<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tokoh-nasional &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tokoh-nasional/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tokoh-nasional"</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:12:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PROFIL PARTAI: PARTAI HANURA (1)]]></title>
<link>http://mukhdan.wordpress.com/?p=1017</link>
<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 13:01:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>mukhdan</dc:creator>
<guid>http://mukhdan.id.wordpress.com/2008/08/18/profil-partai-partai-hanura-1/</guid>
<description><![CDATA[Sejarah Pendirian Partai
Pendirian Partai HANURA dirintis oleh Wiranto bersama tokoh-tokoh nasional ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mukhdan.files.wordpress.com/2008/08/hanura.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1018" src="http://mukhdan.wordpress.com/files/2008/08/hanura.jpg?w=298" alt="" width="298" height="268" /></a>Sejarah Pendirian Partai</p>
<p>Pendirian Partai HANURA dirintis oleh Wiranto bersama tokoh-tokoh nasional yang menggelar pertemuan di Jakarta pada tanggal 13-14 November 2006.  Forum tersebut melahirkan delapan kesepakatan penting sebagai berikut.<!--more--><br />
1. Dengan memperhatikan kondisi lingkungan global, regional, dan nasional,      serta kinerja pemerintahan RI selama ini, mengisyaratkan bahwa sejatinya Indonesia belum berhasil mewujudkan apa yang diamanatkan UUD 1945.<br />
2. Memperhatikan kinerja pemerintahan sekarang ini maka kemungkinan tiga tahun yang akan datang akan sulit diharapkan adanya perubahan yang cukup signifikan, menyangkut perbaikan nasib bangsa.<br />
3. Oleh sebab itu perjuangan untuk mewujudkan terjadinya sirkulasi kepemimpinan nasional dan pemerintahan bukan lagi untuk memenuhi ambisi perorangan atau kelompok, namun merupakan perjuangan bersama untuk menyelamatkan masa depan bangsa.<br />
4. Perjuangan itu membutuhkan keberanian untuk menyusun strategi jangka panjang pada keseluruhan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara guna mengembalikan kemandirian dan kebanggaan kita sebagai bangsa.<br />
5. Untuk itu diperlukan kepemimpimpinan yang jujur, bijak, dan berani yang dapat menggalang persatuan, kebersamaan, dan keikhlasan, sebagaimana dahulu para pendahulu kita 'berhimpun bersama sebagai bangsa untuk mencapai kemerdekaan'. Sekarang saatnya kita berhimpun kembali sebagai bangsa guna menyelamatkan negeri kita.<br />
6. Kita kembangkan semangat perjuangan, 'Semua untuk satu, satu untuk semua'. Artinya, semua harus memberikan yang terbaik untuk satu tujuan bersama, yakni membentuk pemerintahan yang jujur dan berkualitas. Selanjutnya, pemerintahan itu benar-benar akan bekerja semata-mata untuk kepentingan rakyat Indonesia.<br />
7. Perjuangan itu akan kita wadahi dalam sebuah partai politik.<br />
8. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati dan melindungi perjuangan yang tulus dan ikhlas ini demi masa depan Indonesia yang kita cintai bersama.</p>
<p>Delapan kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dalam wadah partai politik bernama Partai Hati Nurani Rakyat, disingkat Partai HANURA. Pendeklarasian partai ini diselenggarakan pada tanggal 21 Desember 2006 di Jakarta.</p>
<p>Komposisi dewan pendiri Partai HANURA di antaranya adalah: Jend. TNI (Purn) Wiranto, Yus Usman Sumanegara, Dr. Fuad Bawazier, Dr. Tuti Alawiyah AS., Jend. TNI (Purn) Fachrul Razi, Laks TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh, Prof. Dr. Achmad Sutarmadi, Prof. Dr. Max Wullur, Prof. Dr. Azzam Sam Yasin, Jend. TNI (Purn) Subagyo HS., Jend. Pol (Purn) Chaeruddin Ismail, Samuel Koto, LetJen. TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Marsdya TNI (Purn) Budhy Santoso, Djafar Badjeber, Uga Usman Wiranto, Letjen. TNI (Purn) Ary Mardjono, Elza Syarief, Nicolaus Daryanto, Anwar Fuadi, Dr. Teguh Samudra dan lain-lain.</p>
<p>Mengapa Partai HANURA Harus Didirikan?<br />
Partai HANURA harus didirikan untuk:<br />
- Menjawab kepedulian dan kecintaan yang mendalam terhadap nasib negara dan bangsa.<br />
- Menjamin kepastian masa depan bangsa Indonesia yang saat ini tidak jelas arahnya.<br />
- Merekonstruksi model kepemimpinan masa depan yang lebih memahami hati nurani rakyat, serta memiliki sifat-sifat jujur, tegas, berani, dan berkemampuan.<br />
- Mewujudkan semangat sebagaimana yang ditempuh para pendahulu kita, berhimpun bersama untuk menyelamatkan bangsa.</p>
<p>- Merespons persoalan bangsa yang terlalu kompleks dibutuhkan solusi strategis, yaitu berpolitik dengan hati nurani untuk memperjuangkan kebenaran.<br />
- Membangun kekuatan politik yang tidak berorientasi pada kekuasaan semata, namun dengan spirit ke-Tuhanan guna kemaslahatan/kebaikan.</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan Hati Nurani?</p>
<p>Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu-Zain, Sinar Harapan, 2001) kata 'hati nurani' diartikan perasaan yang dalam, batin.<br />
- Islam mengenal kata bashirah untuk menyebut hati nurani, yang berarti pandangan mata batin. Sesungguhnya, di dalam hal yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang memiliki mata hati (bashirah). (QS. Ali Imran: 13) Bashirah selalu konsisten kepada kebenaran dan kejujuran.</p>
<p>- Dokumen Konsili Vatikan II, GS 16 mencatat, hati nurani merupakan petunjuk dan keputusan akhir dalam interaksinya dengan akal budi manusia dalam berhadapan dengan dirinya, orang lain, dan Tuhannya. Di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya.</p>
<p>- Dalam Perjanjian Baru, Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol 3:23) Di samping taat kepada hukum Allah, manusia juga perlu harmonisasi dalam hati nurani.<br />
- Etika Kebuddhaan adalah etika nurani. Melaksanakan Etika Kebuddhaan artinya membangun kebiasaan untuk berhati nurani.<br />
- Pemujaan Sang Hyang Atma sebagai Batara Hyang Guru dalam agama Hindu adalah pemujaan Guru yang ada dalam diri. Suara Sang Hyang Atma itu tiada lain adalah suara hati nurani. Orang yang gelap hati nuraninya cenderung berbuat yang makin menutup sinar suci Tuhan.<br />
- Di dalam kitab Su Si agama Kong Hu Cu mengatakan, berbuat sesuai dengan Hati Nurani itulah Tao, sedangkan bimbingan untuk hidup menempuh jalan sesuai hati nurani itulah agama. Manusia yang tidak mengenal hati nuraninya maka ia tidak mengenal Tuhan.</p>
<p>- Secara sederhana, hati nurani adalah pusat kebenaran sejati. Pada akhirnya, hati nurani adalah solusi dari merosotnya akhlak dan moral bangsa Indonesia. Hati nurani sangat penting untuk mengedepankan kembali kejujuran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang saat ini sedang bermasalah.</p>
<p>Lambang Partai dan Penjelasannya<br />
Lambang Partai<br />
1. Gambar lambang berbentuk empat persegi panjang dengan warna putih-merah-putih mendatar, pada bagian merah bertuliskan HANURA warna putih dengan ujung meruncing berbentuk anak panah melesat maju menembus warna coklat tanah dan pada bagian putih bawah tertulis PARTAI HATI NURANI RAKYAT warna hitam.</p>
<p>2. Arti warna pada lambang:<br />
Lambang terdiri dari warna putih, merah, hitam dan coklat tanah.<br />
a. Warna putih bermakna kesucian dalam mengemban amanah hati nurani rakyat.<br />
b. Warna merah bermakna keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan  perjuangan.<br />
c. Warna coklat tanah bermakna kearifan dalam mewujudkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat.<br />
d. Warna hitam bermakna keteguhan hati dan ketegasan sikap dalam mencapai cita-cita perjuangan.<br />
3. Arti simbol pada lambang:<br />
a. Anak panah bersudut lima melambangkan cita-cita yang akan dicapai berlandaskan Pancasila.<br />
b. Tulisan HANURA di tengah anak panah melambangkan derap langkah perjuangan Partai yang selalu bergerak maju mengemban amanah hati nurani rakyat.<br />
c. Gambar lambang berbentuk empat persegi panjang bermakna komitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI.<br />
4. Arti lambang secara keseluruhan adalah Partai HANURA sebagai pengemban amanah suci hati nurani rakyat, senantiasa teguh berjuang menghadapi berbagai tantangan untuk mewujudkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Azas, Ciri, dan Nilai Dasar Perjuangan Partai HANURA<br />
1. Ketakwaan; dalam gerak langkahnya senantiasa mendasarkan pada nilai etika dan moralitas atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.<br />
2. Kemandirian; pribadi yang bermartabat dengan mengutamakan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk keunggulan bangsa, tanpa harus bergantung pada pihak lain dan terbebas dari intervensi pihak asing.<br />
3. Kebersamaan; selalu menjalin keharmonisan dari keberagaman etnis, suku, agama, bahasa, dan adat istiadat.<br />
4. Kerakyatan; peka dan tanggap terhadap aspirasi, tuntutan, kondisi, dan harapan rakyat serta konsisten dalam memperjuangkannya.<br />
5. Kesederhanaan; selalu mengedepankan sikap dan perilaku yang bersahaja.</p>
<p>Visi Partai HANURA<br />
*  Kemandirian Bangsa</p>
<p>Bangsa Indonesia saat ini terasa tidak mandiri lagi. Banyak tekanan dan intervensi asing yang sudah merajalela merugikan kehidupan seluruh bangsa. Kita harus rebut kembali, bangun kembali kemandirian kita dalam penyelenggaraan negara.</p>
<p>* Kesejahteraan Rakyat<br />
Sebuah kata yang sudah sangat sering diucapkan tetapi sangat sulit diwujudkan. Semua kader Partai HANURA yang juga calon pemimpin bangsa, di benaknya harus selalu tertanam kalimat 'kesejahteraan rakyat Indonesia', sekaligus mampu berusaha menghadirkannya.</p>
<p>Misi Partai HANURA<br />
* Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa melalui penyelenggaraan negara yang demokratis, transparan, akuntabel, dengan senantiasa berdasar pada Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>* Melahirkan pemimpin yang bertakwa, jujur, berani, tegas, dan berkemampuan, yang dalam menjalankan tugas selalu mengedepankan hati nurani.<br />
* Menegakkan hak dan kewajiban asasi manusia dan supremasi hukum yang berkeadilan secara konsisten, sehingga dapat menghadirkan kepastian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>* Membangun sumber daya manusia yang sehat dan terdidik yang didasari akhlak dan moral yang baik serta memberi kesempatan seluas-luasnya kepada kaum perempuan dan pemuda untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa.<br />
* Membangun ekonomi nasional yang berkeadilan dan berwawasan lingkungan serta membuka kesempatan usaha dan lapangan kerja yang seluas-luasnya untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.<br />
* Memberantas korupsi secara total dalam rangka mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat.<br />
* Mengembangkan Otonomi Daerah untuk lebih memacu pembangunan di seluruh tanah air dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Tugas Pokok Partai HANURA<br />
* Partai membangun organisasi yang solid dan merakyat di semua tingkatan.<br />
* Melakukan rekrutmen dan kaderisasi serta upaya-upaya taktis dan strategis untuk memenangkan perebutan hati rakyat, pemilu legislatif, pemilihan presiden/wakil presiden dan pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah.<br />
* Untuk melaksanakan misi partai dalam rangka mewujudkan kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Mengapa Partai HANURA disebut Partai Organik</p>
<p>* Kebalikan partai organik adalah partai mesin, yaitu partai yang hanya bergerak kalau ada instruksi dan pasokan bahan bakar dari pusat. Partai semacam ini bukan partai perjuangan, bukan partai pengabdian. Fondasinya rapuh, semangatnya diukur dari fulus semata.<br />
* Partai organik adalah seperti jamur yang tumbuh di mana saja dalam keadaan bagaimana pun juga, mampu menghidupi dirinya sendiri dengan memanfaatkan lingkungannya.<br />
* Pusat partai telah menyediakan dukungan awal dan bibit unggul yang dipercaya rakyat akan membantu kesejahteraan, selanjutnya ditanam, dirawat, dan dipanen oleh para pengurus partai di seluruh daerah.<br />
* Pusat partai tetap menyiapkan berbagai sarana dan cadangan yang cukup untuk menghadapi kondisi yang tak terduga, terutama menghadapi event penting.<br />
*  Partai HANURA bukan mesin politik maka ia akan terus bergerak dan tumbuh, tanpa harus menunggu petunjuk serta dukungan dari pusat.</p>
<p>NKRI, Pancasila, dan UUD 1945</p>
<p>* NKRI, Pancasila, serta UUD 1945 adalah kesepakatan kolektif bangsa yang harus dipertahankan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.<br />
* Apabila ada niat melakukan penyempurnaan UUD 1945 harus melalui kesepakatan kolektif bangsa dengan dibangun terlebih dahulu grand design yang komprehensif melalui uji sahih/uji publik yang kredibel.<br />
* Penyempurnaan UUD 1945 bukan diserahkan semata-mata kepada kaum politisi, tetapi dilakukan bersama-sama dengan para arsitek konstitusi yang benar-benar ahli di bidangnya.<br />
* Dalam catatan sejarah bangsa, mengutak-atik NKRI, Pancasila, dan UUD 1945 hanya akan menimbulkan perpecahan bangsa dan bukan menghasilkan kebaikan.</p>
<p>Struktur Organisasi Partai HANURA</p>
<p>*  Tingkat pusat, tingkat provinsi, tingkat kabupaten/kota, tingkat kecamatan, tingkat desa/kelurahan, bahkan sampai RT/RW.<br />
*  Kepengurusan tingkat pusat terdiri dari Dewan Penasehat, Majelis Pakar, Dewan Pimpinan Pusat dan Organisasi Sayap.<br />
* Para pengurus dipilih dari tokoh/kader partai yang memiliki komitmen terhadap perjuangan partai.<br />
* Bagi para pengurus yang mengingkari komitmennya akan terus-menerus dilakukan penggantian secara terus-menerus.</p>
<p>Motto 'Saatnya Hati Nurani Bicara'</p>
<p>* Reformasi memang telah memberikan kebebasan, namun harus dibayar mahal dengan hilangnya rasa persaudaraan sebagai bangsa, dan digantikan perasaan yang penuh kebencian, dendam, curiga, saling hujat, bertengkar satu dengan yang lain, bahkan terkadang saling menyerang antar anak bangsa.<br />
* Keterpurukan ini tidak lain adalah buah dari nafsu yang tidak terbendung, yang tidak dapat dikendalikan.<br />
* Lawan dari nafsu (dalam Islam disebut nafsu zulmani) adalah kekuatan hati nurani.<br />
* Saatnya semua elemen bangsa diajak kembali menggunakan hati nuraninya dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.<br />
* Jika hati nurani mulai bicara maka sesama anak bangsa akan saling asih, asah, dan asuh, dan pada akhirnya akan terbangun suasana yang tertib, aman, dan sejahtera.</p>
<p>'Bekerja untuk Keunggulan Bangsa'<br />
Artinya seluruh kader Partai HANURA:</p>
<p>* Sadar akan pentingnya membangun bangsa yang berkualitas untuk berkompetisi di pentas global.<br />
* Sanggup bekerja keras demi kemajuan bangsa.<br />
* Berjuang melahirkan sumber daya manusia yang unggul.<br />
* Meneguhkan kembali komitmen mengolah semua potensi sumber daya alam bagi kesejahteraan seluruh bangsa. (www.hanura.com)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indra Jaya Piliang]]></title>
<link>http://urangminang.wordpress.com/?p=157</link>
<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 15:24:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
<guid>http://urangminang.id.wordpress.com/2008/08/10/indra-jaya-piliang/</guid>
<description><![CDATA[Pamit Sebagai Akademisi, Pulang Sebagai PolitisiOleh Indra Jaya Piliang
Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pamit Sebagai Akademisi, Pulang Sebagai Politisi</strong>Oleh Indra Jaya Piliang<br />
Assalamu'alaikum Wr Wb</p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2008/08/dialog-indra-jaya-piliang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-160" src="http://urangminang.wordpress.com/files/2008/08/dialog-indra-jaya-piliang.jpg?w=196" alt="" width="196" height="259" /></a>Selamat Pagi dan Salam Sejahtera</p>
<p>Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 Juni 1957 menegaskan:</p>
<p>"Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosial-nya.... Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib."</p>
<p>Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia.</p>
<p>Sepuluh tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras.</p>
<p><!--more-->Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan pokok-pokok pikiran kenapa saya berubah haluan, dari seorang pengamat politik menjadi pelaku politik atau politisi.</p>
