<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ngowos &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ngowos/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ngowos"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 01:09:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[puasa dan tarawih]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/?p=68</link>
<pubDate>Fri, 12 Sep 2008 10:30:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/09/12/puasa-dan-tarawih/</guid>
<description><![CDATA[x : Kamu kok gak pernah Tarawih?
y : Ini kan bulan puasa, bukan bulan tarawih.
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>x : Kamu kok gak pernah Tarawih?</p>
<p>y : Ini kan bulan puasa, bukan bulan tarawih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Panji Koming Akuisisi Nokia, Panji Koming Poligami]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/?p=48</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 13:38:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/04/24/panji-koming-akuisisi-nokia-panji-koming-poligami/</guid>
<description><![CDATA[Zaman kala bendhu tidak selalu miris, berisi kepahitan hidup, keluh kesah, dan resah. Ia punya langg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="alignleft" style="border:2px solid black;float:left;margin:2px;" src="http://yourpicbox.com/images/oWyMRSRjV34358.jpg" alt="" width="224" height="161" />Zaman kala bendhu tidak selalu miris, berisi kepahitan hidup, keluh kesah, dan resah. Ia punya langgam sendiri yang kadang bikin kita tertawa terpingkal-pingkal: setidaknya menertawakan kesialannya sendiri.</p>
<p>Intrik.culas.korupsi. Begitulah keseharian polah pamong kerajaan Majapahit pada abad 15. Tak ada yang bisa diharapkan. Rahayat jelata semakin pupus harap ketika meneropong nasib anak-cucu ratusan tahun ke depan. Korupsi tetap merajalela. Intrik kekanak-kanakan elit bikin napsu makan hilang.</p>
<p>Panji Koming tak sabar. Ia berniat melintas batas waktu dan jaman. Dengan meminta bantuan Embah Randu Bantal Panji akhirnya bisa melompat jauh ke depan, melihat dari dekat jungkir balik anak-cucunya..Ah..tak ada bedanya dengan perilaku pamongpraja di jaman kala bendhu Majapahit.<!--more--></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Panji koming terhenyak dengan polah pejabat negeri ini yang tak peduli. Merusak tatanan alam. Ia berpikir keras bagaimana menyelamatkan generasi penerus yang mentalnya mulai tergerus ketamakan.</p>
<p>Panji berjalan, mengitari nusantara. Ada kesenjangan. Di ibukota, mall-mall berjejer rapih, bersih, wangi. Perempuan cantik, lelaki gagah, berjalan melenggang dengan senyum. Membawa bungkusan belanjaan. Ia tersenyum,”ah..ternyata anak-cucuku makmur sejahtera.”</p>
<p>Tidak seperti yang diteropong Embah Randu Bantal Apa yang dilihat Embah ternyata tidak sepenuhnya benar.<br />
”syukurlah,” bisik Panji lirih sambil mengusap wajah.</p>
<p>Keluar dari mall, Panji disambut teriakan orang-orang tua lusuh yang menggendong anak kecil yang tak kalah lusuhnya. Tangannya menengadah meminta belas kasih.</p>
<p>”Assalamakata…kok begini?”<br />
Panji melenguh kesal. Di dalam banyak orang tersungging rekah dengan baju wangi rapi jali. Tapi sepelemparan batu dari mall sudah bertumpuk rahayat miskin tak berpunya. Dunia serba terbalik. Ada kesenjangan. Di dalam sana tersenyum riang, di luar sini meringis dan kadang tersenyum kecut dipaksakan.</p>
<p>Setelah memberikan selembar uang rupiah—yang baru saja ditukarkan dengan kepingan perak di Money Changer—Panji bergegas.  Ia menyusuri jalan ibukota..Di emperan warung kaki lima, ia melihat ada dua pemuda jadul abis. Sambil sedal-sedul menghisap rokok eceran, dua pemuda itu (belakangan diketahui namanya Beny dan Mice) asyik memainkan Handphone Nokia second murah. Mereka tak mempedulikan seliweran pejalan kaki di trotoar, derung kopaja, dan teriakan pengendara motor yang terjebak macet. Mereka juga tak tahu kalau sedang diamati serius oleh Panji Koming, kakek moyangnya dari Kerajaan Majapahit ratusan tahun kepungkur.</p>
