<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>titik-rasa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/titik-rasa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "titik-rasa"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:46:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Lebaran oh Lebaran...]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=270</link>
<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 09:36:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/29/lebaran-oh-lebaran/</guid>
<description><![CDATA[Lebaran itu&#8230;?
 
Beli baju baru, bikin kue, beli parsel, masak opor dan ketupat, mudik, berkiri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Lebaran itu...?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Beli baju baru, bikin kue, beli parsel, masak opor dan ketupat, mudik, berkirim kartu lebaran atau SMS ucapan selamat lebaran, shalat Ied, salam-salaman, maaf-maafan, bagi-bagi THR...</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Tiga puluh hari penuh kita di-<em>bakar</em>;<em> </em>berpuasa menahan segala hawa nafsu dan mengumpulkan banyak pahala hanya untuk satu-dua hari bernama Lebaran (Hari Kemenangan) yang ternyata hanya diisi hal-hal se—demikian itu? Rasanya, masih ada yang kurang, ya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Lantas, apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Anyway, selamat hari lebaran. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf saya; lahir dan batin. Mari, mari saling memaafkan. Meminjam kutipan dari salah satu iklan, “Mulai dari Nol lagi...”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[I Just Wanna Say I L U, Potret ;)]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=266</link>
<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 10:04:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/22/i-just-wanna-say-i-l-u-potret/</guid>
<description><![CDATA[Jujur, saya merasa agak tertipu (sedikit kecewa juga) begitu membuka segel album (Kaset) Potret yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ininyadadun.files.wordpress.com/2008/09/film19401.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-268" title="film19401" src="http://ininyadadun.wordpress.com/files/2008/09/film19401.jpg" alt="" width="140" height="206" /></a>Jujur, saya merasa agak tertipu (sedikit kecewa juga) begitu membuka segel album (Kaset) Potret yang baru dan hanya menemukan sebelas track lagu (yang terdiri dari tujuh lagu baru, satu lagu lama yang diaransemen ulang dan tiga scoring dari dua lagu baru dan satu lagu lama tersebut) sementara dalam sebuah acara musik, Wong Aksan bilang (mungkin bercanda atau mungkin berbohong) ada enam belas track lagu di album potret yang keenam ini. Sempat misuh-misuh juga jadinya, dan bakalan keterusan kalau lupa sedang puasa, bahkan mungkin saya sampai NANGIS DARAH(*) ---akhirnya saya tahu bahwa ternyata yang dimaksud 16 track itu adalah: 8 track lagu dan 8 track lagi scoring---itu pun dalam CD, bukan kaset)</p>
<p>Ternyata, album “temu kangen” Potret yang sudah vakum selama lima tahun ini merupakan sebuah proyek album soundtrack film remaja berjudul CHIKA. Kalau didengar-dengar, kini, antara Potret dan Melly (solo atau pun soundtrack) tidak ada bedanya dari segi lirik lagu dan melodi. Semua orang tahu bahwa Potret merupakan band yang memiliki identitas yang cukup unik. Memiliki lirik yang orisinil, tidak melulu tentang cinta, nyleneh dan nakal dalam memandang sesuatu, memiliki nada-nada dan melodi yang seenak bunyi tapi memang benar-benar enak di hati. Semua itu mengingatkan bagaimana saya menangis bombay dan termehek-mehek waktu mendengar lagu Bunda untuk yang pertama kalinya; saya yang terhanyut dalam kenikmatan lagu Bagaikan Langit; saya yang takjub dan terbelalak dengan lagu Diam, Kemarin dan Sadomasochist; saya yang tertawa sekaligus introspeksi ketika mendengar lagu Mak Comblang; saya yang terbahak waktu mendengar lagu Kentut Siapa dan R (dibaca Y); saya yang serasa piknik dengan lagu Trocadero; saya yang geleng-geleng dengan lagu Cerita Kota dan Drum And Vocal; saya yang... wah, banyak sensasi rasa yang saya alami ketika mendengar lagu-lagu Potret. Bagi saya, idealisme lagu-lagu Potret memang layak untuk dua bahkan empat jempol.</p>
<p>Tapi, di album barunya yang sekarang, saya mulai merasakan sedikit kehilangan gregetnya. Entahlah, mungkin karena sekarang Melly sudah menjadi sprinter yang produktif; dikejar deadline oleh para produser film yang memakai lagu-lagunya, sehingga mungkin akhirnya Melly agak mengenyampingkan idealisme demi profesionalismenya. Kabarnya, hanya perlu waktu dua bulan saja untuk menyelesaikan album I Just Wanna Say I L U ini (semoga ini bukan excuse, atau bahkan ‘tipuan’ seperti yang dikatakan Wong Aksan mengenai jumlah track dalam album ini). Dari segi lirik, penurunan tensi-Potretnya terasa agak melorot. Mungkin karena MESTI disesuaikan dengan alur CHIKA. Lirik-lirik nyleneh dan nakal itu terasa kurang pas untuk lagu-lagu cinta. Bahkan di sini saya tidak menangkap unsur magis itu, justru saya anggap sebagai pemasukan kata yang-agak kurang pas, dan kurang sinkron dengan irama/melodi lagunya yang manis. Saya optimis bahwa Melly mampu menciptakan kata-kata yang lebih magis dan wah, dan bisa ‘kawin’ dengan irama/melodi lagunya (kalimat ajaib itu tidak harus selalu non-baku di antara yang baku, atau sebaliknya).</p>
<p>KENDATI(**) demikian, saya pun tidak memungkiri bahwa masih ada energi Potret di album ini. Dari delapan track lagu yang dihadirkan, hanya ada TIGA lagu saja yang nuansanya SANGAT POTRET. Ialah tentu saja, I JUST WANNA SAY I L U, MUSIM PUTUS dan BAGAIKAN LANGIT (LOUNGE VERSION-yang sungguh sangat ENAK); secara lirik dan melodinya sangat mengidentitaskan Potret. Sedangkan di lagu: TAK MUDAH, APA HARUS PUTUS DULU, BILA AKU JATUH CINTA, LUKISAN CINTA dan MUNGKIN sungguh tidak ada bedanya dengan lagu-lagu soundtrack Melly yang dibawakan solo/berduet lainnya, hanya mungkin ada kata-kata non-baku yang nyelip diantara kata-kata baku, atau bahkan sebaliknya, yang efeknya jadi terasa aneh. Dan satu hal lagi, sejak proyek BBB (atau mungkin sejak HEART), Melly jadi keranjingan membuat SCORING. Saya berpositif thinking bahwa hal ini tidak semata ditujukan demi memenuhi/melengkapi jumlah track lagu yang sedikit (Ih, sekarang Melly mulai PELIT).</p>
<p>Demikinalah ulasan dari saya (halah, sok baku, Dun!). Akhir kata, maafkanlah jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati para pencinta Potret (sebutan untuk para fansnya Potret apa ya?).Betapapun, review ini semata saya tulis sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya-karya Potret.</p>
<p>Wahai Potret, DENGAN SEGENAP HATIKU JUJUR AKU CINTA KAMU HINGGA SEKARAT(***)</p>
<p>-----</p>
<p>(*) diambil dari lagu APA HARUS PUTUS DULU<br />
(**) diambil dari lagu MUNGKIN<br />
(***) diambil dari lagu LUKISAN CINTA</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manusia Tak Perlu Belajar Membajak Pada Kerbau [episode #2]]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=250</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 01:14:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/11/manusia-tak-perlu-belajar-membajak-pada-kerbau-episode-2/</guid>
<description><![CDATA[Dalam perjalanan pulang, terjadilah percakapan di atas sepeda motor yang berisik, antara saya [s] da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perjalanan pulang, terjadilah percakapan di atas sepeda motor yang berisik, antara saya [s] dan teman saya [ts].</p>
<p>s: Masa, film Indonesia ikut-ikutan dibajak sampe ada yang DVD Collectionsnya gitu! *masih nggak terima*</p>
<p>ts: Kemana aja lu, musik Indonesia udah duluan dibajak tuh! Belum nyadar, atau ngerasa nggak perlu misuh karena udah jadi bagian dari konsumen-yang-ketergantungan?</p>
<p>s: Yaaa kadarnya beda-lah *ngeles* kalo film kan lain sama musik. Film tuh memadukan berbagai unsur seni di dalamnya, ada seni peran, seni musik-tatasuara, seni ... *ngelantur demi menguatkan alasan kalau film tidak boleh dibajak*</p>
<p>ts: Tapi kan nggak ngerugiin PH atau pemain sama krunya. PH mungkin udah dapet uang-timbal-balik dari hasil penjualan karcis bioskop; pemain udah dapet honor ngeratus juta pas teken kontrak; kru juga sama. Nah, kalo tuh film beredar dalam keping VCD/DVD juga belum tentu laku, belum tentu ada yang mau beli. Apalagi harganya yang mahhhalll... ada atau pun nggak ada bajakan, VCD/DVD original gak bakalan selaris CD [celana dalam].<!--more--></p>
<p>s: dudul! Yah, sebenernya gue juga nggak terlalu mengharamkan pembajakan sih, karena gue bukan artis film atau musisi yang sok kebakaran jenggot kalau CD-nya dibajak [duh, kebangetan banget ya, ada orang yang ngebajak celana dalam mereka!]. kadang, gue juga ragu sama mereka yang mati-matian menyuarakan STOP PEMBAJAKAN. Ya jelas, mereka artissss!!! Coba kalo mereka orang biasa kayak kita. Ya diem-diem aja deh, menikmati pembajakan yang menyenangkan ini. Hahaha... *devil*</p>
<p>s: [karena teman saya diam, saya pun melanjutkan] Trus, mereka tuh suka bilang: tolong, jangan rampas hak kami dengan cara membajak karya kami. Hahaha... percaya ajalah kalo rejeki seseorang tuh udah diatur sedemikian rupa sama Allah. Liat aja, segimana pun karya mereka dibajak, mereka gak jatuh miskin kayak kita [kita???]. Malah popularitas mereka bisa melambung karena semua kalangan bisa menikmati karya mereka tanpa terkecuali. Dan mereka pun makin kaya raya [keliatannya]. Yaiyalah, kalo nggak bikin kaya, mereka udah banting setir ke jalanan [trus mobil mereka ganti setir yang baru =p]</p>
<p>s: [sebelum teman saya memotong, saya terus nyerocos] makanya gue salut banget sama Melanie Subono. Dia mah orangnya asik-asik ajah. Nggak terlalu ribet sama urusan pembajakan. Gue pernah liat dia di EMPAT MATA bilang bahwa dia nggak nyalahin pembajakan karena nggak semua orang sanggup mbeli CD original yang harganya cukup untuk makan dia seminggu. *terharu*. Lagian, gue yakin, kalo misalnya kita bener-bener ngepens en panatik sama satu grup band, ya nggak mungkinlah kita rela tidakmenghargai karya mereka dengan membeli bajakan. Gue punya tuh semua kaset originalnya POTRET, lengkap [kecuali yang POSITIVE POSITIVE].</p>
<p>ts: ckckck... segitunya elu ngebela pembajakan...</p>
<p>s: bukan ngebela. Tapi, ya kadang gue gemes aja gitu sama yang mencak-mencak bilang: stop pembajakan! Cuma demi mikirin dirinya sendiri.</p>
<p>ts: nah, terus, kenapa lu nggak trima film indonesia dibajak?</p>
<p>s: gue sih nggak mandang itu dari segi ekonomi yak. Tapi lebih pada bentuk apresiasi dan penghargaan kita terhadap film Indonesia. Karya film itu kan bikinnya susah minta ampun. Gue aja bikin satu cerpen bisa sampe semingguan. Ini film, proses segala macemnya lama, ngelibatin bejibun manusia. Capek dan sebagainya. Terus, tiba-tiba dibajak gitu aja sambil tetep diHINADINA. Kesian kan film Indonesia. Terus, yang mengHINADINA film indonesia itu tuh ternyata diam-diam menikmati produk bajakan. ENGGAK BANGET!!!!</p>
<p>ts: yeh, elu! Musik juga sama aja kali. Elunya aja yang nggak terlalu ngeh sama hasil karya seni musik. Coba lo panatik sama musik.</p>
<p>s: iiiih, elu tuh gimana sih! Gue kan udah bilang, gue juga nggak mungkin beli bajakan buat grup band / penyanyi yg gue idolain.</p>
<p>ts: terserahlah... tapi yang jelas jangan sampe gue turunin elu di tengah jalan gara-gara misuh-misuh gak jelas. Ini lagi puasa, Dun, inget.</p>
<p>s: oh, iya ya... hahaha... gue juga gak pake ngotot kali ngomongnya... hehe... dikit</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manusia Tak Perlu Belajar Membajak Pada Kerbau [episode #1]]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=248</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 01:12:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/11/manusia-tak-perlu-belajar-membajak-pada-kerbau-episode-1/</guid>
<description><![CDATA[Kemarin, seorang teman berkunjung ke rumah untuk mengembalikan VCD AAdC? [sumpah, original punya] ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin, seorang teman berkunjung ke rumah untuk mengembalikan VCD AAdC? [sumpah, original punya] yang sudah dipinjamnya dari sejak sekitar tiga-empat bulan yang lalu. Senangnya hatikyu koleksi VCD Indonesia-kyu kembali komplit. Ternyata sebuah SMS basa-basi berhasil membuatnya sadar bahwa setiap barang yang dipinjam harus tetap dikembalikan [tiba-tiba saja saya ingat bahwa DVD Collections: "All American Movie" miliknya masih ada pada saya, hahaha... semoga dia tidak lagi membutuhkannya *Dadun culas!!!*].</p>
<p>Selidik punya selidik, ternyata kepentingan-lain-lah alasan yang mengantarkannya jauh-jauh ke rumah saya. "Dun, tau tempat jualan DVD nggak?" yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Dadun-yang-cukup-sensitif menjadi: "Dun, anterin gue beli DVD dong!"</p>
<p>Baiklah, baiklah, cuma mengantar membeli DVD bukan sesuatu yang menyusahkan buat saya. Tapi, wait! Sudah hampir sebulan ini saya dengar kabar bahwa kios-kios CD/VCD/DVD bajakan di berbagai tempat, termasuk Pasar Kota Kembang tidak lagi buka karena ada razia. Ah, syukurlah, minat saya untuk menonton agak berkurang akhir-akhir ini  [seiring genderang TA diperdengarkan. Entah jika sang TA sudah beranjak pergi, jiaaah].</p>
<p>"Emangnya lo mau nyari DVD apa?" sudah tahu kios-kios DVD pada tutup, saya kekeh [dodol] bertanya. "Hey, inget, sekarang lagi puasa. Masih aja nyari DVD begituan!"</p>
