<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>provinsialat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/provinsialat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "provinsialat"</description>
	<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 15:37:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Anggur yang Baru Disimpan Orang dalam Kantong yang Baru pula]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/</link>
<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 11:06:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/30/anggur-yang-baru-disimpan-orang-dalam-kantong-yang-baru-pula/</guid>
<description><![CDATA[“&#8230; anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula &#8230;” (Matius 9:17)
30 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>“... anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula ...” (Matius 9:17)</em></p>
<p>30 September 2007; disaat sebagian warga bangsa Indonesia tertunduk mengenangkan kekejaman dan kekejian yang terjadi 42 tahun yang lampau lewat aksi Gerakan 30 September PKI, sebagian warga Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia – MSF) tertunduk pula mengenangkan karya Allah yang agung dalam Kongregasi. Hari itu, 44 pastor MSF dari segala penjuru dunia berkumpul di Roma untuk memulai Kapitel Jenderal MSF ke – 12. Hari itu, diiringi suara angin musim gugur, di dalam Perayaan Ekaristi, 44 pastor MSF mensyukuri sekaligus memohon rahmat dari Allah yang agung bagi tahapan penting dalam sejarah hidup Kongregasi MSF, yaitu pelaksanaan forum pemegang kekuasaan tertinggi di Kongregasi dalam bentuk Kapitel Jenderal MSF, yang berlangsung setiap 6 (enam) tahun.</p>
<p>Kapitel Jenderal MSF ke – 12 itu berlangsung pada tanggal 30 September – 18 Oktober 2007. Kapitel ini bertepatan dengan peringatan 100 tahun wafatnya Pater Berthier MS, pendiri Kongregasi MSF. Oleh karena itu, diinspirasi oleh karya dan semangat Pater Pendiri segenap Kapitulan dan semua anggota MSF dipanggil untuk memperkuat panggilan, misi dan hidup persaudaraan sebagai Misionaris Keluarga Kudus. Secara khusus ada 8 (delapan) tema yang direnungkan, didiskusikan, termasuk diperdebatkan, dan akhirnya dirumuskan untuk menjadi pegangan seluruh Kongregasi untuk perjalanan waktu 6 (enam) tahun ke depan. Ke-8 tema tersebut adalah berkaitan dengan Misi, Hidup Religius, Komunitas Lokal dan Superior Lokal, Dewan Jenderal, Pendidikan, Keluarga, Provinsi-provinsi Kecil serta Perayaan 100 Tahun P. Berthier.<!--more--></p>
<p>Dalam perjalanan hidup Gereja upaya pembaharuan terus terjadi silih beganti. Lewat upaya-upaya itu Gereja mencoba mengimbangi perkembangan jaman yang melaju dengan sangat pesat. Perkembangan jaman itu ibaratkan pedang bermata dua. Dia selalu mempunyai sisi yang positif dan sisi yang negatif. Berhadapan dengan kedua sisi itu, Gereja harus selalu mampu memposisikan dirinya pada tempat yang tepat. Dengan demikian Gereja tidak akan ketinggalan jaman dan pewartaan Kabar Baik akan selalu berdaya guna. Pada menit yang sama, Gereja akan selalu mampu menyuarakan suara kenabiannya jika perkembangan jaman itu ternyata justru menjerumuskan kehidupan pada kesalahan. Sebuah peran yang sangat tidak mudah, yang harus diambil dan dijalani oleh Gereja. Gereja tidak boleh terlalu kaku, sehingga segala-galanya menjadi tidak boleh; Tetapi juga tidak boleh terlalu fleksibel, sehingga segala-galanya menjadi boleh.</p>
<p>Dalam ajaran Gereja, Gereja bukan pertama-tama sebuah gedung, tetapi Gereja adalah kesatuan Umat Allah yang mengimani Kristus. Kita bersama adalah Gereja; mulai dari Hirarki sampai Awam. Dipundak kitalah kemampuan memposisikan diri pada tempat yang tepat terhadap berbagai perkembangan jaman diletakkan. Dengan dipimpin oleh Hirarki Gereja dan didukung oleh Awam, Gereja menjalankan perannya dalam arus jaman yang selalu berubah setiap saat dan cepat.</p>
<p>Sepanjang sejarah Gereja kita dapat menunjuk banyak hal dimana Gereja dengan sangat mampu menanggapi perkembangan jaman itu dengan sangat baik; dengan pengambilan sikap yang tepat. Pada saat itu Gereja sungguh dapat menjadi titik orientasi manusia dan jaman untuk menentukan pilihan sikap. Dari sisi yang lain Gereja juga selalu dapat memberikan suara kenabiannya untuk mengarahkan manusia dan jaman agar tetap berada pada jalan peziarahan yang benar menuju kepada Allah. Dengan demikian Sabda Injil yang dikutip di atas tergenapi dalam pengambilan sikap Gereja, yaitu bahwa “anggur yang baru ditempatkan di dalam kantong yang baru pula”. Tetapi harus diakui pula dengan jujur dan rendah hati bahwa dalam banyak kasus dan situasi dalam sejarah Gereja orang-orang Gereja tidak mengambil sikap yang tepat ketika berhadapan dengan perkembangan jaman yang menawarkan nilai-nilai yang justru menjerumuskan kehidupan. Orang-orang Gereja tidak mampu menjalankan peran Gereja untuk memberikan orientasi dan suara kenabiannya. Sejarah membuktikan bahwa dalam situasi yang seperti itu akhirnya kondisi yang dihadapi sungguh sangat parah.</p>
