<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>psikologi-populer &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/psikologi-populer/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "psikologi-populer"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 01:46:19 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PSIKOLOGI KUPU-KUPU]]></title>
<link>http://duniabuku.wordpress.com/?p=99</link>
<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 14:51:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>oktawiguna</dc:creator>
<guid>http://duniabuku.id.wordpress.com/2008/09/23/psikologi-kupu-kupu/</guid>
<description><![CDATA[Psikolog A. Kasandra Putranto menerbitkan buku terbarunya &#8220;Metamorfosis, Menjadi Kupu-kupu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Psikolog A. Kasandra Putranto menerbitkan buku terbarunya "Metamorfosis, Menjadi Kupu-kupu". Buku psikologi populer terbitan Creativ Media Indonesia tersebut diluncurkan dalam sebuah diskusi kecil di kantor pemasaran apartemen The Essence, Jakarta Selatan, 17 September lalu.</p>
[caption id="attachment_101" align="alignnone" width="422" caption="Psikolog A. Kasandra Putranto meluncurkan buku "Metamorfosis, Menjadi Kupu-kupu" di Apartemen The Essence Jakarta, 17 September lalu (Okta Wiguna / Dunia Buku)"]<a href="http://duniabuku.wordpress.com/files/2008/09/kasandra-putranto1.jpg"><img src="http://duniabuku.wordpress.com/files/2008/09/kasandra-putranto1.jpg" alt="Psikolog A. Kasandra Putranto meluncurkan buku &#34;Metamorfosis, Menjadi Kupu-kupu&#34; di Apartemen The Essence Jakarta, 17 September lalu (Okta Wiguna / Dunia Buku)" title="kasandra-putranto" width="422" height="600" class="size-full wp-image-101" /></a>[/caption]
<p>Buku ini sejatinya adalah bacaan motivasional yang bertujuan mendorong pembacanya memahami masalah dalam hidup dari sudut pandang psikologi. Kasandra beranggapan masalah hidup dapat selesai jika <!--more--> orang mau memutuskan untuk mengubah hidupnya, bermetamorfosis dari hidup yang terkungkung dalam kepompong pada hidup yangt baru menjadi kupu-kupu yang terbang bebas dan bersayap indah.</p>
<p>Psikolog Universitas Indonesia, Budi Matindas, menilai buku yang memuat berbagai mashab pemikiran psikologi tersebut ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami mereka yang awam soal teori kejiwaan. Karena isinya bersifat sederhana, Budi berharap penulisnya tidak lupa meluncurkan buku lanjutan yang membahas lebih dalam soal sebelas konsep psikologi yang ada pada buku ini.  </p>
<p>Budi yang menjadi dosen Kasandra semasa kuliah juga tak terlalu setuju dengan istilah metamorfosis yang mengesankan perubahan dalam hidup terjadi secara alami. "Padahal titik berat pada buku ini adalah kehendak bebas yang memungkinkan orang secara sadar mengambil keputusan untuk mengubah hidupnya," ujarnya.</p>
<p>Ini adalah buku kedua Kasandra setelah sebelumnya menulis "Pendekatan Cognitive Behavior Dalam Psikoterapi". Kasandra sendiri sehari-harinya menjalankan klinik psikoterapi Kasandra &#38; Associates di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fisik Bukan Segalanya, tapi dari Sana Segalanya Bermula]]></title>
<link>http://nesia.wordpress.com/?p=366</link>
<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 08:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nesia!</dc:creator>
<guid>http://nesia.id.wordpress.com/2008/09/12/fisik-bukan-segalanya-tapi-dari-sana-segalanya-bermula/</guid>
<description><![CDATA[Begitukah? Entah! Yang jelas, pantun klasik &#8220;Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Begitukah? Entah! Yang jelas, pantun klasik "Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kaki. Dari mana datangnya cinta - eh, mestinya cintah dong ya - dari mata turun ke hati", menggambarkan betapa mata adalah gerbang ke istana cinta. Apa yang bisa ditangkap oleh mata? Ya rupa, masa aroma?<br />
</strong></p>
<p><a href="http://nesia.wordpress.com/2007/04/18/no-importa-la-distancia/"><img class="alignright" src="http://i58.photobucket.com/albums/g250/sitoga/importa-1.jpg" alt="" width="342" height="237" /></a>Selain berbagai perbedaan lain, perbedaan "kualitas" fisik antarmanusia, seringkali dianggap sebagai bentuk ketidakadilan yang kejam dalam kehidupan. Jika memang seseorang memiliki rupa dan tubuh yang, katakanlah kurang simetris, layout atau perjawahannya ngga rapi, pokoknya sama sekali tak nyaman dipandang, apalagi untuk jangka panjang, apa hendak dikata? Berusaha memoles dan merias habis-habisan, justru akan membuat makhluk itu kelihatan makin menyedihkan.</p>
<p>Orang yang sangat miskin,  mungkin saja menjadi kaya bila dia gigih sekaligus "bernasib" baik. Tapi orang yang sangat jelek... Kegigihan dan nasib baik apa gerangan yang akan mengubahnya menjadi cakep? Operasi plastik? Nah, itu dia masalahnya. Bila dia berubah menjadi cakep dengan proses yang "maksa" itu, dia bukan dirinya lagi ...</p>
<p>Kemiskinan, status sosial, derazat pendidikan, dan berbagai "kekurangan" lain, jelas akan mengganggu kepercayaan diri seseorang. Namun "kesadaran" akan buruknya kualitas "perwajahan dan pertubuhannya", bukan lagi mengganggu, tetapi menggerogoti!<!--more--></p>
<p>Wanita sering mengeluhkan, betapa pria adalah makhluk yang berorientasi kepada fisik. Tidak aneh sebenarnya, mengingat Sang Desainer tampaknya memang melekatkan jauh lebih banyak keindahan pada tubuh wanita daripada pria. (Oiya, kira-kira keindahan di tubuh pria itu apa ya?)</p>
<p>Tapi sebenarnya, tidak saja wanita yang perlu merasa risau soal fisiknya, ketika berhubungan dengan pria. Kaum pria pun gitu kok. Cuma ya, di-PD-PD-in aja. :D</p>
<p>Jadi inget dulu di milis, dapat posting tentang perbedaan cowok ganteng dengan cowok jelek.</p>
<blockquote><p>Kalo cowok ganteng pendiem, cewek-cewek bilang: "Wow, cool banget..."</p>
<p>Kalo cowok jelek pendiem, cewek-cewek bilang: "Ih kuper..."</p>
<p>Kalo cowok ganteng bergaya gaul, cewek-cewek bilang: "fungky bo..."</p>
<p>Kalo cowok jelek bergaya gaul, cewek-cewek bilang : "ih norak..."</p>
<p>Kalo cowok ganteng jomblo, cewek-cewek bilang: "pasti dia perfeksionis"</p>
<p>Kalo cowok jelek jomblo, cewek-cewek bilang: "sudah jelas... Kagak laku!!!"</p>
<p>Kalo cowok ganteng jadi gay, cewek-cewek bilang: "tuh kan, cowok aja pada suka"</p>
<p>Kalo cowok jelek jadi gay,cewek-cewek bilang: "karena cewek-cewek udah nggak berminat"</p>
<p>Kalo cowok ganteng ganti-ganti cewek, cewek-cewek bilang: "wajar kan direbutin cewek-cewek cantik"</p>
<p>Kalo cowok jelek ganti-ganti cewek, cewek-cewek bilang: "pasti bolak-balik diputusin"</p>
<p>Kalo cowok ganteng dapet cewek cantik, cewek-cewek bilang: "klop... Serasi banget"</p>
<p>Kalo cowok jelek dapet cewek cantik, cewek-cewek bilang: "pasti maen dukun... Atau ceweknya matre"</p>
<p>Kalo cowok ganteng ditolak cewek, cewek-cewek bilang: "jangan sedih kan masih ada aku"</p>
<p>Kalo cowok jelek ditolak cewek, cewek-cewek bilang: (diam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah).</p>
<p>Kalo cowok ganteng diputusin cewek, cewek-cewek bilang: "duh, kok bego banget tu cewek?"</p>
<p>Kalo cowok jelek diputusin cewek, cewek-cewek bilang: "akhirnya terbuka juga mata hati cewek itu"</p>
<p>Kalo cowok ganteng digaet tante-tante girang, cewek-cewek bilang: "pinter juga tuh tante"</p>
<p>Kalo cowok jelek digaet tante-tante girang, cewek-cewek bilang: "pasti karena cucakrowonya"</p>
<p>Kalo cowok ganteng ngaku pacar Asmirandah, cewek-cewek bilang: "percaya... Masuk akal"</p>
<p>Kalo cowok jelek ngaku pacar Asmirandah, cewek-cewek bilang: "yee, tolong beli kaca yg gede ye"</p>
<p>Kalo cowok ganteng suka merawat wajah, cewek-cewek bilang: "itu namanya memelihara aset"</p>
<p>Kalo cowok jelek suka merawat wajah, cewek-cewek bilang: "buang-buang waktu aja!!!"</p></blockquote>
<p>Sedih ya membacanya... Konon lagi mengalaminya. *Pengalaman pribadi?* Tapi begitulah.</p>
<p>Padahal andai cewek-cewek itu tau, atau siapapun yang cenderung menjadikan kecakepan sebagai kriteria terpenting, atau satu-satunya kriteria, dia bisa saja terjebak seperti membeli hp dengan casing kinclong, tapi daleman ancur!</p>
<p>Dan internet datang...</p>
<p>Banyak orang kemudian menjalin konektivitas, ngutip dari blog-nya <a href="http://senandung.wordpress.com">Yati</a>, yang disebut sebagai "Relasi Kata tanpa Rupa". Chatting, email, berbagai situs jejaring sosial, juga kemudian blogging, konon lagi bila berlanjut ke saling sms dan telepon, membuat antarinsan menjadi begitu "dekat" walau mereka belum sempat bertatap muka.</p>
<p>Dalam hubungan di jagat maya itu, rupa dan unsur fisik secara keseluruhan, menjadi sekunder sifatnya.<br />
Jiwa, pemikiran, hal-hal yang tidak kasat mata, lebih mendapat ruang.</p>
<p>Memang banyak orang mencela jagat maya sebagai wahana beresiko tinggi untuk memulai sebuah hubungan yang serius. "Anda bisa tertipu!" kata mereka. Oiya? Trus ada jaminan manusia nyata yang Anda peluk-kecup setiap hari itu bukan seorang psikopat yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk memutilasimu? Tuh, si Ryan ngga memungut korbannya dari jagat maya, tapi dari pertemanan nyata.</p>
