<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>sekolah-alam &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/sekolah-alam/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "sekolah-alam"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 09:01:13 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Muthi Rindu Sekolahnya Dulu ]]></title>
<link>http://bapakethufail.wordpress.com/?p=218</link>
<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 03:05:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakethufail</dc:creator>
<guid>http://bapakethufail.id.wordpress.com/2008/08/30/muthi-rindu-sekolahnya-dulu/</guid>
<description><![CDATA[Menjelang tidur salah satu anakku MUTHI, tiba-tiba bangkit dan mencari &#8220;sesuatu&#8221; di rak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bapakethufail.files.wordpress.com/2008/08/muth.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-232" src="http://bapakethufail.wordpress.com/files/2008/08/muth.jpg?w=84" alt="" width="84" height="96" /></a>Menjelang tidur salah satu anakku MUTHI, tiba-tiba bangkit dan mencari "sesuatu" di rak bukunya. "Alhamdulillah... ketemu" gumamnya.</p>
<p>Ada apa nduk, apanya yang ketemu.</p>
<p>Ini pak... buku kenang-kenangan dari temen-temen <a href="http://sekolahalamarridho.wordpress.com/" target="_blank">sekolahku dulu</a> .</p>
<p>(Buku kenang-kenangan dari sekolahnya semasa di semarang "<a href="http://sekolahalamarridho.wordpress.com/" target="_blank">sekolah alam arridho - semarang</a>",  berupa binder... tiap anak menuliskan surat satu halaman, di halaman depannya sebuah pesan dari guru kelasnya. Tulisan dari kejujuran teman-teman satu kelasnya dulu... ada yang lucu, serius, haru.... yang menggambarkan karakter masing2 anak,.... tapi indah !!!)</p>
<p>Sambil tiduran, kadang2 senyum kadang2 serius. Sesekali menghela nafas panjang sesekali... dan hanya kulihat sambil tiduran.</p>
<p>Kamu rindu sekolahmu dulu ya nak.... pertanyaan kecil dalam batinku</p>
<p>(Dan malam itu muthi tidur dengan pelukan buku kenangannya mungkin untuk sedikit melepas kerinduannya)</p>
<p>Foto-foto nya :<!--more--></p>
<p><a href="http://bapakethufail.files.wordpress.com/2008/08/muth_sa1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-220" src="http://bapakethufail.wordpress.com/files/2008/08/muth_sa1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p><a href="http://bapakethufail.files.wordpress.com/2008/08/dsc04476.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-223" src="http://bapakethufail.wordpress.com/files/2008/08/dsc04476.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://bapakethufail.files.wordpress.com/2008/08/muth_sa5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-224" src="http://bapakethufail.wordpress.com/files/2008/08/muth_sa5.jpg?w=300" alt="" width="300" height="177" /></a></p>
<p><a href="http://bapakethufail.files.wordpress.com/2008/08/dsc04509.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-230" src="http://bapakethufail.wordpress.com/files/2008/08/dsc04509.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN PADA ANAK SEJAK USIA DINI (#3-selesai-)]]></title>
<link>http://bapakethufail.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 00:34:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakethufail</dc:creator>
<guid>http://bapakethufail.id.wordpress.com/2008/06/20/mengoptimalkan-perkembangan-kecerdasan-pada-anak-sejak-usia-dini-3-selesai/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Kak Seto
Disampaikan dalam Talk Show : Ngobrol Bareng Kak Seto dengan tema “Melejitkan Pote]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Kak Seto</p>
<p class="MsoFootnoteText"><span lang="IN">Disampaikan dalam Talk Show : <em>Ngobrol Bareng Kak Seto</em> dengan tema “Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak (Cara Bijak Mendidik Anak)” yang diselenggarakan oleh <a href="http://sekolahalamarridho.wordpress.com">Sekolah Alam Ar-Ridho</a>, pada tanggal 4 Juni 2006 di Semarang. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText">.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Selanjutnya oleh tokoh-tokoh seperti: Sternberg dan Salovey, sebagaimana diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Lima wilayah tersebut adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan mengenali emosi diri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan mengelola emosi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan memotivasi diri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan mengenali emosi orang lain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan membina hubungan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Berikut ini adalah uraian dari ke lima wilayah di atas.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan Mengenali Emosi Diri</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> adalah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan, seperti memilih: sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai kepada pemilihan pasangan hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan Mengelola Emosi</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara salah. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan dan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya seseorang yang sedang marah, maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan Memotivasi Diri</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non-verbal dari orang lain tersebut. Dengan demikian anak-anak ini akan cenderung disukai orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kemampuan Membina Hubungan</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul dan menjadi lebih populer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Di sini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri anak. Karena betapa banyak kita jumpai anak-anak, dimana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak sejak usia dini. Karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hal yang hampir senada juga dikemukakan oleh <strong>Robert Coles</strong> dalam bukunya yang berjudul <em>“The Moral Intelligence of Children”</em>, bahwa di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini termasuk merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Spiritual</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Danah Zohar dan Ian<span> </span>Marshal dalam bukunya yang berjudul “<em>Connecting with Our Spiritual Intelligence” (2000)</em>, menyatakan bahwa dalam otak manusia ditemukan adanya eksistensi God-Spot sebagai pusat spiritual yang terletak antara jaringan syaraf dan otak. Adanya God-Spot dalam otak menunjukkan bahwa manusia memiliki