<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kulinari &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/kulinari/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kulinari"</description>
	<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 04:06:15 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Rawon Buntut]]></title>
<link>http://sotopedia.wordpress.com/?p=53</link>
<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 02:45:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>sotopedia</dc:creator>
<guid>http://sotopedia.id.wordpress.com/2008/09/11/rawon-buntut/</guid>
<description><![CDATA[Selain rawon daging (makanya ada istilah &#8220;daging rawonan&#8221;), jawa timur juga punya makana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Selain rawon daging (makanya ada istilah "daging rawonan"), jawa timur juga punya makanan khas lainnya i.e. Rawon Buntut</p>
<p><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ingredients:</span></strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"><br />
600 gram buntut sapi<br />
4 butir bawang merah, iris tipis<br />
4 lembar daun jeruk purut<br />
1 batang serai, memarkan<br />
1 cm lengkuas, memarkan<br />
2 batang daun bawang, potong 2cm<br />
2.5 liter air<br />
garam dan gula secukupnya</span></p>
<p>Haluskan :<br />
6 buah kluwek kupas, rendam dalam 1/2 cup air<br />
5 butir bawang merah<br />
3 siung bawang putih<br />
1 cm jahe<br />
1/2 sdt kunyit bubuk<br />
1 1/2 sdt ketumbar<br />
1/2 tsp lada bubuk<br />
garam secukupnya</p>
<p>Pelengkap :<br />
Nasi putih<br />
Taoge pendek<br />
Kerupuk udang<br />
Sambel terasi<br />
Tempe Goreng</p>
<p><strong>Directions:</strong><br />
1. Tumis bawang merah dengan sedikit minyak sampai harum<br />
2. Tambahkan bumbu halus, daun jeruk, batang serai dan lengkuas. Tumis sampai bumbu matang.<br />
3. Masukkan buntut, masak sampai berubah warna dan daging mengeras. Masukkan air. Masak sampai mendidih, masukkan irisan daun bawang. Masak sampai daging empuk.</p>
<p>Hidangkan dengan pelengkap.<br />
Untuk proses pematangan lebih cepat bisa digunakan pressure cooker, dengan cara merebusnya kemudian inapkan semalam angkat lemak yang mengapung. Baru dimasak keesokan harinya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rawon]]></title>
<link>http://ari3f.wordpress.com/?p=269</link>
<pubDate>Sat, 30 Aug 2008 18:30:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ari3f</dc:creator>
<guid>http://ari3f.id.wordpress.com/2008/08/31/rawon/</guid>
<description><![CDATA[Salah satu masakan favorit saya adalah RAWON. Alasannya: karena kata &#8220;rawon&#8221; ini ajaib. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah satu masakan favorit saya adalah <strong>RAWON</strong>. Alasannya: karena kata "rawon" ini ajaib. Air liur rasanya meleleh waktu mendengar kata tersebut: membayangkan daging sapi yang empuk dalam kuah hitam yang panas, dan nikmatnya sambel terasi yang pedessss. Ditambah lagi selingan tempe, krupuk dan empal. (<em>jangkrik, ngiler tenan rek!</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang dibesarkan di Jawa Timur biasanya suka rawon. Yang tidak suka berarti bermasalah dengan lidahnya dan takut kolesterol tinggi (hehe). Rawon banyak sekali dijumpai di Jawa Timur. Di mana-mana ada: mulai dari resto besar sampai warung kaki lima. Bahkan, ada juga warung atau depot yang mengkhususkan diri menjual rawon.</p>
<p style="text-align:justify;">Di daerah Tongas, Probolinggo, ada resto rawon yang terkenal namanya Rawon Nguling. Sejak orok saya sudah 'dijejeli' rawon (halah, ngarang - sejak SD kali). Setiap mau ke Surabaya, pasti sarapan di Nguling. Pulangnya, kalau masih lapar, ya mampir lagi di Nguling. Makan rawon lagi. Kok gak bosen ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Rawon ini kuahnya hitam, daging sapi yang diiris kotak-kotak, ada kecambahnya (taoge) dan sambel. Nasi dibiarkan terendam kuah hitam yang panas ngebul-ngebul. Di Bandung, yang kebanyakan orang Sunda, selalu heran lihat rawon: <em>Aduh, naon ieu? Hideng tea?</em> (aduh, apa ini? hitam s'kale?).</p>
