<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tentang-cirebon &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tentang-cirebon/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tentang-cirebon"</description>
	<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 02:39:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Lihat, Saya dari Cirebon...]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/30/lihat-saya-dari-cirebon/</link>
<pubDate>Thu, 30 Aug 2007 04:19:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/30/lihat-saya-dari-cirebon/</guid>
<description><![CDATA[Inilah artikel yang menginspirasi aku, membuat blog dengan nama di atas
diambil dari http://www.ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a HREF="http://nurcha.wordpress.com/files/2007/08/balai6pi.jpg" TITLE="Balai Kota Cirebon">Inilah artikel yang menginspirasi aku, membuat blog dengan nama di atas</p>
<p>diambil dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/09/Sosok/3151641.htm</p>
<p>Lihat, Saya dari Cirebon...</p>
<p>oleh Bre Redana (Kompas)</p>
<p ALIGN="center"><strong>Kalau Anda punya cita-cita dan melihat satu celah untuk merealisasikannya, berteguhlah. Dengan keteguhan langkah, sesuatu yang terus dilakukan seseorang, kadang tidak hanya membawa orang bersangkutan ke tujuan, tetapi bahkan bukan tak mungkin ke "keajaiban".</strong></p>
<p><!--more-->Inilah pekerti yang bisa kita dapat dari Dr Yow-Pin Lim (46), pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, yang kini menjadi ilmuwan peneliti di East Providence di Negara Bagian Rhode Island, Amerika Serikat.</p>
<p>Sebagai dokter-ilmuwan di Rumah Sakit Rhode Island, ia kemudian mendirikan lembaga riset bernama ProThera Biologics. Dengan lembaga risetnya ini ia masuk ke ranah yang oleh para futurolog dianggap fenomena penting abad ke-21, yakni bidang bioteknologi.</p>
<p>Dirintis sekitar empat tahun lalu, ProThera memiliki tiga proyek penelitian: kanker, sepsis, dan biodefence. Kanker diteliti pada tingkat kegunaan apa yang disebut "inter-alpha inhibitor protein", yang mencoba memerangi kanker pada wilayah yang dipercaya sebagai sumbernya.</p>
<p>Lalu sepsis, satu area yang di Amerika dianggap sebagai wilayah problematik dunia medis. Penjelasan secara umum, bagaimana tubuh kita bereaksi secara berlebihan terhadap suatu infeksi—bahkan yang disebabkan misalnya oleh luka sangat kecil.</p>
<p>Yow-Pin menunjukkan berbagai catatan dunia kedokteran, yang di AS terdapat sekitar 750.000 kasus sepsis per tahun, dan 50 persen dari kasus itu berakhir dengan kematian. Pasien barangkali menderita kanker, flu burung, atau penyakit lain. Penyakit-penyakit yang disebut tadi kadang hanya semacam pemicu (trigger), dari gejala yang lebih mendasar, yakni sepsis.</p>
<p>Sedangkan penelitian pada satu hal lagi, yakni biodefence, juga berhubungan dengan pemanfaatan protein untuk mencegah atau mengintervensi proses, misalnya, intoksikasi antraks (anthrax intoxication), yang kadang dijadikan senjata kimia. AS punya pengalaman, ketika pada tahun 2001 ada kiriman surat berisi senjata kimiawi yang waktu itu mematikan lima orang.</p>
<p>"Itu semua sangat berkesesuaian dengan latar belakang saya di kedokteran dulu. Latar belakang saya adalah pada protein and immuno chemist," katanya.</p>
<p><strong>"From Cirebon"</strong></p>
<p>Dia memberikan penjelasan-penjelasan cukup teknis untuk memberi gambaran akan seriusnya bidang yang ia geluti saat ini, dan bagaimana ternyata Pemerintah AS sendiri menganggap bidang itu sebagai cukup krusial.</p>
<p>"Pemerintah AS melalui National Institutes of Health (NIH) sampai sejauh ini telah memberikan grant kepada kami mencapai 3,2 juta dollar AS," ungkap Yow-Pin.</p>
