<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>menggunjing &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/menggunjing/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "menggunjing"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 20:02:04 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kenapa Kita Masih Menggunjing]]></title>
<link>http://kampungrison.wordpress.com/?p=378</link>
<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:53:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>jelprison</dc:creator>
<guid>http://kampungrison.id.wordpress.com/2008/09/23/kenapa-kita-masih-menggunjing/</guid>
<description><![CDATA[
Suatu hari, duduklah beberapa pemuda di rumahnya. Sambil ngopi dan merokok, seperti biasa mereka ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText"><a href="http://kampungrison.wordpress.com/files/2008/09/ramadhan2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-380" title="al quran" src="http://kampungrison.wordpress.com/files/2008/09/ramadhan2.jpg?w=96" alt="" width="96" height="96" /></a></p>
<p class="MsoBodyText">Suatu hari, duduklah beberapa pemuda di rumahnya. Sambil ngopi dan merokok, seperti biasa mereka akan memperbincangkan banyak hal, isu politik, pemberitaan media massa, gosip artis, teknologi, lagu hingga musik.</p>
<p class="MsoBodyText"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diasik-asiknya ngobrol muazin yang ada di masjid yang tidak jauh dari rumahnya mengumandangkan azan mahgrib. Tanpa disadari, mereka juga ikut membicarakan suara sengau muazin yang memang tidak sedap didengar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kenapa ya, pengurus masjid mengambil dia sebagai muazzin dan gharim. Seharusnya diseleksi dulu siapa yang layak untuk azan di masjid,” kata pemuda I.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Iya, mana suaranya sengau lagi,” ujar pemuda II. “Seharusnya diseleksi dulu” tambahnya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kalau suara macam itu, siapa yang mau datang ke masjid,” ujar Pemuda I lagi dengan pendapat yang diyakininya benar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pembicaraan semakin ramai, seperti ramainya para tetangga dan jamaah mendatangi masjid.<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kemarin ketika dia mengaji subuh dengan pengeras suara, saya dengar banyak yang tidak betul tajwid dan harkatnya,” ujar pemuda I kembali. “Kalau salah baca Al Quran, pasti salah makna,” tambahnya lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa disadari, jamaah yang sedari awal berbondong-bondong, pun telah pulang dari masjid untuk kembali melaksanakan aktivitas yang tertunda. Dan kedua makhluk tuhan ini masih juga bercerita tentang si muazzin sengau. Tanpa disadari, waktu shalat pun telah terlewati dan mereka tetap menggunjing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mungkin adegan diatas pernah terjadi dikehidupan kita, mungkin dengan episode-episode yang berbeda. Mungkin ada. Kita mencela suara muazzin yang sengau padahal kita tidak pernah mau mendatangi masjid untuk azan dan shalat berjaamah. Kita selalu mencela tajwid dari jamaah masjid yang mengaji dengan pengeras suara, padahal kita sendiri jarang dan enggan mengaji. Semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pepuluk mata tidak terlihat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita selalu menyebutkan rekan sekantor tidak becus dalam bekerja, padahal kita sendiri juga tidak memiliki prestasi dan tidak melakukan apa-apa. Kita menyebutkan tetangga, sahabat tetangga dan semua, padahal belum tentu apa yang kita perbincangkan juga benar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sekedar mengutip ayat, dalam Surat <strong><span style="font-weight:normal;">AL HUJURAAT ayat 12 berbunyi.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://kampungrison.wordpress.com/files/2008/09/al-hujaraat.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-379" title="al-hujaraat" src="http://kampungrison.wordpress.com/files/2008/09/al-hujaraat.jpg?w=480" alt="" width="480" height="176" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (<strong><!--[if !supportEmptyParas]-->AL HUJURAAT: 12)</strong></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Biarkan Diri Anda Banyak Bicara]]></title>