<p>Sekaligus, izinkanlah saya pamit sebagai analis politik dan perubahan sosial, termasuk juga dalam mengamati persoalan-persoalan otonomi daerah, resolusi konflik, juga perkembangan masyarakat sipil. Ini adalah pidato pertama dan terakhir saya sebagai pengamat politik yang sedang melakukan transformasi di bidang politik.</p>
<p>Demokrasi yang berbasiskan partai politik hampir berusia sepuluh tahun. Banyak pihak yang secara sinis menyebut sebagai keadaan yang jauh lebih buruk daripada zaman sebelumnya.</p>
<p>Kehidupan tanpa partai politik yang bergemuruh barangkali memberikan kenyamanan struktural kelompok penguasa formal, juga kesenangan kultural penguasa tradisional. Partai politik dianggap sebagai benalu bagi kehidupan, serta bahkan penghambat bagi pencapaian keadilan dan kesejahteraan sosial. Pola pikir semacam itu adalah sisa dari zaman lalu yang ikut terseret ke zaman sekarang, sehingga selalu terdapat para penentang demokrasi, bahkan di kalangan kelompok intelektual sekalipun.</p>
<p>Masyarakat belum sepenuhnya percaya kepada demokrasi. Orang-orang cerdas berpendidikan tinggi tinggal menunjukkan data-data statistik tentang perilaku buruk orang-orang yang ada dalam partai politik, tetapi tidak membedakan bahwa perilaku buruk itu dipupuk oleh ketidakpahaman tentang demokrasi secara mendalam.</p>
<p>Sebagai suku bangsa yang terlalu lama mengalami kolonialisme, ditambah dengan praktek kekuasaan yang rakus dan korup, masyarakat Indonesia seakan terus memelihara pemikiran tentang keberadaan raja yang baik. Padahal, kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu.</p>
<p>Karena itulah saya menggeluti bidang pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, yakni mengamati peristiwa, perilaku, aktor, sistem sampai gejala-gejala politik yang ada di tengah-tengah masyarakat, bangsa, dan negara.</p>
<p>Dunia politik praktis bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Sekalipun tidak langsung terlibat sebagai politikus, fase-fase kehidupan saya sudah melewati dunia politik, baik teoritis, empiris, maupun praktis.</p>
<p>Fase pertama kehidupan politik yang saya tempuh adalah menjadi fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) selama hampir dua tahun, yakni sejak tahun 1998 sampai tanggal 21 Januari 2001. Setelah itu, saya konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak seminar.</p>
<p>Saya juga aktif dalam beragam aktivitas kelompok masyarakat sipil dan apa yang dikenal sebagai kelompok pro-demokrasi. Saya memiliki banyak sekali kawan, termasuk dari beragam partai politik, kelompok nasionalis, kelompok separatis, sampai aktivis garis keras dan pragmatis.</p>
<p>Saya sudah berjalan ke hampir semua titik penting di republik ini, juga berbicara, menulis, dan menganalisa. Saya juga berada pada pusat-pusat peristiwa perubahan politik penting. Bisa dikatakan keseharian saya adalah politik.</p>
<p>Peristiwa-peristiwa politik besar dan kecil ditanyakan dengan rajin oleh para jurnalis. Tentu, ada kelelahan dan kebosanan, terutama akibat apa yang kita tulis atau katakan tidak sesuai dengan realitas yang diinginkan. Namun saya tetap setia menggeluti profesi ini.</p>
<p>Untuk menghindari kesalahpahaman orang atas gelar kesarjanaan saya, maka mulai tahun 2006 saya memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia yang saya tamatkan dalam dua tahun.</p>
<p>Sebelumnya, saya menamatkan kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI pada 1997. Ada ribuan buku yang sudah saya baca, tetapi tidak semuanya terekam dengan baik dalam pikiran. Kegiatan perkuliahan juga tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai aktivis, analis politik dan perubahan sosial.</p>
<p>Saya tetap menyempatkan diri menulis, terutama pada media massa yang rajin menelepon saya untuk menganalisis peristiwa, regulasi, hasil survei, ataupun tokoh-tokoh politik tertentu. Saya juga berbicara pada media televisi dan radio. Tidak kurang dari 60 lebih mailing-list yang saya ikuti di internet.</p>
<p>Tetapi, dari hari-ke-hari, beragam jajak pendapat dan hasil pemilihan langsung kepala daerah menunjukkan antipati masyarakat terhadap partai politik dan politisi. Bagi saya, keadaan ini mencemaskan, bahkan menakutkan. Demokrasi yang diraih hari ini adalah buah perjuangan banyak pihak, terutama mahasiswa, dengan mengorbankan nyawa sekalipun.</p>
<p>Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998, saya merasakan bagaimana sulitnya mengungkapkan pendapat pada masa lalu itu. (Saya ingat bagaimana kami harus lari dari Samarinda ke Balikpapan pada Desember 1996, setelah hasil Pertemuan SMPT se-Indonesia di Universitas Mulawarman meminta agar Soeharto tidak dipilih lagi).</p>
<p>Minimnya kepercayaan publik terhadap partai politik dan politisi memberikan sinyal bahaya bahwa suatu hari masyarakat kembali merindukan masa-masa kelam otoritarianisme.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Memasuki tahun 2008, saya menyatakan tidak lagi ingin bicara di atas mimbar dengan duduk, melainkan berdiri dan memberikan orasi. Saya lebih memilih gaya orasi, ketimbang diskusi santai, untuk memberikan tekanan kepada kalimat-kalimat yang saya rangkai dan ucapkan, disertai dengan bahasa tubuh.</p>
<p>Saya juga mengubah tampilan blog saya di friendster. Yang lebih penting lagi, saya membuka penyebutan nama dalam tulisan-tulisan di media massa, tidak lagi menyebut INDRA J PILIANG, melainkan INDRA JAYA PILIANG. Indra Jaya adalah kepanjangan dari Indonesia Raya Jaya.</p>
<p>Perubahan cara menulis nama ini mempunyai arti besar, tidak hanya sekadar menghindari kesalahan penulisan. Tetapi lagi-lagi itu saja tidak cukup. Masyarakat terus memberikan pernyataan betapa buruknya wajah partai politik dan politisi kita lewat beragam survei, serta minimnya keikutsertaan dalam pilkada.</p>
<p>Saya berpikir, apakah akan meneruskan apa yang sudah saya kerjakan selama hampir sewindu terakhir ini sebagai analis politik? Saya sudah sangat akrab dengan siaran malam di radio dan televisi, ataupun pagi-pagi buta. Berangkat sebelum azan subuh, atau sampai di bandara menjelang tengah malam, juga bagian dari pekerjaan ini.</p>
<p>Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas. Ataukah saya harus menyelesaikan studi doktoral, bukan di dalam negeri, melainkan di luar negeri, yakni ke India, mengikuti jejak puluhan orang teman-teman terdekat saya?</p>
<p>Barangkali tersedia juga peluang untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi dan komunikasi politik, lalu mendapatkan kemelimpahan finansial, sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan saya yang lain? Sebagai analis saya sudah terlalu nyaman, bahkan mapan, tetapi gejolak hati saya tidak bisa reda hanya dengan pekerjaan ini.</p>
<p>Rupa-rupanya, pilihan yang lebih menantang segera datang. Ketika saya pulang kampung sebelum ujian tesis, saya bertemu dengan kedua orang-tua saya, memintakan doa restu agar nilai saya bagus dalam ujian tesis. Persis ketika berada di teras rumah di tengah-tengah sawah itu beragam telepon datang.</p>
<p>Tawaran itu jelas, menjadi calon anggota legislatif. Sebelumnya, saya juga sudah ditawarin oleh satu partai besar. Saya langsung bertanya kepada ayah saya, saudara, teman-teman, serta para tokoh yang saya hormati dengan menelepon dari tengah sawah, dalam aura dan energi yang terhisap dari kampung saya. Pilihan menjadi politisi adalah pilihan yang sulit. Pro dan kontra terjadi, tetapi sebagian besar memberikan dukungan.</p>
<p>Karena desakan itu tidak berhenti setelah saya dinyatakan lulus ujian, saya langsung memutuskan: inilah saatnya. To be or not to be. Partai politik menurut saya benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan idealisme yang meluap.</p>
<p>Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang berkarakter.</p>
<p>Secara tidak langsung, dorongan menjadi politisi juga berjalan seiring dengan perubahan sikap masyarakat sipil atas dunia politik. Suasananya tidak lagi saling berhadap-hadapan, diametral, tetapi membangun kerjasama yang sinergis.</p>
<p>Karena wacana kepemimpinan muda sedang berlangsung secara hangat, pilihan politik seseorang menjadi penting. Apalagi pada tanggal 21 April 2008, harian terbesar dan disegani, Kompas, memuat nama saya pada urutan keenam sebagai calon Presiden Republik Indonesia versi Lembaga Swadaya Masyarakat.</p>
<p>Itu adalah sebuah kehormatan, sekaligus ‘pengusiran' bahwa saya sebaiknya tidak lagi berkiprah di dunia LSM, melainkan melompat ke dunia politik murni. Langkah pensiun sebagai aktivis LSM dan pengamat sedang saya siapkan.</p>
<p>Dengan mengucapkan Bismillah, saya melangkahkah kaki ke dunia politik praktis. Saya sudah mengurangi dengan keras memberikan analisa-analisa politik, sekalipun terkadang melanggarnya karena khawatir dianggap aneh oleh para jurnalis yang bertanya.</p>
<p>Kerja-kerja politik pun dilakukan, yakni dengan mengecek kebenaran tentang pencarian politisi baru di dalam tubuh parrai politik itu. Karena memiliki banyak kenalan di jajaran petinggi partai, saya mengetahui bahwa partai tidak main-main alias serius.</p>
<p>Di tengah semakin banyak undangan untuk menulis, berbicara, dan menjadi konsultan paroh waktu, mengingat kalender pemilu sudah berjalan, saya menyusun kembali Daftar Riwayat Hidup. Dalam riwayat itu terlihat sekali bahwa saya memang hidup dalam dunia politik.</p>
<p>Daftar itu lebih dari 50 halaman, sekalipun tidak berhasil dicatat seluruhnya. Selama ini, saya tidak begitu peduli dengan daftar itu. Saya toh menggunakan motto: MENGALIR BERSAMA OMBAK. Kehidupan yang saya jalani tidak saya rencanakan dengan matang. Yang perlu hanyalah insting saya yang selalu mewaspadai akibat-akibat buruk atas diri saya, keluarga dan orang lain, kalau saya memasuki suatu kehidupan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat luas.</p>
<p>Tetapi, bukan berarti saya mudah larut, sebagaimana air, karena moto hidup saya bukan MENGALIR BERSAMA AIR. Ombak adalah buah dari badai, angin, topan, atau tsunami, sehingga saya harus betul-betul mampu bertahan, sekuat apapun ombak itu.</p>
<p>Belakangan, moto itu saya ganti menjadi MENGALIR MENITI OMBAK. Sebagai anak yang dilahirkan di Kampung Balacan, Kota Pariaman, saya adalah anak pesisir. Sekalipun begitu, karena ayah saya berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar, saya juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP Koto Lawas.</p>
<p>Air Angat terletak di kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau jejadian dan letusan gunung adalah bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, saya adalah anak yang hidup di pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang membakar dan dingin yang menusuk tulang selalu datang bergantian. Saya terbiasa dengan perubahan iklim, tetapi saya merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu.</p>
<p>Bermodalkan itu, saya merasa inilah saat yang tepat untuk menjadi politikus. Saya tidak berubah dan tidak berharap untuk berubah. Yang saya lakukan hanyalah perpindahan tempat, dari analis, pengamat atau peneliti, menjadi praktisi, pelaku atau politisi.</p>
<p>Perbedaannya adalah ketika saya menjadi analis atau peneliti, saya bekerja untuk masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan, secara individual. Paling banter saya bekerja dalam tim kecil, seperti Pokja Papua atau Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sekarang, saya tetap bekerja untuk masyarakat atau lebih tepat rakyat, terutama di daerah pemilihan saya, tetapi lewat jalur kolektif, yakni partai politik.</p>
<p>Karena dilahirkan di Pariaman, dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawahlunto Sijunjung, saya merasa akan sangat durhaka apabila tidak memperhatikan kepentingan masyarakat di sana. Saya bukan Malin Kundang yang harus dikutuk menjadi batu.</p>
<p>Saya jelas tidak punya bakat menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta saya berjualan Sate Padang -sampai kini- bersama dengan saudara-saudara saya.</p>
<p>Selama 19 tahun saya tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Bahkan, saya tidak pernah ke Jakarta ataupun ke Pekanbaru. Saya diwajibkan sekolah oleh kakak-kakak saya yang mengirimkan uang lewat wesel pos.</p>
<p>Ketika di Jakarta, saya juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kakak-kakak saya, seperti menjadi kernet bis kota atau jualan sate. Saya hanya membantu, tetapi tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas saya jelas, kuliah, kuliah, dan kuliah.</p>
<p>Atas dasar itu juga saya memilih untuk dicalonkan di Daerah Pemilihan Sumatera Barat II yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat.</p>
<p>Ada tiga gunung yang menjadi wilayah geografis-politik saya, yakni Merapi, Singgalang dan Tandikat, serta ada Danau Maninjau yang indah. Juga ada Pantai Gondoriyah dan Pantai Arta yang menawarkan kesejukan hati.</p>
<p>Barangkali, saya juga akan dicalonkan di Sumbar I yang meliputi Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kota Sawahlunto, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Sijunjung dan Kabupaten Tanah Datar.</p>
<p>Toh saya pernah hidup di Kabupaten Tanah Datar, daerah asal ayah saya, serta tempat saya menamatkan Sekolah Dasar sampai SMP kelas I semester I di Koto Lawas. Ada Danau Singkarak, Danau Di Atas, Danau Di Bawah, Gunung Talang, serta perkebunan teh di Kayu Aro di daerah ini. Saya juga pernah belajar mengukir di Pandai Sikat.</p>
<p>Tapi, kalau disuruh memilih, maka saya lebih memilih kampung ibu, bukan kampung ayah, karena saya merasa lebih mampu untuk membina hubungan dengan banyak kalangan, baik dalam lingkungan keluarga besar saya sendiri, teman-teman sekolah, sampai para ninik-mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, bundo kanduang dan seluruh pemangku agama Islam dan adat di Ranah Minang.</p>
<p>Menjadi Politisi</p>
<p>Lalu, datanglah hari ini. Saya menyatakan sebagai politikus Partai Golkar. Sebagai langkah awal, saya memilih daerah pemilihan Sumatera Barat 2, ketimbang Sumbar I itu.</p>
<p>Bisa saja Partai Golkar menempatkan saya di DKI Jakarta, Banten atau Jawa Barat, terutama karena saya pernah tinggal di Banten dan berdomisili di DKI Jakarta, selama 17 Tahun, atau karena saya beristrikan Faridhah Thulhotimah yang memiliki kampung di daerah dingin Kabupaten Bogor. Tetapi, saya merasa harus memulai di tempat yang tepat, yakni kampung halaman sendiri.</p>
<p>Dulu, saya diberangkatkan ke rantau sebagai akademisi, kini saya pulang ke ranah sebagai politisi. Rantau dan ranah harus terus disambung dengan menggunakan hati.</p>
<p>Inilah perbedaan yang saya buat dengan Agus Salim yang kini berubah menjadi nama stadion sepak bola, Muhammad Hatta yang berubah menjadi universitas dan perpustakaan, Tan Malaka yang hinggap dalam grafiti anak-anak muda Minang, atau HAMKA dan Natsir yang ada dalam buku-buku pelajaran agama dan etika. Kalau mereka menjadi politisi di rantau, saya tidak mengulangi itu lagi dengan cara menjadi politisi di ranah.</p>
<p>Saya bukanlah anak muda pelajang bukit yang harus berurusan dengan zaman saisuak. Tidak perlu saya ikut menangisi kenapa di pentas nasional tidak banyak lagi politisi Minang yang berkarakter dan menonjol.</p>
<p>Pentas nasional hanyalah pentas, sementara kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup. Manusia yang hidup dalam penderitaan zaman ini. Biarlah saya mencoba menganyam filosofi manusia Minang:</p>
<p>Panakiak pisau sirauik,</p>
<p>Ambiak galah batang lintabuang,</p>
<p>Salodang ambiak ka nyiru</p>
<p>Satitiak Jadikan Lauik (Setitik Jadikan Laut)</p>
<p>Sakapa jadikan gunuang (Sekepal jadikan gunung)</p>
<p>Alam terkembang jadikan guru.</p>
<p>Kini, saya sedang mempersiapkan kembali ke kampung halaman, tidak hanya datang dan pergi, sebagaimana selama ini, kadang hanya semalam. Tagline dalam website saya selama ini (www.indrapiliang.com) dan nada tunggu pada handphone saya berbunyi: "Kembalikan, Kampung Halamanku".</p>
<p>Untuk persiapan ini, saya menulis artikel "Rezim Developmentalisme Demokratis" yang saya kirim ke harian Padang Ekspres. Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu demokrasi yang sudah mengakar dan mendarah-daging.</p>
<p>Bukan hanya kampung saya, barangkali, yang membutuhkan pembangunan, tetapi juga kampung orang lain. Biarlah puluhan ribu politisi dari 34 partai politik ikut mengubah kampung halaman masing-masing untuk tugas berat ini.</p>
