<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tersesat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tersesat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tersesat"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:30:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah]]></title>
<link>http://maaini.wordpress.com/2008/03/16/hello-world-2/</link>
<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 11:02:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>yanti</dc:creator>
<guid>http://maaini.id.wordpress.com/2008/09/25/hello-world-2/</guid>
<description><![CDATA[
Assalaammualaikum  warrahmatullahi  wabarakatuh
Dalam perjalanan hidup seorang mencari &#8220;cahay]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://maaini.files.wordpress.com/2008/09/banner-pink.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-399" title="banner-pink" src="http://maaini.wordpress.com/files/2008/09/banner-pink.jpg" alt="" width="208" height="65" /></a></p>
<p>Assalaammualaikum  warrahmatullahi  wabarakatuh</p>
<p>Dalam perjalanan hidup seorang mencari "cahaya" Allah, banyak hal-hal yang dihadapi, ditemui dan dirasakannya. Saya hanya 1 dari sekian banyak muslimah yang menghadapinya. Kadang kala dalam pencarian itu, kita seolah "terbuang" dan "tersesat". Mungkin ada baiknya bila kita dapat berbagi, anda dengan cerita anda, dan saya dengan cerita saya, saling menguatkan, bergandengan tangan melangkah bersama. Suatu kehormatan bagi saya bila anda bersedia bergabung dalam tulisan-tulisan ini.</p>
<p>Semoga Rahmat Allah akan ada bagi kita semua. Amin</p>
<p>Wasalammualaikum warrahamatullahi wabarakatuh</p>
<p>Yanti sutikno</p>
<p><strong>PS : Supaya lebih mudah mencari dan membaca postingan-postingan yang dulu.. saya tambahkan <a href="http://maaini.wordpress.com/indeks/">indeks.</a>... silahkan di klik..</strong></p>
<p><a href="http://maaini.files.wordpress.com/2008/04/muslimah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-145" src="http://maaini.wordpress.com/files/2008/04/muslimah.jpg?w=500" alt="" width="500" height="348" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baru Kemarin]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/?p=69</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 23:30:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2008/04/08/baru-kemarin/</guid>
<description><![CDATA[Rasanya baru kemarin saja. Aku berada pada tempat yang benar beda, jauh dari keluarga, dari orang ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya baru kemarin saja. Aku berada pada tempat yang benar beda, jauh dari keluarga, dari orang yang aku kasihi, terasing pada tempat yang belum dan tak pernah aku bayangkan. Semuanya beda dari tempat dulu aku dilahirkan hingga tumbuh seperti sekarang. Bukan karena orang disekitar yang lambat aku kenal. Namun suasana yang sederhana dan sahaja. Bersemayam dalam sejumput rona misteri hidup. Dimana banyak cerita dengan bermacam versi tema. Lebih kusuka aku menyimpulkan layaknya berada dalam ulayat Geronimo. Cerita yang aku sukai ketika duduk di bangku sekolah SMP. Ada kesederhanaan, namun juga pengetahuan. Bagi diriku dan orang sekitar dulu aku berdiam tak lebih dari sebuah cerita mimpi semata. Tapi lain untukku saat aku benar merasakan berbaur disini. Semua sungguh terasa. Dan cerita dari mulut ketelinga itu memang ada dan telah ditambahi bumbu dramatik. Maklum tak semuanya dan belum tentu itu ada disemua daerah Borneo aku berada.<br />
<!--more--><br />
Sedikit galau juga aku rasakan. Resah juga ikut menari pada diriku. Bukan karena aku kini berada. Tapi hati ini begitu tak mudah jauh. Sangat sungguh jauh berada di antara orang yang telah biasa aku kasihi. Dan itu ketakutan terbesar yang aku alami. Keresahan yang aku hadapi untuk buat aku mengerti. haruskah aku jauh saat aku begitu dekat dengan kasih dan cinta untuk orang yang aku sayangi. Dan sulaman renda rencana masa depan itu kini semakin kusut tak juga kian bertepi. Setelah adanya ujung yang kuhitung dengan logika pasti kan buatku terasing dan tak lagi kurasakan manisnya bila tak lagi ada seseorang yang bisa aku sayangi.</p>
<p>Lalu kini saat sekarang dimana aku berada di tempat kaki ini berpijak. Kaki ini tak pernah lelah sekalipun buatku langkahkan untuk melaju. Semangat dan juga inspirasi selalu mengalir disini. Dimana figur yang sering aku liat dari cerita juga tivi itu kujumpai. Figur Bajuri dan Mpo' Nori yang mudah kujumpai. Sekedar cermin buat aku meraih asa masa depan nanti. Sebuah bentang yang membuat aku sadar merentangkan betapa kuasa Tuhan terkadang tak pernah henti datang kepadaku yang terkadang melupakanNya, bagaimana kuasa tanganNya bekerja untukku, kamu juga kita. Semuanya tak mudah dicerna. Hanya bisa ku rasa tanpa pernah bisa menceritakan juga tak mudah terlihat. Betapa sesungguhnya aku bahagia diantara diamku dengan sejuta kata yang sulit kususun. Dan aku yakin Tuhan pun tahu juga aku bahagia. Dengan tenang dan tegarnya aku terus menjalani skenario yang telah digariskanNya.</p>
<p>.............................................<br />
BanDenganUtara 20080408.0630</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tersesat di Jogja]]></title>
<link>http://ngodod.wordpress.com/?p=29</link>
<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 10:16:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>ngodod</dc:creator>
<guid>http://ngodod.id.wordpress.com/2008/03/06/tersesat-di-jogja/</guid>
