<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>penoreh-pelangi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/penoreh-pelangi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "penoreh-pelangi"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 20:56:34 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[trafficking]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=497</link>
<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 09:48:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/10/11/trafficking/</guid>
<description><![CDATA[Saat terbangun pagi tadi, saya kaget melihat perempuan mungil berdiri di depan pintu kamar. Ketika s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saat terbangun pagi tadi, saya kaget melihat perempuan mungil berdiri di depan pintu kamar. Ketika saya tanya, ternyata ia salah satu penghuni rumah utama tempat saya kost. Saya tinggal di sayap kanan, di lantai dua. Sementara rumah utama di tengah, hanya satu lantai. Dan sayap kiri terdiri dari tiga lantai yang sepertinya hanya digunakan sebagai tempat usaha sarang burung walet.</p>
<p>Baru kali ini saya melihat perempuan itu dan memang hanya sekali ini ada penghuni rumah bawah yang naik ke tempat saya tinggal. Melihat rasa ingin tahunya demikian besar sampai mengintip2 kamar saya dari jendela, saya mengajaknya masuk kamar untuk mengobrol. Wajahnya polos. Kulitnya coklat. Hidungnya agak kecil. Matanya terlihat awas, bergerak-gerak terus.</p>
<p>Dia cerita baru tinggal di rumah itu dua hari. Ia berasal dari Balangan, Kalimantan Selatan. Katanya ia masih ada hubungan keluarga dengan bapak kost. Usai lebaran kemarin ia dijemput ke rumahnya dan atas izin ibunya ia ke Balikpapan untuk bekerja di restoran.<br />
"Ternyata bohong. bukan di restoran tapi kerja di rumah. Saya ditipu. Capek, mau pulang saja," katanya dengan logat melayu.</p>
<p>Kutanya umur, ia bilang jalan 14 tahun.<br />
"Hmmm...trafficking," kata saya dalam hati.<br />
Meski ada hubungan keluarga, tapi si perempuan diajak, tanpa dokumen, dijanjikan pekerjaan, tertipu pula. Intinya semua proses dan alur trafficking sudah terjadi. Tapi tanpa semua proses dan alur itu pun, ini jelas trafficking, karena si perempuan masih di bawah umur. Ia masih kanak- kanak. Katanya ia kelas 1 SMP, tapi keluar sebulan lalu karena malu badannya paling gede di kelas. Ia juga sering dimarahi guru karena malas mengerjakan tugas di papan tulis.</p>
<p>"Habisnya banyak, saya malas, malu ke depan kelas, udah besar," katanya.<br />
"Tapi saya tak betah disini, bapaknya bohong. Katanya kerja restoran, ternyata jadi pembantu," katanya lagi.</p>
<p>Saya tanya apakah ia ingin pulang saja ke Banjar. Apalagi ia cerita sebenarnya bapaknya tak mengizinkan ia pergi dan menyuruhnya terus sekolah. Tapi ibunya memberinya izin. Ia pun ingin cari pengalaman kerja.<br />
"Kalau masih kerja di rumah, saya pulang saja. Itu, kak y**** mulutnya jahat!" matanya berkaca- kaca saat mengucapkan itu.</p>
<p>"Kamu diapain? Apa katanya?" tanyaku<br />
"Suka perintah-perintah. Sikit-sikit, marah. Salah sikit, ngomel. Kalau nyuruh, dia bilang: heh, ambil itu, babu!" matanya makin berair. Ia mendongak agar air matanya tak jatuh. Lalu membuang pandang menghindari tatapan saya ke arah jejeran buku-buku saya di rak dan di atas lemari.<br />
Ia bertanya, "Kamu kuliah? Itu tivi beli sendiri?" Saya hanya menggeleng. Tak bisa mengucapkan apa-apa.</p>
<p>Jeda agak lama, saya bertanya, "Kamu mau pulang ke Banjar?"<br />
"Kalau kerja di restoran, saya ndak pulang. Mau cari pengalaman. Kalau kerja di rumah, saya pulang saja. Mau kerja bungkus roti di Banjar. Tapi harus ada ijazah," jawabnya.</p>
<p>"Kalau mau ijazah, sekolah dulu. Sekarang saatnya sekolah, bukan cari pengalaman," kataku.<br />
Ia terlihat bimbang sejenak. Lalu, "Tuh, di bawah, kak N****, kak Y****, belum bangun. Kalau di kampung, tak baik anak perempuan bangun siang. Di sini, saya kerja semua. Bangun jam 5 subuh, habis sholat nyapu, ngepel, masak, goreng ikan, nyuci. Kalau mesin rusak, pakai tangan. Pakaiannya banyak. Capek".</p>
<p>"Kalau kerja di restoran pasti lebih capek daripada sekarang. Bangun sebelum subuh, tidurnya tengah malam. Ga ada waktu istrahat kayak sekarang. Mending sekolah," kataku mempengaruhinya sambil terus berpikir, bagaimana memulangkan anak ini ke kampungnya. Rasanya terlalu berat membiarkan anak sekecil itu mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah segede ini. Ia harus sekolah, bukan bekerja.</p>
<p>Tak lama terdengar langkah kaki menuju kamarku. Ia setengah meloncat ke pintu. Ada yang datang mencarinya. Saya khawatir ia tak boleh lagi naik ke kamarku untuk mengobrol. Jangan- jangan saya pun tak lama lagi harus pindah dari tempat kost ini. "Kata orang rumah bawah, disini tak ada orang. Ternyata bohong juga, ada orang disini," begitu katanya tadi.</p>
<p>Bersama pencarinya, ia berlalu. Dan... aaahhh, saya lupa menanyakan namanya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[setelah]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/09/12/setelah/</link>
<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 09:17:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/09/12/setelah/</guid>
<description><![CDATA[selalu ada kemudahan setelah kesulitan.
saya tau. tapi tak pernah benar2 meyakininya. atau lebih tep]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>selalu ada kemudahan setelah kesulitan.<br />
saya tau. tapi tak pernah benar2 meyakininya. atau lebih tepatnya, meski tau, saya tetap panik saat dilanda kesulitan dan tak pernah ingat bahwa setelah kesulitan itu berlalu, akan datang kemudahan-kemudahan.</p>
<p>begitulah. setelah bulan lalu saya tak henti dilanda begitu banyak kesulitan dan kesedihan berlarut-larut, banyak kemudahan menghampiri pada bulan ini. hal-hal yang cukup besar menurut saya, antara lain, yang awalnya diminta untuk menunda cuti lebaran akhirnya dikasih. dan tiket pesawat pun tidak sulit saya dapatkan saat orang lain justru kesulitan.</p>
<p>yang lainnya, setelah bulan lalu saya diminta membatalkan tiket keberangkatan karena dianggap terlalu sering bepergian, bulan ini sebaliknya. saat saya menyerahkan undangan keberangkatan plus tiket ke orang lain, justru saya yang diminta berangkat. saya sempat berpikir, ini semata- mata karena moodnya boss lagi baik atau...? hushh...mikirnya selalu negatif!</p>
<p>lalu yang lain, yang paling menggembirakan, setelah bulan lalu saya terancam dan merasa sama sekali tidak dianggap ada, bulan ini saya meraih kemenangan besar. ya, ini besar buat saya karena berhasil meraih posisi pertama, padahal saingannya media2 nasional yang udah terbiasa dengan tulisan panjang dan mendalam. se Indonesia pula. Alhamdulillah.</p>
<p>terima kasih <a href="http://matahari.ku">sayangku</a>, karena kamu selalu ada di saat2 tersulit saya!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[bangkit]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=449</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 04:18:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/08/24/bangkit/</guid>
<description><![CDATA[sepertinya udah tiba saatnya memperbaiki hidup, menata perasaan kembali, lalu menyusun rencana2 yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>sepertinya udah tiba saatnya memperbaiki hidup, menata perasaan kembali, lalu menyusun rencana2 yang lebih detail. ada masa depan terbentang yang harus diurusin ketimbang membuang2 energi menanggapi perlakuan orang reseh ke kita. namanya juga kafilah, harusnya saya tetep berlalu meski anjing sibuk menggonggong. capek kali kalo nanggepin mereka.<br />
