<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>mahasiwa &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/mahasiwa/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "mahasiwa"</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 03:02:42 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[E sebuah bilai yang menjadi polemik bagi mahasiswa]]></title>
<link>http://bengkuluutara.wordpress.com/?p=145</link>
<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 07:23:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>bengkuluutara</dc:creator>
<guid>http://bengkuluutara.id.wordpress.com/2008/09/22/e-sebuah-bilai-yang-menjadi-polemik-bagi-mahasiswa/</guid>
<description><![CDATA[NILAI  &#8221; E &#8220;
SEBAGAI SUATU POLEMIK BAGI MAHASISWA
 
Nilai E mungkin bagi beberapa indiv]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">NILAI  " E "</span></strong></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;">SEBAGAI SUATU POLEMIK BAGI MAHASISWA</span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"> </span></strong></p>
<p><strong>Nilai E mungkin bagi beberapa individu yang mengangap " mereka orang yang pintar " mungkin bukan suatu masalah, namun bagai mana bagi mahasiswa yang lain ???</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Nilai A,B, C,D, E bahkan tampa nilai  bukan saja merupakan suatu urutan alphabet yang tiada arti bagi mahasiswa , namun sudah menjadi nyawa kedua dalam penentuan akhir Dari suatu mata kuliah.</p>
<p>Pada awal perkuliahan setiap dosen sudah memberi wanti-wanti tentang komponen penilaian yang menjadi standar pokok untuk penilaian akhir bagi mahasiswa, dimana komponern tersebut meliputi :</p>
<ol type="1">
<li>tatap muka</li>
<li>tugas</li>
<li>mid semester dan,</li>
<li>semester akhir</li>
</ol>
<p>empat komponen tersebut merupakan pokok standar dari para dosen untuk memberikan nilai akhir untuk para mahasiswa. Namun standar pokok tersebut tidak lah berlaku bagi beberapa dosen pengajar yang mengaku idealis</p>
<p>( heh idealis ????? )</p>
<p>Beberapa mahasiswa pernah mengeluh mengenai penilaian akhir dari para dosen, " padahal saya termasuk mahasiswa yang aktif kuliah walaupun saya termasuk bukan mahasiswa yang aktif bertanya namun setiap tugas yang diberikan para dosen selalu saja kerjakan, mid semester juga saya ikut walau saya tidak tahu dimana hasil mid tersebut selain itu komponen yang paling pokok juga saya ikut ( semesteran ) tapi yang selalu menjadi pertanyaan mengapa nilai yang saya peroleh masih saja berkisar dari nilai "D dan E " maksimal C anehkan??? Dimana komponen selama ini menjadi acuan dalam penilaian ??</p>
<p>Namun yang lebih aneh lagi ketika ada mahasiswa yang memang pada kesehariannya tidak pernah kuliah ( baca: jarang kuliah ) + tugas yang selalu ngentol punya teman atas nama sang mahasiswa. Dengan mudah mendapatkan nilai A minimal B.</p>
<p>Sehingga fenomena semacam ini menjadi suatu hal " pertanyaan " bagi para mahasiswa betulkah komponen penilaian masih berlaku bagi mahasiswa atau sekedar patokan ABSTRAK yang fungsinya hanya sebagai hal yang menjadi bayangan  bagi para dosen untuk memberikan penilaian ??</p>
<p>Ataukah penilaian para dosen sudah tidak lagi mengacu pada nilai objektif + subyektif ?? atau lebih buruk lagi hanya masalah pribadi ?? masih menjadi pertanyaan.</p>
