<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>tahu-pong &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/tahu-pong/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "tahu-pong"</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 18:21:49 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tahu Gimbal]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/08/tahu-gimbal/</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 23:58:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.id.wordpress.com/2008/05/08/tahu-gimbal/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:
10 potong tahu pong yang belum digoreng, siap beli/2 buah tahu putih besar yang empuk, poton]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/tahu-gimbal.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/tahu-gimbal-thumb.jpg" border="0" alt="tahu gimbal" width="134" height="126" align="left" /></a> Bahan:<br />
</strong>10 potong tahu pong yang belum digoreng, siap beli/2 buah tahu putih besar yang empuk, potong sebesar tahu pong<br />
5 butir telur rebus, kupas, goreng, belah dua</p>
<p><strong></strong></p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Gimbal udang:<br />
</strong>5 buah udang ukuran sedang<br />
5 sdm tauge<br />
1 gelas tepung terigu + 1 gelas air<br />
2 sendok makan tepung beras<br />
1/2 sdt gula pasir<br />
merica<br />
garam<br />
minyak goreng</p>
<p><strong>Bumbu yang dihaluskan:<br />
</strong>2 siung bawang putih<br />
2 butir kemiri<br />
1/2 sdt ketumbar</p>
<p><strong>Saus petis<br />
</strong>2 sdm petis udang<br />
5 sdm kecap manis<br />
1 sdm air jeruk limau<br />
1/2 gelas air panas<br />
20 cabai rawit hijau (kalau suka), haluskan, sajikan terpisah<br />
Bumbu halus: 2 siung bawang putih, 1/2 cm kencur dan 2 sdm kacang tanah goreng</p>
<p><strong>Acar:<br />
</strong>1 buah lobak sedang, iris tipis<br />
1/2 sdt garam<br />
1 sdt cuka<br />
1 sdt gula pasir</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li><strong>Acar :</strong> Remas lobak iris dengan 1/2 sdt garam. Sisihkan 5 menit. Beri cuka dan gula. Aduk. Diamkan lagi 5 menit. Koreksi rasanya. Simpan di lemari pendingin.</li>
<li><strong>Saus :</strong> Cairkan petis dan air panas. Setelah larut beri kecap manis, bumbu halus dan air jeruk limau. Koreksi rasanya.</li>
<li><strong>Gimbal udang : </strong>Campur tepung terigu dan tepung beras. Beri air sedikit demi sedikit sampai menjadi adonan kental.</li>
<li>Masukkan bumbu yang dihaluskan, garam, merica dan gula pasir. Koreksi rasanya. Masukkan tauge dan udang. Goreng menjadi 5 gimbal. Tiap gimbal berisi 1 udang.</li>
<li>Terakhir goreng tahu.</li>
<li>Sajikan selagi panas bersama gimbal yang dipotong-potong, telur rebus goreng, saus petis dan acar lobak.</li>
</ol>
<p>Untuk 5 porsi</p>
<p><em>Sumber: Intisari Menu Sehat 09/Th.1/2005 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tahu Isi]]></title>
<link>http://resepbunda.wordpress.com/2008/05/08/tahu-isi/</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 23:58:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipadi</dc:creator>
<guid>http://resepbunda.id.wordpress.com/2008/05/08/tahu-isi/</guid>
<description><![CDATA[ Bahan:
20 tahu pong
Minyak goreng
Isi tahu:
50 gram udang tanpa kulit/ayam, cincang kasar

1 buah w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/tahu-isi.jpg"><img style="border-width:0;margin:5px 20px 0 5px;" src="http://resepbunda.files.wordpress.com/2008/05/tahu-isi-thumb.jpg" border="0" alt="tahu isi" width="112" height="112" align="left" /></a> Bahan:<br />
</strong>20 tahu pong<br />
Minyak goreng</p>
<p><strong>Isi tahu:<br />
</strong>50 gram udang tanpa kulit/ayam, cincang kasar</p>
<p><!--more--></p>
<p>1 buah wortel kecil, kupas, rebus, potong kubus 1/2 cm<br />
50 gram bengkuang kupas, potong kubus 1/2 cm<br />
4 tangkai daun bawang, iris halus<br />
1 butir telur<br />
merica<br />
