<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pengusaha-dan-milyarder &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/pengusaha-dan-milyarder/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pengusaha-dan-milyarder"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 20:00:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Oleh-oleh dari Pasar Tasik]]></title>
<link>http://fuadmuftie.wordpress.com/?p=161</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 05:56:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fuad Muftie</dc:creator>
<guid>http://fuadmuftie.wordpress.com/?p=161</guid>
<description><![CDATA[Melanjutkan cerita saya kemarin tentang &#8220;Kangen  sama Pasar Tasik&#8220;, saya pingin menceri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan cerita saya kemarin tentang "<a title="Kangen sama Pasar Tasik" rel="bookmark" href="../2008/05/05/kangen-sama-pasar-tasik/">Kangen  sama Pasar Tasik</a>", saya pingin menceritakan sebagian fenomena di Pasar  Tasik yang saya lihat.</p>
<p>Setiap belanja ke Pasar Tasik, selalu muncul harapan (ekspektasi) untuk  mendapatkan produk-produk baru dan bagus. Umumnya, sebagai salah satu patokannya  adalah keramaian dari kios / counter yang kita datangi. Kalau melihat ada toko  yang sedang ramai, pasti rasa ingin tahu kita muncul dan penasaran apa yang  membuatnya ramai, jangan-jangan ada produk yang lagi <em>hot</em>.</p>
<p>Dan memang sering terbukti, toko yang tampak ramai, sering menawarkan  produk-produk yang bagus. Tapi tidak selalu toko yang saat itu ramai karena  punya produk bagus, bisa tetap bertahan. Ada yang beberapa waktu kemudian toko  yang tadinya ramai tidak lagi tampak ramai.</p>
<p>Nah waktu kemarin saya kembali datang ke Pasar Tasik, setelah lama sekali  tidak mengunjunginya, saya perhatikan sudah banyak perubahan. Ada yang katanya  sudah tidak jualan lagi di Pasar Tasik. Ada yang masih tetap dan masih sama  seperti yang saya temui dulu. Dan ada yang sudah membesar, dari yang semula  berdagang di counter (kios kecil) sekarang sudah punya kios yang lebih besar,  bahkan ada yang sudah bertambah tokonya (dari semula satu kios sekarang punya  dua kios).</p>
<p>Pelajaran yang bisa diambil, memang itulah gambaran dalam kehidupan kita,  khususnya dalam berbisnis. Ada yang maju, dan ada yang mundur. Kalau kita mau  belajar dari yang maju, kita bisa memahami bahwa keberhasilanya adalah buah dari  proses. Dari beberapa toko yang saya lihat sudah berkembang, salah satu yang  membuat mereka maju adalah mereka mampu terus menawarkan produk-produk yang  laku.</p>
<p>Memang tidak mudah menjalaninya, kami sendiri di toko Addina kadang dapat  barang yang bisa terus laku, tapi kadang juga dapat barang yang laku cuma  sebentar, setelah itu langsung redup. Banyak juga sich yang lama sekali tidak  laku.</p>
<p>Kadang kami juga khawatir dengan produk yang sudah lama bisa terus laku, tapi  tiba-tiba mulai menurun penjualannya. Ini yang dinamakin siklus hidupnya produk.  Kalau kita jeli, kita bisa memprediksikan kapan suatu produk akan redup. Tapi  untuk sekelas saya, belum ketemu itung-itungannya, masih mengandalkan intuisi  saja.</p>
<p>Kalau sedang khawatir begini, saya cuma berpikir, setiap saat pasti ada  trend-nya dan semuanya kan terus berubah, tinggal pinter-pinternya kita memilih  produk. Kalau memang ada produk yang sudah menurun penjualannya, ya siap-siap  saja ditinggalkan walalupun merknya bagus. Begitu juga kita harus tetap open  mind (membuka pikiran) atas masuknya produk-produk baru yang siapa tahu akan  menjadi trend di masa datang, yang akan membawa toko kami terus maju dan  berkembang.</p>
