<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>pemukulan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/pemukulan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "pemukulan"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 17:51:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Apa yang Terjadi Pak Dokter?]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/?p=743</link>
<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 00:28:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.wordpress.com/?p=743</guid>
<description><![CDATA[
Seperti halnya kelahiran, kematian manusia sepatutnya mendapat penghormatan. Maftuh akan tetapi tel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://rusdimathari.files.wordpress.com/2008/06/m.jpg"><img src="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2008/06/m.jpg?w=91" alt="" width="91" height="91" class="alignright size-thumbnail wp-image-744" /></a><br />
<h3>Seperti halnya kelahiran, kematian manusia sepatutnya mendapat penghormatan. Maftuh akan tetapi telah dinistakan oleh para dokter yang terhormat itu bahkan sesudah kematiannya.</h3>
<p><!--more--></p>
<h3>oleh Rusdi Mathari</h3>
<h3>SAYA lalu membayangkan Maftuh Fauzi seorang playboy: berganti-ganti pacar, berhubungan seks dan lalu mengidap HIV/Aids. Saya membayangkan Maftuh  seorang pencandu narkoba: menancapkan jarum suntik yang habis digunakan temannya dan lalu mengidap HIV/Aids. Saya membayangkan Maftuh seorang bajingan, mahasiswa yang kelakuannya patut disesalkan karena mengidap HIV/Aids. Saya tiba-tiba merasa menjadi orang yang imbesil ketika mendengar dari radio dan membaca berita di internet seorang dokter RS Pusat Pertamina dengan pongah membuka rahasia penyakit pasiennya bernama Maftuh  mahasiswa Akademi Bahasa Asing Universitas Nasional Jakarta.</h3>
<h3>Kematian Maftuh pada Jumat minggu lalu, memang mengejutkan. Kantor kepresidenan dan terutama kepolisian merasa perlu memberikan klarifikasi, bahwa mahasiswa itu tak meninggal karena pukulan aparat polisi.  Namun pemukulan terhadap Maftuh oleh polisi yang menyerbu kampus Unas pada 24 Mei silam, sebetulnya tak pernah diketahui oleh publik hingga meninggalnya Maftuh. Di antara puluhan atau ratusan mahasiswa yang menjadi keberingasan polisi pada pagi hari di Sabtu kelabu itu, Maftuh hanya salah satu korban.</h3>
<h3>Ketika Maftuh kemudian meninggal dunia, pada Jumat pekan lalu, beberapa mahasiswa rekan Maftuh mengungkapkan, lelaki berusia 25 tahun itu sempat menerima beberapa kali pentungan polisi di bagian kepala saat para aparat yang mengaku sebagai bhayangkara negara itu menyerbu kampus Unas. Maftuh sempat dirawat selama dua minggu termasuk dua hari di RS Pusat Pertamina, setelah dia dikeluarkan dari tahanan Polres Jakarta Selatan. Selama dirawat dia digambarkan selalu berteriak menahan kesakitan di bagian kepala.</h3>
<h3>Korban Pertama</h3>
<h3>Maftuh adalah korban pertama dari mereka yang bersuara keras dan melawan kenaikan harga BBM yang mulai diberlakukan pemerintah sejak akhir Mei lalu. Dia mungkin bukan siapa-siapa, kecuali hanya seorang mahasiswa. Kepada sang ibu yang sempat menjenguknya di rumah sakit, Maftuh pernah menitipkan kata agar sang ibu tak menyesal melahirkannya dan tak meratapi sikapnya yang memilih sebagai demonstran.</h3>
<h3>Kematian Maftuh mengejutkan dan tragis terutama karena persepsi umum bahwa penyerbuan polisi ke kampus Unas hanyalah insiden biasa seperti selama ini, polisi sudah sering dan terlalu biasa melakukannya ke beberapa kampus. Namun kematian Maftuh tidak sesederhana itu.</h3>
<h3>Pertama karena kematian Maftuh secara tiba-tiba diberitakan akibat HIV/Aids yang sudah dideritanya sejak lama. Pernyataan dokter di RS Pusat Pertamina itu bukan saja mengejutkan namun seolah sama sekali menafikan keterangan banyak rekan Maftuh, bahwa Maftuh merupakan korban pemukulan polisi, yang tentu saja dibantah oleh banyak pejabat kepolisian. Keterangan dokter itu, juga telah menghancurkan tata krama kedokteran, andai benar Maftuh adalah penderita HIV/Aids.</h3>
<h3>Kedua, pernyataan dokter di RS Pusat Pertamina bisa dikatakan merupakan pernyataan yang tergesa-gesa. Mereka seolah dikejar waktu, diburu target, agar segera mengabarkan Maftuh meninggal karena mengidap HIV/Aids dan bukan meninggal akibat pemukulan polisi. Terlalu jauh rasanya menganggap para dokter di RS Pusat Pertamina itu telah ditekan oleh pihak tertentu untuk mengabarkan riwayat penyakit pasien bernama Maftuh. Namun juga tak terlalu sulit menemukan anggapan semacam itu, ketika kemudian diketahui, pihak RS UKI yang sebelumnya merawat Maftuh telah melampirkan data bahwa Maftuh mengalami trauma terbuka di bagian kepala Maftuh.</h3>
<h3>Sakit Panu</h3>
<h3>Beberapa jahitan diketahui ditemukan pada kepala Maftuh setelah penyerbuan dan pemukulan oleh polisi terhadap kampus Unas. Di dalam tahanan Maftuh tidak mendapat pertolongan medis yang memadai. Luka di kepalanya asal dijahit sehingga sebagian dari luka itu masih terbuka dan kemudian terinfeksi. Selama 9 malam menginap di tahanan Mapolres Jakarta Selatan, Maftuh karena itu sering mengeluhkan sakit di kepalanya.</h3>
