<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>provinsi-lain &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/provinsi-lain/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "provinsi-lain"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 15:53:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[www.misafa.org]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/wwwmisafaorg/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 14:56:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2007/11/29/wwwmisafaorg/</guid>
<description><![CDATA[Para konfrater dan kerabat para Missionaris Keluarga Kudus (MSF), selamat datang di website kita.
Ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Para konfrater dan kerabat para Missionaris Keluarga Kudus (MSF), selamat datang di website kita.</p>
<p><img border="0" vspace="10" align="left" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2007/11/misafa.jpg" hspace="10" alt="misafa.jpg" />Mari berjalan naik ke Bukit Areopagus! Mengikuti St. Paulus yang berani naik ke Areopagus sambil mewartakan Yesus yang di dalamNya dia hidup, bergerak, dan ada (Kis 17); saya mengundang anda sekalian untuk memulai sebuah jalan baru dalam menjalin komunikasi sebagai MSF dan kerabat-kerabat MSF di seluruh dunia. Seperti Paulus yang digugah oleh Yesus semoga kita berani untuk bangun dan menjalin relasi lewat Internet sebagai sebuah Areopagus baru tempat berseminya jiwa komunikasi.</p>
<p>Dari Areopagus, St. Paulus membawa Dionysius, Damaris, dan beberapa orang lainya beserta dia. Dari kunjungan dan menjalin kontak dalam <a href="http://www.misafa.org/">www.misafa.org</a>, saya hendak mengatakan, kita membawa diri kita sungguh lebih dekat sebagai komunitas religius, imam, dan orang-orang kristiani. Mempertimbangkan karya sang rasul, kita perlu mencermati strategi yang dia buat. Dia menjalankan kerasulannya sungguh secara efisien. Dia memilih Areopagus dan beberapa pusat (pelabuhan dan beberapa kota besar seperti Korintus dan Roma) demi pemenuhan misinya. Kita hendaknya mengikuti strageti yang sama maka kita perlu menjalankan sebuah proyek bersama. Kita sedang memulainya dengan membuka misafa.org.</p>
<p>Saya mengundang anda sekalian untuk mengunjungi website kita sambil menikmati menu-menu yang tersedia. Jika anda menginginkan lebih banyak menu, jangan lupa untuk melakukan registrasi (pendaftaran) dan melakukan log-in. Merasa bebaslah untuk menyampaikan pendapat dan komentar anda dalam Forum (perlu log-in terlebih dahulu untuk bisa masuk). Berhubung misafa.org sedang mengawali periode test sebagai awal dari proyek Komunikasi MSF, usul dan saran sangat dinantikan. Saya menganjurkan anda sekalian untuk mengirimkan saran, komentar, dan pertanyaan di Forum kita (tempat kita dapat memperkaya Proyek Komunikasi). Forum merupakan sebuah kesempatan interaktif untuk membangun komunitas. Kita ditopang oleh Pater Jean Berthier pendiri Konggregasi kita yang mengatakan bahwa dalam kesatuan hati yang merupakan buah keutamaan, kita menemukan kebahagiaan. Kita bersatu sewaktu kita saling menghargai satu sama lain (Le Culte, hlm. 196)</p>
<p>Terima kasih untuk segenap anggota Generalat di Roma yang telah membuka kesempatan untuk memulai media internasional <a href="http://www.misafa.org/">www.misafa.org</a> kita, sebagaimana telah disebut dalam Kapitel Genderal terakhir. Terima kasih juga karena terbuka pintu bagi saya untuk menjalani formasi komunikasi pada tahun lalu di Lyon, Prancis; sehingga saya siap untuk melayani media ini dengan segenap bakti saya. Kita kenangkan selalu para konfrater dan sahabat untuk sharing, gambar, dan terjemahan. Kita nantikan lebih banyak lagi cerita dari Brasil, Indonesia, Madagascar, Norwegia, Papua New Guinea, Filipina, dan dari negara manapun tempat kita berkarya. Terima kasih untuk semua.</p>
<p>Dalam iman,</p>
