<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>kearifan-universal &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/kearifan-universal/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "kearifan-universal"</description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 11:56:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Memahami Bahasa Jiwa : Inspirasi, Ilham, Visi Dan Imajinasi]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=921</link>
<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 08:10:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/07/04/memahami-bahasa-jiwa-inspirasi-ilham-visi-dan-imajinasi/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio Pinandito Motinggo
(Lanjutan Berbincang Dengan Alam)
INSIPRASI ATAU ILHAM
Langkah selanjutny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><a href="http://qitori.wordpress.com/files/2008/07/inspirasi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-925" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/07/inspirasi.jpg?w=300" alt="" width="300" height="156" /></a></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satrio Pinandito Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">(Lanjutan Berbincang Dengan Alam)</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">INSIPRASI ATAU ILHAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Langkah selanjutnya yang berkaitan dengan intuisi adalah inspirasi. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> penyair, penulis, musisi, pemikir, filosof, mampu menggunakan kemampuan ini. Sedangkan orang lain memiliki juga tetapi mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dalam seni, puisi atau musik, dengan inspirasinya dalam beberapa menit seseorang dapat menciptakannya sementara orang lain dalam waktu bertahun-tahun. Ia mengalir alami, sehingga tidak sulit baginya dalam mencipta. Inspirasi itu datang sebelum ditata dan sangat sedikit pengaruh kerja otak dan pikiran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Selain segala sesuatu yang datang melalui inspirasi adalah hidup dan sangatlah indah, sangat harmonis, dibandingkan seni, atau puisi atau musik yang berasal dari otak. Musik para musisi besar di masa lalu seperti Mozart atau Beethoven masih hidup hingga kini. Tak masalah seberapa sering orang mendengarnya, orang masih menikmatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Sementara musik modern yang terasa dibuat-buat tidak memiliki daya tarik. Inspirasi itu datang seperti datangnya intuisi sehingga seorang seniman tidaklah dapat memaksakan diri dalam berkarya kecuali memang ada inspirasi padanya, sehingga karyanya dapat dirasakan sebagai karya yang tidak dibuat-buat melainkan sebuah karya alami.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Demikian pula pada para penyair, seperti Rumi, Hafiz, atau Sa’di.<span> </span>Karya-karya mereka kini telah menjadi bagian dari sebuah budaya. Orang lain akan membutuhkan puluhan tahun untuk menciptakan karya-karya para masterpiece seperti mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">VISI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Langkah selanjutnya setelah inspirasi adalah visi. Visi lebih tinggi ketimbang inspirasi. Kita tidak perlu bermimpi dulu untuk melihat visi. Kita dapat melihat visi ketika jaga. Inilah wawasan batiniah. Ilmu atau pengetahuan itu datang dan masalah pun terpecahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Alam telah memanifestasi ke dalam bentuk yang sangat jelas. Atau seseorang bisa saja berhubungan dengan sesuatu atau orang lain dalam jarak jauh, para psikolog modern menyebutnya sebagai <em>telephaty</em>. Banyak orang salah paham terhadap arti sesungguhnya dari visi, namun perkembangan visi batiniah yang sesungguhnya menandakan kemajuan jiwanya yang besar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">IMAJINASI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Albert Einstein mengatakan, “<em>Imagination is more important than knowledge…</em>”. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Kebanyakan orang menganggap bahwa ilmu pengetahuan atau sains yang didasarkan pada pengetahuan dari berbagai fakta dibuktikan oleh akal dan logika, dan sedikit sekali yang mengetahui bahwa pada mulanya selalu ada intuisi dan imajinasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Semua temuan saintifik berkembang dari kedua hal ini,<span> </span>baru kemudian akal mengambil alih dan logika membantunya. Jadi intuisi dan imajinasi lebih dulu yang mengawali sebuah penelitian atau penemuan hampir setiap pengembangan saintifik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Imagination is the beginning of creation. You imagine what you desire, you will what you imagine and at last you create what you will”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> George Bernard Shaw mengatakan, “Imajinasi adalah awal penciptaan. Anda mengimajinasikan apa yang anda kehendaki, anda menghendaki apa yang anda imajinasikan dan akhirnya anda menciptakan apa yang anda kehendaki” (George Bernard Shaw<strong> </strong><span>: 1856 – 1950)</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manusia masa kini tidak lagi percaya untuk menyandarkan diri mereka pada intuisi, inspirasi atau bahkan imajinasi. Hal ini dikarenakan oleh lingkungan yang sedemikian sudah materialistis sehingga kepercayaan atas daya intuisi, inspirasi dan imajinasi mereka pun pudar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hal ini pun pada akhirnya berpengaruh atas karya-karya seni mereka. Jika mereka adalah seniman karya-karya mereka terasa kering sehingga tidak menyentuh karena tidak muncul dari dari perasaan atau feeling tetapi dari otak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila seseorang terus menerus menggunakan intuisinya, inspirasi dan imajinasi konstruktifnya, maka suatu saat akan datang padanya yang disebut sebagai wahyu. (Wahyu di sini bukan semata-mata yang berhubungan dengan apa yang kebanyakan orang sebut dengan Kenabian.)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Semua makhluk Tuhan, sejatinya memiliki kemampuan ini. Lihat saja banyak sekali ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa "wahyu" tidak hanya semata ditujukan kepada para Nabi dan Rasul. Kepada Maryam as, ibunda Nabi Isa as, misalnya, lihat QS 12 : 15, juga kepada ibu Nabi Musa as, lihat QS 20 : 38, bahkan kepada lebah pun Allah SwT menyampaikan wahyu-Nya, lihat QS 16 : 68. Pada ayat lain pun, wahyu tidak selalu dinisbahkan dari Tuhan saja, syaithan pun bisa saja membisikkan wahyu kepada manusia, lihat ayat QS 6 : 121) *]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dengan demikian makna wahyu di sini bermakna penyingkapan (<em>revelation</em>), di mana Allah SwT menyingkapkan rahasia segala sesuatu baginya. Hal ini merupakan kejelasan wawasan batiniah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Seseorang bisa saja berhubungan dengan orang lain dari jarak jauh tanpa bantuan peralatan komunikasi. Pengetahuan seperti ini bisa datang seketika dan segala problem terpecahkan, apakah itu masalah filosofis, hukum kehidupan, alam ghaib, atau alam yang telah termanifestasikan dalam bentuk yang sangat jelas padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Banyak orang salah paham terhadap arti visi yang sesungguhnya dan bahkan seringkali berpura-pura menjadi seorang visioner. Namun perkembangan visi batin yang sesungguhnya menunjukkan kemajuan jiwa yang besar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">MEMAHAMI BAHASA JIWA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bagaimana mungkin orang yang mengalami atau menerima intuisi atau inspirasi, lalu orang tersebut melihat visi-visi dan menerima wahyu? Di antara kisah para Nabi, ada seorang nabi yang dengan cepat mengenal berbagai bahasa. Ini bukan berarti bahasa Perancis atau Inggeris, Jerman atau Spanyol. Artinya ia bisa mengetahui bahasa jiwa, jiwa bisa berbicara pada mereka, ia dapat berkomunikasi dengan setiap orang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dan arti dari wahyu adalah memahami bahasa jiwa. Jika kita dapat mendengarnya, sebenarnya jiwa kita berbicara. Tidak selalu dari yang kita dengar lewat suara dunia atau suara manusia; tetapi bahkan pohon-pohon atau gunung-gunung pun berbicara kepada kita bila kita mampu mendengar mereka. Ini disebut bahasa vibrasi, bahasa yang tidak dapat dipersepsikan, dan pikiran yang bebas dapat menyerap atau memahaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Misalnya saja musik, bagi seorang musisi musik merupakan bahasa yang mengatakan sesuatu kepadanya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> not rendah dan tinggi, halus dan tajam; semua ekspresif dan mengatakan sesuatu kepadanya. Semua punya arti. Orang yang tidak sekolah musik atau bukan musisi, tidak mengenal bahasa tersebut. Ia bisa menikmati musik tetapi tidak tahu bahasa musik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> bahasa kehidupan, karena kehidupan itu juga musik. Tiap-tiap orang mewakili not dalam musik tersebut dan membuat simponi kehidupan. Yang satu berada dalam irama, sedang yang lain di luar irama. Yang satu menyuarakan not yang benar, sedang yang lain salah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Di sini, tiap-tiap orang membuat atau malah merusak alunan musik tersebut. Wahyu datang dari memahami musik ini. Anda tidak dapat mempelajarinya, anda tidak dapat mengajarinya, tetapi anda dapat mengiramakan hati anda dengan sebuah pitch atau pola nadanya, dari mana memulai hidup dan menikmati musik kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dengan cara seperti ini wahyu dipahami. Ini terjadi bila hati telah terjaga dan hidup, sehingga dapat merasakan vibrasi yang datang dari setiap jiwa, dan setiap kondisi yang memberikan makna tertentu padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> nabi dan orang-orang suci yang telah membawa agama kepada umat manusia, yang telah menginspirasikan tujuan yang lebih tinggi kepada manusia, yang telah membimbing manusia kepada pencapaian spiritual, mereka adalah jiwa-jiwa yang memiliki wahyu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dan yang telah mereka berikan kepada manusia adalah interpretasi dari wahyu-wahyu mereka yang berasal dari musik kehidupan. Tetapi bila seorang komposer tidak cepat-cepat menuliskan musiknya ke atas kertas, akan banyak yang hilang darinya. Demikian juga para nabi terhadap wahyunya. Kata-kata yang kita terima dari para nabi adalah interpretasi dari wahyu yang nabi terima.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Jika semua manusia di dunia mengetahui ruh agama, maka tidak akan ada banyak perbedaan agama dan keyakinan. Mereka akan berpegang pada satu kebenaran. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> begitu banyak keyakinan dan agama, hal ini karena mereka tidak memahami agama. Jika paham, hanya ada satu agama yang ditafsirkan secara berbeda oleh guru umat manusia yang berbeda-beda. 52]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Catatan Kaki:</span></span></p>
<p class="MsoNormal">*] Sebagian mufassir menafsirkan kata  "wahyu"  pada beberapa ayat Quran sebagai ilham.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berbincang Dengan Alam]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=911</link>
<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 06:02:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/07/01/berbincang-dengan-alam/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio Pinandito Motinggo




“It is the province of knowledge to speak and
it is the privilege o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/07/berbincang-dengan-alam2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-913" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/07/berbincang-dengan-alam2.jpg?w=300" alt="" width="300" height="209" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Satrio Pinandito Motinggo</span></strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>It is the province of knowledge to speak and</em></span></p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">it is the privilege of wisdom to listen”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> (Oliver Wendell Holmes; 1809 – 1894)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> “Adalah wilayah ilmu untuk berbicara, sedangkan hak kearifan adalah mendengarkan,”demikian kata <strong>Oliver Wendell Holmes</strong>.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dari sudut pandang mistik, kehidupan dengan segala aspeknya adalah komunikatif jika saja seseorang mengetahui rahasia berkomunikasi dengan alam. Artinya, sesungguhnya alam itu melakukan komunikasi dengan manusia. Hanya saja kebanyakan manusia tidak menyadari kenyataan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Banyak kisah-kisah orang bijak atau para wali yang mana diceritakan bahwa mereka mampu berbicara dengan pohon, tanaman, bahkan bebatuan, gunung dan <span> </span>laut. Kebanyakan orang menganggap kisah-kisah ini hanya legenda, padahal sebagian kisah-kisah itu benar-benar terjadi di berbagai belahan dunia ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Banyak orang percaya bahwa Nabi Sulaiman as memiliki kemampuan berbicara dengan binatang, jin, angin, dan alam lainnya sebagai mukjizat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, namun hanya sedikit orang percaya kalau orang yang bukan nabi pun sebenarnya sanggup melakukan komunikasi seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman as.