<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ki-hajar-dewantara &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ki-hajar-dewantara/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ki-hajar-dewantara"</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 09:02:44 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tentang Pendidikan]]></title>
<link>http://loushevaon7.wordpress.com/?p=86</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 05:45:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>loushevaon7</dc:creator>
<guid>http://loushevaon7.wordpress.com/?p=86</guid>
<description><![CDATA[Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi deraja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas keadaban, yakni memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.(Ki Hajar Dewantara)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi muda mendidik diri sendiri sepanjang hidup.(Robert M.Hutchins)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pendidikan adalah tujuan eksistensi kita.(Ralph Waldo Emerson)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pendidikan tertinggi adalah yang tak sekadar memberi kita pengetahuan, tapi yang membuat hidup kita dalam harmoni dengan semua eksistensi.(Rabindranath Tagore)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pendidikan formal akan membuatmu hidup; swapendidikan akan membuatmu untung.(Jim Rohn)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Pendidikan itu bukan mengisi sebuah keranjang, melainkan menyalakan sebuah api.(William Butler)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Belajar adalah untuk berubah. Pendidikan adalah proses yang mengubah pembelajar.(NN)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Aku bertanya :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Apakah gunanya pendidikan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">di tengah kenyataan persoalannya ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Apakah gunanya pendidikan </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">bila hanya mendorong seseorang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">menjadi layang-layang di ibukota</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">kikuk pulang ke daerahnya ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">Apakah gunanya seseorang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">belajar filsafat, sastra,<span> </span>teknologi,<span> </span>ilmu kedokteran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">atau apa saja, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">“Di sini aku merasa asing dan sepi!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">(dari “Sajak Seonggok Jagung” – WS Rendra)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa Ki. Hadjar Dewantara]]></title>
<link>http://sumpek.wordpress.com/?p=16</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 02:23:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>balisouvenirs</dc:creator>
<guid>http://sumpek.wordpress.com/?p=16</guid>
<description><![CDATA[
Membaca Ulang Fatwa Ki. Hadjar Dewantara
(Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Upaya Menjaga Hidup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sumpek.files.wordpress.com/2008/05/profil_60522_1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-17" src="http://sumpek.wordpress.com/files/2008/05/profil_60522_1.jpg" alt="" width="250" height="350" /></a></p>
<p>Membaca Ulang Fatwa Ki. Hadjar Dewantara<br />
(Refleksi Hari Pendidikan Nasional dan Upaya Menjaga Hidup Merdeka)</p>
<p>Menelusuri sisi kehidupan Ki. Hadjar Dewantara atau kalau public mengenal dengan Bapak Pendidikan Nasional yang hari kelahirannya 2 Mei di jadikan hari pendidikan nasional NKRI, dibalik semua penapsiran tentang isi dan ujar-ujar Ki. Hadjar Dewantara, sesungguhnya masih banyak inti ajaran yang membutuhkan penafsiran ulang terhadap intisari ajaran dan fatwa-fatwa beliau. Salah satu yang menjadi sorotan adalah sepuluh fatwa Ki. Hadjar Dewantara untuk hidup merdeka atau dalam bahasa KHD “fatwa akan sendi hidup merdeka”. Saya mengajak kita merenung dalam simpuh refleksi di hari pendidikan ini, tidak hanya melakukan seremonial upacara atau hanya mengagung-agungkan nama Ki. Hadjar Dewantara karena beliau tidak inginkan itu. Membaca ulang fatwa-fatwanya diharapkan kita akan pahami alur fikir dan kedalaman jiwa merdekanya. Mari kita telusuri:</p>
