<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sosok-kita &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/sosok-kita/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sosok-kita"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 01:43:34 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Bang Ali "sosok relawan Desa Blukon"]]></title>
<link>http://pnpmkotalumajang.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 08:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>pnpmkotalumajang</dc:creator>
<guid>http://pnpmkotalumajang.id.wordpress.com/2008/09/13/bang-ali-sosok-relawan-desa-blukon/</guid>
<description><![CDATA[
Bang Ali, Siapa tidak kenal dengan nama tersebut. Jangankan warga Blukon, tetapi warga Lumajang kot]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://pnpmkotalumajang.files.wordpress.com/2008/09/100_1997.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-10 aligncenter" title="100_1997" src="http://pnpmkotalumajang.wordpress.com/files/2008/09/100_1997.jpg?w=128" alt="" width="128" height="95" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><!--[if gte vml 1]&#62;                    &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span><span style="font-family:Arial;">Bang Ali, Siapa tidak kenal dengan nama tersebut. Jangankan warga Blukon, tetapi warga Lumajang kota bahkan juga banyak yang tahu nama tersebut. Sosok sederhana tersebut adalah <span> </span>seorang yang sangat sibuk di organisasi, baik organisasii sosial maupun masyarakat yang lan termasuk politik. Tetapi yang hebat, sosok tersebut mampu memilah dimana dia harus menmpatkan, apakah dengan baju ormas, Orpol mapun yang lain. Tidak ada benturan kepentingan diantara organisasi tersebut. Ya. Ali Efendi, Sosok tersebut adalah Koordinator BKM Amanah Desa Blukon.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Ditemui dirumahnya, dengan ramah Bang Ali melayani wawancara reporter Amanah sore tersebut. Berikut Petikan wawamcara tersebut :</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Assalamualikum, Sore Bang Ali, Apa kabar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Wassalamualikum, Sore juga. Kabar baik</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if gte vml 1]&#62;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal">
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if !vml]--><!--[endif]--><strong><span style="font-family:Arial;">Maaf menganggu sebentar. Ni kami mau tahu latar belaknag Bang Ali bersedia terjun menjadi relawan di P2KP</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Ah tidak apa-apa. Awalnya saya itu tidak tahu apa itu P2KP, meski saya aktif di organisasi Desa dan parpok, tetapi saya waktu itu saya sempat ragu terhadap program ini. Saya sempat berfikir jangan-jangan ini seperti yang dulu-dulu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apa yang mendasari bang Ali berubah pikiran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Faskelnya memberi sosialisasinya lain. Bawa Gambar,buku pedoman, vcd dan menaril. Setelah saya baca-baca, ternyata konsepnya sungguh bagus. Sehingga waktu ditawari jadi relawan, saya berfikir apa salahnya saya coba.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Terus Gimana ceritanya Bang Ali bisa menjadi PK BKM dan bahkan Koordinator</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Saya tidak tidak punya tujuan apapun selain membantu warga yang kuirang mampu. Itu mengalir saja. Saya ikut terlibat mulai Pemetaan Swadaya, Perencanaan PJM sampai Pembentukan BKM. Waktu Pemilihan PK-BKM kan tanpa kampanye, tanpa pencalonan dan sebagainya. Masyarakat yang memilih. Namanya saya termasuk diantara 13 nama yang terpilih menjadi PK-BKM. Terus 13 orang PK-BKM mengadakan musyawarah untuk menentukan Koordinator. Mereka memberikan Amanah kepada saya. Itu saja,mengalir dengan sendirinya</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Ngomong-ngomong, selain menjadi PK-BKM, bang Ali kan aktif di Parpol, bagaimana menempatkan diri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Bagi saya semuanya adalah bagaian dari Perjuangan untui, rakyat. Prinsip kita bukan mencari kerja di Organisasi tertapi adalah pengabdian. Pas di BKM, maka saya berdiri sebagai relawan untuk membantu warga miskin di desa Blukon. Pas di parpol, saya berdiri sebagai kader untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Jadi Baju boleh beda, tetapi kalau sudah berbicara masyarakat miskin, yang berbicara dalah Keikhlasan, kejujuram Adil dan dapat dipercaya. Itu saja</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apakah Bang Ali waktunya tidak tersita </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Semua bisa diatur waktunya. BKM kan banyak rapat malam.BKM kan kolektif,bukan saya saja . Ya kit bagi peran. Kalau pelaksanaan langsuing olehPanitia dan UPL. Siang saya bekerja. Waktu untu keluarga bisa sore.