<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>keluarga-sharing-experience &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/keluarga-sharing-experience/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "keluarga-sharing-experience"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 08:26:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Hubungan antar tetangga dilingkungan tempat tinggal]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=454</link>
<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 13:35:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=454</guid>
<description><![CDATA[Semakin beragamnya kehidupan kota besar di Indonesia, perkembangan penduduk kota yang makin pesat, s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin beragamnya kehidupan kota besar di Indonesia, perkembangan penduduk kota yang makin pesat, serta semakin banyak pasangan yang keduanya bekerja di luar rumah, akan membentuk pola hubungan antar tetangga yang berbeda di banding sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Dibesarkan di kota kecil, saat saya masih kecil sampai remaja, hubungan antar tetangga sangat dekat bahkan seperti saudara. Risikonya gosip juga seru, sehingga ibu selalu berpesan, kalau main jangan ke tetangga, tapi bermainlah dengan teman sekelas, atau teman kelompok belajar. Apalagi diantara tetangga anaknya tak ada yang satu sekolah denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat masih lajang dan mulai bekerja di Jakarta, saya tak terlalu memikirkan hubungan antar tetangga ini apalagi masih kost, karena berangkat pagi dan pulang petang. Hari libur biasanya digunakan untuk menengok kerabat yang tinggal di Jakarta atau kegiatan lain, dan pada saat itu hari Sabtu masih masuk setengah hari. Namun setelah menikah, dan mengontrak rumah di daerah Rawamangun, mau tak mau harus kenal dengan tetangga kiri kanan rumah, serta berkenalan minimal dengan pak RT. Kemudian saya pindah ke rumah dinas, dan tak terasa saya tinggal di rumah dinas sejak si sulung berumur 10 bulan sampai dengan pensiun. Di kompleks rumah dinas, karena semua satu kantor hubungan relatif mudah, ketua RT nya juga rekan sekantor. Meskipun demikian, kesibukan masing-masing membuat setiap kali ada acara, selain diberitahukan secara tertulis, juga dikirim melalui email dan sms, maklum para penghuni bergantian turne dan jarang di rumah. Tetangga biasanya baru ketemu saat ada yang meninggal, atau ada perayaan yang berhubungan dengan 17 Agustus dan keagamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman-teman saya yang tak mengambil rumah dinas, namun tinggal di kompleks perumahan rata-rata masih berhubungan dan kenal baik antar tetangga, walaupun sama-sama sibuk bekerja di Jakarta. Sedang teman yang tinggalnya di kota Jakarta, nyaris jarang ketemu tetangganya, maklum pagar rumah di Jakarta paling tidak 2 meter dan ditutup dengan <em>fiberglass</em>, sehingga benar-benar mencerminkan individu penghuninya. Setelah pensiun, mau tak mau kami harus tinggal di rumah sendiri. Mencari rumah sendiri, juga memerlukan pertimbangan dari berbagai segi, dan akhirnya kami memutuskan punya rumah di daerah Cilandak, yang relatif dekat kemana-mana walaupun kecil. Walau dekat dengan jalan raya Fatmawati dan Tol Simatupang, namun karena jalan masuknya kecil (hanya cukup satu mobil ) dan jalan buntu, maka lingkungan rumah relatif nyaman, karena tetangga masih ada yang menanam halaman belakang rumah dengan pohon besar. Setiap pagi sampai sore diramaikan dengan suara burung gereja, dan kupu-kupu yang berwarna warni serta kumbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum membangun rumah, untuk mengurus IMB wajib ijin tetangga kiri kanan, depan dan belakang rumah, karena kemungkinan mereka akan terganggu selama pembangunan. Syukurlah tetangga semuanya bersikap baik, pak RW kebetulan rumahnya didepan rumah kami, sedang ketua RT nya pilot, sehingga kalau mengurus sesuatu harus memberikan jarak waktu karena beliau sering terbang dan tak selalu ada di rumah. Awalnya kami ingin pagar rumah terbuka walaupun cukup tinggi sehingga kalau ada apa-apa terlihat dari luar, namun ternyata menjadi buah simalakama, karena setiap kali  orang menawarkan dagangan, minta sumbangan dengan mengebel rumah, karena tetangga kiri kanan pintunya tertutup rapat. Apaboleh buat, akhirnya kami ikutan menutup pagar dengan <em>fiberglass</em>. Sulitnya, kami  tak boleh lupa mengunci pagar rumah, dan tetangga menyarankan hanya orang tertentu dan telah dikenal yang boleh masuk, seperti: jika pengecekan PLN namanya pak A, tukang sampah pak X, dan jika iuran keamanan akan diedarkan oleh satpam. Walau tetap menghargai <em>privacy</em> masing-masing, kami dan tetangga masih saling mengantar sekedar oleh-oleh, dan mengobrol jika ketemu karena sedang menyiram bunga di depan pagar. O,iya karena rata-rata kavling rumah kecil, maka di atas selokan diberi semacam tempat untuk menaruh pot-pot bunga, sehingga di kiri kanan jalan masih terlihat hijau. Setiap bulan ada pengecekan jentik-jentik nyamuk, dan kemarin baru saja ibunya ketua RW keliling mengedarkan formulir untuk diisi masing-masing penghuni rumah, agar jika terjadi apa-apa bisa saling membantu. Formulir tadi antara lain berisi; nama penghuni, latar belakang pendidikan, golongan darah (bersedia diminta donor/tidak), jumlah mobil yang dimiliki, apakah mobil boleh dipinjam untuk keperluan darurat dsb nya. Menarik sekali, karena di lingkungan tempat tinggal saya, yang aktif adalah ibu-ibu pensiunan, mereka aktif melakukan pengajian, pengecekan jentik nyamuk, mengedarkan surat menyurat untuk keperluan hubungan antar tetangga dalam wilayah RT, serta saat ini yang lagi digalakkan adalah kebersihan lingkungan, agar RW tempat tinggal kami dapat menang lomba kebersihan dan lingkungan, yang sebelumnya mendapat no.3 dan diharapkan tahun ini dapat meningkat.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bersyukur karena memilih tempat tinggal di daerah ini, walau rumah kecil, tapi lingkungan sangat nyaman, hubungan antar tetangga masih baik,  dan tetap menjaga <em>privacy</em> masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar bersama anak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=423</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 00:54:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=423</guid>
<description><![CDATA[Pada saat anak-anak kecil, adalah wajar jika anak sangat tergantung pada orangtua, dan orangtua lah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada saat anak-anak kecil, adalah wajar jika anak sangat tergantung pada orangtua, dan orangtua lah tempat bertanya. Dan pada umumnya anak kecil lebih dekat pada ibu dibanding dengan bapak. "Lha iya, kan dia mengeram dikandungan sembilan bulan,"kata suami. Jelas nggak mungkin bisa disaingi. Betulkah anak merasa ibu adalah nomor satu?  Ternyata ini juga berubah sesuai usia anak.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Pada saat anak masih balita, maka dengan sendirinya memang dekat pada ibu dan ayahnya. Namun sejak anak saya mulai masuk Taman Kanak-kanak, maka kalau ditanya..."Siapa yang paling pintar?" maka jawabannya..."Ibu guru." Dan begitu pula saat usia Sekolah Dasar, pernah ada kejadian lucu. Saat si sulung kelas satu SD, kebetulan nama ibu gurunya Ari, sama dengan panggilan anakku. Ibu guru ini masih muda dan manis. Suatu ketika, ibu Ari sakit, sehingga kelasnya diganti guru lain. Anak saya menangis, berlari pulang kerumah..."Aku nggak mau ibu guru yang itu, ibu guruku cantik," sambil tersedu-sedu. Waduh celaka, kalau ibu guru pengganti mendengar, dia bisa marah sama anakku, hari itu anakku mogok sekolah. Syukurlah sejalan dengan perkembangan usianya, maka dia bisa menerima jika sewaktu-waktu gurunya ganti yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tak mempunyai masalah dengan si bungsu, karena sejak awal kakaknya rajin mengajar adiknya, bahkan saya tak sadar, tahu-tahu anak bungsuku sudah bisa membaca dengan lancar, padahal kemarinnya baru terbata-bata. Jadi, ibaratnya dengan bisa mengendalikan dan memahami kakaknya, maka adiknya akan aman-aman saja, karena si kakak ini benar-benar perhatian. Saat saya harus ke Jawa Timur, untuk memperingati 1000 hari meninggalnya almarhum ibu, suami berhalangan ikut, jadi saya hanya bertiga dengan anak-anak yang saat itu masih SD. Saat saya mengambil barang di bandara Solo, saya pesan ke mas, untuk menjaga adiknya. Saya tersenyum saat selesai mengambil barang, si adik dengan tenangnya dipeluk oleh kakaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Semakin bertambah umur anak, idola juga berubah. Kalau dulu nomor satu ibu guru, sekarang nomor satu adalah pendapat yang dikutip dari buku, atau artikel di media....jadi saya harus berhati-hati memberikan bacaan. Hal ini ada keuntungannya, tapi juga ada risikonya, karena setiap kali dia baru mau mengikuti anjuran jika ada penjelasannya di buku. Kami tinggal di kompleks rumah dinas, walaupun tetangga bekerja di kantor yang sama, tapi pasangannya berbeda kantor, dan hal ini menyebabkan sumber bacaannya berbeda. Ternyata anakku diam-diam suka main kerumah tetangga, dan kebetulan saya punya tetangga yang belum punya anak, tapi dia sayang sama anak kecil. Setiap hari anakku nyaris berada dirumah temanku itu. Dan idolapun berganti...sekarang yang nomor satu adalah tante X. Waktu ditanya ayahnya, jawabannya adalah.." Orang di kompleks ini yang paling pintar adalah tante X. Ibu kalau ditanya suka menjawab, sebentar ya nak, ibu lihat dulu di buku. Tapi kalau tante X, dia langsung ambil buku, dan langsung menceritakan isi buku itu." Saya memang mengajarkan anak-anak mencari apa yang diinginkan melalui<em> index</em> yang terletak pada halaman belakang buku, kemudian baru dilihat halamannya. Hal ini terpaksa saya lakukan, agar anak-anak bisa mandiri, jika ibunya dinas ke luar kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah anak-anak remaja, maka mulailah era internet, awalnya saya tak terlalu memikirkan untuk berlangganan internet, karena jika diperlukan bisa melalui Telkomnet, dan anak sulung saya bisa ke warnet. Namun setelah si sulung mahasiswa dan jauh dari rumah, saya kawatir jika adiknya yang perempuan harus ke warnet, yang saya tak yakin keamanannya, apalagi jika keasyikan bisa-bisa tak kenal waktu. Jadi, saya mulai bertanya-tanya bagaimana caranya berlangganan internet di rumah. Inilah untungnya tinggal di rumah dinas, teman anak buahku kebetulan dari Divisi IT, dialah yang mengajarkan bagaimana caranya berlangganan internet. Pada awalnya saya menggunakan indosatnet dan melalui telepon, namun kemudian seorang teman menyarankan menggunakan Kabel Vision (tapi tetap pakai IM2) agar temannya anak-anak bisa ikut menggunakan internet tanpa kawatir biayanya membengkak. Itulah awalnya saya berlangganan internet, namun saya masih sebatas pada mengecek email, dan ikutan milis, dari mulai milis teman seangkatan saat kuliah, juga milis teman-teman dimana anakku kuliah.</p>
<p style="text-align:justify;">Peran internet ini sangat berguna, baik untuk saya sendiri sebagai orangtua untuk memantau anak, maupun bagi anak -anak. Betapa rasanya hati menjadi terharu, ditengah kepadatan kerja dan saat jam istirahat menyempatkan membuka email, sudah ada email dari anakku, sekedar menyapa..."Hi cewek, sedang sibuk?" Saya geli sekali, dan hilanglah stres yang disebabkan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya. Anak-anak juga saya perkenalkan dengan teman-teman di kantor, kalau mereka libur kadang-kadang saya ajak ke kantor, untuk melihat bahwa ibu bekerja, dan apa kesulitannya orang bekerja. Kadang mendadak saya harus pergi rapat, dan meninggalkan anak saya yang terlanjur sudah datang dikantor. Mereka tenang-tenang saja, karena bisa menggunakan komputer di ruanganku, dan jika sampai pulang kantor saya belum selesai rapat di instansi lain, maka anakku akan ikut dengan teman yang rumahnya bertetangga di kompleks rumah dinas. Anak-anak banyak diskusi dengan anak-buahku yang masih muda-muda, yang banyak memberikan gambaran ke arah jalan yang mau dituju. Disadari, kadang anak-anak memerlukan wawasan atau cerita dari pihak lain, untuk memilih  apa yang diinginkan. Anak-anak akhirnya juga akrab dengan anak buahku, jadi saat saya sibuk, dan si bungsu harus pas foto, dia menelpon ke kantor, dan minta saran dari sekretarisku, sebaiknya pakai baju apa. Saya sadari, dukungan lingkungan yang baik, membuat saya bisa bekerja dengan tenang, dan dimanapun saya berada, anak-anak bisa mencari informasi dari orang-orang serta sumber yang terpercaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan setelah anak-anak mahasiswa, ganti mereka yang mengajarkan pada ayah ibunya, beberapa ilmu, yang bagi orangtua agak sulit di cerna. Ya, sekarang anak-anakku, telah menjadi guruku, dan menjadi temanku untuk tempat bertanya. Jadi sebetulnya, kalau kita bisa memahami dan mau bersama-sama belajar bersama anak, maka kita akan menjadi teman baik, dan anak-anak juga bisa menilai bahwa ayah ibu tetap manusia yang banyak kelemahannya...dan karena mereka yakin atas kasih kayang orangtuanya, maka mereka selalu memaafkan, dan bersama-sama mencari solusi jika ada kesulitan.</p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sulitkah memahami pikiran anak?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=408</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 04:35:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=408</guid>
<description><![CDATA[Saya ingin sekedar sharing pengalaman, semoga nantinya ada  psikolog yang bersedia menambahkan komen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saya ingin sekedar <em>sharing</em> pengalaman, semoga nantinya ada  psikolog yang bersedia menambahkan komentar. Setelah anak pertama dirasakan telah cukup umur untuk mempunyai adik, maka orangtua mulai memutuskan kapan sebaiknya menambah punya anak, agar si sulung mempunyai teman bermain.Terus terang saya "agak kawatir" juga jika jaraknya terlalu lama, karena teman saya ingin menambah anak, saat sulungnya berumur 7 (tujuh) tahun dan mulai memahami arti adik, ternyata anak ini protes tak ingin punya adik karena kawatir kasih sayang orangtuanya terbagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--><strong>Kapan berani memutuskan menambah anak</strong>?</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu, ekonomi keluarga masih sangat pas-pas an, ditambah harus menanggung biaya pendidikan adik-adik ipar, sehingga pemikiran untuk menambah anak, memerlukan pertimbangan yang matang. Dari beberapa kali diskusi dengan suami, mengobrol dengan orang yang lebih tua, akhirnya saya dan suami berani memutuskan menambah anak. Dan sebetulnya, yang membuat saya terdorong untuk menambah anak, karena sentilan dokter kandungan.."Nyonya, kalau nyonya tak segera menambah anak, nanti tambah males lho. Udah keenakan berkarir, karir semakin meningkat, anak sudah ada dan anaknya semakin tak rewel karena udah bisa jalan. Ayolah nyonya, tambah satu lagi.."</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah saya renungkan, kenapa saya takut punya anak lagi, padahal banyak contoh disekeliling saya, seperti anak buah saya, yang gajinya lebih kecil dari saya, berani punya anak tiga, dan isterinya tidak bekerja. Sedangkan biaya melahirkan akan diganti penuh oleh kantor. Saya berhitung, berapa tambahan biaya per bulan yang dibutuhkan jika menambah anak? Teman saya mengomel..."Kamu itu kok nggak percaya sama Tuhan, nanti juga gaji akan semakin naik, siapa tahu rejekinya bayi, kamu bisa naik pangkat.."