<p>Pertama, “Lawan Sastra Ngesti Mulya” yang berarti dengan ilmu kita menuju kemuliaan. Inilah yang dicita-citakan KHD dengan Tamansiswanya, untuk kemuliaan nusa, bangsa dan rakyatnya. Sastra Herdjendrajuningrat Pangruwating Dyu (ilmu yang luhur akan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban), fatwa inilah yang menjadi Tjandrasengkala lahirnya Tamansiswa (1852-1922) sebagai masyarakat tanpa kelas.</p>
<p>Kedua, “Suci Tata Ngesti Tunggal” dalam arti dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan, sebagai janji yang harus diamalkan oleh tiap-tiap peserta perjuangan Tamansiswa dan bangsa Indonesia. Fatwa ini sebagai Tjandrasengkala mencatat lahirnya persatuan Tamansiswa (Tahun 1853-1923).</p>
<p>Ketiga, “Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia” berdasarkan asas Tamansiswa yang menjadi syarat hidup merdeka berdasarkan pada ajaran agama bahwa untuk Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama; sama haknya maupun kewajibannya. Sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjalankan kewajiban kemanusiaan, untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan batinnya. Janganlah kita mengejar keselamatan lahir dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan batin hidup.</p>
<p>Keempat, “Salam bahagia diri tidak boleh menyalahi damainya masyarakat” sebagai sebuah peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita ialah hak-hak orang lain yang juga seperti kita masing-masing yang sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakan diatas kepentingan diri masing-masing sebagai jalan keselamatan bersama.</p>
<p>Kelima, “Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna” sebagai pengakuan bahwa kodrat alam yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan sempurna diatas kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman hidup, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa dan anggota dari alam kemanusiaan.</p>
<p>Keenam, “Alam hidup manusia adalah alam berbulatan” artinya bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus yang terdiri dari alam diri, alam kebangsaan, alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa dan rasa kemanusiaan ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia. Adanya perasan ini tidak dapat dipungkiri.</p>
<p>Ketujuh, “Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kepada sang anak” mengandung arti penghambaan kepada sang anak tidak lain dari pada penghambaan kita sendiri. Sungguhpun pengorbanan itu kita tujukan kepada sang anak, tetapi yang memerintah kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, tetapi kita sendiri. Disamping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara dan pada rakyat dan agama atau lainnya. Semua itu tidak lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencari rasa bahagia dan damai dalam jiwa kita sendiri.</p>
<p>Kedelapan, “Tetep-Mantep-Antep” artinya dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus berketetapan hati. Tekun bekerja tidak menoleh kekanan dan kekiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu “mantep” setia dan taat pada asas kita, teguh iman hingga tak ada kekuatan yang akan dapat menahan gerak kita dan membelokan aliran kita. Sesudah kita tetap dalam gerak lahir dan mantep dan tabah batin kita, segala perbutan kita akan “antep”, berat berisi (bernas) dan berharga. Tidak mudah dihambat, ditahan-tahan dan dilawan oleh orang lian.</p>
<p>Kesembilan, “Ngandel-Kendel-Bandel-Kandel” dalam arti kita harus ‘ngandel’ percaya dan yakin kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. ‘kendel’ berani, tiada ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya keada Tuhan dan kepada diri sendiri. ‘bandel’ yang berarti tahan dan tawakal. Dengan demikian maka kita jadi ‘kandel’ tebal, kuat lahir bati kit, berjuang untuk cita-cita kita.</p>
<p>Kesepuluh, “Neng-Ning-Nung-Nang” artinya dengan ‘meneng’ tentram lahir batin, tidak ragu dan malu-malu, tahap selanjutnya kita ‘ning’ wening, bening jernih, pikiran kita, mudah membedakan yang hak dan yang batil (benar-salah) maka kita jadi ‘nung’ hanung, kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhirnya ‘nang’ menang, dan dapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.</p>
