<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>prosaku &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/prosaku/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "prosaku"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 21:59:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[jangan menangis karna aku dong]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:00:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/07/13/jangan-menangis-karna-aku-dong/</guid>
<description><![CDATA[aku adalah bagian dari keletihan jiwa kehidupan ini yang dengan sekuat tenagaku kucoba tetap bertaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>aku adalah bagian dari keletihan jiwa kehidupan ini yang dengan sekuat tenagaku kucoba tetap bertahan dengan keadaan ini, berbaring di lantai penderitaan yang kian hari kian menyesakkan kelopak pikiranku, mencoba tetap menarik nafas di ujung tenggorokanku,...."aku tetap masih ada meski insan di sekelelilingku terus menerus mengejekku, menghinaku, meludahiku, dan aku masih ada meskipun dari sebagian itu ada yang meniduriku, meninabobokanku, menggendongkku, mengharapanku. dan aku tentu saja ada meski bumi ini telah berganti baju.</p>
<p>aku adalah aku yang bertopeng ketidakjelasan akan siapa aku ini?  dan aku jawab itu tidaklah penting banget tuk ku pikirkan, karena bagiku sendiri; aku hanyalah sebentuk gumpalan dari nyawa yang ada di tubuhku sendiri,dan ku yakin aku adalah tetesan tetesan air benih dari semua insan yang menemukanku. aku  tetap tidaklah menangis karna asal usulku masih tidak jelas dan tidak akan pernah menemukan kejelasannnya ; anak siapa aku;pejabatkah ?, konglomeratkah ?, orang terpandangkah atau memang terlahir dari orang tak punya, atau barangkali anak pelacur ?.  kagak penting !</p>
<p>dan aku masihlah disini di puncak kota langit kebanyakan orang. entah tersenyum, tertawa, menangis atau barangkali menjadi gila karena lama kelamaan aku tidaklah sendirian disini. udara diujung senja hari kian tidak menentu, aku kadang kedinginan, kadang kepanasan, semuanya membuatku jadi memikirkan tentang benua belahan jiwa yang lainnya. Apakah mereka semua tetap bisa merasakan seperti yang kurasakan ? tanpa beban  dan tetap menerima keadaan yang terjadi ? Bullshit.......! itu tidak mungkin sama.</p>
<p>saat gejala langit menuai desiran anak hujannya berhari- hari, aku lihat semuanya panik,semuanya sibuk dengan situasi seperti itu, deraian airmata duka mulai mengalir di sepanjang hari. Aku ingin membantu, aku ingin menolong tuk keluar dari permasalahan itu; tetapi sekali lagi. aku hanyalah insan yang tidak pernah jelas keberadaannya. aku tidak memiliki tempat yang tepat tuk ku pijakkan, karna aku selalu ada dimana mana. tapi sungguh aku ingin membantu tetapi tidak bisa. Dan aku tiba tiba saja ingin teriak, ingin tertawa kala kebanyakkan penghuni belahan jiwa itu mulai sibuk dengan segala protokoler tentang aku, keberadaanku dan juga tentang bagaimana cara tuk menempatkan aku pada satu tempat saja. Sungguh aku ingin tertawa kala membaca tulisan mengenai pelaranganku. gini tulisannya "JANGAN MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN"</p>
<p>sekali lagi aku ingin tertawa meski cuma sebentar karena aku sendiri tidak begitu  tega melihat penderitaan yang dialami penghuni belahan jiwa itu. Kali ini aku menangis  karena mereka menuduh akulah salah satu penyebab musibah banjir itu. Oh.......aku ikut menangis tetapi janganlah kalian menangis karena aku. Please kesadaran tuk bersikap lebih bijak atas kehadiranku di bumi ini tentu lebih indah. Ya  kan?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kelopak Hatiku Merekah Redup]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=5</link>
<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 18:05:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/04/26/kelopak-hatiku-merekah-redup/</guid>
<description><![CDATA[anak remaja seusia 16 tahun itu bertanya padaku, gini katanya,
&#8220;apa beda cinta dan sayang, om?]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>anak remaja seusia 16 tahun itu bertanya padaku, gini katanya,</p>
<p>"<em>apa beda cinta dan sayang, om</em>?", ku tatap matanya yang polos itu,</p>
<p>lalu kataku,</p>
<p>"<em>jawabannya sekarang atau........</em>".</p>
<p>"<em>jika om tidak keberatan!, sekarang saja jawabannya, nggak perlu riwet, nggak bertele-tele, titik</em> !".</p>
<p>"<em>kenapa ?</em>"</p>
<p>"<em>bisa jawab atau....</em>"</p>
<p>"<em>baiklah...!</em>", tangkasku cepat sebelum segalanya meriwetkan pikiranku.</p>
<p>ku hela nafasku, sesekali ku mainkan pandangan mataku menyeberangi wajahnya, tubuhnya, dan sekelilingnya. sejujurnya aku belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan darinya, tapi, aku terlanjut memberi harapan padanya...</p>
<p>"<em>cinta adalah bagian dari keindahan kelopak bunga hati kita, yang merekah dan menyebarkan wangi berjuta-juta rasa !"</em></p>
<p>sedangkan sayang....</p>
<p>"<em>sebentuk rasa yang menyentuh jiwa yang suci, dan juga bisa mendatangkan badai dunia lain dimana jiwa memiliki nasib baik dan buruk yang disaring keluar sebelum persoalan itu tiba"</em></p>
<p>DIAM !.</p>
<p>"<em>apa kamu mengalami perasaan itu ?</em>", tanyaku sesaat.</p>
<p>dia menggeleng, "<em>tidak</em> !", jawabnya singkat.</p>
<p>"<em>lalu kenapa kamu bertanya hal itu pada om !"</em></p>
<p>"<em>justru aku mau bertanya padamu, apa om sedang mengalami jatuh cinta dan memiliki rasa sayang pada jiwa om ?"</em></p>
<p><em>"tidak !</em>", jawabku singkat</p>
<p><em>"sungguh ?"</em></p>
<p><em>"benar !"</em></p>
<p><em>"lalu kenapa yang om rasaka saat memilih aku untuk om peluk dan cumbui tubuhku ??. mengapa om meniduriku, berulang-ulang kali?, kenapa ?, apa om telah tidak memiliki cinta dan sayang padaku om ?"</em></p>
<p><em>aku terdiam, beribu-ribu diam, terdiam......</em></p>
<p>tuk memberi jawaban, tuk memberi penjelasa. smoga hening dan hitam menggelitik di pelupuk dua bola mataku, GELAP !.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Je Suis Venu Vous Dire Au Revoir..!]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=4</link>
<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 17:45:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/04/26/je-suis-venu-vous-dire-au-revoir/</guid>
<description><![CDATA[matahari dihariku makin redup sinarnya, ketika ku buka kedua bola mata hatiku, &#8220;kenapa?&#8221;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>matahari dihariku makin redup sinarnya, ketika ku buka kedua bola mata hatiku, "kenapa?", tanya batinku. aku diam ... cuma diam dan terus mendiam dari segi rasa apapun. air mata lukaku mengalir, "kamu sakit?", ulangnya dalam batinku.</p>
<p>aku kembali mendiami pertanyaan itu, "<em>le dou leur revient tous les jours</em>", jeritku berulang-ulang mengelilingi bintang diatas kepalaku. sumpah! rasa itu terlalu berat tuk ku timbang dibelahan jiwaku, aku ingin menjerit, tapi untuk apa? apa ada yang perdulikan masalah ini? <em>bullshitt......! bullshitt...</em></p>
<p>dan aku tetap terdiam. duduk termenung dilangit kegalauanku</p>
<p><em>ll va pleuvo..?</em></p>
<p>biarkan</p>
<p><em>le temps est a l'orage...</em></p>
<p>biarkanlah....</p>
<p><em>le ciel est couvert dan ll y a beaucoup du brovillard.....</em></p>