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dalam kehidupan yang lebih rendah, kita mengakui adanya kemampuan yang kita sebut latihan kecenderungan yang membuat burung bisa terbang dan ikan bisa berenang tanpa belajar terlebih dahulu. Naluri ini juga tampak sebagai intuisi pada makhluk yang lebih rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Banyak saintis hari ini mengatakan bahwa binatang tidak mempunyai pikiran, namun sebenarnya semua makhluk mempunyai pikiran, bahkan tanaman dan tumbuhan pun mempunyai pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Orang-orang yang hidup dekat dengan alam, orang-orang yang bekerja sebagai petani, orang-orang yang hidup menyendiri dan tinggal di antara binatang, mengetahui bahwa binatang sering memberi peringatan akan datangnya sakit atau kematian, datangnya badai atau banjir. Mereka memiliki intuisi. Sebenarnya, mekanisme jasmaniah manusia tentu lebih baik lagi. Dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan berintuisi lebih besar ketimbang hewan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ketika alam berkomunkasi dengan memberikan tanda-tanda tertentu, manusia semestinya lebih dulu memahami atau merasakan tanda-tanda ini ketimbang hewan. Hanya saja karena manusia begitu terserap dalam kehidupan luarnya dan kepada dirinya sebagai obyek dalam kehidupan ini, ia menjadi terbutakan dan tuli dari tanda-tanda tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Itulah sebabnya sangat sulit bagi kebanyakan manusia untuk percaya kepada kemampuan intuisinya dan karenanya kemampuan intuitifnya menjadi lebih tumpul ketimbang makhluk lain yang lebih rendah darinya. Pada tataran tertentu intuisi manusia bisa dikatakan sebagai firasat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Diriwayatkan bahwa <strong>Imam Ja’far al-Shadiq</strong> as ketika menjelaskan ayat al-Qur’an </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Surat</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> al-Hijr ayat 75: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (<em>al-mutawasimin</em>), beliau berkata,”Mereka itu adalah para Imam (Ahlul Bait) as, <strong>Rasulullah saww</strong> juga bersabda, “<em>Waspadalah kalian akan firasat orang beriman! Sesungguhnya mereka melihat dengan cahaya Allah ‘Azza wa Jalla!, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam ayat ”Inna fi dzalika la ayati lil mutawassimin</em> (Quran Surah al-Hijr [15] ayat 75)” 49] </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Berkaitan dengan ini, <strong>Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yazdi</strong> mengatakan bahwa ada orang yang dapat mendengar firman rahasia Allah Swt. Hal seperti itu biasa terjadi. Manusia adalah makhluk yang sedemikian agung sehingga dapat mencapai posisi seperti itu. Sesungguhnya kelompok manusia seperti itu tidak terbatas pada para nabi dan para maksum a.s. saja. 50]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Semakin tajam intuisi seseorang, semakin tajam pula daya tangkap dan daya serapnya terhadap segala tanda-tanda yang datang kepadanya. Ia tidak bersifat personal semata, namun juga umum. Menangkap tanda-tanda bukan hanya berarti memiliki kapasitas menerima, tetapi juga kemampuan menterjemahkannya ke dalam bahasa umum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kemampuan ini juga dapat kita lihat pada orang-orang yang sejak dilahirkan telah diberi anugerah oleh Allah dengan bakat-bakat tertentu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Orang-orang yang dekat dengan alam dalam kesendirian, atau petani yang hidup di pedesaan umumnya memiliki intuisi lebih kuat ketimbang para intelektual yang hidup di tengah kebisingan </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">kota</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ini menunjukkan bahwa hidup yang kita jalani hari ini di kota-kota besar adalah kehidupan yang tidak alami. Maka manusia masa kini pun kehilangan kwalitas-kwalitas intuisinya yang merupakan warisan Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><strong> Leo Tolstoy</strong> mengatakan, “<em>Sangat sering orang-orang yang paling sederhana dan paling sedikit pendidikannya dapat memahami makna kehidupan dengan mudah dan tanpa sadar, sementara banyak ilmuwan kurang memiliki kemampuan semacam ini karena dididik bukan untuk memahami berbagai hal sederhana yang bersifat mendasar bagi seluruh manusia</em>” 51]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Contoh lainnya adalah orang-orang yang baik dan lembut lebih intuitif ketimbang orang-orang yang kasar. Lihatlah wanita! Mereka lebih intuitif ketimbang kaum pria. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Wanita secara alami lebih tanggap, daya penerimaannya yang lebih halus membuatnya lebih intuitif. Ketika kaum pria mencoba membantah, berdalih dan berargumen, kaum wanita pun berkata, “Tetapi saya merasakan ini atau itu” dan perasaannya itu terbukti benar, walau mereka tidak dapat memberikan alasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tiap-tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam merasakan kesan, dan kemampuan ini merupakan langkah awal terhadap intuisi. Semakin baik seseorang, semakin baik pula persepsinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Namun kadang-kadang setiap orang merasakan berbagai kondisi sebuah tempat, watak orang-orang yang ia temui, kecenderungan mereka, motif mereka, hasrat mereka, dan tingkatan evolusi mereka, sebagai kesan-kesan baginya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Bila ini terjadi dan ia ditanya kenapa merasa seperti ini, ia pun tidak selalu dapat memberikan penjelasan. Mungkin ada yang mengatakan dari wajahnya, dari lingkungannya, dari yang telah dikatakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tetapi sebenarnya ia merupakan suatu perasaan yang ada di luar deskripsi. Orang yang bebas, sensitive, cerdas, selalu mendapat kesan ketika melihat seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dengan intuisi seseorang menerima peringatan akan datangnya marabahaya, janji keberhasilan, pertanda kegagalan; jika<span> </span>perubahan terjadi dalam kehidupan ia merasakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tetapi sangat sering manusia karena kurang percaya diri, ia kehilangan kemampuan intuitifnya. Orang sering berfikir bahwa mungkin saja intuisinya tidak benar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Karena intuisinya gagal, iapun mengambil jalan lain. Yakni jalan akal, logika. Dan secara alami intuisinya pun menjadi tumpul. Jadi jika seseorang jarang menggunakan kemampuan ini, maka kemampuan ini pun lambat laun akan hilang. Seseorang yang pada awalnya secara intuitif mampu merasakan, lalu lambat laun kehilangan kemampuan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Hal menakjubkan lainnya yang berkenaan dengan intuisi adalah orang yang dianugerahi dengan intuisi karena keikhlasannya. Jika seseorang bersungguh-sungguh, ikhlas, simpatik, baik, ia akan dikaruniai intuisi. Tetapi jika sifat-sifat ini berkurang, maka akan berkurang pula intuisinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Orang yang tidak memiliki intuisi, akan sulit dalam mencapai tujuan spiritual, karena kepercayaan spiritual tidaklah datang dari pengalaman lahiriah, tidak datang dari akal atau logika, tetapi bersemi dari dalam, dalam bentuk intuisi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dan bila kemampuannya tidak dikembangkan, maka kepercayaannya pun tidaklah kuat. Seseorang yang kurang kuat intuisinya, maka kurang pula kepercayaannya. Jadi jika ia memiliki kepercayaan, kepercayaannya itu lemah karena tidak dibangun di atas fondasi suara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Bersambung)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kearifan Universal Juni 2008]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=888</link>
<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 03:30:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/06/23/kearifan-universal-juni-2008/</guid>
<description><![CDATA[
“Jika manusia berpikir bahwa ia dihadapkan pada kehancuran, maka kematian sedang menunggunya sete]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/06/kearifan-universal-juni.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-889" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/06/kearifan-universal-juni.jpg?w=250" alt="" width="250" height="187" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">“<em>Jika manusia berpikir bahwa ia dihadapkan pada kehancuran, maka kematian sedang menunggunya setelah kehidupan ini, hidup menjadi tidak memiliki arti apa-apa baginya. Sebenarnya, yang membuat hidup manusia menjadi menyenangkan dan membahagiakan; segala tindakannya menjadi menyenangkan, memberikan kehangatan pada hatinya, dan memperluas cakrawala tidak lain adalah wahyu dan agama yang dianugerahkan kepada manusia — keyakinan kepada kehidupan yang abadi; </em></span><!--more--><span style="font-size:10pt;"><em>keyakinan akan kehidupan kekal (immortality) manusia, keyakinan bahwa kalian, wahai manusia bukanlah makhluk yang mati, kalian lebih agung daripada dunia materi ini, dunia materi ini tak lebih dari wadah yag sempit dan tidak permanen untukmu, tempat kelahiran bayimu — sebaliknya era kecerahan dan keagunganmu masih jauh di depan</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">~ <strong>Victor Hugo</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;">Wahai kamu yang berusaha untuk lari</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">dari kematian dalam ketakutanmu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">Kamu sendirilah yang membuat dirimu takut,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">gunakan akalmu!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">Raut mukamulah yang menakutkan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">bukan raut muka kematian</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">Jiwamu adalah laksana sebuah pohon,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;">sedangkan daunnya adalah kematian</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">~ <strong>Jalaluddin Rumi</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;">“<em>Saya tahu bahwa saya ditakdirkan untuk mati, apakah saya harus menciptakan perlengkapan untuk diri saya sendiri di dunia ini? Di dunia di mana segalanya berubah dan berlalu dan saya sendiri akan segera mati, apa gunanya kesenangan-kesenangan itu? Emile, anak saya, jika saya kehilangan dirimu, apakah saya masih memiliki yang lain? Meskipun demikian, saya mesti mempersiapkan diri saya sendiri untuk menyambut akhir yang tidak bisa ditawar-tawar, karena tak seorang pun yang bisa menjamin saya akan mati lebih dahulu daripada kamu Sebab itu, jika kamu ingin hidup di dunia ini dengan bahagia dan logis, lengkapilah hatimu hanya dengan keindahan-keindahan abadi, berusahalah untuk membatasi nafsumu dan tunaikan kewajibanmu dengan lebih bermartabat daripada orang lain. Carilah hal-hal yang tidak melanggar hukum moralitas, dan biasakan dirimu tidak merasa terbebani ketika kehilangan sesuatu. Jangan terima sesuatu kecuali hati nuranimu mengizinkannya. Jika melaksanakan ini semua, pasti kamu akan bahagia, jangan terlalu mengejar kesenangan-kesenangan dunia ini</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;">~ </span><strong><span style="font-size:10pt;">Jean Jacques <span>Rousseau</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong><em><span style="font-size:10pt;">“Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan , maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;">~ Al-Quran</span></strong><span style="font-size:10pt;"> </span><span style="font-size:10pt;">Surat</span><span style="font-size:10pt;"> Al-An’am [6] ayat 48</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;"> </span></em></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rahasia Hidup]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=805</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 02:42:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/05/14/rahasia-hidup/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio P. Motinggo
“He who is not everyday conquering some fear has not learned the secret of lif]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/05/secrets-of-life.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-806" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/05/secrets-of-life.jpg" alt="" width="235" height="216" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span>Satrio P. Motinggo</span></span></strong><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“He who is not everyday conquering some fear has not learned the secret of life.”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ralph Waldo Emerson mengatakan, “<em>Barangsiapa yang setiap hari tidak dapat menundukkan rasa takutnya maka dia tidak akan bisa belajar rahasia hidup</em>.” 46]</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sesungguhnya sikap manusia itu sendiri merupakan rahasia hidupnya, karena keberhasilan dan kegagalannya bergantung pada sikap yang diambilnya. Sikap yang saya maksudkan disini adalah gerak hati yang seperti baterai di balik mekanisme pemikiran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sikap manusia bukanlah pemikiran manusia, tetapi sesuatu yang berada di belakang pemikiran manusia yang mendorongnya ke depan. Sesuai dengan kekuatan gerak hatinya, pemikiran menjadi terealisasi. Di balik setiap kata manusia berbicara, sikap adalah sesuatu yang paling penting dalam membawa apa yang manusia katakan kepada prestasi keberhasilannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Elbert Hubbard, seorang penulis berkebangsaan Amerika mengatakan, “<em>Karakter atau watak kita merupakan hasil dari dua hal : sikap mental dan jalan di mana kita habiskan waktu kita</em>” 47]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Menyangkut hal ini ada 3 aspek yang berbeda yang harus manusia amati. Aspek pertamanya adalah sikapnya terhadap dirinya, apakah ia memperlakukannya sebagai teman atau sebagai musuh, apakah ia harmonis dengan dirinya atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Tidak setiap manusia harmonis dengan dirinya sendiri, dan tidak setiap memperlakukan dirinya sebagai teman, meskipun ia menganggapnya demikian. Karena pada umumnya manusia adalah musuh bagi dirinya sendiri. Ia tidak mengenal dirinya, ini tampak dalam perbuatannya. Kita dapat simak dalam Al-Qur’an, ‘<em>Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh</em>.’ (QS al-Ahzab (33) : 72)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Bodoh karena ia bahkan tidak mengenal dirinya sendiri, dan zalim karena betapa sering ia menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Selain zalim kepada orang lain, ia terlebih dahulu bersikap zalim terhadap dirinya, dan sikap zalim ini adalah karena kebodohannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Imam Ali as mengatakan, “<em>Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Manusia mungkin memandang dirinya sangat praktis dan pintar, tetapi sebenarnya ia menjadi musuh terhadap dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sa’di bahkan berkata, ‘<em>Kepintaranku justru sering menjadi musuhku yang paling buruk</em>.’ Kepintaran duniawi tanpa iman dan kekuatan serta kepercayaan, biasanya hanyalah angan-angan semata. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Adalah pengembangan kepercayaan hati, pengembangan iman, yang pertama-tama membuat manusia bersahabat kepada dirinya. Dan ia menjadi dirinya sendiri dengan membuat wujud lahiriahnya menjadi harmonis dengan wujud batiniahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Karena ketika wujud batiniah mencari sesuatu, sedangkan wujud lahiriah mencari yang lain, maka ada yang tidak harmonis di dalam dirinya. Ketika hasratnya yang lebih tinggi melangkah ke satu arah, sementara hasratnya yang lebih rendah melangkah ke arah yang lain, akibatnya akan seperti letusan vulkanik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Dua sisi dari wujudnya sendiri yang seharusnya menyatu dalam cinta, malah bertubrukan dan mengakibatkan kebakaran. Apa yang menyebabkan manusia melakukan bunuh diri? Apa yang membuat orang sakit, depresi dan putus asa? Karena sering terjadi konflik di dalam diri manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Maka pertama-tama ia harus bersikap bersahabat, baik dan harmonis pada dirinya. Bahkan dalam masalah-masalah spiritual manusia tidak boleh bertentangan dengan dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ketika seseorang berpikir tentang berbagai persoalannya dengan teman-temannya, dengan kerabatnya, dengan orang-orang yang berhubungan dengannya dalam kehidupan sehari-hari, ia akan melihat bahwa ia menarik hati atau menolak mereka bergantung kepada sikapnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Rahasia magnetisme bergantung kepada apakah ia memandang dirinya sebagai teman, musuh ataukah orang asing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Demikian juga halnya dengan kejujuran an ketidakjujuran seseorang, ia tercermin pada perbuatannya. Jika sikapnya tidak benar, maka sikap salah ini tercermin pada apa yang dikerjakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Karenanya benar dan salah bukan saja ajaran relijius, tetapi sesuatu yang dipaksakan kepada manusia. Ia adalah kebenaran saintifik dan logika. Karena dengan sikap yang salah tidak ada yang benar yang dapat dikerjakan, dan dengan sikap yang benar tidak ada sikap yang salah yang dapat dikerjakan, bahkan jika ada berbagai macam kesulitan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Di dalam hati kita tersembunyi suatu kekuatan yang menakjubkan. Ia adalah kekuatan ilahi, kekuatan yang suci, dan dapat dikembangkan dan dihargai dengan menjaga sikap kita yang benar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Tidak mudah menjaga sikap yang benar, karena berbagai pengaruh kehidupan di bumi ini yang begitu penuh dengan perubahan, godaan dan kebatilan, dan terus-menerus mengganggu<span> </span>kestabilan sikap kita. Kurangnya ketetapan hati akan menyebabkan kegagalan dan kekecewaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Perkataan Hindustani mengatakan, ‘Kestabilan sikap akan menjaga keberhasilan.’ Dan ketika kita memasuki alam spiritual, terdapat juga aturan yang sama. Jadi bukan doa yang manusia panjatkan, bukan rumah tempat ia beribadah, bukan keyakinan yang ia yakini, yang diperhitungkan dalam agama adalah sikap seseorang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana membedakan sikap yang benar dari yang salah. Ini semuah melihat segalanya ketika mata terbuka. Bila ia tidak menyadari sikapnya salah, berarti pada saat itu matanya tertutup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Manusia tidak suka untuk mengakui sikap salahnya pada dirinya sendiri. Ia takut akan kesalahan-kesalahannya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Tetapi sifat manusia pada umumnya tidaklah demikian, bahkan sebaliknya. Ia lebih tertarik untuk mengkritik orang lain. Kesalahan manusia tak habis-habisnya, kesadaranlah yang mengoreksinya, membuat dirinya menjadi lebih baik, dan mengambil sikap yang benar, inilah rahasia keberhasilan, dengan sikap ini manusia dapat mencapai tujuan setiap jiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Menurut sudut pandang Sufi, hanya ada satu guru sejati, Dialah Allah. Tiada seorang pun yang dapat mengajari orang lain. Orang melakukannya terhadap orang lain adalah untuk memberi mereka pengalamannya sendiri agar orang itu sukses. 48]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Darcy E Gibbons konon pernah mengatakan,”<em>Sukses itu hanyalah masalah sikap</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hidup Adalah “Peperangan” Yang Tiada Henti]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/?p=753</link>
<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 02:31:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2008/04/18/hidup-adalah-%e2%80%9cpeperangan%e2%80%9d-yang-tiada-henti/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio P. Motinggo
 The optimist proclaims that we live in the best of all possible worlds and the ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://qitori.files.wordpress.com/2008/04/peperangan-yang-terus-menerus.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-754" src="http://qitori.wordpress.com/files/2008/04/peperangan-yang-terus-menerus.jpg" alt="" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Satrio P. Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> The optimist proclaims that we live in the best of all possible worlds and the pessimist fears this true. </span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(James Branch Cabell)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di dalam “peperangan” hidup yang berkelanjutan ini, orang yang berpendirian teguh pada pertahanannya akan keluar sebagai pemenang. Bahkan dengan segala kekuatan dan pemahamannya, jika seseorang merasa kurang memiliki harapan dan kurang berani, maka ia akan gagal. Sebenarnya apa yang membawa kegagalan di dalam peperangan ini? Jawabannya : sikap pesimis!</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Dan yang membantu seseorang di dalam memenangkan peperangan hidup ini, betapa pun sulitnya adalah sikap optimis. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> orang-orang di dunia ini yang melihat hidup ini dengan pandangan yang pesimis. Ia hanya melihat sisi gelap kehidupan ini saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di dalam bukunya yang berjudul <em>Silver Stallion</em>, James Branch Cabell mengatakan, “<strong><em>Orang yang optimis menyatakan bahwa kita hidup di tempat terbaik di dunia yang serba mungkin. Sebaliknya orang yang pesimis justru takut akan kenyataan ini</em></strong>”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Meski ada faedahnya juga untuk melihat sisi sulitnya, namun hukum psikologi mengatakan bahwa sekali seseorang terkesan dengan keadaan yang sulit, ia akan kehilangan harapan dan keberanian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Dengan demikian sikap optimis itu baik sepanjang mata kita (baca : kewaspadaan) terbuka. Tetapi jika mata kita tertutup, maka sikap optimis itu justru dapat membahayakan diri kita sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Selain itu, di dalam peperangan ini kita juga membutuhkan latihan. Latihan ini merupakan kontrol atas organ-organ fisik dan kemampuan pikiran. Karena jika seseorang tidak dipersiapkan dalam peperangan ini, betapapun berani dan optimisnya, ia tidak akan berhasil. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Hal lainnya adalah mengenal sesuatu tentang pertempuran ini, seperti : mengetahui kapan untuk mundur dan kapan untuk maju. Karena jika seseorang tidak tahu kapan ia harus mundur dan selalu saja ingin terus maju, maka ia akan selalu berada dalam keadaan berbahaya dan menjadi korban peperangan hidup ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Banyak orang yang mabuk atau lupa diri dalam peperangan hidup ini, ia terus saja berperang dan berperang hingga akhirnya menemui kegagalan. Biasanya anak-anak muda, yang kuat dan penuh harap, yang memiliki sedikit kesulitan sering berfikir tidak lain kecuali berperang melawan siapa saja yang ada di hadapannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Mereka tidak tahu bahwa tidaklah selalu arif untuk senantiasa melangkah maju. Yang paling pertama dibutuhkan di dalam peperangan ini adalah mempertahankan posisi, baru kemudian secara bertahap maju.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Kita dapat melihat hal serupa di dalam persahabatan, bisnis, atau dalam profesi. Orang yang tidak memahami rahasia hukum peperangan tidak akan dapat meraih kesuksesan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di samping itu ia harus melindungi dirinya dari segala sisi. Sangat sering orang yang sudah lupa dalam peperangan kemudian tidak melindungi dirinya. Betapa banyak orang di persidangan dan kasus-kasus hukum hanya karena hal-hal kecil mau menghabiskan uang mereka! Dan di akhir persidangan mereka kalah dan merugi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Selain itu betapa banyak di dunia ini yang kehilangannya melebihi daripada perolehannya karena angan-angan dan kesombongan mereka! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> saat-saat ketika seseorang harus memberi,<span> </span>ada saat-saat ketika seseorang harus santai dan ada saat-saat ketika seseorang harus kuat-kuat memegang tali kendali kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> juga saat-saat ketika seseorang harus gigih dan ada saat-saat ketika seseorang harus lunak. Hidup itu seperti “kemabukan” walaupun orang mengira bahwa ia sedang bekerja demi kepentingannya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Mungkin hanya satu dari seribu orang yang benar-benar bekerja. Alasannya adalah orang terlalu hanyut dan terpikat dengan apa yang sedang mereka usahakan sehingga menjadi lupa atau mabuk olehnya dan mereka pun keluar dari rel kesuksesan yang sesungguhnya. Sangat sering orang mengambil keuntungan tertentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain karena tidak mempedulikan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Yang harus dilakukan adalah melihat ke sekeliling dan tidak hanya pada satu arah saja. Mudah untuk jadi kuat, juga mudah untuk jadi baik, tetapi sangatlah sulit untuk menjadi arif. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Yang ariflah yang sungguh-sungguh menjadi pemenang dalam hidup ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “<em>Kadang seorang ‘arif (al-hakiim) itu adalah seorang nabi</em>” 74] </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">SIFAT ALAMI KEHIDUPAN </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sifat alami kehidupan ini merupakan ilusi. Di balik keberuntungan ada kerugian, di balik kerugian ada keberuntungan. Menjalani kehidupan yang serba ilusi ini sangatlah sulit sehingga seseorang harus menyadari apa yang benar-benar baik baginya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Bahkan orang arif sekalipun, karena kearifannya itu dituntut oleh hidup sekaligus juga oleh peperangannya. Semakin ia memberi kepada kehidupan, semakin banyak pula kehidupan menuntut padanya. Maka di sini ada peperangan lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Tidak diragukan bahwa orang ariflah yang beruntung pada akhirnya, walaupun tampaknya merugi. Dimana orang awam tidak memberi, orang arif akan memberi ratusan kali. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan mereka bersembunyi di balik kegagalan mereka. Tetapi bila kita ingin membandingkan keberhasilan orang awam dengan orang arif, maka keberhasilan orang arif jauh lebih besar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di dalam hidup ini dibutuhkan “baterai”. Dan baterai tersebut adalah kekuatan kehendak. Dan di dalam “peperangan” hidup ini juga dibutuhkan angkatan bersenjata. Angkatan bersenjatanya adalah pemikiran dan tindakan yang bekerja secara psikologis untuk meraih sukses. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Misalnya orang yang setiap pagi berkata pada dirinya sendiri, ‘Setiap orang menentangku! Tidak ada yang suka kepadaku! Semuanya salah! Tidak ada yang adil! Semuanya gagal! Tidak ada harapan!” Orang seperti ini, ketika keluar dari rumahnya membawa pengaruh perkataan atau kata hatinya itu dan semua itu akan senantiasa menyertainya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Kemana pun ia pergi, apakah ia berbisnis, menjalani profesinya, atau kemana pun, pengaruh buruk itu akan terus membuntutinya dan akhirnya dia akan menemui kegagalan dan kekeliruan. Tiada lagi yang tampak berharga di hadapannya, padahal dimana-mana ada jalan kembali untuknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Selain itu, orang arif mengetahui rahasia, dan rahasia itu adalah bahwa sifat alami manusia itu cenderung meniru (<em>imitative</em>). Misalnya orang sombong, ia akan selalu menonjolkan kecenderungan sifat sombongnya kepada orang-orang di sekitarnya, namun di hadapan orang yang rendah hati, orang sombong juga dapat menjadi rendah hati, karena orang rendah hati akan mengeluarkan kerendahhatiannya kepada orang sombong tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Dari sini kita dapat melihat bahwa dalam peperangan hidup orang dapat memerangi kesombongan dengan kesombongan, tetapi juga dapat dengan kerendahhatian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Dari sudut pandang orang bijak, sifat alami itu kekanak-kanakan. Jika seseorang berdiri di tengah keramaian, dan berlaku sebagai penonton, ia akan melihat banyak anak-anak sedang bermain di </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Mereka sedang bermain, sedang berkelahi, sedang bertepuk tangan, sedang saling mengganggu untuk hal-hal yang sepele. Demikianlah orang-orang arif dalam memandang kehidupan ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Peperangan hidup tampak kecil dalam pandangan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang hidup ini tidak selalu datang dengan berperang, tetapi dengan memandangnya dengan mata terbuka lebar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Seorang pejuang bukanlah orang yang tidak sabaran, yang tiba-tiba kehilangan wataknya, atau yang tidak memiliki kontrol atas denyut nadinya, atau yang siap melepas harapan dan keteguhan hatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Pejuang yang sesungguhnya adalah yang dapat menanggung, yang memiliki kapasitas besar untuk bersikap toleran, yang memiliki kedalaman di dalam hatinya untuk mencerna segala hal, yang pandangannya cukup jauh untuk mencapai pemahaman atas segala sesuatu. Ia sangat berkeinginan memahami orang lain dan membantu mereka untuk dapat memahami.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Mungkin ada yang bertanya, bagaimana membedakan pejuang yang arif dan pejuang yang kurang berani dalam peperangan hidup ini? Segala sesuatu dapat dibedakan lewat hasilnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> pepatah Inggeris terkenal bahwa yang baik akan berakhir baik. Jika di akhir peperangan orang yang kalah benar-benar telah ditaklukkan, sudah pasti itu karena melalui kearifan dan bukan melalui keberanian semata-mata. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Seringkali pula keberanian tidak lain di akhirnya mengarah kepada kekecewaan. Ketahuilah bahwa keberanian adalah satu hal, tetapi pengetahuan tentang peperangan adalah hal lain. Orang yang berani tidak selalu menang. </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> pemenang itu mengetahui dan memahami dan mengenal hukum kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">APAKAH SENSITIFITAS ITU?