<h3>Ada obat yang diberikan kepada Maftuh tapi dokter dari kepolisian di Mapolres Jakarta Selatan tidak menjelaskan itu obat apa, kecuali hanya disebutkan sebagai obat penenang. Seperti disebutkan oleh anggota Komisi I DPR-RI Yuddy Chrisnandi yang juga merupakan dosen Unas, pihak Unas kini sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk menuntut dokter RS Pusat Pertamina.</h3>
<h3>Dokter RS Pusat Pertamina mungkin benar tentang Maftuh yang mengindap HIV/Aids, seperti halnya mereka juga punya kemungkinan yang sama untuk mengatakan Maftuh tidak mengidap penyakit HIV/Aids. Namun bukan soal riwayat penyakit Maftuh benar yang menjadi persoalan, andai pun dia benar mengidap HIV/Aids. Ini hanya soal etika dan tata krama kedokteran yang selazimnya dimiliki seorang dokter yang profesional. Menyebut apalagi membuka riwayat pasien kepada publik adalah suatu hal yang tabu bahkan terlarang bagi seorang dokter di mana pun. Para dokter di RS Pusat Pertamina, yang menyebarkan riwayat penyakit Maftuh andai benar Maftuh memiliki riwayat penyakit itu,  telah abai akan kode etik dan tata krama sebagai seorang dokter yang beradab.</h3>
<h3>Mereka seolah lupa, bahwa seperti halnya kelahiran, kematian manusia sepatutnya mendapat penghormatan. Maftuh akan tetapi telah dinistakan oleh para dokter yang terhormat itu bahkan sesudah kematiannya. Fakta bahwa Maftuh adalah salah seorang demonstran yang menentang kenaikan harga BBM, lalu dipukuli dan dihajar kepalanya oleh polisi, lantas seolah menguap hanya karena pernyataan dokter RS Pusat Pertamina yang bisa jadi sangat “tergesa-gesa” dikeluarkan kepada publik.</h3>
<h3>Kematian Maftuh dan drama pernyataan dokter RS Pusat Pertamina kemudian mengingatkan saya kembali bahwa penguasa memang cenderung korup ketika mereka mencoba mempertahankannya. Kelak, mungkin akan ada mahasiswa atau orang lain yang menjadi kekerasan polisi dan aparat lainnya, yang lalu mati, yang akan dikabarkan meninggal karena sakit jantung, sakit cacar, dan sakit panu.</h3>
<p><i>Keterangan Gambar: Mendiang Maftuh Fauzi-koleksi keluarga</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengakuan Isra Analdo, mantan mahasiswa STIP]]></title>
<link>http://ninengonly.wordpress.com/?p=63</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 09:40:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>afrianingsih</dc:creator>
<guid>http://ninengonly.wordpress.com/?p=63</guid>
<description><![CDATA[Pemukulan Sering Dilakukan Setelah Apel Malam
Tindakan kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pemukulan Sering Dilakukan Setelah Apel Malam</p>
<p>Tindakan kekerasan yang terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menyebabkan meninggalnya almarhum Agung Bastian Gultom bukan tanpa alasan. Mahasiswa asal Sumbar Isra Analdo (19) mengaku memutuskan mengundurkan diri dari sekolah pelayaran itu tahun lalu karena tidak sanggup menahan penyiksaan.<br />
Afrianingsih Putri__Padang</p>
<p>Siang kemarin, Isra Analdo bersama temannya datang ke Humas Pemprov Sumbar. Awalnya, hanya ingin sekadar mengunjungi orangtua sang kawan. Namun, saat itu Aldo begitu dia disapa berbagi cerita soal pengalaman pahitnya ketika bersekolah di STIP. Walau hanya satu bulan, Aldo masih mengingat jelas bagaimana taruna senior melakukan pemukulan terhadap dirinya.</p>
<p>Tak ada rasa takut dan gentar dari wajahnya pria yang memiliki tinggi dari 170 tersebut ketika menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada sejumlah wartawan. Wajahnya yang tenang seolah tidak menyesal karena harus gagal menjadi ahli pelayaran. Menurutnya hal itu tidak sebanding dengan apa yang sudah diterimanya selama bersekolah di sana. Meski sudah membayar Rp 8 juta untuk biaya masuk dan Rp 4 juta untuk uang sekolah semester.Walaupun sebelumnya, pria kelahiran 21 Februari 1989 ini membayangkan kalau bersekolah di STIP akan memberikan jaminan masa depan akan lebih baik. Karena untuk masuk di sekolah tersebut harus melewati seleksi yang ketat. Dari Sumbar sendiri kata Aldo hanya 8 orang yang lolos  pada angkatan 2007 tersebut. Aldo bersama temannya yang lain asal Bukittinggi Max Riandi (19) harus meninggalkan sekolah tersebut karena tidak tahan dengan perlakukan para senior.</p>
<p>“Pemukulannya tidak bisa dihitung. Kapan saja kalau senior itu mau ya dipukul. Hampir setiap hari, kami anak-anak baru mengalami kekerasan oleh senior. Aksi itu kadang dilakukan siang hari saat pergantian jam pelajaran, kadang saat apel malam. Pokonya dalam satu hari itu pasti dipukul. Bahkan pernah dipukuli saat jeda jam pelajaran.Pernah suatu siang saat pergantian jam pelajaran, saya mau buang air kecil. Saat keluar WC  dihadang tiga orang senior tingkat empat. Tanpa banyak tanya, ketiganya secara bergantian langung melayangkan pukulan ke kaki, perut, pipi dan dada,” cerita alumni SMA 10 Padang ini.<br />