<p>Tentu saya tidak tiba-tiba datang dan masuk Partai Golkar, sekalipun prosesnya berlangsung mendadak dan tiba-tiba. Orang Minang tidak bisa melakukan serangan cepat, akan selalu mengulur waktu, tetapi juga membutuhkan perdebatan keras dalam kancah musyawarah di rumah gadang.</p>
<p>Orang Minang selain sinis dan skeptis kepada orang lain, juga lebih sinis dan skeptis kepada diri sendiri. Sudah sejak pemilu 2004 saya mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat Konvensi Nasional Partai Golkar.</p>
<p>Saya juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla.</p>
<p>Prof Djo adalah Ketua Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia yang menempatkan saya sebagai Ketua Dewan Pengurus. Belakangan saya juga tahu, Prof Dr Azzumardi Azra juga melobi kalangan Partai Golkar untuk menerima saya, barangkali setelah membaca di internet tentang keputusan saya untuk menjadi politikus.</p>
<p>Sebagai warga Muhammadiyah dan buyut dari keluarga Masyumi, saya juga perlu sebutkan dukungan Prof Dr Din Syamsuddin yang dari Los Angeles, Amerika Serikat, dengan mengirimkan sms kepada Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla. Pak Syahrul Ujud, staf khusus Wakil Presiden, juga memberikan dorongan dan dukungan kuat.</p>
<p>Selain itu tentu ada Priyo Budi Santoso, Pompida Hidayatullah, Agung Laksono, Yudhy Chrisnandi, Yamin Tawari, Iskandar Mandji, Rully Chaerul Azwar, Aulia Rahman, Burhanuddin Napitupulu, Yan Hiksas, Agus Gumiwang Kartasasmita, Harry Azhar Azis, Happy Bone Zulkarnaen, Ali Wongso, Yorris Raweyai, serta para petinggi Partai Golkar lainnya yang menyambut saya dengan hangat.</p>
<p>Rumah Partai Golkar ternyata lebih nyaman, jauh dari bayangan saya. Tidak perlu lagi saya merasa sungkan menyebut bagaimana bersahayanya teguran dan sapaan yang diberikan. Orang-orang itulah yang membukakan pintu Partai Golkar untuk saya masuki dengan hati yang lebih damai.</p>
<p>Kegigihan Jeffrie Geovanie dalam memberikan informasi juga perlu saya sebutkan. Tentu, ada yang terganggu dengan kehadiran saya, tetapi itulah politik yang penuh dengan dinamika.</p>
<p>Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, saya banyak bergaul dengan politisi Partai Golkar, seperti Agun Gunandjar, Idrus Marham dan Ferry Mursidan Baldan. Saya juga perlu sebutkan Nurul Arifin, salah satu donatur kegiatan ini, sebagai tokoh yang gigih yang bekerja sebagai aktivis Anti-HIV dan terus-menerus belajar sebagai politikus yang tidak kehilangan integritas dirinya.</p>
<p>Nurul bagi saya adalah seorang senior sebagai politikus, karena ia tidak lantas kecewa atas kegagalan menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, sekalipun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Nurul tentu berbeda dengan artis lain yang menyeberang ke ranah politik praktis yang juga sebagian adalah teman-teman saya.</p>
<p>Dalam banyak perdebatan yang saya ikuti dan sorongkan ke publik, Partai Golkar termasuk yang paling akomodatif atas ide-ide yang saya tulis, selain PAN. Tanpa Partai Golkar, ide-ide otonomi daerah akan mengalami kemacetan dan kemandegan. Liberalisasi di bidang politik diusung penuh oleh Partai Golkar, sekalipun juga tampak kesulitan dalam mengendalikan dan mendisiplinkannya.</p>
<p>Pemekaran wilayah juga bagian dari cara Partai Golkar untuk mendekatkan pemerintahan kepada publik, sekalipun daerah-daerah pemekaran itu kini direbut sebagian oleh PDIP.</p>
<p>Proses perdamaian di Aceh dimana saya terkadang menitikkan air mata ketika menulis kolom, didukung dengan baik oleh Partai Golkar. Peranan aktif dari Jusuf Kalla dalam perdamaian itu memberikan semangat bagi saya untuk menyerang kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam perdebatan di ruang publik.</p>
<p>Dulu, rezim Orde Baru adalah rezim developmentalisme represif dengan keberadaan birokrasi dan militernya. Dibandingkan dengan partai politik yang lain, kini Partai Golkar dihuni oleh kaum demokrat, terutama dari kalangan sipil. Tentu, ada terlalu banyak pengusaha di dalamnya, tetapi bukankah demokrasi lahir dari kelompok borjuasi yang tidak memiliki tanah dan kekuasaan dalam sistem feodal dan monarki awal?</p>
<p>Pilihan untuk bergabung ke dalam Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. Saya tidak tahu alasan-alasan dari para tokoh itu keluar dari Partai Golkar dan mendirikan partai baru, tetapi saya merasa lebih nyaman melihat ‘pertarungan' sesama elite sipil dalam tubuh Partai Golkar dalam perebutan pimpinan nantinya.</p>
<p>Kompetisi di Partai Golkar berlangsung secara baik. Seseorang yang dikalahkan akan tidak memiliki kekuasaan turunan, dibandingkan dengan ketika ia menjabat. Seseorang yang baru aktif akan diberikan tempat baik, apabila memiliki prestasi.</p>
<p>Tentu pertanyaan penting yang bakal diajukan adalah perilaku korupsi, baik yang sudah terbukti atau yang baru dugaan, yang menimpa politisi Partai Golkar. Kalangan pers atau Indonesian Corruption Watch (ICW) yang membeberkan data-data korupsi itu menunjukkan keterlibatan semua partai politik, baik di tingkat nasional, maupun lokal.</p>
<p>Ada yang belum sama sekali disentuh, karena membutuhkan kinerja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih baik dengan bukti-bukti yang kuat. Korupsi di Republik Indonesia lebih merupakan persoalan mentalitas individual, ketimbang melihat itu sebagai perilaku organisasi, agama atau ideologi seseorang.</p>
<p>Korupsi sudah berakar sejak empat abad silam, ketika VOC-pun bangkrut karenanya. Selain lembaga-lembaga negara dan partai politik, masyarakatlah yang selayaknya memiliki peranan aktif untuk menolak meminta sumbangan kepada politisi.</p>
<p>Saya akan bekerja dengan serius. Keluarga juga secepatnya menetap di Sumatera Barat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai politisi, saya akan bekerja mendapatkan suara, berapapun nomor urut yang diberikan oleh Partai Golkar. Saya akan berbicara dalam bahasa ibu, bahasa Minang, kepada setiap orang yang bertemu di Sumbar dengan modal sebatang rokok, setampuk pinang, serta secangkir kopi yang ditemani penganan khas Minang lain.</p>
<p>(Perlu saya sampaikan juga bahwa sejak saya mengumumkan menjadi politikus, sejumlah orang tua, niniak mamak, cerdik pandai, dalam mailing list Rantau.Net sudah dan akan menyumbangkan biaya kampanye kapada saya, mulai dari Rp. 25.000,-, Rp. 50.000,-, dan seterusnya. Saya sungguh terharu dan tidak bisa tidur atas sumbangan materi itu).</p>
<p>Kalau sebelum ini saya bekerja secara individual untuk mengejar karier akademis dan intelektual, maka sekarang membutuhkan dan melibatkan kerja orang banyak, rakyat banyak, untuk menuju Senayan.</p>
<p>Karena itu saya akan datang dalam ota di lapau (obrolan warung) dan kaji di surau, sebagai bentuk tradisional dari politikus Minang: bergelanggang mata orang banyak, bersuluh matahari. Pergi tampak punggung, pulang tampak muka. Transparansi dalam bahasa moderen. Karena anggota parlemen adalah wakil rakyat, maka rakyat jualah yang mengantarkan ke Senayan. Tanpa dukungan rakyat, politisi bukanlah apa-apa dan siapa-siapa.</p>
<p>Seandainya masuk parlemen atas dukungan rakyat di Ranah Minang, maka saya akan mengerjakan komitmen sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, konsentrasi kepada daerah pemilihan saya. Konsentrasi itu berupa perhatian yang lebih atas masalah-masalah utama di bidang kemasyarakatan dan pemerintahan yang berkenaan dengan daerah pemilihan saya. Saya akan menaruh di dalam ruangan kerja saya PETA DAERAH PEMILIHAN saya, lengkap dengan perkembangan data-data statistiknya.</p>
<p>Kedua, mencoba mendorong lahirnya Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Provinsi Minangkabau yang berbasiskan konsep ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI KITABULLAH. Sekalipun ide ini masih menuai kontroversi, saya merasa sistem pemerintahan ala UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku di ranah Minang sekarang belum begitu cocok dengan kultur masyarakat Minang. Bersama teman-teman seide, sebuah lembaga think tank lokal diperlukan guna mendorong konsep ini.</p>
<p>Ketiga, bertempat tinggal di daerah pemilihan saya, sekalipun tetap berkedudukan di Ibu Kota Negara sebagaimana kewajiban undang-undang. Kalaupun saya harus ke Jakarta selama masa kampanye ini, atau ke daerah lain, itu berupa penugasan Partai Golkar atau kegiatan lain, misalnya memenuhi undangan kalangan jurnalis atau lembaga-lembaga lain. Saya tentu tidak akan berhenti memberikan seminar, pelatihan, menulis dan lain-lain, tetapi dengan label yang berbeda.</p>
<p>Keempat, menerbitkan jurnal atau laporan berkala, bisa harian, mingguan atau bulanan. Website www.indrapiliang.com akan tetap saya pertahankan. Baik penugasan oleh partai, komisi, fraksi atau kegiatan lainnya sebagai anggota parlemen, akan saya sampaikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung-jawaban saya.</p>
<p>Kelima, bertugas sampai akhir masa jabatan di parlemen. Saya tidak akan tergoda menjadi calon gubernur, bupati, walikota, duta besar atau menteri dan bahkan presiden dan wakil presiden sekalipun. Bagi saya, pilihan menjadi anggota parlemen adalah pilihan terhormat. Saya harus hormati pilihan rakyat dan tidak akan mengubah pilihan itu sampai akhir masa jabatan. Seorang Barrack Obama, dalam konteks kini, atau singa-singa podium semacam Agus Salim, Natsir, Muhammad Yamin, HAMKA dan Syahrir dalam konteks dulu, tidak akan lahir tanpa diasah lewat perdebatan sengit di parlemen.</p>
<p>Di tingkat Partai Golkar, saya menyediakan diri untuk membentuk semacam lembaga think tank internal, sebut saja The Golkar Institute. Memang selama ini sudah ada Badan Penelitian dan Pengembangan, tetapi jauh lebih baik sebuah partai politik melahirkan lembaga think-tank-nya sendiri. Pembentukan sejumlah Center dan Institute yang bersifat personal selama ini menurut saya belum bisa melakukan implementasi atas rekomendasi yang dihasilkan, hanya sebatas gagasan.</p>
<p>Sudah lama ide ini saya dorong dilakukan oleh partai politik, tetapi sampai sekarang belum banyak yang menerapkannya. Partai politik moderen selayaknya memiliki institusi-institusi pengkaderan dan pengetahuan yang baik, kalau perlu mengembangkan semacam kampus-kampus kecil, guna memajukan pemikiran dan ideologi politiknya.</p>
<p>Tentu, saya masih memiliki sejumlah agenda lain. Tetapi kurang elok kalau disampaikan semua dalam kesempatan ini. Loyalitas, konsistensi, komitmen dan integritas menurut saya jauh lebih penting, ketimbang hanya sekadar kekuasaan. Menjadi presiden sekalipun tetap tidak akan terhormat, kalau rakyat ditinggalkan dalam keadaan papa dan menderita.</p>
<p>Terima Kasih</p>
<p>Tentu, saya berterima kasih kepada teman-teman partai politik lain yang juga mengundang saya bergabung, terutama PAN, PDIP, dan PMB. Saya tidak merasa malu untuk mengatakan permohonan maaf saya. Kehadiran teman-teman partai lain dalam forum ini menunjukkan bahwa saya tidak sedang mencari musuh, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya, dalam lapangan politik praktis.</p>
<p>Saya juga berterima kasih atas sambutan yang hangat dari teman-teman, adik, kakak, abang, saudara, saudari, serta orang-orang tua di Partai Golkar. Sungguh saya merasa terkejut ketika menyadari bahwa Partai Golkar tidak menaruh dendam atas kehidupan profesional saya selama ini.</p>
<p>Bahwa saya berbeda pendapat dengan Partai Golkar, misalnya dalam soal pemenang Pilkada Maluku Utara atau Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak atau Sistem Proporsional Terbuka Tanpa Nomor Urut, sehingga merugikan citra Partai Golkar, adalah bagian dari kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa sekarang ini saya akan bekerja membesarkan partai ini adalah kehidupan profesional berikutnya di bidang politik. Saya ingin profesional di dunia politik, seprofesional saya sebagai analis, peneliti, pembicara dan kolomnis.</p>
<p>Kepada institusi tempat saya menyepi dan menyendiri dalam kamar yang dipenuhi debu dan buku, Centre for Strategic and International Studies (CSIS), saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan sejak 1 Desember 2000. Saya sungguh banyak belajar atas konsep Nalar Ajar Terusan Budi, sikap ketelanjangan dalam membaca dan menerima ilmu pengetahuan.</p>
<p>Ada banyak tangan yang telah membentuk dan menyentuh saya dalam lembaga ini: Pak Daoed Joesoef, Pak Jusuf Wanandi, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Djisman Simanjuntak, Mas J Kristiadi, Pak Hadi Soesastro, Mbak Clara Juwono, Bu Mari Pangestu, Bang Rizal Sukma, Bang Kusnanto Anggoro, Mas Tommi Legowo, Bu Asnani Usman, Bang Pande Radja Silalahi, Mas Edy Prasetyono, Mbak Medelina K Hendytyo, Mas Raymond, Mas Haryo, Mas Faustinus Andrea, Mas Bantarto Bandoro, Nico Haryanto, Ari A. Perdana, Arya Gaduh, Yose Rizal Damuri, Kurnia Roesad, Philips Jusario Vermonte, Christine Susanne Tjin, Puspa Delima Amri, Lina Alexandra, Alexandra Retno Wulan, Syafiah Fifi Muhibat, Imelda Maidir, Uni Titik Anas, Mas Djadiono, Mas Made, Mas Dibyo, Mas Anton Djawamaku, Mas Ismanto, Bang Udin Silalahi, Begi, Sunny, Donny, Teguh, Landry, dan semua nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya di CSIS setelah pidato ini, karena memang saya tidak meminta izin khusus.</p>
<p>Kepada kalangan jurnalis, saya mengucapkan terima kasih. Kalian adalah teman sejati yang paling setia, tidak lelah menelepon atau bertanya kepada saya. Saya tidak pamitan, karena sebagai politikus saya tentu membutuhkan kerjasama berikutnya.</p>
<p>Kepada teman-teman, sahabat-sahabat, serta kolega saya yang bahu-membahu menjadi pengamat sosial, politik, hukum, agama, dan lain-lainnya, serta kalangan aktivis masyarakat sipil, saya meminta izin untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan nanti dalam analisa kalian.</p>
<p>Jangan kampanye positif untuk saya, kalau apa yang saya lakukan memang tidak berbuah kepada kebaikan buat orang banyak. Kritiklah saya setajam mungkin, kalau perlu dengan mencari sembilu pada pohon bambu di kampung saya nanti. Buat mata saya perih, hati saya tersayat, serta harga-diri saya luka, ketika kalian menulis tentang program yang saya tawarkan yang tidak sesuai dengan pikiran hati kalian.</p>
<p>Kalau di politik terkenal adagium tiada musuh yang abadi, justru saya minta agar dijadikan sebagai musuh abadi Anda, maka saya tetap menawarkan persahabatan sejati kepada Anda. Dan jangan lupa untuk menyumbang ke rekening khusus yang saya buka, sebagai dana kampanye nanti. Jelas saya tidak punya uang yang cukup dari honor menulis, berbicara atau menjadi konsultan, sebagai modal masuk ke dunia politik. Saya tidak memiliki modal material, tetapi saya punya modal sosial dan modal ilmu pengetahuan.</p>
<p>Apatisme hanya membuat kita kehilangan waktu yang terlalu banyak untuk menangisi keadaan. Adagium yang sering dikatakan oleh Syahrir menyebut: Janganlah Mengutuk Kegelapan, Mulailah Menyalakan Lilin. Barangkali, pilihan saya bergabung dengan Partai Golkar hanyalah nyala sebatang lilin pada kegelapan malam. Satu tiupan angin lembutpun bisa memadamkannya..</p>
<p>Padi Menguning di Rengas Dengklok.</p>
<p>Kapas Mengelupas Jatuh ke Perigi.</p>
<p>Pusaka Dibawa Para Saudagar.</p>
<p>Jaketku Kuning di Kampus Depok.</p>
<p>Samalah Nian dengan di Slipi.</p>
<p>Padi dan kapas akan berkibar.</p>
<p>Wabillahi Taufik Walhidayah</p>
<p>Wassalamu'alaikum Wr Wb.</p>
<p>Jakarta, 06 Agustus 2008</p>
<p>)* Tulisan ini sebelumnya naskah pidato Indra Jaya Piliang (Indra J. Piliang) dalam "Transformasi Indra Jaya Piliang: Dari Analis Politik ke Politisi", yang dibacakan di Aula Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto Jakarta, tanggal 06 Agustus 2008. Naskah ini diterbitkan PadangKini.com seizin Indra Jaya Piliang. Bisa juga iakses melalui www.indrapiliang.com.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RIZAL MALLARANGENG 2009]]></title>
<link>http://protapanuli.wordpress.com/?p=54</link>
<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 02:06:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>protapanuli</dc:creator>
<guid>http://protapanuli.id.wordpress.com/2008/08/06/rizal-mallarangeng/</guid>
<description><![CDATA[Rizal Mallarangeng di Pulau Banda Maluku
