<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>suara-karya &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/suara-karya/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "suara-karya"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 14:28:03 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PAK Alternatif Hadapi Tantangan Bangsa]]></title>
<link>http://kudusantikorupsi.wordpress.com/?p=124</link>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 16:48:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>M. Basuki Sugita</dc:creator>
<guid>http://kudusantikorupsi.id.wordpress.com/2008/08/05/pak-alternatif-hadapi-tantangan-bangsa/</guid>
<description><![CDATA[PENDIDIKAN ANTIKORUPSI Alternatif Utama Hadapi Tantangan Bangsa
Kamis, 17 Januari 2008 SEMARANG (Sua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class="post-body entry-content">PENDIDIKAN ANTIKORUPSI Alternatif Utama Hadapi Tantangan Bangsa<br />
Kamis, 17 Januari 2008 SEMARANG (Suara Karya): Pendidikan antikorupsi (PAK) ke depan sangat dimungkinkan menjadi salah satu alternatif utama dalam menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks. PAK yang menitikberatkan pelajaran pada nilai-nilai kejujuran dalam praktik keseharian diharapkan juga bisa menjadi salah satu wadah bagi pendidikan kader calon pemimpin bangsa yang berwatak antikorupsi.<!--more--><br />
Demikian terungkap dalam seminar nasional bertajuk "Revitalisasi Pendidikan Nilai Aplikasi dalam Pembentukan Karakter Bangsa" di kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), kemarin.<br />
Dalam seminar yang menghadirkan anggota Komisi X DPR-RI Drs Munawar Sholeh, sosiolog Unnes Dr Agus Salim, serta Kepala SMP Keluarga (SMPK) Kudus Drs M Basuki Sugita itu juga dikupas bahwa potensi guru dalam menyiapkan calon pemimpin bangsa yang mumpuni dan peduli rakyat kecil sebenarnya sangat besar. Namun sayang, energi berlimpah yang dimiliki para guru itu setiap tahun hanya dihabiskan untuk membahas serta menghadapi ujian nasional (UN).<br />
Dr Agus Salim menuturkan, agar PAK bisa diterima seluruh peserta didik, maka semua pihak perlu belajar dari kesalahan pengajaran P4 (Pendidikan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang tumbuh marak di era Orde Baru. Sebagai misal, kegiatan keseharian yang mudah ditemui di lingkungan sekolah bisa dijadikan model pembelajaran kejujuran. Masuk sekolah tepat waktu sesuai peraturan juga merupakan contoh kegiatan antikorupsi. Jangan seperti model P4 dulu, semua pihak harus mengikuti petunjuk 36 butir P4. Yang berada di luar jalur itu berarti musuh pemerintah.<br />
Dijelaskan, PAK juga mampu mengubah paradigma para guru. Sebagian besar guru di Tanah Air dewasa ini memiliki dua paradigma, yaitu paradigma mencari hidup serta paradigma juklak/juknis. Kedua paradigma tersebut membuat kegiatan guru di sekolah hanya rutinitas belaka sehingga guru sama sekali tidak kreatif.<br />
Terkungkung<br />
Selama ini guru mengajar peserta didik sering tidak dilandasi sentuhan humanis. Kebanyakan guru hanya menghabiskan materi kurikulum nasional. Pelaksanaan UN semakin membuat guru terkungkung dalam sistem kaku yang dibangun pemerintah sendiri. Guru menjadi kurang peka terhadap isu-isu sosial, termasuk masalah korupsi. Akibatnya, secara perlahan-lahan guru turut menjadi bagian penting penyakit sosial bernama korupsi.<br />
Celakanya, potensi guru yang hebat tersebut belakangan justru sering dimanfaatkan elite politik menjelang pelaksanaan pilkada atau pilpres. Para elite politik itu sadar betapa peran guru sangat strategis lantaran memiliki hak suara relatif besar.<br />
Selain itu, guru juga dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi siswa, orangtua siswa, rekan-rekan, dan tetangga. Andai saja Depdiknas mempunyai pandangan sama dengan elite politik, semestinya guru bisa dimanfaatkan ikut terlibat dalam menghadapi tantangan bangsa. Pembelajaran kejujuran keseharian sebagai inti PAK tidak memberi tambahan pekerjaan bagi guru.<br />
Pendapat serupa dikemukakan Basuki Sugita. Menurut dia, hasil karya PAK memang tidak dapat dilihat dalam tempo satu-dua tahun ke depan. Keberhasilan PAK baru terlihat sekitar 15 tahun mendatang. (Pudyo Saptono)</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Buah Bibir]]></title>
<link>http://dyhary.wordpress.com/?p=170</link>
<pubDate>Fri, 09 May 2008 11:05:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>dyhary</dc:creator>
<guid>http://dyhary.id.wordpress.com/2008/05/09/buah-bibir/</guid>
<description><![CDATA[Beritanya  ringan,  tidak membuat kening berkerut, tapi cukup informatif.  Yang diberitakan  bis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beritanya  ringan,  tidak membuat kening berkerut, tapi cukup informatif.  Yang diberitakan  bisa seorang  figur publik,  pesohor,  pejabat, pengusaha, dan tokoh masyarakat.  Di beberapa koran,  berita  seperti itu diletakkan di halaman  terakhir. Tapi ada pula   koran yang menempatkannya di halaman dalam.</p>
<p>Nama rubriknya macam-macam. Kompas menamakannya "Nama &#38; Peristiwa"; Suara Karya: "Senggang";  Media Indonesia:  "Sosok"; Pikiran Rakyat: "Apa &#38; Siapa"; Majalah Tempo: "Pokok &#38; Tokoh".</p>
<p>Tapi ada pula koran yang tidak  memberi  nama  khusus untuk rubrik tersebut.  Di Investor Daily, misalnya,  tidak ada nama rubriknya, tapi ditempatkan di halaman "Lifestyle".   Begitu juga dengan Republika.    Pengelola koran ini menempatkannya di halaman "Warna".</p>
<p>Meski bukan berita utama,  berita-berita  tentang tokoh  yang menjadi buah bibir tersebut  tetap harus  ditulis dengan serius, dan  harus didukung data  akurat. Memberitakan tokoh yang  merayakan ulang tahun, misalnya,  harus didukung data tentang tempat dan tanggal lahir tokoh tersebut.</p>
<p>Tulisan akan menjadi lebih menarik bila ulang tahun tokoh tersebut dirayakan dengan cara yang tidak biasa. Seperti  ulang tahun sastrawan Hamsad Rangkuti, yang ditulis  di rubrik "Nama &#38; Peristiwa" Kompas, Jumat (9/5). </p>
