<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>memetik-pelajaran-bisnis &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/memetik-pelajaran-bisnis/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "memetik-pelajaran-bisnis"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 03:52:06 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Selamat Datang Para Pemudik]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=324</link>
<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 15:32:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/09/27/selamat-datang-para-pemudik/</guid>
<description><![CDATA[Hari-hari menjelang Idul Fitri seperti kali ini, tentu banyak warga perantau pada mudik ke kampung h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari-hari menjelang Idul Fitri seperti kali ini, tentu banyak warga perantau pada mudik ke kampung halamannya untuk merayakan lebaran. Tidak terkecuali para perantau asal desa Madurejo, Prambanan (dimana toko saya berada). Maka sepantasnya mereka disambut dengan sapaan : "Selamat Datang Para Pemudik". Semoga banyak keberkahan yang Sampeyan semua bawa dari rantau, bagi kemaslahatan, kesejahteraan, kebaikan sanak keluarga di rumah. Syukur-syukur juga <em>nyiprat</em> ke para tetangga dan masyarakat dimana Sampeyan tinggal.</p>
<p>Sebagai bagian dari masyarakat desa Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, saya dan toko saya "Madurejo Swalayan" turut berbunga-bunga menyambut kedatangan para warga dan tetangga yang pulang mudik. Semoga interaksi bermasyarakat melalui mu'amalah yang saling menguntungkan ini terus berjalan dalam kerangka besar sebagai bagian dari ibadah kita masing-masing.</p>
<p>Madurejo - Sleman, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429H)<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Berpesta Ramadhan-ria]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=318</link>
<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 15:44:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/08/31/selamat-berpesta-ramadhan-ria/</guid>
<description><![CDATA[Email dan SMS berdatangan berduyun-duyun berebut menghampiri kita, di mailbox dan di ponsel kita. Ny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Email dan SMS berdatangan berduyun-duyun berebut menghampiri kita, di <em>mailbox</em> dan di ponsel kita. Nyaris tak terbendung banyaknya. Saking banyaknya terkadang tak sempat terbaca semua pesan yang disampaikan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah kalau tidak sempat membaca semuanya, bahkan terkadang tak juga sempat membuka semuanya. Bukan karena si pengirim tidak bakal tahu, tapi rasanya akan dapat dimaklumi ketika puluhan bahkan ratusan SMS <em>pathing pecothot</em> di hape kita.</p>
<p>Berbagai kata, kalimat, gaya bahasa, ungkapan, parikan, plesetan, mewarnai unjuk rasa dan unjuk hati akan datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H. Namun, apapun kata-katanya, tujuanya tetap satu, yaitu ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan dan ungkapan saling bermaafan yang tulus sebagai salah satu kunci pembuka pintu Ramadhan. Agar hati menjadi bersih, lega dan longgar guna menampung berjuta kebaikan yang dibawa dan akan ditebar oleh Ramadhan, bagi mereka yang memang berniat memperolehnya.</p>
<p>Ya, hanya mereka yang sungguh-sungguh berniat dan berharap. Rugi sekali mereka yang tidak berniat, sebab akhirnya menjadi tidak berusaha meraihnya. Rugi sekali mereka yang setengah hati menyambut kehadiran Ramadhan. Rugi sekali mereka yang enggan mengelu-elukan tebaran rahmat, berkah dan <em>maghfirah</em> yang sedang diangkut oleh Ramadhan dari atas langit paling atas untuk dibagi-bagikan kepada peminta dan pengharapnya. Karena itu, Ramadhan perlu disongsong dan disambut dengan sepenuh rasa suka-cita, kegembiraan dan semangat (jangan membuang waktu untuk mempertimbangkannya sekalipun dengan sangat dan sungguh-sungguh).</p>
<p>Hanya dengan itu, maka bulan mega-bonus ini akan benar-benar menebarkan bonusnya. Lebih dari sekedar gebyar hadiahnya, melainkan Ramadhan tidak akan pilih-pilih siapa pemenangnya. Kalaupun empat milyar warga bumi menjadi pemenangnya, maka sebanyak itu pula hadiah akan ditebarkan.</p>
<p>Ramadhan adalah bulan mega-promo, lebih dari sekedar bulan penuh rahmat, berkah dan <em>maghfirah</em>, melainkan hadiah yang dijanjikan akan mencakup lebih dari segala macam rahmat, berkah dan ampunan. Jauh lebih besar, lebih luas dan lebih dahsyat dari itu.</p>
<p>Ramadhan adalah bulan penuh kedahsyatan bagi mereka yang tahu dan mau tahu. Ramadhan adalah bulan penuh pesta bagi mereka yang suka begadang dan dugem, hanya diperlukan sedikit ilmu dan usaha untuk memahaminya. Ramadhan adalah bulan penuh peluang bisnis. Bisnis dengan Tuhan yang margin keuntungannya tak terhingga, tak terukur dan tak terbandingkan. Maka, Ramadhan layak dielu-elukan. Ramadhan pantas disambut dengan gembira.</p>
<p>Mari kita rayakan pesta Ramadhan-ria. Sekarang juga. Ya, saat ini juga. Saat kita masih punya kesempatan untuk berpesta bersama Ramadhan. Mumpung pesta itu baru saja dimulai. Mumpung pesta itu baru akan berakhir sebulan kemudian. Sebab tak seorang jua mampu menggaransi kalau tahun depan kita masih punya kesempatan untuk kembali bisa hadir dalam pesta Ramadhan.</p>
<p>Mari kita tangkap peluang bisnis terdahsyat yang pernah dijanjikan oleh Tuhan. Yang <em>profit</em>-nya tak cukup ditebar dari seluas langit. Yang kebaikannya tak pandang bulu akan diberikan kepada siapa saja yang berniat tulus-ikhlas-khusyuk mengharapkannya. Sampai-sampai nabi Muhammad saw. memberi wanti-wanti, seandainya manusia ini tahu kedahsyatan Ramadhan, mereka pasti akan meminta agar sepanjang tahun dikoversi menjadi Ramadhan semua. Inilah sebuah pertanda bahwa pesta itu memang ada masa kadaluwarsanya dan pertanda agar jangan sampai kita gagal menangkap peluang bisnis yang luar biasa ini.</p>
<p>Semoga kita akan keluar dari pesta Ramadhan-ria ini, dan bergabung ke dalam kelompok orang-orang yang kembali kepada kesucian dan orang-orang yang meraih kemenangan. Dan, kita adalah pemenangnya.</p>
<p>NB :<br />
Kepada rekan-rekan muslim : Selamat berpesta Ramadhan-ria.</p>
<p>Yogyakarta, 31 Agustus 2008 (malam 1 Ramadhan 1429H)<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mie Koba Yang Bertahan Turun-temurun]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=315</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 03:45:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/08/25/mie-koba-yang-bertahan-turun-temurun/</guid>
<description><![CDATA[
Berkendaraan dari kota Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka-Belitung, kira-kira sejauh 55 km ke ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-314" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/08/img_0800_mie_koba2.jpg" alt="" width="246" height="177" /></p>
<p>Berkendaraan dari kota Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka-Belitung, kira-kira sejauh 55 km ke arah tenggara akan membawa kita ke kota Koba. Perjalanan menuju Koba, ibukota kabupaten Bangka Tengah, lumayan enak dan menyenangkan. Kondisi jalan secara umum bagus dan mulus, hanya pada menjelang masuk kota lebar jalannya agak pas-pasan untuk papasan.  </p>
<p>Sekitar 20 km sebelum Koba, rute perjalanan melintasi kawasan pantai utara pulau Bangka dengan tebaran pohon kelapa menghiasi di sepanjang pandangan ke arah kiri, khas pemandangan indah di pesisir. Sedang di sisi kanan jalan umumnya adalah dataran terbuka dengan semak dan sedikit pepohonan tinggi.</p>
<p>Lima tahun yang lalu, sebelum pembentukan provinsi baru Bangka-Belitung, Koba hanyalah kota kecamatan. Hingga kini populasinya tidak terlalu padat, hanya dihuni oleh sekitar 50 ribu jiwa penduduknya. Karena itu kenampakan kota ini relatif sepi, tidak hiruk maupun pikuk. Hanya saja saat saya melintas di kota ini beberapa hari yang lalu, sepanjang jalan utamanya penuh dengan sampah dan tampak sangat kotor. Maklum, karena sehari sebelumnya ada keramaian 17-an dan kelihatannya terlambat dibersihkan. Mudah-mudahan terlambatnya tidak kebablasan agar kota yang menjuluki dirinya "Bumi Selawang Segantang" itu tetap tampil asri dan bersih.</p>
<p>Koba memang sedang berbenah, mengejar ketertinggalannya dengan kota-kota kabupaten lainnya. Berbagai sektor sedang digarap oleh pemerintahnya, tak terkecuali pariwisata. Cuma pemerintah daerah Koba sedang agak gusar menemukan apa makanan khas Bangka Tengah. Sebab urusan makan-memakan ini seringkali menjadi menu unggulan dalam menjual potensi daerah agar menarik dikunjungi.</p>
<p>Nampaknya pemerintah setempat tidak kurang akal. Di Koba ada warung mie kuah yang cukup terkenal. Mie kuah ini memang agak berbeda dengan bakmie rebus yang banyak dijumpai di daerah-daerah lain. Belakangan terbersitlah ide untuk mengangkat mie kuah yang selama ini disebut sebagai mie koba, menyontek nama warung "Mie Koba" yang ada di kota Koba, menjadi salah satu makanan unggulan dari Bangka Tengah.</p>
<p>Kalau langkah ini berhasil, tentu merupakan langkah terobosan yang menarik. Popularitas tidak selalu terkait dengan bawaan alamiah. Banyak contoh produk jadi-jadian yang bisa populer karena kepiawaian dalam melakukan "packaging" dan "branding", hingga akhirnya orang tidak perlu lagi mengingat dari mana asal bin muasalnya melainkan seperti apa produk akhirnya.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-316" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/08/img_0799_mie-koba.jpg" alt="" width="247" height="228" /></p>
<p>Di salah satu sudut deretan warung-warung makan di Jl. Pos, kota Koba, ada sebuah warung yang sangat sederhana. Saking sederhananya malah kemudian cenderung berkesan kumuh dan seadanya. Nama warungnya "Mie Koba". Warung ini sudah ada di sana sejak puluhan tahun lalu dan dikelola secara turun-temurun.</p>
<p>Namun warung ini banyak dikunjungi orang yang kebetulan atau bahkan sering melintas di kota Koba. Hanya ada menu tunggal disediakan di warung ini, ya mie koba itu. Satu jenis masakan mie kuah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Di daerah lain mie kuah jenis ini juga banyak dijumpai.</p>
<p>Agak berbeda dengan menu bakmi rebus yang juga berkuah, yang kalau kita pesan baru akan diracikkan, direbus lalu disajikan dalam piring, dilengkapi dengan asesori suwiran atau potongan daging ayam. Sedangkan mie kuah di Koba ini cara penyajiannya mirip tukang bakso atau mie ayam. Bahan utama mie dan asesorinya ditebar di atas piring lalu diguyur dengan kuah panas.</p>
<p>Barangkali racikan mie kuah "Mie Koba" ini memang agak berbeda. Mula-mula seonggok tauge atau kecambah (istilah Jogjanya, <em>thokolan</em>) ditaruh di atas piring, lalu mie kuning diletakkan di atasnya, setelah itu ditenggelamkan dengan guyuran kuah panas, baru ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng. Tanpa daging ayam, tanpa bakso, tanpa nasi. Ketika disajikan, maka dari aroma uap panas kuahnya saja sudah mengundang selera.</p>
<p>Aromanya khas, karena kuahnya diramu dengan kayu manis dengan takaran yang pas. Pada <em>sruputan</em> pertama kuahnya, seperti membangkitkan sensasi untuk jangan terlambat dilanjutkan dengan <em>sruputan</em> kedua dan ketiga. Setelah panasnya agak reda, baru disendok mienya. Lalu rasakan taugenya yang <em>kemrenyes</em> saat dikunyah. Tidak perlu hingga 33 kali untuk mengunyahnya, keburu kuahnya dingin dan hilang <em>hoenaknya</em>....</p>
<p>Sebuah sajian mie kuah yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya karena ada tambahan ramuan kayu manis pada takaran yang pas yang membuat mie koba ini terasa lain dari biasanya. Tapi juga aroma kayu manis ini yang membuat penikmat mie koba enggan untuk <em>nambah</em>, sebab habis sepiring saja rasanya sudah kenyang, nikmat dan puas. Sebuah takaran makan yang kiranya juga pas dengan takaran kantong pembelinya.  </p>
<p>Hanya yang agak mengherankan, kendati warung mie koba ini laris manis sejak dahulu kala, tampilan warungnya ya tetap <em>begita-begitu</em> saja. Sangat sederhana dan terkesan seadanya. Entahlah, barangkali memang di situlah letak "keberuntungannya", sama seperti bangunan lama milik restoran <em>seafood</em> Mr. Asui di Pangkal Pinang yang meski berkembang pesat dan berada di tepi jalan raya, ya dibiarkan begitu saja apa adanya.</p>