kepekaan terhadap makna hidup dan nilai-nilai kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan spiritual dapat menumbuhkan fungsi manusiawi seseorang sehingga membuat mereka menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, spontan, dapat menghadapi perjuangan hidup, menghadapi kecemasan dan kekhawatiran, dapat menjembatani antara diri sendiri dan orang lain serta menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Peran orangtua dalam upaya menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada anak sangat penting. Sama pentingnya dalam upaya orangtua dalam menumbuhkembangkan potensi kecerdasan anak pada bidang yang lainnya. Dalam hal ini, yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Usahakan untuk tidak mematikan spontanitas anak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Usahakan untuk selalu tidak berprasangka buruk pada anak maupun orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Upayakan agar dapat mendidik dan membesarkan anak dengan kasih sayang serta keakraban dalam lingkungan keluarga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tumbuhkanlah rasa percaya diri anak dengan tidak menekan anak sehingga anak jadi takut mencoba sesuatu hal yang baru serta dapat mengambil kesimpulan yang salah terhadap suatu peristiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Upayakan agar anak dapat membuat dan memiliki prioritas hidup</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Selanjutnya, bagaimana caranya agar hal ini dapat diwujudkan pada anak-anak kita sejak usia dini sebagai persiapan menyambut era globalisasi ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Suasana damai dan penuh kasih sayang di sekolah, di samping keluarga, contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, lebih banyak tersenyum daripada cemberut, semua ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional maupun kecerdasan moral dan spiritualnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka sungguh memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh secara optimal. Dalam hal ini orangtua, di samping guru, memegang peranan yang amat penting</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Oleh karena itu tentunya dibutuhkan suatu kesungguhan dari para orangtua untuk secara tekun dan rendah hati melakukan hal yang terbaik bagi putra-putrinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kiranya uraian di atas dapat memberikan sedikit wawasan bagi para orangtua untuk usaha-usaha tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Semoga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Daftar Kepustakaan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Coles, Robert</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> (1997). <em>The Moral Intelligence of Children</em>. New York. Random Haouse, Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Gardner, Howard</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> (1993). <em>Multiple Intelligences</em>. New York. Basic Books Harper Collins Publ., Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Goleman, Daniel</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> (1995). <em>Emotional Intelligence</em>. New York. Bantam Books.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Stoltz, Paul G</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> (1997). <em>Adversity Quotient, Turning Obstacles into Opportunities.</em> New York. John Wiley &#38; Sons, Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Zohar, Danah &#38; Marshal, Ian</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">. (2000). <em>Connecting with Our Spiritual Intelligence</em>. New York : Bloomsbury Publishing.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN PADA ANAK SEJAK USIA DINI (#2)]]></title>
<link>http://bapakethufail.wordpress.com/?p=95</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 00:25:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakethufail</dc:creator>
<guid>http://bapakethufail.id.wordpress.com/2008/06/20/mengoptimalkan-perkembangan-kecerdasan-pada-anak-sejak-usia-dini-2/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Kak Seto
Disampaikan dalam Talk Show : Ngobrol Bareng Kak Seto dengan tema “Melejitkan Pote]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Oleh : Kak Seto</span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span lang="IN">Disampaikan dalam Talk Show : <em>Ngobrol Bareng Kak Seto</em> dengan tema “Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak (Cara Bijak Mendidik Anak)” yang diselenggarakan oleh <a href="http://sekolahalamarridho.wordpress.com">Sekolah Alam Ar-Ridho</a>, pada tanggal 4 Juni 2006 di Semarang. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText">.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Anak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Howard Gardner</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> dalam bukunya yang berjudul <em>“Multiple Intelligences”</em> mengatakan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gambaran mengenai spektrum kecerdasan yang luas telah membuka mata para orangtua maupun guru tentang adanya wilayah-wilayah yang secara spontan akan diminati oleh anak-anak dengan semangat yang tinggi. Dengan demikian, masing-masing anak tersebut akan merasa pas menguasai bidangnya masing-masing. Bukan hanya cakap pada bidang tersebut yang memang sesuai dengan minatnya, namun juga akan sangat menguasainya sehingga menjadi amat ahli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur:</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan matematika – logika</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan bahasa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan musikal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan visual spasial</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan kinestetik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan inter-personal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan intra-personal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan naturalis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:47.