Aldo menceritakan bagaimana padatnya jadwal belajar di sana. Menurutnya, semua siswa di sana ditempatkan di asrama. Selama satu bulan di sekolah, mahasiswa tidak boleh keluar asrama dan menghubungi pihak keluarga. Kegiatan di sana lanjutnya dimulai dengan apel pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan proses belajar dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Kemudian istirahat siang pukul 12.00-13.00 WIB. Dilanjutkan dengan proses kuliah sampai pukul 15.00 WIB. Setelah itu, para taruna harus mengikuti kegiatan olahraga sampai pukul 18.00 WIB dan makan malam sekitar pukul 07.00 WIB. Biasanya tindakan pemukulan sering dilakukan saat apel malam sekitar pukul 22.00 WIB.<br />
“Kalau apel malam sering terjadi pemukulan. Menurut cerita memang pemukulannya turun temurun. Di angkatan saya, mungkin belum ada yang terlihat mengalami sakit karena pemukulan. Namun saya kurang tahu juga. Biasanya kalau ada kegiatan kesamaptaan, memang ada latihan fisik. Tapi paling itu hanya lari dan push up. Itu pun langsung diawasi dosen. Tidak ada yang memukul-mukul,” kata putra pasanganArza dan Erliza. <a href="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/aldo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-65 alignright" style="float:right;" src="http://ninengonly.wordpress.com/files/2008/06/aldo.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Pria yang tinggal di RT 03 RW 03 Bandar Buat ini mengaku hanya sanggup bertahan selama satu bulan di sekolah itu. Aldo yang orangtuanya Arzan bekerja di PT Semen Padang dan Erliza di Puskesmas Gadut ini memutuskan tidak kembali lagi ke STIP, pasca libur lebaran 2007.<br />
“Saya masuk sekolah pada September 2007. Saat lebaran diberi libur selama satu minggu. Saat itu saya memutuskan untuk tidak kembali lagi. Dari pada mati, mending tidak sekolah sekalian. Orangtua juga mendukung setelah mendengar apa yang saya alami. Kemudian sebulan sesudah itu atau sekitar awal tahun 2008 pihak sekolah mengirimkan surat dikeluarkan dari STIP,” katanya yang saat ini akan mencoba keberuntungan masuk perguruan tinggi negeri biasa melalui jalur SNMPTN.<br />
Aldo berharap  agar setiap orangtua yang berniat menyekolahkan anaknya di STIP, agar mencari informasi selengkapnya terlebih dahulu. Bahkan kalau bisa mengunjungi sekolah itu terlebih dahulu. Karena menurut informasi yang didapatkannya, tindak kekerasan sudah biasa di kampus itu, walau mungkin pimpinan kampus tidak mengetahui.<br />
“Pihak sekolah mengawasi kami. Tapi apakah mereka mengetahui tindak kekerasan itu, tidak tahu juga. Ke depan kita berharap pihak sekolah dapat melakukan pengawasan lebih ketat lagi,” tambahnya.</p>
<p><strong>Benar atau tidaknya pengakuan tersebut terserah pembaca menilainya. :) </strong> (*)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pancasila Ternodai di Hari Kelahirannya]]></title>
<link>http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=27</link>
<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 14:49:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>kodim</dc:creator>
<guid>http://pinggirmalam.wordpress.com/?p=27</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah untuk kali pertamanya dalam sejarah bangsa kita. Orang-orang yang hendak merayakan lahirn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah untuk kali pertamanya dalam sejarah bangsa kita. Orang-orang yang hendak merayakan lahirnya Pancasila --dasar negara yang sudah dipakai berpuluh-puluh tahun lamanya-- diserang oleh sekelompok massa dari organisasi yang disebut Gus Dur sebagai “organisasi bajingan”.</p>
<p>Minggu siang (1/6) sekitar pukul 13.20 WIB, ratusan massa dengan mengenakan pakian putih-putih dan atribut Front Pembela Islam (FPI) tiba-tiba menyerbu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Saat itu AKKBB sedang berkumpul di lapangan Monas untuk melaksanakan aksi damai dalam mendukung agar Pancasila benar-benar ditegakkan di Indonesia.<!--more--></p>
<p>FPI yang dipersenjatai bambu yang ujungnya sudah diperuncing serta besi hitam panjang langsung mengejar dan memukuli massa AKKBB yang sebagian besar merupakan kaum ibu dan anak-anak.</p>
<p>Kontan, mereka pun lari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing disertai jeritan dan tangisan para ibu-ibu. Ada 2 orang luka berat dan 68 orang luka ringan dalam peristiwa memalukan itu. Mereka mengalami luka-luka: darah tampak mengalir di pelipis beberapa korban, bahkan ada yang sampai gagar otak ringan. Mereka dibawa ke RS Mitra Internasional Jatinegara, RSPAD dan RS Tarakan. Namun sebelum itu, massa FPI juga sempat menghalang-halangi tim medis yang berupaya menolong para korban luka-luka dan memukuli batang ambulance yang mengangkut mereka dengan tongkat.</p>
<p>Belum puas sampai di situ, massa FPI juga merusak mobil-mobil yang terparkir di sekitar lokasi tersebut. Peralatan sound system yang akan digunakan AKKBB berorasi beserta mobil pengangkutnya diobrak-abrik. Akibatnya, apel/demo AKKBB pun batal.</p>