<p>Kesepuluh fatwa hidup KHD itulah yang seharusnya diketahui dan diamalkan khusunya bagi wong Tamansiswa dan masyarakat Indonesia yang berharap NKRI tetap berkibar. Ki. Hadjar Dewantara dan Tamansiswanya hingga kini tetap menyerukan dan mengawal agar bangsa dan negara ini tidak terjerumus pada syariat-syariatan dari agama apapun, toh ketika syariat demokrasi diterapkan di negeri inipun sebagai warga bangsa kita harus tetap belajar dan membaca ulang apa sesungguhnya yang dipetik dari sebuah demokrasi ini. Realitasnya kini anak-anak bangsa hasil didikan pendidikan yang kian liberal dan bebas bablas melahirkan Rasisme seperti ditunjukan oleh kelompok-kelompok/front-front atau golongan-golongan cengeng di beberapa daerah dan berdampak pada sikap a moral, anarkisme, radikalisme yang dilakukan sebahagian anak-anak bangsa ini. Pendidikan yang ditanam KHD sesungguhnya menekankan pada sisi humanis, sisi sosial kemanusiaan dalam bahasa KHD bahwa pendidikan berarti daya-upaya untuk memajukan, bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran dan tubuh anak, sehingga terbentuknya kesempurnaan hidup yang selaras dan serasi dengan dunianya. Terakhir saya teringat pada salah satu kata Ir. Soekarno yang mengatakan “Bersatulah hai rakyat Indonesia, sebagaimana selalu dianjurkan oleh Ki. Hadjar Dewantara” dan tulisan Sri Sultan Hamengku Buwono X di Monumen Jogja Kota Pendidikan yang berbunyi “Seperti Kuntum Padma di Tamansari ‘engkau kembang dan menyala di kalbu pertiwi’, cipta, rasa, karsa ……juga keluhuran budi menggema diseluruh persada nusantara”. Ki. Hadjar selalu berpesan bersatulah anak-anak bangsa untuk hidup merdeka dan belajarlah pada masa lalu dalam menjaga keutuhan NKRI.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008]]></title>
<link>http://sumpek.wordpress.com/?p=14</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 02:06:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>balisouvenirs</dc:creator>
<guid>http://sumpek.wordpress.com/?p=14</guid>
<description><![CDATA[ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><em>ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan<br />
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya</em></p>
<p><em>tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan</em></p>
<p><a href="http://sumpek.files.wordpress.com/2008/05/tutwurilogo.png"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-15" src="http://sumpek.wordpress.com/files/2008/05/tutwurilogo.png?w=97" alt="" width="97" height="96" /></a></p>
<p>Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat <strong>Raden Mas Soewardi Soerjaningrat </strong>yang kemudian mengganti nama menjadi <strong>Ki Hadjar Dewantara. </strong>Pelopor Perguruan Taman Siswa ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959.</p>
<p>Tidak hanya dalam bidang pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara pun sebelumnya aktif dalam masa pergerakan nasional di dalam organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 dan Indische Partij pada tahun 1912. Sebuah momen yang kita kenal menjadi Kebangkitan Nasional, dirayakan setiap 20 Mei. Bahkan pada tahun 1913 beliau secara politik aktif dalam menentang Perayaan Seratus Tahun Belanda dari Prancis melalui Komite Bumiputra. Ditentangnya perayaan tersebut adalah karena pihak Belanda memeras rakyat untuk kepentingan perayaan tersebut. Salah satu ucapannya yang ditulis dalam koran Douwes Dekker de Express adalah bertajuk Als Ik Eens Nederlander Was <strong>–Seandainya Aku Seorang Belanda–</strong></p>
<p><em>Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.<br />
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun.<br />
</em><br />
Akibat tulisan tersebut beliau dibuang tanpa proses pengadilan ke Pulau Bangka oleh Gubernur Jendral Idenburg, namun atas tulisan Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo hukuman tersebut berganti menjadi dibuang ke negeri Belanda.</p>
<p>Sepulang dari pengasingan di Belanda –yang beliau gunakan juga untuk memperdalam ilmu– ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa –Perguruan Nasional Tamansiswa– pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.</p>
<p>Dari sinilah lahir konsep pendidikan nasional, hingga Indonesia merdeka Ki Hadjar Dewantara pun menjadi Menteri Pendidikan dan meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta.</p>
<p>Dalam konteks 100tahun hari pendidikan nasional peningkatan mutu pendidikan hanyalh keniscayaan belaka, meskipun Departemen pendidikan nasional sudah banyak merancang upaya peningkatan kualitas pendidikan, mulai dari Kurikulum, proses pembelajaran, sampai sistem ujian akhir nasional.</p>
