<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pilot-andal &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/pilot-andal/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pilot-andal"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 18:29:04 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Perempuan Pengendali Lorena Air : I Can Fly, Man  ]]></title>
<link>http://ayomerdeka.wordpress.com/?p=142</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 07:00:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Robert Manurung</dc:creator>
<guid>http://ayomerdeka.id.wordpress.com/2008/05/14/perempuan-pengendali-lorena-air-i-can-fly-man/</guid>
<description><![CDATA[ &#8220;Transportasi itu yang dijual safety, aman dan selamat,&#8221; kata Lorena. &#8220;I Can Fly ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><span style="font-family:Arial;"> </span><span style="font-family:Arial;">"Transportasi itu yang dijual <em>safety</em>, aman dan selamat," kata Lorena. "<em>I Can Fly Man</em>...!" "Saya sudah sebulan enggak terbang. Harus ada penyegaran dulu," kata Lorena sebelum <em>take off</em> menerbangkan Cessna dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.</span></p></blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><strong>Oleh : FRANS SARTONO dan ARBAIN RAMBEY (Kompas)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">LANGIT Jakarta cerah dan bersahabat pada Kamis pagi, 15 Maret lalu. Pesawat Cessna melintas langit dari Halim Perdana Kusuma menuju Pondok Cabe. Sang pilot seorang ibu, mengenakan blue jeans dan berjaket kulit. Dia adalah Eka Sari Lorena, presiden direktur perusahaan penerbangan Lorena Air yang pada Mei mendatang (mundur menjadi 6 Juni 2008 ) akan resmi beroperasi.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Lorena itu arah atau jalan yang baik," kata Eka Sari Lorena Soerbakti (37) menjelaskan arti nama yang diambil dari bahasa Batak Karo itu. Entah mengapa orangtua Lorena, pasangan Gusti Terkelin Soerbakti dan Kariany Kumpul Sembiring, memberi nama anak pertama dari tiga anaknya itu dengan nama yang <span> </span>artinya arah atau jalan yang baik.</span><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Yang pasti, Soerbakti kemudian berprofesi di bidang yang berkait dengan arah dan jalan, yaitu transportasi. Nama Lorena di jagat angkutan darat negeri ini mengingatkan orang pada bus antarkota. Usaha angkutan penumpang yang dirintis Soerbakti sejak tahun 1973 itu berkembang. Tahun ini Lorena merambah ke moda transportasi udara lewat PT Eka Sari Lorena Airlines. Dan, Lorena adalah komandannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Arial;">* * *</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">LORENA tumbuh dari kultur kerja keras dan ulet usaha pengangkutan penumpang rintisan ayahnya. Perempuan kelahiran Jakarta, 3 Juni 1969, itu tumbuh di tengah deru bus. Ia tahu benar tetek bengek seputar bus, mulai dari piston, AC Thermo King paling mutakhir, ban Michelin, sampai mesin bubut. Ia masih hafal harga-harga ban dari Rp 900.000 per unit lalu melonjak drastis menjadi Rp 3 juta lebih setelah krisis ekonomi pada paruh kedua era 1990-an. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Suara klakson bus yang dahsyat menggema lewat kompresor itu terasa akrab di telinganya <span> </span>"Sampai hari ini saya masih suka denger bunyi klakson bus pom! pom...! Rasanya <em>I’m home</em> karena sejak kecil aku denger itu," kata Lorena. "Karena sejak kecil kami diekspos tentang bis, masalah transportasi itu sudah seperti <em>a cup of tea,</em> minuman kami sehari-hari," kenang Lorena, ibu dua anak itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Aku suka tanya ini itu kepada para manajer di Lorena. Untung para manajer dan sopir itu mau jawab. Waktu itu mereka panggil aku Non," kenang Lorena tentang masa kecilnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Kalau makan malam di rumah, kita <em>sharing</em>, berbagi cerita tentang transportasi lagi. Waktu itu kami masih SD dan Papi bercerita kemajuan kereta api di Jerman atau di mana. Papi meminta pendapat kami. Jadi, kami juga<br />
