<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tidak-penting &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tidak-penting/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tidak-penting"</description>
	<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 18:11:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ode Malam Lebaran]]></title>
<link>http://shavaat.wordpress.com/?p=203</link>
<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 08:39:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>shavaat</dc:creator>
<guid>http://shavaat.id.wordpress.com/2008/10/08/ode-malam-lebaran/</guid>
<description><![CDATA[Saya tidak mudik tahun ini. Kenapa? Tanggung saja waktunya. Sebentar lagi saya ada yudisium soalnya.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-family:&#34;"><span lang="fi-FI">Saya tidak mudik tahun ini. Kenapa? Tanggung saja waktunya. Sebentar lagi saya ada yudisium soalnya. Jadi aja, waktunya sempit untuk mudik. Biarlah di sini saja; di pinggiran Jakarta sambil menikmati sunyinya hari-hari terakhir Ramadhan.</span></span></div>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><span lang="fi-FI">Tapi syukurlah tidak terlalu sepi di kampus. Lho, kok di kampus? Begini, selama bulan puasa ini saya tinggal di kampus. Di posko mapala kampus saya. Menginap bareng Udik yang orang Solo, Ucup yang orang Bekasi, Jalu yang orang Magelang, Sebastian yang orang Mentawai, Antonius yang orang Sukoarjo, kadang Endji yang orang Surabaya yang datang mentraktir makan---terima kasih banyak untuknya. Jadi, saya tidur, mandi, sahur, berbuka di kampus. </span><span lang="sv-SE">Hari-hari terakhir di kampus ini; saya ingin lebih dekat dengan kampus ini. Kalaulah tidak di kampus; di hari-hari terakhir Ramadhan, saya duduk-duduk dan sering tertidur di An Nashr, masjid depan kampus yang baru saja dipasang empat unit </span><span lang="sv-SE"><em>Air Conditioner</em></span><span lang="sv-SE">.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><span lang="sv-SE">Menjelang lebaran, waktu terasa lamban berputar. Saya ingat rumah.Ingat dengan ramainya rumah saat berbuka; oleh keluarga dan orang-orang yang mampir di rumah. Ingat dengan masakan hasil laut yang di gelar di atas tikar pandan. Ingat dengan </span><span lang="sv-SE"><em>Sepat</em></span><span lang="sv-SE">—sambal kuah asli Sumbawa—yang tiap berbuka dibuat oleh ibu saya yang orang Sumbawa. Menjelang lebaran begini, seharusnya saya ada di rumah. Tiduran di </span><span lang="sv-SE"><em>gazebo</em></span><span lang="sv-SE"> belakang rumah sambil mengobrol dengan ibu, bibi, dan paman-paman saya; tentang kuliah, ibukota, sayuran yang baru ditanam, dan ikan lele di kolam. Atau duduk di teras depan, ikut-ikut mengobrol tentang kuda pacuan bersama ayah, abang, sepupu, dan juga paman-paman yang semuanya menggemari pacuan kuda.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><span lang="sv-SE">Malam lebaran ini tidak demikian. Jalan di depan posko ramai dengan pengendara sepeda motor hilir mudik; dengan pusat keramaiaannya di Bundaran Sektor 9 yang disesaki asap kembang api. Entah mengapa, mereka begitu bahagia saat Ramadhan berakhir. Tengah malam, saya hanya duduk sendirian di depan posko sambil memetik gitar. Mencari-cari </span><span lang="sv-SE"><em>chord</em></span><span lang="sv-SE"> lagu Home-nya Michael Bubble. Juga saya carikan nada intronya dengan harmonika merek </span><span lang="sv-SE"><em>Hero</em></span><span lang="sv-SE"> buatan Republik Rakyat China. Tapi, karena tidak ada alat penyangga harmonika yang digantung di leher (apa ya namanya?), saya tidak bisa memainkan keduanya secara bersamaan. Ah, biarlah.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><span style="font-family:&#34;"><span lang="sv-SE">Iseng saya rekam suara saya sambil memetik gitar dengan mode </span><span lang="sv-SE"><em>MMS</em></span><span lang="sv-SE"> </span><span lang="sv-SE"><em>compatible</em></span><span lang="sv-SE">. Ugh, ternyata mendengar rekaman suara sendiri malu rasanya. Nadanya ke sini, suara saya malah entah ke mana. Saya coba rekam beberapa kali. Hasilnya sama saja. Ah sudahlah, tidak usah dipaksa; </span><span lang="sv-SE"><em>toh</em></span><span lang="sv-SE"> saya tidak dibayar. Saya hapus yang sangat-sangat jelek dan memilih yang saya anggap bagus; yang sedikit mirip dan banyak sekali bedanya dengan suara penyanyi aslinya. Begini syairnya yang saya lompat-lompatkan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">Maybe surrounded by</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">A million people I</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">Stilll feel allalone</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">I just wanna go home</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">Oh, I miss you, you know</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">Let me go home</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">I’m just too far</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">From where you are</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">I wanna come home</span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;">Saya kirim MMS ke adik saya, d<span lang="it-IT">engan rekaman yang menurut saya paling bagus nadanya. Pastilah dia mengerti Michael Bubble, karena dia pernah jadi penyiar radio. Mengerti di sini artinya bukan mengerti watak, kemauan, sampai perilaku si Michael Bubble, tapi artinya tahu kalau Michael Bubble itu penyanyi. MMS-nya buat semua keluarga di rumah, khususnya untuk ibu saya. Beberapa saat kemudian sebuah SMS masuk di ponsel saya. Dari Kiki, adik perempuan saya satu-satunya itu. Begini SMS-nya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT">
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><span lang="it-IT">Jelek sekali suaranya</span><span lang="it-IT">,,,</span></span></p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><span lang="it-IT">He..he..he.. Ternyata tidak sesuai harapan. Tapi, berpikir positif saja. Mungkin dia sedang tidak berselera mendengar suara yang <em>merdu</em> karena sedang sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:&#34;"><strong>Posko Stapala, 13:34, 7 Oktober 2008</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="it-IT"><em>"Ingin sekali bertemu Ramadhan tahun depan. Banyak sekali salah yang saya lakukan dalam Ramadhan ini. Bila ada waktu untuk saya"</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Roy Suryo in Quotes]]></title>
<link>http://quotesright.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 09:53:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>outscore</dc:creator>
<guid>http://quotesright.id.wordpress.com/2008/09/13/roy-suryo-in-quotes/</guid>
<description><![CDATA[Sudah pernah liat Roy Suryo kan? Kalau belum nih aku punya gambarnya Gede&#8230;!

