<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>psikologi-pekembangan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/psikologi-pekembangan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "psikologi-pekembangan"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 22:04:26 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Persepsi]]></title>
<link>http://bawana.wordpress.com/?p=117</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:44:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
<guid>http://bintangbangsaku.org/2008/06/21/persepsi/</guid>
<description><![CDATA[Persepsi di sini berarti pemberian makna terhadap stimulusi inderawi. Desiderato (dalam Rakhmat,1991]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Persepsi di sini berarti pemberian makna terhadap stimulusi inderawi. Desiderato (dalam Rakhmat,1991) menegaskan, persepsi juga berkaitan erat dengan atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. Persepsi di sini juga mengandung pengertian bahwa persepsi adalah reaksi orientatif terhadap stimulus. Proses terjadi persepsi dipengaruhi oleh pengamatan lampau dan sikap individu pada masa sekarang.</p>
<p>Krech dan Crutchfield (dalam Rakhmat, 1991) mengatakan mengenai dua faktor ini sebagai faktor fungsional dan faktor struktural. Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalamana masa lalu, dan hal-hal lain yang menyangkut faktor pribadi manusia. Faktor struktural berasal semata dari sifat stimuli fisik dan efek-eefek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu yangblebih dikenal sebagi konsep Gestalt dalam persepsi. Konsep ini mengacu pada pengertian, bahwa bila kita memberikan persepsi; maka persepsi tersebut bersifat keseluruhan, dan tidak sekedar melihat bagian-bagiannya (Rakhmat, 1991).</p>
<p>Persepsi bukanlah sekedar penginderaan. Bila penginderaan hanyalah membuat kita sadar terhadap adanya stimulasi tertentu, maka persepsi sudah merujuk pada sebuah penginderaan yang bermakna (Irwanto, dkk, 1989). Agar penginderaan memiliki makna , paling itdak ada lima atatu ciri-ciri umum dalam dunia persepsi.</p>
<p>a. Sifat sensoris. Rangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas setiap indera, yakni sifat sensoris dasar dari masing-masingindera. Misalnya cahaya untuk penglihatan, bau untuk penciuman, suhu untuk perasa, bunyi untuk pendengaran, dan sifat permukaan bagi perabaan, dsb.</p>
<p>b. Sifat ruang (dimensi ruang). Dengan demikian persepsi kita akan dapat membeddakan anatara atas bawah, tinggi rendah, luas sempit, latar depan latar belakang, dll</p>
<p>c. Struktur dan konteks. Obyek-obyek atau gejala-gejala dalam dunia pengamatan memiliki struktur yang menyatu dengan konteksnya. Struktur dan konteksi ini merupakan keseluruhan yang menyatu. Dengan demikian, pada saat kita memiliki persepsi tertentu terhadap sebuah meja , maka meja sebagai obyek persepsi tidak berdiri sendiri, melainkan dalam ruang tertentu pada saat tertentu, emmiliki posisi atau letak tertentu, dll</p>
<p>d. Penuh arti. Makna dari arti ini adalah adanya relevansi atau hubungan yang berkmakna antara obyek yang kita persepsi dengan tujuan dalam diri kita. Dengan demikian, obyek amtan merupakan bagian vital atau cukup penting, yang berkaitan erat dengan masalah keseharian kita.</p>
<p>Irwanto dkk (1989) menjelaskan mengenai dimensi penginderaan dalam persepsi. Untuk mengerti masalah persepsi, masalah penginderaan perlu diketahui, mengingat persepsi adlah penginderaan yang sudah memiliki makna. Pengalaman inderawi (sensory experiences) amat tergantung dari sifat-sifat diterima rangsang sehingga kita memiliki pengalaman inderawi yang dapat kita jelaskan dalam bentangan kriteria kkuat lemah, lama sebentar, kasar halus, panas dingin, dsb. Bentangan penjelasn inilah yang disebut sebagai dimensi penginderaan Menurut Irwawanto, penginderaan ini memiliki 4 dimensi.</p>