</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya saya mulai memeriksakan kandungan, dan diberi terapi agar mudah mengalami kehamilan (kandungan saya termasuk lemah, dan anak pertama keguguran), syukurlah saat mengandung anak kedua tak mengalami permasalahan yang berarti. Sampai kehamilan bulan ketujuh, saya masih bisa tahan mengajar  3 (tiga) hari berturut-turut dengan perut membesar...dan si bungsu ini baru lahir setelah bulan kesepuluh. Sejak mulai hamil dan kandungan terasa ada gerakan, setiap kali si sulung diajak mengobrol, bahwa ada adik didalamnya, diajak ikut meraba merasakan tendangan kaki adiknya, dan setiap periksa ke dokter, dokter kandungan dengan sabar menjawab pertanyaan si sulung tentang adiknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengenalan pertama kakak dengan adiknya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saat masih dirawat di rumah sakit, si kakak rajin menengok, bayangan saya dia akan senang hati jika melihat adiknya dibawa kerumah. Hari itu, hanya berdua suami saya pulang ke rumah. Saya telah menyediakan bermacam-macam hadiah, sehingga setiap kali ada tamu yang datang membawa hadiah, si sulung juga mendapat hadiah (dari orangtua, tentunya). Kata adik saya, saat ini di lingkungan temannya, jika tahu yang lahir anak kedua, tamunya membawa dua macam hadiah, untuk diberikan pada si kakak agar tidak iri kepada adiknya. Keadaan berjalan normal, namun kira-kira dua minggu kemudian, karena kesibukan kami "agak" melalaikan anak sulungku, di cari-cari nggak ketemu. Rupanya dia ada di bawah pohon, merenung seorang diri. Perasaan dingin menjalari hatiku, segera saya mendatangi si kakak, dan mendengar komentarnya..."Saya mau adik laki-laki, tukar dengan Yosi." (Yosi ini bayi laki-laki, yang lahir seminggu setelah kelahiran anak keduaku, putra tetangga di depan rumah). Sejak itu, saya hanya menggendong si kecil saat dia menyusui, setelah itu segera memperhatikan kakaknya, karena kakaknya  terlihat makin pendiam, padahal biasanya banyak mengajukan pertanyaan. Syukurlah akhirnya si kakak mau mengajak bercanda adiknya, ikut memegang tangannya jika ibu lagi menyusui, ikut menenangkan adik jika rewel. Tahun-tahun berjalan.....dan mulailah anak-anak usia masuk sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perkenalan pertama kali dengan psikolog</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Suatu ketika Guru sekolah di SD mengadu pada kami, bahwa anakku sering termenung melihat keluar jendela, dan kadang tak membuat Pekerjaan Rumah. Kebetulan suami sedang mengikuti kursus paten di Fak Hukum UI, dan diantara teman kursusnya ada yang latar belakangnya psikolog. Teman ini menyarankan untuk membawa anakku ke Psikolog di Fak Psikologi Terapan UI. Ternyata anakku senang, karena disitu dia diajak bermain, menggambar sambil mengobrol. Dari gambarnya, dia menggambar sebuah rumah, didepannya ada gambar perempuan dan laki-laki. Kata psikolog..."Ini mama?" Bayangan psikolog, anakku merasa kehilangan mama, karena kesibukan mamanya kerja. Jawabannya mengagetkan.."Bukan, ini adikku. Adikku sekarang udah punya teman, jadi jarang main sama aku lagi." Dari obrolan, ternyata anak pertamaku sangat menyayangi adiknya, bahkan cenderung <em>over</em> protektif, padahal adiknya perempuan, yang tentu cara bermainnya agak berbeda. Dari obrolan dengan psikolog ini, akhirnya saya juga memeriksakan si kecil, agar akhirnya kami sebagai orangtua tahu apa yang sebaiknya dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sejak itulah perkenalanku dengan psikolog, setiap hal yang menunjukkan anakku melakukan hal, yang  agak di luar perilaku sehari-hari, saya menjadi rajin datang ke psikolog....padahal setiap datang ke psikolog orangtua selalu yang disalahkan. Yahh memang menjadi orangtua ternyata tidak mudah, ternyata sangat sulit memahami jalan pikiran anak-anak kita sendiri, mungkin ini juga yang membuat kami akhirnya memutuskan dua anak sudah cukup, dan berdoa semoga dengan dua anak ini kami bisa menjaganya, dan bisa mendidiknya agar menjadi orang yang berguna bagi masyarakat kelak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pernikahan tertunda atau terancam batal gara-gara ketidaksesuaian antara dua keluarga]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=407</link>
<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 03:31:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=407</guid>
<description><![CDATA[Tulisan ini untuk menjawab komentar Ade, yang kelihatannya telah mulai memikirkan kemungkinan menika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tulisan ini untuk menjawab komentar <a href="http://blog.adebayu.com">Ade</a>, yang kelihatannya telah mulai memikirkan kemungkinan menikah dalam waktu dekat, dan semoga tulisan ini dapat menggambarkan kemungkinan-kemungkinan apa yang terjadi, apa yang harus dipersiapkan dan sebagainya. Pernikahan ternyata tak hanya ditentukan oleh kedua calon pengantin, namun juga oleh kedua keluarga, dari pihak pengantin perempuan dan pihak pengantin pria. Bagi keluarga yang masih menjunjung tinggi nilai adat dan tradisional, kadang hal ini bisa menjadi hambatan, jika tidak diantisipasi sejak dini. Pernikahan bagi keluarga di Indonesia, bukanlah hanya keputusan antara kedua pasangan, namun juga persatuan antara dua keluarga besar. Yang lebih sulit, jika pasangan berasal dari keluarga besar, dimana para anggota keluarga juga mempunyai pandangan yang berbeda dalam melihat suatu pernikahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--><strong> Apa yang menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian ini?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Perbedaan dalam melakukan acara lamaran</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila sepasang kekasih telah merasa siap dan memutuskan untuk menikah, maka masing-masing akan memberitahukan pada keluarganya. Maka masing-masing keluarga akan mulai mempersiapkan segala sesuatu nya, didahului oleh sebuah lamaran. Akankah semudah itu? Ternyata ada beberapa hal, yang bisa mengganggu acara ini, yang akhirnya tak terjadi lamaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh:</p>
<p style="text-align:justify;">a. Pada saat pacaran, A dan B, tidak pernah berpikir akan menemui kesulitan seperti ini. Saat memutuskan akan menikah, ternyata saat keluarga B datang melamar (B pihak laki-laki), keluarga A meminta sejumlah besar uang, sebagai ganti membesarkan A sejak kecil sampai dewasa, ditambah B ikut menanggung biaya pernikahan. Kasus ini saya baca di majalah (saya lupa majalahnya). Sarannya adalah agar A maupun B dapat menjelaskan pada masing-masing orangtua, karena kalau tidak ada yang mengalah, maka pernikahan terancam batal.</p>
<p style="text-align:justify;">b. Saya baru saja membaca keluhan yang dilakukan oleh seorang calon pengantin pada rubrik keluarga, yang diasuh oleh seorang psikolog pada majalah Nova. Kedua calon pengantin sama-sama dari daerah Minang. Kebetulan keluarga calon pengantin wanita memegang adat, bahwa yang melamar pihak laki-laki. Namun pihak keluarga laki-laki adatnya adalah dilamar pihak calon pengantin perempuan. Saran psikolog adalah, bagaimana kedua calon pengantin menjelaskan kepada keluarga masing-masing, agar masalah pernikahan, yang sebetulnya telah disetujui oleh kedua belah pihak, terancam batal hanya gara-gara masalah perbedaan ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Perbedaan dalam menentukan acara (adat yang digunakan)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apabila kedua calon pengantin berasal dari suku yang menggunakan adat berbeda, maka perbedaan pandangan juga dapat menimbulkan ketidak sesuaian dalam cara menyikapi acara pernikahan. Ini pernah terjadi pada teman saya, yang orangtuanya berasal dari Sunda, sedang calonnya dari Jawa. Kedua orangtua sejak awal telah menyetujui rencana pernikahan sejak awal, karena memang mereka telah kenal baik, namun pihak keluarga lain (uwak dsb nya) agak keberatan. Setelah melewati perdebatan lama, dan menguras energi akhirnya disepakati, acara akad nikah menggunakan adat Sunda, serta acara resepsi nya menggunakan adat Jawa.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah timbulnya perbedaan pandangan hanya tejadi pada pernikahan antar suku? Ternyata tidak, walaupun berasal dari suku yang sama, ada yang menginginkan acara bernuansa agama (Islam), sedang yang lainnya menggunakan adat.</p>
<p style="text-align:justify;">Jalan keluarnya adalah pada kemampuan komunikasi kedua calon pengantin, bagaimana agar perbedaan pandangan ini jangan sampai menimbulkan kerugian, yang dapat berakibat batal. Oleh karena itu, saat anak sulung saya menikah (anak saya laki-laki), saya dan suami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga pengantin perempuan yang ingin menggunakan adat Jawa, karena menantu saya adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga besan saya serta anak bungsu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Siapa yang akan membiayai biaya resepsi pernikahan?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya, mempersiapkan pernikahan adalah tanggung jawab orangtua, untuk yang terakhir kalinya bagi anaknya. Setelah menikah, anak  membangun keluarga sendiri, terpisah dari rumah orangtuanya. Namun perkembangan zaman, apalagi banyak orangtua yang keuangannya menipis, dan lebih memilih membiayai anaknya sampai selesai kuliah di Perguruan Tinggi, dibanding hanya menyimpan uang untuk biaya pernikahan. Oleh karena itu, siapa yang akan membiayai acara pernikahan saat ini lebih fleksibel.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu, pernikahan dilangsungkan di keluarga pengantin putri, dan kalaupun keluarga pengantin laki-laki ingin menyelenggarakan resepsi, acaranya disebut ngunduh mantu. Dengan demikian tak ada keributan ataupun perbedaan yang menimbulkan persoalan karena telah jelas tanggung jawab masing-masing. Namun karena saat ini pada umumnya masing-masing calon pengantin telah bekerja, bisa menabung, serta kesibukan waktunya yang tak memungkinkan cuti lama, maka resepsi pernikahan dipersingkat, bahkan acara akad nikah dilanjutkan dengan resepsi pada gedung yang sama dan hari yang sama. Oleh karena itu, agar tak menimbulkan kesulitan di kemudian hari, masalah biaya ini hendaknya dibicarakan secara baik-baik, siapa yang akan menanggung, dan dari besarnya plafond biaya yang telah disepakati tadi, baru dipikirkan bentuk acaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari paparan di atas, maka pasangan calon pengantin harus mempunyai kedewasaan dalam berpikir dan bersikap, karena sebelum mereka mengepakkan sayap dan membentuk keluarga baru, banyak hal-hal yang memerlukan tenaga dan pemikiran, agar berjalan sesuai yang dikehendaki. Dan kalau terjadi perbedaan yang ber larut-larut, hanya kedewasaan calon pengantin yang dapat mengatasinya, dan meyakinkan kedua orangtua masing-masing untuk lebih memikirkan masa depan anak-anaknya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kapan waktu yang tepat memiliki keinginan mempunyai anak?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=401</link>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 03:17:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=401</guid>
<description><![CDATA[Judul tulisan di atas mungkin membuat orang bertanya, karena pada umumnya setelah menikah sebagian b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Judul tulisan di atas mungkin membuat orang bertanya, karena pada umumnya setelah menikah sebagian besar dari pasangan menikah keinginannya adalah segera mempunyai anak. Betulkah demikian? Ternyata tak semuanya berpikiran seperti itu, karena banyak juga yang menunda punya anak, bahkan mungkin ada yang tak ingin punya anak.</p>
<p><!--more--> Waktu untuk memiliki anak berbeda antara pasangan yang satu dengan lainnya. Dari obrolan dengan teman, sesama antar jemput, terungkap bahwa dulu dia juga menganggap kalaupun tak punya anak tak menjadi masalah, karena begitu banyaknya anak yang terlantar di Indonesia ini, dan dia bersama pasangannya bisa mengadopsi salah satu dari mereka.</p>
<p><strong>a.Kesepakatan berdua</strong></p>
<p>Kesepakatan harus dibuat oleh masing-masing pasangan, kapan sebaiknya telah siap mempunyai anak. Kadang keinginan mempunyai anak harus ditunda karena salah satu pasangan harus meneruskan kuliah dulu, atau ada tugas-tugas lain yang mendesak untuk dilakukan dalam beberapa waktu kedepan. Kesepakatan ini perlu, karena jangan ada salah satu yang merasa terpaksa.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Salah seorang teman pernah cerita, setelah menikah, karena masih dipengaruhi suasana bulan madu,  pulang kantor suami mengajak pergi menonton, makan dan akhir pekan kadang keluar kota, untuk menikmati kebebasan dan kebahagiaan sebagai pasangan pengantin baru. Sebulan setelah pernikahan sang isteri telah positif hamil. Suami begitu bangga dan mencintai isterinya, sehingga jika akhir pekan dia mengajak isterinya untuk dikenalkan kepada lingkungan teman-temannya. Isteri, karena mencintai suami,  tak bisa menolak, walau merasa lelah sekali, apalagi dia juga bekerja di luar rumah, pada akhirnya isteri pasangan tadi mengalami keguguran pada bulan ketiga kehamilan. Keguguran ini belum tentu disebabkan karena kelelahan fisik, namun kelelahan ini dapat pula memicu terjadinya keguguran apalagi jika kondisi kandungan dan janinnya lemah.</p>
<p>Kedua pasangan menyadari, dan akhirnya membuat kesepakatan, kapan isteri dan suami siap untuk mulai memikirkan anak. Hal ini juga perlu dipikirkan saat untuk memutuskan menambah anak kedua, ketiga dan sebagainya. Sulitnya mencari pembantu, dan semakin banyak yang berasal dari keluarga kecil, perencanaan untuk mempunyai anak memang harus dipikirkan benar-benar. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saat saya hamil, kemudian melahirkan, benar-benar hanya berdua dengan suami. Kondisi ini yang membuat mau tak mau harus melakukan keluarga berencana.</p>
<p><strong>b.Kedua calon orangtua telah siap untuk menerima peran baru</strong></p>
<p>Mempunyai anak, kedua pasangan akan mendapat peran baru. Peran baru ini bisa sangat melelahkan, apalagi jika tidak disikapi sejak awal. Mengurus anak yang masih bayi, mau tak mau menguras energi, sehingga komunikasi antar suami isteri bisa terganggu. Apalagi jika pekerjaan suami lagi sibuk-sibuknya, terpaksa membawa pekerjaan kantor ke rumah, dan saat malam hari sang bayi rewel karena kepanasan. Suami hendaknya juga tak tergantung pada pelayanan isteri, yang dulu setiap makan ditunggu isteri, maka sekarang karena sang bayi rewel, suami harus bersedia makan sendiri, bahkan bila memungkinkan membantu isteri menenangkan anaknya.</p>
<p>Hal ini akan makin rumit jika isteri sendiri tak siap, maka punya bayi akan sangat melelahkan. Akibatnya isteri sangat sensitif, mudah menangis dan marah, yang dapat mengganggu hubungan suami isteri. Namun bila keduanya telah siap mental, maka peran baru sebagai ayah dan ibu sangat menyenangkan. Ayah dapat ikut bercanda dengan bayinya, dan situasi menjadi menyenangkan.</p>
<p><strong>c.Anak mempunyai hak untuk hidup bahagia.</strong></p>
<p>Keinginan mempunyai anak adalah dari orangtua, oleh karena itu orangtua harus bertanggung jawab untuk membahagiakan anaknya. Orangtua harus juga siap secara finansial, untuk menjamin kelangsungan hidup anak dan untuk keperluan pendidikannya sampai anak mandiri. Keputusan  menambah anak juga harus dipikirkan masak-masak, sampai seberapa jauh anak yang mampu diberi pendidikan sampai siap mandiri, agar kualitas pendidikan dan ketrampilan anak terjamin. Jangan sampai anak pertama mendapatkan beban untuk ikut membantu orangtua membiayai adik-adiknya, yang berakibat nanti si anak tertua tak mempunyai kemampuan untuk mendidik anaknya sendiri. Akibatnya terjadi lingkaran yang saling tergantung, yang membuat kesulitan secara terus menerus pada keluarga tersebut.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pilihan: karir atau rumah tangga?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=402</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 00:56:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=402</guid>
