<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ngeresensi-dan-nggosip &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ngeresensi-dan-nggosip/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ngeresensi-dan-nggosip"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 08:16:15 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Bukan Milikku Lagi]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=186</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 04:56:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/07/29/bukan-milikku-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Mbak Endang,…. blogspotnya kembali dihidupkan lagi yaaa???
Sapaan Jeng Iko itu mengagetkanku. Satu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Mbak Endang,…. blogspotnya kembali dihidupkan lagi yaaa???</p></blockquote>
<p>Sapaan Jeng Iko itu mengagetkanku. Satu alasan tepat untuk merasa kaget itu adalah karena cikal bakal blog ini di perkampungan blog sebelah baru saja kututup  untuk pribadi. Dan menggunakan nama yang berbeda pula, demi mempersiapkan sebuah wajah baru. Maka, pastilah Jeng Iko tidak akan mengetahui nama baru dan statusnya yang masih dalam persiapan itu. Dan pastilah yang dia buka lembarannya adalah halaman dengan alamat yang lama : <span style="color:#ff0000;"><a href="http://endangcinta.blogspot.com">endangcinta</a></span> . Lalu.....bagaimana jeng Iko bisa menangkap basah kehadirannya kembali?</p>
<p>Dengan rasa yang sangat tidak nyaman karena degupan jantung terlalu berdebar, maka " kubuka album biru......penuh debu dan usang........" Sangat berbeda......sangat menusuk kesadaran hingga beberapa waktu menjadi tidak mampu berpikir. Ah ya......sedikit terlalu dramatis penggambarannya. Tapi hal pertama yang muncul di benak ini, adalah apakah halaman biru itu menjadi halaman dewasa ataukah halaman umum? Doaku, "Aduh Tuhan....jangan Kau biarkan halaman itu jadi halaman dewasa.....plis..plis...jangan....."</p>
<p>Lalu mengapa bisa begitu? Aku harus mengakui bahwa kadang kebodohan masih melingkupiku, meski  aku merasa sudah jauh lebih pandai dibandingkan dulu. Mestinya aku tahu, bahwa tak mungkin keberadaan sebuah alamat di ranah ini tidak kekal. Mestinya aku tak terlalu lugu untuk menganggap penggantian sebuah nama dan alamat akan begitu saja meniadakan yang pernah hadir. Yang terjadi kemudian adalah seperti yang saat ini ada. Kepemilikannya berpindah tangan tanpa sepenuhnya kusadari. Tanpa faktur, tanpa aku membubuhkan tanda tangan, tanpa perjanjian apalagi transfer rekening.</p>
<p><strong>ENDANGCINTA</strong> itu bukan lagi milikku. Bukan lagi sesuatu yang bisa kubentuk sekehendak hati. Bahkan pintunya pun tak ada lagi untuk bisa kumasuki dan kubersihkan seperti keinginanku. Aku cuma bisa memandangnya di luar pagar, halaman yang entah siapa penghuninya. Termangu......tak tahu harus berbuat apa. Entah pemiliknya sungguh cinta nama yang bukan miliknya ataukah tidak.</p>
<p>Masih termangu, tepekur...........tak kulakukan sesuatu pun untuk mempersiapkan tempat baru. Aku masih blo'on sekarang.......</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rasa Ibu]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=169</link>
<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 23:52:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/06/23/rasa-ibu/</guid>
<description><![CDATA[Di sebuah pusat perbelanjaan, &#8221; HUAAAAAA&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;aku mau main&#8230;&#8230;]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah pusat perbelanjaan, " HUAAAAAA............aku mau main......mau main........huaaaaaaaaaaaa......gak mau, gak mau pulang......!!!!!!!!!!!!!! ".....</p>
