<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>my-short-story &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/my-short-story/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "my-short-story"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 08:25:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Katib Syuriah PCINU Mesir di Mutasi ke PCNU Jepara (bag. 2-habis)]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/?p=96</link>
<pubDate>Sat, 31 May 2008 20:02:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2008/05/31/katib-syuriah-pcinu-mesir-di-mutasi-ke-pcnu-jepara-bag-2-habis/</guid>
<description><![CDATA[Ternyata memang benar, kemaren pada hari Kamis malam ( 29/05/08 ) benar-benar menjadi suasana yang s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2008/05/mbuh-104.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-97" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/05/mbuh-104.jpg?w=300" alt="" width="223" height="161" /></a>Ternyata memang benar, kemaren pada hari Kamis malam ( 29/05/08 ) benar-benar menjadi suasana yang susah dilupakan bagi mas Aziz, ketika semua kawan-kawan dekatnya berkumpul dan menyampaikan salam perpisahan, terlihat wajah sendu yang tidak bisa di bohongi.</p>
<p>Hilir mudik kawan-kawan Mas Aziz dan Mbak Maya mulai berdatangan ke Griya Jateng sejak abis maghrib, hingga pukul 01.00 tengah malam, suasana masih hangat dan ramai meski sudah tidak seramai saat maghrib tadi. Aku sendiri sudah sejak siang berada disana sekedar membantu ini dan itu bersama Maria.<br />
<!--more--><br />
Puncaknya, yang sempat terdengar tangisan sendu adalah saat kawan-kawan putri berkumpul dan menyampaikan sepatah dua patah kata perpisahan, terdenagar sama-samar suara tangis yang tidak tertahankan, entah air mata siapa yang rela mengalir pada malam itu?.</p>
<p>Pagi keesokannya, Jum'at ( 30/05/08 ) benar-benar menjadi hari terahir bagi tokoh yang tidak asing ditelinga keluarga besar PCINU Mesir dan KSW, sebab hari itu Mas Aziz benar-benar akan meninggalkan Kairo untuk waktu yang belum terbatas.</p>
<p>Bersalaman dan berpelukan terahir dengan kawan-kawan dekat hinggal lambaian tangan menghantarkan kepergian mas aziz menuju Air Port. Di airpot menjadi puncak terahir salam perpisahan dengan kawan-kawan dekat beliau, ada yang sedih, ada yang menahan tangis dan expresi yang susah digambarkan terlihat dari wajah mereka, justru saya yang bingung waktu itu, sebab saya kok tidak berexpresi lain sama sekali, saya terlihat biasa dan solah-olah mas Aziz hanya pergi ke keluar kota... ah aneh memang, tapi begitulah saya. heheheh :D "Ok, sampai ketemu di Jepara esok bos..!!" itulah kata terahirq.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Katib Syuriah PCINU Mesir di Mutasi ke PCNU Jepara (bag. 1)]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/?p=95</link>
<pubDate>Sat, 24 May 2008 11:31:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2008/05/24/katib-syuriah-pcinu-mesir-di-mutasi-ke-pcnu-jepara-bag-1/</guid>
<description><![CDATA[Photho disamping kiri ini adalah suasana saat ngafe dengan para alumni rumah Bawwabah, tepatnya wakt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2008/05/image511.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-94" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/05/image511.jpg?w=300" alt="" width="212" height="163" /></a>Photho disamping kiri ini adalah suasana saat ngafe dengan para alumni rumah Bawwabah, tepatnya waktu serumah bareng Fakhruddin Aziz.</p>
<p>Reuni?!, iya kali, namun kemaren kita tidak ada niatan reuni rumah, melainkan justru ngobrol bareng untuk dikenang kembali 10 tahun mendatang, sebab Mas Aziz dalam beberapa hari ini akan meninggalkan Kairo untuk selama.</p>
<p>"Katib Syriah PCINU Mesir dimutasi ke PCNU Jepara" tulis Rois Syuriah, Fadlolan Musyaffa', MA<!--more--> menurut Mas Aziz. Bagi Mas Aziz, mutasinya dia bukanlah seperti mutasi yang dilakukan kebanyakan orang, sebab ketika saya mencoba mendesak, rencana apa yang akan di kerjakan setibanya di Jepara, Mas Aziz tidaK Memberikan jawaban, justru malah dia bilang "di Kairo kita mancing lele bisa dapat teri, di Indoneisia, kita mancing lele bisa dapat kakap, atau sebaliknya". Intinya, Mas Aziz malam itu tidak bisa memberikan gambaran tentang langkahnya yang akan dikerjakan di Indonesia.</p>
<p>Tobroni, Faizin, Luthfi, Mas Aziz dan Saya dulu pernah serumah bersama hingga ketika kita sudah sama-sama pisah karena tragedi 3 bulan yang lalu, sosok dedengkot PCINU Mesir ini masih sering ntraktir kita-kita untuk kumpul bareng sekedar merenungi masa depan dan cita-cita kita.</p>
<p>Akhirnya, Jum'at pagi tgl 30 Mei 2008 beliau akan Take Off dari Cai- Cairo dan landing di CGK- Jakarta. Em.. ada g yaa ntar yg ngangis saat kepulangan beliau, bukannya fans dia banyak.. lihat ajah nanti...(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menanti Kehadiran Sang "Jundi Kecil"]]></title>
<link>http://futureleadergeneration.wordpress.com/2008/03/27/40/</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 00:23:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ahmad Shadiqin</dc:creator>
<guid>http://futureleadergeneration.id.wordpress.com/2008/03/27/40/</guid>
<description><![CDATA[Dua hari yang lalu
Saya mendapat kabar dari seorang teman satu perjuangan
Seperti ini pesannya :
 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari yang lalu<br />
Saya mendapat kabar dari seorang teman satu perjuangan<br />
Seperti ini pesannya :<br />
<i> "Assalamu'alaikum. ..<br />
kabar terbaru dari njum...<br />
bulan ini istri njum telat ke bulan (eh telat dtg bulan deng)....<br />
beberapa hari setelah telat,,,kita sepakat buat periksa....<br />
dan hasil dari pemeriksaan oleh bidan setempat...adalah. ..<br />
ternyata,,,eh ternyata....<br />
ALHAMDULILLAH. ...(+)<br />
terhitung bulan ini usianya baru sekitar sebulan kurang...<br />
dan setelah di forecast pake Analisis Deret Waktu diprediksi dalam selang bulan November-Desember<br />
kelahirannya. ..<br />
asumsi umur kandungan sekitar 9 bln 10 hari...<br />
NB:ada usulan nama?? klo ada silakan kasih tau aja....<br />
Makasih...<br />
itu kabar terbaru Njum&#38;Istri"</i></p>
<p>Yah, menanti kehadiran sang buah hati memang anugrah terindah untuk kedua pasangan suami istri. Akhirnya puisi berikut semoga menjadi inspirasi.....</p>
<p>Menanti Sang Buah Hati</p>
<p>kehadirannya sangat di nanti<br />
memberikan senyum kebahagiaan tersendiri<br />
meletupkan semangat yang berapi-api<br />
subhanallah,<br />
betapa rindu hati ini<br />
menanti sang buah hati tercinta<br />
generasi penerus perjuangan panji Ilahi Rabbi<br />
kami merindukanmu duhai mujahid<br />
kuatkan kami dalam jalan terbaik ini<br />
kami akan terus dan terus menentramkan hati<br />
untuk senantiasa bersabar atas setiap ujian yang datang menghampiri<br />
selalu bersyukur atas setiap rezeki pemberian-Nya yang tiada henti<br />
dan ikhlas atas kehendak Ilahi<br />
karena kami yakin bahwa putusan Allah ta'ala adalah yang terbaik<br />
asa kami mengharap deras tiada henti<br />
semoga kau segera hadir sebagai buah cinta kami<br />
cinta yang kami persembahkan hanya untuk-Nya Yang Maha Segala<br />
menemani hari-hari dalam perjalanan panjang perjuangan meraih ridho Allah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peringatan Maulid; Hukum dan Ralita di Masisir]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2008/03/26/89/</link>
<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 13:38:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2008/03/26/89/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Mesir disibukkan oleh kegiatan peringatan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/03/peringatan-maulid.jpg" title="peringatan-maulid.jpg"><img align="left" width="169" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/03/peringatan-maulid.thumbnail.jpg" alt="peringatan-maulid.jpg" height="122" style="width:172px;height:124px;" /></a>Beberapa hari yang lalu kawan-kawan mahasiswa Indonesia di Mesir disibukkan oleh kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Terlebih kawan-kawan NU yang dengan hati gembira menyambut peringatan kelahiran Nabinya tercinta. Nabi yang dipercaya telah mengentaskan umat manusia dari masa kegelapan dan menjadikan masa yang penuh dengan sebuah arti dari setiap kehidupan.</p>
<p>Selain PCINU Mesir, KSW Mesir, Sekolah Indonesia Cairo dan beberapa organisasi dan lembaga bahkan perorangan yang mengadakan peringatan ini. Tak terkecuali Fismaba, organisasi almamater saya di Mesir. <!--more-->Ada cerita menarik ketika acara Maulid Nabi hendak dimulai, dimana saat itu saya melempar sebuah pertanyaan ke sesama kawan saya dengan sebuah pertanyaan <em>nyleneh.</em> “Lho, katanya (peringatan Maulid Nabi) bid’ah?” dengan sedikit senyum sambil menikmati khusu’-nya acara kawan saya menjawab “Iya bid’ah. tapi pada dasarnya bid’ah ada dua kan, pertama<em> dlolalah</em> dan kedua hasanah. Yang dlolalah itu kalau nggak ada makanannya, nah kalau yag kayak gini, ini hasanah... jangan salah.” Jawab teman saya yang sebenarnya juga aktivis NU.</p>
<p>Menilik sejarah memang tidak ada peringatan ini dilaksanakan pada zaman baginda Nabi, sehingga dikatakan bid’ah atas ritual itu, namun kembali ke dasar hukum bahwa bid’ah tidak selalu diartikan <em>dlolalah </em>atau sesat, banyak sekali ritual-ritual agama yang tidak terjadi di zaman Nabi— namun hasanah— sehingga mendatangkan pahala besar. Salah satunya adalah memperingati Maulid Nabi dengan hal-hal yang positif dengan menunjukkan bukti kecintaan kita kepada Rasul dan Nabu kita Mumammad SAW.</p>
<p>Pengertian tersebut diatas  sebagai mana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqolani dalam <em>kitab Fatawa Kubro,</em> yang saya kutip dari situs kebaggaan saya, pesantren virtual. yang menjelaskan:"Asal  melakukan maulid adalah bid'ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan buid'ah yang baik (bid'ah hasanah). Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke Madina, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada haru Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab:"Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur'an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur'an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih".</p>
<p>Adapun tradisi yang terjadi di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir, hampir sama dengan budaya yang terjadi di Indonesia pada umumnya. Di Mesir, untuk memperingati kegiatan tersebut pastilah ada yang namanya 'hadrah' (rebana), lalu bacaan '<em>al-Barjanzi'</em> atau<em> Dziba’</em>  dan tidak luput juga adalah 'mauidloh hasanah' tentang ma’na dan kandungan atas peringatan tersebut. </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Back to Home]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2008/02/21/back-to-home/</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 17:42:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2008/02/21/back-to-home/</guid>
<description><![CDATA[Setelah beberapa bulan absen pada rumah yang satu ini, kini aku ingin sedikit bercerita tentang bebe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/02/lebaran-wp.jpg" title="lebaran-wp.jpg"><img align="left" width="158" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2008/02/lebaran-wp.thumbnail.jpg" alt="lebaran-wp.jpg" height="123" /></a>Setelah beberapa bulan absen pada rumah yang satu ini, kini aku ingin sedikit bercerita tentang beberapa kejadian menarik yang sempat aku alami dan bahkan sulit aku lupakan dan kalau boleh aku jujur, sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tuangkan, namun karena telah berlalu hingga yang teringat hanyalah beberapa kejadian saja.</p>
<p>Pada perayaan iedul Adha 1428 H kemaren. Seperti biasa aku mengikuti prosesi sholat ied di masjid Assalam yang telah ditentukan oleh pihak KBRI khusus untuk warga Indonesia, baik pelajar, mahasiswa, staf KBRI maupun para TKI yang berada di Mesir. Prosesi sholat ied kali ini tidak ada yang istimewa, namun aku berusaha bagaimana agar prosesi ini bisa memberi kesan tersendiri bagiku. Sengaja aku memakai baju khas Indonesia lebih tepatnya khas santri salaf. <!--more-->Dengan memakai sarung batik, baju batik dan kopyah hitam aku berangkat ke masjid. Saat selesai sholat, aku dan beberapa kawan-kawan ngobrol dihalaman depan masjid, sambil bersalam-salaman. Karuan saja mereka yang menjumpaiku melempar sebuah guyonan kecil, ada yang menyebutku pak kyai, mbah yai, kang santri, kyai khos NU sampai mbah mudin dan pak calak. Wah bukannya aku ke GR an ketika menjadi perhatian banyak orang, namun memang kenyataanya begitu hingga saat kami beramah tamah dengan Mang Cecep, ketua PCIM Mesir dan para fungsional Muhammadiyah serta jajaran syuriah PCINU Mesir yang tak henti-hentinya membahas kostum yang aku kenakan. Hingga saat aku pulang, dijalanpun masih menjadi bahan guyonan oleh teman-teman yang kebetulan jalan bareng.</p>
<p>Tidak hanya itu saja, sewaktu pelaksanaan acara qurban dan tasyakuran yang diselenggarakan oleh PCINU Mesir kembali aku ulangi, namun aku sedikit formal karena cuaca yang dingin sehingga aku memakai celana seperti biasa.</p>
<p>Ujian term I musim dingin kali ini benar-benar terasa dinginnya, bahkan ada yang mengatakan suhu udara pernah mencapai 0 derajat, yang tragis adalah saat aku berangkat ke kampus. Biasanya aku berangkat sedikit lebih pagi sekitar jam 7 pagi, namun pada hari ke 4 aku berangkat sedikit telat karena tunggu menunggu teman yang lain sehingga jam 8.15 aku baru keluar rumah dank arena panic, saat itu asal ada bus, akan kami naiki. Penuh sesak hingga untuk menaruh tubuhku yang kecil ini saja susah sehingga harus bergelantungan di pintu dan menghadap ke depan padahal saat itu sangat dingin sekali. Aku baru bisa masuk kedalam setelah berlalu sekitar 7 KM. yah bisa di bayangkan betapa mengenaskannya hari itu…..</p>
<p>Sekarang…… atas halamanku ini, aku ingin merubah sedikit tentang wajah dan isi, semoga berkenan bagi para fans-fans ku… kwakaka kwukakak.</p>
<p>Kairo, 21 Februari 2008</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengejar Cinta Sejati...]]></title>
<link>http://wandyekapranata.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 05:25:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wandy Eka Pranata</dc:creator>
<guid>http://wandyekapranata.id.wordpress.com/2008/02/02/mengejar-cinta-sejati/</guid>
<description><![CDATA[Pada suatu hari setelah melangsungkan pernikahan..