<p>Namun di lain pihak Biaya pendidikan yang semakin hari semakin mahal, membuat pendidikan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Pendidikan saat ini bukan seperti yang dicita-citakan pendiri taman siswa, akan tetapi Telah menjadi bisnis pendidikan.  Kemana anggaran biaya pendidikan yang 20% dari APBN? Bagaimana Program pendidikan gratis yang di jadikan janji kampanye kepala daerah?</p>
<p>*Dikutip dari berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Happy Birthday]]></title>
<link>http://agusjames007.wordpress.com/?p=116</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 00:07:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Riyanto</dc:creator>
<guid>http://agusjames007.wordpress.com/?p=116</guid>
<description><![CDATA[Bukan sedang keinggris-inggrisan atau sok bisa English, tapi saya sedang terbayang bagaimana polah t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft thumbnail" style="float:left;" src="http://agusjames007.wordpress.com/files/2008/05/tutwuri.jpg?w=95" alt="" width="95" height="96" />Bukan sedang keinggris-inggrisan atau sok bisa English, tapi saya sedang terbayang bagaimana polah tingkah Ruben Onsu dalam suatu acara di TV dalam menyanyikan sebuah lagu untuk memberi ucapan selamat Ultah kepada pemirsa. Maka postingan ini saya beri judul "Happy Birthday".</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara yang oleh bangsa ini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Semboyan Beliau "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani"</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berusaha membayangkan bagaimana ekspresi beliau andaikata beliau masih hidup dan melihat kenyataan dunia pendidikan Indonesia saat ini. :mrgreen:</p>
<p style="text-align:justify;">"Happy Birthday" (dengan gaya Ruben Onsu)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.::. Memahami (menyadari) Peran dan Bertanggung Jawab .::.]]></title>
<link>http://dewiyuhana.wordpress.com/?p=173</link>
<pubDate>Thu, 01 May 2008 14:22:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewi</dc:creator>
<guid>http://dewiyuhana.wordpress.com/?p=173</guid>
<description><![CDATA[
Ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan),ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan pelu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan),ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). </span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Amburadul dan membingungkan. Dua kata itu dilontarkan rekan saya kemarin, mengomentari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini dan menjadi headline berita di media massa dan elektronik. Mulai tertangkapnya Al Amin Nur Nasution, penetapan Ketua DPRD Surabaya dan rekan sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi, keseleo lidah ala Presiden Timor Leste Ramos Horta, segel naskah soal Ujian Nasional (UN) yang robek di Indramayu, klaim Munas Luar Biasa (MLB) yang sah antara PKB kubu Muhaimin dan Pro Gus Dur, hingga banyaknya reality show yang menjual mimpi ‘menjadi kaya dan terkenal’ dengan instan.<span> </span></span></span><!--more--><span style="color:#333399;"><span><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Sebenarnya masih ada banyak contoh peristiwa yang disebutkan teman saya, namun saya sengaja tidak menuliskan semuanya di sini. Selain menghabiskan jatah kolom yang terbatas, saya yakin Anda pasti mengikuti detil peristiwa dan berita yang terjadi di setiap sudut tanah air tercinta, hingga saya juga yakin Anda akan setuju dengan apa yang dilontarkan karib saya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Menurutnya, kejadian miris, tragis, dan memalukan yang sebagian besar melibatkan tokoh-tokoh nasional itu seharusnya tidak akan terjadi jika setiap orang menyadari peran, posisi, dan tanggung jawab yang diemban. Dan bila setiap individu, (termasuk saya, teman saya, dan Anda) tak hanya menghapal ajaran Ki Hajar Dewantara, yang hari kelahirannya 2 Mei 1989 diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanpa memahami makna dan substansi luhur yang terkandung di dalamnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>“Diakui atau tidak, itulah potret kita saat ini,” katanya. <span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Ing ngarsa sungtulada. Orang-orang yang diberi amanah berada di barisan terdepan<span> </span>sebagai pemimpin mulai melupakan –atau pura-pura lupa- jika kepercayaan tersebut tidak diberikan cuma-cuma. Ada konsekuensi logis yang menuntutnya untuk selalu menjaga sikap, menjadi teladan dan panutan masyarakat. Mereka yang berada di tengah dan memiliki