<p>Nokia? Barang apa pula itu? Kenapa mereka begitu asyik masyuk dengan mainan baru. Panji tertarik ingin mengetahu nilai lebih dari barang tesebut.</p>
<p>”Oh…ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi anak-cucuku. Saya perlu mendalami kehebatan dan nilai lebih barang kecil itu.”<br />
Panji susah payah mencari tahu apa itu Nokia.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Hampir semua masyarakat Indonesia yang melek Handphone, pasti mengerti Nokia. Ia menguasai pangsa pasar telepon seluler di Indonesia dan Dunia. Handphone ya Nokia, Nokia ya Handphone. Apapun operatornya, Hengponnya tetap Nokia.</p>
<p>Nokia seakan telah menjadi pasangan kedua bagi manusia. Ia selalu dibawa kemana-mana tak pernah lupa. Anak-Istri boleh ditinggal dirumah, tapi tidak Nokia. Ia tidak boleh tertinggal, ia harus dibawa kemana-mana..</p>
<p>Nokia sudah menjadi kawan karib, meski tidak banyak yang tahu berasal dari mana barang hebat itu. Pengguna Nokia mungkin tidak peduli. Bahkan tidak mengenal Finlandia, negeri asal muasal Nokia.</p>
<p>Mereka juga tidak mau tahu, bagaimana pembuatan Nokia, proses kreatifnya, dan inovasi tanpa henti agar terus menjadi leader di market global. Mereka juga tak paham, perusahaan Nokia itu berawal dari merger Nokia Ab (perusahaan pengolahan kayu dan kertas), Suomen Gummitehdas Oy  (produsen sepatu anti air dan barang berbahan karet lainnya), sertai Soumen Kaapelitehdas Oy (produsen kabel telepon dan listrik).</p>
<p>”Hebat betul barang ini. Bagaimana bisa sebuah kayu, sepatu, dan kabel listrik-telepon diolah sedimikian rupa menjadi telepon genggam mini,” ucap Panji gumun.</p>
<p>Kehebatan Nokia membulatkan tekad Panji untuk mengakuisisi saham perusahaan itu. Ia bernegosiasi dengan CEO Nokia Jorma Ollila untuk membeli saham mayoritas perusahaan. Melalui perundingan a lot, Panji berhasil menguasai 51 % saham Nokia. Sisanya dibagi pemegang saham lawas.</p>
<p>Panji kemudian menjadi CEO Baru Nokia menggantikkan Ollila. Agar trasfer pengetahuan, dan mental perusahaan bisa berjalan lancar, Panji tetap mempertahankan Ollila. Ia diminta menjadi wakil CEO yang bertanggung jawab mengelola kerajaan bisnis Nokia. Panji hanya memantau dan sesekali memberi-meminta saran.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Singkat kata, Nokia di bawah Panji terus berkembang menancapkan kekuasaan bisnisnya. Panji, yang hanya rahayat jelata, dari zaman kerajaan, kemudian menjadi konglomerat ternama di Indonesia dan dunia, melampaui Aburizal Bakrie, bahkan Bill Gate.<br />
Tapi ya..begitulah manusia. Ia kadang lupa daratan setelah memiliki kekayaan melimpah, duit menggunung meteran. Kenakalan khas lelaki mulai menjangkiti Panji. Ia mulai lupa Ni Woro Ciblon, tunangan yang ditinggalkannya di Majapahit, kawan karibnya Pailul yang berharap oleh-oleh dari perjalanan lintas waktu Panji Koming.</p>
<p>Panji mulai melirik perempuan lain. Melalui perkenalan tak sengaja, Panji bersua dengan Rara Mendut, wanita tangguh-gagah gemulai. Ia terpesona dengan kecantikan Roro Mendut, Ia kagum dengan keteguhan hati dan ketegaran perempuan itu.</p>
<p>Panji juga tertarik pada Nadra setelah mengetahui pengalaman hidupnya yang penuh liku. Ia merasa iba, dan berniat mempersuntingnya.</p>
<p>Dengan dua pendamping wanita, lengkaplah kebahagiaan Panji. NOKIA berkembang pesat, menjadi korporat nomor wahid sedunia. Panji berniat memindahkan kerajaan bisnis NOKIA dari Finlandia ke Indonesia, tapi Ollila tidak setuju.</p>
<p>”Ya sudah…saya sudah tahu mental perusahaan ini. Saya akan mengembangkan bisnis serupa di Indonesia dengan mengadopsi mental korporasi NOKIA.”</p>
<p>Dengan semangat NOKIA, digabung kearifan lokal Indonesia, Panji yakin bangsa ini bisa kukuh, bangun dari ketertinggalan. NOKIA besar berawal dari merger tiga perusahaan: pengolahan kayu, produsen sepatu (karet), dan kabel telepon-listrik.</p>