<p>biarkan...biarkan.....</p>
<p><em>mettons nous a i abri!</em></p>
<p>tak perlu... aku tak butuh perlindungan.. karna hatiku .. jiwaku.. semua telah tertinggal di jantung sang kekasihku yang malam tadi datang padaku dan mengucapkan selamat tinggal...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[di Persimpangan Jalan]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 06:18:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2008/03/11/di-persimpangan-jalan/</guid>
<description><![CDATA[Sebagai tanda  terima kasihku, aku tumpahkan segala yang kupunyai, semata-mata untuk engkau walaupu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai tanda  terima kasihku, aku tumpahkan segala yang kupunyai, semata-mata untuk engkau walaupun tidak seorang, namun itu adalah sebagian besar dari yang aku punya. Engkau masih seperti yang dulu, sedangkan aku sudah mulai naik dan uzur. Kau mau mengertikan aku.</p>
<p>Kau hanya diam beribu bahkan berjuta bahsa, kau merasa terluka dan tertinggalkan oleh aku, oleh kenyataan disekelingmu, dan juga oleh dirimu sendiri. Sekali lagi lalu aku katakan, aku masih disini, tidak kemana-mana bahkan aku tidak di mana-mana, aku hanya disini menunggui dengan setia. Mari beranjak bersama, berjalan bersama, bahu-membahu tanpa ada saling menyikut sama sekali, yang sama sekali. Bagaikan sepasang binatang yang diberi kebebasan untuk terbang dan hinggap dimanapun, mencari tempat yang cocok untuk bersarang kemudian bersama-sama membesarkan anak-anaknya, dengan walau rasa berat bahkan menderita aku masih tetap menunggu.<br />
<!--more--><br />
Perasaan muakmu tumpahkan semua padaku, aku sudah biasa menghadapinya, aku sudah teramat sering merasakannya, aku sudah teramat hingga tak berasa apa-apa terhadap diri  ini. Mungkin dalam hati, atau perasaan bahkan akalku telah mempunyai sebuah danau yang siap menenggelamkan beban-beban yang sering mengelayut.</p>
<p>Tahukan kamu rasanya ketika sebuah hantaman meteor telah melubanginya, bukan hanya sekali, namun berkali-kali bahkan tak terhitung olehku. Danau itu dalam tenang, dengan air biru yang berarak tertiup angin. Airnya kadang keruh, namun berangsur angsur jernih kembali.</p>
<p>Aku tak tahu seberapa dalamnya, aku tak tahu seberapa banyaknya orang-orang yang berdanau, atau aku hanya sebagian kecil saja bahkan sedemikian dangkalnya. Aku harap danau ini bisa menenggelapkan sakit hatimu.</p>
<p>Kuterima kau apa adanya, demikian terimalah aku apa adanya juga.</p>
<p>Seperti pemulung, mari kita pungut bekas-bekas yang mungkin masih ada nilai ekonomisnya. Atau mungkin sekedar kita membuat kesibukan yang dapat melupakan beban ini walau sesaat, semoga selamanya.</p>
<p>Kau hanya diam, demikian juga akupun diam, ruangan itu menjadi beku dengan kediamanku dan kamu. Musim hujan yang membawa banjir telah membekukan semua yang dilaluinya. Tak ada keinginan untuk beranjak walau hanya diam.</p>
<p>Kedatanganmu aku sambut sekali, namun di antara kita telah tumbuh banyak perbedaan yang sulit untuk disatukan lagi, aku tahu kau tak sejengkalpun melupakanku, namun aku selalu berusaha menghapus banyak bayangan yang menggoda tentangmu, aku tak mau itu lalu aku menjadi mati kutu, aku masih yang dulu, mungkin jadi perwujudanku sudah mulai uzur. Aku menyesalkanmu mengapa kau masih setia untuk bertemu kembali denganku, sedangkan aku terus berusaha menghapusmu dari semuanya, maafkan aku.</p>
<p>Kupecah kebekuan suasana kediamanku "ini Raisa istriku, aku sudah menikahinya, dua tahun yang lalu, namun selama ini aku belum diperkenankan untuk menimang anak". Kau berusaha tersenyum dan mengangguk pada Raisa. Istriku mengulurkan tangannya dan tersenyum penuh kesantunan, kau berjabat tangan. Kau menginap di mana?, dia  tampak termenung dan terkesiap ketika pertanyaanku bagai sebuah tamparan dimukamu. Mukamu memerah agak malu, karena berusaha larut sendirian, dalam lautan lamunanmu, kau tergeragap, "aku tinggal di Grand Hyatt", wuih  sebuah hotel yang mewah sekali, semua itu dari kantor yang bayari, bukan dari kantongku sendiri, mana mampu aku ini. Aku hanya tersenyum untuk sekedar mematahkan kerendahan diri  yang seakan menutupi kekayaannya. "aku tahu itu, kantormu akan rela membayar berapa saja untuk sekedar biaya akomodasimu, apalah artinya sedikit mahal untuk biaya akomodasi, untuk seorang profesional sepertimu". Ia buru-buru memotong percakapan yang mulai tidak mengenakkan buat dirinya, "sudahlah aku tak ingin memperpanjang lagi soal keadaanku sekarang'.</p>
<p>Maaf aku tak membalas banyak email yang kau kirimkan, namun semuanya kubaca. Aku merasa ada sesuatu kekuatan yang mencegah tangan-tangan ini untuk mengalirkan semua jawaban yang engkau tanya, namun satu yang aku temukan, kau pasti tiap hari membuka website-website berita yang sekarang banyak di Indonesia.</p>
<p>Aku tak mau hidup dalam jarak serta mimpi-mimpi belaka, maka aku putuskan untuk mempersunting Raisa. "maafkan aku. Itu bisik hatiku ketika kau berpamitan. Ada banyak rasa kulihat di wajahmu, namun ada juga senyum lega, setelah sekian lama terpendam. Memang hidup mesti dilalui dan tak harus terhanyut dalam persaan saja. (Warsito Suwadi)<!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERMANFAATLAH!!!]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/2007/12/13/bermanfaatlah/</link>
<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 09:26:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2007/12/13/bermanfaatlah/</guid>
<description><![CDATA[ oleh: Warsito Suwadi   (sitosuwadi@yahoo.com)
Sesuatu benda yang ada dalam kehidupan manusia, pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> oleh: Warsito Suwadi   (<a href="mailto:sitosuwadi@yahoo.com">sitosuwadi@yahoo.com</a>)</p>
<p>Sesuatu benda yang ada dalam kehidupan manusia, pasti memiliki kemanfaatan  yang akan dan telah dirasakan oleh pemiliknya. Demikian benda tersebut akan dibuang apabila nilai kemanfaatannya sudah hilang bagi pemiliknya. Benda tersebut kemudian  turun statusnya dari benda yang bermanfaat menjadi sampah.</p>
<p>Kemanfaatan selalu memiliki sebuah nilai  yang berarti dalam segala bentuknya. Dimensi kemanfaatan memiliki bentuk yang sesuai dengan lingkungan di mana kemanfaatan itu dapat dipetik dan seberapa besar ia bisa dipetik. Ada kemanfaatan untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk tetangga bahkan untuk masyarakat luas. Dalam bentuk apapun kemanfaatan itu berwujud, ia akan tetap menjadi sebuah komoditi yang dicari-cari.</p>
<p>Suatu kemanfaatan tidaklah selalu dalam bentuk  penampilan yang sempurna, namun lebih pada fungsionalnya.  Kursi yang sudah reot ternyata masih mempunyai kemanfaatan yang tinggi bagi orang yang hanya memiliki satu kursi reot tersebut. Tetapi sebuah kursi yang kondisinya lebih baik dari kursi yang reot tadi, karena telah dibuang di tempat sampah oleh pemiliknya, maka nilai kemanfaatannya telah hilang. Demikian sebuah kemanfaatan tidak selalu dengan bentuk yang sempurna, namun kemanfaatan akan bernilai lebih apabila ia berada pada tempat dan waktu yang tepat.</p>
<p>Kemanfaatan begitu melimpah diberikan oleh lingkungan alam kita, sungguh kemurahan ini adalah satu bukti betapa Maha Pengasihnya Allah terhadap  makhluknya. Mulai dari barang tambang, lautan yang menghampar dengan segala isinya,  bermacam ragam tanaman baik yang telah dibudidayakan atau yang masih berupa plasma nutfah, berjenis-jenis hewan ternak maupun hewan peliharaan. Semuanya mengalirkan kemanfaatan semata-mata bagi manusia.</p>