John: Kenapa kamu kelihatan seperti tidak bahagia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"><em>Pada suatu hari setelah melangsungkan pernikahan..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Kenapa kamu kelihatan seperti tidak bahagia?<br />
Vina: (Tersenyum kecil)<br />
John: Apa ini semua salah ya?<br />
Vina: Tidak John.. Tidak ada yang salah..<br />
John: Ya udah… Kamu istirahat ya..<br />
Vina: Iya… Tersenyum dan kemudian menarik selimut untuk tidur..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><em><span style="font-size:13pt;">John dan Vina adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah setelah berpacaran selama 4 tahun. Mereka dijodohkan oleh orang tua mereka dan pada akirnya mereka sampai ke pernikahan. Tetapi sesungguhnya sebelum bertemu dengan suaminya, Vina memiliki kisah cinta yang masih membekas di hatinya. Pria itu adalah Aldy, seorang vokalis band. Bahkan hingga saat ini, ternyata Vina masih mencintai pria di masa lalunya itu. Bagi Vina, Aldy adalah cinta sejatinya. John mengetahui tentang kisah cinta istrinya tapi mereka telah sepakat untuk tidak membahasnya lagi sejak tahun kedua mereka berpacaran.</span><span style="font-size:13pt;"> </span><span style="font-size:13pt;">Tiga hari setelah pernikahan..</span></em></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Vin.. Kamu baik-baik aja? Belakangan ini kamu murung terus..<br />
Vina: Gak apa-apa kok.. Aku cuma lagi capek aja..<br />
John: Ada apa Vin? Apa yang salah? Kamu bersikap aneh beberapa<br />
          hari ini..<br />
Vina: (Menahan nangis)<br />
John: Vina.. Aku ini suami kamu.. Kalau ada masalah, aku harap kamu<br />
           mau cerita ke aku.. Kamu bisa percaya ama aku..<br />
Vina: John.. (Sambil meneteskan air mata) Aldy sekarang sedang<br />
          menjadi vokalis band di salah satu kafe di Bandung..<br />
John: (Tersentak sangat kaget dengan kata-kata istrinya..) Haaa..??<br />
Vina: Maafkan aku John..<br />
John: Selama ini kamu pernah komunikasi dengan Aldy?<br />
Vina: (Geleng-geleng kepala..)<br />
John: Kamu masih mencintai Aldy?<br />
Vina: (Terdiam..)<br />
John: Kamu ingin bertemu dengan Aldy?<br />
Vina: (Terdiam..)<br />
John: Kamu ingin mencari Aldy?<br />
Vina: (Mengangguk..)<br />
John: (Sambil menghela nafas dan berpikir sejenak..)<br />
          Oke.. Besok kita pergi ke Bandung untuk mencari Aldy..<br />
Vina: (Kaget..) Kamu serius John?<br />
John: Vin.. Aku ini suami kamu.. Aku akan melakukan yang terbaik<br />
           untuk kebahagiaan kamu..<br />
Vina: Gak usah John.. Sungguh gak usah..<br />
John: Tidak apa-apa.. (Tersenyum..)</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Keesokan harinya, mereka berangkat ke Bandung.<br />
Ketika telah tiba di Bandung dan check in di hotel.</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Lelah banget ya.. Luar biasa macet tadi..<br />
Vina: Iya.. Aku pengen istirahat..<br />
John: Oke.. Kamu tidur di kasur ya, aku di sofa aja..<br />
Vina: (Kaget..)<br />
John: Tidak apa-apa.. (Tersenyum..)</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Setelah tiduran..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: John.. Kamu kok baik banget ama aku padahal aku<br />
          masih mencintai Aldy?<br />
John: (Terdiam sejenak.. Terus senyum) Udah.. Kamu tidur<br />
          aja dulu.. Kafe di Bandung itu banyak, besok kita harus<br />
          mulai mencari satu per satu di setiap kafe..<br />
Vina: Oke John.. (Kemudian terlelap)<br />
John: (Berkata dalam hati..) Semua karena cinta Vin..<br />
          Aku baik kepadamu karena aku sangat mencintaimu<br />
          dan ingin melihat kamu bahagia.. Aku akan menolongmu<br />
          untuk mengejar cinta sejatimu..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Keesokan harinya, seharian mereka mencari dari satu kafe ke kafe yang lain. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada satupun orang yang mengetahui vokalis bernama Aldy.</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: Aduh.. Aldy dimana ya..<br />
</span></font><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;">John: Tenang Vin.. Besok kita lanjutkan, semoga besok kita<br />
           bisa temukan Aldy<br />
Vina: (Mulai emosi..) Gimana bisa tenang? Seharian kita mencari<br />
          dari kafe ke kafe, tapi seperti tidak ada harapan akan ketemu<br />
          dia..<br />
John: Sabar ya Vin.. (Tersenyum..)</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Kemudian John mengantar Vina pulang ke hotel untuk beristirahat dan dia sendiri pergi ke kafe untuk menghabiskan malam seorang diri..<br />
Di kafe itu, John duduk di bar mabuk dan sudah menghabiskan 5 botol minuman beralkohol. Dan tiba-tiba seorang pria bernama Ronny menghampirinya.</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Ronny: Sendirian aja Bung?<br />
John: Iya.. (Sambil mengangguk)<br />
Ronny: Gw temenin ya.. (Kemudian memesan minum juga)<br />
John: Oke..<br />
Ronny: Kenalin.. Nama gw Ronny..<br />
John: John..<br />
Ronny: Kenapa lo? Sampai mabuk gitu? Biasanya.. Orang seperti<br />
             lo itu, kalo bukan karena masalah duit, pasti tentang cinta..<br />
John: Ahh.. Tau aja lo.. Istri gw.. Sedang mencari mantan kekasihnya<br />
          di kota ini..<br />
Ronny: Lho?? Gak salah tuh? Kalian udah married khan?<br />
John: (Tersenyum dalam mabuk..) Yang namanya cinta sejati,<br />
          tidak ada apapun yang akan mengubahnya..<br />
Ronny: Terus lo bantuin istri lo mencari pria itu?<br />
John: Gw akan melakukan yang terbaik untuk orang yang gw cintai..<br />
Ronny: Hmm.. Gw kagum ama pengorbanan lo..<br />
Ronny: Dulu gw juga pernah punya pacar, tapi karena waktu itu<br />
             gw pengangguran, orang tua-nya tidak merestui kami..<br />
             Dan dia akhirnya bersama pria lain..<br />
             Gw rela demi kebahagiaannya.. Gw pergi menjauh dari<br />
             kehidupannya dan berjuang sampai akhirnya menjadi<br />
             seperti sekarang..<br />
John: Lo disini mau mabuk-mabukan juga?<br />
Ronny: Nggak.. Gw di sini kerja.. Nge-band.. (Tertawa..)<br />
John: Lo khan udah berhasil, kenapa tidak kembali mencari mantan<br />
          pasangan kamu? Siapa tau saja kamu udah diterima..<br />
Ronny: Gak mungkin.. Kata temanku, dia udah married…<br />
John: Hmmm.. Kisah cinta kita sama-sama pahit ya.. Cuma bedanya<br />
           gw masih bisa membantu cinta gw buat menemukan cinta<br />
           sejatinya..<br />
Ronny: Menurut gw sih lo masih berpeluang mempertahankan..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Ronny belum menyelesaikan perkataannya, mendadak John mual dan muntah karena terlalu mabuk. Maklum.. Pertama kali John minum sampai mabuk..<br />
Balik dari toilet, John pamit ke Ronny dan balik ke hotel..</em></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di dalam kamar hotel, Vina sudah tidur dengan lelapnya.<br />
John pun langsung terlelap di sofa.</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Paginya di restaurant hotel..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Vin.. Kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat..<br />
Vina: (Tersenyum..)<br />
John: (Memegang kening Vina dan kaget..)<br />
           Astaga.. Kamu panas banget..<br />
           Ayo habisin makanannya terus kembali ke kamar<br />
           untuk istirahat..<br />
Vina: Nggak John, aku mau melanjutkan pergi mencari Aldy..<br />
John: Tapi kamu sakit Vin.. Kamu istirahat saja dulu, besok baru<br />
           kita lanjutkan mencari Aldy.<br />
Vina: (Dengan nada agak tinggi..) Nggak mau…..<br />
John: Oke.. Oke.. Kalo gitu kita lanjutkan cari Aldy tapi kamu<br />
           jangan terlalu memaksakan diri ya.. Sekarang kamu habisin<br />
           dulu makanan kamu..<br />
Vina: (Mulai makan..)<br />
John: Semalam aku baru dari kafe yang lumayan gede, kemarin<br />
          kita belum ke sana, ntar kita ke kafe itu dulu ya..<br />
Vina: Kamu ngapain ke kafe malam?<br />
John: Cuma minum dikit..<br />
Vina: Kamu mabuk-mabukan???<br />
John: Cuma pertama kali kok.. Janji lain kali nggak lagi..<br />
          (Sambil tersenyum..)<br />
Vina: Janji ya.. Aku gak suka lihat kamu seperti ini..<br />
John: Iya..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Setelah selesai sarapan mereka lalu memulai pencarian lagi dan diawali dengan kafe yang John datangi semalam..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span></font><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"><em>Sesampainya di kafe, mereka ke bar dan bertanya ke bartender..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Permisi Mas.. Disini ada yang namanya Aldy?<br />
Bartender: Aldy? Kayaknya nggak ada deh..<br />
Vina: Aldy itu vokalis band..<br />
Bartender: Kalo vokalis band, yang ada itu namanya Panji, Herry,<br />
                   Ronny dan Ricky..<br />
Vina: Masa sih Mas gak ada yang namanya Aldy? Siapa tau pernah<br />
          kerja di sini dan udah keluar atau baru masuk jadi Mas gak tahu..<br />
          Tolong dong Mas cari tahu..<br />
Bartender: Mbak.. Saya itu kenal baik dengan semua karyawan disini..<br />
                   Setahuku gak ada yang namanya Aldy..<br />
John: Oh.. Ya udah.. Terima kasih ya Mas..<br />
Vina: (Tiba-tiba memegang perutnya..) John.. Aku mual..<br />
John: Kamu ke toilet dulu deh, sini saya anterin..<br />
Vina: Gak usah.. Saya sendiri aja.. Toilet-nya ke arah mana?<br />
John: Oke.. Oke.. Kamu ke arah sana..<br />
Vina: Oke John..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Vina langsung ke toilet dan John duduk menunggu di bar..<br />
Tiba-tiba Ronny datang menghampiri John.</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Ronny: Hei John.. Minum lagi? Hahahahaha..<br />
John: Hei Ron.. Nggak kok.. Gw anterin istri gw buat nyari<br />
          mantan pacarnya yang kemarin gw ceritain itu..<br />
Ronny: Hahahaha.. Keren lo.. Mana istri kamu?<br />
John: Lagi di toilet..<br />
Ronny: Oooo.. Okedeh.. Gw latihan dulu ya..<br />
             Ntar malam gw yang tampil..<br />
John: Okedeh.. Sukses ya..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di toilet..</em></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: (Sedang muntah di wastafel..)<br />
Petugas Toilet: Mbak.. Maaf.. Mbak hamil ya?<br />
Vina: Gak mungkinlah Mbak, aku belum pernah disentuh<br />
           ama siapa-siapa.. Bahkan suamiku sendiri..<br />
Petugas Toilet: Wow.. Ooooo..</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Kemudian Vina keluar dari toilet dan ke bar..</em></span></font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;">John: Kamu baik-baik aja?<br />
Vina: Iya.. Yuk kita ke kafe yang lain lagi..<br />
John: Ayo..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di luar pintu kafe, tiba-tiba Vina merasa pusing dan pingsan. John lalu mengangkatnya dan mencari taksi terus kembali ke hotel.</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di kamar hotel, Vina istirahat dan John menemani dari samping ranjang dengan posisi duduk di lantai kamar hotel. Berjam-jam Vina tertidur, John terus duduk menemaninya sambil sesekali mengganti kompres di kening Vina.</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Keesokan paginya, setelah John pulang dari membeli makanan, John membangunkan Vina untuk sarapan.</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: Aduh John.. Kamu baik banget.. Ini khan makanan<br />
          kesukaan aku..<br />
John: Iya dong.. Aku khan suami kamu jadi aku tahu..<br />
Vina: Tengkyu ya John.. Kamu baik banget..<br />
John: Ngomong-ngomong.. Aku mau pergi ke apotik dulu ya..<br />
Vina: Lho.. Kok gak sekalian tadi pas beli makanan?<br />
John: Tadi apotiknya belum buka, katanya jam 9 baru buka..<br />
Vina: Oooo.. Oke John.. Hati-hati ya..<br />
John: Oke..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Sepulang dari apotik, ketika sedang berjalan masuk ke hotel, John bertemu dengan Ronny di restaurant hotel..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Hei Ron.. Ngapain lo disini?<br />
Ronny: Hei John.. Kebetulan ketemu.. Gw lagi nunggu Boss gw..<br />
             Katanya ntar sore gw harus manggung di Surabaya..<br />
John: Wah.. Keren juga lo ya, manggung sampai ke luar kota..<br />
Ronny: Yah.. Namanya juga rezeki.. Diambil dong..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Setelah beberapa saat ngobrol, Ronny akhirnya pamit karena Boss-nya sudah datang.</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Ronny: John.. Gw pergi dulu ya..<br />
             Tuh Boss gw udah datang lagi mo check out..<br />
John: Oke Ron.. Hati-hati ya..<br />
Ronny: Sampai jumpa ya..<br />
John: Yah kalo berjodoh bakal ketemu lagi.. Hahahaha..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Ronny gak sadar kalo bukunya tertinggal di meja makan. John melihat buku itu dan mau mengembalikannya ke Ronny tapi Ronny sudah tidak kelihatan lagi. Akhirnya John kembali ke kamarnya. Vina sedang menonton televisi dan John langsung duduk di sofa sambil membaca buku Ronny.</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: Buku apa itu?<br />
John: Ini punya temanku tadi ketemu di bawah, ketinggalan..<br />
           Pas aku mau balikin, dia udah gak ada.. Kayaknya ini buku<br />
           lagu-lagu karangannya..<br />
Vina: Oh ya?? Bagus gak lagu-lagunya?<br />
John: Lumayan bagus lho.. Nih aku bacakan satu ya..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">~~~~~~~~~~<br />
<span style="color:blue;"></span></span><em><span style="font-size:13pt;color:blue;">Ketika aku duduk di keheningan malam</span></em><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"><br />
<em>Suara denting senar gitarmu indah menemani diriku</em><br />
<em>Nyanyian puisi yang engkau lantunkan</em><br />
<em>Membuat aku serasa berada di surga keindahan</em></span></i></p>
<p><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span></i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span><em><span style="font-size:13pt;color:blue;">Kini..<br />
</span></em><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"><em>Aku hanya seorang diri di keheningan malam</em><br />
<em>Tiada lagi dentingan suara indah di telingaku</em><br />
<em>Karena dirimu telah pergi menghilang dari hidupku</em></span></i></p>
<p><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span></i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span><em><span style="font-size:13pt;color:blue;">Aku berharap suatu saat nanti</span></em><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"><br />