<p>Hamsad  yang berulang tahun ke-65, Rabu (7/5) lalu,   dikejutkan  "pengumuman" tentang hari jadinya   ketika tengah  dalam penerbangan Jakarta - Denpasar. "Jadi ramailah suasana  karena ada penumpang tua berultah di   antara awan berarak," katanya.</p>
<p>Berita  tentang satu tokoh bisa pula dimuat di koran berbeda  pada hari yang sama.  Republika dan  Media Indonesia edisi  Jumat (9/5),  mewartakan presenter dan penyiar radio Muhammad Farhan, yang  tengah menangani  satu  program bincang-bincang di sebuah tv swasta.  Farhan, tulis kedua koran itu,   melakukan kegiatan reportase  selayaknya  wartawan di acara tersebut.</p>
<p>Rubrik yang isinya berita-berita singkat ini bisa mendongkrak popularitas seorang tokoh, dan juga bisa menambah informasi  pembaca  menyangkut kehidupan tokoh tersebut.</p>
<p>Tentu hanya  mereka yang "punya nama" yang layak ditulis. Kita yang orang awam menjadi pembacanya.   </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SUARA KARYA, 2 April 2006]]></title>
<link>http://gratiagustichananya.wordpress.com/?p=156</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 12:15:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>violeteye</dc:creator>
<guid>http://gratiagustichananya.id.wordpress.com/2008/05/07/suara-karya/</guid>
<description><![CDATA[
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://gratiagustichananya.wordpress.com/files/2008/02/suara-karya-online_1203515105984.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-49" src="http://gratiagustichananya.wordpress.com/files/2008/02/suara-karya-online_1203515105984.jpg?w=231" alt="" width="231" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kapan dan Berapa?]]></title>
<link>http://dyhary.wordpress.com/?p=167</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 10:25:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>dyhary</dc:creator>
<guid>http://dyhary.id.wordpress.com/2008/05/06/kapan-dan-berapa/</guid>
<description><![CDATA[Pemberitaan surat  kabar edisi  Selasa (6/5) mirip  seperti  saat  mantan Presiden Soeharto waf]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pemberitaan surat  kabar edisi  Selasa (6/5) mirip  seperti  saat  mantan Presiden Soeharto wafat.  Kala itu <em>headlines</em>  di halaman 1 semuanya  memberitakan mangkatnya  bekas penguasa orde baru tersebut.  Kali ini,  <em>headlines  </em>halaman 1  semua surat kabar memberitakan  harga BBM yang bakal naik.</p>
<p>Coba simak judul-judul  berita yang menjadi <em>headlines </em>berikut ini. Koran Tempo: "Presiden  Pastikan  Harga BBM Naik"; Kompas: "Presiden:  Harga BBM   Akan Naik"; Suara Karya: "Harga BBM  Pasti  Naik, Berkisar 10-30 Persen";  Kontan: "Presiden   Setuju   Harga BBM   Bersubsidi Naik".</p>
<p>Media Indonesia: "Pemerintah  Pastikan   Harga BBM  Naik 20%-30%"; Rakyat Merdeka: "Rasa-rasanya  Harga  BBM Segera Naik"; Republika: "Harga BBM   akan Naik  Terbatas".</p>
<p>Bisnis Indonesia: "Harga BBM  dipastikan naik"; Pikiran Rakyat: "Harga BBM   Dipastikan  Naik"; Investor Daily: "Harga BBM Pasti Naik".</p>
<p>Terlihat  ada  tiga koran yang judulnya sama/hampir sama, yakni  Bisnis Indonesia,  Pikiran Rakyat, dan Investor Daily.  </p>
<p>Karena belum ada  keputusan resmi menyangkut besarnya kenaikan, umumnya  koran-koran tersebut tidak  mencantumkan persentase kenaikan. Hanya dua koran yang menulis persentase, yaitu  Suara Karya dan   Media Indonesia.</p>
<p>Perlu tidaknya  kenaikan  harga BBM   tidak lagi  menjadi  wacana karena tinggal menunggu  pengumuman resmi pemerintah.  Yang menjadi pertanyaan, dan inilah isu yang  ditunggu  pers dan publik,  adalah kapan dan berapa  besar kenaikan  tersebut?</p>
<p>Bila sudah  ada keputusan resmi, dan tidak ada berita yang lebih heboh,  <em>headlines</em> halaman 1 pasti tentang kenaikan tersebut. Mungkin judulnya,    "Harga BBM Naik ....%", atau "Harga BBM Naik Mulai  ....".  </p>
<p>Kapan dan berapa?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sengketa Tanah dan Kinerja BPN]]></title>
<link>http://opinimedia.wordpress.com/2008/01/08/sengketa-tanah-dan-kinerja-bpn/</link>
<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 08:45:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>oretan</dc:creator>
<guid>http://opinimedia.id.wordpress.com/2008/01/08/sengketa-tanah-dan-kinerja-bpn/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Salman Darajat
Selasa, 8 Januari 2008
Konflik tanah sepertinya tak pernah berakhir. Kasus Tanju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2">Oleh Salman Darajat</p>
<p>Selasa, 8 Januari 2008</p>
<p>Konflik tanah sepertinya tak pernah berakhir. Kasus Tanjungmorawa, Cianjur, Jember, Bulukumba, Atang Senjaya, Meruya Selatan, dan Pasuruan hanyalah beberapa contoh konflik pertanahan yang terjadi. Pada kenyataannya hampir di seluruh penjuru Tanah Air, konflik semacam ini masih menjadi persoalan. Dan, jika ditelisik, semua kasus sengketa tanah yang terjadi menunjukkan pola sengketa yang sebangun. Berbagai kasus pertanahan yang menyangkut nasib ribuan warga itu pun dikenal memakan waktu lama dan terasa menggetirkan dalam proses penyelesaiannya.<!--more--></p>
<p>Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) kini sudah memasuki usia ke-46. Jika ditilik semangatnya, UUPA kala itu diundangkan sebagai langkah untuk mengakhiri timbulnya dualisme pertanahan, yakni dimilikinya hak erpahct (sekarang disebut hak guna usaha) oleh para pengusaha Belanda, yakni hak menyewa tanah dalam jangka panjang, tapi dilarang membeli. Dengan hak erpahct tersebut, para pengusaha Belanda kemudian mulai membuka perkebunan. Hak erpahct ini diberikan berdasarkan Agraris Wecht atau Undang-Undang Agraria Belanda.</p>
