<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>keping-hidup &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/keping-hidup/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "keping-hidup"</description>
	<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 00:01:14 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Merayakan Lebaran]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=115</link>
<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 15:12:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/09/28/merayakan-lebaran/</guid>
<description><![CDATA[Selamat Hari Raya, Selamat Idul Fitri, Selamat Lebaran. Semua dibungkus dengan satu ucapan yang sama]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Selamat Hari Raya, Selamat Idul Fitri, Selamat Lebaran. Semua dibungkus dengan satu ucapan yang sama, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Ketupat bergantungan di mana-mana, juga beduk, juga dekorasi berbentuk masjid.</p>
<p style="text-align:justify;">Entahlah, sejak awal Ramadhan kali ini saya sebal dengan semua montase-montase itu. Semua mendadak jadi saleh dan salehah, ditandai dengan ucapan salam yang diArab-arabkan dan baju kepanjangan yang terkadang ditambahi selendang. Tapi dangkal, sungguh banal!</p>
<p style="text-align:justify;">Sinetron Ramadhan menjamur di setiap stasiun televisi. Ramadhan apa? Lagi-lagi hanya sinetron biasa yang karakter-karakternya dipakaikan jilbab dan peci. Kontennya tetap saja berhaluan India khas klan Punjabi. Tetap saja penontonnya setia memirsa sang sinetron, <em>sambil menunggu waktu berbuka puasa</em> katanya. Acara pengisi waktu sahur pun tak kalah norak, justru marak tayangan berbau kekerasan di pagi-pagi bulan penuh berkah.</p>
<p style="text-align:justify;">Doa-doa yang terpanjat mendengung memenuhi masjid, surau dan langgar, terdengar lebih dengung dari biasanya. Lembaran mushaf dibolak-balik dengan cepat, masing-masing berusaha berpacu merapalkan ayat-ayat suciNya. Jemaah-jemaah yang bersaf di belakang imam berlomba mencari baris terdepan, mencoba menjemput pahala Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi lain Kota Bandung, supir-supir angkot tetap mengebulkan asap rokok sembari menarik helaan pemberi nafkah bagi keluarganya. Warung nasi pinggir jalan tetap berjualan, berusaha mencegat satu dua orang yang ternyata tidak berpuasa. Polisi lalu lintas yang tengah bertugas di Simpang Lima menegak air mineral di tengah hari yang teriknya luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Hingga akhirnya sepuluh hari terakhir tiba, justru sebagian besar dari kita memasukkan diri dalam riuhnya pusaran arus mudik. Menjebakkan diri berjam-jam di dalam kendaraan, berharap bisa segera bertemu dengan keluarga tersayang. Sebelum pulang, tak lupa berbelanja baju untuk dipakai di Hari Raya. Diskon dan rabat sudah siap menyambut para pemburu pakaian yang akan bertawaf di pusat-pusat perbelanjaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yah, itulah sebagian potret Ramadhan hingga menjelang Lebaran di negeri tercinta ini. Dalam hemat saya, Lebaran adalah sebuah ritus. Ritus transisi dari Ramadhan ke bulan-bulan selanjutnya. Masing-masing pribadi berhak punya apresiasi sendiri terhadap Ramadhan yang berujung pada satu momen peralihan, Lebaran. Karena shaum diwajibkan atas orang-orang beriman agar mereka bertakwa, seyogyanya yang nikmat dalam merayakan Lebaran adalah mereka yang menjalani lelaku Ramadhan yang sudah digariskan di awal. Semoga kita termasuk dalam umat yang diseru olehNya.</p>
<blockquote>
<h3><span style="color:#800000;">Selamat Idul Fitri 1429 H </span></h3>
<h3><span><span style="color:#800000;">Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa Shiyamakum </span></span></h3>
</blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamatkan Babakan Siliwangi, Kami Tidak Butuh Mal Baru!]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=107</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 17:15:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/09/16/selamatkan-babakan-siliwangi-kami-tidak-butuh-mal-baru/</guid>
<description><![CDATA[Akhirnya puasa menulis saya berakhir juga. Mulanya saya ingin memendam hasrat menulis saya setidakny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Akhirnya puasa menulis saya berakhir juga. Mulanya saya ingin memendam hasrat menulis saya setidaknya sampai sidang TA pertama saya terlalui. Hanya saja, saya merasa harus menulis. Tentang ini, tentang Babakan Siliwangi alias Baksil.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sempat skeptis, buat apa berpayah-payah mengkaji masalah ini dalam-dalam. Beberapa pesan masuk ke inbox saya, <em><a href="http://www.petitiononline.com/baksil/">Ayo Tandatangani Petisi Online</a></em> katanya. Saya mencoba menjadi abai. Percuma, percuma saja. Walikota Bandung akan tetap tuli dan DPRD dengan sintingnya tetap menyetujui keputusan Si Orang Tuli. Hingga akhirnya seorang teman yang (bahkan) ada di Korea Selatan ikut mengajak untuk menandatangani petisi ini, baru saya tergerak untuk ikut.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat, saya menjadi orang ke-2860 yang mempetisi masalah ini. Saya mencermati senarai mereka yang ikut menandatangani petisi. Saya takjub, nama-nama pemetisinya sangat familiar di mata saya. Ada dosen saya, ada teman seangkatan, ada teman di kampus, ada alumni, ada teman sd saya, ada orang-orang yang saya hormati; turut berkontribusi. Meluangkan semenit atau dua, sekadar menyatakan kalau kami peduli.</p>
<p style="text-align:justify;">Bandung butuh investasi, katanya. Menjadikan Babakan Siliwangi sebagai daerah tujuan dengan memasukkan fungsi seperti gedung pertunjukan, galeri, tempat olahraga, dan butik akan mengundang pemodal, katanya. Luas bangunannya tidak akan lebih besar dari dua ribu meter persegi, seluas bangunan lama yang terbakar, katanya. Fungsi Babakan Siliwangi sebagai ruang terbuka hijau kota tidak akan terganggu, katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Stop, cukup membodohi kami sampai di sini. Mari kita uji kata-kata tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tebak berapa luas Bandung Indah Plasa. Berapa? duaribu, limaribu? Lantai dasarnya saja berluas limabelas ribu meter persegi sementara lantai dasar Ciwalk tanpa bagian ekstensionnya berluas sekitar enam ribu meter persegi. Tidak masuk di logika saya bahwa <em>seabrek-abrek</em> fasilitas tempat pertunjukan, butik, pusat kebudayaan, dan sarana olah raga tadi akan cukup menempati lot seluas dua ribu meter persegi. Masih mau membodohi kami?</p>
<p style="text-align:justify;">Delapan jam lagi kami turun ke jalan, mencoba berteriak pada Si Orang Tuli.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendendangkan Lagunya, Yogyakarta]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=95</link>
<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 14:20:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/08/27/mendendangkan-lagunya-yogyakarta/</guid>
<description><![CDATA[Backpacking, obsesi saya sedari dulu yang baru tercapai dua pekan yang lalu. Yogyakarta, kota eksoti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Backpacking</em>, obsesi saya sedari dulu yang baru tercapai dua pekan yang lalu. Yogyakarta, kota eksotis di tengah Pulau Jawa yang jadi tujuan saya. Saya bersama para teman Rumah Belajar KM ITB, masing-masing dengan bermodal seratus ribu rupiah bertekad menjelajahi Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapkan <em>sneakers</em> dan tas punggung, kita ketemu di Kiaracondong! Janganlah lewat Stasiun Bandung, toh nanti kita turun di Lempuyangan; bukan Tugu. Mari merakyat, merasai transportasi kelas ekonomi.</p>
