<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>rahmatan-lil-alamin &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/rahmatan-lil-alamin/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "rahmatan-lil-alamin"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 11:17:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kekerasan Atas Nama Agama]]></title>
<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 17:43:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>kodim</dc:creator>
<guid>http://pinggirmalam.id.wordpress.com/2008/06/25/kekerasan-atas-nama-agama/</guid>
<description><![CDATA[Beragama seperti berpijak di dua sisi mata uang. Di sisi pertama, agama diandalkan sebagai basis mor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Beragama </strong>seperti berpijak di dua sisi mata uang. Di sisi pertama, agama diandalkan sebagai basis moral bagi umat manusia. Agama mengejawantahkan manusia untuk hidup rukun, menancapkan pesan ke-Tuhan-an kepada segenap penduduk bumi bahwa setiap perbuatan perusakan dan kezaliman akan diganjar setimpal pada kehidupan lain. Agama dalam dimensi ini, tentu saja, dipenuhi oleh pesan keselamatan (salam) bagi sesama makhluk.</p>
<p>Di sisi lainnya, agama justeru sering dijadikan alat untuk melegalkan setiap bentuk kekerasan. Ini karena menancapkan pesan ke-Tuhan-an sering diadaptasi secara salah oleh para pemeluk agama itu. Agama pada sisi ini hadir dengan wajah yang sangat menakutkan.<!--more--></p>
<p>Keselamatan sekaligus ketakutan tentu saja tidak mungkin dipertemukan dalam logika penafsiran dogmatika. Sebab demikian, ambiguisitas ini bisa dibaca sebagai konstruk wacana keagamaan yang tidak bisa hanya berdiam diri di medan supra logika.</p>
<p>Agama memang tidak sekedar dogmatika, ia disusun oleh berbagai kekuatan logika penafsiran, mitos, eklektisisme budaya yang dipraksiskan secara massif dan tentu saja mengundang heroisme akan klaim kebenaran (truth claim). Kekerasan atas nama agama dengan demikian menyiratkan sebentuk penangkapan dan penafsiran pemeluknya terhadap pesan ke-Tuhan-an yang diikuti beragam mitos akan klaim kebenaran. Oleh karena itu, pesan Tuhan bakal gagal didialogkan dengan perkembangan peradaban manusia.</p>
<p>Di ruang praksis, kita menyaksikan bagaimana pesan dogmatika sering digandengkan dengan parang yang diangkat dan pedang yang dihunuskan, untuk menandai bahwa mengkampanyekan pesan Tuhan dengan cara kekerasan merupakan perang suci (holy war) yang akan mendapat ganjaran mulia di sisi Tuhan. Saksikan saja bagaimana heroisnya para moralis yang menerjemahkan amar makruf nahi munkar dengan cara memporak-porandakan tempat pelacuran, menyerang tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat sembari banyak melanggar hak asasi manusia, hak ekonomi, hak politik, bahkan hak-hak perempuan. Bagaimana mungkin teologi keberagamaan ditegakkan di atas pelecehan hak asasi, dan hilangnya sumber pencaharian sebagaian orang yang dikafirkan?</p>
<p>Wacana keagamaan pada gilirannya menjadi sedemikian harmonis dengan perilaku kekerasan para pemeluknya. Paradoksal ini seperti sebuah langkah kompromi terhadap kekerasan, yang dihalalkan untuk menegakkan supremasi ke-Tuhan-an.</p>
<p>Padahal mengawinkan kesucian dogmatika dengan kekerasan ternyata tidak hanya bertentangan dengan nalar keagamaan sendiri, lebih menyesatkan lagi, ini melanggar hakikat kemanusiaan. Pada saatnya, tidak menuntut kemungkinan agama akan diabtraksikan sebagai utopia cita-cita hidup yang penuh dengan keselamatan (lewat jalan penuh kekerasan).</p>
<p>Bagai mempertemukan minyak dan air, paradoks tersebut memformulasi anomali perilaku keagamaan. Sebab menawarkan kedamaian dan keselamatan mencederai kemanusiaan dan mewariskan kesengsaraan ekonomi, tidak akan mengokohkan supremasi ke-Tuhan-an di tengah krisis kemanusiaan.</p>
<p>Agama kemudian tidak sekedar dijalankan dalam kerangka pemahaman yang sangat sempit, justeru perilaku keberagamaan akan semakin meninggalkan subtansi penegakan teologi di tengah-tengah perkembangan kebudayaan yang begitu cepat. Dogmatika, perilaku keagamaan, dan perkembangan budaya pada gilirannya menampilkan sebuah dialog asimetris.</p>
<p>Dogmatika agama tidak hanya gagal di tataran inklusivisme antar teks keagamaan, lebih tragis perkembangan semakin mengekspresikan sikapnya yang antipati terhadap berbagai keberatan dogmatik. Ini harga mahal yang harus dibayar manakala agama ditampilkan dengan wajah yang menakutkan. Banyak dimensi agama yang terberangus akibat anarkisme pemeluknya yang kurang arif menyikapi dinamika budaya.</p>
