<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ogoh-ogoh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ogoh-ogoh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ogoh-ogoh"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 02:40:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka]]></title>
<link>http://sahuta.wordpress.com/?p=132</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 03:19:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>sahuta</dc:creator>
<guid>http://sahuta.id.wordpress.com/2008/08/25/hari-raya-nyepi-dan-tahun-baru-saka/</guid>
<description><![CDATA[Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3077/2794423361_a7ba91ce1f_o.gif"><img class="alignleft" src="http://farm4.static.flickr.com/3077/2794423361_a7ba91ce1f_o.gif" alt="" width="131" height="175" /></a>Weda Sruti merupakan sumber dari segala sumber ajaran Hindu. Weda Sruti berasal dari Hyang Maha Suci/Tuhan Yang Maha Esa (divine origin). Mantra Weda Sruti tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang. Karena mantra-mantranya ada yang bersifat pratyaksa (yang membahas obyek yang dapat diindra langsung oleh manusia), ada yang bersifat adhyatmika, membahas aspek kejiwaan yang suci (atma) dan ada yang bersifat paroksa, yaitu yang membahas aspek yang tidak dapat diketahui setelah disabdakan maknanya oleh Tuhan. Tingkatan isi Weda yang demikian itu menyebabkan maharsi Hindu yang telah samyajnanam membuat buku-buku untuk menyebarkan isi Weda Sruti agar mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang yang hendak mempelajarinya. Kitab yang merupakan penjabaran Weda Sruti ini adalah Upaveda, Vedangga, Itihasa dan Purana. Semua kitab ini tergolong tafsir (human origin).<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu unsur dari kelompok kitab Vedangga adalah Jyotesha. Kitab ini disusun kira-kira 12.000 tahun sebelum masehi yang merupakan periode modern Astronomi Hindu (India). Dalam periode ini dibahas dalam lima kitab yang lebih sistimatis dan ilmiah yang disebut kitab Panca Siddhanta yaitu: Surya Siddhanta, Paitamaha Siddhanta, Wasista Siddhanta, Paulisa Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Dari Penjelasan ringkas ini kita mendapat gambaran bahwa astronomi Hindu sudah dikenal dalam kurun waktu yang cukup tua bahkan berkembang serta mempengaruhi sistem astronomi Barat dan Timur.</p>
<p style="text-align:justify;">Prof. Flunkett dalam bukunya Ancient Calenders and Constellations (1903) menulis bahwa Rsi Garga memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang astronomi di abad pertama sebelum masehi. Lahirnya Tahun Saka di India jelas merupakan perwujudan dari sistem astronomi Hindu tersebut di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Eksistensi Tahun Saka di India merupakan tonggak sejarah yang menutup permusuhan antar suku bangsa di India. Sebelum lahirnya Tahun Saka, suku bangsa di India dilanda permusuhan yang berkepanjangan. Adapun suku-suku bangsa tersebut antara lain: Pahlawa, Yuehchi, Yuwana, Malawa dan Saka. Suku-suku bangsa tersebut silih berganti naik tahta menundukkan suku-suku yang lain. Suku bangsa Saka benar-benar bosan dengan keadaan permusuhan itu. Arah perjuangannya kemudian dialihkan, dari perjuangan politik dan militer untuk merebut kekuasaan menjadi perjuangan kebudayaan dan kesejahteraan. Karena perjuangannya itu cukup berhasil, maka suku Bangsa Saka dan kebudayaannya benar-benar memasyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 125 SM dinasti Kushana dari suku bangsa Yuehchi memegang tampuk kekuasaan di India. Tampaknya, dinasti Kushana ini terketuk oleh perubahan arah perjuangan suku bangsa Saka yang tidak lagi haus kekuasaan itu. Kekuasaan yang dipegangnya bukan dipakai untuk menghancurkan suku bangsa lainnya, namun kekuasaan itu dipergunakan untuk merangkul semua suku-suku bangsa yang ada di India dengan mengambil puncak-puncak kebudayaan tiap-tiap suku menjadi kebudayaan kerajaan (negara).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 79 Masehi, Raja Kaniska I dari dinasti Kushana dan suku bangsa Yuehchi mengangkat sistem kalender Saka menjadi kalender kerajaan. Semenjak itu, bangkitlah toleransi antar suku bangsa di India untuk bersatu padu membangun masyarakat sejahtera (Dharma Siddhi Yatra). Akibat toleransi dan persatuan itu, sistem kalender Saka semakin berkembang mengikuti penyebaran agama Hindu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada abad ke-4 Masehi agama Hindu telah berkembang di Indonesia Sistem penanggalan Saka pun telah berkembang pula di Indonesia. Itu dibawa oleh seorang pendeta bangsa Saka yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa Gujarat (India) yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 456 Masehi.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah awal mula perkembangan Tahun Saka di Indonesia. Pada zaman Majapahit, Tahun Saka benar-benar telah eksis menjadi kalender kerajaan. Di Kerajaan Majapahit pada setiap bulan Caitra (Maret), Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Di alun-alun Majapahit, berkumpu seluruh kepala desa, prajurit, para sarjana, Pendeta Siwa, Budha dan Sri Baginda Raja. Topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah tentang peningkatan moral masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Perayaan Tahun Saka pada bulan Caitra ini dijelaskan dalam Kakawin Negara Kertagama oleh Rakawi Prapanca pada Pupuh VIII, XII, LXXXV, LXXXVI - XCII. Di Bali, perayaan Tahun Saka ini dirayakan dengan Hari Raya Nyepi berdasarkan petunjuk Lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala. Hari Raya Nyepi ini dirayakan pada Sasih Kesanga setiap tahun. Biasanya jatuh pada bulan Maret atau awal bulan April. Beberapa hari sebelum Nyepi, diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilangsungkan pada tilem kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan sasih kadasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Santi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan Hidup</p>