<p>Salam FUNtastic &#38; Merdeka!</p>
<p>Fuad Muftie<br />
© 2008, <a href="../"> http://fuadmuftie.wordpress.com/</a><br />
@ <strong>Toko Addina</strong>, Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 40, Perumnas Klender, Jakarta  Timur, 021-9828 4731<br />
~ Distro Jilbab, Kerudung, Busana Muslimah, Busana Muslim Anak, Aneka Produk  Herbal, dll</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">"Benahi diri, Menuju Indonesia yang membanggakan!"</span></strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesia Butuh Banyak Pedagang (yang tercerahkan) Part II]]></title>
<link>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/10/09/indonesia-butuh-banyak-pedagang-yang-tercerahkan-part-ii/</link>
<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 04:30:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fuad Muftie</dc:creator>
<guid>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/10/09/indonesia-butuh-banyak-pedagang-yang-tercerahkan-part-ii/</guid>
<description><![CDATA[Melanjutkan tulisan kemarin        di sini dan kembali ke topik &#8230;
Sesuai judul, kalau saja Ind]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Melanjutkan tulisan kemarin    <a href="http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/10/08/indonesia-butuh-banyak-pedagang-yang-tercerahkan-part-i/">    di sini</a> dan kembali ke topik ...</p>
<p>Sesuai judul, kalau saja Indonesia memiliki lebih banyak lagi pedagang (yang tercerahkan) saya berkeyakinan Indonesia akan menjadi negara besar yang disegani.</p>
<p>Alasannya simple saja, kalau saya dan istri saya bisa membahagian satu keluarga,maka kalau muncul lebih banyak lagi pedagang, tentu akan bertambah lagi keluarga yang ikut bahagia. Kalau warga negara Indonesia sudah banyak yang bahagia, sudah tidak ada lagi waktu buat saling menyalahkan, saling tuding, dan tindakan negatif lainnya. Mungkin masih ada tapi pasti lebih sedikit.</p>
<p>Alasan lainnya, bisa mencontoh pada sejarah. Pada jaman kejayaan Islam di jazirah arab, banyak tokoh-tokoh Islam yang berlatar belakang pedagang. Bahkan Rosululloh juga pedagang bahkan konglomerat. Kemudian banyak sahabat Rosululloh juga berpofesi sebagai pedagang. Islam besar di Indonesia juga berkat para pedagang yang berdagang ke Indonesia (bukan penjajah lho yang menyebarkan islam di Indonesia).</p>
<p>Kemudian Indonesia sendiri juga dijajah dan diperalat oleh para pedagang yaitu VOC alias Kompeni (company?). Para penjajah bisa menjadi maju dari perdagangan. Dan di jaman sekarang, bisa jadi Singapura contohnya bagaimana negara yang tidak punya sumber daya yang melimpah, bisa maju karena perdagangan.</p>
<p>Nah, kalau sekarang Indonesia bisa mencetak banyak pedagang (entrepreneur), tentu akan lebih cepat dan mudah lagi membangkitkan raksasa yang jatuh ini.     Sama seperti ilmu kesehatan holistik, tubuh yang sakit bisa berpeluang sembuh     total kalau masing-masing sel-nya kembali normal dan sehat. Ibarat tubuh,     kita sebagai individu sama seperti sel. Kalau sel-sel-nya mandiri dan sehat,     tentu tubuhnya akan sehat. Kala individu-individu bisa mandiri (sebagai     entrepreneur) yang bahkan bisa menolong orang lain pasti tubuhnya (Indonesia)     akan cepat bangkit.</p>