<p>Tapi baiknya lupakan soal "keberuntungan", melainkan ingat saja bahwa kelezatan yang tercipta dari keterampilan memasak mie kuah "Mie Koba" itulah yang menjadi kunci kelanggengan usahanya yang hingga kini bagai tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tetap banyak didatangi para penggemarnya.  </p>
<p>Yogyakarta, 25 Agustus 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seafood Mr. Asui, Sebuah Ikon Kuliner Di Pangkal Pinang]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=308</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 12:48:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/08/24/seafood-mr-asui-sebuah-ikon-kuliner-di-pangkal-pinang/</guid>
<description><![CDATA[
Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan teta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-309" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/08/img_0785_asui1.jpg" alt="" width="242" height="213" /></p>
<p>Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan tetap dibiarkan seperti itu hingga kini. Bangunan itu dulunya adalah restoran <em>seafood </em>yang hingga kini sangat terkenal di kawasan pulau Bangka, provinsi Babel (Bangka-Belitung). Seafood Restaurant Mr. Asui, namanya. Cara penamaannya yang <em>keminggris</em>, telah menjadi merek dagangnya sendiri.</p>
<p>Kini restoran Mr. Asui menempati bangunan yang tampilannya relatif lebih baru yang berada di belakangnya. Ada sebuah gang selebar 2,5 meteran sepanjang 15 meteran yang menghubungkan jalan besar menuju restoran yang berada di dalam gang. Lokasi restoran ini nyaris berada di posisi tusuk sate, di Jl. Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapainya, terutama dari jalan protokol Jl. Jendral Sudirman. Rasanya siapapun pasti tahu dimana restoran Mr. Asui berada.</p>
<p>Seafood Restaurant Mr. Asui seperti sudah menjadi ikon kuliner menu ikan laut di Pangkal Pinang. Menjadi tempat <em>jujukan</em> para penggemar menu masakan <em>seafood</em> yang kebetulan berkunjung ke Pangkal Pinang, tak terkecuali para pejabat dan selebriti. Menu masakan mahluk laut yang ditawarkan cukup komplit dengan citarasa yang tergolong enak.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-310" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/08/img_0786_asui4.jpg" alt="" width="242" height="218" /></p>
<p>Malam itu, kami tertarik untuk mencoba menu ikan jebung bakar, kakap bakar dan kepiting saos tiram, di antara sekian banyak pilihan ikan laut. Lalu, sepiring ca kangkung adalah asesori sayuran yang kami pesan.</p>
<p>Nama ikan jebung agak asing di telinga saya. Di tempat lain ikan jebung ini disebut juga ikan kambing-kambing (entah kenapa nama kambing tidak cukup disebut sekali saja, melainkan diulang dua kali). Disebut kambing-kambing karena memang profil wajah ikan ini kalau dilihat dari samping sangat mirip dengan <em>prejengan</em> wajah kambing yang sedang meringis kelihatan gigi-giginya.</p>
<p>Tidak seperti ikan bakar biasanya di tempat lain, ikan bakarnya engkoh Asui, baik ikan jebung maupun kakap yang kami pesan, dibakar begitu saja dengan tanpa dibumbui terlebih dahulu. Kalau <em>digado</em> atau dimakan ikannya saja tentu terasa hambar tak berasa. Yang khas di restoran ini adalah sambal cairnya yang menjadi teman makan ikan bakar. Sambalnya berasa manis dan asam. Pas benar kalau dicocol dengan <em>suwiran</em> ikan bakar yang tak berbumbu.</p>
<p>Sambal cair yang warnanya menyerupai saos tomat ini selalu tersedia di atas meja bersama dengan jeruk kunci dan cabe rawit merah. Jeruk kunci adalah salah satu jenis jeruk yang sepertinya jarang saya jumpai di tempat lain. Berukuran sebesar kelereng, sedikit lebih kecil dari jeruk purut, kulitnya halus dan biasa digunakan sebagai penambah rasa asam seperti halnya cuka atau jeruk nipis.    </p>
<p>Sebaiknya dimakan pada saat masih <em>fanas</em> (pakai awalan 'f', saking masih panasnya...) atau sebelum dingin. Sebab kalau sudah dingin, serat-serat ikan jebung akan menjadi agak keras ketika digigit dan rasa <em>seafood</em>-nya menjadi kurang <em>mak nyuss...</em> dan malah membuat mudah <em>nek</em>...</p>
<p>Bumbu tiram yang mengguyur kepitingnya juga begitu lebih berasa dan berasa lebih. Lebih-lebih kalau dapat kepiting perempuan dengan gumpalan butir-butir telurnya yang berwarna jingga dan kenyal digigit. Kalau kebanyakan nasinya, maka kuah saos tiramnya pun pas benar dicampur untuk menghabiskan nasi putih.</p>
<p>Bagi penggemar menu <em>seafood</em>, Seafood Restaurant Mr. Asui sebaiknya jangan dilewatkan bila sekali waktu berkesempatan berkunjung ke Pangkal Pinang, Bangka. Konon sudah banyak orang-orang Pangkal Pinang yang mencoba berwirausaha membuka restoran sejenis, tapi kebanyakan tidak mampu bertahan lama. Tidak sebagaimana restorannya engkoh Asui yang seperti melegenda dan identik dengan menu masakan <em>seafood</em> di kawasan kota Pangkal Pinang pada khususnya dan pulau Bangka pada umumnya. Entah apa rahasianya.</p>
<p>Yogyakarta, 24 Agustus 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gratis Makanannya, Bayar Minumannya]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=279</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 00:36:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/07/31/gratis-makanannya-bayar-minumannya/</guid>
<description><![CDATA[
Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue do]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-281 alignleft" style="margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/07/p6220005_r1.jpg?w=300" alt="" width="270" height="191" /></p>
<p>Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat <em>mak sek</em>...., di tenggorokan hingga tembolok.</p>
<p>Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.</p>
<p>Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air...</p>
<p>***</p>
<p>Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin' Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.</p>
<p>Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak <em>tolah-toleh</em>. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras.........</p>
<p>Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis..... Dalih, alasan, atau malah mau <em>ngeyel</em> seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, <em>gimana ya.... rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu...). </em>Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus <em>mbayar</em>. Si burung Singa boleh berkilah. <em>Toh</em>, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja.... Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.</p>
<p>Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.</p>
<p>Gratiskan ikannya, kail dan umpannya <em>mbayar</em>. Gratiskan <em>software</em>-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya <em>mbayar</em>. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. <em>All you can eat</em>, karcis masuk untuk bisa <em>eat</em>-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis <em>nambah</em> nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.</p>
<p>Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.</p>
<p>Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau <em>keseredan</em> (apa bahasa Indonesianya, ya...).</p>
<p>Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan <em>quick assessment</em>. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman...........</p>
<p>Yogyakarta, 30 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tip]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=271</link>
<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 11:25:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/07/15/tip/</guid>
<description><![CDATA[Sudah belasan kali saya numpang tidur dan buang hajat (numpang, tapi mbayar&#8230;.) di sebuah hotel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah belasan kali saya numpang tidur dan buang hajat (numpang, tapi <em>mbayar</em>....) di sebuah hotel di bilangan Mampang, setiap kali saya singgah di Jakarta. Sudah belasan kali pula saya melebihkan pembayaran setiap kali pesan makanan untuk dikirim ke kamar, meski harga yang saya bayar sebenarnya sudah termasuk ongkos jasa pelayanan dan <em>pajek</em> (pakai huruf keempat <em>'e'</em>).</p>
<p><em>Ujuk-ujuk</em> muncul ide iseng, apa yang bakal terjadi kalau saya tidak melebihkan uang pembayaran alias tidak memberi tip?</p>
<p>Maka ketika kemudian makanan dikirim lengkap dengan bon tagihan sejumlah Rp 52.000,- saya pun membayarnya dengan uang pas persis, selembar lima puluh ribuan dan dua lembar seribuan sambil berucap terima kasih. Reaksi spontan si pengantar makanan adalah tercenung diam sesaat sambil terlihat agak ragu mau melangkah keluar kamar.</p>
<p>Tiba-tiba si pelayan laki-laki itu berubah pikiran. Dia berbalik lalu bertanya : "Bapak ada deposit?". Dan saya jawab : "Iya".</p>
<p>Kemudian si pelayan mengajukan usul : "Kalau bapak mau, bisa tinggal ditandatangani saja bonnya". Saya pun menjawab : "Kalau begitu lebih baik".</p>
<p>Lalu bon tagihan saya tandatangani dan uang Rp 52.000,- pun saya tarik kembali dan masuk ke saku, tanpa sisa <em>serebu-serebu acan</em>....</p>
<p>Kelakuan saya ini rupanya diluar dugaan si pelayan. Dia pun bertanya : "Sudah, pak?". Saya jawab : "Ya. Sudah. Terima kasih".</p>
<p>Spontan reaksi si pelayan setelah menerima bon tagihan yang saya tandatangani adalah terlihat <em>nesu</em> (marah), membuang muka lalu ngeloyor pergi keluar kamar. Tanpa ucapan terima kasih, tanpa muka bersahabat, bahkan pintu kamar pun dibiarkannya terbuka dan ditinggal pergi. Inilah untuk kali yang pertama saya menerima pelayanan tidak bersahabat sejak belasan kali saya menginap di hotel itu.</p>
<p>Sambil tersenyum sendiri, lalu saya tutup pintu kamar dan berkata dalam hati : "Kena, deh....!".</p>
<p>***</p>
<p>Saya yakin bahwa sebenarnya memang bukan karena ada tip atau tidak ada tip sehingga si pelayan berperilaku seperti itu. Nampaknya lebih disebabkan oleh karakter atau sikap pribadi si pelayan yang sudah telanjur "dididik oleh kebiasaan" sehingga beranggapan bahwa transaksi memberi dan menerima tip adalah ritual di hotel yang hukumnya wajib.</p>
<p>Seminggu kemudian saya numpang tidur dan buang hajat lagi di hotel yang sama. Kali ini pelayan yang berbeda ternyata menunjukkan penampilan lebih ramah. Setelah menyodorkan tagihan makan lalu mundur menunggu di luar pintu dengan tersenyum, padahal belum tentu saya akan memberi kelebihan pembayaran atau tidak.</p>
<p>Memberi tip memang perbuatan amal soleh yang baik (amal soleh ya pasti baik....), apalagi kalau diniatkan untuk berbagi rejeki atau sedekah, atau sekedar sebagai ucapan terima kasih.</p>
<p>Untung pengalaman di-<em>mbesunguti</em> (dicemberuti) pelayan ini adalah sesuatu yang saya sengaja. Kalau saja terjadinya adalah kebetulan dan tidak direncana, barangkali selanjutnya saya akan mencari tumpangan tidur dan buang hajat yang lain.</p>
<p>Jakarta, 15 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=269</link>
<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 16:31:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/07/12/berani-terbang-murah-harus-berani-kehausan/</guid>
<description><![CDATA[Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun aj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu <em>peak season</em>, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut <em>seat</em> yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, <em>mbayarnya </em>tetap lebih mahal dari biasanya.</p>
<p>Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang <em>peak season</em> itu tadi.</p>
<p>Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja - Jakarta - Makasar - Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh......</p>
<p>Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.</p>
<p>Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi <em>sumprit</em>... selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa <em>dropping</em> air di udara.</p>