1/2 sdt gula pasir<br />
garam<br />
1 sdm minyak goreng<br />
2 siung bawang putih cincang<br />
1 sdt kecap asin</p>
<p><strong>Lapisan luar:<br />
</strong>1/2 gelas tepung terigu<br />
1 sdm tepung kanji<br />
1 siung bawang putih, haluskan<br />
1/2 sdt ketumbar, haluskan<br />
1/2 gelas atau kurang, air minum</p>
<p><strong>Cara membuat:</strong></p>
<ol>
<li>Goreng tahu hingga kekuningan dan mekar.</li>
<li>Buat lubang pada salah satu sisi tahu pong yang sempit. Korek bagian dalamnya dengan sendok teh. Kulitnya dipisah dari isinya.</li>
<li><strong>Isi tahu : </strong>Tumis bawang putih sampai harum. Masukkan udang/ayam cincang. Aduk. Beri kecap asin dan merica. Aduk sampai asat. Biarkan dingin.</li>
<li>Masukkan wortel, bengkuang, daun bawang, telur, merica, gula pasir, garam dan kecap asin. Aduk. Koreksi rasanya.</li>
<li>Isikan ke kulit tahu.</li>
<li><strong>Lapisan luar : </strong>Campur semua bahan.</li>
<li>Celup tahu yang sudah diisi ke adonan luar dan goreng sampai kuning kecokelatan.</li>
<li>Hidangkan selagi hangat.</li>
</ol>
<p>Untuk 20 potong</p>
<p><em>Sumber: Intisari Menu Sehat 06/Th.1/2005 (gambar dan resep)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kedai Tiga Nyonya]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=255</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 06:03:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.id.wordpress.com/2008/04/07/kedai-tiga-nyonya/</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya saya tidak sengaja masuk ke resto Kedai Tiga Nyonya (maksudnya, bukan tiba-tiba disuguhi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya tidak sengaja masuk ke resto Kedai Tiga Nyonya (maksudnya, bukan tiba-tiba disuguhi makan dan tiba-tiba disuruh <em>mbayar.</em>..). Ketika malam itu sedang berjalan-jalan di Jl. Wachid Hasyim, Jakarta Pusat, sambil <em>tolah-toleh</em> siapa tahu ada tempat makan yang menarik. Tiba-tiba pandangan mata terarah ke sebuah bangunan bernuansa <em>cino ndeso</em> (bahasa sekarangnya antik bin artistik khas rumah peranakan Cina), bercat dominan hijau telur. Dari judul depannya saya tahu, ini pasti tempat makan.</p>
<p>Bagi warga Jakarta, barangkali Kedai Tiga Nyonya bukan sebuah nama yang asing. Tapi bagi saya, tempat ini bagai magnet yang mengundang untuk masuk dan mencoba tawaran menunya. Benar saja. Begitu masuk ke dalam bangunan dua lantai itu, saya merasa seperti sedang berada di kompleks rumah pecinan. Pernak-pernik hiasannya, piring keramik, lampion, baju khas masyarakat peranakan, aneka mebel kayu berkesan kuno, termasuk dominasi warna merah, yang kesemuanya menegaskan bahwa siapapun yang ada di sana seolah-olah sedang berada di tengah komunitas peranakan.</p>
<p>Namun yang pasti, bahwa siapapun yang masuk ke sana jelas berniat hendak cari makan. Karena tempat itu adalah restoran masakan khas peranakan yang diramu dan ditata sedemikian rupa agar tampil beda dan menarik. Menu masakan yang disediakannya pun beraneka ragam. Menurut pemiliknya, Paul dan Winnie Nio yang asal Semarang, semuanya berasal dari resep keluarga peranakan yang telah diwarisi turun-temurun. Semua informasi tentang Kedai Tiga Nyonya dan termasuk menu yang disediakan, dikemas dalam sebuah buklet daftar menu berbahasa Inggris. Saya pikir, ini restoran memang disiapkan untuk melayani konsumen asing, minimal orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia tapi mengerti bahasa Inggris. Tidak paham bahasa Cina tidak masalah, wong tidak ada tulisan Cinanya.</p>
<p>Kedai Tiga Nyonya yang berdiri di Jl. Wachid Hasyim ini sudah beroperasi sejak Desember 2005 dan merupakan cabang dari induknya yang lebih dahulu ada di kawasan Tebet Indraya Square, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Perihal nama Tiga Nyonya ini menurut ceritanya, bermula dari ketertarikan Paul B. Nio, sang pemilik kedai, kepada sebuah foto kuno yang ditemukannya di Semarang. Foto dua orang ibu-ibu Cina dan seorang anak perempuan yang sebenarnya tidak ada hubungan pernah-pernahan dengan pak Paul itu lalu direpro dan dijadikan inspirasi sekaligus ikon bagi restorannya yang kini bernama Kedai Tiga Nyonya.</p>
