<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>makalah-kesehatan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/makalah-kesehatan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "makalah-kesehatan"</description>
	<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 21:19:18 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=77</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 04:40:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=77</guid>
<description><![CDATA[Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi/anak umur 0-24 bulan melalui perbaikan perilaku mas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt 0.25in;"><span style="font-size:10pt;">Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi/anak umur 0-24 bulan melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan merupakan bagian yang dapat dipisahkan dari upaya perbaikan gizi secara menyeluruh.<br />
Ketidaktahuan tentang cara pemberian makanan bayi dan anak, dan adanya kebiasaan yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi pada anak, khususnya pada umur dibawah 2 tahun (baduta).</span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt 0.25in;"><span style="font-size:10pt;">Bertambah umur bayi bertambah pula kebutuhan gizinya. Ketika bayi memasuki usia 6 bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin dan mineral yang terkandung dalam ASI atau susu formula tidak lagi mencukupi. Sebab itu sejak usia 6 bulan, kepada bayi selain ASI mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) Agar kebutuhan gizi bayi/anak terpenuhi.Dalam pemberian MPASI perlu diperhatikan  waktu pemberian MP-ASI ,frekuensi porsi,  pemilihan bahan makanan,  cara pembuatan dan  cara pemberiannya. Disamping itu perlu pula diperhatikan pemberian makanan  pada waktu anak sakit dan bila ibu  bekerja di luar rumah.Pemberian  MP-ASI yang tepat diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang keterampilon makan dan merangsang rasa percaya diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt 0.25in;"><strong>Pengertian MP-ASI</strong><br />
•  Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya.<br />
•  MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbASIs susu menuju ke makanan yang semi padat.  Untuk  proses ini  juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap  menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang.<br />
•  Pengenalan dan pemberian  MP-ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak .<br />
•  Pemberian  MP-ASI yang cukup dalam hal kualitas dan kuantitas penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt 0.25in;"><span style="font-size:10pt;"><strong>Indikator bahwa bayi siap untuk menerima makanan padat :</strong><br />
•  Kemampuan bayi untuk mempertahankan kepalanya untuk tegak  tanpa disangga<br />
•  Menghilangnya refleks menjulurkan lidah<br />
•  Bayi mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan cara membuka mulut, lalu memajukan anggota tubuhnya ke depan untuk mrnunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau membuang muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan</p>
<p><strong>Permasalahan dalam pemberian MP-ASI</strong><br />
Dari hASIl beberapa penelitian menyatakan bahwa keadaan kurang gizi pada bayi dan anak disebabkan karena kebiasaan pemberian MP-ASI yang tidak tepat. Keadaan ini memerlukan penanganan tidak hanya dengan penyediaan pangan, tetapi dengan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat pendidikan dan kemampuan masyarakat. Selain itu ibu-ibu kurang menyadari bahwa setelah bayi berumur 6 bulan memerlukan MP-ASI dalam jumlah dan mutu yang semakin bertambah, sesuai dengan pertambahan umur bayi dan kemampuan alat cernanya.</p>
<p><strong>Beberapa permasalahan dalam pemberian makanan bayi/anak umur 0-24 bulan :</strong><br />
1.  Pemberian Makanan Pralaktal (Makanan sebelum ASI keluar)<br />
Makanan pralaktal adalah jenis makanan seperti air kelapa, air tajin, air teh, madu, pisang, yang diberikan pada bayi yang baru lahir sebelum ASI keluar. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan bayi, dan mengganggu keberhASIlan menyusui.</p>
<p>2.  Kolostrum dibuang<br />
Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama, kental dan berwarna kekuning-kuningan. MASIh banyak ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya. Kolostrum mengandung zat kekebalan yang dapat melindungi bayi dari penyakit dan mengandung zat gizi tinggi.  Oleh karena itu kolostrum jangan dibuang.</p>
<p>3.  Pemberian <strong>MP-ASI</strong> terlalu dini atau terlambat<br />
Pemberian MP-ASI yang terlalu dini (sebelum bayi berumur 6 bulan) menurunkan konsumsi ASI dan gangguan pencernaan/diare. Kalau pemberian MP-ASI terlambat bayi sudah lewat usia 6 bulan dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan anak.</p>
<p>4.  <strong>MP-ASI</strong> yang diberikan tidak cukup<br />
Pemberian MP-ASI pada periode umur 6-24 bulan sering tidak tepat dan tidak cukup baik kualitas maupun kuantitasnya. Adanya kepercayaan bahwa anak tidak boleh makan ikan dan kebiasaan tidak menggunakan santan atau minyak pada makanan anak, dapat menyebabkan anak menderita kurang gizi terutama energi dan protein serta beberapa vitamin penting yang larut dalam lemak.</p>
<p>5.  Pemberian <strong>MP-ASI</strong> sebelum <strong>ASI</strong><br />
Pada usia 6 bulan, pemberian ASI yang dilakukan  sesudah MP-ASI dapat menyebabkan ASI kurang dikonsumsi. Pada periode ini zat-zat yang diperlukan bayi terutama diperoleh dari ASI. Dengan memberikan MP-ASI terlebih dahulu berarti kemampuan bayi untuk mengkonsumsi ASI berkurang, yang berakibat menurunnya produksi ASI. Hal ini dapat berakibat anak menderita kurang gizi. Seharusnya ASI diberikan dahulu baru  MP-ASI.</p>
<p>6.  Frekuensi pemberian <strong>MP-ASI</strong> kurang<br />
Frekuensi pemberian MP-ASI dalam sehari kurang akan berakibat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi.</p>
<p>7.  Pemberian <strong>ASI</strong> terhenti karena ibu kembali bekerja<br />
Di daerah kota dan semi perkotaan, ada kecenderungan rendahnya frekuensi menyusui dan ASI dihentikan terlalu dini pada ibu-ibu yang bekerja karena kurangnya pemahaman tentang manajemen laktASI pada ibu bekerja. Hal ini menyebabkan konsumsi zat gizi rendah apalagi kalau pemberian MP-ASI pada anak kurang diperhatikan.</p>
<p>8.  Kebersihan kurang<br />
Pada umumnya ibu kurang menjaga kebersihan terutama pada saat menyediakan dan memberikan makanan pada anak. MASIh banyak ibu yang menyuapi anak dengan tangan, menyimpan makanan matang tanpa tutup makanan/tudung saji dan kurang mengamati perilaku kebersihan dari pengasuh anaknya.  Hal ini memungkinkan timbulnya penyakit infeksi seperti diare (mencret) dan lain-lain.</p>
<p>9.  Prioritas gizi yang  salah pada keluarga<br />
Banyak keluarga yang memprioritaskan makanan untuk anggota keluarga yang lebih besar, seperti ayah atau kakak tertua dibandingkan untuk anak baduta dan bila makan bersama-sama anak baduta selalu kalah.</p>
<p>dr. Ariani, Blog <a href="http://parentingislami.wordpresss.com">Parenting Islami</a><br />
<a href="http://parentingislami.wordpresss.com">http://parentingislami.wordpresss.com</a></p>
<p>Sumber :<br />
1.  Departemen <a href="http://parentingislami.wordpress.com/category/kesehatan/">Kesehatan</a>.  Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI.  Jakarta : 2000<br />
2.  Dr.dr. Hananto Wiryo,SpA.  Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu Hamil dan menyusui dengan Makanan Lokal.Sagung Seto. Jakarta :2002</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MAKALAH KESEHATAN TENTANG ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KEGANASAN TBC]]></title>
<link>http://xipemai.wordpress.com/2008/05/17/makalah-kesehatan-tentang-asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-keganasan-tbc/</link>
<pubDate>Sat, 17 May 2008 01:16:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>xipemai</dc:creator>
<guid>http://xipemai.wordpress.com/2008/05/17/makalah-kesehatan-tentang-asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan-keganasan-tbc/</guid>
<description><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TBC
1. DefinisiPenyakit infeksi yang desbabkan oleh mikroba cterium tube]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TBC</p>
<p>1. Definisi<br />Penyakit infeksi yang desbabkan oleh mikroba cterium tuberculosis, yang dibentuk nodul yang khas yakni tuberkel dan mynyerang ke seluruh organ tubuh t.u paru-paru<br />Lain-lainnya  : Limpatik, pleura, genitourinary, tulang sendi, meningeal, peritoneal.<br />2. Etologi<br />- Mycrobacterium Tuberculosis<br />3. Patofisiologi<br />- Kuman masuk melalui saluran napas saluran cerna, luka membuka pada kulit, paling sering melalui udara ( airbone )  yakni melalui inhalasi droplet yang mengandung basiul tuberkel dari orang yang terinfeksi .<br />- Basil tuberkel  mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sabagai suatu unit yang tdd 1 – 3 basil.<br />Gumpalan basil  besar tertahan di hidung dan cab. Besar bronchus  yang menyebabkan penyakit.<br />- Setelah berada dalam ruang alveolus biasanya dibagaia bawah lobus atas paru-paru atau bagia atas lobus bawah membangkitkan peradangan<br />- Baksil tuberkel tetap didalam paru-paru dalam bentuk dorman, berdinding  fase istirahat lesi perkapuran ( ghon lesion / tuberkel ghon )<br />- Bila mengalami stress fisik / emosi, baksil mulai aktif dan banultiplikasi  imun  <br />TBL aktif.<br />- PMN tampak pada daerah tersebut t dan memfagosit bakteri tapi tidak membunuh organisme tersebut  setelah beberapa hari pertama leukosit diganti makrufag  alveoli konsolidasi.