<p>Dalam Kapitel Jenderal MSF yang baru berlalu berbagai hal di dalam kehidupan Kongregasi diangkat ke permukaan sidang dan dikaji bersama. Ada banyak perkembangan baru yang terjadi dalam Kongregasi MSF yang menuntut pengambilan sikap yang baru. Tuntutan pengambilan sikap baru itu tidak dapat ditolak kalau Kongregasi MSF masih mau menjadi salah satu Agen Gereja yang menjalankan peran Gereja untuk menanggapi perkembangan jaman yang terjadi. Harus diakui bahwa pengambilan pilihan sikap yang baru itu menuntut banyak perubahan yang harus dilakukan di tingkat Kongregasi dan Provinsi-provinsi. Ecclesia Semper Reformanda – Gereja selalu memperbaharui dirinya. MSF juga harus mau memperbaharui dirinya setiap saat. Jika tidak, tidak perlu disesali ketika MSF ditinggalkan oleh jaman yang terus melaju.</p>
<p><em>P. Teddy</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan..."]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/04/yang-kukehendaki-ialah-belas-kasihan-dan-bukan-persembahan/</link>
<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 04:58:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/07/04/yang-kukehendaki-ialah-belas-kasihan-dan-bukan-persembahan/</guid>
<description><![CDATA[(Matius 9:13) 
 
Waktu adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun di kolong]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Matius 9:13)</em> </p>
<p><img src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/07/jala.jpg" alt="jala.jpg" /> </p>
<p>Waktu adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun di kolong langit ini yang mampu untuk menahan lajunya sang waktu. Dia berjalan perlahan tapi pasti, melalui semua yang ada di hadapannya dan meninggalkan semua yang ada di belakangnya. Dia bergulir tanpa sering kali disadari dan dirasakan oleh siapapun, termasuk oleh manusia, ciptaan tertinggi di muka bumi ini.<!--more--></p>
<p>Tanpa terasa perjalanan karya misi Katolik di wilayah Provinsi Gerejawi Samarinda, yang meliputi Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Palangka Raya dan Keuskupan Tanjung Selor, telah memasuki usia yang ke seratus. Telah seratus tahun Gereja Katolik malang melintang di wilayah timur bumi Borneo mewartakan Allah yang baik dan menyelamatkan. Kendati tanpa terasa, perjalanan seratus tahun itu ingin disadari. Semua elemen Gereja Katolik Provinsi Gerejawi Samarinda, sekurang-kurangnya yang berada di wilayah Keuskupan Agung Samarinda, menyadari moment bersejarah itu. Karena itu dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk peringatannya. Mulai dari pembentukan panitia, pendekatan ke berbagai pihak, mulai dari Duta Besar Vatikan hingga artis Indonesia Idol dan AFI, hingga persiapan lusinan ekor babi yang akan disembelih untuk resepsi.</p>
<p>Sebagai sebuah peristiwa yang disyukuri, pantaslah moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik itu dirayakan dengan meriah; bahkan agung dan megah. Semua hal yang dipikir baik untuk mewarnai kemeriahan itu akan diupayakan dengan semaksimal mungkin. Karena itu maka muncullah ide untuk mendatangkan “Artis-artis Ibu Kota” yang mempunyai gelar baru di Indonesia : “Indonesia Idol” (Idola Indonesia) dan “AFI” (Akademi Fantasi Indonesia). Kehadiran para idola dan mereka yang telah menggapai fantasi begitu banyak orang muda Indonesia untuk menjadi artis, pastilah menambah kemeriahan suasana. Sekurang-kurangnya, hal itu akan menarik perhatian banyak orang; entah itu katolik atau bukan.</p>
<p>Selain berbagai rancangan akan perayaan tersebut, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik juga dijadikan ajang untuk berefleksi dan memulai gerakan.  Orang Muda Katolik di wilayah Keuskupan Agung Samarinda, khususnya dari wilayah Sungai Mahakam, menggunakan moment ini untuk berkumpul bersama dalam Pekan Misi Komunitas Orang Muda Katolik (Pekan Misi KOMKA). Mereka merancang gerakan untuk meneruskan karya misi dengan menjawab berbagai keprihatinan kehidupan yang sekarang ini mengemuka.  Dalam kerangka refleksi, dirancang sejumlah seminar untuk semua elemen Gereja Katolik, mulai dari Hirarki hingga umat. Singkat kata, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik itu diperingati semaksimal mungkin, baik dari sisi perayaan (seremoni) maupun dari sisi rancangan aksi.</p>
<p>Sebagai sebuah perayaan, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik akan berlalu seiring dengan bergulirnya sang waktu. Sesudah perayaan puncak, gema perayaan masih akan dirasakan oleh mereka yang mengikuti seluruh rangkaian perayaan tersebut. Selanjutnya, perayaan itu akan masuk dalam memori kenangan; dan pada waktunya tidak diingat lagi. Seberapa pun biaya yang akan dikeluarkan untuk perayaan itu; sebagus apa pun perayaan itu dirancang, proses untuk diingat lagi pasti tidak akan dijelang.</p>