<p style="text-align:justify;">Muwujudkan kesejahteraan lahir batin atau jagadhita dan moksha merupakan tujuan agama Hindu. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, umat Hindu wajib mewujudkan 4 tujuan hidup yang disebut Catur Purusartha atau Catur Warga yaitu dharma, artha, kama dan moksha. Empat tujuan hidup ini dijelaskan dalam Brahma Sutra, 228, 45 dan Sarasamuscaya 135.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut agama, tujuan hidup dapat diwujudkan berdasarkan yajña. Tuhan (Prajapati), manusia (praja) dan alam (kamadhuk) adalah tiga unsur yang selalu berhubungan berdasarkan yajña. Hal ini tersirat dalam makna Bhagavadgita III, 10: manusia harus beryajña kepada Tuhan, kepada alam lingkungan dan beryajña kepada sesama. Tawur kesanga menurut petunjuk lontar Sang-hyang Aji Swamandala adalah termasuk upacara Butha Yajña. Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).</p>
<p style="text-align:justify;">"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani."</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.</p>
<p style="text-align:justify;">"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha."</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align:justify;">Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:</p>
<p style="text-align:justify;">"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan."</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Upacara Butha Yajña pada tilem kasanga bertujuan memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lontar Eka Pratama dan Usana Bali disebutkan, Brahma berputra tiga orang yaitu: Sang Siwa, Sang Budha dan Sang Bujangga. Ketiga putra beliau ini diberi tugas untuk amrtista akasa, pawana, dan sarwaprani. Oleh karena itu, pada saat upacara Tawur Kesanga, upacara dipimpin oleh tiga pendeta yang disebut Tri Sadaka. Beliau menyucikan secara spiritual tiga alam ini: Bhur Loka, Bhuwah Loka dan Swah Loka. Sebelum dilaksanakan Tawur Kesanga, dilangsungkanlah upacara Melasti atau Melis. Tujuan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swa-mandala sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.</p>
<p style="text-align:justify;">Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:</p>
<p style="text-align:justify;">Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Ka-mandalu) di tengah-tengah samudra.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi tujuan Melasti adalah untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah Samudra. Samudra adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudra kehi-dupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tanggal satu sasih kadasa, dilaksanakanlah brata penye-pian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">"....enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan."</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: "....besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat agama melak-sanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian."</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, brata penyepian dilakukan dengan tidak menyalakan api dan sejenisnya, tidak bekerja terutama bagi umat kebanyakan. Sedangkan bagi mereka yang sudah tinggi rohaninya, melakukan yoga tapa dan samadhi. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi catur brata penyepian untuk umat pada umumnya yaitu: amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan. Inilah brata penyepian yang wajib dilakukan umat Hindu pada umumnya. Sedangkan bagi umat yang telah memasuki pendidikan dan latihan yang menjurus pada kerohanian, pada saat Nyepi seyogyannya melakukan tapa, yoga, samadhi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan utama brata penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan yang akan datang. Bhuta Yajña (Tawur Kesanga) mempunyai arti dan makna untuk memotivasi umat Hindu secara ritual dan spiritual agar alam senantiasa menjadi sumber kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata "tawur" berarti mengembalikan atau membayar. Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil akan mengendap dalam jiwa atau dalam karma wasana. Perbuatan mengambil perlu dimbangi dengan perbuatan memberi, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan memberi perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti Tawur Kesanga bermakna memotivasi ke-seimbangan jiwa. Nilai inilah tampaknya yang perlu ditanamkan dalam merayakan pergantian Tahun Saka</p>
<p style="text-align:justify;">Menyimak sejarah lahirnya, dari merayakan Tahun Saka kita memperoleh suatu nilai kesadaran dan toleransi yang selalu dibutuhkan umat manusia di dunia ini, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Umat Hindu dalam zaman modern seka-rang ini adalah seperti berenang di lautan perbedaan. Persamaan dan perbedaan merupakan kodrat. Persamaan dan perbedaan pada zaman modern ini tampak semakin eksis dan bukan merupakan sesuatu yang negatif. Persamaan dan perbedaan akan selalu positif apabila manusia dapat memberikan proporsi dengan akal dan budi yang sehat. Brata penyepian adalah untuk umat yang telah meng-khususkan diri dalam bidang kerohanian. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai Nyepi dapat dijangkau oleh seluruh umat Hindu dalam segala tingkatannya. Karena agama diturunkan ke dunia bukan untuk satu lapisan masyarakat tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaksanaan Upacara</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Melasti dilakukan antara empat atau tiga hari sebelum Nyepi. Pelaksanaan upacara Melasti disebutkan dalam lontar Sundarigama seperti ini: "....manusa kabeh angaturaken prakerti ring prawatek dewata."</p>