<p>Di aras sosiologinya, agama gagal menyikapi kesenjangan simbol dan perilaku. Di tengah-tengah masyarakat agama tampil secara tidak ramah, untuk menyapa berbagai bentuk ketimpangan sosial-ekonomi. Kemiskinan, prostitusi, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, dan maraknya pornografi dikutuki secara hitam-putih sebagai najis yang perlu disingkirkan. Padahal orang-orang yang menajiskan berbagai ketimpangan itu sebenarnya tidak pernah benar-benar bersemangat untuk menawarkan solusi lain yang lebih ramah terhadap kemanusiaan, kecuali dengan cara kekerasan. Agama kemudian menjadi sedemikian tumpul terhadap berbagai gejolak ketidakadilan sosial-ekonomi yang justeru terjadi di sekeliling tempat dimana simbol-simbol agama ditancapkan.<br />
<strong><br />
Binary Opposition</strong><br />
Pada dimensi ideologis, agama yang terlanjur diideologikan juga bersinggungan dengan ideologi kemanusiaan yang sifatnya universal. Agama yang sering ditampilkan secara tidak ramah di tengah-tengah ketimpangan sosial, secara ideologis dianggap cacat karena mengabaikan kemanusiaan atas nama kesucian dogmatika.</p>
<p>Dalam konstruksi wacana keagamaan demikian, agamawan biasanya tergiring pada ruas konflik yang cenderung binary opposition, antara hitam-putih, suci-najis, santri-abangan, dan surga-neraka. Agama kemudian dianggap tidak peka terhadap dinamika kehidupan yang dimaknai ebagai etika untuk menghargai kemajemukan (pluralitas).</p>
<p>Dalam logika kemajemukan inilah nalar konflik berhadap-hadapan yang dibasisi oleh pemahamana agama yang sempit tersebut, dianggap sebagai cara tradisional dalam menyikapi dinamika itu, karena menegaskan nilai-nilai kemanusiaan dengan dalih menjaga kesucian dogmatika di atas perbuatan najis kaum abangan.<br />
Harga mahal tersebut secara eksistensial tidak menguntungkan agamawan, yang mempersonifikasi diri sebagai penerus cita-cita islam. Mereka terlanjur sangat percaya bahwa risalah kenabian hanya bisa ditegakkan dengan cara mengangkat parang sementara nalar berfikir mereka masih sangat terkungkung oleh sistem pertandaan yang mereka ciptakan sendiri. Berkopyah dan bersurban nampaknya tidak pernah menjamin subtansi keberagamaan. Sebab simbol keberagamaan itu sering dijadikan legitimasi tindak kekerasan atas nama agama.</p>
<p>Dan secara politik, wacana kekerasan atas nama agama juga sering memancing kekuatan negara atau kelompok kepentingan untuk membangun jalur hegemoni kekuasaan dengan memanfaatkan keruhnya wacana keberagamaan. Dalam kasus politisasi agama ini, Indonesia memiliki catatan buram yang cukup panjang. Sebuah konstelasi agama-negara yang tumpang tindih. Selama puluhan tahun pernah dipraktikkan Orde Baru demi melegitimasi status-quo kekuasaan.</p>
<p>Agama tidak lebih hanya sebagai simbol yang dipajang di semua institusi negara, sementara ruhnya dibuang jauh-jauh dari kesadaran keberagamaan. Ini karena negara sebenarnya tidak pernah serius mengayomi kehidupan keberagamaan di Indonesia. Pada saat yang bersamaan konflik antar agama sesekali waktu bisa diledakkan sendiri oleh negara, guna menciptakan ketergantungan kaum agamawan terhadap itu.</p>
<p>Demikianlah, wacana kekerasan dan pendekatan fasis dalam menegakkan pesan ke-Tuhan-an, dalam banyak hal sebenarnya tidak pernah menguntungkan, disamping tidak juga direstui oleh semua agama untuk dijadikan sebagai alat dan dalih menyelamatkan manusia dari apa yang disebut kekafiran.</p>
<p><strong>Mengurai Konflik Antar Agama</strong><br />
Sejatinya, tak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan tentang kekerasan. Memberi keselamatan, cinta, perdamaian, dan saling mengasihi adalah pesan universalitas yang sebenarnya bisa mengikat agama-agama tersebut dalam harmonitas yang dilambari dengan sikap toleransi. Namun, pada realitasnya tidak demikian. Pesan itu seolah hanya menjadi jimat suci yang disakralkan tanpa diturunkan ke dataran praksis yang bisa dijelmakan dalam laku dan sikap keberagamaan.</p>
<p>Dalam konteks Islam sendiri, Islam sebagai agama di turunkan ke muka bumi ini dengan pesan mulianya yaitu sebagai rahmatan li al alamin. Rahmatan li al alamin disini tentu tidak sebatas hanya untuk umat Islam sendiri tapi juga untuk agama lain, bahkan seluruh alam semesta. Ini artinya, Islam dan semua agama mengakui akan kemajemukan (pluralitas). Bahwa hidup itu tidak homogen, hanya disusun dari satu golongan atau satu agama saja, melainkan berlaksa-laksa agama dan golongan.</p>