<p style="text-align:justify;">Lokomotifnya datang; menderit, menjerit. Kami berlari menuju gerbong ketiga. Ups, sudah ada yang menduduki kursi-kursi kami. Ibu tua dan anaknya. Ternyata keduanya kesulitan membaca. Maaf, mas dan ibu salah kursi. Mereka pergi dengan terbungkuk-bungkuk. Loko dihela, kereta merayapi rel dengan terengah-engah. Pedagang asongan <em>pulang anting</em> sepanjang koridor gerbong.</p>
<blockquote><p><em>Mijon, mijon, mijon...</em><br />
Oh, kita masih di Jawa Barat.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Malam mulai memanjat, beberapa dari kami kalah dalam pertempuran melawan kantuknya. Kartu dikocok, poker dimainkan untuk membunuhi waktu hambar sepanjang perjalanan. Pedagang asongan masih <em>wara wiri</em> sepanjang koridor gerbong.</p>
<blockquote><p><em>Mison, mison, mison...</em><br />
Sudah sampai Jawa Tengah rupanya. Semoga kita cepat sampai di Jogja. Amin.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Subuh sudah tinggi saat akhirnya kami menginjakkan kaki di Yogyakarta. Kahuripan laju lagi, sampai ke Kediri. Selamat jalan, wahai kereta api tanpa api. Stasiun Lempuyangan hiruk pikuk dengan semua kegiatannya. Sibuk namun lembut, begitu khas Yogyakarta. Ah, saya mulai suka kota ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sip, <em>sneakers</em> kami siap beraksi. Menjelajah sudut-sudut Jogja; Pingitan, Umbulharjo, Malioboro, dan Alun-alun. Dari karya besar Gunadharma di Magelang hingga Kalikuning lalu ke Pantai Depok di selatan. Jangan lupa di Malioboro mampir ke Mirota, batiknya tahan sampai 30 tahun katanya. Sudah terlalu sore saat mampir ke Keraton. Sang Astana sudah tak terima tamu. Yasudahlah, lain kali saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua hari berlalu, saatnya kami kembali ke kehidupan nyata. Murahnya makanan, nasi kucing, <em>ngangkring</em> di pinggir Kali Code; jelas tidak terlupakan. Sayang sekali, waktu liburan sudah habis. Akhirnya, Malioboro jadi titik bertolak. Malam mulai beranjak keluar menggantikan sore. Tenda-tenda dibentangkan, tikar-tikar lesehan digelar. Malioboro berganti aktor, dari penjual suvenir ke penjual makanan. Lepas magrib, Malioboro resmi bersalin rupa. Suasana yang mengingatkan saya pada lagu Katon Bagaskara.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat tinggal Jogja, pasti kami datang lagi.</p>
<p>***</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Yogyakarta</strong></p>
<p style="text-align:center;">(dipopulerkan oleh Katon Bagaskara)</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">Pulang ke kotamu</p>
<div class="snap_preview" style="text-align:center;">Ada  setangkup haru dalam rindu</div>
<div class="snap_preview" style="text-align:center;">
<p>Masih seperti dulu</p>
<p>Tiap sudut menyapaku bersahabat</p>
<p><strong></strong>Penuh selaksa makna</p>
<p>Terhanyut aku akan nostalgi</p>
<p><strong></strong>Saat kita sering luangkan waktu</p>
<p><strong></strong>Nikmati bersama suasana Yogya</p>
<p>Di persimpangan langkahku terhenti</p>
<p><strong></strong>Ramai kaki lima  menjajakan sajian khas berselera</p>
<p>Orang duduk bersila</p>
<p>Musisi jalanan mulai beraksi</p>
<p><strong></strong>Seiring laraku kehilanganmu</p>
<p>Merintih sendiri, ditelan deru kotamu</p>
<p>Walau kini kau t’lah tiada tak kembali</p>
<p><strong></strong>Namun kotamu hadirkan senyummu abadi</p>
<p style="text-align:center;"><strong></strong>Izinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Permata di Mata-mata Mereka yang Bercahaya]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=93</link>
<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 11:12:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/08/25/permata-di-mata-mata-mereka-yang-bercahaya/</guid>
<description><![CDATA[Tanggal 19 Agustus 2008 yang lalu, Hari Perdana Belajar di Rumah Belajar KM ITB resmi dimulai. Selas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tanggal 19 Agustus 2008 yang lalu, Hari Perdana Belajar di Rumah Belajar KM ITB resmi dimulai. Selasa, Rabu, hingga Jumat berlalu; saya belum kunjung sempat datang ke Sangkuriang 19A. Akhirnya, Sabtu lalu saya berjodoh dengan para malaikat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pluk, seorang bocah menggelayut di punggung saya. Irsan namanya. Dalam hati saya bergumam, <em>nih anak SKSD pisan. Baru kenalan udah maen nemplok aja..</em></p>
<blockquote><p><strong>Irsan gak ngaji?</strong></p>
<p>Aku libuuur...</p>
<p><strong>Sekarang mau belajar apa?</strong></p>
<p>Gamau belajar, mau gambar aja...</p>
<p><strong>Boleh, tapi abis ngegambar belajar ya??</strong></p>
<p>Gamau..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Skak mat. Saya mati kutu. Yasudah, biarkan dia menggambar saja dulu. Sementara Irsan menggambar, datang segerombolan anak yang lain yang maunya cuma pindah main ke Rumah Belajar. Main layangan dalam ruangan. Bayangkanlah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kutukkutukkutuk, datang lagi dua orang anak pra-SD yang selalu main bersama. Buku tulisnya disorongkan ke hadapan saya.</p>
<blockquote><p><strong>Mau belajar apa? nulis?</strong></p>
<p>Enggak. Kakak, kakak nomer hapenya berapa?</p>
<p><strong>Hah?</strong></p>
<p>Tulis di buku aku ya...</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tuliskan duabelas angka nomor HP saya. Mereka berdua berebutan, saling mengklaim kepemilikan atas kertas bernomer hape saya itu. Sesaat saya merasa jadi selebritis [:p]. Cuma sesaat karena setelah itu Irsan meminta dituliskan abjad untuk ia tirukan di buku latihannya. Sudah selesai menggambar rupanya dia. Belum dua baris latihan menulisnya ia tuntaskan, Difa mengajak Irsan main kucing-kucingan. Irsan menolak, Difa menjerit minta Irsan ikut main.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulai chaos.</p>
<p style="text-align:justify;">Yandi Rama datang, syukurlah. Ada bala bantuan. Yandi mengurusi geng Para Bangor supaya tidak mengacau konsentrasi yang sedang belajar. Sandi mengajari anak-anak kelas 3 dan 4, Kasfi mengajar anak-anak kelas 5, dan saya mengajari anak-anak TK, kelas 1 dan kelas 6.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pun 'selesai' belajar 2 jam kemudian. Dadaah, kata mereka. Sebelum dadah, harus salim dulu. Habis dadaah, jangan lupa bilang Assalamualaikum. Waalaikumsalam, jawab kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Wow, hari yang luar biasa. Ada lelah, ada bahagia. Terutama saat melihat permata-permata yang siap digosok di mata-mata mereka yang bercahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasti butuh tenaga banyak untuk mengilapkannya, semoga yang kami kerjakan diberkahiNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk kualitas pendidikan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk generasi muda yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk Indonesia yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Amin.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[How Sunda Are You?]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=83</link>
<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 09:25:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/08/05/how-sunda-are-you/</guid>
<description><![CDATA[&#8216;How Sunda Are You?&#8217; adalah aplikasi Facebook yang baru saya tambahkan di profil saya,, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">'How Sunda Are You?' adalah aplikasi Facebook yang baru saya tambahkan di <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=624373800">profil saya</a>,, seru juga. Hasil tes ke-Sunda-an saya adalah...*jreng-jreng-jreng*</p>
<h1 style="text-align:justify;"><span style="color:#800000;">URANG SUNDA ASLI</span></h1>