<description><![CDATA[Tulisan dengan judul di atas telah banyak ditulis di berbagai media, dan teman-teman telah pernah pu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tulisan dengan judul di atas telah banyak ditulis di berbagai media, dan teman-teman telah pernah pula menuliskannya di blog, namun siapa tahu dari tulisan saya ada hal-hal baru yang bisa dipetik hikmahnya. Jika pada tulisan lainnya adalah menulis tentang apa yang sebaiknya dilakukan kaum perempuan, memilih karir atau rumah tangga, namun tulisan saya disini, adalah bagaimana pilihan tersebut bisa diseimbangkan, sehingga tak ada yang dikorbankan.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Semakin banyaknya perempuan yang memperoleh pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi, apalagi banyak yang mendapatkan nilai membanggakan, membuat semakin banyaknya perempuan yang bekerja di luar rumah. Di satu sisi, semakin banyak juga keluarga kecil, sehingga tidak mudah  mendapatkan orang lain yang dapat diminta untuk membantu menemani dan mengawasi pengelolaan rumah tangga kaum ibu yang mempunyai anak kecil dan berkarir di luar rumah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa yang perlu diperhatikan jika ber karir di luar rumah?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Karena saya berasal dari keluarga yang ayah ibu, bude, bulik, sepupu perempuan, berkarir di luar rumah semua, dengan sendirinya sejak memilih calon suami, adalah mempertimbangkan calon yang mendukung saya untuk tetap berkarir di luar rumah. Sejak awal saya menyadari, bahwa kelangsungan rumah tangga saya sangat tergantung dari kerjasama suami isteri, sehingga pilihan menentukan mempunyai anak, menambah anak, diperhitungkan dengan apakah kami mampu menangani dan membesarkan kedua anak kami, bila sewaktu-waktu si mbak pulang kampung atau mendadak ingin keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat awal menikah, suami masih lebih banyak aktif di Ditjen Pendidikan Tinggi, sehingga bisa membantu bila sewaktu-waktu diperlukan, saat anak sakit dan lain-lain. Bisa dikatakan selama beberapa tahun sejak melahirkan anak, sampai dengan kelahiran anak kedua, peningkatan karir saya nyaris jalan di tempat. Hal ini saya sadari dan bagi saya menguntungkan, karena beban yang saya peroleh juga seimbang. Kebetulan bos saya baik, sehingga saya diperbolehkan pulang tepat waktu, dengan catatan pekerjaan yang ditugaskan harus ada di meja beliau besok paginya jam 7.00 wib.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi begitu sampai rumah, saya segera mandi, dan mulai memegang anak-anak, menyuapi, sampai menemani mereka tidur. Malamnya setelah menemani makan malam dan mengobrol dengan suami, pada saat mereka tidur, atau kadang-kadang suami membawa pekerjaan kantor juga, maka mulailah saya  menyelesaikan tugas dibantu mesin ketik tua. Saat itu belum ada PC, dan kesalahan mengetik lebih dari tiga pada setiap halaman harus diulang lagi. Setiap hari saya kurang tidur, karena jam 4 pagi sudah bangun untuk memasakkan makanan anak, kemudian mandi, terus memandikan anak. Saat saya dijemput mobil jemputan (rombongan), anak saya sudah makan pagi dan memberi <em>daag</em> saat ibunya masuk mobil jemputan. Kebetulan di komplek rumah dinas banyak kaum ibu yang bekerja di luar rumah, sehingga anak-anak tidak protes dan tidak merasa kesepian karena banyak anak kecil seumurnya untuk teman mainnya. Apalagi setelah anak mulai sekolah di TK negeri, setiap hari dia dijemput mobil jemputan, kadang ditemani si mbak yang momong, tapi lebih sering sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya ceritanya lain lagi, dia keluar dari pekerjaan saat memutuskan menikah dan kemudian mengikuti suami yang ditugaskan sebagai dokter di pelosok. Temanku belajar menyuntik, menjadi jururawat suami, dan mengajar ibu-ibu menyulam, menjahit dan pekerjaan ketrampilan lain agar ibu-ibu mendapat tambahan ketrampilan saat sore hari sepulang dari bekerja di ladang. Saat sang suami melanjutkan spesialis di pulau Jawa, suaminya meminta agar teman saya melanjutkan kuliah S2 di PTN cukup terkenal. Selanjutnya si isteri didorong mencari pekerjaan lagi, jadi teman saya yang awalnya berniat menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, atas dorongan suami bekerja sampai sekarang dan mencapai posisi puncak di suatu Departemen.</p>
<p style="text-align:justify;">Seniorku lain lagi, dia tak bekerja setelah menikah. Setelah anak berumur 5 tahun, dia melanjutkan kuliah S2 dan selanjutnya bekerja kembali. Senior saya ini memang pandai sekali, dia menguasai empat bahasa asing, bahkan setelah pensiun dengan jabatan terakhir sebagai<strong><em> </em></strong><em>General Manager</em><strong> </strong>sebuah Bank, dia bekerja lagi sebagai konsultan di perusahaan konsultan yang termasuk”<em>The big Five</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membuat lingkungan yang saling mengamankan</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa maksud sub judul diatas? Kita membuat kesepakatan dengan tetangga, untuk saling melihat keadaan rumah tangga (keselamatan anak-anak). Jika tetangga mendengar anak saya menangis tak henti-henti, tetangga ini (ibu bekerja dirumah) menengok rumah saya apakah anak saya baik-baik saja. Demikian juga jika pembantu saya pulang kampung dan saatnya saya harus kerja belum kembali, anak saya bisa dititipkan pada ibu tetangga yang baik hati ini. Setelah anak saya besar, gantian rumah saya yang ramai, karena banyak penitipan anak tetangga, apalagi saat selesai lebaran, dan si mbaknya belum pulang dari kampung.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya yang tinggal di kompleks rumah dinas hal ini memudahkan karena semua tetangga saling mengenal dengan baik, bagaimana yang tidak tinggal di rumah dinas? Anak buah saya rumahnya di Bekasi, setelah selesai sholat Subuh harus segera berangkat untuk mengejar bis yang menuju Jakarta. Pulangnya dia harus menyeberang jembatan, dan berebut mobil omprengan di depan Atmajaya untuk pulang ke Bekasi. Dia juga menitipkan anak pada tetangganya, bukan menitip dalam arti fisik, tapi tetangganya ikut mengawasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan pengamanan lingkungan seperti ini, ibu bisa meninggalkan anaknya dengan tenang di rumah. Syukurlah kejadian seperti anak diculik dsb nya tak pernah terdengar, kuncinya memang kita harus mengenal tempat tinggal si mbak, beserta seluruh keluarganya. Kalau Lebaran dan kebetulan pulang kampung, sekaligus si mbak diajak dan majikan ikut mampir kerumahnya, disini sekaligus mempererat tali silaturahim, sehingga keluarga di kampung juga tenang karena mengenal majikan anaknya dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Paling kritis adalah saat anak masa pra remaja sampai remaja.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini benar-benar masa yang paling berat, diperlukan kesabaran, pengertian dan selalu memaafkan anak jika dia berbuat salah, sebesar-besarnya kesalahan anak, agar si anak tak perlu mencari pemecahan dari orang lain yang belum tentu kita kenal dengan baik. Dengan perasaan bahwa orangtua akan selalu memaafkan dan membantu mencarikan solusi permasalahan, anak mau menceritakan segala sesuatunya pada orangtua.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah saya bisa memahami anak saya? Jawabannya adalah ”tidak selalu”. Masa-masa inilah masa dimana saya banyak berkonsultasi pada psikolog, serta banyak berdoa mohon diberi kekuatan dan kesabaran pada Allah swt. Bayangkan, teman sebangku anak saya, anak semata wayang dari pasangan orangtua yang keduanya dokter, diketemukan sebagai pengguna narkoba. Saya bersyukur guru sekolah banyak membantu, jadi pandai-pandailah bekerja sama dengan sekolah, dan kita harus mengamati perilaku anak setiap hari. Perubahan perilaku yang sekecil apapun harus diwaspadai, tapi anak tak boleh sampai merasa dicurigai. Berikan waktu untuk ketemu dan diskusi dengan anak, jalan-jalan ketempat wisata, atau sekedar ke toko buku dan pulangnya makan di restoran. Sambil mengobrol, kita bisa mendapatkan lontaran atau celetukan anak, yang bisa kita nilai apakah anak kita masih relatif aman. Kembangkan hubungan dengan orangtua sesama murid dan sahabat anak, karena mereka juga bisa dianggap sebagai orangtua yang ikut membantu mengawasi anak kita agar tak terjerumus ke hal-hal yang tak benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian saat anak mulai kuliah, tugas pengawasan orangtua juga belum berakhir. Banyak  terjadi kegagalan mahasiswa dalam menyelesaikan kuliahnya, bahkan <em>drop out</em> ini bisa terjadi pada tahun terakhir masa kuliah. Pemahaman orangtua tentang kesulitan anak, memudahkan anak untuk mau bercerita dan mngemukakan kesulitannya. Walaupun orangtua belum tentu dapat mencari pemecahannya, paling tidak anak merasa tidak sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat tulisan di atas, sebetulnya diperlukan kesiapan mental, kerja keras, disiplin yang tinggi bagi para ibu yang bekerja di luar rumah, agar manajemen rumah tangganya tak berantakan, sekolah anak-anak terjaga dan hubungan dengan suami baik. Tentu saja kaum perempuan tak bisa bekerja sendiri, karena ini memerlukan kerjasama antara suami dan isteri.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga dengan tulisanku ini, bagi  kaum perempuan yang ingin bekerja di luar rumah tak menjadi bimbang, namun yang saya tekankan disini, bahwa anda harus mempunyai kekuatan dua kali lipat dibanding perempuan yang tidak bekerja. Dan saat anak-anak makin besar dan karir terentang dihadapan anda, maka kaum perempuan harus bekerja minimal dua kali lipat dari laki-laki, karena jika kinerjanya sama, perusahaan akan memilih laki-laki untuk menduduki posisi tertentu karena lebih fleksibel.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mempersiapkan acara pernikahan dalam waktu singkat]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=405</link>
<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 00:40:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=405</guid>
<description><![CDATA[Pada umumnya pasangan merencanakan menikah minimal setahun sebelumnya, karena kalau pesan gedung ses]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada umumnya pasangan merencanakan menikah minimal setahun sebelumnya, karena kalau pesan gedung sesuai keinginan, harus dipesan setahun sebelumnya. Namun terkadang kita dihadapkan oleh situasi, untuk segera  melangsungkan pernikahan dalam waktu yang cepat. Jangan kawatir, karena semua bisa diatasi.Yang perlu diperhatikan, Calon Pengantin (CP) tak bisa melakukan semua, dibutuhkan EO (<em>Even Organizer</em>) yang membantu, bisa berasal dari lingkungan teman/keluarga atau lingkungan profesional.</p>
<p><!--more-->Ada beberapa hal yang harus ditentukan dan disepakati pasangan CP, sebelum melakukan persiapan lainnya, yaitu:</p>
<p><strong>a.	Tentukan temanya.</strong></p>
<p><strong></strong>Biasanya CP telah membayangkan seperti apa acara pestanya:</p>
<ul>
<li>apakah di tempat terbuka (kebun, taman, dsb nya) atau di gedung</li>
<li>Tema apa yang dipilih, pakai pakaian adat, atau modern-	Jenis pestanya: informal, kekerabatan, sakral</li>
<li> Tema warna....apa warna pakaian pengantin, kedua orangtua, para among tamu dsb nya</li>
</ul>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>b.	Bagaimana pelaksanaan acaranya</strong></p>
<p><strong></strong>Apakah acara akad nikah diselenggarakan pada tempat terpisah, atau dilangsungkan pada hari yang sama. Banyak para pengantin yang melakukan akad nikah dan resepsi pada hari yang sama, agar tidak menguras tenaga dan efisien. Namun banyak juga yang melakukan akad nikah dulu, sah sebagai suami isteri, serta resepsi baru diselenggarakan beberapa waktu kemudian bahkan beberapa bulan kemudian.<strong></strong></p>
<p><strong>c.	Berapa plafond yang disediakan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Besarnya plafond yang disediakan akan menentukan seberapa banyak yang diundang, tema pesta, dan jenis acara.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ketiga hal tadi telah disepakati oleh kedua pasangan, maka acara lain dapat diringkas sebagai berikut:<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.	Akad nikah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sahnya suatu pernikahan adalah pada keabsahan akad nikah, karena resepsi hanyalah tambahan. Jadi pertama-tama harus dipastikan apakah dokumen untuk terlaksananya akad nikah telah terpenuhi, siapa petugas KUA nya, dimana akad nikah akan dilakukan. Untuk meyakinkan, sebaiknya disiapkan kendaraan untuk menjemput petugas KUA agar bisa hadir pada tempat acara pada waktu yang tepat, apalagi jika acara akad nikah ini akan dilanjutkan dengan resepsi.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2.	Undangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bila acaranya mendadak, tak banyak pilihan yang bisa diharapkan, namun anda bisa memesan kartu undangan dipercetakan yang banyak bertebaran di kota Jakarta, misalkan di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Lupakan untuk memberikan tambahan foto atau pernak pernik seperti pita, bunga dan sebagainya pada kartu undangan, karena untuk kartu undangan seperti ini harus dicetak dalam waktu satu bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena mempersiapkan acara pernikahan hanya selama dua minggu, mau tak mau saya harus memilih kartu undangan yang sederhana, namun cantik, dan sesuai dengan tema acara “kekerabatan” karena hanya mengundang kerabat dan teman dekat, baik untuk pengantin maupun orangtua kedua pengantin. Untuk mencetak kartu undangan ini dibutuhkan waktu 5 (lima) hari, akibatnya selain dikirim lewat kurir, melalui pos, email… teman-teman juga diundang melalui sms.</p>
<p style="text-align:justify;">Foto <em>pre wedding</em> bisa dilakukan terpisah, dan bila waktu tak cukup, hasil foto ini bisa dipajang pada tempat acara resepsi. Tema pada foto <em>pre wedding</em> ini biasanya dipilih oleh pasangan pengantin, sesuai minat dan hobi mereka. Pada saat resepsi pernikahan anak sulung saya, temanya adalah foto di pesawat terbang Angkatan Udara, serta tank…..karena pestanya diselenggarakan di museum TNI.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.</strong> <strong>Souvenir</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Bila waktu cukup, memilih <em>souvenir</em> adalah saat yang sangat membahagiakan karena merupakan kenang-kenangan pengantin kepada para tamu. Saya pernah mendapatkan <em>souvenir </em>berupa buku karangan pengantin putri, dan contoh hasil foto bikinan pengantin putra. Namun jika waktu mendesak, banyak dijual <em>souvenir</em> di kota Jakarta, Bandung dan kota lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4.	Pakaian pengantin dan perias pengantin</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Apabila yang lain bisa diserahkan pada EO, teman atau kerabat, maka pemilihan pakaian pengantin dan perias harus dilakukan oleh calon pengantin sendiri. Yang penting, pengantin harus yakin akan menjadi cantik pada hari pernikahannya.Pakaian pengantin ini bisa disewa, atau bisa dijahitkan pada penjahit yang khusus menjahit busana pengantin.</p>
<p style="text-align:justify;">Menantu saya saat itu memilih menjahit pakaian yang dikenakan saat akad nikah (perlu waktu 8 hari), sedang untuk resepsi pakaian pengantin menyewa, lengkap dengan menyewa pakaian untuk adat (beskap untuk pria dan pakaian penerima buku tamu). Sedang untuk among tamu dan saudara, kebetulan saya punya langganan penjahit, yang bisa selesai dalam waktu 3 (tiga) hari. Model pakaian pengantin adat pun sekarang disesuaikan, jadi saat akad nikah menggunakan adat pakaian adat Jawa, kerudung putih diberi selendang, yang melambai dibelakang kebaya pengantin perempuan, seperti ekor.....mirip pakaian pengantin modern. Begitu juga, model kebaya pengantin, belakangnya panjang menyapu lantai.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5.	Katering</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini sangat menentukan, karena akan sangat memalukan jika sampai terjadi tamu kehabisan makanan. Pada umumnya gedung yang disewa meminta kita memilih salah satu katering yang telah menjadi langganan gedung tersebut, jika menggunakan katering luar akan terkena <em>service charge</em>. Karena katering ini sangat menentukan, perlu menanyakan referensi dari teman atau keluarga yang pengalaman, dan katering yang dipilih adalah pada saat acara telah selesai, makanan masih bersisa banyak.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.	Dokumentasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya pengantin ingin mempunyai kenangan atas acara yang diselenggarakan, sehingga pemilihan orang yang melakukan dokumentasi (foto, video dsb nya) harus benar-benar diseleksi, agar hasilnya bisa dinikmati sebagai kenang-kenangan.<strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7.	Musik pengiring acara</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong>Ini disesuaikan dengan tema pestanya, apakah  secara adat, yang menggunakan musik pengiring berupa karawitan (sesuai adat yang digunakan), ataukah acaranya modern sehingga menggunakan musik pengiring berupa band lengkap dengan penyanyi nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun telah dipersiapkan dengan baik, pada saat acara ternyata masih banyak kekurangan, dan hal ini sangat wajar. Pesta yang melibatkan orang banyak, dengan beragam sifat, membutuhkan kemampuan untuk mengelola. Kalaupun ada kekurangan sedikit, tak perlu disesali, tapi kita berusaha memberikan pelayanan pada para tamu sebaik-baiknya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=400</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 23:28:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=400</guid>