<p>Sementara itu dalam perkembangannya kemudian, pada tahun 1957 pemerintah Indonesia menasionalisasi semua lahan bekas perkebunan Belanda, dan diklaim sebagai tanah negara. Padahal, sebelumnya para pengusaha Belanda itu sudah menyerahkan lahannya untuk digarap penduduk setempat. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1960, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria (UUPA), yang salah satu amanatnya adalah menginstruksikan landreform alias pembagian tanah secara merata kepada para petani penggarap. Namun, kenyataannya UUPA belum dilaksanakan secara konsisten.</p>
<p>Setelah sengketa tanah kian meruyak, reformasi agraria menjadi wacana lagi, antara lain bagaimana menciptakan lembaga Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai garda terdepan dalam urusan pertanahan nasional. Kinerja BPN pun menjadi gunjingan banyak pihak. Hingga kini tak sedikit keluhan yang disampaikan publik terhadap kinerja BPN baik di pusat maupun daerah.</p>
<p>Keputusan Presiden (Keppres) No 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan mengamanatkan kepada BPN untuk merevisi UUPA, menyusun RUU Hak Atas Tanah serta peraturan perundang-undangan lain di bidang pertanahan. Setumpuk pekerjaan pun menanti sentuhan BPN.</p>
<p>Hingga kini kita belum memiliki basis data tanah yang merupakan aset negara/pemerintah daerah seluruh Indonesia. Hal itu terkait pengukuran tanah secara nasional, pemetaan untuk menginventarisasi dan registrasi penguasaan, pemilikan, penggunaan serta pemanfaatan tanah yang belum juga tersentuh. Semua ini menjadi pekerjaan dasar dari BPN, disamping memberikan pelayanan maksimal kepada publik.</p>
<p>Kita akui ini memang bukan pekerjaan mudah. Belum maksimalnya sumber daya yang dimiliki BPN menjadi kendala tersendiri. Di samping itu, adanya tarik menarik kepentingan telah turut memengaruhi kinerja BPN. Apalagi dengan diberlakukannya UU Nomor 22/1999 tentang Otonomi Daerah (Otda), kian menyulitkan penanganan masalah pertanahan di Indonesia. Karena dengan bergulirnya otonomi daerah (otda), tak sedikit kewenangan pusat yang menyangkut pertanahan dilimpahkan ke daerah.</p>
<p>Dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) No 10 Tahun 2006 tentang BPN, yang sebenarnya dimaksudkan untuk mempertegas keberadaaan lembaga BPN agar lebih berdayaguna, ternyata malah menimbulkan kontroversi. Sebagian kalangan memandang perpres tersebut mengalihkan kembali kewenangan pertanahan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat dan hal itu dinilai sangat bertentangan dengan substansi otonomi daerah.</p>
<p>Padahal ketika kita berharap banyak terhadap kinerja BPN, maka harus ada upaya penguatan kelembagaan BPN. Dan, Perpres No. 10/2006 mencoba mengarahkan agar kelembagaan BPN cukup kapabel di dalam melaksanakan berbagai fungsi di bidang pertanahan nasional, di antaranya reformasi agraria, pemberdayaan masyarakat dan penanganan konflik pertanahan. Dan, jika dicermati, ketiga fungsi ini dapat menjadi pintu masuk bagi pelaksanaan agenda penataan ulang di bidang pertanahan dan penyelesaian konflik pertanahan yang selama ini masih menjadi tumpukan masalah di BPN.</p>
<p>Perpres itu pun mencoba mendudukkan struktur BPN di daerah yang meliputi kantor wilayah (provinsi) dan kantor pertanahan (kabupaten/kota). BPN daerah pada hakikatnya mengemban tugas dan fungsi di bidang pertanahan yang bersifat vertikal.</p>
<p>Adapun hal baru dalam struktur BPN, yakni adanya Deputi Bidang Pengkajian dan Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, semestinya dipandang sebagai langkah maju, mengingat keberadaan struktur ini demikian penting dalam menjawab segala persoalan di bidang pertanahan, khususnya dalam penanganan sengketa/konflik.</p>
<p>Dan, jika selama ini dalam setiap kasus tanah posisi rakyat selalu lemah, maka keberadaan perpres ini sebenarnya cukup mengakomodasi peran masyarakat di dalamnya, yakni dengan dibentuknya Komite Pertanahan yang keanggotaannya berasal dari kalangan tokoh masyarakat yang peduli terhadap segala permasalahan di bidang pertanahan, juga para pakar di bidang pertanahan.</p>
<p>Keberadaan Komite Pertanahan ini diharapkan dapat lebih menggali dan memberi masukan kepada BPN dalam merumuskan setiap kebijakan yang akan dikeluarkan.</p>
<p>Yang terpenting kemudian adalah, bagaimana semua itu bisa diimplementasikan dengan baik di lapangan. Mengingat hingga saat ini masih ada sekitar 2.865 kasus sengketa tanah skala besar yang belum selesai dan itu menghambat penyelesaian pendaftaran dan pemberian hak atas tanah. BPN menyatakan dari 85 juta bidang tanah di Indonesia, baru sekitar 30 persen yang terdaftar dan diberikan hak atas tanah. Jumlah 30 persen itu pun masih belum sempurna karena banyak sengketa tanah mengenai tapal batas dan tumpang tindih area. Jika tak segera ada perbaikan, barangkali 100 tahun lagi baru bisa menyelesaikan yang 70 persen itu. ***</p>
<p>Penulis adalah alumnus jurusan Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB),</p>
<p>bekerja di Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian</p>
<p>dan Kehutanan Aceh Timur</p>
<p></font></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paradoks Orang Kaya di Indonesia]]></title>
<link>http://opinimedia.wordpress.com/2008/01/08/paradoks-orang-kaya-di-indonesia/</link>
<pubDate>Tue, 08 Jan 2008 08:44:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>oretan</dc:creator>
<guid>http://opinimedia.id.wordpress.com/2008/01/08/paradoks-orang-kaya-di-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[ Oleh Fahmi Fahriza
Kita sempat dibuat tercengang dengan hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="left"> <strong><font size="1" face="Verdana">Oleh Fahmi Fahriza</font></strong><!-- end title --></p>
<p align="left">Kita sempat dibuat tercengang dengan hasil survei Merrill Lynch dan Capgemini yang menunjukkan bahwa jumlah orang kaya di Indonesia naik 16,2 persen pada 2006, menjadi 20 ribu orang, kemudian mendudukkannya pada posisi nomor tiga di Asia-Pasifik. Kini, kita kembali dibuat tercengang dengan publikasi yang dilansir majalah Forbes Asia yang menyatakan Menko Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Aburizal Bakrie dan keluarganya menduduki puncak daftar orang terkaya Indonesia tahun 2007. <!--more--></p>