<em>Bila memang Tuhan berkehendak</em><br />
<em>Dan bila jodoh kita bisa bersama</em><br />
<em>Aku ingin bertemu dirimu kembali</em></span></i></p>
<p><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span></i><em><span style="font-size:13pt;color:blue;">Aku ingin bersamamu</span></em><i><span style="font-size:13pt;color:blue;"><br />
<em>Mendengarkan indahnya suara denting senar gitarmu</em><br />
<em>Nyanyian puisi untuk diriku</em><br />
<em>Yang tidak akan pernah aku lupakan<br />
</em></span></i><span style="font-size:13pt;color:blue;"></span><span style="font-size:13pt;">~~~~~~~~~~</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: (Tersentak kaget..) John.. Itu buku milik siapa??<br />
John: Punya temanku.. Ronny.. Dia vokalis di kafe yang<br />
           kemarin terakhir kita datangin.<br />
Vina: John.. Tadi itu khan isi dari surat cinta terakhir yang<br />
          aku berikan buat Aldy.. Coba aku lihat bukunya..<br />
John: (Memberikan buku ke Vina..)<br />
Vina: (Membaca buku itu dan mulai meneteskan air mata..)<br />
          John.. Ini benar-benar punya Aldy..<br />
John: Kalo gitu, ayo kita ke kafe yang kemarin, siapa tahu<br />
          ini punya teman Ronny.. Kamu segera mandi dan ganti baju..<br />
          Aku tunggu..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Vina pun bergegas bersiap-siap dan setelah selesai, mereka langsung menuju ke kafe yang terakhir mereka datangi..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di kafe, mereka mencari pengurus kafe dan bertanya tentang Ronny..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Maaf ya Mas.. Saya mau tanya.. Di sini ada vokalis<br />
          yang bernama Aldy gak?<br />
Pengurus: Aldy? Gak ada tuh..<br />
John: Mas.. Buku ini milik temanku yang bernama Ronny..<br />
           Dia di sini kerja sebagai vokalis.. Di buku ini ada sesuatu<br />
           yang seharusnya milik Aldy.. Mas yakin gak ada yang bernama<br />
           Aldy?<br />
Pengurus: Oh itu khan buku catatan lagu Ronny.. Ronny mungkin tahu<br />
                  siapa Aldy.. Tadi dia ke sini mencari buku itu tapi gak dia<br />
                  temukan.. Ronny sekarang udah ke Surabaya.. Satu jam<br />
                  yang lalu dia baru berangkat ke stasuin kereta..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Si pengurus kafe terdiam sejenak dan berpikir..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Pengurus: Ntar ya Mas.. Saya ambil buku biodata karyawan dulu..<br />
                  (Kemudian pergi ke dalam kantornya)<br />
</span><span style="font-size:13pt;">Vina: John.. Apa mungkin Ronny itu Aldy?<br />
John: Sepertinya gak mungkin..<br />
 <br />
<em>Pengurus kafe kembali..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Pengurus: Maaf ya.. Saya baru ingat.. Aldy itu nama lain dari Ronny..<br />
                  Saya baru baca biodatanya dan ingat waktu pertama kali<br />
                  dia melamar kerja dan diterima, dia gak mau memakai<br />
                  nama Aldy karena katanya ingin melupakan masa lalu..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>John dan Vina pun kaget dan mereka pamit untuk segera pergi ke stasuin kereta..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Dalam perjalanan..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: John.. Akhirnya kita menemukan Aldy..<br />
John: Semoga kita masih sempat sampai ke stasuin..<br />
           Menurut pengurus tadi, satu jam lagi keretanya berangkat..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Di stasuin kereta.. John dan Vina ke counter tiket..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Mas.. Kereta ke Surabaya udah jalan belum?<br />
Penjual Tiket: Oh.. Belum.. Dua puluh menit lagi berangkat.. Mau beli karcis?<br />
John: Iya Mas.. Saya beli satu karcis..<br />
Vina: (Kaget karena John hanya membeli satu karcis..)</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Setelah membayar, mereka menuju ke pintu keberangkatan..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Vin.. Kamu hati-hati ya selama perjalanan..<br />
Vina: John.. Kenapa kamu tidak ikut?<br />
John: Aku gak apa-apa.. Yang penting kamu menemukan<br />
          cinta sejati kamu, aku sudah bahagia..<br />
Vina: Tapi.. Bagaimana dengan Papa dan Mama?<br />
John: Kamu tenang saja.. Nanti aku yang ngomong dengan mereka..<br />
          Aku bisa membuat mereka paham demi kebahagiaan<br />
          kamu Vin.. Nih obat kamu.. Jangan lupa diminum ya sesuai<br />
          catatan yang tertulis. Di Surabaya nanti, jangan telat makan<br />
          dan jaga kondisi badan kamu.. Oke?<br />
Vina: (Terharu dan kemudian memeluk John)<br />
          John.. Kamu baik banget..<br />
          Terima kasih ya udah mencintai aku setulus ini..<br />
John: Iya Vin.. Cinta itu bagaimana melihat orang yang kamu cintai<br />
          bisa bahagia walaupun itu adalah tidak bersamanya..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Kemudian Vina pun pamit dari John dan menuju kereta..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>Ketika Vina telah hilang dari pandangannya, John balik ke hotel seorang diri..</em></span></p>
<p><em><span>Setibanya di hotel, John mempersiapkan barang-barangnya untuk check out dari hotel..</span><span style="font-size:13pt;"> </span></em></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em><font color="#ff0000">Ting tong..</font> (Terdengar suara bel kamar dan pintu dibuka..)</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Roomboy: Pak.. Bisa saya bantu bawain barangnya?<br />
John: Iya.. Ini tiga koper, dibawa ke depan receptionist ya..<br />
Roomboy: Oke Pak..<br />
                   (Kemudian keluar membawa koper-koper..)</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em>John terduduk di kasur dan merenungkan apa yang sudah dia lewati. Sesaat muncul egois dalam hatinya yang mengatakan bahwa dia salah ketika harus mengijinkan Vina mengejar orang lain. Tapi sekali lagi nuraninya berkata: “Cinta adalah bagaimana melihat dia bahagia walaupun itu adalah tidak bersamanya..”<br />
John pun tersenyum dan merasa inilah yang terbaik untuk semuanya..</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;"><em><font color="#ff0000">Ting tong..</font> (Terdengar suara bel kamar dan pintu dibuka..)</em></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">John: Mas.. Khan udah saya bilang, kopernya disimpan di reception..<br />
         (kata-katanya terhenti dan kaget..)<br />
Vina: John..<br />
John: Lho.. Kok kamu ada disini? Bukannya kamu harusnya ke<br />
          Surabaya? Tadi keretanya udah berangkat ya?<br />
Vina: Nggak John.. Aku gak akan kemana-mana..<br />
John: Kenapa? Kamu khan seharusnya sedang mengejar<br />
          cinta sejati kamu..<br />
Vina: Tidak John.. Cinta yang selama ini harus aku kejar, sebenarnya<br />
          ada di hadapanku.. Aku tidak perlu mengejar cinta lagi karena<br />
          cinta sejatiku sebenarnya adalah kamu.. Kamu sangat tulus<br />
          kepadaku John.. Semua yang udah kamu lakukan ke aku, itu<br />
          sudah sangat membuktikan bahwa kamulah yang terbaik yang<br />
          Tuhan kirimkan buat diriku.. Kamulah cinta sejatiku..</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">(Mereka pun berpelukan..)</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;">Vina: Aku berharap, cinta kita akan abadi selamanya..</span><span style="font-size:13pt;"> </span><span style="font-size:13pt;"></span><span style="font-size:13pt;color:fuchsia;"></span><span style="font-size:13pt;font-family:Georgia;"></span> <span style="font-size:13pt;"> </span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal">&#160;</p>
<p></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><img src="http://wandyekapranata.wordpress.com/files/2008/02/rose.jpg" alt="rose.jpg" /></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;color:fuchsia;"></span></p>
<p><span style="font-size:14pt;color:fuchsia;"><font face="Times New Roman">Cinta Sejati akan abadi selamanya…</font></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<i>Jamu Teko Loro Lungo</i>]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/09/20/jamu-teko-loro-lungo/</link>
<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 03:37:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/09/20/jamu-teko-loro-lungo/</guid>
<description><![CDATA[Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 3)
Antrian panjang pada loket pemesanan kereta api di s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;color:green;font-family:Lucida Sans Unicode;">Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 3)</span></p>
<p>Antrian panjang pada loket pemesanan kereta api di stasiun Jatinegara sudah bias aku bayangkan, padahal lebaran masih sebulan lebih. Dan ternyata memang benar, menurut ayahku antrian panjang sekali, hari yang aku pesanpun telah habis sehingga di tunda keesokan harinya. Selidik demi selidik, ternyata penumpang ramai karena menghadapi puasa yang mana ada tradisi tersendiri bagi sebagian orang yang pergi berziarah ke makam orang tuanya yang telah meninggal sehingga sebagian orang berbondong-bondong kembali ketanah kelahirannya.</p>
<p>Gajayana Express yang mengantarkanku menuju kota Kediri, berangkat dari stausiun gambir pukul 16.32 dan sampai di stasiun Kertosono pukul 06.00 pagi. Waktu yang cukup lama memang, namun itu masih mending jika dibanding dengan kereta ekonomi atau menggunakan transportasi bus.<!--more--></p>
<p>Suasana bahagia dan sambutan yang ramah ketika aku dating dan sungkem dengan nenekku dan beberapa family yang lain. Ada satu hal yang tidak pernah ketinggalan ketika aku baru dating, yaitu suguhan special, suguhan itu bukanlah makanan has atau minuman penyegar, tapi segelas jamu tradisonal yang terdiri dari temu ireng (semacam kunyit tapi pahit) dan kunyit yang telah diambil sarinya sehingga rasanya pahit-pahit gimana gitu.... Ya... itu semua dilakukan nenekku supaya aku menjadi lebih fresh minimal untuk menghilangkan penyakit dan virus dalam tubuhku. Memang terbukti setelah aku meminum jamu tersebut, nafsu makanku menjadi lebih.</p>
<p>Belum hilang rasa lelahku, adik sepupuku mengunjungiku dan langsung mengajak keluar, ironisnya dia malah mengajak ke kota blitas, karuan saja aku tolak lantaran kondisi tubuhku yang masih capek. Sehingga dari pada aku memaksakan diri dan akhirnya aku jatuh sakit kan lebih berabe nanti.</p>
<p>Hari-hariku di Kediri lebih banyak aku fokuskan untuk mengunjungi familiku, termasuk nenekku yang dari ibu. Selain itu juga ke beberapa temanku saat aku kursus di Pare. Ada satu hal disini yang sebenarnya menjadi agenda utama malah tidak dilaksanakan, yaitu pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi/Driving Licency) lantaran sudah tidak bisa nembak alias jalur cepat. Sedangkan beberapa agenda yang lain alhamdulillah terlaksana, seperti tugas-tugas sosial dan lainnya.</p>
<p>Ada lagi yang menarik ketika aku hendak memesan tiket untuk pulang menuju Jakarta. saat itu, di depanku ada seorang paruh baya sedang memesan beberapa tiket, dan ketika dia telah selesai giliranku. Direncanakan aku akan pulang pada tanggal 13 September 2007 atau tepatnya awal puasa Ramadlan tahun ini namun adik sepupuku "ngeyel" meminta aku pulang pada hari berikutnya hingga terjadi kegaduhan kecil atas ulah kami. Orang-orang seisi ruanganpun ikut komentar dan sialnya lebih mendukung sepupuku, wal-hasil aku ngikut pendapat jumhur dan saat itu sepupuku bilang kalau<br />
"lama gak ketemu dan jarang-jarang bisa kumpul gak usah buru-buru pulang".</p>
<p>Kemudian sang ibu yang duduk di kursi tunggu sambil membereskan tiketnya bertanya;<br />
"memang tinggalnya dimana nak?"<br />
"Dia rumahnya di Jakarta namun tinggalnya di Mesir dan kuliah disana, sedang saya di Emirates, sehingga jarang sekali bisa bertemu". Jawab adik sepupuku.<br />
Karuan saja kami menjadi perhatian orang seisi ruangan, termasuk petugas tiket tadi karena ibu tadi langsung menghampiri dan bertanya-tanya kepadaku tentang dunia perkuliahan di Mesir, terutama di Al-Azhar karena dia berkinginan anaknya bisa kuliah disana. Orang-orang yang ada di ruangan itupun antusias mendengarkan penjelasanku hingga ruang pemesanan tiket berubah menjadi ruang informasi ke-Al-Azhar-an.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mecah Durian]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/09/17/mecah-durian/</link>
<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 12:16:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/09/17/mecah-durian/</guid>
<description><![CDATA[Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 2)
Udara panas dan jalanan yang macet seolah telah menj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:9pt;color:green;font-family:Lucida Sans Unicode;">Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 2)</span></p>
<p><span style="font-size:9pt;color:green;font-family:Lucida Sans Unicode;"><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/kubah_emas.jpg" title="kubah_emas.jpg"><img src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/kubah_emas.thumbnail.jpg" alt="kubah_emas.jpg" style="width:170px;height:121px;" align="left" height="113" width="147" /></a></span>Udara panas dan jalanan yang macet seolah telah menjadi bagian dari kota Jakarta yang kini aku rasakan. Hari-hari pertamaku memang lebih banyak aku habiskan bersama keluarga, mulai dari makan, jalan-jalan dan belanja kami selalu bersama. Yach… wajar mungkin karena aku anak satu-satunya. Hehehe.</p>
<p>Mulai dari makanan, semenjak aku datang, pertama kali makanan kesukaanku yang aku santap adalah bakso gembira khas kota apel, Malang yang dijual di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Bakso urat ini menjadi kesuakaanku lantaran baksonya terasa banget. Ulet, kenyal dan …. Pokoknya hemmmm. <!--more-->Tak puas dengan bakso, malam berikutnya aku makan sate di langgananku. Yaitu dikawasan Klender Lama, Jakarta Timur. Meski bukan restoran mewah atau bertaraf, warung ini hampir tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan kalau melihat tempatnya hanya beratapkan terpal tapi yang datang merasakan hidangan malam ini sering juga orang papan atas, sebab sering aku tidak bisa parkir didepan warung tersebut. Salah satu yang membuat sate ditempat ini menjadi favoritku lantaran satenya yang empuk, bumbunya yang terasa banget apalagi kalau dimakan dengan nasi goring…. Hemmmm puas deh pokoknya. Terahir Durian, nah ini yang sempat membikin heboh teman-teman lantaran aku suka nulis status di Y!Mku "mecah durian" sehingga buat temen-temen yang berada di luar Indonesia terutama di belahan Amerika dan di Jazirah Arab khususnya Cairo banyak yang ngiri… "<em>hiks, muup ya…" </em>Tapi atas durian ini aku kurang beruntung, sebab setelah makan durian ini tiba-tiba aku sakit yang menajdikan aku hampir saja membatalkan kepergianku ke Kediri, Jawa Timur. Anyway, aku puas atas semua ini.</p>
