<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>satu-fase &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/satu-fase/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "satu-fase"</description>
	<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 17:30:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hari-Hari Ini.....]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=190</link>
<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 04:13:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/08/08/hari-hari-ini/</guid>
<description><![CDATA[Hari-hari ini&#8230;..
tak ada konsentrasi untuk menterjemahkan pikiran dalam huruf,
tak ada keingin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari ini.....</p>
<p>tak ada konsentrasi untuk menterjemahkan pikiran dalam huruf,</p>
<p>tak ada keinginan untuk duduk disini lama-lama,</p>
<p>tak ada waktu untuk mengunjungi aneka tulisan menarik.........</p>
<p>aku pasti rindu kalian.......dan ingin mengenal lebih dekat teman baru yang mengulurkan tangannya tanpa sempat tersambut.........maafkan saya.......</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Emak.......]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=153</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 01:25:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/04/24/anak-emak/</guid>
<description><![CDATA[&#8221; Mas, minggir&#8230;aku yang disitu, deket ibu&#8230;.maaaasssss&#8230;&#8221;
&#8221; Apa si]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><strong>" Mas, minggir...aku yang disitu, deket ibu....maaaasssss..."<br />
" Apa sih, disitu kan juga bisa.......aku duluan yang disini..."<br />
" Nggak mau.....aku mau deket ibu....nggak bisa tidur kalo nggak deket ibu !"</strong></span></p>
<p><strong>BLESSSS...........NYEESSSSS......*suara nancep dan adem di dada, dan bikin makin males lama-lama depan komputer....*</strong></p>
<p><strong>( aaaaah...aku harus bikin bulletin...mestinya nulis......"adheeek....main sini yuk ama ibu"....)</strong></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong></strong></span><a href="http://endangcinta.wordpress.com/files/2008/04/picture1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-154" src="http://endangcinta.wordpress.com/files/2008/04/picture1.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malas dan Cemas]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=151</link>
<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 23:48:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/04/15/malas-dan-cemas/</guid>
<description><![CDATA[Ah&#8230;..aku sedang sangat malas. Dan tak peduli. Pada aneka bentuk tulisan, milikku atau milikmu.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ah.....aku sedang sangat malas. Dan tak peduli. Pada aneka bentuk tulisan, milikku atau milikmu. Tulisan ini ada hanya karena aku tak tahu harus bagaimana mengatur irama hati. Sejujurnya matahari, aku hanya ingin menikmati hadirmu dengan sabar dan tanpa target. Tapi duniamu tempatku juga berada, kadang tak mengerti.</p>
<p>Kalau pagi terbawa dalam setiap kehadiran matahari, selalu kupandang langkah kekasih kecilku yang makin mantap dalam harapnya. Kadang ada kerikil kecil di ujung kakinya, kecil namun bisa membuat kulit jarinya terkelupas. Aku hanya memandangnya, karena disana dia belajar merawat luka karena kerikil itu. Tapi pandangan ini bukan kosong, karena kalau kau jeli mendengar desahku dan gerak bulu mataku, disana ada pandangan seorang ibu. Dan setiap teriakan yang terdengar adalah juga teriakan seorang ibu.</p>
<p>Ya, Gusti......aku tahu bahwa kekasih kecilku bukan sebentuk adonan donat yang ada semata karena tanganku. Tetapi kuinginkan tanganku banyak meninggalkan jejaknya disana, dan mudah-mudahan baik baginya. Adonan yang kugiling ini dipenuhi dengan hati penuh cinta. Ketika tak ada cemas di matanya, kau bisa melihat cemas itu di mataku. Justru karena terlalu banyak yang sudah kusaksikan dan dia baru belajar membuka mata. Ya, ya, aku tahu..........semua harus kuserahkan padaMu dan padanya sendiri. Hanya biarkan saja aku menikmati masa ini, hal baru yang dulu bahkan tak pernah kubayangkan bagaimana akan kurasakan.</p>
<p>Kau tahu, di akhir setiap pandang dengan pendar kecemasan ini, selalu kutingkahi hari dengan satu pelukan. Pelukan besar setiap kali dia berpaling padaku dan bertanya apa yang kurasakan. Pelukan dengan keinginan berlama-lama setiap kali dia datang dengan kerinduan padaku setelah hari lelahnya.</p>
<p>Matahari, aku ingin berdiam dulu entah berapa lama. Menikmati setiap inci sinarmu dengan degup jantung keibuanku..........</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kembali ke Peradaban Cinta]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=149</link>