<p>Akhir kata ( cieleee ceramah pengajian kale ), para mahasiwa Cuma mengharap beri mahasiswa nilai yang standar bila memang mahasiswa yang bersangkutan memenuhi seluruh komponen yang telah di tentukan walau komponen semesteran mereka tidak mencukupi standar.</p>
<p>By : darmanto</p>
<p align="right">22 september 2008</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bilingual on SAT UNS]]></title>
<link>http://rudist87.wordpress.com/?p=21</link>
<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 09:02:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>rudist87</dc:creator>
<guid>http://rudist87.id.wordpress.com/2008/09/22/bilingual-on-sat-uns/</guid>
<description><![CDATA[SAT UNS sudah seharusnya segera meluncurkan aplikasi baru &#8220;Bilingual&#8221;. Billing ( mesin p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://uns.ac.id"><img class="alignleft" src="http://www.uns.ac.id/images/desain%20layout%20uns_r6_c4.jpg" alt="" width="265" height="151" /></a>SAT UNS sudah seharusnya segera meluncurkan aplikasi baru "Bilingual". Billing ( mesin penghitung uang) yang sudah baru tentunya harus segera diikuti oleh<em> Bilingual language</em>. Billing dan <em> Bilingual language </em>merupakan dua aplikasi yang sasarab dan aplikasinya berbeda tapi sama-sama penting. Kalo billing merupakan aplikasi untuk menunjang kerja yang di jalankan pada komputer sebagai pematau user-user yang ngenet. kalo <em>Bilingual language </em>adalah aplikasi yang harus<em> </em>segera diinstal pada para penjaga SATnya alias admin-nya. Kebutuhan <em>Bilingual language </em>sudah tidak dapat terelakkan lagi mengingat user-user SAT juga dari banyak negara (tidak hanya indonesia-red).</p>
<p><em>Bilingual language </em>di SAT merupakan kerja besar mengingat sasaran aplikasi (tidak semudah instal di CPU). Tetapi itu bukan sesuatu yang tidak mungkin mengingat potensi besar yang ada di sana (kamus online, mahasiwa luar yang siap di ajak dialog..dan mahasiswa SAT jurusan bahasa Ingris tentunya). sebuah fenomena yang sangat lucu lebih tepatnya ngisinke.. ketika SAT CREW tidak bisa memberi palayana yang optimal kepada mahasiswa hanya karena satu alasan "beda bahasa" sungguh tragis!</p>
<p>Berpijak pada fakta di lapangan itu mari bersama belajar dan kibarkan berdera perjuangan untuk menuju <em>Bilingual language </em>on SAT<em>. </em>Semoga bukan hanya MIMPI</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SEA.EDU.NET]]></title>
<link>http://gatothp2000.wordpress.com/2008/02/27/seaedunet/</link>
<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 11:50:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>gatothp2000</dc:creator>
<guid>http://gatothp2000.id.wordpress.com/2008/02/27/seaedunet/</guid>
<description><![CDATA[dear p dwitagama, p made, p iwan, p syaiful , dkk lainnya..
terimakasih suport nya selama ini, meman]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>dear p dwitagama, p made, p iwan, p syaiful , dkk lainnya..</p>
<p>terimakasih suport nya selama ini, memang kami akan di tugaskan ke SEAMOLEC utk mengurusi pendidikan jarak jauh di ASEAN,<br />