<div class="fullpost">4. Manifestsi Klinis :<br />1. Demam<br />- Subfebril bisa sampai 40 – 41o  C  tergantung daya tahan tubuh infeksi<br />2. Batuk<br />- Iritasi pda bronkus<br />- Membuang produk radang<br />- Kering  produktif ( peradangan / tidak diobati )<br />- Hemopteo  pembuluh daran yang pecah.<br />3. Sesak napas<br />- pada keadaan lanjut<br />- infiltrasi sudah setengah bagian paru.<br />4. Nyeri dada<br />- jarang ditemukan<br />- jika timbul infiltrasi radang  pleura<br />5. Malaise<br />Gejala malaise ditemukan berupa : anorextra, bB  sakit kepala, meriang nyeri otot keringat malam hari<br />Komplikasi<br />1. Hemoptitis berat<br />2. Kolaps lobus retaksi brinkial<br />3. Bronkhiektasi dan fibrosis fau<br />4. Pneumotorak spontan : kolups spontan kerusakan jaringan paru-paru.<br />5. penyebaran infeksi ex. Otak, tulang , persendian, ginjal  dll.</p>
<p></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membentuk Anak Cerdas Sejak Kehamilan (part 2 - tamat)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=66</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 02:26:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=66</guid>
<description><![CDATA[sambungan dari tulisan sebelumnya&#8230;
dr. ariani,   http://parentingislami.wordpress.com
Manajer ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>sambungan dari <a href="http://parentingislami.wordpress.com/2008/05/06/membentuk-anak-cerdas-sejak-kehamilan-part-1/">tulisan sebelumnya</a>...<br />
dr. ariani,   <a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a><br />
Manajer pelatihan WISE (Women’s Initiative and Society Empowerment)</p>
<p><strong>Vitamin dan Mineral<br />
Vitamin A</strong><br />
Dalam jumlah optimal  diperlukan untuk pertumbuhan janin.Namun asupan vitamin total tidak boleh melebihi 2.565 IU (Internasional Unit) kecuali dalam bentuk pro-vitamin A.</p>
<p><strong>Vitamin B kompleks</strong><br />
Vitamin B1 dan B2 sertta niasin  diperlukan  dalam proses metabolisme tubuh. Vitamin B6 berguna untuk mengatur penggunaan protein oleh tubuh. Vitamin B12 untuk menjaga agar sel-sel berfungsi normal, khususnya sel-sel saluran pencernaan , sistem urat saraf dan sumsum tulang.Dosis yang dianjurkan 2,2 mikrogram. Banyak terdapat pada hasil tempe dan olahannya seperti tauco, kecap, oncom.</p>
<p><!--more--><br />
<strong>Vitamin C</strong><br />
Dosis yang dianjurkan  50 miligram. Berperan penting dalam  penyerapan zat besi selama hamil untuk mencegah anemia. Selain itu merupakan pembentuk kolagen interseluler, yakni senyawa protein  yang antara lain banyak terdapat dalam tulang rawan dan kulit bagian dalam tulang rawan. Vitamin ini juga berperan dalam proses penyembuhan infeksi dan luka, selain meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan stres.<br />
Sumber : sayuran dan buah-buahan segar, seperti jeruk, pepaya, kiwi, tomat,paprika, serta sayuran berwarna hijau seperti bayam, brokoli dan kol.</p>
<p><strong>Vitamin D</strong><br />
Dosis yang dianjurkan 10 mikrogram atau 400 IU untuk membantu penyerapan kalsium  yang penting dalam pembentukan tulang dan gigi janin. Juga membantu metabolisme fosfor.<br />
Makanan   kaya vitamin ini adalah ikan berlemak seperti sarden, makarel, tuna dan salmon, minyak ikan, telur, susu dan mentega.</p>
<p><strong>Vitamin E</strong><br />
Diperlukan untuk pembentukan sel-sel darah merah serta melindungi lemakdari kerusakan.</p>
<p><strong>Asam folat</strong><br />
Dosis yang dinjurkan 800 mikrogram per hari, khususnya selama 12 minggu pertama. Penting untuk pertumbuhan susunan saraf pusat dan sel darah. Mengurangi  risiko kelainan susunan saraf pusat (spina bifida) dan otak janin.Makanan yang kaya akan asam folat adalah sayuran berwarna hijau gelap (misalnya bayam dan brokoli), buah-buahan segar (misalnya pisang dan jeruk), asparagus, bit merah, kedelai dan sereal.<br />
Asam folat dalam buah-buahan dan sayuran segar mudah rusak akibat proses pemanasan dan pemasakan. karena itu lebih baik dikonsumsi dalam keadaan segar.</p>
<p><strong>DHA</strong><br />
DHA termasuk dalam golongan asam lemak tidak jenuh rantai panjang yang esensial tapi tidak dapat disintesa dalam tubuh dan harus diperoleh dari makanan.<br />
Fungsi DHA adalah membantu mengoptimalkan pertumbuhan otak dan pertumbuhan retina mata.Keberadaannya sangat diperlukan pada masa pertumbuhan otak seseorang, yaitu sejak masa janin hingga usia 2 tahun setelah kelahiran.<br />
Dosis yang dianjurkan 300 mg/hr. Sumber DHA diantaranya ikan salmon, tuna, susu formula yang mengandung DHA.</p>
<p><strong>ZAT besi dan seng</strong><br />
Pada ibu hamil akan terjadi peningkatan volume darah, sehingga pasokan zat besi sangat diperlukan untuk mencegah anemia.</p>
<p><strong>Serat</strong><br />
Membantu kerja sistem eksresi sehingga mudah buang air besar. Banyak terdapat pada buah dan sayuran.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong><br />
1.	Gizi-net. 10 Februari 2004<br />
2.	Parents Guide. Vol V No 6 Maret 2007</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membentuk Anak Cerdas Sejak Kehamilan (part 1)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=65</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 01:19:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=65</guid>
<description><![CDATA[Membentuk Anak Cerdas Sejak Kehamilan
dr. Ariani,   http://parentingislami.wordpress.com
Manajer p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Membentuk Anak Cerdas Sejak Kehamilan</strong></p>
<p>dr. Ariani,   <a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a><br />
Manajer pelatihan WISE (Women’s Initiative and Society Empowerment)</p>
<p>Kecerdasan anak dipengaruhi keadaan gizinya sejak dalam kandungan. Oleh karena itu  ibu penting bagi seorang calon ibu/ibu untuk betul soal gizi yang terbaik untuk dirinya maupun buah hatinya sehingga dapat optimal membentuk anak yang sehat dan cerdas. Insya Allah</p>
<p><strong>Tingkat Kecerdasan </strong><br />
Kecerdasan adalah suatu kemampuan mental yang dibawa oleh individu sejak lahir, untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru serta memecahkan permasalahan-permasalahan secara cepat dan tepat.</p>
<p>Tingkat kecerdasan anak sangat ditentukan oleh keadaan otak dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: sifat genetis, lingkungan (fasilitas, sosial-ekonomi keluarga), motivasi dan status gizinya. Kepandaian seseorang secara kualitatif dapat diukur dengan alat electro-encephalogram (EEG), alat positron-emission tomography (PET) dan tes IQ.</p>
<p>Alat EEG dapat menangkap dan mencatat gelombang arus yang dipancarkan oleh otak. Sedangkan alat PET, mencatat reaksi otak terhadap suatu permasalahan. Otak yang cerdas, hanya memerlukan sedikit reaksi untuk memecahkan masalah. Sedangkan yang kurang cerdas, tampak akan mengerahkan hampir semua bagian otaknya untuk menjawab permasalahan yang sama.</p>
<p>Tes IQ sejak lama telah dipakai. Tes ini sebagai salah satu cara untuk menduga tingkat kecerdasan seseorang. Orang-orang yang terkenal, terbukti memiliki IQ yang tinggi.</p>