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Matematika–Logika</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> sendiri memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Anak-anak dengan kecerdasan matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab-akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, yaitu misalnya menyusun hipotesis, mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Anak-anak semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Apabila kurang memahami, maka mereka akan cenderung untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahami tersebut. Anak-anak ini juga sangat menyukai berbagai macam permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti: catur, bermain teka-teki, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Bahasa</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Anak-anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi, umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti: membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat misalnya terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Musikal</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara non verbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada irama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Anak-anak jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, apakah itu melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan kaset, radio, pertunjukkan orkestra atau alat musik yang dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasannnya apabila dikaitkan dengan musik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Visual Spasial</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> memuat kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara obyek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan misalnya untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannnya, atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan. Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual spasial ini. Anak-anak demikian akan unggul dalam permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan misalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Kinestetik</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul pada salah satu cabang olah raga, seperti misalnya: bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan sebagainya. Atau bisa pula tampil pada anak-anak yang pandai menari, terampil bermain akrobat atau unggul dalam bermain sulap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Inter-personal</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisai dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai <strong>kecerdasan sosial</strong>, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, juga termasuk kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari anak yang lain, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Intra-personal</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan mapun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Anak-anak semacam ini senang melakukan introspeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannnya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Kecerdasan Naturalis</span></strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> yaitu kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam. Misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, hutan, dan sebagainya. Anak-anak dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperi aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda di angkasa, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Melalui konsepnya mengenai kecerdasan multiple atau kecerdasan ganda ini, Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan. Dimana kecerdasan seolah-olah hanya terbatas pada apa yang diukur oleh beberapa test intelegensi yang sempit saja, atau sekedar melihat prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Teori Gardner ini kemudian dikembangkan dan juga semakin dilengkapi oleh para ahli lain. Di antaranya adalah <strong>Daniel Goleman</strong> melalui bukunya yang terkenal <em>“Emotional Intelligence”</em> atau Kecerdasan Emosional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dari ke tujuh spektrum kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner di atas, Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan intra-personal atau antar pribadi. Inti dari kecerdasan ini adalah mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat keinginan orang lain. Namun menurut Gardner kecerdasan antar pribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman. Sementara faktor emosi atau perasaan kurang diperhatikan. Padahal menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antar pribadi ini.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN PADA ANAK SEJAK USIA DINI (#1)]]></title>
<link>http://bapakethufail.wordpress.com/?p=94</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 04:53:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>bapakethufail</dc:creator>
<guid>http://bapakethufail.id.wordpress.com/2008/06/19/mengoptimalkan-perkembangan-kecerdasan-pada-anak-sejak-usia-dini-1/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Kak Seto
Disampaikan dalam Talk Show : Ngobrol Bareng Kak Seto dengan tema “Melejitkan Pote]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoFootnoteText"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Oleh : Kak Seto</span></strong></p>
<p class="MsoFootnoteText"><span lang="IN">Disampaikan dalam Talk Show : <em>Ngobrol Bareng Kak Seto</em> dengan tema “Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak (Cara Bijak Mendidik Anak)” yang diselenggarakan oleh <a href="http://sekolahalamarridho.wordpress.com">Sekolah Alam Ar-Ridho</a>, pada tanggal 4 Juni 2006 di Semarang. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText">.</p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pengantar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Pada dasarnya anak-anak sebagai generasi yang unggul tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka sungguh memerlukan lingkungan yang subur yang sengaja diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh dengan optimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Dengan demikian, orangtua, disamping guru memegang peran penting untuk menciptakan lingkungan tersebut guna merangsang segenap potensi anak agar dapat berkembang secara maksimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Suasana penuh kasih sayang, mau menerima anak sebagaimana adanya, menghargai potensi anak, baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik, semua sungguh merupakan jawaban nyata bagi tumbuhnya generasi unggul di masa yang akan datang. Inilah yang perlu kita persiapkan pada anak-anak guna menyambut era globalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:11pt;">Memahami Anak</span></strong><!