<p>Angka bantuan yang diberikan oleh Pemerintah AS itu, yang kalau dikonversi ke rupiah berarti mencapai hampir Rp 29 miliar, bisa kita anggap sebagai pengakuan Pemerintah AS terhadap penelitian yang dilakukannya. Yow-Pin menceritakan itu semua tidak dengan maksud menyombongkan apa yang telah dicapainya, melainkan untuk memberikan gambaran berbagai peluang yang bisa dicapai oleh orang Indonesia, yang menurut dia banyak yang menyimpan potensi.</p>
<p><strong>"Look at me, I’m from Cirebon," </strong>ucap Yow-Pin (lihat, saya dari Cirebon). "<strong>Cirebon hanya kota kecil...,</strong>" tambahnya.</p>
<p><strong>Membingungkan</strong></p>
<p>Yow-Pin <strong>lahir di Cirebon, 13 Juli 1960, </strong>sebagai anak ketiga dari empat bersaudara. Dia sendiri tak tahu mengapa cita-cita jadi dokter begitu kuat melekat pada dirinya sejak kecil. "Herannya tidak ada profesi lain yang sempat menarik perhatian saya. Ini membingungkan banyak orang termasuk ibu saya," cerita Yow-Pin.</p>
<p>Peristiwa-peristiwa yang untuk ukuran orang kebanyakan bisa disebut traumatik, tak pernah membuatnya bergeser untuk meraih cita-cita. Ayahnya meninggal tahun 1963 ketika terjadi kekacauan rasial di Cirebon. Ibunya bekerja keras untuk membesarkan empat anaknya, sebelum kemudian menikah lagi, dengan harapan memberikan sosok ayah untuk anak-anaknya.</p>
<p>"Peran ayah dan ibu sangat penting dalam mendidik kami untuk bekerja keras," ucapnya. Sejak kecil ia melihat dari dekat pergumulan hidup sehari-hari dalam mencari nafkah. "Kami semua ikut membantu orangtua sebisa kami."</p>
<p>Seluruh langkah ia bawa untuk mencapai cita-citanya. Setelah melalui SD, SMP, dan SMA Kristen di Cirebon, pertengahan kelas II SMA ia pindah ke Jakarta. Niatnya satu: bisa mempersiapkan diri belajar bahasa Jerman di Goethe Institute. Dia ingin sekolah kedokteran di Jerman. "Soalnya saya tidak yakin di Indonesia saya bakal diterima untuk kuliah di universitas negeri. Sedangkan di Jerman kuliah tidak bayar," katanya.</p>
<p>Tak ada jalan setapak yang tidak bisa dilalui, bahkan kalau perlu rintis jalan setapak itu. Ia kemudian bisa berkuliah di Berlin, jatuh cinta pada bidang biokimia, bergulat dengan penelitian, mendapatkan istri, sebelum kemudian jalan makin terbentang lebar sampai membawanya ke Amerika, dalam posisi sekarang.</p>
<p>Jalan yang ia pilih dan jalani dengan keteguhan telah membuat dirinya berkembang secara maksimum. Dalam tingkat perkembangan seperti itu, kehidupan kemudian bisa terasa indah bagi Yow-Pin. Awal Desember lalu ia pulang ke Indonesia untuk reuni dengan teman-teman sekolahnya di Cirebon dulu.</p>
<p>"Reuni itu begitu menyenangkan. Banyak teman pria dan wanita yang sudah lebih dari 30 tahun tidak ketemu. Kami berbagi pengalaman masa kecil di kota kecil yang begitu mengesankan itu," ceritanya mengenang Cirebon.</p>
<p>---------------</p>
<p>salah satu inspirasiku. Sekarang, esok, dan selanjutnya aku akan bilang dengan rasa syukur dan bangga bahwa aku adalah orang cirebon.</p>
<p>Lihat, saya dari cirebon...</p>
<p></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cirebonku]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/15/cirebonku/</link>
<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 05:58:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/15/cirebonku/</guid>
<description><![CDATA[Cukup menarik laporan akhir metropolitan mengenai sebuah kota yang terasing dari warganya. Kasarnya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Cukup menarik laporan akhir metropolitan mengenai sebuah kota yang terasing dari warganya. Kasarnya artikel ini menceritakan tentang Jakarta, warganya serta pengelolanya. Setidaknya dengan membaca artikel ini mengingatkan saya akan kota kelahiran, Cirebon.</p>