<description><![CDATA[Dari pengamatan saya, ada hal yang sangat penting harus dimiliki oleh pasangan sebelum memutuskan un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pengamatan saya, ada hal yang sangat penting harus dimiliki oleh pasangan sebelum memutuskan untuk menikah. Karena pernikahan yang baik adalah sekali seumur hidup, apalagi nantinya akan ada anak-anak yang akan dilahirkan dan berhak memperoleh kebahagiaan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua secara utuh.</p>
<p><!--more--><strong>1.Siap mental</strong></p>
<p>Kesiapan mental perlu dimiliki oleh pasangan yang akan menikah, karena menikah adalah seperti melangkah ke gerbang kemandirian. Menikah adalah awal hidup baru, yang sangat jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya, yang selalu terlindung dari orangtua dan keluarga lainnya. Jangan sampai keinginan menikah karena ingin lepas dari segala keruwetan, sehingga dengan menikah diharapkan semua beban terlepas. Menikah, walau telah mengenal calon pasangan dengan baik, tapi tetap ada sifat-sifat yang belum terlihat, yang memerlukan penyesuaian. Penyesuaian ini kadang terlaksana dalam waktu dekat, tapi ada juga yang mengatakan bahwa dua tahun di awal pernikahan adalah tahun untuk saling menyesuaikan, banyak hal yang diperdebatkan dan dipertentangkan disini. Perdebatan dan pertentangan ini jangan dianggap tidak cocok, namun untuk mendapatkan persepsi yang sama.</p>
<p><strong>2.Telah mempunyai penghasilan</strong></p>
<p>Berani menikah, berarti berani hidup sendiri tak tergantung pada orang tua. Oleh karena itu hendaknya pasangan telah mempunyai penghasilan yang mencukupi untuk kehidupan sehari-hari, dan tentu saja dengan tambahan anggota baru (anak) nantinya. Walaupun sama-sama cinta, tak berarti menikah hanya didasarkan oleh cinta saja, karena untuk membiayai rumah tangga diperlukan keuangan yang cukup agar rumah tangga terselenggara dengan baik.</p>
<p><strong>3.Kedua pasangan mempunyai cara pandang dalam menilai kehidupan yang sama.</strong></p>
<p>Hal ini sangat penting, misalkan salah satu pasangan  sangat berhati-hati dalam memutuskan sesuatu, sedang yang lain pengeluaran uang tak dipikirkan masak-masak, hal ini akan menimbulkan pertentangan yang terus menerus. Perlu diskusi yang terus menerus untuk menyamakan pendapat, agar nantinya suami isteri mempunyai pandangan yang sama. Karena hal ini berperanan dalam cara mendidik anak, karena diharapkan orangtua mempunyai disiplin sama dalam menentukan hal-hal yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh anak.</p>
<p><strong>4.Menikah adalah percampuran budaya antara dua keluarga</strong></p>
<p>Hal ini perlu disadari oleh kedua pasangan, karena walaupun berasal dari suku dan kepercayaan yang sama, bisa terjadi perbedaan pandangan, apalagi pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang berbeda latar belakang. Pasangan harus bisa bertindak dewasa, menyikapi perbedaan pandangan antara kedua orangtua, tanpa memihak salah satu diantaranya. Pasangan harus mempunyai keyakinan, apa yang diinginkan berdua, itulah yang seharusnya diyakinkan pada kedua orangtua, bahwa mereka sekarang telah menjadi satu keluarga yang baru, yang mungkin berbeda dalam cara memandang, dan menilai sesuatu dibanding kedua orangtuanya.</p>
<p><strong>Catatan</strong>:</p>
<p>Gara-gara sering mendengar ceramah dari berbagai pihak sejak tahun kedua kuliah, saya sempat takut menikah dan menunda terus, sampai <em>injury time.</em>... Dari tante seorang sahabat (dia pernah gagal dan menikah kedua kalinya), dari tante kost (pernah sempat tunangan dan ga jadi menikah...pesannya jangan pakai warna ungu saat tunangan atau menikah.....ingat pramugari Garuda  asal Yogya, yang kecelakaan dan meninggal pada saat hampir menikah? Kok ya kebetulan temanya ungu), namun semua harus dikembalikan pada takdir dan memang belum berjodoh. Dan pesan bude teman (saya kost bareng teman di bude nya, di daerah Tanah Abang, saat awal bekerja di Jakarta)....menikah harus dipikirkan masak-masak, dan  kebahagiaan suami isteri harus dibuat, artinya menerima dan berdamai dengan keadaan, dan jangan pernah meminta suami tambahan uang, apa yang diberikan suami harus dicukupkan untuk satu bulan, dan usahakan ada sisa untuk ditabung. Keluarga bude ini hidup sederhana, dan saya melihatnya sangat berbahagia dalam kesederhanaannya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perubahan tema dan penambahan kategori]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=399</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 03:16:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=399</guid>
<description><![CDATA[Tak terasa telah 18 bulan menulis blog, dan ternyata kekawatiran saya tak terbukti. Awalnya saya tak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa telah 18 bulan menulis blog, dan ternyata kekawatiran saya tak terbukti. Awalnya saya tak yakin bisa menulis terus, karena pekerjaan yang saya lakukan selama ini jarang berurusan secara langsung dengan tulis menulis. Lebih banyak ke lapangan, menganalisis serta melaporkan dalam bentuk proposal untuk dilakukan putusan. Selain itu kegiatan yang saya senangi adalah mengajar, yang dulu saya hindari....karena ingin mencari hal yang lain (ayah ibu keduanya guru). Namun rupanya, walau bekerja di BUMN, tapi atas dorongan bos (yang mendadak mengatakan berhalangan saat hendak mengajar), saya dipaksa mengajar pada para <em>yunior</em>, ini terjadi pada tahun 80 an. Dan ternyata berkelanjutan, sampai sekarang.</p>
<p><!--more-->Menulis di blog tentu berbeda dengan menulis proposal, atau bahkan menulis untuk bahan presentasi. Tujuannya hampir sama, bagaimana tulisan tadi hendaknya seperti magnet, yang membuat orang ingin membaca dan bertanya. Bedanya menulis di blog, ada kesempatan untuk berpikir dulu, bahkan mencari referensi dulu saat mau memberikan tanggapan atas komentar. Terimakasih pada teman-teman, yang membuat saya terpaksa membolak-balik buku untuk menjawab pertanyaannya, salah satunya adalah <a href="http://ihedge.wordpress.com/">ihedge</a>, yang sering pertanyaannya  membuat saya harus kembali pada teori dan referensi buku yang ada.</p>
<p>Itulah sebabnya awal menulis di blog, sebagian besar tulisan saya masukkan dalam kategori<em> my life</em>, karena saya belum tahu mau menulis tentang apa. Ternyata banyak teman yang suka, walau cuma mengirim sms, maklum beliau-beliau itu belum sempat menulis blog karena masih aktif bekerja dan memenuhi target bisnis. Kritikan demi kritikan saya terima, kritikan yang "agak pedas" justru saya terima dari suami, yang menginginkan agar saya menulis yang lebih berkualitas, yang mencerminkan pengalaman saya selama ini. Tapi seperti hasil diskusiku dengan si sulung, menulis serius perlu waktu lama, kadang perlu membaca dulu buku referensi yang mendukung, berbeda jika menulis hal-hal yang umum ditemui sehari-hari.</p>
<p>Kali ini, saya merasa waktunya tepat untuk mulai menuliskan tentang pengalaman dan memberikan tip tentang keluarga muda, tip pernikahan, tip kapan sebaiknya memutuskan punya anak dsb nya, karena saya telah menjadi ibu mertua. Saya tak tahu, apalah Allah swt memanjangkan umurku, minimal saya telah memberikan <em>sharing</em> pengalaman bagi sesama, yang semoga berguna. Jika ada tulisan saya yang menyinggung seseorang (sumpah...saya tak ada niat demikian), mohon dimaafkan. Juga ada beberapa komentar yang terpaksa tidak/belum saya tanggapi, karena kadang ada komentar yang menurut saya memang tak memerlukan tanggapan.....</p>
<p>Terakhir, mudah2an saya masih bisa terus menulis, dan ada ide untuk ditulis. Terimakasih buat semua teman, adik-adik, teman anakku, serta yang akhirnya juga seperti anakku sendiri, karena kalianlah, tulisan di blog ini masih terus ada.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Majalah keluarga yang banyak membantuku]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=384</link>
<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 00:21:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=384</guid>
<description><![CDATA[Sejak awal menikah, saya belajar mengemudikan rumah tangga melalui majalah. Mengapa? Sebagai anak su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak awal menikah, saya belajar mengemudikan rumah tangga melalui majalah. Mengapa? Sebagai anak sulung, ayah meninggal saat saya mau menikah dan ibu masih bekerja, maka saat awal berumah tangga ibu tak bisa sering-sering menengok saya ke Jakarta. Pada waktu kelahiran anak pertama pun, ibu tak dapat menunggui saya melahirkan dan hanya sempat menengok sesuai jadual cutinya, alhasil saya pulang dari rumah sakit menggendong bayi hanya ditemani suami.</p>
<p><!--more-->Jadilah majalah keluarga, terutama majalah "Ayah Bunda" yang menjadi acuan saya. Jika bayi saya pantatnya merah karena saat itu terserang diare, saya mulai membolak balik majalah, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Dari majalah itu pula saya belajar, bagaimana menyiapkan anak mandiri, bagaimana mendidik anak, dan bagaimana nantinya jika kami berniat memberikan adik bagi si kecil. Ada artikel yang selalu tak saya lewatkan, yaitu artikel psikologi, dengan judul "Dapatkah perkawinan ini diselamatkan?" Dari artikel ini, yang merupakan masalah rumah tangga dan diasuh oleh seorang psikolog, saya belajar banyak, dan mencoba memahami permasalahan yang menimpa rumah tangga orang lain, serta alternatif solusinya. Disini psikolog sekedar memberikan beberapa alternatif, dan yang bersangkutan sendirilah yang menentukan keputusan apa yang akan dilakukan.</p>
<p>Sebagaimana rumah tangga umumnya, banyak permasalahan yang menimpa dan pasang surut yang terjadi, tapi pemahaman saya tentang kehidupan rumah tangga, dari bacaan yang pernah saya baca menguatkan saya, untuk terus maju dan menyelesaikan persoalan satu per satu. Awal perkenalanku dengan psikolog mungkin diilhami oleh majalah keluarga tersebut, saat saya mulai dibingungkan oleh tingkah laku anak sulung, yang saat itu sedang dalam masa ingin tahu segalanya, maka mulailah saya berkenalan dengan psikolog yang memang menangani masalah anak-anak. Saya konsultasi ke Psikologi Terapan UI, yang saat itu masih ber lokasi di jalan Salemba. Psikolog nya sangat ramah, anak saya diajak mengobrol, diberi berbagai mainan, sehingga test psikologi yang memerlukan waktu lama tak terasa. Disini saya juga belajar, bahwa dari sudut pandang psikologi, tak ada anak yang salah, yang salah adalah cara mendidik orangtuanya.</p>
<p>Sejak itu setiap kali muncul masalah, yang saya sendiri tak tahu apa yang sebaiknya saya lakukan, saya mendatangi psikolog, dan diskusi apa yang sebaiknya dilakukan, agar masalah tak berkembang kearah yang makin buruk. Saya sendiri semakin siap setelah si bungsu semakin besar, ternyata saya tak terlalu mengalami kesulitan, mungkinkah karena saya sebagai ibu, lebih mudah memahami anak perempuan, sehingga saya bisa membayangkan seperti apa keinginan saat saya kecil dulu. Sedangkan untuk anak laki-laki, saya agak kawatir, jika saya terlalu keras, dia malah akan mendengarkan teman-temannya yang belum tentu benar, sedangkan jika saya terlalu longgar juga kawatir tak ada rem. Kebetulan saya tinggal di kompleks yang sebagian besar anak-anak teman saya adalah anak laki-laki. Saya banyak bertanya pada temanku, bagaimana memperlakuan anak laki-laki. Walaupun masih kecil, anak laki-lakiku mempunyai perasaan bahwa dia sebagai pengayom keluarga, dan melindungi ibu dan adik perempuannya jika bapak tidak di rumah (suami kebetulan kerja di luar kota, hanya sesekali pulang).</p>
<p>Suatu ketika, anak laki-lakiku masih usia 11 tahun, masih SD kelas 5, pada saat mau menyeberang jalan, saya memegang tangannya. Dia memberontak, nggak mau dipegang tangannya. Akhirnya saya berkata.."Nak, ibu kan takut menyeberang, jadi pegang tanganmu." Dia langsung menjawab..."Iya bu, sini pegang tanganku erat-erat, kan kata bapak, saya harus melindungi ibu" Pembelajarannya, adalah perlakukan anak laki-laki sebagai pelindung, maka dia akan merasa diberikan tanggung jawab, dan tak merasa disepelekan.</p>
<p>Apakah saya telah menjadi ibu yang baik? Saya tak bisa menilainya, pasti saya mempunyai banyak kekurangan, saya terlalu kawatir kalau anak-anak belum pulang pada waktunya. Teman saya mengajarkan, agar jika saya kawatir, lebih baik ambil air wudhu, dan sholat dua rakaat, memohon pada Allah swt semoga anak saya dilindungi di jalan, dan ingat pulang karena ibunya sudah menunggu. Ternyata apa yang dikatakan teman saya benar, setengah jam kemudian anakku datang dan berkata ..."Maaf ibu, tadi telepon umumnya rusak, dan jalannya macet. Ibu pasti kawatir ya..." betapa leganya hati saya, sejak itu, jika saya kawatir, maka saya langsung ambil air wudhu.....dan sholat mohon perlindungan pada Allah swt.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, hanya melalui doa inilah yang membuat saya kuat, kalau saya lagi bingung, kawatir, apalagi saat anak-anak semakin besar, karena begitu banyaknya pengaruh buruk diluaran. Saya percaya, tanpa pertolongan Allah swt, saya belum tentu sekuat sekarang, dan saya bersyukur bahwa Allah swt memberikan karunia yang tak habis-habisnya kami syukuri.</p>
<p>Mudah-mudahan anak-anakku, jika membaca blog ini memahami bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, karena tak ada<em> job training </em>untuk menjadi orangtua yang baik. Dan semoga anak-anakku mau memahami kesulitan itu, dan memaafkan orangtuanya, jika ada sesuatu yang dirasakan kurang pas dalam mendidik mereka sejak masa kecil.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahagia pada pernikahan "kedua", mungkinkah?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=386</link>
<pubDate>Mon, 24 Mar 2008 23:07:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=386</guid>
<description><![CDATA[Setiap orang pasti menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, dan bahagia selamanya. Kata &#8220;b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap orang pasti menginginkan pernikahan sekali seumur hidup, dan bahagia selamanya. Kata "bahagia" kelihatannya memang mudah diucapkan, tetapi betulkah mudah untuk mencapainya? Ada beberapa pernikahan yang terpaksa harus selesai ditengah jalan, karena persepsi kata bahagia yang tidak sama lagi diantara masing-masing pasangan. Atau bisa juga terpaksa berpisah dari pasangan, karena pasangannya dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa.</p>
<p><!--more-->Perjalanan hidup saya yang telah lama di dunia ini, membuat saya banyak melihat dan belajar memahami kehidupan orang disekitar saya. Baiklah, saya akan menceritakan beberapa kenalan dekat, yang karena keadaan, terpaksa berpisah dengan pasangannya, entah karena dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa, ataupun karena akhinya terjadi ketidak cocokkan dalam mengarungi bahtera kehidupan dan terpaksa memutuskan berpisah.</p>
<p>Ternyata, kebahagiaan tak hanya terjadi pada pernikahan pertama, tetapi juga dapat terjadi pada pernikahan kedua. Contoh: teman ini (A) dulunya menikah dengan teman seangkatan (B), dan pada saat yang sama sebetulnya ada teman lain (C) yang diam-diam mencintai A. Namun apa daya, A telah menambatkan hatinya pada B. Setelah sekian tahun berjalan, A dan B terpaksa berpisah, dan entah kenapa tenyata pernikahan C juga bubar. Pada suatu acara reuni yang diadakan oleh teman seangkatannya, A dan C ketemu.....dan akhirnya menikah. Lama saya tak bertemu, terakhir ketemu saya kaget, betapa A dan B menjadi terlihat lebih sehat, terlihat lebih muda dan anak-anaknya bahagia.</p>
<p>Contoh lain, juga terjadi pada kedua orang yang saya kenal baik. Mereka terpaksa berpisah dengan pasangannya, dan kemudian menikah lagi dengan teman seangkatan yang kebetulan sama-sama sedang tak punya pasangan.Beberapa kali saya bertemu dengan mereka, ternyata mereka malah terlihat lebih bahagia, anak-anak sehat, dan kedua orangtua terlihat tak membedakan anak-anaknya, dan semua dianggap sebagai anak sendiri.</p>
<p>Dari mengobrol dengan mereka, ada beberapa tip yang mudah-mudahan berguna:</p>