--more--></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dalam hal memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satu sama lain namun saling melengkapi dan berharga. Mungkin dapat diibaratkan sebagai bunga-bunga aneka warna di suatu taman yang indah, mereka akan tumbuh dan merekah bersama ! </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Selain memahami<span> </span>bahwa anak merupakan individu yang unik, ada beberapa catatan lagi yang perlu kita perhatikan<span> </span>dalam kaitannya dengan upaya kita memahami anak. Yaitu bahwa anak adalah :</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Bukan Orang Dewasa Mini<span> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Anak adalah tetap anak-anak, bukan orang dewasa ukuran mini. Mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan bila harus dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu mereka juga memiliki dunia sendiri yang khas dan harus dilihat dengan kaca mata anak-anak.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;">Untuk itu dalam menghadapi mereka dibutuhkan adanya kesabaran, pengertian serta toleransi yang mendalam. Mengharapkan mereka bisa mengerti sesuatu dengan cepat dengan membayangkan bahwa mereka adalah orang-orang dewasa seperti kita, tentu bukan merupakan sikap yang bijaksana.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Dunia Bermain</span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dunia<span> </span>mereka adalah dunia bermain, yaitu dunia yang penuh spontanitas dan menyenangkan. Sesuatu akan dilakukan oleh anak dengan penuh semangat apabila terkait dengan penuh suasana yang menyenangkan. Namun sebaliknya akan dibenci dan dijauhi oleh anak apabila suasananya tidak menyenangkan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;">Seorang anak akan rajin belajar, melakukan pekerjaan rumahnya apabila suasana belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menumbuhkan tantangan.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Berkembang</span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Anak selain tumbuh secara fisik, juga berkembang secara psikologis. Tidak bisa anak yang dulu sewaktu masih bayi tampak begitu lucu dan penurut, sekarang pada usia 3 tahun misalnya, juga tetap dituntut untuk lucu dan penurut. Ada fase-fase perkembangan yang dilaluinya dan anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri-ciri masing-masing fase perkembangan tersebut.<em> </em></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Senang Meniru</span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Anak-anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Anak-anak yang gemar membaca umumnya adalah anak-anak yang mempunyai lingkungan dimana orang-orang di sekelilingnya adalah juga gemar membaca. Mereka meniru ibu, ayah, kakak atau orang-orang lain di sekelilingnya yang mempunyai kebiasaan membaca dengan baik tersebut.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dengan demikian maka orang tua dan guru dituntut untuk bisa memberikan contoh-contoh keteladanan yang nyata akan hal-hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;"> </p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Kreatif</span></em></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Anak-anak pada dasarnya adalah kreatif.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Mereka memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif, misalnya : rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi risiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal yang baru, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Namun sering dikatakan bahwa begitu anak masuk ke sekolah, kreativitas anak pun semakin menurun. Hal ini sering disebabkan karena<span> </span>pengajaran di TK atau SD terlalu menekankan pada cara berpikir secara konvergen, sementara cara berpikir secara divergen kurang dirangsang.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dalam hal ini maka orang tua dan guru perlu memahami kreativitas yang ada pada diri anak-anak, dengan bersikap luwes dan kreatif pula.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Bahan-bahan pelajaran di sekolah, termasuk bahan ulangan dan ujian hendaknya tidak sekedar menuntut anak untuk memberikan satu-satunya jawaban yang benar menurut guru atau kunci. Kepada mereka tetaplah perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya secara “liar” , dengan menerima dan menghargai adanya alternatif jawaban yang kreatif.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Begitu pula orang tua di rumah, hendaknya tidak selalu hanya memaksakan kehendaknya terhadap anak-anak, namun secara rendah hati tetap harus menerima gagasan-gagasan anak yang mungkin tampaknya aneh dan tak lazim. Sebab hanya dengan demikian anak pun terpacu untuk belajar dengan motivasi yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Anak-anak yang dihargai cenderung akan terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang secara lebih optimal sehingga pada akhirnya nanti mereka akan lebih siap dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan-tantangan di masa depannya kelak.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Outing Akhir Kelas 3]]></title>
<link>http://sekolahalamjogja.wordpress.com/?p=481</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 06:09:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>sditalam</dc:creator>
<guid>http://sekolahalamjogja.id.wordpress.com/2008/05/14/outing-akhir-kelas-3/</guid>
<description><![CDATA[Di penghujung semester genap ini, kelas III melaksanakan outing terakhirnya. Kemanakah outingnya ? T]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Di penghujung semester genap ini, kelas III melaksanakan outing terakhirnya. Kemanakah outingnya ? Tentu menyesuaikan dengan tema yang dipelajari di semester genap ini. Bumi dan Pekerjaan temanya. Untuk mengetahui bumi lebih dalam sangatlah pas dengan berkunjung ke BMG. Apakah BMG itu ? kependekan dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Letaknya di jalan Wates km. 8 dusun Jitengan Balecatur Gamping Sleman Yogyakarta. Perjalanan menuju ke BMG sedikit butuh perjuangan. Habisnya, lokasi di atas bukit membuat jalan yang dilewati banyak menanjak. Sedangkan jalannya tidaklah lebar, dilewati minibus tersisa sedikit. Manakala berpapasan dengan mobil, salah satu harus mengalah untuk jalan lebih dahulu.<br />
<a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/copy-of-dsc_16412.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-482" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/copy-of-dsc_16412.jpg" alt="" width="444" height="294" /></a><br />
Di BMG kami disambut dengan hangat oleh para karyawan di sana. Setelah rapi berbaris, kami dipersilahkan masuk ke ruangan untuk mendapatkan penjelasan tentang bumi. Apa itu bumi, matahari, bagaimana gempa bumi terjadi dan cara penyelamatannya, bagaimana Tsunami yang dahsyat serta cara penghindarannya dan yang terakhir, Apakah angin ribut itu.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_16751.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-484" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_16751.jpg" alt="" width="441" height="297" /></a><br />