<p align="left">Editorial Media Indonesia, 19/10/2007 lalu, menggambarkan bahwa pertumbuhan orang kaya bisa dipandang sebagai fakta yang menggembirakan. Sebab, semakin banyak orang kaya dalam ukuran global merupakan indikasi kemajuan pada tataran nasional. Setidaknya, bertambah pula orang yang membayar pajak lebih besar lagi.</p>
<p align="left">Asumsi ini sangat mungkin berlaku di negara-negara seperti Singapura, India, China atau Jepang, yang sepanjang 10 tahun terakhir merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi cukup tinggi. Singapura malah dikenal sebagai negara paling efisien di dunia. Penegakan hukumnya paling baik, sehingga tetap menarik bagi investasi. India dan China pun tak jauh beda.</p>
<p align="left">Namun, apakah ini juga berlaku untuk Indonesia? Karena jika ditilik dari keberhasilan Indonesia menduduki peringkat ketiga di Asia Pasifik dalam hal orang kaya, ternyata disumbang oleh sektor properti. Ironisnya lagi, industri properti Indonesia dewasa ini lebih berorientasi kepada kalangan menengah dan atas dengan membangun apartemen maupun rumah mewah serta menjamurnya pembangunan ruko dan mal. Di samping itu, sektor properti juga tidak bisa menjadi pondasi bagi pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan (sustainable), karena pondasi perekonomian itu harus disandarkan pada sektor riil yang hingga kini masih bergerak sangat lamban.</p>
<p align="left">Ini berarti pertumbuhan orang kaya Indonesia yang meningkat pesat bisa menjadi bumerang bila serentak tercipta jurang kaya-miskin yang semakin lebar. Soal ini, sudah bukan informasi baru lagi. Selama ini negara seolah hanya memberi ruang bagi orang kaya, sedangkan orang miskin selalu ditelantarkan dalam segala hal. Mulai dari masalah kebijakan publik, pendidikan, sosial, hukum hingga politik.</p>
<p align="left">Data dari The Economist kian menguatkan hal ini, di mana pengeluaran Indonesia untuk pendidikan hanya 1,3 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB). Itu termasuk terendah di dunia, sama dengan Myanmar, Srilanka, di bawah Pakistan (1,8), Kamboja (2,0), dan Mozambik (2,4). Demikian pula pengeluaran untuk kesehatan, Indonesia berada pada posisi terendah (2,4 persen) dari PDB, lebih rendah dari Filipina (3,3) dan Bangladesh (3,5).</p>
<p align="left">Eko Prasetyo, penulis Buku Orang Kaya di Negeri Miskin dengan runtut menggambarkan situasi paradoksal antara orang kaya Indonesia yang berpesta pora di negeri yang berbalut kemiskinan. Bermula dari orang miskin dilarang sekolah, orang miskin dilarang sakit, orang miskin tanpa subsidi sampai orang kaya di negeri miskin, penulis berhasil membongkar nalar masyarakat Indonesia.</p>
<p align="left">Ironisnya, penindasan ini juga diprakarsai oleh pemerintah, kelompok pemodal, militer, agamawan dan birokrat yang menopang segala bentuk pemiskinan di Indonesia yang sengaja memiskinan secara struktural. Distribusi ekonomi yang tidak merata juga menyebabkan kemiskinan bangsa kita. Ekonomi hanya dikuasai oleh para pemodal, tidak pernah memberi kesempatan kepada kelompok masyarakat. Distribusi ekonomi hanya berputar pada kelompok pemodal, maka kemiskinan inilah yang distrukturkan oleh mereka. Mereka ingin menguasai negara dan memainkan negara dalam kekuasaan.</p>
<p align="left">Bisa dibayangkan besarnya anggaran negara yang tersedot untuk menambal kasus Bantuan Likuiditas Banbk Indonesia (BLBI) hingga pemerintah terjebak pada masalah klasik, yakni kehabisan duit, tidak punya cash flow yang cukup untuk menjalankan negara. Anehnya, dalam kondisi seperti itu, solusi yang diambil adalah menunda membayar utang, memangkas pengeluaran yang bisa dipangkas seperti subsidi minyak, anggaran kesehatan, pendidikan, dan semua urusan yang diperlukan orang miskin.</p>
<p align="left">Celakanya, semua tarif pajak sebisanya digenjot habis-habisan. Pajak makin digenjot tapi layanan publik makin menurun. Perusahaan negara diinstruksikan menaikkan penghasilan. Jadi tak heran kalau tarif telepon, listrik, kereta api dan kapal laut pun harus naik. Lagi, ini pukulan buat orang miskin. Akhirnya orang miskin kian sengsara, dan semua menjadi mahal. Nyaris tak ada lagi penyelenggaraan jaminan sosial oleh negara lantaran pemerintah kesulitan cash flow.</p>
<p align="left">Ketimpangan ekonomi pun memunculkan dampak yang tak sederhana. Kriminalitas merajalela. Dengan mudahnya orang membunuh anaknya sendiri dan keluarga. Sistem di mana yang kaya akan terus-menerus berpeluang menumpuk kekayaan, sedangkan si miskin terus-menerus mengalami penindasan telah mengaduk-aduk emosi si miskin. Mungkin benar menjadi kaya bukan sesuatu yang keliru, tetapi menjadi masalah ketika kekayaan tidak dibagi dan tidak diratakan. Tak menutup kemungkinan, kondisi ini akan menimbulkan "dendam" dan "sakit hati" si miskin terhadap si kaya.</p>
<p align="left">Tak hanya di Indonesia, persoalannya kaya-miskin ini pun dialami penduduk di belahan dunia lainnya. Di Mesir misalnya, Gamal A Nasser pernah membatasi penghasilan orang. Kalau lebih dari batas tertentu, harus diambil untuk negara (kemakmuran masyarakat). Di Italia sudah ada Brigade Merah. Apalagi di China di bawah Mao, bahkan di Inggris, di Jerman, dan negara-negara Skandinavia, orang kaya dipajak hebat-hebatan dan hasilnya dipakai untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat (termasuk golongan miskin).</p>
<p align="left">Kebijakan tersebut sampai membuat para miliarder di negeri itu merasa lebih baik tinggal di luar negeri. Semua itu harusnya menjadi pembelajaran di dalam memetakan relasi si kaya dan si miskin. Jangan sampai dunia membenci orang kaya.***</p>
<dd>
<div align="right"><i>Penulis adalah peneliti KALAM Center, Bogor </i></div>