Jreng&#8230; jren]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah pernah liat Roy Suryo kan? Kalau belum nih aku punya gambarnya Gede...!</p>
<p><a href="http://quotesright.wordpress.com/files/2008/09/roy-suryo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-10" title="roy-suryo" src="http://quotesright.wordpress.com/files/2008/09/roy-suryo.jpg" alt="" width="200" height="241" /></a></p>
<p>Jreng... jreng... "Oh... itu tho yang namanya Roy Suryo...???". Hemm... kebangeten deh kalau belum tau, orang wajahnya udah terkenal dimana mana koq :p Itu gambar Roy asli lho... coba lihat meta datanya kalo ga percaya... :d he.. he..</p>
<p>Aku sebenernya juga emosi juga kalo liat mukanya, habis sok tau banget. Tapi ga usah di bahas lah, aku kan lagi mencoba intik professional... "ceile...", kalau mau tau banyak tentang dia, coba deh cari di forum forum seperti kaskus.com, bluefame.com, dll...</p>
<p>Ini dia sebagian kutipan-kutipan yang pernah dilantunkannya kepada media :</p>
<ol>
<li>Blog itu satu tren saja. Jadi, seperti agenda yang bisa ditulisi macam-macam. Saya melihat blog sendiri kebanyakan masih berupa katarsis atau tempat curahan emosi.</li>
<li>68% pemakai Friendster adalah palsu. (Saat berbicara di Bincang pagi)</li>
<li>Blog ini kan sama saja dengan personal website, tapi kemudian bentuknya berkembang dan dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali baru. Menurut saya tidak! Itu yang saya sebut dengan sesaat. Jadi artinya satu trend itu akan berkembang dari satu saat ke saat lain dan dia akan terus termodifikasi, akan terus berubah. Sama seperti orang dulu bangga memiliki pager. Kemudian berkembang. Orang jadi suka menggunakan SMS yang melekat pada handphone. Sekarang di handphone juga berkembang teknologi push to talk yang mirip dengan komunikasi radio dua arah kayak orang pakai handy talkie dulu. Jadi kalau ada yang mengatakan push to talk adalah hal yang sama sekali baru, sayapun akan mengatakan itu hal yang tidak baru. Itu cuma perkembangan teknologi komunikasi. Sama seperti orang bersurat.</li>
<li>Ada kecenderungan bahwa kalau tidak membuat blog yang menjelek-jelekkan orang lain, maka itu bukan blog.</li>
<li>Dulu saya juga punya personal website. Tapi sekarang saya pikir untuk Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa dan pengakses internet sampai sekarang menurut data dari APJII hanya mencapai 11,5 juta, saya mungkin memilih menggunakan media yang lain. Itu cara saya mengedukasi - maaf kalau kesannya terlalu tinggi - atau cara saya cerita suatu teknologi kepada masyarakat, misalnya melalui media massa. Cara saya seperti itu.</li>
<li>Yang saya lihat, fenomena blog di Indonesia, kalau mereka meng-quote pendapat dan tidak seragam, itu kemudian menyebabkan dia di asingkan. Itu saya lihat di beberapa blog. Misalnya, sebut saja tokoh-tokoh blog di Indonesia, apakah itu Enda, Priyadi, Jay atau yang lainnya, itu kalau ada suatu pendapat tidak di quote dengan pendapat dia dan tidak mengquote juga pendapat yang lain dia kemudian dikatakan basbang atau basi banget lah atau istilahnya akan di basbang kan atau diasingkan, maka yang terjadi adalah orang jadi takut ke situ. Akhirnya orang mau nggak mau masuk ke situ harus menghujat. Padahal lucunya mereka tidak mau menutupi kebohongan yang sempat terjadi.</li>
</ol>
<p>Bersambung postingan berikutnya deh, habis banyak banget...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[:: plurkache]]></title>
<link>http://beradadisini.wordpress.com/?p=607</link>
<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 04:22:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>hanny</dc:creator>
<guid>http://beradadisini.id.wordpress.com/2008/08/12/plurkache/</guid>
<description><![CDATA[Update (13/08/08): Hanny [suka] karena sudah bisa nge-plurk lagi hari ini. (s_dance)
Hanny [benci] k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Update (13/08/08): Hanny [suka] karena sudah bisa nge-plurk lagi hari ini. (s_dance)</p>
<p>Hanny [benci] karena <a href="http://plurk.com/">plurk</a> tidak bisa diakses hari ini.</p>
<p><a href="http://beradadisini.files.wordpress.com/2008/08/picture-7.png"><img class="size-medium wp-image-608 alignleft" src="http://beradadisini.wordpress.com/files/2008/08/picture-7.png?w=300" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[lagi dipikir!]]></title>
<link>http://sumbabaratdaya.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 04:21:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>sumbabaratdaya</dc:creator>
<guid>http://sumbabaratdaya.id.wordpress.com/2008/07/20/lagi-dipikir/</guid>
<description><![CDATA[sorry, otak lagi buntu, belum bisa produktif nih
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>sorry, otak lagi buntu, belum bisa produktif nih</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Konsekuensi Cinta]]></title>
<link>http://shavaat.wordpress.com/?p=91</link>
<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 17:45:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>shavaat</dc:creator>
<guid>http://shavaat.id.wordpress.com/2008/06/28/konsekuensi-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Kau ingat saat-saat itu?
