<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>profesinalisme-guru &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/profesinalisme-guru/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "profesinalisme-guru"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 22:24:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ini-Kah PROFESIKU?]]></title>
<link>http://sucihida.wordpress.com/?p=79</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:03:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>sucihida</dc:creator>
<guid>http://sucihida.id.wordpress.com/2008/03/27/ini-kah-profesiku/</guid>
<description><![CDATA[Suatu profesi senantiasa memberikan makna tersendiri bagi pelakunya. Tidak sedikit para pemegang pro]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu profesi senantiasa memberikan makna tersendiri bagi pelakunya. Tidak sedikit para pemegang profesi itu tidak/kurang konsekuwen dengan profesi yang telah dipilihnya. Misalnya seorang guru yang telah memilih profesi sebagai guru, namun tidak sanggup menjalankan dan mengerjakan tugas dengan baik sesuai dengan profesi keguruannya. Guru, digugu lan ditiru. Semua sudah tahu dan bisa mengucapkan slogan itu. Tetapi untuk seorang guru yang bisa digugu dan ditiru itulah yang sulit dan tidak semudah membalik telapak tangan.<!--more--></p>
<p>Kecintaan terhadap profesi hendaknya mulai ditanamkan dalam diri kita. Profesi tidak hanya sebagai sarana untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup kita. Tetapi yang lebih utama adalah mencintai dan menjalani profesi itu sebagai suatu ibadah. Mungkin banyak orang yang berfikir ini terlalu ideal, tetapi jika kita renungkan dengan bijak kecintaan pada profesi inilah yang mampu menjadikan kita dilihat sebagai seorang yang profesional dan kompeten dibidang kita.</p>
<p>Guru dituntut untuk mampu memberikan fasilitas dan pengkondisian siswa yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Pemberdayaan siswa secara manusiawi, untuk mau dan mampu berbuat, mengubah pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi terhadap lingkungannya termsuk dengan berbagai individu atau kelompok, akan membentuk kepribadian siswa. Dari sini siswa akan mampu memahami kemajemukan dan dapat menimbulkan sikap-sikap positif serta toleran terhadap keragaman dan perbedaan hidup.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