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Apa Harapan Bang Ali terhadap prgram ini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Saya sangat bersyukur masyarakat bisa terbantu dengan adanya program ini. Apalagi program PNPM-P2KP ini tidak hanya memberikan bantuan pendanaan, tetapi jugamemberikan pembelajran kepada kita bagaimana tentang tatacara melakuan perencaaan, pembangunan, evaluasi juga memberikan kepada kita tentang arti demokrasi, tarnsparansi,keadilan dan sebagiunya. Sungguh banyak mandaat yang bisa kita petik dari program ini. Harapam saya program ini berkelnajutan sehingga proses pembelajaran bisa terus di masyarakat.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Pesan Bang Ali untuk Pelaku PNPM-P2KP?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:Arial;">Mari kita bekerjasama untuk membangunan desa kita. Kemandirian akan tumbuh manakala kita bekerja dengan Jujur, Iklhasm Adil dan bertanggungjawab. Ayo kita Bersama menuju kemandirian. </span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sebuah Konser Syukur]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</link>
<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:41:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2007/11/30/sebuah-konser-syukur/</guid>
<description><![CDATA[ 
Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/konser02.jpg" alt="konser02.jpg" /></p>
<p>Pada tanggal 11 Mei 2007, Pastor Garin mengadakan sebuah konser syukur. Konser itu diadakan di sekolah musik tempat ia menuntut ilmu, T.L. Da Victoria, di Via Caboto 20, Roma. Konser syukur itu dihadiri sekitar 100 undangan. Mereka adalah para anggota komunitas Generalat MSF, 4 anggota komisi persiapan kapitel General, para student MSF di Roma, beberapa staf kedutaan RI, dan sejumlah teman baik P. Garin, baik yang berwarga Negara Indonesia maupun Italia.<br />
Konser syukur dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, konser dibuka dengan sebuah doa yang dilagukan dengan judul “Di Batas Bayangmu”. Segera sesudah itu, Garin sebagai konduktor konser memainkan beberapa nomor lagu hasil komposisinya sendiri untuk instrument gitar yang dia pelajari selama 4 tahun di Roma. Dengan ditemani oleh seorang student lain, Garin memainkan sebuah duet yang berjudul “Prelude Triparti”. Konser mengalir dengan tenang dan relax, lebih-lebih ketika dia memainkan lagu berjudul “Tari Gong” dan “Tumpi Wayu”. Dua lagu yang berasal dari Kalimantan ini dimainkannya bersama dua musisi Italia yang memainkan instrument marimba. Bagian pertama dari konser ini, diakhiri dengan sebuah duet gitar yang mengalunkan lagu “saltarello Batente”. Lagu ini merupakan komposisi dari sang maestro di sekolah musik itu.</p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/konser01.jpg" alt="konser01.jpg" /></p>
<p>Masih dengan gitar, Garin membuka bagian kedua konser syukur ini dengan memainkan sebuah “Serenata” , berduet dengan piano klasik. Suasana konser ini menjadi semakin sempurna, ketika setiap lagu yang dinyanyikan oleh para vokalisnya diiringi dengan flute, gitar, bongo, tamburin, dan piano.</p>
<p>Sore itu terasa sekali ritme musik instrumental memenuhi seluruh ruangan. Suasana menjadi lebih syahdu ketika para musisi mengiringi beberapa lagu yang berjudul “Ku Bersyukur” dan “Jalanku”. Pada bagian akhir, Antonio Garinsingan berterimakasih kepada siapa saja yang memberi kesempatan untuk belajar di sekolah ini, tempat ia belajar untuk membuat komposisi dan arrangement lagu. Sore itu hasil karyanya telah ditampilkan dalam konser syukur. Para hadirin berdiri dan menyambut dengan tepuk tangan. (Risdi).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mgr. F.X. Prajasuta, MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/mgr-fx-prajasuta-msf/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 15:12:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2007/11/29/mgr-fx-prajasuta-msf/</guid>
<description><![CDATA[Perayaan Ekaristi Syukur
Tri Windu Tahbisan Uskup Keuskupan Banjarmasin
Dionisius Agus Puguh Santos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perayaan Ekaristi Syukur<br />
Tri Windu Tahbisan Uskup Keuskupan Banjarmasin</strong></p>
<p><em>Dionisius Agus Puguh Santosa</em></p>
<p>Pada tanggal 23 Oktober 2007 kemarin, mulai pukul 18.30 Wita dilangsungkan Perayaan Ekaristi Syukur Tri Windu Tahbisan Uskup Mgr. F.X. Prajasuta, MSF di Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin.</p>