Oleh: Petrus M. Sitohang
Kalau kita perhatikan ada sebuah f]]></description>
<content:encoded><![CDATA[[caption id="attachment_57" align="alignnone" width="360" caption="Rizal Mallarangeng di Pulau Banda Maluku"]<a href="http://protapanuli.files.wordpress.com/2008/08/rizal-mallarangen-di-banda1.jpg"><img class="size-medium wp-image-57  " src="http://protapanuli.wordpress.com/files/2008/08/rizal-mallarangen-di-banda1.jpg?w=300" alt="Rizal Mallarangen di Pulau Banda Maluku" width="360" height="220" /></a>[/caption]
<p>Oleh: <strong>Petrus M. Sitohang</strong></p>
<p>Kalau kita perhatikan ada sebuah fenomena baru dalam pentas perpolitikan Indonesia akhir-akhir ini. Bukan tentang partai-partai politik baru yang akan turut berlaga meramaikan pesta demokrasi Indonesia tahun depan. Ia adalah seorang figur muda yang bernama Andi Rizal Mallarangeng atau lebih populer dikenal dengan nama Rizal Mallarangeng saja. Rizal dilahirkan di Makassar 29 Oktober 1964 dari pasangan Andi Mallarangeng dan Andi Asny. Dia memperoleh gelar sarjana Ilmu Sosial dan Politik dari Universitas Gajah Mada dan PhD. dari OSU Columbia Amerika Serikat.<!--more--></p>
<p>Rizal Mallarangeng dikenal publik Indonesia sebagai penulis dan komentator masalah-masalah politik Indonesia. Saat ini dia menjabat sebagai Direktur sebuah LSM Freedom Institute dan staff ahli Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada kabinet presiden Susilo Bambang Yudhoyono.</p>
<p>Sejak dua bulan terakhir ini pemirsa televisi atau pembaca media cetak di Indonesia disuguhi sebuah iklan yang tidak umum. Rizal mendeklarasikan kesiapannya untuk menjadi pemimpin nasional Indonesia. Dengan kata yang lebih lugas di websitenya Rizal menyebut kesiapannya untuk dipilih menjadi calon presiden Indonesia dalam pemilu tahun 2009.</p>
<p>Ada beberapa alasan yang dikemukakan Rizal untuk melakukan ini semua. Pertama, Rizal menilai kalau konstituen Indonesia hanya disodori pilihan yang itu-itu saja seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Sukarnoputri, Abdurrahman Wahid, Amin Rais dan Wiranto, Indonesia tidak akan maju atau malah stagnan. Menurut Rizal, dunia bergerak terus dan Indonesia harus turut bergerak dan berubah. Dalam pemahaman Rizal perubahan itu dimaksudkan sebagai perlunya perubahan kepemimpinan dari golongan tua kepada yang muda. </p>
<p>Kedua, Rizal dimotivasi oleh perubahan kepemimpinan di Rusia yang saat ini dipimpin oleh tokoh muda yaitu presiden <span style="font-size:x-small;"><strong>Dmitry Medvedev</strong> </span> yang saat ini baru berusia 44 tahun dan keberhasilan <strong>Barack Obama</strong> menjadi calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat.  Kedua perubahan tersebut dimotori oleh generasi pemimpin muda yang berhasil menngkatkan antusiasme publik di kedua negara besar tersebut pada politik.</p>
<p>Sebenarnya publik di Indonesia masih sulit untuk mengetahui gambar besar gagasan yang ingin diusung oleh Rizal untuk pantas mendapat dukungan rakyat Indonesia seperti yang didapatkan oleh Medvedev di Rusia atau Obama di Amerika. Kondisi kedua tokoh dari dua negara besar itupun ketika maju dalam pemilihan presiden di negaranya berbeda jauh dari kondisi Rizal Mallarangeng saat ini. Medvedev adalah mantar Perdana Menteri pada masa kepemimpinan Presiden Putin yang juga berperan besar mendukungnya dalam pemilu presiden Rusia. Obama adalah aktivis sosial yang sejak kuliah sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai calon tokoh besar ketika dia tampil sebagai mahasiswa kulit hitam pertama menjadi ketua organisasi mahasiswa fakultas hukum di Harvard yang prestisius itu. Saat ini Obama adalah seorang Senator Amerika Serikat yang sejak awal sudah menunjukkan gagasan orisinalnya di tengah-tengah landsekap politik Amerika yang disebutnya telah mejadi "kuburan bagi gagasan-gagasan cemerlang Amerika". Dengan latar belakang seperti itu, publik di Rusia dan Amerika telah memiliki gambar besar pemimpin yang akan mereka pilih saat pemilu tiba.</p>
<p>Apa yang telah diperbuat seorang Rizal Mallarangeng selama ini. Ya dia memang seorang mahasiswa yang cerdas. Komentator politik yang disukai. Dia adalah seorang muda yang terdidik dan santun. Dia memahami inspirasi terdalam sejarah kebangkitan nasional dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namum hanya itu yang sejauh ini telah dia buktikan. Dan Rizal juga bukan pengurus teras sebuah partai politik Indonesia yang turut belaga dalam Pemilu tahun 2009 nanti.</p>
<p>Apakah itu cukup bagi konstituen Indonesia untuk mengalihkan pandangan kepada Rizal? Apakah itu semua akan cukup meyakinkan bagi partai politik yang memiliki hak untuk mengajukan seorang calon presiden untuk dipilih dalam pemilu tahun depan? Tanpa bermaksud mengurangi apa yang telah dilakukan dan dicapai Rizal selama ini, termasuk iklan-iklannya di media masa Indonesia akhir-akhir ini yang sangat inspirasional itu, rasanya Rizal masih jauh dari kaliber seorang Medvedev atau Barack Obama.</p>
<p>Namun satu hal yang sangat jelas bagi bangsa ini, dan yang mungkin membuat kehadiran seorang Rizal Mallarangeng menjadi relevan adalah bahwa stok calon-calon pemimpin Indonesia  yang selama ini mendominasi pemberitaan media massa nasional seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati SUkarnoputeri, Gus Dur, amin Rais dan Wiranto sudah sepantasnya turun. Selama sepuluh tahun ini mereka telah terbukti tidak punya komptensi atau integritas yang memadai untuk memimpin negara besar dengan kekayaan alam yang sangat besar ini. Mereka semua telah gagal untuk memanfaatkan momentum reformasi yang dibayar dengan ribuan nyawa mahasiswa, anak-anak, perempuan, suami, isteri dan orang-orang tua tak berdosa pada saat awal gerakan reformasi tahun 1998 yang lalu.</p>
<p>Dalam perspektif inilah tawaran Rizal untuk meminta diberi kesempatan  memimpin negeri ini menjadi layak untuk dipertimbangkan. Saya ingin mendoakan semoga banyak orang Indonesia lainnya sejalan pemikirannya dengan saya. Dan saya ingin mendoakan agar Rizal berhasil dengan selamat dan baik-baik selalu.</p>
<p>HORAS saudaraku <strong>Rizal Mallarangeng</strong>!</p>
<p><strong><a href="http://sitohangdaribintan.blogspot.com">Petrus M. Sitohang</a></strong>, seorang akuntan lulusan Universitas Brawijaya Malang. Saat ini bekerja pada sebuah PMA di Kawasan Perdagangan Bebas Bintan dan Tenaga Ahli DPRD Tanjungpinang khusus untuk masalah-masalah anggaran dan keuangan daerah. Juga aktif sebagai Ketua Komisariat Daerah Pemuda Katolik Prov. Kepulauan Riau dan Wakil Ketua DPD KNPI Prov. Kepulauan Riau.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dr Sjahrir (1945-2008)]]></title>
<link>http://urangminang.wordpress.com/?p=153</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 14:12:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
<guid>http://urangminang.id.wordpress.com/2008/07/29/dr-sjahrir-1945-2008/</guid>
<description><![CDATA[Ekonom Pendiri PIB
 Innalillahi wa’inna illaihi rojiuun! Satu lagi kita kehilangan tokoh nasional ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ekonom Pendiri PIB</strong></p>
<p><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><em> Innalillahi wa’inna illaihi rojiuun! Satu lagi kita kehilangan tokoh nasional asal Minangkabau,</em> </span></span></p>
<p><a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2008/07/sjahrir.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-154" src="http://urangminang.wordpress.com/files/2008/07/sjahrir.jpg?w=145" alt="" width="145" height="192" /></a>Ekonom Dr Sjahrir, yang akrab dipanggil Ciil, pendiri Partai Indonesia Baru (PIB) meninggal dunia di RS Mount Elizabeth, Singapura, Senin 28 Juli 2008 sekitar pukul 08.00 WIB. Aktivis Malari yang terakhir menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi, itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa 29 Juli 2008.</p>
<p>Sjahrir meninggal akibat menderita penyakit kanker. Jenazah tiba Senin pukul 20.55 dan disemayamkan di rumah duka Jalan Sukabumi Nomor 15, Menteng, Jakarta Pusat. Sejumlah tokoh datang melayat. Di antaranya para rekannya di Dewan Pertimbangan Presiden, seperti Ali Alatas, Rachmawati Soekarnoputri, Adnan Buyung dan Emil Salim.</p>
<p>Sekitar pukul 22.00, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ny Ani Yudhoyono juga melayat di rumah duka. Juga beberapa menteri, di antaranya Menteri Keuangan/Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Gubernur BI Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg LH Rachmat Witoelar. Juga Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan Akbar Tandjung.</p>
<p>Ciil meninggalkan istri, Kartini, serta dua anak, Pandu dan Gita. Sjahrir adalah anak tunggal pasangan mantan Bupati Magelang, Ma'moen Al Rasyid (almarhum) dan Rusma Malik (almarhumah).</p>
<p><!--more-->Semasa hidupnya, Sjahrir menggeluti berbagai gerakan sosial-politik. Mulai dari aktivis mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Menggugat pada awal tahun 1970, mengakibatkan Ciil ditahan selama lima hari di markas brigade mobil di Jalan Guntur, Jakarta. Kemudian akibat gerakan mahasiswa yang oleh pemerintah disebut sebagai Malari (Malapetaka Limabelas Januari), ia juga dipenjara selama empat tahun pada masa Orde Baru.</p>
<p>Pada era reformasi, Sjahrir mendirikan sekaligus memimpin sebagai Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Baru (PIB). Perhimpunan ini dikembangkan menjadi Partai Indonesia Baru (PIB). Presiden Yudhoyono kemudian mengangkatnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi.</p>
<p>Ekonom lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1973 dan master dan doktor bidang ekonomi, politik, dan pemerintahan Harvard University, AS, tahun 1983, itu aktif sebagai anggota Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), American Economic Association (AEA), dan International Advisory Board, Bulletin of Indonesia Economics Studies, Department of Economics, Research School of Pasific Studies, dan Australia National University.</p>
<p><strong>Dr. Sjahrir<br />
Menyongsong Indonesia Baru</strong></p>
<p>Pria tambun yang cerdas ini diangkat Presiden SBY menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Mantan aktivis dan alumni FEUI (1973) ini seorang ekonom yang juga merambah ke dunia politik dengan mendirikan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (23-9- 2002. Namun partainya yang tadinya diharap bisa menjadi penerang yang membuka jalan menyongsong Indonesia Baru, Indonesia yang demokratis, berkeadilan dan majemuk, belum berhasil meraih suara signifikan dalam Pemilu 2004.</p>
<p>Sebagai ekonom, Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB), ini banyak menulis buku tentang masalah kemiskinan dan kebutuhan pokok, ekonomi politik dan dunia pasar modal.</p>
<p>Ia sudah menjadi berita sejak demonstrasi mahasiswa menentang korupsi pada awal 1970-an. Namanya semakin tersiar setelah ia mendekam di penjara selama tiga tahun sepuluh bulan lebih akibat Peristiwa Malari, 15 Januari 1974.</p>
<p>Cikal bakal pendirian Partai PIB yang didukung oleh paling sedikitnya 34 orang tokoh negeri ini banyak didorong keinginan anggota dan simpatisan Yayasan Padi dan Kapas - yayasan yang diketuai oleh Sjahrir sendiri - yang berkeinginan melakukan hal konkret bagi bangsa ini. "Daripada sibuk mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan lilin, bisa jadi sinyal untuk mengubah zaman Kaliyuga dengan turut meramaikan Pemilu 2004" demikian sang deklarator mengemukakan alasan pendirian partainya.</p>
<p>Meskipun sudah jadi partai politik, namun Perhimpunan Indonesia Baru masih tetap menjalankan fungsinya sebagai pemantau bagi parlemen dan pemerintah. Hal mana sudah dibuktikan dengan usulan PIB sebelum menjadi partai politik, dengan mengusulkan Rancangan Ketetapan Pemulihan Ekonomi kepada MPR. Hasrat untuk bersikap oposan kepada penguasa sudah jadi tekad bulat mereka.</p>
<p>Sjahrir dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, 24 Februari 1945 dari ayah dan ibu keturunan minang. Menurut horoskop Cina, dia bernaung di bawah shio ayam (khe), pahlawan yang gagah berani, yang memberitahukan datangnya pagi serta dimulainya hari, dan yang menatap ke bumi kalau sedang mencari makan. Ayam tergolong binatang yang paling tidak dimengerti dan eksentrik dalam siklus Cina. Hatinya konservatif dan kuno. Warga ayam yang laki-laki, biasanya menarik. Dia adalah keluarga unggas yang berlagak bagai pangeran dan bangga akan bulu-bulunya yang bagus, gemar berdebat, dengan stamina yang mengagumkan.</p>
<p>Horoskop Cina itu memang cocok dengan dirinya, staminanya memang mengagumkan. Dia bisa berbicara pada empat seminar dalam sehari. Ketika hujan undangan seminar itu datang padanya, Sjahrir, yang punya kemampuan mentertawakan dirinya sendiri, ini berkata, "Gue udah jadi Dorce sekarang."</p>
<p>‘Ciil' nama kecil Sjahrir seorang pria yang ramah, pintar dan berapi-api tetapi sekaligus jenaka. Bahkan Majalah Matra menulisnya " ... dalam derai tawanya, ekonom kondang ini tetap mampu menyampaikan pikiran-pikirannya dengan jernih dan jelas. Jenaka pun bisa!".</p>
<p>Ekonom bertubuh tambun yang digelari teman-temannya ‘si gendut' ini memang seorang periang dan hangat bila bicara. Wartawan-wartawan ekonomi yang sering menyaksikannya tampil di seminar menyebut dia sebagai ‘orang panggung yang menguasai forum'. Masalah yang dia bicarakan sering tambah menarik karena keterampilannya mempertemukan fenomena ekonomi dan fenomena politik. Juga kemampuannya melontarkan joke juga sering membuat "Sjahrir Show" jadi berhasil.</p>
<p>Pria yang pandai menirukan aksen dan gaya orang berbicara ini, bisa lucu kalau dia berniat untuk kocak. Tapi ketika dia tidak berniat melawakpun, tingkah lakunya bisa dibuat jadi obyek tertawaan oleh kawan-kawannya, bahkan sering jadi bulan-bulanan.</p>
<p>Ada banyak cerita yang menempatkannya menjadi obyek cerita yang menggelikan. Satu di antaranya adalah pengalaman tahun 1993 silam ketika sebuah seminar di Jakarta mengundangnya jadi pembicara. Dengan pakaian lengkap: pakai jas dan berdasi dia berangkat. Di sana dia jadi salah seorang pusat perhatian. Tapi tidak disadari ada sesuatu yang tak beres pada dirinya. Ketika kembali ke kantornya di Jl. Teuku Cik Ditiro, tetap belum disadari sesuatu yang tak beres tersebut. Sekembalinya dia ke rumahnya di Pamulang dan berganti pakaian, disitulah tiba-tiba terdengar teriakan Ciil memanggil isterinya, "Waaah, Ker ... Sepatu gue beda kiri sama kanan."</p>
<p>Menurut cerita Ker, -panggilan Kartini, istrinya yang kemudian membocorkan pengalaman tersebut- sepatu yang dipakainya itu sama-sama cokelat. Desain sepatu itu hanya sedikit berbeda. Ketebalan tumitnya juga sedikit berbeda. Perbedaaan-perbedaan itu tidak dilihat Sjahrir ketika mengambil sepatu tersebut karena berangkat subuh sebagaimana biasa dengan terburu-buru.</p>
<p>Untuk meyakinkan dirinya apakah ada atau tidak orang yang memperhatikan sepatunya, dia mengingat-ingat kembali pengalamannya sepanjang siang itu, "Pantas, rasa-rasanya jalan gue kok nggak enak tadi," kata Kartini menirukan Ciil. Dia menyesalkan betul, kenapa di kantornya tidak ada orang yang melihat dan memberi tahu bahwa sepatu berbeda<br />
Banyak cerita menggelikan mengenai dirinya. Ada yang direkam dan diedarkan kawan-kawannya sendiri di "lingkungan terbatas". Ada lagi yang bersumber dari bocoran-bocoran Kartini. Tapi tak sedikit pula yang dikarang, dan menjadikannya sebagai tokoh konyol dalam cerita itu. Teman-temannya begitu senang menjadikannya sebagai alasan untuk tertawa.</p>
<p>Kadang cerita itu bahkan menjadikannya sebagai orang bodoh. Seperti cerita yang beredar dari lapangan sepakbola Gelanggang Mahasiswa Kuningan. Ketika kesebelasan Betah (bekas tahanan) sering bermain bola di sana. Suatu kali dia amat senang dan berjingkrak-jingkrak setelah menendang bola ke gawang dan masuk. Padahal, kata cerita itu, gawang yang dibobolnya itu gawang dia sendiri. Ketika kepadanya diberi tahu bahwa gawang itu adalah gawangnya sendiri, dia malah ngotot, "Nggak bisa dong."</p>
<p>Sebenarnya dia tahu kelakuan kawan-kawannya ini, tapi agaknya dia tidak hirau betul. Dia juga mengetahui istrinya sering jadi sumber bocoran. Oleh karenanya, ketika di Yayasan Padi dan Kapas misalnya, jika dia memergoki isterinya 'ngerumpi dengan kawan-kawannya, dia pasti bertanya sembari cengar-cengir, "Cerita apa lagi, lu Ker? Lama-lama gue lihat, berbahaya lu." Kartini tenang mendengar pertanyaan seperti ini, dan menjawab dengan, "Lu kok curiga banget?!"</p>
