<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>nagabonar-jadi-2 &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/nagabonar-jadi-2/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "nagabonar-jadi-2"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 04:40:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mimpi-mimpi Nurdin Halid ]]></title>
<link>http://yonmoeis.wordpress.com/?p=177</link>
<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 13:10:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>yonmoeis</dc:creator>
<guid>http://yonmoeis.id.wordpress.com/2008/09/08/mimpi-mimpi-nurdin-halid/</guid>
<description><![CDATA[Yon Moeis
Wartawan Tempo
Jika Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Nurdin Halid berkehe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Yon Moeis<br />
Wartawan Tempo</p>
<p>Jika Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Nurdin Halid berkehendak, tak seorang pun boleh menghalanginya. Ini sudah terbukti ketika NH, begitu Nurdin Halid bisa disebut, kembali memimpin PSSI hingga 2011. Di Hotel Clarion, Makassar, akhir April lalu, Nurdin terpilih secara aklamasi. Dan tak seorang pun boleh menghalanginya. <!--more--></p>
<p>Terpilihnya Nurdin dengan tanpa lawan itu jelas sebuah bentukan kehendak yang, tentu saja, sudah dirancang jauh-jauh hari. Ia maju dan melangkah dengan mulus. Padahal jika saja Nurdin kembali tarung di ujung kepengurusannya (2003-2007) pada Oktober mendatang, saya yakin, siapa pun lawannya, dia masih bisa menang. </p>
<p>Pemilihan yang berawal dari usul tanpa pemungutan suara itu membuat hambar musyawarah nasional luar biasa, atau lebih dikenal dengan pestanya orang-orang bola tersebut. Setiap kali ada pemilihan ketua umum yang baru, setiap kali itu pula ada goresan sejarah yang dicatat dalam perjalanan sepak bola nasional. Tapi sekali lagi, mungkin hanya kali ini saja, tak seorang pun boleh menghalanginya. Sekalipun Nurdin, dengan entengnya, mengatakan pemilihan ini lebih demokratis.</p>
<p>Sebelum Nurdin kembali (ingin) menjadi orang nomor satu di tubuh organisasi tertinggi sepak bola nasional itu, dia pernah mengungkapkan mimpi-mimpinya. Sepak bola, katanya suatu ketika, adalah ilusi. Sesuatu yang hanya di angan-angan. </p>
<p>Nurdin Halid, setelah menjabat PSSI-1 pada Oktober 2003, hidupnya lebih banyak dihabiskan di Salemba. Ini membuat Nurdin Halid, yang saya tahu lebih rasional itu, menjadi sangat ilusif. Dari balik jeruji penjara, ia biarkan isi kepalanya ke mana-mana. Sehingga kelak ia menemukan sebuah perjalanan panjang hingga 2020.</p>
<p>Jauh-jauh hari sebelum ia memperpanjang napas di PSSI lewat pemilihan tanpa pemungutan suara itu, Nurdin ingin ada sosialisasi Visi 2018--yang merupakan penyempurnaan dari blueprint 2020. </p>
<p>Terus terang saya terlalu bodoh untuk memahami Nurdin Halid terhadap proyek-proyek ini. Saya pasti setuju bahwa kita ingin tim nasional Indonesia ikut Piala Dunia di mana dan tahun kapan pun. Tapi, tidak bermaksud mengajak siapa pun untuk tidak optimistis, siapa sih sebenarnya kita?</p>
<p>Jika Piala Dunia 2010 di Afrika dan 2014 di Brasil (satu-satunya calon dari Amerika Latin), apa mungkin Piala Dunia 2018 digelar di Jakarta? Mungkinkah pesta paling heboh di dunia itu kembali ke Asia? Sungguh sulit saya membayangkannya, sekalipun hanya sekadar menerapkan ilusi. </p>
<p>Kota Makassar tak lagi terasa hangat. Saya sempat menoleh ke belakang sejenak ketika hendak menuju pesawat yang akan meninggalkan Bandara Hasanuddin. Kalimat-kalimat seperti "pencanangan kebangkitan gerakan sepak bola nasional menuju pentas dunia", "mendorong terciptanya industri sepak bola", serta "blueprint menyongsong 2020 dengan target sepak bola Indonesia masuk pentas dunia Olimpiade dan Piala Dunia" terus mengiang-ngiang. </p>
<p>Saya akan mencoba memahami mimpi-mimpi ini untuk tidak membangunkan Nurdin Halid dari tidurnya. Saya justru lebih berkesan ketika Nagabonar (Nagabonar Jadi 2) berkehendak sebuah lapangan sepak bola di tengah-tengah proyek besar anaknya, Bonaga. Ia, Nagabonar, bicara dengan hati. </p>
<p>(Koran Tempo, Minggu, 6 Mei 2007)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Film Semiotic Analysis on Nagabonar Jadi 2 (Nagabonar Becomes 2)]]></title>
<link>http://ahmadriza.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 21:19:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Riza</dc:creator>
<guid>http://ahmadriza.id.wordpress.com/2008/06/02/a-film-semiotic-analysis-on-nagabonar-jadi-2-nagabonar-becomes-2/</guid>
<description><![CDATA[Berikut adalah essay saya tentang film semiotic, ide besarnya adalah menerawang intertekstualitas pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah essay saya tentang film semiotic, ide besarnya adalah menerawang intertekstualitas pada film-film Indonesia. Analisa pada essay ini masih terbatas oleh jumlah maksimum kata yang boleh ditulis (dikarenakan ini adalah bagian dari tugas akhir film semiotic course yang saya ikuti) tetapi kedepannya akan  saya jabarkan lebih lanjut lagi intertekstualitas pada film-film indonesia dengan lebih beragam perspectives selain itu untuk diagram greimas sepertinya tidak tercopy di dalam blog ini karena formatnya PNG. tetapi sebagai gambaran bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Semiotic_square1.svg.  Anyway, enjoy.</p>
<p>---------------------------------------------------------------------------------------</p>
<p>---------------------------------------------------------------------------------------</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>In 2004, Indonesian film public was served by 31 commercial Indonesian films; the growth is more than 100% than a year before<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> and this condition kept growing in the next year. Despite of the influence from the global economy of Hollywood and Bollywood movies, also even though most of the films still presents romance and horror genre, two of the most popular film genres for Indonesian spectators, this progress however can be seen as resurrection of Indonesian film industry after being almost dead for 15 years. <span> </span>The implication for this growing condition emerged new phenomenon of Indonesian films fandom. After all those years being educated by western films, these fans brought their appreciation to Indonesian film screens and began to raise their spectator view to cultic the films. These phenomena imply to the question whether there are cult films in Indonesian films and for me, it brings curiosity of how the film semiotic analysis can be applied for such films. However, the most challenging part is to find which film can represent the condition of Indonesian cult films moreover attractive enough from semiotic and communication point of view. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>My decision comes to film <em>Nagabonar Jadi 2</em> based on several indicators; first, this film is a sequel therefore it has causality and conceptual relation to the first movie. Second, <em>Nagabonar Jadi 2</em> emerged as a proposal in order to appreciate and communicate representation of new Indonesian nationalism by using the setting of contemporary everyday life condition in Indonesia. Some other films that were premiered almost in the same time with<em> Nagabonar Jadi 2</em> like <em>Gie</em> (2005) for instance also carried the same theme which was nationalism but indifferent settings and nonetheless only showed portraits of history where character <em>Gie<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[2]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></em> existed. Despite of forced ideology, in my opinion, similar plays also can be seen in 1980’s Indonesia government propaganda films such as <em>Serangan Fajar </em>(Dawn attacks), and <em>G 30/S PKI</em>. <em><span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Third, after some read, more or less, two hundreds comments, b</span><span>logs</span><a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span>, reviews, e-</span><span>news</span><span> </span><span>an</span><span>d</span><span> dis</span><span>c</span><span>us</span><span>s</span><span>i</span><span>on threads </span><span>i</span><span>n</span><span> internet</span><span> <span lang="EN-US">of which the range of publication was from March 2007<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> to March 2008 (a year after the film premiered) I found that most of those spectators thought that this film reminded them about nationalism. Nonetheless, even the Indonesian vice president, Jusuf Kalla</span></span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> also admitted that this film had strong nationalism and religiosity message. He is one of the most influential public opinion leaders and also head of the biggest Indonesia political party with more than 30 million constituents therefore his appreciation not only projects Indonesian film public opinion but also himself as a spectator. This essay mainly discusses about intertextuality within Nagabonar Jadi 2 and attempts to bear its narrative meaning using Greimas’ Rectangle, one among other semiotic methods.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:150%;"><strong><span>About the movie</span></strong></p>
