<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>radioku &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/radioku/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "radioku"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 22:36:47 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Radio Watch: Fenomena Elok Gen FM]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Fri, 30 May 2008 09:36:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2008/05/30/fenomena-elok-gen-fm/</guid>
<description><![CDATA[Radio yang satu ini memang fenomenal! Namanya GEN FM, mengudara pada frekuensi 98,7. Baru muncul dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Radio yang satu ini memang fenomenal! Namanya GEN FM, mengudara pada frekuensi 98,7. Baru muncul dalam hitungan dua tiga tahun saja, radio yang menyasar kaum muda ini mampu menjulang dan mengalahkan radio lain yang lebih dulu mapan. Menurut survey Nielsen, per Maret/April GEN FM menduduki posisi teratas untuk jumlah pendengar. LUAR BIASA!!!</p>
<p>Selama ini, posisi teratas tidak pernah jauh dari sejumlah radio dangdut atau yang berkaitan dengan dangdut dan pendengar kelas menengah bawah seperti SPFM atau Bens Radio. Radio mapan yang sempat pula berada di puncak sekelas Sonora atau Elshinta. Keempat stasiun radio tersebut sudah berumur. Rata-rata lahir pada 1970-an. Sedangkan GEN FM? Seperti disebutkan diawal, baru seumur jagung.</p>
<p>Apa rahasianya?<br />
Mungkin ini juga menjadi pertanyaan banyak pendengar dan juga praktisi radio lainnya. Apa sih rahasia GEN FM sehingga bisa melejit dalam waktu singkat? Apakah mereka betul-betul melejit? Atau akan kembali mereduk dalam beberapa waktu ke depan?</p>
<p>Berikut analisis saya:<br />
1.	Musik.<br />
GEN FM memilih segmen pecinta musik Indonesia dengan sangat tepat. Artinya, mereka hanya memutar lagu-lagu populer saja. Lagu tidak populer, lupakan GEN FM. Sehingga, pola pemutaran lagu di radio ini cenderung menerabas patokan yang biasa dijalankan radio lain. Misalnya, sebuah lagu bisa saja diputar lebih dari 2 atau 3 kali dalam sehari, jika lagu itu memang sangat disukai pendengar. Selama ini, sebuah radio cenderung membatasi munculnya sebuah lagu.</p>
<p>2.	Format Siaran.<br />
Pengelola GEN sangat jeli menerapkan format siaran yang ringan, santai dan menghibur. Kadang sangat kreatif dan tidak terpikirkan oleh radio lain. Maka jangankan radio kompetitornya yang sama-sama mengandalkan musik Indonesia, radio lain yang membidik segmen anak muda pun bisa dilewati. Silahkan dengar para penyiar GEN, mereka cenderung sedikit bicara. Saya sering mengitung durasi obrolan atau cuap-cuap penyiar GEN, tidak pernah lebih dari 7 menit. Durasi ini sesuai dengan hasil banyak survey tentang daya tahan telinga mendengarkan sesuatu yang sama. Sebenarnya, survey ini sudah diketahui oleh banyak praktisi radio, tapi cenderung diabaikan. Coba saja dengar radio lain, yang penyiarnya sangat suka bicara dalam waktu sangat panjang (lebih dari 10 menit).<br />
Bahkan, ketika interaksi dengan pendengarpun, GEN mampu membuat obrolan yang simpel, tidak bertele-tele namun tetap asyik didengar. Berbeda sekali dengan kebanyakan radio, yang pendengarnya bisa mengudara seenak mulutnya.<br />
Saya pikir, format ini sesuai dengan GEN FM di Malaysia, karena di sana pun menuai sukses serupa. FYI, GEN merupakan hasil kerja sama Grup Mahaka dengan Astro Malaysia, yang memiliki radio GEN di Malaysia.<br />
3.	Punya Ciri Khas.<br />
Radio lain kebanyakan tidak punya ciri khas. GEN? Punya. Ciri khas ini penting untuk memerkuat citra radio tersebut. Dan GEN memposisikan diri sebagai radio gaul anak muda yang kreatif dan kadang GOKIL. Acara ’Salah Sambung’ menjadi salah satu ciri khasnya. Tempat saya dulu bekerja - DELTA FM – punya ciri khas berupa insert agama yang tidak menggurui (sekarang sudah tidak ada). Saat itu, insert agama semacam itu tidak dimiliki radio lain, dan sangat digemari pendengar.</p>
<p>4.	Kembali ke Khitahnya.<br />