<p>Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat <em>sih</em>....... Di warung saya harga segelas akua paling mahal <em>gopek</em> (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.</p>
<p>Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan <em>kendi</em> (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan <em>kendi</em> di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan <em>cucuk kendi</em> ke mulut), sepuasnya...........</p>
<p>Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian <em>customer care</em> tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : "pesan anda akan segera kami tindak lanjuti". Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa "ditindaklanjuti" tidak sama artinya dengan "dipenuhi". Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.</p>
<p>Yogyakarta, 11 Juli 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=260</link>
<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 14:48:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/06/05/pilih-trekulu-atau-bandeng-bakar-di-warung-padaidi/</guid>
<description><![CDATA[Kali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istila]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-261" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/06/img_0390_padaidi.jpg?w=300" alt="Padaidi" width="255" height="177" />Kali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, <em>budgeted food</em> barangkali istilah <em>Londo</em>-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.</p>
<p>Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau <em>toscha </em>pudar.  </p>
<p>Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis "sedia ikan bakar dan ayam bakar". Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.</p>
<p>Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau <em>nambah</em>.</p>
<p>Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.</p>
<p>Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk <em>dicuwil</em> pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar.....</p>
<p>Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan - Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.</p>
<p>"Padaidi", nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti "bersama kita". Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk "bersama kita bisa" atau "bersama kita makan ikan" (saya lebih suka yang kedua...). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.</p>
<p>Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah "strategi" bisnisnya.</p>
<p>Yogyakarta, 5 Juni 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melahap Pecel Mbok Sador Menjelang Tengah Malam]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=255</link>
<pubDate>Sat, 24 May 2008 16:15:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/24/melahap-pecel-mbok-sador-menjelang-tengah-malam/</guid>
<description><![CDATA[
Detik-detik kelaparan saat terlambat makan malam sebenarnya sudah hampir lewat, bisa-bisa perut kem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-253" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0258_r.jpg?w=300" alt="mbok sador_1" width="275" height="179" /></p>
<p>Detik-detik kelaparan saat terlambat makan malam sebenarnya sudah hampir lewat, bisa-bisa perut kembali menjadi kenyang dan tidak kepingin makan berat lagi. Ke kawasan Simpang Lima Semarang malam itu akhirnya kami menuju. Sebab di sana banyak pilihan makan. Simpang Lima adalah salah sebuah kawasan bisnis di kota Semarang yang kalau malam di sekelilingnya betebaran warung-warung tenda yang menyediakan aneka pilihan jenis makanan. Apalagi kalau malam Minggu, kawasan ini cukup ramai dan padat.</p>
<p>Berhenti di sisi selatan Simpang Lima, di ujung utara Jalan Pahlawan, tepatnya di seberang barat Ramayana, terdapat sebuah warung tenda yang menyajikan menu utama pecel. Sepintas warung ini biasa-biasa saja. Di tengah kebingungan mau makan apa, lalu seorang teman sambil agak kurang yakin merekomendasi untuk mencoba menu pecel di warung ini. Semangat untuk makan malam pun segera muncul kembali. Masuklah kami ke warung pecel Mbok Sador.</p>
<p>Kalau menilik nama warungnya memang tidak gaul <em>babar blass</em>..... Tapi, jangan tanya perkara rasanya ketika sudah melahap se-<em>pincuk</em> pecelnya mbok Sador. Nyemmm.... (tanya saja tidak boleh...., karena sebaiknya langsung dicoba saja kalau pas ke Semarang).</p>
<p>Namanya juga pecel, jadi tampilannya ya begitu-begitu juga. Tapi campuran sayurannya cukup komplit. Ada daun ubi, daun pepaya, kenikir, bayam, kacang panjang, kol, <em>thokolan</em> (kecambah atau tauge), lalu diguyur dengan sambal kacang hingga sayurannya tertutup merata. Penjualnya akan tanya pakai <em>peyek</em> (rempeyek) kacang atau teri, masih ada tambahan kerupuk gendar. Kalau bingung, tinggal bilang dicampur semuanya saja. Dijamin semuanya <em>kemripik</em> dan enak.</p>
<p>Rugi sekali kalau melahap pecel mbok Sador hanya dengan campuran "standar". Sebab telah disediakan menu penambah selera menghampar di depan mata. Tinggal bilang mau ditambah apa. Ada tahu atau tempe bacem, sate keong, sate usus, sate telor puyuh, sate <em>gatra</em> (telur ayam yang belum jadi), rempela ayam, potongan daging sapi, iso, babat, paru dan limpa sapi.  </p>
<p>Bumbu sambal kacangnya sebenarnya biasa saja. Tumbukan kacang tanah tetapi tidak halus sekali sehingga masih terlihat banyak butir-butir tumbukan kasar bijih kacang tanahnya. Ketika saya tanya apa ada resep khususnya, dijawab oleh mbak penjualnya yang supel dan murah senyum bahwa resepnya biasa saja. Tapi ketika bumbu sambal kacang yang biasa-biasa saja itu disiram merata di atas campuran sayuran yang sudah ditambah dengan pilihan menu penggugah selera......., <em>wuih</em>..... terasa benar sedapnya. Tidak terlalu pedas, tidak terlalu manis, agak gurih dan ..... pokoknya <em>hoenak pol</em>.....</p>
<p>Semua itu disajikan dalam sebuah <em>pincuk</em> yang terbuat dari selembar potongan kertas yang di atasnya di-<em>lambari</em> dengan daun pisang lalu dibentuk menjadi wadah seperti corongan terbuka tapi tidak berlubang bawahnya. Se-<em>pincuk</em> pecel mbok Sador yang barangkali setara dengan sepiring <em>munjung</em>, malam itu pun habis tak bersisa. Kalau menuruti selera, ingin rasanya nambah lagi, tapi kapasitas perut saya rasanya sudah maksimum. Jadi cukuplah satu <em>pincuk</em> saja. Satu <em>pincuk</em> pecel yang nilainya sangat memuaskan.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-254" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0256_r.jpg?w=300" alt="mbok_sador_2" width="277" height="184" /></p>
<p>Warung kaki lima pecel mbok Sador ini memang sudah cukup kesohor di Semarang. Setiap hari melayani pelanggannya sejak jam lima sore hingga jam sebelas malam. Habis tidak habis, pokoknya jam sebelas malam (terkadang lebih sedikit) bubar. Kalau sisa ya anggaplah resiko bisnis. Dengan bahasa sederhana, begitulah kira-kira kata mbaknya yang jualan malam itu. Kini, pelanggan pecel mbok Sador akan lebih sering dilayani oleh seorang anak perempuannya dan seorang cucu-keponakannya.</p>
<p>Mbok Sador sendiri kini memang sudah sepuh dan lebih banyak tinggal di rumahnya di Kampung Gandekan, Semarang. Di kampung Gandekan pula mbok Sador dibantu keluarganya juga masih berjualan pecel. Kalau beliau kangen dengan warung pecelnya yang di Simpang Lima, sesekali beliau berkunjung dan sesekali pula ikut melayani pembeli. Namun biasanya tidak bertahan lama. Maklum sakit rematik yang dideritanya sudah tidak bisa diajak kompromi.</p>
<p>Namun patut dicatat bahwa usaha warung pecelnya yang mulai dibuka sejak kawasan Simpang Lima Semarang masih tertutup untuk pedagang kaki lima di sekitar tahun 1993 itu hingga kini tetap berkibar dan disukai oleh banyak pelanggannya. Manajemen pelayanannya sangat sederhana. Penjual pecel yang bertugas melayani pembeli juga merangkap sebagai pencatat apa yang dimakan oleh pembeli. Bukan pencatat order, karena pembeli langsung menyampaikan orderannya ketika menu disiapkan. Penjual pula yang merangkap sebagai kasir.</p>
<p>Semua pekerjaan itu dilakukan sambil duduk melayani pembeli menghadap sebuah meja setinggi kira-kira 50 cm yang di atasnya terhampar semua bahan ramuan pecel dan asesorinya. Di seputar meja <em>display</em> aneka menu pecel itu terdapat bangku tempat duduk bagi pembeli yang ingin makan sambil duduk menghadap penjualnya. Di belakangnya lagi tersedia banyak kursi plastik dan meja kalau bangku kelas utama yang di depan penuh. Sangat sederhana. Sesederhana suasana warungnya yang santai dan membuat betah.  </p>
<p>Agaknya saya dan teman-teman yang saat menjelang tengah malam itu mampir ke warung pecel mbok Sador tidak salah pilih. Harganya wajar (tentu saja semakin banyak asesori ditambahkan, menjadi semakin mahal) dan yang penting rasanya pas dan memuaskan. Kepuasan itu tercermin ketika esok malamnya, juga menjelang tengah malam, saya dan teman-teman sepakat untuk kembali ke warung pecel mbok Sador untuk kedua kalinya. Dan, di kali yang kedua ini lebih siap untuk memilih asesori menu penggugah selera yang mau ditambahkan. Bahkan saking enaknya menikmati peyek kacang dan teri, oleh penjualnya saya dipersilakan untuk <em>nambah</em> dan <em>ngambil </em>sendiri. <em>Weleh.....,</em> mbok Sador memang luar biasa, pecelnya maksudnya.....</p>
<p>Yogyakarta, 24 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Istirahat Makan Siang Di Kampoeng Kopi Banaran]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=251</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 15:30:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/19/istirahat-makan-siang-di-kampoeng-kopi-banaran/</guid>
<description><![CDATA[
Menempuh perjalanan Yogyakarta - Semarang atau Solo - Semarang atau sebaliknya, adakalanya menjadi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-252" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0253_r1.jpg?w=300" alt="Banaran_1" width="243" height="175" /><a href="http://madurejo.files.wordpress.com/2008/05/img_0249_r.jpg"></a></p>
<p>Menempuh perjalanan Yogyakarta - Semarang atau Solo - Semarang atau sebaliknya, adakalanya menjadi membosankan, terutama bagi mereka yang sudah sering <em>midar-mider</em> di jalur itu dengan kendaraan pribadi. Kalau istirahat bisa dianggap sebagai obatnya, maka ada pilihan untuk mencoba beristirahat di Kampoeng Kopi Banaran.</p>
<p>Kampoeng Kopi Banaran adalah sebuah area tempat makan di pinggiur jalan yang bernuansa alam bebas. Kawasan yang juga menyebut dirinya Wisata Agro ini terletak di Jl. Raya Bawen - Solo km 1,5 tidak jauh dari pertigaan terminal Bawen ke arah selatan pada jalur yang menuju kota Salatiga dan Solo, Jateng. Lokasinya persis berada di tikungan jalan, sehingga pengunjung dari arah utara perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke lokasi yang berada di sisi barat jalan ini.</p>
<p>Sejenak menyeruput kopi tubruk yang <em>mak thengngng</em>... sensasinya, bisa mengubah suasana batin para sopir menjadi lebih segar. Bagi mereka yang tidak biasa minum kopi hitam, masih banyak pilihan minuman panas atau dingin turunan dari kopi dan teh, atau minuman es-esan. Menu unggulannya memang kopi, sesuai namanya. Barangkali memang gagasan utamanya adalah menyediakan tempat pemberhentian atau peristirahatan yang menyenangkan bagi mereka yang sedang capek menempuh perjalanan berkendaraan.</p>
<p>Kalau kemudian <em>sruputan</em> kopi tubruk dirasa belum cukup (dan biasanya memang begitu...), ada tersedia banyak pilihan menu makan. Makanannya disajikan secara khas di atas wadah piring terbuat dari anyaman bambu yang di-<em>lambari</em> dengan daun pisang. Aneka masakan ayam kampung adalah lauk utamanya. Rasa masakannya tergolong enak dengan racikan bumbunya pas banget di lidah orang kebanyakan. Harga yang harus dibayar pun tergolong wajar.</p>
<p>Selain masakan ayam kampungnya yang pokoknya enak banget, jangan lupa untuk juga mencicipi tahu goreng bandungan plus sambalnya. Tahu khas dari daerah Bandungan, Ambarawa ini gigitannya terasa kenyal dan gurih dan <em>hoenak tenan</em>....., tapi tidak memberi efek kenyang. Serasa tidak akan cukup kalau hanya mencocol satu, dua, tiga, empat atau lima potong tahu gorengnya. Membeli yang belum dimasak untuk dibawa pulang pun bisa.</p>