<div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span>Nagabonar Jadi 2 (Nagabonar Becomes 2) is a comedy movie starring Deddy Mizwar and <a name="B0009NCPXI">Tora Sudiro</a> as the father an</span><span>d</span><span> </span><span>the son. This movie is a sequel to 1986 hits movie Nagabonar. The story is still about Nagabonar (Deddy Mizwar), a pickpocket who became a general during independence war. But now Nagabonar lives in the big city with his son Bonaga (Tora Sudiro), a businessman. Along with his three friends, Pomo (Darius Sinathrya), Ronnie (Uli Herdinansyah) and Jaki (Michael Muliadro) they run a big business. Conflict comes when Bonaga wants to sell his father</span><span>’s</span><span> palm plantation. Monita (Wulan Guritno) a consultant to Bonaga’s business tries to settle down the conflict between Bonaga and Nagabonar.</span><span> <span lang="EN-US">Some interesting scenes are when Nagabonar gives salute to the statue of General Sudirman, an Indonesia national hero from independence war, his monologue (47:35) with one of Indonesian national song <em>Padamu Negeri </em>(To You, My Country) as the musical background is considered as the peak for the film. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Film Semiotic</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Film semiotic has influenced from three persons; Christian Metz, Juri Lotman, and Roland Barthes. The main question in applying semiotic as interpretation method for film is how does the film signify?<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Since the film talks through conventional signs or according to Metz through film language, therefore the challenge in film semiotic is to find the truth of signification meaning thus being able to say what ‘Exist’ is ‘Truth’. In general terms, Danesi (2002) slightly disagrees with Metz proposition of how film can be viewed as having the same structural features as language. In his opinion, it is more accurate to say that the cinematic text expands the categories of language by blending dialogue, music, scenery, and action in a cohesive way.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> For this reason, he said, “it can be characterized as a composite sign made up of verbal and non-verbal signifiers.”<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Rose (2007, also Kress et.al, 2006) argues that ideology also plays important role to signification prominence. Taking the idea from Williamson (1978) and Barthes (1973), Rose emphasizes on structural spatialization of sign metaphor hence will lead to metonymic<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> and or synecdochal<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> signs. Kress (et.al, 2006) underpins those posits by took Metz (1974a, 1974b) argumentation on visual structuring. He notes that visual structuring has either been treated as simply reproducing the structures of reality rather than as creating meaningful propositions by means of visual syntax, or discussed in formal terms only.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Later, Kress said that visual structures do not simply reproduce ‘reality’. On the contrary, they produce images of reality which are bound up with the interest of social institutions within which the images are produced, circulated and read. Visual structures are never merely formal: they have deeply important semantic dimension.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Barthes has pinpointed that once the Author is removed, the claim to decipher a text becomes quite futile. To give a text, an Author imposes a limit on that text, to furnish it with a final signified, to close the writing.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> He also mentioned in his fine words; “<em>the birth of the reader must be a cost of the death of author</em>”.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> This proposition implies that the center of generated meaning no longer in the hand of creator nevertheless being emerged by the text reader. In <em>Structural Analysis of Narratives</em>, Barthes, by mentioning Greimas, also explained text narratives as playing ground for actors (subject-characters) and actants<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> thus the narrative itself becomes the language.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:150%;"><strong><span>The Greimas’ Rectangle</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 3.3pt;"><span><span> </span>Algirdas Julien Greimas, a Lithuanian linguistic and semiotician, has proposed a set of logic, based on Aristotle square of opposition, as elementary structure of signification, </span><span>marking off the oppositional logic that is at the heart of both narrative progression and semantic, thematic, or symbolic content.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span> <span> </span><span lang="EN-US">Lenoir (1994) attempts to give a short brief of Greimas’ proposition as follows:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:32.7pt;line-height:150%;margin:0 26.05pt 0.0001pt 21.3pt;"><span><span> </span>”</span><em><span>The semiotic square is a mean of articulating the semantic structure of signification in terms of binary oppositions or alternatives. Greimas emphasizes that the oppositions gave rise to meaning are a far richer set than contradiction, the either/nor of binary logic. Elaborating on three types of relationship-- contradiction, contrariety, and complementarity--he established an exhaustive set of oppositions forming a dialectical logic with four positions rather than three, as in Hegelian dialectic. Giving a particular concept--Greimas illustrates its use with an example from Levi-Strauss's discussion of "life" versus "death" in "The Structural Study of Myth"--one can use the semiotic square to unpack its semantic content by specifying the fields of difference, opposition, and separation in which it is embedded with respect to other concepts. </span></em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:32.7pt;line-height:150%;margin:0 26.05pt 0.0001pt 21.3pt;"><em><span><span> </span></span></em><em><span>Greimas describes the square's fourth position--which I regard as its most engaging aspect--as explosive. Commentators have depicted it as the "negation of the negation" in Hegelian terms; as such, Jameson notes, the fourth position in the square is frequently enigmatic, opening the possibility of a productive leap to the elaboration of a new system of meaning. In his excellent discussion of Greimas's work, Schleifer has shown how this process works, using the fourth position as the opening to an ever-widening web of "zones of entanglement." Intuitively, one can see the appeal of the square for practitioners of cultural studies. They hope that the semiotic square will bring to light the webs of signification constituting the meanings of a text; they believe that it may articulate the intertextual linkages between different domains as well as the underlying assumptions organizing particular cultural fields.</span></em><span>”<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<div></div>