<p><strong>Polisi Melakukan Pembiaran<br />
</strong>Saat terjadinya insiden Monas tersebut, tak ada polisi yang berjaga di sana. Hal inilah yang membuat massa FPI begitu bebas dan leluasa mengumbar kebrutalannya.</p>
<p>Absennya polisi ini menjadi catatan serius bagi sebuah proses demokrasi. Dengan itu, polisi tidak hanya melakukan pembiaran (by ommision) terhadap segala upaya dan tindakan anarkis yang bertentangan dengan nilai agama dan demokrasi, tapi juga memperlihatkan pola yang diskriminatif. Coba bandingkan bagaimana garang dan ringan tangganya polisi ketika menghadang dan membubarkan aksi mahasiswa yang menolak BBM di sejumlah tempat. Bahkan, seperti kasus Unas, polisi sampai masuk ke kampus dan menganiaya beberapa mahasiswa Unas di lapangan.</p>
<p>Tapi kenapa ketika yang melakukan aksi anarkis itu FPI atau kelompok massa lainnya yang mengatasnamakan agama tertentu polisi diam saja, melempem, seperti tak punya nyali? Ini bukan yang pertama kalinya. Di beberapa daerah, FPI dan organisasi semacamnya kerap melakukan kekerasan terhadap kelompok agama minoritas. Di saat itu pula polisi tak jarang hanya menjadi penonton saja.</p>
<p>Ketika mendapat sorotan dari berbagai kalangan dalam insiden Monas ini, pihak polisi malah dengan ringan memberikan statemen yang begitu sederhana, menarik ke persoalan teknis-prosedural. Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Heru Winarko mengaku bahwa AKKBB belum melakukan koordinasi dengan mereka, meskipun hal itu dibantah oleh pihak AKKBB.</p>
<p>Entah siapa yang benar? Tapi marilah kita pakai logika yang paling sederhana saja. Jika kita andaikan polisi yang benar, bahwa AKKBB belum memberi koordinasi aksinya di Monas, maka muncul pertanyaan lainnya, kenapa massa FPI sebegitu besar (sekitar 500 orang) membawa senjata bambu dan batang besi dibiarkan saja berlenggang oleh aparat keamanan? Lalu, bukankah pusat demo hari itu ada di Monas? Jika demikian, mustahil kiranya jika ada wilayah Monas yang luput dari penjagaan polisi. Selain itu, FPI pun bebas melakukan aksinya selama kurang lebih 20 menit. Suatu durasi waktu yang tentu tidak pendek. Maka, cukup aneh jika diperlukan waktu selama itu bagi aparat keamanan untuk bertindak, mengingat mereka seharusnya tidak jauh dari lokasi kejadian.</p>
<p>Usai massa AKKBB kocar-kacir digebuki tongkat dan diinjak-injak hingga beberapa keluar darahnya,  polisi baru datang. Namun, tidak ada satu pun massa yang melakukan anarkis itu ditangkap. Bahkan, massa FPI dengan santainya tetap berada di lokasi untuk memastikan massa AKKBB bubar dan tidak melanjutkan aksinya.</p>
<p><strong>Negara Hukum atau Negara Preman?</strong><br />
Tentu kita malu sebagai sebuah bangsa yang konon berdasarkan hukum, tapi faktanya gemar mempraktikkan cara-cara preman. Hanya karena menganggap yang lain sesat, lalu kemudian mengabsahkan tindak kekerasan. Padahal sudah jelas bahwa para Founding Fathers mendirikan bangsa ini bukan atas nama agama, ras, suku, ataupun golongan. Tapi bangsa Indonesia didirikan dengan kesadaran dan penerimaan multikultural dan pluralitas.</p>
<p>Jika pemerintah masih berpegang teguh pada prinsip awal pendirian bangsa ini dan menjalankan Pancasila sebagai dasar negara, maka tidak ada pilihan lain kecuali menindak tegas pelaku-pelaku kekerasan dalam insiden Monas tersebut. Dan jika benar FPI yang menaungi itu semua, maka memang sudah layak dibubarkan. Sebab, sekali lagi, ini bukan kali pertamanya mereka melakukan tindak anarkis yang meresahkan masyarakat.</p>
<p>Apalagi, hal itu dilakukan bertepatan dengan peringatan kelahiran Pancasila ke-63 terhadap orang-orang yang hendak memperingatinya. Satu Juni sudah ditetapkan sebagai hari suci bagi bangsa ini, maka siapapun yang menodai kesucian itu berarti sudah tidak menghargai atau bahkan menghina martabat bangsa ini. Kalaupun FPI menuduh AKKBB mengusung isu Ahmadiyah, itu tetap melanggar kebebasan hak warga negara untuk bersuara dan menyampaikan pendapat di muka umum. Bahkan lebih dari itu: membuat rasa tidak aman bagi orang lain.</p>
<p>Kecuali jika pemerintah ingin mencerabut bangsa ini dari konteks kelahirannya, maka silahkan saja membiarkan orang-orang beserta organisasinya yang selama ini gemar melakukan kekerasan dan menebar ketakutan dimana-mana itu terus merajalela. Hingga akhirnya negara ini akan menjadi negara preman; dasar negaranya preman, hukumnya preman, sistemnya preman, perilakunya preman, dan cara berfikirnya preman.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bubarkan FPI!!!!]]></title>
<link>http://pisciotta.wordpress.com/?p=38</link>
<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 10:43:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>mostboy</dc:creator>
<guid>http://pisciotta.wordpress.com/?p=38</guid>
<description><![CDATA[Sebodo amat blog saya dimaki-maki dan dihina serta diprotes.
Sebodo amat saya ditatap dengan keki.