<ol>
<li>Jika terpaksa hidup berpisah dengan pasangan, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Sediakan waktu untuk tetap bergaul dengan teman-teman, entah bermain tennis, atau apapun yang memungkinkan bergaul dengan teman-teman lama maupun ketemu teman baru.</li>
<li>Jangan takut untuk mencoba mempunyai pasangan lagi. Kegagalan yang pertama hendaknya menjadi pelajaran untuk introspeksi diri, dan bukan untuk malah menutup diri.</li>
<li>Kenali dengan baik sifat-sifat pasangan, lebih terbuka dalam mendiskusikan apa tujuan hidup masing-masing bila memang pertemanan dapat dilanjutkan ke taraf yang lebih serius.</li>
<li>Upayakan agar masing-masing anak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua, tanpa dibedakan.</li>
<li> Berpikir kedepan, dan tak perlu untuk setiap kali merenungi masa lampau. Masa lampau memang tak mudah dilupakan, namun anggaplah sebagai bagian pembelajaran untuk dapat menatap ke depan yang lebih baik.</li>
</ol>
<p>Dari beberapa pengamatan, ternyata teman-teman yang memutuskan untuk menikah lagi, adalah teman-teman yang terpaksa berpisah dari pasanganya pada umur yang masih muda dan mempunyai anak-anak yang masih kecil, yang masih membutuhkan figur ayah dan ibu secara nyata. Bagi teman-teman perempuan, yang anaknya telah usia SD ke atas, dan mempunyai pekerjaan tetap, pada umumnya memilih melanjutkan untuk tetap hidup sendiri.</p>
<p>Jadi, kenapa takut jika harus menikah untuk kedua kalinya?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suami ikut isteri, salahkah?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/?p=361</link>
<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 09:17:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/?p=361</guid>
<description><![CDATA[Bagi seorang fresh graduate, pertanyaan yang muncul adalah ingin bekerja dimana? Dan apabila sejak m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi seorang <em>fresh graduate</em>, pertanyaan yang muncul adalah ingin bekerja dimana? Dan apabila sejak mahasiswa telah mempunyai pacar tetap, pertanyaannya adalah apakah sebaiknya bila nanti telah menjadi suami isteri bekerja pada satu kota? Dan bagaimana sebaiknya jenis pekerjaan yang akan dilakukan oleh kedua pasangan, agar masih sempat mendidik putra putrinya?</p>
<p><!--more-->Tak dapat dipungkiri, bahwa jodoh seringkali ditemukan di kampus, atau pada beberapa ajang pertemuan yang melibatkan antar kampus. Dan banyak pula pasangan yang latar belakang pendidikannya sama, sehingga dari pihak perempuan rasanya tak adil kalau hanya sebagai penunggu rumah, karena begitu banyaknya biaya, tenaga dan waktu yang telah dicurahkan untuk keberhasilan mencapai gelar seorang sarjana.</p>
<p>Akibat semakin banyaknya perempuan yang telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi, menyebabkan lapangan kerja yang dimasuki tenaga kerja perempuan juga makin beragam. Bukan hal yang luar biasa, jika antara suami isteri bekerja berbeda kota, berbeda pulau, bahkan berbeda benua. Dan semakin banyak ditemui perempuan yang pandai, rajin, dan teliti, sehingga rata-rata lulus lebih cepat...bahkan banyak ditemui perempuan yang melanjutkan meneruskan S2 dan S3 di luar negeri.</p>
<p>Apa yang sebaiknya dilakukan jika  pasangan suami isteri mendapatkan pekerjaan yang berbeda kota,di bawah ini saya ingin <em>sharing</em> berdasarkan pengalaman teman-teman, sahabat saya, serta kerabat dekat.</p>
<ul>
<li>Apabila memungkinkan tetap diusahakan bekerja pada satu kota, dan bila hal ini tak mungkin perlu ada kesepakatan antara suami isteri mengenai pembagian waktu ketemu keluarga, pengelolaan rumah tangga, cara pendidikan anak dan sebagainya. Kesepakatan ini diperlukan agar masing-masing pihak memahami pembagian tugasnya, serta tak mudah dipengaruhi oleh orang di luar pasangan suami isteri, bahkan dipengaruhi oleh keluarga dekat sekalipun.</li>
<li>Bagaimana bila suami atau isteri mendapat tugas di Luar Negeri? Karena jaraknya jauh (terutama jika penempatan di luar Asia Tenggara), maka perlu ada <em>sharing</em> risiko. Dalam hal ini akan lebih mudah jika posisinya suami yang ditugaskan ke luar negeri, karena pada umumnya isteri bersedia ikut, dengan risiko kehilangan pekerjaan di Indonesia. Namun banyak juga isteri yang tidak ikut, bila suami kuliah yang memerlukan waktu 2-3 tahun di luar negeri, dengan pertimbangan karir isteri telah mantap di Indonesia, sehingga sayang kalau ditinggalkan, dan mereka hanya memilih mengambil cuti setahun sekali untuk menengok suami.</li>
<li>Bagaimana jika isteri yang bekerja di luar negeri? Dalam kasus teman saya, isterinya dipindahtugaskan ke Los Angeles, sedang suaminya seorang dokter. Syukurlah sang suami bersedia ikut isteri, yang kemudian suami mendapat pekerjaan dan bahkan menetap disana, walau pada akhirnya saat sang isteri sudah kembali di Indonesia dan menjadi pejabat di salah satu departemen pemerintah, sang suami tetap menetap di Los Angeles beserta putra semata wayangnya. Teman saya satu kantor, isterinya bekerja di Departemen Luar Negeri, dan pada akhirnya mendapat penempatan di luar negeri. Awalnya suami tetap bekerja di Indonesia, namun pada akhirnya suami bersedia mengikuti isteri yang selalu berpindah-pindah negara. Salahkan hal ini? Tentu saja tidak, jika semuanya dilakukan dengan senang hati sesuai keputusan berdua, dan kenyataannya sang suami dengan bahagia menyertai isteri, dan karena kebetulan dia suka menulis, maka dia menjadi banyak menulis tentang negara dimana isterinya ditempatkan.</li>
</ul>
<p>Pada akhirnya hanyalah pasangan suami isteri yang dapat menentukan apa keputusan terbaik bagi keluarganya, dan tentu saja apapun keputusan yang diambil harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sehingga tak ada penyesalan kemudian di belakang hari.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Tulisan ini untuk bahan renungan anak dan menantuku, yang baru menikah, dan isterinya bekerja sambil kuliah di Luar Negeri. Juga bagi putri bungsuku, yang juga telah lulus kuliah dan sedang melanjutkan S2.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bila orangtua tak bisa menjawab pertanyaan anak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2008/01/18/bila-orangtua-tak-bisa-menjawab-pertanyaan-anak/</link>
<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 03:19:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2008/01/18/bila-orangtua-tak-bisa-menjawab-pertanyaan-anak/</guid>
<description><![CDATA[Apakah kita harus selalu bisa menjawab pertanyaan seorang anak? Dari artikel manapun, dianjurkan aga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah kita harus selalu bisa menjawab pertanyaan seorang anak? Dari artikel manapun, dianjurkan agar orangtua berusaha menjawab setiap pertanyaan anak sesuai dengan umurnya dan perkembangan pendidikannya. Berarti sebagai orangtua, kita harus serba bisa. Benarkah demikian? Bagaimana jika kita sendiri tak tahu jawabannya?</p>
<p><!--more-->Pada awalnya, saya selalu berusaha menjawab pertanyaan anakku. Sampai dengan masuk SD dan kalau tak salah kelas 4 SD, saya masih bisa membantu menjawab pertanyaan anak-anak. Setiap kali ulangan triwulan (biasanya soal dari Pemda DKI), maka saya ikut sibuk. Agar nilai baik, anak tak hanya belajar dari buku pegangan yang dianjurkan oleh sekolah, tapi juga membaca buku-buku lain. Waktu itu saya terbantu dengan majalah "Tom-Tom" yang banyak memberikan artikel tentang pengetahuan umum, yang dikemas dengan gaya menarik. Sayangnya umur majalah ini tak panjang, saat anakku menjelang lulus SD, rasanya majalah tersebut tidak ada lagi.</p>
<p>Semakin besar anak, dan sekolahnya makin tinggi, kesibukan orangtua juga makin meningkat, banyak waktu yang hilang dan tak sempat lagi membaca buku-buku dan akibatnya kadang saya tak tahu apa jawaban atas pertanyaan anakku. Syukurlah kami tinggal di kompleks perumahan dinas, yang rata-rata penghuninya lulusan PT, serta hobi membaca. Akhirnya saya mencoba mengajar anak cara membaca buku secara cepat, bagaimana mencari artikel yang diinginkan dari indeks buku. Dan tentu, terimakasih saya ucapkan pada Kepala Sekolah SDN tempat anakku sekolah, beliau lah yang mendorongku untuk mendidik anak mandiri, dan tak selalu ikut membantu anak dalam belajar. "Biarlah anak kadang melakukan kesalahan bu, nanti dari kesalahan itu mereka akan belajar. Biarkan mereka tak mengerjakan Pekerjaan Rumah dan mendapat hukuman, itu nanti yang akan mendewasakan mereka," kata beliau. "Ibu kan tak selalu di rumah, kadang harus tugas keluar kota, dan ini kesempatan mendidik anak untuk berlatih mandiri, " kata beliau selanjutnya.</p>
<p>Ternyata memang anakku beberapa kali mendapat hukuman karena tak mengerjakan PR...dan ternyata dia juga mulai mencari akal jika tak mendapat jawaban atas pertanyaan yang muncul dipikirannya. Anakku mulai rajin menyambangi tetangga, yang dianggap memenuhi kualitas bisa diajak diskusi dan bisa menjawab pertanyaannya. Syukurlah teman-teman dan tetanggaku sangat mendukung, mau membantu menjawab pertanyaan anak-anakku.</p>
<p>Jadi, kalau akhirnya anakku berhasil lulus dari Perguruan Tinggi, ini bukan karena hasil didikan orangtua saja, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan yang mendukung. Para tetangga, yang mau diganggu oleh anak kecil, guru-guru, sahabat anakku dan teman lainnya....dan tentu saja ini karena Allah swt.</p>
<p>Akhirnya saya percaya, bahwa kita harus selalu menanam kebajikan, jangan kawatir jika kita tidak pandai, dan tak selalu bisa menjawab pertanyaan anak-anak. Tak perlu bohong, katakan bahwa ibu tak selalu bisa menjawab pertanyaan, mereka akan mengerti dan memahami keterbatasan kita sebagai orangtua.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perlukah menambahkan nama suami setelah menikah?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/12/29/perlukah-menambahkan-nama-suami-setelah-menikah/</link>
<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 05:09:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/12/29/perlukah-menambahkan-nama-suami-setelah-menikah/</guid>
<description><![CDATA[Entah ini kebiasaan sejak kapan, atau ada unsur budaya, yang jelas setelah menikah, seorang wanita a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Entah ini kebiasaan sejak kapan, atau ada unsur budaya, yang jelas setelah menikah, seorang wanita akan dipanggil dengan nama panggilan suaminya, dengan embel-embel bu didepannya, seperti bu Martono, bu Karyadi dan sebagainya. Kalaupun wanita tersebut bekerja, maka namanya sendiri malahan menjadi disingkat, dan nama suami di tulis lengkap......atau nama sendiri dan ditambah nama suami, seperi Ny. RS Haryanto, Ny. Elly Sumarno dan seterusnya.</p>
<p><!--more-->Sejak tahun 80 an saya mengamati, ternyata para wanita di kantor tempatku bekerja, tak semua menambahkan nama suami dibelakangnya. Masih banyak yang menggunakan namanya sendiri, tanpa embel-embel nama suami, dibanding yang menggunakan nama suami dibelakang namanya. Kalaupun ada, masih memakai nama sendiri, baru dibelakang namanya ditambahkan nama suami.</p>
<p>Hal tersebut disebabkan ada beberapa kemungkinan, antara lain:</p>
<ol>
<li>Nama si wanita sendiri telah panjang, sehingga jika ditambah nama suami akan semakin panjang. Bayangkan jika namaku, "Enny Dyah Ratnawati", dan nama suami" Priadi Dwi Hardjito" . Jika saya ingin menggunakan nama suami secara lengkap, kan panjangnya seperti gerbong kereta api. Lagipula saya bingung, nama suami yang mana, yang saya gandengkan dibelakang namaku. Teman atau sahabat dekat memanggilnya Dwi, teman kuliah memanggilnya Hardjito, dan...di kantor dia dipanggil pak Priadi. Kebetulan namaku juga nama kodian (banyak yang pakai), jadi kalau disebut nama Enny, di kantor ada banyak nama Enny....jadi biasanya dua suku kata dari nama saya digandengkan, untuk panggilan sehari-hari.</li>
<li>Wanita ingin lebih mandiri. Pada kenyataannya, wanita tetap dianggap <em>single</em> walaupun sudah menikah, karena anak dan suami tak mendapat tunjangan kesehatan. Bahkan hanya si wanita sendiri yang dibiayai kantor jika sakit atau dirawat di rumah sakit. Sejak tahun 2004, di kantorku wanita dan pria kedudukannya sama, jadi anak dan suami diganti kantor biayanya jika dirawat di rumah sakit.</li>
<li>Memudahkan administrasi kantor. Pada umumnya setelah lulus perguruan tinggi dan melamar pekerjaan, menandatangani kontrak sekitar dua tahun (saat pendidikan tak boleh menikah, saat ini jangka pendidikan lebih cepat, sehingga kontraknya paling lama satu tahun), baru boleh menikah. Akibatnya nama yang tercatat dalam administrasi kantor adalah nama si wanita sendiri. Setelah menikah, maka harus membuat laporan dengan mengirimkan fotokopi surat menikah, untuk dicatat di kantor.Urusan mengganti nama akan berakibat panjang, karena mengganti semuanya yang sudah tercatat, dan biasanya si wanita sudah malas untuk mengurus masalah ini, karena kesibukan kerjanya.</li>
</ol>
<p>Nah, kapan biasanya wanita menggunakan nama suami? Kalau saya, menggunakan embel-embel nama suami, jika berurusan di kantor suami, atau dalam kaitan ke rumah sakit, terutama untuk pergi ke dokter kandungan. Dan pada awalnya ini banyak menimbulkan kelucuan.</p>
<p>"<em>Ny. Priadi,</em>" teriak suster memanggil pasien, dan  lama sekali tak ada jawaban</p>
<p>"<em>Ny. Priadi</em>, " suster teriak makin kencang. Beberapa ibu nyeletuk..."<em>Udah suster, diganti orang lain saja, mungkin ibu itu sedang keluar cari makan."</em></p>
<p>"<em>Ny. Enny Dyah</em>...... ," teriak suster.</p>
<p>Saya yang lagi membaca kaget, dan berdiri buru-buru (padahal suster teriaknya persis di atas kepalaku, karena saya duduk persis di sebelah pintu masuk praktek dokter kandungan), diringi oleh pandangan ibu-ibu lainnya.</p>
<p>"<em>Baru pertama kali ya nyonya</em>, "kata suster. "<em>Iya, jawab saya</em>," sambil malu sekali. Mosok sih lupa nama suami sendiri.</p>
<p>Kami tinggal di kompleks rumah dinas milik perusahaan, dan karena semakin banyak wanita yang menduduki tingkat manajer ke atas, maka banyak juga yang memperoleh rumah dinas atas nama isteri. Suami-suami tidak keberatan, karena kompleks kami dekat dari mana-mana, dekat sekolah, rumah sakit dan pusat perbelanjaan. Apalagi banyak para isteri tadi, suaminya sebetulnya juga menduduki jabatan cukup tinggi dikantornya, tapi dengan tinggal di rumah dinas atas nama isteri, memudahkan komunikasi jika sewaktu-waktu sang isteri harus dinas keluar kota atau bahkan luar negeri. Dan karena atas nama isteri, maka nama-nama yang ada pada daftar yang dipegang satpam adalah nama isteri. Akibatnya kami harus pesan ke teman-teman atau saudara, jika mau berkunjung ke rumah kami, agar menanyakan rumah atas nama saya. Dan karena kompleks kami terdiri dari 110 rumah, jadi sudah harus membentuk RT tersendiri. Pada suatu ketika, pak RT yang terpilih adalah suami dari pejabat wanita. Dan dikompleks kami, menjadi terbiasa memanggil nama suami dengan nama isterinya (maklum karena isterinya teman sekantor, jadi lebih hafal namanya)..</p>
<p>Sebetulnya semua sudah tahu nama suami masing-masing, entah kenapa mereka lebih suka memanggil nama itu, karena mungkin lebih familiar. Sejak 7 (tujuh) bulan yang lalu, saya sudah pindah ke rumah sendiri, dan sekarang nama panggilanku adalah nama suami. Sebetulnya dipanggil nama sendiri atau nama suami tak menjadi masalah, dan sudah tak kaget-kaget lagi.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bila nostalgia tak sama]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/12/05/bila-nostalgia-tak-sama/</link>
<pubDate>Wed, 05 Dec 2007 02:00:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/12/05/bila-nostalgia-tak-sama/</guid>
<description><![CDATA[Nostalgia, apakah artinya? Dalam kamus KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), nostalgia berarti : 1) k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Nostalgia, apakah artinya? Dalam kamus KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), nostalgia berarti : 1) kerinduan kepada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang, 2) kenangan manis pada masa yang telah lama silam. Berdasar arti tersebut, maka masing-masing orang tentu punya kenangan manis, yang mengesankan, yang kadang bisa tersenyum geli bila ingat kembali, dan seringkali kita ingin mengingat atau bahkan ingin mengulang kenangan manis tersebut.</p>
