<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>teman-sekampung &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/teman-sekampung/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "teman-sekampung"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 02:10:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Beduk]]></title>
<link>http://yamin.wordpress.com/2007/06/22/kampung-kota-polis/</link>
<pubDate>Sat, 30 Dec 2006 14:10:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>yamin</dc:creator>
<guid>http://yamin.id.wordpress.com/2006/12/31/beduk/</guid>
<description><![CDATA[Malam ini adalah malam menjelang Idul Adha yang biasa disebut juga Hari Raya Qurban. Penunjuk waktu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini adalah malam menjelang Idul Adha yang biasa disebut juga Hari Raya Qurban. Penunjuk waktu sekarang ini menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit. Hanya beberapa jam sebelum umat Islam di tanah air akan melangsungkan shalat Idul Adha 1427 H yang ditetapkan tanggal 31 Desember 2006.<!--more--></p>
<p>Di segenap pelosok masih terdengar beduk bertalu-talu ditabuh anak-anak belasan tahun. Riuh rendah bunyinya kerap diselingi suara mercon yang menggelegar. Mendengar bebunyian seperti itu, ingatanpun terseret kembali ke dua puluh sekian tahun silam. Hanya saja waktu itu penduduk Jakarta belumlah sepadat sekarang, meskipun suara beduk yang terdengar tidak kalah riuhnya. Satu hal lagi yang membedakannya, yaitu irama tabuhan beduk. Dulu irama tabuhan mengikuti alunan takbir asma ALLAH; sekarang ini, kadang tanpa mengiringi takbir dan irama tabuhannya malah terdengar seperti solo drum dari AJ. Pero (Twisted Sister)  dalam lagu We're not gonna take it (album Stay Hungry).  Apakah ini tanda zaman atau sekedar simpangan karena kurangnya arahan? Entahlah, tetapi rasanya masih banyak yang harus direnungkan dalam malam menjelang Idul Adha ini dari sekedar mempermasalahkan irama beduk yang penuh improvisasi di atas. Misalnya saja tentang mantan penabuh-penabuh beduk yang selalu meramaikan malam menjelang Idul Adha dan -- terutama -- Idul Fitri.</p>
<p align="left">Heru, demikian saya memanggilnya. Mungkin malam seperti ini di Brussel, tempat tinggalnya sekarang, dia juga sedang melamunkan kebiasaannya di setiap malam menjelang Idul Adha dan Idul Fitri dua puluh sekian tahun lalu. Selepas Isya dan sehabis menyantap opor ayam, menurutnya, dia beserta beberapa teman-temannya berkumpul di depan musholah bersiap melakukan takbir dan tentunya menabuh beduk. Sebagai penabuh utama ia langsung didaulat untuk segera menaiki becak yang sudah dimuati beduk terlebih dulu, kemudian diikuti oleh temannya yang menjadi penabuh kedua dan ketiga. Di belakang becak tersebut bersiap pula sebuah becak lain yang disarati loudspeaker berwarna biru bermerk Toa dilengkapi microphone dan amplifier bermerk Moron, tidak ketinggalan juga sumber listrik berupa aki ukuran besar bermerk Tornado. Tanpa menunggu perintah 4-5 orang anak berebut tempat di becak kedua, merekalah juru takbir yang sudah tidak sabar untuk mengumandangkan asma ALLAH. Kedua becak bergerak beriringan mengelilingi Kampung Sawah yang terletak di Kelurahan Kebon Bawang, Tanjung Priok. Dalam prosesi kadang rombongan ini juga bertemu dengan rombongan lain. Pada saat berpapasan biasanya mereka saling unjuk kebolehan dalam menabuh beduk. Menurut Heru, sedikit improvisasi dibutuhkan dalam unjuk kebolehan ini. Kadang ia juga menabuh bagian tabung beduk sehinga terdengar bunyi "tek" bukan hanya "duk" seperti ketika menabuh bagian kulit. (<em>Saya tidak mau menarik simpulan bahwa improvisasi seperti itu yang menyebabkan tabuhan beduk sekarang ini kadang terdengar lain, tapi rasanya juga tidak berlebihan kalau dikatakan unsur unjuk kebolehan merupakan penyebabnya). </em>Menjelang tengah malam rombongan Heru dan teman-temannya sudah kembali dari berkeliling kampung. Beduk dan perlengkapan lain diturunkan dari becak. Setelah semuanya beres, Heru dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing dengan hati puas dan gembira. Acara takbir dan menabuh beduk dilanjutkan beberapa lelaki dewasa di depan musholah hingga menjelang subuh.</p>
<p align="left">Sepelemparan batu dari tempat tinggal Heru, tinggal seorang teman lain yang bernama Harry. Lain halnya dengan Heru yang menjadi penabuh beduk utama, Harry adalah seorang penabuh beduk pengganti. Ketika penabuh beduk utama kelelahan, Harry langsung mengambil tongkat pemukul beduk dan melanjutkan tabuhan. Tidak ada yang istimewa, kecuali satu hal: Harry tidak merayakan Idul Adha juga Idul Fitri. Dia melakukannya karena dorongan solidaritas semata. Semoga saja di Groningen malam ini dia juga masih membayangkan irama beduk yang bertalu-talu.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