<p>Barangkali, teknologi internet, yang memungkinkan relasi kata tanpa rupa itu, adalah jawban Tuhan atas keluh makhluk-makhluk-Nya, yang karena satu dan lain hal, memiliki tubuh yang kurang argonomis, dan wajah asimetris. Apa coba?</p>
<p>Relasi kata tanpa rupa tadi, memungkinkan jiwa-jiwa terekat erat lebih dulu, sampai kepada suatu titik, ketika mereka sudah siap walau akan menemukan jiwa yang mengikat jiwanya itu, ternyata bersemayam di dalam tubuh yang jauh dari sempurna.</p>
<p>Pada akhirnya, tidak saja fisik bukan segalanya, tapi bahkan tak segalanya harus bermula dari sana.</p>
<p>----------------------------</p>
<p>Tentang relasi kata tanpa rupa, saya pernah menulis ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://nesia.wordpress.com/2007/04/18/no-importa-la-distancia/">No Importa La Distancia</a></li>
<li><a href="http://nesia.wordpress.com/2007/06/06/haruskah-setiap-rasa-diberi-nama/">Haruskah Setiap Rasa Diberi Nama?</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadapi Stres]]></title>
<link>http://katakandengankata.wordpress.com/?p=164</link>
<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 05:09:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>OPie ...</dc:creator>
<guid>http://katakandengankata.id.wordpress.com/2008/08/27/hadapi-stres/</guid>
<description><![CDATA[

 
Dunia semakin berkembang, semakin kompleks. Laju perubahan tak dapat diperlambat lagi. Tekanan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Dunia semakin berkembang, semakin kompleks.<span> </span>Laju perubahan tak dapat diperlambat lagi. Tekanan bertubi-tubi<span> </span>datang dengan berbagai alasan. Kita semakin tidak siap menjalankan peranan. Ditambah lagi perkembangan teknologi yang kadang malah<span> </span>menebar dampak negative.<span> </span>Kini, kata ‘stres’ disebut orang di mana-mana. Berbagai hal menyebabkan kita stres, berupa perasaan tidak dapat mengatasi<span> </span>masalah dalam hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Bagaimana ya, mengatasi stres? Kita harus menentukan apa yang mampu kita lakukan. Ketahui dulu apa yang menyebabkan kita stres. Tak ada salahnya<span> </span>meluangkan waktu meluangkan waktu untuk menuliskan daftar stressor (hal/situasi yang menyebabkan stress). Tulis semua hal-hal yang mempengaruhi mental dan fisik yang disebabkan oleh stressor tadi. Bersiaplah untuk terbuka pada diri sendiri. Nah, jika sudah, teliti satu persatu daftar yang telah kita tulis. Jika masalah-masalah tersebut ada yang mampu Anda tangani sendiri, cobalah untuk menyelesaikannya. Tentunya dengan kekuatan dan rasa percaya diri bahwa Anda mampu. Jika ada yang tidak mampu kita selesaikan sendiri dan tidak akan pernah dapat kita perbaiki, tandai saja dulu. Jika ada yang bisa diubah, cobalah untuk mengubahnya. Dengan begitu, beberapa stressor kita akan lenyap, beban pikiran pun berkurang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Jika kesulitan mengubah dan memperbaiki masalah-masalah yang ada pada daftar, sebaiknya buat saja jangka waktu. Misalnya, masalah ini akan diselesaikan, diperbaiki, atau diubah dalam minggu depan. Atau untuk masalah yang lebih berat, kita tetapkan jangka waktu enam bulan ke depan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Berpikir maju juga boleh dicoba. Misalnya, membuat rencana untuk masa depan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tujuan dan alasan untuk membuat tujuan tersebut. Kumpulkan ide, buat daftar prioritas, pilih satu tujuan, apa yang harus dilakukan, hambatan yang akan dihadapi, cara mengatasi hambatan itu, sebaiknya dilakukan jika akan membuat rencana. Hendaknya, jangan lupa pula untuk memeriksa ulang. Realistis atau tidak, bisa diwujudkan atau tidak. Manajemen waktu juga sangat penting.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Dalam hidup, hambatan selalu ada. Untuk itu, kita dituntut untuk tegas dalam bersikap. Mengatasi hambatan-hambatan tersebut juga memerlukan ketegasan. Jangan biarkan hambatan itu menghalangi jalan kita untuk sukses. Hadapi saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Banyak yang bilang, situasi yang membuat kita berada dalam kesulitan. Tapi, coba analisa lagi. Bukankah tanggapan kita terhadap situasi itu yang membuat susah? Ada beberapa hal yang benar-benar penting. Bersantai, menggunakan imajinasi, menggunakan indra dan situasi kita. Misalnya, relaksasi. Kita sudah memiliki bahan-bahan untuk relaksasi, yaitu otak, tubuh, dan perasaan. Kombinasikan saja. Gunakan tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan yang rileks, gunakan imajinasi dan situasi untuk sekali-kali melupakan diri. Gunakan indra untuk melihat apa yang ingin Anda lihat, mendengar apa yang ingin Anda dengar, membaui bau yang Anda suka. Alternatif lainnya adalah pijat. Pijat itu menenangkan akrena adanya rangsangan langsung terhadap kulit dan jaringan yang saling berhubungan antara otot dan saraf. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="EN-US">Singkatnya, kenali tantangan pribadi kita, bagilah waktu untuk beraktivitas dan bersantai. Berusahalah untuk menjadikan hidup kita lebih baik. (Maghriza Novita Syahti) </span></p>
<p>*Halaman Untukmu P'Mails edisi 150</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjadi Pribadi yang Lebih Baik]]></title>
<link>http://katakandengankata.wordpress.com/?p=161</link>
<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 05:07:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>OPie ...</dc:creator>
<guid>http://katakandengankata.id.wordpress.com/2008/08/27/menjadi-pribadi-yang-lebih-baik/</guid>
<description><![CDATA[MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK
 
 
Aku ingin sukses, aku ingin pintar matematika, aku ingin juara s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Aku ingin sukses, aku ingin pintar matematika, aku ingin juara satu, aku ingin pintar memasak, aku ingin jadi orang yang taat beragama, aku ingin jadi orang yang lebih sabar, aku ingin membahagiakan orangtuaku, …</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Ingin-ingin itu tentu tak bisa didapat secara instan. Perlu usaha dari diri sendiri untuk mewujudkannya. Perbaikan demi perbaikan harus dijalani dan dihadapi rintangannya. Keberhasilan remaja dalam usaha memperbaiki kepribadiannya bergantung pada banyak faktor. Kita harus menentukan ideal-ideal yang realistik dan dapat kita capai. Jika tidak, bersiaplah untuk menerima kegagalan karena perasaan tidak mampu dan rendah diri. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Sebaiknya kita membuat penilaian yang realistic mengenai kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri kita. Perbedaan yang mencolok antara kepribadian yang sebenarnya dan ego ideal akan menimbulkan kecemasan, perasaan kurang enak, tidak bahagia, dan cenderung menggunakan reaksi bertahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Kemudian, sebagai remaja, kita harus mempunyai konsep diri yang stabil. Memang, konsep diri ini biasanya bertambah dalam setiap periode masa remaja. Tetapi, hal ini akan memberikan perasaan berkesinambungan sehingga memungkinkan kita memandang diri sendiri dalam cara yang konsisten, tidak memandang diri hari ini berbeda dengan diri hari lain. Nah, hal ini ternyata juga dapat meningkatkan harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Hal terakhir yang paling penting adalah perasaan cukup puas dengan apa yang telah kita capai dan bersedia memperbaiki prestasi-prestasi di bidang-bidang yang merupakan kekurangan kita. Orang lain akan cenderung menyukai seseorang yang menerima diri sendiri. Di kemudian hari, hal ini akan mendorong kita untuk berperilaku lebih baik dan mendorong perasaan menerima diri sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Yang tak boleh terlupakan adalah jangan berhenti untuk berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Usaha yang maksimal menentukan hasil yang lebih baik. <span> </span>(Maghriza Novita Syahti)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">*Halaman Untukmu P'Mails edisi 149</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa Remaja Berpacaran?]]></title>
<link>http://katakandengankata.wordpress.com/?p=112</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 06:02:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>OPie ...</dc:creator>
<guid>http://katakandengankata.id.wordpress.com/?p=112</guid>
<description><![CDATA[
 