<p>Hebat bukan, bermodalkan pemikiran inovatif, Kayu dicampur karet, dialiri listrik, dan disambungkan dengan kabel telepon bisa menjelma menjadi alat komunikas mutakhir yang bisa menghubungkan manusia (connecting people).</p>
<p>Di Indonesia banyak pembalak liar dan pengolah kayu illegal. Ini modal dasar untuk berkembang. Kita juga punya PLN, meski byar-pet. Semua itu sebenarnya kekuatan terpendam yang dimiliki bangsa ini. Kalau dikembangkan bisa menjadi kekuatan dahsyat. Sayang memang, saking terpendamnya, bakat itu susah dimunculkan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tombo Ati]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/?p=46</link>
<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 16:54:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/04/14/tombo-ati/</guid>
<description><![CDATA[Hati adalah organ vital bagi kita. Sama vitalnya dengan ‘alat vital’. Hati harus diurus dengan h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hati adalah organ vital bagi kita. Sama vitalnya dengan ‘alat vital’. Hati harus diurus dengan hati-hati, tidak hanya secara fisik, tapi psikis dan batiniah. Ilmu kedokteran menyebutkan, hati atau lever adalah organ paling besar dan paling berat dalam tubuh manusia. Beratnya mencapai 3 pound atau 1,3 kg. Organ yang berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk.</p>
<p>Hati berfungsi menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Jika hati anda sakit, racun yang masuk bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius, salah satunya sirosis. Karena itu, hati harus dijaga jangan sampai sakit.<br />
Saat bayi masih di kandungan, hati berperan sebagai organ utama pembentuk darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh.<!--more--></p>
<p>Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula, mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi kolesterol. Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan dan menyerap zat gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi beracun serta memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan mengeluarkan bakteri dari aliran darah. Tampak jelas, hati bukan hanya teman yang pendiam, tetapi juga sahabat baik. (halah…bingung aku. Baca aja sendiri di <a href="http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/lever240307.htm">info aktual</a>)</p>
<p>Dari segi psikis-batiniah, hati juga perlu dijaga betul agar tidak gampang terombang-ambing, apalagi saat ditinggal pasangan tercinta belahan hati. Banyak cerita, terutama novel cengeng dan sinetron kita, seseorang stres, gila, dan ingin mengakhiri hidupnya gara-gara gagal dalam karier bercinta.</p>
<p>Sakit hati tidak ada obatnya. Patah hati tidak bisa direkatkan kembali. begitu kata mereka. Tapi kata siapa tidak ada obatnya? Syair 'Tombo Ati' yang katanya ciptaan Sunan Bonang, sering dilantunkan Cak Nun, dan dikenalkan lebih luas oleh Opick, menunjukkan bahwa sakit hati itu ada obatnya.</p>
<p><strong>Tombo ati iku ana lima perkarane<br />
Kaping siji, Moco Quran sak maknane<br />
Kaping pindo, Sholat wengi lakonono<br />
Kaping telu, Wong kang sholeh kumpulono<br />
Kaping papat, Weteng iro ingkang luwe<br />
Kaping limo, Dzikir wengi ingkang suwe</strong></p>
<p><strong>Salah sakwijine sopo biso ngelakoni<br />
Insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi<br />
</strong></p>
<p><em>(obat hati itu ada lima macam)<br />
(nomor satu,membaca Al Quran dengan maknanya)<br />
(nomor dua, sholat malam dirikanlah)<br />
(nomor tiga, berkumpullah dengan orang sholeh)<br />
(nomor empat, perutmu dilaparkan/perbanyaklah berpuasa)<br />
(nomor lima, dzikir malam perpanjanglah)</em></p>
<p><em>(barang siapa yang melakukan salah satunya)<br />
(insya Allah, Yang Maha Kuasa memberkati)</em></p>
<p>Melalui Syair itu, Sunan Bonang menawarkan lima cara agar hati kita tetap terjaga, adem, tentrem, gemah ripah loh jinawi. (Sampai disini saya bingung mau nulis apa lagi.. Sembelit, <a href="http://yuswae.wordpress.com/2008/04/07/menulis-beol/">susah beol</a>, karena makan gak teratur dan sembarangan :D )</p>