buat sapiku, thanks untuk semua dukungan kamu selama ini [ada sih keselip kekesalan2 kecil, tapi anggap aja bumbu ya :p, karena kita sama ngeselinnya]. temani saya menoreh pelangi lagi yaaa. love u, sapi...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[gadis kecil di belantara]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=443</link>
<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 03:55:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/08/17/gadis-kecil-di-belantara/</guid>
<description><![CDATA[setelah lima tahun gw di Kaltim, baru kemarin gw menjejakkan kaki di Berau. banyak hal yang gw dapet]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>setelah lima tahun gw di Kaltim, baru kemarin gw menjejakkan kaki di Berau. banyak hal yang gw dapet. tapi ga bisa gw nikmati dalam keadaan pikiran kacau balau seperti kemarin. sayang sekali. gw melewatkan banyak hal, banyak keunikan, banyak ...banyak sekali. semuanya tersita oleh pikiran. dan tentu saja momen itu ga bisa diulang lagi.</p>
<p>tapi saya pengen berbagi. pertama, soal pesawat ke sana, udah ada yang gede. kayaknya sejak PON XVII kemaren deh. gw lupa. yang jelas, walopun pesawat yang pake baling2 masih ada, tapi yang gede juga ada, batavia air. bandaranya juga udah lumayan lah. dari landasan pacu ada dua bus jemputan menuju gedung bandara.</p>
<p>pokoknya udah ga separah ma yang diceritain Trinity dalam bukunya <a href="http://naked-traveler.blogspot.com">The Naked Traveler</a>. Yang sempet gw perhatiin pas masuk ruangan bandara, di pintu wc, ada dua tulisan dalam dua bahasa. satunya bahasa inggris, women, satunya lagi bahasa ga tau...hurup kanji, ga tau jepang atau mandarin :p. gw jadi mikir, apa sebanyak itu orang dari sana yang datang ke sini sampe harus pake bahasa dan hurup kanji? entahlah, mungkin emang banyak. karena Berau, sepertinya juga akan jadi daerah tambang yang sangat potensial selain wisata laut di Derawan, hutan2 alami, dan species satwa dilindungi misalnya orangutan, <a title="kalo jelasnya, kayaknya nanya mas mbilung deh" href="http://ndobos.com">bangau storm</a> (?), serta tumbuhan langka.</p>
<p>gw ga sempet mikir banyak soal tulisan di pintu toilet. gw cepet2 ke kantor pemerintahan, karena janji wawancara. hei...? dari bandara, gw harus naik apa neh ke kota? ternyata di depan udah berjejer angkot yang warga sebut taksi (sama dengan sebutan untuk angkot di Balikpapan). sewanya Rp 40.000, meski jaraknya lumayan deket. hitungannya carteran tapi pake karcis. akhirnya angkot melaju dengan satu-satunya penumpang yaitu gw. dan Alhamdulillah, seperti kata kebanyakan orang yang gw temui di sana, gw beruntung pada kesempatan pertama. orang nomer satu yang gw temuin sedang kena angin baik. biasanya, katanya, nih orang super moody juga. gw sampe bisa wawancara berlama-lama, itu kesempatan langka!</p>
<p>tapi keberuntungan ini ga datang ma temen2nya. pagi sebelumnya udah ada satu kejadian yang bikin mumet. ini juga perjalanan pertama gw ke Berau. lalu setelah bertemu pak super moody itu, menyusul banyak berita dan kondisi lain yang sangat tidak mengenakkan, yang bikin gw seperti terbuang jauh dari peradaban.</p>
<p>kondisi itu juga bikin gw seperti gadis kecil di tengah belantara yang berusaha sekuat tenaga melawan seluruh dunia yang justru sedang bekerjasama buat <a href="http://senandung.wordpress.com/2008/08/12/konsekuen">ngancurin</a> gw. sedih banget. airmata ngaliiir terus. idung rasanya meler mulu. entah apa jadinya kalo <a href="http://matahari-ku">kamu</a> ga bisa nemenin gw ngobrol, walopun cuma di telpon.<br />
tapi gw harus kuat. karena besok harus ke hutan. dan...karena kondisi busuk ini, gw terpaksa jalan sendirian. my god, belantara ini, harus gw hadapin sendiri? ah, sudahlah...HARUS KUAT!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[email]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=375</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 10:02:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/07/15/email-2/</guid>
<description><![CDATA[Menghapus tulisan tentang perasaan, itu seperti menghapus kenangan. Menghapus kenangan, kadang-kadan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Menghapus tulisan tentang perasaan, itu seperti menghapus kenangan. Menghapus kenangan, kadang-kadang sama sakitnya dengan mencabut gigi yang masih utuh. Tapi gigi itu ga saya buang ke atas. Saya simpan dengan rapi di bawah bantal. Berharap seperti dongeng, saat bangun nanti ada hadiah kejutan dari peri malam, pengganti gigi yang dipaksa tanggal.</p>
<p>Ketika membuka email tadi, salah satu email meminta saya mengirim ulang proposal yang saya usulkan kemarin. Kalimat pembukanya: "Yang terhormat, pemenang fellowship ...."</p>
<p>Seharusnya saya bergembira, meloncat-loncat, menari-nari, merayakan datangnya email itu. Tapi bekas gigi tanggalku meninggalkan denyut kesakitan. Ada kenangan perih yang menyertai datangnya kabar ini.</p>
<p>Saya belum tau apakah ini hadiah dari ibu peri atau bukan. Saya akan menanyakannya. Mungkin... ia baik juga untuk tempat melarikan diri.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[batik]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=370</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 06:48:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/07/11/batik/</guid>
<description><![CDATA[Skarang kalo jalan kemana-mana gw suka pusing sendiri. Bukan apa2, mata gw muter2 ga jelas, pusing n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Skarang kalo jalan kemana-mana gw suka pusing sendiri. Bukan apa2, mata gw muter2 ga jelas, pusing ngeliat motif batik dimana-mana. Keknya semua orang pake batik. Ya, semua orang, apapun profesinya. Dengan model yang hampir sama semuanya. Lengannya menggelembung! Ga ada model lain apa ya, buat batik?</p>
<p>Kalo dulu, gw sering liat orang pake batik pas kondangan aja, sekarang ada dimana-mana. Dulu orang pake batik pas lebaran, sekarang tiap hari. Dulu yang pake batik cuma agen tiket di bandara Juanda, Surabaya (paling banyak tuh) sekarang, di semua perkantoran ada, sampe presiden juga. Dulu yang pake batik cuma mbok-mbok jamu, sekarang ibu menteri tiap hari pake batik.</p>
<p>Ini yang parah, dulu yang pake batik di kampung gw cuma mayat, sekarang, meja, kursi, jendela, tempat tidur, bantal, semua ditutup batik. Gw inget, mama ma nenek gw suka beli batik yang masih utuh bentuk kain panjang gitu. Katanya buat persiapan kalo ada yang meninggal, sebelum dikafani, ya dipakein batik. Kenapa batik? karena cuma kain itu yang muat buat badan yang telah membujur kaku dari ujung kepala sampe ujung kaki.</p>
<p>Dulu, selain sarung sutra motif khas bugis tenunan sendiri, biasanya yang dipake kondangan sebagai pasangan kebaya, ya batik. Lha ternyata sekarang fungsinya berubah. Satu-satu batik2 yang terlipat rapi di tumpukan pakean paling bawah lemari mama, kini menjadi seprei, sarung bantal, tirai, dll. Kalo liat batik di rumah sih, ga seberapa pusing. Masih cocok lah. Tapi saat jalan-jalan ke kota, dimana setiap orang berseliweran dengan batik, haduh, pusing.</p>
<p>Beneran pusing, sampe gw harus brenti sejenak untuk mijet2 kening. Eh, tau2 gw kesenggol seorang mbak2 langsiiiing, pake rok item. Kagetnya lagi, atasan yang dia pake...persiiiis banget ma sarung batik merah gw dulu waktu kecil. Ya ampun....jadi geli sendiri. Pengen ngejar mbak2 itu; mbaaakk, balikin sarung gw....! Anget soalnya :p Kok jadi baju sih?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[lupa]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=339</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 15:57:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/05/07/lupa/</guid>