salah satu yg sedang kita siapkan adalah program SEA EDU NET,  jardiknas nya asean, dimana sekolah yg terbaik di indo, dan asean akan terhubung oleh intranet dan internet, melalui satelit yg sedang kita siapkan..tahun ini...harapan kita jenjang sekolah level smp, sma, smk,ma, pt, poli, lembaga kursus, p4tk/training center di indonesia akan terhubung dgn teman yg sejenjang di tingkat ASEAN..sehingga terjadi pertukaran informasi antar institusi pendidikan asean...sasaran kita 150 pt, 500 sekolah, 25 lembaga training guru, 250 lembaga kursus dll yg sejenjang....dalam sistem yg singkatannya SEA.NET ..jadi sekolah2 di indonesia yg aktif guru,murid,sek. berkomunikasi melalui it akan kita ajak utk bergabung dalam konsorsium sea.net.<!--more--></p>
<p>program ke 2 kita ingin meningkatkan jumlah anak lulusan slta, sltp dan pt masuk dalam sistem pendidikan yg lebih tinggi juga guru melalui pjj...sasaran kita 1 juta siswa, 1 juta guru dan 1 juta pekerja yg perlu di upgrade qualifikasinya melalui pjj +, atau hibride education...kombinasi tatap muka serta praktek dalam sistem yg sdh ada sesuai dengan ke ahlian yg diperlukan bersinergi dgn institusi terkait di asean....saat ini baru 4300 an guru sd di training melalui pgsd on line - hylite melalui seamolec- didukung 23 pt-lptk, sedang dalam proses 13.000 an jurusan it dlm sistem pjj yg didukung oleh 70 pt dan bbrp jurusan sedang di buat modelnya, seperti pariwisata, kimia industri, akuntasi, entreupreuner, kulturjaringan, pembibitan ikan, ulatsutra , animasi, gametech dll..semua masih dalam model...dimana kombinasi pjj dgn tatap muka serta berkarya di tempat kerja yg ada dan membuka lapangan kerja...juga pertukaran teknisi asean yg thn ini kita targetkan 100 mhs/teknisi/guru yg berminat dan lulus seleksi utk 6 bln sd 12 bln di negara asean di institusi patner kita utk sekalian mengajar bhs indonesia serta kultur indonesia...dll...</p>
<p>hal lain adalah menyediakan portalutk materi pendidikan utk institusi asean, yg bisa di unduh dan di manfatkan oleh guru2, murid,mhs, dan karyawan asean..dlm rangka meningkatkan  kompetensi serta sill nya...</p>
<p>semua diatas akan memanfaatkan teknologi it utk saling berhubungan....</p>
<p>saran..program, perbaikan  dll kami tunggu..ya...di bawah ini, karena saran serta kritik anda sangat kita butuhkan dalam rangka menyiapkan bersama generasi asean yg baru...thn 2015 kita sdh merupakan kawasan  yg  bersatu dimana mungkin sdh tidak diperlukan visa lagi antar asean, anak2 kita bisa bekerja dimanapun juga , guru mengajar  dimanapun serta mobilisasi penduduk akan cepat terjadi tanpa hambatan.....</p>
<p>mari kita siapkan bersama anak2 kita utk menjadi juragan di negerinya sendiri, maupun di negara lain yg memerlukan....</p>
<p>bila anda, maupun sekolah anda atau institusi pendidikan anda berminat bergabung dalam sea edu net,  silahkan kirim email ke gatothp2000@yahoo.com atau gatothp@seamolec.org</p>
<p>terimakasih atas waktu anda membaca pemikiran2 ini, dan terimakasih juga atas saran dan kritikannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Siapa yang Tendensius, Tempo atau Ilmuwan?]]></title>
<link>http://rusdimathari.wordpress.com/2007/12/18/siapa-yang-tendensius-tempo-atau-ilmuwan/</link>
<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 19:52:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>rusdi mathari</dc:creator>
<guid>http://rusdimathari.id.wordpress.com/2007/12/18/siapa-yang-tendensius-tempo-atau-ilmuwan/</guid>