<p><!--more-->Cirebon adalah sebuah kota kecil di Pantura Jawa yang merupakan kota perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lokasi yang strategis, terutama untuk iklim usaha, khususnya usaha pusat perbelanjaan. Bisnis pusat perbelanjaan di kota Cirebon dalam satu dasawarsa terakhir ini tumbuh bak jamur di musim hujan.</p>
<p>Awal tahun 90-an mungkin hanya ada 2-3 pusat perbelanjaan tapi sekarang pusat perbelanjaan sudah lebih dari 10 buah. Dan pusat perbelanjaan itu mengambil tempat di berbagai lokasi strategis di kota Cirebon, bahkan tak jarang mengambil lokasi di lokasi-lokasi memiliki nilai sejarah. Bahkan sampai tumbuh rumor di masyarakat bahwa kantor balai kota pun akan di jual untuk pembuatan pusat perbelanjaan. Lama kelamaan mungkin aset-aset bersejarah itu akan habis dijual guna mempertebal kantong PAD Pemkot Cirebon.</p>
<p>Secara rasional mungkin wajar saja, karena untuk memelihara aset kota lama membutuh biaya yang cukup besar sementara pemasukan mungkin hanya sedikit. Cara yang paling mudah adalah menjualnya untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Dengan demikian selain mendapatkan dana hasil penjualan lokasi dan tanah setiap tahunnya Pemkot akan mendapatkan pajak dari pusat-pusat perbelanjaan yang ada dan PAD akan terus meningkat jika pusat perbelanjaan semakin banyak, mungkin seperti itu yang ada di benak Pemkot, DPRD dan jajarannya. Padahal cara seperti itu menunjukkan tingkat kreativitas pengelolaan daerah yang rata-rata terutama perencanaan tata kotanya.</p>
<p>Ini mungkin satu diantara sekian banyak masalah yang dimiliki oleh kota Cirebon, tapi tidak ada salahnya untuk kita sorot dan kita kaji bersama. Semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan di Cirebon akan menimbulkan ekses bagi kota ini, baik yang positif maupun yang negatif.</p>
<p>Efek positifnya tentu dapat mengurangi tingkat pengangguran dikota ini. Dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan maka akan menyerap banyak tenaga kerja lokal untuk bekerja. Hal itu mengurangi beban Pemkot dalam menangani masalah tenaga kerja di Cirebon selain itu semakin banyaknya pusat perbelanjaan maka konsumen dapat memilih barang-barang yang berkualitas baik dengan harga bersaing. Itu mungkin dua keuntungan yang akan diperoleh warga kota Cirebon dan juga pengelolanya. Akan tetapi walaupun demikian seperti sebuah mata uang pasti ada sisi yang lainnya, yaitu sisi negatifnya.</p>
<p>Efek negatif yang dapat mungkin ditimbulkan adalah tingkat konsumtifitas yang akan semakin meningkat dikalangan warga kota Cirebon dan sekitarnya. Kemudian selain itu akan nampak banyak sekali anak-anak sekolah yang nongkrong di mall-mall itu bahkan pada jam sekolah sehingga generasi muda kita bukan lagi menajdi generasi yang menghargai waktu dan sekolah dan tentunya itu akan berdampak buruk bagi generasi muda itu dan kota cirebon dimasa yang akan datang. Hal yang demikian juga dapat menimpa para pegawai yang bekerja.</p>
<p>Masalah lain yang juga timbul adalah letak pusat-pusat perbelanjaan yang kebanyakan menempati lokasi-lokasi strategis membuat jalan-jalan disekitarnya menjadi rawan kemacetan pada hari-hari biasa dan tingkat kemacetan itu akan semakin meningkat pada hari-hari libur. Karena banyak warga sekitar Cirebon yang datang untuk ngeceng, berbelanja dan lain-lainnya di kota Cirebon.</p>