<description><![CDATA[Gak mungkin banget sebenarnya, tapi ini bener-bener terjadi. Sore kemarin benar-benar aku gak tau ap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span>Gak mungkin banget sebenarnya, tapi ini bener-bener terjadi. Sore kemarin benar-benar aku gak tau apa yang salah dengan otakku. Gak ada lima menit sepulang dari klien, setelah seharian pula puter-puter Jogja nganterin surat, aku diminta ngejemput temenku di Wisma UGM. Kebetulan aku dan temenku setelah ngejemput ada janjian mau ketemuan di Bunderan UGM. Dengan polosnya aku langsung cabut ke arah UGM. Karena tadi dipesenin diminta ngejemput di Wisma UGM, nggak salah kan kalo aku menujunya ke Wisma Gadjah Mada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--more--><span>Ketika sampe di Wisma Gadjah Mada. Tuh tempat adem ayem aja. Padahal katanya sih dia dah <i>check out</i>. Pastinya kalo dah <i>check out</i>, dia pastinya dah nunggu di lobi kan. Tapi aku nggak menemui temenku itu di lobi. Untuk memastikan, seperti biasa, aku nanya ke resepsionis. Tapi kata Mbak Resepsionis yang ramah <strike>dan cantik itu</strike>, gak ada tamu yang beridentitas temenku. Ngeq... Dia menyarankan aku untuk nyari temenku itu di Wisma Kagama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kemudian aku cabut ke Wisma Kagama. Setali tiga uang. Di lobi aku nggak ketemu temenku. Aku nanya ke resepsionis yang ramah <strike>namun gak ganteng</strike> dijawab dengan jawaban tidak ada tamu atas nama temenku pula. Pas aku telpon, Mbak Veronica yang njawab. Argh.., gak tau orang capek ya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dasar nggak yakinan, aku balik lagi ke Wisma Gadjah Mada. Aku nanya lagi sama Mbak Resepsionisnya lagi. Untung karena memang Mbak Resepsionisnya baik dan ramah, <strike>dan tentu saja juga cantik,</strike> setelah aku bilang kalo aku sempet ke Wisma Kagama, aku malah disarankan untuk nyoba ke Wisma MM UGM. Ternyata bener, temenku ada di Wisma MM UGM. Ugh.., tau gini coba. Kalo bilang Wisma MM UGM kan aku gak perlu muter-muter Kampus kayak gini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setelah cuap-cuap bentar, kami bertiga masuk ke mobil. Nah, masih ada satu rombongan lagi yang masih harus dijemput di GOR Kridosono dan di Kantor PP Muhammadiyah di Jl. KHA Dahlan. Tanpa babibu, aku langsung meluncur ke dua TKP tersebut. Sampe di Kridosono, tambah dua orang penumpang mobil. Ternyata salah satu dari temenku yang naik dari Kridosono itu mau turun di Hotel Melia Purosani. It’s OK pikirku. Toh Melia Purosani deket ma Bunderan UGM [...????].</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dari Kridosono aku langsung cabut ke KHA Dahlan via Malioboro [yang akhirnya aku sadari sebagai sebuah kebodohan yang amat sangat]. Setelah aku cabut dari KHA Dahlan, aku kemudian langsung menuju ke Melia Purosani. Lempeng aja aku menuju UGM lewat jalur SAMSAT-Pingit-Tugu-Kampus UGM-Kampus UNY. Di Jl. Affandi, tepatnya di depan Sanata Dharma, aku puter balik. Dan kebodohan terjadi, aku malah masuk ke Yogyakarta Plaza Hotel. Hahahaha..., aku lupa, aku salah kira. Ternyata bayangan lokasi Hotel Melia yang ada dalam otakku itu malah Hotel Plaza. Bego....</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Aku hanya bisa ketawa sendirian di mobil. Lha wong gimana. Hanya aku seorang saja di dalam mobil yang tau Jogja. Penumpang yang lain pada gak tau Jogja sama sekali. Dengan polonya akhirnya aku harus balik lagi ke Melia, yang notabene ada di deket Malioboro. Seharusnya tadi kan aku bisa nganterin temenku ke Melia pas sekalian dalam perjalanan dari Kridosono menuju KHA Dahlan. Tapi karena kumat begonya, jadi muter-muter deh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Emang, semenjak kelamaan di Jakarta, aku jadi suka lupa jalan Jogja. Ugh..., emang otak ini perlu di-defrag lagi kelihatannya. Memorinya dah mulai acak kadut.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tersesat oleh Aliran Sesat]]></title>
<link>http://manusiagoblog.wordpress.com/2007/11/02/tersesat-oleh-aliran-sesat/</link>
<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 08:48:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>manusiagoblog</dc:creator>
<guid>http://manusiagoblog.id.wordpress.com/2007/11/02/tersesat-oleh-aliran-sesat/</guid>
<description><![CDATA[Belakangan bermunculan berita tentang aliran alternatif (begitu saya menyebutnya) keagamaan di Indon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Belakangan bermunculan berita tentang aliran alternatif (begitu saya menyebutnya) keagamaan di Indonesia. Aliran-aliran tersebut serta merta dianggap sesat oleh aliran yang sudah berlaku umum (yah, tentu saja!). Menariknya, aliran-aliran tersebut ternyata telah tumbuh dan berkembang sejak lama di tanah air.</p>
<p>Pertanyaannya, mengapa baru sekarang keberadaan aliran-aliran yang dituduh sesat itu diributkan? Mengapa ketika aliran-aliran tersebut sudah menggurita dan menjangkau banyak orang, kita yang merasa benar ini mulai mempermasalahkan ajaran mereka? Mengapa juga pemerintah baru turun tangan ketka masalah ini makin besar dan meluas?</p>
<p>Ini tentu menimbulkan berbagai spekulasi di benak saya. Yang paling spektakuler adalah bahwa pemerintah kita sepertinya tetap saja memainkan peran yang berbahaya pada kasus sensitif semacam ini. Mereka sengaja mendiamkan (bahkan mungkin ikut membantu) isu-isu sensitif semacam ini untuk terus tumbuh dan berkembang diam-diam, hingga suatu saat nanti dihembuskan ke khalayak pada waktu yang tepat.</p>
<p>Kapan waktu yang tepat itu? Ini yang sangat menarik dijawab karena tergantung komplotan siapa yang berusaha mengganggu dan siapa yang akan diganggu, siapa yang memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan. Yah, bisa saja isu aliran keagamaan ini dihembuskan ke media untuk menutupi isu-isu lain yang ada di pemerintahan, DPR, dan lembaga lainnya agar masyarakat teralihkan perhatiannya. Bisa juga, isu itu dihembuskan kelompok tertentu yang ingin mengguncang pemerintahan penguasa sekarang. Bisa saja kan?</p>
<p><em>It's just politic!</em> Semua orang mestinya tahu bahwa saat ini pemerintah, DPR, dan sebangsanya, dari pusat sampai daerah sedang bersiap menghadapi pemilu (yang penyelenggaraannya masih lebih dari 1 tahun lagi itu).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Serakah]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/09/18/serakah/</link>