<description><![CDATA[Melalui metode penelitian, dengan golok saya bisa bedah dada para wartawan dan akan kelihatan siapa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><a title="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/new-label/munyuktempo.jpg&#38;imgrefurl=http://label.blogombal.org/page/2/&#38;h=386&#38;w=300&#38;sz=43&#38;hl=id&#38;start=8&#38;tbnid=KbbzWbAzDRNmzM:&#38;tbnh=123&#38;tbnw=96&#38;prev=/images%3Fq%3Dmajalah%2Btempo%2B%26gbv%3D2%26svnum%3D10%26hl%3Did" href="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2007/12/tempo.jpg"><img style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" src="http://rusdimathari.wordpress.com/files/2007/12/tempo.thumbnail.jpg" border="0" alt="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/new-label/munyuktempo.jpg&#38;imgrefurl=http://label.blogombal.org/page/2/&#38;h=386&#38;w=300&#38;sz=43&#38;hl=id&#38;start=8&#38;tbnid=KbbzWbAzDRNmzM:&#38;tbnh=123&#38;tbnw=96&#38;prev=/images%3Fq%3Dmajalah%2Btempo%2B%26gbv%3D2%26svnum%3D10%26hl%3Did" /></a>Melalui metode penelitian, dengan golok saya bisa bedah dada para wartawan dan akan kelihatan siapa yang memesan berita kepadanya. Kata-kata itu diucapkan Profesor Tjipta Lesmana di depan peserta seminar “Kasus Pajak Asian Agri”, Selasa (18 Desember 2007) di Hotel Sultan, Jakarta.</h3>
<p><!--more--></p>
<h3>Oleh Rusdi Mathari</h3>
<h3>SEMINAR itu adalah acara yang dirancang oleh Veloxxe Consulting dan dibiayai oleh Asian Agri Group untuk (katanya) memaparkan kajian ilmiah terhadap pemberitaan <em>Tempo</em> mengenai penggelapan pajak yang dilakukan oleh Asian Agri. Dua lembaga yang diminta melakukan penelitian (juga dibiayai oleh Asian Agri) adalah Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan Pusat Pengkajian &#38; Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Perihal akan ada seminar itu, didahuli dengan iklan pemberitahuan yang antara lain tercetak seperempat halaman di halaman 44 harian <em>Kompas</em> (17 Desember 2007).</h3>
<h3>Tjipta hadir sebagai pembicara pada acara itu. Dia mengaku tak mengenal secara pribadi Sukanto Tanoto pemilik kelompok Raja Garuda Mas (induk perusahaan Asian Agri) dan tidak mengenal pembicara yang lain pada seminar. Sebelum menyatakan kesediannya untuk hadir di acara itu, Tjipta mengaku meminta salinan hasil penelitian oleh dua lembaga itu.</h3>
<h3>Setelah mempelajari, Tjipta berkesimpulan bahwa pemberitaan <em>Tempo</em> soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri adalah bias dan tendensius. “Kami di sini dipersatukan oleh ilmu dan melalui metode penelitian, dengan golok saya bisa bedah dada para wartawan dan akan kelihatan siapa yang memesan berita,” kata Tjipta tapi tidak menjelaskan siapa yang telah memesan kepada <em>Tempo</em> (koran dan majalah) untuk menuliskan berita soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri.</h3>
<h3>Tjipta meminta agar wartawan tidak melakukan <em>prejudice</em> atau penghakiman sebelum ada keputusan hukum yang tetap. Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan Jakarta itu, juga bertanya kenapa hanya Asian Agri yang terus menerus diberitakan oleh <em>Tempo</em>. "Ada apa ini?” kata Tjipta. Padahal menurut Tjipta, dia pernah bertanya kepada <em>Kompas</em> dan menurut Tjipta orang-orang <em>Kompas</em> mengaku juga tahu soal itu namun tidak memberitakan.“Tai kucing itu Metta,” kata Tjipta.</h3>
<h3>Metta yang disebut sebagai tai kucing oleh Tijpta adalah Metta Dharmasaputra, wartawan <em>Tempo</em> yang menulis soal dugaan penggelapan pajak Asian Agri penerima bea siswa <em>crash program</em> liputan investigasi dari ISAI, Jakarta pada 1998-1999 sementara <em>Kompas</em> adalah koran nasional yang terbit di Jakarta milik Jacob Oetama.</h3>