<p>Menurut Tirtonegoro (1984), tingkat kecerdasan seseorang menyebar secara normal mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu: 1 persen cacat berat/idiot (IQ 0 - 25), 2 persen cacat agak berat/imbesil (IQ 25 - 50), 20 - 25 persen cacat ringan /debil (IQ 50 - 75) dan lamban belajar (IQ 75 - 85), 50 - 55 persen rata-rata/normal (IQ 90 - 110), 20 - 25 persen superior (IQ 110 - 125), 2 persen sangat superior/gifted (IQ 125 - 140), dan 1 persen genius (IQ 140 - 200).<br />
<!--more--><br />
Perkembangan otak manusia dimulai sejak ia masih berupa janin di dalam kandungan. Oleh karena itu para ibu hamil dituntut untuk senantiasa menciptakan status gizi yang baik dan perawatan yang memadai, agar bayi yang kelak dilahirkan mengalami proses tumbuh kembang yang optimum.</p>
<p><strong>Kekurangan Energi </strong><br />
Keadaan gizi ibu-ibu hamil sangat erat hubungannya dengan berat badan bayi yang akan dilahirkan. Ibu-ibu hamil adalah salah satu kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah-masalah gizi, terutama masalah kekurangan energi dan protein (KEP). Bayi yang dilahirkan oleh para ibu dengan kondisi KEP, akan mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu kurang dari 2,5 kg.</p>
<p>Kondisi BBLR akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan anak selanjutnya. Selain kekurangan gizi, bayi yang baru lahir tersebut juga akan mengalami kemunduran perkembangan otak. Hal ini akan berakibat terjadinya penurunan kemam-puan belajar dan kemampuan akademik pada usia yang lebih lanjut. Selain itu, bayi BBLR mempunyai kemungkinan meninggal sebelum usia satu tahun, 17 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang dilahirkan dengan berat badan normal.</p>
<p>Ibu-ibu hamil yang cukup gizi akan mengalami pertambahan berat badan rata-rata sebesar 12,5 kg selama 9 bulan kehamilannya dan akan melahirkan bayi dengan berat badan rata-rata 3,3 kg. Untuk mencapai kondisi tersebut, ibu hamil harus cukup mengonsumsi bahan-bahan makanan sumber energi, protein, vitamin dan mineral.</p>
<p><strong>Kalori</strong><br />
Dibutuhkan untuk perubahan tubuh, meliputi pembentukan sel-sel baru, pengaliran makanan daripebuluh darah janin melalui plasenta, dan pembentukan enzim serta hormon yang mengatur pertumbuhan janin</p>
<p>Rata-rata tambahan energi yang diperlukan selama masa kehamilan, adalah 80.000 kilokalori. Jumlah tersebut terbagi atas 150 kilokalori per hari selama trimester  pertama (tiga bulan) pertama, 350 kilokalori per hari selama trimester kedua dan ketiga masa kehamilan.</p>
<p><strong>Protein</strong><br />
Tambahan protein yang diperlukan untuk mencapai keadaan normal tersebut adalah 925 gram, yaitu rata-rata 3,3 gram per hari selama masa kehamilannya. Tambahan protein yang diperlukan selama trimester pertama, kedua dan ketiga masing-masing 1,2; 6,1 dan 10,7 gram per hari.</p>
<p><em>bersambung...</em></p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong><br />
1.	Gizi-net. 10 Februari 2004<br />
2.	Parents Guide. Vol V No 6 Maret 2007</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cacar Air pada Anak]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=58</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 14:31:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=58</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Anak-anak terkena cacar air ?&#8221; tentu kita sering melihatnya. Bahkan kita mungkin juga p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>"Anak-anak terkena cacar air ?"</strong> tentu kita sering melihatnya. Bahkan kita mungkin juga pernah mengalaminya sendiri. <strong>Cacar air</strong> kita tentu familiar namun <strong>varisela</strong>, <strong>chicken pox</strong>,atau <strong>varicella zooster</strong> ? kita terkadang asing dengan istilah-istilah itu padahal nama-nama tadi punya penyebab yang sama dengan cacar air yang kita kenal. Tentu banyak pertanyaan yang kadang ingin kita tanyakan saat anak-anak kita atau kita sendiri terkena penyakit ini. Seperti apa bisa terkena penyakit ini lagi walau pernah kena, atau adakah imunisasinya dll".....dll</p>
<p><strong>Varisela</strong> berasal dari bahasa Latin, <strong>varicella</strong>. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama <strong>chicken-pox</strong>.</p>
<li>Varisela adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus <strong>Varicella zoster</strong>, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit.</li>
<li>Pada umumnya menyerang anak-anak, tapi dapat juga terjadi pada orang dewasa yang belum pernah terkena sebelumnya</li>
<li>Banyak menyerang anak usia sekolah dasar (antara 5-9 tahun). Penularan memang cukup sering terjadi antar teman sekolah</li>
<li>Bersifat sangat menular dengan masa penularan antara 1 hari sebelum timbul ruam sampai 7 hari setelah munculnya gejala</li>
<li>Penularan dapat terjadi melalui: Kontak langsung dan Percikan ludah (droplet infection)</li>
<p>Masa inkubasi (masa sejak terpapar oleh virus sampai timbulnya gejala pertama) biasanya berkisar antara 2-3 minggu. "Cacar air dapat dicegah dengan pemberian zoster imun globulin (ZIG), yang didapat dari serum pasien yang mengalami penyembuhan dari herpes zoster, atau dengan varicella - zoster imun globulin (VZIG), yang diperoleh dari pool plasma yang mengandung titer antibodi spesifik yang tinggi. Bagi orang sehat, untuk pencegahan bisa dilakukan imunisasi dengan vaksin varisela zoster (Okastrain). Pada anak sehat usia 1 - 12 tahun diberikan satu kali, satu kali lagi diberikan pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60 - 80%. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, diberikan sekali saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa betahan sampai 10 tahun.</p>
<p>Secara umum, seluruh jenis penyakir herpes dapat menular melalui kontak langsung. Luka akibat infeksi yang terbuka akan mudah menularkan virus ke bagian tubuh lain atau ke orang lain kalau terjadi persentuhan.<br />
<!--more-->Khusus varisela zoster juga dapat ditularkan melalui udara, walau daya tularnya tidak sebesar cacar air. Jika seseorang tertular dan sebelumnya belum pernah sakit cacar air, ia akan terkena cacar air dulu dan tidak langsung <strong>herpes zoster</strong>. Gejalanya juga tidak sehebat herpes zoster.</p>
<p>Persoalannya, tidak semua orang tahu apakah dirinya pernah menderita cacar air atau belum. Chicken pox (cacar air), terutama pada anak kecil, memang tidak selalu menimbulkan ruam di kulit sehingga terkadang tak disadari. Gejalanya mirip demam biasa yang beberapa hari kemudian sembuh sendiri. Namun, di saat ia dewasa, virusnya tiba-tiba langsung menyerang sebagai herpes zoster dengan gejala lebih berat.</p>
<p>Lokasi munculnya gelembung di kulit sebenarnya mengikuti area persarafan yang selama itu menjadi tempat varisela zoster mendekam. Maka lokasinya juga sama dengan lokasi serangan ketika cacar air dulu. Serangan bisa terjadi pada satu atau beberapa area persarafan sekaligus. Inilah yang menyebabkan serangannya bisa meluas ke beberapa bagian tubuh, termasuk ke bagian kepala. Namun,, kebanyakan hanya menyerang area persarafan di sekitar dada.</p>
<p>Mengingat umumnya muncul di satu sisi tubuh, ada mitos menyatakan, jika serangan sampai terjadi di dua sisi, penderita sudah mendekati pintu surga. Jangan takut, ini cuma mitos. Namun bisa diartikan juga, jika herpes zoster sudah menyerang beberapa area persarafan, penyakitnya memang tergolong parah. Apalagi jika usia penderita masih tergolong muda.</p>