kesempatan untuk menciptakan peluang (ing madya mangun karsa), seharusnya membuat peluang positif yang bermanfaat. Bukan sebaliknya, memperkeruh keadaan demi meraup keuntungan pribadi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Teman saya juga menegaskan posisi belakang bukan berarti posisi yang kurang prestisius dan bergengsi, tempat buangan. Sebab tak sedikit kesuksesan besar terjadi karena peran mereka yang berada di belakang. Pun demikian, posisi belakang juga bukan pembenaran untuk melakukan kecurangan dengan menikam lawan dan menghancurkan pesaing dengan cara tidak hormat.Tut wuri handayani yang diajarkan Ki Hajar Dewantara mengajak kita untuk selalu memberi yang terbaik, memotivasi, meski kita bukan siapa-siapa. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Sayangnya, saat ini banyak orang yang berebut untuk berada di depan. Padahal Allah SWT, pemilik alam semesta menciptakan dunia dengan keseimbangannya. Ada langit, ada bumi, ada depan ada belakang, kanan-kiri, kaya-miskin, pintar-kurang pintar, ada lelaki dan perempuan, guru-murid, semua saling membutuhkan dan melengkapi. Bayangkan bila dunia hanya diisi orang kaya, Anda tentu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Uang tak lagi bermakna karena tak ada yang mau menjadi pekerja rumah tangga (untuk tidak mengatakan pembantu). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Di momen Hardiknas hari ini, di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus harga tertinggi USD 140 per barel, tak ada salahnya kita melakukan introspeksi diri, untuk mengetahui posisi dan peran yang seharusnya kita mainkan. Jika tak cocok menjadi pemeran utama, ya bersyukur lah masih mendapat peran pembantu, meski bukan berarti putus asa untuk terus berlatih menjadi lebih baik. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Selain introspeksi, rasanya kita juga berkewajiban untuk mengembalikan pendidikan ke khittahnya. Pendidikan bukan tanggung jawab lembaga dan institusi resmi pendidikan saja. Seperti diajarkan dalam psikologi pendidikan, ada tiga elemen pendukung yang seharusnya bersinergi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nah, saat ini banyak orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya merasa sudah tak memiliki tanggung jawab untuk mendidik. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>“Loh, bukannya saya sudah membayar mahal? </span><span>Wajar, jika saya meminta sekolah memberikan pendidikan terbaik kan?”. Mungkin ini yang dipikirkan oleh sebagian besar dari kita dan melupakan satu perkataan Rasul, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Majusi, dan Nasrani”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><span>Potret pendidikan yang menentukan masa depan generasi penerus bangsa, adalah tanggung jawab kita semua. <span> </span><span> </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemimpin yang didambakan]]></title>
<link>http://dossuwanda.wordpress.com/?p=54</link>
<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 14:26:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>dossuwanda</dc:creator>
<guid>http://dossuwanda.wordpress.com/?p=54</guid>
<description><![CDATA[Mungkin kita sepakat, bahwa kita berkeinginan mempunyai pemimpin yang menjadi dambaan, pemimpin yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin kita sepakat, bahwa kita berkeinginan mempunyai pemimpin yang menjadi dambaan, pemimpin yang dapat membawa kita dalam sebuah kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan.<br />
Betapa bangganya jika kita juga merupakan bagian dari yang  didambakan itu, menjadi seseorang yang didambakan orang lain karena kepemimpinannya, selalu dinanti kehadirannya, selalu didengar apa yang diucapkannya, selalu diturut apa perintahnya, karena semua itu diyakini dan dirasakan akan membawa kepada sebuah perubahan, sebuah kemajuan buat semua orang, tidak ada lagi pembeda dalam menetukan kemajuan, tidak ada lagi pemisah dalam meningkatkan kesejahteraan, semua merasa diperhatikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.</p>
<p><!--more-->Berbicara hal tersebut, saya teringat sewaktu duduk di bangku SMP tahun 1983-1986, namanya SMP Taman Siswa di Bandung atau Taman Dewasa.<br />
Di Taman siswa selain mendapat pelajaran umum juga diberikan pelajaran tentang ketaman siswaan, ada satu hal yang  masih saya ingat sampai sekarang dari pelajaran ketaman siswaan itu, yaitu tentang ajaran Ki hajar Dewantara;: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut wuri Handayani.</p>