<p>Kemacetan cenderung terjadi karena lalu lalang pejalan kaki, turun naik penumpang dari angkot, pengemudi becak dan lain-lainyya semakin menambah gerah kota Cirebon yang memang sudah panas. Dampak negatif yang lain diderita oleh pengelola pusat perbelanjaan itu sendiri. Karena bannyaknya pusat perbelanjaan mereka harus giat-giat berpromosi guna menarik pengunjung agar tetap berbelanja di pusat perbelanjaan yang mereka kelola.</p>
<p>Jadi sebenarnya home work Pemkot Cirebon bukan tidak sedikit. Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan intu secara langsung maupun tidak langsung memiliki Dampak terhadap kehidupan sosial, perencanaan tata kota, pelayanan angkutan umum dan rute jalannya, padagang kaki lima dan lainnya yang turut mempengaruhi aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan kota Cirebon di masa yang akan datang.</p>
<p>Lalu apa kaitannya dengan keterasingan warga. Boleh jadi kebanyakan warga asli atau yang sudah lama bermukim di kota ini berpendapat bahwa kota Cirebon ini sudah tidak seperti dulu lagi. Memang perubahan diperlukan agar kota ini tetap dapat bertahan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu nuansa religius kota ini yang sempat kondang dengan julukan kota wali mungkin akan musnah dan berubah menjadi kota 1000 mall seperti yang diangankan Pemkot. Dan nampaknya memang demikian usia kota yang semakin tua justru membuat kota ini seperti neli alias nenek lincah yang genit.</p>
<p>Cirebon, Nama itu tereja dalam lubuk jiwa</p>
<p>Nuansa itu perlahan sirna di telan masa</p>
<p>Seiring dengan keteduhan yang semakin memudar tertelan gempuran kuasa</p>
<p>Hingga lenyap satu persatu peneduh raga di sisi-sisi kota</p>
<p>Sehingga terik semakin menyengat melumat eolia-eolia rasa, raga dan jiwa</p>
<p>Diantara fraktal palsu tak bernyawa.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[”Ingsun Titip Basa lan Sastra Cerbon” ]]></title>
<link>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/15/%e2%80%9dingsun-titip-basa-lan-sastra-cerbon%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Wed, 15 Aug 2007 05:30:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>nurcha</dc:creator>
<guid>http://nurcha.wordpress.com/2007/08/15/%e2%80%9dingsun-titip-basa-lan-sastra-cerbon%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[MAKA berakhirlah Kongres Bahasa Cirebon I itu dengan penanda kutipan di atas. Diucapkan oleh Ketua K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>MAKA berakhirlah Kongres Bahasa Cirebon I itu dengan penanda kutipan di atas. Diucapkan oleh Ketua Kongres Chaerul Salam seraya menyerahkan rekomendasi kongres pada Nurdin M. Noer yang terpilih sebagai Ketua Umum Lembaga Basa lan Sastra Cerbon (LBSC). Sebuah institusi yang dilahirkan oleh kongres yang berlangsung di Cirebon sejak tanggal 31 Juli-2 Agustus 2007 yang lalu. Dan tentu saja lebih dari hanya sekadar melahirkan LBSC dengan sejumlah amanat yang termaktub dalam rekomendasi, kongres yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar ini juga mengusung sejumlah permasalahan menarik ihwal nasib perkembangan bahasa dan sastra Cirebon dengan berbagai sudut pandangnya.</p>
<p><!--more-->Dari mulai sudut yang memandangnya lewat semacam romantisme kecemasan bahwa bahasa Cirebon kini di ambang kepunahan. Serupa yang dialami oleh sejumlah bahasa daerah lainnya. Asumsi pada politik dan dominasi budaya yang terasa dalam kebijakan sistem pendidikan yang mengabaikan pengajaran bahasa Cirebon di sekolah-sekolah. Hingga yang menelisik lebih jauh memandang perkembangan bahasa Cirebon dalam ranah kehidupan sosial, seni, dan budaya, baik sastra, media massa, pesantren, atau pertunjukan.</p>