<div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">The semiotic square consist binary opposition of concepts and its negation based on Hegelian term in dialectica. The relationships are:<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;" lang="EN-US">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span> </span></span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>S1 and S2</span><span lang="EN-US"><span> </span></span><span>: opposition</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>S1 and ~S1, S2 and ~S2</span><span lang="EN-US"><span> </span></span><span>: contradiction</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>S1 and ~S2, S2 and ~S1</span><span lang="EN-US"><span> </span></span><span>: complementarity</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:150%;"><span>The semiotic square also produces, second, so-called meta-concepts, which are compound ones, the most important of which are:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>S1 and S2</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>neither S1 nor S2</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Hence, I will combine this set of semantic logic with the concept of intertextuality which I will take from Umberto Eco article about film <em>Casablanca</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-US">Eco’s Intertextuality</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">In his ‘cult’ article about film Casablanca, Eco proposed the concept of intertextuality regarding the kind of requirements that can transform a book or a movie into a cult object. “The work must be loved, obviously,” he said. Then, “…but this is not enough. It must provide a completely furnished world so that its fans can quote characters and episodes as if they were aspects of the private sectarian world.” Later he bares the concept of ‘<em>common frame</em>’ and ‘<em>inter-textual frames</em>’ as the visual narrative variables in order to analyze films.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">What he meant by ‘<em>common frame</em>’ was “a sequence of actions more or less coded by our normal experience”,<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;line-height:115%;" lang="EN-US">[2]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a> and by ‘inter-textual frames’ he said “I meant stereotyped situation derived from proceeding and recording by our encyclopedia, such as, …duel between the sheriff and the bad guy or the narrative situation in which the hero fought the villain and won….”.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;line-height:115%;" lang="EN-US">[3]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a> Moreover, he proposed, instead of just recognized conventional inter-textual frames, audience apt to find more ‘magical flavors’ in a film. Those ‘magical flavors’ which are been textualized in film frames indeed transform a movie, such <em>Casablanca</em>, into a cult object. Although he admitted in <em>Casablanca</em>, there were more inter-textual frames, what he later called ‘inter-textual archetypes’, than ‘magic’ inter-textual frames.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><sup><span><!--[if !supportFootnotes]--><sup><span style="font-size:11pt;line-height:115%;" lang="EN-US">[4]</span></sup><!--[endif]--></span></sup></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-US">Findings</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><span> </span>As has been mentioned by Eco, intertextuality emerges from our ‘encyclopedia’ of textuality therefore one must bear their own frame of references first before they put identification as to which text does a film scene relate to. In film <em>Nagabonar Jadi 2</em>, due to my lack of Indonesian film references probably, I am quite surprised that I could not find as much intertextuality as I expected. Some do, but some don’t, most of scenes I would consider it merely common frames. Indeed some are conflicts and present something which profoundly interesting enough because historical plot of the film but mostly do not emerge sense of ‘magic’ or even specters, something which reminds me to something. However, for scenes which I consider have some intertextuality within it, I note my observation chronologically by time.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>1.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(02:30) Nagabonar’s monolog in front of his family graveyard.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>2.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(16:00) Nagabonar coaxes Bonaga to allow him to caressing Bonaga’s hair while he is sleeping. It’s an obtuse meaning for me and reminds me of Tora Sudiro (Bonaga) gay character in film <em>Arisan</em> (2003).</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>3.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(31:27) Umar, a ‘bajaj’ taxi driver takes Nagabonar back to his house after being ‘lost’ in Jakarta. Umar character, played by Lukman Sardi, as a poor man also has a same position in <em>Pengemis &#38; Tukang Becak </em>(1978) aka The Beggar and the Rickshaw Man.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>4.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(40:00) Nagabonar gives salute to the monument  of Indonesia founding fathers. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>5.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(47:35) Nagabonar’s second monolog in front of<em> </em>monument of General Sudirman, an Indonesia national hero from independence war, in the middle of one of Jakarta’s main way, the Sudirman Street. He also gives salute to the statue. In a glimpse it reminds me of Andre Stinky monolog with god in <em>Kiamat Sudah Dekat</em> (2003), a film which Deddy Mizwar (Nagabonar) directed and also played as one of the main actors.</span></p>
<div>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>6.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(75:00) Negotiation between Japanese investors and Bonaga’s team to sell his father palm plantation. Bonaga does not tell Nagabonar yet about the buyer of his plantation</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>7.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(79:45) Nagabonar’s furious when he knows that the buyer is Japanese. Japan was the last country which occupied Indonesia after The Dutch. </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>8.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(93:35) Nagabonar gives salute in independence war heroes’ cemetery.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>9.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(102:38) Monita kisses Bonaga. It reminds me whan Kirana (Bonaga’s mother) kiss Nagabonar in the first film, <em>Nagabonar</em>. The same faith?</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>10.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(108:45) flapping the national flag ceremony with an Indonesia anthem as the musical background, in this scene Nagabonar wears his ‘general’ hat and for the fourth time he gives salute. Every Monday morning, every public and government institution in Indonesia obligates to conduct this ceremony from 7 to 8 AM.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="EN-US"><span>11.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="EN-US">(111:15) Bonaga turn out the selling contract from the Japanese investors after he’s got news that his father injured after the flag ceremony. In this scene, bonaga, monita, umar, and three friends of bonaga gather near nagabonar bed. All of them wear white shirt except nagabonar himself.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 3.3pt;"><span lang="EN-US"><span> </span><span> </span>An interesting dialog, often said in the film, is the sentence “<em>Apa Kata Dunia?</em>” (What the world would say?). For those who have watched film <em>Nagabonar</em> they will recall this jargon as part of Nagabonar character itself. This jargon semanticly has been used by Batak tribe, a tribe in north of sumatera island (Indonesia) where Nagabonar originate from, in their own dialect to express their ignorance about the condition around them. Dignity is the main value of human existence nevertheless for the people from this tribe; they are very concern about what their surroundings will think about them. Therefore, to Nagabonar this sentence is a way for him to express his awareness about what would happen if he becomes ignorant. I am not saying that other tribes in Indonesia do not have any expression about this, but what Nagabonar says uniquely represents his cultural background and Indonesian spectators understandably capture this proposition.