<p style="text-align:justify;">hehe,, pertanyaannya memang agak2 gampang buat saya yang dari lahir sudah tinggal di Tatar Sunda dan dipaksa belajar Basa Sunda di sekolah. Misalnya, apa istilah untuk anak gajah? Kalau diingat2, pelajaran Basa Sunda termasuk pelajaran yang tidak saya sukai karena Basa Sunda lebih tepat disebut keahlian (skill) daripada pengetahuan (knowledge).</p>
<p style="text-align:justify;">Mama saya yang orang Melayu dan Papa saya yang orang Minang bersepakat untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu bagi para anak mereka. Alhasil, saya dan saudara2 saya yang lain sama sekali asing dengan Basa Sunda dan serasa belajar bahasa alien saat belajar bahasa ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Justru saat SMA saya jadi lebih mahir menggunakan Basa Sunda, padahal waktu itu sudah tidak ada kewajiban untuk belajar bahasa ini. Kemahiran saya ini cenderung disebabkan oleh pergaulan saya yang kebanyakan dengan teman2 yang Sunda banget. Nah, setelah kuliah saya justru sering dijadikan juru terjemah oleh teman2 saya saat menawar, menanyakan arah jalan atau berinteraksi dengan penduduk asli Sunda oleh teman2 saya yang kebanyakan bukan orang Sunda.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkat kelihaian saya dalam berbahasa Sunda (plus logat saya yang makin Nyunda), saya sering disangka sebagai orang Sunda. Padahal...</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal sebenarnya saya orang mana ya? Dibilang orang Minang, bukan. Garis keturunan Minang yang matrilineal tidak saya dapatkan. Dibilang Melayu juga bukan, karena Suku Melayu menganut garis patrilineal. Bahasa Minang saya cuma pasif saja, kalau Bahasa Melayu sih lumayan bisa. Hemm,, bingung juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata seorang teman, golongan orang seperti saya ini namanya mereka yang indiferen. Tidak jelas. Tidak terdefinisi. Saya jelas tidak sendirian. Para indiferen biasanya muncul dari kalangan kaum urban, mereka yang datang ke perkotaan untuk mencari apa yang tidak mereka temui di daerah. Berbagai suku dan latar belakang budaya bercampur, bersatu dan memunculkan keluarga-keluarga urban yang meng-Indonesia tetapi jauh dari akar budayanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lahirlah anak-anak yang tidak pernah mengenal nilai-nilai kearifan lokal warisan leluhur mereka. Mereka begitu rentan terhadap hantaman globalisasi dan budaya populer. Eng-ing-eng, lahirlah generasi MTv. Generasi yang jago bicara Indonesia campur slang Inggris tapi arti kata 'watak' saja tidak tahu. Generasi yang mahir mendesain bangunan dengan gaya neo klasik tapi tidak tahu cara mendesain menggunakan mandala. Generasi yang gemar menertawakan kelakuan Mr. Bean namun tidak kenal cerita Kabayan.</p>
<p style="text-align:justify;">Untungnya sekarang sudah ada kesadaran untuk memperkenalkan kebudayaan daerah kepada generasi muda. Misalnya dengan mengikutkan mereka pada paket-paket liburan dengan tema 'Kembali ke Alam' atau 'Kampung Ulin'. Anehnya program-program itu laris walau ditawarkan dengan harga yang --menurut saya-- kelewat mahal.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal mah, moal sakitu mahalna meureun...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cuma Satu Shaf]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=63</link>
<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 06:28:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/07/08/cuma-satu-saf/</guid>
<description><![CDATA[Pemandangan miris ini terjadi di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Bandung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pemandangan miris ini terjadi di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Bandung. Suatu hari di bulan Juni, beberapa saat setelah azan magrib dikumandangkan.</p>
<p><a href="http://shallypristine.files.wordpress.com/2008/07/cimg7372.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-64" src="http://shallypristine.wordpress.com/files/2008/07/cimg7372.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Cukup satu shaf saja barisan jamaah shalat magrib berjamaah waktu itu. Lainnya ke mana? Barangkali yang lainnya terlalu sibuk berkendara, berniaga, bekerja, hingga tidak sempat menunaikan shalat bersama yang lainnya.</p>
<p>Mirisnya, ini seperti membenarkan ucapan dosen saya yang sering menantang mahasiswa yang membuat masjid dengan ukuran besar dan luas. "Buat apa bikin masjid besar-besar? Toh nantinya yang terpakai cuma untuk satu baris saja!"</p>
<p>Perih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dua Jempol Untuk Jalan Sesama]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=58</link>
<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 09:41:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/06/30/dua-jempol-untuk-jalan-sesama/</guid>
<description><![CDATA[Familiarkah anda dengan tayangan Jalan Sesama (JS) ? Variety show untuk anak dengan durasi 30 menit ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Familiarkah anda dengan tayangan Jalan Sesama (JS) ? Variety show untuk anak dengan durasi 30 menit ini diputar di stasiun Trans 7 setiap pukul 13.30 selama Senin sampai Jumat. Jangan heran dengan banyaknya kesamaan antara JS dengan Sesame Street (SS) yang asalnya dari Amerika sana, JS memang SSnya Indonesia. Awal 2000-an, SS pernah 'dilokalkan' oleh SCTV namun tidak berhasil menggaet pemirsa sebagaimana suksesnya Sesame Street dahulu.</p>
<p>Oleh karena itu, kali ini konsep repackage SS untuk anak-anak Indonesia dalam JS dibuat dengan lebih matang. Jangan harapkan Elmo, Grover, Cookie Monster atau Kermit akan tampil dominan dalam JS. Indigo Production sebagai production house yang memenangkan tender produksi JS justru menampilkan karakter-karakter baru sebagai tokoh utama.</p>
<p><a href="http://shallypristine.files.wordpress.com/2008/06/graphic12.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-62" src="http://shallypristine.wordpress.com/files/2008/06/graphic12.jpg?w=151" alt="Momon dan Putri, Tan-tan, Jabrik" width="151" height="300" /></a></p>
<p>Mereka adalah Tan-tan, Jabrik, Momon dan Putri. Tan-tan si orang utan adalah karakter yang dewasa, berwawasan luas dan sangat menyukai pisang. Momon si monyet adalah karakter yang kreatif dan senang menggambar. Jabrik si badak bercula satu adalah karakter yang penuh rasa ingin tahu dan polos. Sementara Putri digambarkan sebagai gadis kecil yang periang dan aktif.</p>
<p>Selain keempat tokoh boneka tadi, di JS juga hidup karakter-karakter lain yang mendukung gambaran kehidupan yang sangat meng-Indonesia. Ada keluarga Pak Bagus yang merupakan tipikal keluarga Indonesia, ada Pak Dalang yang sering mendongeng untuk anak-anak di JS, dsb. Suasana setting tempat syuting pun dibuat seperti berada di kebanyakan kawasan sub-urban Indonesia dengan rumah beratap miring, pagar tanaman, dsb.</p>
<p>JS memang diharapkan bisa menjadi sarana edukasi bagi anak. Pemilihan orang utan dan badak bercula satu sebagai karakter utama disengaja untuk mengenalkan kedua jenis binatang langka Indonesia kepada anak-anak. Momon dan Putri juga tidak kalah Indonesia, kedua karakter ini mengenakan pakaian khas Indonesia. Momon menggunakan sarung (?) tenunan ulos dan Putri senantiasa mengenakan baju berbahan batik.</p>
<p>Dua jempol saya acungkan untuk JS. Tidak hanya karena penggarapannya yang matang, tetapi juga karena JS menjadi preseden baik untuk dunia hiburan anak Indonesia. Dua jempol juga saya acungkan untuk Trans 7 yang konsisten menghadirkan tayangan anak bermutu melalui deretan acara macam Si Bolang, Laptop si Unyil, Jalan Sesama dan Cita-citaku. Salut!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Takut Insyaf]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=48</link>
<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 15:21:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/06/10/takut-insyaf/</guid>
<description><![CDATA[(Hehe, saya geli sendiri membaca judul di atas..)