<h1>Menggali manfaat yang lebih besar</h1>
<p>Kebutuhan bagi  kehidupan manusia yang terus melaju, dibutuhkan satu rekayasa manusia dengan ditopang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi untuk terus mencari keunggulan-keunggulan dari tanaman maupun hewan. Rekayasa-rekayasa yang dilakukan tersebut dikenal dengan usaha pemuliaan tanaman maupun hewan. Pemuliaan dalam ruang-ruang laboratorium dengan segala metodenya memunculkan varietas-varietas dan spesies-spesies  yang memiliki dan memberikan kemanfaatan yang besar bagi manusia.</p>
<p>Tanaman dan hewan unggul akan terus menjadi pilihan bagi petani dan peternak karena menguntungkan dan banyak diminati oleh konsumen. Petani dan peternak akan mendapatkan keuntungan maksimal. Keuntungan yang dinikmati adalah persembahan kemanfaatan yang maksimal dari tanaman dan hewan unggul tersebut.</p>
<p>Demikian halnya pada manusia yang selalu mengeluarkan produk-produk kemanfaatan. Kemanfaatan yang dihasilkan cepat atau lambat akan menjadi komoditi yang dicari-cari. Produk-produk bermanfaat tersebut akan terus mengalami peningkatan-peningkatan dengan sarana uji coba dalam laboratorium kehidupan ini. Hingga pada satu saat tertentu ia akan mencapai pada tataran unggul dengan produk-produk kemanfaatan yang maksimal. Kemuliaan yang direngkuh adalah kemuliaan di mata manusia maupun  dihadapan Allah SWT.</p>
<p>Demikian bahwa orang-orang yang bermanfaat adalah orang-orang yang selalu mengalami pemuliaan-pemulian, melalui serangkaian ujian-ujian dalam laboratorium kehidupan. sehingga ia akan mencapai kedudukan unggul.</p>
<p>Proses pemuliaan  pasti bukanlah sebuah proses yang sederhana dan dalam waktu sebentar. Bahkan mungkin sebuah usaha yang keras dan kesabaran yang tinggi agar kita bisa melalui ujian demi ujian. Kesabaran yang tinggi akan  mampu memberi kekuatan untuk terus maju dan memberikan kesiapan menghadapi ujian, sehingga dari proses tersebut mampu mengeluarkan kemanfaatan yang maksimal dan unggul. Walaupun tak jarang kegagalan sering menimpa, namun dalam laboratorium kehidupan <em>try and error</em> adalah sebuah kelaziman atau bahkan sebuah keniscayaan.</p>
<p>Kemanfaatan yang besar tentu tak selalu datang dari sebuah percobaan-percobaan yang maha besar, namun aktifitas kemanfaatan yang remeh-remeh, yang kecil-kecil akan mampu memunculkan dan melahirkan kemanfataan yang besar, namun karena kemanfatan kecil adalah sebuah kesepelean maka seakan-akan ia dihindari karena kecilnya, namun kadang ketika kita mengejar kemanfatan yang mercusuar, kemanfaatan yang besar, kita tersandung bahkan terpuruk karena kapasitas keunggulan kita belum mencapai kualitas yang disyaratkan.</p>
<p>Coba kita mulai menghasilkan produk-produk kemanfaatan walaupun kecil dan remeh bentuknya, bahkan kemanfaatan tersebut tak terlihat oleh orang lain, namun dengan kesabaran  serta daya tahan yang tinggi sudah menjadi keniscayaan, kemanfaatan kita akan mengalami peningkatan-peningkatan pada derajat yang unggul, yang tak hanya dapat dinikmati oleh lingkungan diri sendiri, namun kemanfatan itu mengalir dan direguk oleh masyarakat luas. Kemanfaatan yang kecil yang terus mengalir dalam keteraturan adalah lebih dicintai oleh Allah, daripada sebuah proyek yang besar namun hanya sebuah insidential semata-mata tanpa ada keterlanjutan. Karena kemanfaatan yang terus mengalir akan berjalan pada laboratorium-laboratorium kehidupan yang terus merekayasanya menjadi kemanfaatan yang unggul.</p>
<p>Maukah kita menjadi telaga-telaga kemanfaatan, walaupun kecil bentuknya untuk terus tumbuh  menjadi  unggul dan menjadi manusia terbaik, karena kemanfaatan kita yang terus mengalir. (ws)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kalender Baru, di tahun Baru]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/2007/12/12/kalender-baru-di-tahun-baru/</link>
<pubDate>Wed, 12 Dec 2007 01:53:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2007/12/12/kalender-baru-di-tahun-baru/</guid>
<description><![CDATA[  oleh : Warsito Suwadi
Sitosuwadi@yahoo.com

Edisi baru lembaran hari selalu berganti  setiap jam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>  oleh : Warsito Suwadi</p>
<p>Sitosuwadi@yahoo.com</p>
<h1></h1>
<p>Edisi baru lembaran hari selalu berganti  setiap jam duabelas malam. Lalu bergulirlah fajar menuju sebuah pagi yang merekah  dengan kemerahan matahari yang menggeliat di ufuk timur. "Matahari yang menggeliat?" agaknya sangat emosional sekali. Tidak sesungguhnya tidak demikian karena matahari tidak tidur atau istirahat sejenakpun  untuk memancarkan sinarnya, hingga tak perlu menggeliat, demikian juga bumi tidak berhenti sejenak untuk berotasi dan berputar pada sumbunya, lalu apa yang akan terjadi bila matahari atau bumi berhenti sejenak untuk tidur kemudian menggeliat, tentu tak akan mampu kita bayangkan akibatnya.</p>
<p>Hari-hari manusia seperti diterjemahkan dalam lembaran-lembaran kalender, hingga pada akhir bulan kita balik lembaran baru, demikian setiap bulan kita melakukan itu. Sampai pada penghujung tahun kemudian kalender tersebut kita buang.Kadang gambar-gambar kalender tersebut apabila masih terkesan kita gunting, yang pasti selanjutnya kalender kita buang ke tempat sampah. Kemudian kalender tersebut  adalah masa lalu yang tak perlu dikenang bahkan untuk disimpan. Musnah dengan datangnya kalender baru untuk menjadi pengingat tanggal-tanggal di tahun ini. Bergantinya tahun  dalam diri kita kadang serasa seperti bergantinya kalender yang selalu kita buang tiap tahunnya.</p>
<p>Coba kita luangkan barang sebentar untuk melihat kalender usang kita yang mungkin akan kita buang, pernahkan kita memberdayakannya sedemikian rupa atau hanya sebagai pengingat tanggal saja buat kita.</p>
<p>Yang terjadi dan terasa adalah jarang sekali pada akhir tahun kita melihat, tanggal mana saja yang telah kita tandai dengan spidol merah misalnya sebagai tanggal yang kita nanti-nantikan. Jarang sekali kita mengevaluasi satu tahun yang telah kita jalani, jarang sekali. Seakan-akan waktu dalam setahun berlalu begitu saja, wajar dan datar, kemudian kita beranjak pada tahun yang baru yang wajar datar dan hambar.</p>
<p>Setelah berlembar-lembar kalender terbuang terasa waktu menghantarkan kita bahwa kita telah uzur. Disaat kita sudah begitu uzurnya baru kita sadar, ternyata semuanya hanya sebuah permukaan datar hambar dan biasa-biasa. semua tahun-tahun telah berhimpun terbuang begitu saja, senasib kalender-kalender usang saat tahun baru menjelang.</p>
<p>Hilang, musnah, bahkan anak cucu kita tak pernah mengenal siapa kita, Karena tak pernah berbekas, datar, hambar, biasa-biasa saja. Hilang ditelan riuhnya jaman.</p>
<p>(Semoga itu bukan kita, Amin)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mensyukuri Turunnya Hujan]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/2007/12/10/mensyukuri-turunnya-hujan/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 10:07:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2007/12/10/mensyukuri-turunnya-hujan/</guid>
<description><![CDATA[artikel ini pernah dimuat di PKPU Online lumayan lama.