<p>Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF sebagai Konselebran Utama didampingi oleh Pastor Agustinus Dodik Ristanto, CM, Pastor Christophorus Katijanarso, CM, Pastor Aloysius Darmakusuma, MSF, Pastor Theodorus Yuliono, MSC bersama 14 orang imam se-Keuskupan Banjarmasin.</p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/prajasuta.jpg" alt="prajasuta.jpg" /></p>
<p>Perayaan Ekaristi syukur dihadiri oleh para frater, suster dari berbagai kongregasi yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin, juga oleh umat dari 3 Paroki Kota (Paroki Katedral “Keluarga Kudus” Banjarmasin, Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan dan Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran) dan dari luar kota Banjarmasin, diantaranya dari Banjarbaru dan Pelaihari.<!--more--></p>
<p>Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, dibacakan perjalanan hidup Bapak Uskup semenjak lahir hingga pada perjalanan 24 tahun sebagai Uskup di Keuskupan Banjarmasin. Pembacaan dilakukan oleh Pastor Dodik, CM. Di antaranya Pastor Dodik berujar, “Mgr. Prajasuta, MSF lahir pada tanggal 3 Nopember 1931 di Nguntaranadi, Bethal, Wonogiri. Beliau menyelesaikan seminari pada tahun 1953. Kemudian masuk seminari di Belanda pada tanggal 8 September 1954 dan mengucapkan Kaul Pertama. Romo Prajasuta ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 19 Desember 1959 di Roma. Kemudian studi di Roma sampai tahun 1962. Dan kembali ke tanah air untuk berkarya. Pada tahun 1962 berkarya di Purwadadi, Jawa Tengah, kemudian pada tahun 1964 berpindah karya ke Solo lalu tahun 1964 berpindah karya ke Solo. Pada tahun 1966 Romo Prajasuta berkarya di Seminari Tinggi Yogyakarta. Pada saat ini ada sebuah kisah yang menarik terjadi. Ketika itu ada seorang ibu yang bermimpi sewaktu anaknya sedang sakit. Dalam mimpi itu, sang ibu disuruh datang ke suatu alamat untuk bertemu dengan seseorang. Tidak tahu alamat siapa dan harus bertemu dengan siapa, ibu tersebut mencari alamat tersebut yang ternyata adalah alamat Seminari Tinggi di Kentungan, di Jalan Kaliurang, Yogyakarta.</p>
<p>Ketika datang di Seminari, ibu tersebut berjumpa dengan Romo Prajasuta dan ibu tersebut menjadi yakin kalau anaknya akan sembuh. Sungguh suatu peristiwa yang aneh akan tetapi benar-benar terjadi dan ini merupakan sebuah peristiwa iman bagi kita semua. Pada tahun 1977 Romo Prajasuta pindah ke Kalimantan dan kemudian ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin pada tanggal 23 Oktober 1983 oleh Mgr. W.J. Demarteau, MSF.”</p>
<p>Perayaan Ekaristi pun dimulai. Kemegahan lantunan lagu-lagu Gregorian yang dibawakan oleh Paduan Suara Paroki “Sacra Familia” terdengar semakin menambah hikmatnya pelaksanaan prosesi acara.</p>
<p>“Dalam kesempatan ini saya hanya ingin bersyukur kepada Tuhan yang berkenan menyertai perjalanan saya sebagai Gembala, karena saya sungguh menyadari bahwa sebenarnya saya tidak pantas, saya tidak mampu, saya mempunyai banyak kekurangan. Maka bukan basa-basi jika saya berkata bahwa hendaknya setiap hari kita harus senantiasa bertobat, dan yang pertama-tama harus bertobat adalah Uskupnya."</p>
<p>"Saya mengucapkan terimakasih kepada para imam, biarawan/biarawati juga kepada seluruh umat atas dukungannya selama ini dalam wujud apapun. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua saya yang secara sadar telah mendidik anak-anaknya secara Kristiani, sehingga menjadikan saya siap dipanggil Tuhan untuk panggilan ini. Sejak kecil saya memang dibiasakan oleh kedua orang tua untuk berdoa rosario, sehingga saya bersyukur kepada kedua orang tua saya yang begitu memperhatikan pendidikan rohani anak-anaknya."</p>
<p>"Saya ingin membuka keprihatinan saya sebagai Uskup, karena dewasa ini masih begitu langka anak muda yang mau dipanggil Tuhan untuk menjadi imam, biarawan/biarawati. Akan tetapi saya percaya pada waktunya Tuhan akan berkarya di Keuskupan ini, sehingga akan ada lebih banyak panggilan. Saya berharap agar keluarga-keluarga mendidik anak-anaknya secara Kristiani dan membiasakan melakukan doa keluarga untuk menunjang panggilan."</p>
<p>"Saya sungguh menyadari penyertaan Tuhan dalam kondisi jatuh bangun. Doa Yesus Pusat Hidupku nomor 2 senantiasa saya doakan supaya saya selalu ingat bahwa panggilan saya hanyalah satu yaitu “Meneruskan kasih Allah.”<br />
Sapaan, doa-doa, senyum dari kalian semua sangat menguatkan saya didalam menjalankan tugas-tugas saya sebagai seorang Uskup. Kepada kalian semua saya berharap jangan hanya mendoakan Uskup saja tetapi doakanlan juga para imam agar dari kepribadian mereka sungguh-sungguh dapat menghadirkan kasih Kristus."</p>