tertantang berpikir tentang transportasi."</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:Arial;">* * *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong><span style="font-family:Arial;">MENINGKAT dewasa, Lorena sering diajak ayahnya datang ke rapat-rapat seputar bisnis bis. Telinga Lorena mendengar para eksekutif perusahaan bus bicara tentang karoseri terbaru, soal pergantian rute, dan segala hal ihwal bisnis angkutan penumpang darat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Aku cuma duduk terkantuk-kantuk ndegerin oom-oom bicara." Lorena diam-diam seperti telah duduk di "universitas" pertransportasian. Tahun 1989, ketika masuk kuliah, ia justru tidak memilih bidang transportasi. Ia kuliah di Jurusan Administrasi Bisnis di Wright State University, Dayton,  Ohio, Amerika Serikat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Akan <em>bosen</em> kalau aku kuliah di transportasi. Aku pilih pengetahuan yang bisa mendukung apa yang telah kami ketahui," kata Lorena yang meraih gelar Sarjana Administrasi Bisnis pada tahun 1992. Sopir Papi Sambil</span><span style="font-family:Arial;"> melanjutkan program master di Salve Regina University, Rhode Island, AS, Lorena menyambi bekerja di bagian pemasaran di Hotel Westin International, San Francisco. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Orangtua Lorena memang mempunyai prinsip untuk tidak memperbolehkan anak-anaknya langsung bergabung dengan bisnis keluarga. "Kami perlu belajar merasakan jadi karyawan di tempat lain agar kami mempunyai empati dan pemahaman yang lebih baik tentang orang lain. " </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Tahun 1995, ia pulang ke Indonesia dan mulai masuk ke bisnis keluarga. Ia belum memegang jabatan. "Aku cuma cantu bawain tas Papi dan sopirin dia ke mana pergi he-he...." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Arial;"> * * *</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">DARI sekadar sebagai pembawa tas itu, ia belajar bahwa menjadi seorang <em>entrepreneur</em> itu harus mampu membangun jejaring kerja yang baik. Ia harus bias menjalin hubungan baik dengan orang dari berbagai bidang profesi, terutama yang berkait langsung dengan bisnisnya. "Kami kan tidak kerja sendirian," katanya.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Masa-masa sebagai "sopir" Papi itu juga merupakan masa adaptasi Lorena pada etos dan kultur kerja di sekitarnya yang menurut dia cukup membuatnya kaget. Di perusahaan keluarga, Lorena mulai bekerja sebagai tenaga pemasaran kemudian naik menjadi Manajer Operasi Lorena Transport &#38; Tour. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Tahun 1997, Lorena menjabat sebagai Direktur Eka Sari Lorena (ESL) Express, salah satu suku usaha grup Lorena yang bergerak di angkutan kargo. Ia juga menjabat direktur pada dua suku usaha Lorena yang lain untuk kemudian menduduki posisi sebagai <em>Senior Vice-President</em> Lorena Group pada 2000-2004. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Kini Lorena adalah <em>President Director</em> perusahaan penerbangan Lorena Air. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Dengan sekitar 300 armada bus yang menjangkau 52 rute, Lorena merasa mencapai tataran kematangan yang mapan di bisnis transportasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Kami ini orang strategi. Kami tidak suka <em>comfort zones</em>. Itu bikin otak kita tak berkembang.Kalau mau enak-enak, kami bisa saja <em>diem</em> di situ. Tapi Kami tertantang untuk melakukan sesuatu yang baru." </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;">* * * * *</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Akhirnya Lorena berani berpindah ke moda angkutan lain, yaitu pesawat terbang lewat Lorena Air. Ini jenis penerbangan premium dengan pelayanan penuh—bukan penerbangan biaya rendah. Dari semula mengurus bis Mercedez Benz, kini Lorena berurusan dengan Boeing 737-400. Bis atau pesawat prinsip Lorena sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Transportasi itu yang dijual <em>safety</em>, aman dan selamat," kata Lorena. "<em>I Can Fly Man</em>...!" "Saya sudah sebulan enggak terbang. Harus ada penyegaran dulu," kata Lorena sebelum <em>take off</em> menerbangkan Cessna dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">Langit Jakarta yang cerah menjadikan penerbangan 15 menit dari Halim ke Pondok Cabe menjadi menyenangkan. Di bawah tampak jelas kawasan Kalibata, bangunan runcing Universitas Indonesia, lalu melintasi udara di atas jalan tol Pondok Indah menuju lapangan terbang Pondok Cabe. Lorena belajar terbang ketika hendak mengurus perizinan Lorena Air. Ini merupakan bagian dari caranya memahami seluk beluk bisnis penerbangan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;">"Agar aku mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang dunia penerbangan," kata Lorena yang juga bisa membawa bis itu. "Selain itu, ini juga bisa buat cerita ke cucu kita nanti. ’Eh, dulu grandma itu ok juga lho.’ <em>I can fly man</em>!"</span></p>
<p class="MsoNormal">====================================================================</p>
<p class="MsoNormal">Dikutip dari harian <strong>Kompas</strong> terbitan  18  Maret 2007.</p>
<p class="MsoNormal">------------------------------------------------------------------------------------</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong>www.ayomerdeka.wordpress.com</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