<p>Rm. Yohanes Risdiyanto MSF</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjadi Guru Sekaligus Murid]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2007/11/29/menjadi-guru-sekaligus-murid/</link>
<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 08:49:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2007/11/29/menjadi-guru-sekaligus-murid/</guid>
<description><![CDATA[Fr Jonas Roka MSF
Aku dipercayakan komunitas untuk mendampingi PIA paroki Banteng selama setahun. Da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Fr Jonas Roka MSF</em></p>
<p>Aku dipercayakan komunitas untuk mendampingi PIA paroki Banteng selama setahun. Dalam rentang waktu yang cukup lama itu aku menjalaninya dengan segenap hatiku. Karena bagiku ini merupakan kesempatan emas, yang mungkin saja tidak akan terulang kembali. Kesempatan yang istimewa itu mendorong aku untuk belajar dan terus belajar baik untuk mengembangkan diri anak-anak maupun belajar mengembangkan diri sendiri. Prinsipku saat itu adalah aku mau belajar dari dan bersama anak-anak. Prinsip ini mengantar aku pada suatu keyakinan bahwa ada begitu banyak kekayaan rohani yang ada dalam diri mereka. Sebagai seorang frater pendamping aku dituntut untuk bisa menempatkan diriku dalam dunia anak-anak, yang kadang-kadang bertentangan dengan idealisme yang kumiliki.</p>
<p>Tidak mudah........ itulah yang aku alami ketika pertama kali memulai tugas ini. Aku harus mulai dari nol untuk belajar menggunakan bahasa dan mengerti perasaan anak-anak. Dalam pendampingan itu aku begitu gembira melihat anak-anak yang kreatif namun kadang aku stres sendiri melihat tingkah laku anak-anak yang nakal, setengah nakal, pendiam, begitu ekspresif maupun yang sangat pasif. Perasaan yang spontan muncul adalah jengkel, tetapi.... aku sadar itulah dunia anak-anak. Dunia yang harus disikapi secara bijaksana bukan emosi. Karena itu kegiatan bersama menjadi kesempatan bagi mereka untuk bermain, berbagi kegembiraan, berbagi kisah, berkisah dengan teman-teman, mengekspresikan diri dan mengungkapkan kekesalan yang mereka alami di rumah maupun di lingkungan.</p>
<p>Pengalaman yang aku dapatkan ini ternyata sungguh membantu dan menjadi titik awal untuk mengembangkan pendampinganku selanjutnya. Mengenal mereka secara pribadi bukanlah pekerjaan mudah. Aku harus masuk dalam dunia dan dalam kehidupan mereka yang walaupun masih kecil ternyata memiliki persoalan yang pelik. Kenyataan ini menumbuhkan rasa iba dan prihatin dalam diriku.</p>
<p>Cita-citaku tidak berbekas sama sekali bahkan hanya menjadi mimpi belaka yang tidak memberi makna. Cita-citaku ternyata belum optimal dan aku pun dituntut untuk berusaha dan menemukan metode yang baik untuk mendampingi mereka. Mulai saat itu, aku memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk berekspresi. Kubiarkan mereka berekspresi sesuai kemampuan dan bakat mereka masing-masing. Ada yang gembira, senang, marah dan bahkan sampai menangis dalam mengungkapkan diri mereka masing-masing. Ungkapan-ungkapan itu merupakan ungkapan isi hati mereka. Melalui ekspresi yang ditampilkan itu aku bisa melihat anak mana yang perlu diberi perhatian lebih dan mana yang tidak. Yang perlu didampingi dan diberi perhatian lebih biasanya anak-anak yang mengalami hambatan untuk berkomunikasi di rumah misalnya karena terlalu ditekan oleh orangtuanya. Mungkin mereka mendambahkan kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanak namun impian untuk berekspresi dan berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungannya biasanya dibatasi. Mereka terlalu banyak dijejali oleh bermacam-macam hal yang membuat mereka tidak leluasa dan tidak bisa menjadi diri mereka sendiri. Keinginan orangtualah yang mereka jalani, bukan keinginan mereka sendiri. Orangtua akan senang apabila mereka berprestasi. Aspek intelektual yang dijadikan skala prioritas sedangkan unsur afeksi dan kognitif diabaikan. Sungguh memprihatinkan... anak sekecil itu harus menderita di usia belianya. Ada nuansa lain yang muncul ketika aku berhadapan dengan anak-anak yang diberi kebebasan oleh orangtuanya. Mereka biasanya mempunyai kemampuan berekspresi yang luar biasa. Aku sangat mendukung mereka untuk terus mengembangkan dirinya. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka untuk terus berkembang untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berguna bagi orangtua, bangsa dan Gereja.</p>