<p>Ketika para misionaris pertama datang 100 tahun yang lalu di Laham dan memulai segala sesuatunya, tetap ada sebuah perayaan, kendati tidak hingar bingar. Dari dokumentasi yang ada diketahui ada sebuah perayaan kecil di negeri Belanda untuk menghantar mereka melaksanakan perutusan mereka. Tetapi perayaan sederhana itu diteruskan dengan sebuah rancangan aksi yang berangkat dari sebuah refleksi yang berdasar pada realita medan misi dan perumusan strategi misi untuk memperkembangkan medan misi. Refleksi dan strategi misi itu perlahan tapi pasti bergulir dan menghasilkan buah, karena terus-menerus memperhatikan berbagai faktor yang berkembang di medan misi, dan juga para aktor (para misionaris, tokoh umat) yang berkarya di medan misi. Rancangan aksi yang berisi refleksi dan strategi misi itulah yang menyebabkan perpindahan pusat misi dari Laham ke Tering, dan akhirnya ke Samarinda. Rancangan aksi yang itu pula yang membuat moment kedatangan dan karya awal 100 tahun yang lalu itu tetap diingat, kendati medan dan pelakunya sudah dan silih berganti.</p>
<p>SEBUAH RANCANGAN AKSI haruslah menjadi hal utama kedua yang dipikirkan dengan sungguh, sesudah perayaan yang hingar bingar itu. Rancangan aksi yang berdasar pada refleksi dan strategi, akan menjadikan moment 100 Tahun Karya Misi Gereja katolik saat ini menjadi titik berangkat baru untuk moment 100 Tahun yang akan datang. Rancangan aksi itu akan menjadikan pewartaan KABAR BAIK 100 tahun yang lalu menjadi LEBIH BAIK untuk 100 tahun ke depan. Dengan demikian, bukan hanya persembahan yang kita berikan, tetapi juga tindakan kasih sebagai kelanjutan dari persembahan itu kita lakukan. Semoga.</p>
<p>Pastor Teddy, Propinsial MSF Kalimantan</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[80 Tahun MSF Kalimantan dalam slideshow]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/03/10/80-tahun-msf-kalimantan-dalam-slideshow/</link>
<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 06:56:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/03/10/80-tahun-msf-kalimantan-dalam-slideshow/</guid>
<description><![CDATA[Dapat didownload di sini :
http://rapidshare.com/files/20233121/80_Tahun_MSF_Kalimantan.ppt (83.950 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dapat didownload di sini :</p>
<p>http://rapidshare.com/files/20233121/80_Tahun_MSF_Kalimantan.ppt (83.950 KB)</p>
<p>http://rapidshare.com/files/27393567/80_years_MSF_Kalimantan_versi_english.ppt (84.029 KB)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Masa Hidup Kami Tujuh Puluh Tahun Dan Jika Kami Kuat, Delapan Puluh Tahun"]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/01/27/masa-hidup-kami-tujuh-puluh-tahun-dan-jika-kami-kuat-delapan-puluh-tahun/</link>
<pubDate>Sat, 27 Jan 2007 04:49:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/01/27/masa-hidup-kami-tujuh-puluh-tahun-dan-jika-kami-kuat-delapan-puluh-tahun/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Masa Hidup Kami Tujuh Puluh Tahun
Dan Jika Kami Kuat, Delapan Puluh Tahun”
(Mzm. 90:10)
Kut]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>"Masa Hidup Kami Tujuh Puluh Tahun<br />
Dan Jika Kami Kuat, Delapan Puluh Tahun”</em><br />
(Mzm. 90:10)</p>
<p><a TITLE="demarteau.jpg" HREF="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/01/demarteau.jpg"><img STYLE="200px" HEIGHT="200" ALT="demarteau.jpg" SRC="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/01/demarteau.jpg" ALIGN="left" /></a>Kutipan Mazmur di atas biasa kita dengar, bahkan mungkin biasa kita ucapkan; entah dalam keadaan biasa, serius atau bersendagurau sekalipun. Sebuah ungkapan bijak para bijak jaman dulu atas dasar realita batas rentang kehidupan manusia.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan senda gurau dengan beberapa teman, seorang teman mengutip kutipan di atas secara bebas dan “menambahnya” dengan ungkapan lain. Dia berkata: “Batas umur kami tujuh puluh tahun, dan delapan puluh tahun jika kuat, serta sembilan puluh tahun jika nekat.” Kami semua tertawa mendengarkan ungkapan itu dan saling melempar komentar, sambil minum teh sore.</p>
<p>Pada tanggal 24 Januari 2007, Mgr. Demarteau MSF, Uskup kedua Keuskupan Banjarmasin, genap berusia sembilan puluh tahun. Saya pikir pencapaian usia pada tahapan itu oleh Bapa Uskup bukanlah sebuah “kenekatan”, sebagaimana ungkapan teman di atas. Tetapi hal itu sungguh merupakan anugerah Allah bagi Bapa Uskup.  Di sisi yang lain, anugerah itu bertemu dengan keutamaan pribadi Bapa Uskup, yang menjadikan tahun kesembilanpuluh itu dijelang oleh Bapa Uskup dalam tingkatan kesadaran yang masih dapat dikatakan prima untuk orang seusia Beliau.<!--more--></p>