<p style="text-align:justify;">Di Jawa Tengah, rawon rasanya lebih manis dibanding dengan yang di Jawa Timur. Kenapa ya? Terpengaruh bikin gudeg kali. Kebanyakan numpahin gula.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut penyajian rawon di Jawa Timur:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/08/r3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-270" src="http://ari3f.wordpress.com/files/2008/08/r3.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Nasi Rawon </em></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/08/r4.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-271" src="http://ari3f.wordpress.com/files/2008/08/r4.jpg?w=128" alt="" width="128" height="96" /></a><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/08/r5.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-272" src="http://ari3f.wordpress.com/files/2008/08/r5.jpg?w=128" alt="" width="128" height="86" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Resep membuat rawon ada di <a href="http://www.geocities.com/claudie_lum/Daging/rawon.htm" target="_blank">SINI</a>. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/08/r1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-273" src="http://ari3f.wordpress.com/files/2008/08/r1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rawon di Singapura. </strong>Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di Singapura, rawon ini menjelma menjadi "rawan". Tapi ada juga yang masih mempertahankan keaslian nama "rawon". Seperti sebuah kedai langganan bernama "Darul Aman" di dekat stasiun MRT Eunos. Mereka memasang nama: NASI RAWON. Wah pinter tenan. Orisinil. Yang jual ibu Melayu dibantu cewek yang lumayan manis. Cewek ini, entah siapa namanya, bilang kalau mereka keturunan Jawa (woalaa ... <em>pantes ayu rek </em>... hihi).</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali ke sana, begitu lihat saya yang tanpa ngomongpun mereka langsung ambil nasi, rawon, tetelan dibanyakin, kuah dibanyakin, udah itu nanya mau nambah lauk apa lagi. Wah, otomatis banget. Padahal saya kadang mau makan yang lain! (haha). Yah, nasib, jadi setiap ke sana, makan rawon lagi, rawon lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Biasanya, rawon ini saya tumpuki makanan lain yang gak nyambung: udang sambel, sayur kacang panjang. Saya selalu taruh tempe di atasnya. Mereka juga kasih serundeng (bilangnya: SRONDENG) dan sambel terasi (belacan!). Ya itu belum seberapa: orang Singapura kalau makan rawon, kuahnya selalu sedikit dan gak pake tetelan. Malah kadang ditumpuki sotong segala! AJAIB POKOKE!</p>
<p style="text-align:justify;">Ini fotonya:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/08/29082008.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-274" src="http://ari3f.wordpress.com/files/2008/08/29082008.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sayang, foto mbaknya blom diambil. Kapan-kapan foto bareng! :p Bareng ibunya juga maksudnya hehe...</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Selamat ngiler ...</strong></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[sari sanjaya]]></title>
<link>http://snydez.wordpress.com/?p=57</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 04:44:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://snydez.id.wordpress.com/2008/04/21/sari-sanjaya/</guid>
<description><![CDATA[setelah berbulan bulan sejak pertama kali mendengar restoran sari sanjaya, baru kemarinlah terlaksan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>setelah berbulan bulan sejak pertama kali mendengar restoran <a title="sari sanjaya restoran" href="http://sarisanjaya.com/" target="_blank"><strong>sari sanjaya</strong></a>, baru kemarinlah terlaksana pergi kesana.</p>
<p>restoran <strong>sari sanjaya</strong> adalah restoran palembang, yang menyediakan menu menu khas palembang. menu menu khusus nya antara lain;</p>