<p>Dalam PIA, aku bersama pendamping yang lain tidak mau menjejali mereka dengan berbagai materi yang membosankan dan tidak membebaskan. Aku lebih memberikan perhatian pada perkembangan kepribadian mereka, sedangkan pendamping yang lain pada hal-hal lain misalanya membuat doa dan memahami pesan kitab suci. Dengan metode yang diterapkan, ada titik sambung yang dijadikan pedoman sehingga anak-anak diharapkan dapat berkembang menjadi pribadi yang utuh dan berwawasan kristiani.</p>
<p>Aku senang melihat perkembangan anak-anak yang kudampingi. Aku sungguh merindukan saat-saat kebersamaan dengan mereka. Aku belajar banyak hal dari mereka. Mereka bisa tumbuh dan berkembang berkat kepolosan, kejujuran dan kesediaan untuk dibina dan dibentuk. Hal ini membawa dampak positif bagi diriku. Makna yang bisa kupetik adalah aku disadarkan untuk terbuka, sabar dan belajar menjadi anak kecil. Keutamaan-keutamaan ini membuat aku tumbuh</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pater Berthier di Tengah Keluarga Kristiani]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/pater-berthier-di-tengah-keluarga-kristiani/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 12:47:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2006/07/26/pater-berthier-di-tengah-keluarga-kristiani/</guid>
<description><![CDATA[Ketika mendirikan kongregasi MSF, P. Berthier mempunyai keprihatinan khusus terhadap keadaan kehidup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ketika mendirikan kongregasi MSF, P. Berthier mempunyai keprihatinan khusus terhadap keadaan kehidupan keluarga-keluarga di Prancis waktu itu. Menurut pendiri Kongregasi Keluarga Kudus (MSF) ini, keluarga merupakan kekuatan utama untuk memajukan kehidupan Gereja. Dari keluarga-keluarga, Gereja akan terus menunjukkan eksistensi dan esensinya. Dengan demikian, warta Kerajaan Allah semakin didengarkan dan dihayati oleh lebih banyak orang lagi.</em> <!--more--></p>
<p><strong>Prancis Pasca Revolusi</strong></p>
<p>Berdirinya Kongregasi Keluarga Kudus (MSF), tidak terlepas dari situasi kehidupan pasca Revolusi Prancis (1789). Revolusi Prancis telah mengubah paradigma yang lama didominasi oleh kaum bangsawan dan Gereja. Pada abad ke-19 kekuasaan kaum bangsawan tidak bertahan lama karena pertumbuhan dunia ke arah sekularisme dan anti-Kristen sampai menjadikan Prancis sebagai negara yang paling anti agama.</p>
<p>Dalam situasi yang demikian, Gereja mulai mengalami penganiayaan. Ribuan imam dan religius dibunuh dan diusir, segala harta Gereja dirampas, bahkan semua bentuk kegiatan keagamaan dilarang. Meskipun demikian, di tengah penganiayaan dan tekanan dari negara, agama Kristen tetap menunjukkan eksistensinya. Pada tahun 1850, sekitar 98 % orang Prancis dibaptis, namun dari sekian banyak orang itu, ada beberapa yang menjadi acuh tak acuh dengan agama. Sebagiannya tetap berpegang teguh pada Gereja, bahkan dari mereka itu semangat untuk memajukan Gereja dan agama semakin berkobar. Dengan  kata lain, meskipun jumlah mereka berkurang, namun penghayatan kehidupan menggereja semakin meningkat.</p>