Warsito Suwadi
Selasa, 26 Maret 2002
Mensyuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>artikel ini pernah dimuat di PKPU Online lumayan lama.</p>
<p>Warsito Suwadi</p>
<p>Selasa, 26 Maret 2002<br />
<strong>Mensyukuri Turunnya Hujan</strong></p>
<p><strong>PKPU Online</strong> Hujan, melimpahkan berkah dari sang pencipta pada mahluk-mahluknya yang melata di muka bumi ini, bukan hanya untukmu manusia. Tumbuhan semakin hijau menyegarkan, benih-benih menggeliat tumbuh untuk memulai babak baru dalam hidupnya. Mungkin bila hujan itu diciptakan hanya untuk manusia maka sampai detik ini, ia tak akan turun lagi, karena kemaksiatan yang telah diperbuat. Sudah selayaknya kita harus berterima kasih dengan tumbuhan, hewan, yang karena ketulusan merekalah salah satu yang menyebabkan hujan turun membasahi bumi.</p>
<p>Hujan yang mulia kadang diumpati oleh orang-orang yang yang belum mampu mensyukuri nikmat dari Allah yang Maha bagi semua mahluknya, mereka hanya terfikir oleh tujuan-tujuan sesaat mereka saja. Mungkin perasaan yang dongkol sering terlontar atau hanya ada dalam hati.</p>
<p>Hujan menyiram bumi dengan derasnya kadang membawa bencana, karena manusia yang serakah memakan hutan yang begitu baiknya memberikan segalanya bagi manusia. Manusia-manusia yang tak tahu berterima kasih malah melahapnya bulat-bulat untuk kepentingannya sendiri. Sunggguh benar adanya, bahwa kerusakan di langit dan di bumi bukan siapa-siapa yang menciptakan, namun diri manusia sendirilah penyebabnya.</p>
<p>Hujan di pagi hari, banyak digerutui orang-orang yang akan berangkat kerja dengan alasan perjalanan menuju ke kantor jadi macet total, lalu sudah pasti terlambat, harus berhujan-hujan ria, hingga kedinginan.</p>
<p>Jangkrik dan kodok bersujud syukur, dengan lantunan doanya yang sangat harmonik, ia mengekpresikan kegembiraan dan syukur yang mendalam, Allah telah memberkahi bangsa katak dan hewan-hewan lainnya. Lalu berudu itupun jadi katak-katak kecil yang berjuang hidup sampai akhirnya ia harus berbiak lagi demi kelanggengan pengabdian.</p>
<p>Di padang Kalahari yang panas dan luas hujan adalah awal kemeriahan kehidupan bagi penghuni padang, singa-singa jadi gemuk lagi, semua penghunipun bergairah untuk melakukan regenerasi bagi keturuanannya, ini adalah masa yang baik untuk membesarkan anak, masa penuh makanan, masa penuh perburuan, masa penuh istirahat diantara kewaspadaan.</p>
<p>Hujan begitu ditunggu-tunggu oleh petani-petani kita. hujan pertama dengan sedikit angin kencang melegakan mereka, karena besok dapat membajak sawahnya, yang telah ditunggui sepetak kecil bibit padi yang disemai. Hujan adalah keberkahan bagi petani.</p>
<p>Hujan-hujan menghijaukan hutan-hutan tropis di negeri kita. Hijaunya hutan tropis kita menyumbang begitu banyak oksigen dunia. Hujan menyegarkan dunia ini dengan kehijauannya, dengan fotosintesis dan oksigen yang dihasilkan.</p>
<p>Hujan sama sekali bukan malapetaka buat mahluk-mahluk yang terus mensyukuri kenikmatan. Masihkan kita mengerutu dengan hujan yang turun pagi ini? Wallahu 'alam bishowab. [<em>warsito.suwadi/warsito@attglobal.net</em>]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sendu di kanvasku]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/2007/11/30/sendu-di-kanvasku/</link>
<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 03:52:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2007/11/30/sendu-di-kanvasku/</guid>
<description><![CDATA[Kutumpahkan semua kepenatanku pada selembar kanvas putih, dengan warna-warna yang berani merah, hita]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kutumpahkan semua kepenatanku pada selembar kanvas putih, dengan warna-warna yang berani merah, hitam, putih, kuning menyala. Kunyalakan lagi jiwaku yang mulai reda. Merah dan putih tidak aku campur, memerah menyala-nyala, membakar dan menghidupkan obyek lukisku. Namun semburat warna putih kutimpakan pada pinggir warna merah agar kontur warnanya tidak terlalu tajam.</p>
<p>Kusemburatkan lagi warna kuning yang <em>ngejreng</em> memeriahkan obyek yang sebenarnya adalah sendu, lalu mau kubawa kemana obyekku?, ahh tidak urusan, kusiram lagi kanvas putihku dengan luapan emosiku yang makin memanas walaupun obyek lukisanku sendu. Kuraih lagi warna putihku kulabur dan kukawinkan dengan kuningku, agak lunak namun sendu obyekku belum juga muncul, yang muncul gelegar semangat warna merahku. Tanpa sadar telah kupadamkan warna merah itu dengan kekejaman tube hitamku, merahku mengejang, sekarat dan kelabu, tetapi belum mati, namun antara mati dan hidup. Uhh.. senduku mulai nampak, berlahan-lahan merambah, menyeruak puas ke sekujur kanvasku, walaupun masih warna putih kanvas yang belum aku intervensi.</p>
<p>Sendu obyekku muncul, namun perlahan-lahan obyek senduku agak kabur, kadang jelas kadang menghilang, senduku kehilangan semangat, senduku kehilangan  merah, namun bukannya aku masih memiliki warna kuning yang dengan mesranya berkawin dengan putih. Dan masih banyak warna-warna lain yang ada dikoleksi warnaku yang belum berpartisipasi. Aku mohon obyek senduku jangan engkau tinggalkan aku dalam keterasingan kanvas putih ini, sungguh aku mohon jangan kau kabur, ehh jangan kau pergi tinggalkan aku bisa mati kesepian, aku bisa mati dalam kesenduan, aku mohooon....</p>
<p>Kuraih lagi warna merahku, kutumpahkan dengan penuh harap agar obyek senduku mau kembali, mau mencumbui kembali imajinasiku. Dengan penuh harap, dengan penuh mengiba aku oleskan, aku laburkan aku poleskan kembali sesuai alur yang tadi kulalui dengan penuh kehati-hatian, namun apa lacurnya ia semakin tenggelam dalam kekelaman hitam itu dalam kematian yang tak mati. Aduh aku semakin tersiksa, aku semakin sekarat aku putus asa. Tidak aku belum putus aku harus bangkit!!!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pagar]]></title>
<link>http://salwanaz.wordpress.com/2007/11/19/pagar/</link>
<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 08:31:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>salwanaz</dc:creator>
<guid>http://salwanaz.id.wordpress.com/2007/11/19/pagar/</guid>
<description><![CDATA[
Pagar dan kekuatan, keamanan, privasi, sembunyi, sendiri mengkooptasi dengan dunia luar, walau itu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h1></h1>
<p>Pagar dan kekuatan, keamanan, privasi, sembunyi, sendiri mengkooptasi dengan dunia luar, walau itu tidak mungkin. Kekuatan pagar menjadi simbol "memberi rasa aman", namun belum tentu. Alangkah sombongnya sebuah pagar dengan pos pejagaan, dengan dijaga empat, lima orang berseragam satpam, tentara dan polisi, segerombolan anjing-anjing buldog dan  herder. Pagar  bergerbang tunjukkan kewibawaan, tunjukkan kesombongan, tunjukan ketidaktersentuhan, ini adalah wilayah terlarang bagi orang yang tak terijinkan, lagak-lagak penguasa keraton yang merasa seperti raja yang menguasai sebuah wilayah. </p>