Banyak yang bilang, masa remaja adalah masanya pacaran, mengenal lawan jenis. Salah satu tugas pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://katakandengankata.files.wordpress.com/2008/07/pacaran-thok-ae2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-118" src="http://katakandengankata.wordpress.com/files/2008/07/pacaran-thok-ae2.jpg?w=163" alt="" width="163" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Banyak yang bilang, masa remaja adalah masanya pacaran, mengenal lawan jenis. Salah satu tugas perkembangan pada masa remaja adalah membentuk hubungan baru<span> </span>dengan lawan jenis. Minat baru ini, juga berkembang menjadi ingin melibatkan diri (laki-laki maupun perempuan) dalam berbagai kegiatan yang sama. Jika pada masa kanak-kanak, kita ingin memperoleh dukungan dari sesame jenis, maka pada masa remaja ingin memperoleh dukungan dari lawan jenis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Dalam bukunya, <em>A Life-Span Approach, </em>Elizabeth B. Hurlock memaparkan beberapa alasan-alasan yang umum kenapa remaja berpacaran, diantaranya adalah hiburan, sosialisasi, status, masa pacaran, pemilihan teman hidup dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Alasan pertama adalah hiburan. Jika berpacaran <span> </span>dengan alasan hiburan, remaja menginginkan agar pasangannya mempunyai keterampilan sosial <span> </span>yang dianggap penting oleh teman sebaya. Misalnya, sikap baik hati dan menyenangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Alasan kedua, sosialisasi. Ada pula yang menggunakan alasan pacaran untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Contohnya, <span> </span>jika ia masih ingin tergabung (menjadi anggota) dalam sebuah kelompok social, maka ia harus berpacaran. Pasangan ini harus mau mengikuti kegiatan social dan mempunyai keterampilan social, waktu, uang, dan hal lainnya yang dibutuhkan untuk berpartisipasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Alasan ketiga adalah status. Dalam kelompok teman sebaya, laki-laki dan perempuan yang memiliki bentuk berpasangan tetap (berpacaran) akan mempunyai status lebih tinggi di mata teman-teman sebayanya. Tidak semua kelompok teman sebaya yang seperti itu, tapi ada pula yang memandang begitu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Alasan berikutnya adalah masa pacaran. Ada sebagian remaja yang menempatkan masa pacaran menjadi hal penting. Karena remaja jatuh cinta dan berharap menjalani tahap selanjutnya. Ia sendiri harus memikirkan sungguh-sungguh dalam masalah keserasisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Alasan terakhir adalah pemilihan teman hidup. Ada sebagian remaja yang berpendapat bahwa berpacaran adalah tahap untuk memilih teman hidup. Ia harius mempertimbangkan kesesuaian minat, temperamen, dan sikap-sikap lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Yang perlu ditekankan di sini adalah remaja harus mengetahui dan menyadari konsekuensi berpacaran. Mengetahui resiko nantinya, baik resiko fisik maupun psikologis. (Maghriza Novita Syahti)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">*Halaman Untukmu P'Mails edisi 148<a href="http://katakandengankata.files.wordpress.com/2008/07/pacaran-thok-ae.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-115" src="http://katakandengankata.wordpress.com/files/2008/07/pacaran-thok-ae.jpg?w=163" alt="" width="163" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Sulit Tidur]]></title>
<link>http://katakandengankata.wordpress.com/?p=110</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:49:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>OPie ...</dc:creator>
<guid>http://katakandengankata.id.wordpress.com/2008/07/22/aku-sulit-tidur/</guid>
<description><![CDATA[
 


Aku Sulit Tidur
 
Penyembuhan insomnia (kesulitan tidur) bergantung kepada seberapa seriusnya g]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Autumn;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://katakandengankata.files.wordpress.com/2008/07/insomnia.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-114" src="http://katakandengankata.wordpress.com/files/2008/07/insomnia.jpg?w=265" alt="" width="265" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Aku Sulit Tidur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Autumn;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Penyembuhan insomnia (kesulitan tidur) bergantung kepada seberapa seriusnya gejala yang dialami. Jika hanya insomnia ringan, sebentar-sebentar saja,<span> </span>maka pengobatannya tidak begitu berarti. Cukup dengan mengubah jadwal tidur atau bangun sehingga kembali ke keadaan normal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Salah satu upaya lebih lanjut yang bisa kita lakukan adalah menjalani "ritual tidur" yang sehat. Tetapkan waktu untuk melakukan aktivitas yang merilekskan tubuh. Misal, berjalan setiap pagi atau sore, mandi air hangat, atau minum susu menjelang tidur. Latihan mengendurkan, pijatan, atau meditasi termasuk teknik relaksasi yang bisa diterapkan. Ketika menjadwal ulang jam biologis tubuh kita, tak ada salahnya jika berjemur di pagi hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Untuk kondisi yang lebih parah, bagaimana pun, kita belum cukup mengandalkan beberapa usaha di atas. Usaha lebih lanjut yang membutuhkan waktu harus dilakukan.Nah, sebelum pengobatan, sebaiknya kita mengetahui dan mengobati hal-hal yang menjadi pemicu insomnia selama ini. Tak ada salahnya kita mengamati, apakah gejala-gejala yang kita alami menyangkut psikologis atau fisik? Jika masalahnya terletak pada fisik, artinya kita menderita suatu penyakit atau kelainan tertentu, harus disembuhkan terlebih dahulu. Jika insomnia dikarenakan tekanan kejiwaan, stres, kecemasan, dan masalah lainnya, hilangkan dulu masalah-masalah tersebut. Setelah itu, barulah insomnia dapat ditanggulangi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Penyembuhan insomnia kronis melingkupi penggunaan obat-obatan dan pendekatan perilaku. Untuk menggunakan obat-obatan, sebaiknya sesuai dengan bimbingan dokter atau spesialis tidur. Pengobatan mungkin diperlukan ketika penyebab insomnia telah diketahui secara pasti dan cara terbaik untuk menyembuhkannya melalui obat-obatan. Kemudian, jika kesulitan tidur benar-benar menimbulkan masalah ketika melaksanakan aktivitas sehari-hari, pendekatan perilaku tidak efektif digunakan. Untuk menggunakan obat-obatan, insomnia yang diderita adalah yang datang sewaktu-waktu atau jangka pendek.<span> </span>Ketika melakukan penyembuhan dengan obat-obatan, sebaiknya perhatikanlah beberapa hal, seperti dimulai dengan dosis efektif serendah mungkin, digunakan dalam jangka pendek, pemakaian dosi bertahap (jika mengambil dosis janka panjang), digunakan dengan praktek tidur yang baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Bagi yang kurang menyukai obat-obatan, beruntunglah Anda karena para ahli tidur telah mengembangkan variasi pendekatan perilaku. Tetapi, gabungan antara penyembuhan dengan obat-obatan dan pendekatan perilaku diketahui berhasil dengan baik pada banyak orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:&#34;">Pendekatan perilaku ini bisa dilakukan dengan berolahraga secara teratur, sekitar enam jam sebelum merasa mengantuk. Kebiasaan tidur siang sebaiknya juga dihindari sehingga tidak mengurangi tuntutan tidur malam. Menjalani ritual tidur yang sehat, seperti pergi tidur dan bangun sesuai jadwal yang sama setiap hari dan menuntaskan segala kecemasan dan kekhawatiran. Oya, jangan lupa buartlah lingkungan tidurmu senyaman mungk</span><span style="font-family:Autumn;">in. (Maghriza Novita Syahti)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">*Halaman Untukmu P'Mails edisi 147</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LOWONGAN KERJA ]]></title>
<link>http://kumpulanresensi.wordpress.com/2008/03/13/lowongan-kerja/</link>
<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 07:33:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bin Muhsin</dc:creator>
<guid>http://kumpulanresensi.id.wordpress.com/2008/03/13/lowongan-kerja/</guid>
<description><![CDATA[DI CARI 200 KARYAWATI UNTUK DI PERKERJAKAN SEBAGAI TERAPIS DI MY PLACE SPA&amp;CAFE SENAYAN JAKARTA.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>DI CARI 200 KARYAWATI UNTUK DI PERKERJAKAN SEBAGAI TERAPIS DI MY PLACE SPA&#38;CAFE SENAYAN JAKARTA. BERSEDIA MENGIKUTI TRAINING. PENGALAMAN DAN PENDIDIKAN TIDAK DIUTAMAKAN. LEBIH LANJUT HUBUNGI BPK CHARLES : 081388414488/021-93833599</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LET’S GO MUSLIM MUDA BERANI BEDA]]></title>
<link>http://kumpulanresensi.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 09:49:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bin Muhsin</dc:creator>
<guid>http://kumpulanresensi.id.wordpress.com/2008/03/03/let%e2%80%99s-go-muslim-muda-berani-beda/</guid>
<description><![CDATA[Sangat berkesan setelah dibaca, buku karya Fadlan Al Ikhwani ini membongkar sebuah realita dalam keh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vnetclub.org/?id=badrudin" title="PULSA BIKIN KAYA " target="_blank">Sangat berkesan setelah dibaca</a>, buku karya Fadlan Al Ikhwani ini membongkar sebuah realita dalam kehidupan pemuda muslim,yang merupakan motivator handal yang dapat mendongkrak semangat para muslim muda untuk berani beda. Beda dari yang biasa untuk menjadi luar biasa. Melihat sekilas pada buku terbaru karya Fadlan Al Ikhwani ini,”muslim muda berani beda”, maka akan terlintas pada pikiran kita bahwa pasti banyak mengacu pada kegiatan anak muda. Akan tetapi buku ini dapat dikonsumsi oleh siapapun dengan tidak memandang status sosial, pangkat, jabatan, atau kedudukan, dan berlaku untuk segala umur.</p>