Ada beberapa jenis siaran di GEN yang kembali memerkuat karakter radio, yang hanya didengar selintas, hanya suara dan mampu membangkitkan imajinasi. Jika Anda menonton televisi, maka setiap saat stasiun televisi itu bisa menunjukkan siapa mereka, acara apa yang sedang ditonton dan acara selanjutnya, kapan saja setiap saat. Lalu bagaimana dengan radio? Bagaimana cara pendengar tahu radio apa yang sedang disimaknya, acara apa yang didengarnya dan acara apa yang akan dinikmati berikutnya? GEN selangkah lebih maju dengan memutarkan cuplikan lagu-lagu yang akan diputar satu jam berikutnya. Saya tidak pernah mendengar teaser semacam ini di radio lain.</p>
<p>5.	Selalu BEDA.<br />
Saya melihat GEN selalu ingin berbeda dengan radio lain. Keinginan itu begitu kuat terasa dalam setiap outputnya, yang enerjik dan dinamis. Penyiarnya tidak pernah kekurangan bahan untuk berbicara, semua selalu mengalir lancar. Saya kira, GEN memersiapkan siarannya dengan sangat matang. Dugaan saya, tidak ada siarannya yang dilakukan secara spontan. Semua terencana!</p>
<p>Perbedaan itu juga terlihat dari kerjasama GEN dengan TVOne. Jika radio lain memposisikan diri lebih rendah kastanya dengan televisi, maka GEN mampu menunjukkan bahwa radio juga SETARA dengan teve. Silahkan simak acara ’Satu-satunya’ yang disiarkan bersama oleh GEN FM dan TVOne setiap hari Senin sampai Jumat jam 13.30 – 14.30. Di acara tersebut, penyiarnya selalu menyatakan bahwa siaran ini dilakukan bersama. Sekali lagi bersama. Bukan GEN merelay TVOne atau sebaliknya.  Bukti siaran bersama itu terlihat pula dari beberapa segmen acara di GEN yang masuk ke dalam materi siaran ’Satu-satunya’. Acara yang memang dibuat secara bersama-sama. Selama ini, banyak radio yang hanya ’nyantol’ saja dengan merelay program milik TV.</p>
<p>Meski penuh dengan kelebihan sehingga menjadikan GEN FM melesat, ada juga beberapa kelemahannya. Tak ada gading yang tak retak bukan? Misalnya ketika menyebutkan nomor telepon (apalagi nomor telepon pengiklan), para penyiar GEN seperti ’nyuekin’ pendengar, karena hanya sekali sebut dan dengan tempo yang sangat cepat.<br />
Mana mungkin pendengar Anda bisa mengingat nomor-nomor telepon sekali sebut itu?</p>
<p>Dodi Mawardi<br />
Staf Pengajar Penyiaran UI dan Interstudi</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Radio Watch: Radio Merelay Televisi? Lucu!]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/?p=70</link>
<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 14:25:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2008/04/27/radio-merelay-televisi-lucu/</guid>
<description><![CDATA[Sejak pertama kali muncul ke muka bumi ini, radio langsung memiliki karakter khas yang tidak dimilik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak pertama kali muncul ke muka bumi ini, radio langsung memiliki karakter khas yang tidak dimiliki media lain. Yaitu kecepatan dalam menyampaikan informasi. Disamping ciri khas lain yaitu Theater of Mind dan Personal, kecepatan ini menjadi keunggulan utama radio. Belum ada media lain yang mampu menandinginya, sampai saat ini.</p>
<p>Tapi di Indonesia, kelebihan utama radio tersebut nyaris lenyap. Beberapa radio justru berkolaborasi dengan media televisi, yang tingkat kecepatan penyampaian informasinya masih dibawah radio. Banyak radio yang bangga jika merelay siaran televisi! Jika menilik kecepatan dalam menyampaikan informasi, seharusnya televisi yang merelay radio, bukan sebaliknya.  Di beberapa negara maju, relay radio terhadap televisi bukan berupa kumpulan berita atau buletin berita. Mungkin talkshow atau siaran langsung. Jika menyangkut berita, justru banyak televisi yang mengutip radio.</p>
<p>Sebagian radio berkilah, kerja sama relay dengan televisi sangat menguntungkan karena akan meningkatkan image radio tersebut. Pertama, nama radio akan selalu disebutkan oleh penyiar di televisi. Ini promosi yang luar biasa karena jangkauan sebuah stasiun televisi biasanya lebih luas dibanding radio bersangkutan. Kedua, mendapatkan informasi tambahan yang mungkin tidak dimiliki radio tersebut (biasanya bagi radio yang tidak memiliki banyak SDM di bagian redaksi). Tapi, faktor pertama yang lebih kuat, sehingga cenderung mengabaikan kualitas siaran.</p>