<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 22:38:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/09/18/serakah/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
Blgin tu kl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
Blgin tu klo 800 kuambil...</p>
<p>from :<br />
0856856300##<br />
15:07 06 Sep 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreManusia tak bisa hanya melulu..--><br />
Manusia tak bisa hanya melulu menyalahkan lagi Adam dan Hawa. Saat mereka mengalami kejatuhan dan dibuka mata batin dan hatinya. Setelah terbuang dari Taman Eden. Dan bumilah membuat mereka memiliki taman kontroversi dari Eden. Taman Edan. Dimana manusia memiliki sifat yang satu ini. Sifat untuk mendapatkan semua apa yang menjadi keinginan. Meski sebenarnya satu telah cukup tapi semua ingin dimilikinya. Tak menyisakan untuk yang lain dari sesamanya. Saat satu saja sebenarnya cukup tuk diambil miliki. Lainnya untuk kemudian hari. Padahal kedepannya belum tentu mereka masih berada di Taman Edan ini dihari selanjutnya. Keserakahan telah meresahkan mereka untuk menghadapi hari penghakiman nanti. Hari dimana semuanya nanti akan ditentukan oleh Sang Penghakim. Apakah baik bagi manusia, benar juga bagiNya.</p>
<p>..................................<br />
DiY.2007.09.18 - 2238</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesan Dari Planet Lain]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/09/08/pesan-dari-planet-lain/</link>
<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 02:48:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/09/08/pesan-dari-planet-lain/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
Q dh smp nd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
Q dh smp ndb</p>
<p>from :<br />
027432041##<br />
06:45 05 Sep 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreKetidakwarasan ku kini semakin...--><br />
Ketidakwarasan ku kini semakin terbukti. Ataukah ini karena aku yang kurang bersosialisasi atau memang aku tinggal di Planet Mars. Aku tahu bahwa telepati termasuk sebuah komunikasi yang tak terbatas ruang. Namun dalam ketidak terbatasan itu pihak yang berdialog sanggup mengerti. Nah saat aku terima pesan ini dan aku mencoba membaca makna yang ingin disampaikannya tak pernah tahu. Padahal setahuku meski sebuah pesan handset memiliki batasan 160 karakter. Lalu kenapa hanya untuk menuliskan pesan singgkat saja orang masih hars menyingkatnya. </p>
<p>Terbesit kemudian mungkin ada jua keterbatasan jari hingga tuk menulis terselip beberapa huruf yang terlupakan. Mengambil sebuah judul karya sastra "Novel Tanpa Huruf R" mungkin itu ide dari pengirimnya. Tapi sangsi masih juga ada padaku. Dari pada keringat dingin mikir pesan aneh ini. Aku mengutip tayangan channel Discovery saja. Inilah pesan dari Planet lain. Tak tahu mungkin jaraknya ribuan tahun cahaya. Hingga melewati puluah galaksi. Pasti mengalami reduksi dalam perjalanan ke Planet Bumi.</p>
<p>...............................<br />
DiY.2007.09.08 - 0248</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Makasih Di...]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/09/07/makasih-di/</link>
<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 00:07:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/09/07/makasih-di/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
Ka. Ada apa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
Ka. Ada apa?</p>
<p>from :<br />
08182706##<br />
17:25 06 Sep 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--more--Tak terjadi suatu apapun...&#62;--><br />
Tak terjadi suatu apapun koq Di padaku malam ini. Mesti kamu tahu sebenarnya hati ini sedang meluapkan tangis. Namun percayalah Di semoga dengan basuhnya mampu mengurai rasa yang tak bisa kucerna dalam jiwa ini. Dalam kesendirian ini aku masih memiliki kamu Di. Orang yang peduli kepadaku. Orang yang selalu mencintaiku dalam suka duka dan apa adanya. Sebab hanya kamu seorang yang mengerti aku. Terima kasih Di kau masih peduli denganku.</p>
<p>.................................<br />
DiY.2007.09.07 - 0007</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inilah Aku Dalam Perulangan Masa]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/29/inilah-aku-dalam-perulangan-masa/</link>
<pubDate>Wed, 29 Aug 2007 23:52:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/29/inilah-aku-dalam-perulangan-masa/</guid>
<description><![CDATA[Inilah aku dalam sebuah perulangan masa
saat pertama aku berada di dunia
mengisi oksigen pada paru d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah aku dalam sebuah perulangan masa<br />
saat pertama aku berada di dunia<br />
mengisi oksigen pada paru diantara detak jantungku<br />
menangis keras karena hadirku sendiri<br />
tanpa seseorang yang mengerti karena keterbatasanku<br />
<!--moreInilah aku...--><br />
Inilah aku dalam sebuah perulangan masa<br />
saat cinta itu pergi terampas waktu<br />
menghempasku dalam kemuraman dan gugu malamku<br />
berharap masih ada rinai yang menyejukkanku<br />
setelah hati dan jiwa yang tinggal separuh ini dibawanya serta</p>
<p>Inilah aku dalam sebuah perulangan masa<br />
kembali terdiam dalam turunan tanya<br />
masihkan ada sayang untukku disini<br />
saat jatah udara dalam tarikan nafasku berkurang<br />
terlukis pada raut muka kian penuh gurat waktu</p>
<p>Inilah aku menatap cakrawala semu disana<br />
saat langit bersatu dengan bumi menjadi garis semu<br />
adakah anganku hanyalah kesemuan belaka<br />
hingga aku tak lagi bisa membedakan rasa<br />
inilah sebuah cinta kemudian kerelaan untuk melepasnya<br />
inilah namanya sayang bila nantinya akan melayang<br />
inilah ketulusanku saat tak juga kau mampu menyadarinya</p>
<p>Bila saja cinta dan hati ini  berujud bagai barang<br />