<ul>
<li>pindang</li>
<li>burgo</li>
<li>celimpungan</li>
<li>laksan</li>
</ul>
<p>makanan tersebut bisa dibilang sangat susah ditemui di <strong>jakarta</strong>. jadi bisa menjadi pengobat rindu untuk orang palembang yang sudah lama tidak balik kampung.</p>
<p>tentu saja selain menu khusus tersebut, ada makanan standar khas <strong>palembang</strong>, yaitu : <strong>pempek</strong>.<br />
lalu tersedia juga kue trandisional seperti sarikaya, talam hijau, dll</p>
<p>restoran ini terletak di daerah <strong>kelapa gading</strong>, dengan ancer ancer di dekat toko kue <strong>eaton</strong>.<br />
dari arah pulomas ke bundaran utama, ke arah mall, terus (jangan u turn ke mall ;D) setelah lampu merah di ruko yang ada di sebelah kiri.<br />
atau dari arah sunter, ek bundaran utama, belok kiri, terus melewati lampu merah, ruko sebelah kiri</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Iota Kebuli]]></title>
<link>http://deviantvillain.wordpress.com/?p=149</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 13:03:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ries</dc:creator>
<guid>http://deviantvillain.id.wordpress.com/2008/04/07/iota-kebuli/</guid>
<description><![CDATA[Food is an important part of a balanced diet. ~Fran Lebowitz

Hari ini, sepulang dari meeting di tem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>Food is an important part of a balanced diet.</em> <strong>~Fran Lebowitz</strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://deviantvillain.wordpress.com/files/2008/04/sepiring-nasi-kebuli-yang-lezat.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-150" src="http://deviantvillain.wordpress.com/files/2008/04/sepiring-nasi-kebuli-yang-lezat.jpg?w=270" alt="sepiring nasi kebuli yang lezat" width="270" height="202" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Hari ini, sepulang dari meeting di tempat klien temen senasib se-meeting urunan usul untuk makan siang di luar. Kebetulan, usul itu tercetus di saat kita udah pada laper karena meeting yang menghabiskan energi <span style="text-decoration:line-through;">untuk berjaga supaya jangan sampe ketiduran</span>. Meetingnya bener-bener fun, karena pihak kliennya juga pada lucu. Mungkin karena banyak ketawa kami akhirnya jadi laper :grin:</p>
<p style="text-align:left;">Sepanjang jalan Codet yang terkenal itu, kami melihat ada banyak restoran. Ada masakan betawi, masakan padang, bakso, tambal ban (loh?), dan lain sebagainya. Anehnya, kami hanya melewati tempat2 itu sambil bilang "Wah, kayaknya enak ya makan itu?", "Liat liat! Ada menu aneh tu cobain yuk!", "Kmu udah pernah cobain itu belum?" dan berbagai komentar lainnya sampe lupa tujuan kami yang sebenarnya : mengisi perut.</p>
<p style="text-align:left;">Setelah hampir melewati semua restoran, akhirnya kami sadar dan kemudian baru benar2 mencari tempat untuk singgah mencoba kuliner nusantara yang beraneka ragam. Lalu terlihatlah sebuah plang. Ada tulisannya: "Sate Tegal". Plangnya dari jauh terlihat sederhana, "Tempatnya kayaknya ekonomis" pikir gw sang anak kos kemaren sore (baru 1,5 taon nge-kost).</p>
<p style="text-align:left;">Setelah sampai, eh ternyata tempatnya bersih dan luas. Terlihat plakat "Telah dikunjungi selera kita dari Global TV", dan setelah celingak celinguk gak karuan akhirnya ditemukan juga daftar yang paling dicari oleh anak kosan kayak gw: daftar harga. Beh, ternyata semua harganya di atas 15,000 rupiah. Well, karena sudah terlanjur masuk n temen-temen gw maw makan di situ akhirnya makanlah gw.</p>
<p style="text-align:left;">Dari semua menu yang ada, gw jadi tertarik sama 1 menu yang sebelumnya belon pernah gw coba: nasi kebuli. Gw pesen deh meskipun gak taw bentuknya kayak gimana. Gak lama, datanglah pelayan <span style="text-decoration:line-through;">seksi</span> gagah membawakan seporsi nasi kebuli yang masih mengebul-ngebul.</p>