<p>Virus Varicella zoster juga menginfeksi sel satelit di sekitar neuron pada ganglion akar dorsal sumsum tulang belakang. Dari sini virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk herpes zoster.<br />
Cepatnya penanganan herpes zoster penting agar tidak menimbulkan gejala sisa, yang disebut nyeri pascaherpes atau postherpetic neuralgia.</p>
<p>Penyakit ini merupakan episode lanjutan dari herpes zoster yang diusahakan jangan sampai terjadi. Sebab, penderitaannya hebat dan bisa bertahun-tahun.</p>
<p>Terjadinya nyeri pascaherpes disebabkan lambatnya pengobatan saat varisela zoster bikin ulah. Akibatnya, virus sempat merusak atau terjadi disfungsi sementara jaringan saraf di sekitarnya. Jika gejala ini terlanjur terjadi, kulit yang terkena sentuhan sedikit saja bisa menimbulkan nyeri. Atau, kadang saraf memancarkan sinyal nyeri terus-menerus. Sekitar 75% penderita nyeri ini mengaku, rasanya seperti terbakar.</p>
<p>Faktor usia sangat menentukan kerentanan serangan nyeri pascaherpes. Semakin tua seseorang saat terkena herpes zoster, semakin besar kemungkinannya menderita nyeri. Jumlah mantan penderita herpes zoster yang berlanjut ke nyeri pascaherpes kira-kira 10 - 15% populasi. Di atas 50 tahun kemungkinannya menjadi 40%, di atas 60 tahun jadi 50%, dan di atas 80 tahun menjadi 80% dari populasi.</p>
<p>Situs internet StopPain.Org memuat penelitian mutakhir yangmenunjukkan, kaum lanjut usia dengan gangguan saraf akibat penuaan atau diabetes (neuropati) lebih mudah terkena nyeri pasca herpes. Menariknya, kebanyakan penderita diabetes dengan neuropati tidak akan menyadari kondisi sarafnya itu sebelum terkena herpes zoster.</p>
<p>Penderita herpes zoster berusia muda yang terkena serangan parah, misalnya sampai ke mata, semakin besar kemungkinannya terkena nyeri pascaherpes. Pada serangan yang sampai menuju ke mata ini, biasanya disarankan untuk berobat juga ke dokter mata, agar kerusakan saraf di sekitarnya dapat dicegah. Kerusakan saraf yang disebabkan herpes zoster sangat sulit dipulihkan - jika tidak bisa dibilang tidak akan bisa sembuh.Setiap pasien juga punya pengobatan sendiri yang berbeda tergantung kecocokannya. Untuk kasus seperti ini, dokter spesialis kulit tidak bekerja sendirian lagi. Ahli lain juga dilibatkan seperti ahli saraf, rehabilitasi medik, bahkan psikiatri. Psikiatri dilibatkan, karena derita nyeri berlebihan bisa mengakibatkan depresi</p>
<p>dr. Kharisma Perdani,  Blog <a href="http://parentingislami.wordpress.com">Parenting Islami</a><br />
<a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a></p>
<p>dari : beberapa sumber</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengelola Kelas PAUD yang Sehat (part 4 - tamat)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=34</link>
<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 07:44:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=34</guid>
<description><![CDATA[Penyakit yang perlu diwaspadai jika terjangkit pada anak, diantaranya adalah:
1. AIDS
AIDS adalah pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit yang perlu diwaspadai jika terjangkit pada anak, diantaranya adalah:</p>
<p><strong>1. AIDS</strong></p>
<p>AIDS adalah penyakit berbahaya yang disebabkan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Membiarkannya bisa mengakibatkan infeksi. Jumlah Anak yang terkena AIDS dari ibunya semakin meningkat. Mungkin pendidik tidak tahu ada anak di kelas yang terkena AIDS atau HIV. Anak mungkin tidak sadar mengidap penyakit tersebut. Karena banyak diskriminasi terhadap pengidap penyakit ini, banyak pemerintah yang melarang orang tua memberitahu pihak sekolah.</p>
<p>AIDS tidak menular melalui sentuhan kulit, gigitan, pelukan, ciuman atau berbagi kamar mandi atau air minum. Hal yang harus diperhatikan sekolah adalah jika ada anak yang mengidap HIV positif tertular penyakit dari anak lain yang akan berbahaya baginya. Anak penginap AIDS kesehatan fisiknya sangat lemah (Deiner, 1993. hal 224). Diskusikan dengan orang tua seberaba besar anda dapat membantu seperti anda akan melakukannya terhadap anak yang memiliki keterbatasan fisik.</p>
<p><strong>2. Alergi dan Asma</strong></p>
<p>Alergi adalah sensitifitas seseorang terhadap zat tertentu. Alergi merupakan penyakit yang paling sering diderita anak prasekolah, sekitar satu pertiga dari penyakit yang sering diderita anak prasekolah. Serbuk sari bunga, debu dan hewan bisa mengakibatkan alergi dengan gejala mirip flu. Jika anak menderita gejala tersebut, meskipun berhubungan dengan cuaca, hubungi keluarga dan tanyakan apakah anak memiliki alergi atau tidak (Deiner, 1993, hal.225). Dalam hal ini, kelas harus sering di sapu dan dibersihkan sehingga bebas dari debu. AC dan pemanas ruangan harus sering dibersihkan atau diganti.</p>
<p>Makanan umumnya bisa juga menjadi sumber alergi. Hampir 90% makanan penyebab alergi adalah makanan yang berasal dari kacang-kacangan, cokelat, buah masam, sereal dan produk berlemak, ikan, kerang-kerangan, susu, telur, minuman cola, beri, tomat, kayu manis, dan makanan berwarna (Deiner 1993). Jika anak bereaksi alergi setelah memakan makanan tersebut, hubungi orang tua atau ahli kesehatan.</p>
<p>Gigitan serangga juga bisa menjadi masalah serius untuk beberapa alergi pada anak-anak dan bisa menjadi fatal. Berkeringat dan panas di sekitar wajah dan leher diikuti susah bernafas harus direspon dengan cepat. Tanaman liar bisa menjadi tempat hidup lebah dan nyamuk yang menyebabkan masalah alergi pada anak. Pendidik harus memastikan reaksi apa yang biasanya di alami anak, apa yang bisa dilakukan dan apa efek samping dari obat yang diberikan (Deiner, 1993). Anak-anak terkadang memegang ulat berbulu yang bisa menyebabkan reaksi pada kulit seperti gatal atau ruam.</p>
<p>Asma diderita sekitar 2% dari jumlah populasi di Amerika dan awalnya sering pada anak usia dini, dengan prosentasi anak laki-laki lebih besar dua kali lipat dari anak perempuan. Asma disebabkan kerusakan tube brachial kecil yang menyebabkan susah bernafas, batuk, nafas terengah dan tercekik. Alergi adalah penyebab terbesar meskipun terlalu lelah juga dapat menyebabkan serangan. Asma lebih sering terjadi di pagi hari tanpa di duga yang mengakibatkan kepanikan anak dan orang di sekitarnya. Pendidik harus mengetahui bagaimana menolong anak menggunakan obat dari dokter atau inhaler dan pada saat tersebut disarankan anak duduk, tidak berbaring (Deiner, 1993).</p>
<p>Memainkan drama dramatis dapat menolong anak yang memiliki alergi atau asma untuk mengelola rasa takut mereka seperti halnya dengan anak yang takut pada dokter dan tembakan. Kelas bisa di set sebagai ruang gawat darurat misalnya dengan meja periksa palsu, mesin rongent, dan alat pernafasan. Anak memakai masker pura-puranya supaya tidak tertular (Goldberg, 1994). Guru bisa mengundang petugas medis untuk berbicara pada anak-anak. Permainan seperti itu diperlukan anak-anak yang bisa menolong mengatasi kekhawatiran mereka. Terluka, kecelakaan, dan orang jahat merupakan hal yang mengkhawatirkan bagi anak (Goldberg, 1994. hal. 35)</p>
<p><strong>3. Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)</strong></p>