<p>Bukan pemandangan yang indah untuk dinikmati. Ada banyak emosi tumpang tindih berebut mempermainkan hati yang hanya sepotong. Mungkin ingin marah karena tak sesuai keinginan. Mungkin rasa malu menggelegak memerahkan paras karena menjadi pusat pandangan mata. Atau ketidaktegaan untuk tangisannya, namun juga keinginan untuk mengajarkan disiplin.  Pilih anak atau ibu......menyerah atau teguh......Ibu, nuranimu harus bicara.</p>
<p>Ada bacaan berita, betapa seorang gadis pun sangat memelihara rasa haus akan kuasa dan menaklukkan sesamanya. Tangan ramping dan seharusnya halus, bergerak kencang dan menancapkan bekas merah di pipi mulus yang bukan pipinya. Cerita yang bukan rancangan sinetron. Sangat nyata, dan sangat mengiris hati. Haruskah menutupi dan menganggap tidak ada? Atau mengakui kenyataan ? Mengakui tak harus menjauhkan pelukan dan menutupi tapi tak berdusta......Ibu, nuranimu harus bisa bicara benar.</p>
<p>Dunia yang ada di depan mata saat ini tampak hancur ketika perjalanan hati tak terasakan sejuk. Entah apa yang membuat rumah cinta itu mengeras dan kehilangan sentuhan manis bagi peradaban. Tampaknya kelahiran masa berikutnya mungkin memunculkan monster-monster ganas pemakan hati dan cinta bila tak ditemukan penawarnya. Dengan pemikiran ruang sempitku, aku cuma ingin meraba kuduk sendiri. Dan melihat telapak tangan kecil yang kuasanya begitu besar. Rahim saja adalah sebuah keistimewaan karena dari sana tak cuma bisa lahir satu dan ribuan sosok, tapi juga rasa. Benci, dendam, cinta, tanggungjawab, murka, maaf, kemanjaan dan sejuta rasa dan emosi yang bertebaran. Ibu, apa yang bisa tercipta dari rahim dan rasamu akan tampak pada putramu. Ya... kamu, Ibu......aku sendiri.</p>
<p>Selalu ada banyak debu dan bakteri yang bisa menempel di kulit dan tak cuma satu tiang menyangga rumah. Tapi kuduk ini bicara untuk menelisik ke dalam. Ada banyak masa tangan-tangan ini mengukir sejarah hati manusia, dan itu adalah masa emas. Tak mungkin kembali. Mulut boleh berteriak kencang, tapi jangan hitamkan hati. Tangan dan suara cantik jika terasa lembut, tapi jangan lemahkan hati jika jalannya tak baik.</p>
<p>Ibu, keibuanmu..........selalu pantas untuk dipertanyakan artinya bagi peradaban.........</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dari Sebuah Perjalanan Kecil]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=155</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 01:43:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/05/07/dari-sebuah-perjalanan-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Kata orang, melihat sesuatu dengan berbekal sebuah stereotip itu tidak bijaksana. Tentu saja maknany]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kata orang, melihat sesuatu dengan berbekal sebuah stereotip itu tidak bijaksana. Tentu saja maknanya mudah untuk dipahami. Bagaimanapun selalu tersimpan keinginan kita untuk bisa menjadi orang baik dan memaknai segala sesuatu sesuai dengan porsi yang ada. Tidak ada penyamarataan yang berlaku mutlak karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada di bumi ini unik, selama kita memandang denga kejelian. Ah ya.....mungkin ini juga pemaknaanku sendiri ketika merenung-renungkan sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Dalam satu helaan nafas yang sama dengan kesadaran untuk berlaku bijak, aku sendiri seringkali justru menghadap pada tembok yang mungkin kurang bijaksana. Berstereotip. Nyata sudah, kepala dan dada ini sungguh sempit. Meski degup-degup jantung begitu riuh menggetarkan dan bersuara lantang ,"mengapa harus tembok itu?" .......kadang sulit untuk menghindar. Jika harus mencari sebuah kesahihan proses pemaknaan, maka kusodorkan saja apa yang tertangkap bola mataku.