<p style="text-align:left;">Ternyata nasi kebuli adalah nasi goreng ditambah daging kambing yang sudah direbus / dimasak sampai matang. Dimasak dengan kunir tentunya sampai kuning begitu. Rasanya sendiri lezat loh. Dagingnya mudah lepas gak nempel ke tulang, empuk lagi. Rasa bumbunya pas. Nasinya gak terlalu keras juga gak terlalu lunak, dengan bumbu yang lezat juga. Apalagi ditambah emping <span style="text-decoration:line-through;">yang mampu membangkitkan asam urat</span> yang krispi renyah, lengkap deh :grin:</p>
<p style="text-align:left;">Harganya 18,000 rupiah. Tapi memuaskan :lol: Well, sekali2 makan agak mahal tapi dapet pengalaman baru. Biarpun udah 1,5 tahun kerja ternyata masih gak enak kalo terlalu banyak mengeluarkan uang bwt makan haha. Tapi dengan pengalaman ini jadi kepingin nyobain masakan2 baru yang lain.</p>
<p style="text-align:left;">Saatnya ikut <a title="milis makanan slurrrrppppp" href="http://groups.yahoo.com/group/jalansutra/" target="_blank">milis jalan sutera</a> nih :mrgreen:</p>
<p style="text-align:left;">~</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diskusi Tentang Kulinari]]></title>
<link>http://nsuwarno.wordpress.com/2007/10/03/diskusi-tentang-kulinari/</link>
<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 12:53:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nina</dc:creator>
<guid>http://nsuwarno.id.wordpress.com/2007/10/03/diskusi-tentang-kulinari/</guid>
<description><![CDATA[ Traveling atau jalan-jalan memungkinkan kita tak hanya melihat-lihat tempat baru, tapi juga menikma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><span class="fullpost"><a href="http://s234.photobucket.com/albums/ee192/Mysojourn/for%20blog/?action=view&#38;current=0065332f.jpg" target="_blank"><img class="alignleft" style="border:3px px;" src="http://i234.photobucket.com/albums/ee192/Mysojourn/for%20blog/0065332f.jpg" border="0" alt="food" width="351" height="208" /></a> Traveling atau jalan-jalan memungkinkan kita tak hanya melihat-lihat tempat baru, tapi juga menikmati makanannya. Itu sebabnya ada buku traveling tentang kulinari setempat. Dan saya tetap percaya bahwa bagian dari explorasi dan adventure kita adalah mencicipi berbagai makanan setempat dan mungkin saja bagaimana mereka menterjemahkan masakan internasional menjadi menu local. </span></p>
<p><a href="http://i234.photobucket.com/albums/ee192/Mysojourn/for%20blog/9ab16b4c.jpg"><img style="float:left;width:200px;cursor:hand;margin:0 10px 10px 0;" src="http://i234.photobucket.com/albums/ee192/Mysojourn/for%20blog/9ab16b4c.jpg" border="0" alt="" /></a>Kemungkinan saya untuk bersosialisasi dengan penduduk setempat yang sangat terbatas, menjadikan saya harus mencicipi makanan local melalui restaurant setempat. Atau memanfaatkan kesempatan acara makan-makan perusahaan di hotel yang juga menyajikan menu local. Tahun ini, kantor kami, mengadakan acara Buka Puasa bersama – Iftar Buffet di Ramada Plaza. Ini acara tahunan. Tahun lalu acara ini hanya di adakan untuk pegawai yang muslim saja. Sayangnya saya tak bisa datang.</p>
<p>Dari undangan Iftar Buffet, diskusi di kantor kemudian berkisar tentang makanan ini. Dan karena teman sekantor adalah bukan orang lokal (qatar) dan juga bukan orang Arab - mereka orang Malaysia keturunan Tionghoa, dan orang Amerika keturunan Itali – tak bisa di hindari bahwa mereka lalu membandingkan dengan budaya kulinari kultur mereka, yaitu makanan cina dan makanan itali.</p>
<p>Mereka sangat bangga dengan makanan lokal mereka yang sangat terkenal itu, dan lalu membandingkannya dengan makanan yang akan mungkin disajikan di hotel tersebut serta membandingkannya dengan acara makan-makan yang di adakan sebelumya (bukan iftar buffet) di hotel yang berbeda. Untuk persiapan makan-makan dan menghindari kemungkinan yang tak diinginkan, rencananya mereka akan makan terlebih dahulu di rumah supaya tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan dengan perut mereka pada saat acara iftar buffet ini....</p>