<p>Tentu saja tidak hanya sekadar jadi pedagang doang, yang dibutuhkan adalah pedagang yang tercerahkan. Dalam arti pedagang yang memiliki visi dan memegang nilai-nilai yang sesuai hati nurani. Sebenarnya banyak sekali warga negara yang sudah menjadi pedagang, tapi masih sedikit yang mau memikirkan visi dan kemajuan umat lainnya. Kebanyakan berdagan masih berkutat untuk urusan pemenuhan kebutuhan pokok, belum pada tarap berdagan untuk memberi kontribusi.</p>
<p>Oh ya ada lagi tambahan, kenapa Indonesia butuh lebih banyak lagi pedagang. karena apapun industrinya, apapun produknya kalau tidak didukung pedagang yang banyak, hasil produksi kita tidak akan banyak yang laku.</p>
<p>Contoh saja, misalkan saja kita bisa membuat produk agro industri yang bisa mengalahkan produk Thailand, tapi kalau tidak banyak yang bisa menjualnya, akan sia-sia saja. Sejarah Indonesia juga sudah membuktikan, bagaimana produk berkualitas tinggi produksi Indonesia (pesawat terbang) hanya dihargai beras ketan? Barangkali karena kurangnya pedagang di Indonesia sehingga tidak mampu menjual pesawat terbang dengan lebih dahsyat lagi.</p>
<p>Jadi, mari kita rame-rame jadi pedagang, khususnya buat yang sudah punya niat, segeralah wujudkan, banyak warga negara yang siap Anda pekerjakan. Dan lihatlah hasilnya nanti kedepan, mungkin bukan generasi kita yang akan menikmati, semoga anak cucu kita yang akan mempertahankan kejayaan dan kemakmuran Indonesia Raya.</p>
<p>Salam FUNtastic<br />
Fuad Muftie<br />
© 2007, <a href="http://fuadmuftie.wordpress.com//">http://fuadmuftie.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesia Butuh Banyak Pedagang (yang tercerahkan) Part I]]></title>
<link>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/10/08/indonesia-butuh-banyak-pedagang-yang-tercerahkan-part-i/</link>
<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 04:07:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fuad Muftie</dc:creator>
<guid>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/10/08/indonesia-butuh-banyak-pedagang-yang-tercerahkan-part-i/</guid>
<description><![CDATA[Setelah berhasil membuka satu usaha, saya jadi sering merenung. Banyak yang saya pikirkan, dari mula]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah berhasil membuka satu usaha, saya jadi sering merenung. Banyak yang saya pikirkan, dari mulai bagaimana memajukan dan membesarkan usaha sendiri, sampai bagaimana saya bisa memberikan sumbangan atau kontribusi yang lebih luas lagi bagi masyarakat.</p>
<p>Pada level yang idealis, sering sekali terpikir apa yang bisa saya berikan sebagai kontribusi bagi bangsa Indonesia. Saya sadar sekali bahwa saat ini peran saya bagi Indonesia masihlah sangat-sangat minim. Bahkan mungkin masih menjadi 'beban' bagi negara.</p>
<p>Tapi saya yakin dengan membuka satu usaha, saya bisa meringkankan beban salah satu warga negara Indonesia yang saya pekerjakan di toko saya, dan mungkin juga saya sudah membahagiakan satu keluarga, dari jutaan keluarga di Indonesia.</p>
<p>Pikiranpun sering melayang dan berandai-andai, kalau saja banyak warga negara Indonesia yang mau memberanikan diri memasuki dunia entrepreneurship, banyak warga negara yang bisa ditolong dan banyak yang bisa disumbangkan bagi Indonesia.</p>
<p>Orang masih sering mengatakan kalau Indonesia masih dililit krisis. Mungkin benar bagi yang berpandangan pesimis. Tapi coba kalau kita bandingkan dengan tahun 1998 dulu, kondisi saat ini sudah jauh lebih baik. Dari kaca mata optimis, sebenarnya Indonesia sudah bangkit. Cuma mungkin bangkitnya Indonesia masih pelan, jika dibanding negara-negara yang senasib pada tahun 1998.</p>