<p>a. Intensitas. Kuat lemahnya penginderaan rangsang, menunjukkan masalah intensitas. Dengan demikian, kita akan mampu melihat ada cahaya yang kuat dan lemah, atau pun frekuensi kemunculan obyek sehingga menarik perhatian kita. Intensitas penginderaan dapat kita jumpai pada hampir semua indera.</p>
<p>b. Ekstensitas. Penginderaan akan mampu melihat ada tebal tipis, luas sempit, besar kecil, dll.</p>
<p>c. Waktu. Masalah waktu ini berkaitan erat dengan masalah apakah penginderaan berlangsung lama atau tidak.</p>
<p>d. Kualitas rangsang. Misalnya tinmggi rendah nada pada penginderaan pendengaran, atau kualitas warna pada penginderaan penglihatan.</p>
<p>Irwanto dkk (1989) mengatakan persepsi lebih bersifat psikologis. Persepsi merupakan proses penginderaan yang telah memiliki makan, sehingga amat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ersebut antara lain :</p>
<p>a. Perhatian (attention) yang selektif. Sebenarnya, dalam kehidupan manusia rangsangan yang diterima tidak terhitung secara kuantitas. Fungsi kognitif dan emosi manusia akan menggiring manusia untuk tidak menanggapi terhadap semua rangsang yang diterima. Untuk itulah setiap manusia akan memusatkan perhatian pada rangsang-rangsang tertentu saja. Dengan faktor perhatian ini, tidak semua obyek amatan akan masuk dalam kawasan persepsi seseorang. Perhatian, secara definitif dikatakan oleh Andersen (dalam Rahkmat, 1991) sebagai prosews mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli lainnya melemah. Lebih lanjut Andersen menyebutkan hukum-hukum mengenai perhatian selektif yang layak diperhatikan dalam masalah pembahasan mengenai efek-efek komunikasi. Hal ini patut diperhatikan, karena pembahasan mengenai iklan tak akan pernah lepas dari maslah komunikasi. Karakteirstik perhatian adalah sebagai berikut ini :<br />
1) Perhatian merupakan proses aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksif. Kita secara sengaja mencari stimuli tertentu dan mengarahkan perhatiannya kepadanya. Hanya kadng-kadang saja kita akan mengalihkan perhatian ke obyek yang lain, pada saat stimuli lain lebih kuat dan intensif.<br />
2) Kita cenderung memperhatikan hal-hal tertentu yang penting, atau dianggpa penting, menonjol atau melibatkan diri kita sendirir.<br />
3) Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan keprcayaan, sikap, nilai, kebiasaan dan kepentingan kita. Kita cenderung memperkokoh kepercayaan, sikap, nilai, kepentingan yang ada dalam mengarahkan perhatian kita, baik sebagai subyek maupun sebagai obyek komunikasi.<br />
4) Kebiasan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik dan jug apa yang potensial akan menarik perhatian kita. Kita cenderung berinteraksi dengan teman-teman tertentu, membaca majalah tertentu, menonton acara tertentu. Hal-hal semacam ini akan mempenagruhi perhatian yang akan kita berikan terhadap obyek-obyek tertentu,<br />
5) Dalam situasi semacam ini kita secara sengaja menstrtukturkan perilaku kita untuk menghindari terpaan stimuli-stimuli yangh tidak kita perhatikan.<br />
6) Walaupun perhatian terhadap stimuli kuat karena daya tarik stimuli tersebut, tidak selalu dijamin persepsi kita akan senantiasa kuat dan betul-betul cermat. Kadang-kdang konsentrasi yang amat kuat mendistorsi persepsi kita.<br />
7) Perhatian tergantung dari kesiapan mental kita. Kita cenderung mempersepsi apa yang memang ingin kita persepsi.<br />
8) Tenaga-tenaga motivasional sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi. Tidak jarang efek motivasi ini menimbulkan distrkasi atau distorsi (meloloskan apa yang patut diperhatikan atau melihat apa yang sebenarnya tidak ada)<br />
9) Intensitas perhatian yang tidak konstan<br />
10) Dalam stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan. Kita mungkin memberikan fokus perhatian kepada obyek sebagai keseluruhan, kemudian pada aspek-aspek obyek tersebut, dan kembali lagi kepada obyek sebagai keseluruhan.<br />
11) Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha tersebut sering menuntut perhatian. Pada akhirnya perhatian terhadapa stimuli mungkun akan berhenti.<br />
12) Kita mampu menaruh perhatian terhadap berbagai stimuli secara serentak. Makin besar keragaman stimuli yang dapat perhatian, maikn kurang tajam persepsi kita terhadap stimuli tersebut.<br />
13) Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan mempertahankan perhatian.</p>
<p>b. ciri-ciri rangsang. Rangsang yang bergerak, akan lebih menarik perhatian biala dibandingkan dengan rangsang yang diam saja. Rangsang yang paling besar di antara yang kecil atau yang kontras dengan latar belakang dan yang memiliki intensitas paling kuat akan lebih menarik perhatian dan lebih mudah mempengaruhi persepsi seorang.</p>
<p>c. Nilai-nilai dan kebutuhan individu. Nilai-nilai ini tidak hanya menyangkut nilai dasar (basic values), melainkan juga selera, keterkitan erta dengn lingkungan, dan minat. Misalnya seorang seniman akan memiliki citra rasa dan pola yang berbeda dengan yang bukan seniman. Seorang remaja akan wemmiliki minat dan sesnse yang berbeda dengan bukan remaja. Penelitian pernah membuktikan, anak-anak dari golongan ekonomi rendah memiliki persepsi yang lebih positif terhadap mata uang logam (koin) dibandingkan dengan anak-anak dari golongan ekonomi menegah atas.</p>
<p>d. Pengalaman terdahulu. Pengalaman-penagalaman ini akan mempengaruhi seseorang terhadap rangsang atau obyek persepsi yang diterima. Sebagai contoh, cermin dianggap tidk menarik dan biasa-biasa saja bagi kita orang modern. Sementara bagi orang-orang pedalaman cermin akan menarik perhatian dan memiliki arti yang sangat mendalam. Ikalan dalam televisi mungkin membosankan bagi kalangan orang tua, namun ada kemungkinan justru menarik perhatian remaja. Misalnya dengan iklan mereka akan meniru idola, mengintip model berpakaian, dsb.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ingatan]]></title>
<link>http://bawana.wordpress.com/?p=116</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:43:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
<guid>http://bintangbangsaku.org/2008/06/21/ingatan/</guid>
<description><![CDATA[Ingatan adalah jantung dari fungsi intelektual manusia sehingga ia berada di mana-mana dalam model p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ingatan adalah jantung dari fungsi intelektual manusia sehingga ia berada di mana-mana dalam model pengolahan informasi. Ellis dan Hunt (1993) menggambarkan hal ini dengan mengajak membayangkan kehidupan tanpa ingatn. Tanpa ingatan seseorang tidak dapat secara lengkap menikmati hidup ini, tidak dapat berfungsi bahkan dalam situasi yang paling sederhana, dan tidak dapat berkomunikasi secara koheren dengan orang lain.</p>
<p>Hal yang jauh lebih serius adalah kenyataan bahwa kehidupan sosial ini akan tidak ada. Seseorang akan tidak punya teman karena ia tidak dapat mengingat orang itu dan sesuatu tentang orang itu. Seseorang juga akan kehilangan identitas pribadi atau konsep diri. Tanpa memori tentang pengalaman masa lalu seseorang tidak akan dapat menjawab pertanyaan “Siapa saya ?”</p>
<p>Menurut Lachman dan Butterfield (dalam Matlin, 1989), ingatan adalah suatu aktivitas kognitif yang melibatkan pengelolaan informasi sepanjang waktu. Informasi ini dapat disimpan kurang dari satu detik atau sepanjang hidup. Sejalan dengan pendapat di atas, Anderson (1995) menyebut ingatan sebagai rekaman yang relatif permanen dari pengalaman yang mendasari belajar. Definisi ingatan ini tergantung pada definisi belajar. Belajar mengacu pada proses adaptasi perilaku terhadap pengalaman, sedangkan ingatan mengacu pada rekaman-rekaman permanen yang mendasari adaptasi itu. Sementara itu, Solso (1988) menggambarkan ingatan sebagai tempat penyimpanan di otak yang menegang pengetahuan yang dimiliki manusia.</p>