<p>Sambil menikmati makan siang, alunan irama musik keroncong dan campursari yang dibawakan oleh sekelompok pemusik seolah-olah mengiringi irama yang sama di perut pengunjungnya. Sambil menunggu nasi di tembolok turun ke usus halus sebelum tubuh beranjak melanjutkan perjalanan, sambil kepala <em>lenggut-lenggut</em> seperti sapi kekenyangan mengikuti alunan musik keroncong sederhana. <em>Nglaras</em> benar......</p>
<p>***   </p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-250" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0249_r.jpg?w=300" alt="" width="244" height="175" /></p>
<p>Keunggulan lain lain dari Kampoeng Kopi Banaran ini selain masakannya yang enak dan lokasinya yang mudah dicapai, adalah bahwa kawasan ini cocok untuk dijadikan obyek tujuan wisata. Resto atau kafe ini menempati sebagian kecil dari kawasan perkebunan kopi seluas lebih 400 hektar milik PT Perkebunan Nusantara IX. Meski sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu di kawasan ini sudah berdiri warung kopi Banaran, namun pengembangan secara lebih professional sebagai kawasan wisata agro mula dibuka sejak diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2005.</p>
<p>Tentu wisata agro perkopian adalah utamanya. Dan, kini di kawasan ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas taman bermain, kegiatan <em>outbound</em>, sarana olah raga, <em>camping ground</em>, kebun buah, dsb. Lokasinya yang berada pada ketinggian lebih 400 meter di atas permukaan laut cukup memberi hawa segar di lingkungan perbukitan yang berpemandangan menarik. Sehingga kalaupun hanya ingin sekedar beristirahat, maka lokasi ini cocok untuk disinggahi bersama keluarga.</p>
<p>Bisnis warung kopi pinggir jalan yang bernuansa elite dan kini lebih populer dengan sebutan kafe, agaknya memang lagi nge-<em>trend</em>. Kampoeng Kopi Banaran juga menangkap peluang itu. Maka dalam skala kawasan yang lebih kecil, warung kopi Banaran juga membuka cabangnya di daerah kecamatan Mungkid, yaitu di penggal jalan naik-turun perbukitan di antara Magelang - Ambarawa. Lokasinya yang berada di pinggir jalan tidak terlalu sulit untuk ditemukan.</p>
<p>Salah satu kebiasaan saya kalau menjumpai produk kopi yang khas di daerah yang kebetulan sempat saya kunjungi adalah ingin menikmati lebih puas di rumah. Karena itu sekotak kopi robusta Banaran seberat 250 gram saya cangking untuk dibawa pulang (mbayar, tentu saja.....). Sekedar agar ketika di rumah bisa lebih puas menikmati rasa kopinya yang mantap alami....., seperti yang tertulis di bungkusnya.</p>
<p>Yogyakarta, 19 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menangani Cara Mengemudi yang Berbahaya ?]]></title>
<link>http://klinikservo.wordpress.com/?p=773</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 14:11:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Klinik S.E.R.V.O™</dc:creator>
<guid>http://klinikservo.id.wordpress.com/2008/05/15/menangani-cara-mengemudi-yang-berbahaya/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini adalah skenario yang melibatkan seorang ayah dengan putranya yang berusia tujuh belas ta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah skenario yang melibatkan seorang ayah dengan putranya yang berusia tujuh belas tahun yang sudah beberapa kali mengalami kecelakaan mobil ringan.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Chris, ini ketiga kalinya kau membuat mobilku penyok.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris : Aku tahu, tetapi itu sama sekali bukan salahku. Pria itu yang menginjak rem dan berhenti begitu cepatnya sehingga aku tidak bisa berhenti pada waktunya.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Kewajibanmulah untuk menjaga jarak cukup jauh dari mobil di depanmu sehingga kau bisa berhenti tepat pada waktunya. Ayah tahu kau sudah mempelajari itu saat belajar mengemudi dan Ayah juga sudah pernah mengatakannya. Apakah kau mengemudi terlalu cepat ? Apakah kau terlalu dekat dengan mobil di depan ?</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris : Ayolah, Ayah terlalu membesar besarkan masalah ini.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Ini masalah besar. Orang orang bisa terluka. Kau beruntung. dan kau sedang menghindari pertanyaan.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris : Aku tidak mengemudi terlalu cepat. Aku hanya sedikit terlambat pergi ke sekolah. Lain kali aku akan lebih hati hati.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Itu yang kau katakan kepada Ayah terakhir kali kau menubruk. Ayah tidak yakin kau boleh mengendarai mobil lagi.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris: Tidak bisa ! Bagaimana aku bisa pergi ke sekolah dan latihan hoki ? Aku akan menjadi satu satunya di antara teman temanku yang tidak bisa mengemudi !</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Ayah hanya tidak yakin akan ada perubahan. Kau selalu terburu buru.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris : Apa yang Ayah ingin agar kulakukan ? Aku sudah bilang bahwa aku menyesal.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Baiklah, jika kau benar benar ingin tetap memiliki izin mengemudimu, kau bisa menelepon kepolisian dan mendaftar kursus mengemudi defensif yang mereka tawarkan.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris : Itu benar benar konyol. Ayah tahu betapa sibuk jadwalku.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah : Itu satu satunya jalan kau boleh terus mengemudi. Percaya kepada Ayah, cara ini lebih baik daripada pengadilan. Melihat kecepatanmu mengemudi, hanya masalah waktu sebelum sesuatu yang serius terjadi.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris: Ini begitu menyebalkan, Yah. Bagaimana jika aku berjanji bahwa aku akan ekstra hati hati mulai sekarang ?</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah: Tidak, ikut kursus atau tidak sama sekali. Pikirkan itu dan berikan jawaban kepada Ayah, tetapi sampai Ayah mendengar keputusanmu, kau tidak boleh membawa mobil.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris: Itu tidak adil. Ayah memaksa aku untuk mengikuti kursus konyol itu.</p>
<p style="padding-left:30px;">Ayah: Tidak, Ayah hanya memberitahukan kepadamu, apa yang harus kau lakukan jika kau ingin terus mendapat izin mengemudi. Semua terserah kau.</p>
<p style="padding-left:30px;">Chris: Oke, aku akan menelepon kursus konyol itu !</p>
<p>Ayah dalam percakapan di atas bersikap tegas dan masuk akal. Mempertimbangkan bahwa telah terjadi beberapa kali kecelakaan, Ia bersikap lalai jika menganggap kejadian itu sebagai nasib buruk.</p>
<p>Si Ayah telah menetapkan batasan yang bisa dipertahankan yang menjelaskan persyaratan untuk mengemudi di masa datang.</p>
<p>Si anak, sadar bahwa ayahnya serius, menyetujui persyaratan yang ditetapkan ayahnya.</p>
<p>Sumber : Bagaimana Cara Membuat Anak Remaja Anda Terhindar dari Masalah dan Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Usaha itu Gagal, Dr. Neil I. Bernstein, 2006</p>
<p><span style="font-family:Calibri;"><strong><span style="font-size:13pt;color:#ff0000;line-height:115%;">Ingin Cepat Berubah ?</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;"> <span style="color:#7030a0;">KLIK Disini &#62;&#62;<span> </span></span><a href="http://klinikservo.wordpress.com/alamat-praktek/"><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span><span style="background:red;color:#ffff00;">Klinik SERVO</span><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span></a> <span style="font-size:medium;color:#7030a0;">!</span></span></strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ada Pilihan Sop Gurami Di Serang]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=248</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 06:41:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/15/ada-pilihan-sop-gurami-di-serang/</guid>
<description><![CDATA[Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari sudah agak malam ketika saya tiba di kota Serang, Banten. Baru saja keluar di pintu tol Serang Timur dari arah Jakata dan perjalanan masih akan berlanjut ke kota Pandeglang. Sudah tiba waktunya makan malam. Karena itu perlu segera mencari tempat makan yang mudah ditemukan lokasinya, tidak perlu keluar jauh dari jalur utama dan tentu saja yang menunya enak, tidak harus enak sekali.</p>
<p>Pak sopir yang mengantar saya merekomendasikan untuk mampir ke rumah makan "S" Rizky. Menilik namanya memang berkesan kurang "menjual". Hanya karena pak sopir menambahi, katanya : "sopnya enak, pak...", maka saya lalu menyetujuinya.</p>
<p>Lokasinya mudah dicapai di dalam kota, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman, dekat perempatan Ciceuri. Malam itu rumah makan sudah agak sepi, nampaknya memang sudah menjelang waktunya tutup. Syukurnya kami masih dilayani dengan baik.</p>
<p>Sesuai dengan alasan pertama mampir adalah karena katanya sopnya enak, maka menu sop-sopan segera dipesan. Ada tiga macam sop yang dtawarkan malam itu, yaitu sop buntut, sop buntut goreng dan sop gurami. Mendengar namanya saja saya sudah bingung memilih. (Lha iya, memilih satu dari tiga yang sama enaknya saja susah, apalagi memilih satu dari lebih lima puluh yang tidak sama enaknya atau sama tidak enaknya....).</p>
<p>Karena dimungkinkan untuk memilih dua, maka kami pesan sop buntut dan sop gurami masing-masing satu porsi. Kebetulan gurami yang ukuran kecil habis, apa boleh buat yang berukuran besar pun tidak mengapa, sepanjang tingkat keenakannya tidak berpengaruh.</p>
<p>Tidak terlalu lama menunggu, segera saja seporsi sop buntut Rizky, begitu judulnya, tersaji di meja. Tanpa menunggu sop gurami datang, langsung saja beraksi dengan <em>sruputan</em> pertama kuahnya, diikuti gigitan pertama daging buntutnya, baru dicampur dengan nasi. Dagingnya empuk benar, dipadu dengan irisan wortel, kentang, daun bawang dan <em>kepyuran</em> emping melinjo. Terbukti memang benar kata pak sopir tadi. Sopnya enak. Ini sudah cukup memenuhi syarat untuk memuaskan perut keroncongan.</p>
<p>Kemudian sop guraminya disajikan sampai munjung isi mangkuknya. <em>Lha, wong</em> guraminya yang ukuran besar, padahal sudah dipotong-potong. Serat-serat daging guraminya terasa sekali sejak gigitan pertama dan rasa ikannya juga masih terasa segar. Pertanda bahwa ikan guraminya masih segar. Padahal yang saya khawatirkan tadinya adalah kalau ikan guraminya sudah kurang segar, maka akan pupuslah kesedapan sop yang saya bayangkan. Paduan dalam kuahnya adalah daun bawang irisan agak besar-besar, disertai kilasan rasa jahe. Pas benar <em>taste</em>-ya.</p>
<p>***</p>
<p>Rumah makan "S" Rizky ini rupanya kepunyaan pak Bupati Pandeglang. Selain yang saya kunjungi di Serang malam itu, masih ada dua rumah makan lainnya yang masih satu kepemilikan yang masing-masing berada di kota Pandeglang dan Labuan. </p>
<p>Saya memang tidak bisa berlama-lama terhanyut dalam kenikmatan sop buntut dan sop gurami, mengingat perjalanan malam masih harus dilanjutkan 2-3 jam lagi. Itupun perut sudah terasa kenyang, <em>wong</em> dihadapkan dengan seporsi sop buntut plus seporsi sop gurami besar. Tentu saja tidak saya habiskan sendiri, melainkan gotong royong dengan pak sopir. Tapi ya tetap saja meyebabkan jadi agak malas untuk berdiri kembali ke kendaraan karena kekenyangan.</p>
<p>Setidak-tidaknya menu sop rumah makan "S" Rizky ini layak untuk menjadi pilihan bilamana sedang mampir ke kota Serang dan kepingin singgah sebentar untuk makan. Selain menu sop-sopan, di sini juga tersedia menu lainnya, termasuk aneka minuman dan jus yang dinamai menggunakan nama-nama gaul sebagai penarik. Meski tidak tergolong <em>hoenak</em> sekali, tapi tidak mengecewakan, terutama sop guraminya itu.....</p>
<p>Yogyakarta, 15 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pendekatan Liberal ?]]></title>
<link>http://klinikservo.wordpress.com/?p=751</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 13:02:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Klinik S.E.R.V.O™</dc:creator>
<guid>http://klinikservo.id.wordpress.com/2008/05/14/pendekatan-liberal/</guid>
<description><![CDATA[Gaya ini jauh lebih modern.