<description><![CDATA[Gw lupa, benar2 lupa pernah menuliskan comment seperti ini di sana
yati on 20 April, 2007
jarak itu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Gw lupa, benar2 lupa pernah menuliskan comment seperti ini <a href="http://nesia.wordpress.com/2007/04/18/no-importa-la-distancia/">di sana</a></p>
<p><em>yati on 20 April, 2007<br />
jarak itu hanya ada di peta bumi, di atlas. kalo hati, ya ga berjarak<br />
*garing dan ga nyambung ya?</em></p>
<p>Lalu <a href="http://nesia.wordpress.com">yang punya blog</a> mengingatkan semalam.<br />
hmm, terlihat pinter dan bijak [huekss...] sayangnya gw sama sekali lupa pernah menulis kata- kata itu. Sampe sekarang gw masih terpesona. Dari mana ya datangnya pikiran itu sampe gw bisa menulisnya? Ga mungkin dalam keadaan mabuk karena gw ga pernah minum minuman keras. Dugaan gw, pasti hasil nyontek! Sayang sekali.</p>
<p>Apa ini berarti gw, si Perempuan Api, telah kehilangan bara? Ingatkan gw, <a href="http://matahari-ku">my luv...</a></p>
<p><em>*diposting di tengah2 hiruk pikuk lagu Slamat Ultah buat kantor</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[hari bumi]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=330</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 13:00:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/04/22/hari-bumi/</guid>
<description><![CDATA[Masih soal plastik-plastik seperti yang gw posting kemarin. Jadi, ceritanya, ada sebuah organisasi p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Masih soal plastik-plastik seperti yang gw <a href="http://senandung.wordpress.com/2008/04/18/plastik/">posting kemarin</a>. Jadi, ceritanya, ada sebuah organisasi peduli lingkungan bikin kegiatan memperingati hari bumi di sini. Mereka akan membagi2kan tas daur ulang dengan pesan 'pakai tas ini saat berbelanja'. Maksudnya, agar konsumen tidak lagi menjejali bumi dengan plastik-plastik dari toko yang ga akan hancur dimakan tanah itu. Kegiatan organisasi ini disponsori beberapa perusahaan tambang migas [yang notabene juga salah satu penyumbang terbesar karbon pemanas bumi, hiks]</p>
<p>Dengan <a href="http://senandung.wordpress.com/2008/04/18/plastik/">pengalaman gw kemaren</a>, tentu saja gw setuju banget dengan kegiatan ini [padahal sih ga pengaruh apa2 ke mereka gw setuju atau ga :p] Tapi gw sungguh prihatin karena katanya panitia kegiatan itu cukup kesulitan masuk mall dan supermarket untuk membagi2kan tas daur ulangnya. Mereka terkendala izin pemilik mall. Yaelaaahhh... bikin kesel [lagi]! Mall2 yang suka ngasih banyak plastik itu seharusnya yang lebih banyak diajak ngobrol soal bagaimana menjaga bumi. Tapi siapa yang mereka dengerin? Ga mungkin gw, liat aja kemaren <a href="http://senandung.wordpress.com/2008/04/18/plastik/">perlakuan mereka</a>. Padahal kalo mau melayani konsumen, lha gw juga konsumen tapi kok ga diladeni ketika gw menolak plastiknya?</p>
<p>Lalu gimana caranya biar mereka mau mendengar? Kalo gw bilang sih, komporin itu walikotanya. Kemaren dia udah kampanye 'bersepeda ke kantor', sekarang ajak lagi 'ber-tas daur ulang'. Ini memang "hanya" tindakan kecil, tapi menurut gw, ini ajakan yang lebih nyata. Kalo bersepeda...hmm, harus pake duit banyak buat punya sepeda. Jalan kaki bahkan lebih murah :p. Ayolah, kayak gw dong, ke kantor jalan kaki. Hihihi...oke, ngaku deh, gw punya motor sejak 4 tahun lalu tapi gw ga bisa dan ga pernah berani make dan akhirnya cuma parkir di rumah sepupu gw. Tapi kan, dengan ketidakmampuan gw pake motor itu, gw ga ikut2 nyumbang karbon dan polusi? Yaks.... postingan maksaaaa!<br />
Selamat hari bumi!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[perempuan]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=329</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 09:54:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/04/21/perempuan/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang bisa saya ceritakan tentang hari-nya para perempuan Indonesia hari ini? Melupakan himpitan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang bisa saya ceritakan tentang hari-nya para perempuan Indonesia hari ini? Melupakan himpitan hidup mbak2 penjual jamu gendong dengan menghadirkan profil para perempuan manajer? Mengabaikan perjuangan kaum buruh perempuan dengan mengeksplorasi berita tentang parfum dan panggung para selebriti yang memperingati hari Kartini?</p>
<p>Ah, terlalu biasa. Saya ingin membagi cerita dari <a href="http://menotimika.wordpress.com/">kawan saya</a>, si anak Papua itu. Ketika seluruh perempuan dunia yang mengaku berpikir maju, lantang meneriakkan tentang pemberdayaan perempuan, sekelompok masyarakat di ujung timur negeri ini, sama sekali tak tersentuh. Mungkin daerah yang lebih dekat dengan pusat kekuasaan juga masih banyak yang mengalami ketertinggalan seperti warga Papua, tapi mungkin tak separah di sana, setidaknya menurut kawan saya itu.</p>
<p>Cerita kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, sudah menjadi ciri beberapa kelompok masyakarat adat di sana. Misalnya di masyarakat suku Amungme. Jika seorang suami tidak menyukai sikap istrinya, misalnya merasa dihalang2i untuk gaul atau seneng2, maka justru saudara2 si istri menjadi pembela si suami. Mereka akan mengatakan: "Ipar masih banyak ladang yang laen bukan satu itu saja. Kita kasih kamu satu lagi ini, trus tinggalin aja yang lama". Intinya, kalo istrinya ngelarang2, sodara2 istrinya ngasih perempuan satu lagi buat si suami. Dodol banget yak? Tapi kalo si suami yang mengusulkan perempuan lain untuk dijadiin istri keduanya, maka dia wajib membayar denda kepada keluarga istrinya.</p>
<p>Adat lain, ada lagi. Mas kawin boleh nyicil! Itu brarti, mereka boleh kumpul kebo dulu sampe punya banyak anak, baru nikah resmi. Asal ngasih DP dulu buat mas kawin. Alamak! Si temen gw ini punya temen kayak gitu. Udah punya dua anak baru mulai nyicil mas kawin.</p>
<p>Ada satu lagi, pengalaman temennya kawan gw. Sebut saja A. Si A udah beristri. Tapi suatu hari dia kenal perempuan lain, mereka menjadi deket, sampe akhirnya perempuan itu bunting. Maka dipanggillah si A menghadap bokap perempuan itu untuk dimintai uang denda karena anaknya bunting. Si A bilang, dia mo menikahi perempuan itu, tapi si bokap menolak kalo anaknya dijadiin istri kedua. Pokoknya dia mau si A bayar denda. Kalo nggak, si bapak akan menyerahkan daftar kunjungan si A ke anak perempuannya kepada istri si A. Mau ga mau, daripada bayar denda ke dua pihak, akhirnya si A membayar denda Rp 60 juta ke bokap cewek itu. OMG, masih mending kalo itu duit diserahkan ke perempuan hamil itu buat biaya anaknya nanti. Lha kalo diabisin sama bapaknya buat berjudi, minum2, dll, gimana? :( Dan setelah pembayaran denda, masalah dianggap selesai dan seolah2 tidak pernah terjadi apa2.</p>
<p>Nah, nikah adat ada lagi. Misalnya perempuan dan laki saling suka, mereka bikin perjanjian pernikahan secara adat. Jika dikemudian hari mereka ada masalah, misalnya suami ketahuan selingkuh, maka pilihannya ada dua. Bayar denda atau mati. Tapi ini berlaku untuk yang sesama suku. Tapi ada juga suku lain yang masih menyelesaikan permasalahan seperti itu dengan cara kekeluargaan, lalu bayar denda dan cerai. Tapi ujung2nya tetep sama, perempuan selalu dikorbankan, dan umumnya pelakunya adalah orang tua dan saudara mereka sendiri.<br />