Saat-saat yang kau bilang tak ‘kan pernah terlupa olehmu
Saat-saat ketika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kau ingat saat-saat itu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saat-saat yang kau bilang tak ‘kan pernah terlupa olehmu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saat-saat ketika kulihat rona merah di pipimu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Saat-saat ketika dadaku membuncah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Karena benih-benih cinta ini begitu indah</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku tahu kabahagianmu lebih mencemaskanmu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Kau cemas bahwa kebahagiaan ini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">akan hilang darimu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku maklum, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">karena itu adalah naluri alami</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">dari makhluk anggun sepertimu</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Aku hanya bilang:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">”Aku cinta padamu”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Namun tidak kah kau sadar, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">apakah makna dari kata-kata itu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Ataukah kau telah menyadari,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">hingga inilah yang membuat hatimu cemas?</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Aku sendiri tak yakin mampu, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">menanggung beban ucapanku</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika aku bilang aku cinta padamu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Maka sejak itulah aku harus rela bahwa kedudukanku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">menjadi pemberi, yang tidak mengharap pemberian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sejak itulah aku harus rela untuk memberikan perhatianku kepadamu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sejak itulah aku harus rela untuk merawatmu dengan segenap kasih sayangku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sejak itulah aku harus rela untuk selalu melindungimu </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sejak itulah aku harus rela memberikan kesetiaanku kepadamu</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Tapi ini begitu berat, Sayangku</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Konsekuensi kata-kataku begitu berat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Aku sendiri tak yakin mampu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Menanggung beban ucapanku</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">M N Juna Putra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">13.00 WIB, Kalimongso, Enam September Dua Ribu Enam</p>
<p class="MsoNormal"><em>Dibuat di siang hari yang panas; yang sanggup membuat kipas angin nyaris tiada berguna, di sebuah kamar kos sempit, oleh pemuda yang berlagak menjadi seniman</em></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kaki di atas meja]]></title>
<link>http://coretanpinggir.wordpress.com/?p=121</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 02:38:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>coretanpinggir</dc:creator>
<guid>http://coretanpinggir.id.wordpress.com/2008/06/24/kaki-di-atas-meja/</guid>
<description><![CDATA[
Kaki di atas meja?&#8230; Wah bisa-bisa dikatain tidak sopan jika kita menaruh kaki di atas meja se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://coretanpinggir.files.wordpress.com/2008/06/kaki-di-atas-meja.jpg" target="_blank"><img class="size-full wp-image-120" src="http://coretanpinggir.wordpress.com/files/2008/06/kaki-di-atas-meja.jpg" alt="" width="460" height="405" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Kaki di atas meja?... Wah bisa-bisa dikatain tidak sopan jika kita menaruh kaki di atas meja seenaknya :) , tapi ini coretan kakiku di atas meja di sebuah kamar yang paling nyaman di Bandung sekitar bulan April tahun 2002. Kaki di atas meja adalah salah satu posisi uenak alias posisi favoritku zaman dulu kalau lagi membaca atau bengong ditemani segelas teh, tentu saja tanpa rokok :) . Kadang sang kaki agak sedikit bau, tapi tentu saja bau kaki sendiri biasanya tidak tercium aromanya he...he...he.... Ah masa lalu, selalu saja membuat kita ingin kembali terbang ke sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Btw sketsa kaki ini hasil bongkar-bongkar file lama hari Minggu kemaren. Lumayan juga blog ini untuk menyimpan hal-hal kecil yang  tidak penting seperti ini  hi...hi...hi...hi....</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[lagi (sok) sibuk]]></title>
<link>http://shavaat.wordpress.com/?p=78</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 16:02:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>shavaat</dc:creator>
<guid>http://shavaat.id.wordpress.com/2008/06/04/lagi-sok-sibuk/</guid>
<description><![CDATA[Saat-saat menghadapi uts terakhir. Sekaligus, lagi bikin TA: sebenarnya saya mau ambil bidang pajak,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saat-saat menghadapi uts terakhir. Sekaligus, lagi bikin TA: sebenarnya saya mau ambil bidang pajak, gara-gara akuntansi pajak saya kemarin nilainya parah, mau balas dendam ceritanya. Tapi saya putuskan ambil sistem akuntansi pemerintah saja. Objeknya pasti bisa ditebak: ya, Pemda Dompu. Judulnya: Evaluasi Laporan Keuangan Pemeritah Daerah Dompu Tahun 2006. Setidaknya kalau saya pulang  ke kampung tidak blank begitu saja kalau ditanya tentang laporan keuangan pemda seharusnya seperti apa... :)</p>