S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sebodo amat blog saya dimaki-maki dan dihina serta diprotes.<br />
Sebodo amat saya ditatap dengan keki.<br />
Sebodo amat dengan semua itu.<br />
Apa yang mereka lakukan benar-benar kelewat batas!<br />
Bubarkan FPI!!!!</p>
<p>Garuda Pancasila, di manakah engkau? Utopia?</p>
<p>Ecrasez l'infame!!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak berdaya melihat KDRT didepan mata]]></title>
<link>http://mimbarsaputro.wordpress.com/?p=1662</link>
<pubDate>Sun, 04 May 2008 04:57:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mimbar SAPUTRO</dc:creator>
<guid>http://mimbarsaputro.wordpress.com/?p=1662</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Tin.tin..&#8221; tiba-tiba mobil ini membunyikan klakson sambil lewat didepans aya yang sedan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://mimbarsaputro.files.wordpress.com/2008/05/dsc00241.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1663" src="http://mimbarsaputro.wordpress.com/files/2008/05/dsc00241.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a>"<span style="color:#0000ff;">Tin.tin..</span>" tiba-tiba mobil ini membunyikan klakson sambil lewat didepans aya yang sedang membungkus sampah dengan plastik hitam agar besok pagi bisa dengan mudah diangkut oleh truk sampah Singapura.</p>
<p>Setelah bermanuver sebentar mobil van tua dengan ban gundul semua ini diparkir didepan rumah kami.</p>
<p>"<em><strong>Slerek</strong></em>," pintu samping kendaraan dibuka oleh pengemudinya seorang lelaki kekar dengan berkaos dan celana pendek sampai dengkul.</p>
<p>Rupanya didalam kendaraan ada seorang bocah perempuan. Lalu sang pengemudi berbicara dalam bahasa Mandarin.  Hanya sebentar sebab suara lelaki ini tiba-tiba meninggi dan ditingkahi suara "klepak" tangan mendarat di tubuh sang anak.</p>
<p>Terdengar teriakan dalam bahasa Mandarin, sekalipun tidak paham sama sekali suara ini lebih cenderung mengiba mohon ampun seorang bocah kesakitan.</p>
<p>Saya menghitung dalam hati "<span style="color:#0000ff;"><strong>perlukan ikut campur dalam urusan ini..</strong></span>" -</p>
<p>Tapi saya baru baca seorang penumpang terlibat baku hantam dengan supir taxi karena sang penumpang yang Jurnalis memukul duluan, maka si pemukul terkena denda 1000 dollar.</p>
<p>Dua anak saya Lia dan Satrio belum pernah sekalipun saya tangani dengan kekerasan. Cukup hardikan mereka sudah mengerti. Sekalipun demikian ada juga tetangga menganalisa bahwa saya termasuk pelaku KDRT - sial bener.</p>
<p>Rupanya sang lelaki, mungkin ayah anak sadar ada yang memperhatikannya.  Ia mendekati saya. Lalu dia mulai bertanya "<em><strong>baru pindah ya, dari mana?</strong></em>" - Dan gantian saya bertanya "<em><strong>yang kamu pukuli tadi anakmu?</strong></em>" - eh dia menjawab "<em><strong>iya?</strong></em>" tanpa rasa salah.</p>
<p>Lalu ia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah mengambil anak-nya yang les "tuition" bahasa Inggris. Gantian dia tanya saya dari mana.  Lalu aku bilang dari Hollanda Village, matanya masih belum memperlihatkan peta virtula koordinat kampung Belanda tersebut. Gampangnya, bilang saja saya dari jakarta - Indonesia. Tidak beberapa lama, anak-anak yang dijemputnya keluar rumah. Termasuk dua anak lelakinya.</p>
<p><a href="http://mimbarsaputro.files.wordpress.com/2008/05/guru_memarahi_muridles.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1666" src="http://mimbarsaputro.wordpress.com/files/2008/05/guru_memarahi_muridles.jpg?w=300" alt="" width="300" height="194" /></a>Nampaknya adegan belum selesai. Kedua kakaknya yang dijemput dan langsung masuk mobil segera diburu oleh guru lesnya. Mereka berdua kelihatannya masih kena marah terlihat dari tangan sang guru perempuan mengancung dan diarahkan kepada mereka. Sang ayah dan ibu nampak tekun mendengarkan wejangan guru terhadap anak-anaknya.</p>
<p>Adiknya yang pertamakali dipukul oleh ayahnya dalam foto berambut panjang dan berbaju merah jambu hanya melihat dari belakang seorang perempuan mungkin ibunya.</p>
<p>Untung Lia sedikit banyak mengerti bahasa Mandarin. Katanya mereka bertiga tidak mengerjakan PR sehingga sang guru menjadi berang.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga]]></title>
<link>http://marzanianwar.wordpress.com/2008/03/20/kisah-kekerasan-dalam-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 14:41:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Marzani Anwar</dc:creator>
<guid>http://marzanianwar.wordpress.com/2008/03/20/kisah-kekerasan-dalam-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[Kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga
Saya yang menulis pengalaman hidup ini, adalah, seorang perempuan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Kekerasan dalam Rumah Tangga</p>
<p>Saya yang menulis pengalaman hidup ini, adalah, seorang perempuan asal Yogyakarta. Saat ini berumur 44 tahun. Alamat sementara, bersama ibu saya di Komplek Kehutanan Baciro, Yogyakarta. Sudah kawin, dengan seorang laki-laki yang asalnya berstatus duda, namanya  Sd. (umur 58 tahun), karyawan PNS, yang belum lama pensiun.<br />