<p>Di beberapa daerah, agama tetap berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Namun dalam situasi yang demikian, salah satu masalah lain yang muncul waktu itu adalah adanya kekurangan imam di paroki-paroki sehingga banyak paroki mengalami kemandekan dalam pertumbuhan iman. Dampak dari hal ini adalah pertumbuhan iman di tengah keluarga menjadi tidak begitu diperhatikan. Padahal menurut P. Berthier, dari keluargalah iman seorang anak akan tumbuh. Keluargalah yang menjadi dasar bagi perkembangan Gereja pada umumnya. Menanggapi situasi yang demikian, P. Jean Berthier MS, seorang imam dari kongregasi MS merasa terpanggil untuk hadir dan menjadi bagian dari kehidupan umat yang ternyata sangat membutuhkan seorang gembala. Mulailah ia berkarya di La Salette dengan  mengemban empat misi yaitu: mendampingi para peziarah di La Sallete, menulis buku dan karangan, mendidik para calon imam dan berkarya di paroki serta mendampingi retret. Selama musim dingin P. Berthier bertugas di paroki dengan misi menghidupkan atau membangkitkan kembali semangat Kristiani serta mengajak mereka untuk hidup menggereja dengan benar. Setiap menjalani misi perutusannya, P. Berthier selalu mempunyai kebiasaan mengunjungi keluarga-keluarga. Kebiasaan P. Berthier mengunjungi keluarga-keluarga Kristen sebenarnya sudah ia mulai ketika ia masih bekerja sebagai pastor pembantu di Veyssilieu, Dauphine utara, Prancis. Melalui kunjungan keluarga ini, P. Berthier ingin, mengetahui secara lebih jelas permasalahan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga Kristiani sampai menyebabkan kehidupan menggereja terabaikan, serta meneguhkan orang-orang yang berkehendak baik dan tetap beriman kepada Kristus.  P. Berthier sadar betul bahwa, pada waktu itu antara imam dan awam terdapat jurang yang cukup dalam. Maka untuk menjembatani jurang tersebut, satu-satunya sarana yang efektif dan efisien adalah mendatangi mereka dengan melakukan kunjungan ke rumah-rumah, bahkan kegiatan ini dijadikannya sebagai lahan misi sekaligus aksi panggilan di tengah-tengah umat. Di tengah-tengah keluarga kristiani itulah, P. Berthier menjalankan karya misi, panggilan dan keluarga di dalam mengahdirkan Kerajaan Allah sebagaimana diwartakan oleh Maria La Salette dalam pesan pertobatannya.</p>
<p><em>Fr. Yoseph Pati Mudaj</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pourquoi á la Salette ?]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/pourquoi-a-la-salette/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 12:42:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2006/07/26/pourquoi-a-la-salette/</guid>
<description><![CDATA[Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Sczepan dan Diakon Firmino ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Sczepan dan Diakon Firmino berangkat ke La Salette. Kami berangkat dari Lyon dengan naik kereta sampai Grenoble kemudian naik bus menuju La Salette. Mulai dari Grenoble hawa dingin sudah mulai menusuk tulang dan hampir seluruh kota dan pegunungan diselimuti salju yang cukup tebal. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam sedangkan bus hanya sampai Village (desa) Corps.</p>
<p>Saya mengambil tempat duduk di depan agar dapat menikmati perjalanan dan bisa melihat pemandangan kota Grenoble yang sangat indah. Perlahan tapi pasti kami mulai memasuki desa-desa yang jauh lebih indah lagi walau sebagian besar ditutupi salju yang tebal. Nampak keindahan gunung-gunung berselimutkan salju dan di sana-sini terlihat banyak orang bermain ski. Terlihat juga sungai dan danau yang membeku sehingga orang bisa bermain ski di atasnya. Tanpa kusadari kami akhirnya tiba di Corps.<!--more--></p>