Ketakutan ini berawal saat saya sedang kalap dan k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>(Hehe, saya geli sendiri membaca judul di atas..)</p>
<p>Ketakutan ini berawal saat saya sedang kalap dan keluyuran sendiri di Toga Mas. Entah datang dorongan dari mana, saya mendadak ingin membeli buku karangan Salim A. Fillah berjudul 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim'. Bisa jadi, salah satu penyebabnya karena puisi keren yang ada di halaman terakhir buku ini. Setelah buku itu dibayar, disampul hingga tampak makin cantik (beneran ini mah, desain sampulnya memang cantik..), saya cuma menimang-nimang buku itu sampai ke kamar kos.</p>
<p>Setelah sampai kamar, buku itu pun tidak langsung saya baca. Ragu-ragu, saya bolak-balik halaman-halamannya tanpa membaca. Yani, teman sekosan saya jadi bingung melihat perilaku ini.</p>
<p>"Kenapa, sal?"</p>
<p>"Sali mau baca buku ini, tapi takut insyaf... Hehe..."</p>
<p>"Hah?? Insyaf kok takut?"</p>
<p>Jelas ketakutan saya memang berlebihan. Sebuah buku bukan resep insyaf cespleng, karena hidayahNya akan datang jika saya menginginkannya. Lagipula, apa yang salah dengan insyaf? Sebenarnya, ketakutan saya yang paling besar untuk insyaf adalah berubah menjadi pribadi yang diri saya sendiri tidak bisa mengenalinya. Hmm, insyaf yang gimana dong?</p>
<p>Insyaf bisa berarti lisan saya jadi terjaga dari becandaan-becandaan gak penting yang mungkin menyakiti hati 'korban-korban' saya.</p>
<p>Insyaf bisa berarti lengan dan tungkai saya istirahat dari aktivitas menjahili teman-teman saya.</p>
<p>Insyaf bisa berarti mengurangi gestur-gestur berlebihan yang sering saya lakukan untuk mengekspresikan sesuatu.</p>
<p>Sebenarnya saya gak segitunya juga kok. Kalo kata Profesor Primadi Tabrani (beliau orang keren nih...), saya tergolong orang yang punya <em>playing impulse</em> yang cukup banyak untuk usia segini. Jadi deh, masi sering jail, iseng, bahkan belakangan dicap autis.</p>
<p>Hahah...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[We Call It "The Studio"]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=40</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 07:03:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/04/30/we-call-it-the-studio/</guid>
<description><![CDATA[bipbip,, sebuah sms masuk&#8230;
bungabukannamasebenarnya: sal, lagi ngapain??
shallypristine: lagi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>bipbip,, sebuah sms masuk...</p>
<blockquote><p>bungabukannamasebenarnya: sal, lagi ngapain??</p>
<p>shallypristine: lagi <strong>studio</strong>...</p></blockquote>
<p>bipbip,, sebuah telepon masuk...</p>
<blockquote><p>sebutsajanamanyamelati: sal, lagi di mana??</p>
<p>shallypristine: lagi di <strong>studio</strong></p></blockquote>
<p>bipbip,, sebuah IM masuk...</p>
<blockquote><p>sifulanah: kenapa lo gak mau ikut nonton, sal?</p>
<p>shallypristine: lagi gak mood nih, abis nilai <strong>studio </strong>gw yang kemaren baru keluar jelek...</p></blockquote>
<p>...dan seterusnya dan seterusnya...</p>
<p>Hanya satu kata 'studio' tapi kata ini bisa berarti banyaaak hal bagi kami, mahasiswa arsitektur. Studio bisa berarti tempat, aktivitas, hingga mata kuliah ber-SKS obesitas.</p>
<p>Studio sebagai kata keterangan.</p>
<p>Studio sebagai kata keterangan berarti studio sebagai tempat kami mengerjakan semua proses kreatif mulai dari brainstorming ide sampai mempresentasikan ide di atas kertas. Di arsitektur ITB, ada 5 buah studio untuk mahasiswa pascasarjana, tugas akhir, TPB, tingkat 2, tingkat 3, dan tingkat 4. Berhubung di jurusan arsitektur hanya ada satu macam studio yaitu studio perancangan arsitektur, jadinya studio yang ada dipisah-pisah berdasarkan tingkatan kuliah.</p>
<p>Studio sebagai kata kerja.</p>
<p>Studio sebagai kata kerja yang belakangan dikenal sebagai 'nyetudio' adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan semua kegiatan yang berkaitan dengan pengerjaan tugas mata kuliah studio. Survei, mengumpulkan data, membaca buku-buku referensi di perpus, menganalisis data, programming, membuat maket, membuat skema desain, asistensi, membuat kop kertas tugas, menggambar, mengeplot, melayout, deelel, deelel. Extremely exhausting!</p>
<p>Studio sebagai kata benda.</p>
<p>SKS-nya studio ini obesitas bener. Tiap semester (sejak semester 3 sampai semester 7) ada serial mata kuliah Studio Perancangan Arsitektur yang jumlah sksnya sama, 8 sks. malahan ada joke gini, studio itu 8 sks tapi effortnya 24 sks. Alhasil, seluruh jiwa dan raga anak arsi dicurahkan untuk menggapai A di mata kuliah yang nilainya susahsusahsusah ini. maklum, sekalinya dapet C, sirnalah ipe di atas 3..</p>
<p>Ya, itulah sedikit cerita tentang kata yang menjadi menu wajib sehari-hari saya selama tiga tahun terakhir. Sarat cerita, kenangan, dan pelajaran yang saya dapat dari kata <strong>studio </strong>yang bunyinya sangat 'nyeni' ini.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Namanya Pulau Bangka]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=37</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 11:03:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/04/24/namanya-pulau-bangka/</guid>
<description><![CDATA[Pulau Bangka yang jadi tempat mudik saya selama empat tahun terakhir ini merupakan bagian dari propi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pulau Bangka yang jadi tempat mudik saya selama empat tahun terakhir ini merupakan bagian dari propinsi kepulauan Bangka-Belitung. Yep, propinsi ini memang terdiri dari dua pulau besar, Bangka dan Belitung serta beberapa pulau kecil yang ada di sekitar dua pulau besar tadi. Pulau Bangka berukuran lebih besar dari pulau Belitung. Pulau Belitung sendiri belakangan jadi lebih tenar dari Pulau Bangka berkat Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya.</p>
<p><a href="http://shallypristine.files.wordpress.com/2008/04/untitled.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-38" style="vertical-align:middle;" src="http://shallypristine.wordpress.com/files/2008/04/untitled.jpg?w=300" alt="pulau bangka dari udara (wikimapia.com)" width="414" height="341" /></a></p>