Saya kawin pada than 30 Januari 1998. Saat perkawinan, disaksikan oleh hampir semua saudara kandung saya. Sementara calon suami hanya datang seorang diri dengan ditemani oleh seorang anaknya yang berusia sekitar 9 tahun. Ia  beranak 5 orang dari ketiga isteri sebelumnya. Selama perkawinan kami dikarunia seorang anak laki-laki, yang kini nerusia 8 tahun (lahir 22 September 1999) .<br />
Kami tinggal dalam satu rumah, bersama suami dan keempat anak tiri (karena salah seorang anaknya sudah bekerja di luar kota), menempati rumah berukuran 50 m2 di kampung Bangun Tapan, yang terletak di perbatasan Kab. Bantul dan Yogyakarta. Beberapa perlakuan keras menimpa saya:</p>
<p>1.    Sejak awal kehidupan berumahtangga, anak-anak tiri terutama dua orang yang kebetulan usianya menginjak remaja, sudah menunjukkan rasa permusuhan kepada saya. Kesalahan-kesalahan kecil, misalnya diingatkan supaya segera mandi, membuatnya tersingung, dan kemudian dijadikan alasan untuk marah-marah. Kalau kekerasan anak tiriku itu kami sampaikan kepada suami, justru saya tambah dimarahi dan dimaki-maki. Apalagi sejak kami punya anak. Kalau kami pergi, belanja, atau keluar rumah untuk keperluan lain, anak-anak sering menutup pintu rapat-rapat sehingga kami tidak bisa masuk rumah. Pernah mereka membuang pakaian saya yang  sedang saya jemur.</p>
<p><!--more--></p>
<p>2.    Pernah kami dipukuli suami, tanpa saya ketahui sebab yang sebenarnya.  Awalnya, anak saya sakit panas, kemudian saya beri obat Contrexin seperempat tablet, karena umurnya belum satu tahun. Kemudian saya pergi untuk satu keperluan, dan saya menitipkan kepada kakak-kakaknya agar dijaga baik-baik. Entah disuapi apa oleh anak (tiri) saya itu, ternyata anak saya malah muntah-muntah. Ketika suami pulang kantor, mendapat laporan dari anak tiri saya tersebut, mengenai keadaan si kecil yang muntah-muntah. Ketika suami pulang kanor, kontan saya dituduh “salah” memberi obat. Tanpa mencari tahu lebih jauh, laporan si anak tiriku  dianggap benar. Dengan sertamerta suami memukul saya. Sampai kemudian kami lari dari rumah, dan melapor kepada Polisi Bangun Tapan. Sebelumnya saya juga sudah minta perlindungan kepada tetangga, karena saya termasuk orang baru di kampung tersebut. Namun pihak RT juga tidak ada bantuan pemecahan apa-apa. Sementara laporan saya kepada polisi, hanya ditanggapi biasa-biasa saja, seolah hanya masalah konflik keluarga biasa, tanpa ada upaya melakukan pemanggilan terhadap suami saya yang telah berbuat kekerasan. Akhirnya saya lari ke rumah orang tua, yang tinggal di Baciro, Yogyakarta, yang jaraknya kira-kira 7 km dari Bangun Tapan.</p>
<p>3.    Selang beberapa waktu, suami menjemput kami agar kembali ke Bangun Tapan. Namun kehidupan tetap sama; keempat anak yang usianya, antara 9 s.d. 20 tahun itu kembali memperlakukan saya sebagai “orang lain” dan kasar. Meski kami sudah dengan sekuat tenaga manyayangi mereka, seperti anak sendiri. Dan suami justru seperti berkomplot dengan anak-anak untuk bertindak kasar. Untuk kedua kalinya, kami dipukuli, dan lagi-lagi penyebabnya tidak jelas. Dugaan kuat, adalah laporan anak-anak (tiri) saya yang tidak-tidak, sementara suami saya hanya meng-iyakan saja apa yang disampaikan anak-anak tersebut. Sang suami ternyata tidak lagi bertindak sebagai suami pendamping saya. Tidak juga sebagai kepala rumah tangga yang harus menjaga keutuhan keluarga. Sebaliknya justru sepertinya berkomplot dengan sebagian anak-anaknya untuk memusuhi saya. Saat kami dipukuli, ada seorang teman suami saya melihatnya (namanya Ir. Indarto), karena rumahnya bersebelahan dengan rumah saya. Namun tidak bereaksi apa-apa, malah seakan menutup-nutupi tindak kekerasan itu. Karena saya sudah tidak tahan, kemudian saya lari lagi menuju  rumah tinggal Ibu saya, untuk mendapat perlindungan.</p>
<p>4.    Kekerasan berikutnya, ketika saya masih di rumah Baciro (tepatnya, Jl. Argolubang GK IV/208 Baciro Yogyakarta). Saya diseret dan ditarik rambut saya, kemudian dipukul. Kejadian itu di depan mata ibu saya sendiri, yang usinya 78 tahun. Ibu sudah berusaha melerai, tapi suami tidak peduli. Kemudian saya lapor ke Polresta Danurejan Yogya. Tapi juga tidak ada respon, apalagi penyelesaian. Padahal ibu saya (namanya Ibu Supilah Hadiprawito) dan keponakan saya ( namanya Rahmad Yusuf) siap menjadi saksi.</p>
<p>5.    Setelah lama tinggal di Baciro, saya merindukan anak saya. Kemudian saya kembali ke Bangun Tapan. Untuk menengok anak saya. Namun tidak dibukakan pintu. Padahal hari sudah maghrib, dan saya tidak mungkin lagi kembali ke rumah ibu di Baciro. Akhirnya terpaksa saya tidur di kamar mandi, yang letaknya di luar rumah. Kemudian saya teruskan tidur di Mushala terdekat. Sikap anak-anak tiri saya, sering disertai dengan makian, yang tidak pantas saya tulis di sini.  Meski begitu, lagi-lagi suami tidak merasa iba atau kasihan, bahkan membiarkan diri saya tidur di luar rumahnya, seperti gelandangan. Bagaimana pun kami tidak bisa lari dari kenyataan, sehingga dengan kondisi yang serba mencekam, saya berusaha untuk kembali menapaki kehidupan keluarga, bersama suami,  dan anak-anak.</p>