<p>Dalam kehidupan bersama Bapa Uskup, sekurang-kurangnya saya menyaksikan dua keutamaan, yang menurut saya memampukan Bapa Uskup mencapai segala sesuatunya dalam usia yang kesembilan puluh ini. Pertama, Beliau adalah orang yang sangat disiplin dalam kehidupannya. Seluruh dinamika kehidupannya teratur sangat rapi; mulai dari bangun tidur, makan, doa, kerja dan sampai tidur kembali pada malam hari. Keteraturan itu seolah membuat segala sesuatu dalam kehidupan Bapa Uskup “ada tempatnya” dan “ada waktunya”. Sebelum peristiwa patahnya tulang kaki Beliau karena jatuh pada pertengahan Juli 2006, Beliau selalu mengenakan jubah dalam kesehariaannya. Jubah itu hanya dilepaskannya saat Beliau akan mandi dan akan tidur. Bagi saya pribadi hal itu bukanlah hanya sekedar uniform yang dikenakaan; tetapi hal itu merupakan salah satu cerminan gaya hidup Beliau yang disiplin dan teratur.</p>
<p>Keutamaan yang kedua adalah Beliau adalah orang yang sangat aktif, khususnya dalam hal membaca buku, majalah dan bacaan lainnya. Hal itu membuat Beliau tidak pernah “ketinggalan zaman”. Lewat bacaan-bacaan yang dibacanya, Beliau meng-up to date-kan dirinya. Lewat bacaan-bacaan itu pula Beliau tidak pernah menjadi “uzur” dalam usianya yang terus beranjak naik. Terkadang dalam pembicaraan di meja makan Beliau menyampaikan hal yang belum kami ketahui sama sekali. Padahal de facto kami adalah para imam yang jauh lebih muda dibandingkan Beliau. Beliau tahu lebih dulu, karena membacanya; sementara kami tidak membacanya.</p>
<p>Lewat dua keutamaan itu, menurut saya, Mgr. Demarteau MSF adalah potret sukses seorang anak manusia dalam hal menjalani dan memaknai  kehidupannya. Saya pikir, Bapa Uskup tidak pernah merasa ada yang rugi dalam kehidupannya karena kedua keutamaan itu. Lewat potret kehidupan Beliau itu pula, kita, para saudara sebiaranya, dan siapa saja dapat bercermin dan belajar tentang memaknai sebuah kehidupan, minimal kehidupan kita masing-masing. Kehidupan yang diwarnai dengan sebuah keteraturan dan keaktifan, yang pada gilirannya membuat hidup itu berkembang. Kehidupan yang bukan hanya “sekedar jalan”, atau “yang penting jalan”, melainkan kehidupan yang “dijalankan” dengan sebuah kesadaran.</p>
<p>Dengan demikian, lewat hidup Mgr. Demarteau MSF ungkapan bijak sang pemazmur bagi kita bukanlah hanya sekedar batas rentang kehidupan, tetapi disitu tersirat batas pemaknaan kehidupan.</p>
<p>Bapa Uskup Demarteau MSF,<br />
SELAMAT ULANG TAHUN KE-90. Tuhan memberkati.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[80 Tahun Kongregasi MSF Berkarya di Kalimantan: Menegaskan Panggilan dan Misi berdasarkan Semangat Pater Berthier]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/80-tahun-kongregasi-msf-berkarya-di-kalimantan-menegaskan-panggilan-dan-misi-berdasarkan-semangat-pater-berthier/</link>
<pubDate>Sat, 21 Oct 2006 11:05:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/80-tahun-kongregasi-msf-berkarya-di-kalimantan-menegaskan-panggilan-dan-misi-berdasarkan-semangat-pater-berthier/</guid>
<description><![CDATA[Mentari mulai condong ke barat. Secara perlahan siang bergeser menjadi senja.sekitar 35 para pastor,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mentari mulai condong ke barat. Secara perlahan siang bergeser menjadi senja.sekitar 35 para pastor, dua buder dan dua frater, datang dari beberapa paroki berkumpul bersama di Wisma Sikhar Banjarbaru, tempat di mana para pastor MSF akan mengadakan pertemuan yang  berlangsung dari tgl 19-27 september 2006.</p>
<p>Mereka datang dengan maksud dan tujuan yang sama yakni mengikuti pekan MSF dan sekaligus retret. Pertemuan ini memang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan oleh Depimprop yang merupakan agenda tetap dan barangkali bukanlah kebetulan kalau pekan MSF kali ini mengambil tema “Delapan Puluh Tahun Karya MSF di Kalimantan”.<!--more--></p>
<p>Kegiatan yang berlangsung selama sepuluh hari ini dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Provinsial MSF provinsi Kalimantan P. Teddy Aer, MSF. Dalam khotbahnya beliau mengisahkan kembali penampakan Maria La Salette yang sudah berlangsung selama 160 tahun lalu. Penampakan Maria La Salette pertama-tama dan terutama untuk menyuarakan keprihatinan Allah. Simbol dari keprihatinan Allah yang disuarakan oleh Maria La Salette sangat jelas terlukis pada simbol; Palu dan Catut. Di mana setiap umat manusia berbuat dosa dipakukan pada salib dan setiap kali orang bertobat paku itu akan dicabut dengan catut. Tentu pesan rekonsiliasi yang diwartakan oleh Bunda Maria tidak lain tak bukan adalah supaya relasi Allah dengan manusia terus berlangsung.</p>