<p>Lu dan gue adalah panggilan sehari-hari yang dipakai oleh suami-isteri ini. Bisnis Indonesia Minggu pernah menulis: ‘Sjahrir dan Kartini adalah pasangan yang seia dan serasi dalam kesuburan badan'.</p>
<p>***</p>
<p>Anak satu-satunya pasangan Ma'amoen Al Rasyid dan Ny. Roesma Malik ini bersama kedua orangtuanya menghabiskan sebagian besar hidup mereka di Pulau Jawa: di Jakarta, Kudus, Yogyakarta, Magelang dan Surabaya. Ayahnya, Ma'amoen Al Rasyid (1904-1980), adalah pegawai BB (Binnenlandse Bestuur) dengan jabatan akhir bupati diperbantukan di Magelang, dan pernah mengenyam pendidikan kedokteran di Stovia, Jakarta. Ibunya, Ny. Roesma Malik (1915-1984), adalah pegawai Inspektorat Pendidikan Kewanitaan, Departemen P dan K, pernah mendapatkan pendidikan di Syracuse University, New York pada awal 1950-an. Ibunya ini adalah seorang wanita yang tegar, terpelajar, dan berdisiplin tinggi. Dalam hal disiplin, Sjahrir banyak dipengaruhi oleh sang bunda ini.</p>
<p>Dalam hal disiplin, Kartini - istrinya, pernah mengeluh bahwa melakukan perjalanan dengan suaminya itu bukan hal yang mudah, sekalipun untuk bersenang-senang. Dia akan menetapkan, harus berada di airport dua jam sebelum penerbangan, sekalipun itu untuk penerbangan domestik dan dilayani oleh perusahaan penerbangan yang sering memakai jam karet. Begitu sampai di tempat tujuan, dia biasanya segera melakukan konfirmasi pesawat untuk perjalanan berikutnya meskipun dia dapat melakukannya keesokan harinya.</p>
<p>Keteraturan dan kepastian waktu dilakukannya sampai dalam menghadiri pesta sekalipun. Kalau pesta dimulai pukul 19.00, bisa dipastikan dia berada di sana persis pada jam tersebut. Karena itu pula dia sering menjadi tamu pertama di pesta perkawinan, yang kadang-kala pengantinnya sendiri bahkan belum tiba di tempat perhelatan.</p>
<p>Suatu kali, dengan agak mengomel, dia mengatakan bahwa orang Indonesia merasa dirinya menjadi kurang penting kalau hadir atau datang tepat pada waktunya. Makin tinggi jabatan atau makin menjadi tokoh publik, makin besar kecenderungan untuk terlambat hadir. "Bagaimana mau maju? Bagaimana bisa bicara teknologi tinggi yang memerlukan presisi yang begitu rupa? Bagaimana bisa bersaing dengan luar?" katanya. Kalimat-kalimat ini biasanya dia utarakan kalau ada koleganya yang tidak menepati janji tepat pada waktunya.</p>
<p>Pria yang bicara dengan logat Betawi namun menurut isterinya, agak "Koto Gadang", juga "Mentengist". Disebutkan warna Koto Gadangnya agak kentara, dan " Mentengist" karena dia sering bangga akan dirinya, seperti ayam yang menurut horoskop Cina tadi bangga akan bulunya yang elok. Sebagian besar masa kecil dan remajanya memang dilewatinya dalam lingkungan keluarga ayahnya, orang Koto Gadang, Bukittinggi, seperti halnya dengan orang Koto Gadang lainnya pada 1950-an yang bertempat tinggal di Menteng mengikuti posisi mereka sebagai pejabat atau pegawai pemerintahan. Dia tinggal di rumah besar keluarga Dr.Zakir di Jl Prapatan yang sekarang menjadi Hotel Aryaduta. Ketika rumah itu dijual untuk dijadikan hotel, dia ikut pindah ke Jalan Sumbawa sampai dia menikah.</p>
<p>Walau disebut ‘Mentengist', namun semasa kecil dan remaja, dia hanya anak dan remaja sederhana. Sementara anak-anak Menteng lain sering naar boven, Ciil kecil tinggal menunggu rumah. Ketika remaja Menteng mengendarai sedan Dodge Dart atau Impala, Ciil hanya ikut nebeng.</p>
<p>Pada saat remaja Menteng menjadi pemuka dalam fashion, Ciil tampil dengan celana khaki, kemeja putih dan sandal Bata. Kehidupan yang begitu sederhana dan kontras dengan kehidupan Menteng-Buurt tidak membuat dirinya bitter. Dia tetap ceria. Dia nikmati masa remaja dan masa mahasiswanya, akrab dengan teman-temannya dari kalangan the haves dan tidak pernah merasa kurang dari mereka.</p>
<p>Kementengannya itu pulalah yang membawa Ciil masuk Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta) yang hingga akhir 1960-an populer dengan salam Ahoi-nya. Imada memang menyandang kesan elite, apalagi para mahasiswa anggotanya punya motto "buku, pesta dan cinta". Mereka yang cemburu pada ormas ini menyebut Imada sebagai "ikatan mahasiswa dansa" atau "ikatan mahasiswa sepatu roda".</p>
<p>Sebagai aktivis mahasiswa Ciil mulai dari sini. Lewat Imada pula dia kemudian terpilih menjadi Sekjen Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Ul, tetapi kemudian kalah suara ketika mencalonkan diri untuk jadi Ketua Umum Dewan Mahasiswa Ul.</p>
<p>Sehari-hari sekarang Sjahrir sibuk oleh pekerjaannya sebagai Managing Director pada Institute for Economic and Financial Research (Ecfin), lembaga riset yang dia rintis bersama-sama Dr. Slangor (almarhum), Dr. Mari E. Pangestu dan Adril Sulaeman, MA. Sjahrir juga menjadi Ketua Yayasan Padi dan Kapas, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat; menjadi konsultan dan penasehat pada beberapa bank perusahaan publik dan media publikasi; serta juga bergerak dalam usaha di pasar modal dan pasar uang. Sejak 1994 Sjahrir menjadi narasumber pada Dewan Sosial Politik ABRI.</p>
<p>Selain jadi pengajar di FEUI, Sjahrir mengajar pula di Fakultas Pasca Sarjana, UI, Jurusan Ekonomi; Program Magister Management, Universitas Airlangga, Surabaya, dan pengajar di Lembaga Studi Ilmu Sosial. Sjahrir tamat dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1973.</p>
<p>Setelah beristirahat di penjara selama tiga tahun sepuluh bulan lebih, akibat Peristiwa 15 Januari 1974, dia menikah dengan Kartini Panjaitan (1977) dan kemudian berangkat ke Boston, Amerika Serikat untuk program pasca sarjana. Tahun 1980 dia mendapatkan gelar Master in Public Administration (MPA) dari J.F. Kennedy School of Government, Harvard University. Tiga tahun kemudian, 1983, masih dalam status tahanan politik dia memperoleh gelar Ph.D dalam Political Economy and Government, dari Harvard University, dan pulang ke Indonesia.</p>
<p>Ketika di Boston itu pulalah dua anak mereka lahir: Pandu dan Gita. Pandu telah lulus dari University of Chicago dengan major economics dengan gelar BA dan sekarang bekerja pada Lehman Brothers di Hong Kong. Gita telah menamatkan SMU di Phillips Academy di Andover dan bahkan telah menjadi mahasiswi di University of Chicago. Dari sikapnya terhadap kedua kedua anaknya, kata Kartini, terlihat bagaimana dia melihat pendidikan, yang menurut Ciil harus melahirkan manusia professional. Profesionalisme menciptakan kompetisi. Kompetisi menghasilkan produk unggul dan inovasi. Manusia Indonesia mendatang adalah manusia yang siap bertarung di pasar tenaga kerja dunia.</p>
<p>Sejak dini dia tanamkan pada anak-anaknya bahwa yang akan mereka warisi dari dirinya hanyalah pendidikan yang terbaik dan watak. Sikap tegasnya ini cukup tampak pada kedua anaknya, yang percaya bahwa kelak mereka harus mencari hidupnya sendiri. Pandu, misalnya, tumbuh menjadi anak yang sangat sederhana, rendah hati dan apa adanya. Bagi Pandu tidak jadi soal ikut orangtuanya ke pusat perbelanjaan dengan memakai kaus yang jahitan pada bagian ketiaknya lepas. Karena dia memang begitu, ibunya hanya bisa mengingatkan agar Pandu jangan sekali-kali mengangkat tangannya.</p>
<p>Isteri dan anak adalah inti kehidupan bagi Ciil. Ini mungkin datang dari latar belakang kehidupannya di masa kecil, yang tidak mengalami kebahagiaan seperti anak-anak lain pada masanya. Isteri dan kedua anaknya mendapat perhatian yang khusus dalam pengertian yang sesungguhnya dari dia. "Ini kerap membuat kami terharu," kata Kartini. Kartini, doktor dalam bidang antropologi, adalah dosen pasca sarjana di Universitas Indonesia. Anak-anaknya dia anjurkan membaca sebanyak mungkin. Gita, misalnya, diberi PR antara lain membaca The Jakarta Post setiap hari. Si anak, yang sering kali lupa membaca, kadang-kadang kelihatan agak jengkel setiap kali ditanya. Begitupun, Ciil tetap saja pada pendapatnya, Gita mesti membaca koran. Tidak cukup dengan itu, dia akan menyodorkan suratkabar itu ke hadapan si anak.</p>
<p>Di samping memberi tugas seperti ini, dia juga senantiasa menyediakan waktu berbicara mengenai apa saja, khususnya ilmu ekonomi dengan Gita. Ini biasanya terjadi pada saat dia sedang duduk ngelonjor pakai sarung dan mengenakan kaus oblong sembari menonton televisi. Gita duduk di pangkuannya. Lalu dia mulai mengajar puterinya itu mengenai: sistem ekonomi, mengenai perbankan, pasar dan koperasi. Cara penyampaiannya dibuat begitu sederhana disertai dengan contoh-contoh kasus, sehingga tidak mengherankan pengetahuan dan pemahaman Gita mengenai ilmu ekonomi dan koperasi cukup mendalam.</p>
<p>Ciil tampaknya punya keinginan besar untuk mewariskan pengetahuannya kepada Gita ketimbang Pandu. Itu mungkin karena dia melihat bahwa minat Pandu yang terbesar hingga saat ini adalah matematika-fisika dan menulis cerita pendek. Tapi Gita sendiri kalau ditanya ingin jadi apa kelak, menjawab "ingin jadi pemain drama". Apakah punya cita-cita menjadi ekonom seperti ayahnya? Jawabannya, "Tidak', selama dia masih mungkin jadi penari atau pemain drama.</p>
<p>Dengan Pandu, Ciil banyak berbicara mengenai berbagai literatur dari kelas sastra sampai dengan kelas picisan, juga tentang permainan basket NBA, kegemaran mereka berdua. Ciil membiasakan kedua anaknya untuk sering menulis apa saja yang dilihat, didengar dan dipikirkan. Agaknya, kesukaannya menulis turun pada kedua anaknya, terutama Pandu.</p>
<p>Kegiatan menulis, lazimnya berpasangan dengan membaca. Dalam urusan membaca ini, menurut cerita, pada usia delapan tahun Ciil sudah membaca sembilan suratkabar setiap hari. Kini dia berlangganan sedikitnya 11 koran dan selusin majalah, baik dalam maupun terbitan luar negeri.<br />
Secara rutin dia membaca book review di The New York News dan New York Times Review of Books, secara periodik membeli jurnal ilmiah seperti Daedalus. Dia juga membaca dan mengumpulkan puluhan novel dari yang 'rada picisan' sampai yang bernilai sastra. Tidak berhenti pada novel, Ciil punya kegemaran khusus, mengumpulkan buku-buku yang berisi nasehat atau lelucon, baik yang disajikan dalam bentuk syair maupun cerita.</p>
<p>Kumpulan buku nasehat yang disukainya dan tetap dibaca hingga sekarang, ditaruhnya di salah satu rak di dekat meja mejanya: The Book of Virtues karangan William Bennett dan Letter to Sabine.</p>
<p>Ciil juga gemar membeli majalah mengenai permainan basket, majalah mengenai mobil dan motor. Begitu juga majalah ringan seperti Jakarta-Jakarta, dan Humor. Kapan dia punya waktu untuk membaca semua itu? Kapan-kapan saja, dan pada setiap tempat. Itu sebabnya, ke mana saja dia bepergian, jauh atau dekat, ke kantor atau ke luar negeri bacaan selalu ada di dekatnya. Buku itu belum tentu dibaca di tempat tujuan, apalagi kalau dia terlalu lelah atau kekenyangan. Tetapi dia bagaikan terasa menikmati sesuatu jika buku itu terus ada di dekatnya.</p>
<p>Siapa pun yang berkunjung ke rumah atau ke kantornya akan menemukan tumpukan buku di mana-mana. Sekretarisnya --Poppy Soeyono-- selalu khawatir kalau-kalau buku di rak di belakang dan di samping meja kerjanya jatuh menimpa Ciil, karena rak tersebut sudah kelebihan beban.</p>
<p>Tumpukan buku yang mengelilinginya itu tak pernah dapat mengendurkan niatnya untuk mengurangi kehausannya membeli buku. Yang paling runyam adalah kalau dia pergi ke luar negeri, khususnya ke Boston. Dapat dipastikan dia memborong 60 sampai 100 judul setiap kali pergi. Buku baginya seperti pil Ecstacy. Begitu tiba di Jakarta, buku-buku dan majalah yang baru dibelinya itu dia keluarkan dan dia susun rapi di lantai. "Lalu ia duduk bersila memakai sarung," kata Kartini, "dan dengan mata berbinar Ciil mengelus-elus buku yang baru dibelinya itu satu per satu."</p>
<p>Menurut Kartini, kesukaan Ciil mengoleksi buku bukanlah hal yang istimewa. "Sama seperti kesenangan mengoleksi perangko, lukisan dan atau barang kerajinan," katanya. Ker tidak pernah mengaitkan soal kesenangan mengoleksi buku itu dengan bobot ilmiah seseorang.</p>
<p>Yang jelas, Ciil keranjingan akan buku, dan kembali ke horoskop Cina, sebagai ayam dia adalah tukang diskusi yang bisa alot. Ketika bersekolah di SMA Kanisius dia turut mendirikan kelompok diskusi. Semasa mahasiswa dia sering mengganggu teman-teman wanitanya dengan pertanyaan, "Kenapa sih lu nggak ikut diskusi?" Ciil punya penghargaan dan kekaguman khusus pada wanita yang menuntut ilmu, berkarir dan bekerja. Dia menyadari akan adanya ketidak-adilan sikap terhadap kaum wanita, dalam hampir setiap segi kehidupan, seperti yang pernah dia lihat pada pengalaman ibunya.</p>
<p>Ciil akan bersuara rendah, berbicara agak pelan, dan terkadang terasa seperti kiyai, jika dia berbicara menyangkut hal-hal yang filosofis. Kelihatannya dia berbakat jadi dai. Suatu kali dia berkata, jangan suka membuat ilusi mengenai diri sendiri dan masyarakat. "Sindroma tokoh", katanya, "adalah musuh utama kerja produktif'. Seseorang yang dihinggapi sindroma tokoh, menurut Ciil, sulit untuk bisa menerima perubahan yang terjadi, dan selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sindroma tokoh membawa seseorang hanya ingin mendengar dan membenarkan dirinya sendiri, serta mengharapkan untuk dilayani dan ingin kembali pada kejayaan masa lampau.</p>
<p>***<br />
Ada hal yang "gawat" pada Ciil, yakni makan sebagai hobi beratnya. Orang biasanya berkata "makan untuk hidup". Untuk Ciil ungkapan ini harus dibalik. Kalau melihat 'load" makannya, orang akan berkesimpulan, dia hidup untuk makan. Dia sangat suka makan, dan cenderung memaksa orang lain yang makan bersamanya melahap porsi yang sama dengan yang dia makan. Seorang stafnya yang agak kikuk dan merasa tidak enak untuk mengatakan "sudah cukup", sampai meringis-meringis kekenyangan ketika mengikuti Ciil untuk suatu pertemuan di Bali.</p>
<p>Ciil berbakat jadi pemandu di meja makan. Hanya saja kadang-kadang dia bisa seperti teroris yang menghujani kawan makannya dengan kata; "Ini nih! Udah coba ini? Enak nih! Ayo dong. Ambil aje semuanya!" Berbagai cara diet yang disarankan teman-teman dekatnya hanya memperoleh tempat yang marginal di hatinya. Jika dia terlambat makan atau makan di bawah "kapasitas terpasang" perutnya, produktivitasnya anjlok. Itulah sebabnya makan dan menulis bagi Ciil adalah dua hal yang saling melengkapi secara sempurna.</p>
<p>Setiap kali ada acara di rumah ataupun di kantornya, pasti ada kegiatan makan bersama. Tidak ada satu masakan pun yang membuat dia terdengar kecewa. Semua, enak! Masih untuk urusan yang satu ini, dia pernah mengeluh pada Kartini, karyawan wanita di kantornya kurus-kurus. "Kayak jarum pentul," katanya. Agar para karyawan ini lebih gemuk sedikit, dia keluarkan "kebijaksanaan" baru, menyediakan makan pagi yang terdiri dari roti, telur, susu, kacang ijo, dan nasi goreng bagi karyawan sekantor. Hasilnya, mengejutkan. Para karyawan wanita itu malah makin kurus. Kenapa? Stress, dipaksa makan pagi dengan menu 4 sehat 5 bengep.</p>
<p>Sebagai "sang ayam" yang agak konservatif Ciil memulai hari-harinya pukul 6 pagi, diawali dengan membaca suratkabar. Katanya, bangun pagi membuat otak segar, dan periuk nasi cepat terisi. Sering terjadi, pada pukul 7 dia sudah mulai mendiktekan tulisannya pada sekretarisnya, Poppy Soeyono, yang merekamnya di komputer.</p>
<p>Sebetulnya belakangan ini Ciil tidak pernah menulis dalam arti sesungguhnya, karena hampir semua makalahnya adalah hasil dikte. Satu makalah bisa selesai dalam satu jam atau 90 menit. Dia menganggap cara ini sangat efektif dan hasilnya jauh lebih memuaskan, karena apa yang dipikirkannya keluar sama cepatnya dengan apa yang diucapkannya.</p>
<p>Selama ini dia merasa bahwa ide yang akan dituangkannya sering terhambat karena dia harus menuliskannya sendiri, padahal kecepatannya menulis jauh lebih rendah dari kecepatannya berpikir. Karena itulah dikte lebih disukainya setiap membuat tulisan apakah itu berupa memo bagi masukan suatu kebijakan atau makalah. Rata-rata ada 10 makalah dan 10 memo setiap bulannya. Cukup sering terjadi dia menulis 3 makalah dalam sehari. Pernah dalam perjalanan ke airport, dia masih mendiktekan tulisan ke sekretarisnya melalui telefon. Pada puncak era pemekaran pasar modal, dia pernah berseminar 25 kali dalam sebulan dan semuanya memerlukan makalah. Ciil pernah berkata, "I write, I exist".</p>