<p>Setelah TA ada ujian kompre yang jelas bikin pusing kepala. Doakan saya, kawan...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belum Lima Detik]]></title>
<link>http://iwnya.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 04:40:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>nyanya</dc:creator>
<guid>http://iwnya.id.wordpress.com/2008/04/08/belum-lima-detik/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Ups&#8230; belum lima detik&#8230;&#8221;. Eh.. blum lima detik ato lima menit ya?? Hmm.. lup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>"Ups... belum lima detik...". Eh.. blum lima detik ato lima menit ya?? Hmm.. lupa-lupa ingat nih.... Yang jelas kalimat itu sudah jadi kalimat populer di mana-mana... Semula saya berpikir kalimat itu dipoluperkan oleh salah satu iklan di TV tentang produk pembersih lantai (Sebaiknya saya tidak menuliskan mereknya). Lalu, darimana datangnya istilah itu??</p>
<p> <br />
 <a href="http://iwnya.files.wordpress.com/2008/04/kue-di-lantai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-7" src="http://iwnya.wordpress.com/files/2008/04/kue-di-lantai.jpg" alt="" width="149" height="108" /></a></p>
<p><!--more--></p>
<p>Ternyata istilah itu berasal dari guyonan lama para ibu rumah tangga di daerah Amrik Utara dan yu-kei. "Five-second rule"... demikian nama aslinya. Entah bagaimana datangnya aturan itu. Namun yang jelas, yang jadi pertanyaan, apa benar makanan yang jatuh ke lantai akan bebas dari kuman asal belum lebih dari lima detik??... hmm.. Pertanyaan bodoh.. Bagaimana kalo yang jatuh itu es krim misalnya... walopun baru satu detik, apa kita mau memungut dan memakannya lagi. Yeeaaakkk.. Kalo anak kecil sih hayuk..go on... siapa takut, yang penting nggak ada yang liat. :D</p>
<p> <br />
Tapi yang lebih bodoh lagi, ada yang melakukan percobaan mengenai hal ini. Seorang mahasiswa dari Universitas Illionis, namanya... (ah.. Sebaiknya saya tidak menuliskan namanya) dan seorang kandidiat doktor dari Universitas yang sama. Mereka mecoba meneliti makanan yang sudah disebar di lantai yang kering di sekitar kampus. Dan ternyata.. apa yang terjadi?? Hmm.. tunggu sebentar.. saya baca dulu ya'?</p>
<p> <br />
Ooo.. kemudian yang terjadi adalah mereka hanya menemukan sedikit bakteri yang menempel pada makanan tersebut. Jadi mereka berkesimpulan, makanan yang jatuh di lantai kering (dan bersih tentunya) aman untuk dimakan... (dimakan siapa dulu nih, manusia ato kucing??)</p>
<p> <br />
Trus, percobaan selanjutnya, mereka menyebarkan bakteri E.Coli (bakteri yang sangat terkenal itu lho.. duh.. amit-amit kalo blum kenal sama do'i) di lantai laboratorium. Kemudian mereka menaruh makanan jenis gummy dan cookies... (hmm..nyam.. i like cookies). Mereka meletakkan itu dalam selang waktu yang berbeda-beda. Kemudian mereka mengintip lewat mikroskop. Apa yang terjadi??... Hmm.. kali ini saya tidak perlu baca lagi. udah hapal kok.</p>
<p> <br />
Yang terjadi adalah bakteri-bakteri itu berhasil menggerogoti makanan tersebut kurang dari lima detik!! Waaw.. luarr biasa. Ups.. I mean... "five-second rule" telah dipatahkan!!. Yaaa.. wallahu a'lam sih.</p>
<p> <br />
Penelitian bodoh yang mereka lakukan selanjutnya adalah mereka melakukan<br />
survey di masyarakat tentang "five-second rule" ini. Dan... survey membuktikan... 70% wanita dan 60% pria memegang aturan ini dalam hidup mereka, jadi.. kalo ada makanan jatuh di lantai mereka tetap memakannya sebelum tergeletak selama 5 detik. Dan.. survey lainnya adalah makanan jenis cookies dan permen adalah yang paling banyak diterapkan "five-second rule" ini.</p>
<p> <br />
Hmmm... kalo kita kebanyakan sih.. mo 5 detik ato 5 menit... tetap aja dilahap.. apalagi kalo makanan itu cuma satu-satunya dan ditambah dengan kondisi perut yang mencekam.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>nb : Mahasiwa di atas memenangkan nobel untuk Public Health di tahun 2004 lalu. Waaw.. ternyata dia tidak bodoh!!</p>
<p> <br />
sumber:<br />
1. ask.yahoo.com<br />
2. wikipedia, keyword : "five-second rule"</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjitak Kepala Pak Polisi]]></title>
<link>http://iwnya.wordpress.com/2008/04/04/menjitak-kepala-pak-polisi/</link>
<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 08:51:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>nyanya</dc:creator>
<guid>http://iwnya.id.wordpress.com/2008/04/04/menjitak-kepala-pak-polisi/</guid>
<description><![CDATA[ &#8221;Menjitak Kepala Pak Polisi&#8221;, itu bukan judul film, bukan judul lagu, bukan judul nove]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="pulisi" href="http://iwnya.wordpress.com/files/2008/04/pulisi.jpg"><img src="http://iwnya.wordpress.com/files/2008/04/pulisi.thumbnail.jpg" alt="pulisi" /></a> "Menjitak Kepala Pak Polisi", itu bukan judul film, bukan judul lagu, bukan judul novel, bukan nama toko, bukan peribahasa. Tapi itu adalah cita-cita terbesar saya. Kurang lengkap rasanya hidup ini tanpa melakukan hal tersebut. Mungkin kalo menjitak rasanya seram juga ya?.. Baiklah.. kita beri sedikit toleransi. Bagaimana kalau "Melempari Kepala Pak Polisi". Ini sedikit lebih mudah sebab bisa dilakukan dari jarak jauh dan sembunyi-sembunyi.<br />
Tanya kenapa? Alasannya adalah, polisi adalah makhluk yang paling (maaf) menyebalkan yang pernah hidup di muka bumi ini. Maap buat yang berprofesi sebagai polisi atau mempunyai kerabat seorang polisi. Ada gejala yang lagi ngetrend di masyarakat, yaitu "Generalisasi Kejelekan".</p>