<p>Setiap kali mendengarkan syair tombo ati dilantunkan, saya selalu ingat kampung halaman. Saat kecil dulu, saya sering menyanyikan syair itu. Di musholla depan rumah, usai adzan magrib, sambil menunggu kakek ngimami sholat dan mengajar ngaji, saya dan teman sebaya sesama santri kampung mendendangkan lagu itu. Tidak merdu, tidak pula khusuk, kadang diselingi dengan guyon dan saling lempar sajadah. Ya namanya juga anak-anak.</p>
<p><strong>Tombo ati iku ana limang perkara</strong></p>
<p><strong>Kaping siji, Moco Quran sak maknane<br />
Kaping pindo, Sholat wengi lakonono<br />
Kaping telu, Wong kang sholeh kumpulono</strong></p>
<p>sampai di sini, sajadah mulai beterbangan. Kopyah hitam kadang juga melayang. Yang paling saya ingat adalah ketika melantunkan tombo ati keempat dan kelima:</p>
<p><strong>Kaping papat, Weteng iro ingkang suwe<br />
Kaping limo, Dzikir wengi ingkang luwe.</strong></p>
<p>Dua bait terakhir itu sering terbolak-balik kami lantunkan. Itu terjadi, karena kami memang kurang memahami artinya. Sebab, anak-anak di kampung kami, termasuk saya, sehari-hari terbiasa berkomunikasi dengan Bahasa Madura. Bahasa Jawa hanya lamat-lamat kami pahami. Akibat terbolak-balik itu, syair tombo ati tentu saja berubah arti:</p>
<p><em>nomor empat, berpuasalah sampai lama...</em>(sak kuatmu)<br />
<em>nomor lima, dzikir malam sampai kamu lapar dan perutmu menjerit...au..au..au..hih..hih..hih.. </em>(lantunkan dengan gaya Mulan Jameela)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayunan]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/?p=44</link>
<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 16:19:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/04/11/ayunan/</guid>
<description><![CDATA[Pagi baru saja menjelang. Seorang pemuda sedang melepas lelah di sebuah warung kecil dekat pelabuhan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi baru saja menjelang. Seorang pemuda sedang melepas lelah di sebuah warung kecil dekat pelabuhan. Ia melepas penat setelah tiga hari-tiga malam naik kapal laut. Wajahnya masih terlihat kusut, lelah, dan berminyak. Aroma khas lelautan tercium dari balik kemeja kotak-kotak lusuh yang dipakainya.<br />
<!--more--><br />
Rambutnya gondrong sebahu. Ia dengan tenang menyuruput kopi hitam pahit yang disuguhkan pelayan warung. Tangan kanannya tergoda mengambil pisang goreng, lantas berayun ke mulut dan mengunyah cepat.</p>
<p>Sambil menikmati hidangan pisang goreng berbayar, tubuh pemuda itu tak henti berayun kanan-kiri seakan menikmati alunan musik klasik. Ah..mana ada musik klasik berbunyi di warung kaki lima.</p>
<p>Tubuh pemuda itu terus berayun. Beberapa petugas pelabuhan yang ikut melepas penat di warung tersebut terlihat melirik aneh. Mereka merasa janggal dengan lelaku si pemuda. Tapi ia tidak peduli.</p>
<p>”Hei, kenapa kau terus berayun? Kayak orang mabuk aja,” kata seorang petugas pelabuhan dengan logat khas Batak.</p>
<p>Masih terus berayun ke kiri dan ke kanan, si pemuda menjawab singkat,”Biasa bang, masih terbawa suasana di kapal tadi.”</p>
<p>Akibat angin kencang, sepanjang perjalanan, kapal laut yang ditumpangi pemuda itu, memang berayun kiri-kanan. ”Anginnya kencang sekali, bang. Semua penumpang sampai ikut terhuyung. Makanya, saya terus berayun seperti ini,” katanya beralasan sambil terus berayun.</p>
<p>”Alah..ngaco kamu. Naik kapal laut tiga hari saja sudah kayak gitu. Saya yang 10 tahun kawin dan punya anak tiga, gak sampe begini-begini terus,” kata dia sambil memperagakan pinggulnya maju-mundur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menulis = Beol]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/?p=43</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 05:22:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/04/07/menulis-beol/</guid>