<p>	<strong>Ing Ngarso Sung Tulodo</strong>, artinya; di depan memberi contoh dan teladan.<br />
	<strong>Ing Madyo Mangun Karso</strong>, artinya; ditengah membangun karsa, gagasa, ide, dan karya<br />
	<strong>Tut wuri Handayani</strong>, artinya; di belakang memberi dorongan/ motivasi.</p>
<p>Dari pengertian ajaran ki Hajar Dewantara mempunyai nilai dan gaya kepemimpinan, yaitu bahwa seorang pemimpin yang didambakan seyogyanya selalu berusaha menempatkan posisinya dalam 3 konteks yang berbeda:</p>
<p>-	Berani tampil di depan dengan senantiasa memberikan contoh dan keteladan.<br />
-	Berada ditengah anggotanya dengan membangun karya, karsa, dan gagasan, dan<br />
-	Jika dibelakang, selalu memberikan petunjuk, selalu mendorong, dan memotivasi.<br />
Tentunya ajaran ki Hajar Dewantara itu dapat dilaksanakan oleh semua pemimpin jika dalam</p>
<p>dirinya selalu berusaha memiliki sifat kepemimpinan ; <strong>Siddiq</strong> (benar), yaitu berkata dan bertindak benar, <strong>Amanah</strong> (dipercaya), selalu menjaga kepercayaan, <strong>Tabliq</strong> (menyampaikan apa adanya), dan <strong>Fathonah</strong> (pandai), pemimpin itu harus pandai, cerdas. Juga memiliki sikap kepemimpinan yang <strong>Tawadhlu</strong> (rendah hati)</p>
<p>Seandainya pemimpin memiliki sifat dan sikap seperti itu, seandainya pemimpin itu dapat menempatkan posisinya dalam 3 konteks yang berbeda ; memberi teladan, karsa dan karya, dan selalu memberi motivasi,  betapa indahnya keluarga ini, betapa indahnya masyarakat ini,  dan betapa indahnya negara ini mungkin semua dapat berjalan dengan dinamika kearah tujuan  yang jelas, saling bahu membahu memberikan sesuatu karya yang berharga dan bermanfaat, tidak ada lagi batasan untuk mencapai keadilan.<!--more--></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MIMPI YANG MEMANGGIL UNTUK MENJADI THE NEXT MASYUMI(BAGIAN 1)]]></title>
<link>http://bulanbintang.wordpress.com/2007/12/21/mimpi-yang-memanggil-untuk-menjadi-the-next-masyumibagian-1/</link>
<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 06:45:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Badrut Tamam Gaffas</dc:creator>
<guid>http://bulanbintang.wordpress.com/2007/12/21/mimpi-yang-memanggil-untuk-menjadi-the-next-masyumibagian-1/</guid>
<description><![CDATA[
Gerbang Kemerdekaan Indonesia pada akhirnya terbuka juga atas berkat Rahmat Allah SWT sebagai klima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div align="justify"><!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Gerbang Kemerdekaan Indonesia pada akhirnya terbuka juga atas berkat Rahmat Allah SWT sebagai klimaks dan titik puncak (kulminasi) perjuangan setelah bangsa dan anak bangsa ini mengalami fase – fase panjang mempertaruhkan jiwa raga demi satu kata MERDEKA. Jadi tidaklah benar jika kemerdekaan ini merupakan hadiah dari jepang, yang benar propaganda jepang sebagai pemimpin asia dan saudara tua disertai pula dengan janji me-merdekakan bangsa asia termasuk Indonesia dari penjajahan bangsa eropa dan sekutunya.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Sementara para pemimpin pergerakan termasuk diantaranya Kyai Haji Mas Mansur yang tergabung dalam empat serangkai bersama dengan Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta dan Ki Hajar Dewantoro secara terus menerus mengobarkan semangat perlawanan rakyat untuk perjuangan kemerdekaan dengan membentuk PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), perlawanan yang gigih ditunjukkan oleh laskar – laskar hizbullah dan laskar - laskar pembela tanah air, juga serangkaian jalan panjang diplomasi akhirnya berbuah manis dengan berdirinya milisi peta (cikal bakal TNI), berdirinya satu wadah kekuatan ummat Islam MASJUMI (cikal bakal Partai MASJUMI) dan lahirnya badan – badan lain yang dibentuk sebagai upaya untuk mempersiapkan Indonesia Merdeka (BPUPKI dan PPKI).</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><a href="http://bulanbintang.wordpress.com/files/2007/12/peta-dan-bulan-bintang.jpg" title="peta-dan-bulan-bintang.jpg"></p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://bulanbintang.wordpress.com/files/2007/12/peta-dan-bulan-bintang.jpg" alt="peta-dan-bulan-bintang.jpg" /></div>