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 3.3pt;"><span lang="EN-US"><span> </span>Now, after capturing intertextuality in this film, the big question is what does this film stand for? What is the grand narrative this film attempts to emerge in the eye of spectators? Well, two things are clear—if I referred to what Barthes said about ‘obvious meaning’—obvious which are when gave Nagabonar salutes and the flag ceremony. In the film, spectator been brought back and forth between the present and who was Nagabonar. The first monolog in his family graveyard, his visits to the statues of the founding fathers, his meeting with Maryam—an old friend from independence war, and more over is his salutes. A salute is not something you do instantly or instinctively, when you give salute you give your respect and for Nagabonar respect is same like dignity, his born with it, he lives with it and he will die for it.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 3.3pt;"><span lang="EN-US">Salute also becomes conventional sign in this film. As in other nationalistic films like <em>Air Force One</em> for instance, <em>Saving Private Ryan</em>, or even <em>Men of Honor</em>, we are moved when we see the actor gives salute to whatever he saluted for, it’s could be flag, monument, an army or even to a dog. The acts become cult because everyone in this world knows what a salute means, indeed there are many forms of salute but they have a same meaning, a respect. Thus salute rise as a synecdoche along with flapping the national flag, sign of nationalism. From this point, I find four narrative propositions as (S1) nationalism, (S2) anti-nationalism, (~S1) non anti-nationalism, and (~S2) non nationalism. These narratives disseminate within <em>Nagabonar Jadi 2</em> and spectators can see as long as the film; <span> </span></span></p>
</div>
<div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><span lang="EN-US">Another interesting scene is when Monita kisses Bonaga, for spectators who do not see the first sequel, he or she would feel it’s just a common kiss, nothing more nothing less. However, one who has seen film <em>Nagabonar</em> would feel repetition because such an act also happened to Nagabonar. It is different actors and settings, how could one consider it as a repetition? Indeed they are indifferent in sense of text appearance but they have the same context. In the first film, Nagabonar was told as a person who has problems getting along with woman—as some men do, he has a problem expressing his feelings to Kirana (Bonaga’s mother) that’s why Kirana kisses Nagabonar. The same situation also emerges in Monita-Bonaga relationship. This is like an idiom, “<em>like father like son”.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span lang="EN-US">Conclusion</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span lang="EN-US"><span> </span><em>Nagabonar Jadi 2</em> indeed has some intertextuality with other films, especially Indonesian films, but needless to say it has ‘magic’ intertextuality since those scenes are not profoundly enough. There is neither a magic door nor a key like in Eco’s analysis on <em>Casablanca</em> but there are some unique scenes where the spectator will feel inter-relation between <em>Nagabonar Jadi 2</em> and its predecessor, <em>Nagabonar</em>. Using Greimas’ Rectangle I found four propositions of narrative within the film which are nationalism, anti-nationalism, non nationalism, and non anti-nationalism. Salutes and flapping the national flag are the synecdoche of nationalism in this film. However, <em>Nagabonar</em> <em>Jadi 2</em> is not a cult film as many of the scenes can be illuminated by its first sequel and not the other way around. Thus it is not ‘magic’ enough to be loved.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;line-height:150%;">
</div>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span lang="EN-US">See http://en.wikipedia.org/wiki/Semiotic_square. </span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:7.1pt;text-indent:-7.1pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span lang="EN-US">The translation version of Eco’s work regarding this matter was in <span>Eco, U. (1986). <em>"Casablanca": Cult Movies and Intertextual Collage</em>. In U. Eco, <em>Travels in Hyper Reality: Essays</em> (p. 197). New   York: Harcourt Brace Jovanovich. However, quotation I taken was from selected articles in BFM Film Semiotics class (spring 2008) reading requirements and nevertheless it was same article from different books.</span></span><span lang="EN-US"> Page 396.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span lang="EN-US">Ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span lang="EN-US">Ibid. I also took these paragraphs from my previous paper about Eco’s intertextuality and cult films phenomena. My intention was to put that article about cult film as part of this article nevertheless perhaps I can combine it in the future work.</span></p>
</div>
</div>
</div>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>I found such proposition during my study in Dr. James Thurlow film semiotic class in spring 2008 at BFM School Tallinn, Estonia, very interesting class indeed.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>(Danesi, 2002)</span><span> page 122-128.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Ibid. </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>This kind of sign is something associated with something else, that then represents something else. See <span>(Rose, 2007)</span> page 87.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>This sign is either a part of something standing in for a whole, or a whole representing a part. See ibid. </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>(Kress, Gunther &#38; Theo van Leeuwen, 2006)</span><span> page 47.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>The original text is in <span>(Barthes, Image-Music-Text, 1977)</span> however, quotation that I took was from selected articles in BFM Film Semiotics class (spring 2008) reading requirements. page 147.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Ibid.</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>A</span><span>n "actant" is not simply a character in a story, but an integral structural element upon which the narrative revolves</span><span>. See http://en.wikipedia.org/wiki/Actant.<span> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span>Barthes, Roland. <em>A Barthes Reader</em>. Ed. Susan Sontag. New York: Hill and Wang, 1982</span><span> in BFM Film Semiotics class (spring 2008) selected readings. </span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>F</span><span>elluga, Dino. "Modules on Greimas: On the Semiotic Square." Introductory Guide to Critical Theory.</span><span> See http://www.purdue.edu/guidetotheory/narratology/modules/greimas square.html retrieved on May 9th, 2008.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Lenoir, Timothy (1994) Was That Last Turn A Right Turn? The Semiotic Turn and A.J. Greimas, </span><em><span>Configurations</span></em><span>, Vol.2</span><span>.</span><span> 119-136.</span></p>
</div>
</div>
</div>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Kompas, <em>Sepuluh Tahun Terakhir Perfiman Indonesia</em> (Indonesian films in the last ten years), July 2<sup>nd</sup>, 2005.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><em><span>Gie</span></em><span> character was taken from real Indonesian activist name that was lived in Jakarta around 60’s and 70’s.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:7.1pt;text-indent:-7.1pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>Most of the blogs only told about experience they had after watched the film however some blogs also gave critics and good reviews on films such as (in Indonesian language); <span> </span>http://ericsasono.multiply.com/reviews/ item/40, and http://biangpenasaran.blogspot.com/2007/06/marketing-nagabonar-jadi-2.html </span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>The official film date of publish was March 29<sup>th</sup>, 2007.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:7.1pt;text-indent:-7.1pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span>See http://www.antara.co.id/arc/2007/5/7/wapres-akui-nagabonar-jadi-2-luar-biasa/ </span></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[nonton NAGABONAR yuuk...]]></title>