<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 23:20:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/04/05/kembali-ke-peradaban-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Perawakan kecil tapi liat, tegap dan gagah sebagai perempuan, membuat penampilanku tampak sangat seh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Perawakan kecil tapi liat, tegap dan gagah sebagai perempuan, membuat penampilanku tampak sangat sehat. Aminah misalnya, jika ditanya  kesannya tentangku, maka biasanya dia menyebutku sehat sekali dan cenderung menjulukiku sebagai atlet. Sebagian lain mengatakanku sebagai bola bekel. Apa sajalah, muaranya tetap pada diri yang selalu tampak sehat dan segar. Maka, jangan ditanya ketika pengalaman pertama kali pingsan dahulu kala, berapa banyak yang bertanya bagaimana aku bisa sakit. Tak terkecuali guru olahraga yang mestinya lebih proporsional menilai, toh tergelincir juga dengan pertanyaan begitu. Tidak, bukan jumawa selain mencoba mengurai kesempatan langka dalam hidup.</p>
<p>Tapi kurun waktu sepuluh hari terakhir ini, hal yang bisa aku lakukan hanya tidur. Dan di pertengahan waktu itu bahkan harus dihabiskan di sebuah kamar yang bukan kamarku, tetapi lengkap dengan selang infus dan kunjungan suster dan dokter secara berkala. Ada rasa geli dalam dada ketika semuanya berubah serius begitu. Ada keperkasaan yang terlepas begitu saja tanpa dikehendaki. Sekaligus juga sedikit kelegaan bahwa memang aku cuma manusia biasa yang harus menyerah kalah pada teriakan tubuh sendiri.</p>
<p>Di luar semua itu, rasanya semakin banyak saja cinta berpendar dan kuterima. Perlakuan layak seorang suami yang mencintai istrinya, seperti yang bisa diterima semua istri di dunia dari para suami mereka, itu tak perlu dipertanyakan. Uban mengelap badanku, mengurangi waktu kerjanya di kantor, tiap sebentar memegang kepala, menggantikan pakaian yang basah, membuatkan minuman dan mencarikan makanan pembuka selera. Belum lagi dia harus bangun lebih pagi dan mempersiapkan keperluan sarapan kekasih-kekasih kecil kami berikut minuman pagiku. Apa yang bisa lebih sempurna dari cinta itu?</p>
<p>Atau kekasih-kekasih kecilku dengan pesan-pesannya untuk tetap beristirahat saja. Ciuman perpisahan menjelang berangkat sekolah dan kerinduan saat pulang sekolah. Si bungsu yang tak mau berjauhan danselalu menanyakan apa yang kubutuhkan, atau si sulung yang siap melakukan apa saja di tengah kesibukannya mempersiapkan berbagai ujian. Apa yang bisa lebih sempurna dari semua kasih itu?</p>
<p>Aku punya banyak cinta dalam kehidupanku. Mataairnya tak henti mengalir dari tiap hati orangtua, adik, kakak, keponakan dan teman yang selama ini kepada mereka sudah kuberikan hatiku. Maka, ketika perawakan kecil sehat ini harus tersungkur, semuanya bukan apa-apa selain pembuktian cinta. Ada teman yang tak bersikap layaknya teman, maka itupun pembuktian tentang cinta-cinta yang tak pernah sia-sia ditebarkan karena mampu memilihkan yang terbaik untukku.</p>
<p>Tubuh ini mungkin sedang lelah amat sangat dan perlu banyak waktu untuk memulihkan diri. Tapi hati ini justru makin bekerja keras untuk mencintai. Bukan untuk meminta lagi pada saat yang berbeda, tapi hanya demi sebuah hati yang damai dan penyembuh utama di kala gundah.</p>
<p>Pagi ini terasa lebih indah di pandangan mataku yang masih sedikit bergoyang...........</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gelap Hujan, Ku Menepi]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=136</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 04:53:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/02/18/gelap-hujan-ku-menepi/</guid>
<description><![CDATA[Lama sekali tak kudapatkan tawa matahari merangkul peraduanku, membangunkanku dari mimpi lelap melen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">Lama sekali tak kudapatkan tawa matahari merangkul peraduanku, membangunkanku dari mimpi lelap melenakan. Yang ada hanya gelap, dingin, dan semuanya menjadi sendu. Jangan heran ketika mata makin rapat membeku, dan segala otot kaku mengejang.Pelukan hangat kekasih, keriangan reriungan yang ada, seperti semu. Dan kudengar banyak pintu menutup, entah mengapa. Gelapnya menyelimuti, hujan pelakunya dan dingin menjadi permaisuri, mendorong semua orang berselimut saja. Sedangkan dunia harus berputar dan tiap kaki harus mau berjalan. Meski kau cinta diam, langkah melesat itu perlu. Coba pikirkan, bagaimana kau ingat tentang senyum ketika kebanyakan hari, mulutmu tertarik beku.</p>
<p>Yah........seperti aku sekarang, yang hanya ingin mencari sebuah sinar. Tidak, aku cinta tanahku berpijak yang selama ini menampungku duduk berdiri dan rebah badan. Tak akan kutinggalkan. Tapi anginnya terlalu kencang disana, membawaku menciumi bunga dari ladang lain. Aku tak ingin membuat orang tersesat, maka biarlah tempat gelap itu untukku sendiri. Tanah pertamaku, cinta pertamaku.............</p>
<p>Kau ingin tahu, kemana ku menepi dari gelap dan dingin ini ? Jejak kakiku bisa membawamu ....</p></div>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