<p>Pesan ini tentu kontradiktif dengan kenyataan yang ada di depan mata kita, utamanya dalam konteks Indonesia. Kekerasan atas nama agama kemudian merebak dimana-mana, bak jamur di musim penghujan. Peradaban bangsa ini pun akhirnya dipenuhi dengan ketegangan, ketidakharmonisan dan sentimen antar agama. Ini tentu saja praktek keberagamaan yang justeru memungkiri eksistensinya masing-masing yang secara kerdil coba mengenyahkan pluralitas. Padahal pluralistas adalah sebuah keniscayaan hidup yang tidak bisa dipungkiri dan ditampik. Jadi, usaha untuk mengenyahkan pluralitas adalah peragaan sikap yang sungguh tidak arif.</p>
<p>Dalam sepanjang sejarah, perang, konflik, pertikaian antar agama lebih dilatari oleh perebutan kebenaran. Kebenaran dalam konteks ini tentu kebenaran menurut pemahaman dan interpretasi masing-masing agama. Dalam ranah ini, kebenaran dimaksudkan sebagai upaya untuk mengukuhkan superioritas agama tersebut untuk melegitimasi eksistensinya sebagai sebuah agama yang paling benar dari pada yang lain. Maka kebenaran itu harus dijaga, dipertahankan dan di tempatkan sebagai sesuatu yang tak terjamah dan tak tersentuh oleh siapa pun.</p>
<p>Tidak sekedar pola pertahanan secara defensif dan tertutup ini, namun yang lebih fatal lagi kebenaran yang dibentengi itu dipakai untuk menghakimi dan merendahkan kebenaran agama lain. Pun juga, dalam konteks tertentu –jika suatu agama itu jumlahnya terbesar dalam tempat tertentu—maka kebenarannya coba dipaksakan menjadi kebenaran tunggal yang harus juga diakui dan diterima oleh agama lain. Persis pada titik inilah, jalan apa pun bisa dipakai, termasuk kekerasan, dengan atas nama kebenaran agama.</p>
<p>Dari sini kita bisa mengajukan pertanyaan kenapa agama gagal membentuk manusia? Kenapa nilai universal yang suci dan mulia itu enggan dijelmakan menjadi laku dan sikap keberagamaan?  Ada sesuatu yang dasar dari situ. Pertama, agama merupakan teks pasif. Artinya, nilai-nilai agama baru akan terlihat apabila diaplikasikan oleh manusia. Dengan demikian, manusia punya posisi penting dalam menghidupkan agama.<br />
Kedua, kondisi keyakinan dan pemahaman manusia terhadap realitas yang berbeda-beda menyebabkan adanya interpretasi bias terhadap teks agama. Dengan demikian, sangat terbuka munculnya tafsir-tafsir yang mungkin tidak sesuai dengan pokok ajaran agama. Ingat sebuah tafsir tidak mungkin melompati rezim kuasa-pengetahuan, latar sosio-kultur dan politik. Dengan demikian proses penafsiran bisa di sesuaikan dengan kepentingan. Dan ketiga adalah adanya hegemoni di dalam masyarakat, yang menempatkan orang-orang “berilmu” sebagai kelompok dominan. Agama hanya direpresentasi oleh segelintir orang, yang sekaligus dijadikan rujukan oleh masyarakat.</p>
<p>Tidak hanya konflik antar agama. Konflik dalam tubuh agama itu sendiri kerap muncul. Lihat saja Kasus Lia Aminuddin, Ahmadiyah dan sederetan kasus lainnya. Kasus ini adalah cerminan dari sikap kebanyakan umat Islam yang belum sepenuhnya bisa menerima perbedaan.</p>
<p>Kenapa bisa demikian? Mungkin kita sudah menangkap gejala yang ada belakangan ini bahwa kecenderungan fundamentalistik di kalangan umat Islam Indonesia semakin kentara. Salah satu ciri dari fundamentalisme adalah upaya untuk kembali pada pada suatu keyakinan murni dengan jalan mempurifikasi, membersihkan ajaran dari segala anasir historis yang bisa mendistorsi ajaran. Celakanya, fundamentalistik itu mengarah pada radikalisme dengan menempatkan yang lainnya sebagai musuh yang dikhawatirkan akan bisa mencemari ajaran agamanya.</p>
<p>Hal itu diperparah lagi oleh posisi dan sikap negara yang ambigu. Satu sisi negara menjamin kebebasan berkeyakinan seperti yang tertuang dalam UUD 1945, Pasal 28E ayat (2). Namun sisi lain, agama tidak sekedar mengabaikan konstitusi tersebut tapi lebih jauh lagi, dalam beberapa kasus, negara justru memeprlihatkan kebengisannya dengan merampas keyakinan warganya. Hasrat negara untuk berselingkuh dengan ruang agama tampaknya begitu besar. Hal ini yang menyebabkan relasi Agama-Negara menjadi kabur dan berkelit-kelindang.</p>