<p>Studi tentang ingatan sudah lama dilakukan oleh para ahli. Suatu studi pertama yang dilakukan oleh Ebbinghaus (Solso, 1988) berusaha untuk mempelajari bagaimana ingatan berkembang sehingga dapat dilakukan kontrol ilmiah terhadap variabel-variabel yang sebelumnya tidak terpisah dari ingatan.</p>
<p>Eksperimen Ebbinghaus yang melibatkan penggunaan nonsense syllables, nonword, three-letter consonant-vowel-consonant sequences menemukan bahwa istilah-istilah tak berarti (nonsense syllables) akan cepat dilupakan. Ebbinghaus mengulang daftar kata-kata tersebut dan mencoba untuk melakukan recall setelah 20 menit, satu jam, 8-9 jam, satu hari, dua hari, 6 hari, dan 31 hari. Hal-hal ini adalah pengaruh dari panjang daftar pada waktu belajar, pengaruh latihan pada belajar, dan pembelajaran dan ingatan atas hal-hal yang disusun secara serial.</p>
<p>Menurut Matlin (1989), sistem ingatan dibagi menjadi ingatan sensoris, ingatan sensoris adalah ingatan yang berisi hasil sensasi panca indera dan berbentuk karakteristik fisik seperti ukuran, warna, bentuk. Lama penyimpanan dalam ingatan sensoris sekitar satu detik, kemudian hilang, kecuali ada perhatian khusus pada sensasi itu. Ingatan jangka pendek adalah tempat untuk memproses informasi.</p>
<p>Informasi ini disimpan sementara dan informasinya diproses agar dapat diterjemahkan dan dimengerti artinya. Informasi yang baru masuk dikombinasikan dengan informasi yang sudah lebih dahulu ada pada ingatan jangka panjang. Penyimpanan jangka pendek ini berlangsung kurang dari satu menit.</p>
<p>Riset tentang penyimpanan jangka pendek menunjukkan bahwa orang dengan mudah akan melupakan sesuatu atau materi yang pernah diindera setelah rentang kira-kira 30 detik, kecuali banyak dilatih (Matlin, 1989). Kira-kira tujuh kelompok informasi dapat diproses dalam keadaan bias dan bila semakin banyak dilatih, maka memory span akan dapat ditingkatkan hingga 80 detik (Matlin, 1989). Ingatan jangka panjang dapat menyimpan informasi mulai dari beberapa menit sampai beberapa tahun. Kapasitas simpanan hampir tidak terbatas. Informasi yang disimpan di sini sudah berupa kesan atau konsep.</p>
<p>Suatu pemrosesan informasi meliputi bagaimana informasi itu dikodekan, ditransformasikan, diasosiasikan, disimpan, dijaga, ditimbulkan lagi, dan dilupakan. (Solso, 1988). Informasi di short–term memory (STM) atau ingatan jangka pendek dikodekan secara akustik dan dapat disimpan dalam bentuk suara, arti, dan penampilan fisik (Matlin, 1989). Eksperimen-eksperimen oleh Shepard dan Metzler, Brooks, Segal, dan Fusella (dalam Matlin, 1989) menunjukkan bahwa penampilan fisik dari suatu materi dapat dikodekan dalam STM. Menurut Posner dan Keele (dalam Matlin, 1989) manusia dapat menyimpan suatu hal dalam ingatan dari cara penampilan hal itu.</p>
<p>Menurut Solso (1988) studi tentang memori manusia sendiri terbagi atas dua dikotomi yaitu struktur dan proses. Struktur memori manusia menurut banyak psikolog kognitif bersifat dualislistik, yaitu yang berupa short-term memory (STM) atau memori jangka pendek dan long-term memory (LTM) atau memori jangka panjang. Atkinson dan Schiffrin (dalam Solso, 1988) juga memberikan pendapat yang serupa, bahwa struktur memori itu tetap dan proses kontrol bersifat berubah-ubah. Atkinson dan Schiffrin kemudian membagi konsep memori dari William James yang juga digambarkan oleh Waugh dan Norman (dalam Solso, 1988), yaitu konsep sederhana mengenai memori tidak cukup kuat untuk mengendalikan kompleksitas dari perhatian, perbandingan, kontrol pemulihan, transfer dari STM ke LTM, imagery, memori sensoris pengkodean, dan sebagainya.</p>