<link>http://irrrr.wordpress.com/?p=197</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 08:47:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>irrrr</dc:creator>
<guid>http://irrrr.id.wordpress.com/2008/05/08/nonton-nagabonar-yuuk/</guid>
<description><![CDATA[

hmmm,,, pernah liat NAGABONAR jadi 2???  Film yang dibintangin Tora Sudiro, Deddy Mizwar, dan Wula]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://img.astaga.com/astaga/i/art/layar/n/nagabonar_79262_f_116727.jpg" alt="" width="222" height="227" /><img src="http://www.21cineplex.com/images/film/film18621.jpg" alt="" width="160" height="226" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p>hmmm,,, pernah liat <span style="color:#ff6600;"><strong>NAGABONAR jadi 2</strong></span>???  Film yang dibintangin Tora Sudiro, Deddy Mizwar, dan Wulan Guritno ini adalah salah satu favorit gw. Lucu, mendidik, tapi tidak menggurui. Dan juga yang mempopulerkan kata2 <span style="color:#3366ff;"><strong>"Apa kata Duniaa????"</strong></span><br />
Terus, apa gw ngajakin untuk nonton film ini lagi??? Basi kali yah..... filmnya dah beredar dari kapan tau, bahkan VCD/DVD original nya pun dah ada di pasaran. Dan orang2 sudah mulai melupakan film ini, ganti lagi dengan film yang lebih fresh. Lalu maksudnya apa dari judul postingan ini???</p>
<p>Okei,,, jadi gini. Dalam memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional<span style="color:#008000;"><em>--yang bahkan taun ini dicanangkan sebagai Visit Indonesia Year 2008,juga dengan tema peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional--</em></span> Film NagaBonar akan diputar ulang di bioskop2 Indonesia <span style="color:#008000;"><em>--gatau seluruh Indo, apa baru jakarta aja--</em></span>. Film yang akan diputar nanti adalah asli film yang diperankan oleh Deddy Mizwar dan Nurul Arifin 21 tahun yang lalu. Tenang aja, ga usah kawatir akan kualitas film yang udah berumur 21 tahun ini, karena film ini di remastering, jadi gambarnya akan sebagus film2 keluaran terbaru. Bahkan soundtrack nya pun dibuatin baru.</p>
<p>Berdasarkan info yang gw dapet dari <a href="http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&#38;id=339026">sana</a> <a href="http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/5/8/h2.htm">sini</a> sih, pengisi suaranya tetep diisi oleh pengisi suara yang sama dengan film Nagabonar yang diputar 21 taun lalu. Hanya, akan ada beberapa penggantian pengisi suara, dikarenakan orangnya sudah Almarhum,  atau sudah uzur<span style="color:#008000;"><em>--tapi cuma 5 doang, katanya--</em></span></p>
<p>Tertarik pengen liat???? ayo... ke bioskop terdekat...!!!! tonton filmnya <span style="text-decoration:line-through;">dapatkan hadiahnya</span></p>
<p>barusan, niatnya pengen liat filmnya di 21 depan kantor. liat jadwalnya dulu di <a href="http://www.21cineplex.com/playnow.cfm?id=1862">web-nya 21</a>, kyk gini:<br />
<img src="http://irrrr.wordpress.com/files/2008/05/jadwal-nagabonar.jpg" alt="" /></p>
<p>dateng ke sana jam 8 kurang 15, bgitu ngantri tiket, nunjuk tempat duduk, trus mba penjaga tiket nya ngomong gini<br />
<span style="color:#3366ff;"> "adanya buat yang jam 21.30 mas, yang sore main jam 19.30"</span> GUBRAKS..!!!! sial. ketipu ma jadwal nya 21 ini sih..... Mana dari 5 studio, yang main jam 8 cuma <span style="color:#3366ff;">"Kereta Hantu Manggarai"</span> lagi, MALES. :(<br />
yaudah lah, gagal nontonnya, mungkin besok sore aja di Blok M Plaza. ada yang tau jadwal benernya di sana main jam berapa klo sore???? :mrgreen:</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesia Movie Awards 2008]]></title>
<link>http://striptisdelapan.wordpress.com/?p=49</link>
<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 07:28:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>striptisdelapan</dc:creator>
<guid>http://striptisdelapan.id.wordpress.com/2008/04/04/indonesia-movie-awards-2008/</guid>
<description><![CDATA[IMA 2008 sudah dua kali digelar sejak tahun lalu. Kategori dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Terbaik da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>IMA 2008 sudah dua kali digelar sejak tahun lalu. Kategori dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Terbaik dan Terfaforit. Kategori Terbaik dipilih langsung oleh Dewan juri. Sedangkan kategori Terfaorit dipilih oleh masyarakat melalui sms. Penganugerahannya digelar kemarin tanggal 28 Maret 2008, dan kalau nggak salah ditayangkan di <a title="rcti.tv" href="http://www.rcti.tv/" target="_blank">RCTI</a>.</p>
<p><strong>PEMENANG AJANG TERBAIK</strong></p>
<p><strong>Pemeran Utama Pria Terbaik</strong>: Deddy Mizwar – Nagabonar Jadi 2<br />
Nominasi: Dwi Sasono – Mengejar Mas-mas<br />
Nicholas Saputra – 3 Hari Untuk Selamanya<br />
Tora Sudiro – Otomatis Romantis<br />
Vino G. Bastian – Radit dan Jani</p>
<p><strong>Pemeran Utama Wanita Terbaik</strong>: Dinna Olivia – Mengejar Mas-mas<br />
Nominasi: Fahrani – Radit dan Jani<br />
Nirina Zubir – Get Married<br />
Poppy Sovia – Mengejar Mas-mas<br />
Shanty – The Photograph</p>
<p><strong>Pemeran Pembantu Pria Terbaik</strong>: Tio Pakusadewo – Quickie Express<br />
Nominasi: Donny Alamsyah – Sang Dewi<br />
Dwi Sasono – Otomatis Romantis<br />
Jaja Mihardja – Get Married<br />
Lukman Sardi – Nagabonar Jadi 2</p>
<p><strong>Pemeran Pembantu Wanita Terbaik</strong>: Henidar Amroe – Mereka Bilang, Saya Monyet!<br />
Nominasi: Ira Maya Sopha – Quickie Express<br />
Meriam Bellina – Get Married<br />
Rachel Maryam – Perempuan Punya Cerita<br />
Shanty – Maaf, Saya Menghamili Istri Anda</p>
<p><strong>Pasangan Terbaik</strong>: Vino G Bastian-Fahrani – Radit dan Jani<br />
Nominasi: Dwi Sasono-Tora Sudiro – Otomatis Romantis<br />
Henidar Amroe-Titi Sjuman – Mereka Bilang, Saya Monyet!<br />
Shanty-Lim Kay Tong – The Photograph<br />
Tio Pakusadewo-Rudi Wowor – Quickie Express</p>
<p><strong>Aktor Pendatang Baru Terbaik</strong>: Volland Humonggio – Sang Dewi<br />
Nominasi: Adadiri Tanpalang – Anak-anak Borobudur<br />
Marrio Merdithia – Coklat Stroberi</p>
<p><strong>Aktris Pendatang Baru Terbaik</strong>: Titi Sjuman – Mereka Bilang, Saya Monyet!<br />
Nominasi: Sandra Dewi – Quickie Express<br />
Sarah Sechan – Perempuan Punya Cerita<br />
Susan Bachtiar – Perempuan Punya Cerita</p>
<p><strong>PEMENANG AJANG TERFAVORIT</strong></p>
<p><strong>Film Terfavorit</strong>: Nagabonar Jadi 2<br />
Nominasi: Hari Untuk Selamanya, Coklat Stroberi, Get Married, Mengejar Mas-mas, Mereka Bilang, Saya Monyet!, Otomatis Romantis, Perempuan Punya Cerita, Quickie Express, Radit dan Jani, The Photograph</p>
<p><strong>Pemeran Utama Pria Terfavorit</strong>: Vino G. Bastian – Radit dan Jani<br />
Nominasi: Deddy Mizwar – Nagabonar Jadi 2<br />
Tora Sudiro – Otomatis Romantis<br />
Dwi Sasono – Mengejar Mas-mas<br />
Nicholas Saputra – 3 Hari Untuk Selamanya</p>
<p><strong>Pemeran Utama Wanita Terfavorit</strong>: Nirina Zubir – Get Married<br />
Nominasi: Dinna Olivia – Mengejar Mas-mas<br />
Fahrani – Radit dan Jani<br />
Poppy Sovia – Mengejar Mas-mas<br />
Shanty – The Photograph</p>
<p><strong>Pasangan Terfavorit</strong>: Vino G Bastian-Fahrani – Radit dan Jani<br />
Nominasi: Dwi Sasono-Tora Sudiro – Otomatis Romantis<br />
Tio Pakusadewo-Rudi Wowor – Quickie Express<br />
Henidar Amroe-Titi Sjuman – Mereka Bilang, Saya Monyet!<br />
Shanty-Lim Kay Tong – The Photograph</p>
<p><strong>Pendatang Baru Terfavorit</strong>: Sandra Dewi – Quickie Express<br />
Nominasi: Sarah Sechan – Perempuan Punya Cerita<br />
Susan Bachtiar – Perempuan Punya Cerita<br />
Adadiri Tanpalang – Anak-anak Borobudur<br />
Marrio Merdithia – Coklat Stroberi<br />
Titi Sjuman – Mereka Bilang, Saya Monyet!<br />
Volland Humonggio – Sang Dewi</p>
<p><strong>Soundtrack Terfavorit</strong>: Selamanya Cinta-D’Cinnamons – Cintapuccino<br />
Pandangan Pertama-Slank feat. Nirina Zubir – Get Married<br />
Disini Untukmu-Ungu – Coklat Stroberi<br />
Nominasi: 3 Hari Untuk Selamanya-Float – 3 Hari Untuk Selamanya<br />
Butterfly-Melly Goeslow feat. Andhika Pratama – The Butterfly</p>
<p><strong><br />