<p>Pagar mengekspresikan macam-macam rasa. Namun aku, engkau bahkan semua yang berumah pagar menginginkan keamanan, menunjukkan ketidakpercayaannya pada dunia luar, pada sistem keamanan, pada ketidakpastian tatanan masyarakat yang mampu melindungi warga.</p>
<p>Pagar yang kekar dengan kawat berduri menjadi penegas bahwa ini milikku, tidak boleh orang mengaku-aku, ini adalah batas-batas kewilayahanku, kau tak berhak menginjak, masuk, bermain-main bahkan membuang sampah disini tanpa ada ijin yang kumandatkan padamu.</p>
<p>Rumah berarsitektur megah, menghabiskan jutaan, bahkan milyaran, akhirnya tak masuk dalam jajaran kesombongan sepenuhnya, namun hanya kesombongan dengan ketakutan, kesombongan dengan berpagar rapat, kesombongan dengan kerapuhan, kesombongan yang tak beridentititas, kesombongan yang lepas dari masyarakatnya.</p>
<p>Pagar yang rapi dan seragam adalah titah dari tatanan masyarakat yang didaulat bahwa keseragaman itu indah, ekspresi keberbedaan  hanya mengotori sebuah harmoni keseragaman yang dipaksakan belaka, keragaman hanya pengkhianat yang harus dipandang dengan curiga.</p>
<p>Pagar yang rapi dan seragam di desa-desa adalah kesederhanaan warganya yang ingin tampil secara kolektif dalam tatanan masyarakatnya, tatanan instruksi dari PakRT-nya, atau instruksi langsung dari desa, bahkan warnapun harus seragam terserah penguasa. merah , kuning, putih bahkan hijau, asalkan seragam nanti akan menimbulkan keindahan, kebersamaan, senasib sepenanggungan, sejiwa, kerukunan, dan kegotong royongan. Lalu sebuah keluguan dan kepatuhan dari jiwa-jiwa yang tulus dan lugu.</p>
<p>Pagar sebagai penguatan hak milik, pembuktian dengan pengakuan akan kekuasaan dan kekayaan. Alangkah bertanya-tanyanya orang bila melihat tanah luas berpagar, "di Jakarta lagi, Siapa yang memiliki tanah ini?", orang menaksir  harganya , lalu di kepala mereka tertulis angka-angka yang jumlah yang tak pernah ternyanakan oleh ia sebagai orang yang biasa, orang-orang yang awam.</p>
<p>Rumah tak berpagar. Namun gila juga orang-orang yang rumahnya tanpa dipasangi dengan pagar, ini akan mengundang maling untuk masuk, perampok akan leluasa menggasak semua milik kita, bahkan jiwa kita satu-satunya.</p>
<p>Pagar-pagar berjeruji, pagar berbeling adalah jamak di rumah-rumah besar, rumah-rumah berpunya. Beling-beling, jeruji-jeruji adalah bahasa kiasan atau lebih pada sarkasme yang terkatakan: dilarang masuk lewat pagar, jangan coba-coba menaiki pagar kalau tidak ingin terluka dan nyangkut dipagar.</p>
<p>Pagar lancip diujung-ujungnya mungkin senada pula dengan pagar berbeling dan pagar berjeruji, jangan masuk, jangan lihat-lihat, atau matamu akan tertusuk lancipnya pagar rumahku.</p>
<p>Pagar berperdu terasa asri, hijau bahkan menyegarkan pandangan, namun jangan tinggi-tinggi kalau tak ingin terkurung dalam dalam kesejukan kesendirian.</p>
<p>Rumah-rumah tak berpagar, lebih karena apa, saya tidak tahu, apakah karena kemiskinan yang tak mampu untuk membeli pagar, memasang pagar. Rumah-rumah tanpa pagar lebih berdesak-desakan, banyak orang-orang yang menghampiri demi sumbangan, menawarkan sesuatu pada kita, mungkin telah menjadi teror tiap harinya terhadap orang rumahan.</p>
<p>Rumah belum ada, tanahpun belum punya, apalagi pagar rumahnya. Pagar-pagar itu masih menancap dalam dada-dada  ini, mungkin akan kunyatakan bila aku punya uang nanti, atau cukup sebuah pagar dari pohon perdu yang nanti kupangkas tiap minggunya, atau hanya pagar ilalang, yang tak terurus.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saat Cinta Menggugat Perasaannya...!]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=7</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 03:55:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/07/13/saat-cinta-menggugat-perasaannya/</guid>
<description><![CDATA[Kebijakan dua hati yang berbeda arah kian jamak terjadi didalam penggugatkan cinta. Tapi aku  tak m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kebijakan dua hati yang berbeda arah kian jamak terjadi didalam penggugatkan cinta. Tapi aku  tak menduga jika ternyata akulah salah satu pemegang saham gugatan tersebut.</p>
<p>Menteri kesetiaan yang ada di kabinet parlemen tubuhku kian menjual sebagian saham-saham dukanya pada mitra strategis pilihannya. Aku tak ingin !, tetapi skim penawaran publik pikiranku kian mendesak buat tuk menerimanya. Aku ragu, bingung !.</p>
<p>Sungguh. Ada bagian yang enggan diungkapkan perusahaan-perusahaan salah pemikiranku tentan BCA (bunga cintai aku) yang telah ku rancang dalam undang-undang jiwaku. Namun demikian, banyak prospek kesetiaan yang kumiliki meski mitra cintaku pergi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ku mohon jangan pergi dari kehidupanku saat ini,Pah!]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=15</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 11:48:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/07/12/ku-mohon-jangan-pergi-dari-kehidupanku-saat-inipah/</guid>
<description><![CDATA[jangan pergi dariku, Pah                                                                            ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>jangan pergi dariku, Pah                                                                                                                                                                                                                                                                                  aku belum siap untuk melepaskan kepergianmu saat ini</p>
<p>aku terlalu lemah tuk dengar kabar itu, Pah</p>
<p>aku teramat sedih bila tak ku dengar celetukkan papah saat ku tanya perihal segala persoalan yang aku alami</p>
<p>aku cukup sedih pah...sangat perih tuk trima kenyataan yang ada saat ini saat seseorang kerabat kerja papah menelepon ke rumah dan mengabarkan kalau papah telah pergi ketika hendak pergi ke sebuah mall yang ada di seberang kantor papah untuk membeli peralatan bayi hadiah buat anak lelaki satu satunya. Dia bilang kalau dia ingin memberikan yang terbaik pada kehadiran cucu pertamanya. makanya saat jam istirahat dia langsung meluncur ke tempat itu.</p>
<p>Pah kenapa, pah! kenapa papah lakukan itu sendirian. Kenapa tidak lain hari saja papah berniat tuk membeli hadiah itu? bukankah papah sudah tahu jika kelahiran cucu papah tinggal seminggu hari lagi. Papah sudah tahu kan,Pah?</p>
<p>Pah...................................................</p>