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ini tentang perjalanan kecil ke bagian Utara sebuah pulau di bagian Barat negara, kota Medan. Sejak masih di loket pendaftaran ulang tiket di kota ini hingga tiba di kota tujuan, apa yang kudapat selalu membuatku menghadap ke tembok sempit pemaknaan. Oh, aku sudah pergi ke beberapa kota seberang di negara ini, tetapi tidak menjumpai yang seperti ini. Itu dulu, entah sekarang.....siapa tahu semua sudah serupa saja. Senggol serobot tergesa dan tak perlu barisan. Aku tertawa kecil dan berpikir, "beginikah dirimu ?"</p>
<p style="text-align:justify;">Troli didorong kencang dalam kesesakan pencarian barang dan tumit yang bisa saja menjadi korban aksi ngebut, mungkin saja sebuah seni dan bagian dirimu juga. Jangan tumitku ya, Bang.............aku masih menikmati keramahan dalam kotamu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Tak banyak waktuku disana, hanya hingga esok pagi datang dan aku memasukkan diri kembali dalam barisan daftar ulang tiket. Barisan yang ditunjukkan lelaki berseragam, tetapi dibuat kopi paste tak resminya di kanan kiri. Siapa cepat melangkah, siapa tiba di depan lebih dulu. Dan aku setelah lama berdiri di barisan resmi, berdiri mengangsurkan tiket. Yang terjadi kemudian,</p>
<p style="text-align:justify;">" Ibu seharusnya di kiri ! ", ......ini yang bertugas mendaftar ulang .</p>
<p style="text-align:justify;">" Lho ? Lha saya disuruh di barisan ini tadi. Yang kiri kan adanya belakangan...."</p>
<p style="text-align:justify;">" Nggak....Harusnya di kiri sini ! "</p>
<p style="text-align:justify;">" Sudahlah pak....biarkan ibu ini disini, kan sudah sampai di depan. Memang disini tadi"........ini suara di samping yang mungkin merasa sedikit tidak enak.</p>
<p style="text-align:justify;">" Ini MEDAN !!!!! "...........suara teriakan di bagian belakang. Menyudahi, menyimpulkan dan membuatku tertawa. Sadar diri. Dan semua bisa menjadi benar.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Andai itu terjadi di tempat dimana sebuah stereotip tidak berlaku, tentu aku menjadi sangat jumawa dengan kebenaran. Tetapi ini sebuah keunikan. Khas. Semua bisa benar, tinggal bagaimana memakluminya. Dan ketika tiba waktuku duduk menunggu panggilan terbang, ada suara dalam hatiku. Entah bagaimana, aku tidak ingin mereka berubah. Biarkan lestari karena inilah saudaraku. Negeriku. Aku tidak perlu memandangnya dengan etika, tetapi dengan cinta. Dan dunia ini memang tidak pernah sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seputar Degupan Jantung]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=143</link>
<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 00:15:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/03/13/seputar-degupan-jantung/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin karena terbiasa berada di kalangan mereka-mereka yang berusia jauh di atas usiaku, beginilah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin karena terbiasa berada di kalangan mereka-mereka yang berusia jauh di atas usiaku, beginilah yang sering terjadi di pengucapan dan pemikiran kepala kecil ini. Kebanyakan dari apa yang kudengar adalah pembicaraan tentang nilai. Nilai seorang manusia, nilai sebuah kata dan tindakan, dan nilai tentang apa saja yang kita semua hadapi. Dulu, aku selalu mendengar. Asik saja rasanya telinga ini menangkap orang-orang tua bicara  seputar hal-hal pelik itu. Dan sudah pasti kemudiannya tertanam dalam-dalam di kepala dan lubuk hati. Kadang telan begitu saja untuk mendapatkan pemahamannya pada waktu yang tepat. Kadang juga sudah menjadi bahan proses mencerna sejak pembicaraan itu tertangkap radar sadarku.</p>