<p>Untuk tempat wisata, selama sepekan aku di Jakarta aku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah sebab orang tua jarang punya waktu luang selain hari libur namun bukan berarti tidak ada waktu. Hari Sabtu pertamaku, aku diajaknya ke Masjid Kubah Emas dikawasan kota Depok, Jawa Barat. Awalnya adalah rasa penasaran ibuku atas masjid ini yang konon katanya emasnya mencapai 2,7 ton yang langsung didatangkan dari Roma. Meski harus bertanya-tanya dulu, maka setelah dua jam perjalanan, akhirnya sampai pula kami di masjid tersebut. Masjid ini memang sungguh luar biasa, mulai dari kubah utama hingga kubah disetiap tiang hiasa berlapiskan emas. Tak hanya itu, pelipisnya pun semuanya dilapisi emas sehingga wajar kalau dikatakan masjid terindah dan termegah seasia tenggara sebab selain bangunannya yang besar juga kawasannya yang sangat luas sekali yang didesign sebagai taman yang asri dan indah sehingga menjadikan siapa saja betah berada ditempat ini.</p>
<p align="center"><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/pasar-grosir.jpg" title="pasar-grosir.jpg"><img src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/pasar-grosir.thumbnail.jpg" alt="pasar-grosir.jpg" style="width:158px;height:121px;" align="left" height="94" width="164" /></a></p>
<p>Ngomongin belanja, aku sebenarnya suka pergi belanja atau shooping ke mall, pasar ataupun grosiran. Namun aku tidak suka melakukan tawar-nawar harga yang berbelit-belit. Ya.. tentunya semua itu karena ada pengalaman tersendiri sehingga aku lebih memilih barang yang cocok dulu baru dibeli. Tapi yang namanya di mall, mana ada barang yang bisa di tawar sebagai mana saat aku beli sandalku. Tapi beda lagi saat di pasar grosiran, seperti di pasar grosir Jatinegara, Jakarta Timur. Tepatnya hari Selasa aku pergi ke pasar ini, dan dipasar ini kalau tidak bisa menawar, pasti dapetnya harga mahal sebab belinya eceran sebagaimana saat aku mencarikan kain untuk kedua nenekku (nenek dari bapak dan ibu) di Kediri. Namun tidak semuanya, keluargaku punya langganan khusus yang selalu ngasih diskon, yaitu di tokonya Mas Thohir.</p>
<p>Anyway, meski SIM (Surat Izin Mengemudi/driving licency) golongan A (untuk kendaraan pribadi/keluarga) telah habis masa berlakunya, tapi aku tetap mengendarai alias menjadi sopir sejauh aku masih merasa mampu sejak hari pertama aku datang.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kejutan]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/09/17/summer-tour-vacation-to-indonesia-part-1/</link>
<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 00:28:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/09/17/summer-tour-vacation-to-indonesia-part-1/</guid>
<description><![CDATA[Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 1)
Setelah kegiatan Kenduri Agustusan PCI NU Mesir berl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#008000">Summer Tour 2007 Vacation To Indonesia (Part 1)</font></p>
<p><font color="#008000"><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/changi_airport.jpg" title="changi_airport.jpg"><img src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/09/changi_airport.thumbnail.jpg" alt="changi_airport.jpg" style="width:164px;height:128px;" align="left" height="117" width="152" /></a></font>Setelah kegiatan Kenduri Agustusan PCI NU Mesir berlalu, tugasku dilanjutkan membuat laporan tiga bulanan PCI NU Mesir dan merevisi buku profil PCI NU Mesir 2006-2008. Hingga semuanya kelar, baik draft rapat setebal 22 halaman, buku profil juga telah tercetak hingga menunggu saat-saat pelaksanaan rapat gabungan.</p>
<p>Rabu, 29 Agustus 2007 Kira-kira pukul 14.00 aku mendapat telpon di ponselku dari travelku kalau semua penerbangan teluk dari Cairo ke Jakarta tanggal 30 tidak ada seat, sehingga terpaksa harus ditunda. Memang sejak awal aku telah memesan penerbangan pada tanggal 30 Agustus. Aku mencoba berunding dengan travelku, dan nampaknya tidak bisa namun dia berusaha terus supaya aku bisa pulang tanggal 30 Agustus ini. Sekitar pukul 15.00 aku kembali mendapat telpon kalau tiketku sudah OK tanggal 30, ya.. aku bisa sedikit senyum akhirnya. Tak lama, kembali travelku menelpon kalau pesawatku Singapore Airline dan terbang pukul 00.10 Cairo Lokal Time. Spontan saja aku kaget dan membuatku luar biasa kelabakan. Ya bayangin aja, jam 3 sore dapat kabar, sedang harus ke airport jam 9 malam. Kontan saja segala urusan menjadi semrawut. Mira pun aku paksa datang kerumah untuk mengemas bajuku, sedang aku sibuk kesana kemari ngurus passportku di KBRI juga mencari sesuatu yang hendak dibawa pulang. Yach gak kebayang deh pokoknya hari itu….<!--more--></p>
<p>Hingga semuanya berlalu… tepat pukul 9 malam aku meninggalkan rumahku menuju New Cairo International Airport. Beberapa temanku juga ikut mengantarkan, termasuk saudaraku, Mira. Pukul 11 malam aku masuk ruang tunggu, terlihat hanya aku satu-satunya pelajar Indonesia yang pulang dengan Singapore airline malam itu, hingga untuk mencari teman ngobrol saja susah.</p>
<p>Sebelum aku take off, aku menyempatkan diri menelpon ke beberapa temanku, sekedar say goodbye ke mereka yang rata-rata belum tahu akan kepulanganku malam ini. Juga aku sempat sms ke ortu yang di Indonesia, namun tidak kunjung di balas. Anyway, nanti kalau tidak ada yang jemput aku akan naik taksi kerumah. Batinku.</p>
<p>Tiga belas jam bukanlah waktu yang sebentar, namun perjalananku kali ini memang terasa cepat sekali sebab aku tak sempat punya banyak waktu untuk siaga alias aku banyak tidurnya selama di pesawat hingga sejam sebelum landing aku baru terbangun. Itupun dibangunkan oleh pramugari, hehehe.</p>
<p>Di Singapore aku sempat transit sebentar, yach… kurang lebih hampir dua jam. Dari pintu turunnya pesawat sampai ruang transit ternyata lumayan jauh juga, rasanya seperti mengelilingi dari ujung hingga ujung Changi International Airport namun bagitu tak begitu menjadi soal, sebab kalau aku lelah jalan, aku memilih escalator. Di ruang tunggu aku sempat memainkan laptopku, dan ternyata ada fasilitas free wireless connection dan terpikir di benakku untuk menghubungi ibuku kembali namun aku rasa tidak mungkin. Temanku di Gtalk waktu itu yang online adalah Daniyal sehingga hanya dia harapanku untuk menyambungkan ke ortuku yang di Jakarta kalau aku selama dua jam kedepan sudah sampai di Jakarta.</p>
<p>Ternyata benar, menurut penuturan ibuku, ibuku tidak mengetahui akan kepulanganku. Setelah di sms oleh Daniyal, seakan ibuku tidak percaya kalau aku pulang sehingga dia berkali-kali menghubungi no ponselku (Vodafone) namun selalu gagal. Ya… karuan saja, nomorku roaming, hanya bisa nerima dan ngirim sms. Namun setelah dijelaskan oleh Mira dan Daniyal, ibuku baru yakin.</p>
<p>Dan kembali suasana dan aroma khas Indonesia aku rasakan. Yah.. tepat pukul 20.00 aku berlalu meninggalkan Cengkareng International Airport bersama orang tuaku yang telah menjemputku.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kembalinya Website NU Ku.]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/07/18/kembalinya-website-nu-ku/</link>
<pubDate>Wed, 18 Jul 2007 23:49:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/07/18/kembalinya-website-nu-ku/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, Setelah beberapa minggu yang lalu website Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/07/new-regine-nu-mesir.jpg" title="new-regine-nu-mesir.jpg"><img align="left" width="143" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/07/new-regine-nu-mesir.thumbnail.jpg" alt="new-regine-nu-mesir.jpg" height="112" style="width:162px;height:127px;" /></a>Alhamdulillah, Setelah beberapa minggu yang lalu website Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Mesir mengalami down lalu error dan terahir ternyata data basenya hilang semua sehingga semua data yang pernah kita postingpun ikut hilang. namun yang jelas itu bukan menjadikan kita ikut down, justru dari situlah kita mencoba untuk lebih memperbaiki <a href="http://numesir.org">website NU Mesir</a>.</p>
<p>Kita adalah Keh Rohman atau biasa disebut dengan <a href="http://koyank.or.id">KoyanK</a> dan saya sendiri, meski disini saya hanya sebagai pelengkap sebab tidak memahabi banyak bahasa php, bahkan bahasa HTML pun masih sering lupa hingga akhirnya bertanya.<!--more--></p>
<p>Sabtu lalu, tanggal 14 Juli 2007  kita start mulai membangun kembali website NU, dalam membangun website, sekilas sepertinya mudah, namun jika kita teliti suka membuat kita bingung dan harus pintar-pintar mensiasati hingga dibutuhkan waktu satu hari satu malam penuh (kecuali tidur selama 5 jam) untuk menjadikan website NU ini kembali Online. Setelah semuanya jadi, kini giliran aku yang mengisi agar website ini tidak kosong, maka aku mulai mengupload satu demi satu serta menata rubrik dan menu yang ternyata tidak mudah pula, sehingga sampai detik ini saat saya nulis tulisan ini, website NU belum kunjung sempurna. Meski bagi sebagian orang sudah lumayan bagus.</p>
<p>Terahir saya hanya ingin menyapa blog ini supaya tetap bisa saya isi dengan tulisan-tulisan baru yang menurut sebagian orang tulisan ini "katro, ndeso, kuno". Namun bagi saya, boleh sekarang mengatakan tulisan ini katro, dll. namun 10 tahun mendatang kita pasti akan tertawa membaca tulisan ini.....</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membincang Negara Besar Bersama Orang Kecil Dalam Komunitas Kecil]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/06/11/membincang-negara-besar-bersama-orang-kecil-dalam-komunitas-kecil/</link>
<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 22:22:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/06/11/membincang-negara-besar-bersama-orang-kecil-dalam-komunitas-kecil/</guid>
<description><![CDATA[(Obrolan Presiden Dungu Membahas Ekonomi Negara)

Judul ini mungkin terlalu panjang dan dikecil-keci]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>(Obrolan Presiden Dungu Membahas Ekonomi Negara)<br />
</em></strong></p>
<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.jpg"></a><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.jpg"></a><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly21.jpg"><img align="left" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly21.jpg" /></a>Judul ini mungkin terlalu panjang dan dikecil-kecilkan. Namun memang kenyataannya seperti <a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.jpg"></a>itu ketika kemaren Ahad (11/06/07) kami berempat ramai-ramai ngafe di Hilaly Cafe dikawasan jalan Ahmad Zumar, Madrasa, 10th Dc., Nasr city, Cairo setelah sama-sama melakukan pertemuan dengan para kyai khos dari Jawa Tengah di hotel Griya Jateng. Ada Ihya' Ulumuddin, Nadlif Sidqi, Tobrony Basya dan saya sendiri. Mengawali pembicaraan, kita membahas pesan-pesan para kyai tadi yang disampaikan kepada kami dan kepada warga NU Mesir umumnya namun pembicaraan malam ini melebar, begitulah ketika pembicaraan tidak dimoderasi pasti akan kemana-mana arahnya hingga menemukan titik pembicaraan panas seputar Negara Indonesia.<!--more--></p>
<p>Dalam obrolan ini yang paling menarik adalah ketika menyoroti masalah perekonomian Indonesia dimana mungkin saya bisa sedikit menarik kesimpulan dari pendapat Nadlif bahwa Indonesia akan maju jika ekonomi Indonesia secara makro telah keluar dari ketergantungan dengan Negara asing meski itu sangat sulit sekali. Hal itu oleh Nadlif digambarkan ketika masa pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid yang oleh kwik Kian Gie diakui masa-masa kejayaan ekonomi Indonesia. Sedang menurut Ihya' untuk menuju ekonomi yang mapan kita harus terlebih dahulu mengobati <em>borok</em> (baca: luka) Indonesia seperti becana alam, tragedy hingga masalah pemberantasan korupsi. Nah dari situ Indonesia akan dengan mudah keluar dari krisis ekonomi. Dia menggambarkan sebagaimana adanya luka dalam tubuh yang menjadikan terhambatnya dalam mengerjakan sesuatu (baca: mencari nafkah). Pembicaraan ini yang awalnya tegang sedikit bisa membawa suasana tawa ketika Tobrony mengajukan opsinya bahwa Indonesia harus meniru Tiongkok yang telah melakukan reformasi ekonomi dimana ketika ekonomi dikendalikan oleh orang-orang di perkotaan sehingga butuh pemerataan maka dikirimkannya pakar-pakar ekonomi dan orang-orang pintar yang ada dikota diterjunkan ke pelosok-pelosok desa dan sebaliknya. Meskipun pada awalnya akan terpuruk, namun beberapa tahun kedepan akan semakin maju. Atas argument ini, Ihya' sepontan bilang, "Wah namanya daur, jadinya ya mbulet nanti." Disusul suasana tawa sambil kembali menyedot sisa (semacam rokok tradisional) dan minum sahlab.</p>
<p>Sedang untuk komentar saya sendiri, saya tidak banyak berbicara disini, saya hanya pemerhati saja. Jadi kalau menurut Nadlif, dia lebih cocok dikategorikan sebagai presiden, Ihya' sebagai ketua MPR nya, Tobrony sebagai mentri perekonomian, dan saya sebagai pengusaha yang hanya mendengarkan para eksekutif dalam merumuskan dan menentukan kebijakan namun kadang kurang diimbangi dengan kenyataan lapangan yang ada sehingga praktik-praktik penyimpangan masih sering dilakukan.</p>
<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.jpg"></p>
<p style="text-align:center;"><img width="153" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.thumbnail.jpg" height="109" /></p>
<p></a></p>
<p><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/hilaly1.jpg"></a>Bukan sebuah pembelaan karena saya tidak berkomentar, namun memang karena kondisi yang kurang mendukung sebab kurang istirahat sehingga saya lebih nyaman mainan laptop sambil bercyber-cyber ria karena kebetulan di café Hilaly ini ada bocoran wireless.Obrolan kami berakhir pukul 03.35 pagi. dua setengah jam kami café ini dan malam ini pula kami <em>say good bye</em> dengan presiden Nadlif yang tanggal 12 Juni ini akan pulang ke Indonesia. Dari kami bertiga malam itu hany abisa mengucapkan selamat jalan kawan, semoga selamat sampai tujuan.</p>
<p>Dari Wikipedia, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan (Ingg: scarcity).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Yang Seharusnya Tidak Aku Lalui (Diari Mir’atul Husna Bag. 4)]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/06/08/hari-yang-seharusnya-tidak-aku-lalui-diari-mir%e2%80%99atul-husna-bag-iv/</link>