<description><![CDATA[Seorang kawan, adik tingkat saya di kampus dulu, sempat berujar: menulis itu kayak beol, ngising. Da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang kawan, adik tingkat saya di kampus dulu, sempat berujar: menulis itu kayak beol, ngising. Dan buku adalah makanan. Semakin banyak kita makan, apalagi menunya cukup sesuai empat sehat lima sempurna, semakin mudah pula kita beol. Enak, nyaman, lega, tanpa sembelit.</p>
<p>Seperti itulah menulis. Jika kita rajin mengunyah buku bermutu, makin mudah kita menulis. Dengan banyak membaca, menulis jadi enak. Tidak tertahan seperti orang susah beol. Tidak pula mules seperti orang yang terjangkit mencret.<br />
<!--more--><br />
Saya mengamini analogi kawan saya itu. Tapi kala itu saya sadar betul ternyata saya bukan seorang penulis yang baik. Saya juga bukan pembaca buku yang tekun. Mungkin saya pecinta buku, saya senang mengoleksi buku, tapi saya bukan pembaca buku yang baik, dan karena itu bukan penulis yang baik.</p>
<p>Menulis adalah aktivitas berat bagi saya. Ada ide di otak, tapi sulitnya minta ampun ketika menguraikannya menjadi sebentuk tulisan bermutu. Kesulitan menerjemahkan ide menjadi tulisan itulah yang mendorong saya menjadi seorang pekerja media. Sederhana saja, menulis itu butuh keterpaksaan.Dan dengan menjadi wartawan, setiap hari saya dipaksa untuk selalu punya banyak ide. Dengan menjadi wartawan, saya dipaksa menulis setiap hari, tak peduli sedang mood atau tidak. Pokoknya menulis, kalau tidak silakan out dan cari kerjaan lain! Obsesi yang aneh..tapi serius, itulah angan-angan saya kala mahasiswa ketika punya niat menjadi kuli tinta (disket).</p>
<p>Dan obsesi tinggal obsesi. Setelah saya menjadi bagian dari industri media, menulis ternyata hanya menjadi pekerjaan rutin-mekanik. Menulis dengan hati tetaplah sebuah aktivitas berat. Dan kelemahan saya tetap seperti dulu: pecinta buku, tapi bukan pembaca buku yang baik, apalagi sebagai penulis bermutu.</p>
<p>Saya suka membeli buku, bahkan budgetnya kadang berlebih dan perlu mencuri-curi bugdet dapur. Ibunya anak-anak kadang sambat, buat apa beli buku banyak-banyak kalau tidak tuntas terbaca? Mending ditabung untuk persiapan sekolah <a href="http://evanahmadyusuf.blogspot.com/">Evan </a>dan adiknya. Kalau sudah diprotes seperti itu, saya hanya berucap: ”<em>Biar saja. Suatu saat toh saya akan membacanya. Kalaupun tidak sempat, siapa tahu kelak <a href="http://evanahmadyusuf.blogspot.com/">Evan </a>dan adiknya membaca koleksi buku-buku itu.”</em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WNI]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/2008/04/03/wni/</link>
<pubDate>Thu, 03 Apr 2008 11:01:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/04/03/wni/</guid>
<description><![CDATA[Menjadi warga di sebuah negara yang sedang bermasalah seperti ini Indonesia memang susah. Kita kadan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi warga di sebuah negara yang sedang bermasalah seperti ini Indonesia memang susah. Kita kadang tak menyadari yang menjadi hak dan kewajiban sebagai WNI yang baik dan benar...</p>
<p>Katanya, WNI yang baik adalah mereka yang memiliki identitas jelas, punya tempat tinggal, taat pajak, dan kalau perlu punya NPWP. Kalau tidak, apa kata dunia??? Begitu kata iklan-iklan di TV.<br />
<!--more--><br />
Lah..andai semua kewajiban sebagai warga sudah dipenuhi, apa benar kita diakui sebagai WNI sah sesuai undang-undang? Apa benar hak-hak kita otomatis terjamin? Tunggu dulu.</p>
<p>Dalam konstitusi kita tegas menyebutkan ‘bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.’  Pertanyaannya adalah jengkal bumi mana yang telah kita nikmati sebagai warga negara? Betulkah air dan kekayaan alam di negeri ini dipakai untuk memakmurkan rakyat? Kalau iya, rakyat yang mana?</p>
<p>Ya..rakyat yang mana? Bumi, air, dan kekayaan alam milik negara itu boleh jadi abstrak. Bentuk kongkritnya adalah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Logikanya, jika bumi, air, dan kekayaan alam milik negara itu = APBN, logika sederhananya semua elemen warga mendapatkan jatah anggaran dari APBN.</p>