<p>Dalam model Atkinson dan Shiffrin, memori memiliki tiga tempat yaitu (1) the sensory register, (2) the short-term store (STS), dan (3) the long-term store (LTS). Atkinson dan Schiffrin membuat perbedaan yang penting antara konsep memori dan penyimpanan memori dengan menggunakan istilah memori untuk acuan pada data yang sedang dipertahankan, sementara store untuk dasar pada komponen struktural yang berisi informasi. Indikasi berapa lama suatu hal telah dipertahankan tidak begitu saja menunjukkan di mana hal itu diletakkan dalam struktur memori. Informasi dapat dimasukkan ke dalam LTS setelah itu baru saja disajikan, sementara informasi yang lain dapat ditahan selama beberapa menit dalam STS dan tidk penah memasuki LTS.</p>
<p>STS dianggap sebagai working system di mana informasi yang masuk menjadi rusak dan hilang dengan cepat (tapi tidak secepat dalam sensory register). Informasi dalam STS mungkin berada dalam bentuk yang berbeda dari bentuk sensori aslinya. Informasi yang masuk ke dalam sistem ketiga, LTS, dilihat secara relatif permanen, meskipun itu mungkin tidak dapat ditembus karena interferensi informasi yang masuk. Fungsi LTS adalah untuk memonitor stimuli dalam sensory register (mengontrol stimuli yang memasuki STS) dan untuk menyediakan ruang penyimpanan bagi informasi dari STS.</p>
<p>Pemrosesan informasi dari satu tempat ke tempat lain sebagian besar dikontrol oleh subyek. Informasi yang dengan cepat ditahan dalam sensory register disaring oleh subyek, dan informasi yang terseleksi ini diantarkan ke STS. Transfer informasi dari STS dianggap mampu mengambil tempat selama itu ditahan di sana. Atkinson dan Schiffrin mengemukakan bahwa informasi bisa memasuki LTS secara langsung dari sensory register.</p>
<p>Inti dari teori Atkinson dan Schriffrin adalah konsep tentang kontrol atas informasi yang masuk dan keluar STS. Proses kontrol yang penting dalam model ini adlah pengkodean di mana informasi yang masuk dikategorikan menurut informasi dari LTS.</p>
<p>Kemampuan seseorang untuk berhubungan dengan kejadian lalu dan menggunakan informasi itu untuk memahami kejadian saat ini merupakan fungsi dari LTM. Dalam pengertian, LTM memungkinkan seseorang untuk hidup dalam dua dunia secara stimulan (masa lalu dan masa sekarang) dan selanjutnya memungkinkan seseorang untuk memahami laju tak terbendung dari pengalaman saat itu. Ciri yang paling membedakan LTM adalah peragaman atas kode, abstraksi informasi, srtuktur, kapasitas, dan kepermanenannya.<br />
Informasi di dalam LTM dengan jelas dikodekan secara akustik, visual, dan semantik.</p>
<p>Menurut Matlin (1989) semua hal yang disebut bentuk kognisi tingkat tinggi seperti concept formation, reasoning, problem solving, creativity, memory, dan perception berhubungan dengan intelegensi manusia. Dengnan demikian intelegensi manusia dapat dipandang sebagai kemampuan dalam mendapatkan, mengingat (recall), dan menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep konkrit dan abstrak dan hubungan antara obyek, ide, dan untuk menggunakan pengetahuan dalam cara yang berarti.</p>
<p>Sejauh ini belum ditemukan bukti yang mendasari adanya hubungan intelegensi dengan ingatan, khususnya yang berkaitan dengan rekognisi. Penelitian yang telah dilakukan lebih banyak mengacu pada recall atas ingatan. Penelitian oleh Hunt; Hunt, Lunneborg, dan Lewis; Hunt dan Lansman (dalam Matlin, 1989) berusaha mengetahui dalam hal apakah pemrosesan informasi berbeda antara subyek berkemampuan tinggi dan subyek berkemampuan rendah. Tes yang digunakan oleh Hunt menggunakan tugas yang terdapat dalam eksperimen tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dua kelompok pada pasangan fisik A-A. Sementara membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat keputusan daripada kelompok berkemampuan tinggi.</p>