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Apakah sensitifitas atau kepekaan itu? Kepekaan adalah kehidupan itu sendiri. Oleh karena hidup itu memiliki sisi baik dan sisi buruk, serta memiliki kepekaan. Jika seseorang berharap ingin memiliki segala pengalaman hidup, maka ia harus memiliki kepekaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Jika seseroang ingin mengetahui, memahami dan mengapresiasi semuanya adalah indah, dan tidak tertarik kepada depresi, kesedihan, dan kesengsaraan dunia, ia harus memiliki kepekaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Orang bisa menjadi begitu sensitif sehingga ia terluka hatinya oleh orang lain, atau merasakan bahwa setiap orang menentangnya, berusaha untuk menyalahinya. Hal ini berarti ia sedang menyalahgunakan kepekaannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sebelum menjadi sensitif ia harus menyadari bahwa di dunia ini ia sedang berada di tengah anak-anak, di tengah orang-orang yang sedang mabuk kepayang. Ia harus melihat segala yang datang padanya sebagai tindakan anak-anak dan orang-orang mabuk, maka kepekaannya dapat bermanfaat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Jika di dalam kepekaan tidak terdapat kekuatan kehendak, maka hal ini juga berbahaya. Tidak ada yang dapat berkembang secara spiritual tanpa memiliki kepekaan. Tak syak lagi bahwa kepekaan adalah sebuah perkembangan manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Akan tetapi jika tidak dipergunakan secara benar, ia bisa sangat merugikan. Orang yang sensitif dapat kehilangan harapan dan keberanian lebih cepat dari orang lain. Orang sensitif pun dapat dengan cepat mencari teman, tetapi dapat juga dengan cepat menolaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Orang sensitif siap untuk sakit hati dan siap juga untuk mengambil hati setiap orang dan kehidupan bisa tak tertahankan baginya. Jika seseorang tidak sensitif berarti ia tidak hidup sepenuhnya dan oleh karenanya ia mesti sensitif atau peka namun juga jangan berlebihan. <em><strong>Harus ada keseimbangan antara kepekaan dan kekuatan-kehendak.</strong></em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kekuatan kehendak harus menyanggupkan seseorang untuk menampung semua pengaruh, semua kondisi, semua serangan yang ia temui dari pagi hingga malam. Dan kepekaan harus menyanggupkan seseorang untuk merasakan hidup, mengapresiasinya, dan hidup dalam keindahan kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Peningkatan kekuatan-kehendak adakalanya dapat meyakinkan seseorang secara salah, dan ini berbahaya meskipun bahaya itu ada dimana-mana. Bahkan di dalam kesehatan saja ada bahaya, tetapi kita tidak harus sakit. Maka seseorang harus memiliki keseimbangan antara kekuatan dan kearifan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Jika kekuatan<span> </span>bekerja tanpa cahaya kearifan di baliknya, ia akan selalu menemui kegagalan. Karena di akhirnya kekuatan itu menjadi buta. Namun apa gunanya orang arif yang tidak memiliki kekuatan amaliah dan kekuatan pemikiran? Ini menunjukkan kekuatan dibutuhkan kearifan dalam peperangan hidup ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Yang paling baik dalam hidup ini adalah menjadi orang yang peka untuk merasakan kehidupan ini dan keindahannya serta mengapresiasinya, tetapi pada saat yang sama memandang bahwa jiwa itu barsifat Ilahiah, sementara yang selainnya asing. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Segala sesuatu yang bersifat duniawi adalah barang asing bagi jiwanya. Semua itu tidak menyentuh jiwanya. Bila objek-objek itu datang ke depan mata, maka semua menjadi visi bagi mata, dan jika semua itu berlalu dari mata, mata pun menjadi bening. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Oleh karena itu pikiran harus diisi dengan keindahan, semua yang indah. Karena seseorang dapat mencari Tuhan dengan keindahan-Nya, maka selainnya pun terlupakan. Dengan mempraktekkan ini setiap hari, melupakan semua yang tidak menyenangkan, yang buruk, dan hanya mengingat yang indah-indah, yang membahagiakan, ia akan menghanyutkan dirinya ke dalam arus kebahagiaan. 75] </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalan Pencapaian Bagian ke-2]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/12/26/jalan-pencapaian-bagian-ke-2/</link>
<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 10:14:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/12/26/jalan-pencapaian-bagian-ke-2/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio P. Motinggo
Fortunate indeed, is the man who takes exactly the right measure of himself, and]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="jalan-pencapaian2.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/12/jalan-pencapaian2.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/12/jalan-pencapaian2.thumbnail.jpg" alt="jalan-pencapaian2.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satrio P. Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Fortunate indeed, is the man who takes exactly the right measure of himself, and holds a just balance between what he can acquire and what he can use. </span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[Anonymous] </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Sebuah aforisma yang tidak diketahui darimana asalnya menyebutkan bahwa,”Sungguh beruntung orang yang menimbang dirinya dengan benar, dan menyeimbangkan antara apa yang dapat ia peroleh dan apa yang dapat ia manfaatkan.”</span><!--more--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Hal ini mungkin bisa dihubungkan dengan rahasia kerja seluruh semesta yang berada dalam dualitas alaminya. Dalam segala aspeknya, dua kekuatan sedang bekerja dan tindakan kedua-duanya adalah menyeimbangkan kehidupan. Oleh karenanya, dalam jalan pencapaian, kekuatan yang mengejawantah sebagai antusiasme atau tindakan, tidaklah cukup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Pengetahuan dan kapasitas kerja juga dibutuhkan. Sangat sering seseorang gagal dalam melangkah dengan segala antusias dan kekuatan kehendak (<em>power of will</em>). Tidak diragukan lagi bahwa kekuatan sangat diperlukan dalam pencapaian, tetapi akan sia-sia jika tidak disertai pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kekuatan yang saya maksudkan adalah kekuatan dengan segala aspeknya. Semua kekuatan yang seseorang miliki dalam kehidupan lahiriah, dan kekuatan pikiran (<em>power of mind</em>) serta raga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kekuatan pikiran sering disebut sebagai kekuatan kehendak. Manusia seringkali gagal karena kurangnya pengetahuan, tetapi tidak adanya kekuatan pun akan membuat manusia gagal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Jika sebuah obyek ditarik dari dua sisi, baik oleh kekuatan maupun pengetahuan, maka tidak akan ada juga keberhasilan. Kerja sama antara dua kekuatan inilah yang merupakan rahasia atas segala keberhasilan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Betapa pun kecilnya keberhasilan itu, merupakan satu langkah menuju sesuatu yang lebih besar. Dan kegagalan, betapa pun kecilnya, akan mengarah kepada sesuatu yang lebih buruk.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Janganlah menilai keberhasilan dari nilai lahiriahnya. Keberhasilan harus dinilai dari sisi persiapannya. Dan kegagalan, betapa pun kecilnya, memberi kesan yang tidak diinginkan di dalam diri seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ini menunjukkan perlunya menjaga keseimbangan antara kekuatan dan pengetahuan. Di antara nilainya yang paling besar adalah usahanya dalam mengembangkan kekuatan dan sekaligus pengetahuan untuk mencapai sasarannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ada dua orang yang sudah lelah menjalani hidup: orang yang bangkit keluar dunia, dan orang yang jatuh terperosok ke dalamnya. Orang yang pertama telah mencapai sasarannya, tetapi kemudian jika ia meninggalkan dunia ini, ia tidak puas dengan dunia lain apa pun. Penolakannya terhadap hal-hal duniawi tidak bermakna apa-apa. Penakluk kehidupan dunia adalah orang-orang yang selalu berusaha memperjuangkan keinginannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tetapi juga bukan berarti untuk mencapai keberhasilan manusia harus egois, memikirkan dirinya sendiri dan tamak. Seringkali manusia menutup mata terhadap segala sesuatu yang berada di luar jalannya. Ia tidak mau menoleh ke kiri atau ke kanan. Ia menjadi seperti robot. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Orang-orang sukses seperti ini tidaklah maju secara spiritual. Ini berarti mereka tidak melanjutkan jalan keberhasilannya. Bahkan sebenarnya ia berhenti atau berdiri di tempat. Dalam realitas semua jalan mengarah kepada tujuan yang sama; baik bisnis, profesi, sains, seni, agama maupun filsafat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Bila seseorang tidak sampai kepada tujuan yang sesungguhnya, ini bukan karena ia telah mempersiapkan satu jalan ke jalan lain, tetapi karena mereka tidak melanjutkan jalan yang sedang mereka tempuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Seringkali orang-orang yang kurang dalam pengetahuan dan tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan, justru merusak tujuan mereka sendiri. Alih-alih ingin membangun malah menyebabkan kerusakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kegagalan terbesar manusia adalah mereka mengira bahwa merekalah yang paling tahu. Bila berbicara dengan orang lain, ia mengira orang itu cuma tahu setengah. Bila bicara dengan orang yang lain lagi, ia mengira orang itu cuma tahu seperempat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ada juga beberapa orang yang tidak bersandar pada pengetahuan yang mereka miliki, sehingga bergantung kepada nasehat orang lain. Oleh karenanya, keberhasilan atau kegagalannya, serta pemikirannya, bergantung kepada nasehat orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Maka yang paling sulit dalam hidup sebenarnya adalah memiliki kekuatan dan pengetahuan, dengan keduanya memperoleh visi yang jelas. Dan sebaik-baiknya jalan dalam menjaga visi yang jelas adalah dengan menjaga keseimbangan di antara keduanya, yaitu kekuatan (<em>power</em>) dan pengetahuan (<em>knowledge</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Umumnya manusia bersifat labil. Ia mudah kehilangan keseimbangannya. Ia harus berusaha memutuskan apakah ia harus lebih condong kepada kekuatan dan tidak meningkatkan pengetahuannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Misalnya mungkin ia seorang pebisnis. Dengan kekuatan kehendaknya ia berusaha mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan untuk apa nantinya. Ia hanya memiliki kekuatan ‘Saya harus sukses’. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Semua energi ia kerahkan untuknya tanpa berpikir tentangnya. Dengan cara demikian ia mencapai sukses. Tetapi akan selalu ada bahaya. Maka seseorang berpikir seribu kali sebelum mengambil langkah. Yang harus ia lakukan adalah; jika ia mengambil satu langkah untuk kekuatan, ia juga mengambil satu langkah lagi untuk pengetahuan, maka akan ada keseimbangan, kehidupannya pun akan berirama dan stabil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Yang mesti selalu diingat adalah bahwa dalam jalan pencapaian seseorang pertama-tama harus kuat memikul beban dalam mencapai hasratnya. Ini berarti ia harus mengukur kemampuannya terlebih dahulu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Padahal, sangat sering ambisi seseorang berlari lebih cepat melebihi kekuatan atau kearifannya (<em>wisdom</em>). Sebelum berpikir apakah ia layak meraihnya ataukah tidak, karena dengan tidak berpikir seperti ini manusia sering mengalami kegagalan. Dengan berpikir, manusia akan mudah mencapai apa yang ia inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dalam proses pencapaian ada empat tahapan: </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tahap pertama adalah obyek yang ingin ia capai itu mesti jelas di dalam pikirannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kedua, harus ada alasan bagaimana mewujudkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ketiga, materi apa saja yang dibutuhkan untuk mencapainya. Keempat adalah menyusun atau membangun obyek tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tema utama seluruh penciptaan adalah pencapaian. Dalam perjuangan jiwa di dunia ini hanya ada satu dorongan hati, ia adalah Kehendak Ilahi. Orang yang mengetahui berbagai urusannya dengan jelas, akan dapat menyelesaikannya dengan benar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Rahasia pencapaian terletak dalam realisasi diri. Dalam hal ini diperlukan baik dorongan hati untuk mencapai sesuatu, maupun kontrol atas dorongan hati tersebut. Sangat sering seseorang kehilangan kesempatan dalam mencapai sesuatu karena terlalu bersemangat hingga kehilangan keseimbangannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Pada saat yang sama kekuatan dorongan hati merupakan kekuatan besar dan orang yang tidak memiliki kekuatan di dalam dorongan hatinya akan kesulitan dalam meraih pencapaiannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Maka ia juga harus menjaga keseimbangan antara dorongan hati (<em>impulse</em>) dan kontrol. Artinya, harus ada dorongan hati dan harus ada juga kontrol terhadapnya. Orang yang sangat senang menikmati kekayaannya harus menyadari bahwa semua itu akan segera sirna dari hadapannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dalam jalan pencapaian juga dibutuhkan kepercayaan. Semakin besar kepercayaan seseorang semakin besar pula daya penarikannya atas obyek yang ingin dicapai. Tetapi juga tidak dengan semangat yang berlebihan, karena sikap ini justru membuat orang mabuk dan kehilangan kontrol, maka ia pun akan melakukan kesalahan yang berakibat kegagalan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kebanyakan pikiran manusia seperti anak-anak, mereka tidak tahu apa yang hendak mereka capai. Satu menit mereka berpikir begini, satu menit kemudian mereka sudah berpikir yang berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tidak seorang pun yang bisa bergantung kepada orang seperti ini. Layaknya burung, ia enggan hinggap di dahan yang senantiasa bergerak. Orang yang tidak mengenal pikirannya sendiri tidaklah dapat membantu orang-orang di sekitarnya. Ia hanya akan membuat mereka terganggu.<em> <span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> “Apakah sifat alami<span> </span>pikiran itu? Yang disebut sebagai pikiran adalah kekuatan yang menakjubkan di dalam Diri. Pikiran <span> </span>melahirkan segala pemikiran. Terlepas dari berbagai pemikiran, tidak ada yang seperti pikiran. Oleh karenanya, pemikiran adalah sifat alami dari pikiran. Terlepas dari segala pemikiran, tidak ada entitas (kesatuan wujud lahiriah) yang merdeka yang dinamakan dunia. Dalam tidur yang nyenyak, tidak ada pemikiran <span> </span>dan tidak ada dunia. Dalam keadaan jaga dan mimpi, tidak ada pemikiran, dan juga tidak ada dunia.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bunda Teresa: Kearifan Universal (1)]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/11/23/bunda-teresa-kearifan-universal-1/</link>
<pubDate>Fri, 23 Nov 2007 07:10:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/11/23/bunda-teresa-kearifan-universal-1/</guid>
<description><![CDATA[
Loneliness and the feeling of being unwanted is the most terrible poverty.