<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 13:36:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/06/08/hari-yang-seharusnya-tidak-aku-lalui-diari-mir%e2%80%99atul-husna-bag-iv/</guid>
<description><![CDATA[Suara takbir dan tahmid menggema di seantero dunia, sebuah kalimat pertanda telah tiba hari kemenang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><a href="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/iedulfiti.jpg"><img align="left" width="210" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/06/iedulfiti.jpg" height="126" /></a>Suara takbir dan tahmid menggema di seantero dunia, sebuah kalimat pertanda telah tiba hari kemenangan. Hari raya Iedul Fitri dimana kita merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.</p>
<p>Pagi-pagi betul kami serumah sudah siap untuk berangkat ke masjid As-Salam, tempat dimana dilaksanakannya sholat Iedul Fitri oleh seluruh warga Indonesia di Mesir. Lalu lalang orang mulai berdatangan ke masjid, aku bersama mbak-mbak serumah turut meramaikan suasana, disini tak perduli pelajar, mahasiswa/I pegawai, pekerja semuanya kumpul ramai-ramai melantunkan kalimat takbir dan tahmid. <!--more-->Dan tiba saatnya kami melaksanakan sholat Ied, dimana khusus untuk putri berada di sebelah kanan masjid yang sengaja didesign khusus oleh panitia. Seusai sholat, dilanjutkan dengan khutbah dan kita semua dengan khusu' mendengarkan. Prosesi ibadah pun telah usai, kini semua yang hadir di masjid ini saling beramah tamah, saling bermaaf-maafan lalu makan bersama-sama yang telah disediakan oleh KBRI Kairo selaku panitia pelaksana. Disini kulihat tidak ada muka sedih sedikitpun dari wajah teman-teman semua, semuanya bahagia dan ceria padahal mereka kini sedang jauh dengan orang tua, jauh dengan keluarga dan saudara.</p>
<p>Setelah semuanya berlalu dan aku kembali kerumahku, tiba-tiba kurasakan kesedihan yang luar biasa hingga aku tak tahan, bukan aku saja, Mbak Ana pun juga merasakan hal yang sama sehingga tak terasa kami terbuai dalam tangis kecil.</p>
<p>"Lek Aan, pean sibuk gak?" tanyaku dengan nada sedikit terisak-isak pada Lek Aan karena aku takut mengganggu aktivitasnya.</p>
<p>Mungkin Lek Aan sudah menduga sebelumnya sehingga dia langsung mengajak keluar jalan-jalan agar aku lebih merasa tenang. Bersama Kak Imam, Kak Arif Bajita dan Lek Aan, kami berlima jalan, namun entah hendak kemana, kami bingung saat berada di halte bus. Kalaupun harus ke Nil, kami semalam sudah sampai di sana hingga bus dengan nomor 727 melintas, dan spontan saja Lek Aan mengajak naik bus itu yang entah kemana, aku belum jelas tujuannya. Selama perjalanan hanya ada sedikit cerita, selanjutnya kami tertidur selama di perjalanan sehingga tidak begitu memperhatikan jalanan yang kami lewati. Menurut Lek Aan, kami diajak pergi Ashfur, pusat perhiasan cristal di Kairo ini.</p>
<p>Ditempat ini baru pertama kalinya aku melihat bajaj ala Mesir, bentuknya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia yang sering aku lihat dari tv. Sesampainya di tempat, tenyata toko Ashfurnya tutup sehingga tiada pilihan lain kecuali pulang. Berjalan menuju tempat halte bus bukanlah tempat yang dekat, untuk pulangnya sekitar hampir 700 meter dari tempat Ashfur, padahal terik matahari benar-benar menyengat dan kami rasakan betul.</p>
<p>Perasaan kesel dan jengkel mulai menyelimuti karena bus yang gak kunjung datang, namun aku masih sedikit terhibur dengan kehadiran beberapa gadis mesir yang mencoba mengajakku ngobrol dan bertanya-tanya seputar diriku, meski aku sedikit kikuk dengan bahasa mereka ('ammiyah) namun aku merasa enjoy aja, itung-itung belajar ngomong 'amiyah.</p>
<p>Sejam sudah aku menunggu bus yang akan membawaku pulang, Lek Aan pun sudah mulai jenuh, terlihat di wajahnya yang sedikit kurang bersahabat namun dia memaksa untuk ceria, Mbak Ana pun begitu. Kak Imam mencoba terus menghibur hingga bus yang kami tunggu datang, meski bus yang datang kali ini tidak seperti yang awal kami naiki tadi, bis ini lebih jelek ditambah dengan duduk kami di bangku belakang. Aduh rasanya genap sudah penderitaan ini.</p>
<p>Sesampainya di rumah lek Aan, ia menyuruh ku istirahat dikamarnya. Didalam kamar ini aku sungguh benar-benar merasa sedih, aku benar-benar merasa tidak tahan lagi mungkin kalau aku boleh berteriak, aku ingin sekali berkata "Ibu, aku rindu padamu, maafkan segala kesalahan putrimu ini bu, Bu, di hari yang fitri ini putrimu merasa sedih sekali."</p>
<p>Malam semakin gelap, Lek Aan pun mengantarkanku pulang dengan temani dengan Kak Imam, namun lagi-lagi hari ini aku kurang beruntung, kami tidak punya kunci sehingga kami harus menunggu diluar sebab Mbak-mbak senior masih di luar semua. Malam ini pikiranku mulai kacau, Mbak Ana pun sama, bahkan dia sudah menangis duluan, Lek Aan yang dari tadi aku suruh pergi juga tidak kunjung meninggalkan kami, mungkin karena dia gak tega membiarkan kami yang masih asing diluar rumah.</p>
<p>Merasa nggak tahan dengan paksaan Lek Aan yang ingin terus menjagaku, sehingga aku dan Mbak Ana mengikuti nasihatnya untuk berkunjung dulu ke rumah Abah Amir. Di rumah Abah Amir aku merasa cukup terhibur atas guyonan-gunonan temen-teman, sehingga aku kembali bisa tersenyum dan merasa bahagia karena mereka merasa perduli sekali dengan aku maupun Mbak Ana hingga Mbak Irma datang dan kamipun pulang.</p>
<p>Dan atas hari ini, sungguh begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana saat hari yang fitri aku selalu ceria, bahagia apalagi saat dimana para paman-bibi, kakek-nenek dan familiku membriku uang saku, aduh rasanya seneng banget. Dulu aku biasa saling cerita sesama teman-temanku tentang jumlah uang saku yang kami dapatkan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Serius Error on Site NU Mesir]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/05/08/serius-error-on-site-nu-mesir/</link>
<pubDate>Tue, 08 May 2007 18:39:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/05/08/serius-error-on-site-nu-mesir/</guid>
<description><![CDATA[Seperti biasa, setiap kali bangun tidur aku langsung membuka laptopku, Menyalakan Y!M, G Talk dan me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/05/web-nu-error.jpg" title="web-nu-error.jpg"><img src="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/05/web-nu-error.jpg" alt="web-nu-error.jpg" align="left" /></a>Seperti biasa, setiap kali bangun tidur aku langsung membuka laptopku, Menyalakan Y!M, G Talk dan mengontrol email-email yang masuk. Baik email pribadi maupun email NU Mesir. Selain itu juga menghapus spam-spam di websitenya NU Mesir atau http://numesir.org.</p>
<p>"Wah kok error..!" spontan aku ngomong saat melihat tampilan web NUMesir berantakan, ah ternyata statistik webnya yang bikin error. Tanpa banyak pertimbnangan, aku coba masuk ke admin,  rencanaku mau tak hapus modul statistik webnya. setelah mencoba memasukkan user dan password, ternyata nggak bisa masuk sebagai admin. Saat itulah aku mulai bingung harus bagaimana agar bisa kembali normal. Ok akhirnya aku coba masuk ke hostingnya, aku coba cari script yang error, oh aku menemukan keganjalan di file viewer, "ah ini kali yang bikin error", batinku. Memang scripnya viewer saat itu rancau total, nggak bisa kebaca pokoknya suangat aneh deh. lagi-lagi dalam hal ginian aku memang masih belum paham betul, namun aku ada inisiatif kali aja kalau di hapus akan hilang, sebagaimana yang pernah saya lakukan sebelumnya pada kotak pesan.<!--more--></p>
<p>Tetap dan gak ada perubahan itu yang terjadi setelah aku mendelete viewer. Akupun makin bingung, akhirnya akupun mulai pasrah, dan menyerahkan ini sepenuhnya ke Keh Rohman, webmaster NU Mesir, menurutnya dia akan ngecek dalam waktu dekat ini.</p>
<p>Malam ini sebelum aku nulis cerita ini, aku mencoba masuk phpmyadmin (mysql), ah ternyata sama saja, nggak bisa kebuka malah ada tampilan error srcipt.... akhirnya lengkap sudah kerusakan ini.</p>
<p>Yang namanya nyoba-nyoba, ada kalanya berhasil ada kalanya gagal terlebih kalau kita belum tahu sama sekali. Nah, kalau berhasil mungkin kita akan merasa puas, setelah itu ada yang terus dikembangkan, ada yang hanya sampai disitu. Namun bagi yang gagal, biasanya akan terus dipacu rasa untuk mampu menguasainya. Namun untuk kali ini ternyata ternyata gagal total.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keindahan Itu Saat Matahari Terbenam]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/05/02/keindahan-itu-saat-matahari-terbenam/</link>
<pubDate>Wed, 02 May 2007 18:11:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/05/02/keindahan-itu-saat-matahari-terbenam/</guid>
<description><![CDATA[(Kembalinya Sebuah Catatan Diari; Tour de Jagad 06 springs in Alexandria)

Bimbang dan ragu masih me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">(Kembalinya Sebuah Catatan Diari; Tour de Jagad 06 springs in Alexandria)</span></em></p>
<p><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/05/alex1.jpg" title="Tour de Alexandria"><img src="/files/2007/05/alex1.thumbnail.jpg" alt="Tour de Alexandria" align="left" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Bimbang dan ragu masih menyelimuti benakku, capek dan puas atas kerja 10 hariku sebagai sekretaris NU Games I 2006 yang dibilang sukses rasanya ingin menyisakan waktu untuk beristirahat panjang. Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 23.00 malam, akupun masih belum menemukan jawaban atas keikutsertaanku dalam tour ke Alexandria yang diadakan marhalahku Sapu Jaga, marhalah atau angkatan 2004 dari organisasi Nahdlatul Ulama cabang istimewa Mesir (PCI-NU Mesir). “ah rasanya aku lebih baik kembali menelanjangi buku-buku yang telah lama berserakan tidak aku sentuh karena padatnya aktivitasku” gumamku dalam benak. Malam itu terasa cukup dingin, hingga keluar dari kamarpun aku malas tapi akupun tidak tega membiarkan telpon bedering tanpa ada yang mengangkat. “an ini Den Mumuh atas nama panitia tour Sapu Jagad dan mewakili Tabroni, Arif, Amar dan kawan-kawan lain mengharap keikutsertaan anda dalam tour ke Alexandria”. wah melihat yang mengharap adalah teman-teman dekatku, akupun meng-iya-kan ikut ke Alexandria, sebab menurutku adalah rasa kebersamaannya.</span></em><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">12 Maret 2006 pukul 04.55 Mardhiah menelpon ke ponselku karena sebelumnya aku memang telah berpesan untuk membangunkan pukul 05.00 pagi. Walau terasa sangat berat, tapi apa boleh buat, karena pukul 06.30 kita sudah harus sudah berkumpul di sekretariat NU. Sedang aku sendiri masih harus menyiapkan banyak hal, mulai dari mandi sampai setrika baju. Ya.. ma’lum namanya mahasiswa rantau dan masih single lagi, so semua masih aku lakukan sendiri. Tepat sesuai jadwal yang telah ditentukan panitia aku datang, tapi kenyataan lain, kebiasaan buruk mahasiswa indoenesia menggunakan jam karetpun masih berlaku. Dan pukul 07.30 baru berkumpul semua.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Menikmati indahnya kairo dipagi hari ternyata gak beda jauh dengan Jakarta. Macet dan hiruk pikut orang melakukan aktivitas mewarnai di setiap sudut kota hingga dibutuhkan 1 jam lebih untuk dapat keluar dari kota kairo. Sahara yang tidak menampakkan ujungnya berada di sebelah kiri dan pertanian yang sangat luas berada di sebelah kanan jalan toll yang menghubungkan Cairo – Alexandria. Kami menelusuri indahnya perjalanan bukan hanya oleh pemandangan yang jika melihat ke kiri kita merasakan inilah Africa yang penuh dengan gurun sahara (padang pasir) dan jika melihat ke kanan teringat akan kondisi area persawahan di Indonesia yang tumbuh hijau dan beberapa pepohonan yang rindang serta sungai-sungi kecil yang selalu mengairi persawahan. Ini lah lembah sungai NIL, yang menjadikan Mesir kaya dan subur. Panitiapun tak kalah diam, mereka yang selalu berorasi ngomong dan cerita kesana kemari tanpa ujung pangkalnya karena merasa sukses dalam melaksanakan tour kali ini. “ini adalah pertama saya menghandle tour, mulai dari mengumpulkan peserta hingga menyewa bus tapi Alhamdulillah berkat dukungan kalian, semuanya bias lancar” tutur Den Mumuh dalam sambutannya sambil mengikuti goyangan bus yang melaju kencang di jalan toll kawasan Giza. Pembacaan puisi, menyanyi dan tebakan mewarnai perjalan kami, hingga suasana tak pernah merasa sepi hingga sampai di kota Alexandria. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Alexandria adalah kota tua dan bersejarah yang mewarnai peradaban Mesir karena letaknya yang menghubungkan antara kerajaan Romawi dan Mesir. Selain itu pula Alexandria terkenal dengan keindahan pantainya serta kebersihan kotanya. Akupun hanya bisa ikut menikmati, ya… karena aku hidup bukan pada zaman pra sejarah. Kali ini ternyata panitia menentukan tujuan awal ke qol’ah (benteng pertahanan). Qol’ah didepan mata yang tetap berdiri kokoh mengisahkan banyak sejarah bahkan didalamnya tedapat beberapa museum, museum laut yang didalamnya terdapat tulang ikan dari zaman purba yang panjangnya mencapai 8 meter dan banyak lagi museum yang belum sempat aku kunjungi. Terlihat teman-teman bergerombol, berphoto bersama dengan membentangkan sepanduk bertuliskan “Tour de Jagad 06 springs in Alexandria”. Adzan dhuhur yang dari tadi aku dengar suaranya belum menunjukkan isyarat akan kulaksanan panggilan sowan kepada Illahi, sambil menikmati indahnya laut, kami bersama – sama sarapan didepan qol’ah, dengan memandangi lautan yang hijau dan disertai ombak-ombak kecil semakin menampakkan indahnya dan keagungan ciptaan tuhan. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Sebelum ke tempat tujuan kedua, kami melakukan sholat dhuhur sekaligus ashar di masjid Abu Abbas an Nursi. Tempat kedua kali ini adalah ke International Library yang konon katanya adalah terbesar sedunia yang didalamnya menyimpan beraneka ragam buku dan manuskrip-manuskrip kuno dari zaman romawi hingga sekarang ini yang masih tertata rapi. “ah sama aja dengan setahun yang lalu ketika aku kesini” aku bicara dengan Qodri. Terlihat lift kosong didalam area library, aku dan Qodri langsung masuk dan menuju ke lantai paling atas. “oh ternyata kosong tak ada buku satupun.” Bicaraku saat keluar dari lift. Lantai yang paling atas ini berupa lantai kosong yang tak begitu luas tapi dari sini semua seisi library terlihat dari atas, yach… karena bangunannya terasering jadi tampak jelas dari atas sampai kebawah. Akupun tak bias lama-lama, hanya 2 photo yang aku ambil, dan selanjutanya untuk photo di bawah mengingat MMCku dipinjam oleh Tafa’ul karena dia tidak membawa MMC untuk divicamenya. Di lantai 1 dimana terdapat pula patung dan hiasan-hiasan selain buku dan computer. “ud photo aku di buku besar ini dong……” pintaku pada Mas’ud. terlihat dari jauh ada temanku, “eh sekalian yuk”, ajak Bella. kamipun photo berdua dan entah mengapa, ternyata ada yang tidak senang melihat aku dan Bella photo berdua. Ada seorang yang melihat dengan pandangan sinis namun mungkin wajar, tapi harapanku semoga dia tidak marah kepadaku suatu hari nanti.