<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>melayu-square &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/melayu-square/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "melayu-square"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 03:05:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/?p=187</link>
<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 15:01:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.id.wordpress.com/2008/03/11/menjelajah-kota-gurindam-di-pulau-bintan-7/</guid>
<description><![CDATA[(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan mala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h2>(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik</h2>
<p>Waktu makan siang jelas sudah lewat, sedang waktu makan malam belum masuk. Tapi karena perut sudah meronta minta diisi, ya lupakan dulu soal waktu makan. Tidak jauh dari hotel, ke arah timur sedikit, tepatnya di Batu 10 (Km 10), ada kawasan pengembangan kota yang bernama Bintan Center. Kesanalah kemudian kami menuju. Di salah satu sudut kompleks perukoan ada kedai (sebutan umum untuk warung) yang jual nasi goreng. Atas inisiatif seorang rekan yang kebetulan penduduk asli Bintan, kemudian kami masuk ke kedai "Bopet Pak Haji".</p>
<p>Nasi goreng di kedai ini cukup disukai masyarakat, katanya. Terbukti "Bopet Pak Haji" yang di Bintan Center itu merupakah cabang dari kedai yang sama yang ada di kota Tanjung Pinang. Tidak ada salahnya dicoba. Sebab prinsip saya kalau berada di tempat baru adalah mencoba sesuatu yang beda dan khas, tidak perduli enak atau tidak. <i>Rule of thumb</i>-nya adalah bahwa makanan itu hanya ada dua jenis : <i>uenak</i> dan <i>huenak</i> sekali.</p>
<p>Satu piring nasi goreng pun tandas. Sangking laparnya sampai tadi lupa merasakan sebenarnya nasi goreng ini cukup <i>uenak</i> saja apa <i>huenak</i> sekali sih.... Paling tidak, ya lumayan <i>uenak</i>-lah, meki <i>taste</i>-nya tentu beda dengan nasi goreng jawa.     </p>
<p>***</p>
<p>Sore serasa belum lengkap kalau belum <i>nyruput </i>kopi panas. Saya pesan kopi di hotel untuk dikirim ke kamar. Petugas hotel bertanya : "Kopi O, pak?". Saya pun melongo dengan mulut membentuk seperti huruf "O", mendengar pertanyaan itu. Lalu kata petugas hotel : "Ya, kopi biase tak pakai ape-ape....", dengan logat Melayunya. Saya baru <i>ngeh</i> : "Ooo.... , itu to maksudnya kopi O.....", barulah saya bisa mengkonfirmasi : "Iya, kopi O satu!".</p>
<p>Menangkap ada sesuatu yang baru, saya lalu mencoba mengeksplorasi lebih jauh. "Kalau teh O ada, tak?", tanya saya. Lalu dijawabnya : "Ada, pak. Teh <i>obeng</i> juga ada....". Hah!. Teh apa lagi ini? Setahu saya di "Madurejo Swalayan" saya jual teh cap Tjatoet dan cap Tang. <i>Lha</i> ini ada lagi teh <i>obeng</i>..... Rupanya yang disebut teh <i>obeng</i> adalah es teh. </p>
<p>Saya tersenyum sendiri. Selain karena merasa lucu mendengar sebutan jenis minuman kopi dan teh itu, juga karena berhasil memperoleh pengalaman baru di hari pertama kunjungan saya ke kota Gurindam, Tanjung Pinang. Mulai saat itu saya merasa perlu untuk mulai waspada. Waspada terhadap pengalaman-pengalaman baru yang akan saya temui selanjutnya. Dan inilah bagian yang paling saya sukai setiap kali mengunjungi tempat baru.</p>
<p>Secangkir kopi pun akhirnya saya nikmati di kamar hotel. Yang selalu khas dalam setiap kali kopi disajikan, juga kemudian saya temui di kedai-kedai kopi di tempat lain, adalah secangkir kopi itu selalu disajikan dalam keadaan <i>mbludak</i>, ada tumpahan di cawannya. Terkesan kurang professional dan kurang rapi. Tapi yang demikian ini justru menambah selera <i>ngopi</i> bagi penggemar kopi. Barangkali saja SOP-nya memang demikian.</p>