<link>http://istiqom4h.wordpress.com/?p=190</link>
<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 03:19:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>ernabpp</dc:creator>
<guid>http://istiqom4h.id.wordpress.com/2008/07/25/jangan-biarkan-diri-anda-banyak-bicara/</guid>
<description><![CDATA[Rembulan tertawa dan bintang-bintang bersorak-sorai
lalu mengapa kita biarkan kesedihan
membunuh dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Rembulan tertawa dan bintang-bintang bersorak-sorai</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>lalu mengapa kita biarkan kesedihan</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>membunuh dan mencekik kita?</strong></p>
<p>Tinggalkanlah perdebatan dan terlibat dalam pertentangan tiada gunanya seputar hal-hal yang masih belum pasti, karena sesungguhnya hal ini akan menyempitkan dada dan mengeruhkan hati. Jangan sekali-kali anda berupaya membuat orang lain menerima pendapat anda tentang berbagai masalah yang mempunyai banyak sisi pandang. Sebaliknya, kemukakanlah pendapat anda dengan tenang, tidak tergesa-gesa, tidak mendesak, dan tidak pula tegang. Hindarilah sikap banyak menentang dan mengkritik karena sikap ini justru akan menghilangkan kerehatan bagi pikiran anda dan membuat anda tidak simpatik. Ungkapkanlah pendapat anda dengan kata-kata yang lemah lembut, simpatik, serta dengan perlahan dan tenang, maka pada saat itu niscaya anda akan dapat memikat hati dan menyejukkan jiwa.</p>
<p>Hal lainnya yang dapat mendatangkan kesusahan dan kesedihan pada diri anda adalah mengumpat orang lain, mempergunjingkan perihal mereka, mencela, dan mendiskreditkan mereka. Sikap ini di samping akan melenyapkan pahala anda dan membuat anda berdosa, juga akan menghilangkan rasa tenang anda. Oleh karena itu, sibukkanlah diri anda dengan memperbaiki kekurangan yang ada dalam diri anda hingga anda lupa memperhatikan kekurangan orang lain. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan kita dengan sempurna lagi terpelihara dari kekurangan, bahkan kita semua mempunyai dosa dan kekurangan. Oleh karena itu, beruntunglah orang yang sibuk memperbaiki kekurangan dirinya hingga melupakan kekurangan orang lain.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Kata Mutiara Hari Ini</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bagi seorang ibu yang anaknya jatuh dari ketinggian</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>janganlah menyia-nyiakan waktunya</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>untuk menjerit dan menangis</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>tetapi berupayalah dengan segera</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>membalut luka anaknya</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Mengungkit-ngungkit Keburukan Orang Lain]]></title>
<link>http://istiqom4h.wordpress.com/?p=109</link>
<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 00:35:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>ernabpp</dc:creator>
<guid>http://istiqom4h.id.wordpress.com/2008/07/21/jangan-mengungkit-ngungkit-keburukan-orang-lain/</guid>
<description><![CDATA[Jangan mengungkit-ngungkit aib dan rahasia orang lain. Terkadang sebagaian orang ada yang menghabisk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan mengungkit-ngungkit aib dan rahasia orang lain. Terkadang sebagaian orang ada yang menghabiskan waktunya untuk sekedar bertanya-tanya, “kenapa fulan mentalak istrinya? Mengapa dia sampai hati berbuat begitu? Kenapa fulan dipecat dari jabatannya? Mobil model apalagi yang dibeli si fulan? Berapa banyak rumah dan tanah yang dimiliki di fulan?” kenapa waktunya dihabiskan untuk membicarakan persoalan ini? Lalu apa yang bisa diambil manfaat darinya?</p>
<p>Jika anda seorang pelajar, jangan mengungkit-ngungkit keburukan guru anda. Siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat salah. Rasulullah bersabda,</p>
<p><em>“Setiap manusia pasti melakukan kesalahan (dosa). Sebaik-baiknya orang yang bersalah (berdosa) adalah mereka yang bertaubat kepada Allah” (HR. Tirmidzi)</em></p>