<p>Cuma butuh satu kata untuk mendeskripsikan Bangka: p-a-n-t-a-i. Sejak pertama kali datang ke Bangka waktu tahun 1992, saya cuma ingat pantainya yang indah, bersih dan menakjubkan. Mulai dari yang landai dan berpasir putih sampai yang terjal dan berbatu, semua ada di Bangka. Sayangnya, pantai-pantai ini belum terkelola dengan baik. Setahu saya, hanya Pantai Parai yang sudah ditangani oleh manajemen dan dipasarkan dengan label Parai Beach Resort. Selebihnya hanya dikelola seadanya oleh pemerintah daerah. Belakangan ada itikad baik untuk mendesain pesisir Pantai Pasir Padi dengan mengkompetisikan perancangan Pasir Padi Waterfront City. Namun setelah saya melihat desain pemenangnya, saya harus menahan diri untuk berharap banyak pada masa depan Pantai Pasir Padi dan hanya bisa menghela napas.</p>
<p><img style="vertical-align:middle;" src="http://idrianita.files.wordpress.com/2007/11/dsci0116.jpg?w=400" alt="pantai parai" width="400" height="300" /></p>
<p>Selain pantainya, dunia kuliner Bangka juga patut dijelajahi. Kemplang, pantiaw, model, empek-empek, panekuk, otak-otak, es campur kacang merah, dan tekwan adalah makanan khas Bangka yang citarasanya tidak perlu diragukan lagi. Titik-titik jajan kuliner bisa ditemui di sekitar Pasar Mambo, Bank BCA, dan beberapa tempat lainnya. Sedikit tips dari saya, kalau sedang bingung untuk memilih penjual makanan yang enak antara penjual dari pribumi atau Tionghoa maka pilihlah yang penjualnya dari etnis Tionghoa. Dijamin enak dan halal, karena masyarakat Tionghoa Bangka yang dalam bahasa Bangka disebut 'urang Cin' memang sudah terkenal kelihaiannya dalam memasak dan menghargai pembeli Melayunya yang kebanyakan muslim.</p>
<p><img style="vertical-align:middle;" src="http://www.rendymaulana.com/wp-content/uploads/2007/06/bk1.jpg" alt="Es Campur Kacang Merah" width="187" height="250" /></p>
<p>Berada di Bangka juga berarti anda tidak akan menemukan pengemis atau pengamen di sudut-sudut kota. Hal ini tidak berarti Bangka sudah sejahtera, angka kemiskinan di sini juga cukup tinggi. Orang Bangka pantang memelas meminta kasihan dari yang lain. Pendek kata, lebih baik bekerja kasar daripada harus meminta-minta. Orang Bangka juga terkenal senang kumpul-kumpul. Saban malam ada saja saudara atau tetangga yang datang berkunjung ke rumah, jika tidak maka gantian kita yang pergi bertamu.</p>
<p>Bahasa Bangka cukup mudah, seperti bahasa melayu tapi akhiran katanya adalah e seperti pada teh. Misalnya: ada -&#62; ade, kemana -&#62; kemane, dia -&#62; die, dst. Seringkali juga bahasanya disingkat-singkat. Misalnya, aku -&#62; 'ku, kamu -&#62; 'ka, tidak -&#62; 'dak, telah -&#62; 'lah, belum -&#62; 'lum, dst.</p>
<p>Tertarik melancong ke Bangka? Ada dua cara untuk mencapai Bangka dari Jawa, lewat laut atau lewat udara. Jika lewat laut, bisa menggunakan kapal laut dari Tanjung Priok dengan waktu tempuh sekitar 24 jam atau menyeberangi Selat Bangka dari Palembang menggunakan kapal jetfoil dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Perjalanan lewat udara juga cukup memadai, dengan menggunakan kapal terbang, Bangka bisa dicapai dari Cengkareng dalam 50 menit saja. Harga tiket? Tiket kapal laut biasa dilego dengan kisaran 100-170 ribu rupiah sementara tiket pesawat biasa dibanderoli 300-670 ribu rupiah tergantung musim liburan atau tidak.</p>
<p>Demikian sedikit cerita tentang pulau kelahiran ibu saya. Walau tidak pernah secara de facto bermukim di Bangka, saya cinta pulau ini!</p>
<p>(gambar dicomot dari wikimapia.org, idrianita.wordpress.com, dan rendymaulana.com,, makasi!!!)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Agar Emanispasi Tidak Kebablasan]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=36</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 06:12:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/04/24/agar-emanispasi-tidak-kebablasan/</guid>
<description><![CDATA[Hari Kartini yang sudah berselang beberapa hari yang lalu menyisakan pertanyaan besar buat saya. Sta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Kartini yang sudah berselang beberapa hari yang lalu menyisakan pertanyaan besar buat saya. Stasiun televisi berlomba menyajikan acara yang menarik bertema Hari Kartini, mulai dari kompetisi bagi mereka yang lahir di tanggal 21 April hingga konser musik dengan keseluruhan pengisi acaranya adalah wanita. Tak ketinggalan,  Kabinet KM ITB menyuguhkan acara perdananya kepada massa kampus berupa peringatan Hari Kartini yang menghadirkan batik day, talkshow dan fashion show (apah?? fashion show?!? gak salah??).</p>
<blockquote>
<h2><span style="color:#800000;"><strong><em>Benarkah emansipasi macam ini yang diinginkan Kartini?</em></strong></span></h2>
</blockquote>
<p>Sebagian besar dari kita tentu hapal di luar kepala soal judul buku tulisan RA Kartini yang fenomenal itu. Habis Gelap Terbitlah Terang (HGTT) telah menginspirasi banyak wanita untuk menjadi manusia yang lebih kritis, tangguh, dan mampu mewujudkan cita-cita. Buku yang merupakan kumpulan surat-surat RA Kartini kepada Ny Abendanon menyuarakan kekritisan RA Kartini yang luar biasa. Beliau menyoroti tentang sistem patriaki di masyarakat tradisional Jawa yang terlampau mengerdilkan posisi wanita yang juga dilegalisasi oleh pemahaman agama kebanyakan yang terbatas dan dangkal.</p>
<p>Wanita dan pria memang berbeda, baik secara fisik maupun mental. Hal ini menjadikan -untuk beberapa hal- wanita adalah komplemen dari pria dan sebaliknya, bukan sebagai elemen subtitusi. Sejatinya, RA Kartini ingin mengangkat harkat wanita menjadi lebih layak dan sebagaimana mestinya. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya ilmu dan pemikiran RA Kartini hingga beliau memang pantas didudukkan dalam posisi yang sejajar dengan lelaki sebagai mitra.</p>
<p>Coba perhatikan beberapa pernyataan tokoh selebritas wanita tanah air yang mensyukuri perjuangan RA Kartini karena berkat perjuangan beliau mereka bisa berkecimpung di ranah hiburan. Padahal, HGTT lebih banyak mengungkap keinginan besar RA Kartini agar bisa menempuh pendidikan yang tinggi agar bisa memiliki pemikiran yang maju dan masa depan yang lebih baik dari sekedar menjadi istri ataupun ibu rumah tangga.</p>