<p>Menjadi menua sekarang ini, aku tak pernah mencari-cari <i>sparing partner</i> untuk sekedar bicara kesana kemari persoalan yang sebangun dengan yang dulu sering kudengar. Karena memang tak perlu dicari. Satu dua kali pertemuan, entah temu wajah dan kata atau hanya kata saja, alarmku sudah bisa memberikan petunjuk mana-mana saja kaumku yang suka dan tidak suka <i>berpartner</i> bicara hal-hal begitu denganku, atau yang benar-benar  berbeda jalan dan hanya sapaan manis yang diperlukan. Dan dengan mereka yang buatku seperti 'tumbu ketemu tutup' itu, kalimat-kalimat yang mengalir bisa secara alami tanpa disetel berlebihan mengarah pada pengupasan makna.</p>
<p>Bicara makna, yang sederhana tapi juga tidak sederhana, biasanya berujung pada sebuah akhir. Tidak heran seringkali tersirat dan tersurat rasa takut disana. Karena siapapun menyadari adanya sebuah akhir, memaklumi, memahami sekaligus ingin menjauhi akhir itu. Bukan apa-apa, sungguh bukan apa-apa jika pembicaraan itu ada. Maksud sebenarnya hanyalah untuk mengingatkan tentang ketidakkekalan dan apa saja yang bisa ada, terjadi dan harus dilakukan selama menjalani ketidakkekalan ini.</p>
<p>Tapi, beberapa hari ini aku menjadi lelah ketika menghadapi dan mendengarkan kalimat-kalimat seputar masa akhir itu dari mulut seseorang yang dekat. Yang degupan dirinya sedang bermasalah. Yang selalu menunjukkan seolah ketidakkekalan yang telah dia jalani lebih banyak dari yang pernah ada di sekitarnya, meski dia tahu tak ada yang tahu berapakah banyak itu. Dan di antara semuanya, selalu diselipkan cerita tentangku.</p>
<p>Kalau tuduhan yang bisa datang padaku adalah ketidaksukaan untuk memberikan rasa kasih yang dibutuhkan, boleh kukatakan dengan suara lantang bahwa kamu tak tahu aku. Kelelahanku, hanya berpangkal pada ketidakrelaan tentang sebuah waktu akhir yang mungkin datang pada darah dagingku, sesuatu yang kupahami benar kepastiannya. Memang, lukisan yang bisa kucoretkan untuk kau lihat hanya semacam keluhan tak suka. Padahal aku hanya tak punya keahlian melukiskan. Semua yang ingin kulukiskan hanyalah apa yang tak bisa kupandangi dengan senyum.</p>
<p>Satu kali aku pernah membutuhkan lima menit terlama dalam hidup untuk mencoba menangkap sebuah gerakan dada yang begitu halus, hanya karena pintu yang terkunci dengan sengaja itu memisahkanku dengan apa yang kupandangi. Sampai akhirnya kutegakan membangunkan sebuah kelelapan untuk lebih memastikan semuanya baik-baik saja, sebelum airmata menjadi deras. Dan disitulah awalnya kelelahan itu.</p>
<p>Aku tak suka menangisi sesuatu yang tak pasti. Maka, memiliki teman yang mengerti benar apa yang kau bicarakan, adalah sebuah kemewahan. Aku katakan bahwa aku memiliki kemewahan itu kemarin, di saat lelahku. Mungkin dia sudah kembali pada kesehariannya kini, tapi sentuhan keberadaannya  tetap terasa kental.</p>
<p>Kalau ini adalah sebuah catatan harian terbuka, ........entahlah. Matahari memang bersinar dan segalanya menjadi lebih baik. Tapi apa yang sudah terjadi tak bisa terhapuskan. Karena aku takut pada sebuah akhir, aku selalu mencari asa bersamaan matahari yang mulai bersinar. Selayaknya, menjadi lebih cerah dan kelelahan perlahan memudar dengan memejamkan mata beberapa saat lalu.</p>
<p>Aku ingin, hujan masih akan lama lagi datang.....................KAU dengarkan aku, kan?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ceracau Pagi Untuk Membuat Kantuk Mau Pergi]]></title>
<link>http://endangcinta.wordpress.com/?p=139</link>
<pubDate>Thu, 28 Feb 2008 00:16:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>endangpurwani</dc:creator>