<p>"Emangya eluuu!!!" awas saja kalau dia sampai berani noyor! Silakan berkeliling sendiri mencari DVD yang Anda maksut, kawan. *berasa tau banyak tempat-tempat jualan DVD 'bagus'*. "Gue nyari Norbit," yang terdengar NGORBIT di kuping saya yang agak caplang ini, "buat adek gue."</p>
<p>"Hah? NGORBIT yang iklan itu: Ngorbit, ngobrol irit," kok bisa ya, NGORBIT=ngoRBol irit, eh, ngoBRol irit? Dasar, iklan! Maksaaaa!<!--more--></p>
<p>"Kuping lo ikutan puasa juga, Dun! Itu, lho... N O R B I T."</p>
<p>"Oh, yang Edi Murpi itu toh... Emang buat apaan?"</p>
<p>"Buat adek gue. Katanya buat tugas resensi pelajaran bahasa Indonesia."</p>
<p>WEEEEKZZZ!!!</p>
<p>***</p>
<p>Akhirnya dua orang aneh itu meninggalkan rumah pada pukul hampir sebelas siang yang panas membara-membakar-kulit-dan-tubuh-yang-dahaga-halah!.<br />
Ya, anehlah, sudah tahu kios-kios DVD tutup, masih kekeh pergi. Padahal siang itu saya baru saja menemukan kembali semangat untuk mengerjakan revisi laporan dan program TA [euh, meni bosen, TA lagi... TA lagi... basiiii!!!]. Yah, beginilah diriku ini, terlalu sulit mengatakan TIDAK pada orang lain *melankolis mode on*</p>
<p>Kios di daerah UNPAD---salah satu tempat di mana saya biasa membeli DVD bajakan---tutup. Tapi kami masih nekat berangkat ke Pasar Kota Kembang, gudangnya CD/VCD/DVD segalamacam. Dan, perjalanan yang panas pun kami tempuh dengan hati yang sabar, ikhlas dan tawakal [deuh, gilirannya nguber DVD aja, panas-panas juga dijabanin!].</p>
<p>Akhirnya, kami tiba di tempat yang kami maksut. Jeng jeng jeng... surprise!!! Pasar Kota Kembang ternyata BUKA. Sekali lagi, B U K A!!! Saya terpekik girang dan meneteskan air mata haru dalam ketertegunan memandang tempat yang dipenuhi beribu-ribu judul film itu. Oh... [ternyata gosip Pasar Kota Kembang tutup yang saya dengar tidak sepenuhnya benar. *gubrak*].</p>
<p>Dan, akhirnya lagi, kami memilih jongko [halah jongko! konter atuh, Dun] ya, diralat: KONTER DVD yang terletak di dekat pintu masuk. Eng ing eng... mata Dadun langsung jeli melihat di mana keberadaan sang NORBIT!!! *clap clap clap* [salah satu prestasi yang membanggakan, orang lain mana bisssa???].</p>
<p>Ah, nggak seru, begitu datang langsung menemukan apa yang dicari. Nggak ada tantangannya! Kemudian, untuk memuaskan rasa rindu-yang-menggebu-gebu terhadap barang-barang bajakan itu, saya yang hanya membawa uang sekadarnya itu berlagak pilah-pilih DVD, seperti orang berduit yang hendak memborong berjudul-judul DVD. [padahal si Mbak-mbak yang jaga tahu tipikal pembeli seperti saya, hahaha... whateverlah, Mbak, yang mpenting nggak nyolong!]</p>
<p>Betapa surprisenya dirikyu saat melihat DVD Collections: Film-film Indonesia!!! Waktu ngeliat Ayat-Ayat Cinta versi DVD bajakan saja, diriku kaget mati, apalagi ini ngeliat 6-7 judul film Indonesia dalam satu kemasan DVD: Mereka Bilang Saya Monyet, Kawin Kontrak, DO, Selamanya, Butterfly dan masih banyak yang lainnya. Yah, meskipun banyak yang mencela film-film Indonesia, saya harap celaannya tidak sampai ke pembajakan separah itu *hikzhikzhikz... sok mellow*. Ada rasa antara ingin membeli dan konsisten dengan janji hati pada diri sendiri: DILARANG MEMBELI VCD/DVD BAJAKAN FILM INDONESIA! [kalau bajakan film luar negeri bolehhhh, hahaha].</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bubar – Sabar [Antara Kolak Pisang, Es Buah, Semur Ayam, Gebrakan, Poker, Gosip dan DVD]]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=246</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 01:09:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/11/bubar-%e2%80%93-sabar-antara-kolak-pisang-es-buah-semur-ayam-gebrakan-poker-gosip-dan-dvd/</guid>
<description><![CDATA[Ini sekilas kisah buka dan sahur bareng dengan teman-teman SMA saat Ramadhan pertama di masa kuliah.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini sekilas kisah buka dan sahur bareng dengan teman-teman SMA saat Ramadhan pertama di masa kuliah.</p>
<p>Baru beberapa bulan berpisah, tentunya belum banyak yang berubah dari diri mereka, juga saya. Saat bertemu pun, sedikit yang bisa kami ceritakan tentang suasana kuliah dan sebagainya dan sebagainya. Justru, kami masih lekat dengan kenangan dan kebiasaan-kebiasaan waktu SMA.</p>
<p>Acara Bubar yang dihadiri hampir 60% anak-anak IPA I yang untungnya berlokasi tak jauh dari rumah saya itu diwarnai suasana ricuh-tak-jelas, sepertihalnya suasana di kelas. Saya cukup takjub; dengan biaya Rp. 20.000 (bubar+sabar), menu yang disuguhkan saat berbuka terbilang wah: kolak pisang, es buah, semur ayam, tumis kentang, kerupuk udang dan makanan lainnya. Hm, mungkin inilah yang namanya berkah ramadhan.</p>
<p>Berkumpul dengan teman dan sahabat merupakan anugerah tersendiri yang tak terbandingkan dengan sekadar materi. Hari itu saya merasa benar-benar kembali ke masa-masa SMA. Setelah berbuka dan tarawih, acara selanjutnya adalah... <!--more-->MAIN POKER. Dulu, saat istirahat, saat tidak ada guru dan sepulang sekolah, terbentuk koloni-koloni yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang tersebar di dalam kelas. Kartu-kartu remi sudah dipersiapkan masing-masing “kepala suku”. Dan arena Poker pun digelar. Jeng jeng jeng... mulailah teriakan-teriakan seru dari para peserta Poker, dari setiap timnya. Sebagian tim melakukan Gebrakan: permainan menggebrak kartu yang sesuai dengan hitungan yang disebutkan [hitungan dimulai dari angka 2,3,...hingga As secara berurutan].</p>
<p>Nah, rumah teman saya pun berubah menjadi arena Poker pada malam itu. Tidak se-Arena yang nampak di kelas dulu. Untungnya beberapa orang ada yang masih sadar akan bulan Ramadhan. Saya sendiri...? ahahaha... saya malu mengakui ini, sebenarnya. Ya, anak se-cupu diriku ini tidak terlalu pandai dan beruntung dalam permainan Poker. Sekali main langsung kalah dan diganti pemain berikutnya, atau bertahan dengan serangkaian hukuman. Jadi, lebih baik memisahkan diri dari barisan. Ke mana lagi kalau bukan ke area ibu-ibu gosip. Nananana...</p>
<p>Setelah bosan, teman saya mengusulkan untuk menonton TV. Tapi, hey, acara TV malam itu cukup membosankan. Akhirnya diputuskanlah untuk menyewa DVD dari rental-beberapa-meter-dari-rumah-teman-saya-itu. Dan ternyata... sial, kami salah memilih film. Niat nonton film horor, malah nonton film---horor sih, tapi nggak serem; niat nonton film bodor, malah dapet film dodol; dan niat nonton film seks-komedi [bukan porno, lho!] yang judulnya ada TRIP-TRIPnya gitu [secara ROAD TRIP dan EURO TRIP sudah jaminan mutu], maka kami menyewa BOAT TRIP. Dan setelah film diputar... jeng jeng jeng... ternyata Boat Trip bercerita tentang homo... *yuk!*</p>
<p>Merasa salah dengan semua judul film yang kami sewa, kami pun melanjutkan per-Poker-an kami. Dan, tiba-tiba... jeng jeng jeng... salah satu teman kami mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya... apakah itu?</p>
<p>“Udah pada nonton ini belum?” doski yang demenannya film-film Korea mengeluarkan beberapa DVD Korea.</p>
<p>“Ogah ah, masa nonton FullHouse lagi?” tolak salah seorang dari kami. Lagi? ya, beberapa dari kami yang berada di situ memang sempat sukses menyelenggarakan acara nonton bareng FullHouse full-episode sehari semalam. Gila ya, dasar ibu-ibu. Eh, bapak-bapaknya juga ada yang ikut nonton, biarpun gak sampe tamat. Saya? Hahahaha... nggak ikutan. Kebetulan waktu itu saya belum ngepens sama Song Hye Kyo.</p>
<p>“Bukan FullHouse lah,” sanggah teman yang koleksi DVD Koreanya banyak itu. “Nih, SEX IS ZERO!”</p>
<p>Wahhhh, SEX IS ZERO?????? Dari judulnya saja sudah langsung memunculkan banyak tanda bintang (****) yang berarti full-sensor.</p>
<p>Ternyata eh ternyata, SEX IS ZERO memang film bintangbintangbintang itu. semi-semi lah. Hm, bisa dibilang AMERICAN PIE-nya Korea. Paraaaaaaaaaaahhhhhh!!!! Puasa-puasa nonton pelem begituan. Dan parahnya lagi, waktu itu, teman saya membawa SEX IS ZERO versi ‘bugil’ alias uncut alias uncensored, soalnya dia dapet kiriman langsung dari sodaranya yang kerja di Korea. Wehhhhhhh... ampun dah... nggak kukuuuuu...</p>
<p>huuuuu cupu, ah!!! Padahalmah filemnya gak parah-parah banget. Bener kan? [yang udah nonton pasti tau filmnya kek gimana]</p>
<p>Tapi, jangan heran kalau pas malem-malem ada yang ke kamar mandi lamaaaaa banget, terus ada yang sampe mandi sebelum dan setelah sahur. Yang cowoklah, jelas. Yang cewek mah waktu nonton juga njerit-njerit sok jijik sama pura-pura nutup mata. Saya? Ah, biasa aja... hahaha... nontonnya cukup pake mata aja, nggak pake hati----dikit.</p>
<p>Haaah, memang ada-ada saja kelakuan anak-anak ini. Bubar-bubar selanjutnya [tanpa Sabar], kami sudah cukup terkendali untuk tidak mengulangi hal yang sama. Tidak ada kartu, tidak ada DVD bintangbintangbintang lagi, tapi diganti VCD NAGABONAR JADI 2, HANTU JEPRUT, MENGEJAR MAS-MAS, sama apa lagi yak? Pokoknya semuanya film Indonesia lah, yang kalaupun ada adegan esek-eseknya malah terkesan cupu dan lucu, boro-boro napsu. Hahaha...</p>
<p>Sekian ajah lah. Heuheu...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Report Amaliah Ramadhan [sedikit pengakuan dosa]]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=244</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 01:08:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/11/report-amaliah-ramadhan-sedikit-pengakuan-dosa/</guid>
<description><![CDATA[Report Amaliah Ramadhan [sedikit pengakuan dosa]
Melihat Buku Ramadhan adik saya, tiba-tiba jadi ing]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Report Amaliah Ramadhan [sedikit pengakuan dosa]</p>
<p>Melihat Buku Ramadhan adik saya, tiba-tiba jadi inget jaman-jaman SD/SMP/SMA. Jadi inget, dulu isi tuh Buku Ramadhan hampir 80% bullshit alias rekayasa hanya demi mendapatkan nilai baik untuk pelajaran Agama. Duh, berdosanya saya [ampun...].</p>
<p>Untuk bagian “apakah-hari-ini-kamu-puasa?” saya isi apa adanya karena memang sejak kelas lima SD saya sudah bisa full puasa [5 SD? Duh, kalah sama anak TK sekarang, Dun!].</p>
<p>Adapun hal-hal yang direkayasa, biasanya:</p>
<p>1. Tentang shalat berjamaah [J] atau munfarid [M], juga tarawih [T]<!--more--></p>
<p>FIKTIF: saya konsisten mengisi “J” untuk kolom shalat Isya, Shubuh dan Ashar. Mengisi “M” untuk kolom shalat Magrib dan Dzuhur. Untuk shalat tarawih, biasanya selama 20 hari pertama saya isi full, selanjutnya saya biarkan bolong sekitar lima sampai tujuh kali.</p>
<p>FAKTA: untuk beberapa hari di awal puasa, saya memang rajin shalat berjamaah. Sisanya, hanya Isya dan beberapa Shubuh saja saya berjamaah. Bahkan terkadang saya lalai shalat, tersering Ashar. Begitu juga dengan shalat tarawih, bolong sebenarnya bisa lebih dari tujuh kali.</p>
<p>2. Tentang tadarus</p>
<p>FIKTIF: saya selalu menuliskan jumlah ayat secara konsisten, misalnya 50 ayat per hari [berapa pun jumlah ayat dalam setiap surat... *you know lah maksudnya*].</p>
<p>FAKTA: saya rajin tadarus biasanya di awal-awal puasa. Ke sananya kadang ngaji kadang tidak. Tapi tetap, kebohongan yang saya buat selalu berdasarkan aksioma dan logika-logika. *halah, tetep aja boong, Dun*</p>
<p>3. Tentang kultum/kuliah Subuh</p>
<p>FIKTIF: saya selalu rajin mengisi baris-baris yang harus diisi dengan ceramah para ustadz, lengkap dengan tanda tangan dan stempel mesjid.</p>
<p>FAKTA: seperti biasa, di awal-awal puasa, semuanya jujur apa adanya. Ke sananya, yuk yak yuk... biasanya hanya meminta stempel mesjid saja hingga akhir halaman, kemudian urusan tanda tangan, Dadun ini cukup piawai meniru/menciptakan tanda tangan yang sesuai dengan nama sang ustadz. Mengenai isinya, banyak sumber yang mengilhami, seperti buku Ramadhan tahun sebelumnya, buku-buku agama, bahkan sampai mengarang bebas.</p>
<p>***</p>
<p>Duh, kalau dipikir-pikir, Ramadhan dulu-dulu dipenuhi kebohongan yang tentu saja berniali dosa. Ampun, ya Allah...</p>
<p>Dan, penyesalan memang datang belakangan. Sekarang baru nyadar kalau semua yang dulu saya lakukan sama sekali tidak ada gunanya, bahkan memangkas habis semua pahala berpuasa. Nilai agama pun ternyata tidak dipengaruhi isi Buku Ramadhan. Dan, lagi pula, keimanan seseorang tidak bisa dinilai dari hal-hal fisik seperti itu kan? Tujuan dari Buku Ramadhan tersebut ternyata adalah bagian dari latihan kejujuran. Dan nampaknya saya tidak lulus. Hoooo... jangan ditiru ya, Adik-adikku tersayang...</p>
<p>Baiklah, saya patut bersyukur dan merasa sangat beruntung karena masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun 2008 ini. Anggap saja ini masa-masa her/ujian perbaikan atas dosa-dosa dan kesalahan yang dulu saya lakukan.</p>
<p>Bentuk Report Amaliah Ramadhan-nya pun tidak lagi berupa buku dengan panel-panel kolom yang harus diisi inisial tertentu atau tanda checklist dan cross, melainkan buku catatan yang hanya saya sendiri dengan Tuhan yang bisa melihatnya [bahkan mungkin saya tidak bisa melihatnya, alih-alih merekayasa isinya].***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan Tahun Ini . . .]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=242</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 01:06:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/11/ramadhan-tahun-ini/</guid>
<description><![CDATA[Ramadhan Tahun ini &#8230;
Ramadhan tahun ini tentu berbeda dengan Ramadhan tahun kemarin. Titik ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan Tahun ini ...</p>