Setelah diterangkan panjang dan lebar, kami diajak pergi ke taman. Tapi, taman yang satu ini berbeda dengan taman pada umumnya. Kalo umumnya taman dipenuhi dengan tanaman bebungaan. Taman ini malah dipenuhi dengan alat-alat yang terbuat dari listrik. Taman Klimatologi namanya.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/copy-of-dsc_1668.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-485" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/copy-of-dsc_1668.jpg" alt="" width="435" height="288" /></a><br />
Ada alat pengukur curah hujan. Alat ini juga berfungsi untuk mengetahui apakah banjir akan terjadi apa tidak. Bentuknya mirip tabung yang diberdirikan.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/copy-of-dsc_1673.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-486" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/copy-of-dsc_1673.jpg" alt="" width="446" height="296" /></a><br />
Ada juga bejana penguapan. Gunanya untuk mengetahui kelembapan udara. Bentuknya seperti kolam renang mini. Bunder dari besi cuma kecil. Ngukur air yang menguapnya gimana ya, kok gak kelihatan uapnya?</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1677.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-487" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1677.jpg" alt="" width="447" height="296" /></a><br />
Lha yang ini, alat untuk mengetahui letak matahari. Eh, ternyata matahari itu tidak selalu tetap letaknya. memang sih di atas kita tapi ternyata terkadang agak condong ke utara. Sekali waktu pas di tengah dan terkadang condong ke selatan. Alatnya berupa bola kaca yang di bawahnya diletakkan kertas berskala. Bola tadi fungsinya seperti kaca pembesar. Sehingga sinar matahari yang lewat semakin panas dan membakar kertas.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1684.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-488" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1684.jpg" alt="" width="444" height="294" /></a><br />
Kalo alat-alat yang awal tadi masih manual, harus dilihat pake mata langsung. Ternyata di sini juga telah dilengkapi alat pengukur cuaca digital. Sudah pake teknologi komputer. Alatnya digabung jadi satu terus datanya disalurkan ke komputer di dalam ruangan.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1704.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-489" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1704.jpg" alt="" width="442" height="293" /></a><br />
Selain itu, komputer juga disambung secara online. Sehingga kondisi cuaca di seluruh Indonesia bisa diketahui. Di ruangan komputer juga dilengkapi komputer yang bisa untuk ngomong jarak jauh, lebih keren disebut <em>teleconference</em>.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1694.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-490" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1694.jpg" alt="" width="446" height="296" /></a><br />
Setelah puas belajar cuaca di BMG. Perjalanan berlanjut ke dusun Jetak Sidoarjo tempat pusat industri anyaman bambu. Pertama, kita dibawa ke rumah Joglo Jogja yang didalamnya terdapat gamelan Jawa. Eh, ternyata kita diajari <em>nembang macapat</em>. Puisi Jawa. Anak-anak senang sekali, meski banyak yang kelahiran Jogja, tapi mendengar tembang <em>macapat </em> serasa sesuatu yang baru didengar.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1765.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-491" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1765.jpg" alt="" width="446" height="296" /></a></p>
<p>Selain itu kami juga diberi kesempatan untuk belajar menabuh gamelan. Ada yang namanya saron, kimpul, gender, kenong, gendang, gong dll. Pokoknya asyik deh.</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1826.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-492" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1826.jpg" alt="" width="445" height="296" /></a></p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1835.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-493" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1835.jpg" alt="" width="442" height="294" /></a><br />
Kesempatan terakhir, kita belajar menganyam bambu. Ternyata butuh ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Kata Bu Sarbini untuk menyelesaikan anyaman seluas 3 x 10 meter menghabiskan waktu 1 bulan. Tuh, bayangkan lama kan. Pokoknya outing kali ini dijamin puas. Meski tidak jauh tapi ternyata asyik juga. Alhamdulillah . . . .</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/dsc_1851.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-494" src="http://sekolahalamjogja.wordpress.com/files/2008/05/dsc_1851.jpg" alt="" width="445" height="296" /> </a></p>
<p>Yang mau materi Mengenal Meteorologi klik aja file di bawah ini untuk download :</p>
<p><a href="http://sekolahalamjogja.files.wordpress.com/2008/05/pres-met.ppt">Mengenal Meteorologi.ppt</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://edifrizaldarma.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 03:04:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>edifrizaldarma</dc:creator>
<guid>http://edifrizaldarma.id.wordpress.com/2008/04/20/9/</guid>
<description><![CDATA[
 
Belajar dari alam,
 
dari semut yang suka bekerja &amp; bekerjasama
 
dari lebah yang suka men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edifrizaldarma.wordpress.com/files/2008/04/img_0032.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-8" src="http://edifrizaldarma.wordpress.com/files/2008/04/img_0032.jpg?w=400" alt="belajar di alam" width="400" height="300" /></a></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:28pt;color:#0000ff;">Belajar dari alam,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"></span> </p>
<h2 style="margin:0;"><span style="font-size:x-large;font-family:Times New Roman;">dari semut yang suka bekerja &#38; bekerjasama</span></h2>
<p style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">dari lebah yang suka menolong</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">dari padi yang makin berisi makin menunduk</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">dari mangga yang jatuh ke bawah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">dari langit, dari gunung,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:20pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>                                         </span>dari …….<span style="color:#ff0000;">alam</span></span></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"><span style="color:#0000ff;"><strong>Dari alam kami belajar kehidupan</strong></span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bandung Students Learn from Farmers in Nature, Cultural Tour]]></title>