Jika pendekatan otoriter mewakili nilai nilai yang sangat konservatif, p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Gaya ini jauh lebih modern.</p>
<p>Jika pendekatan otoriter mewakili nilai nilai yang sangat konservatif, pendekatan ini adalah pandangan yang sangat liberal. Anak di dorong untuk membuat keputusan sendiri dan orang tua mengambil peran yang pasif, turun tangan hanya jika dibutuhkan.</p>
<p>Disiplin atas pelanggaran biasanya lunak dan berjangka pendek dan sebagian orang tua mungkin sekedar mengungkapkan perasaan tidak puas: "Aku benar benar berharap kamu tidak berbuat demikian."</p>
<p>Sebagian orang tua ini sebenarnya malas, tetapi banyak yang menerapkan pendekatan ini sebenarnya bermaksud baik. Mereka percaya bahwa dengan tidak membuat kepribadian serta keinginan anak anak mereka terbatasi oleh peraturan, anak anak mereka akan tumbuh menjadi individu individu yang lebih bahagia.</p>
<p>Namun karena kepada anak anak ini diberikan tanggung jawab yang besar, entah mereka bisa menanganinya atau tidak, pendekatan liberal ini memiliki permasalahannya sendiri. Banyak remaja tidak memiliki kedewasaan dan pengalaman yang mereka butuhkan agar dapat mengatur kehidupan mereka dan merekapun menjadi goyah tanpa pedoman.</p>
<p>Tanpa seorang yang menekankan pentingnya tujuan jangka panjang atau mengajari mereka tentang disiplin diri, para remaja ini sering kali terbawa pada pengejaran kesenangan yang tanpa tujuan dengan mengabaikan masa depan atau konsekuensinya.</p>
<p>Sumber : Bagaimana Cara Membuat Anak Remaja Anda Terhindar dari Masalah dan Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Usaha itu Gagal, Dr. Neil I. Bernstein, 2006</p>
<p><span style="font-family:Calibri;"><strong><span style="font-size:13pt;color:#ff0000;line-height:115%;">Ingin Cepat Berubah ?</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;"> <span style="color:#7030a0;">KLIK Disini &#62;&#62;<span> </span></span><a href="http://klinikservo.wordpress.com/alamat-praktek/"><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span><span style="background:red;color:#ffff00;">Klinik SERVO</span><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span></a> <span style="font-size:medium;color:#7030a0;">!</span></span></strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berharap Gratisan, Bersiap Tidak Punya Pilihan]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=242</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 07:19:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/14/berharap-gratisan-bersiap-tidak-punya-pilihan/</guid>
<description><![CDATA[Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ke RSU dengan menggunakan segala fasilitas pelayanan gratis yang diberikan oleh kartu sakti bernama Askes itu. Bagi beliau ada beda yang nyata antara berobat gratis di RSU dan berobat membayar di RS swasta atau dokter praktek. Meskipun untuk memperoleh pelayanan gratis itu ada konsekuensi yang harus dijalani menyangkut kualitas pelayanan, menunggu antrian yang seringkali lama, atau jenis obat murah tapi bukan murahan.</p>
<p>Bukan nilai uangnya yang terkadang berwarna abu-abu, melainkan nilai kebanggaannya yang jelas beda antara hitam dan putih. Perbedaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kata-kata sombong anak atau menantunya yang katanya lebih baik pergi ke dokter ahli swasta berapapun biayanya. Kebanggaan tak terukur bagi seorang janda tua pemegang kartu Askes yang tinggal tidak serumah dengan anak dan menantunya.</p>
<p>***</p>
<p>Ketika menemani mertua ke RSUD Wirosaban Jogja, saya ikut duduk beramai-ramai di ruang tunggu berbaur dengan banyak pasien lainnya. Saya hitung ada lebih 65 orang pasien yang sedang menunggu di sana, hampir semuanya sepuh (sempat-sempatnya mengitung.....). Tentu mereka juga pemegang kartu Askes atau Askeskin bagi masyarakat miskin. Ada dua golongan pasien, masing-masing menunggu di depan poliklinik penyakit dalam dan syaraf yang letaknya bersebelahan. Saya masih harus bersabar sambil <em>klisikan</em> menjelang munculnya rasa bosan.</p>
<p>Beberapa saat kemudian saya lihat pasien yang tadi sudah <em>ditimbali</em> (dipanggil) suster untuk masuk ke ruang periksa di kedua poliklinik, <em>kok</em> <em>pada</em> keluar lagi? Rupanya mereka yang keluar dari poliklinik syaraf diberitahu oleh susternya untuk menunggu di luar dulu karena dokternya mau <em>jagong</em> (kondangan). Dan mereka yang keluar dari poliklinik penyakit dalam diberitahu, juga untuk menunggu di luar dulu karena dokternya ada rapat. Hebatnya para orang-orang tua ini, mereka menceritakan semua itu kepada sesama pasien penunggu dengan ringan, muka cerah, tanpa menampakkan muka kecewa (mungkin ada sedikitlah...). Sedang saya yang mendengarnya saja kesal rasanya. Pasien-pasien tua itu disuruh menunggu karena dokternya mau kondangan dan ada rapat....?</p>
<p>Saya tidak ingin membahas tentang benar atau salah, sebaiknya atau tidak sebaiknya. Saya tidak punya ilmunya tentang etika semacam ini. Saya lebih tertarik mengenangnya sebagai peristiwa pelayanan bisnis. Saya mencoba berandai-andai...</p>
<p>Andai-andai yang pertama, kalau dokter itu adalah penjual singkong goreng, pasti akan ditinggal pergi pelanggannya yang memilih membeli gorengan di warung lain meski mungkin harus mengesampingkan faktor cita rasa. Andai-andai yang kedua, kalau pasien itu bukan pemegang kartu Askes atau Askeskin alias pasien mampu, pasti memilih untuk berobat ke dokter lain meski mungkin harus membayar lebih mahal.</p>
<p>***</p>
<p>Lebih 75 menit berlalu, para pasien tua masih dengan tekun menunggu sambil bercengkerama dengan sesama penunggu lainnya. Mereka tampak <em>enjoy aja</em>..... Heran, saya.....! Sudah saya tinggal sholat dhuhur di musholla, belum juga para dokter itu kembali (saya pikir kalau ditinggal sholat, dan sholatnya agak dipercepat...... lalu kondangan dan rapatnya juga akan cepat selesai, ternyata tidak ada hubungannya..... <em>ugh</em>...).</p>
<p>Untuk mengusir kebosanan, saya mengajak bercakap-cakap (kata ini sekarang jarang digunakan) orang tua laki-laki berusia 68 tahun yang duduk di sebelah saya. Beliau bercerita tentang <em>stroke</em> yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan selalu periksa ke RSUD Wirosaban Jogja, ya karena gratis itu. Darimana saya tahu usianya 68 tahun? Sederhana saja. Saya hanya tanya tentang pekerjaan terakhirnya, maka beliau dengan semangat empat lima bercerita pengalamannya sebagai PNS yang pensiun pada tahun 1995. Maka hitungannya menjadi 55 + (2008-1995) = 68.</p>
<p>Seorang ibu agak tua yang duduk agak di sebelah kiri saya kemudian juga saya ajak ngobrol. Sebagai penderita kolesterol, katanya (padahal kolesterol itu baik untuk tubuh, tapi kok malah menderita......?), beliau setiap bulan juga rajin periksa di tempat yang sama. Juga untuk alasan karena gratis.</p>
<p><em>Lho</em> yang <em>menghuuerankan</em> saya, meski bapak tua itu kalau jalan sudah <em>thunuk-thunuk</em> dan ibu agak tua itu juga kelihatan kurang lincah, wajah-wajah mereka tetap cerah <em>sumringah</em>. Tidak sedikitpun menampakkan roman muka kesal atau manyun....., padahal pelayanan kesehatan yang mereka harapkan melalui kartu Askes atau Askeskin itu diberi bonus disuruh menunggu dokternya kondangan dan rapat entah sampai jam berapa atau berapa jam. Tampak benar, <em>legowo</em> sekali mereka menerima keadaan yang tanpa punya pilihan.</p>
<p>***</p>
<p>Sial benar orang yang mau gratisan, mereka tidak akan pernah punya pilihan. Barangkali aturannya memang berbunyi kalau mau berharap gratisan ya <em>kudu</em> bersiap tidak punya pilihan. Para pasien tua itu harus <em>nrimo</em>, karena satu-satunya pilihan bagi mereka adalah sabar menanti hingga para dokter itu kembali ke ruang prakteknya.</p>
<p>Kalau kemudian ada orang yang mampu memberi fasilitas gratisan dan sekaligus juga memberi pilihan kepada orang lain, sungguh orang itu mulia dan pantas didoakan agar panjang umur dan banyak rejeki. Sebaliknya kalau ada orang yang suka meminta fasilitas gratisan tapi <em>ngotot</em> menuntut diberi pilihan, sungguh orang yang tidak tahu diri. <em>Cilakaknya</em>, kelompok yang kedua ini sekarang lagi musim di negeri ini (mengalahkan musim durian, rambutan atau penghujan yang hanya berlangsung beberapa bulan saja).</p>
<p>Yogyakarta, 14 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menimbulkan Konflik Jangka Panjang ?]]></title>
<link>http://klinikservo.wordpress.com/?p=744</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 16:38:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Klinik S.E.R.V.O™</dc:creator>
<guid>http://klinikservo.id.wordpress.com/2008/05/13/jangan-menimbulkan-konflik-jangka-panjang/</guid>
<description><![CDATA[Saat Anda bergumul dengan seorang anak yang terlibat masalah, Anda mungkin mulai melihat kehidupan A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saat Anda bergumul dengan seorang anak yang terlibat masalah, Anda mungkin mulai melihat kehidupan Anda didominasi oleh dilema anak remaja Anda.</p>
<p>Anda mungkin berdebat seru dengan pasangan Anda, salah seorang dari Anda berdua merasa bahwa pasangannya terlalu keras dan yang satunya bersikeras bahwa pasangannya seorang yang suka memaksa. Sementara itu, kesulitan si anak remaja tampaknya semakin memburuk.</p>
<p>Ayah seorang pasien remaja saya pernah minta untuk bicara empat mata dengan saya. Putranya terlibat dalam masalah besar, mulai dari keseringan minum dan penyerangan hingga bolos sekolah dan saat pertemuan keluarga, si ayah dengan kejamnya menimpakan kesalahan kepada teman teman putranya dan penilaian yang buruk. Hampir tidak ada dialog yang berarti di antara mereka.</p>
<p>Namun, pertemuan ini berbeda. Ia berselonjor di kursinya dan separuh menutupi matanya sat ia berkata, "Anda tahu, Dr. B, anak saya bukanlah satu satunya masalah. Saya sering minum dan saya serta istri saya selalu berselisih paham," tangisnya.</p>
<p>"Mungkin kami harus bercerai. Kami berselisih paham mengenai putra kami sepanjang waktu, tetapi saya pikir anak itulah yang harus dipersalahkan. Saya benar benar mengkhawatirkan kami semua."</p>
<p>Saya memberitahunya bahwa saya mengagumi keberaniannya dan merasa bahwa ini adalah awalnya, bukan suatu akhir. Ketika saya bertanya apakah ia pikir putranya tahu tentang perasaannya, ia menjawab dengan sedih bahwa ia meragukan itu.</p>
<p>Hati saya merasa iba pada pria ini dan saya memberitahunya bahwa situasinya sulit tetapi bisa diubah dengan usaha keras dipihaknya dan keluarganya. Tampaknya ia lega dan bertanya apakah saya dapat membantunya bicara dengan istrinya mengenai hal ini.</p>
<p>Mulai dari situ kami bekerja sama selama kira kira enam bulan lamanya, menolong setiap orang di dalam keluarga itu untuk bertanggung jawab atas andilnya dan membangun kemitraan baru di antara mereka.</p>
<p>Sumber : Bagaimana Cara Membuat Anak Remaja Anda Terhindar dari Masalah dan Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Usaha itu Gagal, Dr. Neil I. Bernstein, 2006</p>
<p><span style="font-family:Calibri;"><strong><span style="font-size:13pt;color:#ff0000;line-height:115%;">Ingin Cepat Berubah ?</span></strong><strong><span style="font-size:13pt;line-height:115%;"> <span style="color:#7030a0;">KLIK Disini &#62;&#62;<span> </span></span><a href="http://klinikservo.wordpress.com/alamat-praktek/"><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span><span style="background:red;color:#ffff00;">Klinik SERVO</span><span style="background:red;color:#ff0000;">s</span></a> <span style="font-size:medium;color:#7030a0;">!</span></span></strong></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=238</link>
<pubDate>Tue, 13 May 2008 09:46:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/13/%e2%80%9dseafood-of-love%e2%80%9d-untuk-satenya-bu-entin/</guid>
<description><![CDATA[
Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-237" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0365_entin1.jpg?w=253" alt="" width="253" height="169" /></p>
<p>Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.</p>
<p>Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? <em>Wow...</em>, jangan kaget di sana ada sate raksasa...... Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.</p>
<p>Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup <em>buesar....</em>).</p>
<p>Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap <em>leuncak</em>, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.</p>
<p>Dari tampilannya saja (<em>sumprit</em>..., saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari <em>beboko</em> (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.</p>
<p>Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya <em>dulitkan</em> (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja... "Hmm...., enak..., enak sekali....". Pilihan hasil <em>assessment</em> saya memang hanya dua, enak dan <em>hoenak sekale</em>.....</p>
<p>Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya <em>dudut</em> (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.</p>
<p><em>Oedan tenan</em>......., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang <em>ruarrr</em> biasa.....  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi <em>seafood</em> bakarnya. Juga potongan hati sapinya <em>mak kress</em>.... di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan <em>well done</em> (sebaiknya jangan setengah matang).</p>
<p>Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian...... nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-239" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0360_entin5.jpg?w=300" alt="" width="253" height="174" /></p>
<p>Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate <em>seafood</em> yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang <em>mirasa</em>, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah <em>brand image</em> Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.</p>
<p>Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya....... Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate <em>seafood</em> Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.</p>