<p>Jika di masa sekarang kita (baca: para wanita Indonesia) tidak berusaha keluar dari penjara pemikiran yang membelenggu kita di masa sekarang, justru saat itulah perjuangan RA Kartini sia-sia. Misalkan ada wanita yang mengomoditaskan sifat-sifat kewanitaannya macam bentuk tubuh yang indah, wajah manis dan tidak berdaya, dsb, hal ini yang mencederai perjuangan RA Kartini. Ironisnya, emansipasi yang didengungkan lebih dari seratus tahun yang lampau di hari sekarang ini justru dikerdilkan maknanya menjadi senjata untuk melegalisasi kelakuan oknum wanita yang melampaui batas. Harusnya, perjuangan RA Kartini dimaknai lebih dari 'wanita boleh melakukan apa saja'.</p>
<p>Di jaman semacam ini, menggetolkan emansipasi adalah sebuah wacana basi. Memangnya di bidang apa wanita masih tertinggal dari kaum lelaki?</p>
<p>(diposting atas permintaan seorang saudara...)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cendekiawan Muslim Favoritku]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=32</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 11:20:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/02/18/cendekiawan-muslim-favoritku/</guid>
<description><![CDATA[Waktu sekolah dasar dulu, sesi pelajaran agama yang saya sukai adalah Sejarah Kebudayaan Islam. Soal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu sekolah dasar dulu, sesi pelajaran agama yang saya sukai adalah Sejarah Kebudayaan Islam. Soalnya, di mata pelajaran ini saya bisa tahu betapa kerennya sepak terjang cendekiawan muslim justru saat dunia barat sedang bergulat dengan pemikiran kolot mereka di masa kegelapan abad pertengahan.  Dari deretan nama cendekiawan muslim itu, ada beberapa nama yang jadi favorit saya. Inilah mereka...</p>
<p><b>Ibnu Sina</b>, orang ini jadi cendekiawan favorit saya karena namanya sama dengan nama SD saya. Hahaha. Ibnu Sina ini dikenal sebagai tokohnya dunia kedokteran di awal milenium kedua. Bukunya yang berjudul <i>Qanun fi at-Tibb</i> atau Aturan Kedokteran yang kemudian diterjemahkan menjadi The Canon of Medicine dipergunakan secara luas sebagai referensi di dunia kedokteran barat hingga masa Rennaisans. Selain ahli kedokteran, Ibnu Sina juga seorang filsuf tersohor. Postulatnya yang terkenal adalah mengenai asal-usul penciptaan alam semesta yang berasal dari pemancaran (emanasi). Soal postulatnya ini, Ibnu Sina alias Avicenna mendapat tentangan keras dari ulama besar sejaman yaitu Al-Ghazali yang membantah postulat tersebut dalam sebuah tulisan berjudul <i>Tahafuf al-Falasifah</i> atau Kekacauan Para Filsuf.</p>
<p><b>Al-Farabi</b>. Lahir dan besar di Irak, Al-Farabi adalah seorang cendekiawan yang unik karena memiliki keahlian utama di bidang musik. Karyanya yang terkenal di bidang musik adalah <i>Kitab al-Musiqi al-Kabir</i> yang memuat risalat di bidang musik. Selain menulis buku, Al-Farabi juga memainkan dan menemukan berbagai alat musik Arab klasik. Selain menekuni dunia musik, Al-Farabi juga menekuni banyak bidang lain diantaranya logika dan filsafat.</p>
<p><b>Al-Kindi</b>. Bisa dibilang, Al-Kindi adalah pionir di banyak bidang. Cendekiawan yang satu ini meletakkan pondasi mendasar pada dunia matematika dengan memperkenalkan sistem angka nol pada sistem angka Arab yang akhirnya meluas ke seluruh dunia. Bayangkan jika Al-Kindi tidak melakukan hal ini, betapa repotnya kita ketika harus menuliskan angka 1986 ke dalam simbol angka romawi. Al-Kindi juga yang mementahkan mitos umum di dunia para alkemis pada waktu itu yaitu mengubah logam biasa menjadi logam mulia seperti emas dan perak. Semasa hidupnya, Al-Kindi menulis sedikitnya 260 buku.</p>
<p>Ketiga tokoh di atas adalah segelintir dari banyak cendekiawan besar muslim pada masa itu. Kesamaan dari mereka bertiga adalah penguasaan tingkat tinggi pada berbagai bidang keahlian. Sesuatu yang sulit ditemukan pada cendekiawan saat ini. Sekarang saatnya bertanya pada diri sendiri, apa karya besarku?</p>
<p>Sumber tulisan dikutip dari materi pelajaran SKI untuk sekolah dasar, Ensiklopedia Islam dan (tentunya) wikipedia.org.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hei-hei Siapa Dia?]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/?p=28</link>
<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 08:07:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/02/06/hei-hei-siapa-dia/</guid>
<description><![CDATA[Entah mengapa, hasrat menulis saya mengalir demikian deras belakangan ini. Walhasil, tulisan demi tu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mengapa, hasrat menulis saya mengalir demikian deras belakangan ini. Walhasil, tulisan demi tulisan baru bermunculan di layar Rumah Cahaya dalam interval waktu yang saling berdekatan. Bisa jadi gara-gara belakangan saya teringat pada lebih banyak hal, berinteraksi dengan lebih banyak orang dan mengalami lebih banyak peristiwa dari biasanya.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal mengalami lebih banyak peristiwa, di sepuluh hari terakhir ini saya (akhirnya) mengalami yang disebut Sidang Istimewa Kongres (SIK) KM-ITB. Sidang ini bukan sembarang sidang. Sidang Istimewa Kongres layaknya sidang istimewa di majelis rakyat di Jakarta sana, diadakan untuk mengamandemen aturan dasar organisasi. SIK 2008 mengusung beberapa agenda, yang teranyar adalah soal anggota MWA perwakilan mahasiswa ITB.</p>
<p>Sejak tahun 2000, ITB berubah bentuk dari perguruan tinggi negeri menjadi Badan Hukum Milik Negara. Alasan pemerintah dibalik keputusan ini ada banyak, mulai dari memberikan kesempatan bagi PTN untuk berkembang, otorisasi lingkungan perguruan tinggi dan masih banyak alasan lainnya. Lewat  PP no 155 tahun 2000, resmilah ITB didapuk menjadi BHMN bersama tiga PTN lainnya yaitu UI, IPB dan UGM.</p>
<p>BHMN didirikan di atas empat pilar; Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik (SA), Pimpinan Institut (Rektorat) dan Dewan Audit (DA). Konsep <i>university governance</i> ini sekilas memang mirip dengan konsep pemerintahan di negara kita. Silakan analogikan peran MWA dengan MPR, SA dengan DPR, Rektorat dengan Presiden dan menteri2nya, sementara DA dengan MA. MWA sebagai organ tertinggi institut diisi oleh para <i>stake holder</i> yang memliki kontribusi pada ITB, diantaranya adalah para anggota SA, tokoh masyarakat, rektor, menteri pendidikan dan mahasiswa.</p>