<p>Dari kejauhan di atas gunung terlihat ada bangunan megah dengan Basilik dan terlihat juga patung yang tidak asing lagi yakni Patung Bunda Maria La Salette dengan dua  patung kecil (patung Maximin dan Melanie) yang hanya telihat separuh badan karena tertutup salju. Sesampainya di tempat tujuan, tiada hentinya aku menikmati pemandangan disekeliling gunung dan terutama patung Bunda Maria La Salette yang selama ini hanya saya lihat melalui photo. Aku melayangkan pandangan lebih jauh lagi dan di salah satu puncak gunung terlihat sebuah Cimitière (kuburan) “rumah masa depan abadi” Bapa kita Pater Berthier sang Fondatur kongregasi kita ; Missionaris Keluarga Kudus terbaring dengan tenang. Aku tertegun seakan tidak percaya sambil bertanya;  mengapa Maria memilih tempat tersebut ? Mengapa Maria menampakkan dirinya kepada anak kecil ? Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonnay tertarik ke La Salette ? Saya membayangkan pada tanggal 19 septenber 1846, saat Maria menampakkan dirinya pada dua anak kecil (Maximin dan Melanie) daerah tersebut pasti sangat terasing dan sangat berbahaya karena dikelilingi gunung dan banyak jurang. Di puncak gunung La Salette aku mencoba merenungkan ketiga pertanyaan tersebut bersama dinginnya gunung La Salette.</p>
<p><strong>Mengapa Maria memilih tempat tersebut ?</strong></p>
<p><em>Pertama:</em> Gunung merupakan lambang keteguhan dan kekokohan dimana juga sering digambarkan sebagai tempat yang baik untuk meditasi serta untuk menemui sang Pencipta. Dalam Perjanjian Lama nabi Musa menemui Allah dan menerima 10 perintah Allah di atas gunung Sinai. Dalam Perjanjian Baru, Yesus banyak mengajar para murid-Nya di atas bukit (gunung) yang terkenal dengan sabda Yesus di atas bukit. Berbicara mengenai gunung maka identik dengan batu tapi itu tidak seratus persen benar karena ada juga gunung pasir dan gunung es. Namun kembali pada Perjanjian Baru di mana Yesus menyerahkan tugas perutusan kepada Petrus yang berarti Batu Karang sebagai lambang kekokohan Iman..<br />
<em>Kedua :</em> Gunung identik dengan keindahan dan merupakan tempat dimana kita bisa memandang dunia ini dengan lebih luas. Gunung selalu teguh berdiri dan setiap orang bisa melihatnya karena ia tidak pernah menyembunyikan dirinya. Di atas gunung, kita akan menyadari betapa agung Sang Pencipta dan betapa kecilnya kita sebagai ciptaan-Nya. Bunda Maria bisa melihat segala tingkah laku anak-anaknya dan mencoba mengingatkan mereka bila mulai meninggalkan Puteranya. Maria La Salette ingin meletakkan pesan rekonsiliasi pada satu fondasi yang kokoh yakni dengan mengambil simbol gunung. Gunung tersebut juga bisa berarti Melanie, Maximin, Pater Berthier dan tentu juga kita semua yang sekarang berlindung di bawah perlindungan Bunda Maria La Salette.</p>
<p><strong>Mengapa Maria menampakkan diri kepada anak kecil ?</strong></p>
<p>Seorang anak kecil identik dengan kepolosan dan kejujuran. Seorang anak kecil adalah lambang “kesucian”. Yesus menegaskan, bahwa bila kita ingin masuk surga kita harus seperti anak kecil tapi bukan dalam arti menjadi kekanak-kanakan melainkan dalam arti suci murni lahir-batin. Maka Maria memilih Maximin dan Melanie sebagai penyambung lidahnya. Mengenai dua pribadi ini, para Pastor Missionaris La Salette banyak menulis dan saya sangat percaya bahwa mereka berdua adalah dua pribadi yang sangat baik.</p>
<p><strong>Mengapa Pater Berthier Tertarik ke La Salette ?</strong></p>
<p>Pada jaman itu di Prancis, devosi kepada Bunda Maria memang sangat kuat. Pater Berthier juga mempunyai devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria dan rupanya pesan Rekonsiliasi dari Bunda Maria La Salette sangat menyentuh hatinya sehingga beliau memutuskan untuk masuk Missionaris La Salette serta melayani para peziarah di gunung La Salette. Gunung La Salette merupakan suatu tempat yang sangat indah (bahasa Prancis : Très Joli). Menurut saya ; pribadi Pater Berthier yang suka berdevosi kepada Bunda Maria dan juga mempunyai kemampuan untuk berkotbah, sangat tepat jika Beliau juga sebagai penyambung lidah Bunda Maria La Salette untuk menyampaikan pesan rekonsialiasi kepada seluruh umat manusia khususnya mereka yang berziarah ke La Salette. Pada saat musim dingin dimana para peziarah sangat sedikit dan untuk bekerja di luar rumah sungguh tidak memungkinkan karena semua gunung La Salette ditutupi salju, digunakan oleh Pater Berthier untuk merenung dan menulis tentang Maria La Salette dan Keluarga Kudus. Maria La Salette dan Figur Keluarga Kudus sangat mewarnai hidup Pater Berthier sehingga sangat bisa dipahami jika beliau memilih Maria La Salette sebagai pelindung Kongregasi dan Keluarga Kudus sebagai Teladan Kongregasi kita (MSF).</p>