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="left"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Waktu menunjukkan pukul 14.20 kami meninggalkan international library dan menuju mumtazah istana raja Faruq, wah sungguh elok nan asri, pohon-pohon yang begitu rindang tumbuh subur dalam area istana raja Faruq. Area istana yang sangat luas hingga dari depan tidak kelihatan bangunan istananya. </span></em><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/05/alex2.jpg" title="Tour de Alexandria 1"><img src="/files/2007/05/alex2.thumbnail.jpg" alt="Tour de Alexandria 1" align="left" /></a><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Gedung megah model Andalusia ini tepat berada di tepi pantai, sehingga menjadikan betapa mempesonanya keindahan peninggalan raja Faruq ini. Melingkar dan merapat terasa sangat kompak, duduk diatas rerumputan dan dibawah rindangnya pohon-pohon yang mengayomi sehingga mampu menciptakan suasana yang damai dan tak kalah mas Zaky pun mengawali pembicaraan, diskusi “sapu jagad kedepan” itulah temanya yang aku simpulkan, mas Aly ketua Sapu Jagad yang telah purna memberikan sambutan laporan pertanggung jawaban secara simbolis serta gambaran untuk Sapu Jagad ke depan menambah acara kita semakin ramai karena saling mengeluarkan pendapat masing-masing tentang Sapu Jagad kedepan, aku sendiri hanya diam, tak menyumbangkan satu suarapun. Di ahir acara, Tabroni terpilih sebagai pengganti Aly Trimahno dan akupun ikut terpilih sebagai jajaran formaturnya. Yach… menambah<span>  </span>draft kesibukanku. Tapi apa boleh buat, ini keputusan forum. Ya akupun harus menerimnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">“makan dulu baru pulang” cetusku keteman-teman setelah acara Sapu Jagad ke depan. Indahnya taman istana raja Faruq tidak aku lewatkan, setelah makan aku jalan-jalan mengelilingi luasnya area ini, lautan yang biru dan pantai yang bening sehingga banyak sekali disekelilingnya villa-villa kecil yang mengelilingi pantai menjadikan siapa saja betah tinggal disini.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;"><span></span>Pukul 17.15 kami meninggalkan Istana Raja Faruq dan kembali ke cairo. Suasana petang di Alexandria tampak sangat indah sekali, lautan dengan pancaran cahaya kemilauan dan keaneka ragaman lampu hiasan kota yang terdapat di setiap sudut kota menjadikan kita tak mau hengkang meninggalkan kota Alexandria, tapi bus terus melaju ke kairo suasana tambah gelap, dengan 2 guitar yang dimainkan oleh Den Mumuh dan Mirza membuat suasana semakin tidak mau hening, akupun tak mau ketinggalan, meski suaraku pas-pasan tapi kalau masalah berteriak-teriak aku suka, sehingga tak terasa 2 jam aku ikut menyanyi, lagunyapun gak jelas kadang dari awal kadang hanya reff nya saja. Ah tapi yang terpenting terhibur. Sebab sebenarnya aku ke Alexandria merasa bosan meski baru dua kali ini sebab tidak ada yang istimewa banget, tapi karena nilai kebersamaannya maka aku tour ini bagi sungguh sangat luar biasa sekali sebab menjadikanku terkenang saat dimana matahari tenggelam dalam keindahan kota yang terdapat sebuah istana raja terahir Mesir.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;">Sebuah harapan yang indah, jika kebersamaan, keakraban, dan keceriaan hari ini tidak lenyap begitu saja. Masih kunantikan hari suasana-suasana indah seperti hari ini. Rasa lelah, penat dan lesu malam ini sama sekali tidak aku rasakan, terlebih saat turun dari bus di kawasan 10<sup>th</sup> District Nasr City pukul 23.00 malam. Dan atas hari ini hanya tuhan yang tahu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Calibri','sans-serif';font-style:normal;"> Cairo, 13 Maret 2006</span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesedihan Yang Terlupakan (Diari Mir'atul Husna Bag. 3) ]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/04/28/kesedihan-yang-terlupakan-diari-miratul-husna-bag-3/</link>
<pubDate>Sat, 28 Apr 2007 13:52:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/04/28/kesedihan-yang-terlupakan-diari-miratul-husna-bag-3/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini aku hanya bisa terdiam dirumah, tiba-tiba ponselku berbunyi;
“Tul, kamu hari ini ada acar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini aku hanya bisa terdiam dirumah, tiba-tiba ponselku berbunyi;</p>
<p>“Tul, kamu hari ini ada acara?” Oh ternyata Lek Aan, batinku.<br />
“Iya Lek, hari ini aku free gak ada acara, emang mau ngajak kemana?" tanyaku.<br />
"Buka puasa barsama yuk, sesekali saja lah, sudah dimasakin ama temen-temen NU." rayunya dari sebrang.<br />
"Iya deh, nanti di jemput ya!" Pintaku.Percakapan barusan adalah ajakan Lek Aan untuk buka puasa bersama di hari terakhir pada bulan Ramadlan tahun ini.</p>
<p>Malam ini adalah pertama kalinya merasakan malam Iedul Fitri di Negara orang, biasanya kalau malam Iedul Fitri aku kumpul dengan keluarga lalu melihat takbir keliling yang dilakukan masyarakat sekitar, tapi untuk malam ini terasa sangat berbeda, sepanjang jalan tidak menjumpai satu tradisi pun yang seperti di Indonesia, suara takbir yang terdengar juga hanyalah suara dari komputer yang dinyalakan dari ruang komputer sekretariat PCI NU Mesir.  <!--more--></p>
<p>Ditemani Mbak Iik, Mbak Farah, Cak Mauhib, Cak Ardlan (panggilan Arif Ramadlan) serta tak lupa Lek Aan kami menyantap buka puasa terakhir dengan menu rawon makanan khas jawa timur.</p>
<p>Malam ini katanya Lek Aan akan mengajak kami jalan-jalan ke sungai Nil, aku masih penasaran betul sungai Nil itu bagaimana dan seperti apa, dalam cerita kok menakjubkan sekali.</p>
<p>Malam semakin gelap, bintang-bintang dilangit terlihat sangat indah, kami bertiga jalan ke halte bus di bawabah tiga. Bus nomor 30 memang menjadi prioritas Lek Aan, katanya dan ternyata memang benar dan terkabulkan. Selama 40 menit dihantarkan menuju kawasan Tahrir, Lek Aan selalu bercerita kesana-kemari sepanjang jalan. Yang masih teringat betul diantaranya saat bercerita tentang gereja rumah sakit Coptic yang lumayan besar di kawasan Abbasea.</p>
<p>Menelusuri pinggiran sungai Nil, melihat-lihat pemandangan malam kota Kairo sungguh membuatku terasa benar-benar tidak lagi teringat dengan negeri kelahiranku, Indonesia. Kami berjalan kaki dari ujung terminal Tahrir hingga jembatan patung singa, ketika kami merasakan haus, Lek Aan menawari kami mencicipi teh Mesir. Teh mesir yang aku rasakan saat itu adalah sepet, manis, dan sedikit pahit. Mungkin ini adalah cita rasa khas teh mesir, batinku. Sambil makan kacang kulihat kapal besar (Nil Cruise) melintas, sungguh indah sekali, lampu warna-warni yang menghiasi kapal tersebut sungguh membuatku ingin photo dengan background perahu tersebut.</p>
<p>Rasanya sangat tidak lengkap kalau kita hanya melihat-lihat dari tepian sungai saja tanpa merasakan langsung naik perahu diatas sungai Nil.</p>
<p>“Tul, kita naik perahu sekarang aja yuk, tuh kebetulan sudah ramai”. Ajak Lek Aan sambil menunjukkan kapal yang akan berjalan.</p>
<p>“Wah kok sudah penuh!” gumamku. Itulah kenyataan ketika kami telah naik diatas kapal. Namun nasib baik justru kami dapati sebab aku dan Mbak Ana duduk di deck depan sehingga benar-benar bisa melihat Kairo dengan jelas sejalan dengan laju kapal tenang dan damai.</p>
<p>Selama 30 menit kami menikmati betul keindahan Kairo di malam hari, terlebih suara musik Arab ala Mesir di putar dengan kencang di belakang sambil ada yang menari atau joget.</p>
<p>Malam ini aku benar-benar merasakan betapa beruntungnya aku, betapa mujurnya aku, karena masih terus ada orang yang menyayangiku sehingga hari-hari yang sewajarnya aku sudah dibanjiri dengan linangan air mata, suara tangisan sendu, dan sendiri dalam kesedihan telah sirna oleh saudaraku dan orang-orang sekelilingku.<br />
Ya Allah ya Tuhanku, Maafkan hambamu ini yang selalu merasa kurang sehingga tidak mengerti yang namanya bersyukur.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Password Dan Privasi]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/04/26/password-dan-privasi/</link>
<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 02:07:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/04/26/password-dan-privasi/</guid>
<description><![CDATA[Password atau kata kunci adalah hal yang sangat privasi sekali, hingga kita tidak sembarang ngasih p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/04/ym1.jpg" title="ym1.jpg"><img align="left" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/04/ym1.thumbnail.jpg" alt="ym1.jpg" /></a>Password atau kata kunci adalah hal yang sangat privasi sekali, hingga kita tidak sembarang ngasih password tersebut ke sembarang orang bahkan ke orang terdekat sekalipun. karena saking privasinya, kadang kita sendiri merasa enggan untuk mengetahui password orang lain sebab <a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/04/ym1.jpg" title="ym1.jpg"></a>tidak ingin dikatakan usil atau sebagainya. Namun itu hanya menurut sebagian orang, beda lagi kalau orang tersebut memang usil atau berniat jahat. </p>
<p>Beranjak dari privasi itulah kadang kita sangat merasa tidak nyaman dan tidak tenang kalau password kita diketahui oleh orang lain, tentunya banyak hal yang melatar belakangi diantaranya kita tidak ingin rahasia kita diketahui oleh orang lain atau parahnya kalau disalah gunakan. <!--more-->Nah, bagai mana perasaan anda jika password tersebut benar-benar diketahui orang lain? pernah kah anda mengalaminya? so, apa yang anda lakukan setelah itu?</p>
<p>saya ada cerita sedikit tentang password yang baru saja kemaren saya alami. Entah keisengan teman saya atau kesalahan saya, saat itu saya nulis user name Yahoo! Massanger kemudian saya pencet tombol tab pada keyboard laptop saya dan menulis password, nah saat saya menekan tab tersebut seharusnya pindah pada kolom password tapi ternyata masih pada kolom user name sehingga tampak betul di layar password yang selama ini belum diketahui orang lain diketahui oleh teman saya.</p>
<p>Teman memang dikatakan orang paling dekat, terlebih saat kita diperantauan, namun teman juga bisa menjadi lawan tatkala dia menyalahi kita sehingga untuk menghindari hal-hal yang seperti itu kita sebaiknya antisipasi sejak dini supaya tidak terjadi catatan yang semakin buruk.</p>
<p>Nah, menanggapi pertanyaan di atas, sebagaimana yang saya alami kemaren, tentunya saya sunggung merasa sangat khawatir sekali sehingga sayapun cepat-cepat merubah password tersebut sebelum diketahui oleh orang banyak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teman Lama di Malam Pertama (Diari Mir'atul Husna Bag.2)]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/04/21/43/</link>
<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 03:08:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/04/21/43/</guid>
<description><![CDATA[Matahari baru saja tenggelam, Mbak Laily, Mbak Ana dan aku baru tiba di sekretariat Fismaba untuk me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari baru saja tenggelam, Mbak Laily, Mbak Ana dan aku baru tiba di sekretariat Fismaba untuk mengikuti acara ceremonial penyambutan Mahasiswa baru. orang-orang yang hadir telah menikmati santapan menu pembuka (ta’jil) buka puasa. Aku berlari-lari kecil mengikuti Mbak Laily sambil menuju kamar pojok yang sengaja dipersiapkan untuk perempuan.<br />
 <br />
Tak lama setelah kedatanganku acarapun usai, lek Aan mengajakku jalan-jalan.</p>
<p>“Pak Rohim, maaf saya mau negajak keponakan saya jalan-jalan” Tanya lek Aan.<br />
“Iya silahkan”  jawab pak Rohim, pengantar dari PP. Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang.<!--more--><br />
Rute pertama kami adalah ke rumah lek Aan yang jaraknya tidak jauh dari secretariat Fismaba. Ini lah pertama kalinya aku tahu yang namanya syuq sayaroh (pasar kendaraan). Menurut lek Aan, Syuq Sayaroh adalah tempat jual-beli mobil secara langsung dari tangan ke tangan atau penjual dan pembeli tidak seperti di show room. Syuq sayaroh ini dilaksanakan pada hari jum’at dan ahad. Area yang sangat luas ini kadang masih saja tidak cukup, terang lek Aan kepadaku. Sambil jalan, kami selalu ngobrol kesana  kemari hingga kami sampai di rumah lek Aan.</p>
<p>Kaget dan bangga ketika kami melihat sosok teman kami sealmamater dulu. “hei.. cak Nadir”. Teriak mbak Ana  histeris ketika cak Nadir keluar dari kamarnya. Kami pun berbincang-bincang lama, lek Aan yang berada disampingku akhirnya ngajak berangkat jalan, sebab takut nanti kemalaman.</p>
<p>Malam ini adalah malam pertamaku di Cairo, kami diajak melihat-lihat pinggiran kota Cairo, kata lek Aan seh…  Walau aku tidak paham sama sekali, tapi aku enjoy dan menikmati, terlebih cak Nadir yang selalu ngajak ngobrol hingga kesedihanku terlupakan.  Pertama aku dikenalkan dengan yang namanya shorofah atau Money Changer. Kemudian  kami melanjutkan perjalanan yang kata lek Aan akan menuju ke mall, “ups.. ternyata jauh juga ya…”, batinku. Sebelumnya aku belum pernah membayangkan mall di Cairo ini seperti apa, apakah sama seperti di Sri Ratu Kediri?! Ups.. ternyata sama. itulah kesan yang muncul dibenakku ketika aku memasuki Sarog Mall.</p>
<p>“Tul, kita cari kartu perdana dulu ya..”, ujar lek Aan<br />
“Iya, saya ngikut aja, sebab saya percaya pean tahu apa yang terbaik buat kita” jawabku<br />
“An, di pojok sana aja aku dulu beli kartu”, terang cak Nadir.</p>
<p>Belum sampai pojok, lek Aan melihat ada counter handphone dan menanyakan kartu perdana . “saya ini aja lek, kok rasanya mudah di ingat”, itulah ijtihadku dalam memilih nomor 01099358xx tentunya dengan harapan semoga dengan kartu ini aku bisa komunikasi dengan sesama.</p>
<p>“Tul, sekarang kita cari selimut yuk, sekarang sudah musim dingin, harganya paling gak beda jauh dengan di Husain atau Ataba, jadi mending beli disini aja, gimana ?” Tanya lek Aan.<br />
“iya deh gak apa-apa”. Jawabku</p>
<p>Gerai perlengkapan rumah yang ada di lantai 2 sarog mall masih teringat jelas di benakku, saat dimana  aku bingung menetukan type dan dan warna selimut yang hendak aku beli. Tapi akupun tidak ingin berlama-lama disini, hingga aku putuskan untuk memilih selimut yang di bentangkan tadi yang dijadikan sample saat kami baru memilih-milih.</p>
<p>Kini kami keeling-keliling mall, meski aku gak ikut membawa selimut, namun aku merasa kasihan sama lek Aan dan cak Nadir sehingga aku putuskan untuk istirahat saja sambil menunggu cak Ihya’ yang telah dihubungi oleh lek Aan dan katanya akan menyusul kami.<br />