<p>6.    Karena adanya mutasi pegawai, suami saya kemudian pindah tempat bekerjanya, dari Yogya ke Majenang. Kota kecil yang berjarak kira2 40 km dari Cilacap. Kami sekelurga pun ikut pindah. Kali ini suami, nampaknya menerima saran dari teman-teman pegawainya, untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Sehingga berusaha untuk menjaga keutuhan keluarga, bersama saya dan anak-anak. Sebagai ibu rumah tangga, saya berusaha menyayangi  semua anak-anak, tanpa membedakan anak kandung atau anak tiri. Saya ikut aktif di pengajian RT dan pertemuan arisan ibu-ibu RT. Namun dalam perjalanan waktu, kekerasan iu muncul lagi. Mereka yang memusuhi saya, terutama adalah anak kedua yang berusia  18 tahun. Kalau ada orang tuanya di rumah, anak-anak ini bersikap manis kepada saya. Dan bila ayahnya tidak di rumah,mereka suka mengumpat dan memaki-maki saya. Bahkan pernah menyiram air kotor ke lantai dapur yang baru saja saya pel. Pada Suatu hari anak-anak itu mengusir saya, setelah sebelumnya memaki-maki, sampai saya ketakutan. Karena tidak tahan di rumah, terpaksa saya lari ke Yogya, ke rumah orang tua. Saat terjadi pertengkaran antara aku dengan anak, suami juga melihat. Tetapi bukannya melerai, tetapi ikut mengusir saya..Untuk pergi dari rumah pun saya butuh uang, setidaknya uang transport. Karena tidak ada uang sama sekali, maka kujual cincin pemberian ibu saya, agar bisa untuk transport ke Yogya. Kemudian kakak saya yang tinggal di Malang menjemput saya agar tinggal bersamanya untuk beberapa lama. Sewaktu di Malang, saya menderita sakit, sampai harus opname di Rumah Sakit. Kemudian suami saya surati, agar membesuknya. Namun tidak juga datang, dan surat pun tidak dibalas sama sekali. Hampir satu tahun kami tinggal di sana, tetapi suami tidak pernah berupaya mencari tahu apalagi menanyakan keberadaan saya. Setelah itu, saya kembali ke Majenang, karena sangat rindu kepada anak saya. Sementara suami saya juga sudah bersikap agak dingin. Tidak nampak lagi sikap kasarnya.</p>
<p>7.    Selama tinggal bersama anak-anak di Majenang, kami berupaya sekuat tenaga untuk menyayangi anak-anak. Kami tidak pernah memandang ia anak tiri atau bukan, semua saya sayangi. Bahkan untuk mencarikan sekolah dan beaya sekolah mereka, segala cara kami lakukan demi mensukseskan mereka. Kami tidak malu-malu memimta bantuan kakak-kakak saya, di Jakarta atau Malang untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena kami memaklumi, pendapatan suami sebagai PNS Gol. III b tentu tidak mencukupi beaya hidup keluarga. Sebagai warga masyarakat kami pun aktif dalam kegiatan, terutama arisan ibu-ibu RT dan pengajian setiap malam Jum’at, bersama warga lain. Para tetangga kami, menjadi saksi, betapa kami adalah bagian dari mereka sebagai warga yang saling menjaga  diri dan bantu membantu dalam masalah-masalah sosial. Kami merasa sudah maksimal untuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tidak lupa, sebagai hamba Allah, aku berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Setiap malam kami bangun untuk shalat tahajud, dilanjutkan dengan doa, memohon perlindungan dan memelihara ketentraman seluruh keluarga. Kebiasaan itu membuat kami semakin tabah dalam menerima beban-beban hidup. Namun setabah-tabahnya saya, apabila diteror setiap hari dan diperlakukan kasar oleh pasangan hidup, kami merasa tidak sanggup menahannya. Masalah lama yang kami hadapai muncul lagi, yakni sikap keras suami, dan tentangan anak tiri kami.  Perkara-perkara kecil di dalam rumah, semisal, ditegor karena masakan tidak cocok, kemudian dijadikan bahan pertengkaran. Kadang kami dimaki-maki, dan dibilang “ tolol…, tidak becus ngurusi rumah tangga, dsb..”, hanya karena saya menanyakan soal uang belanjanya. Sering juga, perlakuan kasar atau tanpa sebab yang jelas, suami selalu membela apapun sikap dan tindakan anaknya, terutama yang bernama Rini (usia 28 tahun). Ia sering melaporkan hal-hal jelek mengenai diri saya. Suami saya bukannya mencari kebenaran atau menengahi, tapi justru lebih percaya pada apa saja yang disampaikan anaknya. Sementara penjelasan saya tidak pernah diperhatikan. Kemarahan secara tiba-tiba, sudah menjadi langganan kami, tanpa saya ketahui ujung pangkalnya. Suatu hari, saya dilempar sebuah golok, yakni alat tajam yang biasa digunakan buat menebang pohon. Lemparan itu  nyaris mengenai punggung saya. Lagi-lagi itu pun tidak kami ketahui sebabanya. Saat itu saya sedang masak di dapur. Namun alhamdulillah Tuhan masih melindungi saya. Karena golok tajam tersebut tidak sampai menancap dipunggung saya, tetapi terlempar di sisi kanan saya.</p>