<p>Restoran yang sebenarnya tidak berkesan mewah ini rupanya pernah menyabet penghargaan sebagai Restoran Terbaik pada tahun 2005 dan 2006. Bahkan menu ayam bakar spesialnya pun diakui kelezatannya. Namun barangkali ada satu hal yang patut dicatat, yaitu jaminan dari pemiliknya bahwa semua makanan disana halal dan tidak menggunakan MSG. Jadi, meskipun banyak kolesterol tapi masih agak sehatlah..... sedikit.</p>
<p>***</p>
<p>Tiba saat pemesanan. Saya pilih menu utama kakap <em>steam</em> dan cah kangkung, lalu minumnya es Tiga Nyonya, masih ditambah tahu pong sebagai pelengkap pendahuluan. Mari kita deskripsikan satu per-satu agar lebih komplit dalam membayangkan <em>taste</em>-nya yang memang enak...... Kalau soal bumbunya saya tidak tahu, wong saya bukan tukang masak. Tapi yang penting adalah <em>hoenak</em> ketika dimakan dan ketika tidak ikut memakannya pun tetap terbayang <em>hoenaknya</em>.</p>
<p>Kakap <em>steam</em> yang disajikan berupa seekor ikan kakap merah berukuran cukup besar, dipadu dengan irisan tomat, bawang bombay dan paprika merah-hijau. Ditaruh di meja dalam keadaan panas <em>kemebul</em> (berasap) dengan kuah kental bersantan. Terasa sedapnya ketika disantap dalam keadaan panas dengan nasi putih pulen. Jangan ditunda memakannya ketika dingin, karena kuah kentalnya membikin perut cepat kenyang dan nek. Sayang, ikannya terasa kurang segar. Ya, maklum ini restoran lokasinya di tengah kota yang padat, berbeda dengan warung yang terletak di dekat pantai.</p>
<p>Demikian halnya dengan sajian cah kangkung yang juga masih <em>kemebul.</em> Cah kangkung dengan campuran udang, lebih enak kalau disantap juga dalam kondisi <em>hanas</em> (saking panasnya di mulut). Kuahnya benar-benar sedap nian. Tingkat kematangan daun dan batang kangkungnya pas sekali sehingga memberi sensasi <em>kemrenyes</em>, gigitan demi gigitan. Inilah rahasianya menikmati cah kangkung. Jangan menunda memakannya ketika sudah dingin, karena tingkat kematangan daun dan batangnya sudah berubah. Regangan serat batang dan daun kangkung sudah mengendor layu. Akibatnya sensasi <em>kemrenyesnya</em> hilang. Tanya kenapa? Saya tidak tahu. Tapi boleh dibuktikan sendiri kalau di rumah ada yang bisa masak.</p>
<p>Giliran menikmati es Tiga Nyonya. Dari namanya saja pasti ini menu minuman khas unggulan kedai Cina itu. Dalam wadah agak besar berisi campuran kolang-kaling berwarna merah, cincau hitam, bijih selasih yang seperti telur kodok, dan (ini yang paling enak dan <em>kemrenyes</em>) irisan tipis-tipis manisan mangga, lalu ada sirup dan <em>prongkolan</em> es batu yang digepuk (bukan dipasah). Ramuannya begitu pas, sehingga rasanya.... <em>uedan tenan!.</em> Kalau bukan karena kekenyangan <em>nggado</em> kakap <em>steam</em>, rasanya kepingin <em>nambah</em>.</p>
<p>Yang terakhir, walau sebenarnya justru yang pertama disajikan dan pertama pula saya santap sebagai menu pembuka, yaitu sesuai orderan adalah tahu pong <em>gimbal </em>komplit khas Semarang dengan sambal petis. Tapi ketika disajikan rupanya <em>gimbal</em>nya ketinggalan di dapur. Ya sudah, tahu pong sambal petis saja. Yang penting tahu dan petisnya benar-benar terasa. Tidak seperti tahu petis di Sekaten Jogja yang petisnya sudah dicampur gula jawa.</p>
<p>Pendek cerita, saya benar-benar puas menikmati sajian menu Kedai Tiga Nyonya. Sebelum meninggalkan kedai dan tiba waktunya <em>mbayar</em>, uuah... harganya (kurang) pas buat saya (membuat saku saya mendadak jadi tipis). Terima kasih Kedai Tiga Nyonya. Terima kasih untuk harga yang sebanding dengan tingkat keenakan masakannya. Puas... puas... puas....!     </p>
<p>Yogyakarta, 2 Maret 2007<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