Cerita kesana-kemari tanpa ada ujung pangkalnya selalu aja ada, sehingga tidak pernah kami merasakan kesan sepi.</p>
<p>“Tul, kamu disini bebas mau berteman dengan siapa saja, namun saranku, sebaiknya kamu jangan pacaran dulu, sebab pacaran di Kairo tidak bisa dibuat main-main”. Itulah pesan lek Aan yang masih teringat betul olehku, cak Nadir pun menganjurkan hal yang sama. Lek Aan bercerita kalau dia disini punya banyak teman dekat cewek terutama mbak Bella, namun dia menuturkan belum ada yang cocok satupun dan dia juga berkomitmen kalau selama dia di Kairo tidak akan pacaran. Hayo.. bisa gak ya..</p>
<p>Obrolan lama kami akhirnya dikagetkan oleh kedatangan cak Ihya’, kakak kelas yang sudah dari tadi kita tunggu-tunggu. Sesuai ajakan lek Aan, akhirnya kami makan sambil ngobrol di KFC hingga jam 11.30.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cairo in the First Time (Diary Mir’atul Husna Bag. I)]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/04/12/cairo-in-my-first-time-diary-mir%e2%80%99atul-husna-bag-i/</link>
<pubDate>Thu, 12 Apr 2007 16:36:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/04/12/cairo-in-my-first-time-diary-mir%e2%80%99atul-husna-bag-i/</guid>
<description><![CDATA[Pagi menjelang, mataharipun belum menampakkan sinarnya aku menuruni tangga pesawat Egyptian dan berj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi menjelang, mataharipun belum menampakkan sinarnya aku menuruni tangga pesawat Egyptian dan berjalan menuju tempat keramain orang yang sedang antri di imigrasi old air port Cairo. Ini adalah pengalaman pertamaku keluar negeri dan pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di bumi para nabi ini. Aku dan 15 temanku serta 1 pengantar dari tambak beras yaitu Bapak Abdurrohim mulai keluar dari dalam ruang air port dan memutuskan menunggu di ruang tunggu kedatangan. Aku bertanya –tanya dalam benakku, "kok lama sekali sih yang jemput" gerutuku. Salah satu temankupun berusaha menghubungi dengan menggunakan kartu telpon (SIM Card) yang sempat di kasih oleh orang Mesir, namun sayang, ketika baru saja ngomong sebentar sudah mati, entah habis pulsanya atau memang dimatikan. <!--more--></p>
<p>Satujam sudah kita menunggu, hingga rasa bosan sangat menyelimuti dibenakku, meski teman-temanku berusaha menghibur dengan saling bercanda namun itu tak seberapa membuatku merasa terhibur. Pandanganku kosong kedepan, menembus dinding-dinding kaca, namun aku terkagetkan oleh dua sosok orang Indonesia yang berlari menghampiri kami sembari bertanya "Dari Tambak Beras Jombang?" spontan iya jawab temanku, wah lega hati ini rasanya. "mana yang namanya Atul?" tanyanya pada aku. waduh spontan aku kaget. Mbak Ana malah langsung menunjukku. "Saya Aan, gimana kabarnya ? keluarga di rumah baik semua kan?", tanyanya padaku. Obrolan kecil mengawali keakrabanku dengan <em>lek</em>ku hingga dia pun bercerita tentang kronologi keterlambatan dia menjemput kami. Menurutnya ada kesalah pahaman, dia menunggui kami di hall 1 atau domestic sebagai mana dia dulu datang sedangkan kami di hall 3 international arrival yang sekarang.</p>
<p>"Berjalan – jalan di sekitar air port mungkin bisa mengurangi jenuhku" pikirku, sebab ternyata kami harus menunggu satu jam lagi bus yg menjemput kami.</p>
<p>---</p>
<p>Aku sedikit terheran dengan bangunan yang aku lihat, semuanya berbentuk seperti tumpukan kardus atau kalau di Indonesia seperti rumah susun (rusun) ketika kami menelusuri jalan menuju tempat dimana kami akan tinggal. Salah satu dari panitia berdiri dan berbicara kepada kami bahwa bangunan yang berada di kanan dan kiri ini adalah rumah model Mesir, rumah disini di design seperti ini diantaranya untuk menahan udara dingin disaat musim dingin dan menahan panas disaat musim panas.</p>
<p>Cairo di pagi hari terasa sangat sepi, lenggang aku sendiri sangat merasa asing disini. Setelah acara ceremonial ucapan selamat datang oleh panitia dan kakak-kakak kelas, kami ditentukan dimana aku dan mbak Ana akan tinggal, "Tul, nanti saya antar, kamu disini saja, saya kedepan mencari taxi". Terang <em>lek</em> Aan kepadaku.</p>
<p>"Wah kok taxinya jelek, tidak seperti di Jakarta atau di Indonesia umumnya ", batinku. Kemudian <em>lek </em>Aan bercerita kalau taxi disini memang jelek-jelek tidak seperti di jakarta. Semua barang kami sudah berada di taxi, <em>lek </em>Aan dan mbak layli menyertai kami. Diperjalanan <em>lek</em> Aan bercerita tentang warung Indonesia dan tentang keMesiran hingga sampai di jalan yang rusak dan becek penuh dengan lalu lalang orang.</p>
<p>Belum selesai aku membayangkan sepenuhnya tentang Mesir, aku sudah dihadapkan oleh lingkungan yang jauh berbeda dengan bayanganku, tapi apa boleh buat, memang inilah kenyataannya, toh aku kesini untuk belajar bukan pindah tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan Akhir Musim Panas 2005 di Indonesia]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/03/16/catatan-akhir-musim-panas-2005-di-indonesia/</link>
<pubDate>Fri, 16 Mar 2007 03:46:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/03/16/catatan-akhir-musim-panas-2005-di-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Liburan musim panas (summer) tahun pertamaku di Egypt seharusnya aku nikmati. Seperti teman-teman la]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Liburan musim panas (<em>summer</em>) tahun pertamaku di Egypt seharusnya aku nikmati. Seperti teman-teman lain yang menghabiskan waktu dengan tour kebeberapa tempat wisata di Mesir, aktif diskusi, organisasi bahkan memperlancar bahasa arab dengan mengikuti kursus di beberapa lembaga pengembangan bahasa. Namu aku tidak begitu, aku menikmati musim panas kali ini di Indonesia, yang mana bagiku sama saja musimnya, sebab di Indonesia tidak mengenal musim panas, yang ada musim kemarau yang tidak begitu panas. Kalau tidak salah ingat, musim kemarau di Indonesia sama halnya dengan bulan April di Mesir, jadi tidak terasa begitu panas. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">“<em>Al, gimana liburan musim panasnya? Dah jalan-jalan kemana saja?”.</em> tanyaku pada Alfi teman dekat sekaligus tetanggaku saat kami chatting dengan Yahoo Messenger. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><em><span style="color:#403610;">“Wah indah sekali, aku ke Syarm-syekh, ke Sinai, pantai Dhahab dan masih banyak lagi, pokoknya nyesel deh kamu enggak ngikut”.</span></em><span style="color:#403610;"> Jawabnya. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><em><span style="color:#403610;">“Tapi gimana lagi, ya.... tetep asyik disini lah bisa kumpul keluarga, ke puncak dan lainnya”.</span></em><span style="color:#403610;"> Sergahku agar aku tidak ketahuan kalau iri. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"> </span><!--more--></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Bahkan bukan hanya chatting saja, ketika dia tour ke Sinai dan sedang mendaki bukit Tursina masih sempat menjadikanku ngiri saat membaca smsnya dia. Dan masih banyak lagi sms yang dia kirimkan setiap harinya tentang aktivitasnya di Kairo. Juga Habib Maulana yang selalu ngirim email tentang aktifitas teman-teman Fismaba hingga tentang pribadi temanku. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Tiga bulan setengah aku di Indonesia, melihat cerita teman-teman yang selalu rajin mengirim email, sms, chatting dan kadang juga telpon menjadikan aku rindu suasana di Mesir dan ingin bersama-sama mereka menikmati panasnya kota Kairo. Tapi jika melihat salah satu tujuanku ke Indonesia untuk berobat mata (operasi), akhirnya akupun lebih menikmati liburan ini, karena bisa setiap kamis ke Puncak Bogor dan Cianjur karena sekalian kontrol mata. Juga setiap minggu ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tentunya tujuannya adalah Keong Mas sebab yang lain rasanya sudah pernah semua. Studio film 3D (3 dimensi) yang membuat siapa saja akan serasa menjadi aktor saat menonton film di dalamnya. Dan tentunya kami selalu pergi bertiga, bukan dengan adikku dan kakakku, melainkan dengan kedua orang tuaku. <em>Cos... i’m only one, so ...</em> </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Bukan hanya di Jakarta saja, setelah kontrol mata bertahap menjadi dua minggu sekali, aku mencoba membantu orang tua, ya.. kerja kecil-kecilan. Aku mendapat jatah mengurus proyek bangunan di Kediri - Jawa Timur, pengalam pertamaku langsung terjun di dunia kotraktor dan langsung menjadi pengawas serta penanggung jawab keuangan meski yang dapat tender orang tuaku.<em> </em></span><em><span></span></em></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><em><span></span></em></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Hidupku bagaikan burung, yang mudah terbang kesana kemari, hidupku 10 hari di Kediri 4 hari di Jakarta dan 1 hari jalan. Jakarta – Kediri terasa sangat dekat, padahal membutuhkan waktu 15 jam menggunakan kereta api malam Bangun Karta Executive. Kereta api langgananku karena paling mudah dijangkau, selain nyaman, murah, juga stasiun terahirnya di Jombang yang tidak jauh dari Kediri.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span><span></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Di Kediri aku bisa bertemu semua sanak saudara, teman-teman sekolah Ibtida’iyyah di kampungku dan GEC (General English Course) of Mahesa Institute di kota Pare Kediri. Temanku Ibtida’iyyah yang semuanya sekampung denganku hanya 3 orang termasuk aku yang meneruskan hingga jenjang universitas dan selebihnya rata-rata telah bekerja. Maklum rata-rata kehidupan mereka kelas menengah ke bawah, hanya kami bertiga yang merasa beruntung karena orang tua kami mampu membiayai hingga ke universitas. “Puji syukur kepada Allah ta’ala atas limpahan rizki yang diberikan kepada orang tua kami”. Pujiku dalam do’aku.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><em><span style="color:#403610;">“An, kapan kamu akan kembali ke Kairo?”</span></em><span style="color:#403610;"> Tanya ibuku disaat kami santai duduk di depan rumah menikamti indahnya malam besama tetangga sekitar rumahku. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">“<em>Tak tahu buk, aku juga masih bingung. Gimana kalau setelah lebaran?”</em> jawabku.</span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><em><span style="color:#403610;">“Ya terserah kamu, tapi rombongan pesantren Tambak Beras besok pertengahan bulan Oktober, kebetulan bapakmu yang membookingkan ticket”.</span></em><span style="color:#403610;"> Jelas ibuku. </span></p>
<p style="margin-left:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Aku bingung harus gimana, hingga akhirnya aku putuskan untuk kembali bersama rombongan Tambak Beras mengingat barang bawaanku yang tidak mungkin aku bawa sendiri. Sebuah keputusan yang harus bijaksana, mengingat titipan dari teman-teman sangat banyak meski aku ingin kembali setelah lebaran dengan menaiki Emirates sekalian aku mengunjungi saudara-saudaraku di United Arab Emirates. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">----o0o---- </span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Hari pertama puasa Ramadlan 1426 H. aku masih sempat makan sahur bersama keluarga dan sore harinya aku harus ke Kediri untuk melihat proyekku yang kata bibiku (wakilku disaat aku di Jakarta) telah usai. Proyek yang aku targetkan selesai 35 hari, ternyata molor sampai 42 hari, <em>jadi</em> <em>pikirku aku nanti bisa korupsi, eh tapi sial, malah rugi. Dasar otak-otak busuk. Hehehehehe...</em></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Kali ini aku pergi ke Kediri yang terahir kalinya, sehingga akupun lebih banyak terfokus untuk kunjungan ke sanak-saudara untuk pamit dan agar perjalanku untuk lebih mengetahui penggunaan otak secara benar di restui dan dido’akan. dua hari adalah waktu yang singkat, hingga aku harus kembali ke Jakarta, dan kini aku harus berpisah dengan teman-temanku. Dan untuk yang terahir, aku ingin hidup bersama kedua orang tuaku lebih lama.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Tepatnya tanggal 16 Oktober 2005, isakan tangis dan air mata dengan sendirinya keluar saat aku berpelukan dan <em>say good bye</em> dengan ibuku saat di pintu masuk ruang <em>check in</em> Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng Jakarta. 20 temanku telah menjalani pemeriksaan barang, hingga tiba giliranku. Setelah selesai, giliranku harus mengeluarkan kesedihan dengan Ayahku yang sengaja mengantar sampai ke depan imigrasi bandara. Pesan kedua orang tuakupun susah aku lupakan. Saat aku memeluk ibuku, ibukupun berpesan “An jaga diri baik-baik dan belajar yang sungguh-sungguh. Jangan neko-neko”. Dan saat mencium telapak tangan Ayahku, rasanya berat sekali aku melepaskan tangan ayahku selama beliau berpesan “belajar yang sungguh-sungguh, jaga kesehatan”, rasanya aku ingin menangis lagi karena belum bisa memenuhi keinginan beliau selama ini. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Berat kaki ini untuk melangkah menuju ruang tunggu pesawat Yamania, tapi ini tugas mulia dalam hidup manusia, tugas untuk lebih mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta menjadikan mulia di sisi Allah Swt. </span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">----00o---- </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Aura langit di pagi buta menampakkan cahaya indahnya. Sesaat aku dikejutkan oleh adanya sejumlah menu makanan yang telah dihidangkan oleh pramugari di hadapanku saat aku rehat tadi. Kutatap kaca jendela ternyata masih cukup gelap. Hanya kerlap-kerlip lampu yang terlihat ikut mewarnai indahnya langit yang menyala di sayap pesawat <em>Yamania Airways</em> yang akan membawaku ke Kairo. Aku bingung harus bertanya pada siapa tentang waktu. Kulihat Pak Dion disebelahku masih tertidur lelap. Kembali para pramugari menghampiriku dan menyuguhkan minuman <em>soft drink</em> untuk me<em>refress</em> setelah tertidur sebentar. Mungkin ini adalah menu terakhir kami sebelum mendarat di bandara international <em>Sana'a</em> Yaman dan juga sebagai makan sahur. Kulihat jam di monitor masih menunjukkan pukul 02.00 pagi <em>lokal time distination</em>. <em>"Ahhhh</em>.... <em>malam yang panjang, sampai bangun tidurpun masih gelap gulita</em>." Gumamku dalam hati. Memang perjalanan ke timur malamnya lebih panjang.