<p><a href="http://www.klikdynasis.net/?id=BA1184" title="BISNIS MODAL SMS DAN GRATIS " target="_blank">Sebenarnya apa sih yang beda</a>? Beda tidak identik dengan keburukan,yang dimaksud di sini tentunya beda yang positif, misalnya ketika orang lain masih tidur,kita bangun.Saat yang lain berleha-leha, kita berkarya.Saat yang lain asyik dengan aktivitas yang sia-sia,kita disibukkan oleh segudang karya yang penuh makna. Coba sekarang kalian ingat kembali,pernahkah kalian putus asa sebelum mencoba? Merasa pesimis,atau merasa tak berbakat? Betapa ruginya diri kita, seandainya kehadiran kita di dunia hanya menunggu datangnya ajal, tanpa sebuah karya yang bermakna, tanpa sebuah tindakan yang bermanfaat. Selama ini kita sering sembunyi di balik alasan seakan kita tidak mampu, padahal Allah menciptakan kita dengan kemampuan yang dahsyat. Janganlah masalah bakat dijadikan argumen untuk menutupi kelemahan. Seperti yang telah termuat dalam buku ini bahwa Thomas Alva Edison mengatakan: “Kesuksesan itu 1 % intelegensia dan 99 % tetesan keringat setelah mengalami kegagalan ribuan kali pada percobaan”.Itu artinya,bakat yang dimiliki tanpa diimbangi oleh kemauan untuk mengubah keadaan diri,niscaya tidak banyak berarti. Betapa kufurnya kita yang telah diberi kempampuan namun tidak memanfaatkannya.</p>
<p>Tunjukkan ekspresi, semangat dan potensimu sebagai muslim muda. Jadilah seorang muslim ahli pikir, ahli zikir dan ikhtiar. Subhanallah…sungguh besar sekali manfaat yang dapat kita ambil , menyadarkan diri betapa berharganya waktu yang telah Allah berikan,yang seharusnya kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan waktumu, walau sesaat, agar kita tidak termasuk orang- orang yang merugi, seperti yang telah dijelaskan dalam Q.S.Al- Ashr,”Demi masa,sesungguhnya manusia benar- benar dalam kerugian kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan(QS.Al-Imron:183) .</p>
<p>Buku ini mengupas tuntas bagaimana kita menyikapi waktu. Dikemas dengan bahasa yang gaul, mudah dimengerti, mendidik sekaligus menghibur yang dapat merefreshkan pikiran. Memotivasi untuk terus berkarya dan berkarya, agar kita dapat menunjukkan bahwa kita adalah seorang muslim sejati, membuktikan kedewasaan kita dengan produktivitas amal nyata, bukan menjadi pengecut yang bisanya hanya berangan-angan.</p>
<p>Selain itu juga ada tips praktis mengenai menegemen stres, kiat-kiat praktis mengatasi masalah hidup,hikmah sillaturahim,dll. Sedikit ulasan mengenai tips menejemen stres yaitu: pertama,selalu mengaitkan hati kepada Allah, menyembah-Nya, taat dan beribadah kepada-Nya.Kedua, menutup berkas-berkas masa lalu dengan semua kegetirannya dan genangan air matanya,semua kesedihannya dan bencananya ,semua kepahitannya dan keresahannya. Ketiga, membiarkan masa depan yang masih gaib,tidak melarutkan diri di dalamnya, dan mmenjauhkan diri dari ssegala bentuk ramalan ,perkiraan dan ketidakjelasannya.Untuk mengatasi hal tersebut,ada juga kiat praktis dari Aa Gym yang dinamakan 5 resep untuk mengatasi persoalan hidup.Diantaranya: pertama, siap menghadapi yang cocok dan yang tidak cocok dengan keinginan.kedua, kalau sudah terjadi intinya adalah ridho.Ketiga, jangan mempersulit diri.Keempat,evaluasi diri.Kelima, menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong,dalam artian bertawakal kepada-Nya. Adapun hikmah dari silaturrohim,salah satunya adalah dapat memperpanjang usia.Disamping itu juga dapat meluaskan rizki.</p>
<p>Semoga sedikit ulasan di atas dapat menjadi gambaran mengenai buku ini. Insya Allah banyak ilmu yang anda peroleh dan Insya Allah mendatangkan manfaat.Makanya tunggu apa lagi, mari kita perdalam ilmu dengan banyak membaca Menunjukkan ekspresi,semangat,dan potensi.Menjadi muslim ahli pikir,ahli dzikir dan ikhtiar. Ayo…Tunjukkan semangatmu Wujudkan impianmu</p>
<p><a href="http://www.ukhuwah.or.id/dr/?q=node/256" title="UKHUWAH " target="_blank">DIAMBIL DARI </a></p>
<p><a href="http://www.binmuhsingroup.blogspot.com" title="TERMINAL PROMOSI DAN INVESTASI " target="_blank">BIN MUHSIN</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KESULITAN BELAJAR (LEARNING DISSABILITY) DAN MASALAH EMOSI]]></title>
<link>http://tarmidi.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 08:46:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>tarmidi</dc:creator>
<guid>http://tarmidi.id.wordpress.com/2008/02/20/kesulitan-belajar-learning-dissability-dan-masalah-emosi/</guid>
<description><![CDATA[Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (<i><span style="font-family:Arial;">spesific learning disabilities</span></i>), hiperaktivitas<i><span style="font-family:Arial;"> </span></i>dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Kelompok anak dengan <i>Learning Dissability</i> (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Menurut Cruickshank (1980) gangguan-gangguan tersebut adalah gangguan latar-figure, visual-motor, visual-perceptual, pendengaran, <i>intersensory</i>, berpikir konseptual dan abstrak, bahasa, sosio-emosional, <i>body image</i>, dan konsep diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>            </span>Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”<i>hidden handicap</i>”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang <i>underachiever</i>, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">B. Faktor penyebab Kesulitan Belajar</span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>            </span>Ada beberapa penyebab kesulitan belajar yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu :</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Faktor keturunan/bawaan</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau prematur</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (<i>drugs</i>), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.<span>  </span>Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit membaca (Harwell, 2001)</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sementara Kirk &#38; Ghallager (1986) menyebutkan faktor penyebab kesulitan belajar sebagai berikut:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">1. Faktor Disfungsi Otak</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penelitian mengenai disfungsi otak dimulai oleh Alfred Strauss di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an, yang menjelaskan hubungan kerusakan otak dengan bahasa, hiperaktivitas dan kerusakan perceptual. Penelitian berlanjut ke area <i>neuropsychology</i> yang menekankan adanya perbedaan pada hemisfer otak. Menurut Wittrock dan Gordon, hemisfer kiri otak berhubungan dengan kemampuan <i>sequential linguistic</i> atau kemampuan verbal; hemisfer kanan otak berhubungan dengan tugas-tugas yang berhubungan dengan auditori termasuk melodi, suara yang tidak berarti, tugas visual-spasial dan aktivitas non verbal. Temuan Harness, Epstein, dan Gordon mendukung penemuan sebelumnya bahwa anak-anak dengan kesulitan belajar (<i>learning difficulty</i>) menampilkan kinerja yang lebih baik daripada kelompoknya ketika kegiatan yang mereka lakukan berhubungan dengan otak kanan, dan buruk ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan otak kiri. Gaddes mengatakan bahwa 15% dari anak yang termasuk <i>underachiever</i>, memiliki disfungsi system syaraf pusat (dalam Kirk &#38; Ghallager, 1986).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">2. Faktor Genetik</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hallgren melakukan penelitian di Swedia dan menemukan bahwa, yang faktor herediter menentukan ketidakmampuan dalam membaca, menulis dan mengeja diantara orang-orang yang didiagnosa disleksia. Penelitian lain dilakukan oleh Hermann (dalam Kirk &#38; Ghallager, 1986) yang meneliti disleksia pada kembar identik dan kembar tidak identik<span>  </span>yang menemukan bahwa frekwensi disleksia pada kembar identik lebih banyak daripada kembar tidak identik sehingga ia menyimpulkan bahwa ketidakmampuan membaca, mengeja dan menulis adalah sesuatu yang diturunkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">3. Faktor Lingkungan dan Malnutrisi</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kurangnya stimulasi dari lingkungan dan malnutrisi yang terjadi di usia awal kehidupan merupakan dua hal yang saling berkaitan yang dapat menyebabkan munculnya kesulitan belajar pada anak. Cruickshank dan Hallahan (dalam Kirk &#38; Ghallager, 1986) menemukan bahwa meskipun tidak ada hubungan yang jelas antara malnutrisi dan kesulitan belajar, malnutrisi berat pada usia awal akan mempengaruhi sistem syaraf pusat dan kemampuan belajar serta berkembang anak. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">4. Faktor Biokimia</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengaruh penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Comfers (dalam Kirk &#38; Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam Kirk &#38; Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak yang mengalami kesulitan belajar. Pada sebagian anak, diet ini berhasil namun ada juga yang tidak cukup berhasil. Beberapa ahli kemudian menyebutkan bahwa memang ada beberapa anak yang tidak cocok dengan bahan makanan.