<p style="text-align:justify;">Di Bali umat Hindu melaksanakan upacara Melasti dengan mengusung pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya dengan hati tulus ikhlas, tertib dan hidmat menuju samudra atau mata air lainnya yang dianggap suci. Upacara dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama menghadap laut. Setelah upacara Melasti usai dilakukan, pratima dan segala perlengkapannya diusung ke Balai Agung di Pura Desa. Sebelum Ngrupuk atau mabuu-buu, dilakukan nyejer dan selama itu umat melakukan persembahyangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Melasti ini jika diperhatikan identik dengan upacara Nagasankirtan di India. Dalam upacara Melasti, pratima yang merupakan lambang wahana Ida Bhatara, diusung keliling desa menuju laut dengan tujuan agar kesucian pratima itu dapat menyucikan desa. Sedang upacara Nagasankirtan di India, umat Hindu berkeliling desa, mengidungkan nama-nama Tuhan (Namas-maranam) untuk menyucikan desa yang dilaluinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rangkaian Nyepi di Bali, upacara yang dilakukan berda-sarkan wilayah adalah sebagai berikut: di ibukota provinsi dilaku-kan upacara tawur. Di tingkat kabupaten dilakukan upacara Panca Kelud. Di tingkat kecamatan dilakukan upacara Panca Sanak. Di tingkat desa dilakukan upacara Panca Sata. Dan di tingkat banjar dilakukan upacara Ekasata.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan di masing-masing rumah tangga, upacara dilakukan di natar merajan (sanggah). Di situ umat menghaturkan segehan Panca Warna 9 tanding, segehan nasi sasah 100 tanding. Sedangkan di pintu masuk halaman rumah, dipancangkanlah sanggah cucuk (terbuat dari bambu) dan di situ umat menghaturkan banten daksina, ajuman, peras, dandanan, tumpeng ketan sesayut, penyeneng jangan-jangan serta perlengkapannya. Pada sanggah cucuk digantungkan ketipat kelan (ketupat 6 buah), sujang berisi arak tuak. Di bawah sanggah cucuk umat menghaturkan segehan agung asoroh, segehan manca warna 9 tanding dengan olahan ayam burumbun dan tetabuhan arak, berem, tuak dan air tawar.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah usai menghaturkan pecaruan, semua anggota keluarga, kecuali yang belum tanggal gigi atau semasih bayi, melakukan upacara byakala prayascita dan natab sesayut pamyakala lara malaradan di halaman rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Upacara Bhuta Yajña di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, dilaksanakan pada tengah hari sekitar pukul 11.00 - 12.00 (kala tepet). Sedangkan di tingkat desa, banjar dan rumah tangga dilaksanakan pada saat sandhyakala (sore hari). Upacara di tingkat rumah tangga, yaitu melakukan upacara mecaru. Setelah mecaru dilanjutkan dengan ngrupuk pada saat sandhyakala, lalu mengelilingi rumah membawa obor, menaburkan nasi tawur. Sedangkan untuk di tingkat desa dan banjar, umat mengelilingi wilayah desa atau banjar tiga kali dengan membawa obor dan alat bunyi-bunyian. Sejak tahun 1980-an, umat mengusung ogoh-ogoh yaitu patung raksasa. Ogoh-ogoh yang dibiayai dengan uang iuran warga itu kemudian dibakar. Pembakaran ogoh-ogoh ini meru-pakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena bukan sarana upacara, ogoh-ogoh itu diarak setelah upacara pokok selesai serta tidak mengganggu ketertiban dan kea-manan. Selain itu, ogoh-ogoh itu jangan sampai dibuat dengan memaksakan diri hingga terkesan melakukan pemborosan. Karya seni itu dibuat agar memiliki tujuan yang jelas dan pasti, yaitu memeriahkan atau mengagungkan upacara. Ogoh-ogoh yang dibuat siang malam oleh sejumlah warga banjar itu harus ditampilkan dengan landasan konsep seni budaya yang tinggi dan dijiwai agama Hindu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, lalu bagaimana pelaksanaan Nyepi di luar Bali? Rangkaian Hari Raya Nyepi di luar Bali dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi di Jakarta misalnya, jelas tidak bisa dilakukan seperti di Bali. Kalau di Bali, tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus), namun di Jakarta hal serupa jelas tidak bisa dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Amati geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).</li>
<li>Amati karya (tidak bekerja), menyepikan indria.</li>
<li>Amati lelungan (tidak bepergian).</li>
<li>Amati lelanguan (tidak mencari hiburan).</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang terpenting, Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Untuk melak-sanakan Nyepi yang benar-benar spritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.</p>
<p style="text-align:justify;">Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam. Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksana-kan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebesan rohani itu memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikh-lasan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">sumber : http://balebanjar.com</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ogoh-Ogoh Performance]]></title>
<link>http://balistarisland.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 11:01:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>ketutsuparta</dc:creator>
<guid>http://balistarisland.id.wordpress.com/2008/04/25/ogoh-ogoh-performance/</guid>
<description><![CDATA[Ogo – Ogoh is giant monster idol symbolizing the evil influence. Its performance is held the day b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:book antiqua,palatino;"><img src="http://amadeo.blog.com/repository/767414/1851728.jpg" alt="Bali News, Ogoh-Ogoh - Balistarisland.com" align="left" /></span></span><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:book antiqua,palatino;">Ogo – Ogoh is giant monster idol symbolizing the evil influence. Its performance is held the day before the Nyepi Day / silence day by pageant this idol to surround the village and accompanied by the noise of Balinese Gamelan. This event is executed in conjunction with Tawur Kesanga by scarification ceremony that commonly called Caru. Villagers will hold a colorful and noisy procession with fire torches and </span><a title="Bali News" href="http://www.balistarisland.com/Balinews/BaliNews-Apr0602.htm" target="_blank"><span style="font-family:book antiqua,palatino;">Ogoh-Ogoh</span></a><span style="font-family:book antiqua,palatino;"> giant monster effigy prepared painstakingly in advance and taking the form of demon characters as symbol of evil. The spirits are neutralized by symbolically burning the Ogoh-Ogoh. The day after the Ogoh-Ogoh Pageant is the main holiday that is called Nyepi Day or silence day where all activities are stopped within 24 hours with no fire, no work, no entertainment, no traveling and no pleasure. On this day, all Balinese do the meditation to introspect them self from the activities they have done last year and hope that they can obtain a better life with a good manner.</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nyepi di Bali]]></title>
<link>http://darmansyah.wordpress.com/2008/03/12/21/</link>
<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 02:25:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>darmansyah</dc:creator>