ingin aku tulus persembahkan bagi orang yang aku kasih sayang<br />
supaya waktu tak merampas dan menghempas<br />
supaya bisa kujaga dan menyempurnakan<br />
demi masa yang ingin kujelang bersamanya</p>
<p>................................<br />
DiY.2007.08.29 - 2352</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berangkat]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/27/berangkat/</link>
<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 22:40:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/27/berangkat/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
Pak aku are]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
Pak aku arep mangkat saiki</p>
<p>from :<br />
081579031##<br />
11:14 27 august 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreSungguh pesan pamit yang ingin...--><br />
Sungguh pesan pamit yang ingin juga aku ucap saat ini. Kepada orang yang telah membuat diriku seperti sekarang ini dengan tulus. Tanpa balas budi dan pretensi. Hanya ingin melihatku selalu bahagia dikemudian hari. Andai saja aku bisa seperti dia yang juga dengan tulus pamit kepada tiap orang. Sekalipun belum dikenal, yakni aku. Maka doa dan restu itu aku berikan sebagi bekal perjalananmu. Biarkan restu ini menjadi semangat dan motivasimu. Meski aku bukan "Bapak"-mu. Meski aku tak mengenal kamu. Biarlah doaku selalu menyertaimu hingga nanti selamat sampai tujuan. Dan cita asamu mampu kau ampu meski aku tahu. Diriku tak berarti apapun bagi-mu. Tak juga kemarin, sampai hari ini, bahkan nanti sepuluh tahun lagi.</p>
<p>Semoga juga aku mampu mohon restu kepada orang tuaku sesegera mungkin untuk pergi dari sini. Dari tempat tepat dalam kesendirian saat perlahan membunuhku. Pelan dan lembut membuaiku dalam kehampaan. Saat cinta dan sayangku tak tertinggal lagi disini. Bolehkah aku pamit mencarinya lagi. Untuk menemukan sebentuk hati setia menemaniku dalam sisa usiaku ini. Untuk berbagi rasa. Berbagi cerita. Berbagi asa. Berbagi derita. Segalanya, selamanya, hingga maut memisahkan semua.</p>
<p>...............................<br />
DiY.2007.08.27 - 2240</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Terima Kasih Petunjuknya]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/21/terima-kasih-petunjuknya/</link>
<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 07:10:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/21/terima-kasih-petunjuknya/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
maem ny di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
maem ny di handle pntu..</p>
<p>from :<br />
0813264564##<br />
21:50 20 august 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreDiapun rupanya tahu apa yang...--><br />
Diapun rupanya tahu apa yang menjadikanku seperti sekarang. Memang aku mengaku belakangan waktu ini aku kurang makan. Saat ini aku kehilangan nafsu makan. Aku telah menipu bunda dengan belagak duduk diruang makan. Tak lebih separuh porsi harian aku telan. Tak lebih dari sepuluh suapan bila sempat aku hitung. </p>
<p>Entah sejak separuh hati dan jiwaku dibawanya pergi. Masih lahap aku dengan masakan bunda. Hanya apa yang aku telan rasanya hambar meski aku tahu rasa sesungguhnya lezat. Sebab Broni, Blacky dan Bagong saling berebut sisa makan yang tak kuhabiskan. Saat aku mengambil porsi utuh. Lalu hilang begitu saja saat duduk dan pikiran ini terbayang dengan raut wajah yang telah mengutuhkan serpihanku.</p>
<p>Haruskah aku ikut pesan keliru itu. Untuk makan di handle pintu. Sementara aku tahu pintuku telah hilang anak kuncinya. Ruangku kini tak lagi berisi dan kosong yang aku lihat rasakan. Sampai kapan aku bisa melupakannya. Sampai kapan tangis malamku reda. Semoga semangatku kembali ada dari sepotong handle pintu. Dari potongan hati yang kini tersisa. Dalam jatah waktu yang kian tersisa dalam hidupku.</p>
<p>.................................<br />
DiY.2007.08.21 - 0710</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bo2]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/21/bo2/</link>
<pubDate>Tue, 21 Aug 2007 06:55:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/21/bo2/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
met bo2 say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
met bo2 say2</p>
<p>from :<br />
025177039##<br />
21:38 20 august 07<br />
----------------------------------<br />
<!--moreKantuk memang tak bisa...--><br />
Kantuk memang tak bisa aku hindari. Tapi setidaknya aku menghindari mimpi buruk yang selalu aku dapati. Lalu menjadi nyata dalam kehidupanku dalam masa yang kujalani kemudian hari. Yah aku butuh tidur dan Tuhan menganugerahkan mimpi agar aku bisa mengerti hidup hanya sebuah uji. Tapi kenapa aku tak pernah bermimpi seperti dongeng dalam buku pengantar bobo anak. Saat pangeran bertemu putri. Lalu berdua mereka bahagia hingga nanti.</p>
<p>Kalau saja aku boleh memilih dan Tuhan mengabulkan. Aku tak ingin memiliki anugerah ini. Aku tak mau lagi mendapatkan mimpi yang memberi pedih dan sepi dalam keterjagaan jiwa dan hatiku. Selalu setiap waktu aku menganggap mimpi ini hanya bunga tidur seburuk apapun (sebab mimpi indah aku tak pernah menemui apalagi mengingat). Selalu juga dalam hariku bunga itu tumbuh saat kelopak mata ini tak tertutup. Andai saja ada mimpi yang bisa aku beli dari batu kali yang kumiliki.</p>
<p>.................................<br />
DiY.2007.08.21 - 0655</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Olah Raga Itu Perlu]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/13/olah-raga-itu-perlu/</link>
<pubDate>Mon, 13 Aug 2007 06:50:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/13/olah-raga-itu-perlu/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
yo aku agek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
yo aku agek mlaku</p>
<p>from :<br />
0819317406##<br />
22:27 12 Aug 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreBagus akhirnya kita...--><br />