<p>Tetapi bagaimana dengan prakteknya sekarang? P. Teddy, MSF mencoba menjelaskan bahwa dari ketujuh sakramen Gereja, sakramen tobat yang paling banyak ditinggalkan umat. Kita bisa bertanya ada apa sebenarnya? memang di beberapa daerah tradisi tobat masih ada. Jawaban sederhana dari pertanyaan ini adalah nampaknya sikap tobat yaitu berdamai dengan Allah tidak lagi menjadi way of life, suatu nilai yang mestinya dihidupi, dan diperkembangkan oleh para imam MSF. Oleh sebab pastor itu provinsial pun mengajak para anggota missionaris keluarga kudus untuk menyadari panggilannya yakni dipanggil untuk meneruskan pesan pertobatan (rekonsiliasi) yang  telah disampaikan oleh Bunda Maria di Bukit La Salette 160 tahun lalu. Tentu semuanya harus berawal dari diri sendiri baru kemudian mengajak orang lain untuk bertobat.</p>
<p>Lebih lanjut P. Teddy, MSF menyampaikan usulan dari P. Paul Yan Ola, MSF agar para imam MSF kembali mengenakan salib La Salette (kalung La salette). Tradisi pemakaian salib La Salette ini sampai sekarang tinggal provinsi Polandia yang masih meneruskannya.Beliau mengatakan bahwa di Generalat tradisi ini tidak pernah dihapuskan, kalau demikian mengapa tidak diteruskan? Bekiau mengutip pandangn dari P. Egon Faber yang mengatakan bahwa “inilah salah satu sisi negatif dari semangat keterbukaan Vatikan II yakni banyaknya nilai-nilai baik masa lalu yang terlalu dilonggarkan”. Diakhir khotbahnya beliau mengajak para pastor untuk tidak usah memaksa Maria La Salette untuk datang lagi karena adanya kita para imam MSF. Ajakan untuk menjadi perpanjangan tangan Allah, yakni untuk menyampaikan pesan rekonsiliasi agar semakin banyak orang yang bertobat atau berdamai dengan Allah, namun sekali lagi semuanya harus berawal dari diri kita (para imam MSF red) untuk menghidupi semangat rekonsiliasi itu sendiri, tandasnya.</p>
<p>Pekan MSF ini ditutup dengan Misa Konselebarasi di Paroki St. Perawan Maria Yang terkandung Tanpa Noda Kelayan-Banjarmasin oleh sekitar 35 imam bersama Mgr. Sutrisnaatmaka, MSF uskup Palngkaraya sebagai selebran utama yang didampingi oleh Mgr. Harjasusanto, MSF uskup Tanjung Selor dan P. Teddy Aer, MSF provinsial MSF provinsi Kalimantan.</p>
<p>Sekali lagi dalam khotbahnya Pastor provinsial menegaskan bahwa sekarang ini Gereja semakin berkembang pesat namun tidak seimbang dengan jumlah pelayan yang bisa dikata tidak meningkat. Namun yang lebih tidak sehat lagi di mana umat seringkali menggerutu soal pelayanan sebagian pastor ada yang bilang kurang inilah, kurang itulah, dll. Maka di awal khotbahnya beliau membacakan beberapa litani serba salah pastor, yang sempat membuat umat tertawa namun tentunya menyentuh hati. Dan point yang paling bermakna adalah tetapi kalau pastornya meninggal lalu siapa yang menggantikan?</p>
<p>Perayaan ekaristi yang dihadiri lebih dari tigaratusan umat, tentu saja menjadi moment yang tepat untuk mengajak umat semakin mengenal MSF, lebih jauh dari itu semoga ada yang terpanggil untuk menanggapi seruan Yesus dan kemudian dikutip oleh P. Berthier, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. (Luk 10:2). Dalam kesempatn itu pula seluruh keluarga beriman diajak agar sedini mungkin menjadikan keluarga sebagai tempat awal untuk menanamkan benih-benih panggilan, caranya? Orang selalu mengajak anak-anaknya untuk lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan gerejani, dalam kelurga selalu mengusahakan adanya waktu-waktu khusus untuk bisa kumpul bareng dan berdoa, pada prinsipnya keluarga berusaha menciptakan suatu kondisi yang sungguh-sungguh menyadarkan akan panggilannya. Dan terlebih juga hendaknya keluarga-keluarga kristiani menjadikan keluarga Kudus Nazaret sebagai teladan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Relevansi Pemikiran Pater Berthier Bagi Karya Misi MSF Provinsi Kalimantan]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/relevansi-pemikiran-pater-berthier-bagi-karya-misi-msf-provinsi-kalimantan/</link>
<pubDate>Sat, 21 Oct 2006 10:40:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/10/21/relevansi-pemikiran-pater-berthier-bagi-karya-misi-msf-provinsi-kalimantan/</guid>
<description><![CDATA[Pada bulan September yang akan datang, MSF Provinsi Kalimantan akan merayakan ulang tahun ke-80 di b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan September yang akan datang, MSF Provinsi Kalimantan akan merayakan ulang tahun ke-80 di bumi Kalimantan. Pada tahun 2007 yang akan datang, Gereja Kalimantan khususnya Keuskupan Agung Samarinda akan melakukan napak tilas peringatan 100 tahun karya misi Gereja di Kalimantan khususnya di keuskupan Agung Samarinda yang menurut rencana akan diadakan di bumi Laham, jejak awal para misionaris menaburkan benih-benih iman menuju perkembangan pembangunan Gereja lokal yang mandiri.<!--more--></p>