<p>Untuk menyusun sebuah paket informasi, televisi membutuhkan waktu berjam-jam. Paling hebat, berita yang muncul di paket buletin berita televisi adalah informasi yang terjadi satu jam sebelumnya. Jadi buat pendengar radio, sesungguhnya informasi tersebut sudah basi, karena radio yang baik akan langsung menyiarkan informasi beberapa saat setelah peristiwanya terjadi.</p>
<p>Saya pernah mendengar sebuah paket berita televisi di radio. Rasanya... lucu sekali. Penulisan naskah televisi tergantung pada gambar. Sedangkan penulisan naskah radio, tergantung pada suara. Dua hal yang bertolak belakang, karena suara tidak bergambar, sedangkan sebagian besar gambar tidak bersuara (kalaupun bersuara, seringkali tidak jelas menggambarkan apa).</p>
<p>Penyiar televisi membacakan naskah... lalu muncullah gambar. Selama 5 detik, penyiar tersebut berhenti bersuara. Gambarlah yang terus ditayangkan. Di radio, 5 detik tanpa suara sudah termasuk kategori dead air. Kondisi ketika ruang udara pendengar Anda sunyi senyap dalam jangka waktu tertentu. Ada beberapa kemungkinan; bisa operatornya lambat memutar paket selanjutnya, bisa karena penyiarnya lupa materi siaran, bisa karena komputernya hang dan lain sebagainya. Tapi kondisi itu sama sekali tidak diharapkan.</p>
<p>Tapi ketika merelay siaran televisi, kondisi itu seringkali terjadi. Tidak mungkin penyiar televisi terus menerus bicara. Dia pasti berhenti pada saat gambar-gambar menarik ditampilkan. Apa menariknya gambar-gambar tersebut buat pendengar radio??? Yang ada hanyalah ruang dengar kosong! Mending jika gambar yang ditampilkan memiliki suara.</p>
<p>Pernah juga saya mendengar relay televisi di radio, yang membuat saya mesem-mesem sendiri. Penyiar televisinya berkata, ”Pemirsa berikut kami tampilkan nama-nama korban kecelakaan tersebut...” Maka muncullah (belasan nama korban di layar diiringi) backsound lagu intrumental selama 10 sampai 15 detik. Yang terdengar di radio hanya backsound musiknya. Gambar yang memperlihatkan nama-nama korban tersebut tidak ada!  Lucu sekali relay tersebut...</p>
<p>Lebih gawat (atau lucu?) lagi, karena banyak juga televisi yang menampilkan data semacam itu tanpa diiringi musik instrumental. Jadi selama 10-15 detik, pendengar hanya menikmati angin atau paling banter mendengarkan suara tarikan nafas penyiar televisi. Sangat merugikan! Sangat naif!</p>
<p>Seharusnya, radio itu menyiapkan penyiar di studio yang selalu siap sedia, selama relay siaran berita televisi tersebut berlangsung. Jika televisi hanya memperlihatkan data, diagram, daftar nama dan lain-lain dalam bentuk tulisan/gambar, bisa segera membantu dengan cara membacakannya. Pendengar pasti akan sangat terbantu. Selama ini kami pendengar hanya mampu berimajinasi hehehe...</p>
<p>Kalau radio tanpa suara, bukan radio namanya!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tahap-tahap Pembuatan Feature Radio]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/?p=46</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 03:45:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2008/02/27/tahap-tahap-pembuatan-feature-radio/</guid>
<description><![CDATA[1.	Tentukan tema. Semua masalah bisa diangkat menjadi feature radio. Mulai dari masalah sosial, pers]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>1.	Tentukan tema. Semua masalah bisa diangkat menjadi feature radio. Mulai dari masalah sosial, personal, politik, ekonomi, budaya dll. Tidak ada batasan tema apa yang bisa atau tidak bisa dijadikan bahan feature. Yang penting, bisa disajikan dengan sangat menarik!</p>
<p>2.	Tentukan sudut pandang (angle). Sebuah tema bisa diulas dari 1001 macam sudut pandang. Kreativitas pembuatan feature berawal dari pemilihan tema dan penentuan sudut pandang.<br />
3.	Pastikan data-data pendukung bisa dikumpulkan (riset). Riset ini menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah liputan. Apalagi feature yang berdurasi lebih panjang dibanding program informasi lainnya. Di negara maju, radio-radio menampilkan feature berdurasi rata-rata 30 menit sampai 60 menit. Di Indonesia, sebagian besar baru mampu membuat feature dengan durasi 5 – 10 menit saja.<br />