Bagus akhirnya kita sadar bahwa olahraga itu juga perlu. Sebuah ironi memang saat kita terpaksa harus terbaring lemah saat penyakit menjalar diraga kita. Saat itulah kita baru menghargai pentingnya arti sehat yang sebenarnya. Hanya saja semua ada porsinya dan ada waktu untuk menjalaninya. Sebuah kegiatan yang terlalu intens dijalani juga tak erlalu bagus. Pun juga olah raga tengah malam pastinya tak akan baik sebab kedua paru kita bukan terisi udara yang bersih dan segar. Saranku jangan ditiru sobat kita yang satu ini olahraga jalan kaki malam hari.</p>
<p>............................<br />
DiY.2007.08.13 - 0650</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kotaku Kian Menumbuhkan Egoku]]></title>
<link>http://lalukininanti.wordpress.com/2007/08/09/kotaku-kian-menumbuhkan-egoku/</link>
<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 22:50:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>lalukininanti</dc:creator>
<guid>http://lalukininanti.id.wordpress.com/2007/08/09/kotaku-kian-menumbuhkan-egoku/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
message :
lg ditol,bn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>----------------------------------<br />
message :<br />
lg ditol,bntar ya</p>
<p>from :<br />
021305393##<br />
22:50 08 Aug 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreTak terasa kini kotaku...--><br />
Tak terasa kini kotaku kian berubah drastis. Tiap sudut Yogyakarta memang menyimpan cerita bagiku. Semakin tak kusadari juga kota tercinta ini menguburkanku dalam sebuah ego tiap penduduknya. Dulu saat aku ingin bertegur sapa dalam lambai tangan dengan mudah aku lakukan. Sebab tak seramai seperti sekarang. Kini saat kotaku telah memiliki jalan bebas hambatan. Seua harus dilakukan serba cepat, tak lagi peduli waktu dan siapa mereka disekitar kita. Sungguh peradaban telah mengubah tiap manusia. Sungguh kini Yogyakarta yang memiliki slogan berhati nyaman tinggal slogan semata. Semoga aku sanggup nyaman dalam kebimbangan rasa ini. Sebab aku tahu kotaku sampai aku tulis posting ini. Belum, juga tak memiliki jalan yang ujungnya berdiri gerbang dengan penjaga Mba atau Mas yang memberikan selembar kertas digantikan kertas lainnya.</p>
<p>................................<br />
DiY.2007.08.09 - 2250</p>
<p>----------------------------------<br />
message :<br />
lg ditol,bntar ya</p>
<p>from :<br />
021305393##<br />
22:50 08 Aug 2007<br />
----------------------------------<br />
<!--moreTak terasa kini kotaku...--><br />
Tak terasa kini kotaku kian berubah drastis. Tiap sudut Yogyakarta memang menyimpan cerita bagiku. Semakin tak kusadari juga kota tercinta ini menguburkanku dalam sebuah ego tiap penduduknya. Dulu saat aku ingin bertegur sapa dalam lambai tangan dengan mudah aku lakukan. Sebab tak seramai seperti sekarang. Kini saat kotaku telah memiliki jalan bebas hambatan. Seua harus dilakukan serba cepat, tak lagi peduli waktu dan siapa mereka disekitar kita. Sungguh peradaban telah mengubah tiap manusia. Sungguh kini Yogyakarta yang memiliki slogan berhati nyaman tinggal slogan semata. Semoga aku sanggup nyaman dalam kebimbangan rasa ini. Sebab aku tahu kotaku sampai aku tulis posting ini. Belum, juga tak memiliki jalan yang ujungnya berdiri gerbang dengan penjaga Mba atau Mas yang memberikan selembar kertas digantikan kertas lainnya.</p>
<p>................................<br />
DiY.2007.08.09 - 2250</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tersesat II]]></title>
<link>http://awym89.wordpress.com/2008/09/14/tersesat-ii/</link>
<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 12:27:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahsani taqwiem</dc:creator>
<guid>http://awym89.id.wordpress.com/2008/09/14/tersesat-ii/</guid>
<description><![CDATA[Dalam menghubungkan suatu hal, bisa jadi saya kurang berbakat. Ini berarti bahwa tersesat I tidak ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dalam menghubungkan suatu hal, bisa jadi saya kurang berbakat. Ini berarti bahwa <a href="http://awym89.wordpress.com/2008/09/04/tersesat/">tersesat I</a> tidak ada hubungan kisah yang sama dengan tersesat II meskipun jika dicari hubungannya maka hubungan antara keduanya sampai sekarang masih baik-baik saja.</p>
<p align="justify">Kemarin atas paksaan saya, <a href="http://pakacil.net">Pakacil</a>, <a href="http://manusiasuper.com">ManusiaSuper</a>, <a href="http://amed.wordpress.com">AMD</a> (ini orang bukan prosesor lho), <a href="http://syafwan15.wordpress.com">wawan</a> yang datang sebentar serta si <a href="http://soulharmony.wordpress.com">soulharmony</a> datang ke kampus dengan mengemban misi sebagai pembicara untuk memberikan pelatihan blog kepada anggota BEM FKIP Unlam Banjarmasin.<!--more--></p>
<p align="justify"><a href="http://kosongempatsembilan.wordpress.com">Kosongempatsembilan</a> juga hadir dengan sumringah karena punya rencana untuk melakukan penjemputan <a href="http://yettysarah.wordpress.com">seseorang</a> besok harinya. Untuk para pembicara saya mohon maaf kalau ada khilaf dan kekurangan di sana-sini, semoga dengan timbal-balik yang seadanya bisa berganti dengan pahala yang berlipat ganda, hehehe.</p>
<p align="justify">*kembali serius*</p>
<p align="justify">Di kegiatan sederhana itu semua berjalan apa adanya. Saya datang lebih dulu, pagi sekali. Membersihkan ruangan, komputer dihidupkan, peserta mulai berdatangan, menunggu, pembukaan yang semu, menunggu pembicara, menunggu, terus menunggu pembicara, menghubungi pembicara, terus menunggu :mrgreen: akhirnya datang, merasa lega, menyiapkan LCD, kebingungan karena tidak bisa tampil, akhirnya bisa, penyampaian materi, waktu berlalu, peserta diam *berdoa semoga mereka paham*, sesi pertanyaan *mereka masih diam*, waktu berakhir, ditutup, dan bernapas lega.</p>