<p>Sebelum 1992, dia menulis dengan mempergunakan kertas buram dengan ballpoint atau pulpen. Biasanya kerja menulis ini diselingi oleh tidur di kursi. Dia memang punya kebiasaan untuk tidur di mana saja, kapan saja, meskipun untuk beberapa saat. Batas antara menulis-tidur-menulis ini begitu tipisnya. Dia sanggup segera memegang pulpennya dan memulai kalimat baru begitu terbangun, dan sebaliknya.</p>
<p>Ketika terbangun pertanyaan yang sering dia ajukan adalah, "Gue ngorok nggak?" Pertanyaan ini sulit untuk dijawab, walaupun Ciil mendengkur waktu tidur, di kursi sekalipun. Kalau dijawab "tidak" dia akan menunjukkan reaksi tidak percaya. Jika dijawab "ya", dia malah balik bertanya, "Masa .... coba tiruin kayak apa gue ngorok".</p>
<p>Kini dia tak punya kesempatan tidur di saat mendikte. Kata Kartini, sekarang dia bahkan lebih 'nekad', pulang ke rumah yang jaraknya hanya lima menit perjalanan dari kantor untuk tidur siang, jika ada waktu.</p>
<p>Belakangan ini dia sangat suka dengan pulpen Mont Blanc dan kalau bisa yang limited edition. Apa sebab Ciil begitu snob dalam soal pulpen? Mungkin hal ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah mampu mengetik, dan buta teknologi komputer. Dia begitu asing dengan kedua teknologi ini. Seorang sahabatnya, pernah berkata, Ciil tak bisa mengetik karena tuts mesin tik terlalu kecil untuk jarinya yang begitu besar. Setiap kali dia menekan satu huruf, yang kena dua huruf sekaligus.</p>
<p>Dia memang buta teknologi, tapi kini dia asyik mempelajari mobil. Selain berlangganan berbagai majalah otomotif dalam dan luar negeri, Ciil juga rajin mendatangi pameran mobil yang menawarkan teknologi mutakhir. Kesenangannya ini seringkali membuat orang-orang yang dekat dengan dia geleng-geleng kepala, terutama isterinya. Kesenangan ini pula yang antara lain menimbulkan sinisme dari sejumlah orang yang menganggap Ciil sudah "lupa perjuangan", "materialistis", "gembel yang baru punya mobil", dan komentar sumbang lainnya. Komentar itu sampai juga ke kupingnya, dan Ciil hanya menjawab, "Kalau lu bukan apa-apa, jangankan dikomentarin, ditoleh pun lu kagak!"</p>
<p>Dalam hal teknologi dan produk baru, dia paling mudah jadi korban. Suatu kali Ciil dan Kartini pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Sebentar mereka terpisah, dan setelah itu Kartini menemukan Ciil ada di toko kacamata. Tampaknya, kata Kartini, dia sedang kena rayuan. Kacamata itu dia beli. Mahal. Padahal, baik untuk membaca mau pun untuk menulis sampai kini dia tak memerlukan benda itu. Keesokan harinya, kacamata itu dia bawa ke kantor. Di kamar kerjanya, sekali-sekali kacamata itu dia pakai, dan meminta komentar banyak orang, "Bagus nggak?!" Tapi itu hanya terjadi dua hari. Setelah itu kaca mata tadi tinggal tersimpan di laci.</p>
<p>Pada hari yang lain, dia hilang dari kantornya. Stafnya tahu dia tak punya acara apa pun di luar. Satu jam kemudian dia kembali. Dia baru saja dari Jl. Sabang --daerah pertokoan-- dan di sana dia membeli kamera polaroid. Ciil kemudian praktek memotret di kantor, dengan kagok, karena dia harus mengingat-ingat kembali instruksi si penjual tentang cara memakai kamera itu. Jepret! Pelan-pelan kertas foto itu keluar, didiamkan sebentar, ... nah fotonya jadi. Ciil tersenyum puas, dan bagaikan terpesona betul oleh teknologi polaroid itu, yang sebenarnya tidak lagi baru.</p>
<p>Belakangan ini dia masih sering tampil dalam berbagai seminar menularkan semangat dan idenya bagi pemulihan dan kemajuan bangsa ini. Di usianya yang ke-59 akhir bulan Februari 2004 ini, ia masih memiliki segudang harapan sambil terus melangkah menyosong Indonesia Baru yang sudah lama diimpikannya. ►atur/juka</p>
<p>*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)<br />
Nama:<br />
Sjahrir, PhD<br />
Lahir:<br />
Kudus, 24 Februari 1945<br />
Meninggal:<br />
Singapura, 28 Juli 2008</p>
<p>Agama:<br />
Islam<br />
Istri:<br />
Kartini Panjaitan (Ker)<br />
Anak:<br />
Pandu<br />
Gita<br />
Ayah:<br />
Ma'amoen Al Rasyid (1904-1980)<br />
Ibu:<br />
Ny. Roesma Malik (1915-1984)</p>
<p>Jabatan:<br />
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi (2005-2009)</p>
<p>Pendidikan:<br />
- Tamat dari FEUI, tahun 1973<br />
- Ph.D. dalam Political Economy and Government, Harvard University, 1983<br />
Pengalaman Pekerjaan:<br />
Direktur utama PT SYAHRIR SECURITIES, perusahaan sekuritas dan penjamin emisi di Pasar Modal Indonesia.<br />
Pengalaman Organisasi:<br />
- Pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Baru (PIB).<br />
- Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) KADIN Pusat.<br />
- Dewan Pakar Asosiasi Emiten Indonesia. Pengurus Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia.<br />
- Ketua Yayasan PADI &#38; KAPAS, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian dan kesehatan masyarakat.<br />
- Ketua dan Pendiri Yayasan Pendidikan ROESMA, sebuah yayasan yang bergerak dalam pemberian bea siswa pendidikan.<br />
- Anggota ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia).<br />
- Anggota AEA (American Economic Association).<br />
- Anggota International Advisory Board, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Department of Economics, Research School of Pacific Studies, Australian National University.<br />
Buku-buku:<br />
+ Buku-buku yang berasal dari disertasi doktor (PhD):<br />
- Ekonomi Politik Kebutuhan Pokok Sebuah Tinjauan Prospektif, Penerbit LP3ES, 1986<br />
- Basic Needs in Indonesia: Economics, Politics and Public Policy, ISEAS, 1986<br />
+ Buku-buku sejak tahun 1987 hingga 1993:<br />
- Kebijaksanaan Negara, Penerbit LP3ES 1987, 1988<br />
- Menuju Masyarakat Adil Makmur (ed), Penerbit PT Gramedia, 1989<br />
- Pendewasaan Pasar Modal (ed), Penerbit Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Jakarta, 1991<br />
- Analisis Ekonomi Indonesia, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1990, 1991 &#38; 1992<br />
- Dinamika Ekonomi Indonesia 1990-1992, Penerbit Penggebu Warta Ekonomi, 1992<br />
- Ekonomi Politik Indonesia, Penerbit Yayasan Keluarga Bhakti, 1993<br />
+ Buku-buku dalam perayaan usia setengah Abad, 1995:<br />
- Ekonomi Enak Dibaca dan Perlu, Penerbit Pustaka Utama Grafiti, 1994<br />
- Persoalan Ekonomi Indonesia: Moneter, Perkreditan dan Neraca Pembayaran, Penerbit Pustaka Sinar Harapan, 1995<br />
- Kebijakan Negara: Mengantisipasi Masa Depan, Penerbit Yayasan Obor Indonesia, 1994<br />
- Analisis Bursa Efek, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1995<br />
- Pikiran Politik Sjahrir, Penerbit PT Pustaka LP3ES Indonesia, 1994<br />
- Ekonomi Indonesia dalam Perspektif Bisnis, Penerbit PT Jurnalindo Aksara Grafika, 1995<br />
- Formasi Mikro-Makro Ekonomi Indonesia, Penerbit Universitas Indonesia Press, 1995<br />
- Catatan Ekonomi Indonesia, Penerbit PT Adhiprint Indonesia, 1995<br />
- Spektrum Ekonomi Politik Indonesia, Penerbit Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1995<br />
- Ekonomi Politik Konglomerasi Indonesia, Penerbit Warta Ekonomi, 1995<br />
- Tinjauan Pasar Modal, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1995<br />
- Meramal Ekonomi di Tengah Ketidakpastian, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1995<br />
+ Buku-buku dalam masa reformasi:<br />
- Masuk Krisis Keluar Krisis: Para Tokoh Menggugat, Penerbit Erlangga, 1999<br />
- Krisis Ekonomi Menuju Reformasi Total, Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Yayasan Padi &#38; Kapas, 1999<br />
Profil Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB)<br />
Asas: Keadilan, Demokrasi, dan Kemajemukan, serta Pancasila sebagai landasannya<br />
Didirikan: Jakarta, 23 September 2002<br />
Alamat: JI Teuku Cik Ditiro No 31, Jakarta 10310<br />
Telepon: (021) 3108057,3107058, 31902326, 31902725<br />
Ketua Umum: Sjahrir<br />
Sekretaris Jenderal: Amir Karamoy<br />
Sesuai dengan asasnya, partai yang mengklaim 300.000 anggotanya di 26 provinsi ini mengedepankan sifat yang terbuka tanpa memandang etnis. agama, atau profesi. Ini tercermin dari pengurus di tingkat pusat yang beragam latar belakangnya.</p>
<p>Sumber:<br />
Berbagai sumber, di antaranya Majalah Pantau</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Taufik Abdullah]]></title>
<link>http://urangminang.wordpress.com/?p=148</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 13:44:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
<guid>http://urangminang.id.wordpress.com/2008/06/30/taufik-abdullah-2/</guid>
<description><![CDATA[Sejarawan dan Peneliti

Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini  seorang sejarawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sejarawan dan Peneliti<br />
</strong><br />
<a href="http://urangminang.files.wordpress.com/2008/06/taufik_abdullah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-149" src="http://urangminang.wordpress.com/files/2008/06/taufik_abdullah.jpg?w=145" alt="" width="145" height="200" /></a>Mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini  seorang sejarawan dan peneliti yang teguh berpegang pada etika ilmiah. Pria kelahiran Bukittinggi, 3 Januari 1936, lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra &#38; Kebudayaan UGM Yogyakarta (1961) dan doktor (S3) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1970), ini senang menjadi peneliti, karena merasa tidak terpasung pada birokrasi.</p>
<p>Menurutnya seorang peneliti dituntut untuk berpegang teguh pada etika ilmiah. Karena itu, diperlukan kejujuran, sehingga tercapai integritas intelektual. Sikap wajar diperlukan, di samping rasional dan jernih dalam berpikir -- sikap yang bukannya tidak mengundang risiko.</p>
<p>Prof Dr Taufik Abdullah menganggap sejarawan Indonesia masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoretis maupun primordial. Posisi sejarawan hendaknya netral, dan menjaga jarak dari sasaran penelitian, sehingga dapat memberi makna obyektif terhadap realitas.</p>
<p>Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Orde Baru, di mata Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan periode transisi. Di sini, dilihatnya, ada kecenderungan kaum teknokrasi makin dihargai. Yang dihargai, menurut dia, bukan gagasan mereka, tetapi pelaksanaannya. Periode 1978 hingga sekarang, peranan intelektual semakin diambil oleh penguasa. ''Akibatnya, kesegaran berpikir berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal,'' kata Taufik.</p>
<p><!--more-->Taufik menolak pendapat ahli sejarah modern Indonesia dari Prancis, Dr Jacques Leclerc, bahwa sejarawan Indonesia sering melakukan pembunuhan dua kali terhadap tokoh sejarah bangsanya -- dengan mengucilkannya, karena tidak disenangi oleh kelompok tertentu, dan kemudian bersikap diam terhadap keadaan itu. Kata Taufik, sejarawan memiliki perhatian berbeda terhadap suatu bidang kajian -- yang menyukai dinamika sosial misalnya, tidak bisa dipaksa memperhatikan tokoh-tokoh sejarah.</p>
<p>Menganggap sastra sangat dekat dengan sejarah, ia berpendapat bahwa, ''Perang terlalu besar untuk diberikan pada jenderal saja, dan sastra terlalu penting dibiarkan untuk sastrawan saja!'' Mengingatkan bahwa sejarawan terkemuka pastilah seorang literer, baginya sendiri novel memperkaya pengertian tentang dinamika dan sejarah.</p>
<p>Sebagai peneliti, suami dari Rasida dan ayah tiga anak, ini bekerja tanpa terikat waktu. Pulang dari kantornya di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, ia meneruskan kesibukan di rumah. ''Kadang-kadang, malam Minggu, saya sendirian ke Cipanas, biar konsentrasi,'' katanya. Termasuk untuk merampungkan buku barunya, Pengantar ke Sosiologi Moralitas. Sekitar 30 karya tulis yang sudah lahir duluan, termasuk Islam di Asia Tenggara (LRKN-LIPI, 1976). Disertasi gelar doktornya, Scholl and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra, diterbitkan oleh Universitas Cornell, 1971.</p>
<p>Sejak SD ia rajin dan tekun belajar. ''Bukan yang terpandai,'' kata Taufik Abdullah sebagaimana dirilis PDAT. ''Tapi pokoknya termasuk dalam kelompok papan atas.'' Posisi ''papan atas'' tetap didudukinya sampai ia merampungkan studinya pada jurusan sejarah Fakultas Sastra &#38; Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Cinta kepada ilmu mungkin diwarisi Taufik dari Abdullah Nur, ayahnya. Abdullah, ayah tujuh anak itu, memang seorang pedagang, tetapi gemar membaca. Taufik sendiri akrab dengan dunia bacaan, sejak di SMP. Suatu kali, ia mendapat pinjaman majalah luar negeri, yang penuh gambar. Kagum pada keindahan kota-kota besar seperti New York, Berlin, dan London, anak sulung itu berpikir, ''Siapa tahu nanti bisa terkenal, dan pergi ke luar negeri.''</p>
<p>Belasan tahun kemudian angan-angannya menjadi kenyataan. Dua kali ia mendapat kesempatan memperdalam ilmu di Universitas Cornell, Ithaca, AS. Pertama, 1967, untuk meraih gelar M.A., dan kemudian, 1980, saat menggondol gelar doktor (PhD). Pulang ke tanah air, Taufik memantapkan dirinya sebagai peneliti. Bekas Direktur Leknas-LIPI ini rajin menghadiri berbagai seminar dan pertemuan sejarawan di luar negeri. Ia pernah menjadi wakil presiden Southeast Asian Social Science Association, dan ketua komite eksekutif Program Studi Asia Tenggara. Kini, Taufik tenaga peneliti di LIPI.</p>
<p>Mantan Asisten pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM (1959-1961), ini mengawali karir di LIPI sebagai Kepala Bagian Umum Majalah Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI), Jakarta (1962-1963) dan Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967). Kemudian menjadi Peneliti Leknas (1967-1974), Direktur Leknas LIPI (1974-1978) dan Peneliti, LeknaswLIPI (1978) sampai menjabat Ketua LIPI.</p>
<p>Sebuah Pilihan</p>
<p>Sebagai intelektual, ia menghasilkan lebih dari 150 artikel di luar tulisannya di berbagai media massa. Lebih dari 50 kata pengantar ditulisnya, khususnya untuk buku berbau sejarah.</p>
<p>Taufik identik dengan sejarah. Pun sebaliknya. Meski tak ada penelitian khusus tentang persepsi masyarakat, zaman telanjur mengidentikkannya dengan sejarah.</p>
<p>Mengenai hal itu, Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) tersebut mengaku tidak tahu. Pencapaiannya saat ini berawal dari sikap yang disebutnya rentetan atas "keharusan logis sebuah pilihan".</p>
<p>Persinggungan dengan ilmu sejarah bermula pada tahun 1954. Bersama kawan-kawannya setamat SMA di Bukittinggi, Sumatera Barat, ia berlayar ke Yogyakarta untuk kuliah. Tak jelas jurusan apa yang akan ditekuni.</p>
<p>Pilihan ke Yogyakarta terkait dengan sikap politik ayahnya, republiken tulen. Tak ada celah mendebat keputusan ayah yang menginginkannya belajar di pusat pemerintahan nasional kala itu.</p>
<p>Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya dipilih setelah diskusi dengan teman-teman seperjalanan dan membaca buku. "Kami membagi jurusan, seolah kami yang akan memerintah negara ini. Waktu itu jumlah lulusan SMA di Sumatera amat sedikit," ujar dia mengenang.</p>
<p>Pilihannya sempat menyulitkan. Kurikulum kuliah sejarah waktu itu tidak fokus. Tak ayal, ilmu psikologi, sosiologi, tata bahasa, sejarah, hingga filsafat harus dikuasainya. Belakangan, ia mensyukuri kekacauan sistem pengajaran karena memperkaya wawasan.</p>
<p>Di sana ia menjadi asisten pengajar sejarah Eropa yang kemudian menghasilkan skripsi berbahasa Inggris. Satu-satunya skripsi berbahasa Inggris dalam jurusan sejarah hingga kini. Ia lulus tahun 1962.</p>
<p>"Bukan karena bahasa Inggris saya bagus, tapi pembimbingnya orang Inggris dan India," tutur suami Rasida ini. Tahun 1962-1963 ia menjadi Kepala Bagian Urusan Ilmiah Biro Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) Jakarta.</p>
<p>Gelar master (MA) dan doktor (PhD) diraih di Universitas Cornell, New York, Amerika Serikat, 1970. Disertasinya berjudul "School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933)" diterbitkan Cornell Press.</p>
<p>Buku itu menjadi bacaan khusus di beberapa kampus di AS. Hasil pendalamannya, ia menulis modernisasi di Minangkabau dan masuk buku bunga rampai "Culture Politics in Indonesia" karya Claire Holt. Taufik merasa "kecipratan beken" karena karyanya bersanding dengan karya sejarawan Sartono Kartodirjo, Daniel S Lev, dan Benedict Anderson. Kata pengantar ditulis Clifford Gertz.</p>