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">C. Karakteristik Kesulitan Belajar</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut Valett (dalam Sukadji, 2000) terdapat tujuh karakteristik yang ditemui pada anak dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar disini diartikan sebagai hambatan dalam belajar, bukan kesulitan belajar khusus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sejarah kegagalan akademik berulang kali </span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pola kegagalan dalam mencapai prestasi belajar ini terjadi berulang-ulang. Tampaknya memantapkan harapan untuk gagal sehingga melemahkan usaha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hambatan fisik/tubuh atau lingkungan<b> </b>berinteraksi dengan kesulitan belajar<b></b></span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adanya kelainan fisik, misalnya penglihatan yang kurang jelas atau pendengaran yang terganggu berkembang menjadi kesulitan belajar yang jauh di luar jangkauan kesulitan fisik awal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kelainan motivasional </span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kegagalan berulang, penolakan guru dan teman-teman sebaya, tidak adanya <i>reinforcement</i>. Semua ini ataupun sendiri-sendiri cenderung merendahkan mutu tindakan, mengurangi minat untuk belajar, dan umumnya merendahkan motivasi atau memindahkan motivasi ke kegiatan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kecemasan yang samar-samar,<b> </b>mirip kecemasan yang mengambang<b></b></span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kegagalan yang berulang kali, yang mengembangkan harapan akan gagal dalam bidang akademik dapat menular ke bidang-bidang pengalaman lain. Adanya antisipasi terhadap kegagalan yang segera datang, yang tidak pasti dalam hal apa, menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, dan semacam keinginan untuk mengundurkan diri. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Misalnya dalam bentuk melamun atau tidak memperhatikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perilaku berubah-ubah,<b> </b>dalam arti tidak konsisten dan tidak terduga<b></b></span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Rapor hasil belajar anak dengan kesulitan belajar cenderung tidak konstan. Tidak jarang perbedaan angkanya menyolok dibandingkan dengan anak lain. Ini disebabkan karena naik turunnya minat dan perhatian mereka terhadap pelajaran. Ketidakstabilan dan perubahan yang tidak dapat diduga ini lebih merupakan isyarat penting dari rendahnya prestasi itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penilaian yang keliru karena data tidak lengkap</span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesulitan belajar dapat timbul karena pemberian label kepada seorang anak berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Misalnya tanpa data yang lengkap seorang anak digolongkan keterbelakangan mental tetapi terlihat perilaku akademiknya tinggi, yang tidak sesuai dengan anak yang keterbelakangan mental.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendidikan dan pola asuh yang didapat tidak memadai</span></u></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.85pt;text-align:justify;text-indent:33.15pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Terdapat anak-anak yang tipe, mutu, penguasaan, dan urutan pengalaman belajarnya tidak mendukung proses belajar. Kadang-kadang kesalahan tidak terdapat pada sistem pendidikan itu sendiri, tetapi pada ketidakcocokan antara kegiatan kelas dengan kebutuhan anak. Kadang-kadang pengalaman yang didapat dalam keluarga juga tidak mendukung kegiatan belajar. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D. Klasifikasi Kesulitan Belajar</span></b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut Kirk &#38; Gallagher (1986), kesulitan belajar dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar yaitu <i>developmental learning disabilities</i> dan kesulitan belajar akademis. Komponen utama pada <i>developmental learning disabilities</i> antara lain perhatian, memori, gangguan persepsi visual dan motorik, berpikir dan gangguan bahasa. Sedangkan kesulitan belajar akademis termasuk ketidakmampuan pada membaca, mengeja, menulis, dan aritmatik. Pembagian tersebut dapat dilihat pada bagan berikut.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;" align="center"><!--[if mso &#38; !supportInlineShapes &#38; supportFields]&#62;<span style='font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;'><span></span><span> </span>SHAPE<span>  </span>\* MERGEFORMAT <span></span></span>&#60;![endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><!--[if gte vml 1]&#62;-->                                                                                                                                                                                                                           </p>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Learning      Disability </span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>(LD)</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Developmental LD</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Academic LD</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Attention disorder      </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Memory Disorder</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>      </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Gangguan persepsi </span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>visual &#38; motorik</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Thinking disorder</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Language Disorder</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Reading difficulty</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'></span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Mengeja</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Menulis</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'>Aritmatik</span></b><b><span style='font-size:9pt;font-family:Arial;color:black;'> </span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>                                                                          <!--[if !vml]--><img src="///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="Organization Chart" height="280" width="412" /><!--[endif]--></span><!--[if mso &#38; !supportInlineShapes &#38; supportFields]&#62;<span style='font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;'>   <span></span></span>&#60;![endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bagan tipe kesulitan belajar (<i>learning disabilities</i>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:31.35pt;text-align:center;text-indent:-31.35pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sumber : Kirk, S.A, &#38; Gallagher, J.J. (1986). <i>Educating Exceptional Children </i>5<sup>th</sup> ed. Boston: Houghton Mifflin Company</span></p>
<p style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;" align="center"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.’1. <i>Developmental Learning Disabilities </i></span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.1.a. Perhatian (<i>attention disorder</i>)</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Anak dengan <i>attention disorder</i> akan berespon pada berbagai stimulus yang banyak. Anak ini selalu bergerak, sering teralih perhatiannya, tidak dapat mempertahankan perhatian yang cukup lama untuk belajar dan tidak dapat mengarahkan perhatian secara utuh pada sesuatu hal. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></u></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.1.b. <i>Memory Disorder</i></span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Memory disorder</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> adalah ketidakmampuan untuk mengingat apa yang telah dilihat atau didengar ataupun dialami. Anak dengan masalah memori visual dapat memiliki kesulitan dalam me-<i>recall </i>kata-kata yang ditampilkan secara visual. Hal serupa juga dialami oleh anak dengan masalah pada ingatan auditorinya yang mempengaruhi perkembangan bahasa lisannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></u></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.1.c. Gangguan persepsi visual dan motorik</span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Anak-anak dengan gangguan persepsi visual tidak dapat memahami rambu-rambu lalu lintas, tanda panah, kata-kata yang tertulis, dan symbol visual yang lain. mereka tidak dapat menangkap arti dari sebuah gambar atau angka atau memiliki pemahaman akan dirinya. Contohnya seorang anak yang memiliki penglihatan normal namun tidak dapat mengenali teman sekelasnya. Dia hanya mampu mengenal saat orang ybs berbicara atau menyebutkan namanya. Pada anak dengan gangguan persepsi motorik, mereka tidak dapat memahami orientasi kanan-kiri, bahasa tubuh, <i>visual closure</i> dan orientasi spasial serta pembelajaran secara motorik.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.1.d. <i>Thinking disorder</i></span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Thinking disorder</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> adalah kesulitan dalam operasi kognitif pada pemecahan masalah pembentukan konsep dan asosiasi. <i>Thinking disorder</i> berhubungan dekat dengan gangguan dalam berbahasa verbal. Dalam penelitian oleh Luick terhadap 237 siswa dengan gangguan dalam berbahasa verbal yang parah, menemukan bahwa mereka memperlihatkan kemampuan yang normal dalam tes visual dan motorik namun berada di bawah rata-rata pada tes persepsi auditori, ekspresi verbal, memori auditori sekuensial dan <i>grammatic closure</i>.