Selamat hari Kartini [telat sehari :p]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[plastik]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=327</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 04:04:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/04/18/plastik/</guid>
<description><![CDATA[Gw selalu mencoba menunjukkan rasa sayang pada bumi dengan cara gw sendiri, dimulai dari hal-hal kec]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Gw selalu mencoba menunjukkan rasa sayang pada bumi dengan cara gw sendiri, dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya setiap belanja, gw selalu bawa tas kain [daur ulang], ngambil pakean abis laundry juga gitu, matiin semua lampu dan saklar [kecuali di kamar gw karena sesek kalo tidur dalam gelap], ga buang sampah sembarangan, dsb.</p>
<p>Nah, kemarin gw rada kesel lagi pas belanja [halah, kapan sih ga kesel?]. Gw beli tas kecil tempat hp dan pernik2nya biar ga ribet di dalam tas. Saat membayar, tas itu dimasukin plastik yang bisa memuat lima tas hp. Sebelumnya gw udah bilang, ga usah pake plastik, langsung dipake, eh...tetep dimasukin plastik. Jadi gw keluarin tasnya dan plastiknya gw balikin. Kasirnya bengong sesaat trus plastiknya diambil, dimasukin tempat sampah! Lho? Tas yang gw beli itu najis apa, plastiknya kan ga kotor?</p>
<p>Abis beli tas, gw beli buah. Setelah ditimbang dan dikasih harga, gw berpikir buahnya terlalu banyak dan pengalaman sebelumnya, sering banget buah yang gw beli busuk di kulkas karena lupa dimakan. Jadi gw ngembaliin sebagian. Oleh petugas tokonya, plastiknya diganti lagi, dan bekasnya dimasukin tempat sampah! Padahal gw udah ngomong, ga usah diganti, gw keluarin aja buahnya. Oalaaahh... kesel, harusnya yang diganti cuma label harganya kan?</p>
<p>Abis beli buah, gw belanja kebutuhan bulanan, sabun cuci dll. Di kasir, gw udah bilang ga usah pake plastik, eh mas2nya ga peduli. Jenis2 sabun dimasukin ke plastik lain, brarti ada dua plastik. Belanjaan di plastik pertama gw pindahin ke tas, plastiknya gw balikin. Belanjaan kedua berisi sabun cuci gw mintain plastik kecil aja dan cukup satu, eh dikasih plastik lain lagi. Dan plastik2 yang saya balikin, langsung dimasukin tempat sampah.</p>
<p>Gw bengong, lalu kesel karena ini perlakuan ketiga yang gw dapat dalam dua jam. Jadi gw ngomong: "Kok dibuang? Kok dimasukin tempat sampah? Kan ga kotor mas? Cuma kusut dikit ujungnya". Tapi mas-nya ga peduli. Ya udah...kalo kemaren ada 1.000 orang yang belanja di mall, brarti ada 1.000 bahkan lebih, plastik yang siap bertebaran di muka bumi! Kok pengusaha2 itu ga gelisah ya memikirkan suatu hari hidupnya akan ditutupi timbunan plastik dan sampah lain. Apa gw aja yang punya kekuatiran berlebihan?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[pelajaran]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=322</link>
<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 08:02:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/04/13/pelajaran/</guid>
<description><![CDATA[Pelajaran besar yang kudapat kemarin&#8230;

Kemarahan adalah dimensi masa lalu. Maka, kalau udah be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pelajaran besar yang kudapat kemarin...</p>
<ul>
<li>Kemarahan adalah dimensi masa lalu. Maka, kalau udah berlalu, kenapa harus marah? Kemarahan hanya akan menguras banyak energi dan tidak mengembalikan sesuatu seperti yang kita inginkan.</li>
</ul>
<p>Dan...</p>
<ul>
<li>Kekuatiran adalah sebuah dimensi di masa depan. Ia belum terjadi, lalu kenapa harus kuatir? Kekuatiran hanya akan mendatangkan keresahan dan kepanikan, juga menguras pikiran. Mengapa tak menyiapkan saja segala sesuatu dengan baik, lalu menunggu hasilnya?</li>
</ul>
<p>Intinya...<br />
Bersyukur, memasrahkan diri dan rendah hati. Ga mudah dilakukan, tapi harus coba dijalani.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[menggapai pelangi]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/03/14/menggapai-pelangi/</link>
<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 07:12:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/03/14/menggapai-pelangi/</guid>
<description><![CDATA[Ini bukan soal pengkhianatan padamu. Saya hanya sedang merindukan sesuatu yang lain. Mungkin bau ape]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan soal pengkhianatan padamu. Saya hanya sedang merindukan sesuatu yang lain. Mungkin bau apek sajadah yang selalu lembab dengan air yang masih menetes dari keningnya? Saya ingin mencium baunya sekali lagi. Bau yang mengingatkan saya pada airmata yang tumpah, dulu sekali, jauh sebelum mengenalmu. Saya juga merindukan bunyi sesuatu. Ingin mendengarnya sekali lagi. Bunyi ting dari earphone, tanda hadirnya peringatan itu.</p>
<p>Saya serakah. Tak hanya merindui bau apek, saya pun ingin kembali ke hari kemarin. Saat bau potongan rumput menghempaskan memori pada ratusan tanda dan nama yang timbul tenggelam mencari arti. Tapi nyatanya saya masih terpaku di tempat yang sama, seperti seperempat abad lalu. Sungguh serakah. Saya mengingatmu, ingin meneriakkannya. Tapi saya harus menahannya sekuat yang saya bisa.</p>
<p>Saya tak akan mengucapkannya. Karena mengejarmu dengan kata itu, seperti mengejar pelangi. Indah dipandang dari sudut yang tepat, tapi tak pernah bisa didekati. Sebaliknya saat berusaha abai, pelangi justru membelai pipi dengan sejuta kelembutan warnanya. Jadi biarkan saya menahannya, sekuatnya.</p>
<p>Tersadar di detik ini, saya tengah mengais keringatmu di sepanjang jalan yang kuingat kita lalui, tapi telah enyah oleh waktu dan menyisakan nafas panjangku sendiri. Terlalu lama dan jauh bentangan jarak itu. Saya hanya bisa merindukan saat bahu kita bersentuhan dalam jejeran langkah yang tak sengaja dibuat pelan agar kian lama kebersamaan kita. Saya rindu pada rasa saat jemari kita yang saling menggapai seolah tak sengaja lalu menimbulkan jengah pada raut wajah. Saya rindu saat kupeluk lenganmu, dan kubaui, dan kuhirup seutuhnya harum tubuhmu untuk kusimpan dalam dadaku. Saya rindu itu semua. Tapi kau seperti pelangi, indah dipandang dari titik yang tepat, tapi sulit digapai.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[29 Februari]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/02/29/29-februari/</link>
<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 11:56:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/02/29/29-februari/</guid>
<description><![CDATA[Selain karena hari ini hanya akan ada sekali dalam 4 tahun, apalagi yang istimewa? Selain karena say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selain karena hari ini hanya akan ada sekali dalam 4 tahun, apalagi yang istimewa? Selain karena saya masih bisa mendengar suaramu, melihat kedipan namamu di layar monitor, apalagi yang istimewa? Ah, ya... rasanya, catatan tentang keistimewaan itu, terjadi semalem. Saat kau dan aku saling berbagi cerita tentang mimpi2 kita. Tentang cerita yang tak nyata tapi mampu membuat kita tersipu, kelu dan tak tau harus mengurai kisah itu dari ujung mana di tengah belitan kerinduan kita yang menggila.</p>
<p>Itu penting. Dan istimewa. Tapi yang lebih penting yang ingin saya catatkan di taman cinta kita adalah rasa penasaran saya. Apa yang terjadi dengan mimpi2 kita itu, empat tahun kemudian, di hari yang sama? Masihkah...? Ah, saya ingin berhenti bertanya. Rasa penasaran saya hanya akan merusak suasana. Kenapa saya tak membiarkan mimpi itu tetap ditempatnya untuk kita pandangi dan resapi keindahannya?</p>
<p>Toh empat tahun bukan waktu yang lama sebenernya. Bukankah waktu terlama dan terjauh dari kita adalah sedetik yang lalu? Empat tahun ... kita pasti akan mencapainya, jika tempat terdekat dari kita sekarang tidak menjemput kita sedetik lagi, kematian.</p>