<p>Ramadhan tahun ini tentu berbeda dengan Ramadhan tahun kemarin. Titik terberatnya [dalam hal menahan haus dan lapar] mungkin sudah lewat di tahun-tahun sebelumnya. Sekarang lebih ke menahan nafsu-nafsu lain, seperti menghindari emosi dan, ehm, syahwat [haiyah!]. Tapi memang mengendalikan emosi jauh lebih berat. Menahan marah, kesal, jengkel terasa jauh lebih sulit ketimbang mengalihkan pandangan dari hal-hal yang belum saatnya untuk dipandang [dududu...]. Dan satu hal yang paling sulit dihindari, sekaligus luput disadari adalah BERGUNJING. Tidak hanya ibu-ibu arisan yang suka bergosip ternyata, saudara-saudara. Dadun pun doyan. [ampuuun... tobat, dun!].</p>
<p>Ramadhan tahun ini diawali dengan prosesi Sidang untuk Tugas Akhir [yaiyalah, masa Kerja Praktek?]. Tanggal 4 September kemarin tepatnya prosesi itu berlangsung. Deg-degan dan sebagainyalah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, meski—yah, tidak luput dari ketidaksempurnaan. Mesti revisi sana-sini, dan sampai berita ini diturunkan [cailah] revisi itu belum saya kerjakan. Malassss! Nawaitunya, selama seminggu setelah Sidang, saya mau refreshing dan melupakan laporan barang sejenak-dua jenak. Duh, ini nih bumbu-bumbu emosi yang mesti dikendalikan. Catet!</p>
<p>Ramadhan tahun ini akan menjadi saat-saat yang bernuansa rumah, sangat rumah. Karena e karena<!--more--> sudah saatnya saya hengkang dari aktivitas kampus [hikshikshiks], tinggal menunggu Wisuda sebulan-dua bulan ke depan. Kemudian harus cari kerja, bayar utang-utang ke Ibu dan Bapak [duh, kapan lunasnya? Yah, minimal sedikit mengurangi beban mereka lahhh]. Tapi sementara ini saya sedang menikmati saat-saat menjengkali setiap senti [setiap jengkal dong!] bagian rumah agar ketika waktunya lepas-kandang sudah tidak perlu lagi menjadi hantu penasaran. Hehehehe...</p>
<p>Hey hey hey, teman saya bilang, rumah [kamar] saya adalah ISTANA untuk diri saya. Entah bermaksud menyindir atau apa, rupanya dia tahu benar bahwa di sinilah saya merasa benar-benar menjadi seorang raja. Dan di sinilah segala kesenangan itu dibuat dan dinikmati sendirian. Hahaha... jadi, saya berani menjamin bahwa sampai akhir Ramadhan pun saya tidak akan pernah bosan berada di sini.</p>
<p>Ramadhan tahun ini, saya rasa, akan menjadi Ramadhan dengan episode yang paling berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sangat berbeda. Pencarian makna ikhlas dan sabar, perbaikan kualitas diri dan iman, persiapan-persiapan untuk hal-hal yang tidak mungkin dapat diprediksikan, dan ya, betapa sulitnya menganggap ini sebagai Ramadhan terkahir.</p>
<p>Ramadhan tahun ini semoga tidak hanya menyisakan rasa lapar dan haus, atau reduksi berat badan [yang sungguh mempersulit pencarian pakaian yang pas di badan]. Yah, setiap orang menginginkan yang terbaik dengan segala daya-upaya terbaiknya. Semoga tercapai, amiiiiin...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sesuatu yang Menyulitkan itu Bernama “Memulai”]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=238</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:42:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/08/sesuatu-yang-menyulitkan-itu-bernama-%e2%80%9cmemulai%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[1. Memulai hidup; entah apa yang saya lakukan ketika memulai hidup dua puluh satu tahun yang lalu. K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>1. Memulai hidup; entah apa yang saya lakukan ketika memulai hidup dua puluh satu tahun yang lalu. Kata ibu saya cukup sulit, waktu bayi saya sering sakit.</p>
<p>2. Memulai tidur; oh, saya paling benci menderita insomnia. Beraktivitas sebelum tidur (yang tujuan awalnya agar bisa mendapatkan lelah dan kantuk) justru malah meningkatkan adrenalin. Berjam-jam berbaring di tempat tidur (tanpa benar-benar tidur) malah membuat saya pegal dan putus asa.</p>
<p>3. Memulai bangun; sungguh mengerikan, saya termasuk orang yang susah tidur sekaligus susah bangun.</p>
<p>4. Memulai sekolah/kuliah/kerja; sulit rasanya menenangkan diri ketika hari-hari pertama sekolah dan kuliah. Apalagi hari pertama bekerja, sulitnya naudzubillah. Semoga saya masih dipercaya untuk diberi pekerjaan (saya akan berusaha untuk menikmatinya, sungguh).</p>
<p>5. Memulai menulis; bahkan untuk sesuatu yang saya cintai ini, saya sungguh sulit memulainya. Perlu ritual khusus. Perlu suasana khusus. Dan sungguh perlu waktu yang lumayan panjang. Dan ceritanya, sekarang ini sedang mencoba menulis novel. Duh, Ibu, Bapak, Saudara-saudara; sungguh, memulainya sulitnya bukan main. Malah ke cerpen lagi-cerpen lagi. Dulu, pertama nulis cerpen pun sulitnya bukan main.</p>
<p>Yah, memang, memulai sesuatu itu sangat sulit. Dan ketika mulai menemukan kenikmatan porses di dalamnya, kita akan menemukan kesulitan lainnya yaitu sulit untuk menghentikan dan mengakhiri. Wah, semoga tidak mempengaruhi judul blog ini, hehe.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kata Orang, Saya Punya Wajah yang "Universal"]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=234</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:28:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/06/kata-orang-saya-punya-wajah-yang-universal/</guid>
<description><![CDATA[I. CATATAN KECIL [KENARSISAN] KALA SMA:
AFI [Akademi Fantasi Indosiar] saat itu sedang booming-boomi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>I. CATATAN KECIL [KENARSISAN] KALA SMA:</p>
<p>AFI [Akademi Fantasi Indosiar] saat itu sedang booming-boomingnya. Saya sempat menjadi salah satu penikmatnya demi tidak dikatakan kuper. Dalam kesempatan nonton bersama keluarga, tiba-tiba saudara saya nyeletuk, “Kalo diperhatiin, si D**** mirip De’ Dadan, ya?” Percayalah, saya langsung mencari cermin, memastikan apakah baru saja saya difitnah atau... Wekz, mirip dari mana?</p>
<p>Tidak hanya AFI yang booming, ternyata, saudara-saudara. Atmosfer KDI pun bisa-bisanya menyelinap masuk ke dunia teman-teman saya. Dan pada suatu ketika, Anne, teman sekolah yang juga tetangga saya bertanya, “Kamu suka nonton KDI nggak?” Saya yang anti-dangdut [demi tidak dikatakan norak, hahaha] menggeleng tegas, “Enggak!” Kemudian dia melanjutkan, “Ada yang mirip kamu, lho.” Wah, wah, wah, perasaan saya mulai tidak enak. “Itu, lho, penyanyi yang dari Bandung; kurus-kurus tinggi itu, namanya... titik-titik [demi menghindari cacian yang lebih keji]”. Saya pikir, difitnah mirip D**** AFI sudah menjadi aib tersendiri. Ternyata, ada yang lebih parah: mirip titik-titik KDI. Saya sih inginnya dikatakan mirip vokalis band luar negeri. Tapi nggak mungkin ye, secara kesing indonesia asli. Hahaha... cintailah produk dalam negeri, wahai gadis-gadis.</p>
<p>Lepas dari tuduhan mirip personel kontes menyanyi itu, suatu pagi, saya yang baru tiba dengan Anne di gerbang sekolah, berpapasan dengan Wulan, teman sekelas Anne. Wulan yang selama ini nampak cuek [bahkan bersikap tidak kenal] pada saya, tiba-tiba saja hangat dan ramah [duh, senangnya diperhatikan Wulan]. Dia dan Anne membahas prestasi-prestasi saya di sekolah [duh, sombongnya]. Dan ujung-ujungnya, Wulan berkata, “Ehm, kalau ngeliat Dadan tuh kayak ngeliat siapaaaa gitu... beneran deh, mirip siapa gitu, kayak pernah kenal...” wait, wait, jangan bilang mirip personel AFI atau KDI, atau whoeverlah!!!</p>
<p>Dan dua orang teman sekelas saya pun pernah mengatakan hal yang sama, “Dan, kayaknya gue pernah ngeliat elo di manaaaa gitu, sebelum kita ketemu di Sembilan Belas...” are you sure?</p>
<p>***</p>
<p>II. CATATAN KECIL [KENARSISAN] KALA KULIAH:</p>
<p>Ucup : “Dun, urang asa pernah ningali maneh.”<br />
Dadun : (dengan mimik sok serius, padahal sudah mulai biasa dikatakan mirip siapa) “Wah, maenya, Cup? Di mana?”<br />
Ucup : “Hm... kehela, uing inget-inget heula...”<br />
Dadun : (berdoa, semoga jawabannya bukan di AFI atau KDI lagi. Basi, atuh.)<br />
Ucup : “Oh, heueuh, dina poto babaturan urang, si Iis.”<br />
Dadun : (lega sekaligus dongkol) “Euh, nya heueuh atuh, Cup. Dan Urang teh jeung si Iis sakelas pas es-em-a. Tilu Ipa Hiji.”<br />
Ucup : “Oh... kitu? Eh, tapi ketang, mun di perhatikeun, maneh teh bener-bener mirip dulur urang.”<br />
Dadun : “Duh, mirip saha deui nyak? Semakin pasarankah wajah diriku ini?”<br />
Ucup : “Mirip Mamang urang! Persis siga maneh, peot, jangkung, rada jabrik saeutik.”<br />
Dadun : “Wah, mirip Mamang-mamang? Kolot atuh?”<br />
Ucup : “Heueuh, mirip si D*** SO7. Mamang urang oge mun ditingali-tingali mah jiga si D*** saeutik.”<br />
Dadun : (shock disebut mirip D*** SO7)</p>
<p>Ithing : “Dun, aku teh waktu pertama ngeliat kamu pas OSPEK, jadi inget sama sodara aku.”<br />
Dadun : “Ah, masa sih, Thing?”<br />
Ithing : “Serius, Dun. Kamu teh kayak sodara aku pisan. Cuma, udah rada tua sih itu mah.”<br />
Dadun : (semakin shock dimirip-miripkan dengan orang yang lebih tua)</p>
<p>Dan semakin hari, setiap bertemu dengan orang-orang baru, tak ayal mereka bilang, merasakan gejala dejavu, telah bertemu dengan saya beberapa waktu sebelumnya, atau bahkan lagi-lagi memiripkan saya dengan saudara, tetangga, teman dan orang-orang yang tidak saya kenal lainnya. Waduh, kloningan saya sudah menyebar di mana-mana? Wekz, atau mungkin saya termasuk salah satu kloningan dari seseorang yang mirip saya? Ataukah saya bersifat seperti bunglon yang bisa memiripkan warna kulitnya pada tempat di mana ia berada? Hahaha... akhirnya saya cuma bisa ketawa saja menanggapi fenomena kemiripan ini. Pssst... mungkin mereka cuma cari alasan aja ya biar bisa ngobrol sama saya... hahaha...</p>
<p>Puncaknya, beberapa hari yang lalu. Saat itu, saya baru saja mengumpulkan surat keterangan pembimbing sebagai kelengkapan sidang. Karena masih terlalu pagi untuk pulang, saya pun mampir ke lab internet yang sedang kosong karena perkuliahan belum berjalan. Beberapa saat kemudian, muncul seorang dosen perempuan, mengambil tempat di sebelah saya. Saat sedang berbincang-bincang, tiba-tiba saja beliau berkata, “Dadan, ibu tuh dari dulu setiap ketemu kamu selalu pengen ngomongin ini. Tapi seringnya lupa...” waduh, waduh, curiga bu dosen mau nembak saya!!! Hahaha, kidding, bu... “Sampe kadang kepikiran, ‘aduh tadi saya mau ngomong apa ya, sama Dadan?’” akunya. Duh, jangan-jangan dia akan bilang... “Kamu tuh mirip...” wah, ternyata dugaan saya BENAR. “Kamu tuh mirip sama Om saya. Sekarang dia kerja di Preport, Irian Jaya. Saya sempet bayangin, waktu mudanya, mungkin Om saya mirip kamu.”</p>
<p>Huhuhuhuhu... ini bukan lagi Dadun si Wajah Universal, tapi Dadun si Tampang Pasaran.</p>
<p>Siapa lagi yang akan dimiripkan dengan saya?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akh...hirnya... [Bisul-mu Pecah Juga]]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=232</link>
<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 03:26:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/06/akhhirnya-bisul-mu-pecah-juga/</guid>
<description><![CDATA[Akh&#8230;hirnya&#8230; [Bisul-mu Pecah Juga]
Kerja keras selama beberapa minggu, bahkan selama nyar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Akh...hirnya... [Bisul-mu Pecah Juga]</p>
<p>Kerja keras selama beberapa minggu, bahkan selama nyaris tiga tahun ini benar-benar dipertaruhkan hanya dalam waktu satu jam. Bayangkan, satu jam yang menentukan. Satu jam yang terasa satu abad... [walah, lebay, dun!]</p>
<p>Pertemuan dengan puluhan dosen nampak tak berarti apa-apa dibanding tiga orang dosen penguji yang mendadak lebih menyeramkan dari setan-setan dalam mimpi. Wajah-wajah penuh tekukan, kedua alis yang ditautkan dan kalimat-kalimat pertanyaan, serangan dan sanggahan yang menukik tajam langsung ke sasaran menjadi momok tersendiri, memicu adrenalin sekaligus menciutkan nyali-perpaduan yang aneh, bukan? Ah, saya rasa tidak ada yang lebih aneh dari kehidupan itu sendiri... [dududu, ngelantur, dun!]</p>
<p>Masalahnya bukan lagi apakah kau berakhir dengan kata LULUS atau TIDAK LULUS, melainkan apakah kau sanggup melewati proses ini dengan kata BAIK, SANGAT BAIK, atau MEMUASKAN, SANGAT MEMUASKAN, atau justru SANGAT BURUK dan MENGECEWAKAN. Terutama jika kau seorang perfectionist-wannabe. Percayalah, artinya lebih jelek dari perfectionist itu sendiri. [perfeksionis jelek ya, dun? Ah, masa?] Dan masalah berikutnya adalah... jeng jeng jeng jeng... apa kabar dengan besok, dun? [siul siul siul]</p>
<p>Apa pun yang kau rasakan saat ini, tak ada yang tidak patut kausyukuri. Percayalah, kesempurnaan bukan barang murah yang bisa begitu saja kaucuri. Setidaknya saat ini kau sudah mulai terlepas dari jeratan yang mengikat lehermu, yang bernama... [harus saya namakan apa, ya?] yah, itulah. Sejak dulu, aktivitas sekolah dan kuliah cukup jauh dari kategori menyenangkan. [bohong, ah, dun! Buktinya, dirimu begitu menikmatinya, dan, ehm, yakinkah dirimu siap untuk meninggalkannya?]</p>
<p>Baiklah, mari kita hembuskan napas lega [oups, napas puasamu itu lho, dun, semriwiiiing-hey, katanya aroma mulut orang berpuasa itu disejajarkan dengan wangi kesturi! OOT lagi, hehe...]. Akhirnya... dirimu mulai jadi kepompong, dun. Yah, seperempat-manusia-lah, mungkin, atau bahkan kurang. Bisulmu sudah pecah pun, tetapi, waspadalah bisul berikutnya yang akan tumbuh jauh lebih besar dan menyakitkan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Duh, Banyak Kupu-kupu di Perut Saya]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=230</link>
<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 03:23:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/04/duh-banyak-kupu-kupu-di-perut-saya/</guid>
<description><![CDATA[






Nervous sekali sayah. Menghadapi sidang jam 11.30 nanti.