<h3>Tjipta yang menyelesaikan S1-nya di PTP (sekarang IISIP Jakarta) membeberkan ada sekitar 10 media yang menghubunginya dalam soal Asian Agri, dan menurut Tjipta mereka juga tidak setuju dengan pemberitaan <em>Tempo</em>. “Wartawan harus banyak belajar, banyak baca buku,” kata Tjipta yang mengaku pernah menjadi wartawan di tahun 70-an tapi Tjipta tidak menyebutkan nama media tempat dia bekerja sebagai wartawan.</h3>
<h3>Berita soal dugaan penggelapan pajak Asian Agri sudah dimuat oleh majalah <em>Tempo</em> 21 Januari 2007 dengan judul “Kisah di Pembobol”. Berita itu ditulis berdasarkan data-data dan dokumen yang ditemukan oleh <em>Tempo</em> dan pengakuan dari seseorang bernama Vincentius Amin Sutanto. Tak ada yang istimewa dari berita itu hingga kemudian mencuat kasus penyadapan yang dilakukan oleh polisi terhadap telepon milik Metta ketika berhubungan dengan Vincentius. Salinan percakapan SMS dari telepon milik Metta kemudian beredar di banyak orang.</h3>
<h3>Salah satu isi dari SMS yang disadap dan dibocorkan kepada publik itu menyangkut soal uang Rp 70 juta yang diberikan oleh Metta untuk membantu Vincentius. Uang itu bukan berasal dari Metta pribadi tidak juga berasal dari uang <em>Tempo</em> melainkan dari seorang pengusaha. Menurut Metta pemberian uang kepada Vincentius hanya dimaksudkan untuk membantu mencarikan perlindungan hukum bagi Vincentius, isteri dan ketiga anaknya. Dia karena itu lalu menghubungi sejumlah pihak termasuk pengusaha yang kemudian bersedia memberikan uang Rp 70 juta kepada Vincentius melalui Metta.</h3>
<h3>Alasan Metta, selain sebagai sumber berita yang patut dilindungi, Vincentius adalah "whistle blower" atau pembisik yang bisa membantu upaya untuk menyelamatkan uang negara. “Keterlibatan seseorang membiayai kuasa hukum Vincent didorong oleh rasa kemanusiaan dan kepentingan negara. Dalam <em>print-out</em> SMS saya yang telah beredar luas, salah satunya berbunyi 'sepanjang ada manfaat buat negara, (orang itu) akan coba <em>support</em>',” kata Metta (<em>Antara</em> 18 September 2007).</h3>
<h3>Menurut Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Sisno Adiwinoto, polisi tidak pernah menyadap Metta dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis tetapi yang dilakukan adalah menyadap telepon seorang penjahat. Dalam penyadapan itu, polisi menemukan adanya hubungan antara orang yang dicari dengan Metta sehingga Metta dimintai keterangan untuk menjelaskan ada hubungan apa dengan buronan itu. “Buat apa polisi menyadap wartawan. Itu juga bukan kepentingan polisi kok,” kata Sisno (<em>Antara</em>, 18 September 2007)</h3>
<h3>Kepala Satuan II/Fismondev Polda Metro Jaya, AKBP Aris Munandar lantas melayangkan surat panggilan kepada Metta untuk menjadi saksi berkaitan dengan pelarian Vincentius ke Singapura. Hampir bersamaan waktu dengan pemanggilan Metta oleh polisi, salinan percakapan telepon dan SMS dari telepon genggam Metta beredar di publik, terutama kalangan wartawan. (lihat siaran pers Aliansi Jurnalis Independen Jakarta, 21 September 2007).</h3>
<h3>Salinan percakapan hasil sadapan oleh polisi itulah yang kemudian memicu persoalan. Metta dipersalahkan oleh beberapa pihak karena dianggap terlibat secara personal dengan sumber berita dan karena itu melanggar etika jurnalistik. Menurut Metta bukan hanya SMS dia dengan Vincentius yang disadap melainkan juga hampir semua SMS dia dengan keluarga.</h3>