<p><i>i love <a href="http://matahari-ku">u</a></i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[belajar]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/02/18/belajar/</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 03:51:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/02/18/belajar/</guid>
<description><![CDATA[Saya punya temen, perempuan, menjalin hubungan dengan teman saya yang lain. Mereka beda agama. Awal2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya temen, perempuan, menjalin hubungan dengan teman saya yang lain. Mereka beda agama. Awal2nya, temen perempuan sering ngobrolin soal perbedaan mereka itu dengan saya. Pandangan yang saya beri selalu saya dasarkan pada pengalaman pribadi. Saya ga pernah bilang langkahnya salah atau benar. Saya juga tak pernah bilang mendukung atau menolak. Saya memberinya pandangan, dan keputusan tetap sama dia. Tapi dengan alasan terlanjur cinta dan terlanjur sayang, persoalan memang tidak menjadi ringan untuk diselesaikan.</p>
<p>Saya dulu punya hubungan jarak jauh dan berbeda keyakinan. Tapi saya belum terjebak pada kondisi seperti kawan saya. Sehingga, meski tidak mudah, akhirnya saya bisa memutuskan hubungan dengan alasan, masa itu adalah masa buang-buang waktu. Sebab saya dan lelaki itu sama-sama tau bahwa kami tidak akan pernah bisa melangkah jauh. Kami akan bertahan pada keyakinan masing-masing meski kami berdua bukanlah golongan orang2 yang sangat religius. Ketakutan untuk dihukum gantung di ruang keluarga mungkin penyebab utama :p jelas bukan alasan religius.</p>
<p>Dua malam lalu, saya dan teman perempuan saya itu baru sempat ngobrol panjang lebar lagi. Ternyata keputusannya untuk menikah dengan lelaki itu sudah mantap. Terlihat gurat letih di wajahnya mengurusi administrasi pernihakan. Yang cukup mengusik saya adalah, betapa banyak teman-temannya yang menjauh karena keputusannya itu. Dia belajar banyak, bahwa lamanya pertemanan bukan jaminan sebuah ketulusan menerima kelebihan dan kekurangan kawan kita. Saya pun juga belajar banyak, bahwa satu keputusan bisa berjuta dampak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[hari ini, 2 tahun lalu]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=283</link>
<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 09:39:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/02/15/hari-ini-2-tahun-lalu/</guid>
<description><![CDATA[baru saja saya mengubah status ym dari invisible menjadi available, tiba2 id ym itu nyala. tetap ada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>baru saja saya mengubah status ym dari invisible menjadi available, tiba2 id ym itu nyala. tetap ada rasa kaget yang tersisa. ya, karena pemilik id itu, <a href="http://bergerak.blogspot.com/2006/02/sms-dan-imel-yang-ga-kebaca.html">telah pergi</a>, dua tahun lalu. hmmm, kenapa saat saya berpikir untuk menulisnya, id itu nyala, tepat jam ini? lagi-lagi sama dengan dua tahun lalu. eh, <a href="http://senandung.wordpress.com/2007/02/15/ambang-kematian/">tahun lalu juga</a>. :( saya masih bengong ketika id itu menyapa.</p>
<p><i>id itu: hai apa kabar</i><br />
<b>gw: baik....ini siapa? ale? pa kabar?</b> *ale = temen almarhum, yang katanya harus jagain saya*<br />
<i>id itu: yup. baik</i><br />
<i>id itu: semalam gw ditelp ama n***** dia minta dianter ke gereja</i><br />
<b>gw: trus?</b><br />
<i>id itu: kasihan juga tuh anak</i><br />
<b>gw: ada acara di rumah?</b><br />
<i>id itu: ga ada sih paling kalo dia mo main kerumah abang kita jemput</i><br />
<b>gw: maksud gw...peringatan hari meninggalnya abang</b><br />
<i>id itu: mang abang meningal bulan apa? bukan acara peringatan. si n***** masih truma gitu</i><br />
<b>gw: gw tau le.... gw cuma nanya: di rumah almarhum ada apa? ada pengajian atau apa? abang meninggal bulan fenruari kan?</b><br />
<i>id itu: ada pengajian yati... sorry gw rada blank</i><br />
<b>gw: oh...ya</b><br />
<i>id itu: iya nih mungkin kebanyakkan nyabu kali ya</i><br />
<b>gw: lo nyabu?</b><br />
<i>id itu: yup</i><br />
<b>gw: :&#124; apa yg lo cari le?</b><br />
<i>id itu: ga tau gw nih musik dah nyatu didiri gw</i><br />
<b>gw: hei....main musik ga mesti nyabu kan? napa sih lo?</b><br />
<i>id itu: iya sih siang malam gw main, libur paling satu hari. itulah dopping yg gw butuhkan ya shabu</i><br />
<b>gw: ya tuhan! ga ada cara lain apa?</b><br />
<i>id itu: gw dah mulai coba mengurangi yat</i><br />
<b>gw: lalu? emang udah brapa lama lo make? org rumah tau?</b><br />
<i>id itu: ya hampir 1 tahun lebih. semula ga tau,akhirnya keluarga yg kasih tau</i><br />
<b>gw: trus? lo diapain?</b><br />
<i>id itu: gitu deh. eh web site lo apa</i><br />
*gw ngasih alamat blog. juga <a href="http://bergerak.blogspot.com/2006/02/sms-dan-imel-yang-ga-kebaca.html">postingan dua tahun</a> lalu itu*<br />
id itu: asli pas banget kan disaat gw baca ini tgl 15 pas abang meninggal<br />
<b>gw: iyah</b><br />
<i>id itu: ada apa ya. but gpp kan? kalo inget jam segini gw ama abang dah dimarahin. kalo dia mo latihan basket,trus kalo urusan kerjaan numpuk. kadang kalo harus pulang malam gw ga bisa berhari2 gw dicuekkin ama dia</i><br />
<b>gw: :&#124; sudah le....</b><br />
<i>id itu: ok. yat thanks ya gw cabut dulu, baik2 ya</i><br />
<b>gw: ok....baik2 ya, le. jangan nyabu lagi </b><br />
<i>id itu: gw coba utk berhenti yat. byeeeee</i></p>
<p>hufhhh... obrolan berakhir. bengong sesaat. lalu..., hidup harus terus berjalan, yat! ini akan selalu jadi pelajaran besar. semoga almarhum tenang di sana, Amin!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Right?]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/02/02/right/</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 09:06:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/02/02/right/</guid>
<description><![CDATA[Dewasa itu berarti&#8230;
ga meneteskan air mata saat menghadapi masalah, baik yang sekecil kerikil ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa itu berarti...<br />
ga meneteskan air mata saat menghadapi masalah, baik yang sekecil kerikil (yang pasti tajem), maupun yang segede batu gunung (yang pasti berat)</p>
<p>Sabar itu berarti...<br />
bukan diem dan memendam semua masalah sendirian</p>
<p>Baik itu berarti...<br />
bukan menyenangkan hati orang lain saat lagi kesel sendiri</p>
<p>Right?<br />
mmm...bukan begitu, <a href="http://matahari-ku">say</a>?</p>
<p><i>* harusnya hari ini postingan saya tentang KESAN-3. bukan tak konsisten, tapi draftnya kehapus dan saya udah ga bisa mikir lagi. mumet!</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesan-2]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/?p=265</link>
<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 08:18:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/01/26/kesan-2/</guid>
<description><![CDATA[Ini seri kedua tentang profil orang-orang yang menurut saya membawa kesan dan pelajaran dalam hidup.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Ini seri kedua tentang profil orang-orang yang menurut saya membawa kesan dan pelajaran dalam hidup. </i></p>
<p>SAYA mengenalnya dari buku. Suatu hari di penghujung tahun 2005, saya ke toko buku dan tertarik membaca bagian belakang sampul <i>Laskar Pelangi</i> (LP). Tak pikir panjang, saya membelinya, menamatkannya esok harinya. Sepekan setelah itu, saya ke toko buku lagi, nemenin temenku beli buku yang sama. Saya dan temenku, harus punya buku itu, masing-masing. Terlalu bagus untuk tidak dikoleksi.</p>