<p>Meskipun bukan penyakit, ADHD merupakan ketidaknormalan yang bisa diderita 3% sampai 5% anak. Anak dengan ADHD biasanya sangat aktif, kurang memperhatikan, tidak dapat berkonsentrasi lama dalam mengerjakan tugas, dan impulsif ketika memberikan respon terhadap kejadian dan orang. Gejala ini pun sering diderita anak laki-laki dari pada perempuan (Landau &#38; McAnich, 1993, hal 49).</p>
<p>Anak dengan kekurangan konsentrasi ini sulit untuk bisa diam di sekolah, sulit berbagi, menunggu sesuatu atau bekerjasama dengan orang lain. Mereka menunjukan gerakan dan vokalisasi yang ekstentif serta bisa berkelahi dan sangat pembangkang. Mengkonsumsi gula bukanlah sebagai penyebab kelainan ini sperti yang diperkirakan sebelumnya, bukan juga karena aktifitas menangis anak. (Landau &#38; McAnich, 1993, hal 49).</p>
<p>Karena aktivitasnya yang berlebihan, respon yang impulsif dan ketidakmampuan memperhatikan juga merupakan hal yang biasa pada anak pra sekolah. Guru dan orang tua memerlukan ahli untuk mendiagnosa kelainan ini. Untuk beberapa anak, lingkungan yang sangat terstruktur juga bisa menyebabkan anak berprilaku hiperaktif. Biasanya anak berprilaku hiperaktif ketika usia pra sekolah.</p>
<p>Respon terbaik yang harus diberikan terhadap anak yang hiperaktif adalah menerima mereka sebagaimana adanya dan memperlihatkan penerimaan anda, mengatur prilaku mereka yang berlebih dalam keadaan yang terkendali dan menghargai mereka bahkan dalam hal kecil. Mereka sering tidak diterima teman sebaya yang bisa mengakibatkan rendahnya rasa percaya diri. Hargai usaha mereka dan ciptakan lingkungan yang bisa membuat mereka bebas bergerak dengan banyak aktivitas sehingga mereka bisa memilih yang mereka sukai.</p>
<p>Sangat penting untuk berdiskusi setiap hari dengan orang tua tentang bagaimana prilaku anak di rumah dan apa yang paling baik dilakukan di sekolah. Untuk beberapa anak dengan keterbatasan konsentrasi ini, lebih baik dimasukan dalam lingkungan sekolah yang tidak terlalu besar.</p>
<p><strong>4. Pelecehan Anak</strong></p>
<p>Anak yang dilecehkan adalah anak yang orang tuanya atau pengasuhnya memperlakukan tidak baik, diterlantarkan, atau secara sengaja disakiti. Sebagai guru, kita memiliki tanggung jawab untuk melaporkan kasus pelecehan anak. Pelecehan anak ini bisa secara fisik, emosional, verbal dan sexual sepertihalnya penelantaran secara fisik dan emosional. Pelecehan fisik biasanya lebih mudah di disadari karena dapat di lihat, tapi memungkinkan juga bagi guru untuk mengidentifikasi bentuk pelecehan lainnya.</p>
<p>Anak yang menderita pelecehan seksual dapat menderita luka yang berulang dan tidak di duga. Seperti luka bakar, memar, bilur atau tercabut rambut. Mereka mengeluh perlakuan kasar atau menjadi takut terhadap orang dewasa, termasuk orang tua. Terkadang mereka terlihat kurang gizi atau dehidrasi. Mereka menjadi menarik diri dari lingkungannya atau terkadang menjadi pengganggu. Anak yang terlantar secara fisik akan terlihat tidak bersih, bau badannya tidak enak atau memakai sepatu dan pakaian dengan ukuran salah. Meraka mungkin terancam penyakit. Mereka mungkin kelaparan atau lelah dan banyak menghabiskan waktu sendiri.</p>
<p>Anak yang terlecehkan atau terlantar secara emosional lebih sulit untuk diidentifikasi, tapi pada umumnya mereka tidak bahagia dan jarang tersenyum. Terkadang mereke menarik diri dari lingkungannya atau menjadi pembangkang. Sering mereka bereaksi tanpa emosi terhadap perkataan dan situasi yang tidak enak. Mereka terlihat apatis dan jarang berpartisipasi dalam aktivitas kelas.</p>
<p>Anak yang mendapatkan pelecehan sexual, pakaian dalamnya terkoyak atau ternoda. Mereka mengeluh rasa sakit atau gatal di daerah kemaluan atau kesulitan buang air kecil. Mereka juga jadi menarik diri atau bermasalah bergaul dengan anak orang lain.</p>
<p>Anak-anak tersebut membutuhkan pertolongan dalam dua hal. Pertama guru harus menerima mereka dan memperlakukan mereka sebagai anak yang berharga dan biarkan mereka mengetahuinya. Mereka memerlukan pengalaman kesuksesan dan bangga akan hal itu. Pada saat yang bersamaan, pelecehan harus dihentikan.</p>
<p>Hukum yang berlaku di Amerika Serikat memperbolehkan pembimbing anak melaporkan kasus pelecehan. Sebagian besar pemerintahan negara bagian AS menyediakan layanan Hot line 24 jam . Laporan telepon harus diikuti laporan tertulis dalam tenggak waktu 24 jam. Kemudian petugas akan mengontak Departemen Layanan Sosial setempat yang akan mengirim petugas untuk melakukan investigasi dan mengambil tindakan dengan keluarga yang terkait.<br />
Jika guru mencurigai bahwa seorang anak menjadi korban pelecehan atau penelantaran, guru harus menghubungi atasannya atau ahli kesehatan untuk memeriksa keadaan. Guru juga harus mempertimbangkan kebijakan sekolah ketika melaporkan pelecehan anak. Jika tidak mengetahuinya, minta program layanan untuk menjabarkan berbagai kebijakan mengenai pelecehan dan penelantaran.</p>
<p><strong>5. Infeksi Pendengaran</strong></p>
<p>Infeksi telinga merupakan penyakit urutan kedua yang paling sering diderita anak. Penting bagi guru untuk mengetahui penyakit ini karena anak dengan infeksi telinga memiliki cairan dalam bagian tengah telinganya yang dapat menyebabkan tidak bisa mendengar selama seminggu atau kadang sebulan. Ketika hal tersebut terjadi lebih lama, anak dapat mengalami kesulitan belajar bahasa dan tidak bisa berkonsentrasi.</p>
<p>Guru dapat menolong mengurangi infeksi telinga dengan mencegah tersebarnya flu di kelas karena flu bisa menyebabkan infeksi telinga. Bantu anak yang menderita flu untuk menutup hidung dan mulut mereka ketika mereka batuk dan pastikan dia, anda dan semua anak mencuci tangan setelah menggunakan tisu. Bersihkan juga mainan, keran air atau alat lain yang biasa dipegang anak. Jika ada anak yang mengalami gangguan pendengaran, hubungi keluarga dan sarankan mereka untuk memeriksa telinga anak. Infeksi telinga biasanya diobati dengan antibiotik, tapi untuk infeksi permanen telinga anak juga biasanya dikeringkan dengan pipa.</p>
<p>Lingkungan kelas dapat juga membantu pendengaran anak jika guru berbicara dengan kata-kata yang mudah di tangkap anak. Karpet di lantai, gorden jendela dan hiasan dinding di tembok dapat menyerap suara. Lebih baik anak-anak memakai headset ketika mendengar musik dari pada menyetel musik di kelas. Memberi aktivitas kelompok kecil dari pada aktifitas kelas. Berdiri atau duduk dekat dengan anak ketika berbicara dan membuat kontak mata dengan mereka sehingga mereka bisa melihat gerakan bibir anda. Anak-anak dengan tipe penyakit pendengaran lainnya dapat terbantu jika orang yang berada disekitar bicaranya mudah di dengar.</p>
<p><strong>6. Cacat Fisik dan Mental</strong></p>
<p>Semakin banyak sekolah khusus untuk anak dengan keterbatasan fisik disatukan menjadi sekolah biasa. Anak dengan kawat gigi dan kursi roda, anak yang cacat, dan anak yang memiliki keterbelakangan mental, perkembangannya akan maksimal dalam program inklusi. Penelitian telah menemukan bahwa:<br />
Anak dengan keterbatasan fisik dapat bermain dengan lebih baik pada kelas inklusif dengan anak normal daripada di kelas yang seragam. (Diamond, Hestenes &#38; O’Corner, 1994 hal. 69)</p>
<p>Sedangkan anak yang tidak cacat tetap dapat berkembang baik. Mereka akan lebih menerima perbedaan, lebih nyaman bergaul dengan anak yang memiliki keterbatasan dan secara umum lebih penolong dengan sesamanya.</p>