4.	Tentukan narasumber dan waktu wawancara. Pastikan narasumber adalah sumbe utama dalam tema ini bukan narasumber kedua atau malah hanya pengamat saja (narasumber ketiga). Narasumber akan berpengaruh terhadap bobot feature Anda.<br />
5.	Siapkan daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber. Jangan pernah sekali-sekali sombong dengan tidak menyiapkan daftar pertanyaan.<br />
6.	Pilih suara-suara atau bunyi atau musik yang akan dijadikan pelengkap feature. Tentukan sejak awal, bahkan sebelum naskah dibuat.<br />
7.	Pastikan suara/bunyi dan musik tersebut dapat diperoleh. Jangan pernah mencampuradukan suara/bunyi yang dibuat-buat seolah asli dari narasumber/peristiwa. Misalnya kejadian bom Bali, Anda memilih bunyi bom yang mudah dicari di internet atau dari film. Bila suara bom itu yang Anda pilih tanpa memberitahu pendengar bahwa suara itu bukan suara bom Bali, maka Anda telah membohongi publik. Demikian pula pemilihan musik latar feature tersebut, tidak boleh sembarangan.<br />
8.	Kumpulkan seluruh bahan-bahan selengkap mungkin.<br />
9.	Buatlah naskah berdasarkan tema, sudut pandang, hasil riset, hasil wawancara dan suara/bunyi pendukung. Kadang ada juga yang sudah membuat naskah (draft/naskah kasar) terlebih dahulu.<br />
10.	Pilih insert (potongan suara narasumber). Pastikan insert yang terpilih adalah yang terbaik (patokannya: penting atau sangat menarik).<br />
11.	Panjang insert harus dibatasi. Patokannya: begitu kuping merasa bosan mendengar suara insert itu, segera potong. Biasanya paling panjang 1 menit. Rata-rata 30 detik saja.<br />
12.	Bacalah keras-keras naskah yang sudah dibuat. Jangan pernah merasa naskah Anda sudah sempurna. Pasti akan ada revisi dan perbaikan. Dibaca keras berfungsi sebagai: 1. Editing buat telinga karena begitu telinga mengatakan tidak enak didengar berarti naskah itu harus diganti. 2. Sharing kepada orang disekitar Anda, yang diharapkan akan memberikan feedback kalau naskah Anda keliru.<br />
13.	Rekam suara (voice over). Pilih suara yang cocok untuk feature tersebut. Tidak semua narator cocok untuk feature dengan tema tertentu (misalnya tema yang bersifat sedih, gembira atau sinis).<br />
14.	Gabungkan (miksing) vo dengan insert dan suara pendukung.<br />
15.	Berkreasilah! Manjakan telinga pendengar Anda dengan feature tersebut. Seorang yang bersifat perfeksionis pasti akan lama memiksing sebuah karya feature radio. Seperti melukis, membuat feature radio juga membutuhkan pengerahan daya dan upaya yang kreatif. Tapi ingat, setiap feature radio selalu dibatasi oleh durasi dan deadline!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenali Karakter Radio 2]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2007/11/02/kenali-karakter-radio-2/</link>
<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 21:20:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2007/11/02/kenali-karakter-radio-2/</guid>
<description><![CDATA[ 2. Personal 

Hampir setiap radio punya kelompok pendengar. Istilah kerennya fans club. Sebalikny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">2. <strong>Personal </strong></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Hampir setiap radio punya kelompok pendengar.</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> Istilah kerennya <em>fans club</em>. Sebaliknya, sangat jarang ada koran atau tv, yang punya <em>fans club</em>. Jarang juga kita dengar ada acara <em>off air</em> atau <em>copy</em> darat atau jumpa fans antara presenter televisi atau pengelola media cetak dengan pemirsa/pembacanya. Tetapi hapir semua radio, melakukan hal itu secara rutin.</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Pendengar radio juga seringkali terobsesi dengan penyiar kesayangannya. Pokoknya, <em>ngefans</em> berat. Kapanpun si suara emas siaran, sang pendengar setia ini akan menyimaknya, dengan imajinasi seolah-olah si dia ganteng banget atau cantik sekali. “Suaranya empuk dan merdu sekali. Pasti wajahnya pun demikian”, begitu pikir mereka. Padahal, seringkali terjadi yang sebaliknya.