<p>Tapi benarkah seperti itu? Ternyata tidak. Contoh kecil saja, subsidi BBM. Jumlahnya triliunan (untuk 2008 kabarnya <a href="http://www2.kompas.com/ver1/ekonomi/0706/20/051947.htm">Rp. 39-49 triliun</a>). Untuk siapa saja subsidi BBM sebesar itu? Tentu mereka yang punya mobil, minimal sepeda motor. Mereka yang hanya mengandalkan onthel sebagai moda transportasi jangan harap mendapatkan belas kasih APBN. Dengan kata lain, pengonthel tidak diakui sebagai WNI. Tidak peduli anda itu suku mana, WNI keturunan atau asli, kalau mau diakui sebagai bagian dari rakyat di negeri ini, ya harus punya kendaraan yang pakai BBM.</p>
<p><i>Ough..saya sedang mabuk ya.</i></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[YZ jadi Bintang Iklan Microsoft]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/2008/03/14/yz-jadi-bintang-iklan-microsoft/</link>
<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 11:25:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/03/14/yz-jadi-bintang-iklan-microsoft/</guid>
<description><![CDATA[Masih ingat YZ? Aha..anda penikmat bilem ferjuangan (BF) amatiran pasti ingat betul. Ya, bekas ketua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Masih ingat YZ? Aha..anda penikmat bilem ferjuangan (BF) amatiran pasti ingat betul. Ya, bekas ketua bidang keagamaan salah satu parpol besar di Indonesia itu (saya tidak perlu sebutkan, karena anda semua pasti sudah tahu), sempat menghebohkan dunia perbokeban negeri ini.<!--more--></p>
<p>YZ dan pasangannya—ME (saya juga tak perlu sebut nama, karena sudah terkenal)—pernah dinobatkan sebagai aktor dan aktris terbaik dalam sebuah acara penganugerahan Piala Catro’, piala bagi pegiat bilem ferjuangan kita yang tak bosan mencipta inovasi-inovasi baru.</p>
<p>Anugerah Piala Catro, plus publikasi besar-besaran media, begitu maksimal mendongkrak popularitas YZ dan ME. Di internet, karya agung dua figur tersebut sangat mudah dan murah didonlot. Implikasi dari publikasi tersebut, YZ-ME kebanjiran order di luar profesinya sebagai aktor-aktris bilem ferjuangan. ME laris manis manggung-joged di sejumlah hotel dan pub.</p>
<p>YZ pun demikian. Saya baru dapat kabar dari seorang kawan, YZ sempat ditawari microsoft menjadi bintang iklannya. Perusahaan milik Bill Gate itu tertarik merekrut karena apa yang ditampilkannya di video berdurasi semenit lebih dikit itu sesuai dengan branding microsoft. Ya..di gambar tampak jelas, barang milik YZ itu berukuran micro (kecil) dan soft (lembut atau lembek).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tiga Batang Rokok]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/2008/02/17/tiga-batang-rokok/</link>
<pubDate>Sun, 17 Feb 2008 14:00:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/02/17/tiga-batang-rokok/</guid>
<description><![CDATA[Panta rei. Hidup itu mengalir seperti air. Semua selalu berubah serba tak pasti. Hanya perubahan itu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Panta rei. Hidup itu mengalir seperti air. Semua selalu berubah serba tak pasti. Hanya perubahan itu yang pasti. begitu lagu lama yang diungkapkan filosof Yunani Heraklitos (<strike>edit: bukan Parmenides</strike>) berabad-abad kepungkur.</p>
<p>Roda hidup berputar menggelinjang mengikuti harmoni alam. Tiap detik (bahkan sepersekian detik), tiap menit, jam, hari, bulan, tahun, manusia menemui pengalaman berbeda, khas, unik. Karena berbeda itu, semestinya tidak ada kosakata jenuh, jengah, dan bosan, bahkan umpatan ‘ingin cepat mengakhiri hidup!’.<br />
<!--more--><br />
Tapi itulah manusia. Saya, kamu, anda, dia, mereka, pernah merasa jenuh ketika berdiri dalam satu titik kemapanan. Kita juga protes ketika berada di area yang menawarkan ketidakpastian.</p>
<p>Saya kehabisan kata-kata. Bingung mau tulis apa. Merokok dulu.</p>
<p>Sejak kecil saya tidak pernah punya cita-cita bekerja di pabrik kata-kata. Obsesi saya ketika ditanya bapak-ibu: ingin jadi insinyur! Obsesi sederhana dan salah kaprah. Sebab, insinyur itu adalah titel ketika seseorang telah menyelesaikan studi strata satu-nya di bidang eksakta. Bukan pabrik, bukan pula pekerjaan.</p>