<p>Sama seperti saya juga tidak tahu kenapa disebut kopi O atau teh <i>obeng</i>. Orang-orang setempat pun tidak ada yang bisa memberi jawaban meyakinkan. Kecuali sekedar <em>clue</em>, barangkali sebutan itu adalah turunan dari bahasa Tionghoa yang memang sejak jaman dahulu kala banyak masyarakat etnis Cina yang tinggal dan hidup di kawasan Kepulauan Riau.</p>
<p>***</p>
<p>Mengingat tadi makan siangnya kesorean, maka acara makan malam pun sengaja dijadwal agak kemalaman. Tapi tidak perlu khawatir tidak kebagian restoran atau kedai yang masih buka. Banyak tempat-tempat makan atau kedai-kedai makan buka sampai larut malam. Salah satunya yang kami tuju adalah kawasan "Melayu Square" yang berlokasi di pinggir laut dekat dengan pelabuhan penyeberangan.</p>
<p>Yang disebut "Melayu Square" ini adalah semacam Pujasera, <i>open air</i>, ada puluhan set meja-kursi tersebar di lapangan terbuka yang dikelilingi oleh puluhan kedai makan dan minum serta jenis makanan lainnya. Ada juga disedikan fasilitas lesehan di atas ruang panggung yang tidak terlalu tinggi. Tempat ini buka sampai larut malam dan nyaris selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya, kata teman yang asli Bintan. Tidak ada jam buka dan tutup yang pasti. Namun biasanya buka sore hari dan baru tutup kalau pengunjung sudah sepi atau pada ngantuk, atau penjualnya yang ngantuk duluan.</p>
<p>Ada sederet menu makan aneka ragam yang kebanyakan berbasis <em>ikan-ikanan</em>, maklum <i>wong</i> dekat laut. Namun pandangan mata saya tertuju pada satu menu khas Melayu yang dahulu saya pernah menikmatinya saat disuguh oleh salah satu keluarga seorang teman di Yogya yang berasal dari Riau, yaitu <i>laksa</i> (dibaca <i>la'se</i>). Kalau tidak salah ini makanan yang berbentuk seperti mie tapi terbuat dari bahan tepung beras. Dimakan dengan kuah ikan seperti kari kental. Disajikan dengan berbagai variasi campuran, diantaranya tauge mentah. Biasanya pedas, dan yang pasti membuat <em>nek</em> (cepat enyang) karena mengandung banyak santan. Karena itu sangat cocok dimakan pada saat perut lagi lapar.</p>
<p>Berbekal semangat ingin mencoba yang beda dan khas, maka meski perut sesungguhnya belum lapar-lapar amat, tetap saja saya pesan sepiring <i>laksa</i>. Dan ternyata tandas juga, meski megap-megap kepedasan. Habis enak sih.....!</p>
<p>Bagaimana dengan minumnya? Mata saya tertuju pada menu kopi <i>tarik</i>. Apanya yang ditarik, atau apanya yang menarik? Kopi dan juga teh <i>tarik</i> adalah campuran kopi atau teh dengan susu yang penyajiannya dengan terlebih dahulu dicampur dalam cangkir alumunium berukuran agak besar. Kalau di Jawa ini cangkir mirip seperti yang biasa digunakan tukang martabak untuk mencampur adonan.</p>
<p>Campuran kopi atau teh susu itu kemudian dituang berkali-kali dan berpindah-pindah dari satu cangkir ke cangkir lainnya. Cangkir pertama yang berisi campuran kopi atau teh susu diangkat agak tinggi lalu dituang ke bawah dan diterima oleh cangkir kedua yang dipegang berada agak ke bawah, lalu bergantian. Prosedur tuang-menuang ini dilakukan sebanyak enam kali (saya tahu karena beberapa kali saya amati dan saya hitung, sekedar analisis statistik cepat), sampai kemudian menimbulkan busa di permukaannya. Barulah dipindah ke gelas sebelum disajikan.</p>
<p>Aroma dan rasanya luar biasa (makudnya di luar biasanya campuran kopi atau teh dengan susu). Nilai akhirnya : <i>huenak</i> dan <i>mantab</i> (diakhiri huruf "b") sekali..... Pesan sponsor yang hendak disampikan berbunyi : Jangan lewatkan mencicipi kopi atau teh <i>tarik</i> selagi berada di Tanjung Pinang.</p>
<p>Tanjung Pinang, Kepri - 10 April 2006<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