<p>Suatu hari di pertengahan 2006, seorang teman di Makassar, <a href="http://pecandubuku.blogspot.com">Aan si pecandu buku</a>, memintaku untuk jadi panelis di talk show radio yang sedang ditanganinya. Acara radio itu khusus bicara soal buku. Saya tanya, "Apa tak ada orang lain di Makassar sampe harus nyebrang lautan nyari narasumber?" Dia bilang, "Saya tau kamu suka buku Andrea Hirata. Mungkin tepat kalo kamu jadi panelis. Kamu dapet giliran pertama untuk bicara, setelah itu Andrea Hirata."</p>
<p>What? Saya terlonjak! Bener2 ga nyangka. Meski cuma lewat telfon, tapi panelis untuk review buku Andrea dan soal pendidikan di Indonesia, benar2...saya ga tau menamakannya apa. Tak ada waktu untuk menolak. Saya sedang di kantor ketika acara talk show itu mengudara. Saya bicara nyaris "asal". Nervous!</p>
<p>Sebelum berhasil menata debaran jantung usai wawancara itu, Aan kembali menghubungiku. Katanya, "Ma kasih, Sukses acaranya." Syukurlah. Dan saya ga mau melewatkan kesempatan begitu saja. Saya minta dikenalin ke Andrea. Aan memberiku nomer hp-nya. Tapi saya tak pernah menelfon. Esoknya saya ngirim imel ke Andrea. Saya lampirkan nomer hp saya dan minta izin untuk membuat review bukunya, <i>Sang Pemimpi</i> (SP).</p>
<p>Setelah review bukunya dimuat di <a href="http://www.tribunkaltim.com">koran</a>, saya menghubunginya lagi untuk mengirim bukti terbit. Ketika <i>Edensor</i> terbit pada Mei 2007, saya membuat reviewnya lagi di koran. Baru saat itu saya mengontaknya lagi untuk wawancara lengkap. Setelahnya, beberapa kali kami saling berkirim sms tengah malam. Kala itu, insomnia saya emang gila, kadang tak tidur semaleman, bahkan sampe 3 hari. Andrea juga begitu katanya. Belakangan, pihak manajemennya yang lebih banyak menghubungi saya. Sayangnya, info2nya kadang tak lengkap untuk sebuah publikasi.</p>
<p>Sosok Andrea, sangat sederhana. Hal itu tergambar jelas dalam tiga novel <i>Tetralogi Laskar Pelangi</i> yang tak lain bercerita tentang kisah hidupnya di tanah kelahirannya, Belitong. Namun, dengan kesederhanaan itu, Andrea Hirata tampil cukup mengejutkan di dunia kesusastraan Indonesia. Baru pertama kali menulis novel, tapi karya-karyanya langsung menjadi best seller. Tawaran untuk memfilmkan karyanya pun berdatangan.</p>
<p>Tak salah pula jika sarjana lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, S2 dari Sheffield Hallam University, Inggris dan Universite de Paris, Sorbonne Prancis ini disebut sebagai penulis yang rajin karena bukunya terbit setiap tahun. Dimulai dengan LP pada September 2005, SP pada Juli 2006, dan <i>Edensor</i> pada Mei 2007.</p>
<p>Kesan dan pelajaran apa yang saya petik dari Andrea? Buanyak, sampe tak bisa saya sebutkan satu per satu karena banyaknya. Saya suka mengutip kata2 Arai di <i>Edensor</i>: "Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi2 itu." Kalimat itu, mewakili segalanya tentang Andrea. Semangat hidupnya, pantang menyerahnya, cita-citanya, hidupnya, segalanya.<br />
Petikan wawancara saya dengannya, <a href="http://perempuanapi.multiply.com/journal/item/20/Tentang_Andrea_Hirata">ada di sini</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesan-1]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/01/19/kesan-1/</link>
<pubDate>Sat, 19 Jan 2008 10:07:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/01/19/kesan-1/</guid>
<description><![CDATA[Berapa orang yang meninggalkan kesan mendalam di hidup Anda? Lebih dua puluh tahun terlahir ke bumi,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Berapa orang yang meninggalkan kesan mendalam di hidup Anda? Lebih dua puluh tahun terlahir ke bumi, saya punya beberapa, kalau tak bisa dibilang banyak. Buat saya, semua orang punya kesan, semua orang memberiku pelajaran. Saya ingin mulai mengumpulkan cerita2 tentang mereka, agar kisahnya abadi, menjadi pelajaran buat saya. Syukur2 kalo juga jadi pelajaran hidup buat orang lain yang membacanya.</i></p>
<p><b>Tentang Perempuan Tangguh</b><br />
PERTENGAHAN Desember 2007 saya mengenal <a href="http://dianlestariningsih.multiply.com">Dian</a>. Dian Lestariningsih lengkapnya. Kami tergabung dalam satu kelas menulis. Awalnya, saya agak segan mendahuluinya untuk ngobrol. Penampilannya, cuek, tomboy abis [saya seperti bercermin ke masa lalu, hehehe...] sehingga rasanya tak ada celah untuk memulai obrolan. Tapi saat perkenalan diri, saya cukup tersentak dengan kalimatnya. "Uh, malu gw punya mulut Jawa kek gini," sambil menampar pelan mulutnya.</p>
<p>Iya, di tengah kelas yang banyak berbicara soal Indonesia yang sarat persoalan diskriminasi dan ketidakadilan, konflik antar etnis, media yang bias, saya memahami kegemasannya pada 'mulut Jawa'nya. Sebab ternyata dia orang yang begitu gelisah memikirkan negeri ini. Dibalik ketomboyannya, dia ternyata menyimpan empati yang luar biasa terhadap persoalan lingkungannya. Dia benar2 paham cerita kelam soal sentralisme kekuasaan di negeri yang kami sebut, <i>Indopahit</i>, meminjam istilah <a href="http://andreasharsono.blogspot.com">Mas Andreas Harsono</a>.</p>
<p>Di penghujung hari pertama kelas itu, saya baru tau kalo kami satu kost meski beda lantai. Saya dan <a href="http://desojombang.blogspot.com">Marta</a>, seorang teman dari <a href="http://www.surya.co.id">Harian Surya</a>, Surabaya di lantai dua dan Dian di lantai tiga. Sore saat kami pulang ke kost dia bilang, dia tak tahan tanpa selimut. Desember, Jakarta memang agak dingin. Tapi dia bilang, dalam keadaan gerah pun, dia terbiasa berselimut. Maka kupinjami dia kain yang tak kupakai, karena sebaliknya, saya justru merasa sangat gerah selama di Jakarta. Tak banyak obrolan yang saya dengar darinya meski sore hingga malam kami jalan-jalan bareng.</p>
<p>Esoknya, dia mengajak kami keliling kawasan Kota Tua Batavia. Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan kesan tentangnya. Bersamanya [dalam arti: makan, jalan, tidur, belajar] selama kurang lebih 2 minggu, membuat saya benar2 mengambil banyak pelajaran dari hidupnya.</p>
<p>Dia terlahir sebagai putri Solo, kerabat dekat keraton. Namun tak seperti dongeng2 tentang putri2 keraton, hidupnya sangat bertolak belakang. Terlalu sederhana, bahkan 'sulit'. Karena keadaan itu, tak jarang dia dan keluarganya dipandang sinis oleh keluarga besarnya. Tapi pandangan seperti itu justru membuatnya bangkit. Ia tak ingin dikerdilkan. Ia, dengan usahanya sendiri, akhirnya meraih begitu banyak impian remaja seusianya.</p>
<p>Kalo tak salah menyimak, saat duduk di bangku SMP dia ikut aktif menjadi jurnalis muda di koran lokal di Jogjakarta, Bernas. Harian Bernas ketika itu masih di bawah <a href="http://www.kompas.com">Kompas-Gramedia</a>. Pengetahuan tentang jurnalistik ini, modal besarnya untuk menjadi seperti sekarang [yang akhirnya juga mempertemukan kami]. Saat SMA, dia berhasil dapat beasiswa (?) dan belajar di Jepang selama setahun. Prestasi-prestasi itu, membuat mata keluarga besarnya sedikit terbuka.</p>
<p>Lalu pencapaian besarnya yang lain saat dia menjadi manajer sebuah grup band ternama di negeri ini [halah, sebut aja, Sheila On 7]. Sebagai remaja yang ketika itu juga gandrung pada Sheila On 7, sedikit-sedikit saya juga mendengar namanya dari berbagai media. Yang saya tau, ribuan remaja saat itu, memimpikan posisi Dian, agar bisa terus menerus berada dekat idolanya, menjadi terkenal, bisa menjelajah pelosok negeri, dielu-elukan dan diprioritaskan. Dan tentu saja kaya raya!</p>
<p>Dian bisa mendapatkan semuanya. Ratusan juta bisa mengisi rekeningnya. Pandangan hormat dari keluarga besarnya akhirnya didapatnya. Semua orang amat sangat ramah padanya. Semua orang!<br />
"Tapi semuanya hanya di permukaan. Yang sebenernya, kosong, hampa" kata Dian.</p>