<p>Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-240" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0361_entin4.jpg?w=300" alt="" width="256" height="174" /></p>
<p>Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.</p>
<p>Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate <em>seafood</em> Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul "Seafood of Love", yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.</p>
<p>Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :</p>
<p><em>My seafood of love, my dining pleasure</em><br />
<em>Finger lickin' food, so fresh and tasty</em><br />
<em>Breezing through my mind</em><br />
<em>You leave me breathless and wanting for more....</em></p>
<p>Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap <em>hatur nuhun</em> kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan <em>wal-hamdulillah ......</em> Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.</p>
<p>Yogyakarta, 12 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=236</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 08:18:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/12/menyantap-sate-padali-sebelum-masuk-sumur/</guid>
<description><![CDATA[
Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-235" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/05/img_0352_padali1.jpg?w=300" alt="" width="291" height="201" /></p>
<p>Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis <em>Pa</em> untuk <em>Pak</em>). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.</p>
<p>Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur......). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.</p>
<p>Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.</p>
<p>Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu <em>krecek</em> kambing. <em>Krecek</em> di sini bukan seperti <em>krecek</em>-nya orang Jogja yang disebut <em>koyoran</em> yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. <em>Krecek</em> kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.</p>
<p>Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit <em>krecek</em> kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. <em>Wuih......</em>, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya......</p>
<p>Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan <em>mengerokoti</em> kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan <em>krecek</em> kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis <em>finish</em> sudah <em>klepek-klepek</em>......., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut <em>kemlakaren</em>......., kekenyangan.</p>
<p>Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, <em>it's OK</em>. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.</p>
<p>***</p>
<p>Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.</p>
<p>Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.</p>
<p>Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.</p>
<p>Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan <em>ndeso</em>, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung <em>ndeso</em> ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.</p>
<p>Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.</p>
<p>Yogyakarta, 11 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rembang Petang Di Pulau Umang]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=234</link>
<pubDate>Sun, 11 May 2008 06:42:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/11/rembang-petang-di-pulau-umang/</guid>
<description><![CDATA[
Sore sudah hampir berujung ketika saya tiba di pantai Legon, tidak jauh di sebelah utaranya kecamat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0344_umang_menjelang_senja.jpg" alt="" width="465" height="305" /></p>
<p>Sore sudah hampir berujung ketika saya tiba di pantai Legon, tidak jauh di sebelah utaranya kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Pulau Umang memang menjadi tujuan saya sore itu. Di sana saya ingin menyaksikan detik-detik matahari tenggelam di horizon barat dari tempat paling barat di pulau Jawa.</p>
<p>Hanya ada satu dermaga yang disinggahi perahu motor yang mengantar-jemput pengunjung pulau Umang. Tidak jauh dari dermaga ada sebuah bangunan bergaya tradisional, berdiri menghadap pantai, yang dikelilingi oleh halaman parkir cukup luas. Sudah ada banyak mobil dan bis wisata parkir di sana. Rupanya bangunan ini adalah semacam kantor administrasi yang mengelola pulau Umang dan segenap aktifitas yang terkait dengan wisata pulau Umang.</p>
<p>Seorang petugas segera menghampiri dan menanyakan keperluan kedatangan saya dan seorang teman. Bagi petugas itu, sangatlah jarang pengunjung yang <em>ujug-ujug</em> sampai di situ tanpa melakukan pemberitahuan sebelumnya. Rupanya semua pengunjung pulau Umang biasanya sudah melakukan reservasi di kantor perwakilan manajemen Pulau Umang Resort &#38; Spa di Jakarta, sedangkan saya <em>njujug</em> saja ke tempat itu dengan alasan hendak melakukan <em>survey</em> lokasi tujuan wisata.</p>
<p>Biaya untuk mengunjungi pulau Umang adalah Rp 100.000,- per orang, termasuk untuk menyeberang pergi-pulang dan seorang pemandu yang akan menemani selama kunjungan. Jam berkunjung bebas, asal tidak kelewat malam maka perahu motor akan siap mengantar kebali ke dermaga Legon. Perjalanan menyeberangnya sendiri sebenarnya hanya sekitar 15 menit, dengan perahu motor yang dilengkapi dengan baju pelampung.</p>
<p>***</p>
<p><img class="alignleft" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://yiskandar.wordpress.com/files/2008/05/img_0345_umang1.jpg" alt="" width="298" height="197" />Pulau Umang terletak di teluk Panaitan yang membentang di perairan antara Tanjung Lesung di sebelah utara dan Ujung Kulon di sebelah selatan. Luas pulau ini hanya sekitar 5 hektar. Di sebelah selatannya terdapat pulau Oar yang luasnya hanya sekitar 3,5 hektar dan berjarak 10 menitan berperahu motor dari pulau Umang. Karena hanya dua <em>dumuk</em> gundukan karang, maka kedua pulau ini tidak akan muncul di peta Indonesia.</p>
<p>Pulau Umang dan pulau Oar adalah properti pribadi milik seorang pengusaha dari Jakarta. Oleh karena itu wajar kalau pemiliknya berhak mengatur pengelolaan kedua pulau ini. Ibaratnya, kedatangan saya sebenarnya bukan sebagai wisatawan melainkan tamu yang masuk ke rumah orang. Perlu <em>kulo nuwun</em> dulu, lalu dituanrumahi oleh seorang pemandu, dan untuk semua itu harus <em>mbayar</em>..... Belum lagi kalau mau <em>nunut</em> makan dan bermalam.</p>
<p>Begitu mendarat di dermaga kedatangan di Pulau Umang, langsung disambut dengan ramah oleh seorang pemandu wisata. Tampak sebuah bangunan utama yang di depannya membentang sebuah kolam renang cukup luas yang salah satu batas tepinya berbatasan dengan bibir pantai. Bagus sekali. Sebelum jalan-jalan mengelilingi pulau Umang, sempat ngobrol-ngobrol dulu dengan sang pemandu sambil disuguhi jus kiwi, di <em>lobby</em> yang interior dalamnya terkesan antik. Tahulah saya, untuk menginap semalam di pulau Umang pada saat <em>weekend</em> perlu biaya hingga 1,5 juta rupiah per kamar yang berupa setengah <em>villa,</em> yaitu sebuah <em>villa</em> yang terbagi dua, masing-masing cukup untuk ditinggali sebuah keluarga. Sedangkan untuk makan telah disediakan paket bernilai dua-tiga ratusan ribu rupiah per orang per hari. </p>
<p>Sambil berjalan mengelilingi pulau Umang, sambil melihat-lihat bagian dalam bangunan <em>villa</em> yang berarsitektur minimalis, berkonstruksi kayu, tapi artistik. Bagian bawahnya ruang tamu dan kamar mandi bergaya <em>ndeso</em>, sedang <em>mezanine</em> atasnya untuk kamar tidur berukuran cukup luas. Ada 30 buah <em>villa</em> (yang berarti 60 kamar) yang setengah jumlahnya berkonsep <em>sunrise</em> karena menghadap ke arah matahari terbit di pagi hari dan setengah sisanya berkonsep <em>sunset</em> karena menghadap matahari tenggelam di senja hari. Di depan bangunan <em>villa</em>, tepat di bibir pantai dibangun banyak <em>gazebo</em> tempat para tamu dapat bersantai lesehan atau <em>klekaran, </em>beristirahat menikmati pemandangan pantai dan laut.</p>
<p>Berwisata ke pulau Umang agaknya menjadi kurang pas bagi wisatawan berkantong pas-pasan. Memang kebanyakan tamunya adalah warga Jakarta dan sekitarnya yang berniat membelanjakan simpanan anggarannya untuk agenda rekreatif yang berbeda. Dan jangan heran kalau setiap akhir pekan selalu ramai dikunjungi tamu. Ingin lebih puas tinggal di pulau Umang? Jangan khawatir, beli saja sebuah <em>villa</em>-nya yang berharga 1,5 milyar rupiah. Nyatanya memang ada juga yang membeli untuk dimiliki.</p>
<p>Berjalan mengelilingi pulau Umang tidak perlu waktu lama. Pemandangan alam pantainya sungguh mempesona. Terlebih di saat rembang petang di kala langit sedang terang benderang. Matahari nampak indah sekali sedikit demi sedikit menyembunyikan <em>prejengan</em> wajahnya, meninggalkan berkas dan pantulan cahaya di langit biru semburat merah, memantul pada bongkah-bongkah awan di angkasa (Ugh...., susah sekali merangkai kata-kata seperti ini......). Romantisme menikmati fenomena alam keseharian seperti itulah agaknya yang ingin dibeli wisatawan ber-<em>budget</em> tebal di pulau Umang. Padahal tidak usah menyeberang ke pulau Umang, melainkan nongkrong saja di pantai menghadap ke arah barat juga akan sama kenampakannya. Entah apa bedanya.....</p>
<p>Pasir pantainya berwarna putih bersih, tapi setelah terhempas oleh ombak ke daratan di beberapa tempat terlihat menjadi tidak bersih lagi, sebab onggokan sampah, kayu, plastik, sandal jepit, ikut terhempas di garis pantai. Onggokan batu-batu karang dan pepohonan yang tumbuh di antaranya, di bagian agak ke tengah laut, menambah pesona pemandangan alamnya yang begitu indah.</p>
<p>Di pulau Umang banyak ditanami pohon ketapang dan waru sehingga terkesan teduh dan berangin <em>semilir</em>. Cocok untuk digunakan sebagai arena bebas beraktifitas alam terbuka. Bagi penggemar olahraga air juga tersedia <em>jetski</em> atau <em>speedboat</em>. Bagi mereka yang hobi memancing malam hari tentu akan menyukai tempat ini. Bagi pengunjung yang menggemari wisata laut, perlu menyempatkan untuk menyeberang ke pulau Oar yang tidak berpenghuni. Alam daratan dan lautnya masih asli sehingga sangat cocok untuk berolahraga menyelam atau <em>snorkling</em>, di antara terumbu karang yang mengitari pulau Oar. </p>
<p>***</p>
<p>Sayangnya belum ada jalan tembus yang layak dilalui kendaraan yang menghubungkan dari Tanjung Lesung ke Legon, sehingga untuk mencapai dermaga penyeberangan di Legon harus menempuh jalan agak memutar melalui kecamatan Cibaliung dan Sumur. Kalau tidak, mestinya pulau Umang akan lebih enak dicapai dari pantai Carita terus ke selatan melalui Labuan dan menyusuri pantai barat Pandeglang. Pemandangan alam pada jalur ini tentunya akan lebih menarik ketimbang jalur yang harus dilalui sekarang.</p>
<p>Rute jalan untuk mencapai Legon cukup mudah dan aman. Mudah, karena banyak dilalui kendaraan umum dari Jakarta, Serang, Pandeglang atau Labuan. Juga tidak sulit kalau hendak dicapai dengan kendaraan pribadi. Dari Jakarta menuju Sumur jaraknya sekitar 215 km atau sekitar 4-5 jam perjalanan darat. Aman, karena melintasi kawasan yang mulai ramai lalulintasnya maupun dekat dengan pemukiman penduduk. Kalau dibilang kurang aman, itu karena setelah keluar dari Labuan, kondisi jalannya belak-belok melintasi pegunungan dan di beberapa lokasi kondisi jalannya agak sempit dan rusak.</p>
<p>Sebelum meninggalkan pulau Umang, selewat matahari terbenam hari mulai malam tapi tidak terdengar burung hantu, beruntung saya sempat bertemu dengan Pak Christian, sang pemilik properti. Ceritanya pulau itu dibeli pada tahun 1980, lalu tahun 1998 mulai dibangun dan dikembangkan untuk tujuan komersial, dan baru pada akhir 2004 mulai dibuka untuk umum. Dalam upayanya turut mengembangkan wilayah di pantai barat Pandeglang, kini Pak Christian sedang ancang-ancang memasuki industri agrowisata. Beberapa klaster lahan pertanian disiapkan yang nantinya akan ditawarkan kepada investor dengan melibatkan masyarakat sebagai petani penggarap. Ada yang berminat? </p>
<p>Yogyakarta, 10 Mei 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengalaman Pertama]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=233</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 04:11:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/05/02/pengalaman-pertama/</guid>
<description><![CDATA[Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya - Semarang, beberapa hari yll.</p>
<p>Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah <em>ogah</em> repot-repot <em>ngurusi</em> konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang <em>boarding</em> siap menuju ke pesawat.</p>
<p>Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.</p>
<p>Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.</p>
<p>Seorang <em>bule</em> yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak...), si <em>bule</em> tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.</p>
<p>Melihat perilaku si <em>bule</em> yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasa tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.</p>
<p>Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.</p>
<p>Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah <em>ngelok-ke</em> (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : "have a nice flight....".</p>
<p>Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara <em>pethenthengan</em> (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru <em>gethem-gethem</em>....., berempati turut merasa jengkel.</p>
<p>Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa' Gym. Ee..., barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan <em>blazer</em> merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak <em>tembelek lencung</em> (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.</p>
<p>Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna <em>body</em> putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.</p>
<p>Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita.....).</p>