<p>Jika anda telah beristri, jangan membicarakan istri anda, baik tentang sifat-sifatnya maupun kebiasaannya kepada orang lain.</p>
<p>Hal ini biasanya sering terjadi saat sekelompok ibu-ibu berkumpul yang biasanya dibawah pohon saat menunggu anak-anak mereka yang sedang bersekolah</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berkatalah yang baik atau diam!]]></title>
<link>http://nisahafidz.wordpress.com/?p=137</link>
<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 03:50:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Anita</dc:creator>
<guid>http://nisahafidz.id.wordpress.com/2008/06/17/berkatalah-yang-baik-atau-diam/</guid>
<description><![CDATA[Berkatalah yang baik atau diam, ya kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berkatalah yang baik atau diam, ya kita sebagai manusia memang telah diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah SWT termasuk nikmat dapat berbicara. Akan tetapi, banyak yang salah menggunakan nikmat ini. Mereka tak mengerti bahwa mulut yang telah dikaruniakan oleh-Nya seharusnya dapat dijaga dengan baik dan digunakan hanya untuk kebaikan.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam" (Muttafaq 'Alaihi)</p>
<p>Lalu dalam hadist lain disebutkan:<br />
"Allah memberi rahmat kepada orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapatkan keselamatan." (HR Ibnul Mubarak)</p>
<p>Demikianlah, lidah seseorang itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, dsb.</p>
<p>Mengenai ghibah, ada ayat tersendiri dalam Al-Quran yang membahasnya:<br />
"<em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang</em>." Al-Hujurat: 12</p>
<p>Lebih jauh lagi manusia hendaklah dipandang dari lahiriahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum atas bathiniyahnya. Tidak ada seorangpun yang berhak menghukum manusia kecuali berdasarkan penyimpangan dan kesalahan yang tampak. Seseorang tidak boleh menyangka, mengharapkan, atau bahkan mengetahui bahwa  mereka melakukan suatu penyimpangan secara sembunyi-sembunyi lalu diselidiki untuk memastikannya. Yang boleh dilakukan atas manusia adalah menghukum mereka saat kesalahannya terjadi dan terbukti. Kita sebagai umat islam tidak berhak untuk mencari-cari kesalahan orang lain lalu menyebarkannya.</p>
<p>Rasulullah ditanya: "Hai Rasulullah apakah ghibah itu?" Nabi saw menjawab: "Kamu menceritakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya". Beliau ditanya lagi: "Bagaimana menurut engkau jika yang dikemukakan itu ada pada dirinya?" Nabi menjawab,"Jika yang kamu katakan itu ada pada dirinya, berarti kamu mengumpatnya. Jika tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah berdusta tentang dia" (HR Tirmidzi)</p>
<p>Jadi, sebaiknya kita memelihara perbuatan kita, dan jangan menghambur-hamburkan perkataan yang sekiranya dapat membahayakan kita. Umumnya manusia yang banyak omong selalu berbuat salah dan dosa. Karena itu, mukmin yang senantiasa merasa diawasi oleh Allah wajib mengerti bahwa perkataan itu termasuk amalannya yang kelak akan dihisab: amalan baik maupun buruk. Karena pena Ilahi tidak mengalpakan satupun perkataan yang diucapkan manusia. Ia pasti mencatat dan memasukkannya ke dalam buku amal.</p>
<p>"<em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir</em>." Qaaf: 16-18</p>
<p>Karena itu, katakanlah yang baik agar kita mendapatkan keberuntungan, dan diamlah dari keburukan supaya kita selamat.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Dan Trick memecah Belah umat Islam]]></title>
<link>http://suara01.wordpress.com/?p=44</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 10:04:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jaisy01</dc:creator>
<guid>http://suara01.id.wordpress.com/2008/05/08/tips-dan-trick-memecah-belah-umat-islam/</guid>
<description><![CDATA[Kita mungkin sudah biasa melihat perpecahan umat Islam dalam mensingkapi sebuah perbedaan. Namun kit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mungkin sudah biasa melihat perpecahan umat Islam dalam mensingkapi sebuah perbedaan. Namun kita tidak tahu, tips dan trick bagaimana umat Islam dapat berpecah belah dalam mensingkapi sebuah perbedaan. Artikel ini dimaksudkan untuk berjaga-jaga dan memberikan keberhati-hatian dalam mensingkapi sebuah perbedaan yang menyebabkan perpecahan. Baik, apa saja yang membuat umat Islam dapat berpecah belah ketika menghadapi sebuah masalah:<br />