<guid>http://endangcinta.id.wordpress.com/2008/02/28/ceracau-pagi-untuk-membuat-kantuk-mau-pergi/</guid>
<description><![CDATA[Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Lama sekali sudah duduk disini. Diam, tak mematung, hanya tak tahu mesti berpikir apa. Tak mematung karena sesekali masih menggerakkan tangan, mengusir nyamuk berdenging, memukul jika menggigit, atau menggaruk kalau sudah terlalu gatal. Artinya, diam ini tidak membuat hilang rasa dan kesadaran. Kopi, sudah lama habis selagi hangatnya masih ada. Jangan ditanya lagi tentang itu. Sekali waktu beranjak manakala perut bergolak tiba saatnya untuk dikosongkan. Dan duduk lagi disini.</p>
<p>Mungkin menunggu matahari. Memang tak bisa dipastikan munculnya akhir-akhir ini, meski tidak terlalu sering lagi menghilang. Kalau coba-coba pekerjaan tak waras, aku menebak saja perasaan matahari. Mungkin, dia sedang malas. Mungkin, dia sedang bosan dengan apa yang sudah ribuan masa dia jalani. Melanggar takdir sebenarnya, tapi apakah tak boleh merasa begitu. Dan, mungkin juga sedang menikmati sebuah kesenangan baru. Makin jauh menebak-nebak, aku jadi geli sendiri. Memang tak waras. Semuanya jadi kedengaran seperti aku. Bukan matahari. Ini bukti saja tentang kediaman yang tak bermakna tadi.</p>
<p>Lalu, hal yang pasti terjadi  ketika diam seperti ini terlalu berlarut adalah saat semuanya menjadi rumit. Terbang pada masa hijau dulu, dimana banyak nilai berusaha dicekokkan dalam kepala. Nilai tentang kehidupan manusia Jawa, nilai tentang keberadaan diri dengan prinsip. Belum lagi nilai tentang sebuah kehormatan, sebagai pribadi, sebagai perempuan, sebagai peran apapun yang diinginkan untuk diwujudkan. Teguh yang lentur, kuat yang luwes. Mengertikah ?</p>
<p>Menerima apa yang ada disini hari ini, menelisik awal mula dan perjalanannya untuk menjadi begini,  aku tak tahu apakah banyak kepala yang senang melakukannya. Tidak mungkin tidak ada. Tapi seberapa sering, itu yang membuatnya berbeda. Dalam waktu-waktu menelisik begini, satu dua helaan nafas terbit juga ide tentang reinkarnasi. Dan seperti khayalan seorang penulis fiksi, ide itu bisa begitu jauh berbeda dengan yang ada sebagai kenyataan. Terbentuklah sebuah pertanyaan, adakah itu ide seorang manusia, atau manusia yang penulis, yang seniman, atau semua manusia adalah seniman. Terlalu jauh kelananya dari yang ada hari ini. Lalu apa? Oh ya......mestinya diingat juga apa dan siapa saja berperan dalam sebuah proses hingga jadi kekinian.</p>
<p>Kopi tadi mungkin meracuni hingga semuanya makin rumit. Gelas kedua ini isinya cuma madu dan kayumanis, hangat dan  membangkitkan semangat. Dan kelana yang lahir dari sana adalah pertanyaan-pertanyaan. Berapa kali aku ingin dilahirkan, dimana, masa yang mana, rupa seperti apa. Yang terakhir adalah pertanyaan, apakah itu melanggar takdir sendiri dengan banyak bertanya yang tidak mungkin terjadi ?</p>
<p>Tegukan besar madu dan kayumanis. Apa bedanya dengan kopi tadi jika kelana yang ada jadi menyesatkan. Setidaknya, bisa jadi menyesatkan buat yang lain. Buatku sendiri aku sungguh merasa ada dalam rumah batin dan akal pengembaraan yang mengasikkan. Enak dan nikmat seperti ramuanku tentang kopi lalu madu dan kayumanis.</p>
<p>Ada kalanya aku tak mengerti apa yang diucapkan teman cakapku. Apa yang kulakukan hanyalah menikmati setiap katanya. Memasukkannya dalam kepala dan  menyimpannya dalam relung hati. Pasti disana akan ada satu mesin yang membuat  bisa memahami. Pada akhirnya. Pada waktu yang tepat. Pada saat bagian dalam diri menyatakan mau memahami, sekecil apapun kemauan itu. Dan yang dibutuhkan hanya ketenangan.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