<p>Penelitiannya di negara lain makin intens pertengahan tahun 1970-an setelah jabatan fungsional sebagai peneliti dicabut dan karier ahli penelitinya dibekukan pemerintah. Itu terjadi pascaprotes atas pemenjaraan tokoh, pendudukan kampus, dan pemberangusan kantor media massa.</p>
<p>Di masa sulit itu ia tercatat mengajar dan meneliti di Departemen Ilmu Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin, dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar. Lalu menduduki posisi penting di institusi lintas bangsa, seperti Ketua Komite Eksekutif Program Kajian Asia Tenggara (ISEAS) Singapura, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sosial Asia Tenggara Kuala Lumpur, Wakil Presiden Asosiasi Sosiologi Internasional Dewan Riset Sosiologi Agama. Dan, masih banyak lagi.</p>
<p>Pertengahan tahun 1980-an sanksinya dicabut dan direhabilitasi setelah sempat menyakiti hatinya. "Sudahlah," kenang dia.</p>
<p>Ayah tiga anak yang pernah menjadi Ketua LIPI periode 2000-2002 ini masih terlibat dalam berbagai proyek besar sampai sekarang, seperti naskah buku Sejarah Indonesia delapan jilid yang ditargetkan selesai pertengahan tahun. Dia juga mengerjakan tulisan perdebatan peristiwa tahun 1965-1967.</p>
<p>Pertengahan tahun ini ia akan meluncurkan buku yang didanai ISEAS berjudul Indonesia: Towards Democracy di Singapura.</p>
<p>Di usianya sekarang ia mengaku gelisah karena beberapa proyek tidak sempurna dikerjakan dan ia bukan pengajar resmi. Harapannya, muncul sejarawan muda yang berpikiran canggih. Berwawasan luas sebagai dampak "keharusan logis sebuah pilihan". (Kompas, 3 Januari 2006)</p>
<p>Spiral Kebodohan Masih Terjadi<br />
Ketua LIPI Taufik Abdullah saat memberikan sambutan pada presentasi Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 di Cibinong, Jawa Barat, Rabu (29/8/2001) sebagaimana disiarkan KB Antara, mengatakan spiral kebodohan masih terus terjadi di Indonesia sehingga terus menggerogoti kehidupan dan budaya yang semula diagungkan sebagai adiluhung.</p>
<p>Menurutnya, spiral kebodohan terus membesar ketika tindakan kebodohan dibalas dengan kebodohan juga. Dia mengatakan, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa seperti semakin menjauh akibat banyak tindakan bodoh yang dilakukan dalam semua lapisan masyarakat, sehingga terus melingkar bagai spiral yang makin membesar setiap hari.</p>
<p>"Bagaimana bisa dibilang cerdas kalau seorang pencuri yang tertangkap malah langsung dibakar?" katanya. Taufik mengatakan, kebodohan dalam kehidupan bangsa ini juga terlihat saat terus-menerus dikumandangkannya slogan `persatuan dan kesatuan'.</p>
<p>"Kalau persatuan itu memang bagus, karena bangsa ini memang terdiri atas berbagai keragaman. Tapi bagaimana mungkin perbedaan itu mau menjadi kesatuan? Kalau kesatuan dalam cita-cita bolehlah," katanya.</p>
<p>Pembicaraan soal negeri ini sebagai warisan nenek moyang, kata Taufik, juga adalah suatu tindakan yang membodohkan, karena negara ini adalah hasil perjuangan, bukan warisan.</p>
<p>Menurut Taufik, saat ini negeri ini juga terus berproses untuk menjadi lebih baik, jadi perlu banyak pemikiran dan ide dari berbagai sumber. "Proses making negara ini tidak bisa diandalkan pada elite-elite politik yang terus-menerus saling cakar," katanya.</p>
<p>Pemilihan Peneliti Muda Indonesia ke-9 dibagi dalam lima bidang, yaitu pengetahuan sosial dan budaya, ekonomi dan manajemen, pengetahuan alam dan lingkungan, teknik dan rekayasa, serta kedokteran dan kesehatan. ►e-ti, dari berbagai sumber di antaranya PDAT, Kompas dan Antara</p>
<p>*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)<br />
Nama:<br />
Prof Dr Taufik Abdullah<br />
Lahir:<br />
Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Januari 1936<br />
Agama:<br />
Islam<br />
Isteri:<br />
Rasida<br />
Anak:<br />
Tiga orang<br />
Ayah:<br />
Abdullah Nur<br />
Ibu:</p>
<p>Pendidikan:<br />
- SD (1948)<br />
- SLP (1951)<br />
- SLA (1954)<br />
- S1 Jurusan Sejarah Fakultas Sastra &#38; Kebudayaan UGM Yogyakarta (lulus 1961)<br />
- Orientasi Program East-West Center, Universitas Hawaii, Honolulu, AS (1964)<br />
- S2 (Master) Universitas Cornell, Ithaca, AS (1967)<br />
- S3 (Doktor) Universitas Cornell, Ithaca, AS, (1970) Desertasi: School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933)</p>
<p>Karir:<br />
- Asisten pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra UGM (1959-1961)<br />
- Kepala Bagian Umum Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (Biro MIPI), Jakarta (1962-1963)<br />
- Asisten Peneliti Leknas LIPI (1963-1967)<br />
- Peneliti Leknas (1967-1974)<br />
- Direktur Leknas LIPI (1974-1978)<br />
- Peneliti, LeknaswLIPI (1978)<br />
- Ketua LIPI (2000-2002</p>
<p>Karya:<br />
Karya tulis penting:<br />
- Sejarah Lokal di Indonesia, Islam di Indonesia, (ed), Tintamas, 1974<br />
- Gadjah Mada Univ. Press, 1979<br />
- Etos (ed) Kerja dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta, (ed.) LP3ES &#38; Yayasan Obor, 1979<br />
- Trends and Perspectives of Social Science in Indonesia, bersama EKM Masinambow (ed.)</p>
<p>Penghargaan:<br />
- Satya Lencana Karya Satya Tk II (1986)<br />
- Penulis Buku Ilmu Sosial Terbaik 1987 dari yayasan Buku Utama (1989)<br />
- Fukuoka Asian Cultural Prize, Category: International/Academica (1991)<br />
- Bitang Jasa Utama RI (1994)<br />
- Bintang Satya Lencana 30 Tahun (1995)</p>
<p>Alamat Rumah:<br />
Komp. LIPI A 4, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan</p>
<p>Alamat Kantor:<br />
LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan Telp: 511546</p>
<p>Sumber:<br />
PDAT, Kompas dan Antara</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kecelakaan Konvoi Moge : Hati-hati Doa Masyarakat ]]></title>
<link>http://rezaervani.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 18:40:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>rezaervani</dc:creator>
<guid>http://rezaervani.id.wordpress.com/2008/06/03/kecelakaan-konvoi-moge-hati-hati-doa-masyarakat/</guid>
<description><![CDATA[Berita mengejutkan muncul siang ini. Sophan Sophian, mantan aktor terkenal yang juga politikus, dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berita mengejutkan muncul siang ini. Sophan Sophian, mantan aktor terkenal yang juga politikus, dan pemimpin rombongan konvoi motor gede ke 19 kota di Pulau Jawa, meninggal dunia dalam kecelakaan yang menimpa rombongan tersebut.</p>
<p>Sehari sebelumnya, konvoi ini sempat menuai kritik dan protes dari berbagai kalangan masyarakat. Betapa tidak, disaat isu tentang kenaikan BBM mengemuka, justru orang-orang berduit ini pamer dengan mengadakan program yang visi dan misinya patut dipertanyakan.<br />
<!--more--><br />
Puncaknya adalah ketika beberapa SPBU, diantaranya di Pekalongan, harus ditutup pukul 9 pagi hingga pukul 2 siang, karena dikhususkan untuk melayani rombongan Motor Gede ini.</p>
<p>Sebuah stasiun televisi juga sempat menayangkan protes mahasiswa di Surabaya terhadap rombongan motor gede ini. Bahkan demo ini sempat membuat para anak muda terpelajar ini berhadapan dengan polisi.</p>
<p>Penulis sendiri bertemu dengan rombongan ini hari Senin, 12 Mei yang lalu di jalan tol keluar Jakarta. Sempat ada pertanyaan di benak, kok motor boleh masuk jalan tol. Sebuah bentuk arogansi yang menimbulkan sikap marah tersembunyi di dalam hati.</p>
<p>Penulis pribadi yakin, bahwa tidak hanya penulis saja yang kesal dengan arogansi itu.</p>
<p>Ketika berita kecelakaan itu terdengar di telinga penulis, hati langsung mengucap istighfar ... Jangan-jangan akumulasi doa kekesalan itu terdengar oleh Sang Maha Kuasa, lalu dia kabulkan dalam bentuk teguran langsung kepada ketua rombongan tersebut.</p>
<p>Allahu 'Alam, tetapi seharusnya ini menjadi catatan tersendiri bagi para penguasa di negeri ini. Hati-hati dengan akumulasi doa masyarakat, hati-hati dengan kekesalan mereka yang bertumpuk-tumpuk.</p>
<p>Mungkin masih mending jika doa mereka itu dibalas tunai di dunia, daripada nanti jadi saksi yang memberatkan di masa dimana tidak ada pembela dan pelindung lagi.</p>
<p>Naudzubillahi min dzalik</p>
<p>Salam,<br />
Reza Ervani<br />
www.rezaervani.com<br />
komunitas : http://groups.yahoo.com/group/rezaervani</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rizal Ramli]]></title>
<link>http://urangminang.wordpress.com/?p=138</link>
<pubDate>Tue, 20 May 2008 08:08:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Is Sikumbang</dc:creator>
<guid>http://urangminang.id.wordpress.com/2008/05/20/rizal-ramli/</guid>
<description><![CDATA[Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatra Barat, 10 Mei 1953) adalah Menteri Koordinator bidang Pere]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://urangminang.wordpress.com/files/2008/05/n_9122007112643_1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-139" src="http://urangminang.wordpress.com/files/2008/05/n_9122007112643_1.jpg?w=90" alt="" width="90" height="104" /></a>Dr. Rizal Ramli (lahir di Padang, Sumatra Barat, 10 Mei 1953) adalah Menteri Koordinator bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan pada Kabinet Persatuan Nasional. Ia meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Bandung dan gelar doktor dari Universitas Boston pada tahun 1990.<br />
Di masa pemerintahan presiden Soeharto, Ramli pernah ditahan karena memprotes pemilihan kembali Soeharto pada tahun 1978. Ramli, bersama beberapa orang ekonom lain seperti Laksamana Sukardi dan Arif Arryman, adalah pendiri ECONIT. Ia pernah pula menjadi kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).</p>
<p>Sepanjang karirnya di akedemik, pemerintahan maupun bisnis, julukan Sang Penerobos (Mr. Breakthrough) telah melekat pada sosok Rizal Ramli, karena dia memiliki sejumlah kelebihan yang menonjol seperti kemampuan analisa dan problem solving yang tangguh, keberanian untuk mengambil keputusan yang optimal dalam kondisi yang serba sulit, serta ketangguhan untuk melaksanakan implementasi lapangan yang efektif.</p>
<p><!--more-->Kemampuan untuk melakukan terobosan didukung oleh daya persuasi, networking yang luas di berbagai kalangan dan langkah-langkah yang streetsmart (taktikal tapi efektif). Dia berani mengambil keputusan yang bersifat terobosan, tidak konvensional tapi juga rasional dan implementatif.</p>
<p>Dalam waktu yang sangat pendek, hanya 15 bulan, Rizal Ramli berhasil melakukan sejumlah terobosan yang efektif untuk mendorong reformasi institusional, restrukturisasi sektoral maupun korporat, serta percepatan pemulihan ekonomi.</p>
<p>Rizal Ramli lahir 10 Desember 1953. Karir di pemerintahan dimulai saat Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat pendiri sekaligus chairman "ECONIT Advisory Group" ini menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog)  pada April 2000. Setelah itu, berturut-turut berbagai jabatan dipercayakan ke atas pundak mantan aktivis mahasiswa yang pernah dipenjara di Bandung tahun 1978/79 karena menentang rezim otoriter Orde Baru ini. Antara lain, Menteri Koordinator Perekonomian (Agustus 2000-Juni 2001) dan Menteri Keuangan (Juni-Juli 2001).</p>
<p>Sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli juga merangkap beberapa jabatan penting dan strategis dalam pemulihan perekonomian yang hancur dilanda krisis moneter. Di antaranya Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) dan Ketua Tim Keppres 133 untuk renegosiasi listrik swasta.  Terakhir dia tercatat menjadi wakil pemerintah pada PT Semen Gresik Tbk sebagai Presiden Komisaris (September 2006 - sekarang).</p>
<p>Dengan masa jabatan yang relatif pendek, sekitar 15 bulan, Rizal Ramli melakukan sejumlah langkah terobosan dengan cepat dan efektif untuk mereformasi Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam waktu enam bulan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 4,8 %, di atas target semula yang hanya 2-3 %. Defisit anggaran juga ditekan menjadi hanya -3,2 % dari GDP, lebih rendah dari target semula yaitu -4,8 %.</p>
<p>Dalam waktu yang sangat pendek tersebut, Rizal Ramli dengan dibantu Tim Ekonomi lainnya, melakukan renegosiasi Letter of Intent (LoI) dengan IMF, mendapatkan pinjaman dari CGI sebesar US$ 4,8 miliar dan hibah sebesar US$ 530 juta, dan mengurangi rasio NPL dan meningkatkan Net Interest Margin perbankan. Terobosan spektakuler juga dilakukan untuk memisahkan cross-ownership dan cross-management antara PT Telkom dan PT Indosat sehingga negara menerima tambahan pendapatan sebesar Rp 4,2 triliun, tanpa menjual selembar pun saham PT Telkom atau PT Indosat.</p>
<p>Langkah-langkah terobosan juga dilakukan dalam renegosiasi listrik swasta yang sarat KKN sehingga tarif listrik dapat diturunkan dari US$ 7-9 cent menjadi hanya sekitar US$ 4 cent dan beban utang PLN dikurangi puluhan miliar dolar. Di samping itu, sebagai Ketua KKSK, Rizal Ramli melakukan restrukturisasi utang dalam maupun luar negeri ratusan perusahaan yang dikelola BPPN.</p>
<p>REFORMASI BADAN URUSAN LOGISTIK (BULOG)</p>
<p>Publik tiba-tiba dikejutkan ketika pada 3 April 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mengangkat Rizal Ramli menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog). Maklum saja, jabatan ini dikenal sebagai kursi panas yang diperebutkan banyak kalangan. Selain itu, sebagai 'lumbung duit' selama puluhan tahun Bulog selalu dipimpin oleh lingkaran dalam kekuasaan.</p>
<p>Di tangannya, Bulog berubah total. Sebagai Kepala Bulog, Rizal Ramli  melakukan reformasi dan pembenahan organisasi serta keuangan Bulog agar lebih transparan dan accountable. Dia memberikan tekanan pada pelaksanaan fungsi Bulog sebagai  stabilitator harga beras dan peningkatan pendapatan petani. Selama menjadi Kepala Bulog, terjadi penghematan dan peningkatan efisiensi biaya operasi Bulog yang sangat signifikan sehingga Bulog menghasilkan surplus yang cukup besar. Sukses besarnya ini bahkan sempat diangkat sebagai cover story majalah Business Week.</p>
<p>Sejumlah kebijakan terobosan dilakukan Rizal Ramli. Di antaranya pada April - Mei 2000, guna meningkatkan pendapatan petani, Bulog hanya membeli gabah, bukan beras, petani. Sebagai peneliti dan researcher, dia tahu persis banyak praktek curang dalam pembelian beras petani oleh  Bulog. Para importir mencampur sedikit beras yang dibeli dari petani dan dengan beras impor. Beras oplosan inilah yang dijual ke Bulog. Tentu saja, praktek seperti ini bisa berlangsung selama puluhan tahun atas sepengetahuan dan restu sejumlah pejabat Bulog. Dengan hanya membeli gabah, praktek oplosan tersebut dapat dihindari, dan sekaligus penggilingan di desa-desa mendapat pekerjaan pada musim paceklik.</p>
<p>Bukan itu saja, Rizal Ramli juga meminta kepada Dirjen Bea dan Cukai agar memasukkan impor beras ke dalam jalur merah. Dengan demikian manipulasi volume dan harga beras bisa dimonitor dan dikurangi.</p>
<p>Terobosan penting lain yang dilakukannya adalah saat merestrukturisasi Bulog secara besar-besaran. Pada periode April-Agustus 2000, Rizal Ramli mereorganisasi lima jabatan eselon I (Deputi) dan 54 jabatan eselon II (Karo dan Kadolog) tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Pejabat dari daerah "basah" dimutasikan ke daerah "kering", demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Mutasi strategis seperti itu, dengan cepat mengubah corporate culture  dari Bulog. Dari 26 Kadolog yang ada di seluruh Indonesia, 24 di antaranya dipensiunkan atau dimutasikan dalam rangka restrukturisasi tersebut. Langkah ini dimaksudkan agar Bulog menjadi organisasi yang transparan, accountable, dan lebih profesional. Regenerasi tersebut sekaligus menjadi tanda dimulainya proses restrukturisasi dalam rangka menyiapkan Bulog dari LPND ke arah Perum.</p>
<p>Masih pada periode yang sama, dia memerintahkan perubahan system accounting khusus Bulog menjadi Generally Accepted Accounting Practices, sehingga sama dengan praktek accounting di lembaga negara lainnya. Rizal Ramli juga menyederhanakan dan mengkonsolidasikan rekening-rekening milik Bulog di berbagai bank, yang semula  berjumlah 117 rekening menjadi hanya 9 rekening. Dengan demikian kondisi keuangan Bulog dimonitor setiap hari secara lebih terkonsolidasi.</p>