<p>Semarang, 30 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasi Tumpang, Bosok Tapi Nendang]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=232</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 10:05:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/04/18/nasi-tumpang-bosok-tapi-nendang/</guid>
<description><![CDATA[Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur dengan sambal kacang lalu ditambah kerupuk atau peyek, tahu atau tempe, sebagai asesori tambahannya, banyak dijual dan menyebar hampir di setiap kota. Cari saja warung nasi pecel.</p>
<p>Lain halnya kalau mau mencoba makan nasi sambal tumpang atau biasa disebut nasi tumpang saja. Ke kota Kedirilah tempatnya. Bahan dasarnya nyaris sama, yaitu sayur-mayur. Akan tetapi di kota Kediri tempat asal nasi tumpang, varian sayurnya biasanya tertentu, yaitu daun pepaya, buah pepaya muda yang diiris kecil-kecil, kecambah dan terkadang ada tambahan mentimun. Yang beda adalah sambalnya, yang disebut dengan sambal tumpang.</p>
<p>Sepintas sambal tumpang ini mirip sambal pecel, tapi sebenarnya beda. Tidak menggunakan tumbukan kacang melainkan tempe <em>bosok</em> (busuk) yang rasa dan aromanya agak<em> semangit</em> (sangit). Hanya saja busuknya tempe ini bukan sebab tempe basi atau sisa yang sudah beberapa hari tidak laku dijual, melainkan memang sengaja dibusukkan (seperti kurang kerjaan saja...., bukannya makan tempe segar malah ditunggu setelah busuk baru dimasak). Inilah salah satu kekayaan budaya permakanan Indonesia. Anehnya, justru cita rasa <em>semangit</em> yang diramu dengan kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah-putih dan santan, itulah yang diharapkan <em>mak nyusss</em>....</p>
<p>Bagi kebanyakan masyarakat Kediri dan sekitarnya, menu nasi tumpang ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bekal sarapan pagi yang murah, meriah, bergizi dan <em>hoenak tenan....</em> Warung nasi tumpang dapat dengan mudah dijumpai di banyak tempat di kampung-kampung atau di pinggir-pinggir jalan. Mirip warung-warung gudeg saat pagi hari di Jogja. Harga sepincuk nasi tumpang cukup murah wal-meriah, sekitaran Rp 2.000,- per porsi kecil.</p>
<p>***</p>
<p>Sarapan nasi tumpang..... membangkitkan kembali ingatan masa kecil hingga muda saya, sewaktu saya masih sering mengunjungi rumah nenek di Kediri. Mbah saya yang tinggal di kampung Banjaran ini setiap pagi buta beliau sudah <em>kluthikan</em> (bersibuk-sibuk) di dapur saat yang lain masih terlelap, untuk persiapan jualan nasi tumpang di depan rumah kecilnya saat matahari menjelang terbit.</p>
<p>Pelanggannya ya para tetangga sendiri, terutama para pegawai dan buruh yang hendak berangkat ke tempat kerja atau pelajar yang mau berangkat ke sekolah. Orang-orang tua, muda, anak-anak, silih berganti dan rela ngantri membeli nasi tumpang barang sepincuk dua pincuk (wadah daun yang berbentuk corongan lebar). "Ritual" pagi ini berlangsung dalam suasana <em>semanak</em> (penuh kekeluargaan), sambil becanda dan saling berbagi cerita ringan keseharian tentang apa saja. Ah, indah sekali....! Khas kehidupan keseharian para akar rumput dalam suasana penuh <em>guyub, guyon, gayeng.....</em></p>
<p>Simbah memang sudah meninggal enam tahun yll. Namun saat-saat indah bersama simbah itu sepertinya masih lekat di ingatan, setiap kali saya berkunjung ke Kediri. Sebuah kenangan sederhana yang begitu terasa mengesankan.....</p>
<p>Masih terbayang bagaimana simbah meladeni saya dan cucu-cucunya yang lain dengan sabar dan telaten. Menyiapkan nasi tumpang yang disajikan dalam pincuk daun pisang <em>made-in</em> mbah saya sendiri. Lebih khas lagi, masih ada asesori peyek kacang atau ikan teri yang digoreng sendiri, berukuran kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan tapi berasa gurih dan <em>kemripik</em>. Hingga enam tahun yang lalu ketika simbah masih <em>sugeng</em> (hidup), beliau masih suka mengirimi anak dan cucunya sekaleng biskuit kong guan merah berisi peyek kacang dan teri.    </p>
<p>***</p>
<p>Kini, setiap kali saya ke Kediri, menu nasi tumang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Rasanya yang khas dengan sambal tempe <em>bosok</em> yang sama sekali tidak terkesan sebagai makanan busuk, bahkan <em>nendang tenan</em> sensasi <em>semangit</em>-nya.....</p>
<p>Seperti seminggu yang lalu saya berkunjung ke Kediri. Meski bukan saat pagi hari, tapi tetap saja yang pertama saya cari adalah nasi tumpang. Salah satu warung nasi tumpang yang cukup dikenal adalah nasi tumpang Bu Wandi yang berada di bilangan jalan Panglima Polim. Warung ini adalah cabang dari warungnya yang sejak lama ada di kawasan Pasar Paing.</p>
<p>Porsi sepiring nasi tumpang Bu Wandi cukup banyak. Tambahan berupa beberapa lembar peyek yang berukuran setelapak tangan orang dewasa semakin melengkapi kekhasan menu ini. Jika kurang lengkap, bisa ditambah dengan gorengan tahu kuning yang diceplus dengan cabe rawit. Sedangkan sambal tumpangnya sendiri biasanya memang sudah cukup pedas.</p>
<p>Tidak puas dengan satu porsi, saya pun masih <em>nambah</em> dengan seporsi lagi sayur dan sambal tumpangnya <em>thok</em>, tanpa nasi. Pokoknya benar-benar puas, puas, puas..... setelah sekian lama tidak menikmati menu ini. Bahkan anak saya yang sebenarnya kurang suka makan pecel saja bisa menghabiskan seporsi nasi tumpang Bu Wandi dalam <em>tempoh</em> yang sesingkat-singkatnya. Enak, katanya.</p>
<p>Sesekali di Jogja saya meminta ibunya anak-anak untuk membuatkan sambal tumpang. Tapi ternyata memang semangitnya tempe Jogja yang dibusukkan sendiri, berbeda dengan yang saya rasakan di Kediri.</p>
<p>Ke Kediri aku kan kembali, menikmati nasi tumpang yang benar-benar membuat kenyang dan <em>nendang</em> sensasi <em>semangit</em> tempe <em>bosok</em>-nya.....</p>
<p>Yogyakarta, 18 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bebeknya Bu Suwarni Prambanan, Enak Dibacem Dan Perlu]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=228</link>
<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 16:21:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/04/06/bebeknya-bu-suwarni-prambanan-enak-dibacem-dan-perlu/</guid>
<description><![CDATA[Sekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-229" style="float:left;margin-left:12px;margin-right:12px;" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/04/img_0226_suwarni.jpg" alt="Bu Suwarni" width="418" height="279" />Sekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai Prambanan dari arah Solo atau kalau dari arah Jogja sekitar satu kilometer setelah candi Prambanan, membelok ke selatan menuju ke stasiun Prambanan. Di jalan depan stasiun ke arah barat, sebelum belok melintas persimpangan rel kereta api, di pojok kanan ada sebuah warung makan yang cukup terkenal. Namanya Rumah Makan Bu Suwarni.</p>
<p>Menu utama warungnya Bu Suwarni ini adalah menu bebek-bebekan, terutama bebek goreng dan soto bebek. Bagi penggemar rasa khas daging bebek, warung ini layak dipertimbangakan untuk menjadi pilihan. Bebek gorengnya yang dibumbu bacem, terasa benar bacemannya. Baceman khas Jogja dengan rasa manis yang agak kuat. Bumbu bacemnya merasuk hingga menyentuh bagian paling dalam dari daging bebek yang tekstur seratnya lebih kentara dibanding daging ayam.</p>
<p>Kalau kurang suka dengan bebek goreng bumbu bacem khas Jogja, masih ada pilihan soto bebek. Soto bebeknya Bu Suwarni memang beda. Kalau umumnya daging bebek digoreng, dibakar, atau dipanggang, maka soto bebeknya <em>miraos tenan....</em> Dari <em>sruputan</em> kuahnya sudah terasa kaldu daging bebeknya. Sotonya sendiri tidak jauh beda dengan ramuan soto ayam. Ada campuran tauge kecil (untuk membedakan dengan umumnya tauge yang ukurannya besar), irisan kol dan loncang (daun bawang), ditambah irisan ampela bebek, lalu diguyur kuah soto berkaldu bebek. Khas sekali rasanya.  </p>
<p>Warung makan Bu Suwarni ini memang tipikal bisnis keluarga. Sejak berdiri lebih 25 tahun yang lalu, manajemen warung ini tidak jauh-jauh dari sentuhan keluarga besarnya. Bahkan semua pelayannya adalah juga masih ada hubungan kekeluargaan. Hingga kini warung bebek-bebekan ini sepertinya tak goyah oleh aneka badai ekonomi. Tetap beroperasi dan bahkan semakin berkibar.</p>
<p>Dulu-dulunya, warung Bu Suwarni hanya menempati petak kecil di pinggiran jalan raya Prambanan. Sejak tahun 1987, bu Suwarni yang berasal dari dukuh Pereng, Prambanan, pindah ke dalam. Ya, di jalan stasiun barat itu hingga sekarang. Tahun 2006 sewaktu terjadi gempa Yogya, dimana sebagian Prambanan termasuk wilayah yang cukup parah terkena gempa, Rumah Makan Bu Suwarni pun roboh. Kini bangunan warungnya nampak jauh lebih representatif, seiring dengan perkembangan usahanya.</p>
<p>Melihat keberhasilan warungnya bu Suwarni berbisnis menu bebek pada saat ini hingga rata-rata menghabiskan 50 ekor bebek per harinya, terbayang bagaimana gigihnya sosok bu Suwarni muda ketika memulai membuka warung makan bebek goreng. Tentu dengan kondisi yang sangat sederhana pada masa itu. Kalau kini usia bu Suwarni sekitar 47 tahunan, berarti bu Suwarni masih berusia sekitar 21 tahun ketika memulai bisnis ini pada tahun 1982.    </p>
<p>Kita sering "terjebak" hanya melihat ujung dari perjalanan hidup seseorang ketika kesuksesan sudah diraih. Tapi kita sering alpa melihat dan mempelajari bagaimana jatuh-bangunnya sesorang dalam merintis, mengembangkan, mempertahankan dan akhirnya menjaga prestasi usahanya. Bu Suwarni layak menjadi sebuah cermin bagi semangat <em>enterpreneurship</em> di jaman kini. Istilah kewirausahaan yang pada masa itu belum dikenal orang, kecuali sekedar bagaimana bertahan hidup dengan cara yang halal dan barokah. Tipikal cara berpikir orang-orang desa yang lugu dan tidak <em>neko-neko</em>. Kalau akhirnya semangat bertahan hidup itu mampu memberikan hasil yang lebih dari cukup, maka itu adalah berkah dari kerja kerasnya selama meniti masa-masa sulit sekian tahun yang lalu.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelum meninggalkan warungnya bu Suwarni, saya sempatkan untuk melongok dapurnya dan memesan seekor bebek utuh tanpa kepala untuk di bawa pulang. Saya baru tahu kalau beli bebek utuh rupanya tidak termasuk kepalanya seperti halnya kalau beli seekor ayam utuh. Tapi, apalah artinya sepenggal kepala bebek (sedang kepala-kepala yang lain saja kita sering tidak perduli) jika dibandingkan dengan kepuasan menyantap sepotong bebek goreng dan semangkuk soto bebek yang rasanya khas dan <em>miraos</em> (enak) dengan ganti harga yang wajar.</p>
<p>Bebeknya bu Suwarni, memang enak dibacem dan perlu (perlu dicoba maksudnya).  </p>
<p>Yogyakarta, 6 April 2008 <br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kapucino Dan Ayam Goreng]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=226</link>
<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 15:34:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/04/04/kapucino-dan-ayam-goreng/</guid>
<description><![CDATA[Tiba di bandara Cengkareng masih terlalu pagi. Mau langsung nyingklak taksi ke Kuningan, jangan-jang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba di bandara Cengkareng masih terlalu pagi. Mau langsung <em>nyingklak</em> taksi ke Kuningan, jangan-jangan perkantoran di sana belum mulai <em>buka dasar</em>. Mendingan menikmati secangkir kopi dulu.</p>
<p>Tempat paling dekat dan mudah dicapai adalah warung KFC Jagonya Ayam. Tapi apapun ayamnya, minumnya tetap kopi. Memang <em>ngopi</em> tujuannya. Ketika sudah berdiri di depan <em>counter</em>, entah kenapa yang saya pesan bukan kopi seperti biasanya, melainkan kapucino, saudaranya kopi. Sekali waktu kepingin juga mencoba menu yang berbeda, begitu yang ada dalam pikiran saya.</p>
<p>Pelayan KFC dengan sigap segera meracik kapucino dan lalu menyodorkan secangkir <em>styrofoam</em> putih ukuran kecil, seharga total Rp 7.400,- termasuk Pajak Pembangunan 10%. Saya taksir isi cairan kapucinonya tidak lebih dari 100 ml.</p>
<p><em>Sruputan</em> pertama begitu menggoda, selebihnya terserah peminumnya. Namun saya rada kecewa, <em>sruputan</em> pertama ternyata tidak meninggalkan <em>taste</em> yang pas. Agak semu-semu pahit, mungkin coklatnya kebanyakan. Pokoknya, saya kurang puas dengan rasa kapucino yang saya harapkan. Bisa jadi, selera perkapucinoan saya yang beda. Tapi yang jelas rasanya tidak seperti biasanya kapucino yang saya minum.</p>
<p>Sambil menikmati kapucino yang tidak nikmat, sambil menghisap Marlboro, sambil menulis SMS, saya lalu merenung-renung. Apa iya saya pantas kecewa gara-gara kapucino yang kurang pas rasanya?</p>
<p>Akhirnya saya hanya bisa tersenyum sendiri (di dalam hati tentunya, <em>wong</em> kedai KFC sudah mulai ramai). Mestinya saya yang salah. Sudah jelas-jelas ini warung jualan ayam goreng kok berharap mendapat kapucino enak. Kalau mau kapucino atau kopi yang enak, ya mestinya ke Starbucks, bukannya KFC. Jadi kalaupun disediakan minuman kopi atau kapucino, maka itu hanyalah pelengkap penderita (bagi pembeli yang kecewa seperti saya, maksudnya).</p>
<p>Tiba saatnya saya menuju ke pangkalan taksi. Sambil dalam hati saya membuat kesimpulan : Kalau mau minum kopi enak, ya jangan mencari warung ayam goreng. Kalau mau makan ayam goreng yang enak, ya jangan mencari warung kopi. Mudah saja.</p>
<p>Namun kalau kemudian ketemu kedua-duanya enak, maka itulah diferensiasi bagi warung itu. Pembeda yang menjadi nilai tambah bagi warung itu dalam merebut pasar. Dan seringkali faktor pembeda ini menjadi awal dari kemenangan persaingan usaha.</p>
<p><em>Ngopi dulu, ah......</em></p>
<p>Jakarta, 4 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dinaikkan Kelas Oleh Garuda]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=225</link>
<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 17:59:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/04/03/dinaikkan-kelas-oleh-garuda/</guid>
<description><![CDATA[Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa ketika panggilan <i>boarding</i> dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adi Sutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu <i>boarding</i> saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. "Wah, ada masalah apa ini?", begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.</p>