Kesepian dan rasa tidak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="mothertheresa.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/11/mothertheresa.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/11/mothertheresa.thumbnail.jpg" alt="mothertheresa.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Loneliness and the feeling of being unwanted is the most terrible poverty.</span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kesepian dan rasa tidak dibutuhkan merupakan kemiskinan yang paling parah.</span></em><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">~ Bunda Teresa</span></strong><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">The greatest disease is not TB or leprosy; it is being unwanted, unloved and uncared for.</span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penyakit yang paling mengerikan itu bukan TBC atau lepra; tetapi rasa tidak dibutuhkan, tidak dicintai, dan tidak dipedulikan</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.<br />
~ <strong>Bunda Teresa</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">The world today is hungry not only for bread but hungry for love, hungry to be wanted, hungry to be loved...</span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dunia saat ini bukan hanya kelaparan dari roti tetapi (juga) lapar untuk mencintai, lapar untuk dibutuhkan dan lapar untuk dicintai…<span> </span></span></em><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">~ Bunda Teresa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">We can cure physical disease with medicine, but the only cure for loneliness, despair and hopelessness is love.</span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kita dapat mengobati penyakit fisik dengan obat medis, tetapi penyembuhan bagi rasa kesepian, dan rasa putus asa adalah cinta</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.</span><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">~ Bunda Teresa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">We cannot all do great things. But we can do small things with great love.</span><br />
<em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kita tidak dapat melakukan semua hal-hal besar,<br />
tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.</span></em><br />
<strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">~ Bunda Teresa</span></strong>
</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Mencapai Kesadaran Ruhani (Bag. 1)]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/11/09/bagaimana-mencapai-kesadaran-ruhani-bag-1/</link>
<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 02:20:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/11/09/bagaimana-mencapai-kesadaran-ruhani-bag-1/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio P. Motinggo
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="amazing-flower.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/11/amazing-flower.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/11/amazing-flower.thumbnail.jpg" alt="amazing-flower.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satrio P. Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat, mereka lalai! (al-Qur’an Surat Al-<span style="text-decoration:underline;">Rûm [</span>30] <span> </span>ayat 7)</span></em></strong><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada satu aspek kehidupan yang kita kenal sebagai kehidupan sehari-hari yang mana kita sadar apa yang kita lakukan. Aspek ini biasa kita sebut kehidupan lahiriah. Sedang bagian lain dari kehidupan ini yang seringkali tidak kita sadari adalah kesadaran ruhani atau kesadaran batin. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tanpa kesadaran ruhani, hidup seseorang seumpama tanpa memiliki sebuah kaki atau sebuah tangan atau sebuah mata atau juga sebuah telinga. Ini pun belum benar-benar mengilustrasikan gagasan tentang kesadaran ruhani. Karena kesadaran ruhani itu jauh lebih besar dan lebih mulia serta lebih kuat ketimbang kehidupan lahiriah. Kebanyakan manusia memberikan perhatian yang sedemikian besar pada kehidupan lahiriah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dari pagi hari sampai malam hari manusia hanyut di dalam kehidupan lahiriah seraya mengabaikan aspek kehidupan lainnya. Semua masalah yang ada padanya hanyalah masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan lahiriah, dan semua itu membuatnya sedemikian hanyut sehingga sangat sulit baginya untuk meluangkan waktunya<span> </span>sejenak demi merenungkan kesadaran ruhani.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kerugian yang diperoleh dari ketidak sadaran kita akan kehidupan ruhani sangat jauh lebih besar ketimbang semua keuntungan yang kita peroleh lewat kesadaran akan kehidupan lahiriah itu sendiri. Karena sesungguhnya kehidupan ruhani membuat seseorang menjadi lebih kaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Semua kekayaan dan harta karun yang bumi tawarkan kepada manusia, hakikatnya justru sebuah ujian yang banyak orang terjebak di dalamnya. Betapa<span> </span>banyak kita jumpai orang-orang kaya yang sebenarnya adalah orang yang miskin spiritualnya dan sebaliknya banyak kita jumpai orang-orang yang hidup sederhana sedemikian kaya dan tinggi spiritualitasnya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebenarnya semakin kaya seseorang, semakin terbatas ia dalam kehidupannya. Boleh kita katakan semakin tebal dinding pembatas antara dirinya dengan kesadaran ruhaninya. Sejatinya, kehidupan ruhani membuat seseorang menjadi kuat, sebaliknya, kehidupan lahiriah membuat seseorang menjadi lemah. Karena kehidupan lahiriah membatasi kesadaran dan wawasan seseorang dan keterbatasan inilah yang memperlemah <strong><em>gerak imajinasinya</em></strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kesadaran akan kehidupan ruhani membuat seseorang menjadi kuat (<em>powerful</em>), karena bagaimana pun sebenarnya kehidupan ruhani merupakan kesadaran akan kesempurnaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Betapapun tinggi tingkat intelektual dan terpelajarnya seseorang, pikirannya tidak akan pernah jelas, disebabkan pengetahuannya didasarkan hanya pada alasan-alasan yang ditanam dengan hal-hal lahiriah yang rentan untuk berubah dan kadaluarsa. Itulah mengapa, betapa pun bijaknya seseorang, kearifannya pun tetap memiliki keterbatasan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kesadaran ruhani membuat pikiran seseorang menjadi jelas, karena ia merupakan bagian dari wujudnya yang dapat dinamakan Ilahiah, esensi kehidupan, intelejensia murni. Kemanapun sorotan intelejensi murni ini dipancarkan, membuat segalanya menjadi jelas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penyerapan dalam kehidupan lahiriah tanpa serapan kehidupan ruhani membuat orang menjadi ‘buta’. Semua yang ia katakan, pikirkan berdasarkan pengalaman-pengalaman fisik semata. Di samping itu ia tidak dapat menyadari betapa kekuatan yang diperoleh melalui kesadaran ruhani memampukan seseorang untuk melihat tembus kehidupan kasat mata ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mungkin Anda pernah mendengar sebuah kepercayaan tentang <em>mata ketiga</em>. Di dalam realitasnya mata ketiga adalah mata batin, mata yang terbuka oleh kesadaran akan kehidupan ruhani.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kita dapat melihat hutan dimana hujan yang berasal dari atas-lah yang membuat hutan itu menjadi rindang rimbun dan indah. Dengan kata lain, sesungguhnya hutan itu sendiri tidak memiliki apa yang ia butuhkan. Hutan memperoleh sebagian besar yang ia butuhkan dari atas, yaitu Cahaya dan Hujan. <strong><em>Matahari dan hujanlah yang membuat hutan itu menjadi sempurna</em></strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Karena di gurun tidak ada hujan, maka dikatakan ia tidak sempurna, atau tidak seindah hutan yang lebat. Memang ada bumi di gurun, tetapi kita hampir tidak menjumpai air, baik dari bawah mau pun dari atas. Air yang memberikan kehidupan kepada hutan tidak ditemukan di gurun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Gurun tidak bahagia, manusia di gurun juga tidak bahagia, mereka mesti mencari naungan dari panas matahari. Gurun rindu, manusia juga rindu kepada sesuatu yang tidak ia temukan di sana. Sebaliknya, dalam hutan yang lebat ada kenikmatan, ada inspirasi, hati menjadi terangkat ke atas karena hutan merupakan gambaran dari kehidupan ruhani – bukan tanah, bukan pepohonan dan tanaman. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Hal ini karena sesuatu yang dibutuhkan hutan diturunkan kepadanya. Dan karenanya, manusia yang disibukkan oleh hal-hal duniawi semata memang berada di tengah dunia, tetapi sejatinya ia berada di gurun tandus.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Kesadaran ruhanilah yang memberikan sesuatu kepadanya, sesuatu yang bukan kebajikan-kebajikan artifisial atau tipuan serta kwalitas-kwalitas buatan manusia, tetapi kebajikan yang hanya berasal dari kehidupan ruhani, dan juga wawasan yang membuat pandangannya mampu melihat melampaui kedua bola matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Yang mungkin ditanyakan oleh kita maupun manusia lainnya adalah bagaimana kita dapat meyakini adanya kehidupan ruhani? Dan apa buktinya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jawabannya adalah bahwa tidak sedetik pun di dalam hidup kita ini tidak kita lihat bukti kehidupan ruhani. Bukti-bukti itu tersebar di setiap kita menghadapkan pandangan kita. Kita tidak perlu mencarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Mungkin semua alat komunikasi seperti telepon, radio, semua mesin dan temuan-temuan baru lainnya membuat manusia kagum pada apa yang telah diciptakan manusia. Namunj jika kita perhatikan dan sadari, semua temuan itu hanyalah bentuk tiruan dari tubuh manusia!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sesungguhnya manusia adalah pusat kenikmatan, kebahagiaan, kedamaian, kekuatan, kehidupan, dan cahaya. Kita cenderung hanya menjelajahi diri orang lain dan berpikir bahwa penting untuk menganalisa segala sesuatu, dan menganalisa sifat manusia, yang biasa kita sebut sebagai psikologi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Manusia selalu menganalisa siapa pun kecuali dirinya sendiri, padahal psikologi yang sesungguhnya adalah lebih dulu menganalisa diri sendiri, dan ketika kita menganalisa diri kita sendiri, barulah kita<span> </span>mampu menganalisa orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Jika manusia hanya mengetahui selain yang ia katakan, ia fikirkan, ia kerjakan serta berbagai efek yang termanifestasi dalam dirinya, maka ada jenis tindakan lainnya yang juga menciptakan berbagai hal dalam kehidupan seseorang dan yang membuat dunianya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Mungkin dalam seminggu, sebulan, atau setahun, atau sepuluh tahun, hari yang ia ciptakan datang ke hadapannya sebagai sebuah dunia, itulah dunia yang ia ciptakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Secara kasat mata, manusia begitu remehnya, tidak lebih dari setetes air dibanding samudera yang luas, namun manusia dapat mempengaruhi setiap pemikiran, setiap perasaan dan setiap perbuatan alam sekitarnya. Ia mampu mempengaruhi kehidupan orang lain!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Jika manusia dapat menyadari hal ini, ia akan menemukan bahwa akibat dari semua yang ia katakan atau ia kerjakan dalam kehidupan lahiriah, sangat jauh lebih kecil ketimbang akibat-akibat yang dihasilkan dari<span> </span>semua yang manusia katakan, pikirkan atau kerjakan dalam kehidupan ruhani.