<p>Dia pun meninggalkan band itu persis di masa ngetopnya, usai tiga album yang selalu sukses. Dian merasa seperti tak kenal dirinya saat itu. Tak pernah ada waktu untuk diri sendiri. Tidurnya di jalan, dari satu show ke show yang lain. Pulang ke rumah sekali sepekan, hanya beberapa jam. Dia lelah. dia capek. Dia berhenti.</p>
<p>Lalu persoalan demi persoalan menghampiri. Dan orang2 yang dulunya ramah, menjauh. Duitnya diembat Rp 200 juta. Berdiam diri sebulan lamanya tanpa aktivitas. Lalu perlahan dia bangkit lagi. Menyelesaikan kuliah. Bekerja. Menjelajah. Dari barat hingga ke timur negeri ini. Lalu ke beberapa negara. Saat ini dia aktif di NGO asing di Jogja, sebagai PR. 2008, mimpinya keluar lagi dari Jawa. Kembali menulis.</p>
<p>Pelajaran apa yang saya dapat? Buanyakkk. Ini hanya sedikit diantaranya. Bahwa, pandangan sinis tak harus menjadikan kita kerdil. Bahwa, teman sejati bukan tak ada, cuma emang rada sulit ditemukan. Bahwa, ketenaran tidak selalu membawa kebahagiaan.<br />
<a href="http://dianlestariningsih.multiply.com">Sahabat</a>, teruslah jadi perempuan tangguh ya!</p>
<p><a href="http://perempuanapi.multiply.com/journal/item/18/Tentang_Perempuan_Tangguh"><i>*) Cerita ini, juga saya posting di blog lain</i></a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[berat]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2008/01/02/berat/</link>
<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 06:19:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2008/01/02/berat/</guid>
<description><![CDATA[Chat tentang &#8217;sesuatu&#8217; dengan simbok dan uyo beberapa detik lalu di YM, membuat saya ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Chat tentang 'sesuatu' dengan <a href="http://venus-to-mars.com">simbok</a> dan <a href="http://deyoyok.multiply.com">uyo</a> beberapa detik lalu di YM, membuat saya teringat <a href="http://senandung.wordpress.com/2007/11/28/tentang-kawan/">pesan kawan</a> saya yang datang November lalu.<br />
<em>Tetaplah berdiri di sini, sama seperti dirimu yang kukenal sejak pertama kali. Dalam pikiran yang jernih, tindakan yang suci, dan hati yang tenang dan damai. Pegang erat ketiganya, jangan pernah goyah</em>.<br />
Dan jawaban saya tetap: <strong>Pesan yang amat sangat berat</strong>! Ga gampang!</p>
<p>Beberapa malam lalu, <a href="http://senandung.wordpress.com/2007/11/28/tentang-kawan/">kawan yang sama</a>, mengabariku pukul 3 dini hari;<br />
Kawan: <em>Saya dalam perjalanan menuju Palembang. Gimana, udah jago maen harmonika?</em><br />
Saya: Blom. Maen harmonika bikin radang tenggorokan. Ngapain di Palembang?<br />
Kawan: <em>Mo coba dagang mpek-mpek :p Sehatkah dirimu?</em></p>
<p>Ok, saya akui, pertanyaan <em>Ngapain ke Palembang</em> itu pertanyaan bodoh. Dan jawaban <em>Mo Coba dagang mpek-mpek</em> juga jawaban asal. Ternyata kawan saya masih sibuk menyambungkan titik- titik dalam peta nusantara. Hah... dia membuat rasa iriku makin menggunung. Kenapa dia bisa bebas terbang tinggi melebihi burung, dan saya nggak bisa?<br />
Come on... ini baru awal tahun. Ayo, berusahalah!</p>
<p><strong>Update:</strong> Saya ingin memasukkan quote yang saya dapat dari film semalem, ga tau judulnya apa. "<em>Hidup itu sederhana, tentukan pilihanmu dan jangan menyesal. Ketahui keinginanmu dan kejarlah. Tak ada masa lalu dan masa depan, hanya saat ini saja.</em>" Quote ini buat diri sendiri dan kalian yang membutuhkannya: Ayo, semangatlah!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[resolusi 2008]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2007/12/28/resolusi-2008/</link>
<pubDate>Fri, 28 Dec 2007 12:14:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2007/12/28/resolusi-2008/</guid>
<description><![CDATA[Bikin resolusi? Ah, bukan perkara gampang buat saya. Berkali-kali di setiap akhir tahun saya ikut-ik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bikin resolusi? Ah, bukan perkara gampang buat saya. Berkali-kali di setiap akhir tahun saya ikut-ikutan bikin daftar hal-hal yang akan saya lakukan tahun depan, tapi setelah itu seperti tak bermakna. Dibuat untuk tidak dilaksanakan. Padahal dari tahun ke tahun, poin resolusinya sama. Saya ga ngerti dimana letak kesalahan dan ketidakpatuhan saya. Tapi resolusi yang tak sempat terucapkan, justru biasanya bisa saya raih. :p</p>
<p>Kali ini saya coba bikin resolusi lagi. Kapok sebenernya. Tapi <a href="http://daengrusle.com">daeng rusle</a> memberi saya pr, yang hampir tak pernah saya dapatkan dari siapapun. Jadi saya berpikir, apa salahnya memenuhi <a href="http://daengrusle.com/2007/12/27/resolusi-2008/">permintaannya itu</a>.</p>
<p>Halah, pengantarnya udah terlalu panjang dan ga penting. Ini, poin resolusi saya:<br />
1. Yang berhubungan dengan kebendaan, mmm...saya pengen semua barang2 yang pernah saya punya kemarin, balik lagi. Laptop, kamera, 2 hp, motor....hahaha! Eh, motor masih ada sih, tapi udah direncanain mau dijual juga :p Apa segitu BU-nya saya? Nggak lah...lagi hoby aja jual2in barang trus abis itu gigit jari ga bisa beli lagi yang baru, justru saat benda2 itu dibutuhkan. Bodoh ga sih?</p>
<p>2. Kalo semua benda2 itu udah balik lagi, mungkin saya akan lebih mudah melaksanakan resolusi selanjutnya. Bikin karya bagus!!! Entah tulisan jurnalistik, cerpen, top banget kalo udah bisa novel. Resolusi ini juga udah ada dari tahun kapan, dan hasilnya masih gitu2 doang. Ga ada yang signifikan. Halah, bahasa apa sih, ini? :p</p>
<p>3. Jalan-jalan!!! Saya udah harus kembali bergerak. Menyambungkan titik2 dalam peta. Hah, ini juga resolusi yang udah dibikin tiap tahun, tapi sekali lagi, u know lah :p</p>
<p>4. Lebih berbakti pada ortu :( Selama ini, nyaris tak ada yang saya lakukan untuk sekedar bikin ortu seneng. Ouh...permintaan ortu agar saya jadi PNS, itu yang paling berat. Walopun saya tau ortu bisa mengerti alasan saya menolak permintaan itu. Maaf pak, ma, pegabdian pada masyarakat tak harus lewat jalan menjadi PNS :(</p>
<p>5. Tahun ini harus udah bikin daftar silsilah keluarga. Udah direncanain sejak kapan tahun tapi ga pernah terlaksana. Padahal saya selalu panik, apa jadinya rencana itu kalo tiba2 bapak dipanggil Allah? Padahal bapak satu2nya orang yang masih hapal silsilah keluarga besar kami.</p>
<p>6. Taman baca dan sejenisnya. Paling ga perpus pribadi yang bisa diakses anak2 lingkungan rumah. Ini program dari tahun kapan dan ga pernah terealisasi. Buku bacaan yg tersedia juga bukan kelas anak kecil kali :( Saya bener2 payah kan? Cari2 alesan lagi! Payah :p<br />
7. Ini udah resolusi ke berapa yak? Ntar kebanyakan lagi! Ouh, iya...saya juga pengen jadi orang yang lebih baik, lebih berguna, lebih peduli, tak banyak bicara tapi lebih banyak berbuat</p>
<p>8. Mmm....pengennya sih, jadi orang yang selalu bisa ngertiin yayang, bisa terus menyemangati dia. Eh, bagian ini, resolusi bukan sih? Trus soal sekolah, pindah kerja, lebih patuh ma dokter biar lebih sehat, punya usaha sendiri, sebisanya olahraga rutin, dll....itu masuk resolusi nomer berapaaaa????</p>
<p>Udah ah, ini udah kebanyakan! Dan, tau sendirlah....saya udah mulai banyak bicara tapi tak berbuat! Dan, saya ga usah melempar pr ini kemana-mana ya...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[nyali]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2007/12/01/nyali/</link>
<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 08:12:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2007/12/01/nyali/</guid>
<description><![CDATA[I envy you, my dear
Harusnya itu menjadi status ym-ku, my dear. Akulah yang harus iri padamu. Kamu j]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>I envy you, my dear</em><br />