<p align="justify">Acara yang dimulai sejak pukul 9 pagi dan berakhir tepat ketika azan dzuhur berkumandang ini cukup lancar meskipun tidak bisa optimal karena kendala teknis yang memang biasa terjadi di negara berkembang dan kota-kota besar seperti Indonesia dan Banjarmasin *versi pakacil*. Meskipun begitu semoga niat awal saya agar mereka setidaknya mengenal apa itu blog sudah tersampaikan dan pada akhirnya mereka tertarik untuk ngeblog, itu semua cukup sebagai sebuah awal. Semoga.</p>
<p align="justify">Setelah semua beres, seperti biasanya terjadi kopdar dadakan untuk membahas hal-hal yang dirasa perlu dan mendiskusikan hal-hal yang tidak perlu. Entah kenapa timbul ide untuk jalan-jalan saja, jadilah kelima blogger keren ini berjalan tanpa tujuan dan akhirnya terdampar disebuah mall ter-wah di kota Banjarmasin, apalagi kalau bukan <span style="text-decoration:line-through;">dusta</span> duta mall.</p>
<p align="justify">Di mall ini tidak terjadi apa-apa selain membeli beberapa gram kurma untuk acara berbuka puasa bersama. Setelah itu kelima blogger ini hanya meminjam ruangan bioskop untuk sekedar duduk-duduk dan merasakan kemajuan teknologi bernama AC.</p>
<p align="justify">Begitulah acara sehari bersama blogger <a href="http://kayuhbaimbai.com">kayuh baimbai</a> berlangsung. Tidak berlebihan memang, meskipun kami pulang tidak membawa apa-apa namun semoga kita semua membawa bungkusan kenangan yang selalu hangat untuk diceritakan setiap saat.</p>
<p align="justify"><span style="text-decoration:underline;">Beberapa foto dan pelajaran berharga</span></p>
<ul>
<li>
<div>Sambil menunggu bedug memang ketika kita berkumpul bersama kawan dan sahabat maka meskipun tetap saja lapar dan haus namun segalanya lebih terasa nyaman dilewati *mungkin karena merasa punya teman senasib sepenanggungan*.</div>
</li>
<li>
<div>Tanpa kehadiran <em><strong>AD</strong></em>eknya p<em><strong>A</strong></em>k <strong><em>RT</em></strong> acara yang semula biasa bisa menjadi luar biasa, karena terkadang spontanitas serta kreatifitas bisa meledak dan muncul kapan dan di mana saja. Seperti ide untuk ke mall dan membordir baju *kedip2 sama pakacil*.</div>
</li>
</ul>
<p align="center"><a href="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto095.jpg"><img style="border-width:0;" src="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto095-thumb.jpg" alt="Foto095" width="244" height="184" /></a></p>
<p align="center">ke mall cuma buat beli ini, KURMA</p>
<p align="center"><a href="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto098.jpg"><img style="border-width:0;" src="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto098-thumb.jpg" alt="Foto098" width="184" height="244" /></a></p>
<p align="center">Entah apa yang <a href="http://amed.wordpress.com">orang ini</a> bingungkan,,, ckckck. kasihan...</p>
<p align="center"><a href="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/untitled.jpg"><img style="border-width:0;" src="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/untitled-thumb.jpg" alt="Untitled" width="222" height="244" /></a></p>
<p align="center">entah mata saya yang salah atau ada hal lain, namun sepertinya ada yang salah dengan senyum dua orang ini?</p>
<p align="center"><a href="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto096.jpg"><img style="border-width:0;" src="http://awym89.files.wordpress.com/2008/09/foto096-thumb.jpg" alt="Foto096" width="244" height="184" /></a></p>
<p align="center">saya baru tahu kalau autis bisa kumat tiba-tiba%^$#@&#38;*^!</p>
<p align="justify">Saya tutup postingan ini dengan sebuah senyum simpul :)</p>
<blockquote>
<p align="justify">Dengan segala hormat postingan ini tidak ada hubungannya dengan upaya dari <a href="http://kosongempatsembilan.wordpress.com">seseorang</a> yang mencoba dengan dengan keras untuk menerjemahkan teks <a href="http://dia.web.id">'lorent ipsum'</a> ke dalam bahasa Indonesia. *tertawa ngakak* Jika berhasil harap beritahu saya apa artinya. Terima Kasih</p>
</blockquote>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BukBer SPW]]></title>
<link>http://eshape.wordpress.com/2008/09/12/bukber-spw/</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 22:14:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>eshape</dc:creator>
<guid>http://eshape.id.wordpress.com/2008/09/12/bukber-spw/</guid>
<description><![CDATA[



Seperti tahun lalu, pak Slamet, bendahara Serikat Pekerja Waskita [SPW], mengajak untuk mengadak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://1.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMU2I6JXI/AAAAAAAAA1s/AlWsgGQEO3c/s1600-h/buber+spw+01.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMU2I6JXI/AAAAAAAAA1s/AlWsgGQEO3c/s400/buber+spw+01.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
<a href="http://1.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMVCYpzUI/AAAAAAAAA10/lc7oj9lyYv8/s1600-h/buber+spw+02.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMVCYpzUI/AAAAAAAAA10/lc7oj9lyYv8/s400/buber+spw+02.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
<a href="http://2.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMVm_YsyI/AAAAAAAAA18/TkCjmtI4HAI/s1600-h/buber+spw+03.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMVm_YsyI/AAAAAAAAA18/TkCjmtI4HAI/s400/buber+spw+03.JPG" border="0" alt="" /></a><br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMV7Z5WoI/AAAAAAAAA2E/SMOdjOKE5iw/s1600-h/buber+spw+04.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMV7Z5WoI/AAAAAAAAA2E/SMOdjOKE5iw/s400/buber+spw+04.JPG" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Seperti tahun lalu, pak Slamet, bendahara Serikat Pekerja Waskita [SPW], mengajak untuk mengadakan acara rutin BukBer SPW. Aku, sebagai SekJend SPW, selalu saja menerimanya dengan senang hati. Tempat yang dipilih oleh Mr. Munir [kapro MOI] dan Mbak Rini [Bagian Kesra] adalah restoran Kuring di Kelapa Gading.