<link>http://grafindo.wordpress.com/?p=10</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 01:04:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>heryazwan</dc:creator>
<guid>http://grafindo.id.wordpress.com/2008/04/16/bandung-students-learn-from-farmers-in-nature-cultural-tour/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta Post: Wednesday, April 16, 2008  1:38 AM
Plowing, growing rice and cooking with wood stoves ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta Post: Wednesday, April 16, 2008  <em>1:38 AM</em></p>
<p>Plowing, growing rice and cooking with wood stoves are part of the daily routine for rural people. For students of Bandung International School (BIS), however, these tasks are a rare, once-in-a-lifetime experience.<!--more--></p>
<p>This not surprising, because most of the 45 BIS students following the nature and cultural tourism program in Sendangsari village of Kulonprogo, Yogyakarta, are foreign nationals with accustomed to a modern lifestylenot the life of hardship and toil in rural Indonesia.</p>
<p>"Enough, enough!" yelled Sabina, who had been driving a cattle-pulled plow for less than five minutes. The student from Denmark was shouting for help as she tried to get down from the plow. She was apparently disgusted at the sight of the cow peeing and emptying its bowels right in front of her.</p>
<p>"It's all right, miss,natural manure, beneficial to plants," said the plow driver while helping Sabina to descend.</p>
<p>But Sabina expressed her pleasure at taking a leisurely walk around the village and observing the cultivation process while familiarizing herself with local farmers' traditions.</p>
<p>Forgetting the cow dung, Sabina joined her classmates to try her hand at planting rice. "It's quite interesting. I once saw this in Sukabumi (West Java)," she said.</p>
<p>Tyler, a BIS student from Canada, looked at the muddy field intently, then plunged into the mire and gestured as though he was swimming.</p>
<p><span class="inline inline-left"><img class="image image-img_assist_custom" src="http://www.thejakartapost.com/files/images/sp18-b-1.img_assist_custom.jpg" alt="" width="300" height="200" /></span></p>
<p>"It feels like snow. The difference is that mud is warm and makes the body dirty," he remarked.</p>
<p>"Help me, help me.!" still another student cried as his legs slid down into the mud to his knees. Some of his friends came near but instead of helping, they jostled each other before finally falling together into the sludge, laughing.</p>
<p>Apart from learning local crop planting methods, the students were also introduced to rural community traditions, such as the use of the bedug, a big drum, as a means of communication to signal the start of a village meeting.</p>
<p>"In the city, residents keep their money at banks and can withdraw it any time through an ATM. Villagers save their money by raising cows," the students' guide explained. "Cattle constitute a form of savings for rural people and will be sold when they have urgent needs, just like in a bank transaction."</p>
<p><span class="inline inline-center"><img class="image image-img_assist_custom" src="http://www.thejakartapost.com/files/images/sp18-a-1.img_assist_custom.jpg" alt="A BIS students rides a traditional plow as a farmer assists the team. (JP/Tarko Sudiarno)" width="300" height="201" /><span class="caption"></span></span></p>
<p><span class="inline inline-center"><span class="caption">A BIS students rides a traditional plow as a farmer assists the team. (JP/Tarko Sudiarno)</span></span></p>
<p>Greening and replanting various plants, as well as an introduction to different wildlife species of Indonesia in the Yogyakarta Wildlife Rescue Center (PPSJ), were also part of the BIS students' village tour program.</p>
<p>They were taught how to feed animals, take care of them and release them back into their natural habitat. The animals were originally confiscated by authorized government agencies and placed under the PPSJ's care.</p>
<p>Jonas, a BIS history teacher, said the stroll around the village was very conducive to building a close relationship between teachers and students. He said this helped teachers to better understand the students' needs to create the best method of teaching.</p>
<p>"Such close association and awareness of what students want contribute to their learning process," stressed Jonas, who has been in Bandung since 1998 and has two children with his wife, who is from the area.</p>
<p>Observing traditional activities, he added, made students conscious of what it really meant to struggle for life.</p>
<p>"So far, (the students) have lived in big cities and most of them come from established families, enjoying pleasant living conditions and never before knowing the toils of life," he pointed out.</p>
<p>The village experience will increase their knowledge in addition to the science subjects they learned in class.</p>
<p>"After graduation, I hope they will have a broader perspective," Jonas said.</p>
<p>The educational benefits of the village tour were deemed extremely valuable to the students' education that it has been made into a regular activity.</p>
<p>"This program is part of the school curriculum and is regularly carried out to broaden students' horizons," Jonas said.</p>
<p>Meanwhile, PPSJ director Sugi Hartono revealed that the wildlife center, in cooperation with relevant agencies and local communities, was promoting cultural tourism in rural areas.</p>
<p>As we are in the hilly region of Menoreh, we call our cultural and nature tourism zone Menoreh Green Land," he said.</p>
<p>According to Hartono, Menoreh Green Land offers genuine rural tourism covering crop planting methods and local traditions. Visitors are also served typical foods that are unique to the area. The land's extensive hills and rapidly flowing rivers for rafting are also open to exploration in their natural conditions.</p>
<p>Since its founding in 2003, the PPSJ has accommodated 4,194 animals representing 54 species, of which 2,873 have been rehabilitated and released back to the wild. Among these animals are sea hawks (Haliatus leocogaster), pig-snout tortoises (Carettoscelis insculpta), bondol hawks (Haliastur Indus) and orangutans (Pongo pygmaeus).</p>