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Oleh karena itu kesadaran ruhani membuat seseorang lebih bertanggungjawab. Tanggungjawab itu mungkin tampak begitu berat, tetapi ia menjadi tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan tanggungjawab yang orang miliki dalam kehidupan ruhani. Jika seseorang melihat apa yang ia ciptakan, tanggungjawabnya jauh lebih besar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ada pepatah dari Timur bahwa keledai kelihatannya jauh lebih bahagia ketimbang burung beo yang sangat cerdas. Kelihatannya manusia cukup senang dalam kehidupan lahiriah, karena tanggungjawabnya lebih sedikit, pandangannya kecil, horisonnya sangat terbatas dan ia melihat dunia sedemikian kecil. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Akan tetapi bila horisonnya terbuka, bila hatinya mampu menembus hijab yang menutupi alam fisik ini, maka ia akan dapat melihat yang apa yang ada di balik tirai. Jika ia telah dapat melihat semua yang tersembunyi di balik tirai, maka ia akan mengalami kehidupan yang jauh berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Mungkin hal ini bisa kita umpamakan dengan pandangan seseorang yang berada di puncak gunung. Pandangannya tentulah berbeda dengan pandangan orang yang berada di kaki gunung. Keduanya sama-sama manusia, sama-sama memiliki mata, akan tetapi horison mereka berbeda. Oleh karenanya, kesadaran ruhani merupakan perluasan horison dan perubahan dalam arah pandang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Seorang Yogi besar berkata, <em>‘Untuk menyaksikan apa yang ada di hadapanmu, kamu harus menyaksikan terlebih dahulu yang ada di dalam dirimu.’</em> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ini berarti di dalam diri kita ini ada semacam cermin, cermin yang dapat disebut sebagai dunia ruhani. Di dalam cermin inilah semua yang ada di hadapannya tergambar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dua orang suami isteri dapat hidup bersama selama 25 tahun, 40 tahun atau bahkan 100 tahun, tetapi tetap saja masing-masing dari keduanya tidak memahami pasangannya. Hal ini karena kurangnya pemahaman akan kehidupan ruhani. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Pemahaman akan kehidupan ruhani memampukan seseorang untuk memahami orang lain dalam sesaat. Bila dikatakan dua belas murid Nabi Isa as mampu memahami bahasa semua bangsa, apakah pada saat itu mereka mempelajari tatabahasa semua bangsa? Tidak! Mereka memahami bahasa hati. Bahasa hati lebih nyaring ketimbang bahasa lisan. Jika telinga batin terbuka untuk mendengar bahasa apa pun, maka kata-kata lahiriah menjadi tidak lagi bermakna.<br />
(<em>Bersambung</em>)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Pendidikan Sekolah Anak-anak Kita Cenderung Menzalimi?]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/10/29/mengapa-beban-pendidikan-sekolah-anak-anak-kita-cenderung-menzalimi/</link>
<pubDate>Mon, 29 Oct 2007 02:12:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/10/29/mengapa-beban-pendidikan-sekolah-anak-anak-kita-cenderung-menzalimi/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio P. Motinggo
 “Seorang ayah yang bijak benar-benar mengenal anaknya sendiri.” ~ Shakespea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="pendidikan.jpg" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/10/pendidikan.jpg"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/10/pendidikan.thumbnail.jpg" alt="pendidikan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Satrio P. Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> “<strong>Seorang ayah yang bijak benar-benar mengenal anaknya sendiri</strong>.”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ~ Shakespeare</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bila kita melihat dunia saat ini dengan segala kondisinya, kita akan heran jika melihat orang-orang yang hidup sebelum kita mengatakan bahwa hidup itu adalah suatu kesempatan. Itu lebih baik ketimbang prinsip hidup yang kita jalani sekarang ini.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Misalnya saja dalam dunia pendidikan, tahun demi tahun pelajaran di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, makin sulit. Agar lulus ujian para pelajar harus belajar dengan begitu kerasnya. Demikian juga di bidang-bidang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Orang-orang yang hidup sebelum kita jauh lebih bahagia, karena mereka mengenal kenikmatan yang sederhana, yang disertai kasih sayang dalam kehidupan mereka di rumah. Kesenangan-kesenangan sekarang ini tidak seperti kesenangan di masa lalu yang lebih bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Dahulu, orang-orang sebelum kita menikmati puisi, kisah-kisah atau musik yang berasal dari tanah yang mereka pijak. Dan semua itu dapat dibuktikan ketinggian mutunya. Saat ini seni, budaya termasuk musik-musik kita cenderung hanya meniru atau bahkan menjiplak dari negeri-negeri lain seperti Barat misalnya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> semacam kebanggaan yang hilang atas seni dan budaya bangsa kita sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apakah rasa percaya diri kita telah pupus?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Ataukah perhatian dan penggalian seni atau budaya kita sendiri yang kurang? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebaliknya dunia teater kita nampak semakin tumbuh dan bermutu, ada kedalaman, ketinggian atau bahkan idealisme. <span> </span>Namun sayangnya, kemasannya yang konvensional berakibat nilai komersialnya tidak bisa diandalkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Apabila seseorang menulis puisi, musik, atau drama dengan tema-tema yang lebih mulia, ironisnya mereka tidak memperoleh pasar. Ketika seseorang membawa sesuatu yang lebih tinggi nilainya, tidak seorang pun yang berminat<span> </span>untuk menikmatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Tampak dunia saat ini di dalam segala bidang bahkan pendidikan sekalipun dikomersialisasikan dan direndahkan, semuanya dikonsumsikan sesuai dengan selera pasar, atau disesuaikan dengan keinginan dan hasrat-hasrat rendah masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketika seseorang ingin menciptakan sebuah karya seni atau kreativitas di bidang apa pun, pasti yang pertama ditanyakan : apa yang <strong>diinginkan</strong> masyarakat, bukan apa yang <strong>dibutuhkan</strong> masyarakat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Semakin arif kita, semakin arif pula kita melihat perubahan-perubahan yang terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sesungguhnya dalam hidup ini ada 4 tahapan : masa kanak-kanak, masa remaja, masa muda, dan masa tua. Tiap-tiap tahapan ada suatu kesempatan yang besar. Misalnya dalam masa kanak-kanak, adalah masa kesadaran berada di surga. Anak yang hidup di dunia kesengsaraan, pengkhianatan, kejahatan, hidupnya bahagia juga, karena ia belum tersadarkan dengan aspek kehidupan lain. Ia hanya mengenal sisi baiknya saja, kehidupan yang indah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ia menikmati surga di bumi, belum mengenal atau menyadari sifat jahat dan bodoh manusia. Ia masih menghirup udara surga dan kemalaikatan dan kecenderungan mengapresiasi dan menyukai semua yang indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Masa kanak-kanak adalah masa untuk menjadi seperti raja. Kesempatan ini hilang dicabut oleh orang tua yang terlalu dini menyekolahkan anak mereka dan membebaninya dengan berbagai pelajaran. Kita tidak perlu khawatir dalam mempersiapkan pelajaran bagi si anak agar ia sanggup menjawab semua pelajaran di sekolahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kerajaan yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka akan hilang tercerabut dari mereka. Masa kanak-kanak adalah masa bebas dari kegelisahan dan kekhawatiran. Sementara orang tua membebani mereka dengan pelajaran, setelah itu akan diapakan pelajaran ini? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kekuatan dan kecerdasan anak justru akan hilang bila dibebani dengan pelajaran-pelajaran yang tidak perlu sebelum pikiran mereka tumbuh. Kecenderungan semacam ini kian hari kian meningkat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika kehidupan tidak begitu rumit, kita tidak perlu pusing-pusing seperti orang hidup di masa kini. Karena kita telah menyulitkan diri kita sendiri, kita <strong>menginginkan</strong> lebih dan lebih banyak lagi sehingga menjadi tidak lagi jelas apa yang sebenarnya kita <strong>butuhkan</strong> dan akhirnya kita tidak mendapatkan semuanya. Kita ingin kehidupan yang melebihi kebutuhan kita, namun malah menyengsarakan diri kita dan bahkan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demikian juga di masa remaja, jumlah pelajaran yang dibebankan kepada mereka merupakan kesalahan terbesar yang dilakukan manusia sekarang ini. Tetapi budaya remaja sekarang tampaknya sudah hilang sehingga kekurangan inspirasi. Kita sudah tidak tahu lagi apa yang dibutuhkan anak-anak muda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Mereka tidak diberikan gagasan-gagasan yang mulia, atau inspirasi-inspirasi yang mendorong mereka melakukan hal-hal yang besar. Pola mereka sekarang tampak seragam. Umumnya, mereka tidak lagi menghormati pahlawan, tidak ada rangsangan yang diberikan untuk takjub atau terinspirasi oleh seorang musisi atau penyair besar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hal ini dikarenakan pendidikan yang diberikan dengan seragam atau dengan porsi yang sama, padahal sesungguhnya kebutuhan mereka tidak sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di samping itu, masa remaja adalah suatu kesempatan ketika cara yang bagus, aspirasi yang tinggi, dan gagasan-gagasan yang mulia dapat diajarkan. Remajalah yang sangat antusias menerima segala yang datang kepada mereka, mencernanya dan mengungkapkannya kembali dalam bentuk kreativitas maupun pola berpikir. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tetapi bila masa remaja hanya digunakan untuk bekerja keras sepanjang hari dan berjuang agar ujiannya lulus maka sedikit saja waktu yang mereka miliki untuk berekreasi atau untuk hal-hal lainnya, sehingga masa kreatif mereka pun hilang secara sia-sia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;color:#003366;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Orang-orang yang memahami gagasan ini menyadari bahwa di sepanjang hidup, masa remaja adalah kesempatan yang paling besar. Kesempatan ini tidak pernah datang lagi. Musim semi kehidupan tidak pernah datang lagi, ia hanya datang sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Bila kesempatan ini tidak digunakan sebaik-baiknya serta tidak diinspirasikan sesuai dengan yang semestinya, maka ini sama saja dengan memelihara tanaman tetapi tidak menyiraminya dengan air. Sebab inilah masa ketika kita harus menyiraminya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ribuan dan bahkan jutaan remaja di kampus-kampus yang tidak memiliki pola pikir yang baik, dan tidak diberikan inspirasi kepada mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Mereka hanya dapat menunjukkan bahwa mereka telah lulus ujian dan mereka telah banyak memperoleh ilmu, sementara ilmu yang membuat jiwa mereka berkembang tidak mereka dapati selama masa remaja, masa ketika pikiran mereka lebar, masa ketika anak dengan segala antusias dan kapasitasnya untuk berkonsentrasi sehingga dapat menerima segala yang baik dan yang indah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> musisi dan penyair yang telah menciptakan karya-karya besar, terinspirasi ketika mereka masih remaja. Mereka melihat contoh, contoh hidup yang mengesankan mereka. Karena masa remaja adalah masa yang menentukan apakah si anak menjadi orang besar dalam menghadapi hidup atau tidak jadi sama sekali, sementara peluang ini hanya datang sekali seumur hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Apakah ia ingin menjadi seorang businessman ataukah politisi, seorang profesionalis, saintiskah atau musisi, di masa remaja inilah ia harus memulainya dan diberi inspirasi dengan sebuah ideal. Masa itu seperti tanah yang subur. Benih apapun akan tumbuh bila disemai kepadanya.Tetapi jika peluang itu lenyap, tidaklah mudah untuk meraihnya kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selain pendidikan untuk berbagai macam profesi dan pekerjaan, masih ada lagi kapasitas yang terabaikan di masa itu; yaitu penguatan kualitas hati. Masa kini hanya ada satu dalam seratus orang yang kualitas hatinya tajam. Walaupun secara insting kualitas hati ini muncul, tetapi selalu ada usaha yang datang untuk menumpulkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apa yang dimaksud dengan kualitas hati? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> intuisi, ada inspirasi, dan ada wahyu. Semua itu berasal dari budaya hati, dari kwalitas hati. Seseorang yang kuat hatinya melalui banyak belajar, belum tentu intuitif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Orang yang mempelajari semua tehnik musik dan syair belum tentu menajamkan kwalitas hati. Kwalitas hati adalah sesuatu yang harus dikembangkan di dalam diri. Bila tidak ada perhatian yang diberikan untuk mengembangkannya di masa remaja, apa jadinya kelak? Ia akan menjadi seorang yang mementingkan diri sendiri, sombong, tidak santun dan tak mau berkorban. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ia percaya bahwa sifatnya inilah yang akan menjaganya, dan orang menyebut orang seperti ini sebagai manusia praktis. Tetapi jika setiap orang seperti dia, tidak ada yang dapat diharapkan dari hidup ini kecuali konflik yang berkepanjangan. Agama atau sisi naluriah penghambaan manusia juga mati karena kwalitas hatinya tumpul.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bahkan jika ia pergi ke mesjid, gereja, atau tempat ibadah lainnya, keshalihannya hanya bersifat intelektual. Ia hanya dapat menikmati sesuatu yang bersifat intelektual. Ia hanya takjub dengan penjelasan matematis, tetapi jika ada rasa barokah dan perasaan naiknya kesadaran ke dunia yang lebih tinggi, ia tidak dapat mengalaminya karena ia hidup di dunia intelek.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> 2 pengalaman hidup yang prinsipil. Pertama, pengalaman yang disebut sebagai sensasi, dan yang lainnya adalah eksaltasi atau pemujaan. Yang umumnya dialami oleh manusia masa kini adalah sensasi; semua keindahan yang kita lihat, garis atau warna, semua yang kita lihat dengan mata, yang kita rasakan atau sentuh. Dengan kata lain ia bersifat inderawi. Hidup dalam sensasilah yang membuat manusia menjadi bersifat materialis waktu demi waktu hingga akhirnya ia tidak mengenal ruh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pemujaan atau pengagungan, adalah kebahagiaan yang lebih besar, kesenangan yang lebih tinggi, dan membuat manusia merdeka dari kehidupan lahiriahnya untuk kebahagiaannya, ini tidak dikenal oleh mayoritas manusia. Apakah pengagungan itu? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jiwa dapat melalui 4 pengalaman yang berbeda-beda, dan semuanya dibutuhkan jiwa. Sayangnya manusia masa kini tidak mencari keempat pengalaman ini dan malah mencari pengalaman lainnya. Salah satunya adalah hasrat jiwa untuk mengalami kebahagiaan, kemudian diganti dengan keinginan untuk senang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sementara kesenangan itu datang dari sensasi, sedangkan kebahagiaan dari pengagungan. Jiwa tidaklah puas dari buku-buku, dari belajar atau mempelajari hal-hal lahiriah. Misalnya ilmu sain, ilmu seni, adalah ilmu-ilmu lahiriah. Ia memberikan semacam kekuatan, kepuasan, tetapi kita tidak pernah terpuaskan. Ilmu lainnya adalah ilmu yang sedang dicari oleh jiwa. Jiwa tidak pernah puas kecuali mendapatkan ilmu tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tetapi ilmu ini tidak datang dari mempelajari nama-nama dan bentuk-bentuk. Ia tidak dari belajar. Jangan heran bila anda membaca dalam beberapa buku Timur bahwa pengikut Mahatma pergi ke pegunungan kemudian duduk di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> selama bertahun-tahun.Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mencontohnya, tetapi kita dapat mengapresiasi apa yang mereka peroleh dari </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mereka pergi ke </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> untuk menjelajahi kehidupan, aspek kehidupan yang tak terlihat dan tak terjelajahi selama ini. Mereka duduk di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> selama bertahun-tahun dalam meditasi. Mereka hidup dari dedaunan, buah-buahan dan apa yang mereka dapati di hutan. Mereka berkonsentrasi. Yang mereka peroleh bukanlah ilmu yang dipelajari dari dunia ini, tetapi ilmu yang lebih besar yang dapat dipelajari dari dalam diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kita mungkin pernah melihat patung Budha sedang duduk bersila dengan mata tertutup. Apa arti dari simbol tersebut? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> ilmu yang dapat dipelajari tidak hanya dengan menutup mata tetapi juga pikiran dari dunia lahiriah. Menutup mata pun tidak membuat konsentrasi menjadi lebih baik bila pikiran kita masih berkeliaran. Orang-orang yang dapat melakukan konsentrasi, dapat melakukannya tanpa menutup mata. Bahkan sambil bekerja pun ia dapat melakukan konsentrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hal ketiga yang dialami dan diinginkan dalam hidup adalah kebahagiaan. Dan dapat diperoleh dengan menghubungkan kita dengan diri. Hal keempat adalah kedamaian. Ia dapat diperoleh dari hal lahiriah, dari kenyamanan dan pikiran yang istirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Setelah masa remaja datang masa dewasa. Masa ketika ia telah mengumpulkan ilmu. Masa ketika ia telah mengalami kehidupan, telah mengalami senang dan susah, telah belajar dari pelajaran yang diperoleh dari pekerjaannya, dari rumah, dari setiap sisi kehidupan. Lalu apa kesempatan atau peluangnya? Memanfaatkan yang diperoleh dari pengalaman tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Namun penyair </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Persia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, <strong>Sa’di </strong>mengatakan, <strong><em>‘Wahai diri ini, engkau telah datang di usia dewasa, dan engkau tidak lebih baik dari masa kanak-kanak</em></strong>.’ </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika ia tidak belajar dari apa yang diperolehnya, ia akan kehilangan kesempatan dalam hidupnya. Karena pada masa ini yang dibutuhkan bukan hanya uang, tetapi pengalaman dan ilmu, semakin banyak ia belajar, semakin kaya ia kelak. Semakin ia mengenal kekuatan yang ia miliki, semakin sukses dan bermanfaat ia jadinya. Pribahasa Kuba mengatakan,”Ketika matahari terbit, dia terbit untuk setiap orang”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ketika satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka” [Don Quijote]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di samping itu, masa ini adalah masa seseorang mulai mengenal berbagai kewajiban dalam hidup, jika ia tidak mengenalnya maka ia akan dapat belajar darinya. Mengenal kewajiban memperhatikan orang-orang di sekitarnya, yang mengharapkan bantuan, nasehat, pelayanan, inilah saat ketika ia harus sadar akan segalanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Inilah masa yang indah, ketika pohon mulai berbuah, ketika seorang penyanyi terdengar indah atau seorang pemikir dapat sepenuhnya mengekspresikan dirinya. Jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hilanglah kesempatan yang paling berharga dalam hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Usia dewasa juga memiliki manfaat tersendiri. Sementara usia tua adalah masa ketika merekam seluruh hidupnya, apakah ia simpatik, baik, arif, bijak, ataukah bodoh. Usia dewasa memiliki kesempatan untuk memberikan inspirasi atau memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan. Ia dapat menunjukkan kepada mereka cara yang lebih baik dalam memandang hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tetapi bila ia tidak menyadari kesempatan ini, ia akan bertindak seperti anak-anak, sementara pada masa kanak-kanak diberi tugas untuk orang tua, di masa remaja dibebani tugas untuk orang dewasa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika kita dapat memahami setiap momen itu dalam hidup, setiap hari, setiap bulan dan setiap tahun, kita dapat memperoleh manfaatnya hanya jika kita mengenal kesempatan itu. Tetapi kesempatan terbesar yang dapat manusia sadari dalam kehidupannya adalah menyempurnakan tujuan hidup ini, untuk apa ia diutus ke bumi ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Namun jika ia kehilangan kesempatan itu, apapun yhang ia kerjakan di dunia ini, apakah ia telah mengumpulkan kekayaan, harta yang banyak, atau telah meraih nama besar, ia tidak akan pernah puas. Sekali mata seseorang tertutup dan mulai melihat dunia, ia akan mendapati kesempatan yang lebih besar ketimbang yang ia pikirkan sebelumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Manusia semiskin dirinya, seterbatas dirinya, tidak ada di dunia ini yang dapat ia kerjakan jika ia tidak mengenal apa yang seharusnya ia kerjakan. Manusia harus mengetahui bagaimana mengoperasikan pemikirannya, bagaimana mengerjakan hal-hal tertentu, bagaimana memfokuskan pikirannya pada objek yang harus ia kerjakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Jika ia tidak tahu maka pikirannya tidak lain seperti mesin. Jika manusia mengenal kekuatan perasaan, dan menyadari bahwa kekuatan perasaan dapat mencapai ke mana saja dan menembus apa saja, maka ia dapat mencapai apa saja yang ia hasratkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> kisah </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Persia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> tentang Shirin dan Farhad. Suatu kali Shirin, sang gadis yang dicintai Farhad, menguji cinta Farhad padanya. Ia berkata, ‘Farhad, jika kamu benar-benar mencintaiku, coba kamu buatkan jalan untukku menuju pegunungan.’ Farhad menjawab, ‘Baiklah, saya siap kamu uji.’ </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Maka Farhad pun pergi ke gunung itu dengan cinta yang membara di dadanya. Ia selalu menyebut nama Shirin setiap kali memecahkan batu untuk meratakan jalan. Dan ketika itu kekuatan palunya seribu kali lebih besar karena menyertakan perasaan di hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> Sekarang manusia telah melupakan kekuatan terbesar yang ada dalam perasaannya. Ia dapat menghancurkan batu besar, namun umumnya manusia sudah kehilangan perasaannya. Menyadari kekuatan perasaan ini dan mengungkapkannya adalah suatu kesempatan yang diberikan oleh kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tetapi kesempatan yang lebih besar lagi adalah membebaskan diri dari tawanan keterbatasan-keterbatasan hidup. Dalam beberapa bentuk, setiap manusia adalah tawanan, kehidupannya terbatas, namun ia dapat keluar dari batasan ini hanya jika ia menyadari kekuatan dan inspirasi jiwanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“<em>Belajarlah dari seekor nyamuk! Dia tidak pernah menunggu sesuatu menjadi terbuka. Dia justru membuat sesuatu menjadi terbuka!</em>” [Kirk Kirkpatrick]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ketika sekuntum bunga mekar, sang lebah datang tanpa diundang!</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">” [Rama Krisna]</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DARI KETERBATASAN MENUJU KE KESEMPURNAAN (Bagian ke-1)]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/10/05/dari-keterbatasan-menuju-ke-kesempurnaan/</link>
<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 05:26:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/10/05/dari-keterbatasan-menuju-ke-kesempurnaan/</guid>
<description><![CDATA[
Satrio Pinandito Motinggo
“Wahai manusia!
Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="keterbatasan2.JPG" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/10/keterbatasan2.JPG"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/10/keterbatasan2.thumbnail.JPG" alt="keterbatasan2.JPG" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Satrio Pinandito Motinggo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Wahai manusia!<br />
Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh<br />
menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya”</span></strong><br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(Al-Qur’an Surat Al-Insyiqaq ayat 6)</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sejatinya, bebatuan, pepohonan, hewan-hewan dan manusia, semuanya menampakkan kecenderungan mencari kesempurnaan. Kecenderungan batu-batuan membentuk bukit menjadi gunung. Gelombang ombak menggapai ke atas seolah-olah sedang berusaha untuk mencapai sesuatu yang melebihi capaiannya.</span><!--more--><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Kecenderungan burung juga demikian. Mereka senang terbang di udara dan melayang ke atas. Sedangkan manusia yang merupakan puncak dari segala ciptaan (makhluk), memiliki kecenderungan dari bayi untuk berdiri, bahkan bayi yang belum bisa berdiri, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya menunjukkan hasrat untuk berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Kesemuanya itu menunjukkan hasrat untuk menjadi sempurna. Hukum gravitasi hanya sebagian saja di antara yang kita ketahui dari dunia sains, yang percaya bahwa bumi menarik semua miliknya. Akan tetapi sedikit sekali orang mengetahui bahwa ruh juga menarik segala sesuatu kepadanya, dan ini merupakan sisi lain hukum gravitasi yang sebenarnya sudah lama diketahui oleh para mistikus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Hukum gravitasi bekerja dari dua sisi; dari sisi bumi yang menarik semua miliknya ke bumi, dari sisi ruh yang menarik semua jiwa kepadanya. Bahkan orang-orang yang tidak menyadari hukum gravitasi ini pun sedang berusaha menuju kesempurnaan, karena jiwa secara terus menerus ditarik menuju ruh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Mereka juga berjuang menuju kesempurnaan. Dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari juga dapat kita sadari bahwa manusia (kita) tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu ingin lebih dan lebih lagi, seperti kedudukan yang lebih tinggi, kekayaan yang lebih banyak atau nama yang lebih masyhur. Manusia selalu berusaha ke arah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">MANUSIA TIDAK PERNAH PUAS</span></strong><br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Alasan mengapa manusia selalu tidak pernah puas adalah karena ia tidak pernah menyadari bahwa seluruh usahanya itu, sejatinya sedang menuju kepada kesempurnaan. Oleh karena itu orang-orang yang berjuang mencapai kesempurnaan memiliki jalan yang berbeda-beda. Bagaimanapun tiap-tiap atom di alam semesta ditujukan untuk berjuang dan berusaha agar kelak menjadi sempurna. </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Dengan kata lain, jika orang bisa melihat apa yang sedang terjadi di gunung-gunung, ia akan mendengar gunung itu terus-menerus berteriak, ‘Kami sedang menunggu suatu hari ketika kami akan dibangkitkan. Akan datang suatu hari kebangkitan, hari penyingkapan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Diam-diam kami sedang menunggunya.’ Bila kita masuk kedalam hutan dan melihat pohon-pohon tegak berdiri di sana, mereka juga akan berkata kepada kita bahwa mereka sedang menunggu dengan sabar. Semakin lama seseorang duduk di sana semakin terasakan bahwa pohon-pohon itu sedang menunggu hari penyingkapan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Semua makhluk seperti itu. Akan tetapi manusia karena setiap hari begitu hanyut oleh berbagai tindakan dan ketamakannya, ia menjadi lupa dan tidak lagi sadar akan hasratnya akan penyingkapan, karena tugas kesehariannya, keserakahannya, kekejamannya kepada makhluk-makhluk lain, membuatnya secara terus menerus dikuasai oleh hasrat-hasrat buruk, dan oleh karena itu pula ia menjadi tidak dapat mendengar jeritan jiwanya sendiri, dan mulai kehilangan kesadaran, kepekaannya, dan hasrat akan penyingkapan untuk mencapai puncak, untuk maju dan mencapai kesempurnaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> </span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI KESEMPURNAAN?</span></strong><br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sudah merupakan sifat Tuhan untuk merealisasikan kesempurnaan ciptaan-Nya. Seorang seniman berhasrat menelurkan yang terbaik bagi karya-karyanya, karena ada kepuasan baginya. Pada setiap makhluk ada suatu keinginan untuk keluar, yaitu untuk mencapai puncak. </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Fitrah manusia juga seperti sifat Tuhan, yaitu kepuasan-Nya terdapat dalam mewujudkan kesempurnaan. Perbedaan kita dengan Tuhan adalah Tuhan itu besar sedangkan kita kecil. Kita terbatas dan Tuhan tidak terbatas. Kita mewakili ketidaksempurnaan dan Tuhan mewakili kesempurnaan. Lalu apakah mungkin manusia mencapai kesempurnaan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Bila seseorang melihat betapa terbatasnya manusia, maka ia tidak pernah percaya manusia bisa mencapai kesempurnaan. Tidak ada akhir terhadap keterbatasannya dan ia bahkan tidak pernah mengerti apa arti kesempurnaan. Ia menjadi pesimis bila mendengar kata sempurna. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Di dalam sebuah Hadits Qudsi diriwayatkan bahwa Allah SwT telah mewahyukan kepada Nabi Daud as,”<em>Berakhlaklah kamu dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku adalah sabar!</em>” <em>59]</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Bisakah kita meniru Allah Yang Mahasempurna? Jika hal itu tidak bisa kita lakukan, maka mustahil Allah memerintahkannya kepada Nabi Daud.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya ada kemungkinan ke arah itu. Semua filsafat, semua agama dan ajaran suci condong kepada realisasi yang disebut kesempurnaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Filsafat atau agama yang tidak menunjukkan jalan kepada kesempurnaan sudah pasti akan hancur dan gagal. Ada yang hilang di dalamnya. Tetapi jika kita melihat agama sebagai satu dan hakikat agama itu sama di segala zaman, disampaikan oleh para guru umat manusia yang berbeda-beda dan diinspirasikan oleh Satu Ruh Pembimbing dan sama, satu cahaya kearifan dan sama, maka kita dapat melihat mereka semua menerima kebenaran yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Hanya saja ketika ditafsirkan oleh orang-orang di masa, periode dan ras yang berbeda-beda, agama itu menjadi berbeda-beda pula. Tetapi kebenaran yang mendasari semua agama itu satu dan sama. setiap guru yang mengajarkan bahwa kesempurnaan itu tidak untuk manusia, maka ia justru merusak ajaran yang ada dalam semua agama. Ia tidak memahaminya, karena sesungguhnya objek utama semua agama adalah berjuang mencapai kesempurnaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sebagian ilmuwan mengatakan, ‘Yang kita dambakan di dunia sekarang ini adalah keharmonisan yang lebih besar, perdamaian yang lebih besar, kondisi yang lebih baik. Kami tidak menginginkan kesempurnaan spiritual.’ </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sementara kecenderungan setiap orang adalah mencari segala hal selainnya lebih dulu dan baru kemudian mencari kerajaan Allah. Itulah kenapa manusia tidak berkembang menuju kepada kesempurnaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Di suatu zaman sebelum Yesus dilahirkan, Budha telah berkata, ‘<em>Ahimsa paramo dharma ha’ </em>– <em>ketiadaan marabahaya adalah hakikat agama</em>. Beliau mengajarkan manusia agar bersahabat bahkan kepada serangga yang terkecil sekalipun. Beliau mengajarkan persaudaraan atas segala makhluk. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sementara kita lebih suka bertengkar, berselisih dan bahkan berperang! Di bawah berbagai kondisi yang ada sekarang ini kita dapat mengharapkan perang di manapun di dunia ini. Kenapa demikian? Semua datang dari mencari kesempurnaan di jalan yang salah. Alih-alih mencari kesempurnaan spiritual, malah mencari kesempurnaan kebumian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Tetapi apa yang ada di bumi itu terbatas, dan bila seseorang mencari kesempurnaan kebumian, bumi pun tidak akan sanggup menjawab berbagai tuntutan manusia. Apakah yang kita dapat meraih apa yang kita dambakan atau pun tidak, perjuangan akan terus berlangsung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(Bersambung)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration:underline;">Catatan Kaki</span> :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span style="font-size:10pt;line-height:200%;font-family:'Book Antiqua';">59] Mustadrak al-wasail 2 : 425, Bihar al-Anwar 79 : 137, Miskan al-Fawaid hlm. 42.</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berubah Dan Tumbuh, Tapi Kemana?]]></title>
<link>http://qitori.wordpress.com/2007/09/27/berubah-dan-tumbuh-tapi-kemana/</link>
<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 03:19:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quito Riantori</dc:creator>
<guid>http://qitori.id.wordpress.com/2007/09/27/berubah-dan-tumbuh-tapi-kemana/</guid>
<description><![CDATA[
“Setiap waktu Dia dalam kesibukkan”
(Al Qur’an Surah Al-Rahman [55] ayat 29)

Di dalam dunia ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a title="berubah-dan-tumbuh.JPG" href="http://qitori.wordpress.com/files/2007/09/berubah-dan-tumbuh.JPG"><img src="http://qitori.wordpress.com/files/2007/09/berubah-dan-tumbuh.thumbnail.JPG" alt="berubah-dan-tumbuh.JPG" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Setiap waktu Dia dalam kesibukkan”</span></em><br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(Al Qur’an Surah Al-Rahman [55] ayat<span> </span>29)</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Di dalam dunia penciptaan, segala sesuatu senantiasa berubah, tumbuh dan berkembang, atau dengan kata lain, bahwa setiap makhluk Tuhan senantiasa berubah, baik fisik mau pun rohaninya. Tak satu maujud pun yang tetap berada dalam kondisi yang sama setelah melalui perjalanan waktu, detik demi detik bahkan sekian perdetik demi sekian perdetik!</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Kita pun selalu melihat proses perubahan dan pertumbuhan tersebut di sekitar kita, akan tetapi kita justru sering tidak sadar bahwa diri kita pun sedang mengalami perubahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sebuah ilustrasi filsafat yang klise mungkin berhubungan dengan ini.<br />
Seseorang filosof bertanya kepada saya,”Siapakah Anda?”</span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Saya Ito”Jawab saya. Setelah mendengar jawaban saya, sang filosof pergi meninggalkan saya begitu saja. Esoknya saya berjumpa lagi dengan sang filosof dan dia bertanya lagi kepada saya,”Siapakah Anda?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Saya Ito” Jawab saya sambil tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Apakah Ito yang sekarang sama dengan Ito yang kemarin?” Tanyanya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Ya!” Jawab saya agak ragu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Jadi, Anda tidak berubah?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Tentu saja saya berubah!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Jika Anda berubah, berarti Ito yang sekarang berbeda, dong, dengan Ito yang kemarin?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Fisik saya memang berubah tetapi esensi saya tidak berubah!” Jawab saya sekenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">“Benarkah?” Tanya sang filosof sambil tersenyum lebar dan seperti biasa ia pun <em>ngeloyor</em> pergi meninggalkan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Saya tidak bermaksud ingin berfilsafat di dalam tulisan sederhana ini, akan tetapi setidaknya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama merenung, bahwa sejatinya, seluruh makhluk Tuhan berada dalam perubahan yang terus menerus dengan proses yang sedemikian cepat. </span></p>
<p><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sebuah contoh menarik diberikan Muhyiddin Ibn ‘Arabi kepada kita, bahwa ketika kita melihat <strong>nyala api</strong> lilin, kita beranggapan bahwa nyala api tersebut tetap dan tidak berubah, padahal sebenarnya nyala api muncul dan lenyap susul menyusul dengan proses yang sangat begitu cepat sehingga mata kita tak mampu melihat <strong>perubahan muncul-lenyap</strong> dari nyala api lilin tersebut; yang tampak oleh kita hanya sepotong api yang bergerak melenggok-lenggok tanpa mengalami perubahan yang berarti. (Lihat : Dr. Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi Wahdatul Wujud Dalam Perdebatan, h. 53)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Begitu pun jika kita melihat ke sebuah dinding atau ke diri kita, apabila kita perhatikan sebidang dinding yang berada di hadapan kita dengan seksama seolah-olah ia tetap dan tidak sedang mengalami perubahan, padahal jika kita ambil sebuah mikroskop dan kita letakkan di atas dinding niscaya akan tampak oleh kita bahwa telah terjadi penggerogotan terhadap dinding oleh mikroorganisme-mikroorganisme yang jumlahnya sedemikian banyak dan sedemikian cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Ini pun terjadi pada diri kita! Sekian perdetik demi sekian perdetik usia kita semakin berkurang dan tubuh kita semakin renta. Perubahan ini hanya kita sadari apabila tubuh mulai terasa cepat lelah dan lemah atau mulai sakit-sakitan. Tetapi, ketika kita masih muda, sehat dan segar, perubahan-perubahan ini tidak sedikit pun kita rasakan. Namun selang beberapa waktu, tiba-tiba saja kita tersentak dan sadar begitu kita melihat ke cermin dan terlihatlah wajah kita yang mulai tumbuh uban atau kulit </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">kita yang </span><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">sudah mulai berkerut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">DUA MACAM PERUBAHAN DAN PERTUMBUHAN</span></strong><br />
<span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Jika fisik kita berubah, tumbuh dan berkembang secara linear menuju kepada kemusnahan dan kehancuran, maka tidak demikian yang terjadi pada jiwa dan ruhani kita. Jiwa dan ruhani kita tidak selalu berubah secara linear. Sebagian jiwa orang tumbuh menuju kepada kehancuran - bahkan lebih cepat ketimbang fisiknya – dan sebagiannya lagi tumbuh berkembang menuju kepada keindahan dan keabadian. </span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Jika mata fisik kita - yang sangat terbatas ini - melihat ke wajah George W Bush, misalnya, kita melihat dengan jelas fisik Presiden Amerika Serikat ini sedang berada dalam proses penuaan dan beranjak tua atau bahkan pengagumnya akan mengatakan ia sedang berada di puncak-puncak staminanya. Lalu kita langsung menoleh menatap wajah Imam Ali Khamane’i, maka kita melihat proses perubahan yang sama juga terjadi pada beliau. Hanya saja jika mata batin kita terbuka, sebenarnya ada perbedaan yang sangat tajam, dimana yang pertama sedang berada dalam proses kehancuran baik fisik mau pun jiwanya, sedangkan yang kedua justru sedang tumbuh berkembang menuju kepada keindahan dan keabadian. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu <strong>HIDUP</strong> di sisi Tuhan<span> </span>mereka dengan memperoleh rezki” </span></em><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">(QS Ali Imran [3] ayat 169)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Kita juga tahu bahwa Sayyid Ali Khamene’i memperoleh julukan dari Imam Khomeini qs sebagai <strong>syahid yang hidup, </strong>karena beliau pernah mengalami percobaan pembunuhan tetapi beliau selamat walau tangan kanannya putus akibat bom yang meledak dekat dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Melihat kenyataan ini, kita menjadi tersadarkan bahwa kebanyakan dari kita hidup seperti mesin, tidak menyadari apa yang ada dalam pikiran, perasaan dan tindakan-tindakan<span> </span>kita, tidak peduli kalau kita tetap melakukan kesalahan yang sama, tiga kali, empat kali dan seterusnya. Itulah sebabnya mengapa kita diminta untuk berpikir, merenung, dan bercermin pada segala yang ada di sekitar kita untuk belajar dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Sama halnya dengan seringnya kita memilih makanan dan minuman yang bergizi untuk tubuh kita, namun dalam waktu yang sama kita lalai memberi perhatian pada kebutuhan-kebutuhan, gizi-gizi bagi jiwa dan ruhani kita.</span></p>
<p class="MsoPlainText"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;"> Imam Hasan as berkata, <em>”Aku<span> </span>heran<span> </span>pada<span> </span>orang yang<span> </span>hanya<span> </span>memikirkan<span> </span>(kebutuhan) perutnya namun<span> </span>tidak memikirkan (kebutuhan) akalnya.<span> </span>Ia<span> </span>berusaha menjauhkan sesuatu yang dapat membuat perutnya sakit, tetapi membiarkan sesuatu yang dapat menjerumuskannya (ke Neraka)</em>” (Safinah al-Bihar 2:84). Manusia sedemikian peduli dengan kesehatan jasmaninya, tetapi lalai memperhatikan kesehatan ruhaninya.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdan