<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>mengaji &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/mengaji/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "mengaji"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 05:08:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mengaji Al-Qur'an (Pemula,Tartil,Terjemah,Fiqih, dan Hadith)]]></title>
<link>http://4ads.wordpress.com/?p=25</link>
<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 09:30:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>4rss</dc:creator>
<guid>http://4ads.id.wordpress.com/2008/10/10/mengaji-al-quran-pemulatartilterjemahfiqih-dan-hadith/</guid>
<description><![CDATA[Dewasa 1 Minggu 2 kali @ 1,5 jam: hari menyesuaikan, Pilihan waktu: 06.30, 08.00, 09.00, 12.30, 15.3]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa 1 Minggu 2 kali @ 1,5 jam: hari menyesuaikan, Pilihan waktu: 06.30, 08.00, 09.00, 12.30, 15.30</p>
<p>Kelompok Anak-anak: pagi jam 07.00 atau sore jam 15.30</p>
<p>Call : 031-8289755-56, setiap jam kerja</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Mudah membaca Al-Quran]]></title>
<link>http://adadi.wordpress.com/?p=205</link>
<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 03:07:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>maychaell adinata</dc:creator>
<guid>http://adadi.id.wordpress.com/2008/09/19/belajar-mudah-membaca-al-quran/</guid>
<description><![CDATA[Kamu mau belajar membaca Al-quran, atau belajar ilmu Tajwid? atau ingin mengajarkan kepada adik, ata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kamu mau belajar membaca Al-quran, atau belajar ilmu Tajwid? atau ingin mengajarkan kepada adik, atau anak kita dirumah? Software berikut mungkin bisa membantu kamu dalam pembelajarannya, saya menemukan sebuah software di komputernya adik saya, he he he, software ini dibuat dengan mengunakan media flash. Software ini bernama Belajar Mudah Membaca Al-quran.<!--more--></p>
<p style="text-align:center;"><a title="tajwid" rel="lightbox[pics248]" href="http://ayadinata.com/wp-content/uploads/2008/09/tajwid.jpg"><img class="attachment wp-att-249 centered" src="http://ayadinata.com/wp-content/uploads/2008/09/tajwid.jpg" alt="tajwid" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Didalamnya di jelaskan Bentuk,makhraj dan sifat huruf hijaiyyah, jadi kamu bisa lihat hurufnya seperti apa dan bagaimana pelafalannya, soalnya pembelajaran ini juga di lengkapi dengan suara, jadi kita bisa menirukan suara untuk tiap - tiap huruf yang kita klik.</p>
<p style="text-align:center;"><a title="tajwid-2" rel="lightbox[pics248]" href="http://ayadinata.com/wp-content/uploads/2008/09/tajwid-2.jpg"><img class="attachment wp-att-250 centered" src="http://ayadinata.com/wp-content/uploads/2008/09/tajwid-2.jpg" alt="tajwid-2" width="450" height="300" /></a></p>
<p>Disini juga di jelaskan ilmu - ilmu tajwid seperti izh-haar, idghaam, iqlaab, ikhfaa’, qalqalah, waqaf, madd. Bahkan dijelaskan juga secara terperinci, seperti idghaam itu ada berapa macam, dan bagaimana pelafalannya, dan kapan saat pelafalannya itu terjadi seperti itu, juga bagaimana pengucapannya dengan contoh suara.</p>
<p>Dikemas dengan warna - warna yang menarik, yang saya yakin membuat adik, atau anak kita betah untuk belajar.</p>
<p>Semoga ini bisa membantu kamu, walaupaun menurut saya seorang guru lebih baik dari pada belajar sendiri, karena ada yang bisa mengingatkan kita jika kita salah melafalkannya <img class="wp-smiley" src="http://ayadinata.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt="D" /></p>
<p>Jika kamu berminat, kamu bisa mendownloadnya dibawah sini, selamat belajar mengaji</p>
<p><a href="http://ayadinata.com/down/Tajwid.zip" target="_blank">download tajwid</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Istilah "Ngaji Kilatan"]]></title>
<link>http://irfanaksara.wordpress.com/?p=45</link>
<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 04:15:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>irfanaksara</dc:creator>
<guid>http://irfanaksara.id.wordpress.com/2008/09/05/istilah-ngaji-kilatan/</guid>
<description><![CDATA[Awalnya istilah ini hanya dikenal kaum santri. Namun seiring dengan perkembangan waktu, &#8220;Ngaji]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Awalnya istilah ini hanya dikenal kaum santri. Namun seiring dengan perkembangan waktu, <a href="http://209.85.175.104/search?q=cache:p_RuZ-7AGTUJ:www.antara.co.id/ramadhan/seenws/%3Fid%3D145+Ngaji+Kilatan&#38;hl=id&#38;ct=clnk&#38;cd=3&#38;gl=id" target="_self">"Ngaji Kilatan"</a> mulai banyak dijumpai di beberapa tulisan, termasuk berita-berita yang ada di televisi, radio, dan media cetak.<!--more--></p>
<p><a href="http://irfanaksara.files.wordpress.com/2008/09/puasa-ngajikilat.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-49" title="puasa-ngajikilat" src="http://irfanaksara.wordpress.com/files/2008/09/puasa-ngajikilat.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a>Istilah itu terdiri dari dua kata "Ngaji" dan "Kilatan". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Ketiga (maaf, saya hanya punya edisi ini) halaman 491, kata <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_self">"mengaji"</a> merupakan kata kerja yang berarti mendaras (Bahasa Arab Dars: Belajar) Alquran atau tulisan Arab. Sehingga yang namanya mengaji sudah pasti belajar, entah itu belajar membaca dan menulis Alquran atau tulisan Arab lainnya.</p>
<p>Sedang <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_self">"kilatan"</a> sendiri tak lain sekilas cahaya (KBBI, 568).</p>
<p>Lalu apa hubungannya antara belajar membaca dan menulis tulisan Arab dengan kilatan cahaya?</p>
<blockquote><p>Makanya, "ngaji kilatan" bukan kalimat baku dalam Bahasa Indonesia. Itu hanya istilah yang populer di kalangan pondok pesantren <a href="http://www.antara.co.id/arc/2007/9/23/mengaji-kitab-kuning-di-zaman-serba-instan/">salaf</a>. Tapi belakangan masyarakat umum juga mengadopsinya, seperti "pesantren kilatan".</p></blockquote>
<p>Kalau mengaji, para santri sudah mafhum semuanya, karena itu sudah menjadi santapan wajib di pondok pesantren manapun, baik <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_self">salaf</a> atau modern.</p>
<p>Sebenarnya para santri (dan kiai tentunya) menggunakan istilah "kilatan" itu karena mereka terbiasa menggunakan jasa PT Pos (dulu masih Pos dan Giro) untuk mengirimkan surat kepada orangtuanya di kampung halaman. Saat membeli perangko di toko atau koperasi pondok, santri biasa ditanya mau yang biasa butuh waktu tujuh sampai 15 hari atau "kilat" yang dalam dua hari bisa sampai ke alamat tujuan.</p>
<p>Rata-rata santri mengirimkan surat dengan menggunakan perangko kilat, agar surat yang mengabarkan tentang kebutuhan logistiknya di pondok sudah menipis atau bahkan habis sama sekali cepat sampai kepada orangtuanya di kampung halaman.</p>
<p>Nah, dari situlah, muncul istilah "kilatan" untuk hal yang berkaitan dengan mengaji tadi.</p>
<blockquote><p>Ngaji kilatan sendiri umumnya digelar pada bulan Ramadan seperti sekarang ini, ketika sekolah diniyah dan aktivitas wajib lainnya di pondok pesantren libur karena tahun pelajaran ponpes salaf dimulai pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Rajab. Oleh karena itu, jangan heran kalau setiap bulan Rajab atau Sya'ban, stasiun kereta api dan terminal bus di daerah yang banyak berdiri pondok salafnya akan dipadati para santri yang hendak pulang kampung.</p></blockquote>
<p>Sama dengan istilah pos tadi, kilatan bisa berarti cepat. Artinya ngaji kilatan ini adalah sistem mengaji kitab yang diselesaikan dalam waktu singkat.</p>
<p>Sebagai ilustrasi, untuk mengaji Kitab Ihya' al 'Ulumuddin karya Imam al Ghazali yang terdiri atas empat jilid (satu jilid terdiri atas 350-500 halaman) sampai tamat, para santri membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.</p>
<p>Tapi dalam ngaji kilatan bulan Ramadan, mengaji Kitab Ihya' dengan cara memaknai Bahasa Jawa yang lazim dilakukan para santri salaf itu bisa tamat dalam waktu sebulan. Wow...fantastic! (menirukan ungkapan Prof Jonathan Burton setiap kali mendengar jawaban dari siswanya dalam IASTP di Surabaya kemarin)</p>
<blockquote><p>Hanya saja jadwal ngaji kilatan dibuat rapat, biasanya dimulai bakda subuh dan berakhir pukul 24.00 WIB, dengan waktu istirahat saat salat maktubah dan buka puasa. Pengajian pun bisa dimulai sepuluh hari menjelang Ramadan (20 Sya'ban) agar bisa tamat pada tanggal 20 atau 25 Ramadan. (Kebayang kan? Bagaimana pegelnya mata, keritingnya tangan, dan menipisnya pantat seharian penuh ngaji, selama sebulan lagi!. Makanya kalau yang biasa jadi anak mama dan nggak mau sengsara, jangan jadi santri deh...!)</p></blockquote>
<p>Oke, berarti sama dong, dengan perangko tadi. Kalau ngaji Kitab Ihya' dengan cara biasa membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Tapi kalau dengan sistem kilatan, sebulan saja sudah rampung atau bisa disebut SKS lah, maksudnya Sistem Kebut Semalam, gitu....!</p>
<p>Di sini para santri bisa memilih, mau ngaji kilatan, atau menghabiskan waktu selama bulan Ramadan ini di rumah saja, mumpung liburan, toh...nanti 15 hari setelah lebaran sudah diwajibkan kembali ke pondok lagi.</p>
<p>Kalau saya dulu, kira-kira memilih yang mana ya....?</p>
<p>Kediri, 5 September 2008<br />
elhaqier (orang paling sembrono)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGAMAT POLITIK KITA SEMAKIN TIDAK INDEPENDENT!]]></title>
<link>http://eftianto.wordpress.com/?p=346</link>
<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 10:44:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>eftianto</dc:creator>
<guid>http://eftianto.id.wordpress.com/2008/08/15/pengamat-politik-kita-semakin-tidak-independent/</guid>
<description><![CDATA[Ada apa dengan para pengamat politik kita? Kenapa mereka sarat dengan muatan ideologi yang dipaksaka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada apa dengan para pengamat politik kita? Kenapa mereka sarat dengan muatan ideologi yang dipaksakan kepada seluruh rakyat Indonesia, yaitu ideologi universalitas? Kenapa mereka memaksakan suatu sistem politik  atas nama demokrasi? Demokrasi kok maksa...</p>
<p>Simak cuplikan berita dari:</p>
<p>http://www.inilah.com/berita/2008/08/15/43961/jadi-caleg-kok-harus-bisa-ngaji/</p>
<p>Tidak baru sekali ini saja. PKS selalu diolok-olok sebagai partai eksklusif. Para pengamat menganggap hal itu tidak demokratis dan memaksa PKS untuk inklusif. Belum lagi ketika PKS secara intern menginginkan capres Balita (bawah lima puluh tahun). Seluruh pengamat menganggap hal itu sebagai sesuatu yang tidak demokratis. Sungguh lucu. PKS melakukan itu kan hanya intern partai saja. PKS inklusif juga urusan dalam partai. Kalau berbicara demokratis, justru perbedaan itu kan inti dari demokrasi. Kalau semua harus universal kenapa ada sistem kepartaian...? Demokrasi macam apa ini memaksakan kehendak...</p>
<p>Rasanya kok ada agenda besar dari pengamat-pengamat politik. Mereka sebagian besar lulusan luar negeri, yang kegiatan saat ini juga didonori luar negeri. Biarkan ketika Megawati yang secara internal partai dipilih secara tidak demokratis (dalam skala interna partai), biarlah partai Islam berasas Islam (memang apa yang salah dengan asas Islam?), biarlah calon independen menjadi calon presiden. Toh rakyay yang akan memutuskan, bukan pengamat politik yang picik yang sempit pemikiran ideologisnya. La kalau rakyat memilih presiden di bawah umur lima puluh tahun, lalu apakah itu tidak demokratis? La kalau ternyata rakyat memilih Megawati yang tidak bisa apa-apa lalu menjadi tidak demokratis? La kalau rakyat memilih Wiranto yang berdarah-darah lalu dianggap tidak demokratis? Tidak ada yang baku dalam politik... Pemaksaan sistem politik universalitas itu yang tidak demokratis. Jangan lagi Saiful Munjani menghujat PKS hanya karena mereka berasas Islam. Jangan pula Yudi Latif memaksakan syarat caleg intern partai islam dengan boleh tidak bisa mengaji (itu urusan intern partai...). Biarkanlah politik berjalan sesuai apa adanya, toh rakyat yang akan memilih... Kalau rakyat memilih partai yang mewajibkan calegnya harus bisa mengaji njuk ngopo? Njuk ora demokratis? Opo maksude? Ketakutan kalau ideologi sekulerisme gagal (padahal itu titipan para pendonor?) Hmm... Kalau penuh kekerasan, itu baru tidak demokratis...</p>
<p>Dasar... pengamat politik mbladusan... keminter...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cukupkah Mewakili Umat Hanya dengan Modal Bisa Baca Al-Qur’an ?]]></title>
<link>http://ferza.wordpress.com/?p=94</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 20:16:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ferza</dc:creator>
<guid>http://ferza.id.wordpress.com/2008/08/07/cukupkah-mewakili-umat-hanya-dengan-modal-bisa-baca-al-qur%e2%80%99an/</guid>
<description><![CDATA[Setelah menjadi polemik yang begitu lama akhirnya pasal 36 Qanun nomor 3 tahun 2008 tentang syarat b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;"><a href="http://ferza.files.wordpress.com/2008/08/kitab-suci.jpg"><img class="size-medium wp-image-95 alignleft" src="http://ferza.wordpress.com/files/2008/08/kitab-suci.jpg?w=146" alt="" width="95" height="95" /></a>Setelah menjadi polemik yang begitu lama akhirnya pasal 36 Qanun nomor 3 tahun 2008 tentang syarat baca Qur’an dicabut oleh mendagri, <span> </span>meskipun DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) di awal ngotot meng-goal-kannya. Namun sejumlah pihak jauh-jauh hari sebelumnya sudah memprediksi bahwa pasal tersebut akan dikoreksi, seperti pernyataan Abdurrahman Ahmad anggota Fraksi PBR (Partai Bintang Reformasi) beberapa waktu lalu,<span> </span>“Jika saja aturan itu hanya diberlakukan untuk kandidat partai lokal masih masuk di akal, tapi jika diberlakukan untuk kandidat partai nasional, sama saja dengan melanggar hukum soalnya sudah ada yang mengatur itu, yaitu UU No. 10 tahun 2008,”(Sipil, edisi 7 10/07/08).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;"><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Aspirasi yang diusung oleh DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) ini sebenarnya sangat sejalan dengan aspirasi arus bawah, bagaimanapun masyarakat Aceh adalah masyarakat yang masih sangat terikat dengan ke Islaman baik berupa budaya maupun simbol-simbol. Ini terlihat jelas ketika unsur mahasiswa maupun masyarakat bereaksi keras dengan turun berdemo ketika Gubernur Irwandi Yusuf mengeluarkan statemen tentang penolakan dirinya terhadap pasal tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Akan tetapi Keputusan Mendagri di satu sisi juga logis karena berdasarkan UU Nasional tentang Pemilu disana memang tidak mengatur masalah ini, pasal ini tetap diusulkan DPRA karena Aceh memiliki partai politik lokal yang secara deregulasi dapat diatur di daerah berdasarkan keputusan Dewan. Meskipun demikian harapan akan adanya proses pentahapan baca Al-Qur’an awalnya juga mencakup partai-partai nasional yang berlaga di Aceh apa daya indonesia bukanlah negara Islam yang dengan mudah mengesahkan sebuah peraturan yang menyangkut tentang ke Islaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Keberadaan pasal tersebut awalnya menjadi harapan bagi banyak pihak ditengah stagnannya proses pemberlakuan Syariat Islam di Aceh, lahirnya calon baru yang mempunyai kapabilitas <span> </span>ke-Islaman merupakan cita-cita yang diidamkan sejak lama. Asumsinya mudah, seseorang yang berhasil melewati baca Qur’an nantinya diharapkan ketika di parlemen akan mampu mengesahkan hukum-hukum yang berpihak kepada proses penerapan Syariat mengingat ia merupakan orang yang telah mengawali karir dengan membaca sesuatu yang sakral didalam Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Tapi apakah semudah itu keadaan berubah? Bukankah banyak anggota parlemen sekarang yang fasih membaca Al-Qur’an? Atau bukankah mereka-mereka yang duduk di Dewan sekarang banyak juga yang berasal dari partai Islam dan tidak sedikit juga yang bahkan berlatar belakang ulama?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Harus disadari bahwa didalam badan legislatif terdapat berbagai tarik menarik kepentingan antar berbagi kelompok dalam mempertahankan kekuasaannya, ini terbukti dengan mayoritasnya keputusan yang diambil berdasarkan voting, bukan kata sepakat. Terlebih lagi yang menjadi asas dalam penarikan hukum para anggota legislatif bukanlah acuan Islam tapi acuan Demokrasi yang semata-mata bersandar pada proses kompromi (musyawarah) antar masing-masing anggota. Lalu Bagaimana mungkin dengan hanya membaca para caleg dapat diharapkan menerapkan Syariat Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Siapa yang bisa menjamin seseorang yang bisa membaca Al-Qur’an akan menerapkan Syariat Islam sedangkan pada wilayah subtansi dan makna mereka tidak paham, lebih tidak mungkin lagi karena<span> </span>dia berada didalam salah satu bagian dari sistem yang telah mempunyai metode aplikasi yang khas dan merupakan bagian <span> </span>dari sistem yang diciptakan atas dasar pemisahan agama dengan kehidupan (sekuler), bahkan terkait erat dengan pengalaman sejarah Eropa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Maka Bila di lihat lebih jauh sebenarnya yang menjadi problem bukanlah orang yang akan masuk kedalam parlemen, akan tetapi adalah parlemen itu sendiri yang merupakan jiplakan dari sistem kenegaraan barat kapitalis, disinilah dibutuhkan kajian kritis dari kaum muslimin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Banyak kaum muslimin yang tidak menyadari bahwa lembaga legislatif sebenarnya berbenturan secara diametral dengan sistem ketata negaraan Islam, atau bahkan tidak sedikit yang terkecoh menyamakannya dengan majelis syura pada pemerintahan Islam, hanya semata-mata karena menganut sistem musyawarah (syura). Padahal majelis syura bukanlah lembaga legislatif seperti sekarang yang mempunyai kewengan besar sebagai <em>tasyri’</em> (pembuat hukum), karena <em>tasyri’</em> di dalam Islam adalah hak perogatif Allah SWT.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Ada benarnya bahwa musyawarah adalah bagian dari Islam, tapi seseorang tidak boleh bermusyawarah pada wilayah masalah yang sudah pasti mempunyai ketetapan hukum seperti halal dan haram karena musyawarah hanya diperuntukkan semata-mata pada wilayah yang bersifat mubah (boleh), sebagai contoh sesuatu yang sudah pasti kehalalan tidak boleh menunggu voting untuk melaksanakannya dan sesuatu yang sudah pasti keharamannya tidak akan bisa berubah menjadi halal hanya karena suara terbanyak saat sidang. Jadi sebenarnya, sadarkah anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) bahwa mereka telah melangkahi kewenangan Allah SWT!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;"><strong>Khatimah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">Secara umum Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT yang mempunyai kekhasan yang luar biasa baik dari segi kata-kata maupun bentuk penulisannya, sebagai kitab yang menjadi panduan bagi umat manusia Al-Qur’an merupakan Al-Furqan (pembeda) antara yang haq dan batil. Didalamnya mencakup berbagai hukum tentang penciptaan alam semesta dan pengaturannya, kita mengenal Islam sebagai agama sempurna yang mengatur berbagai aspek pengaturan pada manusia karena memang Al-Qur’an berbicara tentang hal tersebut. Kitab Suci Al-Qur’an bukanlah sekumpulan tulisan yang bernilai magis dan tidak mempunyai makna keduniawian tapi Al-Qur’an sebenarnya adalah sebuah kitab hukum yang bersumber dari Allah SWT zat yang maha tahu. Maka sangat disayangkan apabila Al-Qur’an hanya diposisikan sebagai benda sakral yang tidak pernah diperdulikan isinya, terlebih lagi bila hanya sebagai bahan bacaan syarat untuk mendapatkan jabatan, <em>Na’uzubillah hi mindzalik</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[35 Tahun Menjadi Guru Tanpa Bayaran ]]></title>
<link>http://zainuddinjambi.wordpress.com/?p=19</link>
<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 03:09:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jay</dc:creator>
<guid>http://zainuddinjambi.id.wordpress.com/2008/08/07/35-tahun-menjadi-guru-tanpa-bayaran/</guid>
<description><![CDATA[Mendidik Anaknya Hingga S3 di Luar Negeri
Solihah BA, Guru Ngaji, saat mengajar para muridnya. 35 ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mendidik Anaknya Hingga S3 di Luar Negeri</strong></p>
[caption id="" align="alignleft" width="340" caption="Solihah BA, Guru Ngaji, saat mengajar para muridnya. 35 tahun lebih ia mengajar tanpa memungut bayaran. Wah, sulit mencari guru seperti ini. Sekarang belum masuk sekolah, sudah harus bayar uang bangku. Jumlahnya hingga puluhan juta. Mari kita doakan semoga akan muncul Solihah-Solihah yang lain. Amin.     "]<img src="http://ketukan_tuts.blogs.friendster.com/my_blog/images/ngaji_solihah_4.JPG" alt="Solihah BA, Guru Ngaji, saat mengajar para muridnya. 35 tahun lebih ia mengajar tanpa memungut bayaran. Wah, sulit mencari guru seperti ini. Sekarang belum masuk sekolah, sudah harus bayar uang bangku. Jumlahnya hingga puluhan juta. Mari kita doakan semoga akan muncul Solihah-Solihah yang lain. Amin.     " width="340" height="255" />[/caption]
<p><strong>USIANYA </strong>sudah mulai beranjak 70 tahun. Tapi semangatnya untuk mengajar ngaji tidak pupus, meski tidak meminta imbalan atau bayaran. Kegiatannya sebagai guru ngaji gratisan ini sudah dilakoninya sejak 35 tahun yang lalu. Dialah Solihah BA. Sosok wanita yang lembut dan penuh kasih sayang. Meski bukan guru komersial, tapi ia mampu mendidik empat orang anaknya, hingga selesai ke perguruan tinggi.  Bahkan dua diantaranya sempat sekolah di luar negeri. Dan anak sulungnya, berhasil menyelesaikan S2 dan S3-nya di luar negeri. Itu semua atas izin Allah. Kalau bukan pertolongan Allah, mana mungkin Solihah mampu membiayai anaknya sekolah ke luar negeri. Kini semua anaknya, sudah berkeluarga dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Dua orang menjadi dosen, satu PNS, dan satu orang lagi di perusahaan swasta. Bagaimana Solihah menjalani kehidupannya sehari-hari, dengan pengabdian yang penuh ikhlas, demi mengajarkan ilmu Allah SWT ?.<br />
Pagi itu (22/4/2008) sekitar pukul 08.30 WIB cuaca Kota Jambi cerah. Penulis mencoba menyambangi rumah Solihah, guru yang dulu pernah mengajarkan penulis mengaji.<br />
Letak rumah Solihah diujung lorong Kas RT 07, No 30 Jalan Singadikane, Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Telanaipura. Saat penulis datang, pintu bagian samping belakang rumah permanen yang sangat sederhana itu terlihat terbuka. Dari dalam rumah terdengar suara anak kecil mengaji. Sementara beberapa anak kecil lainnya berusia kisaran 6-7 tahun, duduk disamping sebelah kanan guru sambil membuka Qur’an  kecil (Iqro). Mereka duduk diatas lantai ubin yang hanya dialasi dengan karpet seadanya. Ruangan tempat Solihah mengajar itupun tidak terlalu besar, sekitar 4x4 meter. Disamping ruangan ia mengajar terdapat meja makan yang disampingnya ada dapur dan kamar mandi.<br />
Sementara sebagian murid lainnya terlihat bermain dihalaman yang dipenuhi dengan bunga dan pepohonan yang rindang, sambil menunggu antrian mengaji. Dan sebagian lagi duduk bersama orang tuanya yang menunggu didepan rumah.<br />
Satu persatu murid Solihah terus berdatangan. Mereka rata-rata ditemani oleh orang tuanya, dengan menggunakan pakaian olahraga sekolah dasar (SD). Mereka yang sudah ngaji bergegas pulang dan langsung melanjutkan ke sekolah formal tempat ia belajar.<br />
‘’Jika anak saya sekolah masuk siang, dia ngajinya pagi begitu juga sebaliknya,’’terang Edi, salah seorang orang tua murid ngaji Solihah, yang disambangi penulis, seraya mengaku  sedang menunggu dua orang anaknya yang sedang belajar ngaji.  ‘’Dan dulunya anak saya yang pertama juga ngaji disini. Tapi sekarang dia sudah SMP,’’timpalnya.<br />
Meski dua orang anaknya belajar ngaji, namun ia mengaku tidak pernah dimintai duit oleh sang guru ngaji tersebut. ‘’Tapi kita lah yang mengerti. Kadang-kadang dua bulan sekali kami kasih uang. Yah, sekitar 50 ribu untuk dua anak,’’kata pria berkumis yang mengaku tinggal di Jalan Slamet Riyadi ini.<br />
Menjelang pukul 10.00 WIB murid-murid yang rata-rata masih duduk dibangku kelas 1 SD itu selesai semua mengaji. Penulis berkesempatan untuk menghampiri Solihah. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, Solihah pun mulai bercerita.<br />
‘’Saat ini yang paling sulit mengajarkan akhlak anak-anak. Beda dengan dulu. Dan sekarang kepintarannya juga menurun, tidak seperti dulu,’’kata sarjana muda IAIN Sunan Kali Jaga ini.<br />
Ibu empat orang anak ini mengaku tidak pernah mengeluh dengan anak muridnya, meski tidak meminta bayaran. Solihah yang pernah menjadi PNS dan mengajar di SMU Muhamadiyah Surakarta ini, mengaku apa yang dilakukannya merupakan pendidikan dari orang tuanya.<br />
‘’Bapak (orang tuanya,red) dulu juga ngajar ngaji. Yah, ulama gitu. Bahkan, kalau tanggal muda, bapak yang memberi jajan kepada murid-muridnya,’’kenang Solihah.<br />
Tapi apa yang terjadi pada orang tuanya dulu, tidak sepenuhnya sama dengan dirinya. ‘’Sekarang, orang tua murid banyak yang maksa ngasih duit kepada saya. Kadang-kadang saya tolak. Terlebih bagi mereka yang memang orang tuanya tidak mampu. Tapi, saya takut mereka tersinggung, jadi yahhh.. tetap saya ambil,’’sebut Solihah, dengan suara yang halus.<br />
Belum saja 15 menit penulis bercerita, segerombolan anak-anak kecil, yang masih berpakaian sekolah berlari-lari masuk keruang sambil membawa tas. ‘’Assalamualaikum,’’kata anak-anak kecil itu, sembari menyalami wanita berkerudung coklat muda ini. Mereka pun bergegas mengeluarkan kain dan buku Iqro didalam tas mereka masing-masing dan langsung memilih tempat duduk yang sudah ada bangku kecil memanjang, untuk meletakkan Qur’an. Bangku panjang itu terbuat dari papan dan tidak di cat, tapi terlihat bersih.<br />
Yang pertama masuk, langsung belajar ngaji. Anak-anak yang rata-rata kelas 2 SD itu terlihat semangat. Meski tubuh mereka penuh dengan keringat, karena berlari, berlomba-lomba untuk cepat sampai ke rumah Solihah.<br />
Penulis pun langsung keluar dari ruangan tempat Solihah mengajar, yang hanya beratapkan seng dan mengandalkan penerangan cahaya matahari. Sesaat kemudian suara anak-anak mengaji mulai terdengar dari dalam rumah itu. Satu persatu, murid Solihah terus berdatangan dan memenuhi ruangan yang sangat sederhana itu. Ada yang diantar orang tuanya dan ada juga yang datang sendiri. Mereka bergantian mengaji, sesuai dengan urutan kedatangan. Yang pertama datang dialah yang duluan belajar mengaji. Sementara yang telah selesai mengaji langsung pulang.<br />
‘’Kalau belajar ngajinya tidak lama. Tapi antrinya yang lama. Jika siang biasanya lebih ramai lagi. Sebab anak kelas 4-6 SD bahkan SMP sudah pulang semua,’’kata Mugini, salah seorang orang tua murid yang sedang menunggu anaknya mengaji.<br />
Ibu muda yang tinggal di RT 05, Kelurahan Sungai Putri ini mengaku sangat takut kehilangan Solihah. ‘’Kalau ibu (Solihah,red) tidak ada lagi, nanti siapa yang akan menggantikannya,’’ungkap ibu-ibu yang berbincang-bincang sambil menunggu anaknya yang sedang mengaji.<br />
Satu jam kemudian, suasana kembali lengang. Koran ini pun kembali menghampiri Solihah, yang duduk didepan rehal (bangku kecil) untuk meletakkan Qu’an.<br />
Berapa jumlah murid ibu sekarang, tanya penulis?. ‘’Yah, sekitar 80-an. Mereka rata-rata warga sekitar sini lah. Tapi ada juga yang dari Broni, Waskita, Putra, Printis dan sebagainya,’’jawab ibu bertubuh mungil, sembari mengulum senyum dan menutup mulutnya.<br />
Lantas sejak kapan mengajar ngaji ?. ‘’Saya mengajar ngaji sejak tahun 1973, sebelum Uly (anaknya nomor 3,red) lahir. Saat itu di Ampera, Broni. Tapi tidak lama. Kemudian pindah kesini, dan ngajar ngaji lagi sampai sekarang. Jika dihitung sampai sekarang sudah hampir 35 tahun,’’papar Solihah.<br />
Belum lama berbincang, anak-anak murid Solihah kembali berdatangan. Sementara jam sudah menunjukan pukul 11.30 WIB. Sama dengan yang sebelumnya. Mereka berlarian masuk dan berebut mencari tempat duduk, agar bisa duluan mengaji.<br />
Penulis kembali keluar ruangan. Tidak beberapa lama, keluar seorang ibu muda berjilbab, dari dalam rumah bersama dua orang anaknya sambil membawa sepiring nasi. Dia adalah Ulyarti, STP, anak ketiga Solihah, yang berusia sekitar 34 tahun.<br />
Tanpa ragu, koran ini mencoba mendekati Uly, untuk sekedar berbincang-bincang. Menurut Uly, ibunya Solihah sangatlah penyabar. Meski demikian ia juga tegas dalam mendidik anaknya. ‘’Saya sendiri belum tentu bisa sesabar ibu (Solihah,red). Dia benar-benar sabar. Tapi terhadap anaknya dia tegas. Terutama soal pendidikan dan agama,’’kata alumni IPB ini.<br />
Uly yang menamatkan SMA-nya di Pearson Colage Kanada ini, mengaku bingung dengan ibunya sendiri. Maklum saja karena, ibunya merupakan istri pertama dari Mr H Kms Husin Syafi’i. Ayahnya Husin Syafi’i, memiliki tiga orang istri. ‘’Saya tidak tahu, yang jelas ibu tuh orang nya sangat sabar sekali. Di Kanada saya sekolah dibiayai oleh  pemerintah Kanada itupun atas permintaan pemerintah Indonesia, sebagai pertukaran pelajar,’’imbuhnya.<br />
Sementara kakaknya yang paling sulung Tedja Kaswari, menyelesaikan S2 dan S3-nya di Jerman dan Belanda. ''Yah dapat beasiswa juga,''sebut Uly.<br />
Solihah, yang ditanya koran ini soal biaya sekolah anaknya, memilih diam. ‘’Rezeki itu dari Allah. Saya hanya mengamalkan doa yang diajarkan suami dan bapak (orang tua,red). Saat anak saya Uly berangkat ke Kanada, dananya nol,’’pungkasnya.<strong>(****)</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Mengaji Lagi]]></title>
<link>http://kaffah4829.wordpress.com/?p=560</link>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 14:46:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Oyi Kresnamurti</dc:creator>
<guid>http://kaffah4829.id.wordpress.com/2008/08/05/belajar-mengaji-lagi/</guid>
<description><![CDATA[JATIMAKMUR - Sudah dua pekan ini aku mengikuti Tahsin di LTQ Yayasan Islamic Centre Iqro&#8217; Pond]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>JATIMAKMUR - Sudah dua pekan ini aku mengikuti Tahsin di <a title="LTQ Iqro" href="http://www.iqro.or.id/?op=isi&#38;id=53&#38;kat=1" target="_blank">LTQ</a> <a title="Yayasan Islamic Centre Iqro" href="http://www.iqro.or.id" target="_blank">Yayasan Islamic Centre Iqro'</a> Pondok Gede, sebuah tempat yang dulu mempertemukanku dengan seorang <a href="http://kaffah4829.wordpress.com/2006/08/03/mereka-yang-mengubahku/" target="_blank">Murabbi</a>. Sejatinya sudah <em>pengen </em>ikutan sejak awal tahun 2008 ini namun kala itu telat mendaftar. Baru pada semester ini saat pendaftaran dibuka, alhamdulillah bisa masuk dalam daftar peserta.</p>
<p>Bacaan dimulai dari A Ba Ta Tsa lagi. Serius. Mengaji yang kali pertama belajar saat SD dulu di Bontang, kali ini hadir dengan pendekatan yang jauh berbeda. Peserta tahsin ini pun bukan mereka-mereka yang buta Al Qur'an, sama sekali bukan. Bahkan ada yang sudah hafal 2 juz, tetap harus belajar dari awal karena pengucapan dan letak pelafalan huruf Al Qur'annya yang salah.</p>
<p><!--more Yuk lanjut disini..--></p>
<p>Angkatan semester ini sekitar 40 orang yang dibagi dalam 3 kelas. Aku merasa beruntung karena diajar langsung oleh Ustadz Syaiful Anwar, seorang hafidz Al Qur'an yang masih cukup muda. Ustadz mengajarkan kami cara membaca dan melafalkan huruf dengan benar secara jelas dan mudah dipahami.</p>
<p>Buku Qiroati 1 yang menjadi modal kami mempelajari makhraj setiap huruf dijadwalkan selesai dalam 7 sampai 8 pertemuan sehingga dalam 1 semester diharapkan 4 buku qiroati bisa selesai. Namun ada juga peserta yang membutuhkan waktu 2 semester untuk 1 buku qiroati. Intinya, tergantung kemauan dan kemampuan individu untuk menamatkan buku-buku itu.</p>
<p>Umumnya peserta yang masih muda, seperti si As'ad, peserta termuda di kelas karena masih SMP, dengan mudah mengikuti pelafalan huruf seperti yang diajarkan Ustadz. Sebaliknya, ada seorang bapak yang subhanallah hampir 60 tahun usianya, agak kesulitan pada huruf-huruf tertentu. Aku sendiri saat hari pertama memulai mengaji, harus mengulang khususnya pada huruf tsa (<strong>ث</strong>). Kebayangkan, bukan masalah melek huruf hijaiyahnya disini, namun lebih pada pengucapannya.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/ytsjeCKtZ_8'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/ytsjeCKtZ_8&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span></p>
<p>Bila kami sudah menemukan kesulitan pengucapan suatu huruf, Ustadz Anwar biasanya meminta kami melihat praktek pengucapan pada cermin. Seperti pelafalan huruf Tho (<strong>ط</strong>), yang makhrajnya lidah menyentuh dinding gigi atas namun mulut tidak boleh bergerak. Malam itu, setelah melihat di cermin barulah menyadari kalau saat pengucapan ternyata bibir atas dan bawah bergerak, dan itu adalah salah :)</p>
<p>Oya, jadwal kelas karyawan atau bagi mereka yang bekerja pada pagi harinya, diadakan ba'da Maghrib hingga pukul 21.30 atau kadang lebih, dua kali sepekan. Aku mengambil hari Selasa dan Kamis malam. Untuk SPP atau biaya per bulannya, Iqro menyerahkan 3 pilihannya ke kita. Ada yang 30 ribu, 40 dan 50 ribu. Tinggal pilih, seikhlasnya. Setiap peserta juga diwajibkan mengikuti kuliah tafsir yang diadakan tiap bulannya untuk menambah bekal ilmu dan keimanan tentunya.</p>
<p>Namun percaya deh, pertemuan yang sepertinya lama itu benar-benar mengasyikkan. Semoga ini buka <em>euphoria</em> sesaat karena baru mulai belajar, tapi aku benar-benar menikmati setiap huruf yang baru diajarkan. Pun kawan-kawan yang notabene baru dikenal, langsung akrab. Mungkin karena kami memiliki visi dan misi yang sama dalam menuntut ilmu ini.</p>
<p>Dalam pengantar menutup pelajaran tadi malam, Ustadz Anwar berkata, '<em>Al Qur'an dengan segala kemuliaannya hanya terlafadz baik dari tempat yang baik pula. Bila mulut itu sering dibuat bermaksiat kepada Allah, sangat besar kemungkinan mulut tersebut tidak dapat mengucapkan huruf-huruf Qur'an dengan benar.' </em></p>
<p>Dengan semangat untuk memperbaiki bacaan dan insyaAllah kelak hafalannya, kubulatkan tekad untuk mengikuti silabus dan kurikulumnya hingga tamat. Semoga Allah meridhoi, amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mimpi Tentang Ustadz Salafy dari Balik Jeruji Besi]]></title>
<link>http://agungsulistyo.wordpress.com/?p=211</link>
<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 03:07:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>agungsulistyo</dc:creator>
<guid>http://agungsulistyo.id.wordpress.com/2008/07/22/mimpi-tentang-ustadz-salafy-dari-balik-jeruji-besi/</guid>
<description><![CDATA[Kisah ini dinukil dari risalah yang ditulis oleh Ali Ghufran @ Mukhlas di dalam tempat beliau berkha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah ini dinukil dari risalah yang ditulis oleh Ali Ghufran @ Mukhlas di dalam tempat beliau berkhalwat, LP Nusakambangan, Jumadil Ula 1428H lalu. Berikut tulisan beliau:</p>
<p>Sewaktu kami berada di LP kerobokan Bali, di sana ada minimal tiga ustadz yang menamakan diri sebagai pengikut salaf atau bermanhaj dan berpaham salaf (salafy) yang ikut andil membina, mendidik dan mengajar para napi (narapidana) di sana –alhamdulillah– salah satu di antara ustadz itu ngajar mingguan (Ustadz M. Alim) sedang yang dua lagi sebagai khatib Jum’at saja.</p>
<p>Ustadz-ustadz tersebut apabila menyampaikan khutbah sering menyindir-nyindir kami dan kelompok kami, tapi alhamdulillah tidak terus terang sehingga tidak setiap jama’ah memahami arah pembicaraannya. Sindiran-sindiran itu misalnya, beramal tanpa ilmu, ahludh dhalal, ahlul bid’ah, jauh dari ulama’ dan ahlul ilmi, orang yang sia-sia amalannya, para penjahat bukan mujahid, khawarij dan lain sebagainya.</p>
<p>Tapi yang paling aneh sikap yang ditunjukkan ustadz-ustadz itu adalah menghijrahi kami seperti enggan bertemu dan bertatap muka dengan kami (khususnya kami bertiga), tidak mau salam dan menjawab salam, tak mau berjabat tangan, bila kami sengaja hadang tempat lewatnya, maka mereka berpaling ke tempat lain.</p>
<p>Hal ini bagi kami tidak merasa aneh sebab kami betul-betul paham, prinsip dan paham mereka, menurut mereka sikap itu adalah tuntutan syari’at dan seafdhal-afdhal amal dan jihad mereka pada masa kini, yakni berjihad dengan menghijrahi ahlul bid’ah termasuk khawarij, dan mereka dengan tidak ada keraguan menganggap bahwa kami adalah golongan khawarij.</p>
<p>Inilah sangkaan yang mereka yakini sebagai warisan dari ulama’ salaf, sehingga mengolok-olok, mencaci-maki, menggunjing dan sebagainya terhadap kami dan orang-orang seperti kami, bahkan mayoritas para mujahidin yang berjihad pada masa kini (yang menurut sebagian dari mereka bahwa hari ini tidak ada jihad dan belum tiba masanya untuk berjihad). Perbuatan yang keji itu mereka anggap sebagai amal shaleh yang besar pahalanya yang dapat mengantarkan diri mereka mendapat ridha Allah dan masuk ke dalam syurga. Wallahu musta’an.</p>
<p>Sikap menghijrahi dan sindir-menyindir inilah yang menjadi tanda-tanya bagi sebagian para napi khususnya yang berazam kuat untuk bertaubat dan kembali kepada pemahaman Islam yang benar sesuai dengan pemahaman salaf, menyaksikan keadaan yang semacam itu, maka datanglah pada suatu hari teman sepenjara tersebut menjumpai saya dan berkata: "Ustadz, saya heran melihat antum dan ustadz-ustadz itu, pakaian sama, jenggot sama, cara shalatnya sama, sama-sama mengikut sunnah dan anti bid'ah sama-sama nampak baik, kenapa tidak bisa bergaul dengan baik, tidak saling tegur-menegur, kelompok antum sering disindir-sindir, dikatakan jahil, sesat, ahlul bid’ah, kami dipesan tidak usah belajar dengan antum dan sebagainya." Demikianlah kurang lebih apa yang disampaikan kepada saya.</p>
<p>Maka saya katakan kepadanya: Sebenarnya pemahaman kami banyak kesamaan dengan mereka dalam urusan agama ini, kami berbeda dengan mereka dalam beberapa masalah saja, antara lain dalam masalah jihad dan pemerintahan. Menurut saya perselisihan dalam masalah khilafiyah seperti ini wajar, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk bermusuhan sesama muslim, akan tetapi ustadz-ustadz itu justru menjadikan perselisihan pendapat ini sebagai alasan untuk menjauhi kami, membenci kami, dan mencela kami, bahkan menganggap dan menjuluki kami sebagai ahlul bid’ah, ahludh dhalal, khawarij dan sebagainya. Demikianlah kira-kira yang saya jelaskan kepada teman sepenjara itu.</p>
<p>Kemudian dia bertanya: "Kalau begitu saya harus ikut siapa dan yang mana?" Saya jawab: "Ikuti yang benar dan yang baik, dan tinggalkan yang bathil dan yang buruk," dia komentar lagi, "menurut saya keterangan-keterangan dari kedua belah pihak sama-sama berdalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah," dan katanya lagi, "ustadz, saya ini tidak ada ilmu, baru mulai mengerti sunnah di sini, dulu sibuk dengan urusan dunia sampai lupa tak mau belajar dan mendalami ilmu agama, jadi saya ini tidak mengerti dan tidak bisa menilai siapa yang lebih benar, tolonglah beritahu dan tunjukkan."</p>
<p>Lalu saya katakan, menurut syari’at manusia muslim itu terbagi menjadi tiga kelompok:</p>
<p>1. Mujtahid<br />
2. Muttabi’<br />
3. Muqallid.</p>
<p>Kemudian saya jelaskan satu dengan singkat satu persatu lalu saya katakan, bahwa antum termasuk muqallid, nah, kata ulama’, apabila seorang muqallid menjumpai dua orang alim yang menurut penilaiannya sama-sama berilmu dan tidak mampu membedakan mana di antara keduanya yang lebih alim, maka dia memilih yang paling baik akhlaqnya (zuhudnya, wara'nya dan sebagainya). Maka ikutilah mana di antara keduanya menurut anta yang lebih baik akhlaqnya.</p>
<p>Dia komentar lagi, katanya: kedua-duanya baik, dan sepertinya sama saja, sama-sama menjaga sunnah, sama-sama berjenggot, celana di atas betis, murah senyum, sama-sama berjuang untuk Islam katanya, dan macam-macam lagi dia bilang, zuhud dan waranya juga kelihatan sama, sama-sama anti rokok, musik dan sebagainya.</p>
<p>Subhanallah, saya jadi kesulitan untuk menjawab, akan tetapi alhamdulillah akhirnya dapat jalan keluar, saya katakan kepadanya: sekarang begini saja, coba antum shalat istikharah memohon kepada Allah Ta’ala agar ditunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, singkat cerita, alhamdulillah dia menerima nasehat ini.</p>
<p>Kemudian kira-kira dua hari setelah itu atau lebih saya tidak ingat pasti tapi kurang dari seminggu, dia menjumpai saya lagi dan bercerita bahwa malam kemarin dia bermimpi yang kisah mimpinya kurang lebih sebagai berikut:</p>
<p>Bahwasanya ustadz yang biasa mengajar mingguan di masjid At-Taubah, LP Kerobokan (ustadz M.Alim) berdiri di depan majlis seperti biasa beliau mengajar, dan di tangannya memeganga bangkai seekor ular yang panjang dan berbau busuk sekali, bangkai itu dia makan sedikit demi sedikit, sambil mengajak yang hadir (para pelajarnya) untuk sama-sama menikmatinya.</p>
<p>Kata para pelajar termasuk pemimpi, "Ustadz! Bagaimana bangkai ular yang sebusuk itu ustadz makan?" Jawab ustadz, "Ini nikmat sekali... Ayo makan." Ular yang busuk itu dimakannya terus sampai habis ludes tidak tersisa sedikit pun. Kata pemimpi, pada saat itu seluruh yang hadir dalam majlis itu merasa jijik sekali, dan seluruhnya berbau busuk yang bersangatan apalagi sewaktu bangkai itu di kunyah, dari mulut keluar bau bacin yang keterlaluan.Dan dari sekian pelajar yang hadir tidak ada seorang pun yang menjamahnya dan memakannya meskipun diajak dan ditawarin serta dirayu berkali- kali.</p>
<p>Sesudah itu teman sepenjara mukmin yang penasaran itu bertanya kepada saya: Ustadz, apa takwilnya? Saya katakan, Masya Allah! Maaf! Kurang bagus kalau saya komentar mengenai mimpi antum ini, sebaiknya ceritakan mimpi ini kepada ustadz yang bersangkutan (Ustadz M. Alim). Beliau –insya Allah– memahami dan telah mempelajari ilmu takwil mimpi, di samping itu –insya Allah– mimpi antum ini akan bermanfaat baginya sebagai tadzkirah, sebab seorang ustadz juga perlu tadzkirah, jangan lupa kalau ustadz datang mengajar lagi kemari ceritakan mimpi itu.</p>
<p>Jawabnya: "ana segan tak berani," saya katakan, "takut apa? ana yakin kalau anta sampaikan kepada beliau, beliau akan mengucapkan (Jazakumullah khairul jazaa’). Teman itu masih tetap mengatakan segan dan tidak berani menceritakannya, saya katakan lagi: "Kalau begitu sudahlah diam saja dan memohon kepada Allah Ta’ala mudah-mudahan mimpi tersebut banyak membawa kebaikan."</p>
<p>Demikianlah kurang lebih kisah mimpi teman sepenjara itu, sengaja namanya tidak saya sebutkan untuk kemaslahatan, semoga mimpi tersebut menjadi tazkirah dan pelajaran bagi yang mau mengambilnya. Saya yakin -wallahu a’lam- bahwa mimpi teman sepenjara adalah mimpi yang benar dan baik, dan kandungan mimpinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan sesuai dengan wasiat dan firman Allah Ta’ala dalam QS Al-Hujuraat (49): 11-12 pada ayat 12.</p>
<p>Allah memberi perumpamaan bahwa orang yang menggunjing saudaranya sesama mukmin bagaikan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Dalam ayat ini penggunjing diumpamakan seperti pemakan bangkai manusia, sedang dalam mimpi tersebut seperti pemakan bangkai ular, apa rahsianya? -wallahu a’lam- menurut saya ditinjau dari ilmu takwil mimpi, ular ditakwilkan dengan musuh. (Lihat kitab Ta’bir Ibnu Sirin hal.179).</p>
<p>Ustadz M. Alim yang dimimpikan dari segi lahirnya (sikapnya, ucapannya dan tindakannya) bisa dinilai bahwa dia menganggap kami dan orang-orang yang seperti kami adalah musuhnya, bahkan kalau kita baca dalam tulisan orang-orang yang sejenisnya dan sehabitat dengannya, misalnya dalam majalah Asy-Syariah, Al-Furqan dan Adz-Dzakirah serta kitab “Mereka Adalah Teroris” dan sebagainya, bahwa kami dan orang-orang seperti kami yang sedang berusaha berjihad dijalan Allah -yang mereka anggap bid’ah-  adalah musuh utama mereka pada masa kini.</p>
<p>Maka sungguh sangat tepat dalam mimpi itu yang dikunyah-kunyah adalah bangkai ular, sabagai gambaran yang menunjukkan bahwa yang diimpikan dan orang-orang yang sepertinya telah terbiasa berprasangka buruk, tajassus, memperolok-olok dan perangai-perangai buruk lainnya termasuk menggunjing saudara-saudaranya yang dianggap sebagai musuhnya termasuk kami.</p>
<p>Dan kenapa tidak bangkai manusia yang dilahap dalam mimpi itu seperti dalam ayat Al-Qur’an, rahasianya -wallahu a’lam- menurut saya, sebab kalau yang dimakan itu bangkai manusia, berarti yang digunjing itu saudara sesama mukmin biasa yang dibenci karena sesuatu perbuatan yang tidak disukai, tapi tidak sampai diyakini sebagai musuh dalam agama. Maka yang dimimpikan sebagai pemakan bangkai ular adalah lebih berat pelanggarannya daripada pemakan bangkai manusia dalam konteks ini.</p>
<p>Dan alhamdulillah, takwil mimpi tersebut kandungannya persis dengan apa yang kami pahami dan kami yakini selama ini, bahwasanya amalan, adat dan kebiasaan yang dilakukan oleh segolongan manusia dari golongan yang mengaku sebagai pengikut salaf (salafy) seperti menggunjing, mencela, memaki, menghijrahi, menjuluki dengan julukan- julukan yang tidak sepatutnya, memvonis sebagai ahlul bid’ah, khawarij dan sebagainya dengan cara ngawur dan serampangan, dan sebagainya dengan ucapan, tulisan, maupun tindakan terhadap saudara-saudaranya sesama mukmin, yang selama ini mereka yakini sebagai amal shalih dan jihad yang paling utama yang bisa mengantarkan pelakunya mendapat ridha Allah Ta’ala dan masuk syurga, akan tetapi justru sebaliknya, mereka telah menggondol dosa besar. Hanya Allah Ta’ala sajalah yang mengetahui beberapa banyak dosa yang telah dikoleksinya.</p>
<p><strong>Himbauan</strong></p>
<p>Oleh karena itu wahai saudaraku pembaca tulisan ini, jika antum berkesempatan jumpa dengan saudara-saudara kita dari kelompok salafy khususnya yang biasa melakukan perangai yang tidak terpuji, seperti yang telah disebutkan di atas, sampaikanlah kepada mereka mimpi teman sepenjara saya ini, mudah-mudahan menjadi tazkirah yang bermanfaat bagi mereka.</p>
<p>Ini menurut saya satu cara yang tepat untuk mengingatkan mereka, saya belum menemukan cara yang lebih bijak dan hikmah yang dapat mengetuk fitrah mereka dan menembus benak dan hati mereka, sebab segala yang datang dari yang mereka anggap sebagai teroris dan khawarij mereka nilai seperti sampah meskipun mutiara. Semoga dengan cara ini -dengan izin Allah- mereka menyadari.</p>
<p>Ustadz M. Alim yang diimpikan di atas -alhamdulillah saya dengan taqdir Allah dan kehendak-Nya- saya telah mengikuti dan mendengar khutbah-khutbahnya berkali-kali. Menurut penilaian saya, meskipun sikapnya menunjukkan tidak menyukai kami, akan tetapi kritikan dan sindiran serta celaan yang disampaikan melalui khutbahnya tidak sebuas dan sebringas yang dilakukan Al-ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh dan sejenisnya, kalau dimatematikakan tidak ada tidak ada sepuluh persennya, itupun gambarannya dalam mimpi sudah kayak gitu.</p>
<p>Bagaimana pula jika seandainya yang dimimpikan itu yang buas dan bringas serta menjadikan para ulama’ dan para mujahidin yang tidak disukainya yang masih hidup maupun yang sudah mati sebagai bahan cercaannya, senda guraunya dan gunjingannya, kira-kira berapa banyak bangkai-bangkai ular yang busuk lagi menjijikkan yang dikunyah dan dilahapnya.</p>
<p>Saya tidak menjadikan mimpi tersebut sebagai dalil atau hujjah sebagaimana yang telah saya uraikan di atas, akan tetapi saya yakin mimpi teman sepenjara ini merupakan mimpi yang datang dari Allah karena di samping mimpinya tersamar dan simbolis, pemimpi tidak ada kepentingan apa-apa selain mencari kebenaran, dan yang penting untuk diketahui bahwa pemimpi tidak menaruh rasa kebencian pada yang diimpikan. Bahkan beliau termasuk salah satu ustadz yang paling disukai taklim dan mengajarnya, apalagi pemimpi sebelumnya telah berusaha meminta fatwa dan beristikharah dalam masalah yang dimimpikannya tersebut. Maka saya tidak ragu-ragu lagi bahwa mimpi ini adalah termasuk mimpi yang benar dan tidak dusta, mimpi yang baik yang membawa maslahah.</p>
<p>Oleh karena itu sudah sewajarnya bagi kita -kaum mukminin- untuk mengambil manfaat darinya sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya dan menjadikannya sebagai tazkirah, dengan menghentikan amalan-amalan buruk seperti tersebut di atas yang biasa kita lakukan.</p>
<p>Sukakah kita terus-menerus memakan bangkai ular busuk dan bangkai saudara kita sendiri? Sampai kapan kita begini. Tiada yang untung dengan keadaan yang semacam ini melainkan musuh-musuh Allah dari syaitan-syaitan manusia dan syaitan-syaitan jin laknatullah 'alaihim ajma'in.</p>
<p>Dan sekali lagi wahai saudaraku, jangan lupa sampaikan masalah yang penting ini kepada saudara-saudara kita, dengan niat semata-mata mencari ridha Allah Ta’ala dan pahala-Nya kemudian berusaha mengishlah hubungan antar kaum mukminin, mudah-mudahan usaha antum diberkati Allah Azza wa Jalla dan mengantarkan kepada izzul Islam wal muslimin. [fad/arrahmah.com]</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Arsitek Rumah Tangga Itu Bernama Ayah]]></title>
<link>http://dhedhi.wordpress.com/?p=127</link>
<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 22:02:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>dhedhi</dc:creator>
<guid>http://dhedhi.id.wordpress.com/2008/06/22/arsitek-rumah-tangga-itu-bernama-ayah/</guid>
<description><![CDATA[

Setiap bangunan megah di muka bumi, selalu dibangun oleh seorang arsitek. Bangunan peradaban saat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Son n' father" href=" "><img class="alignnone size-medium wp-image-128" style="border:1px solid black;" src="http://dhedhi.wordpress.com/files/2008/06/manutd093.jpg?w=300" alt="saya n\' papa" width="182" height="138" /></a></p>
<p><!--[if gte vml 1]&#38;gt; &#38;lt;![endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Setiap bangunan megah di muka bumi, selalu dibangun oleh seorang arsitek. Bangunan peradaban saat ini pun dibangun oleh arsitek berjiwa besar dengan kontribusi yang besar juga. Arsitek-arsitek itu mungkin tak selalu memiliki nama besar dan terkenal, tapi arsitek-arsitek peradaban itu tersebar di luas di tempat umum, atau menyusup di tempat-tempat sempit. Tidak peduli di mana tempatnya, nyatanya mereka tetap memberi kontribusi yang besar untuk bangunan peradaban ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Masing-masing bangunan ada arsiteknya sendiri. Begitu juga dengan rumah tangga, arsiteknya tak lain tak bukan adalah seorang ayah. Di rumah saya, arsitek itu dipanggil "papa". Papa, seorang seorang yang darinya saya banyak belajar tentang ketegasan, sikap pantang menyerah, menjadi lebih berani, dan berbagi cinta kasih. Bahkan secara tidak disadari (Alhamdulillah sekarang sudah sadar ^^), salah satu kontributor konsep "motivasi tiada henti" dalam diri saya adalah beliau, ayah saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Di malam-malam yang sepi, kadang kami ngobrol bersama, sambil minum teh hangat. Beliau bercerita tentang perjuangan keras yang beliau hadapi. Bercerita tentang masa-masa sulit, masa-masa harus</span><!--more--><span style="color:#808000;"> berjuang sendirian, jauh dari orang tua dan kampung halaman. "<em>Papa aja yang waktu dulu serba sulit bisa seperti sekarang, apalagi kamu sekarang yang sudah jauh lebih mudah. Kamu harus lebih baik</em>". Aiihh, satu lagi konsep "motivasi tiada henti" yang beliau tanamkan kepada saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Di sela-sela kegiatan sehari-harinya, beliau masih sempat meluangkan waktu untuk mengajar saya mengaji. Susah payah beliau mengajari saya, bahkan dimulai dari pelafalan huruf "alif, ba, ta, tsa . . .". Saat SMA pun beliau masih sempat mengoreksi bacaan "<em>bismillah</em>" yang saya ucapkan. Berulang kali beliu mengulang pelajarannya, "<em>Jangan asal mengucapkan, makhroj-nya harus benar</em>", begitu pesan beliau. Bahkan saat sudah se-gede ini pun, kalau saya pulang ke rumah, beliau suka ngajak ngaji bareng. Semoga kita bisa mengenang ini saat bersama di surga nanti ya Pa. Ah, indah sekali . . . . Allahumma aamiin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Satu lagi rasa yang berhasil beliau tanamkan di hati anak-anaknya, yaitu perasaan menjadi anak yang paling disayangi di muka bumi <span style="text-decoration:line-through;">(whehehe, narsis ^_^)</span>. Pernah suatu ketika saya pulang ke Lampung karena sakit, pas beliau bertemu saya di <em>pool </em>Kramat Djati, sambil memeluk saya, beliau bilang "<em>Nak, papa kangen . .</em> .", lalu beliau pun terisak. Bukan sekali dua kali juga beliau bilang "<em>anak-anak papa itu beda, apalagi anak bujang papa, pasti paling disayang</em>". Hahaha, geli juga saya mengingatnya, tapi percaya atau tidak, yang jelas kata-kata itu masih sering saya dengar hingga saat ini. Nyatanya, memang seperti itulah yang saya rasakan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;">Ah, pa . . . kenangan-kenangan itu teringat kembali. Di saat umur papa sudah genap setengah abad. Di saat kita jauh....  Biar kita terpisahkan jarak yang jauh dan hanya bisa bertutur lewat telepon, tapi Insya Allah hati kita dekat dan bersatu. Melalui tulisan ini, ananda hanya ingin menggemakan kepada dunia, bahwa saat ini ananda berucap, "Selamat ulang tahun, <em>happy birthday</em>, Met <em>milad</em> ya pa , , ,". Kepada semua anak di dunia ini, mari bersama kita doakan orang tua kita semua. <em>Robbanaa firlanaa wa liwaalidayna warhamhuma kamaa robbayana soghiiro. Aamiin.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#808000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#808000;">Dedi Setiawan, 19 Juni 2008, 13.00 WIB<br />
@ Istana Inspirasi ( Villatel Putra 105, kelak dari kamar inilah masyarakat akan lebih berdaya)<br />
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =<br />
Motivasi dan inspirasi menulis :<br />
-          Hari lahir papa yang jatuh pada tanggal 22 Juni<br />
-          Kenangan bersama papa. Ah, <em>sweet memory</em> ^_^</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tajwid..]]></title>
<link>http://mesrarakyat.wordpress.com/?p=74</link>
<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 22:03:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>mesrarakyat</dc:creator>
<guid>http://mesrarakyat.id.wordpress.com/2008/04/05/tajwid/</guid>
<description><![CDATA[Setiap Jumaat, pengajian tajwid di ajar oleh seorang ustaz yang tahassus di dalam bab tajwid Al-Qura]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Setiap Jumaat, pengajian tajwid di ajar oleh seorang ustaz yang tahassus di dalam bab tajwid Al-Quran. Siapa yang ingin belajar, mereka akan pergi ke saf pertama dengan membawa Al-Quran.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ustaz : Hari ini kita akan teruskan pembelajaran membaca Surah Al-Buruj.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Murid-murid pun membaca. Itulah keseronokan mempelajari ilmu AlQuran dengan berguru. Kesalahan di perbetulkan dan ilmu Al-Quran pula makin bertambah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Murid-muridnya hanya 5 orang daripada 30 orang jemaah yang sedang berada di masjid. Ertinya murid dan guru hanya 6 orang. Saya kagum apabila salah seorang murid tersebut adalah salah seorang penceramah di masjid tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mesrarakyat.files.wordpress.com/2008/04/suwaid.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-75" src="http://mesrarakyat.wordpress.com/files/2008/04/suwaid-262x300.jpg" alt="" width="262" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Mengapakah jemaah yang lain hanya duduk di belakang, malah ada yang membuka forum perbincangan sendiri di perkarangan masjid ketika kuliah tajwid di langsungkan?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>a)<span> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">malu</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>b)<span> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">tidak ‘reti’ mengaji</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>c)<span> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">dah ‘reti’ mengaji</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>d)<span> </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">balik rumah (berdekatan)</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Rugi. Itu sahaja perkataan yang sesuai diberikan kepada jemaah yang tidak mahu mengambil peluang. Jika alasan sudah hebat di dalam ilmu tajwid, saya merasakan penceramah yang menjadi anak murid tersebut lagi hebat, tetapi merendahkan dirinya untuk belajar lagi. Inilah semangat muslim yang di cari..</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Menuntut ilmu hingga ke akhir hayat…</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dari Al Asr menuju masyarakat nyaman harmonis ]]></title>
<link>http://nureldaya.wordpress.com/?p=51</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 08:39:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>nureldaya</dc:creator>
<guid>http://nureldaya.id.wordpress.com/2008/03/10/dari-al-ashar-demi-waktu/</guid>
<description><![CDATA[Dari Al Asr
Surah yang begitu pendek, tapi begitu penuh arti. Beberapa waktu lalu saya mendengar pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Dari Al Asr</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Surah yang begitu pendek, tapi begitu penuh arti. Beberapa waktu lalu saya mendengar penjelasan tafsir QS Al-Asr oleh Bpk M Qurais Shihab di radio DFM Jakarta. Sebagai penggemar surat pendek sedikit banyak ada yang sempat nyangkut di kepala dan hati saya....bahwa berangkat dari sebuah surat sependek itu....bisa terwujud peradaban yang diidamkan.<!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dalam surah tersebut Allah bersumpah demi waktu, bahwa sebagian besar orang itu akan merugi, kecuali orang2 yang melakukan 4 hal berikut yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';">         </span></span>beriman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';">         </span></span>beramal sholeh</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';">         </span></span>saling bertawasul dalam kebenaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';">         </span></span>saling bertawasul dalam kesabaran</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ke-empat elemen ini ada saling keterkaitan dan menyeluruh. Jadi jika kita tidak ingin termasuk dalam golongan orang yang merugi, tidak hanya cukup dengan beriman saja, atau beramal saja, atau bertawashul saja. Atau hanya beriman dan beramal sholeh saja tanpa kemauan bertawashul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Saya jadi tertarik tentang bertawashul ini. Bertawashul sering diartikan sebagai berwasiat atau saling nasihat menasihati. Ada interaksi timbal balik di sini. Ada kemauan untuk memberi dan kesediaan untuk menerima. Kita tidak bisa hanya menasihati, tapi kita juga musti mengambil nasihat. Kita tidak hanya memberi pengajaran dan pengetahuan atau sekedar informasi dari orang lain, tapi hendaknya kita juga bisa belajar dari kebijakan dan pengalaman orang lain. Allah sangat menganjurkan amal sholeh ini. Konsep nilai ini selain dinyatakan begitu jelasnya dalam surat yang begitu pendek, juga banyak tersebar dalam surah-surah lain dalam Al-Qur’an. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Bertawashul adalah salah satu bentuk kepedulian antar sesama manusia. Sebuah nasihat diberikan sebagai masukan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan, agar sesuatu berjalan seperti yang diharapkan. Manusia diperintahkan agar bertawashul dalam (dan mengenai) kebenaran dan kesabaran. Amalan ini sejalan dengan anjuran Rasulullah <span> </span>Muhammad agar kita menyampaikan pengetahuan atau ilmu, walaupun hanya satu ayat. Seberapa kecil pun yang kita berikan, sebuah informasi atau ilmu atau pengetahuan yang baik akan turut menyokong terbntuknya pradaban yang diridhai.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Tentang keengganan bertawashul</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:27pt;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">Terkadang kita enggan untuk berbagi (informasi, pengetahuan, nasihat, ilmu) dengan orang lain. Keengganan bisa jadi dikarenakan oleh beberapa hal. </span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Kadang kita tidak suka melihat keberhasilan orang lain (ada orang yang suka melihat orang lain salah, gagal, terpuruk, dan hancur </span><span style="font-family:Wingdings;"><span>à</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"> untuk kemudian dia bisa mengasihani – bukan mengasihi –<span>  </span>). </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Keengganan bisa juga dikarenakan kita tidak siap untuk mendapatkan respon yang tidak kita kehendaki. Tidak semua orang bisa dengan tangan terbuka mengerti dan menerima perkara yang kita tawashulkan. Karena rupanya yang namanya nasihat itu bersaudara dekat dengan kritik dan saran, dua hal yang lebih sering berasa pahit daripada manisnya. Saya pikir kita butuh sebuah metode tertentu berupa upaya penghapusan kesan2 menghakimi, menceramahi dan menggurui, agar sebuah nasihat atau nilai2 kebaikan dapat diterima dengan nyaman. Kapan-kapan akan saya tulis beberapa metode yang ada di kepala saya (soalnya saya juga kadang eh<span>   </span>…sering eneg kalo mendengar ceramah yang agak2 menghakimi n menggurui gitu….:D). </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Di lain pihak keengganan ini juga bisa dikarenakan kita tidak ingin dianggap mencampuri urusan orang lain. Tentang ini sepertinya kita harus bisa memilah dan memberi batasan mengenai hal-hal apa yang dibutuhkan dan yang baik bagi orang tersebut. Ketepatan waktu juga dibutuhkan. Orang yang sedang gagal (seperti juga kita), lebih membutuhkan pengertian dan hiburan daripada setumpuk nasihat. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Times New Roman;">Barangkali yang lebih sering melatarbelakangi keengganan ini adalah dikarenakan kita tidak punya kepentingan dengan hal yang akan kita nasihatkan ataupun dengan orang yang akan kita nasihati. Kesibukan manusia dalam menjalani hidupnya (baca: mencari uang untuk kelangsungan hidupnya), telah begitu menyita waktu dan jiwa raganya sehingga ia harus melakukan aktivitas yang ‘penting-penting’ saja. Dan apa yang dianggap penting adalah yang bisa meningkatkan kehidupannya (biasanya secara materi). Hal-hal yang diluar dirinya menjadi tidak penting. .....Ah, seandainya setiap kita sadar bahwa masing-masing kita mempunyai sebuah kepentingan bersama yang bersifat universal yaitu peradaban yang indah dan diridhai……</span></li>
</ol>
<p><strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bertawashul untuk kita-kita juga</span></span></strong></p>