<guid>http://darmansyah.id.wordpress.com/2008/03/12/21/</guid>
<description><![CDATA[
 



Dari Rabu hingga Sabtu minggu lepas aku bercuti honeymoon kat Bali. ke sana semata2 ingin meli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://darmansyah.wordpress.com/files/2008/03/img_0004.jpg" title="img_0004.jpg"><img src="http://darmansyah.wordpress.com/files/2008/03/img_0004.jpg" alt="img_0004.jpg" /><br />
</a><a href="http://darmansyah.wordpress.com/files/2008/03/img_0017.jpg" title="img_0017.jpg"><img src="http://darmansyah.wordpress.com/files/2008/03/img_0017.jpg" alt="img_0017.jpg" /> </a><a href="http://www.flickr.com/photos/darmansyahcom/2328218952/" title="Nyepi Eve by Darmansyah, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3243/2328218952_808031599c.jpg" alt="Nyepi Eve" height="333" width="500" /></a><br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/darmansyahcom/2328299160/" title="Ogoh Ogoh by Darmansyah, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2221/2328299160_de65bb47c7.jpg" alt="Ogoh Ogoh" height="500" width="333" /></a><br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/darmansyahcom/2327404875/" title="A devotee by Darmansyah, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2019/2327404875_90ba9562ef.jpg" alt="A devotee" height="500" width="333" /></a><br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/darmansyahcom/2327410975/" title="A devotee by Darmansyah, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3016/2327410975_aba6947eec.jpg" alt="A devotee" height="500" width="333" /></a></p>
<p>Dari Rabu hingga Sabtu minggu lepas aku bercuti honeymoon kat Bali. ke sana semata2 ingin melihat Hari Nyepi di Bali ini bagaimana keadaanya.Ternyata betul2 sepi.ehehe..Bagus untuk orng yg nak honeymoon mcm aku.</p>
<p>Sehari sebelum Nyepi di bali, masyarakat Hindu di bali membuat persiapan untuk merayakan malam tahun baru Saka di mana mereka akan membawa Ogoh2 (sejenis patung berbentuk setan) yg di arak ke merata jalan bagi menghalau setan2 ini dari rumah mereka. Di fahamkan, Ogoh2 ini akan di bakar 2hari selepas festival ini.</p>
<p>Hari Nyepi adalah hari tahun baru untuk masyarakat Hindu di Bali yg merayakan tahun baru Saka pada tahun ini.</p>
<p>Untuk melihat lebih bnyak gambar,sila klik kat Flickr aku la..<br />
<a href="http://www.flickr.com/photos/darmansyahcom/"><img src="http://img253.imageshack.us/img253/7720/33733355ck4.jpg" height="40" width="98" /> </a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sundari Laksana;    Potret Anak-Anak Yang Belajar Kerjasama Atas Nama Tradisi  ]]></title>
<link>http://okanegara.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Sun, 09 Mar 2008 04:03:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>okanegara</dc:creator>
<guid>http://okanegara.id.wordpress.com/2008/03/09/sundari-laksana-potret-anak-anak-yang-belajar-kerjasama-atas-nama-tradisi/</guid>
<description><![CDATA[
Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai post]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="low-siap-berangkat.jpg" href="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-siap-berangkat.jpg"><img src="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-siap-berangkat.jpg" alt="low-siap-berangkat.jpg" /></a></p>
<p>Ada yang menarik terlihat waktu itu di sekitar rumah saya sehari menjelang Nyepi. Saat selesai posting di blog untuk memuat puisi Hari Nyepi yang dikirim Cok Sawitri beberapa waktu lalu, sekaligus juga memuat tulisan Bapak Ketut Wiana tentang Hari Nyepi. Sekelompok anak berbaju merah, memakai udeng dan kamen, asik berembug di depan sebuah ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh yang tidak terlalu besar, tampak kurus dan sama sekali tidak menyeramkan seperti ogoh-ogoh lain. Malah terlihat lucu dan imut. Semua orang di Bali pasti tahu kalau hari itu adalah hari “pengerupukan”, hari yang dikenal dengan pawai ogoh-ogohnya, hari yang sangat dinanti-nantikan, walau menurut saya mungkin tidak banyak yang mengerti makna sebenarnya.</p>
<p align="left">“<em>Om jadi ya fotoin Omang</em>” ujar Omang Yoga, yang paling kecil di antara kelompok anak ini. Dia satu-satunya yang tidak memakai udeng. Omang Yoga baru tujuh tahun, masih duduk di kelas satu, di SD Negeri 3 Panjer. Tadi memang saya mendadak dicari oleh anak-anak ini, diminta sekedar membuat foto-foto, buat dokumentasi mereka sore ini. Dan saya mengiyakan. Anak-anak ini masih belum cukup besar untuk ukuran sebuah tim pengarak ogoh-ogoh. Tetapi mereka kompak sekali. Yang paling besar paling-paling baru berumur 11 tahun. Mereka; Candra-kakak kandung Omang Yoga, Dek Pong, Dek Agus,  Surya, Tu Cahya, Kuduk, Asek, Erik dan Ancis. Rata-rata bersekolah di SD Negeri 3 Panjer dan sebagian lagi di SD Negeri 6 Panjer. Mereka tinggal di seputaran Jalan Waturenggong, masih satu banjar, Banjar Kaja Desa Pakraman Panjer. “<em>Om Oka, yang bagus naēē fotonya..”</em> pinta Omang Yoga dan Dek Agus hampir berbarengan.<!--more--></p>
<p align="left">Sebenarnya Desa Pakraman Panjer tahun ini mengambil keputusan untuk meniadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh lagi. Hal ini dikonfirmasi oleh Bapak Ketut Sukanata, SH yang sempat ditemui. Dia yang sehari-hari aktif di LSM PKBI Bali, juga menjadi Penyarikan II di Desa Pakraman Panjer. “<em>Desa Pakraman Panjer tidak lagi mengadakan lomba dan pawai ogoh-ogoh. Setelah ditelusuri di sumber-sumber sastra agama memang tidak ada pengharusan untuk membuat dan melakukan pawai ogoh-ogoh</em>” katanya. “<em>Walaupun sebenarnya belum pernah terjadi hal-hal buruk yang ekstrim akibat pawai ogoh-ogoh ini di Panjer, tetapi karena sebagian besar yang membuatnya adalah anak muda atau dewasa muda, beberapa kali menjadi lepas kendali dan lebih fokus ke persiapan pawai ogoh-ogohnya dibandingkan dengan konsentrasi ke rangkaian tradisi upacara Nyepi di desa</em>” tambahnya. Memang benar demikian adanya. Terlebih Desa Pakraman Panjer memiliki keunikan tersendiri di saat rangkaian pecaruan, yang disebut dengan ritual “meburu”, sebuah prosesi “nyomia butha kala”. Nyomia bhuta kala maksudnya adalah menenangkan butha kala dan kekuatan jahat lainnya agar tidak mengganggu prosesi menuju brata penyepian esok harinya dengan maksud agar tercipta kedamaian dan keheningan, terutama di lingkungan Desa Pakraman Panjer. Rentang wilayah spiritualnya mulai dari area Pura Bale Agung (tengah desa)-di Jalan Tukad Pakerisan, hingga Pura Tegal Penangsaran (perbatasan desa)- di wilayah barat Jalan Waturenggong. “<em>Tradisi ini penuh dengan ritual unik yang perlu dipersiapkan dengan baik, apalagi hari Sabtu setelah Nyepi adalah puncak Piodalan Pura Tegal Penangsaran</em>” tambahnya lagi.</p>