<h3>Tiga bulan sebelum berbicara pada seminar di Sultan Hotel, Tjipta mengatakan jika benar wartawan <em>Tempo</em> (Metta) menfasilitasi bantuan terhadap tersangka buronan yang menjadi narasumbernya, jelas melanggar kode etik jurnalistik. Wartawan yang sudah menjalin hubungan khusus dengan narasumbernya, menurut Tjipta, bisa terancam netralitasnya karena bisa berpihak. "Itu sebabnya tidak diperbolehkan,” kata Tjipta (<em>Antara</em> 18 September 2007).</h3>
<h3>Benarkah Metta melanggar kode etik jurnalistik? Majelis Etik Aliansi Jurnalis Independen Jakarta yang terdiri dari Atmakusumah Astraatmadja dan Stanley Adi Prasetyo memanggil Metta yang juga anggoat AJI pada 21 September 2007. Selain menguji pemenuhan standar profesionalisme dalam proses investigasi yang dilakukan oleh Metta, Majelis Etik juga meminta penjelasan kepada Metta mengenai sejumlah dugaan pelanggaran etika jurnalistik setelah berita tersebut dipublikasikan.</h3>
<h3>Hasilnya tidak ditemukan pelanggaran atas standar profesionalisme dan kode etik jurnalistik. Laporan yang ditulis Metta juga dinilai bersifat faktual, objektif dan berimbang. Dari sisi prosedur kerja pers, Metta telah memenuhi standar kerja jurnalistik investigasi. Apa yang dia lakukan dalam peliputan jurnalistik investigasi ini selalu dikonsultasikan dengan para penanggungjawab redaksi. Pertimbangan moral yang diambil Metta untuk menyelamatkan dan melindungi narasumber dan keluarganya patut dihormati. Sebagai jurnalis, Metta memiliki tanggung jawab moral agar narasumber dan keluarganya tidak kehilangan hak asasinya. (lihat Siaran Pers AJI Jakarta 21 September 2007).</h3>
<h3>Lalu siapa Vincentius? Dia adalah bekas karyawan Asian Agri. Pada 15 November 2006, Vincentius bersama Henri Susilo dan Agustinus Ferry Sutanto membobol keuangan Asian Agri yang tersimpan di rekening Fortis Bank Singapura. Polisi menyatakan uang yang berhasil dibobol Vincentius dan kawan-kawan sebesar US$3,1 juta tapi baru Rp 200 juta yang digunakan oleh Vincent. Sisanya menurut penyidik Aris Munandar berada di rekening penampungan milik Vincentius dan sudah disita oleh polisi dan diserahkan ke kejaksaan. (<em>Bisnis Indonesia</em>, 20 Agustus 2007). Namun menurut <em>Koran Tempo</em> (26 September 2007) Vincetius membobol Rp 200 juta dari nilai US$ 3,1 juta yang direncanakan.</h3>
<h3>Vincentius lalu kabur ke Singapura dan dinyatakan buron oleh polisi. Metta menemuinya di sebuah tempat di negara itu pada 28-30 Nopember 2006. Selain untuk mengorek informasi soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri kepada Vincentius, Metta juga menyarankan agar Vincentius menyerahkan diri. Pada 16 Agustus 2007 Vincentius dijatuhi hukuman 11 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena divonis bersalah dalam tindak pencucian uang. Vincentius sekarang mendekam di LP Salemba, Jakarta Pusat.</h3>
<h3>Selesai? Tidak rupanya. Dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri yang ditulis oleh <em>Tempo</em> dan penyadapan telepon Metta oleh polisi terus menjadi diskusi di kalangan wartawan. Seminar yang diadakan oleh Veloxxe pada hari Selasa itu menunjukkan bahwa dua persoalan itu menarik. Selain Tijpta, hadir sebagai pembicara adalah Hermin Indah Wahyuni Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM, dan Wahyu Wibowo dari Departemen Riset Pusat Pengkajian dan Penelitian Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.</h3>