<p><strong></strong><span><span style="font-family:Times New Roman;">Saat ini bertawashul yang merupakan amalan yang sangat dianjurkan ini tampak tergeletak tak berdaya. Karena kadang kita berfikir bahwa untuk menjadi orang yang ‘diselamatkan’ cukuplah dengan menjadi diri yang baik, tanpa perlu mencampuri urusan orang lain, tanpa perlu mempedulikan kekurangan orang lain. Kita merasa cukup dengan menjadi (merasa menjadi) orang baik, taat dan lurus, dan menutup mata terhadap orang lain asal kita tidak terganggu (‘ terserah lo mau berbuat serusak apapun, asal jangan ganggu gue!). </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Paradigma berfikir individualis membawa kita untuk saling cuek, yang terpenting adalah kita urus diri kita sendiri, dan biarkan orang lain urus diri mereka sendiri. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Mungkin ada saja yang berani mengatakan bahwa ia bisa bahagia tanpa harus melibatkan diri pada kepedulian pada orang lain. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Bisa jadi kita mampu menciptakan dunia kecil dalam lingkup sempit kita yang kita rekayaasa untuk memberikan kesenangan pada kita. Pada tingkatan tertentu keadaan demikian mungkin bisa membuat kita senang dan cukup bahagia. Akan tetapi sejauh manakah kita bisa cukup berbahagia, di tengah coreng moreng wajah peradaban kita? Masih adanya rasa takut, sedih dan khawatir menunjukkan bahwa kepuasan semu yang (mungkin) kita peroleh itu ternyata belumlah cukup. Kita baru akan merasa benar-benar bahagia ketika kegembiraan kita dilengkapi dengan rasa aman damai dan kasih di sekitar kita. Dan kondisi yang demikian itulah yang kita ditugaskan untuk mewujudkannya. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Jadi rupanya tugas kekhalifahan manusia sebagai wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi ini merupakan sesuatu yang fitri dan inheren dalam diri kita. Ada sebuah harmoni antara instink pencarian kebahagiaan yang sejati dengan misi kehadiran kita di dunia ini. </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Ini mengingatkan tentang peran manusia sebagai makhluk sempurna yang diberi kewenangan untuk memakmurkan bumi. Misi kita untuk memakmurkan bumi ini kita jabarkan menjadi bentuk tanggungjawab moral dan social, bukan sekedar aktivitas ritual. </span><span>Di situ ada berbagi, ada peduli, dan masih banyak lagi. Di situ juga ada tugas untuk mengingatkan. Bisa melalui kritik dan saran yang disampaikan dengan kasih sayang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>Kebutuhan akan kesalihan sosial dan bukan sekedar kesalihan ritual (meminjam istilah dari Jalaluddin Rahmat) </span>… mengingatkan kita bahwa; </span><span style="font-family:Times New Roman;"><span><span><span style="font-family:'Times New Roman';"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span></span><span>- Bahwa selain sholat kita juga harus berzakat,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>- Bahwa selain berhaji kita juga wajib menyantuni </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman;"><span>- B</span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>ahwa hidup bukanlah sekedar rangkaian usaha mencapai kepuasan diri mewujudkan mimpi, akan tetapi juga merupakan rangkaian sikap peduli, upaya dan aksi untuk menciptakan sebuah bentuk peradaban yang diridhai. </span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span>- </span><span><span>Dan masih banyak bahwa yang lain, yang kalau kita renungi dan kita asyiki membuat hidup kita terasa semakin indah dan bermakna. </span></span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Tetapi seperti di ungkapkan di atas bahwa antar peran tersebut ada keterkaitan, ada kesatuan. Dan peran bertawashul inipun tidak berdiri sendiri. Bertawashul harus dalam kerangka kebenaran dan kesabaran. Bertawashul dalam mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran. Bertawashul untuk menjadi pribadi2 yang sabar. Dan keduanya ditempuh dengan cara yang benar dan dengan penuh kesabaran. Dengan cinta dan kasih sayang.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;">Wis ah, cerewet amat. Singkat aja, semoga Allah selalu memberkati kita untuk bisa turut bertawashul dalam kebenaran dan kesabaran, semoga kita termasuk orang2 yang beruntung. Amin.</span></span><span><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span>* sebuah pringatan kepada para penggemar surat pendek; jangan dikira kalo milih surat2 yg pendek2 konsekuensinya juga ringan ya……… (</span>capek deh!)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Obama and Mengaji in Indonesia]]></title>
<link>http://poisonspidermesa.wordpress.com/?p=9</link>
<pubDate>Sat, 23 Feb 2008 20:29:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>chillguy33</dc:creator>
<guid>http://poisonspidermesa.id.wordpress.com/2008/02/23/obama-and-mengagi-in-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[According to source Tine Hahiyary, who was a teacher and principal at the Besuki Primary School, yo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>According to source Tine Hahiyary, who was a teacher and principal at the Besuki Primary School, young Barry Soetoro (Barack Obama) was quite religious, and actively took part in mengaji lessons there.  This is in rather stark contrast to Obama's representations; he claims to have been playing, instead of praying.   The precise definition of mengaji is interesting.   In Indonesian and Malay society, the word mengaji means learning to recite the Quran rigorously in its native language, Arabic.</p>
<p><img src="http://poisonspidermesa.wordpress.com/files/2008/02/obama-hnl.jpg" alt="Obama in Hawaii" /><br />
Photo: Stanley Ann, Obama, Stanley Durham, and half-sister Maya in Hawaii on trip from Indonesia in early 1970s</p>
<p>Lao in <a href="http://laotze.blogspot.com/2008/01/obama-and-inconvenient-truth.html">"Obama and the Inconvenient Truth" </a></p>
<blockquote><p>To put it quite simply, "mengaji classes" are not something that a non practicing or so-called moderate Muslim family would ever send their child to. To put this is perhaps a Christian context, this is something above and beyond simply enrolling your child in Sunday school classes.<br />
The fact that Obama had attended mengaji classes <a href="http://ollyfuny.multiply.com/reviews/item/3"><font color="#0000ff">is well known in Indonesia</font></a> and has left many there wondering just when Obama is going to come out of the closet.  As I've stated before, the evidence seems to quite clearly show that both Ann Dunham and her husband Lolo Soetoro Mangunharjo were in act devout Muslims themselves and they raised their son as such.<br />
In a recent article entitled<font color="#0000ff"> </font><a href="http://www.frontpagemagazine.com/Articles/Read.aspx?GUID=1F297C14-C64D-41B1-AEBB-E0325C823CD8"><font color="#0000ff">"Confirmed: Barack Obama practised Islam"</font></a>, Daniel Pipes comes to the conclusion that Obama was an irregularly practicing Muslim who rarely or occasionally prayed with his step-father in a mosque." and "that for some years had a reasonably Muslim upbringing under the auspices of his Indonesian step-father." Needless to say, I will respectfully differ with Daniel Pipes conclusion. So will most Indonesians.</p></blockquote>
<p>Read the whole story <a href="http://laotze.blogspot.com/2008/01/obama-and-inconvenient-truth.html">here</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[WASIAT TUA GURU KH MUHAMMAD ZAINI ABDUL GHONI]]></title>
<link>http://lidahwali.wordpress.com/?p=6</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2008 15:55:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>lidahwali</dc:creator>
<guid>http://lidahwali.id.wordpress.com/2008/02/21/wasiat-tua-guru-kh-muhammad-zaini-abdul-ghoni/</guid>
<description><![CDATA[1. Menghormati ulama dan orang tua,
2. Baik sangka terhadap muslimin,
3. Murah hati,
4. Murah harta,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Verdana;">1. Menghormati ulama dan orang tua,<br />
2. Baik sangka terhadap muslimin,<br />
3. Murah hati,<br />
4. Murah harta,<br />
5. Manis muka,<br />
6. Jangan menyakiti orang lain,<br />
7. Mengampunkan kesalahan orang lain,<br />
8. Jangan bermusuh-musuhan,<br />
9. Jangan tamak / serakah,<br />
10. Berpegang kepada Allah, pada Qobul segala hajat,<br />
11. Yakin keselamatan itu pada kebenaran. <b>(berbagai sumber: tor)</b></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fee Dan Hadiah Adalah Haram]]></title>
<link>http://wsyakinah.wordpress.com/2007/12/10/fee-dan-hadiah-adalah-haram/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 08:46:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>wsyakinah</dc:creator>
<guid>http://wsyakinah.id.wordpress.com/2007/12/10/fee-dan-hadiah-adalah-haram/</guid>
<description><![CDATA[Fee Dan Hadiah Adalah Haram
Apakah Anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang &#8220;Jangan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp2.blogger.com/_Y3973ITrirU/R1z7LS8z9wI/AAAAAAAAALw/8STle4cqJqA/s1600-h/deni-triwardana-sogok.jpg"><img src="http://bp2.blogger.com/_Y3973ITrirU/R1z7LS8z9wI/AAAAAAAAALw/8STle4cqJqA/s200/deni-triwardana-sogok.jpg" style="float:left;cursor:hand;margin:0 10px 10px 0;" height="103" width="137" border="0"></a>Fee Dan Hadiah Adalah Haram</p>
<p>Apakah Anda sudah membaca tulisan saya sebelumnya tentang "<a href="http://wsyakinah.blogspot.com/2007/11/jangan-mau-jadi-budak.html">Jangan Mau Jadi Budak</a>" dan "<a href="http://wsyakinah.blogspot.com/2007/11/jangan-mau-menerima-uang-haram.html">Jangan Mau Menerima Uang Haram</a>".</p>
<p>Mendengarkan Mario Teguh Open Forum (MTOF) pagi ini yang disiarkan oleh Radio Pro2FM, memberikan pencerahan yang sangat luar biasa bagi saya, karena demikian banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari setiap acara MTOF atau MTBA.<br><br>Saya ingin menanggapi tentang "fee" dan "hadiah" yang sempat diperbincangankan pagi ini di MTOF.<br><br>Fee adalah pembayaran atas jasa yang diberikan dalam melakukan satu pekerjaan, dan setiap orang berhak atas fee yang dia terima. Fee ini diberikan oleh perusahaan yang memberikan jasa atau tempat kita bekerja berupa gaji dan mungkin bonus sebagai penghargaan atas pekerjaan kita sesuai dengan job-description yang diberikan kepada kita. Apapun pekerjaan yang telah kita lakukan atas nama perusahaan tempat kita bekerja, maka semua dibayarkan sesuai gaji yang telah disepakati, dengan demikian kita tidak berhak untuk mendapatkan fee diluar yang telah ditentukan. Kalau ada pemberian fee selain yang ditentukan oleh perusahaan, maka itu bukanlah menjadi hak kita dan itu tidak boleh diterima.<br><br>Berbicara tentang hadiah, saya berbeda pandangan dengan apa yang disampaikan Pak Mario, bahwa dalam kontek hadiah karena kita telah melakukan satu pekerjaan, padahal kita sudah dibayar oleh perusahaan atas jasa kita, maka itu sama saja dengan fee yang tidak boleh diterima. Kita tidak mungkin mendapatkan hadiah, kalau kita tidak melakukan pekerjaan tersebut.<br><br>Semua pemberian yang berhubungan dengan pekerjaan kita, apakah itu disebut dengan fee atau hadiah, maka itu bukan menjadi hak kita, dan itu harus ditolak. Orang lain tidak mungkin memberikan fee atau hadiah bukan lain untuk maksud keinginan lain.<br><br>Setiap pemberian fee atau hadiah, sadar atau tidak sadar, akan mengurangi kekuatan kita dalam memutuskan kebijakan selanjutnya, karena kita sudah merasa sungkan, atau dalam tuisan saya, menjadi "budak" oleh yang memberikan fee.<br><br>Memang dalam masyarakat kita masih menganggap wajar dengan fee atau hadiah, tapi dengan menanamkan dalam diri kita untuk bisa memulai untuk menolak semua pemberian yang bukan hak kita, maka kita sudah memberikan contoh bagi yang lain untuk bisa meneruskan hal-hal yang baik.</p>