<span>  </span>Hal itu menunjukkan bahwa pendengar punya kedekatan emosional dengan radio yang disimaknya. Sehingga, mereka sangat percaya dengan radio tersebut. Apapun yang dilakukan oleh radio itu, akan diikutinya. Apapun yang diinformasikan oleh radio favoritnya, pasti dipercayainya. </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Sifat personal semacam inilah yang tidak dimiliki oleh media selain radio. </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Mana ada pembaca yang <em>ngefans</em> berat dengan seorang wartawan? Jarang pula, ada penonton yang tergila-gila dengan pembaca berita/presenter, seperti kepada penyiar radio?<span>  </span>Jarang juga ada pemirsa televisi yang rutin mengirim kue untuk penyiar kesayangannya, suatu hal yang lumrah terjadi di radio.</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Sifat personal ini didukung pula oleh kemudahan pendengar berinteraksi dengan penyiarnya. Mereka bisa setiap saat berkomunikasi dengan surat, kartu pos, sms atau telepon. Dan langsung diudarakan. Rasanya, hmm… seakan-akan melayang di udara.<span>  </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Maka, ketika Anda memanfaatkan radio untuk bisnis Anda, jangan sampai lupa sifat personal radio. Pendengar sudah punya hubungan yang erat dengan radio tersebut secara personal, mungkin sangat emosional. Seorang pendengar akan hafal nama-nama penyiar, kebiasaan mereka, kapan mereka siaran dsb. Manfaatkanlah unsur kedekatan itu, dengan muatan yang sesuai.<span>  </span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenali Karakter Radio 1]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2007/11/02/kenali-karakter-radio-1/</link>
<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 21:17:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2007/11/02/kenali-karakter-radio-1/</guid>
<description><![CDATA[Media radio siaran memiliki banyak sifat yang tidak dimiliki oleh media lain. Sifat tersebut ada yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Media radio siaran memiliki banyak sifat yang tidak </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">dimiliki oleh media lain. Sifat tersebut ada yang positif, namun banyak pula yang negatif. Anda akan sukses bermitra dengan radio bila mampu memanfaatkan sifat-sifat positif dari radio. Intinya, segala hal yang Anda sampaikan di radio akan lebih efektif dan tepat sasaran.</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span><span style="font-family:Garamond;"><font size="5">Sifat radio yang tidak dimiliki media lain:</font></span></p>
<p><span style="font-family:Garamond;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"><span>1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Theater Of Mind</span></strong></span></p>
<p><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span></strong></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Secara harfiah, theater of mind berarti ruang bioskop di dalam pikiran. Radio mampu menggugah imajinasi pendengarnya, dengan suara, musik, vokal atau bunyi-bunyian. Imajinasi yang muncul di benak pendengar muncul seketika dan membangun sebuah ruang bioskop yang berbeda-beda di setiap kepala, meski materi yang disampaikan sebuah radio sama. Pendengar punya latar belakang, pengalaman yang beragam. Imajinasi akan tergantung dari latar belakang dan pengalaman tersebut. </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Misalnya, seorang nelayan akan berpikir dan membayangkan perahunya, ketika mendengar pengumuman di radio, BBM akan naik, disertai dengan bunyi kucuran bbm di pompa bensin. Imajinasi berbeda muncul di kepala seorang sopir angkutan umum, yang langsung membayangkan sedang mengisi angkotnya dengan bbm di pompa bensin, yang akan menyebabkan semakin beratnya mendapatkan uang setoran.<span>  </span>Lain lagi, imajinasi yang keluar di kepala seorang pemimpin perusahaan. Dia sudah pasti membayangkan sedang mengisi bbm mobil menterengnya,<span>  </span>lalu berpikir keras akan kepusingan menghadapi kenaikan <em>cost</em> produksi dan demo buruhnya. </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Imajinasi ini akan semakin kaya, dengan kepandaian sebuah radio meramu dan meracik suara, musik, vokal dan bunyi-bunyian, menjadi harmoni yang indah. Media massa lain, tidak punya kemampuan sehebat radio dalam memancing imajinasi audiens.<span>  </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;">Nah bagi Anda yang mau memanfaatkan radio, sampaikanlah pesan dengan memperhatikan karakter yang satu ini. Jangan hanya melulu berbicara data dan angka. Pendengar bisa pusing, bila yang disuapkan ke telinganya hanya angka, angka dan angka. Berikan penganan lain yang bisa dinikmati telinga…</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Garamond;"></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jurnalis Radio Dipandang Sebelah Mata]]></title>