<p>Hasil penelitian di atas tidak cukup untuk menjadi dasar pertimbangan faktor intelegensi dalam tugas rekognisi. Perbedaan dalam cara menimbulkan ingatan dapat menjelaskan mengapa intelegensi berpengaruh pada tugas recall (mengingat kembali) dan kemungkinan besar tidak pada tugas rkognisi. Pada tugas mengingat kembali, seseorang benar-benar harus menimbulkan kembali informasi yang dimilikinya tanpa menggunakan petunjuk. Di lain pihak, tugas rekognisi cenderung memudahkan seseorang untuk menimbulkan ingatannya karena tersedianya petunjuk. Seseorang akan mudah menimbulkan ingatannya dengan cara mengenali sebagian dari informasi yang pernah diterimanya (Adams, 1987; Anderson, 1995; Rakhmat, 1994).</p>
<p>Menurut Schwartz dan Reisberg (1991), dan Anderson (1995) tes rekognisi membawa performasi yang lebih baik secara menyeluruh daripada tes recall Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa tes rekognisi tidak membutuhkan faktor intelegensi sebagaimana tes recall.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pindah]]></title>
<link>http://bawana.wordpress.com/?p=90</link>
<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 16:10:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
<guid>http://bintangbangsaku.org/2008/04/15/pindah/</guid>
<description><![CDATA[Mohon maaf, isi dalam kategori PAUD, Psikologi Perkembangan, dan Syair Lagu Anak-Anak tidak d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mohon maaf, isi dalam kategori PAUD, Psikologi Perkembangan, dan Syair Lagu Anak-Anak tidak diperbaharui lagi pada blog ini.</p>
<p>Jika Anda memerlukan informasi yang berkaitan dengan ketiga kategori tersebut, silakan membuka blog kami yang <a href="//bawanaguru.blogspot.com”"> Khusus untuk Guru</a></p>
<p>Salam,</p>
<p>Bawana</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ekspresi Emosi]]></title>
<link>http://bawana.wordpress.com/2008/03/29/ekspresi-emosi/</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:32:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
<guid>http://bintangbangsaku.org/2008/03/29/ekspresi-emosi/</guid>
<description><![CDATA[Ekspresi adalah wujud emosi yang nampak.
Kemampuan mengekspresikan emosi pada manusia adalah kemampu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ekspresi adalah wujud emosi yang nampak.</p>
<p>Kemampuan mengekspresikan emosi pada manusia adalah kemampuan yang harus dipelajari, oleh karena itu stimulasi emosi yang tepat dan akurat terhadap konteks perlu diajarkan pada anak-anak agar mereka dapat mengekspresikan emosi secara tepat semasa berhubungan dengan dunia sekitarnya.</p>
<p>Adanya pengaruh faktor pematangan dan faktor belajar terhadap perkembangan emosi menyebabkan ekspresi emosi anak kecil seringkali sangat berbeda dari anak yang lebih tua atau orang dewasa.</p>
<p>Sangat tidak logis bila orang dewasa menuntut agar semua anak mempunyai pola emosi yang sama, walaupun memang ada beberapa ciri khas yang hanya dimiliki oleh anak balita :</p>
<ol>
<li>Bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun serius.</li>
<li>Ekspresi emosi  sering tampak meluap-luap.</li>
<li>Ekspresi emosi bersifat sementara, karena ketidakpahaman akan situasi, pengalaman yang terbatas, dan rentang perhatian yang pendek</li>
<li> Unik</li>
<li>Berubah kekuatannya, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat menjadi berkurang, demikian sebaliknya.  Hal ini disebabkan adanya perubahan kebutuhan, perkembangan intelektual, perubahan minat, dan pemahaman nilai.</li>
<li>Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku, biasanya melalui kegelisahan, lamunan, tangisan, kesulitan bicara, dan tingkah laku gugup (menggigit kuku, mengisap jempol, mengusap-usap telapak tangan, dll)</li>
</ol>
<p>Cara anak belajar mematangkan keterampilan mengontrol dan mengekspresikan emosinya adalah dengan melakukan :</p>
<ol>
<li>Trial and error.  Anak mencoba-coba ekspresi emosi tertentu yang sekiranya dapat memuaskan dirinya.  Cara ini biasanya dilakukan oleh anak yang masih sangat muda, tetapi tidak pernah ditinggal sama sekali, bahkan oleh kita sekali pun.</li>