<p>Kalau saya pribadi menganggap hal ini wajar (tapi bukan pembenaran lho, sebab harusnya Indonesia bisa lebih cepat lagi bangkitnya). Alasannya begini (lebih enak kalau pakai analogi), untuk membangkitkan Kambing yang jatuh terpeleset jauh lebih ringan dan lebih mudah daripada membangkitkan Gajah yang jatuh terpeleset, kan?</p>
<p>Indonesia adalah sebuah negara raksasa, sebuah negara besar, yang sedang jatuh. Kalau negara lain lebih cepat bangkit mungkin saja wajar karena urusan yang harus ditangani lebih sedikit dan lebih kecil daripada Indonesia yang multi kultural dengan permasalahan yang multi kompleks.</p>
<p>Tragisnya lagi setiap Indonesia mau bangkit, akan banyak yang menghalanginya. Belum lagi sikap saling menyalahkan dan sebaliknya kalau ada satu bidang yang berhasil maju, semua rame-rame pada mengklaim sebagai kontribusinya.</p>
<p>Ach.. koq jadi ngelantur. Oke dari sisi kewirausahaan apa yang bisa kita berikan sebagai kontribusi?</p>
<p>Bersambung aja yach... lagi ada kerjaan nich....</p>
<p>Salam FUNtastic<br />
Fuad Muftie<br />
© 2007, <a href="http://fuadmuftie.wordpress.com//">http://fuadmuftie.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Curhat Bisnis]]></title>
<link>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/09/28/curhat-bisnis/</link>
<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 09:35:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fuad Muftie</dc:creator>
<guid>http://fuadmuftie.wordpress.com/2007/09/28/curhat-bisnis/</guid>
<description><![CDATA[Saya bekerja di swasta sudah hampir x tahun. Jujur  saya bosan dan jenuh tapi no choice karena tuntu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#0000ff"><em>Saya bekerja di swasta sudah hampir x tahun. Jujur  saya bosan dan jenuh tapi no choice karena tuntutan hidup. Saya ingin sekali  bisa punya usaha dan resign bekerja. Cita-cita saya ingun punya toko  perlengkapan muslim, tapi saya tidak punya uang untuk sewa toko. Apalagi untuk  menjadi agen ra***** yang butuh modal 5 juta. Dua tahun terakhir saya jualan  baju muslim anak setiap Ramadhan, hasilnya kurang menggembirakan karena pembeli  maunya kredit 2 bulan karena harga diatas 100 (ribu). Minta advice dan masukan.  Terimakasih</em></font></p>
<p><font color="#0000ff"><em>08XXX036XXX</em></font></p>
<p>Demikian bunyai SMS yang saya terima sehabis sholat Jumat 28 September 2007.  Saya coba membalasnya, tapi ternyata pulsanya sudah masuk waktu tenggang  sehingga tidak terkirim :-( . Mau isi pulsa, uangnya lagi kepakai buat yang  lain. Saya tulis saja di blog, mudah-mudahan yang bersangkutan mampir lagi di  blog ini. Lagian mau dibalas pakai SMS, kurang fleksibel.</p>
<p>Saran saya buat pengirim SMS, pertama-tama bukalah pikiran (be open mind),  karena pikiran bekerja sama seperti parachut. Baru bekerja kalau dibuka.</p>
<p>Maksud saya, biasanya orang kalau sedang terhimpit pikirannya kurang jernih,  mudah sekali memvonis, menyalahkan keadaan dan lain sebagainya yang justru  menjadi kontra produktif. Bukalah pikiran dan peluang-peluang baru insyaAlloh  akan mudah ditangkap.</p>