<p>Persoalan agama memang menjadi sangat pelik dan sensitif sekaligus membahayakan. Jika agama dipahami dengan spirit pluralisme yang ditambatkan pada nilai universal, maka agama akan menjadi jalan keselamatan. Namun jika agama dipahami secara kaku, untuk menggelar kekuasaan, maka agama akan jadi sumber konflik. Paling tidak itulah yang pernah diwanti-wanti oleh Harold Coward.</p>
<p style="text-align:right;"><em>tulisan ini pernah dimuat di koran Suara Indonesia (SI)</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran ]]></title>
<link>http://dewisang.wordpress.com/?p=51</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 02:55:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewisang</dc:creator>
<guid>http://dewisang.id.wordpress.com/2008/03/27/islam-dan-kreativitas-guru-dalam-metode-pembelajaran/</guid>
<description><![CDATA[Rakhmawati, dewi. 2007. Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran (Bab II). Makalah tidak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Rakhmawati, dewi. 2007. <em>Islam dan Kreativitas Guru dalam Metode Pembelajaran (Bab II). </em>Makalah tidak diterbitkan. Malang: Masjidil 'Ilm Bani Hasyim</p>
<p> <font color="#000000"></font><font size="3">Sekolah Islam memang menggeliat belakangan ini. Lembaga pendidikan ini tidak lagi dipandang sebelah mata, sebagai lembaga yang kolot dan 'puritan'. Maraknya para orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Islam belakangan ini, menurut pakar pendidikan yang juga mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Prof DR Hidayat Syarif merupakan fenomena yang sangat positif. ''Ini fenomena yang bagus. Dulu, sekolah sekolah ini tidak mampu bersaing,'' jelas Hidayat. Menurut mantan Deputi Sumber Daya Manusia (SDM) Bappenas ini, sekolah-sekolah Islam selain mengutamakan mata pelajaran umum yang sesuai dengan kurikulum Diknas, juga ditambah dengan mata pelajaran agama. Lebih khusus lagi, kata Hidayat, adalah pada penanaman moral, pendidikan akhlak. </font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><font color="#000000"></font><font size="3"><span>Alasan serupa dikemukakan psikolog dan pemerhati pendidikan anak, Seto Mulyadi. </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span>Menurut Kak Seto,</span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span> belakangan ini banyak lembaga pendidikan Islam yang telah meningkatkan kualitasnya dengan mengadopsi beberapa model atau kurikulum dari luar negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat dan lainnya. ''Semua baik, tapi yang penting harus dilakukan dengan prinsip </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span><i>for the best interest of the child</i></span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span> (demi kepentingan terbaik bagi anak), bukan bagi orang tua, guru, yayasan, dan sebagainya,'' jelasnya. Penulis setuju dengan pendapat Kak Seto, sumber informasi terpenting adalah dari sisi anak. Sekolah yang baik adalah baik menurut anak bukan baik menurut iklan. Pertanyaan mendasar adalah coba anak boleh melihat, mencoba, pada saat pendaftaran itu ada suasana untuk percobaan dan sebagainya lalu tanyakan kepada anak. Menurut dia bagaimana, enak </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span><i>nggak</i></span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span> di sekolah itu? Kalau dia suka silahkan didaftarkan. Orangtua jangan memilih sekolah hanya karena <em>prestise</em>. </span></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID"><font color="#000000"></font><font size="3">Sekolah Islam sebaiknya tidak mengajarkan ajaran-ajaran Islam dalam hanya sekadar dari sudut pandang orang tua. Misalnya orang tua nanti kalau berbuat ini dosa, kalau mengerjakan ini nanti masuk sorga. Jadi, akhirnya anak jadi objek untuk ambisi orang tua. Sejak dini anak memang harus dibekali dengan pendidikan agama, namun harus melihat metode yang dipakai. ''Pengajarannya bagaimana? Jangan lembaga Islam metode pembelajarannya dengan kekerasan sehingga membuat anak malah takut dengan agama. Mereka bisa anti produktif, tapi kalau Islam diajarkan dengan bernyanyi, dongeng, boneka, kegiatan bermain di taman yang menyenangkan, gurunya ramah, itu Islam akan sangat muncul dengan efektif pada diri anak.