</dd>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Universalisme Demokrasi]]></title>
<link>http://alkhoirot.wordpress.com/2006/04/12/universalisme-demokrasi/</link>
<pubDate>Wed, 12 Apr 2006 05:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>alkhoirot</dc:creator>
<guid>http://alkhoirot.com/2006/04/12/universalisme-demokrasi/</guid>
<description><![CDATA[Oleh A Fatih Syuhud
Suara Karya Selasa, 11 April 2006
Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Sovie]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p><a target="new" href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=140720">Suara Karya Selasa, 11 April 2006</a></p>
<p>Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Soviet yang dibebaskan setelah hukuman penjara sembilan tahun, terkadang dianggap sebagai inspirasi untuk kebijakan perubahan rezim neo-konsevatif. Khusus mengenai pandangannya pada rasionalisasi neo-imperialisme terbaru dalam mencegah terjadinya prinsip kedaulatan nasional dengan atau tanpa intervensi bersenjata, dan tentang keefektivan aktual dalam menghasilkan perdamaian yang stabil.<br />
<span class="fullpost"><br />
Argumen Sharansky, seperti tersebut dalam bukunya The Case for Democracy: The Power of Freedom to Overcome Tyranny and Terror (dengan Ron Dermer, Public Affairs, New York 2004) adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa apa pun rezim atau budaya, seluruh umat manusia pada dasarnya mencintai kebebasan, dan akan memilihnya apabila diberi kesempatan, sebagaimana yang terjadi pada Eropa Timur pada 1989. Dia juga berpendapat bahwa disiden di era moral hitam putih Uni Soviet membutuhkan kekuatan batin untuk melawan kejahatan. </span><span class="fullpost">Dalam membagi bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang bebas dan masyarakat yang takut (fear society), dia menggambarkan pemerintahan pada kelompok kedua sebagai merampas kebebasan, hak milik, budaya dan sejarah rakyatnya. Ketika teror internal tidak lagi ada, pemerintah semacam itu akan menciptakan lawan eksternal, baik riil atau hanya persepsi, guna memelihara dukungan populer. Dalam menghadapi ancaman eksternal, rakyat akan secara sukarela tunduk pada segala bentuk deprivasi dan ongkos yang mesti diemban: negara sebebas Amerika sekalipun telah mentoleransi perampasan hak kebebasan sipil pasca-11/9.</p>
<p>Mekanisme demokrasi menciptakan pemimpin yang bertanggung jawab yang tidak dapat terpilih kembali apabila mereka mengadopsi kebijakan agresif tanpa dukungan dari publik. Dengan demikian, demokrasi lebih enggan melakukan perang sekalipun apabila kepentingan nasionalnya sendiri memaksa melakukannya. Sharansky menyimpulkan bahwa karena sistem demokrasi bertindak sebagai rem pada individu agresif, maka hanya demokrasi yang dapat menjadi basis menuju perdamaian murni dalam bentuk apa pun.</p>
<p>Tesisnya ini didukung oleh kajian empiris yang menunjukkan bahwa masyarakat demokratis tidak akan berperang satu sama lain. Semuanya tergantung pada bagaimana demokrasi itu didefinisikan, dan dengan merasuknya demokrasi ke dalam berbagai budaya yang berbeda, banyak hal yang perlu direkonsiliasikan.</p>
<p>Ada dua hal berbeda yang cukup penting antara agenda Sharansky dan agenda yang dianut AS di Irak. Untuk "melunakkan" negara yang berpotensi ancaman, dia mendukung sanksi dan tekanan diplomatik yang dikaitkan dengan HAM, bukan intervensi militer langsung. Kedua, dia tidak sepakat dengan pengadaan pemilu di negara yang baru "dibebaskan". Sebaliknya, dia lebih memilih periode interim selama tiga sampai empat tahun untuk membangun institusi sipil, membangun sistem kebebasan baru. Karena tesisnya ini berkaitan dengan masyarakat yang telah terbebas, maka teori ini tentunya tidak berlaku untuk kasus Irak saat ini.</p>
<p>Berbeda dengan kalangan realis, Sharansky menekankan perlunya moralitas dalam hubungan internasional. Akan tetapi pemahamannya atas moralitas berbeda dengan kalangan liberal Amerika dan Eropa yang kritiknya atas Reagan dan Bush dia anggap sebagai pembasmian moral, yang berdasar pada kurangnya analisis atas karakter sebenarnya dari totalitarianisme.</p>
<p>Kebebasan bukanlah ketakutan, tapi tatanan. Kebebasan harus dijaga dari pembusukan kebebasan mutlak dan kekacauan. Sebagaimana tatanan dari sikap opresif dan kejam. Akan tetapi kebutuhan sosial atas tatanan sama validnya dengan butuhnya individual atas kebebasan.</p>
<p>Kondisi tak stabil dapat membuka jalan ketertiban melalui rezim totalitarian, otoritarian, atau despot. Hal ini pada gilirannya akan mengecewakan dan mengaktifkan kemauan untuk bebas. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban, khusus untuk dunia ketiga, bagi pembangunan ekonomi.</p>
<p>Sharansky membuat dikotomi terlalu tajam antara demokrasi dan tirani, karena sejumlah rezim non-demokratik ada juga yang menghormati HAM.</p>
<p>Bangsa Tibet pada prakemerdekaan 1949, sebagai contoh, tidak dapat memenuhi separuh dari empat poin tes kebebasan Sharansky. Pertama, rakyat tidak dapat berbicara terus terang apabila itu bertujuan untuk mengeritik Dalai Lama. Kedua, mereka tidak dapat mempublikasikan (menyiarkan) opini yg menentang. Tetapi mereka, ini yang ketiga, bebas mengamalkan agama dan kepercayaan. Keempat, bebas mempelajari sejarah dan budaya mereka.</p>
<p>Begitu juga, Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew yang dikritik tajam karena mengekang kebebasan berpolitik, tapi berhasil gemilang dalam mengantar penduduk negara-kota itu menjadi terdidik, terintegrasi, makmur dan tenang.</p>
<p>Memang, humanisme modern dengan fondasi HAM mendapat tempat ekspresi terbaiknya pada sistem demokrasi. Akan tetapi paradigma HAM seperti yang terdapat dalam Universal Declaration itu sendiri agak kontroversial mengingat konsepsi dasarnya diambil dari nilai-nilai Yudeo-Kristen, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai berbau kental nuansa kultur dan sosial barat dan karena itu bukan murni bernilai universal. Kehendak untuk tidak ditindas dan dikekang, keinginan untuk "bebas dari" rasa takut, jelas bernilai universal. Tetapi kebebasan dalam sistem demokrasi termasuk di dalamnya "bebas untuk" tak jarang bertentangan dengan budaya lokal, dan dapat dianggap sebagai ancaman pada kultur dan tatanan sosial yang ada.</p>