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.1.e. <i>Language Disorder</i></span></u></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Merupakan kesulitan belajar yang paling umum dialami pada anak pra-sekolah. Biasanya anak-anak ini tidak berbicara atau berespon dengan benar terhadap instruksi atau pernyataan verbal.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">D.2. <i>Academic Learning Disabilities</i></span></u></b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Academic learning disabilities</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> adalah kondisi yang menghambat proses belajar yaitu dalam membaca, mengeja, menulis, atau menghitung. Ketidakmampuan ini muncul pada saat anak menampilkan kinerja di bawah potensi akademik mereka. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">E. Assesmen Formal dan Identifikasi Siswa Kesulitan Belajar</span></b></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>            </span>Harwell (2001) mengungkapkan bahwa sebaiknya assesmen dan identifikasi siswa berkesulitan belajar dilakukan oleh team yang terdiri dari berabagi disiplin ilmu, yaitu :</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Psikolog sekolah</span></u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">: memperoleh informasi tentang kondisi keluarga, sosial, dan budaya, mengukur inteligensi dan perilaku melalui alat ukur yang terstandar, dan memperoleh gambaran tentang kelebihan dan kekurangan siswa.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Guru kelas</span></u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> dan orang tua: memberi informasi tentang perkembangan anak, keterampilan yang telah diperoleh anak, motivasinya, rentang perhatiannya, penerimaan sosial, dan penyesuaian emosional, yang dapat diperoleh dengan mengisi <i>rating scale</i> tentang perilaku anak.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ahli pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus</span></u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">: melakukan penilaian akademik dengan menggunakan berbagai tes individual, mengobservasi siswa dalam situasi belajar dan bermain, melihat hasil pekerjaan siswa, dan mendiskusikan performa siswa denga guru dan orangtua.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perawat sekolah</span></u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> :<span>  </span>memperoleh data perkembangan kesehatan siswa. Perawat bisa meminta siswa untuk menunjukkan aktivitas motorik sederhana, melakukan tes pendengaran dan penglihatan siswa, dan jika ada masalah kesehatan, perawat bisa mendiskusikannya ke dokter.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">administrator sekolah:</span></u><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> memfasilitasi pertemuan dengan pihak terkait dan menyediakan dana.<u></u></span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:27pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dan terkadang juga melibatkan pihak lain seperti guru olahraga, terapis wicara, terapis okupasi, pekerja sosial, atau dokter anak.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>            </span>Menurut Harwell (2001), ada beberapa aspek penilaian yang harus dilakukan dalam assesmen, yaitu:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Intelectual assesment.. </span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penilaian kemampuan intelektual ini meliputi:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">IQ yang bisa diukur dengan tes inteligensi terstandar, </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Peserpsi visual untuk melihat interpretasi otak terhadap apa yang dilihatnya, dapat diketahui dengan tes <i>Visual Motor Integration</i> (VMI) untuk anak usia 3-18 tahun atau <i>The Bender Visual Motor Gestalt Test </i>untuk usia 4-11 tahun</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Persepsi Auditori untuk melihat kemampuan proses menerima informasi melalui stimulus auditori yang bisa dilakukan melalui observasi kelas atau tes-tes auditori.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ingatan untuk melihat kemampuan anak dalam mengingat informasi yang diterimanya, bisa diketahui melalui subtes digit span WISC atau tes lainnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span></i><!--[endif]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Academic assesment</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">.<i></i></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penilaian ini dilakukan untuk menilai kemampuan membaca/mengeja, menulis, dan berhitung yang dapat dilihat melalui test terstandar, observasi kelas dan saat bermain atau hasil kerjanya sehari-hari.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span></i><!--[endif]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Language assesment</span></i></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahasa anak yang meliputi pengetahuan terhadap arti kata, pengetahuan untuk meletakkan kata dalam kalimat, dan kemampuan memanipulasi kata sehingga memiliki arti yang bermakna. Penilaian dapat dilakukan dengan:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Melihat hasil kerja anak dan bagaimana ia merespon huruf, kata, dan kalimat.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bahasa yang diucapkan, seberapa banyak kosa katanya, apakah kata yang dipilihnya sesuai atau tidak.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mendengar, apakah anak dapat mendengar dan mengikuti pembicaraan.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Observasi percakapannya dengan teman-teman sebayanya, dengan yang lebih muda, dengan yang lebih tua. Apakah Ia bisa menyesuaikan bahasa yang tepat.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span></i><!--[endif]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Health assesment. </span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui riwayat kesehatan siswa.<i></i></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Behavior assesment</span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">. Penilaian perilku ini dilakukan untuk melihat dampak perilaku anak terhadap keberhasilannya di sekolah., yang dapat dilakukan melalui observasi, wawancara dengan orangtua dan guru, penggunaan rating scale, penggunaan inventori keprbadian, dan tes proyektif. Ketika menilai perilaku siswa, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemampuan komunikasi siswa</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengetahuan mereka akan komunitasnya</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemampuan untuk mengarahkan diri (<i>self directing</i>)</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesadaran akan kesehatan dan keselamatan</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemampuan untuk menjaga diri sendiri</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perkembangan kemampuan sosial</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kebiasaan kerja dan kesadaran akan pekerjaannnya</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 0.75in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penggunaan waktu luang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengasuhan (<i>Parenting</i>)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Proses <i>parenting</i> terdiri dari melahirkan, melindungi, merawat, dan mengarahkan anak.Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa pengasuhan disadari sebagai pengalaman penting kehidupan manusia yang dapat berpengaruh secara emosi, sosial, dan intelektual. Proses ini mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya – orang tua, anak, dan masyarakat (Martin &#38; Colbert, 1997). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengasuhan adalah proses yang kompleks daripada tampilannya di permukaan. Karakteristik orang tua dan anak yang unik, dan suasana (<i>setting</i>) interaksinya, akan saling mempengaruhi (lihat bagan). Pengaruh tersebut bisa langsung, seperti respon orangtua terhadap senyum anaknya. Di lain sisi, pengaruh tersebut juga tidak langsung, contohnya orangtua yang memiliki kepuasan terhadap pekerjaan mereka lebih memiliki energi emosi yang positif terhadap anak-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span></span><!