di seluruh dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku sendiri sebenarnya sudah yakin sepenuhnya. Karena sobatku bernama Viky Sianipar ini selalu menjawab keraguan orang padanya, bukan dengan kata-kata, tapi lewat aransemen musik kelas dunia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beta hita…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Raja Huta</b><br />
www.tobadreams.wordpress.com</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tongam dan si Donna (ups...)]]></title>
<link>http://partalitoruan.wordpress.com/2007/12/11/17/</link>
<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 03:42:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>partalitoruan</dc:creator>
<guid>http://partalitoruan.id.wordpress.com/2007/12/11/17/</guid>
<description><![CDATA[“Parjolo sahali ditarik ho ma morfin i, dipamasuk ho sian igungmi, ditusukkon ho tu tanganmi dirpp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>“Parjolo sahali ditarik ho ma morfin i, dipamasuk ho sian igungmi, ditusukkon ho tu tanganmi dirppu ho ma ho na unjago dang adong be na mangimbangi fikiranmu. Diboto ho sude naadong di portibi dohot di luar angkasa…Sadar ho lae…..Dang adong labani.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--more--><span>Secuplik lirik lagu yang ditulis tangan sendiri oleh Tongam yang dia beri judul Narkoba. Yang mungkin nanti akan turut dalam album keduanya. Aku sangat tertarik dengan lagu ini, makanya aku bela-belain ketemu dengan dia untuk tau lebih banyak soal lagu ini dan pesan moral yang dia sampaikan. Dan dugaanku benar, bahwa ada pesan moral di dalam lagu ini. Bukan hanya lagu yang dinyanyikan versi rap (yang tentunya akan sangat menarik di tengah anak muda, yang jadi sasaran utama pesan dalam lagu ini). Aku pertama sekali mendengarkan lagu ini di hari Sabtu tanggal 10 November 2007 di Toba Dream Family Café waktu ada akustik night nya Viky feat Tongam Sirait. </span><span>Pada saat dia menyanyikan lagu itu, dengan petikan gitar dan suara khasnya, dan dalam versi rap. Versi yang nyeleneh dari aliran musik batak biasanya. Dan memang ga bisa dibohongi, aliran seperti ini yang terasa ringan dan enak untuk anak-anak muda, sehingga mereka akan bersedia mendengarkan nya nanti, dan tersampaikan lah pesan yang ada di dalam nya. Kalau lagu itu dikemas dengan gaya musik batak kebanyakan, aku ga yakin akan didenger oleh orang-orang, apalagi anak-anak muda. Mudah-mudahan dengan aliran musik ala anak muda, pesan moral yang ada di dalamnya, tersampaikan dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku jadi berfikir, bahwa dia adalah salah satu orang yang sangat care dengan masa depan generasi muda bangsa ini, khususnya doli-doli (anak muda ) tanah batak. Tidak hanya melalui lagu ini, melalui lagu Si Doli di album pertamanya, dia juga menyinggung kebanyakan anak muda di kampong halaman yang tidak bekerja, tidak melakukan apapun. Malah saban hari hanya mengobrol di kode (warung kopi), main judi pulak. Beginilah cara seniman itu menyampaikan keresahan hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Begitu juga kerinduan dia dengan opera jaman dulu, dia nyanyikan lah lagu Donna (ayo khususnya komunitas bataknews corner meja 19, nyanyikan dalam hati masing2 lagu Donna). </span><span>Semua “kegilaan” dia ini sepertinya disambut mesra oleh si Pikki. </span><span>Tongam dengan ide2 lagu yg aneh, dan si Pikki dengan aransemen musik yg nyeleneh juga. </span>Jadilah mereka ini marrokkap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Aku salut sekali dengan Tongam ini, karena walaupun dia tinggal di kampung sana, dia tidak berfikiran kampungan. Dia berani berfikir dan bermimpi jauh dari apa yg biasa dia lihat sehari-hari. Dia ini terbiasa dengan “pemberontakan”. Di kala orang-orang sudah melupakan keindahan Danau Toba dan alamnya, dia malah giat mempromosikan Danau Toba si unforgotten beauty. Dia berlaku nyata untuk