<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sop-buntut &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/sop-buntut/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sop-buntut"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 14:30:36 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[disorientasi so[ buntut]]></title>
<link>http://femiadi.wordpress.com/?p=1137</link>
<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 09:42:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>femi adi soempeno</dc:creator>
<guid>http://femiadi.id.wordpress.com/2008/09/24/disorientasi-so-buntut/</guid>
<description><![CDATA[Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.
Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dari kejauhan, kakak saya mentertawakan saya. Sialan.</p>
<p>Awalnya adalah godaan buntut sapi di superindo. Sepertinya menakjubkan membikin sop buntut di rumah. Bumbunya? Beli saja yang instan. Bamboe menyediakan bumbu oxtail soup. Dan saya mengangkut beberapa irisan buntut sapi. Sedap!</p>
<p>Tapi, olala, ternyata sedang tidak tersedia bumbu instan Bamboe untuk sop buntut. Kalau begitu, barangkali bisa diganti rawon saja. isinya, ya buntut sapi ini. selain buntut, saya mengangkut daging sapi untuk dibikin kaldu.</p>
<p>Sampai di rumah, karena tidak makan nasi, ya saya mengiris dua gelundung kentang. Ada empat irisan daging berukuran sedang, dan juga buntut sapi. Bumbu saya masukkan dalam panci dengan kuah kaldu. Plus irisan kentang. Plus daging dan buntut. Plus telur kampung rebus.</p>
<p>Hasilnya? Duh, entah, sop buntut bukan, rawon juga bukan. Merem sebentar, rasa kuahnya adalan rawon dengan komposisi bumbu dan air yang tidak seimbang. Terang saja, asin mendominasi kuah rawon. Sementara, daging dan buntut serta telur rebus nya baik-baik saja.</p>
<p>Tidak lagi ah. Sop buntut harus untuk sop buntut, bukan untuk rawon begini. Sungguh disorientasi sop buntut!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=308</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 06:43:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.id.wordpress.com/2008/05/15/ada-pilihan-sop-gurami-di-serang/</guid>
<description><![CDATA[Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.</p>
<p>Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan "S" Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang "menjual". Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : "sopnya enak, pak...", maka saya lalu menyetujuinya.</p>
<p>Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.</p>
<p>Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya....).</p>
<p>Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.</p>
<p>Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan <em>sruputan</em> pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan <em>kepyuran</em> emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.</p>
<p>Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. <em>Lha, wong</em> guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar <em>taste</em>-ya.</p>
<p>***</p>
<p>Rumah makan "S" Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. </p>
<p>Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, <em>wong</em> dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.</p>
<p>Setidak-tidaknya menu sop rumah makan "S" Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong <em>hoenak</em> sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu.....</p>
<p>Yogyakarta, 15 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=248</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 06:41:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/15/ada-pilihan-sop-gurami-di-serang/</guid>
<description><![CDATA[Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.</p>
<p>Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan "S" Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang "menjual". Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : "sopnya enak, pak...", maka saya lalu menyetujuinya.</p>
<p>Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.</p>
<p>Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya....).</p>
<p>Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.</p>
<p>Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan <em>sruputan</em> pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan <em>kepyuran</em> emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.</p>
<p>Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. <em>Lha, wong</em> guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar <em>taste</em>-ya.</p>
<p>***</p>
<p>Rumah makan "S" Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. </p>