<p>airmata ini masih menetes di pipiku, Pah! jangan marah ya, pah karena saat ini aku masih menangis bahkan masih tetap meneteskan airmata ini terus menerus padahal aku sudah tahu kalau papah paling tidak senang jika aku atau keluarga kita yang lainnya menangis sampai terlihat oleh papah,'lapangkan dada kita dan tarik napas dan keluarkan perlahan lahan saat kita terkena masalah dan jangan lupa berdoa padaNya' itu yang papa bilang pada kita.</p>
<p>tetapi pah,</p>
<p>ternyata aku masih saja menangis bahkan bukan aku saja yang menangis, mamah, de Nina dan de Aida pun masih menangis pah! jangan marah pada kami ya?</p>
<p>kalau saja aku masih bisa memohon padaNya agar tidak mengizinkan papah pergi dari kami tentu aku akan melakukannya pah! Sungguh! akan kuusahkan agar papah tidak meninggalkan kami saat ini. agar papah bisa melihat kehadiran cucu papah, agar papah bisa menina bobokan dan memberikan pengetahuan yang terbaik buat generasi keluarga kita,pah. Sungguh!</p>
<p>Tetapi pah.............................................................................................</p>
<p>"Kamu sudah siap jadi imam kan Mas Pram? tanya pak de Sastro, adik dari papah yang datang kemarin dari bandung, dan aku cuma bisa mengangguk lemah dan kembali meneteskan airmata tuk menguatkan perasaan jiwaku dan hatiku sebelum jenazah papah di sholatkan di masjid dekat rumah kami.</p>
<p>Dan aku masih menangis pah. Tidak siap untuk menerima kenyataan ini tuk beberapa detik sebelum akhirnya aku harus mengikhlaskan kepergiaan papah dari kehidupan kami.</p>
<p>( hadiah kecil teramat kecil tuk ayahku atas segala kemuliaan, kebahagiaan, ketulusan kasih sayang dan keramahtamahan dan segala apapun yang telah ayah berikan tuk kehidupan aku.Trima kasih pah. saat ini aku sudah ikhlas meski airmata ini tetap meneteskan airmata di pipi ini. Maafkan aku ya, Ayah? }</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Apa Dengan Stagfasi Politik Kasih !]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=8</link>
<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 02:27:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/06/12/ada-apa-dengan-stagfasi-politik-kasih/</guid>
<description><![CDATA[Berjuta-juta hari yang berlalu di tahun ini, dipenuhi jeritan-jeritan kecil dalam kalbuku, kata kunc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">Berjuta-juta hari yang berlalu di tahun ini, dipenuhi jeritan-jeritan kecil dalam kalbuku, kata kunci penyebab duka itu sendiri inflasi keraguan. Inflasi ini telah memakan korban perasaanku, melahirkan kerikil-kerikil kecil dalam percintaan. Suasana semakin suram atas kenaikan harga keraguan tersebut. Dan aku tidak tahu bagaiman cara mengatasinya.</p>
<p style="text-align:right;">Stagflasi ingkar janji merupakan varian dari konjungtor emosi kita yang setiap rentang waktu tertentu menghantui hubungan percintaanku itu. Stagflasi yang menjurus resesi ekonomi permaafan kian diiringi terdongkraknya harga pemutusan !. Ujungnya, kepercayaan publik jiwaki terhadap pemerintahan janjiku mengalami deteriorasi.</p>
<p style="text-align:right;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[percuma jika kamu minta aku tuk jadi kekasihmu sekarang ini]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 12:31:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/05/19/percuma-jika-kamu-minta-aku-tuk-jadi-kekasihmu-sekarang-ini/</guid>
<description><![CDATA[K E N A P A ?
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.
KNAPA
&#8230;&#8230;&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>K E N A P A ?</p>
<p>.........................</p>
<p>KNAPA</p>
<p>....................       ....................</p>
<p>WHY</p>
<p>..................         ..............         .................</p>
<p>jika kamu begitu terus saat aku tanya ada persoalan apa sehingga kamu bersikap demikian. Jangan menyalahkan aku yah seumpama aku juga bersikap sama seperti yang kamu lakukan terhadapku!</p>
<p>Lak ?</p>
<p>why</p>
<p>.......................</p>
<p>Aku mau bicara</p>
<p>bicara dong</p>
<p>aku serius nih</p>
<p>silakan</p>
<p>aku</p>
<p>hmmmm</p>
<p>Aku mau kamu jadi pacarku</p>
<p>.................................................</p>
<p>knapa?</p>
<p>Aku tidak tahu harus bicara apa lagi pada kamu. karena semuanya sangat sulit, teramat sulit bagi aku untuk memilih salah satu alasan yang terbaik atas pilihanmu yang baik itu. Semuanya membuatku jadi satu dilema  bagi pikiranku sekarang sekarang ini. Apalagi dikala aku akan melaksanakan salah satu niat terbaik dalam perjalanan kehidupanku tiga bulan yang akan datang. Sungguh, apabila ada kesempatan yang bisa mengundurkan masa ke masa yang telah terlewati pasti aku akan melakukannya. Tetapi kayaknya tidak bisa dan tidak akan pernah terjadi. Maaf bukan maksudku untuk menepiskan keinginanmu itu. Tapi bukan juga aku...akh! Sungguh segalanya harus segera ku tuntaskan permasalahannya. Karena aku tidak mau kamu sakit hati, kamu kecewa, kamu terluka atau apalah jika aku tidak berterus terang padamu jika aku benar benar tidak bisa menerima keinginan baikmu itu saat ini. Karena segalanya telah terjadi. Karena aku sudah terlanjur menetapkan pilihan hidupku bersama pilihan hati dan cintaku itu. Aku minta maaf! Aku......................</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kalau saja aku telah memberikan hadiah itu padanya, dua hari yang lalu, pasti.....]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Sat, 17 May 2008 18:09:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/05/18/kalau-saja-aku-telah-memberikan-hadiah-itu-padanya-dua-hari-yang-lalu-pasti/</guid>
<description><![CDATA[sengatan sinar mentari di jam  setengah satu siang, benar benar terasa panasnya aku saja terlihat be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>sengatan sinar mentari di jam  setengah satu siang, benar benar terasa panasnya aku saja terlihat bermandikan air keringat yang terus menerus jatuh menderas di sekujur wajah, leher, punggung, kaki. Namun itu semua tidaklah masalah bila aku tidak ada keinginan untuk mengunjungi rumah sahabatku, Setyawan, teman semasa aku sekolah dulu, kalau saja tidak ada rasa bosan yang hinggap atas keseringan antara aku dan dia saat menggapai sebuah cita cita sedari SMP, SLTA dan hingga kuliahpun kami di tempat yang sama, cuma jurusannya saja kami berbeda, dia lebih tertarik dengan ilmu rancang merancang sebuah bangunan sedang saya hukum, namun biar demikian aku tetap saja selalu menghabiskan waktu yang ada berdua saja.</strong></p>
<p>"Kamu tidak bosan jika aku selalu datang menemui kamu di kelas, bahkan ke rumahmu, Angga ? tanyanya suatu hari saat dia datang kerumah hanya untuk sekedar main dan menikmati minum teh di rumahku; katanya lagi: teh di rumahmu terasa ada yang beda dibandingkan teh dirumahhya sendiri' gitu alasannya tanpa pernah kutanyakan  kesukaannya minum teh dirumahku. aku cuma bisa tertawa jika ia berkata demikian.</p>