<p>8.    Suatu sore, tanggal 14 Juli 2003, ketika kami akan berangkat untuk pertemuan arisan ibu-ibu RT, saya sedang merapikan baju yang saya pakai. Kemudian suami menegor, katanya baju yang kami pakai kurang pantes. Lalu saya bilang: “ bagi saya berpakaian begini sudah cukup, (kami pakai baju panjang dan mengenakan jilbab). Jawaban itu bukannya membuat suami berhenti mempermasalahkan, tetapi justru membuat ia tersinggung, kemudian marah-marah, dan sambil memaki saya. Ia mengamuk dan melempari kursi kayu hingga kursi itu rusak, untungnya saya bisa menghindar. Saya diusir dengan ucapan kasar: “minggat sana dari rumah ini untuk selama-lamanya dan jangan kembali lagi ke Majenang”. Saya sangat ketakutan dan gemetaran melihat kebringasan suami. Biasanya kalau sudah begitu, diteruskan dengan memukuli saya. Maka saya terus lari ke rumah tetangga, minta perlindungan. Tetangga tersebut sangat baik kepada saya, dan sudah lama menaruh kasihan pada keadaan saya. Dengan bekal sekenanya, baju pun hanya yang menempel di tubuh saya. Bekal uang juga tidak ada. Akhirnya kami dipinjami uang untuk bisa meninggalkan rumah. Dengan uang sebesar 150 ribu rupiah kami menyelamatkan diri ke Jakarta, tempat tinggal  kakak saya. Termasuk yang saya tinggalkan adalah anak saya, yang berusia 5 tahun tersebut.</p>
<p>9.    Hingga saya menulis ini, saya masih merasa di pengasingan. Kami merasa terlalu lemah untuk kembali meneruskan kehidupan rumah tangga kami. Sudah terlalu sering saya dikhianati oleh suami dan anak tiri. Sudah terlalu banyak perlakukan kasar menimpa saya. Tetapi saya juga tidak tahu harus ke mana kami menyampaikan pengaduan. Sementara saya merindukan anak saya, darah daging saya, dan tidak menginginkan ia dididik di lingkungan yang kasar seperti itu.<br />
10.    Saya merasa terjebak, kawin dengan seorang laki-laki kasar yang doyan kawin.. Dan saya pun hampir tidak mungkin lagi hidup bersama. Saya sudah tidak tahan menghadapi anak-anak tiri yang sejak awal nampaknya sudah tidak suka kalau bapaknya kawin lagi. Saya juga merasa tidak sanggup kalau harus hidup bersama mereka, terutama menyangkut kemampuan ekonomi. Sampai saat ini saya tidak memiliki penghasilan sendiri.</p>
<p>Sampai di sini saya akhiri penuturan pengalaman ini. Semoga tidak terjadi pada orang lain.</p>
<p>Jogyakarta, Maret 2008, 2008</p>
<p>Hastutik.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tak Hanya Dipukuli, Praja IPDN Juga Mengalami Pemerasan]]></title>
<link>http://ipdnwatch.wordpress.com/2007/07/28/tak-hanya-dipukuli-praja-ipdn-juga-mengalami-pemerasan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 09:19:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>birokrat</dc:creator>
<guid>http://ipdnwatch.wordpress.com/2007/07/28/tak-hanya-dipukuli-praja-ipdn-juga-mengalami-pemerasan/</guid>
<description><![CDATA[
Medan - Masalah yang menimpa para praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang dulu bern]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2" face="Arial"></p>
<p align="justify">Medan <font size="2" face="Arial">- <strong><font color="#ffff00">Masalah yang menimpa para praja di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN), ternyata tidak hanya masalah kekerasan, tetapi juga pemerasan. </font></strong></font></p>
<p></font><font size="2" color="#ffffff" face="Arial">Salah satunya dialami seorang praja asal Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut).</font><font color="#ffffff"> </font></p>
<p align="justify"><font color="#ffffff">Mora Bumi Nasution, 23 tahun, praja asal Tebing Tinggi, akhirnya memilih kabur dari kampus STPDN hanya tiga bulan setelah dia masuk ke STPDN pada tahun 2002.</font> <strong><font color="#ffff00">"Pemerasan itu dilakukan senior dengan cara meminta uang. Lalu uang itu dikirim ke langsung ke rekening senior,"</font></strong> <font color="#ffffff">kata Mora Bumi Nasution kepada wartawan, Rabu (18/4/2007) di Kota Tebing Tinggi, sekitar 80 kilometer dari Medan, ibukota Sumut.</font></p>
<p align="justify"><font color="#ffffff">Mora mengaku tidak ingat berapa jumlah yang pernah dikirimkan ke rekening seniornya itu, tetapi jumlahnya di bawah Rp 1 juta. Namun yang membuatnya kabur adalah tindak kekerasan yang dialaminya.</font></p>
<p align="justify"><strong><font color="#ffff99"></font><font color="#ffff00">Selama tiga bulan berada di lembaga pendidikan yang berada di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat tersebut hampir setiap hari mengalami pemukulan, tanpa alasan yang jelas</font>.</strong></p>
<p><strong><font color="#ffff00">"Akibat pemukulan, sampai sekarang saya sering mengalami nyeri di dada </font></strong><font size="2" face="Arial"><strong><font color="#ffff00">dan ulu hati,"</font></strong> </font><font color="#ffffff">kata Mora yang kini melanjutkan kuliah di sebuah universitas</font><font color="#ffffff"> swasta.</font> <font size="1" face="Arial">(rul/bal)</font><font size="1" color="#ffffff" face="Arial">Khairul Ikhwan -detikcom</font></p>
<p><a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/19/time/013534/idnews/769442/idkanal/10">http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/19/time/013534/idnews/769442/idkanal/10</a></p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