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><font color="#000000"></font><font size="3"><span>Metode pembelajaran merupakan kunci utama berhasilnya sebuah pendidikan. ''Ada sekolah Islam yang metodenya menyenangkan tapi tidak sedikit sekolah Islam yang metodenya kurang menyenangkan. Ini yang sangat disayangkan, akan memberikan gambaran yang keliru terhadap Islam.'' </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span>Anak pra sekolah, misalnya, belum saatnya dia ditakut-takuti kalau bolos, atau malas nanti masuk neraka. Anak-anak usia begini seharusnya dikenalkan bahwa Islam itu indah, sabar, kasih sayang, dan diberikan contoh konkret,'' ujarnya. Yang tak kalah pentingnya, papar Kak Seto lebih lanjut, peran orang tua dalam membimbing anak. Apalagi, seorang anak justru akan lebih lama bersama orang tuanya ketimbang guru. ''Orang tua harus menyadari bahwa pendidik yang paling utama adalah orang tuanya sendiri. Jadi, orang tua harus memainkan peranan penting terhadap pendidikan anak. Dimulai dengan keteladanan atau contoh, jangan menyuruh anak shalat tapi anak tidak shalat. Jangan menyuruh kepada anak kalau dari orang tuanya tidak ada keteladanan yang konkrit dari orang tuanya.'' Yang penting, kata Kak Seto, penekanannya bukan sekadar </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span><i>hablumminallah</i></span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span> tapi </span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span><i>hablum minannaas</i></span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span>. ''Kita memberikan kepada mereka bahwa ajaran Islam itu baik hati,'' ujarnya. Di rumah, hal itu bisa ditunjukkan oleh orang tua kepada anak. Ketika setelah shalat, misalnya, orang tua mendongeng bagi anak, bukan mengomel.</span></font><font color="#000000"></font><font size="3"><span> ''Dari situ ada asosiasi antara perilaku shalat dan kasih sayang ataupun suasana kehangatan emosional ibunya yang dirasakan sekali terhadap anak,'' ujarnya. <!--more--></span></font></p>
<p><font color="#000000"></font><font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3"><span><span>Islam sebagai </span></span></font><font color="#000000"></font><font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3"><span><i><span>rahmatan lil alamin sudah </span></i></span></font><font color="#000000"></font><font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3"><span><span style="font-style:normal;"><span>sewajarnya menerapkan apa yang dilakukan oleh Nabi di atas. Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah<br />
mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orangtua. Kekerasan sangat jauh dari nilai-nilai Islam, Islam mengajarkan kasih sayang, kepada yang di luar Islam harus saling menyayangi, apalagi kepada sesama muslim, sampai-sampai dikatakan bahwa sesama muslim laksana satu tubuh, jika ada bagian yang sakit maka sakitnya akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lain. </span></span></span></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;font-style:normal;" lang="id-ID"><font color="#000000"></font><font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3">Usia pra sekolah yang berlangsung pada usia 3-6 tahun menurut Erik H. Erickson, seorang tokoh psikoanalisis, memiliki dorongan yang kuat untuk menguasai lingkungan. Krisis yang dialami adalah <em>autonomy vs shame/doubt</em>. Jika dia berhasil dalam tahap berkembangan ini maka akan menjadi anak yang mandiri, namun jika gagal maka akan merasa malu dan ragu-ragu. </font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;font-style:normal;" lang="id-ID"><font color="#000000"></font><font face="Times New Roman, serif"></font><font size="3">Tugas guru pra sekolah adalah senantiasa secara kreatif menggunakan metode pembelajaran yang sesuai untuk membuat anak-anak menjadi <em>otonom</em>. Apapun itu metodenya, mendongeng, bernyanyi, yang penting dilakukan dengan menyenangkan. Bagaimana kita bisa membangun kontrol diri sebagai wujud kemandirian. Seperti metode yang digunakan oleh Erik H. Erikson dalam mendidik anak-anak yaitu metode Montessori adalah metode yang menekankan perkembangan inisiatif anak melalui permainan dan pekerjaan. </font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;line-height:150%;font-style:normal;" lang="id-ID">&#160;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WAJAR]]></title>
<link>http://blanknotebook.wordpress.com/2007/10/05/wajar/</link>
<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 09:47:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>ronnydm</dc:creator>
<guid>http://blanknotebook.id.wordpress.com/2007/10/05/wajar/</guid>
<description><![CDATA[“Menahan lapar dan haus….”