<p>Padahal kalau dipikir pikir.......CREEEEEEIT!!! sebuah mobil dari arah belakang melaju dengan sangat cepatnya, bahkan hampir mengenai lengan kananku jika aku tidak segera mengeleskan tubuhku kesamping, tetapi tentu saja aku tidak bisa menghindar dari cipratan genangan air yang ada di sekitar jalan, yang kurasa sisa air hujan yang turun tadi subuh. celana dan sedikit mengenai bajuku yang terkena cipratannya. Aku hendak marah tapi percuma mobil itu telah jauh meluncur dari arah pandanganku. Aku cuma bisa mengumpat sedikit dan setelah itu meneruskan perjalananku menuju ke rumah sahabatku dan aku tidak bisa berkata apapun ketika beberapa orang ada yang tersenyum dan berguman melihat nasib celana dan bajuku. Emang gue pikirin!</p>
<p>rumah tempat tinggal keluarga Setyawan memang tidaklah begitu jauh dari rumahku, berada di sekitar rumah penduduk asli dekat perumahan pertamina, Bekasi Pondog Gede. Sesekali aku menyapa dan disapa ketika berpapasan dengan anak anak sekomplekku, aku telah melewati gedung olah seni dan juga salah satu sekolah SMS lima dan ku rasa rumahnya tidak begitu jauh cuma tinggal jalan lurus keluar dari perumahan komplek pertamina dan belok sekali ke arah kanan saja aku sudah akan sampai dirumahnya. ia tinggal bersama ibunya dan kedua adiknya yang semuanya perempuan, yang satu masih kelas dua SMP dan yang satu lagi kelas tiga SMA, ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu karena jadi korban tabrak lari ketika pulang dari kerja.</p>
<p>Aku dan keluarganya sudah sangat akrab bahkan yang bungsu sudah ku anggap adikku sendiri. mereka semuanya sudah tidak pernah sungkan lagi saat kuajak kerumah bahkan untuk sekedar menemani adikku yang perempuan seumuran Lastri bahkan  mamah juga sering minta tolong pada ibunya tuk menemani jalan jalan atau belanja belanja.</p>
<p>hampir tiba di gang rumahnya, kulihat ada janur kuning yang baru di pasang dengan tulisan nama pengantin bahkan ada dua janur dengan nama pengantin yang berbeda. Tadinya kupikir temanku yang akan kawin, tapi saat kubaca  tidak ada namanya aku jadi lega. Hampir saja ku akan mendambratnya jika tahu dia menikah tidak terlebih dahulu memberitahu pada aku atau keluargaku. Sedikit lagi aku akan.... UH! tiba tiba sekujur tubuhku semakin terasa panas bahkan air keringatnya sudah membasahi bajuku, tiba tiba saja tubuhku bergetar sangat kuat. Tubuhku bergetar berulang ulang. aku merasa....</p>
<p>'Kamu kenapa, Ngga? tubuhmu gemetaran begitu? kamu sakit?lihat badanmu sudah basah bermandikan keringat pula. Kamu maksakan diri sih, padahal aku tahu kamu tuh tidak begitu kuat jika terkena sinar matahari. Lagipula kamu ada apa kemari? tanyanya sedikit galau ku dengar dari nada suaranya.</p>
<p>aku cuma ingin memberi ini buatmu, kataku sembari membuka tas yang melingkar di pinggangku lalu kuberikan bungkusan itu padanya, ku katakan kalau itu hanya sekedar buku yang mungkin saja berguna untuk bahan penulisanmu nantinya. Kulihat wajah sahabatku lebih pucat dari wajahku kurasa, ia mengangguk dan mengucap banyak terima kasih. Lalu sahabatku meneruskan langkahnya saat ku tanya hendak pergi kemana, ia cuma terdiam. Lalu tubuhku terasa sangat gemetar dan aku cuma bisa teramangu saat bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mataku. Aku meneruskan langkahku dan alangkah terkejutnya aku saat aku tiba di rumahnya. semuanya terlihat pucat. Semuanya terlihat muram. Semuanya memandang ke arahku. Semuanya hitam. Dan saat aku menginjakkan kakiku di teras rumahnya kudengar ada bisikan lembut menyapaku tetapi aku jadi kian tidak mengerti, semuanya membuatku semakin tidak mengerti. Semuanya gelap. Semuanya......</p>
<p>Den Angga bangun! apa den Angga tidak mau melihat jasad nak Setyawan untuk terakhir kalinya? suara ibunya menyentakkan kesadarananku. kulihat ada basah yang lebih basah yang mengitari kelopak bola matanya. Semuanya terlihat pucat. Semuanya hitam. Semuanya Gelap. Dan semuanya.......</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[percaya tidak kalau bibirku yang memerah delima ini hanya untuk kamu seorang?]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=12</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 16:24:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/05/14/percaya-tidak-kalau-bibirku-yang-memerah-delima-ini-hanya-untuk-kamu-seorang/</guid>
<description><![CDATA[Kenalkan namaku Desti, usia hampir dua puluh empat tahun, aku anak ke satu dari dua saudara, aku ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kenalkan namaku Desti, usia hampir dua puluh empat tahun, aku anak ke satu dari dua saudara, aku terlahir dipingiran Jakarta, tepatnya di dekat selokan Kalimalang, Timur Jakarta. Aku berada dalam lingkaran yang menurut aku sendiri tidaklah terlalu menyakitkan semuanya harmonis, bahka sampai seharmonisnya aku masih tetap mengikuti arah langkah makku sendiri. hanya adikku saja yang kadang masih enggan mau tahu arah aku dan mamak. "Sudahlah itu urusan mba dan mamak saja yang merasakannya, bunga tetap tidak ingin manyadari arah kehidupan mba," ujarnya setiap kali aku cerita sebab ia tak mau tahu arah perjalanan kami.</p>
<p>Aku selalu tertawa dan ingin tertawa sepuas puasnya bila menyadari ketidakinginan asikku itu, sungguh bahkan saat ini pun aku terus tertawa. ada banyak tawa yang berarti bagiku saat ini, tawa yang entah bernada apa aku sama sekali tidak perduli, mungkin tawa mengejek, tawa suka ria, tawa-awa apapun. semuanya sama saja. sama seperti tawa yang kudapati di sepenghujung malam malamku. Bukankah aku selalu sering mendengar dan menyaksikan tawa tawa dari orang disekitarku!</p>
<p>aku meghembuskan gumpalan asap rokok dari mulut, tetapi kadang dari hidungku. sementara suasana disekitar aula lantai dansa terlihat sudah banyak pengunjung yang datang melantai, meski ada juga yang merajut rayuan pada pasangannya masing masing, ada yang  berpeluk mesra, bercumburia .sesekali aku menggoda lelaki yang datang menghampiri pasangannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sungguh. aku tidak pernah bermaksud untuk mengakhiri perjalanan hidupku ini di hariini....]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=11</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 12:18:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/05/14/sungguh-aku-tidak-pernah-bermaksud-untuk-mengakhiri-perjalanan-hidupku-ini-di-hariini/</guid>