<p>Masa kecil saya lalui di kampung kecil yang hampir semua masyarakatnya menggunakan bahasa Madura. Sebagian besar memang keturunan Madura. Tapi ada pula orang asli Jawa, meski mereka juga berbahasa Madura. Sebagian kecil lagi, terutama di pusat desa, ada komunitas pedagang yang dari bentuk tubuh, kulit, dan lekukan matanya, jelas teridentifikasi sebagai orang China. Dan mereka juga lebih sering menggunakan bahasa Madura ketika ngobrol dengan kami, pelanggan tokonya. Kadang dengan bahasa Jawa. Hampir tidak pernah saya dengar mereka ngomong ca-ci-cu, xa-xi-xu, dengan logat sengau khas, meski dengan sesama.</p>
<p>Keluarga China di desa saya terlihat lebih mapan dibanding kami-kami ini yang berkulit sedikit legam. Kemapanan itu kadang membuat kami iri terhadap mereka. Tapi bukan iri dengki. Tidak pernah ada kerusuhan etnis di desa saya.</p>
<p>Saya kehabisan kata-kata lagi. Rokok kedua perlu disulut.</p>
<p>Saya tidak pernah mengenyam pendidikan TNK (Taman Nak-Kanak). Umur 6 tahun, saya langsung masuk Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kakek saya termasuk pengurus yayasan di sekolah itu, entah ketuanya atau hanya anggota, saya lupa.</p>
<p>Sekolah di kampung, apalagi MI, seperti biasa, saya jalani dengan serba keterbatasan. Tidak ada perpustakaan, minim buku, dan tanpa tenaga pengajar lulusan sarjana. Sebagian guru saya adalah lulusan SPG, PGA, dan banyak yang saya tidak tahu mereka lulusan apa. Seingat saya, hanya satu guru yang PNS.</p>
<p>Dua paman saya, ikut mengajar di situ. Satu pegang sejarah, satunya lagi IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Saya paling suka diajar paman yang pegang sejarah. Dia banyak bercerita tentang sejarah nabi-nabi. Caranya bercerita renyah sekali dan kadang diselingi dengan banyolan.</p>
<p>Di kelas, saya bukan murid yang menonjol. Tetapi lebih dikenal sebagai anak bandel dan suka mengerjai murid cewek-cewek. Soal prestasi, saya tidak pernah juara kelas. Hanya berkutat di nomor dua dan tiga.</p>
<p>Semua saya lalui dengan biasa-biasa saja, sampai akhirnya ujian kelulusan dimulai. Dulu ada EBTANAS. Ada lima pelajaran yang diuji di EBTANAS. Meski tidak pernah juara 1, saya ingat hasil EBTANAS saya dulu itu paling tinggi di sekolah. 35 koma berapa gitu…saya lupa. Kalau di rata-rata., berarti nilai ujian saya kala itu tujuh per pelajaran.</p>
<p>Nilai EBTANAS 35 tertinggi? Hei..jangan tertawa dulu. Jangan sinis. Itu mungkin nilai maksimal yang kami, anak-anak kampung dengan fasilitas minim, bisa dapatkan. Nilai seperti itu sudah cukup luar biasa dibanding nilai 40, 45, bahkan 49, yang didapat murid sekolahan bonafide di kota yang dapat dengan mudah mencari lembaga pemberi kursus kilat layaknya PRIMAGAMA dan GANESHA, atau apapun namanya.</p>
<p>Banyak cerita, anak-anak kampung yang nilainya pas-pasan dan diterima di sekolah menengah agak bagus di kota bisa bersaing dengan siswa yang nilai EBTANAS SD-nya hampir mentok. Semua soal keterjangkauan terhadap fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan. Anda (atau anak Anda) bisa pintar, cerdas, jenius, mampu memahami 2 bahasa asing, bahkan 10, jika dijejali fasilitas berlebih dan punya modal tak terhingga. Tapi soal kreatifitas di tengah keterbatasan, bolehlah belajar pada orang-orang udik yang dianggap jauh dari peradaban.</p>
<p>Lha..kok ngelantur sampai ke EBTANAS segala ya? Merokok lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Irexin]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/2008/02/15/irexin/</link>
<pubDate>Fri, 15 Feb 2008 21:24:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/02/15/irexin/</guid>
<description><![CDATA[Banyak cara untuk sukses dalam berbisnis. Anda bisa menerapkan 1001 macam strategi agar bisa bertaha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak cara untuk sukses dalam berbisnis. Anda bisa menerapkan 1001 macam strategi agar bisa bertahan dalam persaingan usaha yang kian ketat. Anda juga bisa mencari mentor handal yang dapat mendampingi, memberi saran, dan kadang modal dalam membangun roda usaha.</p>