menyelamatkan lingkungan Danau Toba yg semakin hari semakin buruk, dengan melakukan penanaman pohon di sekitar rumahnya. Dan itu semua dia lakukan dengan mendapat tantangan dari pemerintah setempat. Walaupun demikian, si bapak rock n roll ini tidak perduli. Dia rindu dengan Danau Toba yang indah, rindu dengan banyaknya orang yg berkunjung untuk mengagumi kecantikan Danau Toba. Dan dia sangat optimis dengan itu. Dan Toba Dream, Toba Dreamer sangat optimis dengan itu. Terbukti,betapa hati Tongam sangat rindu supaya kampung halaman dibenahi. Ketika dia menyanyikan lagu ciptaannya, Tapature Ma Hutanta, dia menitikkan air mata, betapa dia merindukan kecantikan Danau Toba itu dilihat dan dinikmati oleh DUNIA. Mimpi yang sangat besar. Tapi, aku sangat optimis dengan mimpi itu, karena seorang Tongam bisa seperti sekarang ini, karena dia terus memelihara mimpinya yang dia punya dari dulu. </span>Sekalipun jaman berubah, pesimisme banyak dia terima, dia tetap dengan mimpinya itu. Toba Dream…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah kemunculan lagu Narkoba itu nantinya, mungkin akan banyak pertanyaan yang datang kepada pareman Parapat ini. Apalagi dengan lagu Donna yang sangat vulgar itu. Apakah dia perdulikan itu semua? <span>Sepertinya tidak… Orang pake baju terbalik ke gereja aja dia ga perduli kog……. </span>(peace bang…)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> </span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TongamSirait, u ROCK bro....]]></title>
<link>http://partalitoruan.wordpress.com/2007/12/07/tongamsirait-u-rock-bro/</link>
<pubDate>Fri, 07 Dec 2007 10:42:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>partalitoruan</dc:creator>
<guid>http://partalitoruan.id.wordpress.com/2007/12/07/tongamsirait-u-rock-bro/</guid>
<description><![CDATA[Tongam Sirait, u rock brooo&#8230;.
seroang seniman besar Batak yang sangat idealis, &#8220;preman]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tongam Sirait, u rock brooo....</p>
<p style="text-align:justify;">seroang seniman besar Batak yang sangat idealis, "preman" dan sangar, tapi sangat mencintai keluarganya...Ah sungguh hebat orang ini, Salut...<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Semalam,aku menghabiskan waktu dengan bang Tongam, aku semakin kagum dengannya.Orang "kampung"yg punya filosofi hidup yg "edan" dan dahsyat.Tidak pernah pesimis dalam menjalani hidup,sekalipun entah sudah berapa kali dia mengalami hempasan dan penolakan, kegagalan dalam perjalanan hidupnya.Dia berkata, "semakin aku digencet, aku harus semakin besar"<br />
Menuliskan ini, aku sambil mendengarkan suaranya, di lagu Tona ni Tao, yg dia nyanyikan dengan segenap penghayatan dan hati.Aku merasa,dia menyatu dengan lagu itu!!Dia dan lagu itu, satu ROH!Lagu ini, membuat ku merinding disko,dan tak sadar,aku meneteskan air mata! Sungguh dia ini seorang seniman besar.Segenap jiwanya dan hatinya dia curahkan disini.Dia lakukan di setiap lagu yg dia ciptakan dan nyanyikan.Sungguh, aku makin kagum dengannya.Tuhan itu maha agung melalui karya ciptaan-Nya,salah satu ciptaan nya yg terbaik adalah bang Tongam Sirait.<br />
"Tuhan,sahat di ho do au...Patudu dalan i,tu akka na bisuk i...."Merinding aku mendengar setiap lirik dalam lagunya...Sungguh dalam..Sungguh!!!!!!! Ayah dan suami yang baik.Dia tersiksa antara idealismenya dalam bermusik dan kasih sayangnya terhadap keluarga<span> </span>(anak dan istrinya)...Aku tidak bisa membayangkan betapa tersayat batinnya,mengalami gejolak batin seperti itu.Dua- duanya dia sayangi, dua-dua nya belahan jiwanya.Sejak kecil dia sudah jatuh cinta dengan musik.Sedangkan untuk anak dan istrinya,cintanya tak terkatakan.Mansai balga do pasu-pasu ni Tuhan di abang on, molo daong, hurasa nunga tibu ibana stress na marfikir i.<br />
Salut ni salut ma au tu ho abang,</p>
<p style="text-align:justify;">
U Rock bro....</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