<p>Bagaimana dengan masalah kebutuhan pemeriharaan kesehatan? Sebagai pendidik di kelas yang melibatkan anak berkebutuhan khusus, harus faham dengan kebutuhan khusus seperti obat-obatan atau diet khusus. Mereka mungkin akan lebih mudah sakit dari pada anak yang lain atau proses penyembuhan yang lebih atau memerlukan istirahat yang banyak. Dokter dan orang tua dapat membantu guru menentukan peralatan kesehatan lain yang diperlukan.</p>
<p>Di Amerika Serikat terdapat peraturan pemerintah yang mengatur bahwa guru, para ahli kesehatan dan kebutuhan khusus menyusun Layanan Perencanaan Keluarga (Family Service Plan) untuk memasyarakatkan perkembangan anak berkebutuhan khusus. Sangat penting berhubungan baik dengan orang tua sehingga pendidik tahu harapan mereka. Supaya anak berkebutuhan khusus bisa bergerak bebas di kelas, maka pendidik sebaiknya menyusun ulang furniture, jalan atau menyususn kegiatan yang bisa diikuti.<br />
Dapatkah anak lain menerima temannya yang berkebutuhan khusus? Jika pendidik memperlakukan anak sama, maka anak pun akan mencontoh prilaku tersebut.  Atau dengan cara menyediakan buku bacaan bergambar dengan tokoh utama anak berkebutuhan khusus.</p>
<p>[Endah,  http://parentingislami.wordpress.com]</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong><br />
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey:  Pretice Hall<br />
Decker, Celia A &#38; Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril<br />
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html<br />
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall<br />
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS<br />
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow<br />
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya<br />
http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masalah Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini serta Pengaruhnya terhadap Tumbuh Kembang Anak]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=26</link>
<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 01:58:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=26</guid>
<description><![CDATA[Janice J. Beauty dalam bukunya yang berjudul Skills for Preschool Teachers menjabarkan tentang bagai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Janice J. Beauty dalam bukunya yang berjudul Skills for Preschool Teachers menjabarkan tentang bagaimana mengelola kelas yang sehat sebagai salah satu keahlian yang harus dimiliki pendidik <a href="http://parentingislami.wordpress.com/category/paud/">Anak Usia Dini</a>. Selain menjaga kesehatan lingkungan, kelas yang sehat berhubungan juga dengan menjaga kesehatan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak. Kesehatan dan gizi merupakan aspek yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Dalam penelitian yang dilakukan Ernesto Pollitt dkk (1993) menyatakan bahwa pemberian makanan yang sehat dan protein, akan mempengaruhi perkembangan kognitif selanjutnya. Selain itu, apa yang anak makan juga ikut mempengaruhi irama pertumbuhan, ukuran badan dan ketahanan terhadap penyakit (Brom dkk, 2005 dalam Santrock, 2007)</p>
<p>Janice J Beaty pun menerangkan bahwa mengelola kelas yang sehat berhubungan dengan bagaimana membuat progam pembelajaran yang meliputi kegiatan olah raga, latihan, mencuci tangan pengenalan gizi yang sehat dan pemeriksaan kesehatan. Selain itu hal yang tidak kalah pentingnya adalah memahami berbagai gejala penyakit yang sering dialami anak.</p>
<p>Menurut santrock (2007: 157) pada umumnya masalah kesehatan yang sering dialami anak-anak adalah kurang gizi, pola makan, kurang olah raga dan pelecehan. Seperti yang dinyatakan dalam penelitian Pollitt dkk, bahwa gizi sangat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Pola makan sangat berkaitan erat dengan hal ini. Maraknya makanan cepat saji dengan berbagai variasi yang sangat menarik untuk anak seperti hot dog, pizza, hamburger dsb, menjadi kendala tersendiri yang mempersulit pemenuhan kebutuhan gizi yang sehat. Perlu kreatifitas yang tinggi bagi guru dan orang tua untuk mengemas makanan sehat yang menarik bagi anak layaknya makanan cepat saji.<br />
Selain makanan sehat, olahraga merupakan aspek yang sangat mempengaruhi kesehatan mental dan fisik anak:<br />
Exercise is linked with many aspects of being physically and mentally healthy in children and adult (Buck dkk, 2007 dalam Santrock, 2007)</p>
<p>Ketika berolah raga, anak menggerakan otot-otot tubuhnya yang merupakan stimulasi bagi perkembangan motorik terutama motorik kasar. Olah raga yang tepat sebagai stimulasi perkembangan motorik tersebut adalah yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak. Ketika berolahraga pun anak belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya. Jika olah raga tersebut berupa permainan maka anak akan belajar nilai-nilai social seperti sportifitas, kemenangan, kekalahan dan penghargaan. Karena itu kegiatan olah raga harus dikemas dengan beberapa tujuan pemberian stimulasi berbagai aspek perkembangan anak.</p>
<p>Meskipun anak yang sehat cenderung aktif, tapi kekebalan tubuh mereka belum stabil. Berbagai penyakit bisa mengancam kesehatan mereka diantaranya alergi, asma dan infeksi telinga. National Centre of Health Statistics pada tahun 2004, menyatakan penyebab kematian anak paling besar adalah kecelakaan, yang kedua adalah kanker terutama kanker darah (leukemia). Strategi untuk menghindari adalah dengan menggunakan sabuk pengaman, helm dan alat pengaman lainnya. Sedangkan penyakit kanker bisa dicegah dengan pemberian ASI.<br />
Pemberian ASI sangat penting pada masa satu sampai enam bulan pertama. Salah satu keuntungan dari pemberian ASI adalah terbentuknya kekebalan tubuh. Manfaat ASI berdasarkan beberapa ahli kesehatan di Amerika Serikat adalah(Eiger &#38; Olds, 1999; Hanson &#38; Korotkova, 2002; Kramer, 2003):<br />
1.	Membuat berat badan bayi yang ideal, serta terhindar dari obesitas.<br />
2.	Mencegah alergi<br />
3.	Mencegah atau mengurangi gejala diare dan infeksi pernafasan<br />
4.	Menguatkan tulang<br />
5.	Mencegah penyakit kangker pada bayi dan kangker payudara pada ibu yang menyusui<br />
6.	mengurangi resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).</p>
<p>Selain berbagai penyakit yang berhubungan dengan fisik, kelainan anak yang berhubungan dengan mental pun mempengaruhi kesehatan anak. Penyakit tersebut diantaranya hiperaktif dan pelecehan. Sebagai pendidik PAUD, diperlukan kepekaan untuk melihat berbagai gejala dari kelainan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, guru harus berkonsultasi dengan orang tua dan psikologi secara intensif sehingga mengetahui bagaimana seharusnya perlakuan pada anak yang memiliki kelainan tersebut.</p>
<p>Guru memang menjadi salah satu pihak yang bertangggung jawab dalam menjaga kesehatan anak, tapi yang paling bertanggung jawab adalah orang tua. Karena anak belajar dari keteladanan dan kebiasaaan, gaya hidup orang tua sangat mempengaruhi. Orang tua yang merokok sangat membahayakan kesehatan anak. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat 22 persen anak yang orang tuannya merokok mengidap penyakit asma dan pernafasan (Murray dkk, 2004 dalam Santrock, 2007). Selain itu, asap rokok juga menyebabkan anak kekurangan vitamin C (Staruss, 2001 dalam Santrock, 2007).</p>