<p>Wah, lalu apa maksudnya, jauh-jauh datang ke Middle East lalu tak mau mencicipi kulinari local? Padahal disinilah bedanya, pengalaman memakan jenis makanan yang berbeda, dengan segala efek sampingnya…. Dengan begini kan kita bisa cerita tentang makanan lokal dan resikonya (kalo mungkin ada....) Karena kalo tak mencicipi yang seperti ini lalu apa yang mau di ceritain dong....? Layaknya jauh-jauh dateng ke negeri seberang, yang dimakan Cuma nasi padang melulu!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[burger blenger]]></title>
<link>http://snydez.wordpress.com/2007/07/25/burger-blenger/</link>
<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 05:37:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://snydez.id.wordpress.com/2007/07/25/burger-blenger/</guid>
<description><![CDATA[Untuk beli burger Blenger ini, ngantri nya lumayan. bisa 2 meteran (15 orang). tiap orang mungkin ra]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk beli burger Blenger ini, ngantri nya lumayan. bisa 2 meteran (15 orang). tiap orang mungkin rata rata mesen 5 burger.<br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/IHkJnymOQbg'></param><param name='wmode' value='transparent'></param><embed src='http://www.youtube.com/v/IHkJnymOQbg&rel=0' type='application/x-shockwave-flash' wmode='transparent' width='425' height='350'></embed></object></span><br />
Pada hari jum'at, di sekitar jam 12-an tutup sampai 15.30.</p>
<p>berlokasi di jalan <strong>lamandau 4</strong>. ancer ancernya dari arah seberangnya <strong>rumah sakit pertamina</strong>, lampu merah, terus ke arah penjual burung, gak berapa jauh belok kiri, belokan pertama kiri lagi, deket pojok.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ayam tulang lunak - hayam wuruk]]></title>
<link>http://snydez.wordpress.com/2007/03/28/ayam-tulang-lunak-hayam-wuruk/</link>
<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 08:12:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://snydez.id.wordpress.com/2007/03/28/ayam-tulang-lunak-hayam-wuruk/</guid>
<description><![CDATA[lokasi :
diatas toko kue harvest, di samping bakmi gajah mada, jalan sunda, sarinah
berpusat di jala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="border:1px inset gray;width:200px;float:left;font-size:x-small;margin:5px;padding:5px;">lokasi :<br />
diatas toko kue <strong>harvest</strong>, di samping <strong>bakmi gajah mada</strong>, jalan <strong>sunda, sarinah</strong></p>
<p>berpusat di jalan <strong>hayam wuruk, denpasar, bali</strong>, ATL-HM ini membuka cabang dibeberapa tempat di <strong>jakarta</strong></p>
<p>ada dua pilihan utama ayam. ayam tulang lunak goreng, dan ayam tulang lunak bakar. dan ayam nya bisa dipesan satu potong atau komplit.<br />
disajikan di atas piring rotan berlapis daun pisang. di lengkapi dengan sambal khas.</p>
<p>ketika berkesempatan untuk nyicipin makan disana, gue milih ayam bakar. dan <strong>ran</strong> memilih ayam gorengnya.<br />
pilihan gue gak salah, ternyata gue lebih menyukai yang dibakar dari pada yang digoreng.</p>
<p>tulangnya dalam kondisi agak hancur gitu, dan ada sih beberapa yang 'kesannya' utuh, tapi ketika dimakan, ya lunak.<br />
tapi yang namanya sumsum khan rasanya lebih pahit dari pada daging, jadi mungkin percuma juga kalo yang gak doyan rasa pahit.<br />
mungkin itu kenapa disediain sambelsambelannya. untuk orang yang gak mengharapkan rasapahit bisa nyocol sambelnya.</p>
<p>karena gue baru pertama kali ini makan ayam tulang lunak, jadi gue gak punya perbandingan lain. jadi untuk ATL-HM ini gue rasa cukup memuaskan lidah gue, walopun belom memuaskan perut gue, soalnya porsinya ga terlalu banyak. :D</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[martabak har palembang]]></title>
<link>http://snydez.wordpress.com/2006/06/05/martabak-har-palembang/</link>
<pubDate>Mon, 05 Jun 2006 06:52:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://snydez.id.wordpress.com/2006/06/05/martabak-har-palembang/</guid>
<description><![CDATA[dikarenakan telat datang ke undangan, walhasil perut laper.