Adalah jawaban yang paling singkat dan umum jika kita ditanya tenta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>“Menahan lapar dan haus….”<br />
Adalah jawaban yang paling singkat dan umum jika kita ditanya tentang apa itu puasa.<br />
“Menahan semua nafsu yang membatalkannya….”<br />
Menjadi jawaban yang universal jika pertanyaan yang sama masih muncul karena ke-kurangpuas-an dari jawaban kita yang pertama.</p>
<p>Puasa bukan sekedar aktifitas, paling tidak menurut saya. Karena sebenarnya tidak bisa dijelaskan dengan kalimat singkat. Logikanya begini, jika definisi puasa hanya sekedar menahan lapar, haus dan menahan hawa nafsu, maka begitu kita berbuka seolah semua “tahanan” itu menjadi “halal” untuk dilanggar. Dan seolah lepas dari “tahanan”, banyak diantara kita yang saat berbuka tiba-tiba menjadi “bayi sehat” alias makan empat sehat lima sempurna tepat begitu beduk dipukul. Sehingga pada saat selesai berbuka selalu diikuti oleh aksi “kekenyangan” yang berdampak pada timbulnya rasa kantuk yang luar biasa, dan macam-macam sindrom lain yang mengarah pada ketidakproduktifan kita saat malam tiba untuk beribadah.</p>
<p>Kalo pengertian yang “keliru” ini masih sekedar diterapkan pada wilayah pribadi sih, masih tidak terlalu besar dampaknya, paling tidak kita sendirilah yang paling merasakan “akibatnya”. Tapi jika diterapkan pada tingkat komunal, maka jadi lain urusan karena sudah “bersinggungan” dengan kepentingan orang lain.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu pada bulan Ramadhan ini, sempat ramai diberitakan tentang aksi sweeping dan penutupan paksa warung-warung makan di siang hari. Kelompok tersebut, katanya punya alasan yang “logis” dan masuk akal (walaupun masih perlu diteliti lagi akal sehat atau bukan), bahwa selama bulan ramadhan aktifitas makan dan minum jangan sampai terlihat di siang hari. Implementasi dari aksi tersebut adalah dengan menutup paksa tanpa peringatan warung-warung (saya sendiri masih heran, kok cuma warung ? nggak restoran atau mall sekalian ?) yang ada di pinggiran jalan.</p>
<p>Kebetulan aksi tersebut diliput oleh beberapa stasiun tv yang akhirnya jelas terlihat bahwa aksi tersebut bukan aksi “simpatik”. Beberapa pedagang menyesalkan aksi tersebut karena diikuti oleh tindakan-tindakan konyol seperti mengambil panci dan kompor untuk masak dan merusak warung-warung mereka.</p>
<p>Dari sudut pandang kelompok tersebut, mereka menganggap bahwa warung makan yang buka di siang hari adalah “kurang” menghormati umat muslim yang sedang berpuasa. </p>
<p>Lalu apakah karena kita berpuasa, sehingga kita perlu marah dan bertindak keras jika ada orang lain yang “mengganggu” kelaparan dan kehausan kita di siang hari ?<br />
Sehingga menghalalkan kita untuk bertindak keras kepada orang lain  yang mungkin bukan muslim ?<br />
Apakah tidak ada cara lain yang lebih beradab untuk mengatur ?<br />
Bukankah Islam adalah rahmat untuk semua alam ?<br />
Mengapa kita tidak bisa “merahmati” orang-orang yang sedang mencari nafkah ?<br />
Bukankah umat minoritas justru harus kita lindungi dan kita atur agar masih bisa memenuhi kebutuhan makan di siang hari ?<br />
Mengapa kita tidak bisa mengatur saudara kita yang sedang mencari nafkah dengan cara yang baik ?<br />
Yang mungkin saja nafkahnya di bulan suci ini amat sangat diperlukan untuk kelangsungan hidupnya atau sebagai rejeki yang bisa dibawa pulang ke keluarga saat lebaran nanti ?</p>