<p>Rizal Ramli juga menghapuskan sistem dana off-budget dan mengubahnya menjadi on-budget, sehingga lebih accountable, transparan dan bisa diaudit. Dengan sistem off-budget, permintaan dana tidak memerlukan proposal, tidak perlu review, tidak transparan dan tidak bisa diaudit, sehingga menjadi sumber utama penyelewengan keuangan di lembaga seperti Bulog. Dengan menghapuskan sistem dana off-budget, Rizal Ramli memulai penerapan disiplin anggaran dan pengelolaan keuangan yang transparan.</p>
<p>MENTERI KOORDINATOR PEREKONOMIAN: PROAKTIF DAN DECISIVE</p>
<p>Sebagai Menko Perekonomian, Rizal Ramli berpendapat kondisi perekenomian Indonesia yang hancur akibat krisis harus segera dibangkitkan. Itulah sebabnya pada 4 september 2000, dia mencanangkan 10 Program Percepatan Pemulihan Ekonomi.</p>
<p>Program tersebut menunjukkan keberpihakannya pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja (pro-growth, pro-job). Program yang kemudian dimasukkan dalam letter of intent (LoI) ini terbukti berhasil dan diakui dunia internasional sebagai program pemulihan ekonomi yang kredibel. Bahkan pada September 2000, Standard &#38; Poor's menaikkan rating rupiah dari C ke B- dengan outlook stable.</p>
<p>Rizal Ramli tidak hanya mampu berkiprah dalam perbaikan perekonomian di dalam negeri. Dia juga terbukti memiliki keterampilan diplomasi yang andal di forum internasional. Saat memimpin delegasi RI pada CGI Meeting di Tokyo 17-18 Oktober 2000, misalnya. Dia berhasil meyakinkan negara kreditor untuk memberi pinjaman sebesar US$5,3 miliar.</p>
<p>Jumlah itu terdiri atas US$4,8 miliar pinjaman lunak dan grant &#38; technical assistance senilai US$530 juta. Nilai hibah (grant) tersebut merupakan nilai tertinggi selama hubungan Indonesia dengan CGI. Padahal, saat itu beban Rizal Ramli sangat berat. Pasalnya, Indonesia tengah mendapat sorotan tajam dunia internasional terhadap kasus Atambua. Di dalam negeri, juga berhembus keraguan, karena Delegasi RI ke CGI Meeting tidak menyertakan Widjojo Nitisastro yang dimitoskan memiliki jaringan dan pengaruh sangat besar di kalangan negara kreditor. Ternyata negara kreditor mengambil keputusan berdasarkan kondisi riil ekonomi dan politik Indonesia, serta hasil negosiasi dengan pejabat resmi pemerintah, bukan berdasarkan nasehat dari pensiunan pejabat.</p>
<p>Sebagai bentuk dari mulai pulihnya kepercayaan investor internasional, Unocal Corporation menyatakan komitmennya untuk melakukan investasi sebesar US$ 1,5 miliar di Indonesia untuk jangka waktu investasi 5 tahun. Investasi tersebut fokus pada bidang minyak bumi, gas bumi, dan sumber daya geotermal.<br />
Keberhasilan Rizal Ramli sebagai Menko Perekonomian ditandai dengan kinerja ekonomi yang berhasil dicapai Indonesia sampai akhir 2000. Ekonomi tumbuh 4,8%, di atas perkiraan semula yang hanya 2-3%. Budget deficit hanya -3,2% dari GDP, lebih rendah dibandingkan perkiraan semula -4,8% dari GDP). Turn around ekonomi Indonesia mulai terjadi pada tahun 2000.</p>
<p>Total ekspor Indonesia pada 2000 mencapai US$62 miliar, atau naik 27% dari ekspor Indonesia pada tahun 1999. Jumlah penduduk yang bekerja naik 1 juta tenaga kerja. Perbaikan signifikan di sektor riil antara lain diperlihatkan dengan peningkatan kapasitas terpasang di sektor industri, yang meningkat  dari sekitar 50-60% pada akhir 1999 menjadi 70-80% pada akhir 2000. Demikian juga sektor konstruksi yang stagnan selama 2 tahun terakhir, mulai bangkit dengan pertumbuhan sebesar 8,3%. Penjualan eceran juga naik 17%.</p>
<p>Rizal Ramli yang pernah menjadi penasehat ekonomi Fraksi ABRI lebih dari lima tahun itu juga berhasil memperbaiki kinerja perbankan nasional. Indikasinya, struktur permodalan bank menguat, rasio non-performing loans (NPL) turun, dan membaiknya net interest margin.</p>
<p>Pada Mei 2001, sebagai Menko Perekonomian, laki-laki yang juga mantan dosen ekonomi Program Magister Manajemen Fakultas Pasca Sarjana UI ini mendorong penghapusan cross-ownership dan cross-management antara PT Telkom dan PT Indosat. Langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetisi dan mendorong kedua operator telekomunikasi nasional tersebut menjadi full service operators. Banyak kalangan, baik domestik maupun internasional, menilai kebijakan yang ditempuh Rizal Ramli tersebut sebagai langkah yang tepat dan kredibel. Lewat terobosannya tersebut, negara berhasil memperoleh tambahan penerimaan Rp4,2 trilliun tanpa menjual selembar pun saham Telkom atau Indosat.</p>
<p>KETUA KOMITE KEBIJAKAN SEKTOR KEUANGAN (KKSK): TEROBOSAN DAN KEBERPIHAKAN</p>
<p>Selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli juga menjadi Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Di bawah kepemimpinannya,      KKSK telah berhasil memutuskan sekitar 140 keputusan penting, baik yang menyangkut restrukturisasi utang maupun percepatan penjualan asset yang dikelola BPPN.</p>
<p>Pada Oktober 2000, misalnya, KKSK mulai merestrukturisasi utang dari 14.000 UKM yang memiliki nilai pinjaman &#60; Rp. 5 miliar. Rizal Ramli memutuskan, UKM bisa memperoleh potongan pokok dan bunga atas pinjamannya hingga 50% jika mereka mau melunasi pinjamannya sekaligus.  Tentu saja kebijakan ini disambut sangat antusias kalangan UKM. Mereka ramai-ramai melunasi utangnya dan sektor riil yang selama ini lumpuh kembali bergulir.</p>
<p>Bagi perbankan nasional, terobosan Rizal Ramli itu juga sangat bermanfaat. Mereka tidak perlu lagi menyediakan cadangan atas kredit bermasalahnya sampai 100%. Neraca mereka pun menjadi bersih.</p>
<p>Masih untuk pengusaha kecil, pada November 2000 dia menuntaskan  penjualan kredit-kredit di bawah Rp 5 miliar kepada pihak ketiga dengan total nilai Rp. 871 miliar yang terdiri dari 92.252 debitur.</p>
<p>Buat perusahaan besar, pada Oktober 2000, KKSK di bawah komandonya juga menyelesaikan rekapitalisasi perbankan, termasuk rekapitalisasi Bank Bali. November 2000, KKSK mempercepat penjualan asset yang dikelola PT Holdiko Perkasa, yang melibatkan 6 asset utama (Oleochemical, Indomilk, Indolakto, Indomiwon, Mosquito Coil, dan 25 perkebunan kelapa sawit) dengan total nilai mencapai Rp. 5,97 triliun.</p>
<p>Di bawah komandonya, Desember 2000 KKSK berhasil merestrukturisasi bisnis dan utang PT IPTN. Langkah pertama dilakukan dengan mengubah paradigma industri pesawat yang selama ini high cost menjadi kompetitif. Setelah itu, Rizal Ramli mengganti nama Iindustri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Hasilnya luar biasa. Pada 2001 penjualan PTDI menjadi Rp 1,4 triliun, naik tajam dibandingkan Rp 508 miliar pada 1999. Perusahaan ini juga mencatat laba Rp 11 miliar. Padahal, pada 1999, menderita rugi Rp 75 miliar.</p>
<p>Sampai akhir 2000, KKSK berhasil menyetor dana dari penjualan asset sebesar Rp 20,71 triliun. Padahal, target yang ditetapkan DPR dan pemerintah waktu itu hanya Rp 18,9 triliun. Sedangkan restrukturisasi utang di bawah payung Prakarsa Jakarta berhasil mencapai US$9,8 miliar atau di atas target sebesar US$8 miliar. Satu hal yang perlu dicatat, setoran ke APBN yang jauh melampaui target itu ditempuh Rizal Ramli dengan sejumlah terobosan kebijakan. Tidak ada praktik obral BUMN dengan harga sangat murah sebagaimana ditempuh para penerusnya kemudian.</p>
<p>Masih ketika memimpin KKSK, pada Januari - Februari 2001 dia menyetujui "Corporate Restructuring Guidelines" yang baru. Banyak kalangan menilai Panduan restrukturisasi ini  sebagai kebijakan yang kredibel dan dinilai mampu mempercepat proses restrukturisasi utang yang dikelola BPPN. Buktinya, pada April 2001, KKSK berhasil  merestrukturisasi sektor Real Estate Indonesia yang memiliki kredit macet di BPPN. KKSK merestrukturisasi kredit pengembang dengan memperpanjang tenor pinjaman dan memberikan discount pembayaran bunga. Akibat restrukturisasi tersebut, sektor real estate bisa bangkit kembali dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi tahun 2003-2004.</p>
<p>KETUA TIM KEPPRES 133: NEGOSIATOR YANG TANGGUH</p>
<p>Selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Ramli juga dipercaya Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Ketua Tim Keppres 133. Tim ini bertugas menyelesaikan restrukturisasi PLN dan renegosiasi kontrak-kontrak pembelian listrik swasta (IPP) bersama-sama dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan menteri terkait.</p>
<p>Pada posisi ini, Bapak dari tiga anak ini berhasil menyelesaikan 16 dari total 27 kasus renegosiasi kontrak pembelian listrik swasta (independent power producers/IPP). Kontrak penjualan listrik swasta yang dibuat pada masa Orde Baru itu penuh dengan KKN dan mark-up. Akibatnya, berbagai kontrak itu membebani PLN sebesar US$ 60 miliar. Renegosiasi ditekankan pada penurunan tarif penjualan mereka ke PLN, dari sekitar US$ 7-9 cent per kWh menjadi hanya US$ 4 cent. Melalui jalan panjang dan sejumlah terobosan yang ditempuh, Rizal Ramli berhasil menekan penjualan listrik swasta ke PLN, sehingga akhirnya beban PLN turun menjadi US$ 35 miliar.</p>
<p>Sebagai Ketua Tim Keppres 133, sepanjang Januari-Mei 2001 mantan aktivis yang pernah mendekam di penjara Sukamiskin Bandung pada 1978/79 itu, juga melakukan financial engineering terhadap neraca keuangan PLN dengan melakukan revaluasi aset PLN dan menetapkan kebijakan deffered tax payment agar cashflow PLN tidak terganggu. Terobosan ini membuat aset PLN meningkat dari Rp 52 triliun menjadi Rp 202 triliun. Modalnya melonjak dari minus Rp 9 triliun jadi Rp 119,4 triliun.</p>
<p>Dengan revaluasi ini, struktur aset dan modal PLN menjadi sangat kuat. Dengan demikian PLN kembali memiliki akses untuk mendapatkan modal kerja dari perbankan maupun dari pasar obligasi. Tetapi PLN diwajibkan untuk mengurangi transmission loss yang pada waktu itu mencapai 16 %, jauh di atas rata-rata ASEAN yang hanya 3 %. Rizal Ramli berharap bahwa manfaat dari pengurangan transimission loss tersebut dapat digunakan untuk mensubsidi kelompok konsumen paling bawah.</p>
<p>MENTERI KEUANGAN<br />
Berbeda dengan perjalanan karir sebagian besar orang pada umumnya, jenjang karir Rizal Ramli justru terkesan "anti klimak". Semua itu bermula ketika pada 13 Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menugaskannya 'turun pangkat' dari Menteri Koordinator Perekonomian menjadi Menteri Keuangan. Sebagai Menkeu, Rizal Ramli harus mewakili pemerintah saat revisi APBN 2001 dilakukan.</p>
<p>Di tengah ketidakpastian situasi ekonomi dan politik nasional, regional, dan internasional, revisi APBN harus dilakukan dengan cepat. Revisi APBN yang  biasanya bisa memakan waktu berbulan-bulan, pada masanya hanya berlangsung empat hari. Pembahasan berlangsung sejak Jumat malam hingga Minggu dini hari. Tepatnya, 13 -16 Juni 2001.</p>
<p>Kendati hanya menjabat dalam tempo sangat singkat (Juni-Juli 2001), sebagai Menkeu, Rizal Ramli juga berhasil meningkatkan kinerja dari Direktorat-direktorat Jenderal di lingkungan Departemen Keuangan. Peningkatan kinerja tersebut terutama dari segi penerimaan, seperti pada Ditjen Bea dan Cukai, Ditjen Pajak, Ditjen Pembinaan BUMN, dan BPPN.</p>
<p>Dalam masanya juga berhasil diselesaikan pembahasan Undang-undang Perhitungan Anggaran Negara 1999/2000, dan dimulainya pembahasan RUU Badan Peradilan Pajak.<br />
PRESIDEN KOMISARIS PT. SEMEN GRESIK: TURN AROUND MENJADI BUMN UNGGUL<br />
Tangan dingin Rizal Ramli dalam membereskan problem ekonomi membuat pemerintah menunjuknya sebagai Presiden Komisaris Komisaris PT Semen Gresik, Tbk. Tugas ini diemban sejak September 2006 hingga kini. Seperti di tempat-tempat tugas lain sebelumnya, Rizal Ramli juga  melakukan sejumlah langkah strategis dan kebijakan terobosan untuk meningkatkan efisiensi, mendorong program pengurangan biaya dan meningkatkan keuntungan Semen Gresik.</p>
<p>Tujuan tersebut dicapai dengan melakukan konsolidasi dan integrasi ketiga perusahaan yaitu PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa sehingga menjadi "one company with three brands". Dengan demikian, kompetisi internal antar PT dikurangi sehingga tercipta sinergi positif.</p>
<p>Bersama-sama Komisaris dan manajemen, dia mempersiapkan kerangka restrukturisasi organisasi dan finansial untuk jangka menengah. Hasilnya luar biasa. Laba bersihnya naik 29,3 % menjadi Rp 1,295 triliun, dan EBITDA margin mencapai 26,1 % pada tahun 2006. Bahkan untuk pertama kalinya Semen Gresik Tbk masuk kelompok 7 BUMN yang paling menguntungkan. Semen Gresik memperoleh kenaikan laba bersih yang sangat tinggi, padahal penjualan semen secara nasional hanya naik 1,7 %. Baik PT Indocement maupun Holcim mengalami penurunan laba bersih.</p>
<p>Nilai valuasi Semen Gresik melonjak dari US$105 per ton equivalent menjadi US$165 per ton equivalent per Agustus 2007. Dengan demikian valuasi Semen Gresik, jauh lebih tinggi dari para pesaingnya. Sementara harga sahamnya yang pada September 2006 'hanya' Rp  27.500/lembar, naik menjadi Rp38.500 pada 27 Desember 2006. angkanya naik lagi menjadi Rp54.500/lembar pada 11 Juli 2007 atau meningkat 98% sejak September 2006. Pada 1 Oktober 2007, Moody's Investor Services memberikan peringkat Ba2 dengan prospek stabil kepada PT. Semen Gresik, dua tingkat lebih tinggi dibandingkan peringkat sovereign Republik Indonesia.<br />
*** 09-11-07<br />
http://rizalramli.net/index.php?act=details&#38;channel=contents&#38;cid=3&#38;scid=0</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kebangkitan Nasional dan Euphoria Perayaannya]]></title>
<link>http://ayobangkitindonesiaku.wordpress.com/?p=151</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 06:37:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Andi Gunawan</dc:creator>
<guid>http://ayobangkitindonesiaku.id.wordpress.com/2008/05/16/kebangkitan-nasional-dan-euphoria-perayaannya/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Andi Gunawan

Kebangkitan Nasional ke dua harus menjadi titik balik keterpurukan menuju kemajua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh Andi Gunawan</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kebangkitan Nasional ke dua harus menjadi titik balik keterpurukan menuju kemajuan bangsa dan Negara di berbagai bidang kehidupan. Saya khawatir kebangkitan nasional ke 100 hanya berhenti pada euphoria perayaannya dan tidak dikmanai dengan kebangkitan yang sesunggunya pada kehidupan nyata.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Euphoria sebuah perayaannya selalu ditandai dengan pembentukan panitia, sambutan petatah petitih dari tokoh masyarakat atau nasional, gegap gempitanya respon hadirin karena terbakar semangatnya, doa bersama, setelah itu bubar. Dengan berakhirnya acara maka berakhir pula semangat menggebu dari seluruh yang hadir. Kita menjadi lupa terhadap point penting (isi dari acara) yang harus dimplementasikan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--more-->Saya berharap lagu lama di atas tidak terjadi pada Hari Kebangkitan Nasional ke 100, dan sebagai kebangkitan nasional Indonesia yang kedua sungguh tepat ini bila dijadikan momentum bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tokoh-tokoh nasional yang hadir dalam berbagai pertemuan dan perayaan harus mampu mengimplementasikan dengan sungguh-sungguh apa yang telah disampaikan dan menjadi komitmennya untuk membangun Negara mulai dari hal kecil namun bermakna, hal-hal yang mendasar sampai ke hal-hal besar yang mengarah kepada kemajuan Negara.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sebagai sebuah ilustrasi, bagaimana tokoh nasional menjadi agen perubahan untuk masalah kebersihan kota atau nasional. Persoalannya seperti sepele namun kenyataanya bahwa tingkat kebersihan di Indonesia sungguh memprihatinkan, bagaimana tidak memprihatinkan Indonesia dikenal sebagai jamban terpanjang di dunia, orang membuang sampah sembarangan, sampah menumpuk di ruang publik dan sebagainya, sungguh memalukan namun kenyataanya seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tokoh nasional harus mampu menjadi agen perubahan untuk hal yang (mungkin) sepele, ket –tokoh-annya bisa dipertaruhkan pada bersih atau tidaknya kota atau wilayah, bukan berarti tidak percaya pada pemerintah daerah atau pusat yang pada kenyataanya memang tidak mampu, namun seorang tokoh sudah seharusnya mampu menggerakan moral masyarakat untuk berbuat yang terbaik untuk lingkungannya. Jika un