<p>Di dalam keheningan dan keindahan gunung La Salette, Pater Berthier menangkap keprihatinan Bunda Maria La Salette dan juga keprihatinan Gereja saat itu, melalui ensiklik Bapa Paus Leo XIII (Sancte Dei Civitas 3 desembre 1880 dan Bref. Neminem Fugit) yang menginginkan misi ke seluruh dunia dan devosi kepada Keluarga Kudus. Pater Berthier bertekad untuk menjawab keprihatinan tersebut dengan mendirikan suatu institute, yang khusus mendidik anak muda untuk menjadi misionaris handal yang siap dikirim ke tanah misi dan mempunyai devosi khusus kepada Keluarga Kudus. Institut inilah yang menjadi cikal bakal kongregasi kita (MSF) sekarang ini.</p>
<p>Maka, kalau saya mengatakan La Salette menjadi penting bagi perjalanan sejarah kongregasi kita, karena proses ke arah terbentuknya kongregasi kita berawal dari La Salette. Kita juga jangan lupa, Pater Berthier adalah anggota Missionaris La Salette. Pater Berthier untuk selamanya tetap anggota MS.</p>
<p><em>P. Ionday, MSF.</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Brabants Dagblad: Wawancara dengan pastor Kleijnenbreugel]]></title>
<link>http://msfmusafir.wordpress.com/2006/07/26/brabants-dagblad/</link>
<pubDate>Wed, 26 Jul 2006 12:31:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>redaksi</dc:creator>
<guid>http://msfmusafir.id.wordpress.com/2006/07/26/brabants-dagblad/</guid>
<description><![CDATA[ 
Pastor Kleijn (sebutan harian Brabants Dagblad) akan &#8220;memadamkan lampu dan mengunci pintu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em><img vspace="10" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/wawancara_a.jpg" hspace="10" alt="Biara MSF yang terakhir di Goirle, Belanda. September 2006 biara akan dikosongkan." /> </em></p>
<p><em>Pastor Kleijn (sebutan harian Brabants Dagblad) akan "memadamkan lampu dan mengunci pintu “biara yang terakhir MSF di Goirle (Belanda). Rumah akan dijual dan keenam penghuni akan pindah ke biara SVD di Teteringen. Biara SVD di Teteringen akan menjadi rumah untuk 38 pastor SVD, MSF dan OSB (Benediktin). Pastor Kleijn tinggal 28 tahun sebagai pastor kepala di Kutai Barat (Barong Tongkok) wilayah Tunjung Benuaq, dan 7 tahun sebagai ekonom keuskupan Samarinda. Bulan Mei 1999 beliau diminta pulang ke Belanda dan sejak itu beliau berjabat sebagai ekonom provinsi Belanda merangkap prokurator misi.</em><!--more--></p>
<p><strong>Masa kini dan masa depan</strong></p>
<p>Boleh jadi bahwa nanti pastor Kleijn menjadi orang yang menurut peribahasa terkenal "mematikan lampu dan mengunci pintu." Biara akan dijual dan para penghuni yang terakhir akan pindah bergabung dengan sisa para missionaris SVD di Teteringen. Pastor Kleijn, ditahbis menjadi imam tahun 1963, mengatakan dengan ketenangan yang mengagumkan bahwa beliau tidak menyesal untuk meninggalkan biara ini. Katanya: "Saya tidak terikat pada suatu tempat tetap. Sebagai seorang misionaris saya biasa untuk berpindahpindah tempat. Apalagi tinggal dalam komunitas yang kecil. Kadang-kadang membosankan. Semua mereka lebih tua dari saya. Baca surat kabar yang sama, nonton program T.V. yang sama juga sehingga hampir tidak ada bahan untuk dibicarakan. Keuntungan bagi saya hanya bahwa keluarga saya tinggal dekat. Semua dapat saya kunjungi dengan naik sepeda."</p>