<p>Terus terang saya bukan ustadz dan tidak bisa berbicara banyak tentang masalah ini jika sudah masuk kedalam wilayah komunal. Namun sebagai seorang muslim saya amat prihatin, bahwa sebagian dari kita masih banyak yang menganggap puasa hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Dan fokus hanya pada dua hal itu saja. Menurut saya terlalu dangkal. Maaf. Amat sangat dangkal.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan, kebutuhan kita adalah untuk fokus pada puasa itu sendiri bukan pada kebencian akan aktifitas “non puasa”, yang membuat kita menjadi anarkis kepada kelompok lain. Puasa adalah ibadah pribadi kepada Allah dengan pencerminan sikap-sikap sosial yang baik kepada manusia lain dan alam dengan kearifan bukan kekerasan.</p>
<p>Saya akan kembali ke wilayah pribadi saja sekarang (karena saya sendiri takut di fatwa) dan meneruskan opini saya tentang berbuka dan puasa.</p>
<p>Banyak dari kita yang “hilang kesadaran” saat berbuka puasa, bahkan jika berbuka puasa dilakukan di tempat umum-pun ironi ini masih terlihat. Tengok saja jika kita berbuka di mall.</p>
<p>Dari tahun ke tahun, pengalaman berbuka puasa di mall selalu menarik. Bukan karena suasana di mall yang nyaman, tapi selalu ada hikmah yang bisa kita ambil.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, karena jalan yang macet, terpaksa saya banting stir untuk mampir ke mall terdekat untuk sekedar “membatalkan” puasa. Karena sejak berangkat memang tidak berniat berbuka di jalan, maka saya mengabaikan saran istri saya untuk membawa bekal sekedarnya jika harus berbuka di mobil, bekal sekedarnya yang “fungsinya” memang hanya untuk membatalkan saja.</p>
<p>Karena waktu sudah “mepet”, di dalam foodcourt sudah cukup ramai dan sulit pada saat memesan makanan dan mencari bangku kosong. Jika berbuka sendiri di mall, saya biasanya hanya memesan makanan kecil berupa sop hangat dan minuman hangat, biar praktis dan toh saya hanya perlu waktu sedikit untuk “membatalkan” dan kemudian memberikan kesempatan pada orang lain untuk duduk. </p>
<p>Tidak sulit buat saya yang sendirian untuk dapat bangku kosong dipojokan yang kebetulan juga tinggal satu bangku tersisa karena yang satunya dipakai di meja sebelah yang butuh bangku lebih banyak. Dalam 15 menit waktu saya duduk di foodcourt menikmati hidangan “pembatal” saya, cukup banyak “kejadian menggelitik” yang bisa saya lihat. Dan mungkin bisa jadi pelajaran buat kita semua.</p>
<p>Mulai dari kesibukan sebagian orang yang belum dapat tempat duduk tetapi sudah memegang nampan makanan dan mulai “saling sikut-sikutan” untuk berebut tempat kosong. </p>
<p>Ada juga seorang ibu yang meninggalkan anaknya yang masih kecil tanpa takut diculik dan memberi tugas pada anaknya itu untuk menjaga meja dengan kapasitas tempat duduk untuk 4 orang. Alhasil setiap ada orang yang bertanya apakah tempat itu kosong si anak langsung menjawab dengan galak, </p>
<p>“Kursi yang itu untuk ibu saya yang pesan makanan, yang dua lagi untuk bapak dan om saya yang sedang menuju ke sini….! “</p>
<p>Pemandangan yang paling umum adalah yang saya sebut berbuka “ala raja”, dimana sebuah “hidangan lengkap” bahkan “istimewa” siap disantap satu orang sebagai ajang “balas dendam” atau dianggap “upah” yang pantas diterima setelah manahan lapar dan haus seharian. Beberapa lauk dan sayur. Ditambah beberapa macam minuman. Tak lupa nasi dan buah. Merupakan porsi “satu orang” yang lazim terlihat pada saat berbuka di Mall.</p>
<p>Teman saya yang lulusan pesantren pernah bilang,<br />
“Sifat manusia bisa terlihat disaat berbuka puasa, bos….”<br />