<link>http://dodimawardi.wordpress.com/2007/11/02/jurnalis-radio-dipandang-sebelah-mata/</link>
<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 21:04:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>dodimawardi</dc:creator>
<guid>http://dodimawardi.id.wordpress.com/2007/11/02/jurnalis-radio-dipandang-sebelah-mata/</guid>
<description><![CDATA[  
Suatu hari, saya berbincang dengan seorang editor majalah. Kami berbicara tentang jurnalisme s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font size="5" face="Times New Roman"> </font><font size="2" face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman">Suatu hari, saya berbincang dengan seorang editor majalah. </font><font face="Times New Roman">Kami berbicara tentang jurnalisme secara umum, termasuk jurnalisme radio. Dia mengatakan “Apa yang bisa dilihat dari radio? Wartawannya payah-payah. Pertanyaannya sangat tidak berbobot. Pokoknya saya belum melihat ada jurnalisme dalam radio di Indonesia saat ini”.<span>  </span>Saya mencoba berargumen, bahwa jurnalisme radio baru muncul beberapa tahun lalu. Wajar jika keadaannya demikian. Soal kualitas, jangankan wartawan radio, wartawan media lainnya juga masih banyak yang amburadul.</font></p>
<p><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Cerita itu hanyalah sebuah pragmen dari besarnya ketidakpercayaan banyak orang terhadap jurnalisme radio di Indonesia. Terutama wartawan cetak atau televisi yang sering mencibir. Ditambah lagi dengan sikap narasumber, yang seringkali menyepelekan wartawan radio. Seorang wartawan radio bercerita kepada saya, “Mas, anggota DPR itu nggak mau diwawancara oleh saya, seorang diri. Dia minta dipanggilkan wartawan lain, terutama dari televisi, atau koran”.<span>  </span>Saya bilang, itu biasa. Saya juga sering mengalaminya. Bahkan, banyak narasumber yang menjadi tidak semangat berbicara ketika dia tahu, yang mengulurkan <em>tape recorder</em> adalah seorang wartawan radio. Ya, memang ini sering terjadi pada awal masa reformasi. Tetapi sampai kini, kejadian seperti itu tak jarang terjadi.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Ada tugas ganda yang diemban wartawan radio ketika mengejar narasumber. Pertama, dan ini sulit, meminta narasumber agar bersedia diwawancara. Kedua, meyakinkan mereka bahwa untuk berita radio, wawancara harus direkam. Seringkali narasumber takut suaranya direkam, dengan berbagai alasan. Dengan 1001 alasan pula, wartawan radio harus memaksa narasumber untuk mau direkam. Hampir sama dengan televisi, yang juga harus disorot kamera. Bedanya, banyak narasumber yang ngebet masuk televisi. Jarang narasumber yang ngebet suaranya muncul di radio.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<h1><font size="3" face="Times New Roman">Jurnalisme Batu Loncatan</font></h1>
<p><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Tidak bisa tidak, untuk menampilkan jurnalisme radio yang sama dengan jurnalisme lainnya, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia, menjadi prioritas. Harus diakui, radio seringkali hanyalah sebuah media alternatif di bawah televisi dan cetak<em>.</em> Tetapi dalam beberapa kondisi, radio menjadi media utama. Bahkan menjadi media andalan. Banyak contoh di daerah terpencil, radiolah yang menjadi sarana utama menyebarkan atau mendapatkan informasi. Radio bisa menjangkau wilayah yang mungkin tidak terjangkau televisi dan media cetak. Wilayah seperti itu, masih banyak di negeri ini.