<p>Seluruh sudut pandang itu mengemuka dalam sebelas sidang, pleno maupun komisi, dengan menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai kalangan, mulai ahli bahasa, seniman-budayawan, birokrat, dunia pers, perguruan-tinggi, hingga pesantren. Bersama seluruh peserta kongres dengan berbagai latar-belakang yang datang dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Bandung, para pembicara mencoba mengurai realitas perkembangan bahasa Cirebon, baik di tengah realitas masyarakat dan geogulturalnya, ataupun di tengah sejumlah realitas eksternal yang niscaya memengaruhinya.</p>
<p>Penyelenggaraan kongres ini menarik karena paling tidak ia harus memerlukan rentang jarak empat tahun sejak terbitnya Perda No. 5 Tahun 2003 yang memaktubkan pemeliharaan bahasa daerah di Jawa Barat, bahasa Sunda, Cirebon, dan Melayu Betawi. Demikian pula dengan lahirnya lembaga seperti LBSC yang berjarak 55 tahun dari munculnya lembaga sejenis seperti Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) yang lahir tahun 1952.</p>
<p>Kongres ini mencoba menginventarisasi sejumlah permasalahan seraya menyorongkan jawaban atas realitas nasib perkembangan bahasa Cirebon. "Akhir-akhir ini ada kesan orang seperti tidak lagi bangga berbahasa Cirebon. Dia mengalami kegagapan ketika harus mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan bahasa Cirebon. Kondisi ini harus diatasi," ujar Charul.</p>
<p>**</p>
<p>DARI sejumlah pandangan dan lontaran pemikiran yang muncul selama kongres, pertanyaan itu sayup-sayup terjawab. Bahwa bahasa Cirebon, dalam nasib perkembangannya ternyata tak hanya dijepit dan didesak oleh bahasa nasional dan bahasa asing, namun juga oleh pengaruh bahasa Sunda yang muncul dari kebijakan pendidikan di tingkat dasar.</p>
<p>"Baru-baru ini Kadisdik Cirebon membebaskan sekolah-sekolah untuk memilih pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Sunda dalam muatan lokal (mulok). Dan, lebih dari separuh siswa memilih bahasa Sunda," ujar H.M. Wasikin Marzuki saat berbicara dalam rapat pleno.</p>
<p>Kenyataan ini juga diperumit dengan lambannya Pemda merespons Perda No.5 Tahun 2003, seperti pengakuan Aningsih dari Bakombud Kab. Cirebon ketika tampil sebagai pembicara dalam sidang yang membahas Strategi Implementasi Perda jabar No. 3 Tahun 2005. Ia menyebut belum adanya perda khusus kab. Cirebon tentang pelestarian dan pengembahangan bahasa Cirebon. Atau juga tanggapan yang muncul dari Mama Sujai yang mengatakan dalam konteks dunia pendidikan belum adanya lulusan bahasa dan sastra Cirebon.</p>
<p>Agaknya inilah yang jadi permasalahan spesifik dalam nasib perkembangan bahasa Cirebon. Belum lagi kondisi dalam tubuh masyarakat penutur bahasa Cirebon. Dalam hubungannya dengan media-massa, misalnya, baik H. M. Wasikin Marzuki (Mitra Dialog) dan Erna Prahesti (RRI Cirebon) mengungkapkan sulitnya mencari narasumber yang fasih menguasai bahasa Cirebon, meski halaman, rubrik, atau penayangan siaran disediakan.</p>
<p>Jika disebut bahasa adalah rumah sebuah budaya, soalnya bagaimana bahasa Cirebon sebagai "rumah" di tengah kenyataan budayanya hari ini? Inilah yang juga mengemuka untuk memberikan jawaban pada tantangan bahwa bahasa haruslah hidup bersama perubahan yang terjadi di tengah masyarakat penuturnya. Dalam konteks keperluan inilah kongres mengurainya dalam dua sesi yang saling berhubungan, yakni sesi yang membahas penyusunan kamus, dan dalam sesi yang memperbincangkan kerangka paradigmatik pembelajaran bahasa Cirebon.</p>