<p>Hidup adalah pilihan. Apapun kondisi kita saat ini adalah hasil dari  pilihan-pilihan kita di waktu lalu. Kalaupun sekarang mengatakan "saya tidak  punya pilihan / i have no choice" itu juga pilihan Anda sendiri. Jadi sekarang  mendingan berpikir, "saya harus punya pilihan yang lain untuk memenuhi tuntutan  hidup". Dengan begitu, semoga akan muncul banyak pilihan, akan lebih bisa  menangkap pilihan-pilihan lainnya, dan bisa melihat peluang-peluang baru.</p>
<p>Untuk beralih dari pekerja menjadi pengusaha, banyak sekali jalan dan  variasinya. Bisa saja sekarang langsung keluar kerja dan berjuang mencari jalan  menjadi pengusaha. Tapi saya tidak menyarankan, mendingan sekarang jalani dulu  jalan hidup sebagai karyawan, syukuri bahwa Anda masih ada yang mempekerjakan  kita (banyak lho yang masih berjuang mendapatkan pekerjaan), sambil tentunya  berusaha merintis usaha di luar.</p>
<p>Kalau sudah ada niat mau keluar kerja, yang penting adalah komitment.  Setidaknya saat ini harus jelas komitment Anda untuk membuka usaha. Sekarang  sudah ada modal berapa? Manfaatkan saja dulu modal yang ada tersebut. Kemudian  tiap bulan coba sisihkan dari gaji sebagai karyawan untuk tambahan modal.</p>
<p>Ada salah satu contoh, rekan saya sendiri, Beliau memulai usaha garment  dengan modal Rp 800.000,- dengan berjualan dari rumah. Kemudian uang hasil  penjualan terus diputar, terus tiap bulannya sebagian uang gajinya disisihkan  untuk menambah modal. Dan sekarang sudah punya satu toko. Pernah punya dua toko  tapi yang satu ditutup. (Mudah2an beliau ikut membaca blog ini)</p>
<p>Untuk memulai usaha tidak perlu menunggu kondisi ideal (begitu kata-katanya  yang selalu saya ingat). Kalau Anda sudah memulai dengan berjualan busaha anak,  tapi hasilnya belum menggembirakan, jangan putus asa. Itu adalah proses. Cuma  menurut Anda mungkin itu proses yang tidak enak. Sekarang tinggal tugas Anda  mengubah proses yang tidak enak biar bisa menjadi enak. Evaluasi lagi sistem  bisnis Anda. Kalau dengan sistem cicilan, menurut Anda kurang menguntungkan,  coba dengan cara cash dan jual ke orang lain.</p>
<p>Kalaupun dijual dengan kredit, Anda berhak mendapatkan kompensasi dari sistem  kredit. Misalnya harga anda naikkin dulu baru di jual kredit. Itu juga yang  dipraktekkan para penjual kendaraan bermotor kan? Kalau beli cash harganya 100  ribu, kalau kredit 1 bulan harganya 110 ribu, kalau kredit 2 bulan harganya 125  ribu. Asal kedua pihak sepakat, saya pikir syah-syah saja dan insyaAlloh halal.</p>
<p>Kalau ingin menjadi salah satu agen ternama, menurut Anda masih berat, ya  nggak usah dipaksakan. Selalu ada jalan yang lain. Begitu juga kalau mau sewa  toko, dirasa masih berat, ya tidak usah dipaksakan. Mulai saja dari rumah.</p>
<p>Oh ya saat ini konon katanya sedang memasuki Era Industri Kreatif.  Orang-orang yang bisa maju bukan lagi yang menguasai modal, menguasai industri  manufaktur, dan menguasai informasi saja, tapi orang-orang yang KREATIF. Bisa  saja orang memiliki banyak keterbatasan, tapi kalau dia kreatif mengatasi  keterbatan menjadi peluang, maka ia berpeluang sukses.</p>
<p>Jadi kembali lagi, buka pikiran, gunakan kreatifitas Anda. Mulai lagi dari  yang kecil dan mulai juga saat ini. Saya yakin kalau Anda benar-benar memiliki  komitment untuk keluar dari pekerjaan dan komitment untuk membangun usaha  sendiri, halangan sebesar apapun akan mudah dilalui. Keterbatasan modal bukan  halangan untuk membesarkan usaha.</p>
<p>Semoga bisa mencerahkan</p>
<p>Salam FUNtastic<br />
Fuad Muftie<br />
© 2007, <a href="http://fuadmuftie.wordpress.com//"> http://fuadmuftie.wordpress.com</a></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