<p></a></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Bukti besarnya peran ummat Islam dalam membidani kemerdekaan terlihat jelas dari bendera tentara PETA yang juga mencantumkan lambang bulan dan bintang yang banyak diasumsikan sebagai simbol perjuangan ummat Islam.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><b>Bulan Bintang sebagai simbol perjuangan</b></p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Lambang bulan bintang dalam masyarakat Islam pada umumnya mengesankan sebagai simbol Islam meskipun tidak bisa diingkari bahwa tidak menutup kemungkinan adanya tafsir yang berbeda terhadap simbol dan lambang bulan bintang tersebut. Simbol bulan bintang di masa lalu pernah digunakan sebagai tanda gambar Sarekat Islam sebagai cikal bakal Pergerakan Islam dan pernah pula digunakan sebagai tanda gambar Partai Masyumi yang merupakan cikal bakal Pergerakan Islam Modern.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Di era kembalinya kebebasan berpartai politik pasca reformasi tahun 1998, terdapat setidaknya 48 partai politik sebagai kontestan pada pemilu 1999 dan 4 diantaranya menggunakan simbol bulan bintang diantaranya Partai Bulan Bintang pimpinan Prof Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., Partai Ummat Islam yang dipimpin oleh Prof Deliar Nur dan Prof Harun Al Rasyid, Partai Masyumi Baru yang diketuai oleh Bung Ridwan Saidi (politisi senior PPP) dan Partai Persatuan Islam Masyumi yang didirikan oleh Abdullah Hehamahua (mantan ketua PB HMI).<br />
Terlepas dari proses pendirian dan seberapa besar tingkat adopsi terhadap ide besar Islamic Modernization yang pernah sukses diperankan Partai Masyumi, realitas politik menunjukkan bahwa diantara empat partai penerus Masyumi, Partai Bulan Bintang mampu menampilkan diri sebagai partai yang paling ideal dan representatif dengan raihan suara yang menembus ET dan menduduki peringkat ke-6 diantara 48 kontestan.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Penggunaan simbol bulan bintang sesungguhnya merupakan bukti terpeliharanya kesinambungan perjuangan ummat Islam sejak berabad – abad lampau, bagi PBB seperti diuraikan oleh Bang Yusril dalam buku berjudul yang diterbitkan oleh Global Publika, penggunaan simbol bulan bintang juga dimaksudkan :</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:1.27cm;"><font color="#000080">Agar kita dengan segera bisa memanggil jamaah kita sehingga kita tidak sulit mensosialisasikan partai baru ini ke tengah – tengah masyarakat. Ini karena tidak semua masyarakat kita berpendidikan tinggi.</font></p>
<div align="justify"><font color="#000080"></font></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;margin-left:1.27cm;"><font color="#000080">Bagi masyarakat kita, simbol menjadi hal yang penting, karena itu kami memutuskan menggunakan simbol bulan bintang dan kita namakan dengan Partai Bulan Bintang.<br />
(“membangun Indonesia yang demokratis dan berkeadilan” hal 33-34)</font></p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Penulis mendapati sejumlah fakta mengenai penggunaan simbol bulan bintang ini, pada pemilu 1999 di sejumlah wilayah seperti di beberapa kawasan di lereng semeru terdapat para pemilih yang mencoblos tanda gambar bernomor 21 yakni logo bulan bintang berwarna putih diatas dasar hitam sebagaimana tanda gambar Masyumi, bahkan ada dibeberapa TPS yang jumlahnya lumayan besar, sayangnya suara – suara tersebut hangus lantaran kepengurusan Partai bernomor 21 tersebut samasekali belum sampai ke kabupaten tersebut. Fakta ini Menarik untuk dicermati karena disamping nomor urut 21 adalah PBB dengan nomor urut 22 sementara sosialisasi partai yang relatif singkat ditambah keterbatasan akses informasi dan media menjadikan masyarakat khususnya generasi tua lebih cenderung memilih atas dasar selera yang masih kuat dipengaruhi oleh nostalgia masyumi yang memang legendaris itu.</p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">&#160;</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;">Partai Bulan Bintang, sebagaimana dikatakan Pak Anwar Harjono, adalah <strong><font color="#008000">partai yang diharapkan dipimpin oleh kaum muda, di-support oleh kaum muda, dan direstui oleh kaum tua di tengah – tengah masyarakat ini</font></strong>.<br />
Keberadaannya sangat diharapkan oleh keluarga besar bulan bintang untuk bisa mewujudkan kembali wajah politik yang sejuk dan bermanfaat bagi rakyat serta diharapkan mampu tampil sebagai kekuatan yang diharapkan bisa menjadi the next masyumi. (Bersambung)</p>
<blockquote>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font color="#008000">(Penulis : Badrut Tamam Gaffas untuk Bulan Bintang Media)</font></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