<p>Kursi anggota MWA tentu sesuatu yang prestisius. Pihak ITB sendiri menyerahkan kursi anggota MWA perwakilan mahasiswa kepada KM ITB sebagai organisasi kemahasiswaan terpusat bagi mahasiswa S1 ITB dan menyerahkan sepenuhnya mekanisme pemilihan anggota MWA perwakilan mahasiswa pada KM ITB. Pada kurun waktu 2001-2004, KM ITB mengirimkan anggota Kongres KM ITB yang terpilih melalui pemilu internal sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa. Karena kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa dengan mekanisme yang demikian dinilai tidak optimal, terhitung sejak tahun 2004 KM ITB memutuskan untuk mengirim ketua kabinet alias Presiden KM ITB sebagai anggota MWA perwakilan mahasiswa.</p>
<p>Empat periode pengiriman sudah bergulir. Kongres KM ITB 2007/2008 memutuskan untuk mengevaluasi kinerja anggota MWA perwakilan mahasiswa selama empat periode terakhir dan menetapkan siapa yang paling layak menjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa. Roadshow dijalankan, forum massa diadakan, parameter pun disamakan. Tak disangka-sangka, ekspektasi massa sangat besar pada fungsi dan peran anggota MWA perwakilan mahasiswa. Anggota MWA perwakilan mahasiswa dianggap sebagai satu-satunya orang yang memiliki akses pada petinggi institut ini. Para petinggi institut memang berlaku melangit, terlihat namun tak terjangkau. Karenanya, anggota MWA perwakilan mahasiswa digadang-gadang sebagai jembatan komunikasi menuju perubahan.</p>
<p>Lembaga yang satu ingin presiden tetap diutus menjadi anggota MWA perwakilan mahasiswa. Beberapa lembaga yang lain justru ingin ada pemisahan antara lembaga kepresidenan dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Lumrah, toh semuanya bagian dari  proses demokrasi. Parameter menjadi kunci dalam mengurai benang masalah. Fokus, kelengkapan informasi dan daya tawar di kalangan mahasiswa adalah tiga hal penting yang akan mengeliminasi kemungkinan pilihan yang paling nihil peluangnya.</p>
<p>Benang masalah penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa akhirnya terurai. Mahasiswa independen dirasa sebagai solusi yang paling baik untuk kondisi yang saat ini. Benang kusut masalah selanjutnya sudah menghadang. Posisi dan mekanisme pemilihan menjadi aral selanjutnya yang harus diselesaikan. Kali ini, masalahnya lebih rumit dan dilematis. Well, akhirnya benang yang terakhir pun terurai juga. Posisi mahasiswa independen penjabat anggota MWA perwakilan mahasiswa adalah sejajar dengan presiden-kabinet dan berada dalam kontrol Kongres KM ITB.</p>
<p>Setelah Kongres KM ITB 2007/2008 bertempur mati-matian di SIK 2008, kini giliran Panitia Pemilu KM ITB 2008 pasang aksi. Konsepsi, AD dan ART terbaru sudah disahkan. Aturan Pemilu KM ITB 2008 juga sudah diluncurkan. Pewacanaan soal si produk baru (anggota MWA perwakilan mahasiswa) ke massa kampus ini bakal jadi tugas besar Kongres dan Panpel.</p>
<p>Dalam hitungan 7 minggu, mahasiswa ITB akan segera memiliki pengganti Zulkaida Akbar sebagai Ketua Kabinet KM ITB dan anggota MWA perwakilan mahasiswa. Saatnya mahasiswa ITB bersiap memilih pemimpin pilihannya. Kira-kira siapa ya?</p>
<p>Bandung, 4 jam sebelum forum massa...</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Desain Aksesibel Untuk Semua]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/2008/01/16/desain-untuk-semua/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 02:00:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2008/01/16/desain-untuk-semua/</guid>
<description><![CDATA[Judul di atas kedengarannya memang aneh, sebenarnya judul itu terjemahan bebas versi saya untuk idio]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas kedengarannya memang aneh, sebenarnya judul itu terjemahan bebas versi saya untuk idiom <i>universal design</i> yang jadi isu desain beberapa tahun belakangan. Memang selama ini desain yang ada dibuat untuk siapa?</p>
<p>Ya, untuk semuanya.</p>
<p>Semua yang fisiknya sempurna.</p>
<p>Semua yang punya uang.</p>
<p>Semua yang punya akses.</p>
<p>Ironi ini sungguh menggelitik saya. Entah ada apa dengan desainer-desainer di negeri ini sampai demikian sulitnya memikirkan mereka yang tidak memiliki akses pada desain.  Jika ada yang beralasan mahalnya desain universal dan pemerintah belum mampu membayar,  silakan anda hitung bangunan publik yang menambahkan ramp selain tangga untuk akses masuk utama. Menurut saya, ramp itu elemen yang terbilang murah namun useful bagi kaum difabel.</p>
<p>Belum lagi jika memikirkan saudara-saudara kita yang tidak punya akses pada desain lantaran faktor biaya. Mereka yang disebut superklien oleh Profesor Hasan Poerbo ini terjebak dalam kehidupan sehari-hari di kantong-kantong kampung kota, lingkungan yang makin terdesak oleh tingginya tensi pembangunan namun berfasilitas sangat minim. Apa yang salah?</p>
<p>Kebijakan publik negeri ini tidak pernah menempatkan kaum tanpa akses pada posisi yang adil. Mereka selalu diperlakukan sebagai orang sakit yang harus dijauhkan dari masyarakat umum. Alhasil mereka hanya menjadi kaum marjinal yang membingkai hiruk-pikuk kehidupan urban dengan pembawaan mereka yang khas. Padahal, yang mereka butuhkan adalah akses. Bukan belas kasihan dalam bentuk recehan yang diulurkan setengah ikhlas.</p>
<p>Akses agar mereka mampu mengecap pendidikan;</p>
<p>karena pendidikan mampu mengangkat derajat manusia</p>
<p>Akses agar mereka mampu mendapatkan pelayanan publik;</p>
<p>karena mereka warga negara ini juga</p>
<p>Akses agar mereka mampu mendapatkan pelayanan kesehatan;</p>
<p>karena hak untuk hidup adalah hal yang asasi</p>
<p>Akses untuk semua;</p>
<p>karena mereka juga manusia</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Hujan]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/2007/12/30/tentang-hujan/</link>
<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 09:04:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2007/12/30/tentang-hujan/</guid>
<description><![CDATA[Apa itu hujan?