<p align="left">Namun, kelompok anak ini dengan penuh semangat sejak jauh hari sebelumnya tetap bertekad untuk membuat ogoh-ogoh dan siap mengaraknya. Mereka sudah bersemangat sejak dari merencanakan, membuat ogoh-ogoh dan sekarang sudah siap tempur untuk mengarak ogoh-ogoh bikinan mereka sendiri, tentunya di sana sini  masih dibantu orang dewasa juga. Mereka telah memikirkan semua identitas mereka dalam “aksi” mereka malam itu. Mereka menyebut kelompoknya dengan nama “Sundari Laksana”, yang menurut Candra diambil dari nama kelompok mereka di kelompok gamelan anak di Banjar, karena tim ini memang punya aktivitas juga sebagai sekaa (tim) gamelan anak di Banjar Kaja. Kelompok Sundari Laksana menyeragamkan dirinya dengan dress code merah-merah. Lucunya, semua pakaian atasnya dipakai secara terbalik. Bagian dalam keluar. “<em>Merah kan berani. Terus bajunya supaya kelihatan seragam Om, biar nggak kelihatan gambar-gambar yang ada di baju</em>” ujar Dek Pong.</p>
<p align="left"><a title="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" href="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg"><img src="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-ogoh2-butakala-sangut-megel.thumbnail.jpg" alt="low-ogoh2-butakala-sangut-megel.jpg" align="left" /></a>Ogoh-ogoh yang mereka buat, sekali lagi, jauh dari kesan menyeramkan. Ogoh-ogoh setinggi kurang lebih dua meter itu terlihat bersih, kepala dari bahan gabus dibuat rada besar dengan wajah diwarna merah, lugu, berekspresi dingin, bermata tiga,  dan menggunakan udeng batik coklat (udeng yang dipakai ternyata udeng kakeknya Omang Yoga). Badannya kurus, bertelanjang badan, hanya menggunakan kamen pendek warna tridatu. Menggunakan asesoris keemasan dari kertas prada di leher, pinggang dan gelang kain tridatu di pergelangan tangan-kaki. Semua kuku dibuat besar-besar berwarna putih bersih. Seluruh telapak tangan dan kaki diwarna merah. Itu saja. Sangat sederhana. Musik pengiringnya dipakai sebuah kentongan bambu saja. Omang Yoga nanti yang bertugas membawa kentongan ini.  Tidak salah juga, karena kesederhanaan dan jauh dari kesan seram, nama yang dipilih untuk ogoh-ogohnya juga yang tidak seram. Namanya “Bhuta Kala Sangut Megel”.</p>
<p align="left">Coba kita dengarkan apa jawaban mereka dari pertanyaan tentang aksi mereka hari itu. Saya memulai pertanyaan dengan kenapa mereka ingin sekali membuat ogoh-ogoh. <em>“Kepingin buat sendiri, Om! Biar nggak cuma nonton saja!”</em> jawab Candra dan Dek Agus, yang dibenarkan oleh temannya yang lain. <em>“Buat ikut memeriahkan sebelum Nyepi, kan tradisi Om”</em> tambah Tu Cahya.<em> “Nggak dimarahin sama Bapak sama Ibu?”</em> saya tanya lagi. <em>“Nggak!”</em> jawab mereka kompak. <em>“ Kan kita bikinnya yang lucu, bukan yang bhuta kala biasa”</em> kata Candra. Memang mereka ini dapat dukungan dari orang tua mereka, terutama dari kakeknya Candra, Pekak Redon. Yang juga kakeknya Dek Pong, Dek Agus, Surya dan Omang Yoga. Mereka ini masih saudara sepupu. Mereka bilang pembuatan ogoh-ogoh ini dipantau oleh kakek waktu pengerjaannya. “<em>Terus, dapat duit dari mana buat bikin ogoh-ogohnya?”</em> tanya saya lagi. <em>“Minta sumbangannnn…”</em> jawab mereka kompak. <em>“Pakde Jeff  nyumbang”</em> kata Dek Agus. Pakde Jeff yang dimaksud adalah Bapak Made Suryanata, SH-Kelian Mona Banjar Kaja. “<em>Bapaknya Agus juga ngasi tiga puluh ribu</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Bapaknya Omang nyumbang nasi jingo sama air minum!</em>” kata Omang Yoga menambahkan. “<em>Pekak juga ngasi uang</em>” kata Dek Agus. Dek Agus lebih banyak jawab karena bisa jadi dia “bendahara” kelompok ini. “<em>Terus, bahan-bahannya nyari di mana?</em>” tanya saya. “<em>Kayu reng beli di Toko Dewi 15 ribu, kawatnya juga beli di Toko Dewi 9 ribu, cat beli di Toko Restu Alam Sanglah 10 ribu, bambunya beli di Pak Cager 18 ribu, udah itu aja Om</em>” kata Dek Agus lagi. “<em>Kertas minyak kita pada sumbangan sendiri-sendiri Om</em>” kata Tu Cahya. “<em>Memangnya cukup?</em>” saya pancing lagi. “<em>Masih kurang Om, sisanya kita semua urunan lagi dari uang sendiri-sendiri</em>” jawab Dek Agus. Luar biasa niat mereka ini, begitu yang ada di pikiran saya.</p>
<p align="left">Ada juga yang membuat saya ingin tahu kenapa mereka mengambil tokoh Sangut yang kurus sebagai profil ogoh-ogohnya. Dek Pong yang menjawab “<em> Iseng awalnya Om. Milih Sangut karena lucu, terus dibikin yang kurus biar ikut prihatin, kan bangsa Indonesa sekarang sedang miskin, banyak yang kelaparan</em>”. Wah, memangnya nyambung ya. Tapi ini bisa menyentuh hati saya juga. “<em>Nah, supaya jadi lucu, gayanya Sangut dibuat berdiri ningkang, ceritanya lagi seneng karena bakal di foto”</em> kata Dek Pong dan Candra. Ada-ada saja. Rupanya Dek Pong dan Candra yang menjadi pengarah gaya untuk profil ogoh-ogohnya.</p>
<p align="left"><a title="low-sayasundari-laksana.jpg" href="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-sayasundari-laksana.jpg"><img src="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-sayasundari-laksana.thumbnail.jpg" alt="low-sayasundari-laksana.jpg" align="left" /></a>Sore itu mereka berkumpul dulu, semacam gladi resik untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak terburu-buru. Mereka menaruh sementara ogoh-ogohnya di depan ruko dekat pertigaan Waturenggong-Irawadi. Juga mengecek kentongan dan obor. Mencoba mengangkat bersama ogoh-ogohnya. “Test drive” ceritanya. Mereka sudah berpakaian lengkap termasuk sepatu. Dari beberapa kelompok lain yang saya tahu juga membuat ogoh-ogoh, selama saya keliling mengintip ogoh-ogoh yang diletakkan sepanjang jalan Waturenggong, rupanya Sundari Laksana yang mempersiapkan diri paling awal. “<em>Nanti Agus sama temen-temen mau pake gaya slorid Om…</em>” kata Dek Agus. Setelah beberapa kali tanya maksudnya, ternyata yang dimaksud adalah gaya “slow ride”. Walah, saya kira gaya apaan.</p>