<div>
</div>
<div>Itu adalah lokasi paling dekat dengan Mall of Indonesia [MOI], lokasi kerjaan Mr. Munir , selaku penyandang dana acara BukBer, sekaligus lokasi yang paling tidak kukenal [karena jarang blusukan disitu].</div>
<div>
</div>
<div>Bener saja, berangkat jam 16.30 dari kantor Cawang, nyampe di lokasi restoran Kuring di Kelapa Gading udah hampir bedug.</div>
<div>
</div>
<div>Awalnya salah turun ketika mau milih outlet keluar tol. Mas Yusuf [driver kita] yang biasa ke Mall  Kelapa Gading tidak faham bahwa kita bukan mau ke mall Kelap Gading tapi ke restoran Kuring yang ada di Kelapa Gading.</div>
<div>
</div>
<div>Setelah "kebablasen" [masuk ke Priok], maka kitapun hati-hati memilih jalan menuju lokasi bukber. Kita milih jalan di pinggir kiri, karena dari Priok ke Kelapa Gading kita mau belok kiri menuju Kelapa Gading.</div>
<div>
</div>
<div>Ternyata kalau mau ke kiri [kelapa Gading], kita harus milih jalur paling kanan, sehingga karena kita ambil jalur paling kiri, maka kitapun balik lagi ke arah Cawang.</div>
<div>
</div>
<div>Ya sudah, kita bertigapun dengan "full senyum" terus mencari jalan lain ke arah kelapa Gading. Pokoknya harus selalu tersenyum agar ibadah puasa dan acara bukber ini tetep dapat kita nikmati dengan baik.</div>
<div>
</div>
<div>Akhirnya, dengan panduan Mr Munir via hape, kitapun sampai di restoran Kuring di samping La Piazza. Ternyata cobaan belum berhenti, mobil yang kita pakai atapnya ketinggian, jadi nggak bisa parkir di gedung, harus nyari parkir diluar [yang jauuuuh banget letaknya].</div>
<div>
</div>
<div>Alhamdulillah, akhirnya bukber dapat berlangsung sesuai rencana. Makanannya enak, jumlahnya pas, dan tempat sholatnya cukup memadai.</div>
<div>
</div>
<div>Begitulah kalau cobaan dihadapi dengan senyum, maka tidak ada yang mampu membuat kami sedih biarpun tersesat berkali-kali.</div>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMWPLGf6I/AAAAAAAAA2M/h-56MK-H_tg/s1600-h/buber+spw+06.JPG"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_oMKg-L5dMD4/SMmMWPLGf6I/AAAAAAAAA2M/h-56MK-H_tg/s400/buber+spw+06.JPG" border="0" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tersandung keraguan]]></title>
<link>http://jiwakelana.wordpress.com/?p=42</link>
<pubDate>Wed, 21 May 2008 13:12:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>jiwakelana</dc:creator>
<guid>http://jiwakelana.id.wordpress.com/2008/05/21/tersandung-keraguan/</guid>
<description><![CDATA[berikan aku obor
karena mentari tak lagi kurasa mampu terangi jalanku
berulangkali langkah tersandun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>berikan aku obor<br />
karena mentari tak lagi kurasa mampu terangi jalanku<br />
berulangkali langkah tersandung<br />
pada keraguan yang slalu menghadang<br />
sinarilahlah jalan ini<br />
karena ku takut tersesat dijalan terang</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TERSESAT DI HUTAN BELANTARA]]></title>
<link>http://yahyaali.wordpress.com/?p=3</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 22:36:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>yahyaali</dc:creator>
<guid>http://yahyaali.id.wordpress.com/2008/04/21/tersesat-di-hutan-belantara/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ali Yahya
Kelas 5, SD I Bengkulu 
 
            Doni, Boni , Dino dan Firman beren]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoSubtitle" style="margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Oleh: Ali Yahya</span></em></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin:0;"><em><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kelas 5, SD I Bengkulu </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>Doni, Boni , Dino dan Firman berencana berkemah di hutan .Hutan itu masih<span>    </span>perawan. Banyak pohon-pohon besar, anggrek, paku, dan beraneka macam tumbuhan liar. Konon, di hutan itu masih banyak berkeliaran berbagai hewan buas seperti harimau, kucing hutan, tikus raksasa dll. Yang lebih mengerikan lagi,<span>  </span>katanya di situ tempat para hantu bergentayangan dan berpesta pora. Namun, para pemberani kecil tidak takut.<!--more--></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Jadi berkemah di hutan angker itu?, tanya Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Tapi gimana ya, katanya banyak hantunya”, kata Boni bergetar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Ala kau Bon, takut amat sih”, timpal Firman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Masak kita takut sama hantu”, kata Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>            </span>“Iya nih, pula apa ada hantu sih”, kata Dino. “Hantu kan tidak kelihatan”. Kata</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>pak Ustad kita lebih mulia. Ngapain kita takut”, Dino sedikit ceramah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Nah, kalau gitu, jadi kan berkemah, kata Doni. “Kita berangkat hari Minggu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>depan”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Boni pun terpaksa ikut. Ia tak mau dikatakan penakut. Mereka pun berkemas. Alat kemah, senter, korek api,<span>  </span>kue, dan makanan kering serta makanan<span>  </span>lainnya. Demikianlah, mereka di pagi hari Minggu pergi ke hutan. Mereka naik angkot sampai di ujung desa Kaba. Dari situ, mereka harus berjalan kaki ke hutan. Udara segar menerpa mereka. Mereka kemudian bermain dan bersenda gurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Enak kan bermain di sini”, kata Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Lihat, burung apa itu ya”, kata Doni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Wah besar sekali, burung apa ya”, timpal Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mungkin itu burung garuda”, duga Boni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Masak sih, tapi bentuknya kok tak seperti yang di lambang Garuda Pancasila”,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>kata Firman setengah tak percaya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Foto aja lagi”, Doni berlagak seperti remaja di sinetron. “Nanti tanya ama bu </span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Guru”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya deh”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun bermain sepanjang hari. Mereka lupa memasang tenda. Tanpa sadar mereka telah jauh menusuk ke dalam hutan belantara. Ketika hari mulai gelap, mereka baru tersadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Di mana kita,?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya nih, gimana kita keluar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aduh, gimana nich”, Boni mulai mewek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dalam keadaan biasa, mereka pasti ngetawain Boni. Tapi mereka pun telah diliputi kecemasan. Berbagai gambaran khayal mulai bermain-main dalam otak mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Gini, kita dirikan tenda di sini”, kata Firman. “Tempatnya oke”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yah, itu lebih baik”, timpal dino. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Iya, kita harus tenang, masak pemberani masalah kecil gini udah takut”, kata<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>Doni sok jago .