<p><!--more-->Saya akan cerita nostalgia tentang makanan. Pada umumnya nostalgia atas makanan, terjadi karena pada masa lalu kita sering menikmati makanan tersebut, entah memang makanannya enak, atau situasi tempat menjual makanan tersebut, atau penjualnya yang memang manis, atau karena kondisi saat itu.</p>
<p>Pada saat masih SMA, setiap kali habis menonton bioskop rame-rame dengan teman, kami selalu mampir di warung tenda yang menjual bakso urat. Baksonya besar-besar, cara makannya dengan dicelupkan pada sambel, dan dimakan bersama lontong. Jadi setiap pembeli, mendapatkan satu mangkok bakso, plus lontong yang masih terbungkus daun pisang, dan satu tempat sambal kecil. Sambil mengobrol, kami rame-rame makan bakso, dan minum es degan....duhh rasanya dunia benar-benar milik kami. Setelah kuliah, saya sering diajak teman makan tauge goreng, yang murah meriah dijual di Pasar Bogor, tapi yang rasanya terkenal enak di restoran jl. Jakarta (jalan utama dari daerah Jakarta, yang langsung menuju istana Bogor). Kadang-kadang kami rame-rame beli asinan Bogor, yang saat itu letaknya di depan bioskop Panaragan.</p>
<p>Suatu ketika, saya dan suami ke Bogor, dan sebelumnya saya sudah menggebu-gebu cerita tentang tauge goreng....ternyata dia menikmati dengan dahi berkerut. Demikian juga saat pulang ke kota tempat asalku (saya dan suami berbeda kota asal, serta beda tempat kuliah), dan kuajak makan bakso. Saya sangat menikmati, dan rasanya masih sama enaknya seperti zaman SMA dulu, terus saya tanya suami..."Bagaimana mas, enak nggak?" Dia bingung, lama-lama bilang juga...."saya nggak ngerti dimana letak enaknya..." ...hahaha, jadi saya tetap merasa enak, karena makannya sambil nostalgia.</p>
<p>Suami sangat menyukai sambel tumpang, yaitu sambel yang dibuat dari bahan baku utama tempe bosok. Kata orang yang menyukai sambel tumpang, sambel tumpang paling nikmat setelah hari kedua, karena bumbunya sudah meresap.....jadi mainnya setelah dua hari. Awal menikah, saya dikasih resep sambel tumpang.....tapi sampai sekarang saya benar-benar tak bisa menikmati, dimana enaknya sambel tumpang tersebut. Dan karena anak-anak juga tak ada yang suka sambel tumpang, maka sambel tumpang hanya disajikan khusus buat suami.</p>
<p>Nahh kalau begitu, apa dong nostalgia, yang membuat suami isteri sama-sama menikmati? Atau yang akhirnya bisa menikmati?</p>
<p>Saya paling benci bau terasi, dulu alm ibu sampai bilang..."Jangan-jangan nanti suamimu suka sambel terasi..." Ternyata doa ibu terkabul, suami suka sambel terasi. Awalnya yang bikin sambel terasi si mbok, tapi lama-lama saya nggak tega juga. Jadi saya mencoba membuat sambel terasi, dan saat menguleg tangan saya yang satunya menutup hidung.....lama-lama pengin tahu juga, jadi saya cowel sedikit...ehh ternyata lumayan juga. Sejak itu saya doyan sambel terasi, walaupun tidak sampai sukaaa banget.</p>
<p>Makanan yang disukai kami berdua tanpa protes adalah nasi pecel, walaupun rasanya berbeda, tapi nasi pecel Madiun maupun pecel Kediri rasanya sama-sama enak. Apalagi makannya pake pincuk (dan pincuknya pake daun jati), dimakan pake tangan, pagi-pagi sebelum mandi...waduhh...jadi pengin pulang kampung nih. Makanan yang juga disukai setelah menikah oleh suami adalah asinan. Awalnya gara-gara saya hamil anak pertama, dan pengin asinan.</p>
<p>Hmm bagaimana dengan nostalgia anda???</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membiasakan anak membaca sejak dini]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/11/11/membiasakan-anak-membaca-sejak-dini/</link>
<pubDate>Sun, 11 Nov 2007 06:13:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/11/11/membiasakan-anak-membaca-sejak-dini/</guid>
<description><![CDATA[Saya sering mendapat pertanyaan, sebaiknya pada umur berapakah kita mulai mengajarkan anak membaca? ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sering mendapat pertanyaan, sebaiknya pada umur berapakah kita mulai mengajarkan anak membaca? Apakah jika anak masih kecil di ajar membaca tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik? Ada juga pertanyaan, mengapa anak saya kurang suka membaca?</p>
<p><!--more-->Ide artikel ini muncul dalam perjalanan naik Kereta Api dari Bandung ke Jakarta, penumpang sebelah kanan saya (suami isteri dan kedua anak laki-laki berumur kira-kira 2 tahun dan 5 tahun), sepanjang perjalanan sang ibu sibuk menenangkan anaknya yang rewel, menangis, teriak, minta jalan-jalan dsb nya. Anak kecil menangis ataupun rewel adalah hal biasa, karena kedua anakku saat kecil juga rewel, dan saya juga sering menemui penumpang yang membawa anaknya rewel dalam perjalanan. Namun jika kerewelan tadi sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta, yang menempuh waktu sekitar 3 (tiga) jam, selain menganggu kenyamanan penumpang lain, juga melelahkan terutama bagi ibu si anak. Saya melihat sang ibu teler dan sudah masuk angin, namun tak bisa apa-apa, karena saat ibu pergi ke toilet untuk menggosok badan dengan minyak angin, sang anak menjerit-jerit ingin ikut...dan bisa dibayangkan berapa besarnya toilet di dalam Kereta Api jika sang anak ikut serta masuk kedalam. Saat itu, saya bayangkan, andaikata anak tadi dilatih senang membaca, menggambar atau mendengar dongeng, maka perjalanan naik kereta api dari Bandung ke Jakarta akan menjadi pengalaman yang mengesankan bagi si anak maupun orang tuanya.</p>
<p><strong>Kapan anak sebaiknya mulai dilatih untuk membaca?</strong></p>
<p>Tidak ada batasan umur, karena pada dasarnya anak kecil adalah peniru yang ulung. Saat anak umur mendekati setahun, anak sudah bisa diajak mengobrol, diajak melihat binatang dan didongengi tentang binatang tersebut. Obrolan ini bisa dilakukan sambil menyuapi makanan, atau bisa juga anak diajak melihat gambar dan diberi crayon untuk mencoba coretan. Hasilnya? Awalnya benang ruwet, walau kalau ditanya katanya...gambar kucing...hahaha. Dan setiap anak sifatnya berbeda, anak sulung saya sulit untuk melakukan hal yang detail saat kecil, seperti menggunting, dan pekerjaan prakarya lainnya. Tapi dia lebih suka diajak mendongeng, cerita, dan mengobrol. Hal ini berbeda dengan adiknya, yang sejak kecil suka melakukan kegiatan seperti menggambar, menulis, menggunting dan mewarnai tetapi tidak banyak mengobrol.</p>
<p>Kemampuan anak juga meningkat seiring umur, jika awalnya kita yang mendongeng, atau membacakan buku cerita, seiring dengan makin bertambah usianya, anak ingin bercerita. Cucunya (umur 4 tahun) adik saya malah suka sekali mendongeng, dan sangat hafal dongeng timun emas, dan suatu ketika adik saya melongok ke kamarnya...ternyata si kecil sedang asyik mendongeng timun emas kepada pemomongnya.</p>
<p>Saat umur 2,5 tahun anak sudah bisa ikut <em>play group</em> atau TK kecil. Sebetulnya di TK yang penting adalah bergaul sesama teman, menghormati milik teman, menggambar dan menyanyi serta berbagai macam permainan. Bila kita bepergian, maka sepanjang perjalanan orangtua bisa bergantian cerita, apa saja hal yang menarik di saat perjalanan. Akan lebih baik, jika kita sudah menyiapkan dongeng atau legenda, daerah yang akan kita kunjungi.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan televisi?</strong></p>
<p>Kita sadari bahwa pengaruh televisi sangat kuat bagi anak-anak, bahkan banyak anak-anak yang sulit diajak keluar rumah, karena ada film kesukaannya sedang tayang di televisi. Namun jika anak telah dilatih senang membaca atau menggambar sejak kecil, maka dia mempunyai berbagai alternatif kegiatan yang disenangi. Menonton televisi tidak ada salahnya, namun jangan sampai kecanduan sehingga melupakan hal-hal lainnya. Dalam hal ini orangtua juga harus memberi contoh, karena bagaimana anak diharapkan senang membaca, tapi tiap hari anak melihat ibu asyik menonton di depan televisi? Disini orangtua perlu memberi contoh, dan bila anak telah kelas 1 SD (yang telah ada tugas Pekerjaan Rumah), maka orangtua bisa mendiskusikan dengan anak, jadual kegiatan sehari-hari nya sejak pagi sampai malam setiap harinya. Anak juga diberi kesempatan menonton film kesukaannya, tetapi juga ada waktu untuk belajar.</p>
<p>Saat anak-anak masih kecil, saya sering membawa pekerjaan rumah dari kantor, dan saat anak-anak belajar, maka saya ikutan bekerja. Disini anak diberi contoh, bahwa orangtua pun tetap harus belajar. Pernah suatu ketika saya sedang capek, dan mulai membaca majalah...si sulung langsung komentar..." Ibu, saya juga capek, saya boleh baca majalah ya?"...Apa boleh buat, saya langsung menutup majalah dan menunggu mereka menyelesaikan PR nya, setelah itu sama-sama membaca.</p>
<p><strong>Apa orangtua wajib mengetahui apa saja yang dibaca anak?</strong></p>
<p>Jawabannya "ya". Jika anak masih kecil sampai dengan usia sekolah, sebaiknya orangtua memonitor apa saja bacaan anak. Semakin besar umur si anak, cara monitornya juga harus hati-hati karena anak telah mempunyai harga diri, dan ingin <em>privacy</em> nya nggak terganggu. Disini orangtua harus pandai menempatkan diri sebagai teman si anak, agar anak mau terbuka, dan cerita bacaan apa saja yang diminati. Hal ini untuk menjaga agar jangan sampai anak membaca sesuatu sebelum umurnya cukup matang.</p>
<p>Ada pengalaman saya, anak sulung saya suka membaca apa saja, bahkan dia suka ikut bicara masalah politik, kebudayaan dan sebagainya padahal masih usia SD. Akhirnya dengan berat hati, saya menghentikan langganan majalah Tempo, dengan alasan bapak di Bandung (suami bekerja di Bandung) sudah langganan. Apa yang terjadi? Ternyata anak saya suka berkeliling ke tetangga, dan membaca majalah apa saja...ada majalah Tempo, juga majalah lainnya, dan juga banyak pinjam buku-buku dari tetangga. Suatu ketika, saya pulang kantor menemukan majalah, yang saya tak merasa langganan. Pelan-pelan, saya tanya sama si sulung..."Mas, pinjam majalah dari siapa, udah ijin yang punya belum?" tanya saya. "Udah bu, itu kan majalah kepunyaan teman baikku", jawabnya. Saya kaget kok temannya punya majalah seperti itu (masih usia SD), terus tanya lagi..."Mas, siapa sih teman baikmu, pernah main kesini nggak?", tanya saya. ..."Ooo, itu lho bu, pak Ganesha,"jawab dia dengan tenangnya.</p>
<p>Wahh, saya langsung telepon temanku, karena pak Ganesha adalah suaminya, benarkah anakku sering main kesana. Ternyata temanku malah tertawa terbahak-bahak..."O, itu putranya ibu ya, suamiku sering cerita, ada anak kecil yang tiap hari main kesini dan mengajak diskusi macam-macam dan pinjam majalah. Dia bilang, anak kompleks sini juga...hahaha."</p>
<p>Saya mencoba introspeksi, dan karena pusing langkah apa yang sebaiknya saya lakukan, saya datang ke psikiater, untuk menanyakan apa sebaiknya yang saya lakukan, agar tak salah melangkah. Jawab psikiater..."Ibu, jika punya anak seperti itu, orangtuanya harus ikuti jalan pikirannya, jadi sebaiknya ibu tetap langganan, dan baca majalah tersebut. Agar nantinya ibu bisa diskusi dengan anak ibu, daripada dia diskusi dengan orang lain yang kita tak kenal, malah bisa mendapat pengaruh yang kurang baik."</p>
<p>Sejak itu saya langganan majalah, membaca buku, majalah...dan pusiiiing...entah kenapa minat anakku sama buku dan majalah bervariasi sekali, sedang saya tak terlalu suka dengan urusan politik, apalagi sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor. Akhirnya saya balik...saya biarkan anak saya baca dulu, kemudian saya pancing dia cerita, serta apa pendapatnya tentang masalah tersebut. Dan ternyata, saya bahkan banyak belajar dari anak saya....hal yang selama ini tak saya duga, karena saya menganggap dia masih kecil, baru kelas enam SD.</p>
<p>Begitulah, sejak itu saya bisa memahami (walaupun tetap banyak hal yang saya kurang mengerti), dan saya juga jujur pada anak saya bahwa ibu belum tentu paham semuanya. Dan dia saya biarkan mengunjungi tetangga untuk diskusi berbagai macam persoalan, dan syukurlah teman-teman, dan tetanggaku sangat membantu, bahkan secara suka rela menjadi teman diskusi yang baik.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Inti dari cerita di atas, bahwa membiasakan anak membaca bisa dilakukan sedini mungkin, tergantung kesiapan si anak sendiri. Bisa dimulai dari mendongeng sebelum tidur, menggambar, mewarnai....dan meningkat membaca buku bacaan yang tulisannya sedikit dan gambarnya banyak (sejenis komik). Jangan kaget jika nantinya kecepatan, kemampuan membaca dan minat baca anak anda ternyata lebih jauh bervariasi. Sebaiknya jujur mengatakan pada si anak, bahwa kemampuan orangtua terbatas, daripada kita selalu berusaha menjawab pertanyaan si anak, tetapi salah. Anak anda adalah anak yang pandai, anak yang memahami, jika orangtua tak bisa menjawab semua pertanyaan.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membangun keharmonisan dan kebahagiaan keluarga.]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/09/04/membangun-keharmonisan-dan-kebahagiaan-keluarga/</link>
<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 08:20:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/09/04/membangun-keharmonisan-dan-kebahagiaan-keluarga/</guid>
<description><![CDATA[Apa yang terpikir pada saat kita memutuskan untuk menerima lamaran si &#8220;Dia&#8221;? Seperti apa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang terpikir pada saat kita memutuskan untuk menerima lamaran si "Dia"? Seperti apakah keluarga yang kita idam-idamkan? Banyak yang membangun sebuah keluarga hanya berdasarkan "cinta" atau mengikuti aliran air, namun tak jarang pasangan yang membuat<em> planning</em> jauh sebelumnya, seperti apakah bentuk keluarga yang diinginkan nantinya.</p>
<p><!--more-->Setelah beberapa waktu berjalan, sudahkah apa yang dicita-citakan tercapai? Atau bahkan mungkin kita sudah beberapa kali melakukan penyesuaian disana-sini, mengingat begitu banyaknya perubahan yang terjadi disekitar kita.</p>
<p>Saya akan mencoba meringkas hasil diskusi dengan beberapa teman, serta pengamatan sehari-hari, apa yang diperlukan agar kita dapat membangun keluarga yang harmonis.</p>
<p><strong>1. Bangga atas peran kita di dalam keluarga.</strong></p>
<p>Kita harus bangga atas peran kita di dalam keluarga, baik peran sebagai suami, sebagai isteri, juga peran sebagai ayah ibu. Apabila kita mempunyai kebanggaan, maka kita akan melakukan segala sesuatunya dengan sukarela dan <em>happy</em>.</p>
<p><strong>2. Introspeksi dan saling mengingatkan</strong></p>
<p>Kata ini mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dipraktekkan. Sering terjadi salah satu pasangan merasa dominan, merasa lebih berperanan, dan mengabaikan pasangannya, yang akhirnya akan menyebabkan konflik. Keluarga harmonis adalah keluarga yang saling mendukung, serta tak boleh ada satupun yang merasa mempunyai peranan lebih tinggi. Sebagai contoh, keberhasilan karir suami adalah karena dukungan seorang isteri, demikian juga seorang isteri yang sukses berkarir adalah juga karena dukungan suaminya.</p>
<p>Ada kalimat dari Retno Iswari Tranggono (Kompas, 4 September 2007 hal 16), Presiden Direktur PT Ristra Indolab, sbb : "Bapak mengajukan pensiun dini tahun 1983 dan kami mendirikan Ristra tahun itu juga." Retno adalah lulusan FKUI, demikian juga suami Retno, yang kemudian menjadi dokter AURI. "Bapak (Tranggono), bekerja di bagian manajemen dan saya berkutat di <em>research</em> and <em>development </em>nya", kata Retno. Nama Ristra adalah akronim dari Retno Iswari dan Suharto Tranggono. Berkali-kali Retno mengakui, dukungan keluarga dan suami adalah hal penting dalam hidupnya. Perkembangan Ristra pernah mengalami pasang surut, tetapi sampai saat ini Ristra tetap eksis.</p>
<p>Pasangan suami isteri haruslah menjadi suatu tim yang solid, dan berani mengingatkan pasangan, agar tak terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan.</p>
<p><strong>3. Meluangkan waktu untuk selalu membaca</strong></p>
<p>Agar bisa saling mendukung, saling mengingatkan, dan menambah wawasan, maka pasangan harus meng <em>up date</em> pengetahuan dengan membaca. Hal ini juga berguna, agar kita bisa menjadi sahabat dan teman dari anak-anak. Dengan meng <em>update </em>pengetahuan orangtua diharapkan juga dapat mengikuti pembicaraan anak-anak, karena saat ini kemajuan ilmu pengetahuan begitu pesatnya. Dengan membaca, kita bisa mengimbangi pasangan dalam mengobrol, dan pasangan akan menganggap kita sebagai sahabatnya di kala suka dan duka.</p>
<p><strong>4. Kaya bukanlah segalanya</strong></p>