<!--more--><br />
1.	Perbedaan Pendapat : Ini sering menjadi tolak ukur kebenaran dari masing-masing kelompok umat Islam. Menganggap diri yang paling benar dalam perjuangan, sehingga menafikkan kelompok umat Islam yang lain. Dan akhirnya cenderung kepada kebanggaan hanya kepada kelompoknya sendiri.<br />
2.	Pengkultusan Ulama : Inilah yang menjadi problem bagi kita semua, karena satu ulama dengan ulama yang lain kadang berbeda pendapat dalam mensingkapi sebuah masalah. Maka akhirnya jamaah satu dengan jamaah yang lain merasa paling benar dengan apa yang diutarakan oleh Ulamanya sendiri-sendiri. Sehingga ada kesan bahwa “hanya ulama sayalah yang paling benar, yang lainnya salah!”<br />
3.	Saling klaim paling berjasa : Saling klaim paling berjasa dalam perjuangan ini sering terjadi, merasa kelompoknya paling terdepan dalam berjuang, merasa paling tepat dalam arah perjuangannya, sehingga menafikkan kelompok umat Islam yang lainnya.<br />
4.	Menyudutkan : Sering terjadinya sebuah kelompok Islam menyudutkan arah perjuangan kelompok Islam yang lainnya, jika terkesan tidak sesuai dengan perjuangan kelompok Islam yang lainnya. Kesannya, apa yang dilakukan kelompok Islam yang lainnya merupakan cara-cara yang salah dalam berjuang, sehingga yang sering terjadi bukan bekerjasama tetapi malah saling menyudutkan arah perjuangan kelompok Islam satu dengan yang lainnya.<br />
5.	Menjustifikasi/menghukumi : Beberapa kelompok Islam sering menjustifikasi tentang kesalahan arah perjuangan kelompok Islam  yang lainnya. Sehingga terkesan sekali bahwa apa yang dilakukan oleh kelompok Islam yang lain merupakan sebuah perilaku kesalahan yang terus menerus dilakukan. Ada kesan bahwa setiap orang yang mengikuti kelompok Islam yang lain, maka itu sebuah kesalahan yang besar.<br />
6.	Menfitnah : Ini sering terjadi, jelas fitnah itu sangat dibenci oleh Allah. Namun beberapa kelompok Islam sering menjadikan ungkapan berbau fitnah ini tanpa tabayyun terlebih dahulu. Mereka lebih mudah memandang dari sudut pandang kacamata kelompoknya sendiri daripada melihat sudut pandang kelompok Islam yang lain.<br />
7.	Menggunjing : beberapa kelompok Islam lebih senang “membicarakan” dengan mencari-cari kelemahan dan kesalahan-kesalahan gerakan Islam yang lainnya dalam kajian mereka sendiri. Tidak ada tabayyun untuk mengklarifikasi apa yang telah dilakukan kelompok Islam yang lain. Intinya, jika tidak sesuai dengan arah perjuangan kelompoknya sendiri maka semua itu salah.</p>
<p>Semua itu dapat dapat diminimalisir ketika kita mempunyai kedewasaan dalam berfikir. Pola keberagaman berfikir sebenarnya sudah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah. Namun semua itu tidak menjadikan para sahabat Rasulullah berpecah belah, tetapi menambah khazanah pola keberagaman pemikiran. Kita ingat bagaimana Abu bakar dan Umar saat berbeda, bagaimana Umar Dan Khalid saat berbeda, bagaimana Utsman dan Ali saat berbeda, bagaimana Imam Syafi’I dan Imam Ahmad ketika berbeda, dan bagaimana Imam Malik, Imam Syuyuthi, Imam Shouqani dalam mensingkapi perbedaan pendapat. Semua itu sudah diajarkan.</p>
<p>Semua itu tergantung kepada pemikiran kita masing-masing. Dan semua itu terletak kepada pendewasaan kita dalam berfikir bagaimana menjadikan keberagaman pola berfikir itu dapat membuat kita bersatu. Persatuan kelompok Islam memang akan sulit dilakukan, tetapi mempersatukan kelompok Islam dengan atas nama Isllam bukan sebuah hal yang mustahil! Persatuan itu manakalah ada perbedaan, dengan adanya perbedaan itulah akhirnya kita disatukan. Entah terserah mereka memakai cara apa dalam memperkenalkan Islam ini, yang terpenting semua kelompok umat Islam saling bahu-membahu menegakkan Diennul Islam ini sebagai agama yang haq, yang dapat menjadi pencerahan dari segala prilaku. </p>