<p>Sekarang apakah Anda sadar atau tidak sadar bahwa Anda telah menjadi budak orang lain, atau memang Anda tetap menjadi diri Anda dengan kekuatan dalam menentukan kebijakan.</p>
<p>Wassalam,<br>Syamsul<br><a href="http://www.wsyakinah.com/">http://www.wsyakinah.com</a><br><a href="http://wsyakinah.blogspot.com/">http://wsyakinah.blogspot.com</a><br><br></p>
<div class="blogger-post-footer">Quote: "Kepercayaan ibaratkan selembar kaca yang dititipan kepada kita untuk dijaga agar tidak tergores atau pecah. Satu goresan apalagi pecah akan merusak kepercayaan itu." Syamsul Arham</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rejeki Dari Tuhan]]></title>
<link>http://wsyakinah.wordpress.com/2007/11/15/rejeki-dari-tuhan/</link>
<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 04:51:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>wsyakinah</dc:creator>
<guid>http://wsyakinah.id.wordpress.com/2007/11/15/rejeki-dari-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Rejeki Dari Tuhan
Kemarin di rumah saya ada pembantu yang dipanggil untuk bekerja untuk hari kemarin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp0.blogger.com/_Y3973ITrirU/RzvP8b0yCiI/AAAAAAAAAIs/jEQbbD3uVik/s1600-h/Uang01.jpg"><img src="http://bp0.blogger.com/_Y3973ITrirU/RzvP8b0yCiI/AAAAAAAAAIs/jEQbbD3uVik/s200/Uang01.jpg" style="float:left;cursor:hand;margin:0 10px 10px 0;" height="90" width="112" border="0"></a>Rejeki Dari Tuhan</p>
<p>Kemarin di rumah saya ada pembantu yang dipanggil untuk bekerja untuk hari kemarin saja, karena selama ini kami memang tidak pernah punya pembantu. Saya memang tidak ketemu orangnya, tapi dari cerita yang saya dapatkan, sangat meng-inpirasi saya untuk menuliskannya.</p>
<p>Dia seorang perempuan, umur sekitar 24 tahun dan sudah punya anak 4 orang. Pendidikannya hanya sampai kelas empat SD, suaminya malah tidak sekolah dan tidak bisa tulis baca.</p>
<p>Suaminya bekerja sebagai tukang taman, untuk memotong rumput dijalanan, sedangkan dia sebagai pembantu rumah tangga dan kerjanya hanya siang hari saja, sore pulang.</p>
<p>Yang saya sangat kagum, orangnya sederhana, tidak neko-neko, dan mau bekerja, tidak pilih-pilih. Apakah ini hanay karena "pandangan pertama", wallau'alam. Tapi dari kesimpulan yang saya dapatkan sangat luar biasa.</p>
<p>Dengan keserdahaannya, orangnya sangat respek dengan lingkungan, dan suka memberikan pertolongan, padahal dia juga sebenarnya perlu "ditolong".</p>
<p>Dengan gaji yang hanya Rp. 800.000 sebulan ditambah Rp. 300.000 dari penghasilan suami, maka sangat "tidak" cukup untuk menghidupi 4 orang anak yang juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tapi dengan keserhanaannya, dia suka memberikan "sebagian" uang penghasilannya untuk orang yang dirasa memerlukan bantuan, dan dia tidak merasa itu akan mengurangi kebutuhannya setiap bulannya.</p>
<p>Satu hal yang sangat menarik dari setiap pemberian itu, ternyata dia mendapat kelimpahan rejeki yang tidak diduga dan bahkan melebihi dari pemberiannya.</p>
<p>Satu saat dia memberikan uang kepada orang, disore hari suaminya membawa uang yang melebihi dari biasanya. Dilain waktu dia membantu orang yang membutuhkan, tapi di saat yang hampir bersamaan dia mendapatkan pemberian dari orang yang tidak dia duga.</p>
<p>Pernah satu waktu dia membantu orang yang tersesat dan beberapa saat orang itu kembali mencari dia memberikan rejeki yang tidak dia perhitungkan sebelumnya.</p>
<p>Banyak orang yang telah membuktikan ini, bahwa pemberian yang dilakukan dengan keikhlasan, akan menghasilkan rejeki yang bahkan melebihi dari yang telah dikeluarkan.</p>
<p>Dulu ada seorang yang pernah menjadi orang kaya di Indonesia pada tahun 70-an dan orang ini satu kampung dengan saya. Kalau sedang di kampung, setiap pagi dia duduk diteras rumahnya sambil melihat orang yang berangkat ke pasar membawa barang dagangannya, apakah itu sayur mayur, kayu bakar dbs. Dan setiap pagi dia akan memanggil satu atau beberapa orang untuk mampir kerumahnya kalau mereka sudah pulang dari pasar. Setiap orang yang mampir ke rumahnya akan diberikannya uang dan bahkan tidak jarang modal untuk mereka.</p>
<p>Karena ini dilakukan setiap hari, maka ada yang bertanya; "Apakah uangnya tidak akan habis, kalau tiap hari dia memberikannya kepada orang lain?, tanpa ada keuntungan dari sana.". Maka jawabannya adalah; "Kalau saya memberi hari ini, maka besok saya akan mendapatkan rejeki berupa orderan yang keuntungannya melebihi dari apa yang saya berikan."</p>
<p>Kalau kita melihat janji Allah, bahwa Allah akan memberikan balasan yang melimpah kepada mereka yang telah men-sedekahkan rejekinya kepada orang lain.</p>
<p>Merupakan satu instropeksi bagi kita, kalau selama ini rejeki kita susah, atau kita mendapatkan rejeki, tapi tidak bisa bertahan lama, mungkin ini dikarenakan kita kurang dalam memberi kepada mereka yang membutuhkan. Karena sebagian rejeki yang kita miliki, ada sebagian merupakan hak fakir miskin.</p>
<p>Apakah kita rejeki kita sudah disisihkan untuk mereka?</p>
<p>Wassalam,<br>Syamsul<br><a href="http://www.wsyakinah.com">http://www.wsyakinah.com</a><br><a href="http://wsyakinah.blogspot.com">http://wsyakinah.blogspot.com</a><br></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Ngaji]]></title>
<link>http://chaqiel.wordpress.com/2007/09/28/belajar-ngaji/</link>
<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 04:38:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>chaqiel</dc:creator>
<guid>http://chaqiel.id.wordpress.com/2007/09/28/belajar-ngaji/</guid>
<description><![CDATA[Hidup ini memang singkat. Sangat singkat. Lihat saja, masih basah ingatan dibenakku waktu aku kecil ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup ini memang singkat. Sangat singkat. Lihat saja, masih basah ingatan dibenakku waktu aku kecil dulu kakak sepupuku mengajariku mengaji --lebih tepatnya   belajar membaca alqur'an--, hari ini buah hatiku sudah lima setengah bulan tinggal di bumi Allah. Dan aku harus siap mengajarinya mengaji dua atau tiga tahun lagi.</p>
<p><a href="http://chaqiel.wordpress.com/files/2007/09/g14-1.jpg" title="kaligrafi01"><img src="http://chaqiel.wordpress.com/files/2007/09/g14-1.thumbnail.jpg" alt="kaligrafi01" /></a>Dulu itu, cara kakakku mengajar sangat keras. Setiap selesai sholat maghrib, aku harus sudah siap dengan tuturutan (sekarang istilahnya buku iqro). Diruang tamu   rumah kakekku yang dindingnya terbuat tembok bata sebatas pinggang dan keatasnya dari bilik kayu. Di bawah pancaran sinar petromak aku siap dengan tutunjuk   (potongan lidi yang digunakan untuk menunjuk huruf-huruf Alqur'an yang sedang dibaca) ditangan kanan. Sementara tangan kiriku harus selalu di atas meja. Bila   aku salah ketika membaca, maka sebatang lidi akan mendarat mulus di jari tangan kiri, prat... Dan itu berulang setiap kali aku salah membaca kalimat-kalimat   Alqur'an dalam tuturutan. Tak terasa air matapun berlinang, bukan hanya karena sakit di jari tangan tapi juga karena tekad ingin cepat bisa membaca Alqur'an.</p>
<p>Alhamdulillah, berkat ketelatenan kakak sepupuku itu akhirnya aku lancar membaca Alqur'an. Tibalah saatnya aku bergabung dengan kawan-kawanku yang lain,   yang juga sudah bisa membaca Alqur'an untuk belajar mengaji pada seorang ustadz yang biasa kami panggil Akang (dalam bahasa sunda berarti Kakak).</p>
<p>Disana aku belajar lebih banyak tentang tauhid, tata cara ibadah, ahlak dll. Biasanya setelah belajar mengkaji, rekan-rekan sebayaku langsung pulang sebelum isya atau setelah isya. Entah kenapa --lupa   kenapanya-- aku biasanya ikut ngaji bersama kakak-kakak yang lebih senior. Ada banyak hal yang menarik hatiku untuk tetap tinggal hingga mereka semua pulang.   Salah satunya adalah kebiasaan Akang yang suka mendongeng. Akang itu kalo mendongeng sambil dipijitin oleh salah satu muridnya :). Satu dongengnya yang masih terngiang-ngiang di benakku adalah kisah tentang Ashabul Kahfi.   Kisah tentang tujuh orang pemuda yang mencintai Allah dan ditidurkan Allah selama beratus tahun didalam gua bersama satu anjing mereka. (Mengenai jumlah ini   ada perbedaan pendapat, ada yang mengatakan 6 pemuda plus seekor anjing ada juga yang mengatakan 7 pemuda dengan seekor anjing).</p>
<p>Sayangnya, orang tuaku memindahkanku ke Bogor waktu aku duduk di kelas 5 SD. Maka aku harus rela meninggalkan tempat belajar ngaji yang sekarang sudah   menjadi pondok pesantren. Akang sendiri sudah menemui Robb-nya beberapa tahun silam, semoga Allah menerimanya dan menempatkannya disisi-Nya.</p>
<p>Kembali ke belajar ngaji, yang salah satunya adalah belajar membaca Alqur'an. Dulu aku mengira bahwa semua orang islam belajar mengaji dan bisa membaca Alqur'an,   karena semua kawan-kawan kecilku bisa. Tapi betapa tercengangnya ketika aku duduk di bangku SMA (sekarang SMU) melihat kenyataan yang   menyedihkan. Ternyata banyak diantara rekan-rekan sekelasku dan mungkin sesekolahan yang belum lancar membaca Alqur'an bahkan buta huruf Alqur'an.</p>
<p>Mungkin dari kenyataan yang ada dalam masyarakat Islam bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa membaca Alqur'an, maka kini lahir beberapa   metode belajar membaca alqur'an dengan cara yang mudah, simpel dan singkat. Ada metode Iqro, metode An Nur, metode Qiroa'ti dan sebagainya. Tinggal pilih saja. Bahkan beberapa   minggu yang lalu saya berkenalan dengan ustadz Umar, beliau menuturkan kisahnya tentang keberhasilannya menemukan metode belajar membaca Alqur'an hanya   dalam waktu dua jam, <em>subhanallah</em>.</p>
<p>Jadi sekarang kalau mau belajar <em>mbaca  </em>Alqur'an itu mudah, asalkan mau berniat dengan sungguh-sungguh  dan melangkahkan kaki untuk mulai belajar.</p>
<p>Mari saudaraku kita belajar ngaji, <em>belajar Alqur'an, pahami maknanya dan kita amalkan isinya</em>. Insya Allah, Allah akan menyelamatkan kita pada hari dimana taka ada satupun yang dapat melindungi kita selain Allah Robbul 'Alamin. Amin.</p>
<p>"...Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS 65:4)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