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Pagi ini udara terasa dingin sekali, di monitor terlihat temperatur udara minus 10 derajat celcius, suhu yang dingin sekali. Tepat pukul 04.00 pagi pesawat yang kami tumpangi <em>landing</em> di <em>Sana’a International air port</em> di Sana’a Yaman untuk transit sebentar sebelum melanjutkan ke Kairo. Saat keluar dari pesawat, udara terasa dingin tapi tidak terlalu dibanding dalam pesawat, kini kira-kira 17 derajat celcius. Lumayan dingin untuk ukuran orang katulistiwa. Akupun merasakannya hingga menembus pori-pori kulit tubuhku. Kulihat teman-temanku kebanyakan menggunakan jaket, hanya pak dion yang menggenakan pakaian, sedang aku hanya mengenakan kaos oblong. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di <em>Sana'a</em> Yaman. Sebelumnya aku menaiki <em>Kuwait air ways</em> yang transitnya di Kuwait. Terlihat pepohonan kecil di sekeliling bandara menambah semilir dinginnya udara, kami ramai-ramai dihantarkan sebuah bus menuju tempat dimana kami harus melapor diri atau <em>check in</em>. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Di ruangan yang tidak begitu lebar, sedikit terhangatkan sebab tertutup rapat oleh dinding dan kaca. Berjubelnya orang-orang dari berbagai tujuanpun menambah hangat suasana. Terlihat kebahagiaan di wajah teman-temanku termasuk juga Laily, cewek tunggal dalam rombongan kami. Beberapa saat setelah kami didalam ruangan, <em>counter</em> tiket untuk tujuan kairo dibuka, dan itupun langsung diserbu para penumpang, termasuk aku yang sempat antri beberapa orang. Tak lama kemudian kami diantarkan kembali ke gedung yang lain menggunakan kendaraan bus. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Di ruang tunggu yang tidak begitu luas terisi penuh dengan meja dan kursi yang cukup menampung kira-kira sampai dua ratusan orang, juga terdapat dua televisi besar ukuran 29 inc yang dengan lantang mengumandangkan adzan subuh. Hampir semua penumpang tak terkecuali orang-orang yang menggunakan pakaian <em>ihrom</em> mulai berbondong-bondong menuju bilik kecil di pojok ruangan dan bersama-sama melaksanakan sholat subuh berjama’ah kecuali aku dan beberapa temanku. Kami asyik ngobrol sambil memainkan laptopku, sesekali kami melakukan potret bersama. Hasil foto kami langsung ditransfer ke laptopku yang sudah menyala dari tadi. Begitu juga Laily yang tidak mau ketinggalan di foto pun ikut menyaksikan hasil beberapa jepretan kami. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Kami menikmati suasana yang terasa sepi tanpa adanya musik yang mengiringi. Sedangkan siaran televisi hanya menampilkan ceramah agama dan itu membuatku bosan sekaligus heran sebab hampir semua orang justru asyik menonton ceramah tadi. Aku jadi berpikir sejenak dan terasa malu jika mengeraskan musik laptopku. Terlihat di tas temanku ada headphone, tanpa pikir panjang, aku meminjamnya. Kerinduanku pada Ellysa pun berujung dengan memutar albumnya.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"><span></span></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Di saat kami sibuk dengan sendirinya, pak Dion pergi menunaikan sholat subuh dan bahkan sempat meminjam sandalku untuk mengambil air wudlu sedang dalam benakku terbersit pikiran, “Ah.... nanti <em>aja</em>, <em>toh</em> waktunya masih lama,” saat kita sedang asyiknya mengabadikan kenangan, tiba-tiba terdengar teriakan “Jeddah..... Jeddah..... Cairo.... Cairo..... Cairo.... <em>Qohiroh</em> <em>bi</em> <em>Syur’ah</em>,” kita yang sedang asyik bersantai-santai reflek membereskan barang-barang bawaan masing-masing termasuk juga aku hingga tidak sempat mematikan laptop, hanya aku tutup begitu saja lalu memasukkannya ke dalam tas, padahal setahuku baru nanti jam 06.00 pagi kami <em>take off</em>. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">Hampir seisi bandara telah keluar, sedang rombongan kami masih bergerombol mencari seorang sosok yang tengah berinteraksi dengan tuhan. Aku sudah tidak bisa berpikir panjang,..... hanya penyesalan karena pagi ini tanpa ada halangan aku tidak <em>sowan</em> pada-Mu Tuhan, tentu Tuhan murka kepadaku. Teringat masa kecilku, jika aku tidak makan, ibuku langsung memarahiku. Padahal ini hanya soal makanan, <em>toh</em> kalau aku sudah merasa sangat lapar juga akan makan. Tapi kalau soal ibadah, ibuku tidak pernah memberi ampun kepadaku, bukan hanya omelan yang menari di telinga tapi juga terkadang airpun membasahi mukaku di saat asyiknya tidur, hanya demi cintanya ibuku agar aku tidak dimarahi Tuhan. Kini ibuku tak lagi mendampingiku. Aku hanya bisa merenungi bahwa dari dulu kalau menunda pekerjaan berarti pertanda gagal alias tidak terlaksana, di pagi ini apakah akan aku temui lagi pagi seperti saat ini di <em>Sana’a</em> dengan melakukan pemujaan terhadap-Mu. </span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">----o0o---- </span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span style="color:#403610;">“Tuhan pagi ini aku berdosa kepada-Mu, bisikan syetan telah melumpuhkan hatiku, sehingga aku lengah dan tidak bisa melaksanakan kewajibanku sebagai hamba-Mu. Tuhan hambamu yang nista ini akan berjuang dalam peperangan yang teramat panjang demi menghilangkan satu kata “BODOH”. Tuhan berikanlah petunjuk-Mu jika suatu saat nanti aku tersesat atau lupa jalan kepada-Mu," </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:left;" dir="ltr" class="MsoNormal"><span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[keindahan bersamamu di Luxor, Aswan, Abou Simbel.]]></title>
<link>http://azaiwa.wordpress.com/2007/03/16/keindahan-bersamamu-di-luxor-aswan-abou-simbel/</link>
<pubDate>Fri, 16 Mar 2007 03:11:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>azaiwa</dc:creator>
<guid>http://azaiwa.id.wordpress.com/2007/03/16/keindahan-bersamamu-di-luxor-aswan-abou-simbel/</guid>
<description><![CDATA[Malam itu aku meinggalkan rumah pukul 21.00 malam dan langsung menuju Ramsies Train Station desertai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';"><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/03/abusimbel1-for-wp.JPG" title="abusimbel1-for-wp.JPG"><img align="left" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/03/abusimbel1-for-wp.thumbnail.JPG" alt="abusimbel1-for-wp.JPG" /></a>Malam itu aku meinggalkan rumah pukul 21.00 malam dan langsung menuju Ramsies Train Station desertai 3 kawanku. Setibanya disana ternyata kami datang paling awal datang, sedang rombongan yang lain belum tampak. Jadwal kereta yang akan kami naiki pukul 23.00, lumayan cukup malam untuk melakukan perjalanan ke Luxor, <em>ya.. apa boleh buat karena kereta ini yang masih tersisisa tempat duduknya sebab yang lebih awal telah habis tiketnya.</em></span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Segerombolan cewek berjilbab tampak di kejauhan, <em>eh ternyata itu rombongan tour kami pula</em>. Hiruk pikuk dan lalu-lalang orang dalam stasiun kereta api</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Ramsies tampaknya tidak mengenal malam maupun siang, meski waktu telah menunjukkan 22.40 malam ternyata masih ramai dengan kesibukan masing-masing. Kamipun telah bersiap di jalur dimana kereka berhenti yang akan membawa kami ke meneliti lebih jauh tentang sejarah Mesir.</span></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><!--more--></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Goyangan dan bunyi khas kereta benar-benar mengingatkanku akan kereta Bangun Karta yang biasa aku naiki dari Jakarta ke Jombang atau sebaliknya. Kesenyapan malam rupanya tidak akan aku rasakan di malam ini karena kebisingan suara roda kereta dan lalu lalang orang lewat. Kami yang masih belum saling akrab antara satu sama lain menjadikan hanya beberapa orang saja yang aku ajak bicara, <em>ya…karena <span></span>hanya mereka yang dari Indonesia saja yang aku kenal</em>. Tour kali ini bisa dibilang tidak banyak yang ikut, bahkan untuk cowoknya hanya 6 orang, 2 orang warga Thailand dan 4 orang Indonesia itupun yang satu telah berkeluarga. Sedang untuk ceweknnya lumayan banyak, ada 10 orang dan kesemuanya berkwarganegaraan Malaysia sehingga wajar jika dihari pertama kami masih belum bisa saling akrab.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Matahari terlihat telah lama menampakkan cahayanya, “ah ternyata aku tertidur lama” gumamku dalam hati. Kulihat kanan kiriku nampak area persawahan yang sangat luas sekali “aku kira selama ini mesir adalah gurun sahara saja, ternyata luas juga area persawahannya” cakapku pada muslim. Kereta yang terus melaju hingga nampak disebelah kanan kami adalah sungai Nil yang yang membemtang panjang, tampak pula perahu-perahu kecil yang turut mewarnai indahnya sungai Nil.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Pukul 11.00 kami sampai juga di kota Luxor dan langsung menuju hotel Everest yang tidak begitu jauh dengan stasiun kereta api. Dihotelpun kami tak lama, hanya check in dan ganti baju serta sholat Dhuhur. Mandipun kami tidak sempat, tapi kami tetap enjoy.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Dengan menaiki Toyota Coaster kami dihantarkan mengelilingi kota Luxor yang penuh dengan sejarah, dipandu dengan guide yang cantik dan murah senyum sehingga rasa capek kamipun bisa sedikit berkurang.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Di masa Fir'aun, kota Luxor pernah dijadikan sebagai pusat negeri Mesir. Oleh karenanya, kota ini sangat kaya dengan peninggalan-peninggalan bersejarah, seperti kuil-kuil dan lain sebagainya.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Kota Luxor merupakan bagian dari kota Thebes kuno. Mulanya kota ini dikenal dengan nama Wizy-Wany, kemudian orang Yunani menyebutnya dengan nama Thebes. Bahkan seorang penyanyi Yunani (di kala itu) menyebut kota ini dengan nama "seratus pintu" karena banyaknya pilar-pilar yang tersebar di seluruh penjuru kota. Selanjutnya setelah kedatangan Islam, orang-orang Arab menyebut kota tua itu dengan nama Al Aqshar, yang artinya istana-istana.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Kalau pemisahan kota Cairo dengan Giza oleh Sungai Nil, menurut Fir'aun, sebagai pemisahan antara kehidupan dan kematian (Cairo sebagai tempat kehidupan dengan berbagai aspeknya, dan Giza sebagai tempat pemakaman bagi yang sudah meninggal), maka hal seperti itu terjadi pula di Luxor. Kehidupan dan kematian dipisahkan oleh Sungai Nil. Karena itulah di seberang barat (west bank) terdapat kuburan-kuburan lama yang telah berumur ribuan tahun dan ditemukan di berbagai tempat hingga disebut Valley of the Kings. Sedangkan di seberang timur (kota Luxor sekarang) itulah tempat kehidupan hingga sekarang.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Itulah sedikit uraian dari guide kami yang dalam penyampaiannya menggunakan bahasa English British. “wah kalau begini aku harus pasang telinga agar paham sebab guidenya ngomong British” cakapku pada Muslim yang duduk didepanku. Diapun hanya tersenyum, “I pun tak faham, cepat sekali dia cakap” jawabnya padaku. </span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Yang menjadi tujuan pertama kali ini adalah King of Valley. Untuk memasuki kawasan King of Valley kami dihantarkan oleh kereta diesel karena kendaran bus tidak diperkenankan memasuki area tersebut. Terlihat bukit-bukit besar beserta lorong-lorong yang menuju gua pekuburan para raja Fir’aun sangat banyak sekali. Lukisan pahat khas mesir kuno yang nampak didinding dengan warna-warni yang tersirat menjadikan siapa saja tak mau lepas memandangi disetiap sudut dinding lorong hingga tempat makam fir’aun, lukisan yang menggambarkan sejarah peradaban dari mesir tempoe doelu mewarnai disetiap lorong dan tentunya ada nilai sejarah tersendiri disetiap lukisan. Tapi kami hanya mengunjungi 4 dari 60 makam Fir’aun, itupun kesemuanya dilarang melakukan pemotretan didalam area makam, entah apa sebabnya yang pasti setiap pintu masuk bertuliskan “no photo and video” tapi kami kadang usil, kami masih melakukannya, curi-mencuri pandang kami lakukan dengan petugas keamanan demi terealisasinya sebuah gambar yang menjadikan kenangan dihari nanti.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';"><a href="http://azaiwa.files.wordpress.com/2007/03/aswan-karnak-for-wp1.JPG" title="aswan-karnak-for-wp1.JPG"><img align="left" src="http://azaiwa.wordpress.com/files/2007/03/aswan-karnak-for-wp1.thumbnail.JPG" alt="aswan-karnak-for-wp1.JPG" /></a>Karnak temple yang selama ini aku melihat di computer kini aku bisa melihatnya secara nyata, keindahan dan kebesarannya memang pantas disebut temple terbesar didunia, kami bergerombol sembari mendengarkan penjelasan guide kami, dan kadang sesekali aku mencuri photo guide yang lumayan cute itu. Dalam karnak temple ini kamipun tak lama, kami diberi waktu free selama 40 minutes setelah guide menjelaskan semua legenda Karnak temple ini, kamipun menelusuri seluruh area karnak temple. “eh sudah jam 4.30, saatnya kita pulang” ajakku pada Muslim dan Tajuddin, terlihat dari kejauhan ada Wira dan Sobri, kamipun sepakat keluar bersama para turis yang lain. Ups aku lupa kalau sebenarnya kita disuruh kembali ke tempat dimana kita berkumpul tadi, sedang kamipun kini telah berada di area parkir. “Kok belum ada siapa-siapa?” tanyaku pada muslim. Akhirnya kami jalan-jalan mencari souvenir. Beberapa souvenir pun kami beli, tiba-tiba Nisa datang menghampiri kami dan marah-marah sebab kami menghilang. “An! U must have commitment” ucap sang guide kepadaku dengan muka mencuram setelah kecapean mencari kami.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Keindahan Luxor dimalam hari memang benar-benar indah, tidak seperti di Cairo, lebih-lebih keindahan Luxor temple yang nampak sangat elok dengan dihiasi lampu-lampu yang memancarkan kesetiap sudut temple sehingga suasana semakin indah. Rasa letih yang seharusnya kami rasakan sama sekali tidak menghinggapi kami, hanya rasa ketakjuban yang mewarnai disetiap kami menemukan dan melihat sesuatu yang baru.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';"></span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">''''''</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">Pagi buta dan matahripun belum menampakkan sinarnya, suasana kota yang kemaren aku lihat penuh dengan kesibukan dan lalu-lalang para pelancong yang ingin mencari hiburan dan pengetahuan baru belum terlihat sama sekali, sedangkan kami harus sudah check out dari hotel yang melepaskan keletihan kami karena jadwal kereta api yang berangkat menuju kota Aswan jam 06.00 pagi.</span></p>
<p style="margin-top:12pt;" class="MsoNormal"><span style="font-family:'Bookman Old Style';">4 jam kami berada dalam kereta yang menghantarkan ke kota Aswan dari Luxor. Kota Aswan adalah salah satu kota yang paling cerah yang letaknya di ujung selatan Mesir dan di sebelah timur (east bank) sungai Nil. Keind