<p>Selain gaya hidup orang tua, pola asuh yang diterapkan pun mempengaruhi kesehatan anak. Pola asuh yang kurang baik diindikasikan oleh kurang maksimalnya pemberian ASI, kurang baiknya pola koinsumsi pangan keluarga dan pola perawatan kesehatan dasar terutama bagi anak usia dini.</p>
<p>[Endah,  <a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a>]</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong><br />
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey:  Pretice Hall<br />
Decker, Celia A &#38; Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril<br />
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html<br />
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall<br />
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS<br />
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow<br />
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya<br />
http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keterhubungan Kesehatan dan Gizi bagi Pertumbuhan Sosio Intelektual Anak (part 2 - tamat)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=22</link>
<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 07:30:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=22</guid>
<description><![CDATA[Sedangkan metoda menstimuslasi kemampuan social anak adalah dengan coaching (latihan), modeling (ket]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sedangkan metoda menstimuslasi kemampuan social anak adalah dengan coaching (latihan), modeling (keteladanan), reinforcement (penguatan) and peer pairing (pembimbingan). Dalam hal ini selain guru, orang tua memiliki peranan yang penting terutama ibu. Eratnya hubungan ibu dengan kecerdasan social anak dinyatakan oleh Peterson (1996), bahwa ibu yang ramah ketika bekomunikasi dengan anak, ketika memerintah anak, maka kompetensi social anak akan baik, bukan hanya ketika di rumah, tapi juga di sekolah  dan lingkungan teman sebaya. Penting bagi anak untuk memiliki hubungan yang dekat dengan orang dewasa. Kedekatan yang sangat dengan orang dewasa penting bagi perkembangan social emosional anak meskipun hanya dengan satu orang.</p>
<p><em>Social factors also affect children’s social development. Stressed families and those with little time for interaction with children have become a focus of research as divorce rates have raised. Poverty conditions undermine opportunities of children’s positive development.</em></p>
<p>Anak perlu berinteraksi dengan beragam karakter orang. Sedikitnya keragaman yang ada di lingkungan anak akan menghambat perkembangan social intelektual anak (Ramsey, 1986). Meskipun demikian, kedekatan dengan orang tertentu, juga sangat penting.</p>
<p><em>Mixed age peer interactiaon also contributes to the social cognitive and language development of the younger child while enhancing the instructive abilities of the older child (Hartup, 1983)</em></p>
<p>Kebutuhan anak untuk berinteraksi dengan berbagai karakter orang bisa terpenuhi di sekolah. Sekolah merupakan lingkungan tempat anak berinteraksi dengan guru, teman sebaya dan orang dewasa linnya. Sekolah memperkenalkam anak pada nilai inti dari budaya lingkungan mereka tumbuh dan pada keadaan sosial teman sebaya. Keduanya sama pentingnya dengan sisi akademis yang akan melengkapi anak sebagai manusia yang utuh. Anak belajar pengalaman akan rasa senang dan sedih sebagai perwujudan penerimaan dan penolakan, juga pertemanan sebagai sarana anak berbagi ide dan pengalaman. Anak pun belajar aspek moral melalui penghargaan, hukuman, keteladanan dan negosiasi. Selain itu, anak akan lebih bisa mengontrol sikapnya, merasakan penerimaan teman sebaya, peningkatan percaya diri dan adaptasi sosial.</p>
<p>Memperkenalkan kebudayaan dan kelompok teman sebaya mungkin lebih penting dari pada mengajari mereka matematika, membaca atau menulis. Perasaan dapat diterima teman sebaya dan bisa berbagi pengalaman sekolah sehingga menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa bahagia sangat penting bagi perkembangan sosial anak. Bahkan dengan peer-conflict anak belajar pengetahuan tentang bagaimana dirinya menghadapi orang lain dan serangkaian interaksi social lainnya (Peterson, 1996).</p>
<p><em>Children appear to learn how to more completently assess peer norms. Values and expectation and to select action that may bring them within the threshold of peer acceptance (Oden 1987).</em></p>
<p>Sangat penting menciptakan sekolah yang sehat, supaya kesehatan anak terjaga. Jika kesehatan anak terganggu, apalagi penyakit yang diderita cukup parah dan mengakibatkan kecacatan, bisa mengakibatkan turunnya rasa percaya diri anak, dan akan menjadi kendala anak dalam proses sosialisasi.</p>
<p>Berbagai program yang mendukung kesehatan dan perkembangan sosialisasi anak bisa di susun para pendidik PAUD. Misalnya dengan mengemas aktivitas olag raga dalam bentuk permainan dimana anak akan belajar nilai-nilai social seperti sportifitas, kemenangan, kekalahan dan penghargaan. Atau dengan mengemas kegiatan mencuci tangan dengan mengantri dimana anak bisa belajar sabar dan menghargai. Kreatifitas pendidik sangat diperlukan dalam hal ini.</p>
<p>[Endah, http://parentingislami.wordpress.com]<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Beaty, Janice J (1996) Skills for Preschool Teachers, fifth edition, New Jersey:  Pretice Hall<br />
Decker, Celia A &#38; Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril<br />
Oden, Serri (2003), the Development of Social Competence in Children, http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html<br />
Peterson, Candida (1996) looking forward through the Lifespan, third edition, Australia: Pretice Hall<br />
Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS<br />
Santrock, John (1994) Child Development, New York: McGrow<br />
Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya<br />
http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kondisi Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini di Indonesia]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 09:52:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=21</guid>
<description><![CDATA[Kondisi kesehatan dan gizi anak di Indonesia masih memprihatinkan. Pada tahun 2005 jumlah anak 0-6 t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span>Kondisi kesehatan dan gizi anak di Indonesia masih memprihatinkan. Pada tahun 2005 jumlah anak 0-6 tahun adalah 27, 6 juta anak atau sekitar 12, 79 persen dari total pendududk Indonesia. Hanya 25 persen yang terakses program peningkatan kesehatan, gizi dan <a href="http://parentingislami.wordpress.com/category/paud/">PAUD</a>. Selain cakupan yang masih rendah, program yang diselenggarakan itu masih terfragmentasi sehingga tidak menyentuh kebutuhan tumbuh kembang anak secara holistic. Rendahnya cakupan dan kualitas penyelenggaraan program pengembangan anak usia dini mengekibatkan kondisi anak Indonesia masih memprihatinkan yang ditunjukan dengan rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal">Masalah kurang gizi pada anak dapat ditunjukan dari prevelensi yang berkaitan dengan kurang energi dan protein (gizi makro) dan gizi mikro (terutama kurang vitamin A, anemia, kurang yodium). Sampai dengan tahun 2000, keadaan gizi masyarakat menunjukan kemajuan yang cukup berarti, terlihat dari menurunnya secara prevelensi penderita masalah gizi utama (protein, karbohidrat) pada berbagai kelompok umur. Prevelensi anak balita kurang gizi pada tahun 1989-2000 menurun dari 37,5 persen menjdi 24,6 persen. Akan tetapi sejak tahun 2000 sampai dengan 2005 prevelensi kuang gizi anak pada balita meningkat kembali menjadi 28 persen yang sekitar 8,8 persen diantarannya menderita gizi buruk.<br />