<p><!--more--><br />
Ya.. orang suka men-generalisasikan kejelekan sesuatu, padahal belum tentu semua sesuatu itu jelek. Misalnya, kita membeli jeruk di pasar, ternyata jeruknya sudah lewat tanggal kadaluarsanya alias basi bin busuk. Kulitnya saja yang kencang, tapi isinya sudah keriput.<br />
Apa reaksi kita?.. Kita akan mem-blacklist penjual jeruk tersebut dan menanamkan dalam hati sedalam-dalamnya "jangan beli jeruk lagi di situ! Jeruknya pada busuk".</p>
<p>Padahal.. belum tentu semua jeruknya gitu kan?.. Lebih parah lagi kalo misalnya jeruk itu dijual di pasar dan di situ banyak penjual jeruk, maka orang cenderung akan menganggap bahwa semua jeruk di pasar itu tidak penting, maksud saya tidak oke!!..</p>
<p>Tidak hanya penjual jeruk, penjual kacang juga begitu, penjual jagung rebus, penjual batu bata, penjual ikan asin, sampai ke penjual pakaian dalam. Selain jualan atau barang, hal lain yang sering digeneralisasikan kejelekannya adalah profesi. Yaa polisi itu salah satunya. Kita ambil contoh lain selain polisi deh. Mmm.. misalnya penjual jeruk. (GUBRAK!!). Eh.. mm... misalnya apa ya?..</p>
<p>Misalnya mmm.. Dokter di sebuah rumah sakit. Mungkin suatu hari kita pernah berobat ke dokter dan ternyata hasilnya mengecewakan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak kembali ke dokter tersebut, paling parah mungkin kita akan menganggap semua dokter di rumah sakit itu payah semua. Padahal, belum tentu begitu.</p>
<p>Contoh lain adalah dalam hal bepergian misalnya. Mau naik pesawat tapi airlines yang bersangkutan pesawatnya pernah (atau sering) kecelakaan, akhirnya kita menganggap semua pesawat di arilines itu tidak beres. Demikian juga dengan bis kota, kereta api, dll.</p>
<p>Saya pernah kecopetan di sebuah bis kota, dan setelah itu bis dengan nomer trayek yang sama saya anggap sebagai bis kriminal, kudu ekstra hati2 kalo naik bis itu lagi. Dan sampai sekarang, kalau memang tidak terdesak, saya tidak akan mau naik bis yang bernomor trayek (jurusan) yang sama.</p>
<p>Itulah generalisasi kejelekan. Sebenarnya menganggap semua orang suka meng-generalisasi kejelekan itu adalah sebuah bentuk generalisasi kejelekan juga.. hehe.</p>
<p>Bagaimana dengan kebaikan atau kelebihan sesuatu? Apakah ada juga generalisasinya? Ada, tapi sangat sedikit jumlahnya, susah dilakukan.</p>
<p>Tidak salah nenek moyang kita membuat salah satu mahakarya Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga.<br />
Kembali ke polisi, polisi yang harusnya membantu masyarakat kok malah banyak yang menyusahkan masyarakat. Kalo masyarakat yang menyusahkan polisi itu wajar karena memang tugas polisi menstabilkan masyarakat. Tapi.... entahlah, tanya kenapa?</p>
<p>Generalisasi kejelekan polisi yang saya alami sudah pada stadium nasional, artinya semua polisi di seluruh pelosok negeri ini adalah target penjitakan saya.</p>
<p>Apakah anda juga mau membatu saya menjitak kepala polisi?.. Bagaimana?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saya Malass... [Perang Gila Episode 1: Virus Malas]]]></title>
<link>http://tehsore.wordpress.com/?p=164</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 16:16:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lemon S. Sile</dc:creator>
<guid>http://tehsore.id.wordpress.com/2008/02/25/saya-malass-perang-gila-episode-1-virus-malas/</guid>
<description><![CDATA[Ya, saya malas. Malas ngomong. Malas berpikir. Malas bernapas. Malas bergerak. Malas berkomunikasi. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, saya malas. Malas ngomong. Malas berpikir. Malas bernapas. Malas bergerak. Malas berkomunikasi. Malas ini-itu.</p>
<p>Kenapa malas? Karena saya malas... Karena saya malas jadi saya malas buat postingan belakangan ini. Malas onlain, malas menyalakan komputer, malas pulang ke rumah, malas pergi ke sekolah, malas jalan-jalan, malas tidur...</p>
<p align="center"><a href="http://tehsore.wordpress.com/files/2008/02/malasologi.jpg" title="Malasologi"><img src="http://tehsore.wordpress.com/files/2008/02/malasologi.jpg" alt="Malasologi" /></a></p>
<p>Lalu kenapa bisa semalas itu sih? Karena saya malas. Jangan tanya la... Saya malas jawabnya.</p>
<p><!--moreMalasologi--></p>
<p>Bicara soal malas. Kenapa manusia bisa malas?</p>
<p>Karena manusia bisa jenuh. Kenapa bisa jenuh, terlalu banyak mengkonsumsi minyak tak jenuh bukannya baik? Mungkin karena otak kanan dan kiri berantem. Otak kiri bekerja konvensional sementara otak kanan bekerja main-main. Disatukan tapi berbeda, berbeda tapi satu.</p>
<p>Wuih, hebat! Cuma segumpal tali-temali syaraf tak berotak kok bisa damai ya? Padahal beda ideologi. Apa seharusnya manusia dibuat tak berotak saja biar bisa damai? Apa yang terjadi ya? Apa akan ada peradaban. Tanpa otak mungkin tulisan ini harus dibaca langsung di saya menggunakan bahasa tubuh. Atau bahkan tidak ada, tidak ada otak untuk memikirkan hal seperti ini sih. Hari-hari tanpa otak akan diisi dengan lamunan bak kambing di pinggir lapangan (sambil mengunyah rerumputan). Dipikir-pikir enak juga ya...</p>
<p>Kalau tidak punya otak tidak perlu sekolah. Selama tinggal matematika, bahasa, IPS, IPA. Tentu saja buang jauh-jauh buku-buku panduan Ujian Nasional itu. Tapi kalau tidak punya otak dan tidak bisa berpikir. Apa kita masih bisa memikirkan 'doi'? Perasaan itu ada di otak atau di hati sih? Di hati kan ada glukagon atau glikogen, ada cacing hati juga mungkin. Juga beberapa batalyon virus hepatitis.</p>