<p>"Nanti akan ada serah terima jabatan Vikaris Jenderal Keuskupan Banjarmasin dari Pastor Darmakusuma kepada Pastor Yuliono, karena Pastor Darmakusuma akan berpindah tugas ke Keuskupan Palangkaraya. Kepada Pastor Darmakusuma, saya mengucapkan terima kasih atas kesediaannya dalam rangka melayani umat di Keuskupan ini. Terimakasih juga kepada Pastor Yuliono yang bersedia menerima tugas jabatan sebagai Vikjend Keuskupan Banjarmasin yang baru. Terimakasih juga saya ucapkan kepada Pastor Siswasumarta, MSF yang akan pindah ke Keuskupan lain, semoga di tempat tugas yang baru nanti bisa berkarya kembali untuk umat di sana. Terimakasih pula kepada Pastor F.X. Sumantoro Pranjono, MSF yang akan pindah tugas juga. Beliau adalah Ekonom Keuskupan Banjarmasin, terimakasih atas jasa-jasa beliau selama berkarya di Keuskupan ini. Nanti kita akan menyambut pastor-pastor baru pada waktunya. Dan saya minta kepada saudara-saudara semua agar senantiasa berdoa bagi Keuskupan ini agar terus berkembang.” demikian homili Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dalam Perayaan Ekaristi Syukur Tri Windu Tahbisan beliau sebagai Uskup.</p>
<p>Acara selanjutnya dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Bapak Uskup. Usai berkat penutup, dilanjutkan dengan serah terima jabatan dari Vikjend Keuskupan Banjarmasin yang lama Pastor Darmakusuma kepada penggantinya Pastor Yuliono disaksikan oleh Bapak Uskup dan dirangkaikan dengan penyerahan tali asih dari umat 3 paroki kota yang masih-masing diwakili oleh Ketua Dewan Paroki bersama istri.</p>
<p>Perayaan Ekaristi ditutup dengan lagu ”Ti Rin Grazio O Mio Signore”. Lagu ini pernah dinyanyikan secara khusus oleh Bapak Uskup untuk Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II (alm) dan menjadi salah satu lagu kesukaan Bapa Suci. Lagu ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul "Trima kasih O Tuhan Allahku" dan diaransemen oleh Bapak Paul Widyawan dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta dan sering dinyanyikan jika ada Perayaan Ekaristi dengan Mgr. Prajasuta sebagai konselebran utamanya.</p>
<p>Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, segenap imam, biarawan/biarawati dan umat yang hadir makan bersama di halaman Gereja dengan iringan musik dan lagu. Dalam kesempatan ini Bapak Uskup dan beberapa orang Pastor ikut menyumbangkan lagu. Secara keseluruhan acara berlangsung dengan sukses dan lancar dan semua berkat kerjasama yang baik seluruh umat, khususnya Dewan Paroki Kota. Proficiat kepada Mgr. F.X. Prajasuta, MSF ! Tuhan memberkati Bapak Uskup selalu, amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dua Kenangan Istimewa dari Pastor Gerardus H. Borst MSF]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/05/23/dua-kenangan-istimewa-dari-pastor-gerardus-h-borst-msf/</link>
<pubDate>Wed, 23 May 2007 12:20:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2007/05/23/dua-kenangan-istimewa-dari-pastor-gerardus-h-borst-msf/</guid>
<description><![CDATA[“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/p-borst-semasa-hidup.jpg" title="p-borst-semasa-hidup.jpg"><img vspace="10" align="left" width="300" src="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/p-borst-semasa-hidup.jpg" hspace="10" alt="Pastor G. H. Borst, MSF semasa hidup" style="width:300px;" /></a>“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…”, demikian disampaikan Alex de Jong yang mewakili keluarga ketika memberikan sambutan dalam Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah mendiang Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. <!--more--></p>
<p><strong>Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan JenazahParoki Bunda Maria Banjarbaru, Minggu, 20 mei 2007 </strong></p>
<p>Pagi itu, langit tampak begitu cerah. Mendekati pukul 10.00 Wita, umat dari kota Banjarmasin, Banjarbaru dan sekitarnya mulai memadati Gereja Bunda Maria Banjarbaru untuk turut serta menghadiri Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Pastor G. H. Borst, MSF, sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007 yang lalu. </p>
<p>Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Bapak Uskup Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, MSF selaku konselebran utama, didampingi oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dan Pastor Aloysius Darmakusuma, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Bunda Maria Banjarbaru.Misa dibuka dengan sebuah lagu Gregorian yang diambil dari nyanyian Madah Bakti No. 578. Prosesi pun berlanjut tahap demi tahap dengan iringan lagu-lagu Gregorian di dalamnya. </p>