<description><![CDATA[butiran airmata di pipi anak seusia dua belas tahunan itu terus saja mengalir deras,meski malam tela]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>butiran airmata di pipi anak seusia dua belas tahunan itu terus saja mengalir deras,meski malam telah merambat gelap, dan ia telah berdiri bersandar di dinding tembok rumah tua tak berpenghuni itu, hampir setengah hari. Dan waktu menunjukkan tepat jam tujuh malam.  Bayu namanya, lengkapnya Bayu Langit Prakoso, anak ke dua dari enam sanak saudaranya, M bapaknya cuma pedagang asongan yang suka menjajakan dagangannya di depan sekolah SD yang berada di perempatan lampu merah, dekat sebuah mall di sekitar timur Jakarta, sedang ibunya cuma kuli cuci keliling, sedang abangnya masih tergeletak di balai tempat tidur, meringkik menahan sakit yang kurang jelas apa nama penyakitnya, karena bagi orangtuanya, anaknya cuma sakit biasa, katanya; bila ada orang yang bertanya tentang anak ke satunya, dan itu berlangsung hingga tahun ke sembilan. Miris kedengarannya, tetapi demikianlah adanya tanpa dikurangi dan di lebih-lebihkan, segalanya berjalan dengan tanpa satu permintaan welas asih pada semua penghuni bumi di sekitarnya.</p>
<p>Dan bayu masih disana, bersandar memandang alam disekitarnya yang sudah berubah gelap, tatapan matanya kosong tanpa celah kesejukkan yang melekat di dua bola matanya, yang jika pagi hari terlihat bercahaya, memantulkan rasa kedamaian. Itu semua cuma cerita masa lalu, tetapi saat ini, jangankan kedamaian yang melekat, sinar kehidupannya saja sudah memudar, karena yang melekat hanyalah sebuah sinar luka yang menari nari dengan ganasnya di pelupuk bola matanya. Ia menangis sekali lagi.  Bukan karena ia tiada teman yang menemaninya saat itu, tetapi karena ia mulai merasa tidak sanggup lagi tuk menghujat penderitaan ini pada jiwanya sendiri, ia merasa tidak sanggup lagi menggengam mutiara duka itu di dermaga hatinya.</p>
<p>"Kenapa Tuhan! Kenapa!!" jeritnya kemudian, dengan lembut sembari memandang langit yang juga telah tertutup selendang kepekattan malam. Lihat aku Tuhan..Lihat! harus gimana lagi aku untuk menunda duka ini agar tidak datang dalam hari-hariku yang mulai melelahan ini, Tuhan ? Kurang apa lagi aku untuk meminta selembar saja kain kebahagiaan itu untuk aku dan keluargaku, cuma selembar saja, Tuhanku yang Maha Biajaksana. Aku terlalu lemah memang dalam memandang kebaikkan yang Kau inginkan di setiap kali aku memanjatkan doa pengharapan dariMu. Tapi apakah aku masih kurang pantas tuk berselingkuh dengan kebijaksanaanMu yang sering ku lakukan, * apa masih kurang pantas, Tuhanku, lihatlah, mata rantai yang selalu membelenggukan ajaran yang ku anut ini, Tuhanku, semuanya telah kulakukan, segalanya telah kupasrahkan pada mata rantai pemilikanMu, hingga aku takut jika sampai melepaskan salah satu mata rantai itu tersebut, aku benar benar takut Tuhan, karena kata ibuku' seapapun parahnya penderitaan yang sedang kita jalani jangan sampai kita melupakan perintahNya, dan itu terus terngiang-ngiang di bunga ingatanku.</p>
<p>Aku salah apa Tuhan? apa karena kemarin, delapan ratus waktu yang lalu, aku keseringan memuntahkan kristal-kristal putih, dijemari tangan nafsuku sendiri? menidurkan tubuhku diatas benang mimpi-mimpi yang indah? atau karena aku pernah menelanjangi janjiku tuk tidak bersetubuh dengan nyanyian dosa? hingga lupa tuk tetap mencium perintahMu? apa hanya karena itu hingga aku masih menghirup bau keperihan di sepanjang hari hariku.</p>
<p>Diriku teramat letih tuk menjuntai benang derita itu saat ini Tuhan. Semusim derita tetap berada di rumah kehidupanku, dengan menatap derita yang memancar di mata orangtua kami. yang entah sudah merajut beban apa lagi tuk di tanggungnya, segalanya terasa berat, beban keluarga, sanak saudara yang enggan bersentuhan degan kehidupannya, berita kenaikan harga kontrak rumah,minyak tanah, listrik, bahan makan dan entah apa lagi yang akan ia dengar beritanya. Aku tak sanggup lagi untuk tidak mengakhiri perjalanan derita ini sampai malam ini, sampai..........   ........    ........ (segalanya berhenti saat Bayu mulai....)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dia Tetap Tak Bisa Menerimaku Apa Adanya...]]></title>
<link>http://bluethunderheart.wordpress.com/?p=10</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 12:49:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>bluethunderheart</dc:creator>
<guid>http://bluethunderheart.id.wordpress.com/2008/05/13/aku-takpernah-minta-pada-tuhan-agar-dia-tetapbisa-menerima-diriku-apa-adanya/</guid>
<description><![CDATA[Tuhan
TUHAN
TUHAN&#8230;.. aku sekali lagi ingin mengatakan bahwa aku mash saja terlena akan buaian ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhan</p>
<p>TUHAN</p>
<p>TUHAN..... aku sekali lagi ingin mengatakan bahwa aku mash saja terlena akan buaian kasih darinya. Mesti semenit kemarin malam, ia telah menyakiti aku dengan segala hujatannya akan ketulusan cinta yang ku miliki padanya, tetapi slalu saja begini jadinya; tetap mengharap kasihnya dan menerima buaian kepalsuan cintanya padaku. Aku bodoh ya, Tuhan ? mau saja menikmati rasa itu meski jiwaku tertekan. Tetapi apakah aku juga salah jika ku tetap menyimpan perasaan itu dihatiku sendiri?</p>
<p>Aku terlalu hanyut akan nyanyian cinta yang ia dendangkan lewat tingkah laku, sikap dan juga perhatiannya padaku, Tuhan. Kemarin saja kami berdua berenang didasar kepercayaan untuk satu rasa saling berbagi, dan anehnya aku terhanyut kembali Tuhan karena aku percaya akan apa yang ia ucapkan itu adalah salah satu kebenaran; dan aku tidak berpikir apapun  lainnya lagi.</p>
<p>Ia katakan kan selalu berada didekat hatiku bila lembaran duka telah menyisir lekat jantungku, kan meniduri kesepianku dengan senandung lagu indah di telinga malamku, dan tetap mencium wangi kasih meski jarak tlah menjauh darinya, ia akan terus menggenggam tangan harapku dan meletakkannya di bahu janjinya. Aku terhanyut, Tuhan. Sungguh aku benar benar dibutakan mata kelelahanku ini dari pancaran sinar keberadaanya di dalam hidupku.</p>
<p>Dia membaptis keinginanku di benang kepercayaan bila aku membutuhkan pertolongannya dan anehnya aku percaya saja akan ucapannya itu; sampai sampai aku sekali lagi tertidur dipangkuan rayuannya. Tetapi kemarin malam tadi, segalanya telah berubah. Berakhir di bendungan duka yang mengalirkan tetesan-tetesan air lukanya di pipiku yang menahan perih. Tangisan luka ini terus saja berkepanjangan saat ia mengubah perilakuannya padaku; dia mulai menyuntik kebencian di tubuh cintaku dan menusuk tajam di bunga kepasrahanku. Ia berubah, Tuhan yang maha cintaku, ia menggariskan goresan panjang di perjalanan sukaku ini yang kemarin bersinar putih.</p>
<p>Ia meletakkan kata-kata yang kasar di pangkuan asaku. Knapa, Tuhanku. Knapa ?  (Bersambung.... karena mataku sudah ngantuk banget)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