<p>Bersyukurlah atas rejeki yang diterima saat ini, dan berdoa agar kita mendapatkan rejeki yang berkelanjutan. Saya masih ingat saat masih lajang, dan indekost di daerah Tanah Abang, ibu kost berkata ..."Jeng, nanti kalau sudah menikah, dan suami memberikan uang belanja pada kita, jangan sampai meminta tambahan ya, usahakan kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga dari uang yang diberikan suami. Apabila kita meminta tambahan, pasti suami ingin memberikan karena sayang pada kita, tetapi kita dapat mendorong suami untuk melakukan perbutan yang kurang baik."</p>
<p>Alm ibu, memberikan pesan pada saat saya mulai berkeluarga. " Nduk, karena kamu sama-sama bekerja, buatlah catatan apa yang kamu belanjakan, supaya suamimu akan membaca sendiri apa saja yang telah engkau beli. Hal ini akan menyebabkan suami tak perlu menduga-duga kemana saja uang telah dibelanjakan."</p>
<p>Saya memenuhi anjuran ibu kost dan alm ibu, dengan mencatat pengeluaran, saya jadi mempelajari, bagaimana cara membuat perencanaan belanja sebulan, dan menilai kembali apakah bulan ini saya boros apa tidak. Memang tak perlu dicatat semuanya, minimal kita tahu berapa biaya untuk belanja bulanan, berapa untuk investasi anak, berapa biaya operasional rumah tangga (iuran sampah, keamanan, listrik, telepon dll). Berdasarkan catatan itu, pasangan bisa mendiskusikan rencana untuk kedepan, dan karena direncanakan bersama, maka masing-masing pasangan akan merasa dihargai.</p>
<p><strong>5. Bekerja keras</strong></p>
<p>Tujuan hidup kita adalah untuk bekerja keras dan berkeringat. Tanpa bekerja keras, kita tak memperoleh apa-apa, dan jangan mendapatkan rejeki tanpa bekerja keras terlebih dahulu. Disamping itu, setelah kita bekerja keras, barulah berdoa, agar apa yang kita kerjakan memberikan manfaat bagi keluarga dan sesama .</p>
<p><strong>6. Berbuatlah sebanyak-banyaknya untuk berpikir positif</strong></p>
<p>Berpikir positif membuat kita tidak mudah iri, dan membuat kita selalu menikmati apa yang telah kita peroleh, dan bergairah untuk mencapai hasill yang lebih baik lagi. Berpikir positif juga membuat kita tak mudah menyalahkan orang lain, apabila kita menemui kegagalan, tetapi kegagalan membuat kita berpikir bahwa usaha kita kurang keras.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rumah seperti apakah yang menyenangkan?]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/08/31/rumah-seperti-apakah-yang-menyenangkan/</link>
<pubDate>Fri, 31 Aug 2007 04:55:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/08/31/rumah-seperti-apakah-yang-menyenangkan/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan ini selalu menggelitik, bagaimana kita menata rumah agar menyenangkan? Katanya penataan r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan ini selalu menggelitik, bagaimana kita menata rumah agar menyenangkan? Katanya penataan rumah menunjukkan karakter pemiliknya, sama seperti cara kita berpakaian.</p>
<p><!--more-->Saya pernah membaca di artikel, bagaimana cara menata rumah, tapi pada akhirnya adalah tergantung pada pemilik itu sendiri. Saya menyenangi rumah yang hangat, tertata rapih (pada dasarnya saya senang kerapihan), dan halaman penuh bunga. Pada awal menikah, dan punya bayi laki-laki, serta telah tinggal di rumah dinas, alm ibu berkunjung kerumahku, dan bilang ke adikku..."Kakakmu rumahnya kok nggak ada bunganya, padahal dulu di Madiun dia sangat senang bertanam bunga, dan sibuk merapihkan rumah?" Adikku komentar.." Habis bagaimana lagi, pergi pagi pulang malam, yang lebih utama kan mengurusi bayi, udah seharian ditinggal"</p>
<p>Begitulah, waktu anak saya baru satu, waktu begitu cepat tersita, dan saya harus memilih, membereskan rumah atau mengajak bermain anak, dan saya memilih yang kedua. Setelah anak bisa berjalan, maka rumah yang baru dibereskan, di acak-acak oleh si kecil, dia berkeliling rumah, dan mencoba apa saja yang ditemukan. Suami begitu pula, sehabis membaca koran, bukannya diletakkan ditempatnya, kadang dibawa kekamar, membaca sambil tiduran....dan tertidur dengan bentangan koran...yang udah tak karuwan mana kepala, mana kakinya (istilah saya untuk menunjukkan bagaimana kacaunya koran tadi). Awalnya saya masih mencoba menyapu, mengepel...namun lama-lama saya hanya masih bertahan bahwa tempat tidur harus bersih sebelum kita tidur.</p>
<p>Begitulah rumah saya, semua penghuni menikmati kenyamanan, kadang saya/suami dan anak-anak cuma mengobrol sambil tidur gelundungan di tempat tidur besar....dan tahu-tahu sudah waktu makan siang. Kalau menonton TV, maka yang menonton ganti TV nya, penontonnya sudah asyik menjadi pemain film di dunia mimpi.</p>
<p>Anehnya pacar anak sulungku, menikmati situasi rumahku, dan berpesan..."Bu, nanti kalau udah pindah rumah sendiri, situasinya jangan berubah ya. Rumah ibu justru menyenangkan karena tak terlalu rapih....dan tamunya bebas ingin makan apa saja.." Kenapa calon menantuku bilang begitu? Karena jika hari libur, dan malas memasak..kami tinggal menelepon restoran yang ada disekitar tempat tinggal kami. Dan masalah ini, pernah jadi bahan sindiran bapak mertuaku, karena setiap beliau datang menengok, saya bertanya "Pak, bapak ingin makan apa? Sate, atau....?" Maksudnya saya akan menyuruh pembantu membeli masakan tersebut.</p>
<p>Kondisi rumah saya sudah dikenal juga oleh teman suami. Karena sama-sama sibuk, pernah suatu saat bos suami akan menghadiri suatu acara yang dihadiri Mendikbud di Jakarta, dan saya jelas masih di kantor. Saya hanya pesan ke pembantu, untuk menghubungi salon (karena isteri bos suami perlu menyanggul rambutnya), kemudian pesan makanan dari restoran yang nomer-nomer teleponnya sudah ada. Begitulah, saat saya pulang dari kantor malam hari, acara sudah selesai, bos suami dan isterinya sudah kembali ke Bandung, termasuk suami saya. Saya hanya menemukan tulisan suami, kalau semuanya OK.</p>
<p>Saat ini anak-anak sudah besar, dan waktu saya tanya.."Bagaimana, apa tak sebaiknya kita merapihkan rumah?" ..."Tidaaak....", jawab mereka berbarengan. "Ibu, teman-temanku justru senang ke rumah kita, karena bapak ibu cuek, mereka bebas melakukan apa saja, bahkan kalau lapar dan tak terlalu cocok masakan yang ada bisa bikin indomie atau pesan makanan dari luar. Kalau rumah rapih sekali, kan tidak hangat ibu....kan kita suka gelundungan di kasur?"</p>
<p>Waah.....ya udah, tapi saya tetap menikmati jika berkunjung kerumah teman yang tertata rapih, bersih, lantainya kinclong...Bagaimana menurut anda?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melatih Kemandirian anak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/07/28/melatih-kemandirian-anak/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 10:44:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/07/28/melatih-kemandirian-anak/</guid>
<description><![CDATA[Mempunyai anak, berarti mempunyai kewajiban untuk melatih anak agar dapat mandiri sesuai tingkatan u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Mempunyai anak, berarti mempunyai kewajiban untuk melatih anak agar dapat mandiri sesuai tingkatan umur dan kedewasaannya. Bagi orang tua, kita sering terjebak pada <em>over</em> <em>protektive</em>, terutama bagi ibu yang bekerja di luar rumah, yang dapat berakibat kurang baik bagi kemandirian anak.</p>
<p>Apa yang dapat dilatih dalam meningkatkan kemandirian anak?</p>
<p><!--more-->a. Melatih anak berani berjalan sendiri tanpa ditemani, dan atau orang tua melihat dari jauh.</p>
<p>Sesuai tingkatan umurnya, anak-anak menginginkan dapat mandiri, berkembang, dan bersosialisasi bersama teman-temannya. Bila sekolah terdapat fasilitas antar jemput, anak bisa dititipkan dan berlangganan antar jemput sekolah. Selain mengurangi kemacetan, anak dapat bersosialisasi dengan teman-temannya.</p>
<p>Anak juga perlu diperkenalkan dengan rute bis/angkutan umum. Saya tidak pernah menduga bahwa anak saya yang masih SD, pada suatu malam hari dengan penuh antusias bercerita, bahwa dia berjalan-jalan naik bis, sampai ke Kalideres (rumah saya di daerah Cipete, Jakarta Selatan). Saya mendengarkan kisah petualangannya dengan berdebar-debar, namun tak berani memarahi. Saya cuma nanya..."Mas, membayarnya pakai apa?" Dia jawab;..."Ibu, pak sopirnya baik, saya tak ditarik uang untuk membayar..." Bagaimana saya tak kawatir, karena saat dia masih SD, saya tak memberikan uang saku, karena SD nya dekat rumah, serta agar dia tak jajan sembarangan.</p>
<p>Setiap kali saya dan anak-anak berlibur ke Bandung, maklum suami bekerja di Bandung dan saya beserta anak-anak di Jakarta. Anak sulung saya tak bisa tinggal diam, dan selalu ingin mengamati, padahal rasanya saya sudah pengin istirahat di kereta api Parahyangan. Akhirnya oleh suami, anak kami dilatih bagaimana cara berjalan dari gerbong ke gerbong, apa yang harus diperhatikan, agar kaki tidak kejepit. Pada saat kereta api mau masuk setasiun Gambir, anak saya membawa sehelai kertas, isinya adalah hasil wawancara dengan penumpang selama perjalanan Bandung-Jakarta, berapa jumlah penumpang, usianya, pekerjaannya dll.</p>
<p>b. Membiasakan anak mempunyai catatan, atau hapal alamat dan nomor telepon yang mudah dihubungi</p>
<p>Sebaiknya anak dilatih mengingat nomor telepon dan alamat rumah, serta nama orangtuanya (nama ayah ibu), sehingga jika terpisah dapat segera meminta pertolongan. Ada kejadian yang setiap kali membuat saya tersenyum. Saat anak-anak masih kecil, saya melatihnya untuk menghapal nama lengkap ayah dan ibu, alamat dan nomor telepon rumah. Kemudian anak diajak ke pasar Swalayan, dan dipesan, nanti ketemu di lokasi yang sudah disepakati. Suami mengawasi dari kejauhan sambil membaca, dan saya berbelanja kebutuhan bulanan. Sepuluh menit kemudian, terdengar pengumuman, bahwa bapak dan ibu (disebutkan namanya) ditunggu putranya di counter lantai dasar. Saya langsung meninggalkan belanjaan yang belum selesai, demikian juga suami. Apa yang terjadi? Dengan tenangnya anak saya berkata..."Saya sudah mempraktekkan ajaran bapak ibu. Nggak ada yang salah kan?"</p>
<p>c. Melatih anak mengenal lingkungan tempat tinggal</p>
<p>Sebaiknya anak dilatih untuk mengenal lingkungan terdekat dimana kita tinggal, serta siapa yang dapat dihubungi, selain si Mbak yang sudah momong sejak kecil. Karena tinggal di kompleks, kami berasa seperti saudara, jadi di rumah ditempel catatan siapa saja yang perlu dihubungi jika terjadi keadaan darurat. Dengan tetangga dekat, kita meninggalkan catatan nomor telepon kantor, <em>hand phone </em>dan memberi tahu kalau harus tugas keluar kota.</p>
<p>Jika berada di luar rumah, anak diajari, agar selalu kembali kearah Blok M, kemudian bisa naik bajay yang dapat dibayar ke rumah. Jika bingung, jangan tanya pada sembarang orang, tetapi tanya pada petugas: seperti polisi, petugas DLLAJR, Satpam dan lain-lain.</p>
<p>d. Melatih anak agar tak mudah mempercayai orang yang baru dikenal.</p>
<p>Bukan hal baru, bahwa kadang-kadang ada orang yang mengajak anak hanya karena ingin mengambil anting emas yang menempel ditelinga anak. Saat anak bungsu masih kecil, saya tidak membiasakan anak memakai anting, karena walaupun emas imitasi, si penculik ada kemungkinan tak bisa membedakan. Namun ada risikonya, anak gadis saya sampai saat ini lebih nyaman tak memakai anting.</p>
<p>Ada pengalaman menarik yang disampaikan oleh guru SMP, beliau menyarankan agar anak-anak sebaiknya jajan di kantin sekolah dan jangan keluar dari lingkungan sekolah walaupun jam istirahat. Kalau ada kakak kelas, terutama alumni (yang sudah lulus SMP) mengajak makan dan mentraktir, sebaiknya ditolak, karena mereka ada kemungkinan membuat anak kita berhutang budi, serta bisa mempengaruhi untuk hal-hal yang kurang baik. Jika pulang sekolah, sebaiknya langsung pulang, jangan nongkrong di warung-warung di luar sekolah, karena ada kemungkinan ditawari makanan atau minuman yang telah mengandung obat.</p>
<p>e. Melatih anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR)<br />
Kadangkala orangtua tidak tega, dan berusaha mengontrol pembuatan PR yang dibebankan pada anak. Almarhum Ibu Kepala SD, tempat anak saya sekolah, menasehati agar kami membiarkan dan melatih anak secara mandiri membuat PR, karena dikawatirkan anak tergantung pada ayah ibu (harus ditunggu saat membuat PR), padahal ayah ibu bekerja. " Bu, biarkan mereka mendapat hukuman kalau lalai membuat PR, karena ini juga merupakan pendidikan bagi anak, agar mereka belajar disiplin", kata ibu Kepala Sekolah. Saya sangat berterima kasih atas anjuran Kepala Sekolah ini, dan memang kadang-kadang anak harus mendapat hukuman akibat kelalaiannya.</p>
<p>Ada pengalaman menarik, saat anak sulung saya masih di SMP. Suatu ketika saya mendapat tugas keluar kota, dan si sulung disuruh membuat kerajinan tangan berupa celana pendek. Apa yang terjadi? Taplak meja saya turun tahta, dipakai sebagai bahan untuk membuat kerajinan tangan, dengan jahitan yang panjang-panjang, dan warna benangnya kontras dengan warna kainnya. Saya cuma bisa mengelus dada, ternyata saat ada pertemuan orang tua, ada orang tua yang cerita sambil ketawa (beliau juga bekerja di luar rumah), bahwa beliau kehilangan sprei yang dipakai untuk membuat kerajinan tangan.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi, hasil pengamatan, diskusi dengan teman, psikolog dan guru, setiap ada kesempatan untuk membahas perkembangan anak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengisi liburan anak sekolah, jika kedua orangtua sibuk ]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/06/28/mengisi-liburan-anak-sekolah-jika-kedua-orangtua-sibuk/</link>
<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 01:12:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/06/28/mengisi-liburan-anak-sekolah-jika-kedua-orangtua-sibuk/</guid>
<description><![CDATA[Pada umumnya liburan sekolah merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga. Sud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada umumnya liburan sekolah merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh anggota keluarga. Sudah terbayang, kita mau liburan kemana kali ini. Namun bagaimana jika kedua orang tua bekerja di luar rumah dan tak mendapatkan ijin cuti, karena memang pekerjaan di kantor lagi padat? Tak perlu kawatir, anak-anak tetap dapat menikmati liburan walaupun orang tua nya sibuk. Yang penting, kita telah merencanakan jauh hari, dan disesuaikan dengan keinginan anak.</p>
<p><!--more--><strong>1. Berlibur bersama  keluarga lain (om, tante, uwak, nenek/kakek)</strong></p>
<p>Menikmati liburan bersama keluarga lain, dan masih ada hubungan keluarga, membuat orang tua tidak kawatir melepas anaknya untuk menikmati liburan. Akan lebih menyenangkan lagi, jika diantara sepupu ada teman yang sebaya.</p>
<p>Saya sulung dari tiga bersaudara, kebetulan adik yang nomor dua menjadi dosen PTN di Jawa Tengah. Kesanalah saya dan suami menitipkan anak-anak kami pada suatu liburan. Kebetulan pula, anak-anak mereka ada yang sebaya dengan anak kami. Justru disinilah anak-anak belajar melihat kultur keluarga lain, melihat daerah dan lingkungan lain, yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari.</p>
<p><strong>2. Mengisi liburan dengan mengembangkan diri</strong></p>
<p>Ini yang paling sering kami lakukan, dan sejak lama anak-anak sudah menyusun jadual, ingin menghabiskan liburan dengan kursus apa. Bisa kursus piano, renang, komputer, bahasa asing dan lain-lain. Namun karena hari libur, tetap diupayakan agar anak-anak menikmati kursus dengan situasi santai, dan diantara waktu kursus diajak ketoko buku, agar mereka bisa membaca sepuasnya dan memilih buku mana yang akan dibeli.</p>
<p><strong>3. Rekreasi</strong></p>
<p>Rekreasi tidak harus dilakukan pada tempat yang jauh, tetapi bisa dilakukan pada tempat-tempat wisata di sekitar kota tempat kita tinggal. Untuk kota Bandung, banyak tempat rekreasi yang jaraknya tak terlalu jauh, seperti Kebon Binatang, Taman Lalu Lintas.</p>
<p>Biasanya anak-anak kami ditemani "mbak" yang sudah seperti keluarga sendiri. Mbak udah menyiapkan makanan, yang terjamin kebersihannya, sehingga kami tidak kawatir melepas anak-anak ber rekreasi sendiri.</p>
<p>Bagaimana pengalaman anda?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anakku, sahabat kecilku]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/06/28/anakku-sahabat-kecilku/</link>
<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 00:50:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/06/28/anakku-sahabat-kecilku/</guid>