<p>“Kalau saya ingin menggambarkan Pastor Borst, maka Pastor Borst adalah pastor dengan hati; inilah yang menjadikan beliau sangat dicintai oleh umat. Saya ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk umat yang memberikan perhatian kepada Pastor Borst. Pastor Borst adalah seorang pastor yang tidak pernah lepas dari rosarinya. Ini menunjukkan bahwa Pastor Borst tak pernah henti berdevosi kepada Perawan Maria. Dengan mengantarkan seorang imam yang dipanggil Tuhan, saya ingin mengingatkan kepada umat agar selalu mendoakan dan selalu siap sedia bila kelak anak-anaknya dipanggil Tuhan untuk menjadi imam. Untuk itu mari kita meneladari Pastor Borst dengan segala kesederhanaannya.” demikian diantaranya disampaikan Mgr. Prajasuta dalam homilinya mengenang Pastor Borst, MSF.  </p>
<p>Sebelum Perayaan Ekaristi ditutup, disampaikan beberapa sambutan, diantaranya dari P. Teddy Aer, MSF selaku Propinsial MSF Kalimantan. Pastor Teddy tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Pastor Borst atas segala sumbangsihnya bagi Gereja di Kalimantan, khususnya di Keuskupan Banjarmasin tercinta. </p>
<p>Sambutan berikutnya datang dari perwakilan keluarga mendiang Pastor Borst yang datang jauh-jauh dari negeri Belanda – Alex de Jong yang memberikan sambutannya dalam bahasa Belanda yang langsung diterjemahkan oleh Pastor Sinnema, MSF. Alex kemudian berkisah tentang cerita-cerita Pastor Borst yang disampaikannya melalui surat. Dalam salah satu surat yang ditulisnya, Pastor Borst tampak begitu bangga dengan Gereja dan perkembangan umat yang dilayaninya. Sebelum menutup sambutannya, Alex atas nama keluarga menyampaikan ucapan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama ini begitu setia merawat dan melayani Pastor Borst, ” Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…,” ujarnya. </p>
<p>Sambutan ketiga datang dari Pastor A. Siswasumarta, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran. Pastor Siswa berujar, ”Ada 2 kenangan istimewa dari Pastor Borst yang hingga kini masih diingat oleh saya dan umat di Paroki Veteran, yaitu : Pertama, Pastor Borst itu tidak mudah mempercayai umat; dalam artian beliau sangat memperhatikan tugas-tugas tertentu yang memang harus dikerjakan oleh seorang pastor, dan yang kedua, Pastor Borst adalah seorang pastor yang sangat mengenal umat yang dilayaninya; bila ada umat yang jarang kelihatan di Gereja, maka dengan segera Pastor Borst akan mengadakan kunjungan ke rumah.”</p>
<p><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/demarteau-berdoa.jpg" title="demarteau-berdoa.jpg"><img vspace="10" align="left" width="300" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/05/demarteau-berdoa.jpg" hspace="10" alt="Mgr Demarteau berdoa di depan peti jenazah" style="width:300px;" /></a>Dalam Perayaan Ekaristi ini, hadir Uskup Emeritus Mgr. W.J. Demarteau, MSF yang didampingi oleh Ibu Maria yang berada tak jauh dari sisi beliau. Sedangkan dari pihak keluarga Pastor Borst hadir Mrs. Bep Borst, Mr. Aad Neijemhuizen dan Alex de Jong yang duduk di deretan bangku seberang – tak jauh dari tempat Mgr. Demarteau berada. </p>
<p>Perayaan Ekaristi berakhir pada pukul 12.00 Wita, dilanjutkan dengan perarakan jenazah Pastor Borst, MSF untuk mengantarkan mendiang ke peristirahatannya yang terakhir di Kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. </p>
<p><strong>Perarakan Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir  </strong></p>
<p>Dimulai dari Gereja Bunda Maria Banjarbaru yang terletak di Jalan A. Yani Km. 36, arak-arakan bergerak lambat di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengat. Siang itu mulai pukul 12.00 Wita, rombongan umat berjajar rapi dan tertib di sisi kiri jalan sembari mengiringi mobil jenazah yang membawa mendiang Pastor Borst yang berada di barisan depan menuju Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. Berada paling depan sebuah sepeda motor dengan 2 orang pengendara terlihat begitu sigap membawa bendera hitam yang melambai-lambai di sepanjang jalan sebagai tanda perkabungan...</p>
<p>Menjelang pukul 12.30 Wita, arak-arakan tiba di kompleks pemakaman. Peti jenazah pun segera di keluarkan dan diusung oleh beberapa orang umat menuju ke liang lahat yang telah disediakan. Tanah disekitar galian tersebut masih tampak basah rupanya. Di sisi kiri berjajar secara berturut-turut adalah makam Fr. M. Gregorius Rudolf, MSF, Pastor Karl Klein, MSF, Pastor Yohanes Henricus Wieggers, MSF, Br. Alexsander Apui, MSF, Pastor Jacobus Kusters, MSF dan Pastor Antonius van Rossum, MSF. </p>
<p>Di atas sana, tepat di atas lokasi makam ada sepotong awan hitam yang seolah-olah menjadi payung alam di tengah udara siang hari ini yang terasa begitu terik. Langit yang semula berwarna biru terang, dalam beberapa saat menjadi berwarna biru keunguan, sepertinya ingin turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Pastor Borst...</p>