<p>Mengingat perasaan. Saya juga malas ngomongin 'doi', padahal tidak punya ngapain dibicarakan. Buang-buang waktu, sudah tahu tidak punya harapan. Wong, tujuannya yang mana saja tidak jelas. Serasa berada di animanga harem, kok kayaknya <strike>banyak banget</strike> wanita cantik di sekitar saya. Meskipun tidak satupun yang bisa dibilang 'ada harapan'. Kalau begini urusannya salah siapa yah? Terus mau diapain yah, diemin aja la... Saya kan malass... Malas memilih, lebih baik main saja, main pe-es.</p>
<p>Main <abbr title="Dynasty Warriors">DW</abbr>, ternyata seru juga. Memang seru, cuma baru kali ini iseng keluyuran dulu sebelum nuntasin levelnya. Jadi sekalian main-main, kumpulin item langka. Gara-garanya jadi pengen baca Samkok. Nemu komiknya (yg novel juga) beberapa minggu yang lalu, tapi dompet saya gamau beliin apa boleh buat. Tambah lagi pengen beli V for Vendetta, trus pengen maen Ben 10 yang di PSP. Banyak yang saya inginkan. Lho? Katanya malas? Oiya, ya... malas...</p>
<p>Kenapa bisa malas? kenapa sampai main saja bisa malas? Karena pemalas kan...<br />
Tidak pernah belajar dibilangnya malas. Jarang belajar di rumah saja dibilang serba-serba malas. Makanya malas saja semuanya sekalian. Malas makan, malas bernapas, malas bergerak. Tidak usah takut disalahkan. Kan malas, jadi ga usah la dibilang pemalas lagi.. udah jelas-jelas malas gitu.</p>
<p>Sesuatu yang sudah jelas ngapain lagi diulang-ulang. Lebih baik langsung saja dilanjutkan. Tidak perlu sampai setengah jam barang menulis actionscript Flash sederhana. Sesederhana "on (release)", kok sampai setengah jam ya? Padahal tinggal diketik atau pakai saja assistant, mudah. Entah memang susah, gurunya yang payah, muridnya yang goblok, atau kurikulumnya yang ngaco. Bicara kurikulum. Katanya sejak tahun 90'an taksonomi tidak memakai yang dibuat Empu Whitaker lagi, yang sistem 5 kingdom itu. Tapi saya baru belajar taksonomi kelas 1 SMA (2005), kok masih pakai yang 5 Kingdom yah? Padahal kurikulumnya baru (yang 2004, sekarang kan udah KTSP) waktu itu. Namanya saja yang baru, isinya sih kayaknya masih sama dengan zamannya sepupu saya yang sekarang sudah lulus kuliah beberapa tahun lalu. Jadi yang salah kurikulumnya atau isinya? Atau kembali lagi ke guru yang payah dan murid yang goblok?</p>
<p>Dasar goblok! Sudah jelas malas, goblok, masih ngatain orang goblok. Mau jadi apa kamu ha?!</p>
<p>Suka-suka la... Kucing saya saja yang sudah jelas-jelas kucing masih suka saya katain pemalas, padahal jelas-jelas itu hewan kerjanya tidur doang di rumah. Apa ga kurang bego saya? Mengulang hal yang sudah jelas. Diulang terus sampai lapuk dan ga jelas maknanya. Sebagaimana ulang-ulang terus x tambah x sama dengan 2x padahal gimana sejarahnya belum tentu saya tahu, bapak tahu ga? *bertanya pada guru* Tanya guru sejarah aja...jangan guru matematika. Sama aja dengan minta surat pakai bahasa Inggris jangan mintanya ke guru bahasa Indonesia. Terus kalau mau minta sesuatu jangan cuma bicara doang, ga ada bukti. Buat surat dulu, tanda tangani, kasih materai kalau perlu, baru kasih. Padahal yang diminta cuma fotokopi rapot sama surat keterangan barang berapa kalimat tapi prosesnya sampai berhari-hari. Gimana kalau saya minta inventaris sekolah ya? berapa bulan menginventaris ulangnya lagi? Inget juga, sebelum masuk ruang TU bawa karet gelang ikat di tangan. Begitu masuk dan dijutekin sama pengurus TU, daripada marah-marah malah ga diurusin (trus diancem macem-macem yang mengancam masa depan). Tahan amarah dengan karet gelang tadi. Caranya? Terserah, mau dipecut-pecutin ke tangan atau dimain-mainin juga bole... Asal jangan dijepret ke pengurus TUnya, apalagi ke kepsek.</p>
<p>Nah, ini namanya Malasologi... Apanya yang malas kalau begini? Malas bacanya? Saya sih malas memang malas...</p>
<p>---<br />
Doodling  mural dalam bentuk tulisan, beginilah hasilnya.</p>
<p>Kemiripan istilah, nama, atau kalau-kalau ada yang merasa tersinggung. Sungguh itu adalah hal yang disengaja.</p>
<div align="right"> Lemon S. Sile (c)2008</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[narcissus philosophy...]]></title>
<link>http://bhoiimetamorphosis.wordpress.com/2008/01/26/11/</link>
<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 13:55:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>bhoiibhoiian</dc:creator>
<guid>http://bhoiimetamorphosis.id.wordpress.com/2008/01/26/11/</guid>
<description><![CDATA[
percaya diri itu indah (!) narsis is a part of confidence
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bhoiimetamorphosis.wordpress.com/files/2008/01/1-copy.jpg" title="1-copy.jpg"><img src="http://bhoiimetamorphosis.wordpress.com/files/2008/01/1-copy.thumbnail.jpg" alt="1-copy.jpg" /></a></p>
<p>percaya diri itu indah (!) narsis is a part of confidence</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Ulang Tahun TCP/IP...]]></title>
<link>http://lestiatmo.wordpress.com/2008/01/02/selamat-ulang-tahun-tcpip/</link>
<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 04:12:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>atmo4th</dc:creator>
<guid>http://lestiatmo.id.wordpress.com/2008/01/02/selamat-ulang-tahun-tcpip/</guid>
<description><![CDATA[bingung mau nulis apa,,

ternyata, selain tahun baru 2008, ternyata TCP/IP juga sedang ulang tahun k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>bingung mau nulis apa,,</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://lestiatmo.wordpress.com/files/2008/01/newyear08.gif" alt="Happy New Year 2008 &#38; 25 years of TCP/IP" /></div>
<p>ternyata, selain tahun baru 2008, ternyata TCP/IP juga sedang ulang tahun ke-25...</p>
<p>duh, sebenarnya hanya mau mengucapkan selamat tahun baru 2008,,</p>
<p>terlambat sih,, tapi it's OK kan?</p>