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>  </span>Mereka pun membagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, mencari kayu bakar untuk api unggun. Ada pula yang mencari sumber air minum. Kebetulan<span>  </span>tak jauh dari situ, ada sebuah mata air bening di bawah pohon raksasa. Entah pohon apa. Tingginya seolah menembus awan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk, kita bikin mi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk, lauknya apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aku bawa rendang”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Aku bawa<span>  </span>ikan asin”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun<span>  </span>mengelilingi api unggun sambil makan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Nikmat juga ya, makan di hutan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Lebih nikmat lagi makan sambil baca komik”, kata Boni yang memang sedang asyik baca buku.Boni suka baca komik horor. Rasa takut yang sempat hinggap sudah lenyap entah kemana. Ia duduk di sebuah batu yang unik. Batu itu bentuknya bulat, berwarna agak putih, lalu ada totol-totolnya. Persis seperti telur puyuh. Batu seperti itu berserakan. Ada yang besar, ada pula yang kecil. Sekecil telur puyuh. Bagi mereka batu unik itu tak mengherankan. Karena rumah mereka pun banyak batu<span>  </span>sejenis. Soalnya, banyak dijual orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Hai Boni jangan baca buku terus dong. Bantu nich”, kata Firman. Tolong ambilkan senter dong. Gelap sekali nich”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Baiklah, kata Boni sambil menaruh buku di atas batu yang didudukinya tadi. Tiba-tiba Boni melihat ada bayangan putih di balik pohon yang ada di belakang tenda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Man, aku melihat ada bayangan putih”, kata Boni gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Dimana”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Itu tuh di balik pohon di belakang tenda”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Firman pun menoleh ke pohon<span>  </span>yang dimaksud Boni. “Nggak ada kok”. Lihat tuh kan nggak ada, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tadi ada kok, sumpah, kata Boni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mungkin kamu salah lihat kali, kata Dino.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ia betul, kamu memang salah lihat, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Sudah malam, ayo kita tidur, kata Doni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun tidur. Boni susah tidur karena memikirkan bayangan putih tadi.Pagi pun menjelang. Mereka menjadi ingat bahwa mereka telah tersesat di hutan belantara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>“Bagaimana nich, caranya pulang”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Kita kan memang mau cari pengalaman di hutan, kata Firman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Betul kata Firman. Kita kan sudah sepakat untuk mengisi liburan<span>  </span>dengan cari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>pengalaman unik”, kata Dino.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka berbenah. Tenda dicabut. Api dipadamkan. Mereka ingat pelajaran pramuka. Kalau meninggalkan tempat kemah jangan lupa matikan api, biar tidak membahayakan lingkungan. Kemudian mereka mencoba mencari jalan keluar. Mereka memang lupa untuk membuat tanda, saking asyiknya mereka bermain. Siang pun menjelang, mereka berhenti sejenak untuk makan sekadarnya. Mereka mulai kehabisan bekal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Jangan-jangan kita tidak bisa pulang. Lihat tuh, bukankah ini tempat kita</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>berkemah tadi”, kata Doni.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya. Tuh bekas api unggunnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Kok bisa. Rasanya kita sudah berjalan jauh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Jadi gimana nich”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tenang, tenang. Kata pak Ustad kita harus tenang jika ada masalah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Giman kita bisa tenang Don. Bekal kita sudah habis. Jangan-jangan betul hutan ini berhantu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya nich. Gimana… gimana”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun mulai panik. Tapi pelan-pelan Doni menenangkan teman-temannya. Hari pun menjelang<span>  </span>gelap. Mereka terpaksa mendirikan tenda kembali. Bekal mereka tidak cukup untuk makan malam nanti. Mereka diliputi kecemasan yang dalam. Bulan bulat bersinar berkuningan tak dirasakan indahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Apa boleh buat kita makan seadanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi besok gimana makannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yah, kita pikirkan<span>  </span>besok deh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yuk makan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Setelah makan mereka pun siap-siap untuk tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tiba-tiba Boni berteriak: “Lihat tuh bayangan putih terlihat lagi”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Itu tuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya”. Mereka pun mulai ketakutan. Mereka pun tidur berhimpit-himpitan. Tak terasa, pagipun menjelang. Mereka berkemas-kemas. Dengan perut melilit mereka mencoba mencari jalan keluar. Karena capek, mereka beristirahat di bawah sebuah pohon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tuh, pohon itu ada buahnya”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi pohon apa ya”. Yuk, kita petik buahnya. Tampaknya manis dan enak”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi, jangan-jangan ada racunnya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Tapi daripada mati kelaparan. Ambil resiko aja deh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mereka pun kemudian mengambil buah pohon itu. Rasanya memang enak dan manis. Cukup sudah. Badan mereka pun segar kembali. Tiba-tiba Dino berteriak: “Pohon ini kan pernah kita lewati. Tuh bekas torehan pisauku”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya, ya aku ingat sekarang. Nah itu kan, bekas jejak jejak kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ya kita ingat, kemarin kita belok ke kanan yang membawa kita kembali ke</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span> </span>hutan. Harusnya kita ke kiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Iya ….. iya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Wajah mereka pun mulai kemerah-merahan, segar, senyum mengambang. Bayangan untuk bisa kembali ke rumah pun membesar. Rasa cemas hilang begitu saja. Dengan bersemangat mereka pun berjalan lagi. Mereka<span>  </span>berusaha mengingat kembali jalan yang pernah mereka lalui sewaktu masuk ke hutan. Akhirnya mereka berhasil keluar hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Akhirnya sampai juga keluar dari hutan ini, kata Boni lega.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Yeaah”, yang lainnya pun lega.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Ya Bon, kita berhasil keluar dari hutan, kata Dino gembira.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:200%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Ternyata di ujung hutan tersebut telah menunggu orang tua mereka. Mereka sangat khawatir anaknya. Mereka pun berhambur memeluk ibunya masing-masing. Yah, petualangan yang menegangkan pun berakhir. Mereka akhirnya selamat. Petualangan yang tak terlupakan. </span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