<p>Four hectares of the PPSJ's 14-ha area are reserved for wildlife conservation and the remainder for a variety of outbound games.</p>
<p>"We also aim to nurture a love of wildlife among students at an early age so that they will become a succeeding generation that cares for the ecosystem, rather than one that only exploits nature as is the case today," Hartono said.</p>
<p><span class="inline inline-center"><img class="image image-img_assist_custom" src="http://www.thejakartapost.com/files/images/sp18-e-1.img_assist_custom.jpg" alt="BIS students enjoy a leisure moment along a small road near Menoreh Hill, Yogyakarta. (JP/Tarko Sudiarno)" width="398" height="260" /><span class="caption"></span></span></p>
<p><span class="inline inline-center"><span class="caption">BIS students enjoy a leisure moment along a small road near Menoreh Hill, Yogyakarta. (JP/Tarko Sudiarno)</span></span></p>
<p>He also hoped an increase in tourists to the area would help improve the community's welfare.</p>
<p>"Local people can make extra income from their food stalls, homestays and the sale of handicrafts as souvenirs," continued Hartono.</p>
<p>"Although not all villagers are aware of the importance of tourism, through dialogs on its direct economic benefits, we are sure they will come to fully support the effort," he said.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=75</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 03:10:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/03/27/totto-chan-pendidikan-berbasis-kepribadian-1/</guid>
<description><![CDATA[Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu serin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Arial;"></span><i><span style="font-family:Arial;">Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering<span>  </span>kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana. </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-family:Arial;">Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang <span> </span>benar-benar baik, kau tahu itu kan ?” </span></i></p>
<p class="MsoNormal"><i><span style="font-family:Arial;">Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr.Kobayashi, mungkin aku akan dicap anak nakal, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung</span></i><span style="font-family:Arial;">.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><b><span style="font-family:Arial;">Oleh : Robert Manurung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">PERNAHKAH Anda membaca kesan seseorang yang begitu tulus mengagumi dan merasa berhutang budi terhadap gurunya, serta mencintai<span>  </span>sekolahnya di masa kecil, seperti diekspresikan Totto-chan di atas ? Mustahil! Apalagi di Indonesia, dimana sistem pendidikan yang ada justru “membonsai” anak-anak yang kaya imajinasi dan serba ingin tahu seperti Totto-chan--yang dengan gampang dicap “biang kerok di sekolah dan punya kelainan”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tentu ada juga murid atau mahasiswa di Indonesia yang membanggakan almamaternya. Tapi bisa dipastikan, apa yang mereka banggakan cuma hal-hal bersifat fisik dan kapitalistik; misalnya fasilitas serba wah yang dimiliki sekolah/kampusnya, status sebagai sekolah/perguruan tinggi unggulan; sekolah/kampusnya juara basket nasional, dan karena banyak anak orang kaya serta artis tenar di sekolah/kampusnya.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Semua itu tidak ada artinya dibanding Tomoe Gakuen yang dibanggakan Totto-chan, yang telah menyelamatkan dirinya dari ‘pembantaian” secara sistemik oleh sekolah konvensional. Didirikan oleh guru yang sungguh idealis, Sosaku Kobayashi, keunikan sekolah itu sudah tampak dan terasa sejak di pintu gerbang—berupa dua batang pohon, lengkap dengan ranting dan daun-daunnya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan konkret bahwa proses pendidikan harus intim dengan alam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tomoe Gakuen didirikan oleh Kobayashi di Tokyo pada 1937, beberapa saat setelah ahli pendidikan yang sangat mencintai anak-anak ini pulang dari menimba ilmu di Eropa. Jelas, ini adalah sebuah sekolah eksperimen. Sebenarnya, pada waktu itu Jepang sudah menganut sistem<span>  </span>pendidikan yang seragam secara nasional, tapi Tomoe Gakuen bisa tumbuh di luar sistem karena dijalankan secara sembunyi-sembunyi,<span>  </span>dan lantaran Kobayashi sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Kalau dikatakan bahwa Tomoe Gakuen adalah “sekolah buangan”, mungkin Anda yang telah membaca <i>Laskar Pelangi</i> akan segera teringat pada perjuangan anak-anak miskin di Belitung untuk bersekolah, yang dikisahkan dengan sangat mengharukan dalam novel karya Andrea Hirata itu. Tapi ada perbedaannya yang sangat mencolok, dimana problem utama Totto-chan dan para murid Tomoe Gakuen bukanlah kemiskinan, melainkan penolakan oleh sistem pendidikan konvensional yang mencap mereka sebagai “anak bandel, tidak bisa diatur, menyimpang dan biang kerok di sekolah.” <span>       </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Tapi sebenarnya, keistimewaan Tomoe Gakuen bukan sekadar lantaran sekolah itu bersedia menampung anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain, termasuk Totto-chan. Bukan pula karena ruang kelasnya yang lain dari pada yang lain, yaitu bekas gerbong kereta api, melainkan sistem pendidikannya yang berbasis kepribadian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">*<span>  </span>* *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">TOTTO-chan sebenarnya bukan anak yang nakal. Malah sebaliknya, dia anak kecil dengan perasaan yang sangat halus. Ketika anjing gembala Jerman yang sangat disayanginya, Rocky, menggigit telinganya sampai nyaris putus—saat mereka bermain”serigala” di kamarnya, yang dicemaskan Totto-chan bukan telinganya tapi kemungkinan Rocky diusir oleh Mama dan Papa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">"</span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Jangan marahi Rocky! Jangan marahi Rocky,”jerit Totto-chan sambil mendekap anjing kesayangannya itu, ketika Mama datang ke kamar karena terkejut mendengar jeritan anaknya.Roknya bersimbah darah dan telinganya yang menggantung terlihat sangat mengerikan. Rocky meringkuk di sudut kamar dengan ekor terkulai di sela kakinya, menatap sedih ke arah Totto-chan yang terus memeluknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Totto-chan memang sering melakukan perbuatan yang aneh, menjengkelkan dan mencemaskan bagi orang dewasa. Dia suka mengikuti imajinasinya dan bertindak impulsif karena dorongan keingintahuannya. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Anak perempuan kecil itu pernah terkubur semalaman dalam adukan semen. Celana dalamnya selalu sobek setiap pulang sekolah—karena kesenangannya menyuruk di bawah kawat duri dengan gerakan maju-mundur. Dan dia pernah menguras seluruh isi septic tank (bak pembuangan WC) di sekolah, cuma untuk mencari dompet cantiknya yang terjatuh ke tempat gelap yang sangat jorok dan bau itu. (<b><i>Bersambung</i></b>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span><br />