doakan sayah, kawans-kawans&#8230;.
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<table style="height:12px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="702">
<tbody>
<tr>
<td class="cattitle"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Nervous sekali sayah. Menghadapi sidang jam 11.30 nanti.<br />
doakan sayah, kawans-kawans....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Apa dengan Kompi Saya?]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=224</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 07:31:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/09/02/ada-apa-dengan-kompi-saya/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari ini, aktivitas per-komputer-an saya agak terganggu. Di tengah-tengah kegiatan saya men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari ini, aktivitas per-komputer-an saya agak terganggu. Di tengah-tengah kegiatan saya menyelesaikan laporan dan program untuk Tugas Akhir yang nyaris sudah jatuh tempo, tiba-tiba saja muncul balon pesan ini:</p>
<p><a href="http://ininyadadun.files.wordpress.com/2008/09/k_lowdiskpace.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-225" src="http://ininyadadun.wordpress.com/files/2008/09/k_lowdiskpace.jpg" alt="" width="432" height="148" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;">Saya langsung kaget; seingat saya, hardisk saya tidak sepenuh itu sampai minta di-<em>clean up.</em> Akhirnya, saya pun memutuskan untuk menghapus beberapa file yang saya pikir sudah tidak perlu lagi dipertahankan keberadaannya. Hingga bertambahlah <em>free space-</em>nya. (wew, kalau diperhatikan, memang, <em>free space </em>yang tersedia setelah banyak file di-<em>shift+delete</em> pun masih cukup kecil. Tapi, biarlah, beberapa ratus mega mungkin jauh lebih baik daripada puluhan).</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kembali pada pekerjaan utama, setelah beberapa saat, si balon pesan tadi muncul lagi. Dan, saya serasa dipermainkan. Kemudian saya cek kembali di <em>myComputer.</em> Saya berinisiatif untuk mem-<em>PrintScreen</em>-nya demi meyakinkan bahwa setiap beberapa waktu sekali, komputer saya kehilangan kapasitas sekian <em>megabyte.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://ininyadadun.files.wordpress.com/2008/09/k_sebelum1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-227" src="http://ininyadadun.wordpress.com/files/2008/09/k_sebelum1.jpg" alt="" width="470" height="310" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;">gambar beberapa saat sebelum si free space hilang entah ke mana</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><a href="http://ininyadadun.files.wordpress.com/2008/09/k_sesudah.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-228" src="http://ininyadadun.wordpress.com/files/2008/09/k_sesudah.jpg" alt="" width="470" height="310" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">gambar ketika free space itu hilang entah kemana, beberapa saat kemudian</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<p>VIRUS!!! Kecurigaan saya hanya itu. Sudah beberapa bulan antiVirus yang terakhir diinstal sudah tak berfungsi sama sekali, minta di-update. Tapi saya malasssssss.</p>
<p style="margin-bottom:0;">Kira-kira, ada yang bisa mbantu saya?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa Kabar, ‘Ta?]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=209</link>
<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 03:04:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/25/apa-kabar-%e2%80%98ta/</guid>
<description><![CDATA[Sudah lama ia tak mendengar pertanyaan itu. Sudah lama ponselnya tak berbunyi dengan nada dering khu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama ia tak mendengar pertanyaan itu. Sudah lama ponselnya tak berbunyi dengan nada dering khusus untuk perempuan itu.</p>
<p>Ia merindukannya.</p>
<p>Apa kabar, ‘Ta?</p>
<p>Sudah lama pula ia tak mengucapkannya, tak mengetikkannya pada keypad dan menemukannya di sent item dalam ponselnya.</p>
<p>Apakah perempuan itu juga merindukannya?</p>
<p>Tak ada lagi yang menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan. Tak ada lagi yang mengaitkan sikutnya saat mengitari mal, mengobrak-abrik Factory Outlet dan berburu film di bioskop-bioskop di Bandung pada tanggal-tanggal merah.</p>
<p>Ia kehilangan.</p>
<p>Tak ada lagi keluh-kesah dan kisah-kisah yang bisa ia dengarkan selama jam makan siang di foodcourt tentang suasana kerja di kantor (bos dan customer yang menyebalkan, karyawan yang genit dan curi-curi kesempatan), atau tentang kegilaan dunia hiburan di Jakarta (serunya mengikuti shooting hingga tengah malam-bahkan pagi, bahagianya bertemu dengan Raffi Ahmad dan Velove Vexia, repotnya mengurusi kostum para pemain, hingga asyiknya melahap fakta-fakta tentang mereka yang tak terekspos infotainment). Tak ada lagi yang (hanya) bisa ia beri buku antologi cerpennya, juga CD tentang program TV yang pernah dibuatnya hanya karena di situ ada potongan gambar mereka berdua.</p>
<p>Apakah perempuan itu juga kehilangan?</p>
<p>“‘Ta, aku lagi suntuk banget. Lagi nggak ada kerjaan. Lagi di Bandung, nih.”</p>
<p>Ia menyesal telah menghapus SMS terakhir dari perempuan itu. SMS terakhir. Ia pun lupa kapan waktunya itu. Mungkin tiga atau bahkan enam bulan yang lalu. Tetapi ia tak pernah lupa dengan perempuan itu.</p>
<p>Ia ingin sekali menemui perempuan itu, atau sekadar menelponnya. Ada banyak pertanyaan untuknya: “Apa kabar, ‘Ta?”, “Kamu di mana, ‘Ta?”, “Apa yang terjadi?”, “Kenapa nggak pernah ngasih kabar lagi?”, “Kok semua nomormu nggak aktif, sih?”, “Apa saya perlu ke rumahmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja?”.</p>
<p>Ia benci setiap mendengar suara operator menjawab panggilannya untuk perempuan itu. Dan ia teramat benci berada dalam situasi begini.***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kopi Darat: Penting Nggak sih?]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=207</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 00:18:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/23/kopi-darat-penting-nggak-sih/</guid>
<description><![CDATA[Entah kenapa istilah ini yang harus digunakan untuk menyebut kegiatan pertemuan—tatap muka (di dun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Entah kenapa istilah ini yang harus digunakan untuk menyebut kegiatan pertemuan—tatap muka (di dunia nyata) bagi orang-orang yang sebelumnya hanya saling berinteraksi di dunia maya. Padahal, secara padanan kata, Kopi artinya apa, Darat artinya ke mana. Konon, dahulu kala, sebelum teknologi internet merajalela, istilah Kopi Darat ini ngetren di kalangan orang-orang yang saling berkirim salam di radio. Ah, wallahualam...</p>
<p>Saya sendiri baru tahu istilah Kopi Darat (Kopdar) setelah bergabung beberapa lama dengan komunitas Kemudian.com. Itu sekitar setahun yang lalu. Dan rasanya menyesal telah melewatkan begitu saja kesempatan Kopdar Kemudianers pertama di Bandung. Tetapi akhirnya, penyesalan itu sedikit terobati seiring berjalannya waktu, beberapa Kemudianers mulai mengajak Kopdar kecil-kecilan; sekadar ketemuan di kafe. Dan, efek terbesar yang benar-benar saya rasakan dari sebuah agenda Kopdar adalah ketika menghadiri Kopdar akbar Kemudian.com yang bertajuk PERKOSAKATA2008 yang diselenggarakan di Jakarta, 6 April 2008 lalu. Mungkin tepatnya, lebih kepada kesannya yang mendalam.</p>
<p>Bayangkan saja, selama berwaktu-waktu kita hanya bisa chit-chat di YM! dan saling berbalas kritik-caci dan puji di akun masing-masing di Kemudian.com, membayangkan sosok-sosok manusia di seberang sana dari avatar-avatar dan tulisan yang mereka tampilkan sebagai perwakilan atas dirinya, hingga merasakan kecocokan yang membuat kita nyaman bertukar pikiran dan berkeluh-kesah, merasakan pertemanan bahkan persaudaraan yang cukup mendalam... semua itu kita lakukan di dunia maya.</p>
<p>Tidak adakah sedikit keinginan untuk mencocokkan segala interpretasi yang tercipta selama kita berinteraksi di dunia penuh tipu-daya itu dengan segala kondisi yang apa adanya di dunia yang lebih riil dan nyata? Tidakkah energi pertemanan yang kita rasakan ingin benar-benar kita wujudkan dalam bentuk yang lebih nyata dan berhakikat dari sekadar memandangi monitor dan memijit-mijit keyboard?</p>
<p>“Ah, lebih baik kita gak usah ketemuan. Gue takut lo kecewa dengan bentuk asli gue. Udah, asyikan kek gini aja kan?”</p>
<p>“Gue ekstrovert cuma pas waktu online doang. Aslinya gue introvert dan ngebosenin banget. Gue bingung, nanti kita mo ngomongin apaan, malah diem-dieman.”</p>
<p><!--more-->Bisa dipahami, alasan-alasan pesimisme dan minderisme seperti itu kerap menghantui pikiran para calon “peserta” kopdar. Yah, bahkan ada sebuah novel yang menceritakan hal itu.</p>
<p>Tetapi, ah, saya pikir, kalau alasannya cuma karena itu, rasanya apa yang sudah kita lakukan kemarin-kemarin hari hingga mengorbankan tenaga, pikiran, waktu dan biaya itu hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Sekali-dua kali menganggapnya sebagai “Just for having fun” it’s okay-okay saja. Masalahnya kalau sudah lebih dari itu. Ya... sayang aja kalau saya mah.</p>
<p>Tetapi memang, segala sesuatunya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Setiap orang punya motivasi dan keinginan yang berbeda. Ada yang hanya ingin sekadar bermain-main dan meraja di dunia maya tetapi menjadi seseorang yang biasa-biasa saja di dunia sebenarnya, atau sebaliknya. Ada yang ingin mencari teman, pacar atau calon pendamping hidup. Ada yang belajar. Ada yang hanya buang-buang uang. Ada yang mesum dan membuka situs begituan sekaligus mendownloadnya untuk menambah koleksi pribadi. Dan sebagainya. Yah, yah, i see... i see...</p>
<p>Di Kemudian.com sendiri, khususnya, kecenderungan keragaman motivasi itu sangat nampak. Saya meng-klik kata “BANDUNG” pada akun saya di Kemudian.com untuk menemukan user lain yang juga ber-regional Bandung. Surprise! Ada lebih dari 12 halaman user id, dimana setiap halamannya terdiri dari sekitar dua puluh user id. Ckckckck... banyak bener user yang tinggal di Bandung. Kemudian saya mencoba menghubungi mereka dengan cara meng-add id YM mereka, kemudian menginformasikan segala rencana kegiatan Kopdar KemudianersBandung yang akhir-akhir ini mulai digalakan. Dan, surprise! Dari sekian banyak member, tak banyak yang merespon dan hanya sekitar sepuluh kepala yang nongol saat acara kopdar. Ckckckck... saya berpositif thinking saja: mereka semua sibuk. Yah, saya cukup beruntung dan perlu bersyukur masih punya banyak waktu luang di sela-sela rutinitas kuliah. Kalau sudah bekerja, mungkin waktu saya lebih terkonsentrasikan di sana.</p>
<p>Bahkan hari Minggu pun...</p>
<p>Bahkan sekali dalam sebulan pun...</p>
<p>Sebenarnya, apa sih hal-hal positif, bahkan mungkin negatif, atau mungkin hal-hal macam: “apaan sih, gak ada gunanya banget, buang-buang waktu” dari kegiatan Kopdar?</p>
<p>Apa yang membuatmu ingin menghadiri Kopdar, juga, apa yang membuatmu ingin menghindarinya?</p>
<p>Dan, apakah Kopdar itu penting? Atau sebaliknya? Atau penting-nggak penting?</p>
<p>Kenapa?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Kejujuran dan Ketidakjujuran]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=206</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 00:16:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/23/tentang-kejujuran-dan-ketidakjujuran/</guid>
<description><![CDATA[Dalam situasi tersudut dan tertekan, kecenderungan manusia adalah menghindari kejujuran. Ya, tentu s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam situasi tersudut dan tertekan, kecenderungan manusia adalah menghindari kejujuran. Ya, tentu saja kejujuran yang jika diutarakan akan berdampak ancaman terhadap diri yang bersangkutan.</p>
<p>“Kalau hari ini hari jujur sedunia, apa  yang akan kamu katakan padaku?” SMS dari seorang teman beberapa waktu yang lalu kembali terngiang.</p>
<p>Saya berpikir cukup lama waktu itu, kemudian berusaha menjawab, “Saya jujur, bahwa saya bukan orang yang jujur, setidaknya sampai saya menemukan efek terbaik dari kejujuran itu.”</p>
<p>Saat itu saya tidak sedang dalam kondisi tersudut dan tertekan, dan saya tidak sedang menghindari kejujuran. Bahkan ketidakjujuran yang saya miliki pun menjadi kejujuran tersendiri ketika saya mengungkapkannya. Dan karena memang saat itu saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan kejujuran lain, kecuali tentang ketidakjujuran itu.</p>
<p><!--more-->Dari jawaban saya, seolah-olah tersirat bahwa kejujuran cenderung lebih berefek buruk. Stereotipe bahwa kejujuran itu selalu pahit dan sulit rupanya telah berhasil mengukirkan paradigma tersendiri bagi saya. Kejujuran adalah segala sesuatu yang akhirnya membuat saya menyesal (sekaligus lega) karena telah mengungkapkannya. (Dan ketidakjujuran, seharusnya, berarti sebaliknya)</p>
<p>“Gimana nih, kita mau jujur aja sama mereka tentang ‘kecacatan’ yang terjadi dalam sistem ini?” suatu hari, di sebuah ruang rapat, terdengar sebuah usul yang masih menunggu palu persetujuan.</p>
<p>“Nggak. Mereka nggak perlu tahu sampai sejauh itu, selama kita bisa memberikan informasi seperlunya, sebatas kapasitas mereka sebagai pihak luar,” jawab seorang yang dituakan.</p>
<p>“Ya,” seseorang di sampingnya mendukung, “lagian kan, kita ini panitia dan mereka cuma... Hei, panitia punya kewenangan penuh dong.”</p>