“Maksudnya apa nih…? “ tanya saya penasaran.<br />
“Yah, seperti berapa sabar kita bisa menunda pemenuhan nafsu kenyang kita…, dan seberapa banyak makanan yang langsung kita santap tepat saat buka, ada yang saat buka puasa pada bulan ramadhan justru lebih “galak” ketimbang makan di bulan lain, semua menunjukkan ego kita selama kita hidup….”, katanya menjelaskan.<br />
“Saat berbuka sebenarnya ujian lain baru berlangsung dan akan berlangsung…..”, lanjutnya.<br />
“Apa tuh mas…? “, makin penasaran saya.<br />
“Inti buka puasa sebenarnya hanya membatalkan puasa bukan aksi adu kenyang “pol-polan”. Sejauh mana puasa di siang hari itu membekas pada diri kita pada malam harinya, dan niscaya akan membekas di bulan-bulan berikutnya, itu yang lebih penting…..<br />
Kalo pas buka dan setelahnya aja kita udah ilang kontrol, gimana di bulan lain setelah Idul Fitri…..yah, nggak ada bekasnya, bos, percuma tuh puasa sebulan…..! “</p>
<p>Obrolan diatas sebenarnya sudah agak lama terjadi, namun tetap terngiang di telinga saya sampai saat ini. Bahkan di saat bukan bulan puasa pun tetap membekas. Terlebih lagi banyak diantara kita yang justru “menjauh” dari makna puasa itu sendiri. </p>
<p>Paling tidak menurut saya, puasa seharusnya bisa melatih kita untuk hidup lebih “wajar”. Wajar dalam berkehendak. Puasa adalah momen disaat kita harus menghapus ego kita, mengembalikan segala keputusan kita kepada hati bukan kepada logika yang seringnya malah memenangkan kita tanpa memikirkan orang lain. Yang kalau kita analisa kembali banyak perbuatan yang menyakiti dan melanggar hak orang lain lahir dari tindakan yang “berlebihan” atau tindakan yang diluar kewajaran.</p>
<p>Mencari harta tanpa kewajaran sering berakhir pada diambilnya hak orang lain.<br />
Memaksakan kehendak kita diluar batas kewajaran sering berakhir pada penganiayaan.<br />
Memaksakan apa yang kita ingini tanpa melihat kewajaran pada kebutuhan kita saat ini sering berakhir pada menumpuknya tagihan hutang kartu kredit.<br />
Memaksakan “masuknya makanan” diluar batas kewajaran sering berakhir pada ketidaknyamanan perut atau bahkan lebih parah lagi sakit di kemudian hari.</p>
<p>Dengan menekan (jika bisa menghapus) ego kita, diharapkan kita akan kembali ke kewajaran hidup yang membuat kita berdamai pada diri kita sendiri sehingga tercermin dari perbuatan-perbuatan kita yang minim ego dan minim dari menyakiti orang lain.</p>
<p>Untuk menutup tulisan ini saya coba mengutip lagi obrolan saya dengan teman diatas,<br />
“Bulan Ramadhan itu bulan latihan bos…..” ujarnya kemudian.<br />
“Lho, bukannya bulan suci….? “, tanya saya.<br />
“Yang suci itukan perbuatan manusia yang beribadah dengan khusyu pada saat bulan Ramadhan, bukan bulannya yang suci, lagian intinya kan semua bulan diciptakan Allah itu sama, tidak ada bulan yang buruk atau bahkan yang lebih suci dari yang lain……”<br />
“Saya lebih suka bilang bulan Ramadhan itu bulan latihan…..”<br />
“Jadi gini lho, bos, kalo bulan Ramadhan itu adalah bulan latihan maka katakan yang kita lakukan pada saat Ramadhan kita beribadah 100% maka pada saat 11 bulan lain seharusnya bisa 200% bos, kan udah dilatih tuh pada saat bulan Ramadhan…..”<br />
“Nah, kalo kita bilang bulan Ramadhan itu bulan suci takutnya ada yang nganggep bulan lain itu bukan bulan suci dan dianggap boleh berlaku tidak baik….bisa berabe tuh bos….”, lanjutnya menyelesaikan penjelasan.</p>
<p>Mari kembali ke fitri….<br />
Mari kembali ke kewajaran….</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