Dewan Juri</strong>: Didi Petet, Arswendo Atmowiloto, Jajang C. Noer, Niniek L. Karim, El Manik, Ratna Riantiarno, Darwis Triadi</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pesan Moral Sang "Jenderal"]]></title>
<link>http://fospi.wordpress.com/2007/09/09/pesan-moral-sang-jenderal/</link>
<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 13:59:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>fospi</dc:creator>
<guid>http://fospi.id.wordpress.com/2007/09/09/pesan-moral-sang-jenderal/</guid>
<description><![CDATA[
Oleh; Muhammad Thalib Bonto
Muqaddimah
Lebih dari 350 tahun penjajahan bangsa Indonesia oleh imperi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" dir="rtl" align="center"><strong><span dir="ltr">Oleh; Muhammad Thalib Bonto</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Muqaddimah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Lebih dari 350 tahun penjajahan bangsa Indonesia oleh imperialis <em>Londo</em> telah dirasakan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Kematian, kelaparan, penyiksaan, perbudakan dan beragam intimidasi  menjadi peristiwa harian sepanjang masa itu. Sejarah mencatat berbagai peristiwa yang mengerikan atas bangsa ini, namun rupanya takdir menetukan lain. Ternyata bangsa ini tidak kehilangan semangat, tetap bertahan hidup untuk bangkit berjuang melakukan perlawanan atas nama kemerdekaan. Entah berapa ratus ribu bahkan jutaan pendahulu kita gugur demi kemerdekaan dari cengkraman penjajah. Tepat 62 tahun yang lalu pada tanggal yang sama di hari ini, gema suara Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan bangsa lain.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kemerdekaan bangsa Indonesia selama 62 tahun </span><span style="font-size:11pt;">bukan waktu yang singkat untuk dirasakan dan dinikmati. Setiap tahun, perayaan <em>tujuhbelasan</em> semarak dirayakan hampir di seluruh kota di negeri ini oleh seluruh lapisan masyarakat. Kegembiraan, keceriaan dan semangat suka cita dalam beragam perlombaan tampak terlihat di wajah sebagian anak bangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Namun kemerdekaan bangsa ini tidak dapat dirasak</span><span style="font-size:11pt;">an oleh seluruh lapisan masyarakat luas. Perampasan hak-hak indvidu terjadi di semua sektor,  seperti di sektor sosial, politik dan ekonomi masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kalau dulu perlawanan kita dengan sosok <em>Londo</em> yang jelas di depan mata, namun sekarang bukan bangsa lain yang menjajah bangsa ini, tapi sesama anak bangsa lah yang saling menjajah dengan nafsu kekuasaan untuk meraup segala keuntungan. Dengan berbagai dalih dan cara, hampir semua sektor menjadi ajang adu kelihaian bagaimana meraup keuntungan pribadi semaksimal mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pengorbanan para pejuang di masa lalu hampir terlupa oleh semua lapisan masyarakat. Suara bising peluru, bambu runcing yang berujung merah, ceceran darah para pejuang seakan lenyap dari ingatan bangsa ini. Padahal, <em>apa kata dunia</em> melihat bangsa kita setelah 62 tahun makin keropos dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Film ‘Nagabonar jadi 2’, yang baru saja kita tonton bersama, merupakan bentuk aktualisasi keresahan sosial yang sangat mendalam bagi sang sutradara, Dedi Mizwar. Tidak beda dengan film-film dia sebelumnya seperti ‘Kiamat Sudah Dekat’ dan ‘Ketika’ yang juga merupakan film yang sarat dengan pesan-pesan sosial. Film ini sarat dengan sentilan-sentilan cerdas yang disuguhkan dengan bumbu humor tapi sangat menyentuh kesadaran moral kita akan nasionalisme. Film ini juga menyentuh kalangan muda Indonesia , unsur patriotisme yang terkandung merupakan oase bagi kalangan muda yang saat ini banyak terbius oleh globalisasi. Kecintaan akan leluhur adalah rasa untuk kembali menjadi anak bangsa. Begitu juga penyampaian dari tokoh Nagabonar itu sendiri, baik pesan moral, sosial ataupun patriotik. Film ini juga sarat dengan pesan CINTA; CINTA antara laki-laki dan perempuan, CINTA antara orangtua dan anak, CINTA dalam persahabatan, CINTA tanah air, termasuk CINTA dalam melihat “perbedaan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Berikut ini beberapa pesan moral yang ingin disampaikan oleh sang sutradara sekaligus pemeran utama dalam film ‘Nagabonar jadi 2 ‘:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Kasih Sayang Seorang Ayah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kasih sayang seorang ayah yang luar biasa terhadap anak, dari mengasuh dan mendidik sejak kecil, men<em>support</em> untuk maju hingga menyekolahkan ke luar negri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kesibukan seorang ayah yang jauh dan jarang berkomunikasi dengan anak, mengakibatkan terputusnya perhatian dari orangtua ke anak. Akhirnya generasi-generasi tanpa perhatian bermunculan mengekspresikan kekecewaan terhadap keluarga, padahal mereka adalah pejuang masa depan untuk membangun negri ini. Sosok ayah teladan dibutuhkan dalam pertumbuhan generasi yang memiliki visi dan misi jelas berhadapan dengan masa depan yang kian tak menentu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kehidupan hedonis, materialis, individualis memunculkan bahasa maskulin di tengah-tengah keluarga. Ayah yang <em>gengsi</em> untuk menyatakan kepada anaknya 'ayah sayang kamu', mengekspresikan kalimat tersebut dengan materi berlimpah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kasih sayang seorang jendral dalam film ini tidak hanya berupa materi dan pendidikan, bahkan lebih dari itu, hingga pencarian jodoh. Seluruh kasih sayang Sang Jenderal ditumpahkan dalam bentuk perhatian seorang Nagabonar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Bapak tidak akan mati, bapak akan terus hidup di hatiku…”, kata Bonaga. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kalimat ini menunjukkan bahwa, ternyata, nurani seorang anak sematawayangnya itu tetap hidup walau sempat kabur dengan kehidupan duniawi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Lapangan Bola </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Bukan dialog menggurui, bukan juga ceramah berapi-api dengan seribu janji. Dialog itu dibangun ketika anak Nagabonar, Bonaga, berkongsi dengan rekan-rekannya bermaksud mendirikan perusahaan di kebun sawit milik Nagabonar di Medan. Rekan Bonaga memaparkan detail perusahaan, termasuk mess untuk karyawan. Tanpa diduga, Nagabonar menanyakan “di mana lapangan bolanya?” Tentu saja, eksekutif muda ini kaget. Lapangan bola? Tanya mereka. Mendengar pertanyaan tersebut, Nagabonar langsung meradang, <em>“Kau tidak ingin bangsa kita menang main sepak bola. Sudah, rubuhkan saja salah satu gedung untuk bikin lapangan bola,” ungkap Nagabonar.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pernyataan sederhana ini satir, begitu mengena dan telah mewakili pernyataan jutaan pecinta bola di negeri ini. Kadang, masyarakat kita memang melupakan persoalan sepele. Maksudnya, saya ingin mengatakan, bahwa jika ingin meraih hal-hal besar, jangan pernah melupakan persoalan kecil. Sebab sekecil apa pun masalah adalah batu sandungan untuk meraih hal besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Contohnya lapangan bola. Boleh jadi kita tidak memiliki kendala soal lapangan. Tapi persoalannya, seberapa layak lapangan tersebut memenuhi standar internasional. Hampir 90% lapangan sepak bola di negeri ini tak memenuhi syarat. Akibatnya, pemain Indonesia kerepotan saat tampil di lapangan mulus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">KKN dalam Penempatan Pejabat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Jaman sekarang, untuk mendapatkan posisi strategis pada jabatan dan mendapatkan fasilitas adalah dengan masuk ke partai politik. Mengejar karir dari bawah akan membutuhkan waktu yang panjang, juga perjuangan yang melelahkan. Ini anggapan kebanyakan orang. Tidak heran, banyak staff ahli tapi sangat jarang sosok yang benar-benar ahli menjadi staff.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pertemuan Nagabonar dan Maryam yang sama-sama mantan pencopet dan pejuang, sangat mengherankan bagi keduanya. Seorang Maryam yang telah menjadi staff ahli menteri sementara Nagabonar masih saja hidup di tengah kebun kelapa sawit namun anaknya telah menjadi seorang pengusaha sukses di Jakarta . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Dari pengakuan Maryam yang ternyata diangkat menjadi staff menteri karena satu partai dengan menteri tersebut, merupakan pesan yang juga telah menjadi rahasia umum  hampir di semua partai. Bagi-bagi kekuasaan setelah kemenangan pemilu adalah hal yang biasa, kepentingan masyarakat yang memilih mereka adalah nomor sekian. Kemenangan adalah “berapa dan mana jatah kami”. Akhirnya penempatan seseorang pada posisi tertentu tidak lagi dilihat kemampuan dan keahlian. Yang penting kekuasaan di tangan, kehormatan karena jabatan, kenikmatan dengan fasilitas akan menjadi ladang gengsi bagi setiap pemenang pemilu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Harapan Bagi Para Pemuda </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Bonaga bersama tiga sahabatnya merupakan cermin anak muda modern: metroseksual, pintar, cerdas, dan dinamis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Tidak sia-sia kau kusekolahkan ke luar negri,” kata Jenderal.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Bapak mau dan rekan-rekanku ini maju kan ?” timpal Bonaga.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Kalau bukan kalian yang muda-muda ini siapa lagi…?” pesan Nagabonar.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Setiap orang tua akan menaruh harapan besar di pundak para pemuda. Bagaimana tidak, pemuda adalah simbol terkumpulnya semua kekuatan, mulai dari kemampuan akal, cara berfikir, energi dalam berkreativitas dan juga kaya inovasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Apalagi dengan anak-anak bangsa yang sekolah keluar negeri, harapan itu makin besar karena makin bertambahnya pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan bangsa lain. Namun sangat disayangkan banyak potensi seperti ini terkubur dengan hidup santai, malas, yang mengakibatkan matinya potensi pada diri mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pengembangan potensi pada diri pemuda tidak lepas dari para orang tua yang memberikan dorongan yang kuat dan besar untuk mereka, baik dalam bentuk materil maupun immateril. Sosok Nagabonar, seorang jendral yang tidak bisa membaca tapi tetap berkeinginan untuk mendorong anaknya sekolah setinggi mungkin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Tapi sangat di sayangkan sering kali pemuda yang tumbuh di jaman sekarang begitu kehilangan rasa akan perjuangan orangtua mereka. Akhirnya perselisihan, dan ketidaksepahaman yang lebih sering muncul dan buntu dalam mencari jalan keluar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Jaman yang sangat sulit ku mengerti, tapi berupaya kupahami karena aku mencintaimu, Bonaga..."</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Demikianlah sosok orang tua ideal yang lebih mau mengerti akan kreativitas dan inovasi sang anak. Begitu juga dalam konsepsi membangun konflik antara “yang tua” dan “yang muda” dilanjutkan dengan konflik “yang lama” dan “yang baru”, agar titik temu mudah tercapai. Si-anak dan Si-Bapak melakukannya dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama, berusaha saling memahami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Orientasi Pembangunan yang Tidak Ramah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pembangunan yang pesat menunjukkan kemajuan sebuah bangsa. Maka tidak heran, di Jakarta terdapat banyak gedung-gedung yang dapat mendongakkan kepala kita semaksimal mungkin. Kepenatan para eksekutif dalam beraktivitas membutuhkan berbagai sarana untuk melenturkan urat-urat yang tegang karena aktivitas yang menggila. Oleh karena itu dibutuhkan semacam resort dan pemandangan alam yang indah di sekitarnya untuk mengurangi beban stress mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Bonaga bersama rekan rekannya mendapat tawaran untuk membangun sebuah resort mewah. Bonaga bingung karena tanah leluhurnya yang akan dijadikan resort. Maka ia mengundang ayahnya ke Jakarta untuk memperlihatkan aktivitasnya sebagai pengusaha sukses dan sekaligus membujuk ayahnya supaya mau melepaskan tanah leluhurnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pola pikir Bonaga pada awalnya lebih cenderung kapitalis radikal, dengan mengesampingkan nurani dalam berbisnis property. Tanah leluhur, dimana terdapat makam ibu, nenek dan sahabat ayahnya, Si Bujang, tidak dipedulikan. Karena yang ada di pikiran Bonaga dan teman-temannya hanya keuntungan semata, bahwa orang sudah mati tidak ada lagi hubungan dengan orang yang masih hidup, maka kuburan tidak lagi menjadi hal yang patut disakralkan apalagi dijadikan pengingat kematian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Padahal sebagai manusia dari agama manapun, masih banyak yang menjunjung tinggi keberadaan kuburan bagi mereka yang telah mati, selain sebagai pengingat akan kematian manusia, bahkan menjadi ajang silaturrahmi antara mereka yang masih hidup di dunia dan mereka yang telah beristirahat dalam kubur, seperti ayah Bonaga dengan orang-orang terkasihnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Namun, kebutuhan akan tanah untuk pembangunan menjadikan para property akan berkonsep lain. Yang terpikir bagi para pengembang bagaimana berinvestasi dan mengeruk keuntungan dengan cepat, tanpa melihat perkembangan lingkungan sekitar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Bangsa yang "Ramah"</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kita bisa bangga dengan bangsa kita yang terkenal santun dan ramah. Namun keramahan sering kali kebablasan, dengan alasan menghormati tamu. Tidak jarang dari kita yang melukai keramahan ini. Dalam dunia usaha dan politik "keramahan" bangsa kita juga sangat terkenal, yaitu untuk meloloskan berbagai proyek dari para investor atau untuk memuluskan kenaikan pangkat atau jabatan. Tidak jarang pula dari kita menyuguhkan hadiah atas nama  "keramahan"</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Upeti buat tamu kita…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Kita ini bangsa yang ramah…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Ramah apa kita…? Itu sama saja kau menghinakan anak dan istri kau…!" </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Patriotisme dan Nasionalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">“<em>Baru kemarin rasanya aku mendengar suara beliau menggelegar di radio mengajak  anak-anak muda melawan penjajah. Seorang pencopet, perampok pun akan tergetar hatinya kalau dia bicara…” cerita Nagabonar.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Hanya segelintir orang saja yang masih memutar rekaman suara Bapak Proklamator kita saat membacakan teks Proklamasi, itu pun hanya pada saat <em>tujuhbelasan </em>saja. Masyarakat lebih senang dengan sinetron dan film percintaan ala <em>cinderella,</em> yang menjadikan mereka larut dalam khayalan hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Kalau kau hidup di zaman itu dan hari ini kau bediri di hadapan beliau berdua walaupun cuman patungnya saja, jantungmu akan berdegup deras..tidak bisa tidak kau akan hormat pada beliau…” tutur Sang Jenderal.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Puluhan patung dibangun dengan nilai milyaran rupiah, ratusan gambar yang menggantung di dinding dengan nilai puluhan juta rupiah. Namun, bukan semangat patriotisme yang mampu terbangun dari generasi sekarang dari patung dan hiasan dinding itu, malah keahlian Nagabonar “mencopet” yang makin jadi <em>trend </em>di negeri ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Jenderal, turunkan tanganmu…! Apa yang kau hormati siang dan malam itu? Apa karena di depanmu memakai roda empat? Tidak semua dari mereka pantas kau hormati…"</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Sosok patung Jenderal Sudirman yang sedang hormat, sangat tidak layak lagi di bangun di jaman sekarang, karena seakan-akan beliau menghormati jiwa-jiwa yang tidak semuanya mengikuti langkahnya untuk berjuang. Bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang ingin berjuang, namun hanya ingin menjadi bangsa yang menikmati kemewahan dengan berbagai cara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Sampai dia meninggal dia tetap tutup mulut, dia nggak mau tuh jasanya di sebut-sebut…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Biar Allah saja yang mencatat"..