<p>Rupanya saya diberitahu bahwa kartu <i>boarding</i> saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan "Economy Class" ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan "Executive Class". Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : <em>"Boarding pass</em>-<i>nya diganti ya, pak"</i>. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..</p>
<p>Jelas saya "tidak puas" (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya...). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : <em>"Di-upgrade"</em>. <i>Lha</i> ya sudah tahu kalau di-<i>upgrade</i>.</p>
<p>Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : <em>"Up grade otomatis ya, mbak".</em></p>
<p><em>"Iya",</em> jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, <i>upgrade</i> juga bisa...).</p>
<p>Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum <i>mecungul</i>, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.</p>
<p>Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.</p>
<p>***</p>
<p>Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).</p>
<p>Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak...), melainkan kenapa tiket saya bisa di-<i>upgrade</i>?</p>
<p>Saya memang anggota <i>Frequent Flyer</i> Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi <i>member Frequent Flyer</i>. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat...!</p>
<p>Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.</p>
<p>Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.</p>
<p>Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai <i>lesson learn</i>. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  </p>
<p>He...he...he...,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki.... (atau dikasihani?).</p>
<p>Jakarta, 2 April 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=217</link>
<pubDate>Sat, 29 Mar 2008 04:38:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/03/29/sambal-bawangnya-bu-santi-di-babarsari-jogja/</guid>
<description><![CDATA[Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya maklum, meskipun sebenarnya mu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada manusia lahir <em>kok ujug-ujug</em> sudah berpengalaman).</p>
<p>Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di dekat pertigaan Jl. Babarsari - Seturan, Jogja. Di sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya yang khas dan pedas.</p>
<p>Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar. Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan "Rumah Makan Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi" yang dipasang tepat di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi.</p>
<p>Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis, sah-sah saja.</p>
<p>Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15 kompornya yang non-stop siap melayani para pencari makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja.</p>
<p>Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera melahapnya.</p>
<p>***</p>
<p>Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya ada juga pengunjung yang memanfaatkan "peluang bisnis" dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang berbunyi : "1 porsi lauk untuk 1 orang". Barangkali ada juga pengunjung yang datang untuk romantis-romantisan dengan sepiring berdua. <em>Ngirit</em> maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi uduk sesukanya bersama temannya.</p>
<p>Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat. Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur terbukanya.    </p>
<p>Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng garing yang masih panas segera saya <i>cuwil</i>, saya sobek-sobek....., lalu saya cocolkan ke sambal bawangnya dan .... <i>nyem...nyem...nyem....</i> Aroma dan rasa bawangnya benar-benar <i>nendang</i>. Menu utama warung ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya. Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas, mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis.</p>
<p>Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng garingnya juga <i>kemriuk kriuk... kriuk... </i> ketika dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya, sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan. Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat mulai membuat gatal di kepala....</p>
<p>Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya <i>sruput</i> kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa <i>nano-nano</i>...., asam, manis, asin, dengan komposisinya kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan <i>hoenak tenan</i>..., apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga. Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai <i>keceplus </i>mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang panjangnya yang setengah matang rupanya memberi sensasi <i>kemrenyes</i> ketika digigit. Ini ilmu baru yang saya peroleh tentang memasak sayur asam.</p>
<p>Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk, maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. <i>Lha wong</i> mengambil nasinya bebas....</p>
<p>Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot <i>nithili....</i> , menggigit dan mengelupas kulit tipis yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam.</p>
<p>Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal di lingkungan Babarsari - Seturan. Harganya relatif murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama paduan sambal bawangnya.</p>
<p>Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba. Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam 10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan.</p>
<p>Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari berpetualang makan-makan, kiranya perlu memperhatikan jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya (tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih banyak lagi.... ).</p>
<p>Yogyakarta, 29 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membincang Bisnis Melalui Kelompok Master Mind]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=204</link>
<pubDate>Mon, 10 Mar 2008 16:54:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/03/10/dari-master-mind-komunitas-tda-joglo/</guid>
<description><![CDATA[(Catatan dari diskusi kelompok komunitas TDA Joglo)  

(Foto dari kiri ke kanan : Ichsan, Huda, Dj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3>(Catatan dari diskusi kelompok komunitas TDA Joglo)  </h3>
<h3><img border="0" align="top" width="312" src="http://madurejo.wordpress.com/files/2008/03/mm4joglo.jpg" alt="MM4_TDA-Joglo" height="189" style="width:316px;height:193px;" /></h3>
<p>(Foto dari kiri ke kanan : Ichsan, Huda, Djoko, Yusuf, Memetz)</p>
<h3>Pengantar :</h3>
<p>TDA adalah kependekan dari Tangan Di Atas, yaitu sebuah jaringan komunitas bagi para pengusaha dan calon pengusaha yang ingin saling memberi. Sesuai dengan namanya, "tangan di atas" adalah perlambang dari seorang "pemberi", berarti yang memberi penghasilan atau gaji (kepada karyawan), yang berarti juga yang memberi ilmu (kepada sesama), yang memberi manfaat (pada orang banyak). Maka anggota komunitas <a href="http://www.tangandiatas.com/?id=1">TDA</a> adalah para pengusaha dan calon pengusaha yang mempunyai usaha, yang berminat mengembangkan usaha dan yang ingin mengetahui informasi peluang dan perkembangan usaha (bisnis).</p>
<p>Salah satu media yang digunakan "hanya sebagai alat" untuk berkomunikasi adalah milis (mailing list). Milis ini mempunyai misi untuk menjadi sarana berbagi (sharing) dan komunikasi bagi para pengusaha, calon pengusaha atau pengusaha pemula untuk bersama-sama membuka pasar, menjalin kerja sama dengan produsen, mencari alternatif dukungan finansial dan saling membimbing.</p>
<p>Dalam perkembangannya, agar komunikasi lebih efektif, maka dibentuk kelompok diskusi yang lebih kecil berdasarkan kawasan geografis dimana anggota atau aktifitasnya berada. Salah satu diantaranya adalah <a href="http://tdajoglo.com/">TDA Joglo</a> atau Tangan Di Atas daerah Jogja - Solo dan sekitarnya yang dibentuk pada tahun 2007. Awalnya <a href="http://tdajoglo.com/">TDA Joglo</a> dibentuk sebagai bagian dari komunitas <a href="http://www.tangandiatas.com/?id=1">TDA</a> yang dibentuk di Jakarta oleh Bapak Roni Yuzirman pada tahun 2006 yang pada saat ini sudah mempunyai lebih 1.850 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia sampai ke manca negara.</p>
<p>Dalam perkembangannya kini, <a href="http://tdajoglo.com/">TDA Joglo</a> tidak hanya berkonotasi georafis untuk mewadahi kegiatan bisnis anggotanya di daerah Jogja - Solo dan sekitarnya saja. Embel-embel "joglo" berarti bangunan tradisional Jawa yang melambangkan sebagai pelindung atau wadah bagi segenap anggotanya yang merasa memiliki ikatan emosional kedaerahan khususnya wilayah Jateng - DIY (tidak dalam pemahaman yang eksklusif dan fanatis). Diharapkan komunitas ini dapat berkembang di daerah-daerah sehingga akan semakin menguatkan jaringan kerja antar anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara.</p>
<p>Istilah-istilah yang sering digunakan dalam komunitas ini, antara lain :</p>
<ul>
<li>TDA (Tangan Di Atas, adalah sebutan bagi mereka yang sudah sepenuhnya menjadi pengusaha, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya skala usaha atau bisnisnya).</li>
<li>TDB (Tangan Di Bawah, adalah sebutan bagi mereka yang masih berprofesi sebagai orang gajian, pegawai/karyawan, tidak perduli seberapa besar atau kecilnya perusahaan tempatnya menerima gaji atau seberapa besar gaji yang diterimanya).</li>
<li>Amfibi (sebutan bagi mereka yang menjalankan fungsi ganda antara sudah TDA dan masih TDB).</li>
</ul>
<p>-------</p>
<p>Hari Minggu yang lalu, 9 Maret 2008, bertempat di rumah saya di kawasan Umbulharjo, Yogyakarta, telah diadakan sebuah pertemuan kecil yang disebut dengan <em>Master Mind</em> (MM). Ini adalah kelompok kecil terdiri kurang dari 10 orang. Ada beberapa kelompok kecil yang dibentuk di bawah <a href="http://tdajoglo.com/">TDA Joglo</a> yang berujuan agar diskusi dapat lebih fokus dan efektif. Dalam forum kecil inilah segala macam informasi atau permasalahan yang dimiliki atau dialami oleh anggota kelompoknya dapat didiskusikan bersama dan dipecahkan untuk dicarikan solusinya secara bersama pula.</p>
<p>Bagaikan sebuah keluarga, maka setiap orang merasa tidak sendirian dengan permasalahan usaha atau bisnis yang sedang dihadapinya, melainkan ada anggota keluarga lain yang membantunya. Kesuksesan yang sedang diraih oleh salah seorang anggota pun adalah kesuksesan bersama sehingga dapat menjadi motivator bagi anggota yang lain dalam mengembangkan usahanya.  </p>
<p>Pertemuan <em>Master Mind</em> yang diadakan di rumah saya itu adalah pertemuan pertama bagi kelompok ke-4 dari <em>Master Mind</em> di wilayah Jogja, maka sebut saja kelompok ini dengan <em>Master Mind 4</em> (MM4) TDA Jogja.</p>
<p>Anggotanya ada mas <a href="http://abufarros.wordpress.com/">Memetz</a> (seorang yang telah berpengalaman di bidang manajemen minimarket dan menekuni <em>art &#38; craft</em>, masih berstatus amfibi), mas <a href="http://djokomukti.blogspot.com/">Djoko Mukti</a> (seorang pengrajin tas berbahan natural yang baru saja banting setir dari TDB menjadi TDA), mas <a href="http://manfaatfashion.com/">Ichsan Santoso</a>, (seorang pengusaha toko swalayan dan grosir pakaian bernama "Manfaat Fashion"), mas Huda (aktif di dunia cetak-mencetak, masih berstatus TDB), dan saya sendiri yang tiga tahun lalu banting setir menjadi TDA dan lalu membuka usaha toko ritel bernama "Madurejo Swalayan". Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri mas <a href="http://betigaklaten.wordpress.com/">Bams Triwoko</a> (penggiat TDA Joglo yang tak kenal lelah memotivasi warganya, yang juga adalah pemilik berbagai bidang usaha).</p>
<p>Di antara beberapa topik yang didiskusikan dalam peremuan awal MM4 TDA Jogja ini adalah berbagai hal terkait dengan bisnis toko swalayan atau toko ritel. Dari <i>sharing</i> tentang pengalaman menjalankan bisnis toko ritel, maka berbagai masalah dan kendala yang selama ini sering dihadapi lalu diangkat sebagai topik diskusi. Banyak masukan-masukan sangat positif dan berharga dari para anggota MM4 TDA Jogja tentang bagaimana seharusnya atau sebaiknya hal itu ditangani dan dicarikan solusinya.</p>
<p>Bagi saya yang sedang merintis dan mengembangkan usaha toko "Madurejo Swalayan", tentu saja bisa banyak belajar dari pengalaman dan semangat <em>sedulur-sedulur</em> muda yang telah menunjukkan semangat kewirausahaan yang sungguh luar biasa.</p>
<p>Rasanya pertemuan yang (padahal) sudah berlangsung hampir lima jam, tidak cukup untuk membahas berbagai hal. Waktu berlalu begitu cepat. Itu karena setiap kalimat yang diketengahkan sepertinya menjadi sangat berharga, sehingga menjadi tidak membosankan. Lebih berarti lagi dengan diselingi suguhan teh jahe, gorengan, nasi goreng dan bakmi.</p>
<p>Komitmen perlu dimantapkan, bahwa pertemuan pertama ini (Insya Allah) akan bersambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan mengangkat berbagai topik dan permasalahan yang dihadapi oleh anggotanya untuk dicarikan jalan keluarnya, termasuk berbagai peluang yang dapat digali untuk dikembangkan.</p>
<p>Semoga pertemuan pertama MM4 TDA Jogja ini menjadi langkah awal yang baik, seperti halnya "spirit" yang sudah dibuktikan oleh anggotanya untuk menuju rumah saya di Umbulharjo yang ternyata alamatnya <i>rodo angel golek-golekane</i> (agak susah dicarinya) di saat sore menjalang petang di bawah cuaca hujan deras. Hanya karena motivasi yang tinggi saja yang menjadikan pertemuan pertama MM4 TDA Jogja jadi berlangsung, meski hujan turun sangat deras dan listrik sempat padam di awalnya.</p>
<p>Maka, "Madurejo Swalayan" siap untuk berkembang lebih cepat seiring dengan <i>karep</i>-nya yang punya toko, bukan sekedar membangun bisnis kecil-kecilan, melainkan dengan visi besar-besaran. <i>Insya Allah... God Speed...</i>     </p>
<p>Umbulharjo - Jogja, 10 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