Sejak SD tentu kita sudah diajarkan soal serangkaian proses mulai dari proses evapora]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa itu hujan?</p>
<p>Sejak SD tentu kita sudah diajarkan soal serangkaian proses mulai dari proses evaporasi yang terjadi di permukaan bumi hingga kondensasi di atmosfer sebagai urut-urutan proses terjadinya hujan. Sayangnya, proses pengajaran tradisional yang diterapkan di kebanyakan sekolah di Indonesia telah mereduksi makna sebuah peristiwa menjadi fenomena alam belaka. Padahal ada berbilang makna yang terkandung dalam peristiwa sesederhana hujan.</p>
<p>Hujan adalah berkah. Ingat kisah Nabi Yusuf saat diminta menafsirkan mimpi rajanya. Tujuh tahun negerinya tidak akan mendapat hujan dan akan dilanda kekeringan setelah tujuh tahun penuh kemakmuran.</p>
<p>Hujan adalah pertanda. Musim hujan berkepanjangan dan tidak sesuai musimnya alias La Nina yang terjadi beberapa tahun belakangan ini adalah indikator terjadinya perubahan iklim dan perubahan kondisi bumi secara keseluruhan.</p>
<p>Hujan adalah kasih sayang. Sebuah peribahasa Palestina bersajak begini, "<i>Jika turun hujan, tersenyumlah. Hujan adalah saat Allah menurunkan rahmatnya</i>"</p>
<p>Ada yang mau menambahkan??</p>
<p>***</p>
<p align="right">Satu Rindu (Opick feat Amanda)</p>
<p align="right">&#160;</p>
<p align="right">Hujan, kau ingatkan aku tentang satu rindu</p>
<p align="right">Di masa yang lalu saat mimpi masih indah bersamamu</p>
<p align="right">Terbayang satu wajah penuh cinta, penuh kasih</p>
<p align="right">Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan</p>
<p align="right"> Kau Ibu...</p>
<p align="right">&#160;</p>
<p align="right">Allah, ijinkanlah aku bahagiakan dia</p>
<p align="right">Meski dia tlah jauh biarkanlah aku berarti untuk dirinya</p>
<p align="right">Oh Ibu...</p>
<p align="right">Kau Ibu...</p>
<p align="left">&#160;</p>
<p align="left">Bandung, lagi ujan deres oi!!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saya (Pernah Jadi) Penggemar AS Roma]]></title>
<link>http://shallypristine.wordpress.com/2007/12/25/saya-pernah-jadi-penggemar-as-roma/</link>
<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 04:19:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>shallypristine</dc:creator>
<guid>http://shallypristine.id.wordpress.com/2007/12/25/saya-pernah-jadi-penggemar-as-roma/</guid>
<description><![CDATA[Dunia gemar-menggemari memang sungguh absurd. Demi yang digemarinya, seorang penggemar rela melakuka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia gemar-menggemari memang sungguh absurd. Demi yang digemarinya, seorang penggemar rela melakukan apapun bahkan hingga hal yang tidak masuk di akal macam ikut bunuh diri saat sang idola meninggalkan dunia. Remaja adalah segmen umur yang rentan terhadap sindrom gemar-menggemari ini. Usia remaja adalah usia saat seseorang mulai mencari identitas dan mengalami ambiguitas status sosial (Altman and Low: 1987). Mereka cenderung mengambil citra tertentu yang dianggap ideal untuk dicontoh, dikagumi dan dipuja. Remaja akan menduplikasi citra ideal alias idola tadi sebagai bagian dari pencarian identitas dan mengaplikasikannya pada diri mereka sendiri. Karenanya, jangan heran saat melihat remaja berdandan ala artis tertentu atau rela menghabiskan uang jajannya untuk membeli atribut tim yang dikaguminya.</p>
<p>Waktu SD sampai SMA saya juga sempat punya idola. Bukan tokoh agama, bukan artis, bukan tokoh nasional tetapi klub sepakbola. Saat teman-teman saya yang wanita sedang gemar-gemarnya mengidolakan boyband saya malah datang ke sekolah sambil membawa tabloid BOLA terbaru. Saya memang suka melakukan sesuatu yang mahiwal alias ingin beda sendiri. Buat anak SMP yang uang jajannya masih recehan, membeli BOLA berarti tidak jajan selama 2 hari. Karena BOLA terbit dua kali dalam seminggu, walhasil saya hanya bisa jajan di hari Rabu dan Sabtu. Haha...</p>
<p>Sebenernya, di tiap liga Eropa yang ngetop saya punya tim jagoan sendiri. Di Premiership, Manchester United. Di Erdevisie, PSV Eindhoven. Di Bundesliga, Bayer Leverkusen. Di Liga Spanyol, Alaves. Di Liga Prancis, PSG. Di Lega Calcio, AS Roma tentunya. Pilihan tim-tim idola tadi bukan tanpa alasan, saya yang  suka mahiwal tadi memang tidak suka pada tim yang melulu menang. Akhirnya pilihan-pilihan saya jatuh pada tim yang underdog tapi berpotensi jadi kuda hitam mengalahkan tim yang lebih mapan.</p>
<p>Lega Calcio adalah liga favorit saya, persaingannya paling menarik dibanding liga Eropa lainnya. Karenanya, <a href="http://www.asroma.it" target="_blank">AS Roma</a> menjadi tim kesayangan saya. Saya mulai mengidolakan AS Roma sejak musim terakhir AS Roma dilatih Zdenek Zeman. Saat itu, Roma adalah pelanggan urutan 5-6 di akhir kompetisi Lega Calcio dan hanya menjadi peserta rutin Piala UEFA perwakilan Italia. Saat musim berikutnya, Fabio Capello masuk dan mengubah pola permainan 4-3-3 warisan Zeman yang defensif menjadi  3-4-3 yang membawa Roma menjadi Il Campionati Lega Calcio taun 2000(?..lupa).</p>
<p>Selain Francesco Totti sang pangeran, sisa skuad Il Lupo alias Si Serigala nyaris tidak ada yang super talented. Kalaupun terpilih masuk skuad Azzuri pun cuma jadi penghangat bangku cadangan. Roma bukan klub kebanyakan duit macam Real Madrid yang punya hobi memecahkan rekor transfer pemain. Roma juga bukan klub dengan pembibitan sebaik MU yang menghasilkan David Beckham dan Neville bersaudara, bisa dibilang hanya Totti yang merupakan produk yang sukses dari akademi AS Roma. Hanya saja, Roma punya pemandu bakat-pemandu bakat yang jeli melihat pemain-pemain berpotensi yang bertebaran di klub-klub yang kurang terkenal.</p>
<p>Capello berhasil menempatkan right man in the right place. Tiga punggawa di barisan depan diisi oleh trio Marco Delvecchio-Totti-Vincenzo Montella. Di tengah ada barisan gelandang yang tidak kalah solidnya (cuma inget Candela, yg lain nama-namanya pada lupa, euy). Di bagian belakang ada Cafu sebagai bek kiri yang giat membantu serangan (nama-nama bek lainnya saya juga lupa). Roma menamatkan kompetisi sebagai juara dan melaju ke Liga Champion. AS Roma adalah bukti bahwa untuk jadi pemenang dibutuhkan super team, bukan superman.</p>
<p>Di musim-musim selanjutnya, Roma tidak pernah mengulangi kegemilangannya itu walau Capello lagi-lagi berhasil menemukan bibit-bibit unggul dan melejitkan mereka. Sebut saja Danielle de Rossi, Emerson dan Antonio Cassano. Beberapa tahun setelah stagnansi dan mal prestasi, Fabio Capello cabut ke Juventus dan sekarang melatih tim nasional Inggris.</p>
<p>Terhitung sejak tahun 2003 saya vakum dari pengamatan dunia persepakbolaan internasional. Jika ada siaran langsung pun sekedar menengok sambil sedikit kangen. Di koran yang saya baca beberapa minggu lalu, AS Roma lolos ke babak perempat final Liga Champions. Sekarang Roma dilatih Luciano Spaletti yang pernah melatih Lecce dan Udinese. Totti masih ada, demikian pula dengan de Rossi. Penyedia apparel pun sudah beralih ke Diadora dari Kappa. AS Roma sudah berubah. Demikian pula dengan saya.</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