<h3>Menurut Hermin, FISIP UGM melakukan observasi dalam tiga rangkaian penelitian. Pertama tentang isi liputan majalah <em>Tempo</em> dan <em>Koran Tempo</em> terhadap Asian Agri dengan pembanding berita soal Lapindo. Kedua pembingkaian berita yang dilakukan oleh majalah <em>Tempo</em> dan <em>Koran Tempo</em> terhadap Asian Agri dengan pembanding pembingkain berita soal Lapindo. Ketiga wacana pemberitaan yang dilakukan majalah <em>Tempo</em> dan <em>Koran Tempo</em> terhadap Asian Agri dengan pembanding Lapindo. Persoalan yang dikaji “Bagaimana isi pemberitaan yang dilakukan koran dan majalah Tempo terhadap Asian Agri dan Lapindo?”</h3>
<h3>Sementara Wahyu mengatakan, objek formal penelitian P3 ISIP UI adalah analis <em>framing plus</em> dengan objek material penelitian pemberitaan <em>Tempo</em> dan <em>Koran Tempo</em>(edisi Januari-November 2007) tentang Asian Agri. Hasilnya?</h3>
<h3>Kedua lembaga itu mempunyai kesimpulan yang hampir sama: pemberitaan <em>Tempo</em> (koran dan majalah) soal Asian Agri dinilai bias dan tendensius. Menurut Hermin <em>Tempo</em> telah menulis berita dari sesuatu yang belum menjadi realitas. Sementara Wahyu yang berbicara mewakili Dwi Urip Premana Executive Director P3 ISIP UI, menganggap <em>Tempo</em> telah menafsirkan kebebasan pers sebagai otonomi wartawan sebagaimana pernah berkembang di Amerika Serikat pada 70-an. <em>Tempo</em> bahkan dikatakan terbukti berpihak, kendati tidak disebutkan oleh Wahyu dan juga oleh hasil penelitian P3 ISIP siapa pihak dalam hal pemberitaan soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri itu yang telah dipihaki oleh <em>Tempo</em>.</h3>
<h3>Kepada saya, Wahyu yang merupakan Lektor Kepala FISIP Universitas Nasional Jakarta mengatakan, permintaan penelitian tentang pemberitaan <em>Tempo</em> soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri adalah inisiatif dari lembaganya. “Kami yang mencari gara-gara dan menawarkan kepada Asian Agri,” kata Wahyu yang mengaku pernah menjadi wartawan tabloid <em>Paron</em>. Untuk apa? Menurut Wahyu untuk kepentingan Asian Agri.</h3>
<h3>Hermin di depan peserta seminar mengaku ongkos yang diberikan kepada lembaganya oleh Asian Agri sebesar 10 persen dari Rp 1,3 triliun. Angka yang disebut terakhir adalah angka terakhir yang disebut oleh Dirjen Pajak soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri (majalah <em>Tempo</em> 11 November 2007). Sementara Wahyu mengaku tak tahu berapa nilai kontrak yang disepakati antara lembaganya dengan Asian Agri tapi dia mengaku menyukai "amplop".</h3>
<h3>Mengapa hanya teks yang diteliti dan bukan subtansi yang diberitakan oleh <em>Tempo</em>? Hermin dan Wahyu mengaku, hal itu bukan wilayah dari kajian lembaga mereka. Memang “Berbeda antara teks dengan kenyataan yang sesungguhnya,” kata Hermin dalam kata-kata awal pemaparan hasil penelitiannya.</h3>
<h3>Lalu apakah Tjipta guru besar komunikasi itu, benar-benar akan tahu kenyataan tentang orang yang memesan dalam tulisan soal dugaan penggelapan pajak oleh Asian Agri kepada Metta dengan membelah dadanya hanya berdasarkan hasil penelitian yang menitikberatkan pada persoalan teks? Jangan-jangan Anda sendiri telah bias dan tendensius profesor.</h3>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