--[if gte vml 1]&#62;-->         </p>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal"><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Karakteristik Orangtua</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Kepribadian</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Sejarah perkembangan</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Kepercayaan (beliefs)</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Pengetahuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Gender</span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal"><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Konteks </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Jaringan sosial <i>(social network</i>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Situasi kerja (<i>work setting</i>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Hubungan perkawinan</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Struktur keluarga</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Status sosial ekonomi</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160;      </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>kebudayaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&#160;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&#160;</span></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal"><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Karakteristik Anak</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Temperamen</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Gender</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Kemampuan (<i>abilities</i>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style='margin-left:.5in;text-indent:-0.5in;'><span style='font-size:9pt;font-family:Wingdings;'><span>§<span>&#160;&#160;&#160; </span></span></span><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Usia </span></p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>P A R E N T I N G</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Adult Development</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:9pt;font-family:"Arial Narrow";'>Child Development</span></b></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%">
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><b><span style='font-size:8pt;font-family:Arial;'>Pengaruh-pengaruh dalam pengasuhan (<i>Influences on Parenting</i>)<i></i></span></b></p>
<p class="MsoNormal" align="center" style='text-align:center;'><span style='font-size:8pt;font-family:Arial;'>Sumber : Martin, C.A.,      Colbert, K.K.1997. <i>Parenting A Life      Span Perspective</i>. New York      : McGraw-Hill </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</table>
<p>  <!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:2;left:0;margin-left:11px;margin-top:13px;width:570px;height:293px;"><img src="///C:/DOCUME%7E1/User/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" height="293" width="570" /></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketika seseorang menjadi orangtua, mereka membawa kombinasi sifat-sifat pribadi (<i>personal traits</i>) dan pengalaman-pengalamannya. Individu yang menjadi orang tua tersebut mempunyai tingkatan kematangan, energi, kesabaran, kecerdasan, dan sikap. Karakteristik ini akan mempengaruhi kepekaan mereka terhadap kebutuhan anak, harapan terhadap diri mereka sendiri dan anak-anaknya, dan kemampuan mereka untuk melaksanakan tuntutan peran pengasuhan (Dix dalam Martin &#38; Colbert, 1997)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Orangtua mempunyai ide tersendiri tentang bagaimana anak berkembang, belajar, dan perasaan terhadap proses pengasuhan. Kepercayaan ini merupakan dasar berpikir untuk merawat anaknya. Kepercayaan tersebut meliputi tahapan perkembangan, ide akan pentingnya pengaruh keturunan (<i>heredity</i>) dan lingkungan, harapan akan hubungan orangtua – anak, dan pikiran mengenai apa mendasari pengasuhan yang<span>  </span>baik dan yang buruk (Goodnow &#38; Collins, 1990; McGillicuddy-DeLisi &#38; Sigel, 1995 dalam Martin &#38; Colbert, 1997). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pola Asuh Orang Tua</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kompetensi sosial dan performa akademik seorang anak berhubungan dengan pola asuh yang diterapkan orangtua (Papalia &#38; Olds, 1995). Menurut Diane Baumrind (</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">dalam Berns 1997)</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">, ada tiga macam pola asuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">a.<span>   </span>Pola asuh <i>autoritharian</i></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>      </span>Biasanya tampak pada orangtua yang sangat menuntut kontrol perilaku dan sopan santun, sesuai dengan aturan-aturan ketat dan harapan yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Anak diharapkan untuk patuh, dan standar orangtua diterapkan secara keras, memaksa, dan melalui hukuman-hukuman. Pola asuh seperti ini dapat menghalangi anak untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan potensinya, dan mempengaruhi kemampuan anak untuk dapat membuat keputusan sendiri. Anak dapat merasa frustrasi, kesal, maral, dan menjadi tidak berani, tergantung, dan merasa tidak yakin pada dirinya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></b><!--[endif]--><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pola asuh autoritatif</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>      </span>Tampak di mana kontrol yang kuat dilatih dan diterapkan dengan cara yang penuh kasih sayang dan dalam suasana yang mendukung. Tujuan orangtua adalah menghargai dan meningkatkan kebebasan dan kemandirian anak, sekaligus memastikan bahwa perilaku mereka sesuai dengan standar yang ada di masyarakat. Pada pola ini, ada proses memberi dan menerima secara verbal, kontrol diberikan berdasarkan strategi yang rasional dan berorientasi pada masalah, serta orangtua bersedia memberikan penjelasan kepada anak tentang keputusan-keputusan yang diambil oleh orangtua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Orang tua ini fleksibel namun tegas, memelihara kontrol dan disiplin namun memberikan alasan yang tepat untuk disiplin tersebut. Mereka juga mengkomunikasikan harapan-harapan mereka untuk anaknya, namun memberi kesempatan untuk berdiskusi. Disiplin yang mereka terapkan juga menekankan tanggung jawab, kerja sama, dan pengaturan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pola asuh seperti ini cenderung menghasilkan anak yang kompeten, memiliki tanggung jawab secara sosial, yakin pada dirinya, dan mandiri. Pada kondisi yang positif seperti inilah anak dapat mengembangkan rasa percaya diri yang tinggi dan konsep diri yang positif. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:40.5pt;text-align:justify;text-indent:-22.5pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></b><!--[endif]--><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pola asuh permisif</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>      </span>Orangtua yang permisif biasanya menghargai ekspresi diri dan pengaturan terhadap diri sendiri. Mereka tidak banyak memberi tuntutan, mengijinkan anak untuk sebanyak mungkin memonitor aktivitas mereka sendiri. Mereka memandang dirinya sebagai sumber (<i>resources</i>), menghindari diberlakukannya kontrol, dan tidak mendorong anak untuk mematuhi peraturan yang ditentukan oleh pihak eksternal. Mereka tidak mengontrol, tidak menuntut, dan cukup hangat. Namun demikian, anak biasanya akan tetap merasa tidak puas karena merasa tidak nyaman tanpa adanya kontrol, sehingga ia memberikan banyak energi pada usaha untuk mengontrol orangtua dan mencoba membuat orangtua mengontrol mereka. Hasilnya, anak menjadi tidak mampu menghadapi rasa frustrasi, mengalami kesulitan dalam menerima tanggung jawab, tidak dewasa secara sosial-emosional, dan kurangnya kontrol diri serta rasa percaya diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Gangguan Emosi</span></b></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">National Dissemination Center for Children with Disabilities </span></i><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">dalam (<i>www.nichcy.org</i></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> ) menyatakan bahwa gangguan emosi (<i>emotional disturbance</i>)“ adalah kondisi yang menunjukkan adanya satu atau lebih karakteristik berikut yang terjadi pada periode yang cukup lama yang berpengaruh terhadap performa akademis anak. Kondisi tersebut adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak berhubungan dengan kecerdasan, sensori ataupun kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketidakmampuan untuk membangun atau menjaga hubungan interpersonal dengan teman-teman sebaya dan guru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perilaku atau perasaan yang tidak sesuai pada kondisi lingkungan yang normal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adanya perasaan tidak senang atau depresi yang menetap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.1pt;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adanya kecenderungan simptom fisik atau ketakutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penyebab gangguan emosional tidak bisa ditentukan dengan pasti, meskipun beberapa faktor seperti keturunan, kerusakan otak, diet, stress, dan keluarga mungkin menjadi penyebabnya, penelitain tidak menunjukkan faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama gangguan emosi. Karakteristik anak yang mengalami gangguan emosi dapat dilihat sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">• <i>Hyperactivity</i> (attensi yang rendah, impulsif)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">• <i>Aggression behavior</i> (berkelahi)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">• <i>Withdrawal</i> (kurang dapat menginisiasi interaksi dengan orang lain, cemas)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span> </span>from exchanges or social interaction, excessive fear or anxiety);</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">• <i>Immaturity</i> (Menangis yang tidak jelas, temper tantrums, poor coping skills); and</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">• <i>Learning difficulties</i> (prestasinya rendah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>            </span></span></b><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sementara itu, Cooper (dalam Farrel, 1995) menyatakan bahwa gangguan emosi adalah hasil interaksi yang kompleks antara faktor kontekstual dan aspek yang dibawa individu pada situasi tertentu. Konteks yang berpengaruh dalam hal ini adalah rumah, sekolah, dan kepribadian anak sendiri. Pada lingkungan rumah, terdapat beberapa pengalaman yang mungkin terjadi pada anak, antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:11.4pt;text-align:justify;text-indent:-10.65pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">kurangnya perhatian orangtua terhadap sekolah</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Zona Pribadiku, Zona pribadimu]]></title>