<span><br />
Rendahnya derajat kesehatan, gizi dan pendidikan pada anak usia dini lebih banyak terjadi pada anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan yang tinggal di wilayah pedesaan, serta di wilayah dengan penyediaan layanan social dasar yang tidak memadai.<em> </em></span><em>Children in proverty face elevated risk for many theats for health</em> (Flores dkk, 2005 dalam Santrock, 2007).</p>
<p>Memberikan pelayanan kesehatan tidak cukup untuk memperbaiki kesehatan mereka, tapi yang paling penting adalah memperbaiki kondisi keluarganya. Program perbaikan yang bisa dilakukan harus menyeluruh. Misalnya program yang di lakukan di Hawai, Amerika Serikat, yang menggulirkan <em>The Hawaii Family Support/Health Start Program</em> yang dimuali tahun 1998. Para staf dapam program ini mendatangi setiap keluarga yang diindekasikan di bawah garis kemiskinan, mereka menjadi konsultan keluarga dan membantu permasalahan mereka termasuk pengangguran yang kebanyakan merupakan penyebab utama permasalahan kesehatan.<span></p>
<p class="MsoNormal">[Endah, <a href="http://parentingislami.wordpress.com">http://parentingislami.wordpress.com</a>]</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal">Beaty, Janice J (1996) <em>Skills for Preschool Teachers</em>, fifth edition, New Jersey: Pretice Hall</p>
<p class="MsoNormal">Decker, Celia A &#38; Decker, Jhon R. (1988) Planning and Administering Early Childhood Programs, Ohio: Merril</p>
<p>Oden, Serri (2003), <em>the Development of Social Competence in Children, </em><a href="http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html">http://www.ericfacility.net/ericdigests/ed281610.html</a></p>
<p class="MsoNormal">Peterson, Candida (1996) <em>looking</em> <em>forward through the Lifespan</em>, third edition, Australia: Pretice Hall</p>
<p class="MsoNormal"><span>Staff Ahli Bappenas (2006) Studi Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Terintegrasi, Jakarta: BAPPENAS</span></p>
<p class="MsoNormal">Santrock, John (1994) <em>Child Development</em>, New York: McGrow</p>
<p class="MsoNormal"><span>Yusuf, Syamsu LN (2002) Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya</span></p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html"><span>http://www.usaid.gov/our_work/global_health/mch/index.html</span></a></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keterhubungan Kesehatan dan Gizi bagi Pertumbuhan Sosio Intelektual Anak (part 1)]]></title>
<link>http://parentingislami.wordpress.com/?p=20</link>
<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 09:45:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>parentingislami</dc:creator>
<guid>http://parentingislami.wordpress.com/?p=20</guid>
<description><![CDATA[Menurut Syamsu Yusuf (2002) perkembangan social merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan socia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span>Menurut Syamsu Yusuf (2002) perkembangan social merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan social. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma kelompok, moral dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerjasama. Syamsu Yusuf menambahkan bahwa anak lahir belum bersifat sosial, kemampuan sosialaisasi di dapat dari berbagai pengalaman berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya. Meskipun menurut Odden (2003) bayi yang baru lahir aktif dan responsive terhadap interaksi social dan fisik misalnya dengan cara meniru gerakan wajah orang dewasa. Dan untuk berkomunikasi bayi, akan menangis dan mengeluarkan suara-suara untuk memenuhi kebutuhannya ketika dia merasa tidak nyaman. </span></p>
<p><span>Sosio intelegensi anak dibentuk sejak lahir, karena itu sangat penting berinteraksi dengan bayi, misalnya dengan mengajak bicara, menatap, menyentuh dan memeluk anak. Ketika bayi berkontak sosial dan berinteraksi maka perkembangan fisiknya akan baik. Bayi yang jarang interaksi dengan manusia, pertumbuhannya akan terhambat misalnya, berat badan menurun, acuh, lesu, menarik diri. Proses interaksi social yang terus terjadi selama perkembangan bayi akan menjadi dasar pijakan bagi perkemangan bahasa dan kognitif (Brunner, 1978).</span></p>
<p><span>Pijakan lain yang tidak kalah pentingnya adalah perkembangan otak yang baik. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh kesehatan dan gizi yang dikonsumsi anak. Zat makanan yang paling penting untuk perkembangan otak adalah protein. Protein anak membantu pertumbuhann sel-sel neuron yang akan menangkap berbagai stimulasi di lingkungan sekitarnya. </span></p>
<p><span>Selanjutnya, setelah pijakan perkembangan social dibentuk ketika bayi, proses selanjutnya adalah mengembangkannya. Perkembangan social anak dikembangkan dengan cara sosialisasi, yaitu proses belajar yang membimbing anak kearah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif (Ambron, 1981).</span></p>
<p><strong>Sosialisasi dan Perkembangan Anak </strong></p>
<table class="MsoTableGrid" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="270" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>Kegiatan Orang Tua</strong></p>
</td>
<td width="274" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>Pencapaian Perkembangan</strong></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><strong>Prilaku Anak</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="270" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span>Memberikan makanan dan memelihara kesehatan   fisik anak</span></p>
</td>
<td width="274" valign="top">
<p class="MsoNormal">Mengembangkan   sikap percaya terhadap orang lain (developmental trust)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="270" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span>Melatih dan menyalurkan kebutuhan fisiologis: <em>toilet training</em></span></p>
</td>
<td width="274" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span>Mampu mengendalikan dorongan biologis dan   belajar untuk menyalurkannya pada tempat yang diterima masyarakat.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="270" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span>Mengajar dan melatih keterampilan berbahasa,   persepsi, fisik, merawat diri dan keamanan diri</span></p>
</td>
<td width="274" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span>Belajar mengenal objek-objek, bahasa, berjalan,   mengatasi hambatan, berpakaian, dan makan</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><em><span>Diadaptasi dari Syamsu Yusuf (2002)</span></em></p>
<p class="MsoNormal">bersambung...</p>
<p class="MsoNormal">[Endah, parentingislami.wordpress.com]</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