<p>Semoga saya tidak DO di tahun 2008, apalagi 2009 dst.</p>
<p>Semoga rekan-rekan mendapatkan hal yang baik di 2008..</p>
<p>waktu-waktu ini, saya sedang menghadapi UAS,</p>
<p>jadi postnya singkat aja,,</p>
<p>dadah,</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Profesor Sinshe di Funan]]></title>
<link>http://miramarsellia.wordpress.com/2007/09/04/profesor-sinshe-di-funan/</link>
<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 10:23:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mira</dc:creator>
<guid>http://miramarsellia.id.wordpress.com/2007/09/04/profesor-sinshe-di-funan/</guid>
<description><![CDATA[Sewaktu ke Shenzhen kemaren itu kami rame-rame ke Funan. Funan adalah distrik yang terkenal dengan i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu ke Shenzhen kemaren itu kami rame-rame ke Funan. Funan adalah distrik yang terkenal dengan industri Hi-technya. Tapi kita tidak nyari barang-barang elektronik dan lain sebagainya disana. Pertokoannya masih pada tutup, karena kita datang pagi. Lagi pula saya bingung ke Mall-mall tersebut. Bingung nyebrang jalannya. Jalurnya banyak banget. Mau naek mass transport saya beresiko nyasar apalagi saya buta huruf disini. Nah, jadinya saya ikutan ke Herbal Center atau mungkin kira-kira demikian judulnya karena saya tidak punya ide lain apa arti tulisan di plang depan bangunan tersebut.</p>
<p>Singkat cerita setelah berkeliling dan diterangkan khasiat berbagai herbal dan jamur-jamuran yang kebanyakan didatangkan dari Tibet tersebut, kami disediakan waktu untuk konsultasi dengan Sinshe wanita yang bergelar Profesor di bidangnya (menurut pengakuannya). O ya wanita berumur 70 tahun (lagi-lagi menurut pengakuannya) yang kelihatan baru berumur 50 tahunan itu pandai berbahasa Indonesia, dengan logat Mandarin tapi. Beliau melihat garis tangan kami, memeriksa detak nadi, pada beberapa orang kadang-kadang disuruh menjulurkan lidah (weee....!) atau menarik kelopak mata.  Kalau saya sih cuma garis tangan dan detak nadi saja. Selain tensi, tingkat kolesterol dan lain-lain, beliau juga memberitahukan jumlah anak sekarang ataupun yang akan datang. Bahkan jodoh!.  Saya sih ngeri kalau nanya ataupun diberi tahu soal masa depan. Mending saya tidak tahu saja. Lagipula walau bagaimana saya tahu kok kalau saya memang tidak berjodoh dengan Hugh Jackman.</p>
<p>Ternyata dari semua teman-teman, hanya satu dua orang yang dinyatakan sehat 99,9%. Diantaranya saya. Saya sampai nanya lagi untuk meyakinkan. Kata Profesor 'cuma sedikit kegemukan'.  Hoi  Profesor, kalau badan saya itu lebih tepat disebut sintal. Bahkan di beberapa negara, ada kategori bahwa makin gemuk perempuan artinya dia makin cantik dan makin berharga untuk  jadi ratu (ratu semut kali ya).  "Mau pake obat biar langsing atau olahraga saja?" tanya Profesor.  Karena obat-obatan disitu paling murah sekitar 250 Yuan, saya spontan menjawab "olahraga saja Prof". Kemudian saya keluar ruangan.</p>
<p>Beberapa detik saya mikir lagi. Kalau bisa langsing tanpa cape lari keliling lapangan atau sit up tiap pagi kenapa engga? Akhirnya saya balik lagi pada sang Profesor dan minta resep obat pelangsing dan penghalus wajah, biar kinclong ceritanya.  Kemudian saya menebus resepnya di apoteker yang terpaksa berbahasa Tarzan dengan saya, hayah nobody speak English euy here. Pusing deh.  Moga-moga obat saya engga ketuker dengan obat penggemuk badan deh. Bisa-bisa jadi kalap makan seperti Neng Ira  teman saya yang makan 5 kali sehari setelah minum jamu Mpek Tong Seng atau Sam Yung Wan yah?</p>
<p>Hari ini Rere teman saya nanya " Mi, gimana efek obat langsing yang  kamu beli di Funan itu?"</p>
<p>"Nggg...saya belum minum Re"</p>
<p>"Lho kenapa? kalau bagus saya mau beli juga nih, mumpung si Doddy mau ke Shenzhen juga, pasti dia mau beli tuh obat, Doddy kan endut. saya mau nitip sekalian"</p>
<p>"Ngg anu Re.."</p>
<p>Saya garuk-garuk kepala.</p>
<p>"Si profesor  punya e-mail gak yah? saya lupa euy ga nanyain dosis dan cara minumnya"</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cuma di Bandung]]></title>
<link>http://miramarsellia.wordpress.com/2007/05/21/cuma-di-bandung/</link>
<pubDate>Mon, 21 May 2007 05:23:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mira</dc:creator>
<guid>http://miramarsellia.id.wordpress.com/2007/05/21/cuma-di-bandung/</guid>
<description><![CDATA[Ini postingan yang ga penting banget ya. Jadi yang baca jangan kecewa. Udah diperingatkan toh. Ini ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini postingan yang ga penting banget ya. Jadi yang baca jangan kecewa. Udah diperingatkan toh. Ini didedikasikan buat <a href="http://wesly.wordpress.com/">Wesly </a>yang di negara sana cuma ada keledai buat dinaiki.</p>
<p>Kemarin siang saya menambal ban di Jl. Pangeran Kornel, di dekat jalan layang Dago. Berhubung kata si Pak Tua rada lamaan (lebih dari dua jam), selanjutnya saya tinggal aja ban sial tersebut untuk dioprek, dibenerin, dan dipress (whatever deh dipress maksudnya gimana, petunjuk mengatakan demikian). Untungnya ada rombongan tagoni kampung gajah yang lagi leyeh-leyeh di Taman Lansia, di jalan Cilaki itu lho, belakang gedung Sate. Ada Indra, Lea, Riri, Deden, Jay, dan Oki the Kampret. Tempat dimana warung tenda itu berada enak banget dengan pepohonan yang rindang sepanjang jalan. Langsung saja saya bergabung untuk makan di salah satu warung tenda, dimana kita asik pesan Tekwan yang panas mengepul, Mie Ayam, apa lagi ya? Banyak sih yang kita makan. Jadi lupa. Oh Sop Buah ya, dan jagung rebus juga ada. Udah gitu acara makan-memakan ini dibantu hujan yang deras banget. Jadinya makin semangat aja deh kita makan.</p>