<link>http://tirtaksara.wordpress.com/2007/11/30/zona-pribadiku-zona-pribadimu/</link>
<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 06:39:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hermanu</dc:creator>
<guid>http://tirtaksara.id.wordpress.com/2007/11/30/zona-pribadiku-zona-pribadimu/</guid>
<description><![CDATA[ Apakah Anda menyadari hal-hal yang tampaknya remeh, namun sangat memengaruhi interaksi Anda dengan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> <font color="#000000"><font size="2">Apakah Anda menyadari hal-hal yang tampaknya remeh, namun sangat memengaruhi interaksi Anda dengan lingkungan berkaitan dengan apa yang disebut 'wilayah pribadi', alias dalam bahasa sundanya disebut <em>privacy</em>? Pernahkah Anda memerhatikan bagaimana setiap orang, termasuk Anda sendiri, berusaha sedapat mungkin mempertahankan wilayah pribadi agar tidak dilanggar oleh orang lain? Apabila seseorang menerobos masuk melewati jarak yang kita anggap zona pribadi itu, kita akan merasa gelisah, uring-uringan, lalu ujung-ujungnya – kalau tak mampu mengontrol diri – mudah tersulut emosinya dan melakukan tindakan agresif.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> <font color="#000000"><font size="2">Konsep tentang kebutuhan ruang pribadi pada manusia pertama kali dicetuskan oleh Antropolog Amerika bernama Edward T. Hall pada tahun 60-an, tatkala dia memperkenalkan istilah “<em>proxemics</em>”, yang diturunkan dari kata <em>proximity</em> yang berarti kedekatan. Setiap orang – mengacu pada konsep tersebut – memiliki apa yang disebut sebagai “gelembung virtual”, sebuah gelembung tak kasat mata yang bersifat fleksibel, mengikuti ke mana pun kita pergi, bertugas menjaga jarak 'aman' kita dari orang lain, dan membuat kita terlindungi secara psikis.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> <font color="#000000"><font size="2">Yang menarik, besarnya kebutuhan ruang pribadi berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu  faktor yang mempengaruhinya adalah kondisi sosial ekonomi, sehingga hanya dengan mengamati bagaimana seseorang menjaga wilayah pribadinya, kita dapat menduga latar belakang sosial ekonomi orang tersebut. Inilah seni menyenangkan yang kelak melahirkan kajian populer tentang <strong>bahasa tubuh.</strong></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> <font color="#000000"><font size="2">Bagaimana cara terbaik mempraktekkan ilmu ini? Well, keluar rumah dan pergi ke lingkungan yang ramai: jalan, mall, kantor, atau bahkan di dalam lift. Amati orang-orang di sekitar anda – dengan diam-diam tentu, bukan memelototi mereka. Perhatikan tingkah polah mereka. Selalu ada hal-hal tersirat yang hanya mungkin disadari apabila anda cukup peka:</font></font></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Ketika 	sepasang pria dan wanita berciuman, anda dapat membedakan apakah 	ciuman tersebut ciuman kekasih atau sekadar ciuman persahabatan 	dengan memperhatikan jarak pinggul mereka saat berciuman. Kalau 	sekadar sahabat, secara tak sadar mereka akan menjaga jarak antar 	pinggul mereka paling tidak 15 cm. Sebaliknya, sepasang kekasih akan 	merapatkan pinggul mereka serapat mungkin. Di Yogyakarta kalau tidak 	salah juga ada skripsi yang mengupas perilaku berboncengan motor 	sepasang muda-mudi, yang menunjukkan tingkat kedekatan hubungan 	mereka. Semakin mesra hubungan mereka, semakin erat sang pembonceng 	(yang mestinya cewek) mendekap tubuh pasangannya, 'biar tidak 	jatuh'.</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Seseorang 	yang dibesarkan di desa atau kota kecil relatif memiliki zona 	pribadi lebih besar daripada orang kota. Ini bisa dimaklumi karena 	di desa orang terbiasa hidup dalam lingkungan yang lapang 	(persawahan), sehingga mereka menciptakan wilayah pribadi yang juga 	lebih besar. Ini bisa anda buktikan saat dia bersalaman. Orang kota 	cenderung mendekatkan tubuhnya saat bersalaman. Sebaliknya, orang 	desa akan menjaga jarak dan mengulurkan tangan lebih jauh. Pada 	orang-orang yang terbiasa hidup di daerah terpencil bahkan tidak ada 	kebiasaan bersalaman. Mereka lebih menjaga jarak lagi dengan hanya 	melambaikan tangan buat memberi salam. Seorang kawan saya punya 	teori lain untuk membedakan gerombolan orang desa dengan orang kota, 	yakni dengan melihat cara mereka berjalan dalam rombongan di 	trotoar. Orang kota tulen akan berjalan berjajar dan memenuhi ruang 	trotoar. Sebaliknya, orang desa akan berjalan berurutan satu-satu, 	dengan orang yang lebih berpengalaman diberi tempat paling depan. 	Hal ini konon dipengaruhi oleh kebiasaan mereka berjalan di pematang 	sawah yang sempit yang hanya cukup dilalui satu orang. Benar atau 	tidak, Wallahu a' lam. Yang merasa <em>wong ndeso</em> tolong kasih 	verifikasi :-)</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><font size="2"><font color="#000000"><span>Polisi 	biasa menggunakan pelanggaran zona pribadi sebagai taktik untuk 	melumpuhkan mental tersangka dalam pemeriksaan. Jika anda tersangka 	yang tengah diperiksa, mereka akan berdiri sedekat mungkin dengan 	anda, mengambil posisi di bagian yang lemah secara psikis (misal, 	berdiri merapat tepat di belakang punggung anda yang tak 	terlindung). Hal ini akan membuat anda merasa gelisah, cemas, grogi, 	sehingga pada gilirannya anda akan 'menyerah' dan menurut. (Catatan: 	hal ini hanya berlaku efektif buat tersangka culun atau bandit kelas 	teri yang tidak memiliki taktik kontra serangan psikologis. 	Tersangka teroris kelas berat atau bandit </span></font><font color="#000000"><span><em>ndableg</em></span></font><font color="#000000"><span> 	tentu tidak mempan diperlakukan seperti itu.</span></font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Kelompok 	demonstran, supporter sepakbola, atau kumpulan massa dalam jumlah 	besar apapun alasan mereka berkumpul, selalu memiliki potensi 	membikin kerusuhan. Mengapa? Semakin bertambah besar kerumunan 	orang; semakin sedikit ruang pribadi bagi masing-masing individu, 	yang menyebabkan mereka menjadi gelisah, emosional, dan mudah 	terprovokasi. Satu pemicu kecil saja dapat membangkitkan huru-hara 	tak terkendali. Polisi anti huru-hara meredam kemungkinan tersebut 	dengan cara memecah kerumunan besar menjadi kelompok-kelompok lebih 	kecil sehingga tiap orang mendapatkan kembali zona pribadinya, dan 	hal itu akan membuatnya lebih tenang.</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Kalau 	anda berada di dalam lift, angkot, atau dalam bus yang padat 	penumpang di mana orang mau tidak mau harus membiarkan zona 	pribadinya dilanggar orang lain, anda akan menyadari bahwa setiap 	orang, termasuk anda sendiri, menjalankan ritual bawah sadar untuk 	menjaga keharmonisan sosial dengan cara: </font></font></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Menghindari 	kontak mata</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Memasang 	wajah datar alias tidak memperlihatkan ekspresi apapun</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Menahan 	gerakan yang tak perlu, terutama bila tempat tersebut sangat padat</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Membisu, 	tidak mengatakan sesuatu selain ucapan pendek seperti “permisi” 	atau “maaf”</font></font></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Jika 	membawa buku atau koran atau ponsel, maka benda-benda itu sering 	dipakai buat pengalih perhatian: pura-pura sibuk baca atau 	pencat-pencet tombol ponsel.</font></font></p>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"> 	<font color="#000000"><font size="2">Sebuah 	penelitian menunjukkan bahwa di WC umum yang berderet panjang, 90% 	orang cenderung memilih WC bagian ujung. Apabila tempat itu telah 	terisi barulah dia bersedia memakai WC bagian tengah. Tanya kenapa?</font></font></p>
</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