<p>“Atau, kita rancang sebuah skenario blah blah blah...”</p>
<p>Rapat pun berakhir dengan keputusan gantung.</p>
<p>Lalu, beberapa waktu kemudian, keputusan itu berubah. Ada keputusan baru.</p>
<p>Dan, setelah diutarakan, keputusan baru itu pun melahirkan keputusan berikutnya.</p>
<p>Keputusan berikutnya pun beranak-pinak hingga membuat para pembuat keputusan merasa lelah. Dan jengah.</p>
<p>Sampai akhirnya salah satu dari mereka sedikit berpikir, bahwa perubahan keputusan demi keputusan itu ternyata diakibatkan oleh sebuah ketidakjujuran. Kemudian ia mengusulkan untuk mengakhiri permainan ini dengan jalan kejujuran. Tetapi, seseorang yang mengakibatkan masalah ini terjadi tetap saja mempertahankan diri dalam ketidakjujuran dengan berbagai pertimbangan dan alasan.</p>
<p>X : “Ksejujuran gak harus berarti bicara blak-blakan tentang segala hal yang ada di-merah-hitamkan. Bedain dong mana jujur, mana polos. Jangan mempersulit keadaan dengan dalih kebaikan.”</p>
<p>Y : “Ok, katakanlah gue cuman parno. Tapi masalahnya di situ ada nama kita, nama GUE! Kalo sampe ada hal-hal buruk terjadi di kemudian hari, gue udah kehabisan kata-kata buat ngejelasinnya lagi.”</p>
<p>Entahlah, saya tidak tahu pilihan apa yang (akhirnya) akan mereka ambil.</p>
<p>Dan, saya rasa, seharusnya, kejujuran dan ketidakjujuran bukanlah pilihan, melainkan jawaban yang jelas tentang hakikat dari sebuah kebenaran.***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setahun Ngeblog: Cerpen-cerpen dan Sedikit Puisi]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=204</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 08:00:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/15/setahun-ngeblog-cerpen-cerpen-dan-sedikit-puisi/</guid>
<description><![CDATA[Memang tidak ada hubungannya dengan kegiatan blogging yang saya jalani selama setahun pas ini. Angga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Memang tidak ada hubungannya dengan kegiatan blogging yang saya jalani selama setahun pas ini. Anggap saja, ini sebagai bagian dari, katakanlah, trilogi postingan saya dalam rangka SETAHUN NGEBLOG ini.</p>
<p>Saya mulai aktif menulis sekitar Desember 2005, dan semakin aktif menulis, terutama cerpen, sejak bergabung dengan Kemudian.com, April 2007 hingga sekarang (Juni 2008). Dan selama perjalanan itu, alhamdulillah sudah cukup banyak cerpen dan sedikit puisi, juga sangat sedikit cerita bersambung yang saya hasilkan, dan saya publish sebagian besar di  dengan review dan saran-kritik dari teman-teman sesama penulis di sana.</p>
<p>Berikut, daftar tulisan saya sesuai waktu posting di Kemudian.com:</p>
<p><a href="//kemudian.com/node/9660">Satu</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/9661">Daster</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/9664">Sepuluh Tahun</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/9666">Surprise!!!</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10006">Cinta vs Realita</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10087">Di Kontrakan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10010">The Amfoter</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10090">Semacam Cinta</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10110">Diamnya Dian</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10112”">Elegi Mei</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/13493”">Dan Akhirnya... </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/13880”">Saya Tampan, kan? </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/10774”">Nihilatifa(1) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/14938”">Gedung Enam Lantai(1) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/15539”">Andai Kau Tahu itu, Anak-anakku</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/15540”">Saat Jena Bertemu Joni</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/16838”">e-love</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/17145”">2 istri 3 kekasih</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/17399”">Biar Aku Saja! </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/20506”">Nihilatifa(2) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/20874”">e-love: Cinta Macm Apa? </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/21384”">Alasan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/22254”">Cinta, Jangan Panggil Aku Cinta! </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/22980”">Kita Harus Menikah Dulu</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/25284”">Sayang, Kamu Terlalu Cantik</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/26826”">DZIG! </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/27670”">Cinta, Simfoni 3 Hati</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/28735”">Cinta, Bersemi di Awal Juli</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/29020”">Viurs</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/30065”">Jangan Nengok ke Belakang! </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/30233”">Lampu Teras Depan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/31253”">Masih Tentang Cinta</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/31696”">Mug Hitam Alan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/32978”">Eskapisme</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/34341”">Angka(1): Angga</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/37453”">Lelaki di Ruang Tamu</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/38877”">Angka(2): Nur</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/41623”">Bulan Kesiangan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/42085”">Hilang</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/44647”">Estafet(7): Pre-Clues</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/46824”">Tertusuk</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/47701”">A Dudulz Story(4) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/48772”">Pulang</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/49224”">Catatan Kecl Tentang Cinta</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/50508”">Lovaskeptika(1) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/50979”">Lovaskeptika(2) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/51224”">Lovaskpetika(3) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/53280”">Kemudian Kami... </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/56714”">Tunggu Menunggu</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/58582”">The Phyton</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/64832”">Matahari Berganti</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/64834”">Biru-biru</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/69474”">Besok</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/75834”">Vacation</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/77627”">Terimakasih Banyak</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/81693”">Newbie</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/86872”">Malam Minggu Pertama</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/90245”">Ide-ide Edi</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/93088”">Foto di Dompetmu</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/98543”">Saya (hanya) Lelaki yang Bertanggung Jawab</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/99318”">Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/101746”">Saya Hanya Pemuda Desa Biasa</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/104116”">The “L” </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/107209”">Papa Baru (Om Dadun dan Toko Buku Kemudian) </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/111262”">Saya di PerkosaKata</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/113078”">Anu dalam Kepalaku</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/115807”">2. The Savior</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/120901”">Pesan</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/124484”">Satu Hari Sebelum Kita Berpisah</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/129201”">4. I’m Sorry, Niwa</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/135055”">Di Kebun Binatang ini ... </a><br />
<a href="//kemudian.com/node/138635”">Elegi Sebuah Rasa</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/145829”">Secangkir Kopi untuk Hanny</a><br />
<a href="//kemudian.com/node/151867”">Coming Out (From The Closet) </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setahun Ngeblog: Apalah Arti Sebuah Judul]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=203</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 07:59:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/15/setahun-ngeblog-apalah-arti-sebuah-judul/</guid>
<description><![CDATA[#1. Sama Saya Saja
Entah kenapa, tiba-tiba terpikir frasa itu ketika saya harus mengetikkan judul (p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>#1. Sama Saya Saja<br />
Entah kenapa, tiba-tiba terpikir frasa itu ketika saya harus mengetikkan judul (pertama kali) untuk blog ini. Sejak awal suka menulis, saya memang pencinta permainan kata. Ya, terlepas dari maknanya seperti apa, yang penting padanan katanya terasa pas dan unik. Dan, percayalah, ketika kata-kata itu sudah terangkai, dengan sendirinya makna itu akan datang, tanpa diundang. Sama Saya Saja, terdiri dari kata-kata yang didominasi huruf S dan A, hanya tinggal mengganti huruf ketiganya saja. Artinya sendiri, ya, sama saya saja, jangan sama orang lain atau siapa. Maksudnya, ya, kalau mau curhat, sama saya saja; mau bagi-bagi duit, sama saya saja; mau bercinta, sama saya saja (hehe, kidding). Tapi kalau mau pinjem uang, apa lagi minta uang, ya, sama bank atau orang tuamu saja. ;p</p>
<p>#2. Saya Seperti Perempuan<br />
Sebuah imej, atau citra diri. Ya, buka-bukaan sajalah, sepanjang masa-masa sekolah dari SD sampai SMA, beberapa teman saya bilang (mengejek), Saya Seperti Perempuan. Sempat kesal dan sedih, kemudian saya menyadari bahwa mereka bilang Saya Seperti Perempuan karena memang saya seorang LELAKI. Dan berarti, jauh di dasar kesadarannya, betapa mereka mengakui bahwa saya seorang LELAKI. Toh jelas, kalau saya perempuan, mereka tidak akan bilang demikian. Ya, Saya Seperti Perempuan karena saya lelaki, dan tak ada perempuan yang seperti perempuan, begitu juga sebaliknya.<!--more--></p>
<p>#3. Dadanyadadun<br />
Setelah merasa cukup puas dengan tag Seperti Perempuan karena Saya LELAKI, saya pun mengganti judul blog ini. Membuka lembaran baru, bukan berarti kehidupan saya yang dulu cukup suram untuk dikenang. Ya, hanya ingin mengganti imej saja, lagi. Dan karena secara perlahan, saya mulai menemukan benang merah bagi keseluruhan isi bolg ini. Hampir seratus persen berisi tentang perasaan saya yang entah kenapa terasa sulit untuk saya bahasakan dalam bentuk percakapan. Perasaan yang terpendam dalam dada, dadanya dadun. Dan, blog ini diibaratkan sebagai dadanya dadun versi transparan, dimana kamu bisa membaca dan memahami situasi seperti apa yang sedang dialami si penulis (saya). Meski memang tidak sepenuhnya tulisan-tulisan di sini merupakan perasaan dan pengalaman pribadi saya, beberapa terkategorikan sebagai karya fiksi karena saya senang bermimpi. Di sisi lain, dadanyadadun, secara bentuk kata dapat dipenggal menjadi dadan ya dadun, yang berarti Dadan Erlangga ya Dadun. (dasar, narsis).</p>
<p>#4. Titik-titik<br />
Tetapi, ternyata dadanyadadun sudah sedemikian terbuka dan kalau dibiarkan terlalu lama bisa masuk angin juga ;p Maka, akhirnya, setelah melalui tahap semedi yang cukup dalam dan panjang, terbisiklah kata TITIK-TITIK...<br />
Ya, simpel saja, dalam segala peristiwa dan fenomena yang terjadi, baik ataupun buruk, indah ataupun tidak, selalu ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya. Sesuatu itu, entahlah, cukup pelik untuk dikupas secara kilas dan terbuka. Cukup diwakilkan pada kata TITIK-TITIK saja. Titik-titik yang berarti sangat dalam dan luas.<br />
Ya, selalu ada titik-titik di balik titik-titik.</p>
<p>Entahlah, setelah Titik-titik ini, apakah judul blog ini masih akan mengalami pergantian lagi?***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setahun Ngeblog: Flash-b(L)ack]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=202</link>
<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 07:57:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/15/setahun-ngeblog-flash-black/</guid>
<description><![CDATA[Jujur, awalnya saya tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk dunia maya. Bahkan saya sempat ogah-oga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jujur, awalnya saya tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk dunia maya. Bahkan saya sempat ogah-ogahan waktu teman saya mengajak ber-FS-ria hingga nge-blog. Buat apaan sih? Pikir saya, waktu itu. Satu-satunya hal yang terlintas ketika dihadapkan dengan kata “Internet” adalah... (tarik napas... tahan... lepas...) browsing hal-hal yang tidak jelas (baca: esek-esek alias Triple X ;p).</p>
<p>Keberhasilan pertama yang cukup membanggakan untuk orang se-gaptek saya adalah membuat akun e-mail di Yahoo!. Setidaknya, ada satu tambahan informasi ketika bertukar data identitas dengan seseorang. Berasa gaya aja, selain data-data standar berupa nama, alamat, nomor hape dan sebagainya, tiba-tiba di bawahnya ada alamat e-mail gitu. Yah, biarpun setelah memiliki akun tersebut, selama hampir berbulan-bulan alamat e-mail tersebut menganggur karena memang saya bingung bagaimana menggunakannya. (ye... tetep aje dudul).</p>