<p>Dalam sesi penyusunan kamus bahasa Cirebon, Jaja, M.Hum., menyatakan, perbedaan penyusunan bahasa Cirebon hari dan teks-teks masa lalu merupakan sebuah keniscayaan sebab kamus tak hanya berisi daftar kata, tapi juga menunjuk pada budayanya. Lepas dari bagaimana sesi ini lebih banyak memperbincangkan teknis penyusunan kamus ketimbang mendedahnya lebih jauh ke dalam konteks budayanya, namun benang merah pemikiran yang mengemuka juga terasa dalam sesi yang membahas kerangka paradimatik pembelajaran bahasa Cirebon.</p>
<p>Sesi ini secara tajam mengurai sejumlah pemikiran yang terfokus pada bagaimana hendaknya pembelajaran bahasa Cirebon. "Bahasa itu tidak boleh mengisolasi pemakainya. Ia harus berkembang bersama budayanya," ujar Dr. Abdul Rozak yang tampil sebagai pembicara menanggapi Nurdin M. Noer yang melihat bahwa penggunaan bahasa Cirebon lama tak bisa lagi digunakan dalam kenyataan hari ini.</p>
<p>Dengan semangat yang sama, dalam konteks dunia pendidikan Made Casta seolah mewanti-wanti agar pendidikan bahasa Cirebon di sekolah-sekolah memiliki infrastruktur kurikulum yang tak melulu mengajarkan siswa dengan berbagai aturan linguistik, tapi juga harus dilakukan dengan pendekatan sosiokulturalnya.</p>
<p>**</p>
<p>DARI sejumlah sidang yang mengurai berbagai permasalahan bahasa Cirebon, nyaris suasana kongres berlangsung tanpa adanya perdebatan yang terbilang panas. Tampaknya sejak awal para peserta kongres sudah terkondisikan untuk membuat semacam kesepatan ihwal kenyataan perkembangan dan permasalahan bahasa Cirebon. Jikapun ada semacam perdebatan itu terjadi dalam sesi Saresehan Budaya yang memperbincangkan makna identitas dalam realitas global hari ini. Sayang, perdebatan yang terjadi di kalangan aktivis budaya itu masih berputar-putar dalam ihwal merumuskan strategi identitas lokal seraya melakukan tawar-menawar di tengah realitas global.</p>
<p>Bahwa kemudian akhirnya kongres melahirkan sebuah institusi seperti LBSC, sejak awal keperluan pada pembentukannya sudah disepakati. Setiap sidang sesi selalu diakhiri dengan beberapa usulan rekomendasi yang akan dijalankan oleh LBSC. Puncak keperluan membentuk lembaga ini disimpan dalam Sidang Pleno dengan pembicara Nurdin M. Noer. Menurutnya institusi ini berfungsi sebagai lembaga penelitian dan pengembangan bahasa Cirebon, sebagai pendidikan bahasa dan sastra Cirebon, dan sebagai lembaga yang melakukan kajian terhadap akar bahasa Cirebon.</p>
<p>Sesi pembentukan lembaga ini lumayan alot. Perdebatan terjadi di seputar nama lembaga, kinerja lembaga, hingga wilayah operasionalnya. Namun akhirnya disepakati institusi tersebut bernama Lembaga Basa lan Sastra Cerbon.</p>
<p>Bersamaan dengan pengesahan rekomendasi kongres, susunan pengurus LBSC disahkan. Rekomendasi yang diamanatkan kongres terdiri dari 17 butir yang ditulis dalam bahasa Cirebon. Rekomendasi ini lahir dengan semangat desakan pada kesadaran berbagai pihak tentang perlunya mengembangkan bahasa Cirebon, baik terhadap kebijakan pemda Cirebon dan Indramayu, dunia pendidikan, masyarakat luas, hingga kalangan perguruan tinggi.</p>
<p>Dalam lembaga ini duduk 46 orang pengurus, yang terdiri atas pengurus harian dengan tujuh komisi. Sebuah lembaga yang akhirnya terkesan gemuk. Belum lagi adanya 10 orang yang duduk di lembaga dewan penasihat dan dewan pakar. Namun membaca kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh perkembangan bahasa Cirebon, gemuknya lembaga mungkin bisa dipahami. Yang justru tak akan bisa dipahami adalah ketika lembaga gemuk ini malah menjadi bagian dari kompleksitas itu sendiri. Apa yang diucapkan oleh Charul Salam pada Nurdin M. Noer dalam penutupan kongres tentu sesungguhnya juga adalah harapan masyarakat, sejarah, dan budaya Cirebon pada lembaga ini, "ingsun titip basa lan sastra Cerbon". (Ahda Imran)***</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