<p align="left">Memasuki pasca jam tujuh malam, setelah ritual “meburu”-yang dimulai dari Pura Bale Agung kemudian berakhir di Pura Tegal Penangsaran- selesai, dan juga setelah prosesi “natab” di rumah masing-masing selesai, mulailah geliat semangat itu muncul kembali. Sepanjang Jalan Waturenggong telah ramai kembali, dipenuhi dengan orang-orang yang mau menonton pawai ogoh-ogoh. Walaupun keputusan Bendesa Adat meniadakan pawai ogoh-ogoh sudah disosialisasikan jauh hari sebelumnya, tetapi terlihat belasan ogoh-ogoh sudah siap untuk diarak. Suasana berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ogoh-ogoh yang ada rata-rata berukuran lebih kecil dari ogoh-ogoh biasanya. Rupanya kali ini yang turun semuanya adalah anak-anak. Bukan orang dewasa. Jadinya ukuran ogoh-ogoh juga menyesuaikan. Sebagian besar menampilkan sosok raksasa sesuai pakem umum. Lebih banyak nuansa gelap dan hitam. Pengarak ogoh-ogoh pun sebagian besar berbaju hitam-hitam. Mereka semua mengarak ogoh-ogoh di sepanjang jalan Waturenggong saja. Tidak ada yang spesial dari pergerakan pawai ogoh-ogoh itu. Semua hampir sama dengan tradisi sebelumnya. Cuma yang unik tahun ini semua pengarak adalah anak-anak. Kalaupun ada orang tua atau orang dewasa mereka hanya menemani arakan saja. Layaknya tim pelatih dan ofisial.</p>
<p align="left"><a title="low-aksi.jpg" href="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-aksi.jpg"><img src="http://okanegara.wordpress.com/files/2008/03/low-aksi.thumbnail.jpg" alt="low-aksi.jpg" align="left" /></a>Malam itu Sundari Laksana terlihat dominan, karena keputusan mereka memakai pakaian berwarna merah memang bisa terlihat menjadi nilai tambah penampilan mereka malam itu. Semua orang nampak bergembira, terkagum melihat kreativitas anak-anak dan larut dalam suasana “pengerupukan”. Malam itu semua berkeringat. Dan besok mereka semua akan beristirahat cukup lama, untuk menjalankan brata penyepian. Hampir mendekati jam sembilan malam, pawai pun usai Semua berjalan lancar di sepanjang Jalan Waturenggong. Memang sempat ada beberapa mobil pemadam kebakaran lewat (entah dimana ada kejadian kebakaran), sehingga beberapa kelompok pengarak ogoh-ogoh merubah formasi penampilannya. Malam itu Sundari Laksana tampil luar biasa. Omang Yoga terlihat paling gembira sambil memukul-mukulkan kentongannya mengikuti tema-temannya yang berkeringat sebesar biji jagung mengarak ogoh-ogoh. Inilah semangat anak-anak.</p>
<p align="left">Terlepas dari alasan tradisi yang memicu anak-anak ini untuk berkreativitas. Ada yang menarik untuk direnungkan. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu sepaham dengan adanya pembuatan dan pawai ogoh-ogoh. Karena di samping tidak jelas rujukannya, sering kali di pawai-pawai sebelumnya disertai keributan, ada minuman keras, padahal di saat pawai malam hari butha kala sudah disomia (dinetralisir). Jangan-jangan para butha kala lari ke diri para pengarak ogoh-ogoh. Memang setelah ogoh-ogoh diarak ada tahapan akhir prosesi pralina (pemusnahan), tetapi alangkah lebih baik ini ditinjau dan diatur kembali, mungkin kreativitas bisa dikembangkan lagi dengan pemilihan waktu yang tepat, bisa saja siang hari diadakan sebelum senja. Hanya saja kali ini yang benar-benar menyentuh hati saya adalah, walaupun tradisi dijadikan alasan oleh anak-anak ini (bisa jadi karena mereka belum paham maknanya), tetapi dibaliknya adalah bagaimana terdapat semangat yang luar biasa, semangat bekerjasama dan semangat untuk belajar merencanakan, mengorganisasi dan melakukan aksi bersama supaya bisa tampil menghibur masyarakat, termasuk menghibur diri mereka juga. Bagaimana mereka di saat mengalami keterbatasan yang ada, bisa juga bekerja sama dengan orang dewasa, bagaimana mereka juga belajar untuk menyumbang dan berkorban ketika dana tidak mencukupi, demi kepentingan bersama. Mudah-mudahan anak-anak ini bisa belajar bekerjasama dengan lebih baik lagi sejalan dengan pertambahan usianya. Mudah-mudahan di Nyepi ini mereka bisa belajar menjadi calon penerus yang bisa juga bahu-membahu bekerja sama dengan kelompok yang lebih besar lagi, bisa di desa, di masyarakat maupun buat bangsa ini. Dan mereka juga bisa menjadi contoh yang baik bagaimana bekerjasama.<br />
“<em>Om, udah selesai foto-fotonya?</em> Lihat Om..” pinta Omang Yoga saat ogoh-ogohnya dipralina. “<em>Capek tapi seneng Om</em>” kata Omang Yoga lagi. <em>“Selamat Nyepi ya Om..</em>” kata anak-anak ini hampir berbarengan.</p>
<p align="left">(okanegara, 8 maret 2008)</p>
<p align="left">Note:<br />
Udeng = kadang disebut destar, penutup kepala sebagai bagian busana adat Bali<br />
Kamen = kadang disebut kamben, orang Jawa mungkin menyebut kemben, adalah kain yang dipakai dari pinggang ke bawah sebagi paket busana adat Bali<br />
Ogoh-ogoh = patung semi permanen dalam ukuran besar, dari rangka kayu atau bambu ditutup dengan kertas dan kain, biasanya mengambil tokoh raksasa<br />
Bhuta kala = mahluk alam lain yang biasa disebut sebagai perlambang kekuatan negatif (jahat, tidak baik, mengganggu manusia) yang biasa divisualisasi dengan gambaran raksasa seram<br />
Pecaruan = prosesi upacara yang ditujukan buat butha kala<br />
Brata penyepian = prosesi menjalankan kewajiban rohani di saat Nyepi (tidak bepergian, tidak beraktivitas, tidak menyalakan api/lampu dan mengendalikan nafsu)<br />
Tridatu = komposisi tiga warna suci merah-hitam-putih<br />
Bendesa Adat = pemimpin tertinggi adat di desa pakraman<br />
Penyarikan = sekretaris adat<br />
Kelian Mona = pemimpin adat senior<br />
Pekak = kakek (bahasa Bali)<br />
Ningkang = posisi kaki dilebarkan atau ngangkang<br />
Pralina = peleburan, pengembalian kembali ke unsur asal</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[2008] Kemajemukan - Tawur Agung Kesanga 1930 Saka di Gresik,  Jawa Timur]]></title>
<link>http://photojournalist.wordpress.com/?p=88</link>
<pubDate>Fri, 07 Mar 2008 13:04:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>photojournalist</dc:creator>
<guid>http://photojournalist.id.wordpress.com/2008/03/07/2008-kemajemukan-tawur-agung-kesanga-1930-saka-di-gresik-jawa-timur/</guid>