<p>Dengan demikian, proyek demokratisasi tampaknya menjadi tantangan pada esensi pluralisme umat manusia, kecuali apabila dibuat pemisahan jelas antara politik dan kultur, yang cukup problematik. Dalam dunia kontemporer, demokrasi sedang mendapat tempat sebagai bentuk pemerintahan ideal. Apabila ia terbukti fleksibel untuk beradaptasi, dan kultur setempat dapat menerima separonya saja, maksa aplikasinya dapat terus meningkat.</p>
<p>Apabila lebih banyak lagi negara yang terdemokratisasi tanpa serangan pada kedaulatan mereka, tidak seperti dalam kasus Irak, maka skenario terciptanya kesepakatan internasional semakin dimungkinkan. Ini bukan jaminan 100 persen menuju perdamaian, tetapi jelas dapat mengurangi potensi konflik.***</p>
<p>Penulis adalah mahasiswa<br />
Ilmu Politik Agra University, India.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Universalisme Demokrasi]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2006/04/12/universalisme-demokrasi/</link>
<pubDate>Wed, 12 Apr 2006 05:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2006/04/12/universalisme-demokrasi/</guid>
<description><![CDATA[Oleh A Fatih Syuhud
Suara Karya Selasa, 11 April 2006
Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Sovie]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p><a target="new" href="http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=140720">Suara Karya Selasa, 11 April 2006</a></p>
<p>Natan Sharansky, disiden terkenal Yahudi Soviet yang dibebaskan setelah hukuman penjara sembilan tahun, terkadang dianggap sebagai inspirasi untuk kebijakan perubahan rezim neo-konsevatif. Khusus mengenai pandangannya pada rasionalisasi neo-imperialisme terbaru dalam mencegah terjadinya prinsip kedaulatan nasional dengan atau tanpa intervensi bersenjata, dan tentang keefektivan aktual dalam menghasilkan perdamaian yang stabil.<br />
<span class="fullpost"><br />
Argumen Sharansky, seperti tersebut dalam bukunya The Case for Democracy: The Power of Freedom to Overcome Tyranny and Terror (dengan Ron Dermer, Public Affairs, New York 2004) adalah berdasarkan pada keyakinan bahwa apa pun rezim atau budaya, seluruh umat manusia pada dasarnya mencintai kebebasan, dan akan memilihnya apabila diberi kesempatan, sebagaimana yang terjadi pada Eropa Timur pada 1989. Dia juga berpendapat bahwa disiden di era moral hitam putih Uni Soviet membutuhkan kekuatan batin untuk melawan kejahatan. </span><span class="fullpost">Dalam membagi bangsa-bangsa ke dalam masyarakat yang bebas dan masyarakat yang takut (fear society), dia menggambarkan pemerintahan pada kelompok kedua sebagai merampas kebebasan, hak milik, budaya dan sejarah rakyatnya. Ketika teror internal tidak lagi ada, pemerintah semacam itu akan menciptakan lawan eksternal, baik riil atau hanya persepsi, guna memelihara dukungan populer. Dalam menghadapi ancaman eksternal, rakyat akan secara sukarela tunduk pada segala bentuk deprivasi dan ongkos yang mesti diemban: negara sebebas Amerika sekalipun telah mentoleransi perampasan hak kebebasan sipil pasca-11/9.</p>
<p>Mekanisme demokrasi menciptakan pemimpin yang bertanggung jawab yang tidak dapat terpilih kembali apabila mereka mengadopsi kebijakan agresif tanpa dukungan dari publik. Dengan demikian, demokrasi lebih enggan melakukan perang sekalipun apabila kepentingan nasionalnya sendiri memaksa melakukannya. Sharansky menyimpulkan bahwa karena sistem demokrasi bertindak sebagai rem pada individu agresif, maka hanya demokrasi yang dapat menjadi basis menuju perdamaian murni dalam bentuk apa pun.</p>
<p>Tesisnya ini didukung oleh kajian empiris yang menunjukkan bahwa masyarakat demokratis tidak akan berperang satu sama lain. Semuanya tergantung pada bagaimana demokrasi itu didefinisikan, dan dengan merasuknya demokrasi ke dalam berbagai budaya yang berbeda, banyak hal yang perlu direkonsiliasikan.</p>
<p>Ada dua hal berbeda yang cukup penting antara agenda Sharansky dan agenda yang dianut AS di Irak. Untuk "melunakkan" negara yang berpotensi ancaman, dia mendukung sanksi dan tekanan diplomatik yang dikaitkan dengan HAM, bukan intervensi militer langsung. Kedua, dia tidak sepakat dengan pengadaan pemilu di negara yang baru "dibebaskan". Sebaliknya, dia lebih memilih periode interim selama tiga sampai empat tahun untuk membangun institusi sipil, membangun sistem kebebasan baru. Karena tesisnya ini berkaitan dengan masyarakat yang telah terbebas, maka teori ini tentunya tidak berlaku untuk kasus Irak saat ini.</p>
<p>Berbeda dengan kalangan realis, Sharansky menekankan perlunya moralitas dalam hubungan internasional. Akan tetapi pemahamannya atas moralitas berbeda dengan kalangan liberal Amerika dan Eropa yang kritiknya atas Reagan dan Bush dia anggap sebagai pembasmian moral, yang berdasar pada kurangnya analisis atas karakter sebenarnya dari totalitarianisme.</p>
<p>Kebebasan bukanlah ketakutan, tapi tatanan. Kebebasan harus dijaga dari pembusukan kebebasan mutlak dan kekacauan. Sebagaimana tatanan dari sikap opresif dan kejam. Akan tetapi kebutuhan sosial atas tatanan sama validnya dengan butuhnya individual atas kebebasan.</p>
<p>Kondisi tak stabil dapat membuka jalan ketertiban melalui rezim totalitarian, otoritarian, atau despot. Hal ini pada gilirannya akan mengecewakan dan mengaktifkan kemauan untuk bebas. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban, khusus untuk dunia ketiga, bagi pembangunan ekonomi.</p>
<p>Sharansky membuat dikotomi terlalu tajam antara demokrasi dan tirani, karena sejumlah rezim non-demokratik ada juga yang menghormati HAM.</p>
<p>Bangsa Tibet pada prakemerdekaan 1949, sebagai contoh, tidak dapat memenuhi separuh dari empat poin tes kebebasan Sharansky. Pertama, rakyat tidak dapat berbicara terus terang apabila itu bertujuan untuk mengeritik Dalai Lama. Kedua, mereka tidak dapat mempublikasikan (menyiarkan) opini yg menentang. Tetapi mereka, ini yang ketiga, bebas mengamalkan agama dan kepercayaan. Keempat, bebas mempelajari sejarah dan budaya mereka.</p>
<p>Begitu juga, Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew yang dikritik tajam karena mengekang kebebasan berpolitik, tapi berhasil gemilang dalam mengantar penduduk negara-kota itu menjadi terdidik, terintegrasi, makmur dan tenang.</p>
<p>Memang, humanisme modern dengan fondasi HAM mendapat tempat ekspresi terbaiknya pada sistem demokrasi. Akan tetapi paradigma HAM seperti yang terdapat dalam Universal Declaration itu sendiri agak kontroversial mengingat konsepsi dasarnya diambil dari nilai-nilai Yudeo-Kristen, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai berbau kental nuansa kultur dan sosial barat dan karena itu bukan murni bernilai universal. Kehendak untuk tidak ditindas dan dikekang, keinginan untuk "bebas dari" rasa takut, jelas bernilai universal. Tetapi kebebasan dalam sistem demokrasi termasuk di dalamnya "bebas untuk" tak jarang bertentangan dengan budaya lokal, dan dapat dianggap sebagai ancaman pada kultur dan tatanan sosial yang ada.</p>
<p>Dengan demikian, proyek demokratisasi tampaknya menjadi tantangan pada esensi pluralisme umat manusia, kecuali apabila dibuat pemisahan jelas antara politik dan kultur, yang cukup problematik. Dalam dunia kontemporer, demokrasi sedang mendapat tempat sebagai bentuk pemerintahan ideal. Apabila ia terbukti fleksibel untuk beradaptasi, dan kultur setempat dapat menerima separonya saja, maksa aplikasinya dapat terus meningkat.</p>
<p>Apabila lebih banyak lagi negara yang terdemokratisasi tanpa serangan pada kedaulatan mereka, tidak seperti dalam kasus Irak, maka skenario terciptanya kesepakatan internasional semakin dimungkinkan. Ini bukan jaminan 100 persen menuju perdamaian, tetapi jelas dapat mengurangi potensi konflik.***</p>
<p>Penulis adalah mahasiswa<br />
Ilmu Politik Agra University, India.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mitos Teror Bunuh Diri]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2005/05/03/mitos-teror-bunuh-diri/</link>
<pubDate>Tue, 03 May 2005 23:00:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.id.wordpress.com/2005/05/03/mitos-teror-bunuh-diri/</guid>
<description><![CDATA[Suara Karya, 30 Desember 2003
Oleh A Fatih Syuhud
Pada 23 Oktober 1983, dua ledakan dahsyat telah me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suara Karya, 30 Desember 2003</p>
<p>Oleh A Fatih Syuhud</p>
<p>Pada 23 Oktober 1983, dua ledakan dahsyat telah menghancurkan barak militer AS (Amerika Serikat) dan Prancis di Beirut yang saat itu menjadi kontingen penjaga perdamaian multinasional PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) di Lebanon, menewaskan 241 kontingen AS dan 58 utusan perdamaian Prancis. Apa yang menyebabkan peristiwa itu berbeda dan unik adalah bahwa bom itu diledakkan oleh kalangan ekstremis yang ikut terbunuh dalam proses peledakan itu. Hizbullah, yang bertanggung jawab atas ledakan itu, bermaksud untuk mengusir pasukan-pasukan asing ini dari Lebanon dan mereka berhasil.</p>
<p>Akan tetapi, bom-bom yang menghancurkan Kedutaan AS di Kenya dan Tanzania pada 1998, yang menewaskan 300 orang, dan serangan ke Gedung WTC New York pada 11 September 2001 yang menewaskan 3.000 lebih warga sipil, sama sekali tidak dimaksudkan untuk tujuan jangka pendek. Mereka tampaknya menjadi bagian dari disain yang lebih besar, yang dimotivasi oleh kalangan Islamis radikal yang, menurut hasil penyelidikan akhir<br />
oleh FBI dan CIA, berasal dari Saudi Arabia dan Mesir. Ada sejumlah jawaban singkat dan mudah atas pertanyaan mengapa mereka melakukan itu semua. Dan, jawaban termudah adalah ini pasti ada hubungannya dengan Islam, mengingat para pelakunya yang kesemuanya beragama Islam.</p>
<p>Namun demikian, jawaban singkat di atas tidaklah dapat dibuat alat tunggal untuk menjelaskan trend terorisme bunuh diri yang marak pada dekade terakhir. Karena,<br />
sampai saat ini pelaku bom bunuh diri yang paling mematikan dan paling banyak memakan korban nyawa justru dilakukan oleh suku Tamil di Jaffna, Sri Lanka, yang notabene beragama Hindu, pengikut setia gerakan separatis Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE).</p>
<p>Spirit dan semangat mereka timbul dari sikap loyal dan ketundukan pada pemimpin tertinggi LTTE, Velupillai Pirabhakaran dengan indoktrinasi dan kultus bunuh diri<br />
yang dia ciptakan dalam rangka mencapai perjuangan menuju kemerdekaan. Sebagai ilustrasi, antara tahun 1983-2000, mereka telah melakukan serangan bunuh diri lebih dari 170 kali, jauh lebih banyak dari jumlah gabungan serangan bunuh diri yang pernah dilakukan oleh Hizbullah, Hamas dan Islamic Jihad.</p>
<p>Kelompok-kelompok Islam radikal tampak mempunyai agenda yang bervariasi. Osama bin Laden dan Ayman Al-Zawahiri, berasal dari latar belakang kelas menengah dan tentunya tidak dapat mengklaim bahwa keduanya, keluarga mereka atau bangsa mereka telah<br />
dizalimi oleh AS. Mereka menganggap diri mereka sebagai seorang penyelamat (messiah) yang sedang berperang melawan sebuah pola hidup (a way of life) yang diwakili oleh Amerika.<br />
<span class="fullpost"><br />
Sebagian kelompok lain yang menggunakan taktik serangan bunuh diri juga mengatakan bahwa mereka melakukannya dalam rangka membela kepentingan Umat Islam yang tertindas. Di antara kelompok-kelompok ini adalah gerakan Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Muhammad yang bermarkas di Pakistan, serta Jamaah Islamiyah di Asia Tenggara. Kendatipun begitu, ketiga kelompok ini juga memiliki link dengan Osama bin Laden dan<br />