<p>Setelah hujan reda kita naik kuda keliling taman.  Berapa keliling ya? kalau saya 3 keliling deh, setelah kuda dan saya keringatnya sama-sama sudah tidak bisa dibedakan lagi baunya sigana mah.  Kapan-kapan naik kuda lagi ah.  Oh ya kepada Abiwara Jawara, untuk naik kuda di Parongpong saya cukup katakan tidak. Cukup sudah saya jatuh sekali dari kuda badag disana, dan saya masih pingin hidup sampai nenek-nenek. </p>
<p>Pokoknya namanya di Bandung asik banget, kemarin taman juga lagi bersih dan cuaca sangat-sangat enak setelah hujan. Kita sempat duduk-duduk di bangku taman juga  dan kemudian  minum-minum yoghurt di Cisangkuy.  Terima kasih kepada yang datang ke Bandung kemarin. Ternyata walau long wiken, ga bikin macet-macet amat yah. </p>
<p>Ah Bandung memang beautiful euy. Minggu depan naik kuda lagi yuk!.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salah Sambung]]></title>
<link>http://miramarsellia.wordpress.com/2007/03/27/salah-sambung/</link>
<pubDate>Tue, 27 Mar 2007 10:40:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mira</dc:creator>
<guid>http://miramarsellia.id.wordpress.com/2007/03/27/salah-sambung/</guid>
<description><![CDATA[Saya selalu bermasalah dengan ucapan selamat bila bertelepon. Bila mengangkat telepon pada pagi hari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya selalu bermasalah dengan ucapan selamat bila bertelepon. Bila mengangkat telepon pada pagi hari saya selalu mengatakan selamat sore, pada sore hari saya mengatakan selamat pagi dan selamat siang pada malam hari.  Seharusnya sih cukup dengan "Halo" saja barangkali ya jadi saya tidak usah pusing dengan posisi matahari  sedang berada dimana. Tapi berhubung standar di  kantor begini rasanya kok terdengar gimana gitu ya kalau saya ganti dengan ucapan halo doang.</p>
<p>Sebenarnya bukan soal selamat selamat ini yang mau saya ceritakan. Lho jadi mau cerita apa ya.  Hehe, saya cuma mau cerita salah sambung kok.  Pagi ini rupanya Telkom lagi mabok. Jam 10 pagi saya melelepon eh menelepon ibu saya. Karena saking seringnya menelepon, ceritanya sudah hapal tutsnya, sehingga tanpa melihat pun saya bisa memencet nomor telepon rumah ibu sambil melihat pemandangan gunung lewat  jendela.<!--more--></p>
<p>"Halo" Jawab suara perempuan disana </p>
<p>"Halo, Mama ada?" sambil curiga kok ada suara yang saya tidak kenal yang mengangkat telepon.</p>
<p>"Ngng Mama? salah sambung mungkin Bu?"</p>
<p>"O ya? ini nomor 6******? sambil heran kok bisa-bisanya saya salah mencet.</p>
<p>"Bukan, ini nomor ********"</p>
<p>"O ya terima kasih, maaf saya salah sambung".</p>
<p>Pencetan berikutnya saya mengamati telunjuk saya baik-baik.</p>
<p>"Halo"  Kembali suara tak dikenal menjawab dari seberang sana.</p>
<p>"Oh ini dengan salah sambung, maaf"  seraya menutup telepon saya mikir kok omongan saya jadi aneh.</p>
<p>Pencetan berikutnya saya ekstra memencet dengan penuh perasaan</p>
<p>"Trtttrtttrtt trtrtrtrrtttt tut tati tit tut tut tut" Bunyi jawaban mesin faks.</p>
<p>Hlah, sejak kapan di rumah masang mesin faks?</p>
<p>Keempat kali memencet saya sudah agak kesal, dan berpikir untuk menelepon dari ponsel ke nomor ponsel ibu saya.</p>
<p>"Halo?" suara pria tak dikenal. Suaranya terdengar kesal.</p>
<p>"Maaf Pak, ini dari saya salah sambung " Sambil kembali menutup telepon saya berpikir kok masih saja ada yang aneh dengan kalimat saya ini.</p>
<p>Baru pada usaha yang ke lima, ibu saya yang mengangkat, dan dia putus asa karena dari beberapa jam lalu telepon terus berdering dan selalu orang-orang yang salah sambung juga.  Ada apa dengan Telkom hari ini ya?.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kamoshika]]></title>
<link>http://miramarsellia.wordpress.com/2006/10/11/kamoshika/</link>
<pubDate>Wed, 11 Oct 2006 03:47:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mira</dc:creator>
<guid>http://miramarsellia.id.wordpress.com/2006/10/11/kamoshika/</guid>
<description><![CDATA[Ada komik baru. Dikasih tahu sama Henny. Makasih Heny. Judulnya Kamoshika karangan Muraeda Kenichi. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada komik baru. Dikasih tahu sama <a target="_blank" href="http://henz.blogsome.com">Henny</a>. Makasih Heny. Judulnya Kamoshika karangan Muraeda Kenichi. Terbitan Elexmedia Komputindo seperti biasa. Lucu dan menghibur. Baru terbit sampai jilid tiga kalau tidak salah. Tentang pegawai negeri yang optimis, rajin bekerja, rajin menolong, walaupun departemen tempat dia bekerja benar-benar tidak punya pekerjaan.</p>
<p>Saya memang suka baca komik. Kalau mau baca buku "serius", harus ditemani dengan komik. Jadi kalau sudah mual baca buku anu, pindah dulu ke komik.  Setelah moodnya stabil lagi, dan setelah ngikik-ngikik sendiri, baru kembali baca si buku tebal serius itu.<!--more--></p>
<p>Sebelnya komik karena suka sampai berpuluh-puluh jilid. Kalau misalnya disimpan di rak engga urutan, saya suka jengkel sendiri melihatnya. Padahal kalau untuk membereskan buku saya malas. Dilihat jengkel dibereskan ogah.  Belum kalau sudah dipinjam, terus hilang satu. Aaarrrrgghh!! Kesal sekali rasanya. </p>
<p>Kemarin saya baru membereskan komik. Karena baru pindahan rumah,  semuanya berantakan. Dan ternyata komik The Impeccable Twins saya beberapa ada yang hilang. Demikian pula dengan komik Crayon Sinchan, dan juga Tintin saya entah di dus yang mana. *Injek-injek*</p>
<p>Dan sekarang berhubung saya sedang kesal. Saya ingin baca komik. Tapi komik Kamoshika jilid 3 yang saya baru beli kemarin saya lupa simpan dimana.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