berputar dari gedung arsip menuju sarina]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>dikarenakan telat datang ke undangan, walhasil perut laper.<br />
berputar dari <b>gedung arsip</b> menuju <b>sarinah</b>, <b>ran</b> bilang kalo dia pernah liat <b>martabak har (cabang palembang)</b> deket deket situ.</p>
<p>karena penasaran berpelanpelan lah di jalan <b>hayam wuruk</b> menuju <b>harmoni</b> akhirnya ketemu juga, [kalo gak salah] posisinya sebelum jalan <b>batu ceper</b> stelah <i>u turn</i> <b>gajah mada plaza</b>.</p>
<p><b>martabak har</b> spesialitinya adalah martabak yang isinya telur (didadar?). ditambah dengan saos kare.<br />
kalo dibanding yang id <b>palembang</b>, agak kurang rasa kare nya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ngk]]></title>
<link>http://snydez.wordpress.com/2006/02/28/ngk/</link>
<pubDate>Tue, 28 Feb 2006 15:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>snydez</dc:creator>
<guid>http://snydez.id.wordpress.com/2006/02/28/ngk/</guid>
<description><![CDATA[nasi goreng kambing kebon sirih terletak di deket persimpangan jalan sabang   dan jalan kebon sirih.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>nasi goreng kambing kebon sirih</strong> terletak di deket persimpangan jalan <strong>sabang</strong>   dan jalan <strong>kebon sirih</strong>.</p>
<p>sebelum ngeliat bentuknya, yang ada di bayangan gue sih, nasi goreng yang menuh menuhin   piringnya ditambah berapa <em>slice</em> irisan daging kambing.<br />
pas pesenannya sampe, eh..ternyata gak begitu banyak juga, tapi yang agak meleset dari   perkiraan gue semula adalah daging kambingnya, ternyata ga berbetuk irisan tapi lebih tepat   disebut potongan, karena besar besar.<br />
dan kemaren sempet bingung koq ada satu piring acar, padahal khan gak mesen acar, apalagi   satu piring, ternyata itu komplemen dari nasi goreng kambing tersebut.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[LINGKUNGAN BARU]]></title>
<link>http://nsuwarno.wordpress.com/2005/10/08/adaptasi1/</link>
<pubDate>Sat, 08 Oct 2005 09:31:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nina</dc:creator>
<guid>http://nsuwarno.id.wordpress.com/2005/10/08/adaptasi1/</guid>
<description><![CDATA[Saya sudah beberapa kali pindah kantor dan masalah klasik selalu timbul, yaitu menyesuaikan diri den]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah beberapa kali pindah kantor dan masalah klasik selalu timbul, yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, teman-teman kantor baru, belum lagi sistem kerja di kantor yang berbeda, serta pekerjaannya sendiri juga berbeda. Harus saya akui, bahwa semakin tua saya atau kita, semakin kita sulit menyesuikan diri dengan pekerjaan dan lingkungan baru. Mungkin ini sebabnya apabila kita sudah lebih berpengalaman, kecenderungan untuk pindah-pindah kantor juga berkurang. Alasannya tentu klasik.... yaitu ingin membina karier....</p>
<p> Lepas dari itu semua, kalo kita pindah kantor keluar negeri, maka tentu lain ceritanya. Dibawah ini cerita pengalaman saya pindah bekerja di luar negri; <!--more-->pindah kantor (bukan mutasi lho...), dan juga pindah negara. Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk adaptasi:</p>
<ul>