menyepakati ideologi varian dari pan-Islamisme-nya Al-Qaida yang radikal.</span><span class="fullpost">Usaha Hamas dalam menentang proses perdamaian dengan taktik serangan bunuh diri bermula pada tahun 1992. Tetapi, kampanye itu mencapai tahap yang mematikan setelah kekalahan Shimon Peres pada Pemilu 1996 dan runtuhnya proses Perdamaian Oslo.</p>
<p>Dengan determinasi mereka yang kuat untuk mengorbankan nyawa sendiri, teroris bunuh diri sangatlah sulit dicegah. Dan, elemen yang lebih mengkhawatirkan dari taktik mereka adalah mereka diduga tidak ragu-ragu untuk membunuh warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Kelompok militan seperti Hamas bahkan diduga secara sengaja mentarget anak-anak. Dengan kata lain, mereka juga dapat dikatakan sebagai senjata<br />
penghancur massal yang dibenci dunia modern karena paradigma dominan saat ini adalah tidak ada satu pun negara atau militer yang beradab yang secara sengaja mentarget warga sipil.</p>
<p>Bunuh diri dalam masyarakat, kecuali bila ia berkonotasi ritual, seperti di Jepang, pada dasarnya sebuah tindakan yang sangat personal. Tidak demikian halnya bunuh diri yang dilakukan oleh kalangan teroris. Sebab, mereka merupakan bagian akhir dari<br />
sebuah jalinan rantai yang berujung pada seorang pemimpin 'penyelamat'. Operator kuncinya adalah seorang motivator yang berfungsi sebagai pencari bakat dan memanipulasi anggota baru dengan propaganda agama dan lain-lain.</p>
<p>Di Pakistan, biasanya operator kunci tersebut adalah kalangan mullah (ulama tradisional) di masjid-masjid dan madrasah di kawasan kota-kota yang padat dan<br />
kasbas di Punjab, Pakistan. Sementara dalam kasus LTTE, operator kuncinya adalah seorang komandan atau mentor yang dihormati.</p>
<p>Langkah Pencegahan</p>
<p>Sebagaimana pada penanggulangan penyakit, langkah preventif akan lebih baik daripada mengobati. Pertahanan terbaik melawan terorisme adalah mencegah orang-orang untuk menjadi teroris. Menurut Scott Atran, seorang antropolog dan psikolog, seperti dikutip Jason Burke (Al-Qaeda: Casting a Shadow of Terror, 2003) para pelaku bom bunuh diri itu "bukanlah para pengecut gila yang bergelut dalam kemiskinan dan<br />
kesengsaraan hidup". Dia mengatakan bahwa tidak ada psikopatologi khusus dari seorang pelaku bom bunuh diri.</p>
<p>Tetapi, beberapa analis lain menunjukkan bahwa motivasi kunci bagi pelaku bom bunuh diri adalah untuk menambah gengsi "kesyahidan" (martyrdom) yang dianugerahkan pada keluarga mereka. Kelompok LTTE, Lashkar-e-Taiba, Jaish-e-Muhammad dan Hamas memiliki<br />
kultus syahid ini, dan keluarga mereka yang tewas dalam operasi semacam itu akan dihormati dan mendapatkan dukungan finansial. Masyakarat yang hendak mencegah terjadinya terorisme semacam itu harus dapat menanggulangi sebuah psikopatologi massa yang mengagungkan berbagai bentuk "kesyahidan" seperti itu.</p>
<p>Salah satu cara untuk melakukan langkah preventif adalah dengan melihat secara imparsial isu-isu yang akan, sedang dan telah menciptakan satu rasa ketertindasan dan kemarahan - pendudukan tanah Palestina oleh Israel, alienasi bangsa Kurdi oleh<br />
Turki dan kebijakan sovinisme suku Sinhala yang mengundang kemarahan suku Tamil di Sri Lanka serta opresi Rusia atas Chechnya.</p>
<p>Dalam kasus pejuang separatis Kashmir di India, masalahnya sedikit berbeda, karena kalangan militan Kashmir belum pernah melakukan terorisme bunuh diri, kecuali satu kasus yang dilakukan oleh seorang anak yang baru berusia 14 tahun. Kebanyakan para pelaku teror di Kashmir adalah warga negara Pakistan, yang dimanipulasi oleh motivator mereka untuk menyerang target-target India guna "membalas dendam atas<br />
penghinaan" yang dilakukan terhadap saudara seagama mereka - rakyat Kashmir.</p>
<p>Akan tetapi, terdapat bahaya yang semakin meningkat pasca terjadinya pembunuhan massal terhadap umat Islam Gujarat yang dilakukan oleh Hindu fanatik dan radikal<br />
yang sedang berkuasa di negara bagian tempat kelahiran Mahatma Gandhi itu. Terjadinya pengeboman kembar di pusat kota industri Mumbai (dahulu Bombay) pada 25<br />
Agustus yang menewaskan 50 orang lebih itu, menurut salah satu pelaku yang tertangkap, adalah dalam rangka membalas dendam atas pembunuhan Muslim di Gujarat.</p>
<p>Bagian tersulit dan kompleks dalam penanganan teror bunuh diri adalah mengatasi organisasi radikal seperti Al-Qaida. Tujuan dari organisasi ini, menurut Rohan<br />
Gunaratna dalam bukunya Inside Al Qaeda: Global Network of Terror (London: 2002), adalah mengajak dunia menuju surga impian yang terletak dalam supremasi interpretasi ajaran Islam versi mereka. Akar dari organisasi ini berada dalam otokrasi konservatif<br />
Timur Tengah yang menanamkan sikap kemarahan umum terhadap pola hidup modernisme yang diwakili oleh Amerika, plus rasa kemarahan yang digeneralisir terhadap Israel dukungan AS yang mereka anggap sangat menghina.</p>
<p>Usaha demokratisasi terhadap masyarakat semacam itu merupakan tugas berat, tetapi mentransformasi mereka dengan cara yang sama seperti ketika Kristen Eropa disekulerkan akan jauh lebih sulit lagi.</p>
<p>Apa pun kasusnya, ini merupakan sebuah proyek yang membutuhkan pemikiran, otak dan sensitivitas lebih dibanding apa yang tampak sudah dilakukan oleh Amerika untuk memerangi terorisme global dengan cara menginvasi dan menduduki Irak. ***</p>
<p>(Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Agra University, India).</p>
<p><a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/indonesia">indonesia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/malaysia">malaysia</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/singapore">singapore</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/brunei">brunei</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/thailand">thailand</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/islam">islam</a> <a rel="tag" href="http://technorati.com/tag/arab">arab</a></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