<li>Meniru.  Anak mengamati, bereaksi, dan berekspresi emosi seperti cara orang bereaksi dan berekspresi akan situasi atau benda tertentu.</li>
<li>Mempersamakan Diri.  Anak mencoba menempatkan dirinya menjadi “tokoh”  yang sedang dikaguminya.  Ia akan secara intens mengamati cara tokoh tersebut dan kemudian bereaksi dan berekspresi dengan cara yang sama.</li>
<li>Pematangan diri.  Jika dibimbing dengan benar, anak akan mulai belajar menganalisa apa yang dirasakannya dan mencoba melihat kaitannya dengan orang lain.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pola Emosi]]></title>
<link>http://bawana.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:24:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bintang Bangsaku</dc:creator>
<guid>http://bintangbangsaku.org/2008/03/29/emosi/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai pola emosi, antara lain :

Rasa takut.  Rangsanga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai pola emosi, antara lain :</p>
<ol>
<li>Rasa takut.  Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah suara yang keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang diri, rasa sakit, orang yang tidak dikenal, tempat dan obyek yang tidak dikenal.  Anak kecil lebih takut pada benda-benda.  Usia antara 2 – 6 tahun merupakan masa puncak bagi perkembangan rasa takut.  Anak sudah mampu mengenai bahaya tetapi kurangnya pengalaman menyebabkan mereka tidak mampu menganalisa apakah benda/peristiwa tersebut dapat benar-benar mengancam dirinya.</li>
<li>Rasa Marah.  Pola emosi ini lebih sering terekspresikan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan dengan rasa takut.  Hal ini seiring dengan pengetahuan mereka bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka.</li>
<li>Rasa Cemburu.  Rasa ini adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata atau ancaman kehilangan kasih sayang.  Rasa cemburu timbul dari kemarahan yang menimbulkan sikap jengkel dan ditujukan kepada orang lain.  Pola rasa cemburu seringkali berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan rasa marah.</li>
<li> Rasa Dukacita (sedih).  Dukacita adalah trauma psikis, yaitu suatu kesengsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang dicintai.  Dalam bentuk yang lebih ringan keadaan ini dikenal sebagai suatu kesusahan atau kesedikan.  Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang dianggap penting bagi dirinya.  Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.</li>
<li>Rasa Gembira, Riang, dan Senang.  Emosi ini menyenangkan.  Anak-anak merasa gembira karena berbagai hal.  Ia mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum, tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat, atau memeluk benda atau orang yang membuatnya gembira.</li>
<li>Rasa Kasih dan Sayang.  Pola emosi ini menunjukkan perhatian yang hangat, dan mungkin terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata.  Anak-anak belajar mencintai orang, binatang, atau benda yang menyenangkannya.  Ia mengungkapkan aksih sayang secara lisan bila sudah besar, tetapi ketika masih kecil anak menyatakan secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium obyek kasih sayangnya.</li>
<li>Rasa Ingin Tahu yang diwujudkan dengan :</li>
</ol>
<blockquote>
<ol>
<li>bereaksi secara positif terhadap unsure-unsur yang baru, aneh, tidak layak, atau misterius dalam lingkungannya dengan bergerak ke arah benda tersebut, memeriksanya, atau mempermainkannya.</li>
<li>Memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri dan atau lingkungannya</li>
<li>Mengamati lingkungannya untuk mencari pengalaman baru</li>
<li>Tekun menyelidiki untuk mengetahui seluk beluk suatu situasi/benda</li>
</ol>
<p>Yanti D.P.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