<description><![CDATA[Pada saat awal berkeluarga, sempat dibayangi kekawatiran, dapatkah saya menjadi isteri, ibu dan wani]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat awal berkeluarga, sempat dibayangi kekawatiran, dapatkah saya menjadi isteri, ibu dan wanita karir sekaligus? Syukurlah suami mendorong agar saya tetap bekerja, dan mengingatkan bahwa saya telah mendapatkan kesempatan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, dan inilah saatnya saya membaktikan ilmu agar bermanfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Mempunyai anak merupakan karunia yang tidak terhingga, di satu sisi tanggung jawab yang ada di depan kita juga makin besar, agar anak kita menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, serta mempunyai andil untuk kehidupan yang lebih baik. Se sibuk apapun, saya menyempatkan mendongeng pada anak sebelum mereka tidur. Banyak pelajaran tak terduga, yang saya peroleh dari anak saya, yang muncul dari saat mengobrol, saling bercerita dan dari kehidupan sehari-hari.</p>
<p><!--more-->Saat anak sulung pertama kali masuk sekolah Taman Kanak-kanak, bertepatan dengan saya harus mengikuti Kursus Pimpinan II, yang merupakan syarat untuk menjadi seorang manajer. Pelatihan yang dilakukan oleh kantor saya sangat disiplin, jika tidak masuk harus ada ijin tertulis yang disetujui oleh Manajer Diklat, atau surat keterangan sakit dari dokter. Saat itu saya ijin pada Manajer, tapi beliau mengatakan, bahwa jangan terlalu lama, karena hari pertama pendidikan diisi oleh ceramah oleh pimpinan setingkat<em> General Manager</em>.</p>
<p>Saya bersama "Mbak" (panggilan kepada pembantu) mengantar anak sulung, sampai si sulung telah masuk kelas dan mendapat tempat duduk. Tak lama kemudian si sulung mendekati saya, yang masih melihat dari jendela...."Bu, sebaiknya ibu berangkat ke sekolah, nanti dimarahi bu guru," kata si sulung. " Tapi nak, bagaimana dengan kamu, apa berani ditinggal sendiri?", jawab ibu. "Berani bu, kan ada mbak," jawabnya. Betapa terharu hati saya, setelah saya cium pipinya, dan pesan kepada mbak,maka berangkatlah saya ketempat pelatihan, dan ternyata saya hanya ketinggalan dua sesi.</p>
<p>Hari ketiga....</p>
<p>"Bu, hari ini mbak tak perlu mengantar, aku ikut jemputan saja," kata sulungku. "Kenapa nak, apa kamu udah berani," tanya ibu. "Tentu aja aku berani bu, kan banyak temannya", jawabnya. Sejak awal masuk sekolah, anakku udah diikutkan antar jemput ke sekolah, walaupun di kendaraan antar jemput tadi, mbak2 pengantar anak juga ikut menemani momongannya masing-masing.</p>
<p>Anak bungsuku wanita, waktu kecilnya menjadi pengikut setia kakaknya, kemana-mana si kakak pergi selalu diikuti. Pada waktu pertama kali ikut lomba piano yang diadakan oleh <em>Women International Club</em> di Bandung untuk kategori usia 4-12 tahun, si bungsu baru berumur 5 tahun. Awalnya dia menggebu-gebu ikut lomba, jadi kami mengikutkan dia les privat untuk meningkatkan kemampuannya (sejak umur 4 tahun ikut kursus piano seminggu sekali). Anak sulung dan anak bungsuku, lolos seleksi dan masuk final. Pada hari "H" nya, kok nggak ada suara, padahal biasanya pagi hari udah rame dengan celotehan anak-anakku. Ternyata si bungsu termenung, duduk di pinggir ditempat tidur. Saya pelan-pelan mendekat..."Nak, ada apa?'" Dia cuma menggeleng dan tersenyum, saya peluk dia dan saya ajak keluar kamar.</p>
<p>Perlombaan piano diadakan di hotel, para pemain dipisahkan dengan pendamping. Syukurlah anak sulungku selalu mendampingi adiknya selama menunggu. Pada saat nomor si bungsu dipanggil.....betapa kagetnya kami, si kakak menggandeng tangan adiknya naik ke atas panggung, dan menunggu si adik duduk, baru kakak turun dari panggung. Walau awalnya terlihat tegang, si bungsu bermain dengan jernih, dan mendapatkan hadiah hiburan....hal yang udah maksimal, karena ini adalah pertama kalinya si bungsu tampil.</p>
<p>"Ibu, hadiah ini untuk ibu," kata si bungsu (hadiahnya berupa piala). " Terimakasih nak, kita pajang di atas lemari ya," jawab ibu. Si bungsu hanya tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>Tak terasa anak-anak ku makin besar. Hari-hari sepulang kerja, mereka bercerita tentang teman sekolahnya, dan kejadian-kejadian lucu di sekolah. Setiap bulan sekali saya memerlukan datang kesekolah anak-anak, untuk diskusi dengan wali kelas, dan melihat perkembangan anak-anakku. Bertemu dengan wali kelas, sangat penting, juga menghadiri pertemuan yang diadakan oleh sekolah. Disini orang tua bisa saling <em>sharing</em>, bagaimana menjaga anak kita agar tak terpengaruh oleh narkoba dan kenakalan lainnya, serta tetap menjadi sahabat mereka.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nonton bareng anak]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/05/11/nonton-bareng-anak/</link>
<pubDate>Fri, 11 May 2007 03:57:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/05/11/nonton-bareng-anak/</guid>
<description><![CDATA[Banyak pengalaman menarik sebagai orangtua, yang kita peroleh saat menonton film di gedung bioskop b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak pengalaman menarik sebagai orangtua, yang kita peroleh saat menonton film di gedung bioskop bersama anak.</p>
<p><strong>1. Sosialisasi</strong></p>
<p>Anak merupakan makhluk yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Betapa kita dapat melihat anak kita dengan cepat berkenalan dan berkomunikasi dengan anak-anak lainnya yang ditemui, bahkan kadang-kadang mereka bisa bermain/berdiskusi dengan bahasa yang berbeda.</p>
<p><!--more-->Misalkan, saat menonton film "Yurasic Park", anak-anak di dalam gedung bioskop merasa menjadi satu kesatuan, ikut bertepuk tangan dan bersorak menyemangati aktor/artis pemain yang sedang dikejar-kejar oleh dinosaurus.</p>
<p><strong>2. "Melihat" dengan sudut pandang yang berbeda</strong></p>
<p><strong> </strong>Untuk film yang sama, bukan tidak mungkin pandangan anak dan orang tua berbeda. Sangat menarik untuk mengamati, bagaimana kedua anak saya sangat berbeda dalam melihat suatu film. Anak sulung senang menganalisis, dari segi skenario, pencahayaan, sampai kepada akting para pemain. Awalnya, setiap selesai menonton, saya "agak bingung" jika si sulung menanyakan apa pendapat saya tentang film, dari sisi pencahayaan ataupun skenarionya...misalkan, apa antiklimaknya cukup bagus? Dan pertanyaan ini menjadi awal diskusi yang panjang, yang kadang melelahkan. Bagi saya, menonton film awalnya hanyalah salah satu cara untuk meredakan ketegangan, relaksasi setelah seminggu bekerja keras, serta menikmati kebersamaan dengan anak. Dari pertanyaan-pertanyaan si sulung, akhirnya saya belajar melihat film dari sudut pandang yang berbeda, melihat secara utuh...dan ternyata sangat menarik mempelajari dan mencoba memahami bagaimana suatu film dibuat, dan tidak sekedar "hanya" menikmati tontonan yang sudah jadi.</p>
<p><strong>3. Memahami perbedaan</strong></p>
<p>Kedua anak saya mempunyai sifat yang sangat berbeda, tetapi keduanya saling menyayangi, karena justru perbedaan sifat tersebut yang membuat mereka bisa saling mengisi kekurangan masing-masing.</p>
<p>Menonton film bersama si bungsu ibarat mengikuti aliran air, karena saya dan si bungsu mempunyai kesamaan dalam minat dan menilai sesuatu, juga saya lebih mudah memahami karena anak bungsu saya perempuan. Si sulung sering mentertawakan hal ini, bagi si sulung penilaian kami berdua sangat "cetek" karena hanya menyukai film yang "<em>happy ending</em>", film yang tata pencahayaan dan warnanya indah, dan bukan film yang warnanya redup bahkan gelap. Kami berdua juga tidak tertarik menonton film yang ceritanya menegangkan, yang membuat jantung deg-degan.</p>
<p>Si sulung menyenangi berbagai jenis film, dari yang lucu, film kartun sampai film yang berat. Pernah suatu ketika saya dan si sulung berjalan-jalan di Pondok Indah Mall, setelah melihat judul film yang akan main, semuanya film yang menurut saya masuk kategori berat atau tegang. Akhirnya si sulung setuju menemani ibu menonton film dengan judul " <em>A walk to remembe</em>r" yang dibintangi <em>Mandy Moore</em>. Ceritanya memang tidak <em>happy</em> <em>ending</em>, tapi kalimat-kalimat yang diucapkan dalam film sangat puitis, dan khas wanita, seperti.....<em>cinta adalah seperti angin, kita bisa merasakan tetapi tidak dapat meraba.....</em>.Namun tanggapan si sulung cuma senyum manis, saat ibu ngajak diskusi film tadi...dan esoknya dia diketawain teman-teman kuliahnya, karena menonton film "manis" bersama ibu.</p>
<p>Hal yang bisa dipetik adalah, keakraban yang tercipta selama menonton bersama anak itulah yang penting, dan bukan jenis filmnya. Hal ini tentunya berbeda jika menontonnya di rumah. Dengan menonton di gedung bioskop, kita bisa mampir makan sambil mengobrol santai, menanyakan perkembangan anak, dan pulang mampir ke toko buku. Saya juga menjadi lebih memahami anak-anak saya, walaupun sifatnya berbeda, dan keadaan ini saling mempengaruhi. Akhirnya saya bisa menjadi teman si sulung untuk berdiskusi, karena bisa menilai film secara keseluruhan. Terakhir kami terlibat diskusi yang seru setelah menonton Spiderman 3.....dan ternyata sudut pandang kami sama dalam menilai film tersebut.</p>
<p>Dengan berkembangnya usia anak, maka orangtua secara sadar atau tak sadar, dipaksa untuk ikut belajar dan memahami perkembangan yang ada disekitarnya. Hal ini tak hanya berlaku dalam hal melihat film, namun juga mempengaruhi pilihan jenis bacaan yang akan dibeli. Saya yang dulu hanya menyenangi buku-buku sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, atau yang berbau pendidikan, kewanitaan, saat ini menjadi tertarik juga pada buku-buku psikologi, filsafat atau bahkan <em>chicklit.</em>.....yang semuanya dipengaruhi oleh  minat anak-anak saya.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Definisi kampung dimata anak kecil]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/04/30/definisi-kampung-dimata-anak-kecil/</link>
<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 06:32:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/04/30/definisi-kampung-dimata-anak-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Suatu ketika, kami baru saja pulang mudik dari Jawa Timur. Kakak, anak laki-laki berumur 8 (delapan)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika, kami baru saja pulang mudik dari Jawa Timur. Kakak, anak laki-laki berumur 8 (delapan) tahun dan adik perempuan berumur 5 (lima) tahun asyik bercakap-cakap.</p>
<p>Adik: " Mas, apa kita punya kampung ya?"</p>
<p>Mas : " Kampung kita kan di Jakarta."</p>
<p>Adik: " Bukan, kampung yang kita bisa pulang kampung tiap Lebaran itu lho!"</p>
<p>Mas : " Ooo, kalau yang itu, harus kawin dulu baru punya kampung."</p>
<p>Adik: " Jadi harus kawin dulu ya?" sambil menganguk-angguk</p>
<p>(Ayah dan ibu yang mendengar percakapan tadi hanya tersenyum simpul)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayah dan putra putrinya]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/04/30/ayah-dan-putra-putrinya/</link>
<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 05:09:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/04/30/ayah-dan-putra-putrinya/</guid>
<description><![CDATA[Bungsu, cewek berumur 3 (tiga) tahun
&#8221; Bapak, aku tahu..bulan ada dua&#8230;&#8221; kata anak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bungsu, cewek berumur 3 (tiga) tahun</strong></p>
<p>" Bapak, aku tahu..bulan ada dua..." kata anak perempuan</p>
<p>" O, iya nak, dimana saja?" tanya bapak, sambil bingung kenapa bulan ada dua.</p>
<p>" Iya, di Jakarta satu, dan di Bandung satu," jawab anak perempuan dengan kalemnya.</p>
<p>" Oh, begitu ya," jawab bapak.</p>
<p><em>Kesimpulan</em>: Karena bapak bekerja di Bandung dan ibu di Jakarta, si bungsu melihat bulan saat dia ke Bandung, tapi juga ada di jakarta, jadi menyimpulkan bahwa bulan ada dua.</p>
<p><strong>Sulung, laki-laki, umur 7 (tujuh) tahun</strong></p>
<p>" Bapak, jadi setiap rumah itu ada bapak, ibu dan anak-anaknya ya, " kata si sulung</p>
<p>" Iya, betul nak", jawab bapak</p>
<p>" Kalau begitu, sebaiknya bapak punya isteri lagi, agar di Bandung juga ada ibu, dan di Jakarta ada ibu, " kata si sulung.</p>
<p>" Hmmm...bagus nak, tapi bilang ibu dulu ya, " jawab bapak.</p>
<p><em>Catatan</em> : Si sulung suka menganalisis sejak kecil, dan membuat kesimpulan. Jika disetiap rumah ada sepasang bapak ibu dan anak, maka di rumah Bandung juga harus ada bapak dan ibu.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ternyata bekerja di rumah menyenangkan]]></title>
<link>http://edratna.wordpress.com/2007/04/21/ternyata-bekerja-di-rumah-menyenangkan/</link>
<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 05:58:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>edratna</dc:creator>
<guid>http://edratna.wordpress.com/2007/04/21/ternyata-bekerja-di-rumah-menyenangkan/</guid>
<description><![CDATA[Saat masih kuliah
Waktu tersita untuk kuliah, membuat tugas-tugas, waktu sosialisasi terbatas. Saat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Saat masih kuliah</strong></p>
<p>Waktu tersita untuk kuliah, membuat tugas-tugas, waktu sosialisasi terbatas. Saat itu berangan-angan...hmm...bagaimana ya rasanya kalau sudah bekerja dan punya uang sendiri.</p>
<p><strong>Setelah bekerja</strong></p>
<p>Setelah lulus, kesulitan utama adalah mencari pekerjaan yang cocok dan sesuai minat serta bakat kita. Inginnya sih, bekerja tak perlu ngoyo, dan masih punya waktu untuk meningkatkan kemampuan kita. Kenyataannya, sejalan dengan karir yang meningkat, waktu makin terbatas, kita harus pandai membagi waktu antara bekerja dan waktu untuk berkeluarga.</p>
<p><!--more-->Kalau umur kita dibagi tiga, maka waktu bekerja adalah 2/3 dari umur kita. Dan waktu ini bersamaan dengan waktu kita harus mendidik anak, komunikasi dengan suami agar rumah tangga tetap berjaan baik, serta bagaimana agar pekerjaan kantor tetap berjalan lancar. Saat ini terbayang, bagaimana nantinya setelah mengalami masa tidak aktif bekerja, terbersit kekawatiran akan adanya rasa sepi serta rasa bosan menunggu waktu.</p>
<p><strong>Setelah tidak aktif bekerja</strong></p>
<p>Sepanjang waktu masih bekerja, kita sibuk menyiapkan dana dan kemampuan agar setelah tidak aktif bekerja, kita tidak mengalami kesulitan keuangan. Masalah yang sering dihadapi adalah bagaimana kita mengelola waktu setelah tidak aktif bekerja, menjadi kegiatan yang positif. Lima tahun sebelum saya bebas tugas, mantan atasan saya mengingatkan agar saya menyiapkan diri dan berusaha pindah jabatan ke unit yang tidak terlalu sibuk , yang selain menyita tenaga juga menyita pikiran. Syukurlah saya akhirnya dipindah ke unit yang lebih mengandalkan kemampuan berpikir secara konseptual, dan ternyata ini sangat berharga saat saya tidak aktif bekerja.</p>
<p>Bulan-bulan pertama tidak aktif bekerja (walaupun sebenarnya saya masih menjadi pengurus di suatu perusahaan, tetapi jam kerja lebih fleksibel), saya tidak merasakan kesulitan karena sibuk renovasi rumah yang akan ditinggali setelah tidak tinggal di rumah dinas. Setelah pindah rumah, ternyata beres-beres rumah memerlukan waktu yang lama, dan nggak selesai-selesai juga...syukurlah walau belum tertata rapi, tetapi rumah sudah layak ditinggali. Setelah rumah "agak beres", saya mulai menghubungi teman-teman sekedar <em>say hello</em>, dan disinilah letak perlunya memiliki jejaring serta asah kemampuan selama ini. Di rumah, sambil mengerjakan laporan, saya mulai belajar ngeblog, menulis karangan, yang saat aktif bekerja tak mungkin dapat saya lakukan. Saya mencoba menata buku manajemen, <em>finance</em>, hukum, yang selama ini hanya menjadi acuan jika diperlukan<em>. </em>Ternyata banyak sekali buku di rumah yang bahkan belum pernah saya sentuh, apalagi di baca.</p>
<p>Tanpa diduga, di suatu hari mantan bos saya, yang sekarang menjadi salah satu Direktur di lembaga pendidikan menelepon, dan menanyakan apakah saya mau membantu beliau sebagai pengajar. Waktunya fleksibel, dan disesuaikan dengan kompetensi saya. Tentu saja saya antusias untuk bergabung...dan ternyata tugas pertama adalah mengajar di Aceh.....daerah yang selalu saya dambakan untuk suatu ketika dapat saya kunjungi. Saya percaya betapa Allah swt menyayangi saya, pada saat saya tidak aktif lagi bekerja, saya mendapat tawaran mengajar di wilayah tersebut.</p>
<p>Menjadi pengajar telah saya lakukan sejak tahun 1980, dimulai dengan mengajar yunior saya, diantara jam