<p>Atas dua peristiwa mahabesar dan bersejarah dalam perjalanan karya misi Gereja yang melahirkan rasa syukur dalam kehidupan Gereja di bumi Borneo khususnya di keuskupan Agung Samarinda, dan lebih khusus lagi bagi para anggota tarekat MSF provinsi Kalimantan, yang turut ambil bagian dalam karya misi awal dan terus berkiprah di pulau seribu sungai hingga detik ini. Kiranya penting untuk melihat dan merenungkan kembali beberapa pokok pikiran mendasar  dari Pater Berthier sang pendiri Tarekat MSF yang tentunya menjadi landasan dan daya dorong bagi kita dalam mengembangkan sayap karya misi di Kalimantan melalui ketiga kerasulan (misi, Keluarga, dan Panggilan) dan juga melalui reksa pastoral kategorial (pastoral kaum muda) dalam kerangka mendukung gerak langkah ketiga kerasulan tarekat dalam provinsi kita.</p>
<p>Dalam kerangka itulah maka beberapa pokok pemikiran Pater Pendiri bisa menjadi inspirasi karya misi MSF Kalimantan yang antara lain, (Bdk. P. Avrillong MSF-Pensee du Foundateur, Le Messager Missionnaire de la Sante Famille, 1995, hlm. 7);</p>
<p><strong>Pertama;</strong> Putera Allah mengambil kemanusiaan kita dan menjadi sama seperti kita kecuali dalam hal dosa, menyatukan dalam dirinya seluruh ciptaan dan membawa kembali pada Allah, yang merupakan tujuan karya misi-Nya, agar semakin memuliakan Bapa-Nya di surga. Maka menjadi tugas kita pertama-tama adalah demi kemuliaan Allah bersama mereka (umat) yang kita layani.</p>
<p><strong>Kedua;</strong> di dalam merenungkan Keluarga Kudus, kita menemukan teladan iman, yang menjadi dasar kehidupan dan karya misi kita yang luar biasa, harapan yang menjadi pilar kekuatan misi dan kasih yang menjadi daya dorong, religiositas yang lebih bermutu dari segala nilai-nilai moral dan doa yang merupakan sumber segala rahmat. Semuanya itu adalah kekuatan bagi kita di dalam menjalankan karya misi kita.</p>
<p><strong>Ketiga;</strong> teladan Keluarga Kudus merupakan harta rohani yang diwariskan kepada kita, yang juga kita bagikan dan wariskan kepada siapa saja yang kita layani. Namun ada dua harta terpendam yang sangat istimewa, yaitu; menggali dan merenungkan kembali makna kesatuan hati Yesus, Maria dan Yusuf melalui sebuah keheningan dan meditasi yang pada akhirnya membuka kembali seluruh kekayaan yang bermutu dan bernilai bagi pelayaan pastoral dan karya misi kita.</p>
<p><strong>Keempat:</strong> sebagai misionaris janganlah kita takut menjadi miskin. Allah selalu siap untuk memberikan ribah yang lebih besar bagi kemiskinan-kemiskinan kita.</p>
<p><strong>Kelima:</strong> semangat hidup miskin di hadapan Allah dan sesama merupakan sebuah “keajaiban” yang selalu hadir setiap hari dalam kerangka mengoreksi kepercayaan yang lain akan perkataan-perkataan yang keliru mengenai kemiskinan rohani di medan misi.</p>
<p><strong>Keenam:</strong> mencintai Kitab Suci, mencecapnya sebagai makanan di dalam jiwa kita sebagai sebuah gerak misi yang konkret, karena di dalamnya kita memperoleh kebenaran dan kehidupan.</p>
<p><strong>Ketujuh:</strong> Allahku, Allah kita selalu memberikan kedamaian bagi mereka termasuk kita yang dengan penuh semangat kesetiaan dan ketekunan melayani orang-orang miskin dan yang jauh baik secara geografis maupun rohani.</p>
<p><strong>Kedelapan:</strong> sebuah pedang (kampak), beberapa jumbai yang akan menyertai, tinggal yang tak berguna, jika kita tidak mengotori tangan kita dalam setiap pekerjaan tangan yang mendukung karya misi dan kerasulan kita. Itu berarti kita sendiri tidak berada dalam kesatuan dengan Allah, kita dipanggil sebagai pekerja yang mulia untuk keselamatan, kita adalah rasul-rasul-Nya yang menjadi alat-alat-Nya, untuk memenuhi atau mengisi sebuah pelayanan yang membawa hasil bagi perkembangan Gereja dan iman umat.</p>
<p>Maka semoga pemikiran dasar Pater Berthier, MS ini menjadi daya dorong dan inspirasi bagi kita untuk terus menekuni karya misi kita melalui  ketiga kerasulan kita di mana saja kita diutus dalam iman, harapan, dan kasih serta doa sumber kekuatan dan harapan kita.</p>
<p><em>Fr. Tuan Kopong (Bung Musafir).</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dari Provinsial]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/dari-provinsial/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 10:25:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/dari-provinsial/</guid>
<description><![CDATA[“ &#8230; Ya Tuhan, panggillah kaum muda kami
Untuk berkarya di Kebun Anggur-Mu,
Tetapi jangan ana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>“ ... Ya Tuhan, panggillah kaum muda kami<br />
Untuk berkarya di Kebun Anggur-Mu,<br />
Tetapi jangan anakku, ya Tuhan ...”</em></p>
<p><a href="http://msfmusafir.files.wordpress.com/2007/05/clip.jpg" title="clip.jpg"><img vspace="10" align="left" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/05/clip.thumbnail.jpg" hspace="10" alt="Provinsial" /></a>Sepotong kalimat “<strong>doa</strong>” yang sering kali dipakai sebagai sebuah anekdot yang menggambarkan ketidakrelaan orang tua untuk melepas anaknya masuk seminari atau biara. Ketidakrelaan itu mempunyai banyak dan beragam alasan. Ketika ketidakrelaan itu bertemu dengan keengganan kaum muda sendiri untuk masuk seminari atau biara, maka lengkaplah argumentasi untuk mengatakan bahwa tidak ada yang masuk seminari atau biara. Itu berarti anggota seminari atau biara tidak akan bertambah; pekerja di Kebun Anggur Tuhan tidak bertambah.</p>
<p>Ketidakrelaan dan keengganan memang bukan merupakan satu-satunya alasan tidak bertambahnya anggota seminari/biara. Ada sejumlah orang muda yang dengan penuh semangat datang ke Seminari/Biara dan mengetuk pintu dengan penuh keyakinan. Mereka datang dengan semangat berkobar untuk menjalani panggilan Tuhan yang mereka rasakan dan yakini. Hanya saja semangat dan keyakini itu harus dibuktikan dan diikuti dengan kemampuan pribadi yang memadai. Mereka harus menjalani sejumlah tes masuk dan sejumlah wawancara-wawancara pribadi. Ketika semuanya dapat dijalani dengan baik, maka mereka akan diterima sebagai anggota baru di Seminari.</p>
<p>Proses untuk akhirnya sungguh dapat menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan belumlah selesai dengan keberhasilan mengikuti test dan wawancara-wawancara awal. Proses masih harus dijalani selama pendampingan dan pendidikan di seminari/biara. Di Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) keseluruhan proses dijalani mulai dari tahap Postulat (tahun penjajakan yang berlangsung selama 1 atau 2 tahun), Novisiat (tahun penggemblengan hidup rohani yang berlangsung selama 1 tahun) dan Skolastikat (tahun seminari tinggi yang berlangsung selama 7 tahun untuk belajar filsafat dan teologi). Dalam keseluruhan proses yang tidak pendek itu orang-orang muda yang penuh semangat dan keyakinan itu di dampingi dan dipersiapkan untuk akhirnya sungguh siap menjadi pekerja di Kebun Anggur Tuhan yang handal, sebagai seorang Imam atau Bruder MSF. Ketika dalam keseluruhan atau sebagian proses tersebut orang-orang muda itu sampai pada kesimpulan bahwa mereka ternyata tidak mampu, entah dari sudut intelektual ataupun dari sudut kemampuan kepribadian untuk menjalani kehidupan khusus ini, maka mereka akan dibantu oleh para formator mereka untuk mengambil keputusan keluar dari pintu seminari/biara yang dulu mereka ketuk. Dengan demikian jumlah anggota pekerja di Kebun Anggur Tuhan juga tidak akan bertambah.</p>
<p>Mungkin akan ada yang protes : “Mengapa prosesnya harus dibuat sedemikian panjang dan berat, sehingga semangat dan keyakinan itu harus berhenti di tengah jalan?” Sekilas protes itu terdengar benar. Tetapi ketika kita harus berhadapan dengan fakta bahwa dunia dan Gereja sekarang ini berkembang dengan pesat; ketika umat menjadi semakin banyak yang pandai, juga dalam bidang rohani, tuntutan bagi para Imam dan Bruder serta calon-calonnya juga semakin berat. Dunia, Gereja dan Umat akan protes keras jika para Imam dan Brudernya hanya menyandang predikat sebagai Imam dan Bruder tanpa bisa berbuat banyak menjawab tantangan jaman dan kebutuhan Umat.</p>
<p>Ketidakrelaan, keengganan dan ketidak-mampuan orang muda Gereja untuk memilih dan menghidupi jalan hidup sebagai Imam atau Bruder (dan Suster bagi yang Putri) merupakan realita pahit yang sekarang ini mulai dialami oleh Gereja Katolik, mulai dari Eropa sampai di Indonesia. Semakin hari, semakin banyak seminari dan biara yang kosong dan akhirnya dengan berat hati harus ditutup. Entah kapan seminari atau biara itu dapat dibuka lagi. Sebagian terbesar bahkan sudah dialihfungsikan atau bahkan dibongkar sama sekali dan dibangun sesuatu yang baru. Akankah realita pahit itu segera berakhir dan berubah menjadi fajar harapan yang indah; ataukah relaita pahit itu akhirnya semakin menjadi tajam dan menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan? Adalah kita bersama yang diajak untuk berani menjawabnya; Adalah kita bersama yang diajak mengucapkan penggalan doa di atas, tanpa harus diembel-embeli dengan anak kalimat “...Tapi jangan anakku ya Tuhan...”; Adalah kita bersama yang diajak untuk mewujudkan fajar harapan yang indah itu. Semoga.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tugas Kenabian sebagai Rasul]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/tugas-kenabian-sebagai-rasul/</link>
<pubDate>Tue, 10 Apr 2007 10:23:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/04/10/tugas-kenabian-sebagai-rasul/</guid>
<description><![CDATA[Sesuatu yang istimewa terjadi di Keuskupan Agung Samarinda (KASRI) dalam mengawali tahun baru 2007 a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sesuatu yang istimewa terjadi di Keuskupan Agung Samarinda (KASRI) dalam mengawali tahun baru 2007 adalah berkumpulnya para imam dan biarawan-biarawati yang berkarya di keuskupan ini. Para religius ini berkumpul bukan sekedar berkumpul dan lepas bebas dari berbagai tugas selama sepekan tetapi mereka berkumpul untuk mengikuti retret yang sudah diagendakan oleh pihak keuskupan. Disebut istimewa karena KASRI sendiri menyebut tahun 2007 sebagai tahun rahmat, di mana Keuskupan Agung Samarinda akan merayakan 100 tahun karya misi Gereja Katolik khususnya di wilayah Kalimantan Timur.</p>
<p>Dalam tahun rahmat itulah kegiatan retret para religius ini ditempatkan dan coba dimaknai. Bertepatan dengan tahun rahmat itupula pihak keuskupan mengambil tema yang cukup relevan sebagai bahan permenungan bagi para religius yang berkarya di keuskupan ini yakni ”Tugas Kenabian sebagai Rasul”.  Retret yang berlangsung dari tanggal 22-27 Januari 2007 ini di dampingi oleh seorang pakar Kitab Suci dan secara khusus memang mendalami kitab Nabi-nabi yaitu Sr. Gratiana, PRR. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa para peserta retret akan dituntun (diobok-obok) untuk semakin memaknai arti tugas dan karya perutusannya di Keuskupan ini.</p>
<p>Meski ada sedikit keluhan dari Sr. Gratiana atau sederhananya ada semacam keberatan untuk mengisi retret ini pertama-tama karena merasa tidak biasa mendampingi para imam apalagi retret ini diikuti jugaoleh Bapak Uskup Samarinda. Namun keluhan itu, tidak lebih dari kerendahan hati seorang suster. Dan memang benar, sebagaimana yang direfleksikan oleh suster sendiri: ” Maka saya tidak terlalu berkecil hati karena keterbatasan dan kelemahan yang akan muncul dalam renungan-renungan nanti, sebaliknya bahwa melalui kesempatan ini, barangkali Tuhan menghadirkan saya di sini, untuk menghadirkan dan menyuarakan sesuatu dari dalam yang paling lemah dan paling kecil. Maka persoalannya bukan bagaimana pendamping retret menghantar para peserta retret ke tujuan yang masing-masing ingin capai, melainkan bagaimana kita yang hadir di sini, meminta Roh Kudus untuk bekerja keras pada setiap kita, sehingga dapat menyingkap rahasia Allah, pesan-pesan-Nya, saspaan-Nya, melalui figur, kata-kata dari orang lemah yang ada sekarang di antara kita sekarang.”</p>
<p>Selaku pendamping retret Sr. Gratiana PRR mengajak para peserta untuk merefleksikan arti dan makna pertusan nabi Yeremia yang kemudian ditempatkan dalam konteks zaman sekarang  khususnya di wilayah KASRI. Terutama berkaitan dengan refleksi menyongsong Perayaan Syukur 100 tahun karya misi Gereja di wilayah Kaltim ini, bagaimana para misionaris pendahulu bersama umat perdana di wilayah ini menabur benih sabda Allah dan akhirnya secara perlahan dan pasti berkembang seperti sekarang bahkan sudah terbagai dalam empat keuskupan.</p>
<p>Dengan merenungkan tugas kenabian tentu yang mau ditegaskan kembali di sini adalah para nabi pertama-tama dipanggil dan diutus secara ajaib, tidak dikatakan dengan jelas, kapan mereka dididik untuk menjadi nabi (kecuali nabi Yeremia) mereka kemudian diutus atas nama Tuhan untuk tanggap terhadap situasi yang penuh kritis, krisis, baik dalam masalh sosial, politik, penindasan dan terlebih pada aspek religius (raja tidak setia pada perjanjian). Ringkasnya menjadi berarti menyampaikan sabda Allah, ikut menyuarakan keprihatinan Allah akan penderitaan umat-Nya.</p>
<p>Maka kalau tugas kenabian dilaksanakan sebagai rasul, itu sama saja bahwa seorang rasul diutus untuk mewartakan firman Allah, tidak hanya menanggapi situasi yang penuh kritis, tetapi di sana sang rasul mewartakan sambil meletakkan sebuah fondasi dasar yang memungkin orang bertumbuh sebagai kelompok orang beriman. Sang rasul perlu mengajar, menuntun umat yang telah menerima Firman Allah, kesuatu masa depan yang tetap berpengharapan akan Hidup Kekal.<br />
Lebih lanjut Sr. Gratiana menguraikan bahwa yang syarat untuk yang dibutuhkan oleh seorang rasul adalah harus menjadi murid Yesus., bahkan perlu menjadi ”murid terkasih”, sebagaimana yang dikisahkan dalam injil Yohanes. Bagaimana pun orang tidak akan berhasil menjadi rasul bila belum sempat menjadi murid Yesus. Syarat untuk menjadi murid pun ternyata tidak mudah, karena setiap orang ditantang dalam pergumulan panggilannya sendiri, bahkan seorang Petrus yang sudah sekian lama hidup bersama Yesus, dan dia sendiri telah lama merasa sebagai nurid dan rasul dan sedemikian mantap, tetapi pada suatu saat dia merasa bingung siapakah Yesus itu sebenarnya?. Ketika Yesus ditangkap dan Petrus mencoba membela Yesus dengan memotong telinga salah seorang yang mau menangkap Yesus, ternyata Yesus marah pada perbuatan Petrus, karena yang dilakukannya ternyata tidak sesuai dengan yang dikehendaki Yesus. Petrus akhirnya menjawab di dekat ruang pengadilan: ” Aku tidak mengenal Dia..., karena gambarannya jauh dari Yesus yang sebenarnya. Maka walaupun kita sudah mapan dengan kerasulan kita... Mari kita relahkan diri untuk merenung dan mencarai kehendak Tuhan, dengan bertanya : bagaimana menjadi murid dan rasul pemberita injil? Untuk itu ”BIARKANLAN ROH TUHAN BEBAS MENYAPA DAN BEKERJA PADA MASING-MASING KITA,MELALUI SATU SAMA LAIN”.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