<p>Upacara di pemakaman dipimpin oleh Provinsial MSF Kalimantan – P. Teddy Aer, MSF. ”Saudara, saudara terkasih, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda: ”Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji; tetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali,” demikian seruan Pastor Teddy kepada seluruh umat yang hadir di sekitar lokasi pemakaman. </p>
<p>Prosesi pun berjalan sedemikian rupa dan sangat hikmat. Dan pada akhirnya, peti jenazah mendiang Pastor Borst pun diturunkan perlahan ke dalam lubang yang telah disediakan. Sebelum dilakukan penimbunan tanah, perwakilan dari keluarga mendiang Pastor Borst sempat mendoakan doa Bapa Kami dalam bahasa ibu mereka yaitu bahasa Belanda yang didampingi oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan P. Sinnema, MSF.</p>
<p><strong>Dua Hari Sebelumnya, Misa Requiem, Jumat, 18 Mei 2007  </strong></p>
<p>”Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang mampu melawan kehendak Yang Maha Kuasa. Dan kita percaya bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik buat Pastor dan Konfrater kami, Pastor Borst, MSF,” demikian disampaikan Pastor Teddy, MSF sebagai kata pembukaan dalam Misa Requiem Pastor Borst, MSF.</p>
<p>Sehari setelah Pastor Borst meninggal dunia, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru dilangsungkan Misa Requiem mendiang Pastor Borst, MSF. Misa dipersembahkan oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF didampingi oleh Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana, MSF dan Pastor Prilion, MSF. </p>
<p>Dalam homilinya, Pastor Teddy sempat bercerita tentang kenangan detik-detik terakhir menjelang Pastor Borst wafat. Pastor Teddy berkisah, ”Lebih kurang 3 minggi yang lalu, Pastor Felix menelpon saya dan berkata bahwa Pastor Borst harus dibawa ke Rumah Sakit Suaka Insan. Katanya Pastor Borst mengalami gatal-gatal di sekujur badan. Beberapa hari setelah dirawat, kondisi Pastor Borst mulai membaik. Salah seorang Suster yang merawat sempat memberikan pujian atas membaiknya kondisi Pastor Borst. Saya pun sempat memuji Pastor Borst saat itu. Tapi kondisi ini tidak bertahan lama, karena 2 – 3 hari berikutnya kondisi Pastor Borst kembali drop! Saat itu Pastor Borst berujar bahwa beliau ingin segera kembali ke Biara Wisma Simeon untuk bertemu dengan Mgr. Demarteau, karena Pastor Borst merasa bahwa Mgr. Demarteau-lah yang paling mengenalnya karena mereka telah berteman selama 72 tahun lamanya. Beberapa hari yang lalu Pastor Doni mengatakan bahwa kondisi Pastor Borst drop namun belum mau diberikan Sakramen Minyak Suci. Saya dan Pastor Doni sebenarnya ingin pergi ke Yogya. Setengah jam setelah saya dan Pastor Doni meninggalkan Wisma St. Lukas Samarinda, saya mendapat berita dari Pastor Felix yang mengatakan kalau Pastor Borst dalam kondisi kritis! Dan setengah jam berikutnya, tepat pada pukul 10.15 Wita – tepat pada hari Kenaikan Tuhan Kita Yesus Kristus, saya mendapat kabar bahwa Pastor Borst, MSF meninggal dunia...Dalam tempo yang begitu cepat semuanya terjadi – seperti yang dialami Ayub dalam Bacaan I tadi, yaitu tentang datangnya berita kesedihan. Hal ini pun berlaku untuk kita semua, kendati mempunyai kekuatan dan andai pun semua kekuatan itu digabungkan, maka tetap tidak akan mampu melawan keputusan bahwa Pastor Borst akan meninggalkan. Tapi kita bisa belajar dari Ayub yang dengan imannya berucap, ”Tuhan yang memberi, Tuhan yang memanggil.” Tuhan telah memberikan beliau kepada Gereja Kalimantan, kepada Keuskupan Banjarmasin, kepada Kongregasi MSF, dan jualah yang mengambil kembali beliau. Terpujilah Dia! Tuhan pasti tahu apa yang terbaik bagi Pastor Borst yang kita cinta bersama. Marilah kita tunduk bersama pada kehendak Tuhan ini dengan menjadikannya sebagai sebuah pengalaman dengan bersyukur atas kehadiran beliau yang telah mewartakan Injil bagi Gereja Kalimantan. Dalam harapan ini, mari kita teruskan ibadat ini dengan bingkai kerelaan kita untuk menghantar Pastor/Konfrater dan saudara kita yang terkasih – Pastor Borst kembali kepada Allah...”</p>
<p>Kenangan akan Pastor Borst, MSF  Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF Lahir di Rotterdam (Belanda) pada tanggal 23 Januari 1921. Masuk Seminari Menengah pada tahun 1935 di Kaatsheuvel (Belanda) kemudian masuk Novisiat pada tahun 1941 di Nieukerk (Belanda). Seminari tinggi dijalani Pastor Borst di Odenbosch (Belanda) mulai tahun 1942 dan mengucapkan Kaul Kekal di Oudenbosch pada tahun 1945. Pastor Borst ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 Juli 1947 di  Oudenbosch.  </p>