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Kualitas sumber daya manusia menjadi sorotan editor majalah yang saya ceritakan di awal. Memang sulit menyebutkan wartawan radio di Indonesia yang bisa menjadi contoh. Saya juga kesulitan menyebutkan wartawan radio Indonesia yang berpengalaman dan handal di masa lalu. Mungkin ada dan katanya banyak. Sebut saja Riza Primadi<em>, </em>Toeti Adhitama Darmosugondo atau Maladi dan beberapa lagi<em>.</em> Tapi sebagian besar dari mereka kemudian berkembang dengan media lain, televisi atau cetak. Padahal mungkin wartawan senior itu bisa jadi panutan wartawan junior radio, jika tetap menggeluti dunia radio. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Selepas perguruan tinggi, saya menjadikan radio hanya sebagai batu loncatan menuju media lain. Cita-cita saya ingin menjadi wartawan cetak khusus bidang olahraga. Sama sekali tak terpikirkan menjadi wartawan olahraga tapi dengan media radio. Saya sama sekali tidak sengaja terjun ke dunia radio. Dan ternyata, banyak teman yang berpikir atau mengalami nasib serupa. Radio tidak bisa menjadi sandaran hidup. Sesuatu yang kini mulai berubah di benak saya. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Makanya, banyak wartawan handal radio yang hengkang ke media lain baik sesuai keinginan sendiri maupun terpaksa. Kebanyakan pindah ke media televisi, karena wartawan radio sudah punya modal suara bagus. Tinggal ditambah dengan kemampuan bahasa Inggris plus wajah menarik, jadilah sebagai jurnalis televisi. Kalaupun ada wartawan handal yang masih setia dengan radio, tetapi yang dituju adalah radio luar negeri. Sehingga kondisi jurnalisme radio di dalam negeri tetap payah. Banyak wartawan radio luar negeri asal Indonesia, tetapi sangat sedikit yang mau berbagi ilmu dengan wartawan radio dalam negeri. Sesuatu yang kini mulai sedikit-sedikit berubah.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Biasanya, wartawan radio yang beralih ke media lain, ogah untuk kembali ke dunia radio. Ini juga yang menjadi penyebab mengapa jurnalisme radio kedodoran. Lebih jarang lagi, wartawan media lain yang ngungsi ke radio. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Padahal, radio butuh pengembangan. Sedangkan jurnalisme radio perlu pembaharuan. Inovasi hanya muncul dari mereka yang memang sudah terlanjur ‘enak’ di radio. Yang sayangnya, inovasi bukan dalam bidang jurnalismenya tetapi bagaimana menjual radio. Sehingga yang muncul adalah radio yang berisi segala macam inovasi bidang hiburan. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<h1><font size="3" face="Times New Roman">Jurnalisme Radio Butuh Pelatihan</font></h1>
<p><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Menilik sejumlah kondisi itu, jurnalisme radio harus mendapatkan transfer ilmu sebanyak mungkin. Harus lebih banyak dibanding media lain, jika ingin mengejar berbagai ketinggalan. Pelatihan yang diselenggarakan berbagai lembaga lumayan banyak sejak era reformasi. Tetapi semuanya terbentur dana. Jika dana dari donor seret, pelatihan pun jadi melempem. Perlu cara lain, bagaimana menularkan ilmu, tanpa biaya yang besar. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Masalah lain selama ini, pelatihan seringkali diberikan oleh wartawan radio yang masih bau kencur atau wartawan radio yang kurang pengalaman. Jangankan memberi pelatihan, dilatih saja banyak yang belum. Sehingga, hasil pelatihan tidak maksimal dan tidak ada tindak lanjut setelah selesai pelatihan. Ini harus menjadi pemikiran para insan radio di seluruh Indonesia. Wartawan radio butuh ilmu, butuh pelatihan sebanyak mungkin dan perlu pengalaman.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Ah semoga saja, pelatihan wartawan radio semakin banyak. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Dan jangan lupa, setiap radio pun seharusnya memberikan inhouse training yang cukup bagi wartawannya. Jangan pernah berhenti untuk belajar, biar kita tidak lagi dipandang sebelah mata oleh wartawan media lain. Dan fungsi kita sebagai penyampai informasi bisa dijalankan dengan lebih baik.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Utan Kayu, 16 Februari 2002.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