<p>Setelah memiliki alamat e-mail, <!--more-->sekitar awal 2006, saya mulai penasaran dengan Friendster. Belum berani nekat membuatnya sendirian, saya pun menunggu bantuan seorang teman yang berjanji akan mendampingi selama proses pembuatannya. Hayah, kek mo bikin apa aja gitu. Sampai akhirnya, kami sama-sama punya waktu dan ia mengajari saya membuat akun di Friendster sekaligus bagaimana cara memperlakukannya. Ah, kapasitas otak ndeso saya agak soak dalam beberapa jam itu mendapat informasi yang terlalu banyak darinya. Butuh waktu lamaaa bagi saya untuk bisa memahami semuanya. (sampai sekarang, buka FS cuma buat berbalas testimonial, nge-add teman-teman, dan ganti pict ;))</p>
<p>Nah, sekitar bulan April 2007, lewat sebuah milis penulis, saya mendapat spam berupa link tentang situs penulis online: &#60;http://kemudian.com&#62;. Tanpa pikir panjang, saya yang waktu itu sedang sangat berberahi tinggi untuk menulis, langsung bergabung di sana. Alhamdulillah, banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang saya dapatkan. Dari mulai menemukan tempat yang TEPAT untuk “mempublish” karya saya sekaligus mendapat apresiasi dari sesama penulis, bersosialisasi dengan orang-orang dari dalam dan luar kota lewat forum dan Yahoo! Messenger, hingga AKHIRNYA menemukan banyak alasan untuk nge-blog. (meski tetep alasan pertamanya buat gaya-gayaan aja... haha...)</p>
<p>Dan akhirnya... (jeng jeng jeng...) saya kembali menghubungi seorang teman yang dulu selalu membaweli saya tentang blog. Ia menyarankan saya menggunakan fasilitas Wordpress. Ah, apa pun lah, yang penting saya bisa punya blog. Saya tidak mau ambil pusing dengan banyak pilihan. Tetapi, ia hanya memberi tahu secara garis besar tentang tata-cara pembuatan akun di Wordpress. Saya pun harus berjuang sendirian di warnet. Sampai keringat dingin bercucuran, menemani kegalauan saya waktu itu. Halah. Belum lagi masalah mendasar bagi seorang user warnet: dikejar BILLING. Tape deh... #:-S</p>
<p>Yang namanya masalah, sampai kapan pun sepertinya tak akan pernah musnah dari kehidupan kita. Setelah berhasil membuat akun di Wordpress dengan alamat: &#60;http://ininyadadun.wordpress.com&#62; ini pun, terus terang saya masih bingung bagaimana harus menggunakannya, dan terlebih akan saya apakan dan bagaimanakan blog ini. Untuk sekadar tulis-tulisan yang nggak jelas? Catatan harian, seperti diary on-line gitu? Membuka forum diskusi tentang apa gitu? Membahas fenomena-fenomena yang sedang hangat dibicarakan? Meresensi film atau buku apa gitu? Atau, sebagai mahasiswa Manajemen Informatika, alangkah lebih bijaksananya jika memposting tulisan tentang perkembangan IT dan tetekbengek tentang komputer sampai ke baud-baud terkecilnya, gitu? Argh, pusiiiing...</p>
<p>But, hey, just be YOU! Tulislah apa yang mau lo tulis, dan nggak ada yang ngelarang atau maksa lo kalo elo nggak mau nulis apa yang nggak mau dan nggak mampu lo tulis. Setiap orang punya motivasi sendiri-sendiri dalam menulis, dan masing-masing ada HARGA-nya, ada TINGKAT KEPUASAN-nya sendiri-sendiri. Oke, gue mau nulis ini, ya gue tulis begini. Apa pun pendapat orang, yang penting gue puas udah nulis ini. Titik.</p>
<p>Yeah, biar kata orang saya cengeng, ngehek, lebai apalah... selama saya merasa nyaman menulis dengan gaya-gaya yang selama setahun ini saya gunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang saya rasakan, pikirkan dan teramat ingin saya utarakan, semua itu akan tetap saya pertahankan dan sebisa mungkin saya arahkan pada progres yang jelas dan positif.</p>
<p>Selain ininyadadun, saya masih memiliki dua blog lainnya. &#60;http://dunontondiri.wordpress.com&#62; yang berisi review, atau lebih tepatnya testimonial yang saya tulis terhadap film-film Indonesia yang saya telah saya tonton sendiri, dan &#60;http://anunyadadun.multiply.com&#62; tempat saya ber-narsis ria dengan foto-foto aneh dan agak gila, cerpen-cerpen, puisi dan sebagainya, pokoknya semua yang ingin saya posting tumplek blek di sana.</p>
<p>Dalam kesempatan ini (cailah, “kesempatan”), saya ingin berterima kasih, terutama kepada teman saya, <a>Ihwan</a>, yang sudah memperkenalkan saya pada DUNIA INI. Thank you so much, One.***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[03 - 06 - 08  = 21]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=200</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 07:30:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/06/04/03-06-08-21/</guid>
<description><![CDATA[03 - 06 - 08  = 21
Alhamdulillahirabbil’alamin &#8230;
Tiada yang tak patut disyukuri. Satu per s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>03 - 06 - 08  = 21</p>
<p>Alhamdulillahirabbil’alamin ...</p>
<p>Tiada yang tak patut disyukuri. Satu per sekian juta detik yang bahkan kerap tak termaknai dalam sisa-sisa kemarin yang nyaris terlupakan itu mengguratkan rasa tersendiri dalam ketersadarannya akan arti sebuah titik. Ya, titik. Sejangkau penglihatan yang memaknai dan menandai keberadaannya. Ia. Di sini, di dunia yang bernama semesta.</p>
<p>Di tengah harap-cemasnya menjadi DEWASA dan rasa takutnya menjadi TUA, ia belajar memahami masa KANAK-KANAKnya; mencoba mempertahankannya, dan pada akhirnya, mau tidak mau harus tinggal mengenangnya.</p>
<p>Karena bagaimanapun ia... sadar, bahwa 21 tidak sama dengan 12.</p>
<p>Ia kerap merisaukannya. Seperti ketika ia merasa benar-benar kehilangan semua masa-masa usia belasannya, untuk selama-lamanya. Bahwa menurutnya, masa itu berarti telah berakhir dan ia terlambat, bahkan sama sekali gagal akan segala hal yang ingin ia capai pada saatnya.</p>
<p>Padahal seharusnya, <!--more--><!--more-->ah, ya, seharusnya ia biasa-biasa saja. Seharusnya. Apa yang harus dirisaukan? Jalani saja, tanpa perlu banyak berpikir yang hanya membuatmu sekadar berpikir tanpa berbuat apa-apa. Berpikir akan menjadi sesuatu yang sangat penting ketika dapat termanifestasikan dengan baik, kelak, atau setidaknya sesaat setelah dirimu melakukannya. Selama ini ia terlalu banyak berpikir.</p>
<p>21 mengingatkannya pada satu masa di mana dirinya mendongak ke udara menyaksikan semacam fenomena tentang manusia yang tumbuh dewasa; saudaranya yang lebih dulu hadir ke dunia, teman-temannya, tetangganya dan orang-orang yang menurutnya sudah cukup LAYAK dengan angka 21 itu. Wajah yang meyakinkan, ekspresi yang mantap dan garis-garis karakter yang kuat. Fisik yang tangguh. Kepribadian yang kukuh. Dan jiwa yang sedemikian dewasa.</p>
<p>Ketika ia berkaca, bayangannya masih nampak sama. Tak banyak yang berubah pada dirinya. Lagi-lagi ia dilanda resah, tetapi kemudian ia berusaha menepisnya. Ya, inilah dirinya. Si lelaki 21 tahun yang masih menenteng tas ranselnya yang berisi mainan dari masa lalunya, foto-foto kecilnya, catatan-catatan sekolahnya, nilai-nilai rapor terbaiknya, hingga pensil warna yang tersisa lima sentimeter saja dengan buku gambarnya yang selalu penuh hingga halaman belakang.</p>
<p>Ia yang masih disuapi ketika malas makan. Ditertawakan ibu warung ketika jajan makanan yang laris dibeli anak lima tahunan. Harus selalu diingatkan jadwal shalat, terutama shalat Shubuh. Mengendap-endap ke dalam kamar dan tidur di antara kelelapan Ibu dan Bapaknya ketika ia sulit tidur sendirian. Merengek minta dibelikan sesuatu hingga ngambek berhari-hari jika tak digubris. Meninggalkan banyak pakaian dan piring kotor di keranjang cucian. Menyecarkan sampah bekas serutan pensil, repihan kertas dan remah makanan di lantai. Memberantakkan isi lemari tanpa sanggup merapikannya lagi. Menyusahkan Ibu dan Bapaknya dengan segala masalah yang tiada habisnya.</p>
<p>Ia yang masih bukan siapa-siapa.</p>
<p>Ia yang merasa tak berguna dengan kepala duanya. Ia yang merasa sia-sia dengan ketakberdayaannya.</p>
<p>Akhir-akhir ini ia sering dihampiri mimpi dan abstraksi kecil tentang hidupnya sendiri. Hatinya tak jauh berbeda dari kalender dinding yang tersobek setiap harinya, berganti angka, berganti bentuk, berganti warna, berganti rasa. Pemikiran-pemikiran yang membuatnya gila dan tak bisa menyembunyikan ekspresi gamangnya kepada setiap orang yang ditemuinya.</p>
<p>Ia semakin menikmati kesendiriannya.</p>
<p>Entahlah, apakah ia punya atau tidak, rencana untuk mengisi 21-nya. Mengerjakan TA. Wisuda pada waktunya. Melamar kerja. Atau diam saja di rumah; hal yang paling ditakutkannya sekaligus teramat sangat dinikmatinya.</p>
<p>Argh, apa yang harus dirisaukan? Jalanilah dan hidup berjalan dengan cara-caranya. Tuhan selalu punya rencana, dan kau hanya tinggal menjalankannya, mengikuti instruksinya, bertanya jika tak mengerti, meminta, memohon dan memasrahkan kembali segalanya pada-Nya. Apa yang kaumiliki? Tak ada. Semua ini milik-Nya. Hidupmu pun dalam genggaman-Nya.</p>
<p>21-mu adalah bagian dari semua-Nya.</p>
<p>Selamat 21. Semoga ia memberimu tempat ternyaman di bangku yang tidak terlalu depan atau paling belakang, setidaknya tempat duduk yang membuatmu merasa nyaman ketika menyaksikan adegan demi adegan di layar bioskop 21, sendirian, dan kau bisa tertawa lepas, menangis bombai dan terguncang hingga memburaikan berondong jagung pada sepasang kekasih yang sedang bercumbu di sebelahmu. Lalu kau pulang dengan sejuta pengalaman dan menuliskannya kembali untuk kemudian kaukenang.***</p>
<p>Bandung,<br />
04 Juni 2008 12:03:29</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tengah Malam, dan Ucapan yang Terlalu Awal]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=197</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 10:20:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/31/tengah-malam-dan-ucapan-yang-terlalu-awal/</guid>
<description><![CDATA[Entah mendapat bisikan dari mana, malam itu tiba-tiba saja saya didera keinginan untuk mengetahui no]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mendapat bisikan dari mana, malam itu tiba-tiba saja saya didera keinginan untuk mengetahui nomor ponsel seseorang. Ya, seseorang yang cukup lama saya ‘idolakan’. Mendekati akhir Mei, seingat saya, pada tahun sebelumnya, tahun pertama ketika saya mulai mengenalnya, seseorang yang saya maksudkan berulang tahun. Tepatnya kapan, saya lupa.</p>
<p>Akhirnya saya bertanya pada seorang teman di seberang kota sana (yang saya pikir ia mengetahui nomor ponselnya), dengan jari malu-malu (ekspresi yang begitu sulit terdefinisikan dengan jari-jari tangan). Setelah semalaman menunggu, ternyata ia tidak tahu, tetapi sedikit memberi kepastian bahwa ia akan mencari tahu kemudian memberitahukan ulang.</p>
<p>Dan, akhirnya, ia berhasil. Thanks, temans.<!--more--></p>
<p>Saya tak menunggu terlalu lama, langsung menghubunginya (baca: missed call). Beberapa menit kemudian ia balas menelpon, dan tentu saja saya merasa cukup bersalah karena merasa telah mengganggu hari kerjanya. Tetapi jujur, saya teramat senang, akhirnya, setidaknya, bisa mendengar suaranya; bertegur sapa lewat mulut dan telinga. Hm, tidak jauh beda dengan ketika kami saling melempar tawa dan canda di jendela YM! Ia menyapa saya penuh dengan tawa, dan suara yang penuh suka cita. Ia begitu ceria.</p>
<p>Apa yang kamu rasakan ketika akhirnya bisa ber-SMS ria dengan seseorang yang selama ini cukup memberikan banyak inspirasi dan motivasi untukmu?-biarpun cuma sebentar, karena bagaimanapun kalian sadar bahwa ada hal-hal yang memang bisa, boleh dan tidak dapat dilakukan. Ya, ya, semua ini sudah lebih dari cukup untuk diri saya.</p>
<p>Dan, oh Tuhan, betapa tololnya saya. Malam itu, saya pikir adalah malam terakhir baginya melewati usia dua puluh empatnya. Kebetulan, mata saya masih kuat terjaga hingga jam dua belas lewat, dan ketika penunjuk waktu hampir memajang angka 00:00 WIB, saya lekas menulis SMS:</p>
<p>“Menjadi tua adalah pasti, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan... happy birthday, wish you all the best...” *tentu saja SMS standar yang sudah sering saya dan kita semua dengar dari berbagai sumber, bukan originial ;)*</p>
<p>Tetapi TERNYATA... setelah me-re-cek ulang informasi dari berbagai sumber (halah), ucapan selamat ulang tahun yang saya berikan untuknya datang lebih awal dua hari dari waktu yang seharusnya. DUA HARI!</p>
<p>M.A.L.U.</p>
<p>Well, tetapi toh saya tetap berbagi ke-MALU-an ini. Yah, semoga tidak terulang lagi. Anyway, early better than late, right? Hahaha...***</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jatuh Cinta, Ah...]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/2008/05/31/jatuh-cinta-ah/</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 10:09:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/31/jatuh-cinta-ah/</guid>
<description><![CDATA[Jatuh Cinta, Ah&#8230;
Saya lupa kapan terakhir kali jatuh cinta. Bahkan kini rasanya sudah cukup su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jatuh Cinta, Ah...</p>
<p>Saya lupa kapan terakhir kali jatuh cinta. Bahkan kini rasanya sudah cukup sulit lagi mengidentifikasinya.</p>
<p>Apa itu jatuh cinta?</p>
<p>Suatu pagi saya terdampar di taman kota atas anjuran ibu saya. Tepatnya paksaan darinya. Yah, memang, tidur lagi setelah bangun dan sholat Subuh juga membuat badan saya pegal-pegal. Kuliah mumpung lagi libur. Dan, yah, memanfaatkan saat-saat menganggur.</p>