<description><![CDATA[Ratusan warga pemeluk agama Hindu di daerah Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur melaksanakan upac]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ratusan warga pemeluk agama Hindu di daerah Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur melaksanakan upacara Tawur Kesanga (06/03) malam menjelang Hari Raya Nyepi 1930 Saka. Di daerah yang sebagian besar dihuni oleh warga etnis Madura ini mantra doa agama Hindu dan tembang gamelan bercampur dalam bahasa Jawa dan Madura. Walaupun hidup di antara pemeluk agama lain, umat Hindu di daerah ini dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai.</p>
<p><i>Teks &#38; foto-foto : Lendy Widayana</p>
<p></i><br />
<img src="http://photojournalist.wordpress.com/files/2008/03/tawurkesanga-5-lr.jpg" alt="tawurkesanga-5-lr.jpg" border="2" /><br />
<b>Kemajemukan</b></p>
<p><img src="http://photojournalist.wordpress.com/files/2008/03/tawurkesanga-3-lr.jpg" alt="tawurkesanga-3-lr.jpg" border="2" /><br />
<b>Siap Diarak.<br />
</b><br />
Satu dari empat Ogoh-Ogoh siap diarak keliling tiga dusun di daerah Menganti, Kabupaten Gresik Jawa Timur (06/03) dalam upacara Tawur Kesanga malam menjelang Hari Raya Nyepi 1930 Saka.</p>
<p><img src="http://photojournalist.wordpress.com/files/2008/03/tawurkesanga-2.jpg" alt="tawurkesanga-2.jpg" border="2" /><br />
<b>Bhuta Kala</b></p>
<p>Upacara puncak "Pengrupukan" berupa pembakaran Ogoh-Ogoh atau Buta Yadnya dengan makna untuk melakukan agar sang Sang Bhuta Kala tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan alam semesta. Ritual ini dilakukan pada upacara Tawur Kesanga (06/03) malam menjelang Hari Raya Nyepi 1930 Saka di sebuah pura Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik Jawa Timur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyongsong Nyepi - Caka 1930]]></title>
<link>http://madeharta.wordpress.com/?p=18</link>
<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 03:24:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Made Harta Dwijaksara</dc:creator>
<guid>http://madeharta.id.wordpress.com/2008/03/06/menyongsong-nyepi-caka-1930/</guid>
<description><![CDATA[Om Swastiastu
Hari ini adalah hari bulan mati atau dalam istilah Balinya dikenal dengan sebutan Hari]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Om Swastiastu</p>
<p>Hari ini adalah hari bulan mati atau dalam istilah Balinya dikenal dengan sebutan <i>Hari Tilem. </i>Hari Tilem datangnya 30 hari sekali bergantian dengan datangnnya Purnama. Walaupun <i>Tilem </i>datangnya 30 hari sekalin namun Tilem kali ini memiliki makna yang spesial. Tilem hari ini jatuh pada sasih Kesanga atau bulan ke-sembilan pada Tahun Caka artinya Tilem ini bertepatan pada akhir Tahun Caka 1929 dan besok saatnya menyosong tahun baru Caka 1930 atau sering dikenal dengan nama Hari Raya Nyepi.</p>
<p>Hari raya Nyepi diperingati sebagai hari pergantian Tahun Caka, maka dari itu bagaimana layaknya orang-orang , merayakan tahun baru maka kemeriahan dan kegemerlapan dipersiapkan untuk penyambuatannya. Tilem sebelum Hari Nyepi sering dikenal juga dengan sebutan <i>Pengerupukan</i>. Pada hari ini maka umat Hindu di Bali pada umumnya akan melaksanakan Bhuta Yadnya atau upacara untuk para makhluk halus yang berenergi negatif. Tujuan dari upacara ini adalah untuk memberikan persembahan kepada para makhluk tersebut sehingga mereka tidak mengganggu kehidupan umat manusia dan akan menjauh dari kehidupan manusia itu.</p>
<p>Setelah sesajen dihaturkan maka makhluk halus akan diantarkan pergi menjauh dengan menggunakan bunyi-bunyian yang berisik dan <i>ogoh-ogoh</i> sebagai lambang roh jahat. Masyarakat Bali pada hari ini biasanya akan tumpah ruah ke jalanan untuk mengarak ogoh-ogoh yang telah dieprsiapkan jauh-jauh hari dengan biaya yang lumayan besar. Biasanya untuk menjaga tradisi ini maka Pemerintah Bali mengadakan lomba untuk <i>ogoh-ogoh</i> sebagai sebuah apresiasi karya seni. Masa-masa ini masih sangat jelas teringat di kepalaku, ketika ikut mengarak ogoh-ogoh, ketika <i>megambel</i> (memainkan alat musik) untuk mengiringi ogoh-ogoh dan ketika bersorak-sorai dijalanan. Namun, perayaan hari ini tidak bisa aku lewatkan seperti masa itu karena aku sendiri sekarang sedang berada di luar Bali jadi tradisi seperti itu tidak ada lagi, yang ada hanya perayaan dengan upacara Bhuta Yadnya biasa. Hal ini tentu tidak mengurangi niatku untuk merayakan hari raya Nyepi.</p>
<p>Terlepas dari hari Pengerupakan yang jatu hari ini, aku sendiri mendapat tugas pada acara lain terkait kemahasiswaan. Karena moment Hari Raya Nyepi bertepatan dengan momen Wisudaan kampusku jadi hari ini aku diminta mengisi acara pelepasan para wisudawan. Aku diminta untuk menari Bali sekitar 1-2 menit untuk persembahan angkatan. Tidak hanya tari Bali tari dari daerah lainpun banyak dieprsembahkan oleh angkatanku dalam acara ini. Acaranya berlangsung malam hari dimulai dari pukul 19.00 - selesai jadi pada kesimpulannya aku tidak akan bisa melakukan pengerupukan di Asrama.</p>
<p>Kembali ke hari raya Nyepi. Pada hari raya Nyepi seperti mungkin semua orang telah ketahui bahwa ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi. Larangan atau pantangan itu sering dikenal dengan nama <i>Catur Brata Penyepian</i> yang isinya:</p>
<ol>
<li>Amati Karya, artinya tidak boleh melakukan bekerja/aktivitas apapun</li>
<li>Amati Geni, artinya tidak boleh menyalakan api/cahaya</li>
<li>Amati Lelangunan, artinya tidak boleh makan (puasa)</li>
<li>Amati Lelungaan, artinya tidak boleh bepergiaan</li>
</ol>
<p>Keempat larangan diatas harus dilakukan selama 24-jam, namun bagi mereka yang sudah tingkat <i>advanced </i>biasanya melaksanakannya selama 36-48 jam atau bahkan ada yang lebih.</p>
<p>Inti dari pelaksanaan keempat larangan diatas adalah pengendalian diri untuk menyongsong tahu yang baru. Jadi dalam melaksanakan hari raya Nyepi kita harus menginterospeksi diri kita selama setahun yang lalu apa yang telah kita lakukan, apa yang belum sempat kita laksanakan dss. Hal ini nantinya akan dijadikan cerminan untuk membuat resolusi kedepannya.</p>
<p>Semoga Hari Raya Nyepi ini bisa aku lewati dengan melaksanakan semua isi dari Catur Brata Penyepian</p>
<p>Om Cantih Cantih Cantih Om</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nyepi di Bali]]></title>
<link>http://deatta.wordpress.com/?p=29</link>
<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 05:25:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>dessysw</dc:creator>
<guid>http://deatta.id.wordpress.com/2008/03/05/nyepi-di-bali/</guid>