<p>Pada bulan Februari 1949, Pastor Borst berangkat ke Kalimantan. Pada mulanya beliau tinggal di Kalimantan Timur untuk memperdalam Bahasa Indonesia. Tahun 1950 – 1953 menjadi Dosen Seminari Menengah di Banjarmasin. Selanjutnya tahun 1953 menjadi Pastor Paroki di Kuala Kapuas. Pada tahun 1954, karena Seminari Menengah Banjarmasin dipindahkan ke Sanga-sanga (Kalimantan Timur), maka Pastor Borst ikut pindah ke Sanga-sanga. Tahun 1956 Pastor Borst menjabat sebagai Pastor Paroki di kota Samarinda. Tahun 1958 Pastor Borst berkesempatan mengambil cuti perdana untuk kembali ke negeri Belanda. Kemudian pada tahun 1959, Pastor Borst menjadi Pastor Paroki di Muara Teweh (Kalimantan Tengah). Tahun 1968, Pastor Borst menjabat sebagai pastor kedua di Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, Veteran – Banjarmasin, menggantikan Pastor Gielens, MSF yang harus kembali ke Eropa karena alasan kesehatan. </p>
<p>Pada Februari 1997, sesudah merayakat pesta emas Imamatnya, Pastor Borst pindah ke Banjarbaru dan menjadi emeritus atas permohonan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan mulai tinggal di Biara MSF Wisma Simeon. Dalam perkembangan selanjutnya Pastor Borst menderita penyakit parkinson dan diabetes mellitus. Karena sakitnya ini, beberapa kali Pastor Borst harus keluar masuk Rumah Sakit ”Suaka Insan” Banjarmasin untuk menjalani pengobatan.  <br />
Lama kelamaan kesehatan Pastor Borst semakin menurun dan akhirnya hanya berbaring di tempat tidur saja. Pada tanggal 17 Mei 2007, tepat pada Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus, pukul 10.15 Wita, sesudah menerima Sakramen Minyak Suci, Pastor Borst, MSF dipanggil menghadap Bapa di Surga.</p>
<p><strong>”Selamat jalan Pastor Borst, kami akan mengiringi perjalanan pastor dengan doa-doa kami...”</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Uskup Titulair Arsinoe]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/uskup-titulair-arsinoe/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 12:12:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2006/07/26/uskup-titulair-arsinoe/</guid>
<description><![CDATA[ 
Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun ini, Mgr. Demarteau tetap beraktivitas dengan membaca, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em> <img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/sosokkita_a.jpg" alt="Mgr Demarteau MSF, Uskup Emeritus Banjarmasin" /></em></p>
<p><em>Di usianya yang hampir menginjak 90 tahun ini, Mgr. Demarteau tetap beraktivitas dengan membaca, mengasah otak supaya tidak lusuh berkarat (Red: Ungkapan Beliau) dan juga jalan santai setiap sore di depan “rumah masa depan” Wisma Simeon-Banjarbaru-KALSEL.<br />
Untuk mengetahui lebih dekat “kisah kasih” kehidupan Mgr. Demarteau di “rumah masa depan” Wisma Simeon, ikutilah petikan wawancara singkat Bung MUSAFIR (BM) bersama Beliau  dalam bentuk tulisan berhubung pendengaran Beliau yang sudah “tuli total”.<!--more--></em></p>
<p><strong>BM :</strong> Selamat siang Monseigneur. Sudah lama Bapak Uskup tinggal di Wisma Simeon ini (sekitar 5/6 tahun). Apakah Bapak Uskup merasa kerasan tinggal di Wisma ini ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Selamat siang Frater. Saya krasan tinggal di Wisma Simeon. Menurut <strong>Codex</strong> (Kitab Hukum Kanonik) Gereja Katolik, seorang Uskup Emeritus berhak memilih tempat tinggalnya. Tahun 1983 saya memilih Banjarbaru, tempat yang tidak terlalu dekat dengan Uskup Baru dan sekaligus tidak terlalu jauh dari penggantinya. Sampai dengan tahun 1997 saya masih dapat bekerja di paroki Banjarbaru sebagai pastor meskipun sebagai pastor pembantu. Syukurlah saya tinggal di tengah-tengah umat yang mencintai saya dan yang saya cintai. Pada umumnya saya merasa tenang dan senang hati tinggal di Banjarbaru khususnya di Wisma Simenon. Kadang hati saya gelisah kalau berpikir mengenai tanggung jawab saya di hadapan Tuhan berkenaan dengan pelaksanaan tugas selama menjabat sebagai Uskup Banjarmasin dan sebagai Uskup Emeritus. Mudah-mudahan Tuhan mengasihani aku.</p>
<p><strong>BM :</strong> Selama berada di Wisma Simeon, kegiatan apa saja yang biasanya dilakukan oleh Bapak Uskup?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Selama di Wisma ini  saya mencoba memperbaiki kekurangan-kekurangan saya pada waktu yang telah lewat dalam hidupku. Dengan terus terang saya akui bahwa, saat ini waktu untuk berdoa lebih banyak daripada sebelumnya. Saya berdoa untuk ujud-ujud global, umum, misalnya: untuk ujud Paus yang baru, untuk keselamatan Gereja, untuk korban tanah longsor di Philippina, untuk korban aksi terorisme, untuk korban kelaparan di Afrika, dll. Saya tidak hanya berdoa banyak untuk diri saya sendiri tetapi bagi dan demi yang lain juga. Di samping itu, saya membaca banyak buku (kalau ada buku yang menarik), memecahkan teka-teki silang supaya otak saya yang lusuh ini tidak berkarat. Jalan santai pada sore hari di depan wisma menjadi rutinitas yang tidak pernah saya lupakan, karena memberikan kekuatan pada saya. Itulah kegiatan seorang uskup yang hampir berumur 90 tahun.</p>
