<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sultan-hamengku-buwono-10 &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/sultan-hamengku-buwono-10/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sultan-hamengku-buwono-10"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 10:34:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pernikahan  Ageung, eh Agung! ]]></title>
<link>http://yusranpare.wordpress.com/?p=267</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 15:15:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusranpare</dc:creator>
<guid>http://yusranpare.id.wordpress.com/2008/05/12/pernikahan-ageung-eh-agung/</guid>
<description><![CDATA[
KAMI hadir di Keraton Yogyakarta bukan semata memenuhi undangan Ngarsa Dalem, Sri Sultan Hamengku B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-right:3.75pt;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-style:normal;font-family:Arial;"><a href="http://URLBerkas"></a><a href="http://URLBerkas"><img class="alignnone size-medium wp-image-269" src="http://yusranpare.wordpress.com/files/2008/05/20080508sis01_siraman1.jpg?w=300" alt="" width="388" height="280" /></a></span></em></span></p>
<h3 style="text-align:left;"><span style="color:#008080;">KAMI hadir di Keraton Yogyakarta bukan semata memenuhi undangan Ngarsa Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono X , <span> </span>tapi lebih karena ingin tahu peristiwa yang belum tentu bisa disaksikan sembarang waktu. Hari itu Sultan Yogya menikahkan putri ketiganya, GRAj Nurkamnari Dewi yang kini bergelar GKR Maduretno.</span></h3>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sang putri disunting Yun Prasetyo yang digelari Dalem Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Purbodiningrat. Ijab kabul berlangsung Jumat 9/5/08 pagi pukul 06.35 di Masjid Panepen Kraton Ngayogyakarta. Resepsi dilaksanakan malam<span>  </span>harinya di Bangsal Kencana di dalam lingkungan keraton.</span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pesta pernikahan itu diliput dan disiarkan secara luas oleh berbagai media. Cetak maupun elektronik. Jadi, tak perlulah diceritakan lagi di sini. Sekadar melengkapi, berikut adalah cuplikan berita yang dikutip dari <em><strong><span style="color:#33cccc;">Kedaulatan Rakyat</span></strong></em>, surat kabar pertama dan terbesar di Yogyakarta. Begini:</span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><strong><em><span style="font-family:Arial;">JUMAT</span></em></strong><em><span style="font-family:Arial;"> kemarin adalah puncak dari apa yang selama ini diharapkan pasangan Yun Prasetyo dan GRAj Nurkamnari Dewi, yang telah menjalin hubungan cukup lama. Rangkaian upacara adat pernikahan di Kraton, penuh simbol bermakna. </span></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><em><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Namun tidak seperti biasa, rangkaian upacara adat kali ini lebih banyak dilakukan secara tertutup untuk pers. Hanya upacara adat panggih yang dilaksanakan secara terbuka. </span></span></em></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Di dalam adat panggih inilah ‘digelar’ pelbagai upacara dengan simbol-simbol tertentu. </span></em><span style="font-family:Arial;">Balang-balangan gantal, mijiki serta mecah tigan oleh GKR Pembayun <em>serta </em>pondhongan (<em>menggendong,</em> ngabopong - <em>Sunda)</em>.</span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pondhongan<em> adalah upacara yang sangat spesifik dalam perkawinan di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Upacara ini menjadi simbol, bahwa pengantin putri adalah putri Sri Sultan Hamengku Buwono, memiliki derajat lebih tinggi daripada pengantin laki-laki. Zaman dulu kala, </em>pondhongan<em> dilakukan dari </em>kuncung <em>Kagungan Dalem Bangsal Kencana hingga Emper Kagungan Dalem Bangsal Prabayeksa.</em></span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Perjalanan waktu, pelaksanaan pondhongan tidaklah harus menempuh sepanjang itu. Pengantin laki-laki dan paman pengantin putri, biasanya</span></em><span style="font-family:Arial;"> memondhong <em>pengantin putri dari </em>kuncung <em>Kagungan Dalem Bangsal Kencana hingga Emper Bangsal Kencana sebelah Utara. </em></span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Tetapi dalam pelaksanaan pernikahan GRAj Nurkamnari Dewi dengan Yun Prasetyo SE MBA betul-betul hanya disimbolkan saja. </span></em></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Karena <strong>kondisi badan</strong>nya<strong>, </strong>GKR Maduningrat tidak dipangku, melainkan hanya sepintas duduk di atas tangan suami yang bertautan dengan tangan pamannya GBPH Cakraningrat, yang seolah mau </span></em><span style="font-family:Arial;">memondhong-<em>nya. </em>(<em><span style="font-family:Arial;"><a href="http://www.kr.co.id/"><span style="font-style:normal;">www.kr.co.id</span></a></span></em><span class="a">)</span></span></span></p>
<p style="margin-right:3.75pt;text-align:left;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Wakakakakak….. koran yang terkenal santun dan sangat patuh pada tata-titi adat Yogya ini rupanya tak mampu menahan untuk tidak menulis sosok sang pengantin putri. Padahal, tanpa dijelaskan dengan “kondisi badan” pun, publik tahulah, betapa <em>ageung </em>Sang Putri. Justru dengan penyebutan –meski bermaksud jujur—rasa-rasanya agak kurang patutlah. Apalagi yang dilaporkan itu adalah pesta perkawinan, kebahagian, sukacita. Ada-ada saja. (*)</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