</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendidikan]]></title>
<link>http://indonesiaobserver.wordpress.com/2008/02/25/pendidikan-2/</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 16:09:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>rasredaksi</dc:creator>
<guid>http://indonesiaobserver.id.wordpress.com/2008/02/25/pendidikan-2/</guid>
<description><![CDATA[Sekolah Alam Ar Ridlo Semarang:
Tak Harus Berseragam, Tapi mendidik Anak jadi Jempolan
Laporan: Tauf]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#006600;font-weight:bold;font-family:arial;font-size:130%;">Sekolah Alam Ar Ridlo Semarang:</span><span style="font-family:arial;font-size:130%;"><br />
</span><span style="color:#006600;font-weight:bold;font-family:arial;font-size:130%;">Tak Harus Berseragam, Tapi mendidik Anak jadi Jempolan</span><br />
<span style="color:#006600;font-weight:bold;"><span style="font-family:arial;">Laporan: Taufik </span><span style="font-family:arial;">Citizen Journalist</span><br />
</span><br />
<a href="http://bp1.blogger.com/_gLeHE4hrnz8/R8EXNaAZ0KI/AAAAAAAAAiM/kuuZPAOXl08/s1600-h/sekolah+alam.jpg"><img src="http://bp1.blogger.com/_gLeHE4hrnz8/R8EXNaAZ0KI/AAAAAAAAAiM/kuuZPAOXl08/s200/sekolah+alam.jpg" style="float:left;cursor:pointer;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a><span style="color:#333333;"><span class="awal">I</span>de awalnya karena kontrakan habis dan tidak ada biaya untuk membangun gedung-gedung sekolah. Hingga akhirnya mengetahui dari siaran televisi ada sekolah dengan konsep alam terbuka sebagai tempat belajarnya,begitu Waka SD Sekolah Alam Ar-Ridho, Desy Ervina SKM mulai bertutur.</span><span></span></p>
<p><span style="color:#333333;">Embrio sekolah alam Ar-Ridho adalah TK Islam Terpadu yang berlokasi di Perum Bukit Kencana Jaya Blok C pada 1995-2000. Pada awal hingga pertengahan 2000 itulah terjadi perubahan yang signifikan pada konsep dan praktik manajemen sekolah. Referensi awal dan utama bagi para guru adalah sekolah alam Ciganjur Jakarta yang disaksikannya lewat televisi. Tidak menunggu lama, mereka lantas melakukan studi lapangan di Ciganjur untuk mengenal lebih dekat konsep dan tujuan pembelajaran yang “beda” dari sekolah kebanyakan.<!--more--></span><span style="color:#333333;"></span></p>
<p>Dengan dimotori 4 guru eks TKIT, mulai menggodog konsep tersebut untuk disesuaikan dengan kondisi yang ada di Semarang. Dengan langkah mantap maka sekolah alam Ar-Ridho mulai menancapkan kukunya di Jl Bukit Kelapa Sawit I Blok AA Perum Bukit Kencana Jaya. Langkah awal adalah mengumpulkan orangtua wali murid untuk sosialisasi konsep sekolah alam.</p>
<p>“Mungkin belum menjadi hal yang lazim di Semarang, sekolah kok tidak pake seragam, lesehan, dan kelasnya terbuka,” tuturnya tersenyum. Di luar dugaan orang tua wali murid mempercayakan kepada kami pendidikan anak-anak mereka dengan konsep pendidikan yang berbeda, meski ada juga yang kurang sependapat dengan konsep baru itu, tambahnya. “Baru pada tahun kedua target kelas kami terpenuhi dengan jumlah siswa mencapai 24 orang.”</p>
<p>Sebagai sekolah yang “tidak umum” awalnya diknas hanya memandang sebelah mata, namun sekarang setelah ada bukti konkret lulusan yang dihasilkan diknas sudah terbuka bahkan sering melakukan pembinaan langsung ke sekolah itu. “Kami tetap menggunakan kurikulum diknas sebagai acuannya, namun kami sesuaikan dengan konsep sekolah alam,” terangnya. Konsep belajar diluar ruangan akan memacu kreatifitas siswa karena mereka akan melihat langsung kondisi riil yang ada. Dalam setiap tema pembelajaran, tambahnya, kami selalu menggunakan sistem integral sehingga semua mata pelajaran bisa ter-cover, tanpa mengesampingkan kurikulum baku dari diknas. Dengan media spider web siswa akan terkondisikan untuk berfikir logis untuk delapan aspek, karena fungsi media pembelajaran itu adalah untuk memetakan pikiran sesuai dengan mata pelajaran dari suatu tema yang diambil.</p>
<p>Adanya tambahan observasi ke alam menurut wanita asal Tegal itu, tidak akan mengurangi waktu belajar bagi siswa karena di sekolah alam Ar-Ridho memberlakukan jam pelajaran yang lebih lama dari sekolah pada umumnya. “Kelas I dan II waktu belajarnya dari 07.00-12.30, sedangkan kelas III-VI dari 07.00-15.30, itu waktu yang cukup lama untuk menggabungkan kurikulum diknas dengan konsep sekolah alam,” terangnya.</p>
<p>Pengembangan potensi siswa dengan konsep belajar di alam juga diamini oleh Guru Kelas V, Tri Hartini SKM (23), yang mengatakan bahwa usia SD adalah dimana siswa lebih suka bermain daripada belajar. Sehingga konsep belajar sambil bermain di alam akan membangkitkan anak untuk berekspresi, mengeluarkan pendapat dan kemampuan imajinasi spasial anak. “Kemampuan mereka akan langsung terlihat ketika terjun langsung ke alam, atau dengan kata lain kemampuan interpersonal akan mudah diamati oleh guru pembimbingnya,” tutur wanita asal Purworejo itu.</p>
<p>Proses belajar di alam, tidak terbatas mengamati dan menganalisa, melainkan siswa juga turut terjun untuk melakukan dan merasakan secara langsung kegiatan outbond. Dengan outbond siswa akan terpacu kecakapan dirinya baik fisik maupun mental sehingga bisa menumbuhkan kerjasama tim yang solid.</p>
<p>Dengan perbandingan guru dan siswa 2:25, maka proses belajar mengajar akan dirasa efektif karena guru akan lebih bisa memperhatikan kondisi dari setiap siswanya. Hingga kini jumlah guru yang mengajar di sekolah alam Ar-Ridho berjumlah 28 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.</p>
<p>Dengan biaya pendidikan yang terjangkau, kini jumlah siswanya TK sebanyak 117 orang, SD sebanyak 218 orang, dan SMP sebanyak 40 orang, yang berasal dari berbagai daerah di Semarang. Romadlon kelas V SD, mengaku senang sekolah di SD Ar-Ridho karena bisa belajar sambil bermain, bisa makan pada waktu di kelas, dan duduk santai lesehan. Siswa asal Gedawang itu mengaku sekolah di sekolah alam Ar-Ridho sejak masih TK.\<br />
<span style="font-weight:bold;"></span></p>
<div><span style="color:#660000;"><br />
</span></div>
<p><a href="print(document)"><img src="http://i246.photobucket.com/albums/gg85/rasredaksi/printer-copy.jpg" alt="print this page" border="0" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