<p><strong>BM :</strong> Monseigneur, dari pertemuan dan pembicaraan dengan beberapa umat yang mengenal Bapak Uskup, mereka mengharapkan agar Bapak Uskup masih bersedia untuk memimpin Perayaan Ekaristi di Gereja paroki Banjarbaru. Apakah Bapak Uskup sendiri masih ada keinginan untuk memimpin Perayaan Ekaristi sebagaimana yang diharapkan oleh umat paroki ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Setiap hari saya selalu dan ingin merayakan Ekaristi, karena menambah iman, harapan dan kasihku berkat pertemuan riil dengan Kristus, Imam Agung. Tetapi saya keberatan untuk memimpin Perayaan Ekaristi, karena ada beberapa alasan, antara lain: pertama, sakit vertigo yang kontinu membuat saya pusing dan kadang begitu hebat sehingga saya tidak mampu berdiri lebih lama dan membaca dengan suara yang nyaring. Kedua, masalah pendengaran. Sudah lama pendengaran saya kurang baik bahkan akhir-akhir ini sangat merosot, sehingga sekarang benar-benar tuli total, sehingga bunyi guntur pun tidak saya dengar. Karena masalah “ketulian” ini, maka bagi saya pribadi, komunikasi antara saya sebagai imam yang mempersembahkan misa dengan umat yang hadir sangat sulit. Santo Agustinus (1600 thn yang lalu) di Afrika Utara menulis kurang-lebih demikian; “Sebagai Uskup saya tinggal di tengah-tengah kamu sebagai gembala yang memimpin, tetapi kadang-kadang saya tinggal di antara kamu sebagai saudara seiman yang percaya akan Kristus yang sama. Saya setuju dengan Uskup Agustinus. Maka walaupun saya Uskup, saya suka merayakan Ekaristi/misa (sebagai umat) bersama umat paroki Banjarbaru.</p>
<p><strong>BM :</strong> Pada tahun ini MSF Indonesia, khususnya MSF Provinsi Kalimantan akan merayakan 80 tahun karya Misi MSF di Indonesia, tepatnya di Kalimantan. Apa pesan Bapak Uskup bagi para pastor, frater dan postulant MSF Kalimantan serta para Suster, Bruder dan Petugas Gereja yang berkarya di Kalimantan ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Kalau kita mau merayakan 80 tahun misi di Kalimantan, kita harus terutama menyatakan bahwa kita sungguh bersyukur kepada Tuhan yang atas namanya para anggota MSF diutus dan berkarya mulai dari tahun 1926 sampai tahun 2006 ini. Tahun 1926, perutusan Yesus terulang kembali melalui tarekat MSF. Pada waktu mengutus para rasulNya ke kampung-kampung Palestina, Yesus berucap; “ Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Start karya misi mereka sangat berat. Mereka harus menanggung panas terik matahari secara riil dan kiasan. Air baptis mengering dalam sangku baptisan di gereja. Menanti, menunggu, sabar, berdoa dan tidak putus asa. Seperti padi bertumbuh dalam keheningan benih ilahi, Injil pun bertumbuh tumbuh dalam keheningan. Tuhan ikut membuka jalan melalui hutan Borneo. Para misionaris terus menabur dan Tuhan memberi pertumbuhan. Syukur kepada Tuhan. Kita berterima kasih kepada semua anggota MSF yang sudah atau yang masih bekerja di Kalimantan termasuk para misionaris non-MSF, juga tidak kami lupakan.   </p>
<p>Jumlah anggota MSF yang telah meninggal:<br />
MSF Belanda  : 62<br />
MSF Jerman  :   2<br />
MSF Indonesia :   8</p>
<p><strong>BM :</strong> Apa harapan Bapak Uskup bagi perkembangan karya kerasulan MSF Kalimantan dalam kerangka perkembangan iman dan Gereja di Kalimantan ?</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Setiap orang yang memeriksa Buku Petunjuk Gereja Katolik (2005) tidak akan menyangsingkan perkembangan Karya Kerasulan MSF di Kalimantan. Misalnya di Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Tanjung Selor, ada daerah di mana hampir seluruh penduduk Dayak beragama Katolik (termasuk di Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Sanggau).  Memang pendalaman iman harus dinomorsatukan. Ada roh yang baik, tetapi ada juga roh jahat, yang aktif. Bermacam benih ditaburkan dan hasilnya bukan padi, melainkan alang-alang dan rerumputan. Para petugas Gereja menabur benih ilahi dan benih itu akan mengalahkan benih yang tidak baik.<br />
Maka semoga anggota MSF Provinsi Kalimantan, di masa yang akan datang terus berkarya untuk “Menyempurnakan yang Lusuh, agar tidak berkarat”, seperti aktivitas saya saat ini.</p>
<p><strong>BM :</strong> Terima kasih banyak banyak Uskup. Doa kami, para anggota muda MSF mengiringi perjalanan hidup dan panggilan Bapak Uskup</p>
<p><strong>Mgr :</strong> Sama-sama, God Bless You !<br />
           Salam Mgr. W. Demarteau MSF (Uskup em)</p>
<p><em>Bung MUSAFIR</em></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