<p>Berlari kecil, mengitari taman kota berkerangkeng besi tinggi, melintasi pohon palem yang satu dengan yang lainnya, membuka sepatu dan berjalan di permukaan kerikil tajam untuk refleksi melancarkan peredaran darah, akhirnya saya lelah dan duduk di salah satu bangku besi. Menunggu keringat yang tak juga turun.</p>
<p>Tiba-tiba seorang gadis melintasi saya. Cantik. Menarik. Saya yakin, tidak hanya kaum lelaki saja yang membelalakkan mata ketika melihatnya. Beberapa ibu dan gadis lain yang kebetulan berada di sana pun nampak bereaksi lebih saat melihatnya. Desir-desir adrenalin yang tak bisa dibendung terasa naik ke kepala. Geliat-geliat rasa menebar ke seisi jiwa dan jantung berdetak lebih ribut dari ketika harus sprint mengejar garis finish waktu pertandingan lari di jam pelajaran olah raga kala SMA. Hahaha...</p>
<p>Apakah ini jatuh cinta?<!--more--></p>
<p>Lalu, berganti seorang perempuan, masih gadis, nampaknya, lewat di depan saya. Tidak terlalu cantik. Tidak terlalu menarik. Biasa saja. Dan saya pun biasa saja jadinya, malah lebih asyik memerhatikan burung-burung yang sedang pacaran di pohon... entah apa.</p>
<p>Kenapa biasa-biasa saja? Kenapa saya tidak berpikir bahwa ini jatuh cinta, seperti yang terjadi sebelumnya? Lho, memangnya, jatuh cinta itu seperti apa, dan bagaimana? Lho, memangnya, jatuh cinta itu harus kepada mereka yang membuat kita blingsatan dan tak keruan? Lho, memangnya jatuh cinta itu...?</p>
<p>Dari kaca mata seorang laki-laki, jatuh cinta itu... ah, terlalu naif dan subjektif jika saya harus melibatkan hal-hal fisik di dalamnya. Yah, apalagi saya termasuk orang yang mudah jatuh cinta. Dulu. Sekarang? Ya, sama saja. Tapi, entahlah. Makanya saya bingung. Haduh, bicara apa, saya?</p>
<p>Tapi, pernahkah kita jatuh cinta kepada sesuatu yang BIASA-BIASA? Pernahkah kita jatuh cinta kepada hal-hal yang membuat hidup kita masih berjalan normal-normal saja, nyaris tak ada bedanya dengan saat-saat sebelumnya? Dan pernahkah kita jatuh cinta kepada sesuatu yang tak terduga sebelumnya?</p>
<p>Lantas, ada berapa jenis jatuh cinta?</p>
<p>Jatuh cinta pada seorang perempuan karena ia cantik, pintar, menarik dan membuat kita selalu memikirkannya apakah itu bisa disebut jatuh cinta?</p>
<p>Jatuh cinta pada seseorang yang biasa-biasa saja, apakah itu juga jatuh cinta?</p>
<p>Jatuh cinta pada sesuatu dengan spesifikasi tertentu juga apa pitu jatuh cinta?</p>
<p>Hahahaha... jatuh cinta. Untuk apa kita jatuh cinta?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selalu Ada Kerikil, Tetapi, Ah, HANYA Kerikil]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=195</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 09:58:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/31/selalu-ada-kerikil-tetapi-ah-hanya-kerikil/</guid>
<description><![CDATA[Syukurlah, entah kenapa dan bagaimana, hari itu saya merasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Syukurlah, entah kenapa dan bagaimana, hari itu saya merasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Tentang rasa sakit ini, tentang kebimbangan ini, tentang hal-hal tak menentu ini. Yah, akhirnya saya bisa sedikit merasakan gema semangat SYUKUR dan IKHLAS yang pernah dibisikkan seseorang kepada saya. Pelan, namun bagaimanapun tak ada alasan untuk tidak mencobanya.</p>
<p>Oh, mungkin juga karena efek Kembang Sepatu yang dibawakan ayah saya dan temannya, yang entah kenapa begitu tersentuh tangan ajaib ibu saya, benda yang sewaktu kecil membuat saya merasa bak kupu-kupu yang senang menghisap madu manis pada bebungaan itu dapat kembali menemukan semangat, sedikit demi sedikit, meski efeknya tidak terlalu signifikan. Semangat merekalah yang menguatkan saya. Dan itu lebih dari segalanya untuk saya. Terimakasih semuanya...</p>
<p>Dan hari itu keadaan saya baik-baik saja. Tak ada keluh. Tak ada misuh-misuh. Ah, betapa nikmatnya bersimpuh pada pangkuan ibu sambil menggosok-gosokkan sesuatu di kepala saya. Kami berbincang tentang banyak hal, hingga bergosip tentang tetangga sebelah yang selalu bertingkah. Haduh, saya sudah berusaha menghindar tetapi memang bergosip itu sangat menyenangkan. Hahaha. Bukan gosip murahan, kok. Cuma sekadar lucu-lucuan. Yah, sama sajalah. Tapi yang terpenting momen-momen bersama ibu yang terasa begitu nikmat. Di balik sikap ketusnya menghadapi anak lelaki yang payah seperti saya, betapa ibu selalu dan selalu menyayangi saya. I love you, Mom.<!--more--></p>
<p>Meski terkadang, saya tetap tak bisa mengalihkan rasa bersalah padanya, tentang suatu hal...</p>
<p>Tapi, sudahlah. Hari itu saya benar-benar bahagia. Doa pagi saya benar-benar terkabul sempurna: semoga hari ini lebih baik dari yang kemarin, apa yang saya dapatkan dan apa yang saya hasilkan...</p>
<p>Sampai akhirnya... yah, hanya masalah kecil yang terjadi di salah satu tempat favorit saya; ruang yang penuh inspirasi sekaligus tempat mengeksploitasi adrenalin dengan cara-cara yang terlalu ‘manusiawi’ dan ehm, gitu deh. Hihi, pasti ngertilah. Tapi, sumpah, saat itu saya tidak mengakses situs yang aneh-aneh. Sudah beberapa kali saya berhasil menghindarinya. Dan masalahnya, sepertinya terdapat pada TEMPATNYA. Ya, dulu saya pernah ke warnet itu dan mengalami kesialan, kesalahpahaman tentang PAKET INTERNET yang akhirnya malah merugikan saya. Dan, sore itu, karena warnet langganan saya penuh, saya terpaksa ke sana, dan lagi-lagi menghadapi MASALAH. Ah, saya janji tidak akan lagi ke sana. CAMKAN. *hahahaha... ketawa setan*</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Secangkir Kopi untuk Hanny]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=194</link>
<pubDate>Thu, 29 May 2008 09:16:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/29/secangkir-kopi-untuk-hanny/</guid>
<description><![CDATA[Hujan menurunkan perempuan bernama Hanny di depan pagar rumahnya dengan taksi kesekian di penghujung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Hujan menurunkan perempuan bernama Hanny di depan pagar rumahnya dengan taksi kesekian di penghujung bulan. Pada saat yang sama, seekor anjing bernama Moshi melompat ke kandangnya karena suara halilintar. Dan seorang lelaki melongok dari ruang yang lain, memastikan perempuan itu lekas masuk sebelum lebih kuyup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Moshi tak lantas ke luar ketika perempuan itu melintasinya dengan langkah lelah dan agak basah. Padahal ia tengah dilanda kesepian, dan kerinduan mendalam pada si perempuan yang lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Ah, ia merasa keberadaan sosok lelaki yang takut pada anjing itu tak berguna sama sekali. Hei, Moshi anjing yang lucu dan menggemaskan! Dan lelaki itu hanya mampu melihatnya dari kejauhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Selamat malam,” perempuan itu tersenyum simpul sambil membelai rambut halus Moshi yang berwarna jingga muda karena terpaan lampu dalam kandangnya. Moshi menyahut dengan suara lembut dan gerakan kepala manjanya sebelum akhirnya tertidur pulas. Oh, hampir jam sebelas. Perempuan itu cukup tersentak seruan jam dinding yang seolah baru saja mengingatkannya akan perjalanan enam puluh kilometernya yang kali ini menghabiskan waktu satu setengah jam lebih. Arus lalu-lintas sepanjang Jakarta-Bogor malam ini lebih padat dari biasanya.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Membuka kulkas, perempuan itu akhirnya hanya meraih sebotol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas setelah berusaha mencari bengkuang yang seingatnya masih tersisa beberapa buah, namun ternyata sudah tak lagi berada di sana. Untuk mengobati kecewanya, ia pun berpaling pada lemari makanan dan menemukan sedadu tahu untuk sekadar menemani perjalannya ke dalam kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Diam-diam, si lelaki berusaha menyalakan alat penyeduh kopi, hingga akhirnya ia dihampiri kesadaran bahwa keterasingannya dengan benda itu hanya membuatnya terlihat lebih bodoh dari yang seharusnya. Betapapun ia ingin berbuat sesuatu tanpa harus merusaknya, terlebih ia tak mau gegabah. Menyeduh kopi bukan lagi perkara sederhana untuk seseorang yang tak seberpengalaman dirinya, yang sedang berusaha menyuguhkan secangkir kopi istimewa untuk seorang pencinta kopi seberseleratinggi perempuan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Si lelaki tahu bahwa perempuan itu menyukai kopi lebih dari apa pun, mencintainya lebih dari siapa pun. Ia tak perlu tahu kenapa, tetapi malam ini ia sangat perlu tahu spesifikasi kopi kesukaannya seperti apa. Menyesal ia tak pernah bertanya sewaktu mereka masih sempat saling menyapa. Dan rasanya sekarang sudah cukup terlambat untuk menyinggungnya. Lagi pula perempuan itu seperti tidak sedang ingin diusik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ya, ia nampak sangat lelah; dengan rutinitas dan pekerjaannya, dengan perasaannya. Begitu tiba di dalam kamar, ia langsung menjatuhkan dirinya pada tempat tidur besarnya yang penuh dengan bantal dan boneka. Menyingkirkan semuanya hingga terserak di lantai, kemudian mengambil posisi terlentang dengan dua tangan dibukakan, dan kaki yang menggantung di ujung ranjang. Matanya terpejam, bukan tidur, hanya melukis gelap yang di saat-saat tertentu terasa begitu hangat. Menajamkan telinga pada deras hujan di luar, pada teriakan-teriakan halilintar. Kepalanya menjadi sedemikian padat, serupa kotak yang nyaris kehabisan kapasitas muat. Perlahan ia merasakan dirinya mengeping dalam versi atom yang lebih kecil dari setiap detil bagiannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Oh, Splinters,” desis lelaki yang masih mencoba menembus pintu kamarnya yang tak pernah terkunci itu, namun kerap sulit untuk dimasuki. Kemudian ia memutuskan kembali pada motivasi terbaiknya untuk tetap berupaya menciptakan secangkir kopi yang sempurna tanpa harus bertanya apa-apa, tanpa harus menunda lebih lama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dan tanpa harus mengganggunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Betapapun si lelaki sadar akan posisinya di sana. Ia bukan siapa-siapa, tak ada hubungan apa-apa dengannya, bahkan sama sekali tak tahu apa-apa tentang perempuan bernama Hanny itu. Hanya karena si lelaki pernah sekali waktu ditegur olehnya dengan kata-kata yang akhirnya membuat dirinya berpikir dan belajar untuk lebih menghargai sesuatu. Si lelaki yang awalnya tak cukup menerima, sempat menjadi begitu sinis padanya hingga akhirnya menemukan pembuktian secara mandiri tentang sosok perempuan itu yang sebenarnya: Hanny yang rendah hati, bersahaja dan sangat inspiratif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ya, akhirnya, setelah bertahun-tahun jiwanya mendesir bagai pasir kering, si lelaki bagai menemukan sebentuk oase untuk mengaliri sungai nadinya, membasahi sudut-sudut matanya (dengan segala haru-biru yang diciptakan perempuan itu). Lelaki itu jatuh hati, teramat sangat, kepadanya. Bukan berdasar apa-apa, hanya karena ia menginginkannya; merasakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ah, saat ini si lelaki tengah tersipu dengan segala perasaannya terhadap perempuan itu, sambil berusaha keras menyeduh secangkir kopi untuknya. Hanya ada rumus 3:1 dalam benaknya kala menyendok serbuk kopi dan gula dari tempatnya. Ia bahkan tak tahu harus mencampurnya dengan apa lagi, atau berapa putaran sendok yang harus ia lakukan agar tercipta secangkir kopi sempurna di malam yang luar biasa ini. Lihat, di luar hujan begitu deras, dan ia tahu perempuan itu teramat sangat menyukainya. Ya, mereka sedang melakukan upacara perayaan untuknya. Para prajurit air langit yang selalu dirindukannya itu tengah bersuka cita melipurnya, selayak sahabat dan orang-orang terdekatnya yang turut berbahagia atas sebuah momentum istimewa: malam menjelang usia 25-nya kini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Terimakasih, Hujan,” untuk pertama kalinya, lelaki yang teramat membenci hujan itu bersikap ramah dan tulus pada fenomena alam yang menjadi musuhnya selama bertahun-tahun itu. Bahkan kini ia berharap hujan tak lekas surut hingga besok pagi, dan berhari-hari setelahnya sampai perempuan itu merasa cukup dan sejenak membiarkan jingga menyala di langit yang masih basah. Seolah-olah ia sedang belajar menyukai apa-apa yang disukai perempuan itu. Seakan ia melupakan segala egosentrisnya, demi perempuan itu.</span></p>