<p>Maka sudah tidak jamannya lagi, kita membedakan sebuah perbedaan umat Islam. Tetapi kita menyamakan antara sesuatu yang dirasa memang sama dengan aturan syari’at. Kenapa kita harus membeda-bedakan umat Islam, jikalau dalam Al Quran jelas, dikatakan “Innamal mu’minuuna Ikhwah”. Jadi kenapa kita harus berbecah-belah mensingkapi hal ini. Biarlah Allah menghukumi kebenaran mana yang Dia inginkan pada masing-masing kelompok Islam. Jangan jadikan hak Allah dalam menentukan kebenaran yang diasumsikan sebagai kebenaran-kebenaran individu kelompoknya sendiri.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kiat Menghadapi  Orang Yang Menggunjing Diri Kita]]></title>
<link>http://pieramdani.wordpress.com/2008/04/23/kiat-menghadapi-orang-yang-menggunjing-diri-kita/</link>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 02:01:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>pieramdani</dc:creator>
<guid>http://pieramdani.id.wordpress.com/2008/04/23/kiat-menghadapi-orang-yang-menggunjing-diri-kita/</guid>
<description><![CDATA[Seorang yang cukup luas ilmunya berkata tentang orang yang menggunjing (atau memfitnah) diri kita di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang yang cukup luas ilmunya berkata tentang orang yang menggunjing (atau memfitnah) diri kita dibelakang kita:
</p>
<ul>
<li>Jika orang menilai dan bersikap negatif pada kita mungkin karena ada yang jelek menurut mereka, iri karena kelebihan kita, takut tersaingi, atau mungkin memang karakter mereka yang jelek.
</li>
<li>Hadapi mereka dengan lapang dada dengan pemahaman bahwa manusia itu penuh perbedaan, sapa mereka sewajarnya. Jika masih berlaku jelek kepada kita, anggap saja bebegig sawah. Ajak berjabat tangan sambil kita wirid. Fokuskan atensi kita pada profesionalitas. Jika perlu, ajak berdialog 4 mata sambil meminta maaf.
</li>
<li>Utamakan penilaian baik dari atasan tapi tidak menjilat. Palingkan dari perhatian mereka dengan kesibukan tambahan jika ada waktu. Jangan buka peluang mereka menilai jelek lagi pada kita karena urusan tugas dan tanggung jawab kerja.
</li>
<li>Ciptakan hubungan lebih baik lagi dengan orang yang masih menilai baik pada kita dengan berbagai strategi dan perluas persaudaraan.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GHIBAH (MENGGUNJING)]]></title>
<link>http://mikyad.wordpress.com/2007/11/26/ghibah-menggunjing/</link>
<pubDate>Mon, 26 Nov 2007 04:49:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>mikyad</dc:creator>
<guid>http://mikyad.id.wordpress.com/2007/11/26/ghibah-menggunjing/</guid>
<description><![CDATA[ Dalam banyak pertemuan di majlis, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing (membic]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p> Dalam banyak pertemuan di majlis, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing (membicarakan orang lain). Padahal Allah Subhanahu wata’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjahuinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :</p>
<p>“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik dengannya” (Al Hujurat : 12)</p>
<p>Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menerangkan makna ghibah (menggunjig) dengan sabdanya :</p>
<p>“Tahukah kalian apakah ghibah itu? Mereka menjawab : Allah dan RasulNya yang mengetahui. Beliau bersabda : Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya, ditanyakan : “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang)  terdapat pada saudaraku ? beliau menjawab : jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau talah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya” (HR Muslim : 4/2001)</p>
<p>jika ghibah  adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan), baik dalam soal keadaan jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, Akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranyapun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-olok.</p>
<p>Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :</p>
<p>“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri) dan yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormayan saudaranya” (As Silsilah Ash Shahihah : 1871).</p>
<p>Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya :</p>
<p>“barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak api Neraka dari wajahnya” (HR Ahmad : 6/450, Shahihul Jami’ : 6238).</p>
<p>------------------------</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