<description><![CDATA[Ini pertama kalinya aku bakal merasakan dan melihat susana nyepi di Bali. Penasaran dr dl pgn tau s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ini pertama kalinya aku bakal merasakan dan melihat susana nyepi di Bali. Penasaran dr dl pgn tau suasana nyepi di pulau yang jadi pusat-nya umat Hindu di Indonesia ini.<br />
Tapi ngenes juga kalo lewatin nyepi-nya di kos, gak bisa bayangin gimana "ipes hidesnya" :((<br />
Semoga bisa melewatinya di tengah-tengah saudara-saudara. Walaupun tidak boleh menimbulkan suara berisik setidaknya kan ada temennya di kala gelap gulita.</p>
<p>Besok kerja hanya setengah hari, dan menurut rekan-rekan kantor, sore besok, jalanan Bali akan macet karena akan ada pawai ogoh-ogoh. So kalo aku tidak ingin bertahan di kos waktu nyepi harus pulang lebih awal biar tidak kena macet.</p>
<p>Untuk yang ingin melewatkan dan mengetahui suasana nyepi di Bali, bagi yang di luar Bali, hari ini dan besok adalah kesempatan terakhir untuk tiba, karena besok malem baik bandara maupun pelabuhan gilimanuk ditutup. Jadi akses ke Bali mulai Hari Kamis malem sampai dengan Sabtu pagi ditutup total, baru buka mungkin hari Sabtu sekitar jam 9an. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nyepi | The Balinese Day of Silence]]></title>
<link>http://ubudtebahouse.wordpress.com/?p=82</link>
<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 08:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>aguswiguna</dc:creator>
<guid>http://ubudtebahouse.id.wordpress.com/2008/02/26/nyepi-the-balinese-day-of-silence/</guid>
<description><![CDATA[Balinese Hindu will celebrate Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930 on March 7th, 2008. Hari Raya Nye]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">Balinese Hindu will celebrate Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1930 on </span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">March 7<sup>th</sup>, 2008</span><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">. Hari Raya Nyepi is celebrated as a Balinese New Year based on Hinduism. It is taken on Sasih Kedasa according to Bali Calendar. Nyepi day or known as The Balinese Day of Silence is celebrated by Bali Hindu people, on this day Balinese Hindu will do 'Catur Brata Penyepian'. It is Bali fast-day for Nyepi, consist of four elements, such as: Amati Geni (no use or animate fire), Amati Karya (no working), Amati Lelungan (no traveling), Amati Lelanguan (no entertainment). 'Catur Brata Penyepian' will be done by Balinese Hindu on ‘Tilem Kesanga’, It will start before the sun rise and will finish the next day after the sun rise.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';"><br />
One day before Nyepi (Pangrupukan Day)<br />
</span></p>
<div><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:'Calibri','sans-serif';">March 06<sup>th</sup>, 2008 (Tilem Sasih Kesanga) according to Bali Calendar, Balinese Hindu will do 'Mecaru Ceremony' followed by Ogoh-ogoh parade. Ogoh-ogoh is a symbol of demons (Buta Kala) carried by Balinese surround the village on Pegrupukan Day and it will be burn at graveyard. Ogoh-ogoh parade manifests eviction of the demons from human territory so that it will not disturb the human living. Below the pictures of Ogoh-ogoh which are taken in Ubud Village during the Ogoh-ogoh parade 2006.</span></div>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid black;width:159.6pt;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_11.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_11.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
</td>
<td style="width:159.6pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none black black black #000000;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_14.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_14.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none black black black #000000;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_15.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_15.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:159.6pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid #000000 black black;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_13.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_13.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_10.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_10.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_12.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_12.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:159.6pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid #000000 black black;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_03.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_03.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_09.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_09.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_07.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_07.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:159.6pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid #000000 black black;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_08.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_08.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_05.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_05.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_06.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_06.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:159.6pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid #000000 black black;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_01.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_01.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_04.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_04.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
<td style="width:159.6pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.4pt;" width="213" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><span> </span></p>
<p><a title="Ogoh-Ogoh" href="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_02.gif"><img src="http://ubudtebahouse.wordpress.com/files/2008/02/ogoh-ogoh_02.thumbnail.gif" alt="Ogoh-Ogoh" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
