<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ketika-harus-naik-pesawat-pokoke-mabur &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/ketika-harus-naik-pesawat-pokoke-mabur/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ketika-harus-naik-pesawat-pokoke-mabur"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 13:24:58 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ketika Harus Naik Pesawat "Pokoke Mabur"]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/?p=202</link>
<pubDate>Wed, 05 Mar 2008 17:01:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.id.wordpress.com/2008/03/06/ketika-harus-naik-pesawat-pokoke-mabur/</guid>
<description><![CDATA[Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai "Pokoke Mabur" yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.</p>
<p>Namanya juga <i>pokoke mabur</i> (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun <i>pokoke mramugari</i> (pakai huruf depan <em>'m'</em>, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).</p>
<p>Baru saja pesawat <i>atret</i> mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana <i>emergency</i> segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti <i>emergency </i>dalam dua bahasa.</p>
<p>Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena <i>pokoke</i> (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.</p>
<p>Asal <i>dilarak</i>... diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang <i>coro Londo</i>. Pendeknya, buru-buru seperti <i>kebelet </i>mau ke belakang.....</p>
<p>Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.</p>
<p>Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang <i>kebelet </i>ke belakang..... (bagian belakang pesawat maksudnya).</p>
<p>Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya "acara" peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.</p>
<p>Belum lama pesawat <i>take-off</i> dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.</p>
<p>***</p>
<p>Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat "Pokoke Mabur" lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun <i>mabur</i> (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau "hanya" terlambat satu jam sudah tidak perlu <i>dihalo-halo</i> lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. <i>Wong</i> sudah terbukti sering sekali begitu.</p>
<p>Tiba saatnya <i>boarding</i>, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang <i>tumplek-blek</i> bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.</p>
<p>Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.</p>
<p>Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.</p>
<p>***</p>
<p>Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, <i>tak urung mak jegluk</i>.... Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.</p>
<p>Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai "Pokoke Mabur", perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar <i>pokoke tekan nggone</i> (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya <i>mabur</i> ..... tinggi sekali dan tidak kembali lagi..... (diucapkan dengan logat Banyumasan).-</p>
<p>Yogyakarta, 5 Maret 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