<p>Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, <em>wong</em> dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.</p>
<p>Setidak-tidaknya menu sop rumah makan "S" Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong <em>hoenak</em> sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu.....</p>
<p>Yogyakarta, 15 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Guru ngaji &amp; kucing persia-Trip to Bogor (Pt.2)]]></title>
<link>http://d3pe.wordpress.com/2008/01/02/guru-ngaji-kucing-persia-trip-to-bogor-pt2/</link>
<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 08:13:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>d3pe</dc:creator>
<guid>http://d3pe.id.wordpress.com/2008/01/02/guru-ngaji-kucing-persia-trip-to-bogor-pt2/</guid>
<description><![CDATA[Setelah puas keliling-keliling kebun raya bogor, terus ngiterin museum zoologi [mungkin kalo di luar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Setelah puas keliling-keliling <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kebun_Raya_Bogor">kebun raya bogor</a>, terus ngiterin museum zoologi [mungkin kalo di luar negeri biasa disebut Museum of Natural History] plus acara diberhentiin sama satpam... kita langsung menuju ke Sop Buntut Mang Endang di daerah Air Mancur Bogor.</i></p>
<p><b><b><a href="http://kucingkita.com/modules.php?name=Sections&#38;op=viewarticle&#38;artid=21">Kucing Persia</a></b></b></p>
<p>Sampe di Sop Buntut Mang Endang, kita sempet khawatir kalo tempat makannya bakalan tutup<i>-as icha's mom n adoy said : "kalo lewat jam 12.00, biasanya udah habis ..."</i>, tapi sukurlah karena begitu sampe sana, kita masih bisa nikmatin sop buntut yang konon kabarnya ngetop banget .... hehehe ... gue sama rara pesen sop daging biasa, tapi pake kuahnya sop buntut [coz we don't know what part will be served as "buntut"], tapi icha sama adoy pesen sop buntut originalnya. Rasa kuah sop buntutnya kalo boleh jujur biasa aja, cuma kerasa agak oily aja. tapi jangan tanya begitu dicampur sama garem / sambel / kecap dikit aja, cepet banget perubahan rasanya [nggak tau kok bisa begini ] ... jujur pas nyobain sop dagingnya, dagingnya empuk dan kerasa banget kuahnya meresap ... gitu juga pas nyobain sop buntutnya-yg ternyata isinya tulang ... wah dagingnya bener-bener empuk ... mantap (menyesal juga kenapa mesen sop daging).</p>
<p>Sebelum cabut dari restoran itu, kita sempet ketemuan sama Irsa-<i>one of my highschool friend</i>, trus ngobrol ngalor ngidul [maklumlah, udah 7 tahun gak ketemu], ternyata setelah selesai ngambil Master di UK, do'i pulang ke kampung halamannya di Bogor dan kerja di perusahaan shipping, plus konon udah tunangan .... agak unik juga sih denger cerita gimana dia bisa ketemu sama tunangannya itu, karena itu cuma gara2 kucing persia-punya mereka berdua yang saling dikawinin .... <i>uhh co cwit</i> .... :)</p>
<p><b><b>Guru Ngaji </b></b></p>
<p>Selesai makan di Sop Buntut Mang Endang, mulai gerimis, so kita berempat langsung aja meluncur ke MP (Makaroni Panggang) di Jl. Salak No. 24.  Disana udah ada Octo bersama calon istrinya yang nungguin kita dari tadi ... langsung aja nyari tempat yang enak buat makan, ngobrol, sama ngecengin adoy ... hahahaha ...</p>
<p><a href="http://d3pe.wordpress.com/files/2008/01/dscn4149.jpg" title="Rara yang cinta mampus sama Macaroni Panggang … :)"><img src="http://d3pe.wordpress.com/files/2008/01/dscn4149.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p>Pesenan pertama : Macaroni Panggang Special Medium [buat dimakan ramean]</p>
<p>Pesenan selanjutnya : Rara pesen Ice Chocolate [untuk kedua kalinya, dan akhirnya bikin sakit radang tenggorokannya kambuh], adoy nggak pesen apa-apa (karena masih ada minuman dari Mang Endang tadi), Icchan pesen Ice lemon tea juga, dan gue pesen Es Goyobod (minuman sunda unik, yang mirip-mirip es campur, cuma isinya agak beda : sirop, alpukat, kelapa muda, ager-ager, agar-agar hunkwe, pacar cina, es serut, sama susu kental)</p>
<p>Nah pas acara makan-makan di MP itu, Octo ngasih undangan pernikahannya tanggal 6 Januari 2008 besok, dan do'i juga sharing cerita kalo ketemu sama calon istrinya gara-gara pengajian bareng, trus pas <u>ngelamar si calon istrinya itu lewat guru ngajinya</u>.</p>
<p>Selesai dari MP, gue bersama temen-temen menyempatkan diri buat ngelewatin toko asinan bogor yang terkenal itu, dan juga toko roti unyil <b><i>yang paling yo'i do'i to'i</i></b> ... even ga sempet mampir coz bogor lagi hujan deres waktu itu.</p>
<p><b>Intisari :</b></p>
<p>Kalo pengen dapet jodoh cepet, mendingan beli kucing persia atau ikut pengajian (bukan pengajian keluarga ya .... emang elo mau nikah sama sodara sendiri ???)  hehehe....</p>
<p>piss.</p>
<p>[ngawur mode = ON]</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