<li>Menyesuaikan dengan suasana kantor yang jauh berbeda dengan gaya di Indonesia, mulai dari teman-teman kerja yang terdiri dari berbagai negara (bukan cuma suku saja seperti di Indonesia). Artinya dari mulai makanan, kebiasaan, budaya, bahasa, sampai hal-hal sederhana tapi sangat penting, tata krama, semuanya berbeda dan saya pikir saya harus punya toleransi yang sangat besar untuk itu semua.</li>
<li>Menyesuaikan dengan peraturan setempat yang tentunya berbeda dengan di Jakarta atau di Bandung atau dimanapun di Indonesia. Mulai dari irama kantor yang berbeda sampai jam buka toko setempat. Kalau diJakarta supermarket buka dari mulai jam 8 pagi sampai jam 10 malam, di Doha ini supermarket buka dari mulai jam 7 pagi sampai jam 12 malam.... Pusat perbelanjaan buka jam 10 pagi sampai dengan jam 1 siang, tutup sampai dengan jam 4 sore untuk kemudian buka lagi sampai jam 10 malam.</li>
<li>Berkendaraanpun berbeda, kalau di Indonesia, di Singapore, dan Malaysia kita berkendaraan disebelah kiri, maka di Arabia sini adalah sebelah kanan. Kalau di Jakarta siang hari bolong maksimum kecepatan kendaraan adalah 40km/jam sudah bagus, karena tidak macet, maka di Doha dengan kecepatan 80km/jam saya di omelin orang karena terlalu lambat, mereka menuntut saya untuk mengendarai kendaraan saya dengan kecepatan minimum 90km/jam</li>
<li>Cara berpakaian pun saya harus hati-hati, maklum ini negara arab, atau tepatnya negara islam dengan segala peraturannya untuk kaum hawa yang lebih ketat. Dari cara berpakaian sampai jalan-jalan di pusat kota... semua sangat berbeda dengan kalau di negara sendiri. Kalau di Indonesia, banyak pohon-pohon yang hijau, di Doha sini, semua warnanya putih pasir.... Belum lagi masalah makanan yang berbeda, beruntung saya bukan orang yang terlalu memilih makanan saya dan bukan jenis yang harus makan makanan indonesia melulu untuk "makan."</li>
</ul>
<p>Yang paling sulit untuk saya menyesuaikan diri adalah hari kerja. Selama ini saya selalu bekerja dari mulai hari Senin sampai hari Jumat, dan kalau lembur artinya hari Sabtu saya masuk kantor. Dan itu berlaku universal (atau begitulah saya pikir....), tapi di Qatar dan di Arabia sini rupanya semua berbeda. Hari kerja dimulai hari Sabtu, dan ini hari pendek dan berakhir hari Kamis (hari pendek juga). Hari Jumat adalah hari libur....</p>
<p>Rasanya masih banyak lagi hal-hal kecil yang harus diadaptasi yang akan terlalu banyak untuk di ungkapkan disini. Ternyata butuh waktu yang lebih panjang dari cuma satu bulan untuk bisa menyesuaikan diri pada semua itu.</p>
<p>Masalah lain yang harus di atasi selain adaptasi adalah mengisi waktu luang dan mencari teman baru. Yang terakhir ini tidak ternyata tak terlalu mudah....</p>
<p>Untuk mengisi waktu luang, selama saya mau mengeluarkan uang extra, maka banyak kegiatan yang bisa dilakukan, yang jadi masalah adalah saya belum bisa beradaptasi dengan nilai tukar dan harga-harga di Doha ini yang jauh lebih mahal dari pada di Jakarta, disamping pilihan yang tak banyak.</p>
<p>Artinya kalo di jakarta bisa beli keju (merk Cheesy yang buatan dalam negri) dengan harga Rp. 10 000,- dengan ekivalen harga yang sama, alias sekitar QR 4.- tak ada keju merek yang sama yang bisa dibeli.... harga coca cola kaleng pun beda. disamping itu di Jakarta tak perlu harus beli makan siang Mc Donald, bisa ke warteg yang jauh lebih murah, di Doha ini tak ada pilihan itu....</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