<p>Suasana di Belanda memang berbeda jauh dari keadaan di Indonesia, baik bidang material maupun spiritual. Di bidang material Indonesia apalagi Kaltim jauh ketinggalan. Tetapi di bidang spiritual boleh dikatakan Indonesia menang! Di Indonesia gereja-gereja hidup dengan umat yang muda dan bersemangat. Di Belanda banya umat yang tua ke gereja. Banyak gedung gereja kosong dan dibongkar. Panggilan imam, suster dan bruder dapat dihitung pada jari satu tangan. Pastor Kleijn menyadari keadaan ini penuh, tetapi sama sekali tidak gelisab atau merasa menyesal. "Kongregasi kami masih beranggota 900 orang, terutama di Jawa dan Kalimantan kongregasi kami terus berkembang secara subur. Saya puas dengan perkembangan itu. Karya kami temyata berhasil di situ, walaupun karya kami di Eropa selesai. Kami merasa diri bagaikan orang tua yang tugasnya selesai. Anak-anaknya telah dewasa dan menempuh hidup sendiri. Karena itu kami bukan kecewa melainkan merasa diri bahagia dan puas atas hasil karya kami."</p>
<p>Lantas pastor berkata: "Untuk saya semua agama sama, walaupun cara mereka berbeda-beda. Agama Kristen-Katolik mempunyai ciri khas yaitu cintakasih kepada semua sesama. Memang semua agama termasuk adat mengajar cintakasih, tetapi cintakasih itu sering terbatas pada orang seagama atau sesuku. Kita boleh mengatakan bahwa cintakasih kepada semua sesama telah terlaksana di Eropa, umat Kristen yang tertua. Memang masih terdapat banyak dosa tetapi pada prinsipnya banyak cita-cita agama Katolik tercapai. Seperti: keadilan untuk setiap warga; kurang perbedaan antara kaya-miskin; kurang korupsi; perhatian untuk orang sakit; jaminan pensiun; kesempatan bersekolah untuk setiap anak dll. Kita bisa kagum atas bantuan besar sekali waktu tsunami tadi! Betul tanda cinta kasih kristinani yang tidak membedakan bangsa atau agama."</p>
<p>Kesimpulan:<br />
Pastor Kleijn berkata: "Di dunia ketiga agama Kristen-Katolik mulai berkembang. Semoga mereka semakin melaksanakan cita-cita Injil. Kami telah memberi andil dalam perkembangan itu. Karena itu kami bisa menutup pintu dan mematikan lampu dengan tenang. Dengan puas saya mengenangkan karya saya di Kaltim dan saya yakin bahwa Kerajaan Allah akan dibuka dan bercahaya di Kaltim."</p>
<blockquote><p><strong>Beberapa fakta:</strong></p>
<p>Biara "Santa Theresia" di Goirle dibangun tahun 1935.<br />
Gedung mempunyai 25 kamar dan beberapa ruang umum.<br />
Besarnya seluruh kompleks ternasuk tanah + 2 ha.</p>
<p>Tujuan utama gedung ini adalah sebagai prokura misi. Beberapa bruder aktif memetikan barang yang kemudian dikirim ke Indonesia dan Chili.</p>
<p>Setelah tidak perlu lagi mengirim barang ke Misi gedung menjadi seminari agung beberapa mahasiswa.<br />
Sejak 1996 menjadi provinsialat dan rumah jompo.<br />
Kini tinggal hanya enam pastor MSF a.l. pastor Spitters dan pastor Kleijn: keduanya mantan missionaris di Kaltim.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong><img vspace="10" src="http://msfmusafir.wordpress.com/files/2006/07/wawancara_b.jpg" /> </strong></p>
<p><strong>Berkaitan dengan pindahan ke Teteringen</strong></p>
<p>Selasa 24 Mei 2005 Dewan paroki "Nama Kudus Yesus" di Lierop mengadakan rapat. Bahan pembicaraan a.l.: "berapa lama pastor Zwirs masih berkarya di paroki kami?" Pertanyaan ini dijawab oleh pastor Zwirs sendiri. Beberapa bulan sebelumnya sebagai anggota Kongregasi MSF beliau dipilih dalam kapitel sebagai assisten II. Pekerjaan itu dapat dilaksanakan dari Lierop. April 2005 meninggal pater Pfaff (assisten I) dan pastor Zwirs otomatis menjadi assisten I. Konsekwensi bahwa beliau harus tinggalkan Lierop dan pindah ke Goirle. Syukurlah untuk Lierop dan pastor Zwirs propinsial dan assisten II memutuskan bahwa pastor Zwirs boleh tinggal di Lierop dan darisitu bisa menolong para konfrater di Goirle. Di Lierop dalam waktu dekat akan didirikan  kelompok kerja "Ibadat sabda" untuk antisipasi ketidakhadiran pastor. Akhir tahun beliau berumur 65 tetapi tidak ada alasan untuk berhenti.<br />
(berita dari Eindhovens Dagblad)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