Harusnya itu menjadi status ym-ku, my dear. Akulah yang harus iri padamu. Kamu jelas lebih free, kamulah si manusia merdeka itu, lebih merdeka dibanding aku. Courage? Ga, kata itu untuk kamu. Aku ini si manusia gamang. Smart? No, no! Kamu salah. Aku, tak ada apa-apanya dibanding kamu.</p>
<p>Mau bukti? Keputusanmu kemarin, sungguh mengejutkan! Walopun dulu kamu sempat cerita tentang itu, tetap saja berita yang kau kabarkan kemarin membuatku kaget. Aku ga pernah bisa seberani itu. Aku selalu terlena di sini, yang kata orang-orang zona mapan, padahal ga mapan sama sekali. :p</p>
<p>Aneh, setiap akhir tahun aku selalu merasa begini, ga betah sama sekali. Tapi hingga tahun berganti, ternyata aku tak pernah beranjak dari tempat ini. Tahun sebelumnya aku keduluan sama <a href="http://ndobos.com">Sir Mbilung</a>. Lalu tahun ini, aku keduluan lagi sama kamu! Hehehe, kamu liat kan, nyaliku sedemikian kecilnya?</p>
<p>Padahal aku tahu pasti jawaban pertanyaanmu: <em>Apa jadinya kalau hatimu tidak lagi berada di suatu tempat?<br />
</em>Tapi apapun keputusanmu, aku pasti selalu mendukungmu, bersamamu selama yang kau mau. Karena aku sayang kamu!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[tentang kawan]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2007/11/28/tentang-kawan/</link>
<pubDate>Wed, 28 Nov 2007 06:54:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2007/11/28/tentang-kawan/</guid>
<description><![CDATA[kau tak akan pernah memahami fungsi selat dan laut sebagai penghubung antar pulau, kalau kau tak per]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>kau tak akan pernah memahami fungsi selat dan laut sebagai penghubung antar pulau, kalau kau tak pernah memahami fungsi sungai sebagai penghubung gunung dan pantai</em></p>
<p>Kalimat itu terus berdengung di telinganya, membawanya berjalan, jauh ke pelosok negeri. Detik ini ia berada di Aceh, di tepi samudera, sisi paling barat negeri ini. Esoknya dia terlihat menari bersama perempuan2 sub suku Dayak Kenyah. Esoknya lagi dia mengabariku sedang melawan dingin di kawasan Bromo, lalu beberapa saat ia telah bergeser ke kaki Semeru, tiba-tiba lagi berada di Sampit, lalu kembali ke Minahasa, dan sesaat dia telah mengayuh sampan di perairan tanah kelahirannya, Mandar.</p>
<p>Ia tak pernah lupa mampir ke sini. Seperti kemarin, setelah dua tahun lalu ia juga mampir, bercerita tentang perjalanannya. Ia selalu saja membuatku iri. Ia kini bisa bercerita tentang titik dalam peta nusantara yang sudah dihubungkannya dalam catatan perjalanan. Aku tak bisa berkata apa2, cuma bisa mendengar ceritanya dengan segudang rasa iri. Eh, aku sempat bilang sama dia kalo sekarang aku udah bisa maen <a href="http://senandung.wordpress.com/2007/07/20/b-i-o-l-a/">biola</a> dikit2, setelah dulu aku gagal <a href="http://senandung.wordpress.com/2007/07/20/b-i-o-l-a/">belajar biola</a> dari dia. Dan setelahnya, dia memanas2iku untuk belajar harmonika. Dan, seperti kebo dicucuk idungnya, aku nurut aja, langsung beli harmonika kecil kemarin, langsung belajar.</p>
<p>Dan sebelum kami berpisah, ia berbisik, "<em>Mungkin saya akan menetap, berbuat sesuatu yang lebih nyata, menyatukan pemuda2 yang dengan tangannya sendiri membangun usaha kecil, tanpa campur tangan pemilik kapital dari negeri pusat kekuasaan bernama Jakarta</em>". Hueksss...dia membuatku iri dua kali. Pertama dengan cerita2 perjalanannya menghubungkan titik-titik dalam peta nusantara. Kedua, sebelum aku mengikuti jejaknya berkeliling nusantara, dia menyetop langkahku dengan pesan:<br />
<em>tetaplah berdiri di sini, sama seperti dirimu yang kukenal sejak pertama kali. dalam pikiran yang jernih, tindakan yang suci, dan hati yang tenang dan damai. pegang erat ketiganya, jangan pernah goyah.<br />
</em>Dengan semua gempuran persoalan ini, apa dia pikir pesannya itu tidak berat? :(</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[selamat bertugas]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2007/11/12/selamat-bertugas/</link>
<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 05:04:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2007/11/12/selamat-bertugas/</guid>
<description><![CDATA[Pagi ini mendung menggelayut di wajah kota. Seperti mendung yang membayangi wajah kami. Kelesuan sud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini mendung menggelayut di wajah kota. Seperti mendung yang membayangi wajah kami. Kelesuan sudah terasa sejak Sabtu kemarin. Seorang kawan, upsss...maksudnya atasan saya, ditarik ke coorporate pusat [hebat,...dengan jabatan yang melesat jauh]. Banyak senior di kantor ini, tapi tidak semuanya bijak. Jadinya, saya [mungkin juga kawan2 yang lain] benar2 kehilangan seorang yang bijak, bahkan melebihi kebijaksanaan yang lebih senior. Cool kalo kata anak2 sekarang. Pinter tapi ga menggurui, kalo marah ga pernah keliatan lagi marah, selalu tenang menghadapi persoalan serumit apapun, bahkan disertai guyonan sehingga kami tak ikut panik. Sepertinya, ajaran yang diturunkan dari orangtua beliau, benar2 dijalankan ; Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa menyenangkan orang lain, membuat orang tidak senang itu, tidak membahagiakan [maap...sebenernya dalam bahasa Jawa, tapi karena ga bisa bahasa Jawa, saya yang sok tau ini mengartikan kira2 seperti itu]. Selamat bertugas di tempat baru, terima kasih bimbingannya! :)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mudik]]></title>
<link>http://senandung.wordpress.com/2007/10/23/mudik/</link>
<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 15:21:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>senandung</dc:creator>
<guid>http://senandung.id.wordpress.com/2007/10/23/mudik/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya saya kembali ke sini lagi, setelah mudik seminggu. Rasanya aneh, jadi ga bisa kerja, agak2 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New">Akhirnya saya kembali ke sini lagi, setelah mudik seminggu. Rasanya aneh, jadi ga bisa kerja, agak2 gimana gitu. Seperti hari-hari pertama masuk sekolah tempo dulu. Berlebihan ya? Padahal cuma seminggu ninggalin kantor :p.</font></p>
<p>Ga ada yang cukup seru untuk diceritakan. Sebagian saudara2 yang mudik, udah balik lagi ketika saya tiba di hari ketiga lebaran versi di rumah sana. Selama di kampung, saya ga kemana-mana. Sepanjang hari selama seminggu saya menghabiskan waktu di rumah, maen sama ponakan yang lucu2 dan bikin gemes itu. Pengennya sih, masih berlama-lama di rumah. Tapi dua hari terakhir, kami harus ke Makassar, menghadiri pesta dua ponakan saya.</p>
<p>Haduh, saya ga pernah suka acara kek gini. Sudah cukup saat2 lebaran saya mendengar pertanyaan membosankan, cerita2 menyebalkan tentang segelintir orang yang terus menerus menganggap dirinya raja dan ratu yang harus disembah tanpa tau cerita sebenarnya dari masa lalunya, serta kultum di setiap kesempatan, pagi-siang-sore.</p>
<p>Pesta dengan segala adat nan ribet, Sabtu sore-malam di rumah, lalu keesokan harinya di istana, lengkap dengan acara siraman (lho, adat dari mana ini?) dan pedang pora di hari pernikahan (maklum deh, dua2nya alumni IPDN), bikin saya ga betah. Jadilah saya jalan ke mana aja, menghindar dari rumah. Tapi celakanya, tidak satu pun kawan-kawan dari masa lalu yang sama-sama lagi mudik, bisa saya temui. Semua kawan yang telah bertebaran di muka bumi, sibuk dengan urusan masing-masing.</p>
<p>Lalu akhirnya, semalam, saya tiba di sini lagi. Langsung ke kantor.</p></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