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kalimat yang diucapkan seorang supir bajaj berayahkan pahlawan kemerdekaan dalam film ini merupakan pesan supaya kita menjadi manusia yang ikhlas berjuang, yang untuk jaman sekarang ini makin jarang kita temui. Yang sering kali kita temukan justru “sedikit bekerja, banyak bicara”. Menonjolkan apa yang telah dilakukan agar manusia melihat. Tidak heran sering kita dengar "kalau bukan saya tidak akan ada itu dan ini" atau kalimat "itu karena saya…" </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Banyak pahlawan kita yang gugur dan tidak pernah diketahui perjuangan mereka, karena apa yang mereka lakukan semata-mata berjuang bagi kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini, bukan supaya namanya tergores oleh tinta sejarah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Cerita patriotisme sudah dilupakan banyak orang. Masyarakat lebih tertarik dengan pahlawan animasi dan pangeran cinta. Banyak di antara kita sudah tidak lagi tertarik membaca sejarah kepahlawanan bangsa ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Yakin kau, semua yang di kubur di sini pahlawan…?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Bagaimana tidak? Kuburan pahlawan sekarang telah tercampur-aduk dengan kuburan orang-orang yang mati karena dianggap pahlawan. Maka saat Nagabonar memberikan penghormatan di salah satu taman makam pahlawan, dia sempat mencium bau tidak sedap dan ragu untuk memberikan penghormatan pada seluruh kuburan yang ada di makam itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Sepertinya "Jenderal" Dedy Mizwar tidak mau terlalu serius menyuguhkan konsep nasionalismenya. Wajar, jika ada kekhawatiran dianggap <em>sok</em> nasionalis jika film ini digarap terlalu logis. Sepertinya dia juga menyadari bahwa masyarakat bangsa ini sudah sangat terkontaminasi cerita-cerita sinetron, jadi mungkin itu salah satu strategi yang dipakai dengan harapan supaya konsep nasionalisme ini bisa lebih diterima oleh masyarakat yang notabene otaknya telah ter<em>brainwashing</em> dengan sinetron.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Takut dan Hormat Karena Jabatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Ada</span><span style="font-size:11pt;"> budaya yang telah mendarah-daging dalam kehidupan sosial masyarakat kita, bahwa orang-orang akan ditakuti saat menjadi pemimpin atau memiliki jabatan, pangkat dan tahta. Masyarakat yang takut dengan orang-orang yang di depan namanya menyandang <em>jendral, presiden, menteri, dubes, guberneur, bupati</em> atau yang lainnya. Padahal "itu tidak penting" kata Nagabonar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Sangat gamblang di sini bahwa peraturan akan mudah di<em>ketebelece </em>jika jenderal, presiden atau pejabat apa saja yang melakukan tanpa ada sangsi bagi mereka. Seorang polisi yang melarang bajaj masuk ke jalan protokol sangat ketakutan setelah mengetahui bahwa adalah seorang jenderal yang berada di hadapannya. Ini realita birokrasi dalam masyarakat kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Ngakalin Pajak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Telah menjadi kewajiban kita dalam dunia usaha untuk membayar pajak pada pemerintah. Namun hal yang sangat lumrah dalam bisnis di negara kita bahwa pajak bisa dimainkan oleh siapa saja. Mulai dari birokrasinya hingga pengusahanya. Tidak heran jika pajak yang selama ini menjadi salah satu tumpuan <em>income </em>pemerintah ternyata sering kali tidak bisa mendapatkan target yang diinginkan. Bonaga sebagai pengusaha ingin membayar penuh pajak tersebut, namun staffnya tetap bermain di belakang. Tapi juga sangat disayangkan, bahwa dalam film ini kita tidak melihat Bonaga menyadarkan dan mengambil tindakan tegas pada staffnya, namun hanya mengingatkan bahwa "itu kewajiban kita dan apa kata dunia".</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Beban Hidup di Ibukota</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Begitu jelas gaya hidup warga ibukota yang kian hari makin tidak bersahabat. Hidup di ibukota tidak lagi menjanjikan bagi orang miskin, ternyata justru makin banyak orang memilih jalan hidup stress di ibukota. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Adegan kemacetan lalu-lintas dalam film ini, yang menjadi santapan sehari-hari bagi pengendara ibukota, hanya karena angkutan umum yang <em>ngetem</em> sedangkan di antrian kemacetan tersebut ada kendaraan yang membawa nenek yang mau meninggal, tidak dihiraukan oleh siapapun. Kehidupan sosial ibukota yang makin kejam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Diskriminasi antara si-kaya dan si-miskin makin terlihat jelas<strong>. </strong>Berbagai peraturan yang mengharuskan warga miskin harus segera meninggalkan ibukota<strong>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Kita sudah lama merdeka tapi masih ada aturan macam itu…Kalau Belanda yang buat memang mengerti aku, karena Belanda suka cari perkara."</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Banyak peraturan yang mendiskriminasikan warga kelas bawah, dengan alasan modern, bersih dan macet, yang akhirnya pengusiran rakyat miskin dari ibukota.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Representasi Generasi Masa Kini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Bonaga, sebagai salah satu representasi generasi sekarang yang beruntung, dalam bangunan wacana kebangsaan ini memang tidak selalu ditempatkan dalam posisi yang salah. Ia digambarkan sebagai anak muda yang semangat, cerdas, berbakti pada orang tua, dan taat beragama. Meskipun dalam beberapa hal, dan ini penting, memperlihatkan suatu praktek ideologi yang berbeda. Identitas keindonesiaan Bonaga yang hidup di era kontemporer digambarkan dengan tetap memegang moral umum untuk ukuran jaman kontemporer dibanding tiga teman-temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span><span style="font-size:11pt;">Begitu juga Umar, sebagai representasi generasi muda kelas bawah. Umar digambarkan sebagai sosok yang ulet, terus bertahan hidup, dan punya pengabdian sosial terhadap lingkungannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Perbedaan rentang waktu menjadikan hegemoni wacana kebangsaan berbeda, dan adanya jarak emosi antara mereka dan peristiwa pembentukan negara ini.  Bonaga mengalami hidupnya di masa pembangunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Mengingat Mati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">“Kau ajari aku ngaji, Umar. Aku ini sudah tua, kalau aku mati bagaimana ketemu Mak ku di alam sana ? Dan taunya dia, aku belum bisa ngaji..habis aku di makinya. Kalau aku masuk surga tak apalah, tapi kalo masuk neraka sudah panas gatal pula…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kematian akan datang kapan dan di mana saja, kesadaran beragama dan tanggung jawab atas semua perbuatan kita pada pertemuan Hari Kelak nanti tetap menjadi perhatian yang serius bagi Sang Jenderal. Dia tidak malu belajar mengaji dengan anak-anak di sebuah mushallah mungil di tengah perumahan kumuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Ajaran Islam sering kali disalahartikan oleh sebahagian orang, sehingga tidak mampu membedakan mana yang salah dan benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;">"Makmu dan nenekmu juga Islam, tapi tak pernah aku lihat mereka sehabis sembahyang menari macam itu…"</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Film ini bisa dikatakan cukup berhasil menyampaikan beragam ide dan dikemas dengan format yang santai, sehingga siapapun tetap akan berkeinginan untuk menonton film ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Film ini adalah tahap paling dasar (<em>conditioning</em>) dan hanya ingin mencapai target <em>attention </em>dan <em>interest</em> saja, sehingga film ini dikemas dengan sangat <em>casual</em> dan menggunakan pendekatan- pendekatan yang bagi sebagian orang terkesan <em>cheesy</em> dan tidak masuk akal. Mungkin hanya dengan cara seperti itulah masyarakat Indonesia dapat lebih mudah menyerap dan mencerna konsep yang ingin disampaikan. Apalagi jika film yang ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mau tidak mau akan menggunakan gaya pendekatannya sutradara sinetron kondang Raam Punjabi, jika masyarakat sudah cukup <em>attention</em> dan <em>interest, </em> berikutnya masuk ke tahapan yg lebih SMART.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Wallahu'alam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