<p><span lang="IN">Perutnya mendadak sakit sesaat setelah ia mencoba menyesap kopi hasil buatannya sendiri, sebelum disuguhkan kepada perempuan itu. Entah terlalu pahit atau manis, apa pun rasanya, lambungnya tak pernah bisa kompromi dengan zat-zat yang terkandung di dalam kopi. Dan satu-satunya hal yang paling ditakutkannya adalah kafein yang bisa saja berkolaborasi dengan insomnianya menjadikan malam ini lebih panjang dari yang seharusnya. Dan pada akhirnya, lagi-lagi ia akan kehilangan sinar matahari untuk tubuhnya keesokan hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tetapi, yah, malam ini sebisa mungkin menjadi milik perempuan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan langkah tak percaya diri, akhirnya si lelaki beringsut ke arah kamar perempuan itu, membawa secangkir kopi rasa hati, racikannya sendiri. Sesaat ia tertahan di ambang pintu, mengintip dari sela-selanya yang terbuka; perempuan itu menitikkan air mata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Duduk menghadapi layar lap topnya sekaligus menembus kaca jendela kamarnya, perempuan itu mengetikkan sesuatu, berjeda terawangan ke langit lepas kemudian mencuri rintik hujan pada sudut matanya, kembali mengetik, dan begitu seterusnya. Si lelaki tak kuasa melangkah, bahkan ia kehilangan energi untuk tetap memepertahankan diri; hatinya bertanya-tanya sunyi: apa yang terjadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Cangkir kopi yang dibawanya bergetar dengan frekuensi yang mengencang. Sebelum semuanya berantakan, si lelaki lekas meletakkannya di meja terdekat dari arahnya. Kemudian ia duduk bersimpuh di depan pintu kamarnya seraya memanjatkan permohonan pada Sang Pemberi Kebahagiaan untuk lekas mengirimkan Paket Kebahagiaan Super Kilat sebagai kado ulang tahun untuknya. Berapa pun harganya akan ia bayar. Bagaimanapun, perempuan itu tak pantas bersedih, terutama di hari ulang tahunnya ini. Sebab, jika ujung sarung bantal dan punggung tangannya masih basah karena digunakan untuk menghancurkan tetes-tetes panas yang menyengat di sudut matanya, bagaimana mungkin si lelaki bisa jauh lebih bahagia darinya. Tidakkah ia tahu bahwa hidup si lelaki bisa dikatakan bergantung pada dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ya, perempuan itu tak pernah tahu, dan tak perlu tahu apa-apa tentang diri si lelaki. Tak akan ada yang berubah pada dirinya hanya dengan satu fakta yang tidak penting itu, kecuali perempuan itu menyadari bahwa kebahagiaan hatinya bukan semata untuk hidupnya sendiri, melalinkan juga untuk hidup si lelaki, bahkan orang lain yang tidak dan belum ia ketahui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Si lelaki tak bisa menahan diri untuk menghampiri perempuan itu. Tetapi, ah, ya, ia bukan siapa-siapa, bukan sosok yang berarti untuknya. Ia hanya seorang lelaki asing yang so’ ikut campur urusan orang lain. Seorang lelaki yang diam-diam mengintip dari balik jendela virtual dan berlama-lama singgah Di Sini, di istana cantiknya yang lebih sempurna dari replika surga yang pernah ditapakinya. Dan karena memang, bukan dirinyalah yang dinantikan perempuan itu pada malam ini. Entah siapa. Entah apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tapi tak mengapa; si lelaki tak berharap lebih darinya. Hanya jika ketika ia merindukannya, perempuan itu masih tetap Berada Di Sini; masih menulis, ditemani bercangkir-cangkir kopi, menikmati hujan dan gerimis, jingga dan senja, aksara, cerita dan cinta. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dan akhirnya si lelaki menyadari batas-batas emosionalnya cukup berakhir di sini, pada secangkir kopi yang dengan susah payah dibuatnya untuk sang perempuan yang tak pernah ingin beranjak dewasa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">***</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">Secangkir Kopi untuk Hanny</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">tiga sendok kopi dan sesendok gula, entahlah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">formulasi yang tak cukup terpercaya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">ada tetes gerimis dalam cangkirnya, mungkinkah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">dari langit hatimu yang jingga</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">pahit, Han</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">semoga saya salah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">maaf, hanya secangkir kopi berampas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">cukup kamu pandangi saja</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">dan katakan bahwa kamu tak begitu menginginkannya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">karena ada bercangkir-cangkir kopi yang lebih sempurna di sana</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">manis, Han</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN">semoga dan selamanya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">***</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selamat ulang tahun, Hanny-Splinters: You rock!***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dadun,<em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bandung, 29 Mei 2008 11:22:29 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dari Seorang Dadan Erlangga untuk Sebuah Dadun ;)]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=188</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 08:55:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/23/dari-seorang-dadan-erlangga-untuk-sebuah-dadun/</guid>
<description><![CDATA[Betapa Tuhan menciptakan manusia dengan kisahnya masing-masing. Masa lalu, saat ini dan masa depan t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Betapa Tuhan menciptakan manusia dengan kisahnya masing-masing. Masa lalu, saat ini dan masa depan telah sedemikian rupa diatur dan ditulis dalam takdir. Biarlah yang rahasia tetap menjadi rahasia-Nya. Dan karena manusia dilahirkan untuk menjalani hidup dan memaknainya. Hidup yang terkadang tak sesuai dengan kehendaknya, namun selalu memberikan sesuatu yang mau tak mau harus diterimanya.</p>
<p>Maka, hidup menjadi sesuatu yang harus dijalani, apa adanya, apa pun keadaannya.</p>
<p>Menjalani hidup adalah mensyukurinya. Mengeluh dan banyak bertanya justru tak akan memberikan apa-apa, kecuali kehilangan rasa cukup. Bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah karunia dari Sang Maha Pemberi Hidup? Tidakkah hanya dengan hidup, kamu sudah merasa cukup?</p>
<p><!--more-->Setiap orang terlahir dengan takdir masing-masing, jalan hidup yang tak sama. Selalu ada banyak persoalan dalam setiap babaknya. Ada debu, pasir, kerikil, koral bahkan hingga batu-batu besar yang akan ditemuinya. Membuat matanya kelilipan dan hidungnya bersin-bersin; menyebabkan kakinya terantuk, tergelincir kemudian terjatuh; menimpa tubuhnya hingga berdarah dan terluka parah.</p>
<p>Tetapi, percayalah, betapapun hidup ini selalu indah. Dan keindahan tidak harus selalu diukur dari seberapa besar prosentase tawa-bahagia dan perasaan nikmat dan nyaman yang hinggap di hatimu. Indah adalah ketika kamu masih bisa mengingat tawa dalam setiap derai air mata, dan tetap merasa bahagia ketika kamu menderita. Dan, terutama ketika kamu masih bisa menghadirkan dan merasakan Tuhan dalam setiap hela napas yang masih diberikan.</p>
<p>Kamu tidak boleh merasa lelah selama Ia masih memberikan kekuatan-Nya melalui tangan dan usaha orang-orang yang sangat mencintaimu. Kamu jangan lekas menyerah selama Ia belum membisikkan rahasia kecil-Nya di telingamu, atau di telinga orang-orang yang sangat mencintaimu. Dan kamu tak perlu berpikir bahwa semuanya akan berakhir begitu saja hanya karena sampai sekarang tak ada perubahan apa-apa pada dirimu dan justru keadaannya bertambah buruk.</p>
<p>Percayalah, semua ini masih bisa kamu lalui. Ia tidak akan mengujimu dengan sesuatu yang tak sanggup kamu atasi. Dan Ia tidak akan mengambil sesuatu darimu sampai kamu menemukan apa yang kamu cari dari hidupmu.</p>
<p>Ia akan mengambil sesuatu darimu? Memangnya, kamu merasa memiliki sesuatu?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si Lelaki, dan SMS, lagi]]></title>
<link>http://ininyadadun.wordpress.com/?p=186</link>
<pubDate>Fri, 23 May 2008 08:47:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>D a d u n</dc:creator>
<guid>http://ininyadadun.id.wordpress.com/2008/05/23/si-lelaki-dan-sms-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Lelaki itu masih berkutat dengan materi kuliah yang cukup terlambat dipelajarinya, bahkan dipahaminy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Lelaki itu masih berkutat dengan materi kuliah yang cukup terlambat dipelajarinya, bahkan dipahaminya. TERLAMBAT. Ia nyaris akrab dengan kata itu. Buku setebal 332 halaman yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya sejak tiga minggu yang lalu itu belum juga usai dipelajarinya. Entahlah, ia begitu ingin menguasainya, tetapi masih membiarkan rasa malas meninabobokannya. Lebih-lebih karena satu alasan klasik: ia sedang jatuh sakit. Lagi.</p>
<p>Tetapi ia tak pernah punya alasan untuk menolak birahinya membabi-buta dalam setiap kata-kata yang ia ketikkan di layar 14 inchi itu. Ia selalu yakin bahwa hanya dengan menulis-lah ia bisa merasa lega dan mampu mengatasi segalanya. Bahkan ketika tulisannya hanya berakhir di tong sampah atau di penjual gorengan saja, ia merasa sudah melakukan hal yang cukup signifikan untuk dirinya. Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang paham akan maksudnya.</p>
<p>Mendadak monitornya berpendar-pendar lemah, seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal siarnya. Ponsel tuanya berdering sekejap, pertanda sebuah SMS singgah.</p>
<p>“Maaf mengganggu. Cuma mau tanya; apa obat hati untuk dapat mengikhlaskan segala sesuatu?”</p>
<p>Lelaki itu berpikir sejenak, kemudian membalas, <!--more-->“Bersyukur dan mempositifkan segala pemikiran kita. Selalu menganggap diri kita hanyalah makhluk yang tidak tahu apa-apa dan Tuhan yang Maha Rencana selalu memiliki maksud dan tujuan dari setiap keputusan dan kehendak-Nya atas diri kita.”</p>
<p>Seseorang di sana kembali mengiriminya pesan, “Apa yang harus kita lakukan untuk membahagiakan hati yang sedang sedih?”</p>
<p>Lelaki itu berpikir agak lama. Bagaimana bisa ia menjawabnya, sementara hatinya pun tengah diliputi kesedihan. Tetapi, sebisa mungkin ia berimprovisasi demi menunjukkan diri betapa ia teramat ingin menjadi seorang penulis, “Percayalah, tidak akan ada kebahagiaan yang datang tanpa kesedihan. Dan keduanya tidak mungkin bisa datang bersamaan. Maka, masalahnya hanya ada pada waktunya saja. Bersabarlah dalam merindukan kebahagiaan. Dan nikmatilah kesedihan sebagaimana kamu menikmati kebahagiaan. Karena hidup adalah selalu tentang dua hal itu.”</p>
<p>Ah, si lelaki sebenarnya tak paham benar dengan apa yang baru ia ketikkan di layar ponselnya. Tetapi, akhirnya ia sadar bahwa yang baru saja dituliskannya bukan sebuah kekeliruan. Dan sedikit-banyak ia merasa terbantu oleh dirinya sendiri, oleh seseorang yang baru saja melontar pertanyaan untuknya.</p>
<p>Cukup lama si lelaki membiarkan ponselnya di sisi monitornya yang penuh dengan jendela beraneka nama: Stage, Cast: Internal, Property Inspector, Tool, Score, Code dan Behaviors. Ia tengah merencanakan sesuatu dengan benda-benda itu untuk membuat semacam portofolio atas segala yang telah ia buat selama tiga tahun terakhir ini. Semoga ia belum terlambat untuk membuatnya.</p>
<p>“Ketika hubungan seseorang harus dipisahkan oleh waktu, tempat, jarak dan keinginan orang tua, apakah keputusan mengakhiri suatu hubungan adalah jalan yang terbaik untuk semuanya?” inbox memory di ponselnya kembali terisi.</p>
<p>Tak banyak waktu yang dibutuhkan si lelaki untuk lekas membalasnya, kecuali kemampuan mengetiknya di ponsel yang masih di bawah rata-rata, “Belum tentu juga. Saya rasa setiap orang memiliki takaran sendiri dalam menentukan apa yang terbaik untuk dirinya. Dan, saya pikir kalian berdualah yang lebih paham tentang hal ini. Maaf, saya tidak banyak berkomentar karena terlalu sulit memposisikan diri menjadi orang lain yang tengah terlibat suatu hubungan. :)”</p>
<p>Ya, si lelaki tak pernah berhasil menjalin suatu hubungan, sekaligus tak pernah gagal. Karena ia tak pernah mau mencobanya. Lagi. Ah, payah!</p>
<p>“Kalau seseorang mereject panggilan telpon kita, apakah artinya dia sudah tidak menginginkan kita? Sementara segala permohonan sudah kita lakukan, dan dia tetap bersikeras menolak.”</p>
<p>Kali ini si lelaki benar-benar mati kutu. Ia yang telah bosan dengan permainan slide, score dan sprite di Director-nya, dan mulai berpaling kepada televisi yang sedang menayangkan acara kontes menyanyi anak-anak, mulai gusar dengan SMS yang kalau diurutkan dari awal hingga yang terakhir diterimanya; tak lain dan tak bukan adalah HANTU yang datang dari masa lalunya. Dan karenanya, perasaan si lelaki mulai kacau.</p>
<p>Tetapi ia tidak lantas tidak membalas. Dengan dada berdebar, ia mencoba mengetikkan, “Setiap orang selalu punya alasan atas apa yang ia lakukan. Baik ataupun buruk, benar ataupun salah langkah dan keputusan yang ia ambil, tak seorang pun menginginkan yang terburuk untuk hidupnya, untuk hidup orang lain. Kita benar-benar dituntut kedewasaan untuk dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dan karena ia tahu bahwa kalian berdua sudah sama-sama cukup dewasa untuk menjalaninya. Jadi, mengertilah. THE BEST THINK IS THE BEST THING.”</p>
<p>Si lelaki kian tak enak hati. Bagaimanapun ia sadar, seseorang itu, perempuan itu masih sedang membahas hubungan mereka bertahun-tahun yang lalu. Ia semakin merasa bersalah mendapati si perempuan masih sulit melepaskannya. Sejujurnya, ia pun berharap tak lantas dilupakan, hanya sekadar ingin diberi kebebasan dan waktu yang tak bisa diprediksikan sampai dirinya dapat kembali memberi keputusan dengan pikiran terjernihnya. Karena hingga saat sekarang pun, si lelaki masih sedemikian bimbang dengan banyak hal. Dan merasa tak ada yang dapat membantu melaluinya, kecuali kesendirian.</p>
<p>“Ok, thanks. Kamu selalu bisa menenangkan pikiranku dari dulu, hingga sekarang. Kata-katamu membuat hatiku tenang dan senantiasa berpositif thinking.”</p>
<p>Ah, syukurlah perempuan itu sudah sedikit merasa lega. Dan si lelaki merasa bebannya sedikit diringankan. Terimakasih juga, TEMAN.</p>
<p>Si lelaki pun kembali tenang.***</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