<p>Untuk memulai sebuah usaha baru, pertama anda harus punya niat. Jelas. Niat itu penting, karena tanpa niat, anda hanya akan jalan di tempat dan bisnis sekadar di awang-awang. Dan harus diingat, niat itu perlu tegas. Kalau niat anda ingin menjadi pengangguran, tentu tidak mungkin bisa berbisnis. Kalau anda punya keinginan menjadi babu, ya jangan harap bisa menjadi majikan. Intinya, tata lah niat anda.</p>
<p>Uang bukan segala-galanya. Begitu kata si pintar pemberi semangat bagi mereka yang kebingungan mencari kerja atau usaha baru. Banyak pengusaha sukses membangun kerajaan bisnisnya dengan hanya bermodal nekat dan duit cekak. Tapi saya ndak percaya betul. Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya, apalagi di Jakarta, ya harus pakai uang toh.<!--more--></p>
<p>Jadi, uang tetap penting. Anda tetap perlu modal meski niat sudah tertata rapi. Terserah mau cari di mana. Setelah itu, baru dipikirkan strategi bisnis macam apa yang akan anda terapkan. Asyem..kok mbulet ngono yo..</p>
<p>Sampai paragraf ini, semua masih mbulet dan tidak berisi. Kosong. Cukup sampai di sini. Sila cari sendiri macam rupa strategi bisnis di toko buku atau blog pemuas dahaga bisnis anda.</p>
<p>Kembali soal bisnis. Dalam berbisnis, mau tidak mau anda harus fokus. Pahamilah pasar yang akan anda rambah. Tentukan barang yang anda jual, bentuk branding yang bagus, dan lagi-lagi fokus pada segmen yang anda bidik.</p>
<p>Misal anda mau bikin koran baru, harus jelas siapa segmen pembaca yang dibidik. Sesuaikan bahasa jurnalistik media anda dengan derajat intelektualitas pembacanya. Kalau anda mau membidik pasar tukang becak, sopir metromini, atau penguasa terminal, ya jangan banyak mengumbar terminologi yang tif-tif, tas-tas, dan bahasa kelas tinggi lainnya. Demikian juga sebaliknya. Pokoknya berkacalah pada pasar (begitu kata Tantowi Yahya).</p>
<p>Penamaan produk juga tak kalah penting. Anda tidak bisa menawarkan obat batuk untuk anak-anak jika obat itu diberi nama: Viagra, meski dibungkusnya dikasih label khusus untuk anak-anak. Perlu penamaan khusus yang bisa membedakan antara produk yang bisa dikonsumsi orang dewasa dengan anak-anak di bawah umur. Dan Kalbe Farma sudah memberi contoh yang baik soal ini. Mereka memiliki produk Bodrex yang khusus dikonsumsi orang dewasa yang pening kepala. Untuk anak-anak mereka punya Bodrexin.</p>
<p>Yang seperti ini patut ditiru oleh perusahaan lain, termasuk mereka-mereka yang konsentrasi menjual produk khusus 17 tahun ke atas. Irex misalnya. Produk ini khusus banget bagi orang dewasa. Karenanya sulit merambah pasar remaja dan anak-anak. Agar bisa merambah semua segmen, termasuk anak-anak dan remaja, tidak ada salahnya mencipta produk baru: Irexin. Demikian pula Durex. Perlu juga dibuat padanannya untuk anak-anak dan remaja dengan nama Durexin.</p>
<p>Dengan membuat segmentasi seperti itu, keuntungan perusahaan bisa meningkat tajam. Apalagi jika produk semacam Irexin dan Durexin ini dijual di Indonesia, wah pasti laku banget. Bukankah di sini sudah banyak anak-anak yang dewasa sebelum waktunya?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersatu!]]></title>
<link>http://yuswae.wordpress.com/2008/02/13/bersatu/</link>
<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 10:18:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>yuswae</dc:creator>
<guid>http://yuswae.id.wordpress.com/2008/02/13/bersatu/</guid>
<description><![CDATA[X: Besok palenten,bos..Sampean ono agenda nang endi?
Y: Iyo i..Tak mlaku-mlaku ae..
X: Nang Endi?
Y:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>X: Besok palenten,bos..Sampean ono agenda nang endi?</p>
<p>Y: Iyo i..Tak mlaku-mlaku ae..</p>
<p>X: Nang Endi?</p>
<p>Y: Mboh. Pokoke mlaku-mlaku.</p>
<p>X: Ambek sopo?</p>
<p>Y: Bersatu.</p>
<p>X: Bersatu?</p>
<p>Y: Ya iyalah..bersatu. maksute dewe'an. Ndak berdua'an. Lha..aku durung duwe pasangan e...</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
